Chapter 1
Menuju Musim Panas Terbaik
"Panas
banget……"
Hawa
panas yang menyesakkan dada menyerang kami saat dalam perjalanan pulang
sekolah.
Pertengahan
Juli. Musim panas sedang mencapai puncaknya. Dengan suhu udara yang menembus
tiga puluh dua derajat celsius, rasanya tubuh ini seolah terbakar.
Padahal hanya
berjalan kaki, tapi stamina terkuras dengan kecepatan yang mengerikan.
"Musim
panas yang terburuk ya……"
Nanase
yang berjalan di sampingku bergumam dengan wajah yang tampak hampir mati.
Yah, dengan panas seperti ini…… Menurut Badan Meteorologi,
katanya musim panas tahun ini akan lebih terik dari tahun-tahun sebelumnya.
Terutama Gunma, karena topografinya yang dikelilingi pegunungan, katanya suhu
jadi lebih mudah naik karena fenomena Foehn atau apalah itu.
"……Nanase,
apa kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat, lho."
"……Boleh aku
istirahat sebentar?"
Nanase menunjuk
mesin penjual otomatis di pinggir jalan, jadi aku mengangguk, "Tentu
saja."
Aku membeli es
kopi, sementara Nanase—karena sepertinya dia haus sekali—membeli minuman
isotonik.
Setelah meneguk
minuman isotoniknya sampai habis, Nanase mengembuskan napas panjang.
"Rasanya
hidup kembali……"
"Kamu
benar-benar tidak apa-apa? Jangan-jangan kamu kena heatstroke?"
"Tidak
sampai separah itu, kok. Meski tadi sempat agak dehidrasi."
Tempat ini adalah
area istirahat kecil di tengah jalan sepanjang sungai yang menghubungkan
sekolah dengan stasiun.
Ada tiga mesin
penjual otomatis dan dua bangku. Tempat ini pas sekali tertutup bayangan pohon,
jadi terasa sedikit lebih sejuk daripada tadi. Biasanya tempat ini jadi tempat
nongkrong murid-murid, tapi untungnya hari ini tidak ada siapa-siapa.
"Apa kamu
bisa kerja paruh waktu? Jangan memaksakan diri, ya."
"Yah…… maaf
ya, aku kurang tidur karena terus belajar untuk ujian akhir."
Suara Nanase
terdengar agak lelah, mungkin kondisinya memang sedang tidak bagus.
"Aku rasa
kalau istirahat sebentar, aku akan pulih."
Mendengar
kata-katanya, rasa khawatirku tidak kunjung hilang.
Nanase
bukan tipe orang yang fisiknya kuat. Dia sudah beberapa kali absen karena masuk angin.
"……Kamu itu
orang yang pencemas ya, Haibara-kun."
Nanase tertawa kecil seolah dia baru saja melepas penatnya.
……Hah? Senyum apa
itu??? Padahal manisnya kebangetan, kan?
Hari ini pun
Nanase-ku tetap oshi-able (bisa diidolakan).
"Haibara-kun,
bagaimana hasil ujian akhirmu?"
Nanase, yang
tidak tahu kalau aku sedang dalam mode otaku garis keras, menanyakan hal
itu padaku.
Apakah ini
sekadar obrolan ringan untuk menghabiskan waktu istirahat? Wajahnya juga sudah
terlihat lebih segar, sepertinya dia memang sudah tidak apa-apa.
"Hmm, yah,
lumayanlah."
Terlepas dari
itu, ujian akhir sudah selesai minggu lalu.
Sekarang sudah
tahap pembagian hasil ujian, tapi peringkat dan hasilnya belum diumumkan secara
resmi.
Mungkin dua atau
tiga hari lagi semua hasilnya baru akan diketahui.
"……Apa itu
tadi? Kerendahan hati yang berlebihan akan membuat orang kesal, tahu. Terutama
aku."
"Nanase, ya?
Lagipula, itu kan cuma kesan jujurku."
Aku
mengangkat bahu sambil tersenyum pahit pada Nanase yang merengut kesal.
"Kalau
harus disebut, nilai bahasa Inggrisku agak rendah sih."
"……Memangnya
berapa nilaimu? Kalau tidak mau bilang juga tidak apa-apa, sih."
Meskipun dia
mencoba menjaga privasiku, sikapnya menunjukkan kalau dia penasaran.
Yah, aku bukan
tipe orang yang menyembunyikan nilai ujian, jadi aku putuskan untuk menjawab
dengan jujur.
"Delapan
puluh sembilan."
"……Kalau
segitu dibilang rendah, nilaiku malah lebih rendah dari itu, tahu?"
Nanase menatapku
dengan suhu yang semakin dingin. Ekspresi cemberutnya itu manis sekali.
Aku membalasnya
dengan senyum canggung, tak tahu harus merespons bagaimana.
Di saat seperti
ini, jawaban apa yang benar, ya?
Belakangan ini
aku sering dipuji, dan itu jadi masalah tersendiri bagiku. Tapi untuk saat ini,
aku mencoba bertanya dengan aman.
"Apa Nanase
tidak jago bahasa Inggris?"
"Kalau
disuruh memilih, aku jago, kok."
Aku gagal dalam
percakapan ini. Apa gunanya mencoba aman tadi?
Untuk mencairkan
suasana hatinya yang berpaling dariku, aku mengeluarkan camilan dari tas
ransel.
"Jangan
cemberut begitu. Nih, buat kamu."
Saat aku
menyodorkan biskuit yang kubeli di minimarket, Nanase berkata dengan nada
jengkel.
"……Aku tidak
cemberut, tahu. Aku bukan anak SD, jadi jangan pikir aku akan luluh cuma karena
makanan manis."
Meski
berkata begitu, Nanase tetap mengambil biskuit itu dari tanganku dan
memakannya.
Melihatnya makan
sedikit demi sedikit dengan mulut mungilnya, dia jadi terlihat seperti tupai.
Haaah, hari ini
pun Nanase tetap oshi-able……
Nanase ini
kelihatannya saja begitu, sebenarnya dia sangat suka camilan. Sering dia
memakannya saat istirahat kerja paruh waktu.
