Chapter 2
Pemuda yang Disebut Sebagai Jenius
Hari Minggu.
Hari ini aku
punya shift kerja paruh waktu di kedai kopi Males dari pukul sembilan pagi
sampai pukul tiga siang.
Tempat dan waktu
kumpul dengan Uta serta Hasegawa juga di kedai yang sama, tepat pukul tiga tiga
puluh.
Artinya, tak lama
setelah shift selesai, aku akan bertemu mereka.
Apapun itu, yang
terpenting adalah menyelesaikan tugas kerja dengan baik dulu.
Hari ini shift
bersamaku adalah wakil manajer, Nanase, dan Mei.
"…Pantas.
Kurang lebih aku sudah paham situasinya."
Setelah jam sibuk
siang berlalu dan kami bisa bernapas lega.
"Aku… aku
tidak menyangka keadaannya sudah separah ini… Rumor tentang Shirotori-kun juga
sudah sampai ke kelasku. Aku sempat berpikir ini pasti ada kesalahan…"
Aku menjelaskan
situasi terkini kepada Nanase dan Mei.
Mei yang
baru mendengarnya tampak sangat terkejut.
"Yang
utama sekarang adalah Reita sendiri. Aku juga ingin menghentikan penyebaran
rumor itu, tapi…"
"Aku…
aku akan bantu sebisa mungkin!"
Mei
terlihat sangat bersemangat, tapi mengingat pengaruhnya, dia tidak terlalu bisa
diandalkan.
"Aku
hargai niatmu, tapi sekadar mengoreksi rumor sedikit tidak akan membuatnya
berhenti."
Kalau
memang semudah itu, rumor pasti sudah reda. Kami juga tidak hanya diam saja. Masing-masing sudah berusaha
mengklarifikasi kesalahpahaman lewat jaringan pertemanan kami.
Omong-omong soal itu, aku menatap Nanase.
"Untuk
pembicaraan pukul tiga tiga puluh, kamu ikut juga?"
Nanase
menyentuh dagunya, berpikir sebentar, lalu menggeleng.
"…Tidak.
Kalau terlalu ramai, Hasegawa-san pasti jadi tidak nyaman."
Memang
benar juga. Lagipula topiknya sudah cukup sulit dibahas.
"Tapi
aku akan lebih tenang kalau Nanase ikut…"
"Jangan
coba-coba libatkan aku hanya karena kamu dan Uta merasa canggung berdua
saja."
Nanase
menghela napas sambil langsung mengenai sasaran.
Bukan,
sebenarnya kami bertiga dengan Hasegawa.
Tapi
secara formal, yang bertemu Hasegawa adalah aku dan Uta berdua.
Sudah
cukup waktu berlalu sejak Uta ditolak, tapi kami belum pernah banyak bicara
berdua lagi.
"Aku juga
merasa kasihan sama Hikari… semacam itu…"
"Tentu saja
kamu sudah menjelaskan semuanya ke Hikari, kan?"
Aku
mengangguk mendengar pertanyaan Nanase.
Karena
aku sering telepon dengan Hikari, aku sudah memberitahunya segala perkembangan.
"Kalau
begitu tidak apa-apa. Uta juga pasti sudah move on. Kalau kamu terus bersikap
seperti ini, Uta juga akan sedih."
Kata-kata Nanase
yang datar tapi menusuk itu membuat mentalku terluka.
Aku tidak punya
bantahan. Meski pedas, ucapan Nanase biasanya benar…
Sambil mencuci
piring dengan mata berkaca-kaca, aku melihat Nanase tersenyum tipis.
"Haibara-kun…
setelah kejadian dengan Motomiya-san, kamu agak terlalu sadar diri ya?"
"Uggh!?"
Tolong
jangan tambahkan serangan ekstra seperti itu.
Baiklah,
aku mengerti. Aku harus bersikap biasa saja tanpa terlalu memikirkan hal-hal
kecil, kan?
"Ini…
ini penderitaan cowok yang populer…!"
Mei
menatapku dengan mata berbinar. Tolong berhenti.
Tanpa
peduli aku yang sedang menangis tersedu, Nanase menatap ke luar jendela. Aku
ikut melihat, dan langit terlihat seperti akan hujan. Melihat itu, Nanase
bergumam pelan.
"…Kalau
dia belum pulang ke rumah, sekarang dia sedang apa ya."
Meski tidak
menyebut nama, jelas dia membicarakan Reita. Memang mengkhawatirkan.
Entah dia tidur
di mana, atau mungkin mondar-mandir dari rumah teman.
Yah, mungkin saja
dia sudah pulang sekarang, meski tidak ada saat kami dan Tatsuya datang
kemarin.
…Aku ingin
percaya begitu.
"Tindakan
Shirotori-kun sekarang sulit dipercaya mengingat dirinya yang dulu…"
Nanase
menyipitkan mata seolah menatap sesuatu yang jauh.
"…Orang yang
terlalu melihat sekitarnya, mungkin justru sering melewatkan dirinya
sendiri."
Gumaman Nanase
itu larut dan hilang di antara suara hujan yang mulai turun rintik-rintik.
*
Ding! Bel pintu berbunyi.
Uta yang memakai
rok mini meski cuaca dingin ini melambai saat melihatku.
Waktu menunjukkan
pukul tiga sepuluh. Dua puluh menit sebelum janji.
"…Yoo~
Natsuki."
"Selamat
datang. Aku sudah hampir selesai, duduk dulu di sana."
Aku mengantar Uta
ke kursi di bagian dalam yang lebih nyaman untuk bicara, lalu cepat ganti baju
di ruang istirahat.
Kemudian aku
kembali ke meja. Uta
sepertinya sedang mengobrol dengan Nanase.
"Ah,
Natsuki."
"Haibara-kun,
mau minum apa?"
"Kopi… eh,
Nanase juga sudah selesai shift kan?"
"Aku
ambilkan bagianmu. Tapi yang menyeduh tetap wakil manajer."
Nanase
berkata begitu lalu pergi ke counter.
"……"
"……"
Aku duduk
di depan Uta.
Uta
sedang minum cafe latte hangat.
Keheningan
berlangsung beberapa saat. Bukan canggung, tapi Uta kelihatan kurang
bersemangat. Kemarin juga sama. Suaranya tidak seceria biasanya, dan dia jarang
bicara.
"…Kamu
baik-baik saja?"
"Ma-maaf. Aku sedang melamun."
Begitu
aku menyapa, Uta tersentak dan membelalakkan mata.
"Apakah aku
kelihatan tidak bersemangat?"
"…Yah, tidak
seperti biasanya."
"Miorin dan
Reita, mereka berdua pergi tanpa aku tahu apa-apa. Aku jadi sedih… Yah, Miorin
sudah minta maaf berkali-kali, jadi aku sudah maafin."
Uta tertawa kering.
Kalau masalah datang bertubi-tubi seperti ini, pasti
mentalnya lelah.
"Aku ingin semuanya kembali seperti dulu… Kalau bisa kembali, itu bagus
sekali."
