NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 1 Prolog


Prolog

Penyesalan Masa Remaja


Hidupku di masa SMA adalah masa yang kelabu.

Jika harus merangkum tiga tahun SMA-ku dengan satu kata, itu adalah satu-satunya ungkapan yang paling tepat.

Hingga sekarang, aku masih menyesalinya.

“Seandainya saat itu aku melakukan ini...” Pikiran-pikiran penuh harapan yang egois seperti itu selalu melintas di benakku.

Di SMP, aku termasuk tipe yin-kya—anak yang tertutup dan suka menyendiri.

Aku tidak ikut klub apa pun. Bukan hanya tidak punya pacar, bahkan teman pun nyaris tidak ada. Aku selalu sendirian.

Aku iri. Aku cemburu.

Pada mereka yang berada di pusat kelas, tertawa riang tanpa beban. Pada pasangan-pasangan yang mesra di kelas setelah jam pelajaran, bersama gadis-gadis yang diam-diam kusukai.

Maka ketika masuk SMA, aku bertekad untuk mengubah hidupku.

Aku juga akan meraih masa remaja yang berwarna pelangi!

Dengan semangat membara, aku mencoba melakukan high school debut. Dan hasilnya... gagal total.

Bahkan, keadaan di SMA malah lebih buruk daripada SMP. Dulu di SMP aku hanya tidak punya teman.

Tapi di SMA, aku benar-benar terisolasi.

Hampir semua orang menyimpan perasaan tidak suka terhadapku, setidaknya sedikit.

Aku tahu. Semua ini salahku sendiri.

Awalnya semuanya berjalan lancar. Setidaknya, itulah yang kulihat. Karena itu aku kelewat percaya diri. Akibatnya, segalanya hancur berkeping-keping.

 

“Oi, Natsuki. Maaf ya, aku sudah tidak bisa lagi melindungimu. Yang paling penting——aku sendiri sudah muak sama kamu.”

 

Momen ketika kata-kata itu diucapkan masih sangat jelas terbayang di ingatanku.

Aku memang bodoh. Hanya itu.

Setelah itu, aku hanya berusaha hidup dengan hati-hati, selangkah demi selangkah.

Tapi aku belajar bahwa memulihkan kepercayaan yang sudah hilang jauh lebih sulit daripada mendapatkannya.

Pada akhirnya, masa remaja berwarna pelangi itu hanyalah mimpi dalam mimpi. Masa SMA-ku berakhir dalam warna kelabu yang pekat.

Penyesalan itu terus kugendong hingga sekarang. Dan mungkin akan terus kugendong sampai mati nanti.

Itulah musim dingin tahun keempat kuliahku.

Sudah berapa tahun sih? Aku mengejek diriku sendiri dalam hati.

Kubawa rokok ke bibir dan menyalakannya. Kemudian menghembuskan asap perlahan.

Tanpa sadar, aku sudah cukup dewasa.

Di masa kuliah, aku menerapkan pelajaran dari kegagalanku di SMA. Aku bermain aman.

Sudah muak mencoba menjadi yang-kya dan gagal. Aku berhasil dekat dengan beberapa orang dan sesekali pergi minum bersama.

Kalau ditanya apakah menyenangkan, aku bingung harus menjawab apa. Tapi setidaknya rasanya nyaman. Posisiku pas-pasan saja.

Nilai untuk kelulusan tidak ada masalah. Penelitian skripsi juga berjalan lancar. Lowongan kerja pun sudah aman—aku mendapat tawaran dari perusahaan infrastruktur yang stabil.

Sepertinya aku akan lulus dengan biasa saja, bekerja dengan biasa saja, dan hidup dengan biasa saja. Aku tidak membencinya. Hidup biasa itu pasti juga sebuah kebahagiaan.

——Tapi penyesalan masa remaja itu takkan pernah hilang seumur hidup.

Tiga tahun SMA yang kelabu. Baru setelah semuanya berlalu, aku menyadari betapa berharganya masa itu.

Orang bilang masih bisa berubah sekarang. Aku juga setuju itu benar.

Tapi meski berubah sekarang, hal-hal yang sudah hilang takkan pernah kembali.

Jika yang kuinginkan adalah masa remaja berwarna pelangi, maka itu sudah tidak akan pernah bisa kudapatkan lagi.

Meski begitu, hidup tetap berjalan. Waktu terus menarik tanganku yang suka menoleh ke belakang, memaksaku melangkah maju.

Jadi, aku hanya bisa terus hidup.

 

Sampai pada titik itu, aku tersenyum pahit.

Bukan berarti aku putus asa sampai ingin mati. Hanya sekadar sentimental biasa.

“Remaja yang tidak berjalan sesuai harapan”—penyesalan seperti ini sangat umum.

Ya, aku tahu.

Karena itu, aku... hanya berharap sedikit saja pada Tuhan.

 

Jika mungkin, tolong berikan aku kesempatan untuk mengulang masa remaja itu sekali lagi.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close