Chapter 2
Mari Memayungi Kamu yang Basah Kuyup oleh Hujan
Bulan Juni tiba,
musim hujan pun datang.
Di luar jendela,
hujan masih turun rintik-rintik tanpa henti.
Mungkin karena
hujan terus menerus, suasana suram juga menyelimuti ruang kelas.
Udara lembap
membuat kulit terasa lengket karena keringat. Panas. Dan udaranya pengap.
Daripada cuaca yang menyesakkan seperti ini, aku lebih suka panas terik musim
panas yang kering.
Itulah kenapa aku
benci musim hujan.
Saat aku
mengipasi leher dengan alas kaki, rasanya seperti hidup kembali.
Saat aku
tidak bisa konsentrasi belajar dan mengamati sekitar, semua orang tampak
terkulai lesu.
Dibandingkan
minggu lalu, suhu udara naik drastis dan semua orang sudah mengganti seragam
menjadi kemeja lengan pendek.
Meski
begitu, belum sampai harus menyalakan AC. Suhu yang serba nanggung itu justru
membuatku kesal.
"Baiklah,
sampai di sini dulu. Jangan lupa untuk mengulang pelajaran ya."
Setelah bertahan,
kelas bahasa Inggris berakhir dan waktu istirahat siang tiba.
"Natsuki,
ayo makan."
"Ya."
Seperti biasa,
aku berdiri karena diajak Reita.
Saat hendak
keluar kelas, ada satu hal yang mengganjal pikiranku.
"—Shii-chan?
Kamu mendengarkan?"
"—Ah, eh,
maaf. Kita sedang bicara soal apa tadi?"
Kondisi Shii
aneh.
Jelas, dia lebih
murung daripada biasanya.
Sudah beberapa
hari ini dia tampak tidak bersemangat.
Bahkan mataku
bisa melihatnya dengan jelas. Pasti bagi orang lain akan jauh lebih terlihat.
……Bahkan
frekuensi dia mengajakku bicara pun terasa berkurang.
"Hei,
Reita."
"……Kamu
khawatir soal Shii, ya?"
Reita bertanya
seolah bisa membaca pikiranku.
Yah, aku
menghentikan langkah sambil menatap ke arah Shii. Tidak perlu jadi Reita pun pasti tahu.
"Jujur saja,
menurutku dia aneh. Apa tidak sebaiknya kamu tanya padanya?"
"……Aku
khawatir, tapi kalau dia tidak mau cerita, aku juga ragu untuk memaksa
bertanya," jawab Reita dengan wajah rumit. Ada benarnya juga.
"Tapi…… dari waktunya, aku tidak merasa ini tidak ada
hubungannya dengan masalah Miori."
Saat aku
bergumam sambil teringat kejadian di restoran, Reita menopang dagu sambil
berpikir.
"……Aku akan
mencoba mencari tahu sendiri. Jadi Natsuki, tolong bantu dengarkan keluh kesah
Shii."
"……Eh?
Kenapa aku? Kalau aku yang dengar, bukannya jauh lebih baik kalau kamu yang
melakukannya?"
Kalaupun aku yang
mendengarkan, aku tidak akan berguna, tapi mungkin Reita bisa memberikan saran
yang membantu.
Lagipula, apakah
perlu dibagi tugas seperti ini?
Reita
memberitahuku dengan wajah rumit saat melihatku kebingungan.
"……Topik
sensitif seperti ini, tidak baik kalau didengar terlalu banyak orang. Shii yang
cerewet itu saja tidak mau bicara pada siapa pun. Dan kalau harus ada satu
orang yang mendengarkan keluh kesahnya, yang paling tepat adalah kamu. Karena
Shii itu……"
Reita
menghentikan ucapannya di sana.
Aku
mengerti arti dari bagian yang tidak dia ucapkan.
Reita tersirat
mengatakan, karena dia menyukaimu.
"Kalau begitu, justru…… bukannya lebih baik bukan
aku?"
Aku menyukai
Hoshimiya. Aku tidak bisa membalas perasaan Shii. Kalau begitu, meski aku
khawatir, mungkin aku tidak punya kualifikasi untuk masuk ke ranah pribadi
Shii.
Reita mungkin
menyadari apa yang ingin kukatakan, dia terdiam sejenak seolah sedang berpikir.
Akhirnya, Reita
menepuk bahuku pelan.
"Kalau aku,
aku akan jujur merasa senang jika orang yang kusukai peduli padaku."
"……Baiklah.
Aku yang akan tanya."
Rasanya tugasku
berat, tapi aku juga khawatir pada Shii dan Miori. Aku ingin mendengar
ceritanya.
"Aku
andalkan kamu, Natsuki. Kalau begitu, aku ke kantin ya."
"Lagipula,
ke mana Tatsuya?"
"Tatsuya
pergi ke kantin duluan bareng Hino dan yang lainnya."
"Ah……"
Belakangan
ini semua orang mulai akrab dengan teman sekelas di luar grup.
Tidak seperti
dulu di mana kami selalu berkumpul saat istirahat atau pulang sekolah.
Terlepas dari
itu, setelah berpisah dengan Reita, aku membeli roti di koperasi lalu kembali
ke kelas.
Di kelas saat
istirahat siang, ada lima atau enam kelompok yang sedang menyebar,
masing-masing sibuk mengobrol sambil menyantap makan siang di meja, tapi sosok
Shii tidak ada di sana. Padahal Hoshimiya dan Nanase sedang bersama kelompok
Fujiwara.
"Lho?
Natsuki-kun hari ini tidak ke kantin?"
Shii yang
menyadari keberadaanku bertanya sambil mengerjapkan mata.
"Ah,
sekali-kali aku ingin makan roti saja."
Jawabku
sambil mengangkat kantong berisi tiga roti isi yang kubeli di koperasi.
"Omong-omong, Shii ke mana?"
"……Aku tidak
tahu. Saat aku sadar, dia sudah tidak ada di kelas."
Nanase yang
menggelengkan kepala juga menunjukkan ekspresi khawatir.
"……Kalau dia
memang ingin sendiri, rasanya ragu kalau harus mencarinya," Nanase yang
biasanya tenang pun tampak bimbang.
……Ucapan Nanase
juga benar.
Mencari orang
yang ingin sendiri mungkin justru menyebalkan. Meskipun maksudku hanya
khawatir, mungkin bagi Shii itu justru mengganggu. Memikirkan hal itu,
langkahku terhenti.
Memangnya
siapa kamu sampai berani melakukan hal itu? Diriku di masa lalu bertanya padaku.
"—Aku akan
mencoba bertanya padanya."
Meski begitu, aku
menjawab bahwa pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan saat ini.
Diriku yang
keren yang kuimpikan,
sang protagonis dari Rencana Masa Muda Pelangi, tidak akan membiarkan temannya
yang hampir menangis sendirian di sini. Meski aku takut, tidak ada yang akan
berubah.
Setidaknya,
biarkan kehadiranku menjadi sandaran bagi Shii, meski hanya sedikit.
*
—Tempat di
sekolah ini untuk bisa menyendiri. Aku tahu beberapa tempat.
Bagaimanapun, di
hidupku yang pertama, aku selalu mencari tempat untuk bisa makan sendiri.
Aku tahu
banyak tempat tersembunyi. Bahkan, tidak ada orang yang lebih tahu dari diriku.
Dan hari
ini hujan. Jadi, terbatas pada tempat di dalam ruangan. Area tangga sebelum
atap, lapangan serbaguna yang juga merangkap gudang di gedung klub, ruang kelas
kosong di ujung lantai dua—bingo pada tempat ketiga.
Saat kubuka
pintunya, punggung kecil itu tersentak.
Shii yang sedang
duduk di meja yang dikumpulkan di dekat jendela menatap ke arahku dengan
takut-takut.
Dan saat dia
sadar itu adalah aku, matanya melebar karena terkejut.
"Natsu...?
Kenapa?"
Biasanya, saat
terkejut dia akan mengeluarkan suara yang bergema ke langit.
Hari ini,
suaranya tidak memiliki ketegangan seperti biasanya. Perubahan ekspresinya pun
minim.
"—Ayo makan
bersama."
Aku menyodorkan
kantong berisi roti yang kubeli di koperasi di depan Shii.
"Kenapa
tiba-tiba...? Apa kamu mencariku?"
"Ya. Aku
akan pulang kalau kamu tidak mau makan denganku, bagaimana?"
"Bukan
begitu sih..."
—Aku
tidak terlalu berminat, tergambar jelas di wajahnya.
Tapi,
tidak ada gunanya jika aku mundur di sini. Aku memindahkan meja dan kursi yang
dikumpulkan di sudut, menyatukan dua meja untuk menciptakan bentuk di mana aku
dan Shii saling berhadapan, lalu duduk di salah satu kursinya.
Saat aku mulai
makan roti di kursi itu, dengan terpaksa Shii duduk di kursi di hadapanku.
"Apakah kamu
punya makanan?"
"……Aku tidak
punya nafsu makan, jadi tidak perlu."
"Makanlah
sedikit saja. Ini, aku kasih roti yakisobaku."
Saat aku
menyodorkan roti yakisoba yang kubeli di koperasi di depan Shii, dia mulai
memakannya dengan enggan.
Ini pertama
kalinya Shii bersikap sedingin ini. Hal ini pun bisa membuatku tersadar akan
sesuatu. ……Tidak, tidak, tenanglah. Apa yang sedang kupikirkan. Mungkin karena
aku melakukan sesuatu yang tidak biasa, aku juga tampak gugup.
"Kenapa kamu
bisa tahu tempat ini?"
Sambil mengunyah
roti yakisoba dengan pelan, Shii bertanya.
"Kalau soal
mencari tempat untuk menyendiri, tidak ada yang bisa mengalahkanku."
"Tidak,
jangan... meski kamu mengatakannya dengan wajah serius begitu."
"Bisakah
kamu berhenti memasang wajah jijik? Hatiku ini terbuat dari kaca, lho."
Saat aku
benar-benar terluka dengan respon dinginnya yang terlalu nyata, Shii tertawa
kecil.
"Maaf.
Mungkin aku terlalu dingin tadi."
Sedikit demi
sedikit, kurasa nada suaranya kembali normal.
"Aku pikir
aku tidak mau makan karena tidak nafsu, tapi ternyata bisa juga saat
dicoba."
"……Bukan
karena kamu masuk angin, kan?"
"Ahaha,
tubuhku baik-baik saja kok."
Shii tersenyum
kering. Itu adalah senyuman basa-basi yang sangat nyata.
……Entah
bagaimana, itu membuatku sedih.
Senyuman Shii
yang kusukai tidak seperti ini.
Sebenarnya, apa
yang membuat Shii jadi begini?
Aku berada di
sini sekarang untuk membicarakan hal itu.
Namun, bagaimana
cara memulainya?
Keheningan
melanda di antara aku dan Shii yang bimbang.
Itu
sendiri adalah hal yang langka.
Saat kami berdua,
Shii selalu memberikan topik pembicaraan.
Dengan
tenang, kami melanjutkan makan.
Hanya
suara hujan yang mengetuk jendela yang bergema.
Kurasa intensitas
hujan semakin menguat.
……Saat aku hendak
membuka mulut, tiba-tiba Shii bergumam.
"Aku tidak
benci hujan."
Itu ucapan yang
tidak terduga.
Padahal Shii yang
aktif terlihat seperti orang yang membenci hujan.
"Matahari
tersembunyi di balik awan, hujan menjauhkan orang-orang, entah bagaimana,
rasanya seperti dunia sedang tertutup. Aku merasa sedikit lebih nyaman. Karena
kalau tidak ada hari seperti ini sesekali, aku akan merasa lelah."
"……Aku
mengerti, tapi juga tidak mengerti?"
Ekspresinya
yang terlalu puitis membuatku tidak bisa memahaminya. Saat aku memiringkan
kepala, Shii tersenyum pahit.
"Ahaha,
maaf bicara hal aneh. Biasanya aku tidak pernah mengucapkannya."
Itu juga
ucapan yang tidak terduga.
Mungkin
aku benar-benar tidak bisa melihat orang lain.
Tidak,
Shii juga tidak selalu mengucapkan apa yang dia pikirkan begitu saja.
Meski
terlihat begitu, dia memikirkan banyak hal.
Aku pikir
aku mengerti hal itu.
"……Apakah
terjadi sesuatu di klub basket putri?"
Saat aku
masuk ke topik utama di waktu yang tepat, Shii mengangguk kecil.
Jadi
benar terjadi sesuatu di klub. Kalau begitu, tebakanku tertuju pada masalah Miori.
"Suasana
di klub sekarang sedang gawat."
Begitu katanya,
Shii mulai menceritakan masalah hubungan antarmanusia di sana.
"Kami pada
dasarnya latihan pagi di hari libur, tapi latihan mandiri selama beberapa jam
di sore hari sudah menjadi hal lumrah. Meski tidak wajib... tapi sekarang,
karena turnamen sudah dekat."
Sambil
menanggapi, aku mendengarkan cerita Shii.
Benar juga, sudah bulan Juni. Kualifikasi Inter-High
pasti sudah di depan mata.
"Karena itu, jujur saja suasananya jadi seperti
wajib."
"……Yah, itu cerita yang lumrah."
Mungkin itu yang disebut tekanan teman sebaya.
Ini
memang masa di mana semangat latihan sedang tinggi-tingginya.
"Tapi,
Miori-chan frekuensi partisipasi latihan mandirinya rendah, dan hari Sabtu
Minggu lalu dia juga pulang setelah latihan pagi saja. Tentu saja itu latihan mandiri, jadi Miori-chan
tidak punya kesalahan apa pun..."
……Benar saja,
pembicaraan mengarah ke Miori.
Aku tidak tahu
soal hari Minggu, tapi mungkin karena dia bermain bersama kami di hari Sabtu.
Yah, Miori juga
tidak terlihat sebagai tipe orang yang memberikan segalanya hanya untuk klub,
dan dia masih kelas satu.
Wajar saja jika
ada perbedaan semangat latihan dibandingkan kelas dua dan tiga.
Saat aku
memikirkannya, Shii berkata.
"Sejak
kemarin-kemarin, Miori-chan jadi pemain inti."
"Eh,
benarkah?"
Tanpa sadar aku
condong ke depan dan bertanya balik.
Anak kelas satu
yang baru masuk sudah langsung dipilih menjadi pemain inti?
Tentu saja aku
tahu Miori hebat... tapi mungkinkah, di hidup pertama pun dia sudah menjadi
pemain inti sejak kelas satu? Tiba-tiba aku merasa ingat sesuatu. Meski aku
benar-benar lupa.
"Iya. Karena
dia dipilih menjadi pemain inti tapi terlihat tidak bersemangat, para senior
jadi marah. Lagipula Miori-chan juga keras kepala... kan?"
"Ah... aku
bisa membayangkannya."
Sosok Miori yang
dicibir senior, namun membalas dengan keras sambil tetap tersenyum.
Pada dasarnya,
dia adalah tipe orang yang akan meladeni jika diajak bertengkar. Mungkin mereka
sempat berdebat.
Apakah itu hasil
dari suasana saat kami bertemu Wakamura dkk di hari Sabtu kemarin?
Jelas, Wakamura
dkk juga dingin terhadap Miori, tapi sikap Miori juga bukan sikap seorang
junior.