Pada saat
Uta bergumam seperti itu, bel pintu berbunyi lagi.
Aku
menoleh dan melihat Hasegawa Youko sedang menoleh ke segala arah. Begitu melihat kami, dia memasang ekspresi
rumit lalu mendekat.
"Halo…"
"Pagi… ah,
bukan waktu pagi lagi. Terima kasih sudah datang hari ini, Youko-chan."
Uta membalas
dengan senyum paksa pada sapaan Hasegawa yang muram.
Suasananya tegang
di antara mereka. Memang dulu satu SMP tapi tidak dekat, seperti yang
dikatakan.
"Tidak apa…
Aku juga sudah berpikir harus bicara dengan kalian."
Hasegawa berkata dengan wajah muram.
"Mau minum
dulu?"
Aku memberikan
menu, dan dia menjawab, "Kalau begitu, cokelat panas."
Aku memesankan ke
Kirishima-san yang menggantikan Nanase, lalu menghadap Hasegawa lagi.
Ngomong-ngomong,
begitu Hasegawa muncul, Uta langsung pindah duduk ke sebelahku.
Karena aku belum
pernah bicara dengan Hasegawa, aku harus menyerahkan jalannya pembicaraan ke
Uta… tapi setidaknya aku harus memperkenalkan diri? Tapi suasananya tidak
mendukung. Lagipula kami sudah saling tahu nama, dan pasti dia tidak punya
perasaan baik padaku.
"Jadi, apa
yang ingin dibicarakan?"
Karena suasana
tidak pas untuk obrolan ringan, Uta langsung masuk ke inti.
"…Baiklah,
aku cerita dari awal. Ini mungkin agak panjang, tapi tolong dengarkan."
Hasegawa mulai
bercerita dengan wajah sulit.
"…Sebagai
premis, semua yang terjadi sekarang ini adalah salahku."
■(Hasegawa Youko)
『――Mati saja
kamu, perempuan sampah! Lebih baik kamu lenyap dari dunia ini!』
Itu adalah hari
ketika aku mengucapkan kata-kata itu pada Miori.
『――Kamu sedang
apa?』
Kata-kataku yang
keluar karena emosi itu didengar oleh Hoshimiya-san.
Darah seolah
langsung surut dari wajahku. Aku menyesal begitu mengingat ucapanku sendiri.
Belum
lagi aku menyiram Miori dengan air di cuaca dingin seperti ini. Dari
luar, ini jelas-jelas bullying. Bahkan ini memang bullying murni.
Pikiran yang tadinya mendidih karena amarah, tiba-tiba
menjadi dingin.
…Kenapa aku
melakukan hal seperti ini?
Sampai beberapa
saat lalu, aku mengira diriku adalah pihak yang benar.
Tapi
lihat sekarang? Siapa yang akan menganggapku benar setelah melihat ini?
Akhirnya
aku sadar bahwa aku sudah kelewat batas.
…Aku
menyukai Reita-kun.
Makanya
sejak awal aku tidak suka pada Miori yang mulai pacaran dengannya.
Meski begitu, aku
ingin menghormati pilihan Reita-kun. Setidaknya, aku yang tidak terpilih tidak
berhak ikut campur. Aku bahkan sempat berpikir untuk mendukung hubungan mereka.
Tapi Miori
jelas-jelas tidak menyukai Reita-kun.
Dia pasti
menyukai Haibara-kun. Kalau diperhatikan, itu langsung terlihat.
Karena dia paling
ceria saat membicarakan Haibara-kun.
…Meski begitu,
entah kenapa dia pacaran dengan Reita-kun.
Itu sudah cukup
membuatku tidak nyaman. Keinginan untuk mendukung pun langsung lenyap.
Saat itulah aku
mendengar cerita dari Minase-san.
Tentang bagaimana
Miori memeluk Haibara-kun di taman malam hari.
Pada akhirnya,
pilihan hati Miori adalah Haibara-kun, dan Reita-kun hanya cadangan.
Begitu
berpikir, aku benar-benar marah. Aku yang begini menyukai Reita-kun, tapi Reita-kun tidak pernah melirikku,
sementara dia malah terpikat pada Miori yang melakukan hal konyol seperti itu.
…Kukira kalau
Reita-kun tahu sifat asli Miori, dia pasti akan berubah pikiran.
Makanya
aku menyebarkan rumor buruk tentang Miori. Ada yang bohong dan
dilebih-lebihkan, tapi intinya berdasarkan fakta dari Minase-san. Makanya
kupikir Miori akan sulit membantah.
Dan
memang seperti dugaanku.
Yang
tidak sesuai dugaan hanya Reita-kun.
『Daripada
sekadar rumor, aku lebih percaya pada Miori.』
Reita-kun
melibatkan Minase-san, mengatur segala hal di sekitar, dan menghapus rumor
tentang Miori.
Jujur,
aku tidak menyangka Reita-kun akan melakukan sebanyak itu demi Miori yang sudah
mengkhianatinya. Aku berharap
Reita-kun akan terkejut dengan pengkhianatan Miori dan memutuskan hubungan.
Tapi perasaan
Reita-kun terhadap Miori ternyata tidak sekadar itu.
Hasilnya, aku
yang terpojok. Aku dianggap sebagai orang yang menyebarkan kebohongan, dan
posisiku memburuk.
Reita-kun
menganggapku musuh dan melindungi Miori.
…Kalau
dipikir lagi, ini memang karma sendiri.
Ini sudah
keterlaluan.
Baru sekarang,
setelah keadaan seperti ini, aku sadar.
Kalau
Hoshimiya-san melaporkan ke sekolah, aku mungkin akan kena skorsing.
Kepalaku
kosong, dan aku langsung kabur dari tempat itu.
Aku berlari terus
tanpa tujuan, dan tanpa sadar sudah sampai di rumah.
Aku hanya
memikirkan keselamatan diriku sendiri, dan Miori sempat hilang.
…Bukan karena aku
khawatir pada Miori. Aku hanya takut ini akan jadi tanggung jawabku.
Kalau Miori
sampai bunuh diri, pasti nama aku akan muncul saat mereka menelusuri
penyebabnya. Meski kupikir itu tidak mungkin, setidaknya aku ingin memastikan
dia selamat.
"Kakak,
tolong cari seseorang."
Saat seperti ini,
satu-satunya orang yang bisa kuharapkan hanyalah kakak.
Hanya kakak yang
selalu berada di pihakku apa pun situasinya.
Kakakku yang satu
tahun di atas — Hasegawa Kouya — adalah siswa kelas dua di SMA Kakiwari.
Dia pemimpin
kelompok yankee yang cukup terkenal di daerah ini.
Meski ditakuti
karena kekuatannya, dia sangat baik pada keluarga dan aku.
"Temanmu
hilang? Serahkan padaku."
Kakak salah
paham, tapi aku tidak perlu mengoreksinya.
Kakak yang
kuminta tolong itu mulai mencari Miori.