Menurut
pengamatanku, dia paling suka cokelat dan biskuit.
"Bagaimana
kalau aku jadi gemuk nanti? Mau tanggung jawab apa?"
Nanase hari ini
agak agresif, ya.
Karena dia
menatapku dengan tidak puas, aku menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Kalau itu
terjadi, aku akan menemani kamu diet. Tenang saja, kalau olahraga, pasti bakal
kurus lagi!"
"Entah
kenapa, kata-katamu terdengar sangat meyakinkan……"
Tentu saja,
karena itu berdasarkan pengalamanku. Kalau berolahraga secara konsisten setiap
hari, pasti ada hasilnya. Tapi sebaiknya jangan membuat jadwal diet gila-gilaan
seperti aku. Bisa-bisa malah hampir mati.
"Lagipula,
Nanase itu bukannya terlalu kurus? Tidak apa-apa kok kalau agak gemukan
sedikit."
Saat aku
mengatakannya dengan enteng, Nanase bergumam dengan wajah yang tampak rumit.
"……Lemaknya
nanti menumpuk di tempat yang tidak kelihatan."
Begitu, ya.
Tiba-tiba,
tatapanku tertuju ke bagian dada Nanase. Bukan karena maksud yang aneh, sih.
"……Haibara-kun?"
Setelah ditegur,
aku mendongak dan mata kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
Karena kami duduk
bersebelahan di bangku, jarak kami otomatis jadi dekat saat saling menatap
wajah satu sama lain.
Entah perasaanku
saja atau bukan, wajah Nanase sedikit memerah.
"O-oke. Ayo
kita pergi. Sudah waktunya masuk kerja!"
"……"
Nanase menatapku
dengan pandangan tidak puas saat aku berdiri sambil mengalihkan pembicaraan
dengan jelas, tapi tak lama kemudian dia menghela napas dan berdiri. Dia
berjalan cepat di sampingku yang melarikan diri.
"Ngomong-ngomong,
sudah lama ya kita tidak kerja paruh waktu."
"Nanase baru
seminggu sekali, ya? Kalau aku sih masih sering masuk shift."
Saat musim ujian,
pemilik kafe kesulitan karena kekurangan pekerja paruh waktu siswa, jadi
aku—yang berkat keuntungan hidup kedua kali ini tidak perlu belajar terlalu
keras—memutuskan untuk masuk shift.
Walaupun begitu,
tentu saja aku sudah meminta dikurangi dari biasanya.
Berkat itu,
sepertinya aku bisa meraih peringkat satu angkatan lagi.
"Harusnya
belajar dengan benar saat masa ujian, nanti dimarahi orang tua, lho."
"Ah, iya
juga ya."
Aku mengangguk
setuju pada Nanase yang mengeluh seperti itu.
Dulu,
ibuku juga sering berteriak-teriak, "Belajar sana!"
Aku yang
sibuk membaca manga, novel ringan, dan bermain gim, selalu mengabaikan itu
sepenuhnya.
Tapi di
kehidupan kedua ini, mungkin berkat efek peringkat satu angkatan saat ujian
tengah semester, mereka tidak banyak komentar lagi.
"Apa
orang tuaku tidak akan bilang apa-apa kalau aku juga dapat peringkat satu
angkatan?"
"Entahlah.
Tapi, tak disangka ya. Ternyata Nanase bisa dimarahi orang tua juga."
Padahal terlihat
seperti tipe orang yang pasti belajar dengan rajin tanpa perlu disuruh orang
tua.
"……Kalau aku
main gim saat masa ujian, orang tuaku akan menyitanya."
Nanase bergumam dengan wajah malu.
Nanase ternyata main gim……
"Mereka selalu cerewet. Katanya main gim cuma boleh
satu jam sehari."
……Entah kenapa,
rasanya seperti mereka memperlakukanmu seperti anak SD.
Kalau aku katakan
itu, dia pasti akan marah lagi, jadi aku melanjutkan pembicaraan dengan aman.
"Nanase suka main gim apa?"
"Pada dasarnya sih, gim musik. Tapi aku juga suka
RPG."
Nanase
menyebutkan beberapa judul gim musik terkenal yang aku pun tahu.
Katanya dia
sering memainkannya saat di rumah atau di kereta saat berangkat sekolah.
"Bagaimana
dengan Haibara-kun? Sebagai orang yang jago nyanyi, kelihatannya kamu juga ahli
main gim."
"Aku belum pernah main, sih. Padahal sebenarnya aku
lumayan suka gim."
Sebagai otaku yang suka cerita, dulu saat SMP dan SMA
aku cuma main RPG.
Saat kuliah, aku sempat kecanduan FPS, tapi aku tidak pernah
menyentuh gim musik.
"Tapi kalau soal ritme, aku punya kepercayaan
diri."
"Coba main
sebentar, yuk. Nanti setelah selesai kerja, aku ajarkan."
Kalau Nanase yang
meminta, tidak ada alasan untuk menolak.
Saat aku
mengangguk, Nanase tersenyum bahagia.
"Fufu,
tidak sabar ya."
Sambil
mengobrol santai seperti itu, kami melangkah menuju kafe Males, tempat
kerja paruh waktu kami.
Deretan
pohon sakura yang saat musim semi dihiasi kelopak bunga yang menari, kini sudah
sepenuhnya tertutup dedaunan hijau.
Musim terus
berganti.
Di kehidupan SMA
yang kedua ini, sama seperti kehidupan pertama.
Musim semi
berlalu, melewati musim hujan, dan kini musim panas berada di puncaknya.
Suara tonggeret
menjadi musik latar, dan matahari yang bersinar terang menyinari kami.
Aku menyeka
keringat yang menetes di leherku dengan handuk.
――Ujian akhir
telah usai, dan liburan musim panas tinggal satu minggu lagi.
*
"Nah, untuk
merayakan keberhasilan kita melewati batas nilai minimal, mari bersulang!"
Uta mengangkat
gelasnya yang berisi penuh cola dengan wajah gembira.
Saat itu sekitar
pukul delapan malam di kafe Males.