Jika suasana
seperti itu terus berlanjut selama latihan, wajar saja jika Shii merasa lelah.
Pelan-pelan, Shii
menumpahkan kata-katanya tanpa henti.
"Aku tidak
tahu harus berbuat apa... karena aku paling dekat dengan Miori-chan, aku ingin
melakukan sesuatu, tapi para senior juga keras kepala... dan aku tidak bisa
melakukan apa pun."
"……Begitu."
Dari posisinya,
Shii terjepit di antara dua pihak.
"……Jadi, aku
agak lelah. Karena aku tidak suka mendengar orang lain dijelek-jelekkan."
Shii
bergumam sambil menatap ke arah jendela.
……Shii
adalah orang yang akrab dengan siapa pun.
Aku tidak
pernah melihat Shii dijelek-jelekkan oleh orang lain.
Kurasa wajar jika
Shii merasa kesulitan menanggapinya saat dia dipaksa mendengarkan keburukan
teman baiknya.
Shii bukanlah
tipe orang yang akan ikut menjelek-jelekkan orang lain meski hanya di tempat
kejadian.
Namun, lawannya
adalah senior. Menolak pun akan menimbulkan masalah.
Sejujurnya, Shii
bukanlah tipe orang yang bisa menolak kata-kata orang lain dengan keras.
Pada akhirnya,
kurasa dia hanya bisa menanggapinya dengan senyum ambigu atau mengelaknya
dengan asal.
Lingkungan yang
tidak bisa ditolong seperti itu membuat Shii sampai selemah ini.
"……Maaf ya,
membicarakan hal seperti ini."
Shii meminta maaf
dengan ekspresi sedikit bingung.
Kenapa meminta
maaf? Tidak ada satu pun hal yang membuat Shii harus meminta maaf. Aku
menggelengkan kepala.
"Kalau ada
masalah, ceritakanlah padaku. Siapa tahu aku bisa membantu."
Aku tidak bisa
menjanjikan penyelesaian. Karena aku bukan orang yang terlibat.
Aku rasa
tidak akan berakhir baik jika orang asing sepertiku memaksakan diri masuk ke
dalam masalah mereka.
Namun,
aku bisa mendengarkan ceritanya.
Saat aku
menyampaikannya dengan perasaan itu, Shii tersenyum dan berkata "terima
kasih".
"Aku
juga akan berusaha. Agar Miori-chan dan para senior bisa berbaikan."
Sambil
membuat kepalan tangan di depan dada, Shii bersikap seolah dia baik-baik saja.
Seolah
ingin meyakinkanku yang sedang khawatir.
"……Shii,
jangan terlalu memaksakan diri."
Saat aku
menyampaikannya, wajah Shii tampak seperti ingin menangis sejenak, lalu dia
mengangguk dengan kuat.
Lalu, dia
membentuk senyum seperti biasanya,
"Aku tidak
apa-apa! Memperbaiki suasana adalah keahlianku!"
Sakura Shii
menegaskannya, meski hanya di permukaan saja dia terlihat bersemangat.
*
Aku bukan
orang yang terlibat.
Karena itu, aku
tidak bisa menyelesaikannya dengan tanganku sendiri.
Aku tahu itu.
Tapi, aku juga berpikir apakah tidak ada yang bisa kulakukan.
Aku tidak suka
melihat dua teman baikku memiliki wajah muram.
Sepulang sekolah.
Hari ini tidak ada kerja paruh waktu. Meski semua orang sudah menghilang dari
kelas, aku melamun di kursiku sambil menatap keluar jendela. Hujan masih belum
berhenti. Jumlah genangan air meningkat dan areanya semakin luas.
……Tidak ada
gunanya terus-menerus memikirkannya di sini. Mungkin sebaiknya aku memeriksa
keadaan.
Setelah
memutuskan itu, aku memutuskan untuk pergi ke gimnasium.
Bagaimanapun,
akan mencolok jika siswa yang tidak ikut klub melihat dari lantai satu, jadi
aku pergi ke lorong berbentuk seperti dinding yang mengelilingi gimnasium di
lantai dua (apa ini yang disebut catwalk?).
Di sini, aku
tidak akan terlalu terlihat. Lagipula, jarang ada orang yang sengaja melihat ke
atas.
Gimnasium sekolah
kami memiliki tiga lapangan yang digunakan bergantian, tapi hari ini sepertinya
sedang dipakai oleh tim basket putra, tim basket putri, dan klub bulu tangkis.
Mungkin karena turnamen sudah dekat, setiap klub tampak bersemangat menyemangati
satu sama lain.
Tim
basket putri sepertinya sedang melakukan latihan tanding lima lawan lima.
Tanpa
perlu mencarinya pun, Miori langsung terlihat di dalam lapangan. Kehadirannya
benar-benar berbeda dari pemain lain.
Miori
memanfaatkan celah kecil untuk merebut bola dari pemain lawan, lalu langsung
mencetak skor melalui fast break.
Wah, larinya benar-benar cepat. Akselerasi seperti itu rasanya mustahil untuk
ukuran seorang gadis.
……Namun, saat
Miori berhasil mencetak gol, tidak terdengar satu pun kata "Nice"
dari rekan setimnya.
Jika memang
begitulah suasana latihannya, aku pasti akan memaklumi, tapi ketika pemain lain
yang mencetak skor, pujian itu terdengar dengan jelas.
Entahlah, ini
cara yang sangat licik. Tanpa sadar, wajahku mengerut kesal.
Pelatih yang
duduk di kursi sambil mengamati latihan pun tidak mengatakan apa-apa melihat
hal itu.
Aku saja bisa
merasakan kejanggalan suasana ini, tidak mungkin pelatih tidak menyadarinya,
bukan?
Apakah dia punya
pertimbangan lain, atau mungkin dia memang tipe pelatih yang tidak suka terlalu
banyak ikut campur?
Di sisi lain,
Shii duduk di bangku cadangan dengan wajah muram.
Saat latihan lima
lawan lima, tampaknya sebagian besar siswa kelas satu hanya menonton atau
menjadi wasit di pinggir lapangan.
Pengecualiannya
hanyalah Miori. Alasannya, tentu saja karena dia memang sangat hebat.
Melihat dari atas
sini, semuanya jadi jelas. Miori jelas berada di level ace. Dia tidak
hanya sebanding dengan kakak kelas dua atau tiga, dia bahkan melampaui mereka.
Dia punya kemampuan yang layak untuk langsung dijadikan pemain inti meski masih
kelas satu.
……Benar-benar
talenta yang membuat iri.
Miori
bertepuk tangan meminta operan.
Mungkin
karena ada pelatih yang melihat, tampaknya mereka tidak sampai hati untuk
benar-benar tidak mengoper bola kepadanya.
Setelah
menerima operan, Miori menerobos pertahanan dengan drives yang tajam.
Dua orang
langsung datang melakukan cover, tapi Miori dengan paksa merangsek masuk
dan mencetak layup.
Itu
adalah permainan yang luar biasa, tapi Miori hanya mendengus dengan ekspresi
datar. Benar-benar tidak ada manis-manisnya. Aku paham kenapa para senior
membencinya. Wakamura, yang dilewati oleh Miori, terlihat memutar wajahnya
dengan penuh kekesalan.
……Masalah ini
sepertinya sulit untuk diselesaikan. Mungkin ada rasa cemburu karena adik kelas
yang sombong ini berhasil merebut posisi pemain inti. Yah, meski menurutku
menyalahkannya karena tidak ikut latihan mandiri itu salah sasaran.
Setelah mengamati
beberapa saat, latihan pun selesai. Pelatih sudah pulang, tapi banyak pemain,
termasuk Shii, masih melanjutkan latihan mandiri. Namun, sosok Miori sudah
menghilang dari lapangan.
"Sedang apa
kamu di sini?"
"Wuaa!?"
Aku sampai
mengeluarkan suara aneh karena saking kagetnya.
Saat menoleh,
ternyata Miori sudah ada di sebelahku entah sejak kapan.
"J-jangan
mengagetkanku!"
"Justru
aku yang kaget. Tiba-tiba ada orang mencurigakan di sini."
Yah,
meski aku sudah berusaha agar tidak terlihat, kalau terus-terusan mengamati,
pasti ketahuan juga.
"Siapa
yang kamu sebut orang mencurigakan!"
"……Bukankah
orang yang terus-terusan mengamati klub basket putri yang tidak ada hubungannya
dengan dia itu adalah orang mencurigakan?"
"Benar-benar
minta maaf."
Kalau
dipikir-pikir dengan kepala dingin, aku yang terus mengamati gadis-gadis yang
sedang berlatih ini, apa tidak menjijikkan?
Setelah
menyadari fakta itu, aku segera menundukkan kepala dengan panik, membuat Miori
menghela napas.
"……Apa kamu
disuruh oleh Shii?"
"Tidak,
tidak sama sekali. Aku hanya penasaran dengan keadaan di sini."
Saat aku menjawab
dengan jujur, Miori hanya bergumam "Begitu ya," lalu memalingkan
wajah.
"Terserah
sih, tapi jangan sampai kamu dilaporkan ke polisi ya."
Soal itu, tidak
diragukan lagi Miori benar.
"……Miori."
"Itu bukan
urusanmu, kan?"
Tegas sekali.
Pertanyaanku langsung dipotong.
Suasananya sama
sekali tidak memungkinkan untuk melanjutkan percakapan.
"……Masih
tetap sama ya."
Dia sendiri suka
sekali mencampuri urusan orang lain, tapi tidak mau orang lain melakukan hal
yang sama padanya.
Sejak dulu, Miori
memang punya sisi seperti itu. Wajar saja kalau dia menjadi pemimpin anak-anak
nakal.
……Yah sudah,
tidak ada gunanya terus berada di sini.
Aku diam-diam
keluar dari lantai dua menuju luar gimnasium, lalu seseorang kembali menyapaku.
"Ah,
ternyata benar ada di sini. Tadi aku sempat melihat sekilas."
"Wuaaaa!?"
"J-jangan
teriak kencang-kencang begitu, dong! Aku jadi kaget, tahu."
Shii,
yang datang sambil menyeka keringat dengan handuk, terlihat tersentak kaget.
"M-maaf...
tolong jangan laporkan aku ya?"
"Ahaha, apa
yang kamu bicarakan? Aku tidak mungkin melakukan itu."
Mendengar
kata-kata lembut Shii, aku jadi merasa lega.
Sepertinya aku
menjadi terlalu sensitif setelah dianggap sebagai orang mencurigakan oleh
Miori.
"……Natsu,
kamu baik sekali ya."
"Tiba-tiba ngomong apa, sih?"
Saat aku bertanya balik, Shii tidak menjawab dan malah
berjalan menuju mesin penjual otomatis.
Shii membeli beberapa botol minuman olahraga, lalu langsung
meminum salah satunya dalam sekali teguk.
"Puh, rasanya hidup kembali!"
"Cara minummu liar sekali. Itu semuanya mau kamu minum?"
"Mana
mungkin. Ini titipan para senior."
Ah, masuk akal.
Shii melirikku yang baru saja menjahilinya dengan tatapan tajam, lalu duduk di
kursi panjang di dekat situ.
"Istirahat
sebentar."
"Semangat
sekali ya, masih lanjut latihan mandiri?"
Saat melihat jam,
ternyata sudah lewat pukul tujuh malam. Klub lain sudah mulai bersiap
untuk pulang.
"Semuanya sepertinya memang punya semangat
tinggi."
Setelah menjawab begitu, Shii menepuk-nepuk kursi di
sebelahnya.
……Maksudnya, suruh aku duduk?
Setelah duduk dengan patuh di sebelahnya, Shii bertanya
pelan.
"……Bagaimana pendapatmu?"
"Bagaimana apanya? Soal apa?"
"Tadi kamu
melihat latihannya, kan?"
"Yah, menurutku itu cara yang licik."
Dari yang kulihat, yang membenci Miori adalah para kakak
kelas dua dan tiga yang dipimpin oleh Wakamura.
Karena ada juga yang wajahnya terlihat tidak setuju, kurasa
tidak semuanya seperti itu.
Siswa kelas satu,
sama seperti Shii, terlihat bingung harus berbuat apa.
"Iya...
benar juga ya. Kenapa ya, suasananya jadi begini?"
"Apa suasana
ini muncul sejak Miori dipilih jadi pemain inti?"
"Sepertinya
begitu. Tak lama setelah itu, sempat ada perdebatan antara Miori yang ingin
pulang tanpa ikut latihan mandiri dan senior Wakamura. Sejak saat itu,
situasinya terus begini dan Miorin jadi dikucilkan."
"Apa
sebelumnya tidak ada yang protes kalau Miori tidak ikut latihan mandiri?"
"……Iya. Kak
Wakamura dan yang lain tiba-tiba mulai mengeluh pada Miorin dengan nada marah,
aku juga kaget. Padahal biasanya mereka orang yang sangat lembut... aku heran
kenapa tiba-tiba jadi begitu."
……Cukup
mengejutkan. Wakamura, anak kelas dua yang nantinya akan menjadi kapten, kukira
tipe orang yang cukup tenang dan bisa melihat situasi. Setidaknya, tidak ada
kesan bahwa dia tipe yang akan mengeluh secara tidak masuk akal.
"……Apa
mungkin, ini karena cemburu?"
Shii bergumam
pelan.
"Karena jika
tidak ada Miorin, seharusnya Kak Wakamura bisa menjadi pemain inti."
Apakah rasa
cemburu karena posisinya direbut itu yang mengubah Wakamura?
Entahlah.
Ada sesuatu yang
terasa janggal.
Saat aku
mengamati tadi, aku tidak merasa seperti itu.
Meski tidak ada
komunikasi verbal, Wakamura justru terlihat aktif memberikan operan kepada
Miori.
"……Kalau
memang itu alasannya, yang salah tetap para seniornya."
Sikap Miori yang
memburuk juga wajar.
Dia bukan
tipe orang yang akan diam saja menerima perlakuan tidak adil.
"Iya...
aku juga berpikir begitu. Miorin
kasihan sekali."
Ekspresi muram
Shii tidak kunjung hilang.
Dia bergumam
pelan, berharap ada sesuatu yang bisa dilakukan.
Tepat saat itu,
aku mendengar langkah kaki mendekat.
Itu Miori yang
sudah berganti pakaian seragam.
Dia memakai tas
punggung dan membawa tas peralatan. Sepertinya dia berencana untuk pulang.
Pintu keluar
berada tepat di depan ruang tunggu dekat mesin penjual otomatis tempat kami
berada.
Miori sepertinya
menyadari keberadaan kami di tengah jalan, lalu melihat ke arah kami.
Mata kami
bertemu.
Seketika dia
memalingkan wajah.
Namun, langkah
kaki Miori terhenti.
Setelah
keheningan diiringi suara hujan, akhirnya Miori membuka mulut.
"……Maaf ya,
karena aku, kamu jadi harus sungkan."
"Bukan
begitu, Miorin sendiri, apa kamu baik-baik saja?"
"Aku bukan
tipe orang yang akan terluka hanya karena hal seperti ini. Jangan khawatirkan
aku."
Setelah
mengatakan itu, Miori berbalik memunggungi kami dan pergi.
……Wajahnya
terlihat seolah tidak memikirkan apa-apa, tapi kurasa dia hanya bersikap tegar.
Sayangnya, hanya
aku yang menyadari ketegarannya itu.