Karena kakak
punya banyak anak buah, dia bisa memakai taktik jumlah besar. Lebih besar
kemungkinannya daripada aku mencari sendirian. Aku memberinya foto dan profil
Miori, lalu menyerahkan sisanya padanya.
…Malam itu, kakak
menelepon.
Yang kudengar
bukan kabar Miori selamat, melainkan kakak ditangkap polisi.
Entah kenapa, dia
bersama Reita-kun.
Aku tidak
mengerti apa yang terjadi hingga mereka berkelahi, tapi aku buru-buru ke kantor
polisi. Saat tiba, kakak dan yang lain baru saja dibebaskan dengan hukuman
ringan.
Wajah mereka
berdua penuh memar. Pasti tidak hanya di wajah, mengingat pakaian mereka.
"Ka-kakak,
ada apa ini!?"
"Bukan
hal besar. Hanya perkelahian biasa."
Dulu kakak dan
Reita-kun cukup dekat. Bahkan sempat selalu bersama. Awalnya aku menyukai
Reita-kun juga karena mengenalnya lewat kakak.
Saat Reita-kun
sedang liar dulu. Aku semakin tertarik pada matanya yang gelap dan penuh
kegelapan.
"Yang
penting, maaf. Kami tidak menemukan Motomiya."
Kakak
memang dari dulu tidak banyak bicara. Dia hanya meminta maaf.
Dalam proses
mencari Miori, kenapa sampai berkelahi dengan Reita-kun?
Aku tidak
mengerti. Tapi kakak pasti tidak mau menjelaskan.
"Reita-kun."
"…Miori
sudah tidak apa-apa."
Reita-kun
memberitahuku saat aku sedang bingung.
Dia tidak mau
cerita alasan perkelahian, tapi sebagai gantinya, dia memberitahu hal yang
paling ingin kuketahui.
"Haibara-kun
yang menemukannya, jadi tidak perlu khawatir."
"…Aku tidak
khawatir kok. Tapi syukurlah dia selamat."
Aku lega…
tapi aku tidak punya hak untuk merasa begitu. Aku kan orang yang menggiringnya
ke situasi ini.
"…Maaf,
Reita-kun. Ini salahku."
Aku menunduk
dalam. Reita-kun tampak sedikit terkejut.
Lalu dia
pelan-pelan menggeleng.
"Tidak perlu
minta maaf padaku. Kalau ditelusuri, ini semua salahku."
Matanya tidak
lagi memiliki cahaya seperti dulu. Sama seperti masa lalu, penuh kegelapan.
Tapi sekarang,
aku tidak lagi tertarik pada kegelapan itu.
Justru aku sedih
karena dia kembali ke mata seperti dulu.
"Reita-kun.
Itu… ada apa sebenarnya?"
Aku tertarik pada
kegelapan itu hanya sebagai awal. Aku penasaran kenapa matanya begitu sedih.
Aku ingin menghapus kegelapan di hatinya.
Makanya saat
melihat Reita-kun yang kembali tersenyum, yang matanya kembali bercahaya, aku
benar-benar bahagia. Ternyata dia juga bisa tersenyum seperti ini.
Saat itulah aku
sadar bahwa aku menyukainya.
"Sekarang
Reita-kun memiliki mata yang sama seperti dulu."
"——Aku sudah
sadar. Betapa rendahnya diriku sebagai manusia."
Kata-katanya yang
diucapkan dengan nada sedih itu terasa sangat menyakitkan.
Reita-kun seolah
melihat rasa cintaku yang masih tersimpan di dada, lalu berkata.
"Tidak perlu
memikirkanku. Aku bukan orang seperti yang kamu kira."
Reita-kun
mengatakan itu lalu menghilang ke malam bersama kakak.
■(Haibara Natsuki)
Cerita Hasegawa,
jujur saja, tidak enak didengar.
Dia yang sudah
menggiring Miori ke situasi buruk, tapi cara berpikirnya terlalu mementingkan
diri sendiri.
…Tapi, fakta bahwa dia mau menceritakan semua itu secara jujur menunjukkan dia sedang berusaha sebaik mungkin. Dari cara bicaranya, terlihat dia menyesal.
"Bagian
yang paling penting kurang jelas, maaf… Tapi ini semua yang aku tahu."
Hasegawa
sepertinya kehausan setelah bercerita panjang. Dia menyesap cokelat panasnya.
Tapi sepertinya
sudah dingin, karena ekspresinya agak aneh.
"Perkelahian
sampai melibatkan polisi… itu hebat sekali ya?"
Uta membuka mulut
lebar sambil menatapku.
Kalau wajahnya
memar, berarti mereka berkelahi cukup serius.
"Di polisi
sepertinya dianggap perkelahian dua pihak, jadi hanya dimintai keterangan lalu
dilepaskan. Tapi sekolah pasti tidak bisa membiarkan begitu saja…"
"…Makanya
dia kena skorsing."
Dari alur cerita,
sepertinya kakak Hasegawa dan Reita yang berkelahi.
Jadi itu inti
dari insiden kekerasan. Tapi aku masih tidak mengerti kenapa sampai begitu…
"Tapi
sekarang, kakak Youko-chan dan Reita sedang bersama kan?"
Uta
bertanya padaku, dan aku mengangguk.
Setelah diam
selama tiga detik, Uta memiringkan kepala.
"…Kenapa?"
"Hmm…
Kakakku tipe yang impulsif… mungkin ada kesalahpahaman."
Sambil melirik dua orang yang sedang bicara dengan wajah
serius, aku merapikan pikiran.
"Konfirmasi dulu, insiden itu terjadi pada hari Miori
hilang, kan?"
"Ya. Aku tahu kakak ditangkap polisi sekitar pukul
tujuh malam hari itu."
Kalau kakak Hasegawa sedang mencari Miori, wajar dia
bertanya pada Reita yang satu sekolah dengan Miori.
Bagi Reita, tentu
dia akan bertanya kenapa kakak Hasegawa mencari Miori.
Secara kronologi,
Reita bertemu kakak Hasegawa setelah bicara denganku di gunung.
Aku mengabarkan
Miori selamat di grup chat sekitar satu jam kemudian, jadi Reita seharusnya
sudah tahu Miori selamat… Mungkin ada kesalahpahaman yang berujung perkelahian?
"…Pada
akhirnya, kita harus bertemu Reita lagi dan bicara langsung."
Aku ingin bicara
berdua dengan Reita saat teman-temannya tidak ada.
"…Tolong.
Aku ingin Reita-kun kembali seperti dulu."
Dia pasti
berpikir hanya kami yang bisa melakukannya. Makanya dia datang ke sini.
"Itu juga
yang kami inginkan… Tapi kamu tahu dia di mana?"
"Entah…
biasanya dia sering di rumah teman-temannya… Selain itu—"
Hasegawa menyebutkan beberapa tempat nongkrong kakaknya:
bawah jembatan dekat stasiun, game center, dalam rumah sakit terbengkalai,
belakang minimarket dekat Kakiwari High, dan lain-lain. Salah satunya sudah aku
konfirmasi.