Yang datang
mengunjungi aku dan Nanase yang sedang bekerja adalah Uta, Reita, dan Tatsuya
yang baru selesai kegiatan klub.
Karena hasil
ujian kami bagus, kami mengadakan pesta perayaan.
"Bukan,
merayakan nilai minimal itu…… bukannya lebih baik sekalian pesta perayaan
selesai ujian?"
Reita
tersenyum pahit sambil mengangkat bahu.
"Merayakan
nilai minimal itu bukan hal yang harus dirayakan, kan?"
Nanase
juga tertawa kecil sambil menggoda Uta.
"Bi-bising!
Bagi kami, ini masalah hidup dan mati! Kan!? Tatsu!"
Uta
membantah sambil menggembungkan pipinya, lalu mengguncang bahu Tatsuya yang
duduk di sampingnya.
"Yang
bising itu kamu. Lagipula, jangan samakan aku. Kali ini nilaiku tidak seburuk
kamu."
Tatsuya
menjawab dengan malas meski tubuhnya diguncang-guncang oleh Uta.
Benar, nilai
Tatsuya kali ini tidak buruk. Mungkin rata-ratanya sekitar lima puluh poin.
Dibandingkan sebelumnya, itu kemajuan yang luar biasa. Tidak bisa dibandingkan
dengan Uta yang hampir semua mata pelajarannya nyaris tidak lulus.
"Muu…… itu sih memang benar, ya. Kamu mengkhianatiku,
ya."
"Kamunya saja yang tidak berkembang. Aku belajar pentingnya belajar tekun."
"Tatsu
bicara hal yang tidak seperti biasanya!? Tunggu!? Ada apa denganmu!?"
Tatsuya
memamerkan wajah sombong secara samar menanggapi Uta yang panik.
"Yah,
belajar tekun tapi hasilnya cuma segitu juga, entahlah ya."
Lalu,
menerima cibiran simpel dari Reita, Tatsuya langsung memegangi kepalanya.
"……Pisau
kata-katamu itu, bukannya terlalu tajam?"
"Maaf,
maaf. Soalnya kamu sombong sekali, jadi aku kesal."
Reita
mengatakannya sambil tersenyum ramah seperti biasanya.
Ano, Reita-san?
Sedikit menakutkan, lho?
Tatsuya yang
memegangi kepalanya jadi terlihat kasihan, jadi aku menaruh tanganku di
bahunya.
"Jangan
terlalu sedih. Bukannya nilaimu naik jauh dibanding sebelumnya?"
"Aku tidak
mau disemangati olehmu. Kamu kan pasti peringkat satu angkatan."
Tatsuya menatapku
tajam dan menepis tanganku dari bahunya. Geh, tidak mengerti deh.
"Seperti
kata Natsuki. Kali ini Tatsuya sudah berusaha, kok."
Reita
mengatakannya seolah meralat kata-katanya tadi.
Tatsuya membalas
dengan wajah masam, "……Begitu ya," tapi dia tampak sedikit senang.
Padahal Reita
sendiri yang membuat Tatsuya sedih, dia langsung membalikkan kata-katanya
dengan santai dan menyemangatinya.
Itu
teknik yang sering dilakukan Reita. Entah kenapa, aku jadi paham kenapa dia sangat populer di kalangan
perempuan.
"Bagaimana
dengan Shiratori-kun sendiri?"
"Seperti
biasa. Mungkin lebih rendah dari Nanase-san."
Reita
mengeluarkan clear file dari tasnya.
Isinya adalah
tumpukan kertas ujian yang sudah dikembalikan.
Aku menghitung
nilainya sekilas, sepertinya rata-ratanya sekitar delapan puluh poin.
"Fufu, aku
menang dari Shiratori-kun. Senang deh."
Nanase menarik
ujung bajuku dan menunjukkan senyumannya.
Eh, gerakan apa
itu? Kenapa dia menunjukkan rasa senangnya padaku?
……Tidak, bukannya
itu terlalu manis???
Nanase harus
sedikit sadar betapa cantiknya wajahnya sendiri.
Dia sering bilang
suka gadis yang wajahnya cantik, padahal dia sendiri pun salah satunya, tahu!
"Iya, iya,
baguslah."
Saat aku menjawab
begitu dengan perasaan hangat, Nanase mengerutkan alisnya.
"Tidak
bagus. Aku kalah dari Haibara-kun."
Tidak,
respons seperti apa yang benar dalam situasi ini?
Nanase
yang tampak agak cemberut tertawa kecil.
"Maaf
ya. Belakangan ini, menjahili
Haibara-kun itu menyenangkan."
"……Iya, iya,
terserah saja."
Terserah kamu
saja deh. Aku sih tidak masalah selama Nanase terlihat senang.
Setelah itu, kami
melanjutkan obrolan santai tentang ujian.
Matematika yang
sulit, sejarah dunia yang anehnya gampang, cara mengerjakan soal fisika yang
tidak dimengerti, guru bahasa Inggris yang sifatnya kelewat jahat; topik
pembicaraan kami tidak ada habisnya.
Walaupun begitu,
aku dan Nanase masih dalam jam kerja.
Meski pelanggan
di jam segini sedikit, kalau terlalu lama bolos, kami akan dimarahi manajer.
"Kalau
begitu, santai saja ya. Sebentar lagi aku selesai kerja."
"Oke! Lagipula kami juga sebentar lagi
pulang, kok!"
Setelah
mengobrol seperlunya, kami kembali ke pekerjaan.
Belakangan
ini, trio itu rutin mengunjungi kafe Males setelah kegiatan klub.
Biasanya
itu adalah hari di mana aku dan Nanase sama-sama masuk shift.
Di jam segini,
kami masih punya waktu luang untuk menemani mereka. Karena jam makan malam
sudah lewat dan pelanggan berkurang.
"……Ngomong-ngomong,
ke mana Hoshimiya? Apa jam malamnya masih ketat?"
Saat aku
bertanya begitu, Nanase yang sedang menyapu di dekatku langsung bereaksi.
"Orang tua
anak itu sangat kaku. Jadi mungkin tidak bisa di jam segini."
"……Begitu
ya."
Nanase
tampak akrab dengan orang tua Hoshimiya.