"Aku
baik-baik saja. Aku tidak apa-apa, jadi jangan khawatirkan aku."
Kata-kata
Miori yang terngiang di benakku terdengar seperti dia sedang meyakinkan dirinya
sendiri.
……Sebenarnya,
tidak ada satu pun orang yang menyadari bahwa Miori sedang berada di titik
terlemahnya.
Bahkan
Shii pun menganggap Miori punya mental yang kuat. Yah, dia memang pandai
berakting.
"Sebenarnya,
kenapa sih dia tidak mau ikut latihan mandiri?"
Sambil
menatap punggung Miori yang menghilang di tengah hujan, aku bertanya pada Shii.
"Eh? Karena
dia bilang, percuma latihan berlama-lama kalau latihannya sudah selesai. Memang
ada saatnya dia ikut, tapi belakangan ini... aku rasa dia juga merasa tidak
enak dengan suasananya."
"Memang khas
Miori sih, tapi itu bukan sikap yang pantas untuk anak kelas satu."
"Ahaha, aku
juga berpikir begitu. Tapi
Miorin kan memang hebat."
Sebenarnya,
apa yang dilakukan Miori tidak ada yang salah.
Hanya
saja, menjadi benar bukan berarti akan disukai orang lain.
Orang
yang tidak bisa membaca situasi akan dibenci. Sama seperti aku di kehidupan pertama.
Meski begitu,
tidak seperti diriku, Miori punya keseimbangan dalam hal itu.
Karena itulah aku
merasa sedikit aneh. Kejadian sebesar ini sendiri terasa tidak biasa.
Ataukah, ada
penyebab lain?
Saat aku sedang
berpikir, Shii berdiri sambil memeluk minuman olahraganya.
"Aku kembali
ke sana dulu ya."
"……Ya. Maaf
ya, di tengah waktu latihan mandirimu."
"Bukan
apa-apa. Lagipula aku yang ingin bicara. —Sampai jumpa besok."
Shii mengatakan
itu lalu memunggungi aku.
Saat aku melihat
punggung Shii yang berlari kembali ke gimnasium,
"——Benar-benar
membosankan."
Suara
berat yang tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Tatsuya..."
Entah
sejak kapan dia mendengarkan, Tatsuya mendekat sambil menunjuk ke luar.
Sepertinya
dia mengajakku bicara sambil berjalan pulang.
Yah, aku
juga memang berniat untuk pulang.
"Kamu tidak
bawa sepeda?"
"Kalau hari
hujan, aku naik bus dari stasiun."
Saat keluar,
hujan sudah berhenti untuk sementara.
Meski begitu,
tidak menutup kemungkinan akan turun lagi.
Banyak genangan
air besar yang tertinggal, membuat jalan jadi sulit dilewati.
Saat aku
melangkah lebar melewati genangan air, Tatsuya yang berjalan di sampingku
membuka mulut.
"Bukan
maksudku mau menguping, tapi latihanku juga baru saja selesai."
"Dari mana
kamu mendengarnya?"
"Sekitar
waktu kalian bicara soal cemburu karena terpilih jadi pemain inti. ...Yah, meski tidak dengar pun, aku
bisa menebak apa yang kalian bicarakan. Aku kan melihatnya langsung setiap hari
di lapangan sebelah."
Tentu
saja. Tatsuya pasti lebih
tahu daripada aku.
"Benar-benar
bodoh. Gara-gara hal sepele, mereka malah melukai Shii yang tidak tahu
apa-apa."
Tatsuya
mengatakannya dengan nada kesal.
……Dia
benar-benar marah.
"Tadi itu
Wakamura, ya? Perlu kuberi pelajaran orang itu?"
"Meski
bagaimana pun, solusi itu terlalu liar. Nanti kamu malah diskors, lho?"
"……Itu cuma
bercanda."
Tapi nada
suaranya sama sekali tidak terdengar seperti bercanda.
Tatsuya menghela
napas panjang sambil menatap langit yang sudah gelap.
"Aku tahu.
Meski aku mencoba melakukan sesuatu, hasilnya tidak akan baik."
Kata-kata itu
menunjukkan bahwa Tatsuya juga banyak merenungkan hal ini dengan caranya
sendiri.
Dan itu juga
kesimpulan yang sama denganku tadi.
"Satu-satunya
yang terpikirkan olehku hanyalah kekerasan. Orang yang tidak bisa memahami
logika emosi antar wanita tidak akan bisa ikut campur... tidak seperti kamu,
bahkan untuk menyemangati Shii saja aku tidak bisa."
"……Menyemangati,
aku pun tidak bisa melakukannya dengan baik."
"Tidak, aku
tahu. Karena ada kamu, Shii sampai sekarang belum menangis."
Nada bicaranya
terdengar meyakinkan.
Tatsuya dan Shii
sudah berteman sejak SMP.
Hal yang tidak
kupahami, mungkin dipahami oleh Tatsuya.
"……Hanya
saja, ada satu hal yang kupikirkan."
Tatsuya berkata
seolah baru teringat sesuatu.
"Miyamoto
memang hebat, tapi permainannya terlalu mengandalkan kemampuan individu.
Padahal bukan tipe yang tidak bisa melihat sekitar... dengan begitu, wajar saja
kalau para senior merasa tidak dipercaya."
Itulah impresi
permainan Miori yang juga kurasakan.
"Aku
pulang."
Aku kembali ke
rumah, lalu menghempaskan diri ke atas tempat tidur di kamarku.
Melepas seragam
saja rasanya malas sekali. Aku menatap langit-langit kamar tanpa tujuan.
——Mungkin di
kehidupan pertama pun, situasi yang sama juga terjadi.
Di masa SMA
kehidupan pertamaku, aku hampir tidak pernah bicara dengan Miori dan tidak bisa
berteman dengan Shii.
Karena itulah aku
tidak punya informasi apa-apa. Dulu aku juga berada di tim basket putra bersama
Tatsuya, meskipun kami berada di lapangan sebelah Miori dan teman-temannya,
tidak ada cara bagiku untuk mengetahui masalah di klub basket putri yang tidak
ada hubungannya denganku.
……Sepertinya,
meski ini adalah kesempatan kedua dalam hidupku, aku tidak bisa menyelesaikan
semuanya dengan cerdas menggunakan pengetahuan masa depan. Pada akhirnya, aku
hanya bisa berjuang melakukan apa yang bisa kulakukan saat ini.
Namun, ada satu
hal yang kuingat: permainan Miori saat kelas tiga.
Semifinal
turnamen daerah. Karena jadwal kami kebetulan berbarengan, aku sempat mendukung
mereka dari bangku penonton. Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik, tapi hanya
permainan Miori yang masih terkesan di ingatanku.
"Ah, begitu
ya... pantesan ada sesuatu yang terasa janggal."
Kejanggalan yang
kurasakan selama ini akhirnya mulai jelas.
Miyamoto Miori
seharusnya adalah pemain yang hebat dalam memanfaatkan teman satu timnya.
Dia bukanlah
pemain yang hanya mengandalkan kemampuan individu seperti sekarang.
Apakah gaya
bermainnya berubah selama proses dari kelas satu ke kelas tiga?
……Tidak, sifat
egois Miori sudah ada sejak dulu. Bahwa Miori mengandalkan kemampuan individu,
itu sendiri sudah terasa aneh. Dilihat dari kepribadiannya, dia seharusnya tipe
yang mahir memanfaatkan orang lain.
Kalau begitu,
penyebab Miori tidak lagi mengoper bola pasti ada di suatu tempat.
"……Kalau aku
tanya langsung padanya, dia pasti tidak akan menjawab."
Kalau begitu, aku
hanya bisa mengumpulkan informasi.
Tepat saat aku
memikirkan hal itu, ponsel yang kulempar di bantal berbunyi.
Saat melihat
layarnya, tertulis nama 'Sakura Shii'.
……Jarang sekali
Shii meneleponku.
Saat aku
menjawab, terdengar suara keributan dari seberang telepon.
"……Shii?"
Saat aku menyapa,
suara Shii terdengar dari agak jauh.
"Tunggu
sebentar! Aku pasang earphone dulu."
Saat
menunggu sesuai perintahnya, suara Shii terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
"Maaf-maaf.
Kamu belum... tidur, kan?"
"Tidak,
aku bahkan belum mandi."
"Syukurlah.
Aku tadi sempat bimbang karena takut mengganggumu."
"Lagipula,
ini belum waktunya tidur, kan."
Aku
melihat jam. Baru lewat pukul sepuluh malam. Masih terlalu awal untuk tidur.
"Eh,
aku sih sering tidur lewat dari jam sepuluh?"
"Shii
kan punya kegiatan klub, pasti lelah, kan? Kalau aku kan anak yang langsung
pulang ke rumah."
"Ya,
benar juga sih... tapi, Natsu juga kerja paruh waktu, kan? Apa tidak
lelah?"
"Kerja
paruh waktuku di hari kerja biasanya sampai jam sepuluh, jadi meski lelah, aku
tidak bisa tidur jam segitu."
"Eh,
begitu ya. Kalau tidak tidur cukup, apa tidak lemas?"
"Yah,
tujuh jam tidur saja sudah cukup. Biasanya aku tidur jam dua belas dan bangun
jam tujuh."
Menurutku
itu ritme hidup yang sangat standar, tapi Shii tampak terkejut.
"Sembilan
jam itu wajib! Soalnya
aku pasti ketiduran di kelas!"
"Entahlah.
Bukannya Shii memang selalu tidur di kelas?"
Saat aku
menjahilinya, terdengar suara "...Benar juga," setelah hening
sejenak.
Wah, ternyata
benar ya. Tidurnya lelap sekali seperti bayi.
"Yah, ada
pepatah bilang anak yang banyak tidur akan cepat tumbuh, mungkin itu penting
buat Shii."
"……Natsu?
Apa maksud perkataanmu itu?"
Suaranya
terdengar kesal.
"……Aku
juga, belakangan ini sudah mulai tumbuh sedikit demi sedikit, tahu."
"Begitu ya?
Syukurlah kalau begitu."
"Ah, kamu
memperlakukanku seperti anak kecil... humph, lihat saja, sebentar lagi tinggi
badanku juga akan melampaui tinggimu!"
"Seberapa
tinggi kamu berencana untuk tumbuh? Mau jadi model?"
Tinggiku saja
sudah 178 sentimeter.
Jarang sekali ada
gadis yang setinggi diriku.
Bahkan
Nanase yang paling tinggi di kelas pun mungkin hanya sekitar 165 sentimeter.
"Model,
ya. Itu juga bagus! Aku jadi tidak sabar."
"Hei, hei,
seberapa besar kamu berharap pada masa pertumbuhanmu itu?"
Shii yang
paling pendek di kelas mungkin tingginya sekitar 150 sentimeter.
Untuk
menyamai tinggiku, dia harus tumbuh sekitar 30 sentimeter. Itu namanya jadi
orang lain.
"Ahaha,
itu cuma bercanda... tapi, aku iri dengan tinggimu, Natsu."
……Yah,
bagi Shii yang bermain basket, itu mungkin masalah yang mendesak.
Dalam
basket di mana tinggi badan adalah keuntungan besar. Shii yang tidak punya itu
secara otomatis posisi bermainnya terbatas, dan dia selalu dipaksa berjuang
dalam posisi yang tidak menguntungkan.
"Boleh
minta sedikit saja tinggimu buat aku?"
"Boleh saja,
tapi satu sentimeter harganya sepuluh ribu yen."
"Harga
yang sangat pas untuk dibeli! Kalau aku sudah dewasa, aku akan membelinya dalam
jumlah banyak!"
Ahaha, tawa Shii terdengar dari balik telepon.
Terdengar suara
gesekan kain. Mungkin itu suara dia membetulkan posisi selimutnya.
Kurasa dia
meneleponku dalam posisi siap untuk tidur.
"Fuaa...
aku mulai mengantuk..."
Shii menguap.
Entah kenapa,
suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Rasanya segar dan
lucu.
Sekarang aku baru
sadar bahwa aku sedang menelepon dengan seorang gadis.
……Hah!? Apakah
ini yang disebut dengan neochi (tertidur saat menelepon) yang sering
dibicarakan orang-orang!?
……Ah, apakah
istilah itu sudah kuno? Tidak, di zaman ini mungkin justru istilah baru.
Lagipula, apa peduliku.
Tidak,
tidak, bukan saatnya mengomentari diriku sendiri. Aku harus bicara.
"Mau
tidur sekarang? Apa sebaiknya
teleponnya dimatikan?"
"Jangan! Tetap sambungkan teleponnya sampai
aku tidur."
"Tidak,
tidak, aku sendiri belum mandi..."
"Kalau
begitu, sebentar lagi saja... ya, boleh kita ganti ke video call?"
Itu
adalah pernyataan "bom" yang diucapkan dengan santai.
"Boleh,
sih..."
Karena terlalu
natural, tanpa sadar aku mengiyakannya.
……Eh? Tunggu,
kita mau video call sekarang?
Serius?
Saat aku panik
merapikan rambutku yang berantakan, layar ponselku berubah.
Di sana, terlihat
Shii dengan baju tidurnya.
Mungkin karena
baru saja dikeringkan dengan pengering rambut, rambutnya terasa lebih
mengembang dari biasanya.
Shii berada dalam
posisi tengkurap, menumpukan dagunya di atas bantal yang dipeluk dengan kedua
tangannya, lalu mengintip ke layar.
Mungkin
dia menyandarkan ponselnya ke dinding.
Wajah
Shii dekat sekali. Padahal aku belum menampilkan wajahku sendiri, tapi aku
sudah gugup.
Melihat
penampilannya yang tidak seperti biasanya, jantungku berdegup kencang.
Saat dekat
seperti ini, wajah imut Shii terlihat jelas. Terlalu jelas.
"Natsu?
Kenapa? Cepatlah..."
Shii
menggerak-gerakkan kakinya sambil mendesakku.
"I-iya,
aku tahu..."
Saat aku
mengaktifkan videonya, Shii di seberang sana tertawa.
"Ahahaha,
itu Natsu!"
"Ya, tentu
saja ini aku. Memang siapa lagi?"
Mungkin karena
gugup, responku terasa dingin.
"……Jangan-jangan,
Natsu. Kamu gugup?"
Tepat sasaran.
Apa aku memang
semudah itu ditebak oleh Shii...?
Tapi, mengakui
itu juga gengsi. Sambil
mencoba mengelak, aku menggelengkan kepala.
"Tidak,
tidak, aku tidak gugup."
"Fufu. ……Tapi aku, gugup lho?"
Shii di seberang sana membenamkan wajahnya setengah ke
bantal.
Mungkin dia malu
setelah mengatakannya, lalu dia segera memalingkan wajah.
"……Soalnya,
ini pertama kalinya aku menelepon anak laki-laki sampai jam segini."
Aku merasa panas
menjalar ke wajahku.
"……Aku juga,
baru pertama kali menelepon anak perempuan sampai jam segini."
Aku memang pernah
menelepon Hoshimiya satu kali, tapi itu masih sekitar jam delapan malam.
Jika sudah lewat
jam sepuluh, sensasinya berbeda. Apalagi jika ini video call.
"……"
"……"
Ah, waduh, gawat.
Memalukan sekali sekarang.
Aku ingin
berguling-guling di atas kasur, tapi karena sedang dilihat oleh Shii, aku tidak
bisa melakukannya.