"Tempat yang paling mungkin untuk bicara berdua dengan
Reita adalah… game center."
Tempatnya
ramai dan berisik. Di ruang yang penuh orang, banyak tempat bersembunyi. Kalau
yang lain sedang fokus main game, mungkin kami bisa menyelinap membawa Reita
pergi.
"Tapi kandidatnya banyak… bagaimana ya?"
"Menunggu terus di game center? Tidak terlalu realistis…"
"Apalagi
belum tentu dia datang."
Saat aku
dan Uta sedang membahas itu, Hasegawa mengusulkan.
"Kalau hanya
menanyakan lokasi kakak, aku bisa. Meski tidak selalu bersama."
Benar
juga. Sebagai saudara, pasti
mudah mengecek lokasi.
"Bisa
tolong?"
Hasegawa
mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon kakaknya.
"Halo.
Sekarang di mana? …Bukan, aku cuma khawatir. Ya…"
Setelah bicara sekitar sepuluh detik, Hasegawa menutup
telepon.
"Katanya
sekarang lagi di game center. Kalau mau bicara dengan Reita-kun, ini kesempatan."
Aku dan
Uta saling pandang lalu berdiri.
"Terima
kasih, Hasegawa. Kami coba ke sana."
"…Aku ikut.
Kalau aku yang mengalihkan perhatian kakak, kalian bisa bicara berdua dengan
Reita-kun."
"Sebenarnya
sangat membantu… tapi kamu yakin? Ini seperti melawan keinginan kakakmu."
Dari suasana saat
bertemu di bawah jembatan, kakak Hasegawa sepertinya tidak menyukai kami yang
mencoba membawa Reita kembali. Dia seolah menghormati keinginan Reita yang
menolak kami.
Hasegawa
mengangguk. "Tidak apa-apa."
"Aku… tidak
mau melihat Reita-kun seperti ini terus."
Tindakan Hasegawa
sampai hari ini memang sulit diterima.
Tapi perasaannya
terhadap Reita sepertinya tulus.
Meski cintanya
meluap hingga melukai Miori… Yah, aku juga ikut melukai Miori, jadi aku tidak
berhak menyalahkannya. Satu hal yang bisa kukatakan…
"Maafkan
Miori dengan benar ya."
"…Ya, aku
mengerti. Senin aku akan ke sekolah dan minta maaf pada Miori."
Hasegawa
mengangguk dengan ekspresi serius.
Kalau begitu,
sisanya tergantung apakah Miori mau memaafkannya.
Aku akan fokus
membawa Reita kembali.
"Ayo,
Uta."
"Ya! Ayo
kita ambil Reita kembali!"
Meski kelihatan
seperti semangat palsu, Uta tersenyum sambil mengatakannya.
*
Di luar sudah gelap, tapi lampu game center masih menyala.
Tutup jam dua
belas malam, jadi masih lama. Ada juga yang nongkrong di depan pintu
masuk.
Game
center ini memang tempatnya agak liar. Selain anak Kakiwari, banyak orang
berandalan. Makanya orang biasa jarang datang, lebih suka ke game center di
mal.
Kami berhenti
agak jauh dari pintu masuk, lalu saling pandang.
Kami
bertiga mengangguk dengan wajah tegang.
"Aku masuk
dulu ya. Kalau ketemu kakak, aku akan ajak bicara untuk mengalihkan
perhatian."
"Kalau
situasinya memungkinkan, kami akan bawa Reita pergi."
Rencana
sederhana, tapi memang hanya ini yang bisa dilakukan.
Lagipula, kami
tidak akan tahu situasinya kalau tidak masuk.
Setelah Hasegawa
masuk selama satu menit, kami berdua menyusul masuk ke game center.
BGM toko
dan suara game sangat ramai. Karena hari libur, ternyata lebih ramai dari yang
kukira.
Kami berjalan
dari satu tempat tersembunyi ke tempat tersembunyi lain sambil menghindari
perhatian orang, mencari Reita.
Tidak ada di
lantai satu. Begitu naik ke lantai dua, di area game fighting terlihat
orang-orang yang familiar. Sepertinya mereka sedang bertarung antar sesama.
"Ada,
Natsuki."
"Ya."
Reita dan kakak
Hasegawa sedang bicara agak jauh dari anak buahnya.
Situasinya sangat
menguntungkan.
"Kakak."
Hasegawa juga
mengerti itu, lalu menyapa kakaknya.
"Youko…?
Kenapa kamu di sini?"
"Kakak
bilang lagi di sini, jadi aku datang."
"Aku
kan sudah bilang jangan keluar malam sendirian. Ada perlu apa?"
Kakak
Hasegawa tampak sangat terkejut karena adiknya tiba-tiba muncul.
"Ada urusan.
Di sini berisik, ayo keluar dulu."
Hasegawa memegang
lengan kakaknya yang sedang bingung dan menariknya pergi dari tempat itu.
Sesaat, dia
sempat bertatapan dengan kami. Maksud "sisanya tolong" tersampaikan.
Dan untuk
sementara, Reita sendirian.
Kami berdua
mendekati Reita yang sedang mengeluarkan ponsel dari saku.
Reita
yang mendengar langkah kaki mendongak dan melihat kami.
"Ada yang
ingin dibicarakan. Ikut kami."
Kalau perlu, aku
siap membawanya secara paksa, tapi Reita hanya menghela napas.
"…Pantas.
Begitu ya. Kamu memang tidak mudah menyerah."
"Memang
tidak perlu dibilang lagi kan."
"Kalau
mau kabur, aku yang akan tangkap!"
Uta
berdiri di belakang Reita, sehingga kami mengapitnya.
Melihat sikap
Uta, Reita tersenyum pahit.
"Kalau mau
kabur, aku tidak akan ikut dari awal."
Lagipula dengan
tubuh kecil Uta, mustahil secara fisik menahan Reita…
Aku mengeluarkan
dompet dan memasukkan uang seribu yen ke vending machine.
"Mau minum
apa?"
"Kamu
traktir?"
"Ya. Terima
kasih sudah mau bicara."
"…Kalau
begitu, kopi panas."
"Aku mau hot
lemon! Soalnya dingin!"
Tanpa sadar aku
juga membeli untuk Uta, tapi ya sudahlah.
Aku
membeli tiga kaleng, lalu melempar dua ke mereka.
Napas
terlihat putih. Kaleng hangat terasa nyaman di tangan yang dingin.
Cahaya
dari dalam game center dan lampu jalan yang tersebar menerangi kegelapan. Wajah
Reita yang berdiri sekitar tiga meter dari kami cukup terlihat, meski agak
samar.
"Kamu
pulang ke rumah?"
"Tidak.
Aku menginap di rumah teman.
Sekarang sedang cari kerja paruh waktu."
"Kenapa
tidak pulang ke rumah? Ada masalah dengan ayahmu?"