Sepertinya
mereka berteman sejak dulu saat SMP di sekolah yang sama, jadi wajar saja
mungkin.
Ada
keinginan untuk menanyakan tentang lingkungan keluarga Hoshimiya, tapi aku ragu
untuk menanyakan hal yang kurang sopan.
"Apa kamu
lebih suka kalau ada Hikari di sini?"
Aku mengangkat
bahu menanggapi pertanyaan Nanase yang bernada menggoda itu.
"Tidak, aku
cuma merasa lebih seru kalau semuanya kumpul."
Belakangan ini,
aku sudah tidak panik lagi menghadapi godaan Nanase atau Reita dan sudah bisa
menjawab dengan tenang.
Ini jauh berbeda
dengan aku yang dulu, yang selalu kikuk setiap kali diajak bicara. Bukankah ini
sebuah pertumbuhan?
Yah, sebenarnya
barusan aku cuma menjawab apa yang kurasakan saja sih.
……Walaupun di
sisi lain, aku memang ingin lebih sering bersama Hoshimiya.
"Begitu ya.
Hikari juga kelihatannya iri kalau tahu kita berkumpul di malam hari."
"Dia
sering banget berisik di RINE, katanya 'aku juga mau ikut'."
Saat aku
mengatakannya sambil mengingat chat grup beranggotakan enam orang ini,
Nanase menghentikan kegiatannya menyapu.
Lalu, dia
memandangi meja tempat Uta dan yang lainnya mengobrol, lalu bergumam pelan.
"……Sebenarnya
aku ingin melakukan sesuatu untuknya."
"……Membicarakan
Hoshimiya?"
Nanase mengangguk
mendengar pertanyaanku, lalu melanjutkan pembicaraannya.
"Yah, aku
mengerti kalau soal jam malam, tapi selain itu, sebenarnya gerak-gerik Hikari
sangat terkekang. Ayahnya terlalu ketat."
Itu adalah
kalimat keluhan yang jarang keluar dari mulut Nanase.
Nanase adalah
teman masa kecil Hoshimiya. Mungkin dia sudah sering dimintai konsultasi.
"……Entah
kenapa, aku merasa mungkin begitu."
"Ayahnya
sangat keras kepala. Dia tidak akan mau mendengarkan pendapat Hikari."
Nanase
mendesah sambil menatap ke luar jendela, mungkin sedang menggali ingatannya.
……Masalah
yang sulit. Aku tidak bisa mencampuri urusan keluarga orang lain.
Bukan berarti
bisa dikatakan salah hanya karena pola asuh pendidikannya ketat.
Kami yang hanya teman Hoshimiya, tidak bisa berbuat apa-apa.
……Lagipula, belum tentu Hoshimiya sendiri merasa ingin dibantu, jadi aku bahkan
tidak tahu apakah itu bisa disebut masalah atau bukan.
――Namun, ada satu
hal yang mengganjal pikiranku.
"Apa mungkin
Hoshimiya susah kalau diajak pergi liburan bersama-sama?"
Satu minggu lagi
liburan musim panas akan tiba. Liburan panjang yang ditunggu-tunggu.
Memang
belum diputuskan secara spesifik, tapi kami sudah bicara untuk pergi bermain
bersama.
Belakangan
ini kami hanya bicara soal ujian akhir, tapi sudah saatnya menyusun rencana
untuk liburan musim panas.
Bagaimanapun
juga, ini adalah salah satu acara masa muda yang penting bagiku.
Kalau sampai
Hoshimiya tidak bisa ikut, aku akan…… sangat sedih.
Hoshimiya sendiri
sempat bilang, "Aku ingin pergi ke laut."
"Hmm……
kurasa Hikari pasti ingin ikut, tapi aku tidak bisa bilang apa-apa. Kalau cuma
perjalanan singkat sehari mungkin bisa, tapi menurut ceritamu, Haibara-kun,
bukankah kalian berencana menginap?"
"Yah…… benar juga sih. Walaupun belum ada yang diputuskan secara
spesifik."
"Kalau
liburan menginap dengan laki-laki dan perempuan bercampur, mungkin agak sulit. Kalau bisa meyakinkan orang tuanya bahwa
aku juga ikut, mungkin bisa saja. Tapi tergantung bagaimana pandangan orang
tuanya nanti."
"Begitu
ya……"
Yah, Hoshimiya
kan gadis yang sangat manis.
Kemungkinan dia
diganggu laki-laki aneh juga tinggi, jadi wajar jika orang tuanya khawatir.
Bahkan untuk
membiarkannya berjalan sendiri di jalanan malam saja aku sudah cemas.
Orang tuaku juga
agak terlalu protektif pada adik perempuanku. Aku sendiri hampir tidak pernah
dikekang oleh orang tua, tapi masalah risiko laki-laki dan perempuan memang
berbeda.
"Pada
akhirnya, kita tidak akan tahu sebelum bertanya langsung pada orangnya.
Pertama, kita harus menyusun rencananya dulu."
Nanase
menyimpulkan pembicaraan. Benar juga, itu yang benar. Ini belum saatnya
dikhawatirkan. Lagipula, kalaupun Hoshimiya tidak bisa ikut…… itu sudah tidak
bisa dihindari.
……Padahal aku
ingin pergi bersamanya, tapi itu kan cuma keinginanku saja.
"Aku juga
akan memikirkan beberapa kandidat tempat."
Bahkan tanpa
memikirkan Hoshimiya pun, masih banyak masalah seperti biaya, waktu, tempat,
dan lain-lain.
Sebelum
berdiskusi dengan semuanya, aku memutuskan untuk meminta pendapat Miori
terlebih dahulu.
*
Setelah sampai di
rumah, aku mandi lalu masuk ke kamarku.
Makan malam sudah
kuselesaikan dengan jatah makan dari kafe Males.
Dalam kondisi
yang sudah siap tidur, aku mengirim chat ke Miori, 'Sekarang lagi apa?'.
Aku menunggu
beberapa menit, tapi pesannya belum dibaca.
Kupikir dia
sudah tidur……, saat aku
berpikir begitu, nada dering telepon berbunyi.
