Prolog
Malam disaat Bulan
Purnama Terlihat
Para remaja itu duduk di atas pemecah ombak.
Di depan pandangan mereka, terhampar laut yang tertutup
kegelapan malam.
Pantai yang pada siang hari ramai oleh banyak orang, kini
tak ada seorang pun di sana.
Dunia diselimuti oleh keheningan, dan satu-satunya suara
yang terdengar hanyalah deburan ombak kecil.
Di balik cakrawala, di langit malam tanpa awan, bulan
purnama sedang mengapung.
Cahaya bulan yang
pucat menyinari laut malam.
Jalan dari cahaya
putih tercipta hingga ke pesisir pantai, sebuah pemandangan yang begitu
fantastis.
Angin laut yang
hangat berhembus kencang, dan rambut panjang gadis yang duduk di sebelah少年 membelai pipinya.
Tiba-tiba, saat
dia menoleh ke arah gadis itu, mata yang jernih seperti permata memantulkan
wajahnya.
"Ternyata
tidak terduga sejuk, ya."
"Matahari
pun sudah tidak ada, dan ada angin yang berhembus."
"Karena ini
angin laut, mungkin bakal terasa lengket kalau terlalu lama terkena."
Gadis itu berkata
demikian, lalu terkikik geli.
"Hei, aku…… apakah aku bisa menjadi kekuatan
untukmu?"
Saat pemuda itu bertanya, gadis itu mengangguk sambil
tersenyum.
"Tentu saja.
Kalau tidak ada dirimu, aku tidak akan bisa melakukan apa pun."
"Kalau
begitu, syukurlah."
"……Hei."
Kepada pemuda
yang merasa lega, gadis itu berbisik dengan suara yang terdengar jernih.
"Bulannya,
indah ya."
Pemuda itu
mengerti apa arti dari kata-kata tersebut.
Sambil menatap
gadis yang sedang mendongak memandangi bulan purnama, pemuda itu menarik napas
dalam-dalam.
Lalu, dia memutar
otaknya yang tidak seberapa itu sekuat tenaga, mencoba memeras ekspresi yang
kira-kira akan disukai oleh sang gadis.
"……Mungkin
itu karena aku melihatnya bersama denganmu."
Mendengar
kata-kata pemuda itu, gadis itu tersenyum.
――Seperti sekuntum bunga yang sedang mekar.



Post a Comment