"Dari
sikapmu, sepertinya kamu sudah bertemu ayahku?"
Dia balik
bertanya. Tanpa perlu jawab, Reita sepertinya sudah mengerti.
"Ayah bilang
apa soal keberadaanku?"
"…'Anak
itu tidak ada' hanya itu."
"Memang
seperti itu orangnya. Kalau sudah bertemu, pasti mengerti. Aku tidak mau pulang
ke rumah."
Nada
bicaranya yang datar justru terasa lebih menyentuh.
"…Lalu
sekolah bagaimana? Klub sepak bola?"
"Aku
berhenti. Setelah skorsing selesai, aku akan urus pengunduran diri."
Suasana terasa
semakin dingin.
"…Reita,
kenapa? Kita kan mau
lulus bareng…"
Uta
bertanya dengan suara sedih. Reita menunduk.
"…Aku tidak
punya hak untuk itu."
"Apa
maksudnya… Hak apa? Maksudnya apa?"
Reita tidak
menjawab pertanyaan Uta.
Dia pasti tidak
mau menjawab. Sikapnya
meminta kami tidak mendesak lebih dalam.
Meski
begitu.
"…Apa
yang terjadi? Ceritakanlah.
Kita kan teman."
Hei, Reita. Itu
kata-katamu yang dulu kauucapkan padaku.
『Hanya saja,
kita kan teman? Aku hanya bertanya karena kukira kamu sedang punya masalah.』
Kata-katamu saat
itu benar-benar menjadi sandaranku.
Makanya sekarang
giliranku untuk menopangmu yang sedang kesulitan.
"…Seperti
yang kamu katakan, aku memang tidak punya hak menjadi teman kalian. Aku…
manusia paling rendah yang hanya memikirkan diriku sendiri meski teman… orang
yang disukai temanku sedang dalam bahaya. Orang seperti aku tidak pantas berada di sisi
kalian."
Reita
merendahkan dirinya sendiri.
"…Saat itu
aku yang salah. Aku bicara terlalu keras tanpa memikirkan perasaanmu."
"Tidak perlu
minta maaf. Kamu benar sepenuhnya. Aku memang orang seperti itu. Seandainya aku yang menemukan Miori lebih
dulu… aku tidak akan bisa menyelamatkannya."
Reita
melanjutkan dengan nada mengejek diri sendiri.
"Miori
pulang karena — kamu yang pergi menolongnya."
Nada
Reita penuh keyakinan. Tapi
menurutku, dugaan seperti itu tidak ada artinya.
Aku tidak
melakukan apa-apa. Aku hanya menolak pengakuan Miori.
"Justru aku
yang berterima kasih. Kata-katamu yang membuatku sadar akan hakikat
diriku."
"…Kalau
begitu, kenapa kamu berkelahi dengan kakak Hasegawa? Bukan karena dia tidak mau
memberitahu lokasi Miori? Insiden kekerasan itu hasilmu melindungi Miori,
kan?"
"…Menarik.
Kamu tahu sampai situ meski Youko tidak menceritakan apa-apa. Tapi intinya
salah. Aku tidak berniat melindungi Miori. Aku hanya melampiaskan amarah pada
Kouya. Makanya jadi perkelahian. Ini salahku."
Kouya pasti nama
kakak Hasegawa.
Sepertinya
dugaanku hampir benar.
"…Melampiaskan
amarah?"
Aku mengerutkan
kening karena tidak mengerti maksudnya.
"…Hari itu,
setelah bicara dengan Natsuki, aku bertemu Kouya di jalan pulang. Kouya sedang
mencari Miori atas permintaan Youko. Aku sudah tahu Miori selamat dari chat-mu,
tapi aku tidak memberitahu Kouya. Bukan karena tidak percaya. Dia kan teman lama.
Tapi saat itu aku tidak cukup tenang untuk bicara dengan orang lain… Makanya
aku bilang ke Kouya begini."
Reita berhenti
sejenak lalu mengulang kata-katanya saat itu.
"Sebenarnya
alasan Miori hilang adalah karena adikmu. Makanya aku tidak mau memberitahu…
begitu."
Itu pelampiasan
yang keterlaluan, kata Reita sambil mengejek diri sendiri.
"Aku
tidak berhak mengatakan itu. Karena akar masalahnya ada padaku. Hasilnya, Kouya yang percaya pada
adiknya marah dan meminta koreksi. Tapi aku tidak mau mengalah. Makanya jadi
perkelahian, dan aku juga tidak mau kalah. Karena aku sedang kesal, kupikir ini
pas."
"…Makanya
jadi melibatkan polisi."
"Lucu kan?
Tapi ini pas untuk memberi titik akhir pada kehidupanku sekarang. Orang seperti
aku tidak pantas berada di sisi kalian. Dunia kalian terlalu terang
untukku."
Apa yang
dibicarakannya ini?
Kamu adalah orang
yang dulu menjadi pusat cahaya itu.
"Itu
seharusnya kata-kataku, Reita."
"…Aku tidak
mau mendengarnya darimu, Natsuki."
Tatapannya gelap
dan berat.
Saat aku dan
Reita saling tatap tajam, Uta berkata.
"Reita… kamu
lebih suka bersama orang-orang itu daripada kami?"
"Ya. Bersama
Kouya dan yang lain lebih nyaman. Dunia kalian terlalu terang untukku."
"Meski
begitu, aku masih ingin… bermain bersama Reita dan semua orang ke
depannya."
Suara Uta lemah,
seolah bisa hilang kapan saja.
"…Sudah
kubilang kan? Aku tidak punya hak untuk itu. Kalau aku terus bersama kalian, kelompok yang dulu
nyaman itu akan hancur. Shirotori Reita adalah orang seperti itu."
Yang lebih
penting, Reita melanjutkan.
"…Miori
pasti membenciku. Karena akar penyebab Miori terpojok adalah aku. Entah apa
yang dia katakan di depan, tapi dia pasti tidak mau aku di dekatnya."
…Akhirnya sampai
ke situ juga ya.
Rasa bersalah
pada Miori yang membuat Reita terpojok sejauh ini.
"Kamu
akhirnya mengeluarkan isi hati, Reita. Tapi, kamu sudah bicara dengan Miori
setelah itu?"
"Belum
sekali pun."
"Kalau
begitu, kamu tidak tahu perasaan Miori. Dia berusaha menghubungimu
berkali-kali. Kamu tahu kan? Dia khawatir padamu!"
Begitu aku
berteriak, mata Reita sedikit goyah.
Reita mendongak
ke langit malam lalu menghela napas panjang.
"…Natsuki,
boleh aku tanya satu hal?"
"…Apa?"
"Kamu
ditolak Miori yang mengaku, kan? Jawaban apa yang kamu berikan?"
Sepertinya
Reita sudah menebak apa yang terjadi di gunung itu.
"…Aku
menolak. Aku bilang sudah ada orang yang ada di hatiku."
Aku mengulang
kata-kata yang kukatakan pada Miori. Tatapan Reita langsung tajam.