Suasana canggung
menyelimuti di antara kami.
"……Begitu
ya. Hehe, tidak terduga ya? Tapi, Natsu, kamu kan baru debut di SMA. Sebenarnya, kamu tidak terlalu
terbiasa dengan perempuan, ya?"
"……Berisik
sekali. Memangnya kenapa?"
Biasanya
aku yang lebih sering menjahili Shii, tapi hari ini aku benar-benar didominasi.
"Ahaha,
lucu. Natsu, kamu lucu ya, fufu."
……Tapi, syukurlah
Shii terlihat senang.
Sudah lama aku
tidak melihat Shii tertawa seperti itu.
"Lagipula,
kenapa tiba-tiba video call?"
"……Apa
aku harus memberitahu alasannya?"
"Tentu
saja."
Aku memaksa Shii
yang sepertinya tidak mau memberitahu.
Meski juga
sebagai balasan karena terus dijahili, tapi alasan sebenarnya memang membuatku
penasaran.
Karena hari ini
adalah pertama kalinya Shii meneleponku. Dia bukan tipe orang yang sering
menggunakan LINE, jadi kami hampir tidak pernah berkomunikasi melalui obrolan.
Meski dengan Hoshimiya atau Nanase dia sering melakukannya.
"……Emm,
soalnya, aku ingin melihat wajah Natsu."
Shii
mengatakannya dengan suara yang lebih kecil dari biasanya.
……Hah?
Hahhh~~???
Wah, sial, yang
ini curang sekali!
Itu
pelanggaran.
Aku
terkena serangan telak, HP-ku langsung nol.
Kami
tidak bisa saling bertatapan.
Padahal
sedang video call, tapi aku tidak bisa mengangkat wajahku.
Itu karena aku
tahu pipiku sudah semerah kepiting rebus.
……Aku melirik
layar sekilas.
Shii yang
menunduk dengan telinga memerah, ternyata juga menatap ke arahku di saat yang
bersamaan.
Saat mata kami
kembali bertemu, aku segera memalingkan wajah.
"……"
"……"
Keheningan yang
terlalu memalukan terus berlanjut.
Satu-satunya yang
bisa kukeluarkan hanyalah komentar yang sangat membosankan.
"……Bukankah
wajahku baru saja kamu lihat tadi?"
"……I-iya
juga ya. Ahaha, aku bicara apa sih?"
Shii
mengucapkannya dengan cepat seolah untuk mengelak, lalu,
"Bercanda. Iya, itu cuma bercanda. Jadi, jangan dipikirkan ya."
……Jangan
dipikirkan, dia selalu mengatakan hal yang tidak mungkin dilakukan.
Aku ingin dia
sedikit sadar akan kekuatan serangannya sendiri.
"N-natsu,
di sini panas ya."
Shii berkata
begitu, lalu bangkit dan keluar dari jangkauan kamera.
Setelah terdengar
bunyi klik, terdengar suara dengungan halus.
Sepertinya dia
menyalakan kipas angin.
Rambut Shii yang
kembali ke layar tampak bergoyang tertiup angin.
"Fuu~, sejuknya..."
Lalu, sesaat
sebelum Shii kembali ke posisi semula, bagian dadanya yang tanpa pelindung
sempat terlihat.
…………Sepertinya
aku melihat sesuatu, tapi anggap saja aku tidak melihat apa-apa.
Begitu ya…… karena ini sebelum tidur, dia jadi tidak memakai
bra ya……
"Sebenarnya,
aku hanya ingin mendapatkan semangat."
Terhadapku yang
sedang memikirkan hal-hal kotor, Shii mulai berbicara dengan nada serius.
"Keinginanku
untuk melihat wajahmu itu juga sungguh-sungguh. Melihat wajah Natsu membuatku
bersemangat."
"……Kalau
hanya dengan melihat wajahku Shii bisa jadi bersemangat, aku akan perlihatkan
kapan pun. Toh tidak ada ruginya."
"Ahaha,
terima kasih ya. Berkat Natsu, sepertinya besok aku bisa pergi ke
sekolah."
……Besok bisa
pergi ke sekolah, ya.
Sampai sejauh
itukah dia terpojok hingga merasa tidak bisa pergi ke sekolah?
"——Aku
dimarahi oleh Kak Wakamura."
Shii bergumam
pelan.
Mungkin itu
terjadi setelah aku pulang kemarin.
"Saat aku
bertanya kenapa mereka memperlakukan Miorin sekasar itu, dan menyarankan mereka
untuk bicara baik-baik, aku malah dibilang sombong karena masih kelas
satu."
Tehehe, Shii tertawa lemah.
……Posisi Shii
yang membela Miori pasti semakin terpojok dari waktu ke waktu.
Setelah itu, Shii
mulai menceritakan perasaan-perasaannya yang berantakan padaku.
……Pada akhirnya,
posisi di dalam klub lebih kuat para senior kelas dua seperti Wakamura
dibandingkan Miori yang kelas satu. Orang-orang di sekitar yang awalnya
menonton dengan netral, perlahan-lahan memihak Wakamura dan kawan-kawan, lalu
Miori pun mulai dikucilkan.
Shii
tidak menyukai hal itu, jadi dia memberanikan diri.
Namun,
hasilnya tidak memuaskan.
"Tadi,
sebelum menelepon Natsu, aku sempat menelepon Miorin."
Ekspresi Shii
tampak kesepian.
"——Jangan
memihakku. Kamu harus tetap bersama yang lain, katanya begitu."
Itu tipe kalimat
yang akan diucapkan Miori.
Pasti dia tidak
ingin melibatkan Shii.
"Mungkin dia mengkhawatirkanku, tapi…… aku merasa
sedih. Ternyata Miorin tidak
mengandalkanku. Padahal, aku ini temannya Miorin."
Kata-kata itu
terdengar seperti dia menyesali ketidakberdayaannya sendiri.
"……Hei Shii.
Bisa ceritakan sedikit soal Miori?"
Saat aku bertanya
begitu, Shii mengerjapkan matanya.
"……Boleh
saja, tapi bukannya Natsu yang teman masa kecilnya lebih tahu banyak tentang
Miorin?"
"Ini
soal basket. Dia dari dulu tidak punya gaya bermain seperti sekarang,
kan?"
"Eh? I-iya…… sekarang dia memang terlalu one-man
play ya."
"Iya kan…… kalau begitu, apa kamu tahu pemicu dia jadi
tidak mau mengoper bola?"
Saat aku bertanya, Shii berpikir sambil menopang dagu,
"Hmm..."
"Kalau diingat-ingat, memang benar…… sekitar dua minggu
lalu, itu jadi sangat mencolok. Yah, karena dia bisa mencetak angka sendiri,
jadi aku tidak terlalu mempermasalahkannya saat menonton..."
……Sekitar dua
minggu lalu, ya.
Itu sangat baru.
Atau
jangan-jangan, alasan dia bertengkar dengan Wakamura dan yang lainnya juga ada
di sana?
Aku tidak akan
tahu apa-apa kalau tidak memastikannya sendiri.
Meskipun
begitu, aku hanyalah orang luar. Sulit bagiku untuk memastikannya secara langsung.
"……Kamu
punya rencana, kan?"
Shii bertanya
dengan nada suara yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku juga
akan bekerja sama. Bisa beritahu aku apa yang Natsu pikirkan?"
"Bukan
rencana yang hebat sih..."
"Tidak
apa-apa. Lagipula, aku benci kalau harus diam saja dan tidak bisa melakukan apa
pun."
"……Aku
mengerti."
Untuk melakukan
sesuatu dalam kasus ini, aku butuh kerja sama Shii.
Niat sebenarnya
dari Wakamura dan alasan yang dipendam Miori.
Aku bisa
menebaknya secara samar, tapi tindakan butuh keyakinan.
Demi menolong
teman masa kecil yang sudah seperti saudara sendiri ini, aku memutuskan untuk
meminjam kekuatan Shii.
Katanya
akhir pekan depan akan ada pertandingan latih tanding klub basket putri.
Lawan
mereka adalah SMA Sorakure, tim kuat yang masuk delapan besar daerah. Ini
adalah penyesuaian terakhir sebelum kualifikasi Inter-High, dan kabarnya
di sini jugalah susunan pemain inti akan diputuskan.
"Aku
sendiri sepertinya tidak akan masuk bangku cadangan. Karena aku masih payah, mau bagaimana lagi."
"Soal itu,
itu adalah pertarungan setelah kakak kelas tiga lulus nanti."
"Iya, aku
akan berusaha."
Istirahat siang.
Setelah makan
siang, aku mengobrol berdua dengan Shii.
Tempatnya di
koridor. Kami bersandar di dinding koridor seolah sedang mengobrol santai, tapi
kami punya tujuan. Shii terus melirik ke sekeliling, menunggu seseorang datang.
Hei, hei, kalau
terlalu mencolok nanti ketahuan lho.
"Ah, mereka
datang," bisik Shii pelan.
Aku sengaja tidak
melihat ke arah sana.
"Eh, ada
Shii. Halo!"
Orang yang lewat
adalah anak kelas dua klub basket putri, Wakamura dan kawan-kawan.
Tentu saja ini
bukan kebetulan. Kami melihat Wakamura dan yang lain di kantin, lalu menunggu
di koridor yang menghubungkan kantin dengan ruang kelas kelas dua. Kami
berpura-pura sedang mengobrol santai dengan Shii.
"Halo!"
Ekspresi Shii
sempat kaku sesaat, tapi dia segera memasang wajah tersenyum untuk menyapa.
"Maaf soal
kemarin ya. Aku bicara agak keras."
Wakamura meminta
maaf pada Shii dengan gaya yang santai.
Tidak terlihat
seperti dia meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
"T-tidak
apa-apa..."
Shii
menggelengkan kepala dengan wajah yang tampak rumit.
"Ngomong-ngomong,"
Wakamura menunjuk
ke arahku dan bertanya pada Shii. Jangan menunjuk orang!
"Itu
pacarmu?"
"Eh!"
Pipi Shii
langsung memerah seketika.
"B-bukan,
kok!"
Shii menjawab
sambil melambaikan tangannya dengan panik.
Wakamura dan
kawan-kawan saling bertatapan, lalu berkata bersahutan.
"Ya, habisnya belakangan ini kalian sering terlihat
berduaan…… kan?"
"Benar,
setelah latihan pun kalian selalu bersama, kan?"
"Lagipula,
bukannya orang ini tadi melihat kita dari lantai dua saat latihan?"
Bisakah kalian
melupakan kejadian yang terakhir itu?
"Jadi,
hubungan kalian apa?"
Wakamura bertanya
dengan wajah polos.
"Apa ya…… kalau ditanya begitu, kami teman. Kita teman, kan?"
Shii menatapku
dari bawah dengan wajah malu-malu.
"Y-ya,
benar, kan?"
Sudut pandang
itu, kekuatan merusaknya terlalu besar, jadi jujur saja, aku ingin dia berhenti
melakukannya.
"Fufu,
begitu ya?"
Wakamura dan
kawan-kawan saling bertatapan sambil menyeringai.
"Apaan, sih!
Ih!"
Karena reaksi
Shii yang terlalu terang-terangan, aku pun merasa pipiku ikut memanas.
Dengan sikap
seperti ini, sama saja dia mengatakan kalau ada sesuatu di antara kami, tahu!
"Ya sudah, titip Shii ya?"
Saat diminta seperti itu, aku tidak bisa menolak, jadi aku
mengangguk saja.
"Kenapa kamu malah mengangguk!?"
Shii berkata dengan wajah yang tampak sedikit senang. Jangan terlihat senang!
Lucu sekali,
tahu!
"Ya, habisnya…… bukannya aku diminta sebagai
teman?"
"Kalau itu
sih, tidak apa-apa……"
Saat aku menjawab
dengan aman, Shii cemberut dengan mata yang menyipit.
Tidak, kenapa
malah terlihat tidak puas?
Wakamura, yang
melihat interaksi kami, tiba-tiba memperhatikan diriku dengan teliti.
A-ada apa? Saat
aku berpikir begitu, Wakamura berkata seolah baru ingat.
"——Kamu,
jangan-jangan yang waktu hari Sabtu itu..."
Akhirnya dia
menyadarinya.
Tanpa diduga,
pembicaraan sepertinya akan berjalan sesuai keinginanku.
Padahal aku sudah
menunggu di sini, tadinya kupikir hanya akan berakhir dengan dikerjai saja...
"——Kalau
dipikir-pikir, kita memang pernah bertemu ya."
Saat aku
menjawab, Wakamura memalingkan wajah dengan canggung.
"Maaf ya soal waktu itu. Waktu itu sikapku buruk, kan?"
Saat dia
meminta maaf dengan jujur begitu, aku jadi bingung harus merespons bagaimana.
"Tidak,
tidak apa-apa..."
Aku
hampir saja mengelak, tapi kalau begitu tidak ada yang berubah.
Jadi, aku
memutuskan untuk memberanikan diri bertanya.
Pada saat
seperti ini, mungkin itu tidak akan terlihat terlalu tidak wajar.
"——Apa
yang terjadi dengan Miori?"
Udara
seketika terasa mendingin.
Wakamura
dan kawan-kawan terdiam, dan Shii menatapku dengan wajah tegang.
Di tengah
situasi itu, orang yang membuka mulut adalah gadis bermata tajam yang berada di
samping Wakamura.
"Dia
menggoda pacar Rika, tahu."
"Sebentar,
Mana."
"Tidak enak
kan kalau kita dianggap merundungnya tanpa alasan."
Dari alur
pembicaraannya, Rika pasti nama depan Wakamura.
Itu hal
baru yang baru kudengar.
Aku
melirik Shii di sampingku, tapi dia hanya menggelengkan kepala.
"Menggoda
itu maksudnya bagaimana?"
"Seperti
yang kamu dengar. Dia bermain dengan pacar orang lain."
……Apa
Miori akan melakukan hal seperti itu?
Kurasa
dia tidak sampai berpengalaman dengan laki-laki sampai sejauh itu.
Lagipula,
sekarang dia sedang mengincar Reita, tidak ada gerak-gerik dia mengincar pria
lain.
Kepada
aku dan Shii yang terdiam, gadis bernama Mana itu bercerita dengan lancar.
"Selain itu,
masih banyak hal lain. Meski terpilih jadi pemain inti, dia sama sekali tidak
ikut latihan mandiri, sikapnya sombong…… intinya, kami semua benci padanya.
Jadi, kami berusaha untuk tidak berurusan dengannya. Itu saja."
"……Benarkah
begitu?"
Aku bertanya
balik pada Wakamura. Wakamura menerima tatapanku, lalu dengan cepat memalingkan
wajah.
"……Yah, apa
yang dikatakan Mana tidak salah."
Setelah itu, dia
melanjutkan kalimatnya dengan wajah yang tampak tidak antusias.
"Hanya saja,
alasan aku lebih kesal padanya daripada itu adalah…… dia itu..."
Aku merasa sudah
tahu kalimat apa yang akan menyusul.
Karena itu, aku
sengaja memotong kalimatnya.
Kalau tebakanku
benar, aku bisa memegang kendali pembicaraan.
"——Dia tidak
berniat melakukan team play?"
Wakamura
menatapku dengan terkejut. Sepertinya tebakanku tepat sasaran.
"Kenapa kamu
bisa tahu?"