"Ooh,
ternyata masih bangun ya."
'Aku baru saja
selesai mandi. Ada perlu apa?'
"Aku ingin
konsultasi sedikit soal rencana liburan musim panas."
Belakangan
ini, aku sering menelepon Miori. Sebelumnya kami sering mengobrol di taman
dekat rumah, tapi sekarang sudah terlalu panas, dan katanya orang tua Miori
khawatir jika dia sering keluar rumah di malam hari.
'Aah, apa soal
ingin pergi ke gunung atau laut itu?'
"Iya, iya.
Rencananya sih sekarang arahnya ke liburan menginap di laut."
Hoshimiya sempat
bilang ingin ke laut, dan bagaimanapun juga, kalau bicara soal musim panas,
kesan pertama pasti adalah laut. Saat aku menanyakan pendapat semua orang pun,
lebih banyak yang memilih laut daripada gunung.
'……Memangnya
bukan cuma karena kamu ingin melihat pakaian renang Uta atau Hikari-chan saja?'
"Ti-tidak, mana mungkin…… ada hal seperti itu."
'Tadi jawabannya agak ragu, kan?'
"Bising
ah. Jangan sadari hal yang tidak perlu."
Kalau
ditanya apakah aku memikirkan hal itu bahkan sedetik saja, bohong kalau aku
bilang tidak. Tentu saja kalau ditanya ingin melihat atau tidak, jelas aku
ingin melihatnya. Selain itu, aku juga ingin melihat baju renang Nanase!
Apakah
dia bisa menembus pikiranku yang mesum, Miori tersenyum.
'Fuun. Ternyata
kamu juga laki-laki ya?'
"Eh,
berisik. Tentu saja yang utama adalah aku ingin bermain di laut."
'Ngomong-ngomong,
aku baru saja selesai mandi dan sekarang cuma pakai pakaian dalam saja. Agak
panas soalnya.'
"……Jangan
menambahkan informasi yang tidak perlu."
Jadinya aku
membayangkannya, tahu! Itu pasti tujuan Miori, sih.
Kalau saja aku
bisa menyatakan bahwa aku tidak akan memikirkan hal aneh dengan teman masa
kecil seperti Miori…… betapa senangnya aku.
Tapi Miori saat
ini terlalu cantik untuk tidak dianggap sebagai lawan jenis.
Tentu saja aku
tidak akan mengatakannya pada dirinya langsung. Pasti dia bakal jadi besar
kepala.
'Lagipula,
memangnya jadi menginap?'
Meski baru saja
membuatku bingung, Miori melanjutkan pembicaraan dengan tenang.
"Soalnya
kalau pergi ke laut dari Gunma, perjalanan saja sudah memakan waktu."
Aku rasa lebih
baik menginap satu malam kalau ingin menikmati sepenuhnya. Waktu tidak akan
cukup kalau pulang pergi dalam sehari.
'Aku rasa benar
juga sih, tapi pasti bakal butuh biaya lumayan, ya.'
"Aku dan
Nanase sih tidak masalah karena kerja paruh waktu, tapi masalahnya adalah
kelompok anak klub."
'Uta sepertinya
dapat uang saku lumayan dari membantu di kedai okonomiyaki orang tuanya.'
"Ooh, begitu
ya. Kalau begitu masalahnya…… mungkin Tatsuya."
Reita sempat
bilang dia rajin menabung, jadi sepertinya tidak masalah.
Tapi Tatsuya
selalu merintih karena tidak punya uang. Pasti gara-gara sering jajan di minimarket.
"Apa satu
malam masih bisa?"
Kalau menginap di
hotel murah, mungkin sekitar sepuluh ribu yen.
Lalu ongkos transportasi…… tidak, ini tergantung pergi ke
laut mana.
Ada juga biaya
bermain di tempat tujuan. Bahkan kalau ditaksir pun, minimal bakal butuh dua
puluh sampai tiga puluh ribu yen.
Umu, masalah uang
selalu bikin pusing.
Dulu saat
mahasiswa, pilihan hidupku cuma antara kerja paruh waktu atau kuliah, jadi
dompetku masih lumayan longgar, tapi sekarang tidak bisa dibilang punya banyak
uang. Toh, aku juga belum tiga bulan mulai kerja paruh waktu.
'Dua malam pasti
susah sih. Secara jadwal juga susah kalau harus kosong selama tiga hari.'
"Benar juga,
semuanya kan punya kegiatan klub."
Aku dan Nanase
tinggal mengatur shift kerja, tapi Uta, Reita, dan Tatsuya tidak bisa
libur dari kegiatan klub. Kegiatan klub Hoshimiya sepertinya sukarela selama
liburan panjang, jadi tidak perlu khawatir. Apapun itu, harus direncanakan saat
kegiatan klub semuanya libur.
'Yah, mungkin pas
libur Obon atau waktu luang lainnya ada kesempatan. Tim basket perempuan sih
jadwalnya seperti ini.'
Gambar dikirim ke
RINE oleh Miori.
Itu adalah
selebaran yang berisi jadwal liburan musim panas tim basket perempuan. Memang
ada hari libur rutinnya. Tapi jadwalnya sudah penuh dengan latihan dan
pertandingan.
'Daripada itu,
bukannya pertama-tama harus menentukan tempat? Yah, kurasa bisa diputuskan
sambil konsultasi dengan semuanya, tapi sebaiknya Natsuki mempersempit
pilihannya dulu, kan? Kamu kan yang paling santai.'
"Bising. Aku
ini punya kegiatan kerja paruh waktu dan push-up."
'Fuun, kamu masih
belum bolos latihan otot? Padahal menurutku sudah tidak perlu lagi.'
"Tidak, ini
bukan masalah perlu atau tidak. Latihan otot itu bagus, tahu. Latihan otot
menyelesaikan segalanya."
Kenapa sampai
sekarang aku tidak latihan otot? Aku tidak paham.
Kalau latihan
otot, duniamu akan berubah. Latihan otot adalah keadilan.
'Uwa,
menjijikkan……'
"Hei, jangan
katakan itu dengan suara yang benar-benar jijik."