"——Kamu
selalu berbohong."
Aku
langsung mengerti apa yang dimaksud dengan bohong. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Karena aku sudah
memutuskan untuk terus begini.
"…Kalau kamu
mau jujur, mungkin aku bisa kembali ke kalian. Tapi sekarang tidak mungkin.
Selama perasaan ini tidak hilang, aku tidak mau berada di dekat Miori."
Pada saat Reita
mengatakan itu, Hasegawa dan yang lain keluar dari game center.
Termasuk
kakak Kouya dan anak buahnya. Mereka melotot ke arah kami.
Sepertinya
ketahuan bahwa kami yang membawa Reita pergi.
Hasegawa yang
lehernya dicekal kakaknya melirik kami dengan mata meminta maaf.
…Waktu sudah
habis.
"Kamu lagi.
Kamu benar-benar ingin membawa Reita kembali ya."
Kakak Hasegawa
berdiri melindungi Reita sambil melotot ke kami.
"Kami hanya
ingin bicara."
"Kalau
begitu, jangan lakukan hal licik seperti mengelabui kami. Itu sangat tidak
menyenangkan."
"Seharusnya
kami meminta dengan jujur?"
"Kalau itu
yang Reita inginkan, kami tidak akan ikut campur. Kalau tidak, ceritanya
berbeda."
"…Kenapa
sampai segitunya?"
"Karena dia
teman kami."
Rasa kebersamaan
yang kuat. Aku dengar dulu mereka dekat, tapi ternyata sedalam ini.
"Menurut
kalian, Reita ini apa?"
"…Teman.
Setidaknya bagiku begitu."
"Entah
detailnya apa… tapi kalian masih mau meski sudah ditolak seperti ini?"
Aku kehilangan
kata-kata untuk membantah ucapan kakak Hasegawa.
"Tidak usah
dipikirkan, Kouya. Ayo kembali."
Reita menepuk
bahu kakak Hasegawa sambil membelakangi kami.
"…Sekali
lagi aku tanya, kamu benar-benar yakin, Reita?"
Kakak Hasegawa
menekankan sekali lagi.
Reita melirik
kami sekilas dari balik bahu, lalu langsung memalingkan muka.
"Ya. Mereka
berdua sudah… bukan temanku lagi."
Setelah
mengatakan itu dengan suara dingin, Reita kembali masuk ke game center.
"Natsuki,
soal pembicaraan tadi…"
Uta yang berdiri
di sebelahku berhenti di tengah kalimat.
"…Tidak
apa-apa. Lupakan."
Aku tahu apa yang
ingin ditanyakannya. Aku tidak sebodoh itu.
Tapi aku tidak
bisa menjawab dengan jujur, jadi aku diam saja.
*
Keesokan harinya.
Hari Senin.
Periode
skorsing Reita adalah satu minggu. Masih berlanjut sampai Rabu.
Karena
ada akhir pekan, topik Reita agak mereda dibanding minggu lalu.
Tapi bangku
kosong di kelas terasa sangat mencolok.
Suasana kelas
terasa berat, pasti bukan perasaanku saja. Karena kami yang biasanya menjadi
pusat sedang diam, bayangannya memengaruhi. Ini semua karena Reita tidak ada.
Kejadian kemarin
sudah kuceritakan di grup chat.
Semua sudah membaca, tapi belum ada respons.
…Mereka juga pasti bingung harus bilang apa.
Pagi yang tidak banyak berkonsentrasi pada pelajaran
berlalu, dan istirahat siang pun tiba.
Meski tidak ada
kemajuan, perut tetap lapar. Hari ini makan di kantin atau beli? Susah
diputuskan.
…Tapi suasana
kelas terasa agak ramai.
"Natsuki-kun,
boleh sebentar?"
Saat aku sedang
curiga dengan suasana kelas yang tidak biasa, Hikari memanggilku.
"…Ada
apa?"
"Ya.
Sekarang buka Mynsta?"
Aku membuka
aplikasi SNS seperti yang dikatakan Hikari.
"Apa lagi,
Reita posting sesuatu di SNS?"
"Bukan, kali
ini Miori-chan."
Yang pertama
muncul begitu aplikasi terbuka adalah postingan panjang dari Miori.
Ini akun
pribadi yang hanya difollow teman-teman, bukan akun publik, tapi tetap banyak
yang memberi like dan komentar.
'Semua yang akan
kutulis di sini adalah fakta.'
Postingan Miori
menceritakan semua kejadian secara detail.
『Aku pernah
berpacaran dengan Shirotori Reita-kun. Tapi orang yang benar-benar kusukai adalah
orang lain. Aku menyukai
Haibara Natsuki-kun dari kelas dua.
Karena itu, saat
Reita-kun menyatakan perasaannya padaku, awalnya aku berniat menolaknya. Tapi
waktu itu Reita-kun berkata, ‘Kamu boleh tetap menyukai Natsuki.’ Lalu
dia menambahkan, ‘Aku akan berusaha sampai kamu mau memandangku.’
Orang yang
kusukai sudah punya pacar, dan aku sendiri ingin melupakan perasaan ini. Karena
itu, usulan Reita-kun terasa sangat menggoda. Aku berpikir, kalau aku bisa
mulai menyukai Reita-kun, mungkin aku bisa terbebas dari rasa sakit ini.
Tapi ternyata
perasaan itu tidak semudah dihapus. Aku justru mengkhianati Reita-kun.
Belakangan ini
muncul rumor kalau aku memeluk Natsuki-kun. Dan… itu memang benar. Karena
itulah aku melukai Reita-kun.
Meski begitu,
Reita-kun tetap melindungiku yang sudah mengkhianatinya. Dia berusaha
memperbaiki reputasiku yang memburuk. Dia bilang aku tidak memeluk Natsuki-kun,
hanya tersandung lalu kebetulan ditangkap olehnya.
Berkat Reita-kun,
aku bisa lepas dari sebagian besar rumor buruk itu. Tapi tidak sepenuhnya.
Kurasa Reita-kun
merasa bertanggung jawab. Padahal yang salah adalah aku. Karena hubungan kami
yang setengah-setengah ini, dia malah mengira akulah yang terluka akibat
hubungan bersyarat yang dia usulkan dulu.
Video Reita-kun
yang sekarang viral di Mynsta… itu juga rekayasanya sendiri.
Demi memulihkan
reputasiku sepenuhnya dan mengalihkan semua tuduhan ke dirinya, dia sampai
melakukan hal sejauh itu. Kurasa itu bentuk penebusan dosanya.
Padahal
sebenarnya yang bersalah adalah aku.
Aku tidak
ingin terus dilindungi dengan kebohongan.
Yang
salah adalah aku, dan akulah yang seharusnya menerima semua kesalahan itu.
Karena itulah aku
menulis semuanya di sini.
Maaf.
Tolong… percayalah pada Reita-kun.』
Postingan panjang yang mengungkapkan segalanya, termasuk
kebohongan yang Reita buat untuk melindungi Miori.
