NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 2 Epilog

Epilog

Rutinitas Masing-Masing yang Biasa


……Jujur saja, aku sangat gugup.

Senin pagi. Sambil memegang daun pintu kelas, aku menarik napas dalam-dalam.

……O-oke. Ayo, kali ini aku tidak lupa menjaga ketenangan. Semuanya masih ada di sini, di dalam diriku.

Begitu masuk ke kelas, Nanase yang berada di dekat sana menyadari keberadaanku dan melambaikan tangan.

"Selamat pagi, Haihara-kun."

"Ah, selamat pagi."

Sambil menjawab, aku mengalihkan pandangan ke sekitar Nanase.

"Ah, Natsuki-kun, selamat pagi!"

"Yo, selamat pagi."

Hoshimiya melambaikan tangan dengan riang. Di sampingnya, Uta berdiri.

――Mataku bertemu dengan Uta. Wajah Uta seketika memerah padam seperti apel.

Aku berharap dia tidak menunjukkan reaksi sebegitu mencolok, karena itu membuat wajahku juga ikut kepanasan.

"……Se-selamat, pagi, Natsu."

"……Se-selamat pagi."

Kami berusaha saling menyapa, lalu membuang muka dan berjalan menuju kursi masing-masing.

Hoshimiya dan Nanase jelas menatap kami dengan tatapan curiga, tapi urusan itu kuserahkan pada Uta saja.

Ketenangan yang seharusnya sudah kupersiapkan dengan baik tadi entah kabur ke mana. Larinya cepat sekali.

Saat aku duduk di bangkuku untuk menenangkan diri, Reita dan Tatsuya mendekat.

Terutama Reita, dia menatapku dengan seringai jahil yang tampak sangat menikmati situasi ini.

"Kau datang, Natsuki. Nah, coba ceritakan, apa saja yang terjadi di festival kemarin?"

"……Kenapa kau tahu? Reita kan tidak datang?"

"Aku kan punya banyak teman. Aku dengar kalau Uta dan Natsuki pergi berdua."

……Yah, sebenarnya memang ada beberapa orang dari sekolah yang sama yang kulihat selain Fujiwara dan teman-temannya.

Tidak aneh jika kabar ini sampai ke telinga Reita yang punya koneksi luas.

"Lagipula, katanya Uta memakai yukata? Apa kau sempat memotretnya? Sejauh mana hubungan kalian berkembang?"

Reita bertanya dengan bertubi-tubi, sesuatu yang jarang dia lakukan.

Kenapa pria ini semangat sekali kalau membahas kehidupan asmara orang lain?

"Memang memakai yukata, tapi aku tidak memotretnya, dan tidak ada perkembangan apa pun."

Sambil menjawab begitu, aku jujur menyesal karena tidak sempat memotret Uta yang mengenakan yukata.

"……Begitu ya."

Tatsuya mendengarkan pembicaraan kami dengan ekspresi yang sangat suram.

"Tatsuya, kau bakal terluka kalau mendengarnya, mending sana pergi saja."

Reita mengusir Tatsuya seolah mengusir anjing.

Pria ini, kata-katanya pedas sekali, ya?

Apa sebenarnya idealku tentang dia selama ini? Sepertinya itu hanya perasaanku saja.

"Hah!? Jangan bercanda, aku tidak akan terluka!"

Mungkin karena diprovokasi Reita, Tatsuya justru memasang posisi siap mendengarkan semua ceritaku.

Tolong berhenti, suasananya jadi canggung. Harus pakai ekspresi apa aku saat bercerita?

Kulihat Uta pun sepertinya sedang dicecar pertanyaan oleh Nanase. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi wajah Uta yang merah padam sudah cukup menjelaskan segalanya.

……Hoshimiya menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Mata kami bertemu. Lalu, Hoshimiya secara alami membuang muka dan ikut dalam percakapan Nanase dan yang lainnya.

Aku sempat bingung, apa mungkin kami hanya kebetulan bertatapan? Ekspresinya tadi sangat langka, aku sampai kaget.

"Natsuki? Tidak sopan mengabaikan orang, kan?"

Reita merangkul bahuku dengan akrab dan penuh semangat.

"Bukan apa-apa, aku tidak melakukan hal yang istimewa. Hanya pergi ke festival berdua saja."

Saat aku mencoba membela diri, Tatsuya mulai mengeretakkan buku jarinya.

"Hee. Boleh kupukul kau?"

"Bukankah kau sendiri yang bilang boleh kalau aku pergi bersamanya!?"

"Aku tidak bilang tidak akan memukulmu, kan? Kalau tidak mau dipukul, jelaskan semuanya sampai ke akar-akarnya."

Mau tak tidak, aku menceritakan urutan kejadian kencanku dengan Uta. Tatsuya perlahan terlihat makin pucat, hingga akhirnya dia berkata, "Aku mau ke atap sebentar," lalu menghilang.