"Kalau
melihat permainan Miori, wajar saja kalau beranggapan begitu."
Gaya
bermain yang mementingkan diri sendiri.
Aku
maupun Tatsuya merasa begitu hanya dengan melihatnya.
Anggota
tim yang berjuang bersamanya pasti merasakannya jauh lebih kuat.
——Ah,
orang ini sedang bermain basket sendirian, ya.
"……Yah,
tepat seperti yang kamu katakan."
Wakamura
mulai bercerita dengan enggan.
"Miori
itu hebat sekali, seharusnya visinya luas, tapi entah kenapa belakangan ini dia
sama sekali tidak memberikan operan, dan bahkan dalam situasi yang sudah ada
skemanya, dia memutuskan semuanya sendiri…… Aku benci itu…… kalau dia
ada, keunggulan teman-teman yang lain tidak bisa dimanfaatkan."
Dua gadis di samping Wakamura terlihat sedikit terkejut.
Mungkin
dia tipe orang yang jarang mengungkapkan perasaannya.
"Sudah
berulang kali kubilang pun dia tidak membaik, dan saat kubujuk untuk latihan
mandiri demi memperbaiki koordinasi pun dia tidak ikut…… padahal dia lebih
hebat dariku, padahal kalau dia serius melakukannya dia pasti bisa, tapi dia
bahkan tidak mau mencobanya. Dia pasti meremehkan kami. Karena itulah, aku jadi kesal."
Wakamura
melanjutkan dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Saat itu,
aku melihat Miori bersama pacarnya, jadi aku mencecarnya. Tapi Miori malah
bertanya, memangnya apa yang salah. Karena itulah, aku merasa itu benar-benar
tidak masuk akal."
Dua gadis
di samping mengangguk-angguk mendengar penjelasan Wakamura.
Hmm, kurasa
pacarmu itu juga salah, deh...
"Maaf soal
ini pada semuanya. Juga pada Shii. ……Aku membuat suasana jadi seperti
ini."
Setelah meminta maaf pada Shii, Wakamura pergi membawa kedua
gadis itu.
"Natsu..."
Shii menatapku dengan wajah gelisah.
"Masalah yang rumit ya."
……Kurasa Wakamura juga bukan orang jahat.
Kalau ada orang jahat yang tinggal dipukuli saja masalah
selesai, ceritanya akan mudah.
Tapi, masalah yang terjadi di dunia nyata biasanya tidak
seperti itu. Semua orang sedikit bersalah, ada berbagai macam alasan, terjadi
kesalahpahaman, dan penyebabnya saling terkait dengan rumit.
Jadi, tidak seperti di dalam cerita, aku tidak bisa
menyelesaikannya dengan indah hanya dari satu petunjuk saja.
"Tapi aku
juga akan melakukan apa yang aku bisa."
——Hal yang bisa
kulakukan sebagai diriku yang bukan pahlawan dalam cerita ini, hanyalah
mengurai benang yang kusut satu per satu dengan hati-hati. Setidaknya agar
kesalahpahaman di antara mereka bisa sedikit berkurang.
"Aku sudah
mengerti pikiran Wakamura. Selanjutnya adalah Miori."
Istirahat siang
keesokan harinya.
Saat aku
mengintip ke kelas sebelah, suasana sedikit gaduh.
"Hei,
Hara-kun, ada apa?"
Seorang
gadis yang berada di dekat pintu menyapaku.
Meski
wajahnya familiar, aku tidak tahu namanya. Tapi dia tahu namaku.
Belakangan
ini sering sekali terjadi, jadi agak canggung rasanya.
Terlepas dari
itu,
"Bisa tolong
panggilkan Miori?"
"Oke!"
Gadis yang tak
kuketahui namanya itu pergi menuju Miori yang berada di pusat keramaian kelas.
Miori, yang sedang tersenyum di tengah kelompok gadis-gadis kelas itu, akhirnya
menyadari keberadaanku. Dia menoleh ke arahku lalu memperlihatkan ekspresi yang
sangat terang-terangan kalau dia merasa terganggu.
Entah mengapa,
para gadis di sekitar Miori tampak bersemangat.
Aku tidak bisa
mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi Miori mendekat sambil menjawab
sesuatu seperti, "Sudah kubilang bukan begitu. Kami cuma teman masa
kecil." Dia menghela napas panjang.
"Ada
keperluan apa?"
"Di sini
terlalu mencolok. Ayo pindah tempat."
"……Yah,
benar juga. Aku juga tidak mau digosipkan denganmu."
"Apa
maksudmu?"
Saat aku
memiringkan kepala, pipiku dicubit. Hei, sakit tahu!
Terhadap tatapan
protesku, Miori menghela napas.
"Orang yang
tidak sadar dengan pengaruhnya sendiri itu ternyata sangat menyebalkan
ya..."
"Aku
tidak merasa tidak sadar sampai segitunya, kok..."
Ada
kejadian Tatsuya juga, jadi aku tahu ada pandangan bahwa orang-orang
melebih-lebihkan diriku.
Yah, karena ini
adalah kehidupan keduaku, jadi maklumi saja ya?
"Hah…… terserah lah. Lagipula, dasimu miring tuh."
Miori menghela napas untuk ketiga kalinya, lalu dengan wajah
yang tampak tidak habis pikir, dia mengulurkan tangan ke dasiku.
"Diamlah."
Nadanya tidak terbantahkan.
Miori memperbaiki dasiku sesuka hatinya.
Karena tidak ada gunanya melawan Miori saat seperti ini, aku
hanya diam saja.
Saat sedekat ini, perbedaan tinggi badan kami jadi sangat
jelas.
Padahal saat masih kecil, justru Miori-lah yang lebih
tinggi.
Saat aku sedang berpikir begitu, telingaku menangkap suara
gadis-gadis yang melengking.
Saat aku menoleh ke arah sana, gadis-gadis dari kelompok
yang tadi mengobrol dengan Miori sedang melihat ke arah kami dengan mata
berbinar-binar. Semuanya menutup mulut mereka dengan tangan.
"……Ah."
Miori, dengan wajah yang tampak seperti baru saja melakukan
kesalahan, menarik lenganku.
Kami ditarik keluar dari dekat pintu kelas, dan setelah
berjalan agak jauh di koridor, akhirnya aku dilepaskan.
"Habisnya,
kalau kamu ada di sini, ritmeku jadi berantakan."
Miori belakangan
ini tampak sedang bad mood. Dia menghela napas lagi. Ini sudah yang
keempat kalinya, tahu!
Saat bersama
teman-temannya, dia tampak tetap mempertahankan senyum, tapi saat berdua saja
denganku, dia terang-terangan menunjukkan wajah cemberut.
"Jadi? Kita
mau ke mana?"
"Gimnasium."
"Hah? Kenapa
repot-repot ke sana. Kalau cuma mau bicara, di sini saja cukup, kan."
Memang benar,
karena kami sudah meninggalkan depan kelas, meski ini koridor, orang yang lewat
tidak banyak.
Kurasa bicara di
sini saja sudah cukup.
Hanya saja, aku
tidak berniat menyelesaikannya hanya dengan bicara. Karena itulah aku menuju ke
gimnasium.
Miori pasti tidak
akan bicara jujur kalau aku tanya secara biasa.
"Tidak
apa-apa, ayo ikut."
"……Bagimu, sikapmu ini cukup agresif ya?"
"Yah,
begitulah. Aku pikir aku ingin memberitahumu satu hal."
"Kamu, mau memberitahuku? Soal apa?"
"——Soal basket."
"Hah?"
Miori mengerutkan kening.
Di wajahnya tertulis jelas, 'Orang ini bicara apa sih?'.
Yah, kalau di posisi Miori, aku pun akan berpikir begitu.
Meski begitu, dengan sikap yang terpaksa, Miori tetap
mengikutiku.
Kami
berjalan berdampingan menuju gimnasium.
Saat
sampai di gimnasium, aku melepas sepatu luar dan masuk dengan kaus kaki.
Gimnasium saat istirahat siang memang bebas digunakan, tapi karena jauh dari
gedung kelas, jadi biasanya sepi. Hari ini pun hanya ada satu orang.
Dan satu orang
itu ada di sini karena kupanggil.
"Ah, kalian
datang! Sepatu gimnasium Natsu sudah kubawa!"
"Terima
kasih, Shii."
Aku menerima tas
berisi sepatu gimnasium dari Shii.
Sebenarnya aku
ingin memakai sepatu basket, tapi karena tidak masuk klub basket, jadi aku
tidak membelinya.
"Sepatu
basket Miorin juga sudah kuambil dari ruang klub!"
"A-ah,
terima kasih... ngomong-ngomong, kenapa Shii ada di sini?"
"Aku juga
tidak tahu! Aku dipanggil Natsu."
Tatapan curiga
Miori tertuju padaku.
"Aku pikir
aku ingin meminta Shii jadi wasit sebentar."
Setelah memakai
sepatu gimnasium, aku membuka pintu gudang.
Aku
mengambil bola basket dari keranjang yang berisi bola.
Aku
melempar bola itu padanya, lalu berdiri di depan Miori.
"Satu lawan
satu."
"……Kamu
waras? Kamu kan tidak
pernah main basket?"
Miori
tidak bersemangat. Dia terlihat bingung.
Karena dia tidak
tahu apa yang ingin kulakukan, sikapnya tentu saja wajar.
"Miorin,
jangan khawatir! Natsu itu hebat, tahu!"
"Kalau soal
kejadian di sporya aku memang dengar, tapi meski dibilang hebat, itu kan
standar orang awam, kan?"
Miori adalah
teman masa kecilku. Dia
tahu aku tidak pernah bermain basket sampai SMP.
Jadi,
meskipun mendengar dari Shii, dia pasti masih setengah percaya.
Hanya
saja pada kenyataannya, diriku yang sekarang adalah kehidupan keduaku. Aku
punya kekuatan yang tidak diketahui Miori.
"Bukan
begitu! Natsu itu beneran hebat, kok!"
"Iya iya,
aku tahu pendapat Shii..."
Miori mengangkat
bahu menanggapi kata-kata Shii.
Karena dia tampak
tidak berniat, mungkin aku perlu memprovokasinya sedikit.
"——Yah,
kalau menurutmu kau tidak bisa mengalahkanku, kau boleh kabur, lho?"
Miori memasang
ekspresi kesal, lalu menatapku tajam.
"……Menyebalkan.
Aku bakal mengalahkanmu sampai babak belur, ya."
Sifat
Miori yang tidak mau kalah memihak pada rencanaku.
"Meski
begitu, tidak seru kalau cuma main satu lawan satu saja, kan?"
"……Jadi itu
tujuanmu dari awal? Kalau aku kalah, aku harus melakukan sesuatu?"
Dia sangat
tanggap, aku sangat terbantu. Aku mengangguk.
"Kalau kau
kalah, kau jadi milikku. Lakukan apa pun yang kusuka."
"Tidak, aku
tidak butuh itu sih..."
Aku hampir
terjatuh saking malunya.
Shii sendiri
menangkupkan kedua tangan ke mulutnya, lalu bertanya padaku dengan hati-hati.
"M-milikmu... Natsu, kamu berani sekali..."
"Bukan, bukan maksudnya begitu, kok!? Maksudnya, bisa
jadi bawahanku gitu, loh!?"
"Terserah lah, aku juga tidak butuh dirimu."
"Guh!?"
Aku terkena dua lapis bilah kata-kata, membuatku tidak bisa
bergerak.
……C-cukup hebat juga ya dia…… tapi, aku masih bisa
bertarung!
"Sebagai
gantinya, kalau aku yang menang——"
"Aku harus
jadi milikmu, ya? Agresif sekali..."
Miori, sambil
sedikit memerah, memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.
"Bukan,
bukan begitu!"
Aduh, jangan
merusak keceku terus.
"Kalau aku
menang——ceritakan semua yang kau pendam itu."
Miori
mengerjapkan mata seolah terkejut.
"Aku
bilang, andalkan aku. Jangan kau tanggung sendirian."
"……Kenapa.
Itu bukan urusanmu, kan?"
"Karena aku
tahu kau akan berkata begitu, makanya aku sengaja membuatnya jadi pertandingan
seperti ini."
——Kalau kalah,
kau pasti bisa cerita dengan jujur, kan?
Saat aku
menanyakannya secara tersirat, Miori menatapku tajam.
"Baiklah.
Yah, karena aku yang akan menang, rencanamu itu akan sia-sia, ya."
Miori mendengus,
lalu mulai memantulkan bola.
Miori sekarang
sedang keras kepala. Dilihat dari kepribadiannya, cara pengobatan yang keras
adalah yang terbaik.
"Jadi, kita
mulai?"
"Ayo."
Pertandingan satu
lawan satu antara aku dan Miori dimulai.
Miori mengira aku
orang awam, tapi kenyataannya tidak. Ditambah lagi ada perbedaan fisik pria dan
wanita.
"——Hah?"
Aku berhasil
membaca arah drive Miori, dan tangan yang terulur menepis bola itu.
Meski begitu,
tangannya sempat tersentuh, apakah ini sedikit foul?
Saat kupikir
begitu, aku melihat ke arah Shii yang kuminta jadi wasit, dan dia merentangkan
kedua tangan secara horizontal sambil berteriak, "Aman!". Tidak, itu
mah bisbol.
Terlepas dari
itu, aku mengganti posisi menyerang dan bertahan dengan Miori yang mengerutkan
kening karena bingung.
"Kebetulan...
ya?"
"Kebetulan
atau tidak, sebentar lagi juga akan tahu."
Aku mulai
memantulkan bola perlahan.
Bola terasa
menyatu dengan tanganku. Aku bisa melihat tatapan Miori berubah.
Crossover. Aku masuk dengan tajam ke kanan, tapi
aku tidak bisa melewati Miori begitu saja. Aku berhenti mendadak lalu melakukan
roll turn. Kali ini aku melebar ke kiri, tapi tetap saja aku tidak bisa
menyingkirkan Miori.
Kekuatan kaki
gadis ini luar biasa. Memang pantas dia jadi pemain inti sejak kelas
satu——tapi, ini belum berakhir. Aku memegang bola dengan paksa, masuk ke dalam,
lalu melompat dengan tenaga penuh.
Miori ikut
melompat untuk menghentikan layup-ku, tapi saat itu, aku menarik tangan
yang tadinya mengangkat bola ke atas.
Tepat saat
melewati bagian bawah ring sambil melompat, aku kembali mengangkat bola ke
atas, memutar pergelangan tangan, dan melambungkannya.
Ring ada di
belakang punggung, tapi meski tidak melihat pun, aku tahu perkiraan posisinya.
"Mustahil...!?"
——Double
clutch.
Tepat saat Miori
yang kehilangan keseimbangan jatuh terduduk di lantai, bola itu tersedot masuk
ke dalam net.
Aku memasang
wajah tenang, sambil diam-diam menyeka keringat dingin.
H-hampir saja...
Kalau saja tadi
meleset, tamatlah sudah riwayatku.
Malah sebenarnya,
itu tadi murni keberuntungan.
Kalau saja tadi
terbukti keberuntungan... ya, memang keberuntungan.
Aku hampir
menyesali wajah sok kerenku tadi, tapi untungnya Miori sepertinya tidak sadar.
Miori masih terduduk di lantai, menatapku dengan tatapan kosong.
"K-kenapa,
bisa begitu..."