Mental kacaku
nanti bisa hancur, tahu. Sebenarnya, buat aku yang tidak ikut klub, latihan
otot penting untuk menjaga bentuk tubuh, dan sekalian juga sebagai cara untuk
membunuh waktu.
'Ah, tapi kalau
mau main di laut kan bakal pakai baju renang, jadi otot itu penting ya. Soalnya
keren kalau bentuk tubuhnya atletis. Jangan-jangan, kamu sudah memikirkan
sampai ke sana?'
"……Aku tidak
terpikir sampai ke sana."
Benar juga, kalau
pakai baju renang berarti baju renangnya bakal dilihat orang.
Yah, tidak masalah sih kalau dilihat orang…… tapi apa perlu
aku perkuat otot perut sedikit lagi?
……Ya, sedikit
saja. Bukan berarti aku terlalu memikirkannya, kok.
'Yah, kalau
latihan otot itu hobimu, tidak perlu dipikirkan lagi sekarang.'
Miori
bergumam begitu sambil menguap karena mengantuk.
"Lagipula,
bukannya tadi pembicaraan soal tempat?"
'Hm, kalau
dipikir normalnya mungkin Niigata? Kalau sisi Samudra Pasifik mungkin Ibaraki.'
Benar juga. Kalau
dihitung dari jarak Gunma, pilihannya cuma dua itu.
'Nah, tempat
seperti ini bagaimana?'
Aku menekan URL
yang dikirimkan Miori, lalu sebuah situs yang memuat rekomendasi pantai di
Niigata muncul di layar. Sudah lama sekali aku tidak melihat foto laut, rasanya
indah sekali. Aku jadi sangat ingin pergi ke sana.
Kalau di Niigata,
ada beberapa pantai yang pernah kukunjungi saat masih kecil. Ingatanku
mengatakan semuanya indah dan nyaman. Mungkin tidak ada salahnya kembali ke
tempat itu.
Saat aku sibuk
mencari-cari pantai sambil mengobrol dengan Miori, tanpa kusadari jarum jam
sudah berada tepat di angka dua belas. Pembicaraan kami mencapai titik akhir,
dan Miori kembali menguap.
"Sudah
waktunya tidur, ya?"
"……Iya, ya.
Meski belum ada kesimpulan, kandidatnya sudah lumayan mengerucut, kan? Sisanya
tinggal diskusikan saja dengan yang lain. Aku penasaran, jadi nanti kalau sudah
diputuskan, kabari aku ya?"
Suara Miori yang
terdengar lembut sampai ke telingaku melalui telepon.
Entah mengapa,
nada suaranya terdengar sedikit kesepian, jadi aku tiba-tiba bertanya.
"……Apa
memang sesulit itu buat kamu untuk ikut pergi?"
Miori adalah tipe
gadis yang akan mengejar laki-laki yang dia sukai dengan agresif. Karena
perjalanan ini diikuti oleh Reita, kupikir Miori akan mengatakan ingin ikut,
tapi sejauh ini sepertinya dia tidak punya pikiran ke sana.
"Bagaimana
pun juga, sulit kan kalau aku ikut masuk ke dalam grup enam orang itu?"
"Tapi kalau
Miori, bukankah kamu sudah cukup akrab dengan kami semua?"
"Tetap
saja, aku kan beda kelas, dan grup yang biasa bersamaku juga berbeda. Pasti ada
atmosfer yang cuma dimiliki enam orang itu, kan? Aku tidak mau memaksakan diri
masuk ke sana lalu berakhir jadi canggung."
Pendapat
Miori begitu realistis sampai ke akar-akarnya.
Saat dia
menyodorkan argumen yang masuk akal itu, aku jadi kehilangan kata-kata.
Melihatku
yang terdiam, Miori tertawa kecil.
"Atau, apa,
nih? Apa kamu merasa gelisah kalau aku tidak ikut?"
"……Tidak,
aku cuma merasa pasti akan lebih menyenangkan kalau kamu juga ikut."
Ingatan masa
kecil melintas di pikiranku.
Saat aku bermain
bersama Miori, semuanya selalu menyenangkan.
Itu karena Miori
selalu memimpin kami.
Karena itulah,
aku tiba-tiba berpikir. Jika ditambah dengan Miori, seandainya Miori bisa ikut
bermain bersama keenam orang itu, kurasa itu akan sangat mendekati gambaran
masa muda ideal bagiku.
"……So,
begitu ya. Tapi itu kan cuma keinginanmu saja."
Apa yang
dikatakan Miori benar.
Belum tentu semua
orang berpikiran sama sepertiku.
Yah, setidaknya
Reita pasti akan sependapat denganku.
Lagipula, aku
baru saja mengetahui perasaannya.
……Tidak, aku
tidak menyangka kalau Reita sudah menaruh hati pada Miori.
Reita jarang
sekali membicarakan dirinya sendiri, jadi aku sama sekali tidak menyadarinya.
Waktu itu aku benar-benar terkejut.
Meskipun begitu,
tentu saja aku tidak bisa menyampaikan hal itu pada Miori.
Sebagai seseorang
yang mengetahui perasaan kedua belah pihak, menurutku akan lebih cepat kalau
mereka tahu, tapi itu bukan keputusan yang bisa kuambil. Aku yakin Reita
memberitahuku karena dia percaya padaku.
"Ba—baiklah,
aku mau tidur sekarang. Ya, selamat malam."
Saat aku sedang
tenggelam dalam samudra pikiran, Miori memecah keheningan dengan ucapan salam.
"Oh, iya. Sudah malam juga. Terima kasih sudah menemaniku mengobrol."
Begitu
aku menjawab, sambungan telepon langsung terputus.
Entah
kenapa nada suaranya terdengar cepat dan terburu-buru, apa terjadi sesuatu?
Aku sedikit
penasaran, tapi aku tidak bisa memastikannya lagi. Yah, lupakan saja.
Besok aku harus
sekolah, jadi sebaiknya aku tidur dengan tenang.