Kenapa dia memaksaku cerita kalau mentalnya selemah itu?

Lagipula, aku belum menceritakan bagian bergandengan tangan.

……Apalagi soal kejadian dicium di pipi, tentu saja tidak kuceritakan. Aku tidak mungkin mengatakannya.

"Tatsuya sudah pergi, sekarang giliran yang sebenarnya, kan?"

"Tolong, hentikan……"

Namun, meskipun Tatsuya sudah kalah, Reita sepertinya tidak akan membiarkanku lolos.

Fujiwara dan Hino di kelas pun sepertinya membicarakan kami; aku merasa sedang jadi pusat perhatian.

Inikah harga yang harus dibayar atas kencan mesra di festival? Dampaknya besar juga, ya…….

"――Sudah kubilang, aku tidak pacaran dengan Natsu!"

Uta berkata dengan suara yang bergema ke seluruh kelas.

Itu bukan sekadar berteriak, dia mungkin ingin menyampaikannya kepada semua orang.

Apa dia ingin menghindari rumor yang menyebar aneh? Jika aku di posisi Uta, aku mungkin akan bersyukur jika suasana jadi seperti itu, tapi dia orang yang sangat jujur, ya.

Nanase menatap Uta, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

"Padahal tinggal pacaran saja, kan? Iya kan, Hihari?"

Hoshimiya yang ditanya sempat ragu sejenak, lalu mengepalkan kedua tangannya di depan dada.

"――Eh? Ah, iya, benar juga…… tentu saja, aku juga mendukung, kalian?"

Aku hanya bisa membalas dengan senyum getir.

Begitu ya…… aku didukung, ya…… yah, mau bagaimana lagi.

Melihat keadaanku, Reita berbisik di telingaku.

"Sejujurnya, aku tidak menyangka kau akan menerima ajakan Uta."

"……Tak disangka. Ternyata ada juga hal yang tidak bisa diprediksi oleh Reita."

"Natsuki, kau menganggapku sebagai apa? Tidak mungkin semuanya sesuai prediksiku, kan?"

Sanggahan yang logis, tapi Reita memang tipe yang mampu melakukannya.

"Kau menyukai Hoshimiya-san dan kau punya kepribadian yang jujur. Kupikir kau tidak akan menerima ajakan orang yang tidak kau sukai hanya untuk memberi harapan palsu…… jadi begitu."

Reita menyeringai dan memberikan kesimpulan dari analisisnya.

"Artinya, kau juga sudah mulai menyukai Uta sebesar kau menyukai Hoshimiya-san, kan?"

"……Kalau sudah tahu, tolong berhenti mengatakannya……"

Aku memegang dahi. Padahal aku sendiri sudah samar-samar menyadarinya dan mencoba mengelak. Begitu diucapkan secara lugas, aku tidak bisa lagi menyangkalnya. Reita benar-benar pria yang mengerikan.

"Yah, siapa pun yang kau pilih, aku akan mendukungmu."

"……Benarkah? Entah kenapa kata-katamu tidak bisa dipercaya."

"Kau tidak merasa perlakuanku padamu jadi makin kasar?"

Yah, sulit memahami apa yang sebenarnya dipikirkan Reita.

"Aku serius. Uta dan Hoshimiya-san. Siapa pun yang kau pilih, aku akan mendukungmu. Yah, sepertinya butuh waktu lama untuk meruntuhkan benteng pertahanan Hoshimiya-san, sih. Namun――"

Jadi begitu ya, menurut pandangan Reita pun seperti itu.

Saat aku sedang berpikir santai kalau perjalananku masih panjang,

"――Miori, boleh aku yang ambil, kan?"




Sebuah pernyataan yang mengejutkan terlontar begitu saja.

Aku sampai harus menatap wajah Reita dua kali karena kaget, namun Reita tetap memasang ekspresi serius.

"……Eh? Kau, menyukai Miori?"

"Yah, belakangan ini aku cukup tertarik padanya. Dia sering sekali mengajakku bicara."

Eh? Kalau begitu, bukankah tujuan Miori sebenarnya sudah tercapai? Apa-apaan ini. Jangan-jangan, tidak perlu ada kecanggungan yang tidak perlu seperti ini?

Mungkin taktik kencan ganda itu tidak diperlukan sama sekali.

"Lalu, bagaimana? Apa boleh?"

"Tidak, kenapa kau meminta izin padaku……? Justru ini kabar gembira, kan."

Reita terus menatapku yang sedang kebingungan. Tak lama kemudian, dia mengangkat bahu seolah melepaskan ketegangan.

"Habisnya, kau kan teman masa kecil Miori, jadi sekadar berjaga-jaga saja, tahu?"