"Sudah
kehilangan niat bertanding? Ini baru satu poin, kan?"
Saat aku
memprovokasinya begitu, Miori menepuk kedua pipinya sendiri lalu berdiri.
"……Apa kamu
sampai latihan basket segala demi debut SMA?"
"Yah,
kira-kira begitu."
Aku menjawab
seadanya untuk mengalihkan pembicaraan, karena kalau dijawab jujur pun akan
sulit. Yah, dari sudut pandang Miori, dia pun tidak akan bisa menebak hal lain
selain itu.
"……Meski
begitu, aku tidak akan kalah."
Kami
bertukar posisi menyerang dan bertahan. Miori memasang ekspresi serius, lalu
menekuk lutut sambil mendekap bola. ……Jadi ini Miori yang serius, ya. Dia
memang hebat.
Sejujurnya
tadi aku tidak mengira dia akan mengikutiku sampai sejauh itu.
Aku yang sempat
meremehkannya karena dia perempuan harus segera mengubah pola pikirku.
Pertahanannya bahkan lebih baik daripada Tatsuya.
"Ngomong-ngomong,
kita belum menentukan aturan. Bagaimana kalau tiga poin duluan?"
Saat aku
bertanya, Miori mengangguk mantap.
"——Yah,
kira-kira begitulah hasilnya."
Tiga poin
duluan, dan hasilnya 3-1 untuk kemenanganku. Jujur saja, dia lebih kuat dari dugaanku. Bisa
menang dalam satu set saja sudah sangat pas-pasan.
Miori
sedang membungkuk, menopangkan kedua tangan di lutut sambil terengah-engah.
"Hah,
hah..."
"Aku
pemenangnya. Sesuai janji, biarkan aku membantumu!"
Fuhaha! Aku tertawa lepas. Mungkin karena
lawannya Miori, tensiku jadi aneh begini.
"……Kamu ini,
memangnya ingin sekali diandalkan olehku?"
Setelah napasnya
teratur, Miori bertanya sambil menyeka keringat dengan handuk yang dipinjam
dari Shii.
"Bukan ingin
diandalkan. Tapi, andalkanlah aku."
"……Apa yang
kamu bicarakan itu, aneh sekali."
"Bukannya
kamu sendiri yang seenaknya ikut campur dalam masalahku?"
Saat aku sedang
terpuruk karena masalah Tatsuya dulu, Miori-lah yang menolongku.
"Ada apa?
Si jenius peringkat satu sekolah?"
Saat aku
kehujanan, dia memayungiku. Jadi, kalau kau sedang kesulitan, aku pun akan
seenaknya ikut campur dalam urusanmu.
"Itu kan…… habisnya, aku kan mitra dalam
rencanamu."
"Logika itu
pun berlaku padaku, kan?"
Saat aku
mengatakannya, Miori menggelengkan kepala dengan putus asa.
"……Hal yang
aku minta darimu hanyalah kerja sama soal Reita-kun. Kita tidak punya kontrak
untuk saling membantu masalah pribadi yang kupendam sehari-hari. Jadi, tidak
ada alasan bagiku untuk mengandalkanmu—"
"——Ada, kok.
Karena kita ini teman, kan?"
Hei, Miori.
Meskipun kita menyebut diri kita teman masa kecil yang terikat takdir, di
kehidupan pertamaku dulu, aku bahkan tidak pernah bisa bicara denganmu sampai
lulus SMA.
Seharusnya,
hubungan seperti itu sudah tidak ada lagi bagiku.
Hubungan
pertemanan antara aku dan dirimu dulu hanyalah cerita masa lalu.
Karena itulah
sekarang, aku ingin menjaga hubungan yang telah berhasil kudapatkan kembali
ini.
"……Teman..."
Miori bergumam
pelan. Kalau hubungan ini disangkal, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat
apa.
Jujur saja, aku
akan terluka. Akan depresi total. Aku mungkin akan bolos sekolah, pulang ke
rumah, dan tidur seharian.
Ternyata, Miori
tidak bisa membantah dan memilih bungkam. Sepertinya, bukan cuma aku yang
merasa bahwa kami sudah kembali menjadi teman. Fakta itu membuatku merasa lega.
"Ceritakan
semuanya. Kalau ada masalah, konsultasikan padaku."
Miyamoto Miori
memang suka mengurus orang lain, tapi dia sendiri tidak mau mengandalkan orang
lain.
Aku akan mengubah
sifat itu. Aku akan memberitahumu bahwa kau memiliki aku.
"……Situasinya
tidak akan berubah hanya dengan mengandalkanmu."
"Tapi
mungkin ada yang bisa kulakukan. Seperti saat kau menolongku dulu."
Di sana, Shii
yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan kami menimpali.
"Aku pun
merasakan hal yang sama. Aku ingin menjadi kekuatan untuk Miorin. Rasanya sepi
kalau tidak diandalkan."
Keheningan
menyelimuti gimnasium yang hanya berisi kami bertiga.
"……Mungkin
saja, aku hanya ketakutan."
Ucapannya
terdengar seperti menyalahkan diri sendiri.
"Mengandalkan
orang lain itu artinya menunjukkan kelemahan. Aku tidak mau menunjukkan
kelemahanku pada orang lain. Karena aku sadar betul aku bukan orang yang kuat.
Setidaknya, aku ingin terlihat kuat."
Setelah itu,
Miori mengangkat wajahnya, menatapku, dan tersenyum lemah.
"——Kalau
begitu, ayo tunjukkan dirimu yang sebenarnya kepada semua orang."
Hari itu. Miori
yang seharusnya mengucapkan kalimat itu padaku, ternyata juga memendam
kegelisahan yang sama denganku.
……Tidak, mungkin
karena dia memendam kegelisahan yang sama denganku, makanya dia bisa memberikan
jawaban yang tepat untukku.
Karena
sebenarnya, Miori sendiri pun ingin melakukan hal yang sama.
Kalau begitu,
sekarang giliranku untuk menolong Miori. Seperti Miori menolongku hari itu.
"——Miori, di
depanku, kau tidak perlu berpura-pura kuat."
Aku merasa
kata-kata saja tidak akan cukup.
Tapi, aku ingin
perasaan ini benar-benar tersampaikan.
Karena itu, aku
melangkah maju. Mendekati
posisi Miori.
"Natsuki...?"
Aku
memberanikan diri dan mendekap tubuh Miori.
Aku tidak mungkin
melakukan ini pada gadis lain, tapi untuk Miori, teman masa kecilku, aku bisa.
Miori tidak
melawan. Dengan rasa ragu, dia membalas pelukanku.
"……Wah,
meskipun kamu masih perjaka, kamu berani juga ya."
"Sudah
kubilang, jangan berpura-pura kuat."
Saat aku menepuk
ringan bagian belakang kepalanya, kudengar suara lemahnya, "……Maaf."
"……Hei,
Natsuki."
"Apa
itu?"
"Aku... saat
ini sedang merasa kesulitan. Meski mungkin ini akibat perbuatanku sendiri,
rasanya menyakitkan."
"……Ah."
"……Bolehkah
aku mengandalkanmu?"
"Tentu
saja."
Aku menjawab
sambil memeluknya erat, menanggapi kata-kata yang diucapkannya dengan suara
bergetar itu.
……Nah, sekarang
ada satu masalah di sini.
Kira-kira, kapan
waktu yang tepat untuk berhenti memeluknya? Aku penasaran bagaimana para pria
di dunia ini mengambil keputusan dalam situasi seperti ini.
Meskipun ini
sudah kehidupan keduaku, ini adalah pertama kalinya aku memeluk seorang gadis.
Jadi, pengalaman tidak ada gunanya sama sekali. Lagipula, aku sendiri bingung
kenapa aku berakhir seperti ini karena terlalu menuruti emosiku sendiri.
……Tidak,
apa yang sedang kulakukan? Aku ini.
"……"
"……"
Miori
bergerak sedikit di dalam pelukanku.
Sepertinya
Miori sudah tenang dan kurasa sudah waktunya untuk melepaskan. Tapi aku takut
dianggap dingin jika tiba-tiba melepaskannya begitu saja. Lagipula, tubuhnya
terasa begitu lembut, terasa sekali tubuh seorang gadis, dan aromanya sangat
wangi, sehingga muncul perasaan tidak ingin melepaskannya.
Tapi
tidak, tidak! Apa yang kupikirkan? Ini Miori, lho! Tenanglah. Benar-benar harus
tenang!
Terdengar
suara Miori menghirup hidung di dekat telingaku. Napasnya menyentuh leherku.
……A-apa yang
harus kulakukan?
Wah, aku
benar-benar gugup. Sial, jantungku berdegup kencang.
Shii
menatap kami berdua lekat-lekat. Entah perasaan saja atau tidak, tatapan Shii
yang awalnya tampak hangat perlahan-lahan suhunya menurun. A-ada apa, ya?
Bukan itu saja,
situasi macam apa ini? Kenapa aku memeluk Miori di bawah tatapan tajam Shii?
Aku tidak tahu alasannya, tapi yang pasti, ini adalah hasil dari tindakanku
sendiri.
"……Sudah
boleh dilepas, kok? Shii nanti marah."
Miori mendorong
tubuhku dengan lembut. Syukurlah dia memberikan pemicu untuk melepaskannya.
"……Lagipula,
aku tidak marah. Tapi bukannya ini terlalu lama?"
Shii menatap kami
dengan mata menyipit. Sulit untuk menanggapi pertanyaan itu.
"Mungkin
memang agak lama, ya..."
"Shii, maaf
ya. Soalnya Natsuki menyukaiku."
Miori
menangkupkan kedua tangan ke arah Shii. Memangnya dia ini bicara apa seenaknya
saja?
Padahal baru tadi
dia menangis, sekarang sudah kembali seperti semula. Benar-benar wanita yang
tidak imut. Aku rugi karena sudah gugup. Eh, tidak, aku tidak gugup, kok.
……Yah, mungkin
dia sudah pulih sampai bisa berakting seceria ini. Shii entah kenapa malah
menatapku tajam.
……Tidak, kenapa
aku? Bukannya seharusnya dia menatap Miori?
"Kamu
sendiri yang bilang 'andalkan aku', kan? Pria tidak boleh menarik kata-katanya, lho."
"Apa-apaan
nada bicara seperti orang mengancam itu?"
"Ini memang
ancaman. Kalau aku mulai mengandalkanmu, jangan harap aku bisa berhenti di
tengah jalan."
"Aku
juga tidak akan berkata begitu, kok..."
"Janji ya? ……Jangan tinggalkan aku lagi."
Kata-kata itu
seolah tumpah begitu saja. Aku tersentak dan menatap wajah Miori. Apakah dia sedang membicarakan
masa-masa SMP?
Waktu aku
merasa iri yang egois terhadapnya dan menolaknya. ……Saat itu aku yang rendah
diri dan selalu menjadi orang yang kesepian tidak tahan berada di samping Miori
yang bersinar di pusat perhatian, sehingga aku mulai menghindarinya.
"Kamu
sebaiknya tidak usah bersama orang sepertiku."
Bagiku, itu
adalah kejadian sepuluh tahun lalu.
"……Meski
begitu, waktu hari upacara masuk sekolah, aku gugup saat menyapamu, lho?"
Tapi bagi Miori,
itu baru terjadi dua atau tiga tahun yang lalu.
"Aku tidak
mau kamu sadar, jadi aku berusaha bersikap seolah semuanya masih sama seperti
dulu."
Aku melukai
Miori, namun aku hampir melupakan fakta itu. Lebih tepatnya, aku tidak pernah
berpikir kalau Miori akan terluka oleh kata-kata orang sepertiku.
Jadi, aku bahkan
tidak pernah memikirkan perasaan Miori saat dia bicara denganku.
"……Maaf."
"Tidak
apa-apa. Karena sekarang kita bisa bicara seperti ini, kan."
Miori
memungut bola yang menggelinding di lantai dengan lembut.
"……Kamu
bilang aku boleh mengandalkanmu, kan?"
Miori
mulai bercerita sambil menatap bola basket yang sudah usang itu. Itu adalah
akhir dari kejadian yang terjadi antara Miori dan Wakamura serta
kawan-kawannya.
"Aku senang
sekali saat terpilih menjadi pemain inti. Aku merasa kemampuanku diakui. Memang
benar aku sempat besar kepala saat itu. Meskipun masih kelas satu, aku merasa
hebat sekali."
Miori menembakkan
bola dari posisi tersebut. Bola dengan lintasan indah itu masuk ke dalam jaring
tanpa menyentuh ring.
"Tapi,
mungkin sekitar dua minggu lalu. Setelah latihan selesai aku berniat pulang,
tapi aku ingat ada barang yang tertinggal, jadi aku kembali ke ruang klub. Saat
itu, sebelum membuka pintu, aku mendengar suara para senior."
"Anak itu,
akhir-akhir ini tidakkah dia terlalu besar kepala?"
"Ya, hanya
karena terpilih jadi pemain inti, aku tidak menyangka dia sampai berani
memberikan pendapat."
"Kalian
semua bicara terlalu berlebihan. ……Yah, memang terkadang dia terlihat agak
lancang."
"Padahal
biasanya dia anak yang baik, ya."
Bola memantul di
lantai dan menggelinding ke dekat kaki Miori.
"Saat itu,
aku belum menganggapnya sebagai ejekan. Ada juga kata-kata yang seolah membela
diriku, dan sebenarnya aku memang sedang besar kepala saat itu…… jadi menurutku
itu hanya pendapat yang masuk akal."
Shii mendengarkan
dalam diam dengan raut wajah yang rumit. Mungkin dia juga teringat akan
sesuatu.
"Waktu itu aku sendiri tidak merasa terluka. Tapi……
sejak latihan hari berikutnya, saat sadar kalau orang-orang ini sebenarnya
membenciku di dalam hati, aku jadi tidak bisa memberikan operan secara spontan.
Bahkan di situasi yang biasanya bisa kuoper, aku malah memaksakan diri untuk
menerobos sendiri."
Miori kembali mengambil bola di kakinya, kali ini dia
berniat memberikan operan kepadaku.
……Bola terbang ke arah dadaku. Tapi, operannya satu detik
lebih lambat dari waktu yang kubayangkan.
Dari gestur Miori saat mengoper, keraguannya selama
sepersekian detik memang terlihat jelas.
"Karena
itulah, aku dimarahi senior Wakamura. Katanya, aku tidak punya niat untuk
bermain tim. Jadi aku mencoba memperbaikinya…… tapi sama sekali tidak
bisa. Tapi, meskipun aku sudah berusaha, senior Wakamura terus-terusan
menyerangku, jadi aku malah balik menjawab. Aku bilang, tidak masalah kan
karena bolanya masuk. Gara-gara itu, aku jadi jarang bicara dengan para
senior."
Suara Miori
perlahan-lahan bergetar. Emosi yang selama ini dikunci rapat mulai meluap
bersama kata-katanya.
"Puncaknya
adalah hari Jumat kemarin. Sehari sebelum aku pergi menonton film dengan Natsuki dan yang lainnya.
Karena tidak nyaman berada di klub, aku berniat pulang tanpa mengikuti latihan
mandiri, lalu…… aku diganggu oleh senior dari klub sepak bola."
Miori
menundukkan wajahnya dan mulai menyeka wajah dengan lengan bajunya.