Ini untuk
memulihkan reputasi Reita di sekolah.
"Miori
melakukan ini…"
Ini kesaksian
langsung dari pihak yang terlibat. Efeknya pasti ada.
Sebagai gantinya,
usaha Reita untuk melindungi reputasi Miori menjadi sia-sia.
"Misalnya…
aku dan Serika-chan sudah tahu. Bahwa hari ini dia akan melakukan ini."
Hikari berkata dengan wajah bersalah.
"Aku sempat
mencegah. Karena situasi sedang mulai tenang, ini bisa seperti mengungkit lagi.
Usaha Reita-kun juga jadi sia-sia."
Hikari diam
padaku karena diminta Miori. Dia pasti tahu aku akan mencegah. Memang ini bukan
cara yang baik.
"…Tidak
selalu harus jujur sepenuhnya."
"Aku juga
berpikir begitu. Tapi mungkin dia tidak suka. Dilindungi dengan
kebohongan."
Sambil bicara
dengan Hikari, kami keluar ke koridor. Sekitar kelas sebelah sedang ramai.
Begitu mengintip
ke dalam kelas, Miori sedang dikelilingi cewek-cewek sekelas.
"Hei,
ini benar?"
"Ini
serius? Wah, kayak drama!"
"Jadi
Reita-kun memang orang baik ya? Aku juga berpikir begitu!"
"Ada banyak hal ya… Aku mengerti perasaanmu,
Miori."
Bukan suasana menyalahkan. Sepertinya Miori sedang
dibombardir pertanyaan oleh cewek-cewek yang penasaran. Miori kelihatan tidak nyaman… Yah, ini hasil
pilihan Miori sendiri.
"Kurasa dia ingin bertanggung jawab atas
tindakannya."
Hikari yang mengikutiku bergumam sambil menatap Miori.
"Sampai sekarang dia menghormati perasaan Reita-kun
yang melindunginya, tapi karena Reita-kun melakukan hal yang mengorbankan
reputasinya sendiri, itu yang tidak bisa diterimanya."
Makanya dia
menulis semuanya dengan jujur.
…Dengan ini,
reputasi Reita belum tentu pulih.
Murid yang dekat
dengan Miori pasti percaya kata-katanya.
Karena ada fakta
skorsing akibat kekerasan, sulit mengharapkan siswa yang tidak terlibat
langsung percaya begitu saja pada kata-kata Miori.
Seperti yang
dikhawatirkan Hikari, ini justru mengungkit kembali rumor yang sedang mulai
mereda. Hasilnya, baik Miori maupun Reita, reputasi keduanya bisa turun.
Makanya, ini
pasti soal perasaan Miori sendiri.
Lebih baik
menghadapi hasil dari kejujurannya daripada terus dilindungi oleh pengorbanan
Reita.
"…Sepertinya Miori-chan sudah lega ya."
Hikari tersenyum
tipis. Pandangannya tertuju pada Miori.
"Tunggu
dulu! Tanya satu per satu! Aku akan jawab semuanya!"
Meski kelihatan
tidak nyaman, mata Miori sekarang penuh tekad.
"…Benar
juga."
"Yuk, kita
makan siang."
Tidak ada
gunanya berdiri di sini terus.
Lagipula kalau
aku dan Hikari bersama, perhatian orang pasti langsung tertuju ke kami.
Kami berjalan
mencari tempat sepi untuk makan siang.
*
Aku dan Hikari
naik ke atap.
"Tidak ada
orang ya."
"Di musim
semi dan gugur kadang ada, tapi musim panas dan dingin biasanya kosong."
Memang, jarang
ada yang mau makan di luar saat cuaca panas atau dingin.
Untungnya hari
ini tidak berangin, jadi lumayan hangat.
Kami
duduk berdampingan menyandarkan punggung ke pagar. Aku membawa roti dari kantin, Hikari membawa
bekal.
Rasanya sudah
lama sekali aku dan Hikari menghabiskan waktu berdua seperti ini.
Meski kami sering
telepon.
"Nanti aku
buatkan bekal ya."
"Eh, tidak
usah. Repot kan bikin
dua porsi."
"Kalau
sudah masak, satu atau dua porsi tidak terlalu beda kok."
Atau… Hikari
mendekatkan wajahnya ke arahku.
"…Tidak mau?"
"…Bukan, aku sangat mau."
"Bagus."
Hikari mengangguk puas.
Tentu saja aku mau bekal buatan pacarku!
Ini
termasuk peringkat tinggi di daftar event masa muda berwarna pelangi (versi
penelitianku).
Sambil
mengunyah roti yakisoba, aku melirik bekal Hikari yang penuh warna.
"Ini buatan
ibuku sih."
Hikari menyadari
tatapanku dan tersenyum pahit.
"…Kamu bisa
masak ya?"
Waktu itu saat
dia datang ke rumah bersama Miori, sepertinya dia bilang tidak bisa.
"Aku masih
latihan!"
Hikari manyun
sambil menggembungkan pipi. Pacarku hari ini juga imut sekali.
"Oh ya,
Natsuki-kun tidak pernah bikin bekal?"
"Pagi aku
lari dan latihan otot, jadi tidak ada waktu bikin bekal."
"Itu yang
lebih penting ya, memang khas Natsuki-kun."
Selain itu, aku
juga malas bikin bekal di pagi hari. Masak memang tidak masalah, tapi bekal
biasanya cuma mengumpulkan makanan sisa atau frozen food, jadi beda dengan
masak sungguhan…
Ngomong-ngomong,
ibu lemah bangun pagi jadi tidak pernah buatkan bekal. Yah, setidaknya aku
dapat uang makan, jadi tidak ada keluhan. Semua orang punya kelebihan dan
kekurangan masing-masing.
Tapi melihat
bekal Hikari seperti ini, aku agak iri.
Hikari seolah
teringat sesuatu, lalu mengambil tamagoyaki dengan sumpit dan menyodorkannya.
"Ini, aa~
Mau kan?"
"Eh, bukan,
aku tidak melihat dengan maksud itu…"
"Sudah,
makan saja."
"Moga…"
Hikari memaksa
memasukkan ke mulutku. Manis dan enak.
"Jangan
paksa masukin ke mulut. Enak sih!"
Begitu aku
protes, Hikari terkikik.
"Sedikit
semangat keluar kan?"
"Eh…?"
Butuh beberapa
detik untuk memahami maksud pertanyaannya.
Hikari sedang
mengkhawatirkanku.
Begitu sadar,
perasaan bersalah langsung memenuhi dada.
"Maaf,
Hikari…"
"Tidak
apa-apa, aku mengerti alasannya."
Hikari menggeleng
lalu melanjutkan.
"Sebagai
gantinya, ceritakanlah apa yang kamu pikirkan. Mungkin lebih ringan daripada
memikirkan semuanya sendirian… Aku juga ingin kamu mengandalkanku."
Aku tidak cukup
bodoh untuk tidak menyadari perasaan yang tersembunyi di balik kata-kata itu.