"Ah. Yah, teman masa kecil itu ya biasanya cuma sekadar teman biasa saja sih……"

Kepalaku tidak bisa mengejar perkembangan yang tiba-tiba ini, tapi dengan ini terbukti kalau Miori dan Reita saling menyukai.

Setelah ini, mereka tinggal mendekatkan jarak satu sama lain secara perlahan.

Dengan kata lain, happy ending Miori sudah terjamin.

Aku merasa tulus ikut senang.

Sebagai pihak yang mendukung Miori, tentu saja aku berharap cintanya bisa bersemi.

"Aku juga akan mendukung hubunganmu dengan Miori, Reita."

"Syukurlah kau berkata begitu. Justru bagian itu yang membuatku cemas."

"Haha, apa yang kau bicarakan? Apa kau pikir aku akan keberatan?"

Mana mungkin. Sepertinya mata Reita kadang bisa rabun juga. Aku jadi merasa sedikit lega.

"――Nah, siapa tahu, kan?"

Reita tersenyum tipis, lalu menepuk bahuku sekali.

"Aku akan memanggil kembali Tatsuya dari atap. Jam wali kelas sebentar lagi dimulai."

Reita berkata begitu lalu melangkah keluar dari pintu kelas.

Aku yang kini sendirian, entah kenapa mengarahkan pandanganku ke arah Hoshimiya dan yang lainnya.

Ketiganya sedang menatapku. Nanase melambaikan tangan memanggilku, jadi aku melangkah ke sana.

"……Ada apa, Nanase?"

"Ara, apa aku tidak boleh memanggilmu kalau tidak ada urusan penting? Padahal kita teman. Iya kan, Uta?"

"I-iya, benar…… karena kita teman, tidak masalah, kan."

Begitu Uta mengatakannya, aku tak bisa melakukan apa pun selain mengangguk.

"……"

"……"

Aduh…… berada dalam situasi seperti ini di depan semua orang itu berat sekali!

Aku harus mencari cara agar Uta kembali ke mode normal. Kalau tidak, aku akan ikut canggung juga.

"E-ehm, bagaimana kalau kita bicarakan rencana liburan musim panas?"

"O-oh, benar juga! Tadi kita sempat bicara soal ingin pergi ke gunung atau pantai, kan!"

Meski masih terasa kaku, kami berhasil memulai percakapan.

"Ah, iya. Yah, secara pribadi aku lebih menjagokan pantai."

"He-eh, pantai juga bagus, ya! Aku juga ingin berenang setelah sekian lama."

Saat kami terus melanjutkan percakapan yang terdengar lumayan santai itu, wali kelas masuk ke dalam kelas.

"――Heoi, kalian semua, duduk di tempat masing-masing. Entah apa yang membuat kalian sangat ceria, tapi minggu depan sudah ujian akhir semester, tahu! Kalau ada waktu senggang untuk mengobrol, lebih baik gunakan untuk belajar."

Ucapan sang guru memicu jeritan dari murid-murid, dan suasana kelas seketika merosot drastis.

Aku yang sempat melayang karena suasana tadi pun akhirnya kembali ke realitas.

Entah kenapa, karena aku berhasil meraih peringkat pertama saat ujian tengah semester, ekspektasi terhadapku jadi luar biasa tinggi…….

"Natsuki-kun."

Saat hendak kembali ke kursiku, Hoshimiya memanggilku.

Aku menoleh, namun Hoshimiya tidak mengatakan apa pun. Dia tampak ragu dengan kata-katanya.

"――Aku juga, ingin pergi ke pantai."

Akhirnya, Hoshimiya hanya meninggalkan kalimat itu lalu menuju kursinya sendiri.

"O, ooh……"

Apakah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan? Tidak ada waktu untuk memikirkannya.

Aku pun bergegas duduk di kursiku.

Tak lama kemudian, setelah menyampaikan informasi administratif singkat, wali kelas meninggalkan ruangan.

Pelajaran pertama adalah Matematika. Hari ini, pelajaran yang membosankan itu pun dimulai kembali.

Musim hujan berakhir, dan musim panas telah tiba.

Musim panas adalah musimnya masa muda (menurut risetku), itulah aturannya.

Tentu saja, sama seperti putaran pertama, aku tidak berniat menghabiskan waktu ini tanpa melakukan apa pun.

Liburan musim panas dengan waktu yang luang juga akan segera tiba.

Pergi ke gunung, ke pantai, festival kembang api. Aku sudah memikirkan banyak acara dengan tingkat "energi masa muda" yang tinggi.

Belum diputuskan apa yang akan kami lakukan, tapi aku yakin ini akan jadi musim panas yang menyenangkan.

Alasannya tentu saja karena ada kalian semua. Semua orang akan mewarnai masa mudaku.

――Aku tidak akan pernah melupakan musim panas yang tidak akan datang dua kali ini.

Volume 2 END



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close