"Dia
sudah sering mengajakku bicara dengan aneh sejak dulu. Saat itu pun dia
mengajakku pulang bersama, aku sempat merasa agak takut, tapi karena dia anak
klub sepak bola, aku berpikir mungkin kalau berteman dengannya aku bisa lebih
dekat dengan Reita-kun…… dengan perhitungan seperti itu, aku pun pulang
bersamanya sampai ke stasiun."
"……Itu
berarti, dia adalah pacarnya senior Wakamura?"
Mendengar
kata-kata Shii, Miori mengangguk mantap.
Setelah
itu, ada seseorang yang melihat mereka berdua pulang bersama dan
menyampaikannya ke telinga Wakamura. Mendengar cerita bahwa Miori tidak ikut
latihan mandiri dan menggoda pacar orang lain, Wakamura menginterogasi Miori.
Awalnya Miori menceritakan yang sebenarnya, tapi Wakamura yang percaya pada
pacarnya itu tidak mau mendengarkan.
Karena itu, pada
akhirnya Miori juga merasa kesal dan membalas bertanya apa salahnya melakukan
itu. Hasilnya, mereka berdua bertengkar hingga sampai pada situasi saat ini.
"Begitu
rupanya……"
Di gimnasium yang
hening itu, aku berucap.
"……Bukan,
itu pacarnya Wakamura tidak beres, kan?"
Aku
merasa benar-benar tak habis pikir.
Memiliki
pacar tapi menggoda wanita lain saja sudah membuatku muak, tapi seandainya itu
bisa dimaklumi pun, cara berpikirnya yang memilih junior di klub yang sama
dengan pacarnya itu menakutkan. Mengapa dia berpikir tidak akan ketahuan?
"……Memang
benar begitu, tapi senior Wakamura sudah terlanjur yakin kalau pacarnya itu
orang baik."
"Bukan,
bukankah dia terlalu buruk dalam menilai pria?"
Saat aku
menyela, Shii memalingkan wajah dengan canggung.
"……Yah,
jujur saja, senior Wakamura memang punya sisi seperti itu."
"……Ngomong-ngomong, bukankah mantan pacarnya juga
berandalan? Sering dengar
cerita kalau dia sering dipukul."
Miori dan
Shii tersenyum kecut dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Menurut
kalian, apa yang harus dilakukan?"
"Begitu
ya……"
Menceritakan hal
ini kepada Wakamura sekarang pun tidak akan didengarkan dengan baik. Faktanya,
Miori sudah pernah gagal sekali.
――Kalau begitu,
apa jawaban yang benar? Jawabannya sudah terlihat.
Pertama,
mengembalikan situasi agar bisa berkomunikasi kembali. Dengan kata lain,
"Kau harus
menaklukkan gejala 'tidak bisa mengoper' itu."
"……Ya,
benar. Aku mengerti. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini selamanya."
Jujur saja, ada
kemungkinan masalah ini tidak akan selesai semudah itu. Seandainya ini semacam yips,
maka masalahnya akan sangat rumit.
Aku melemparkan
bola yang ada di tanganku kepada Miori. Miori menerimanya, lalu mengopernya
kembali padaku. Kami mengulanginya beberapa kali. Intinya, ini latihan mengoper
dasar.
Awalnya Miori
sedikit ragu dalam gerakannya, tapi dengan cepat dia kembali alami.
"Kalau
lawannya Natsuki, aku baik-baik saja."
Melihat Miori
yang menghela napas lega, Shii memanggilnya.
"Kalau
begitu, bagaimana denganku?"
Shii
merentangkan tangan lebar-lebar meminta operan.
"Tentu saja,
Shii juga tidak masalah…… harusnya begitu…… eh, loh? Kenapa……"
――Pada operan Miori, terdapat keraguan yang tidak wajar.
Meskipun begitu, operannya tetap berhasil dan bola sampai ke
dada Shii.
"A-aneh ya…… padahal kalau dengan Natsuki baik-baik
saja. Maaf, maaf ya, Shii."
Miori mengulangi kata "maaf" dengan raut wajah
seolah ketakutan akan sesuatu.
……Ini luka yang
cukup dalam. Atau, mungkin justru kondisinya semakin memburuk. Saat kulihat
dari tribun penonton sebelumnya, kurasa tidak separah ini.
Semakin memburuk
hubungan di dalam klub basket putri, semakin besar juga trauma Miori……? Tadi dia bilang, operannya tidak
bisa keluar tepat sejak hari setelah dia diejek.
Shii melemparkan
bola kembali kepada Miori dengan lembut.
"Tidak
apa-apa. Tidak apa-apa kok, Miorin. Aku ada di pihak Miorin."
Shii berusaha
menyampaikan perasaannya kepada Miori, setiap katanya diucapkan dengan
hati-hati agar meresap ke dalam hati.
"……Ya,
terima kasih. Aku mengerti. Aku tahu."
Miori mengangguk
berulang kali, lalu menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengusir rasa
takutnya.
……Itu bukan
seperti Miori yang biasanya. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat Miori yang
selemah ini. Tidak, mungkin Miori sedang menunjukkan kelemahannya kepada kami.
Setelah itu, dia
mencoba untuk mengatasinya. Kalau begitu, aku akan mendorong punggungnya.
Miori perlahan
mengoper bola kepada Shii. Shii menerimanya, lalu mengopernya kembali. Mereka
mengulanginya berkali-kali. Aku pun ikut bergabung dalam pertukaran operan yang
penuh kehati-hatian antara Shii dan Miori itu.
Miori bisa
mengoper secara alami saat lawannya adalah aku, tapi kalau lawannya Shii,
gerakannya terlihat sedikit aneh. Namun, pengalaman sukses adalah kekuatan.
Gerakan Miori perlahan mulai menjadi lebih lancar.
"……Ya,
rasanya, sepertinya sudah tidak apa-apa."
Miori bergumam
dengan wajah lega.
"Selanjutnya,
tinggal melihat apakah bisa memberikan operan yang sama kepada para senior di
klub basket putri."
Saat aku
mengatakannya, Miori seketika menunduk dan bergumam, "……Aku tidak terlalu
percaya diri."
"Natsuki."
"Ada
apa?"
"Lakukanlah
sesuatu."
Miori menatapku
dengan mata yang memohon. Setelah tadi menyuruhnya untuk mengandalkanku, aku
sulit menolak, tapi ada batasnya juga.
"Ini bukan
masalah yang bisa selesai dengan mudah hanya karena aku bilang sesuatu,
kan?"
"……Ya, benar
juga."
Miori sepertinya
sadar kalau dia sedang memaksakan kehendak yang tidak masuk akal. Dia
mengangguk pasrah.
"……Kenapa
ya, aku merasa ketakutan seperti ini. Padahal hanya diejek sedikit."
Takut dibenci.
Itu adalah emosi yang wajar bagi manusia. Lalu setelah tahu kalau dia
benar-benar dibenci, dia jadi ketakutan secara insting. Itu bukan hal yang
aneh.
Hanya saja, para
anggota klub basket putri tidak akan ada yang sadar kalau Miori, yang selama
ini dianggap bermental kuat karena pembawaannya, ternyata sedang berada dalam
kondisi seperti itu.
"Aku
ingin menjadi diri sendiri yang kuat, sampai-sampai tidak memedulikan hal
seperti itu."
Gumaman Miori
jatuh seperti tetesan air hujan. Aku ingin sekali memayunginya sebelum tetesan
air itu membasahi Miori sendiri. Setidaknya, sampai awan mendung yang menutupi
hati Miori menghilang.
"――Kalau
begitu, dirimu yang berusaha untuk menjadi kuat, mulai sekarang akan aku
dukung."
Seperti bagaimana
kau mendukung masa remajaku yang penuh warna, dan bagaimana kau mendukungku
yang berusaha untuk terlihat keren.
"Sebagai
gantinya, di depanku kau tidak perlu berpura-pura kuat. Mengeluh atau apa pun,
aku akan menampungnya."
Aku memukul
dadaku dengan keras, seolah berkata ayo, serahkan padaku. Miori
mengerjapkan matanya dengan terkejut.
"Padahal
kamu Natsuki, tapi malah berlagak keren…… rasanya malu sekali, tahu."
"Hei,
hentikan. Kalau kamu mulai bilang memalukan, sudah pasti aku yang paling malu
di sini."
"Natsuki kan
selalu memalukan. Sebagai manusia."
"Sebagai
manusia!?"
Melihatku yang
terperangah, Miori tersenyum tipis. Lalu, dia berbisik di dekat telingaku. Agar
tidak terdengar oleh Shii.
"Kalau
begitu, hubungan kerja sama antara kamu dan aku akan terus berlanjut ya?"
"Hanya ada
sedikit tambahan isinya saja. Bukan masalah besar."
"Fufu,
berlagak keren ya. ――Tapi, kamu memang keren kok, Natsuki. Terima kasih."
Melihat senyum
itu dari jarak yang sangat dekat, aku sempat tertegun.
"…………Rasanya
seperti hanya ada kalian berdua di sini…………?"
Namun,
kesadaranku segera kembali ke kenyataan berkat suara rendah Shii.
"Ti-tidak
begitu, kok. Ya kan, Natsuki?"
"Ya-ya
benar. Lihat, karena kita akan minta bantuan Shii juga."
Aku mencoba
membantu Miori memperbaiki suasana hati Shii, tapi rasanya sulit sekali.
"……Sebenarnya,
untuk masalah penyembuhan gejala Miori saat ini, aku tidak bisa banyak
membantu."
Ini murni masalah
hati Miori. Saat aku mengatakannya, Miori menatapku dengan mata penuh
kecemasan.
Mendapat sikap
yang lemah lembut seperti itu membuatku ingin berlagak keren dan berkata
"Akan aku tangani", tapi sebagai orang luar, aku memang tidak bisa
mengintervensi sampai ke dalam latihan klub basket putri. Karena itu—aku pun
menatap Shii yang sedang cemberut.
"Bisakah kau
mengandalkan Miori? Shii."
"……Apa aku
harus ada di sini? Bukankah berdua saja dengan Natsu dan Miorin sudah
cukup?"
"Selama
aku tidak ada, tolong dukung dia."
Saat aku
mengatakannya sambil menunjuk Miori, entah kenapa Miori memalingkan wajahnya.
"……Cara
bicara seperti pelindung itu, hentikan karena memalukan."
Mendengar itu,
Shii yang melihat tingkah laku kami tertawa kecil. Setelah kembali seperti
biasanya, Shii dengan ceria mendeklarasikan.
"Mau
bagaimana lagi…… karena aku adalah sahabat Miorin, aku akan bekerja sama!"
Mendengar Shii
yang tiba-tiba mengklaim diri sebagai sahabat, Miori menyunggingkan senyum.
"Sejak kapan
kita jadi sahabat? Ya, tidak apa-apa sih."
――Tepat pada saat
itu, suara lonceng berbunyi ke seluruh penjuru sekolah. Itu adalah lonceng
tanda lima menit sebelum istirahat siang berakhir.
Apakah kami
terlalu lama mengobrol? Perjalanan dari gimnasium ke kelas cukup jauh.
"Gawat! Kita
akan terlambat!"
"Ayo lari,
Shii!"
Shii dan Miori
yang panik segera mengganti sepatu di pintu masuk, lalu berlari meninggalkanku.
Walaupun jauh, jaraknya masih lima menit, jadi tidak perlu terburu-buru seperti
itu.
……Yah, karena
Shii dan Miori terlihat senang, tidak apa-apalah.
Saat aku sedang
mengganti sepatu di pintu masuk, seseorang memanggilku tepat dari arah samping.
"――Mengenai
pacar senior Wakamura, akan aku tangani di sini."
Karena terlalu
terkejut, sepatu di tanganku sampai terlempar ke suatu tempat.
"Hei, Reita.
Bisakah kamu tidak muncul secara tiba-tiba?"
Akhir-akhir ini,
baik Tatsuya maupun Reita selalu berada di sampingku tanpa kusadari, itu
benar-benar membuatku terkejut, tahu?
Reita melirikku
yang sedang dalam posisi konyol, lalu berkata.
"Kuranomaki
Hito. Senior dari
klub sepak bola. Dari awal orangnya memang agak playboy, katanya baru
mulai berpacaran dengan senior Wakamura beberapa waktu lalu, tapi dia
sepertinya memaksa gadis lain untuk berhubungan dengannya."
Reita melanjutkan
ceritanya tanpa memedulikan reaksiku. Tidak bisakah dia sedikit lebih hangat?
"Sejak kapan
kamu di sini?"
"Sejak awal.
Aku sudah tahu sejak awal kalau kamu berencana melakukan sesuatu dengan
Shii."
Karena Reita
mulai berjalan, aku pun bergegas mengikuti sambil membawa sepatu yang sudah
kuganti.
……Eh?
Malahan, apakah
momen saat aku memeluk Miori juga terlihat oleh Reita?
Aku mulai merasa
malu. Dan lagi, aku merasa tidak enak jika strategiku untuk membuat Miori
memikat Reita jadi terganggu. Hanya saja, suasananya juga tidak memungkinkan
untuk memberikan alasan. Padahal Reita seharusnya melihat semuanya dari awal,
tapi tidak seperti biasanya, dia tidak mengejekku sama sekali.
"……Walaupun
kamu bilang akan menanganinya, secara spesifik apa yang akan kamu
lakukan?"
"Cara
melakukan sesuatu ada banyak, kok."
Reita
berkata dengan nada datar. Bagaimanapun
kulihat, suasana hatinya tidak terlihat baik.
"――Aku
tidak akan membiarkan Miori terlibat lagi."
Reita
menyatakan hal itu dengan singkat. Karena Reita sendiri yang memastikannya,
kekhawatiran itu sepertinya tidak perlu lagi.
Sejak hari itu,
sepuluh hari sampai pertandingan persahabatan klub basket putri.
Miori terus
memberikan laporan situasi kepadaku satu per satu. Isinya berupa kalimat
singkat seperti: "Berkat Natsuki, perasaanku sedikit lega",
"Shii membuat suasana menjadi lebih baik dari biasanya", "Aku
juga berusaha untuk mendekati para senior", "Hari ini aku sudah bisa
mengoper kepada senior Wakamura", atau "Rasanya perlahan mulai
kembali normal".
"Begitu
ya", "Syukurlah", "Baguslah", "Kamu sudah
berusaha keras", aku menanggapi setiap laporannya seperti itu.
Sepertinya berkat
bantuan Shii, Miori sudah mulai bisa mengoper dengan lancar. Dan akhirnya,
besok adalah pertandingan persahabatan.
Pesan RINE yang
kuterima dari Miori hanya berisi satu kalimat: "Sepertinya baik-baik saja.
Aku akan berusaha."
Syukurlah.
Saat aku sedang
memikirkan hal itu sambil melihat pesan dari Miori, bel pintu depan berbunyi.
Ini sudah jam
sebelas malam, lho. Siapa orang yang bertamu selarut ini…… pikirku sambil tetap
tidak bergerak dari tempat tidur.
"Namika-?"
Saat aku
memanggil nama adikku, pintu kamar sebelah terbuka dengan suara nyaring.
"Keluar saja
sendiri……"
Sambil mengomel
seperti itu, terdengar langkah kaki yang menuju ke pintu depan dengan patuh.
Hari ini pun adikku adalah gadis yang hebat. Omong-omong, Ibu sudah tidur, dan
Ayah sedang ditugaskan di Tokyo, jadi dia tidak ada di rumah.