Aku sempat
bingung apakah harus tidur dengan AC menyala atau mematikannya. Kalau menyala
semalaman, biasanya tenggorokanku jadi tidak enak, tapi kalau dimatikan, aku
sering terbangun dengan tubuh bermandikan keringat. Karena keduanya punya
kekurangan, biasanya aku memutuskan berdasarkan suhu hari itu dan suasana
hatiku.
Hari ini, aku
menutup kelopak mata dengan AC tetap menyala.
Seketika itu
juga, kesadaranku jatuh tenggelam.
*
Keesokan harinya.
Dengan kondisi
tenggorokan yang sedikit sakit, aku pergi ke sekolah.
Aku
berganti kereta dari stasiun lokal dan turun di Stasiun Maebashi.
Saat aku
sedang berjalan melewati jalanan pepohonan menuju sekolah, bahuku ditepuk dari
belakang.
"Selamat
pagi! Natsuki-kun!"
Saat
menoleh, yang terlihat adalah senyum lebar seorang gadis cantik.
……Ugh,
dia makhluk tercantik di dunia, ya?
"Yo,
selamat pagi, Hoshimiya."
Hoshimiya
berjalan di sampingku dan mengatur napasnya yang agak terengah.
Tampaknya
dia melihatku yang berjalan di depan, lalu berlari mengejarku.
"Hari
ini panas banget, ya."
Meskipun
masih pagi dan udaranya seharusnya sejuk, musim panas ini memang keterlaluan.
Karena
dia berlari, mungkin dia berkeringat; Hoshimiya memegang bagian dada kemeja
seragamnya dan mengibas-ngibaskannya.
Tatapanku
secara tidak sengaja tersedot ke gerakan itu, dan kulit putih di balik
kemejanya terlihat sekilas.
Begitu
sadar aku memperhatikannya tanpa sadar, aku buru-buru membuang muka.
Aku
merasa Hoshimiya terlalu tidak waspada untuk hal-hal semacam ini.
"Jalan ini
tertutup pepohonan jadi teduh, terbantu sekali."
Kadang aku memang
bertemu dengan Hoshimiya di jalan menuju sekolah seperti ini.
Anggota yang lain
tidak pernah bertemu karena mereka punya latihan pagi klub, jadi sejauh ini
belum pernah ada pertemuan di sini.
Terkadang aku
juga bertemu dengan Nanase, tapi Nanase di pagi hari wajahnya selalu terlihat
masam dan mengeluarkan aura 'aku tidak ingin bicara dengan siapa pun, jangan
ajak bicara', jadi biasanya aku tidak menegurnya.
"Ah, iya.
Aku dengar, kemarin kalian kumpul lagi di kafe ya?"
Hoshimiya
bertanya begitu sambil sengaja menggembungkan pipinya. Nada suaranya terdengar
tidak puas.
"Aku dan
Nanase sih kerja paruh waktu. Mereka yang sedang membahas ujian
akhir."
"Fuun…… enak ya. Padahal nilaiku kali ini lumayan bagus, aku kan juga ingin pamer."
"Begitukah?
Kalau begitu karena aku yang dengar, silakan pamer sepuasnya."
"Mana
mungkin pamer ke peringkat satu angkatan…… tapi, nilai yang naik ini kan berkat
bantuan Yuino-chan dan Natsuki-kun, jadi aku berterima kasih kok? Terima kasih
ya."
Hoshimiya
memajukan bibirnya seolah cemberut, lalu kembali ke ekspresi normal dan
menunduk sedikit.
Ujian akhir kali
ini, sama seperti ujian tengah semester, kami mengadakan kelompok belajar
bersama.
Waktu itu Nanase
yang mengajari Hoshimiya, tapi kali ini aku juga sering punya kesempatan
mengajarinya. Alasan Hoshimiya sering bertanya padaku mungkin karena pengaruh
hasil ujian tengah semester kemarin.
"Fufu, nilai
sudah naik, liburan musim panas juga sudah dekat, suasana hatiku sedang
bagus."
Hoshimiya
melangkah ringan, sedikit mendahuluiku, lalu berbalik dan tersenyum padaku.
Padahal tadi
wajahnya tampak tidak puas, suasana hatinya benar-benar cepat berubah.
"Liburan
musim panas, benar juga ya, sudah dekat. Hoshimiya mau apa?"
Separuh untuk
mencari celah demi rencana liburan, separuh karena penasaran, aku bertanya
padanya.
"Hmm, pada
dasarnya sih, aku berniat bermalas-malasan di kamar. Panas kalau keluar.
Kegiatan klub sastra sih seminggu sekali, tapi karena libur panjang sifatnya
sukarela, jadi tidak ikut pun tidak apa-apa. Ah, tapi ada banyak novel yang
ingin kubaca. Tumpukan bukuku sudah banyak sekali, jadi aku harus
membacanya."
Setelah menjawab
begitu, Hoshimiya bertanya, "Natsuki-kun sendiri?"
"Aku sih,
rencananya akan sibuk kerja paruh waktu. Yah, karena dasarnya aku santai, kalau
ada ajakan bermain dari kalian, aku akan mengosongkan jadwal. Kalau sedang di
rumah, mungkin aku akan lanjut membaca novel yang direkomendasikan oleh
Hoshimiya."
"Ooh, asyik
tuh. Kebetulan, aku mau rekomendasikan beberapa buku lagi, nih."
"Aku tunggu
rekomendasinya. Soalnya kalau tidak ikut klub, libur panjang sepertinya bakal
terasa membosankan."
Kalau semua orang
adalah anak klub pulang sekolah, mungkin kesempatan bermain akan banyak, tapi
mereka semua punya klub masing-masing.
Meskipun aku
sudah tidak menyesali keputusan keluar dari klub basket, mungkin kalau aku ikut
klub tertentu, kadar masa muda di libur panjangku akan lebih tinggi. Yah,
percuma juga memikirkannya sekarang.
Hoshimiya
mengangguk penuh semangat, "Oke, siap!", lalu keningnya mengerut
seolah baru teringat sesuatu.
"……Tapi,
tugas liburan musim panasnya banyak banget, ya. Memikirkannya saja sudah bikin
malas."
Ngomong-ngomong,
memang benar, jumlah tugas yang diberikan tidak akan selesai dalam beberapa
hari. Selain anak yang pulang sekolah sepertiku, bagi mereka yang punya klub,
jumlah tugas itu pasti cukup berat.