Hikari pasti juga
punya pikirannya sendiri. Tentang fakta bahwa saat sedang kesulitan, orang yang
selalu kuharapkan adalah Miori. …Yah, saat ini memang bukan situasi yang
memungkinkan untuk mengandalkan Miori.
"Terima
kasih, Hikari."
Apapun itu, ada
orang yang ingin membantuku.
Fakta itu sungguh
membuatku bahagia.
"…Reita
berniat keluar sekolah begitu masa skorsingnya selesai."
Aku mengubah
pikiran yang berantakan menjadi kata-kata untuk memperjelas masalah.
"Makanya,
aku harus mengubah pikiran Reita."
"Ya."
"…Aku tidak
bisa membiarkannya begitu saja. Reita sekarang terlihat seperti sedang
mengabaikan segala hal yang terjadi dengan kami, memalingkan muka dari realita,
dan membuang masa depannya. Ini hidup Reita. Seharusnya dia yang memutuskan…
tapi aku tidak percaya ini adalah keinginan sebenarnya Reita."
Karena Reita
sekarang tidak tersenyum sama sekali. Dia sama sekali tidak terlihat menikmati.
"Tapi meski
kucoba membujuknya secara langsung, kata-kataku tidak sampai ke hatinya."
"Ya."
Hikari dengan
sabar memberi tanggapan pada gumamanku yang tidak karuan.
"…Aku harus
bagaimana ya?"
Pada akhirnya,
itu inti dari semuanya.
Setelah gagal
membujuk secara langsung, aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Aku ingin
Reita kembali. Tapi kalau dia tidak menginginkannya—"
"—Kamu tidak
perlu memikirkannya terlalu rumit, lho?"
Hikari jarang
sekali memotong ucapanku, lalu tersenyum padaku.
"Karena yang
bisa Natsuki-kun lakukan hanyalah menyampaikan perasaanmu sendiri, kan?"
Itu… memang
seperti yang Hikari katakan.
Meski ini masa
muda keduaku, pada akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah itu.
"Sampai
sekarang, sudah banyak hal yang terjadi. Tapi setiap kali, yang membuat
semuanya kembali ke bentuk semula… bukan, bahkan menjadi bentuk yang lebih
baik, adalah karena Natsuki-kun yang menyambungkannya."
Menyampaikan
perasaan sendiri. Memaksakan ego sendiri.
Semua masalah
sampai sekarang berhasil diatasi dengan cara itu.
"Natsuki-kun
ingin bagaimana?"
Aku merenungkan
perasaanku sendiri.
Aku ingin membawa
Reita kembali.
Kenapa?
Karena aku ingin
bersamamu.
Karena
aku senang bermain denganmu.
Karena aku
percaya bahwa perasaan itu kami bagi bersama.
"…Dia bilang
kami sudah bukan temannya lagi. Memang benar, hubungan di mana dia menghilang
tanpa berkonsultasi apa pun, mungkin tidak pantas disebut teman."
"Ya."
"——Kalau
begitu, kali ini aku akan menjadi teman sejati baginya."
Karena dalam masa
muda berwarna pelangi yang aku impikan, dia adalah bagian yang tak tergantikan.
Setelah merapikan
pikiran, keinginanku menjadi jelas dengan sendirinya.
Rasanya lega.
Begitu mendongak, langit biru tanpa awan terbentang luas. Entah kenapa, aku
merasa sudah lama tidak melihat langit. Rupanya tanpa sadar aku terus menunduk.
"Aku…
sedikit mengerti perasaan Reita-kun."
Hikari
bergumam sambil mendongak ke langit seperti aku.
"Saat
menyadari sisi buruk dirimu sendiri, kamu akan kecewa pada diri sendiri. Apakah
orang seperti aku pantas berada di sini… begitu. Karena semua orang… karena
Natsuki-kun terlalu bersinar, jadi semakin terasa."
"Semua
orang bilang hal yang sama. Karena
kalian bersinar, aku juga berusaha keras. Padahal itu saja."
"Usaha
Natsuki-kun itu yang membuat kami merasa bersinar."
Kalau begitu,
seharusnya aku tidak usah berusaha keras?
Mungkin kalau aku
tidak mengulang masa mudaku, semua orang akan lebih bahagia.
"Tapi,"
Hikari pelan-pelan mengelus rambutku.
"Karena
Natsuki-kun ada, kami juga bisa berusaha. Sedikit demi sedikit, mengubah sisi
buruk diri kami… menjadi diri yang bisa kami banggakan. Dan berada bersama
semua orang sebagai diri yang sudah tumbuh seperti itu pasti lebih
menyenangkan. Pasti——dunia akan terlihat berwarna. Makanya."
Hikari tersenyum.
Senyum yang
seperti bunga mekar.
"Reita-kun
pasti juga sebenarnya berpikir begitu. Tinggal tunggu saja pemicunya."
"Bagaimana
cara membuat pemicu itu?"
"Itu kan
dengan semangat Natsuki-kun sendiri?"
Pendapat Hikari
terlalu sederhana dan langsung.
Sudah dua kali
gagal membujuk secara langsung.
Mustahil
berhasil dengan strategi sesederhana itu.
Tapi
dalam pembujukan sebelumnya, apakah aku benar-benar menyampaikan perasaanku
pada Reita?
Apakah
aku hanya menyodorkan pendapat logis dan mengira itu sudah cukup?
…Bukan begitu,
Haibara Natsuki. Tindakan seperti itu tidak ada artinya.
"Mengungkap
isi hati Reita, lalu menyampaikan perasaanku."
Sebenarnya, aku
sedikit takut.
Aku takut Reita
sudah membenciku.
Makanya aku tidak
berani melangkah lebih dalam ke hatinya yang menolakku.
Tapi… ikatan yang
bisa hilang hanya karena ini, bukanlah ikatan yang sebenarnya.
Aku percaya pada
Reita. Aku percaya pada sesuatu yang tak kasat mata yang sudah kami bangun
bersama.
Kalau dia bilang
kami bukan teman lagi, maka kali ini aku akan menjadi teman sejatinya.
Melihat mataku
yang sudah bulat tekad, Hikari menepuk punggungku dengan keras.
"Kalau
Natsuki-kun, pasti bisa. Karena kamu paling jago melakukan hal-hal memalukan
seperti ini."
"…Hikari?"
Aku agak terluka
karena ternyata dia juga berpikir begitu.
"Kenapa
sedih? Aku memujimu lho."
"Tidak
terdengar seperti itu…"
Hikari
menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.
"Aku suka
sisi Natsuki-kun yang seperti itu."
…Hikari
benar-benar mengenalku dengan baik.
Meski tidak mau
mengakuinya, itu memang kelebihanku.
"Kita
lakukan seperti biasa, dengan cara yang norak?"
Aku lega sudah
berkonsultasi dengan Hikari.
Senyumnya, kata-kata yang mendorong punggungku, selalu memberiku kekuatan.



Post a Comment