Kalau
dipikir-pikir, karena sudah selarut ini, mungkin sebaiknya aku saja yang
keluar…… di saat aku baru saja beranjak dari tempat tidur, dari pintu depan
terdengar suara "Eh!?" dari Namika yang terdengar terkejut.
Saat aku
terburu-buru menuruni tangga menuju pintu depan, Namika tampak bersemangat
sambil menutup mulutnya. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya dia baik-baik
saja. Namika melambai padaku yang merasa lega.
"Ce-cepat
kemari! Ini Miori-senpai!"
……Eh, Miori?
Kenapa?
Saat aku
menghampiri dengan perasaan bingung, benar saja, Miori sedang berdiri di sana
dengan pakaian kasual.
"……Ada apa,
tiba-tiba begini?"
"……Sudahlah,
ayo bicara di luar sebentar?"
Miori berkata
begitu dengan wajah yang tampak malu, lalu segera keluar rumah.
"Hei, hei!
Memangnya kalian ada hubungan apa!? Waktu SD memang akrab, tapi waktu SMP
kalian sudah tidak pernah bicara lagi, kan!? Lagipula, tidak seperti Miori-senpai, Kakak
kan penyendiri!"
"Berisik.
Jangan melukai orang dengan fakta."
Setelah
menenangkan Namika yang tampak bersemangat, aku pun keluar rumah. Sekitar rumahku adalah kawasan perumahan.
Karena sudah selarut ini, tidak ada orang dan suasananya sepi.
"……Datang
sendirian ke rumahku pada jam seperti ini, berbahaya tahu."
Ini sudah jauh
lebih larut dari waktu biasanya dia pulang latihan klub. Meskipun dia ikut
klub, ini sudah jam yang seharusnya dikhawatirkan oleh orang tua Miori.
"……Maaf."
"Aku
akan mengantarmu pulang. Sambil
jalan, kalau ada sesuatu, bicarakanlah."
Aku
berkata begitu dan mulai berjalan. Miori mengikutiku dengan patuh di sampingku. Tapi, dia tidak bicara sepatah
kata pun.
"……Miori?"
Bukankah ada
sesuatu yang ingin dibicarakan? Saat kutanya, Miori menggelengkan kepala.
"……Maaf.
Tidak ada apa-apa, kok. Hanya, aku ingin melihat wajahmu."
Miori
mengucapkannya dengan nada yang lebih muram dari biasanya.
Eh, begitu ya…… tidak ada apa-apa…… dia hanya ingin melihat
wajahku……
"……Eh? Apa
kamu menyukaiku?"
"Belakangan
ini kamu terlalu percaya diri, ya? Mana mungkin, dasar bodoh."
"Padahal
tadi kamu sendiri yang bilang aku harus percaya diri……"
Saat aku sedang
merasa kecewa, Miori tersenyum tipis.
"Lagipula,
kalau mau memanggil, kenapa harus dari pintu depan? Telepon saja kan bisa."
"Memang
benar. Kenapa ya tidak
melakukan itu?"
Miori
mengetuk kepalanya sendiri dengan gaya yang menggemaskan.
"Fufu,
hubungan kita ketahuan oleh Namika-chan, ya."
"Meskipun
hubungan kita tidak sampai ketahuan pun, kalau dicurigai orang lain itu
merepotkan, kan?"
Mengabaikan
jawabanku, Miori mengganti topik pembicaraan dengan santai.
"Namika-chan,
setelah lama tidak melihatnya ternyata jadi makin imut, ya. Apa dia sudah punya
pacar?"
"Belum punya
lah. Dia masih kelas dua SMP, tahu."
"……Bagaimana
ya?"
"……Hei,
hentikan. Jangan membuatku cemas."
Miori melihatku
dan menggoda, "Ternyata kamu siscon, ya. Lucu."
Tentu saja, itu
hanya godaan dan candaan. ……Hanya candaan, kan? Adikku tidak punya pacar. Masih
terlalu dini.
Saat aku sedang
memikirkan hal itu, Miori mengajukan permohonan padaku dengan lembut.
"……Hei,
tolong. Sebentar saja tidak apa-apa. Pertandingan persahabatan besok, bisa
tidak kamu datang?"
Suaranya
terdengar sedikit bergetar. Aku mendengar kalau dia sudah mulai bisa mengoper
dan kembali ke performa terbaiknya. Tapi sepertinya, saat menghadapi
pertandingan yang sebenarnya, dia tetap merasa cemas.
Karena itulah dia
datang ke sini meskipun sempat ragu. Mempercayai kata-kataku untuk
mengandalkannya.
"――Ya,
aku mengerti. Aku akan datang untuk mendukungmu."
Jika aku
bisa menjadi penyangga bagi Miori hanya dengan berada di sana, itu sudah cukup.
Mungkin
perasaanku tersampaikan padanya, Miori menyipitkan sudut matanya dengan tenang.
Sabtu.
Rencanaku adalah
pergi bekerja paruh waktu setelah siang nanti. Dengan alasan itu, aku
menyempatkan diri untuk mampir ke sekolah.
Hari ini ada
pertandingan persahabatan tim basket putri. Lawannya adalah SMA Sorakure,
sekolah yang cukup kuat. Mungkin karena ini hari libur, tampak beberapa orang
tua dan siswa yang merupakan teman para pemain datang menonton.
Dengan suasana
seperti ini, tidak akan ada yang curiga meski aku menonton secara diam-diam.
Saat aku naik ke
lantai dua, pemanasan baru saja selesai dan pertandingan sepertinya akan segera
dimulai. Setelah melakukan circle, lima pemain inti masuk ke lapangan.
Tentu saja, ada
sosok Miori di sana. Jika diperhatikan dengan saksama, Wakamura juga ada.
Sepertinya dia berhasil merebut kembali posisi pemain inti.
"……Hm?"
Miori yang tampak
sibuk menoleh ke sana kemari tiba-tiba bertatapan denganku.
Sepertinya
dia sedang mencariku dan akhirnya menyadarinya. Miori menjulurkan lidahnya ke arahku seolah
menantang. Apa-apaan anak itu? Padahal aku datang demi dirinya.
Setidaknya, aku
lega karena dia tidak terlihat tegang secara aneh.
Saat aku melirik
ke arah bangku cadangan, Shii melambaikan tangan dengan sopan agar tidak
disadari orang lain. Tak lama, Shii mengubah tangannya menjadi tanda OK.
Artinya dia
baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan, bukan?
Kalau
begitu, aku bisa menonton dengan tenang.
――Bola
dilemparkan ke udara, pertandingan pun dimulai.
Mereka berhasil
memenangkan jump ball dan memulai serangan. Miori menerima operan di
dekat garis three-point sebelah kanan, lalu melakukan drive ke
arah garis gawang. Saat pemain center lawan masuk untuk cover,
dia memberikan no-look pass.
Operan itu berhasil. Pemain center tim yang menerima
bola dalam posisi bebas segera melakukan goal-under shoot. Terdengar
suara terkejut dari bangku cadangan kedua tim, "Oh..."
Mungkin pihak lawan terkejut dengan teknik Miori, sedangkan
tim Suzunari terkejut karena Miori yang biasanya jarang mengoper, kini
melakukannya. Bahkan gadis
yang menerima operan itu tampak sedikit bingung.
"Miori……"
"Aku
akan memberikan operan."
Miori
berkata singkat sambil kembali ke posisi bertahan.
Kali ini
giliran lawan yang menyerang. Saat serangan mereka terhenti karena menghadapi zone
defense yang rapat dari Suzunari, Miori yang memiliki kecepatan tinggi
keluar dan memotong operan lawan. Dia menangkap bola yang menggelinding, lalu
segera melakukan serangan balik.
Namun lawan adalah tim yang kuat. Karena lawan kembali
dengan kecepatan penuh, Miori dihadang di depan gawang—tapi, dia melakukan shoot
fake dan memberikan operan dengan satu pantulan ke sisi seberang.
Pemain yang berlari menyambutnya adalah Wakamura. Wakamura
yang menerima operan ciamik dari Miori dengan mudah mencetak poin lewat layup.
……Ya, dia bisa memberikan operan. Tidak ada masalah.
Bahkan, itu adalah operan yang sempurna.
"Operan yang bagus."
Wakamura menyodorkan tangannya ke arah Miori. Miori yang
sempat tersentak perlahan menyambut tangan itu, dan mereka pun melakukan high-five.
"――Kita akan memenangkan pertandingan ini."
Tidak ada komunikasi lebih lanjut setelah itu.
Namun, Miori menatap tangan yang baru saja ditampar itu
selama beberapa saat, lalu mengangguk mantap sambil berkata, "Ya!"
Sejak saat itu,
pertarungan sengit saling balas poin terjadi.
"――Tenang,
mari kita ambil satu poin ini."
Mungkin karena
sudah lega setelah kejadian tadi, Miori kini yang memberikan instruksi.
Para senior
tampak memasang wajah rumit, tetapi karena Wakamura sendiri mendukung Miori
tanpa mengeluh, tidak ada keributan yang terjadi. ……Meskipun awalnya canggung,
seiring berjalannya pertandingan, kerja sama mereka perlahan mulai padu. Kerja
sama tim mulai terbentuk dengan Miori sebagai pusatnya.
"Bagus,
Miori."
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa, berikutnya kita cetak poin!"
Permainan
sungguh-sungguh yang dilakukan, mulai menyatukan hubungan mereka satu sama
lain.
Meskipun banyak
kesalahpahaman yang terjadi, bola basket berhasil menghubungkan hati mereka.
"Senior Wakamura!"
Wakamura memberikan operan sempurna dalam permainan pick
& roll Miori.
Bola
dengan mudah masuk ke dalam jaring gawang, dan kali ini Miori yang menyodorkan
tangan.
"Bagus!"
Wakamura
menepuk tangan itu dengan senyuman yang tulus.
――Tepat
pada saat itu, peluit tanda pertandingan berakhir berbunyi.
Skornya
adalah 73 lawan 71. Setelah
melalui pertarungan sengit, Suzunari keluar sebagai pemenang. Miori mengangkat tangannya
tinggi-tinggi ke arah tempat duduk penonton tempatku berada.
"Permainan
yang bagus."
Saat aku
mengatakannya, Miori menampilkan senyum yang sangat puas.
……Melihat keadaan
ini, kurasa sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi.
Nah, sekarang
waktunya pergi bekerja paruh waktu.
Tidak ada gunanya
aku berlama-lama di sini. Lebih dari itu, aku malah bisa dicurigai sebagai
orang asing yang mencurigakan.
Aku keluar dari
gimnasium dan berjalan ke arah gerbang sekolah. Namun, di sekeliling gimnasium,
aku tidak sengaja melihat pemandangan Miori dan Shii sedang berhadapan dengan
Wakamura dan kawan-kawan.
Aku
buru-buru bersembunyi di balik bayang-bayang benda di dekat situ. Sepertinya
aku hampir tidak disadari.
"……Aku
sudah dengar dari Reita-kun. Kamu benar-benar cuma dipaksa oleh Hito,
kan?"
Jadi,
Hito adalah nama pacar Wakamura. Miori mengangguk dengan perasaan canggung.
Ngomong-ngomong, ternyata Reita juga sudah bergerak. Benar-benar bisa diandalkan.
"Maaf ya,
karena tidak mempercayaimu, Miori."
Wakamura
menundukkan kepalanya.
Melihat sikap
itu, Miori tampak panik dengan cara yang jarang terlihat.
"Ti-tidak…… itu karena aku kesal dan sempat bertanya
'memangnya apa salahnya', jadi!"
"……Fufufu,
yah, memang benar juga sih."
Shii
keceplosan bicara dengan nada yang terkesan santai, membuat Miori terkejut,
"Shii!?"
Tidak,
rasanya lucu melihat Shii ada di posisi itu tapi malah tidak memihak Miori.
Wakamura kemudian
melemaskan raut wajahnya dan menyatakan sesuatu.
"Aku sudah
putus dengannya. Kali ini aku pasti akan menemukan kekasih yang luar
biasa."
Mendengar
Wakamura yang mengatakannya sambil menatap langit, para senior di sekitarnya
saling bertukar pandang dengan cemas. Tampaknya selera pria Wakamura yang buruk
memang sudah diketahui oleh banyak orang.
"Kalau begitu, kali ini…… bolehkah aku menceritakan
kejadian sebenarnya?"
Kepada Miori yang suaranya gemetar, Wakamura dan yang
lainnya mengangguk dengan lembut, "Ya, kami akan mendengarkan."
――Kemudian, Miori
mulai menceritakan kronologi kejadiannya perlahan-lahan.
Sama persis
seperti saat dia menceritakannya kepada kami. Wakamura dan yang lainnya
mendengarkan tanpa menyela.
Setelah Miori
selesai bercerita, orang pertama yang membuka mulut adalah gadis di sebelah
Wakamura.
"……Maaf ya.
Ternyata kami mengupingmu."
Dia juga ada di
sebelah Wakamura saat kami mencegatnya di koridor. Aku ingat dia dipanggil
Mana.
Apakah dia
meminta maaf tentang ejekan yang menjadi awal mula Miori tidak bisa mengoper?
Sepertinya yang
ada di sana saat itu hanyalah Mana dan beberapa murid kelas dua lainnya.
Wakamura tidak ada di sana.
"Tidak perlu
minta maaf. Memang benar aku sedang merasa sangat senang saat itu—"
"――Bukan
begitu. Bukan itu alasannya. Wajar saja kalau kamu senang, Miori. Kamu kan
akhirnya terpilih jadi pemain inti, pasti bahagia sekali. Jadi, kamilah yang
salah."
Gadis itu
berbicara dengan nada sulit, sambil menundukkan wajahnya, namun kata-katanya
terdengar sangat jelas.
"Kami hanya
merasa iri padamu, Miori. ……Kami merasa frustrasi karena dikalahkan secara
telak oleh murid kelas satu yang baru muncul, jadi kami hanya melampiaskannya
dengan kata-kata yang tidak masuk akal. Jadi—maafkan kami."
Menyusul Mana,
beberapa murid kelas dua lainnya juga menundukkan kepala. Saat Miori berusaha
membuat mereka mengangkat kepala dengan panik, Wakamura tertawa kecil.
"Lagipula,
menyebutnya 'murid kelas satu yang baru muncul'…… itu pilihan kata yang terlalu
buruk."
Mana menunjukkan
reaksi seolah terluka, "Ugh."
"Ya, yah,
kenyataannya memang baru dua bulan masuk klub……"
Miori tersenyum
kecut.
Dalam suasana
seperti itu, Shii tertawa lepas, "Ahahaha!"
Dia tertawa
sampai memegangi perutnya, terlihat sangat bahagia. Melihat Shii seperti itu,
Miori dan para senior juga perlahan melemaskan raut wajah mereka. Seolah merasa
tidak punya pilihan lain, mereka saling berpandangan sambil mengangkat bahu.
Melihat
pemandangan itu, aku pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa disadari.
Aku menatap
langit. Langit yang kemarin masih mendung, kini membentang luas dengan warna
biru.
Prakiraan cuaca
pagi tadi sudah menyatakan bahwa musim hujan telah usai. Matahari bersinar
terik menyinari kami. Musim panas sedang memanggil kami.
Pasti, hujan
tidak akan turun untuk sementara waktu.



Post a Comment