Mumpung begitu,
kenapa tidak sekalian saja manfaatkan tugas liburan sebagai acara masa muda?
"Soal itu,
ayo kita kerjakan sambil saling membantu. Kita adakan saja kelompok belajar
beberapa kali."
Tempatnya bisa di
kafe Males atau restoran keluarga di depan stasiun. Bagiku, mengerjakan
tugas sendirian dengan diam-diam itu tidak menyenangkan, jadi aku ingin
melakukannya sambil mengobrol dengan semua orang.
"Ah, asyik!
Kalau diajari Natsuki-kun, aku jadi tenang!"
Sambil
mengobrol begitu dengan Hoshimiya, kami segera sampai di sekolah.
Kami
melewati gerbang sekolah dan menuju lobi.
Waktu
berdua saja dengan Hoshimiya akan segera berakhir.
……Sebaiknya aku
menanyakan hal ini selagi ada kesempatan.
"Terakhir, soal rencana liburan bersama. Hoshimiya,
bukannya bilang ingin pergi ke laut?"
Aku bertanya sambil menjaga nada bicaraku sealami mungkin.
Seketika itu
juga, nada ceria Hoshimiya langsung turun.
"……Iya.
Kalau bisa pergi bersama semuanya, pasti seru ya."
Itu
jawaban yang sulit dimengerti.
Cara
bicaranya seolah dia ingin ikut, tapi mempertimbangkan kemungkinan dirinya
tidak bisa pergi.
Mungkin
Hoshimiya menyadari kalau aku sedang memancingnya, dia berkata dengan wajah
penuh rasa bersalah.
"Maaf
ya. Aku yang bilang ingin ke laut, tapi sepertinya aku tidak bisa ikut."
"……Alasannya
karena orang tua tidak mengizinkan?"
"Tadi aku
coba bicarakan sedikit ke Papa, tapi responnya kurang baik, aku ingin
mengusahakannya sih…… tapi, apa mungkin kamu mendengar sesuatu dari
Yuino-chan?"
"Cuma dengar
kalau Hoshimiya mungkin tidak bisa ikut saja. Aku tidak tahu detailnya."
Saat aku
menyampaikan itu, Hoshimiya bergumam seperti sedang mengeluh dengan ekspresi
muram.
"……Papaku
itu orangnya keras kepala. Kalau sekali bilang tidak, dia tidak akan mengubah
keputusannya. Ya ampun, apa benar-benar tidak ada cara untuk menghadapi batu
keras itu……"
Meskipun keluarga, ini pertama kalinya aku melihat Hoshimiya menjelek-jelekkan orang lain.
Jadi, aku tanpa
sadar mengerjapkan mata. Itu kesan yang sangat segar.
Menyadari aku
terkejut, Hoshimiya memerah karena malu.
"Ma-maaf!
Tiba-tiba membicarakan hal seperti ini…… memalukan sekali ya, aku ini."
"Tidak,
tidak, justru rasanya malah jadi makin akrab. Jarang-jarang aku melihat sisi
seperti itu."
"Lu-lupakan
saja! Habislah, Natsuki-kun!"
Karena Hoshimiya
marah dengan sangat manis, aku hanya bisa mengangkat bahu sambil berkata,
"Iya, iya, paham."
Tepat pada saat
itu kami masuk ke dalam pintu masuk sekolah, lalu kami berganti sepatu.
"A-apa pun
itu, soal Ayah akan kuurus!"
Hoshimiya
membentuk kepalan tangan di depan dadanya, lalu berpose menunjukkan semangat,
"Akan kulakukan yang terbaik!"
"Aku juga
akan senang kalau kamu bisa ikut…… tapi jangan memaksakan diri, ya? Masih ada
banyak kesempatan lain bagi kita untuk bermain bersama. Pergi ke tempat lain
dengan perjalanan satu hari juga boleh."
Mungkin kalau
bukan menginap, ayahnya akan memberi izin. Meski waktu untuk bermain sepuasnya
di laut jadi kurang. Lagipula, tempat ini adalah Gunma, prefektur yang tidak
punya laut.
"Meski
begitu, aku tetap ingin ke laut. Lagipula aku yang mengusulkannya."
Hoshimiya
bergumam sambil menatap kosong ke kejauhan.
"……Apa kamu
sesuka itu dengan laut?"
"Hmm,
mungkin ya. Laut itu indah, dingin dan menyegarkan, lagi pula…… saat menatap
laut yang luas tanpa memikirkan apa pun, aku merasa masalahku jadi sangat
kecil, dan itu membuat perasaanku jadi lega."
Kata-kata yang
seolah tumpah tanpa sadar itu membekas kuat di telingaku.
Hoshimiya
tersentak, lalu buru-buru menutupi perasaannya dengan senyuman.
"Ya, ya,
tempat lain pun tidak apa-apa! Kalau bersama kalian semua, di mana pun pasti
menyenangkan!"
Itu adalah
kata-kata untuk mengalihkan pembicaraan, tapi mungkin itu juga bukan
kebohongan.
"……Paham.
Ayo kita bicarakan dengan semuanya. Kita cari tempat untuk kumpul."
"Ya,
dimengerti!"
Hoshimiya
menjawab kata-kataku dengan hormat yang tegas.
Kami melewati
lorong yang ramai, lalu kelas 1-2 kami sudah terlihat di depan mata.
"Semuanya,
selamat pagi!"
Saat aku membuka
pintu kelas, teman-teman sekelas yang wajahnya sudah mulai akrab itu sedang
mengobrol dengan wajah lesu. Suasana kelas yang tadinya begitu berubah menjadi
ceria dengan kedatangan Hoshimiya.
Apakah Hoshimiya
yang menebar senyuman cemerlang kepada semua orang sadar akan pengaruhnya? Isi
hati Hoshimiya benar-benar tidak bisa kubayangkan. Aku tidak tahu.
……Manusia, setiap
orang pasti punya masalahnya masing-masing.
Aku pikir
aku mengerti hal itu.
Namun,
saat mendengar perkataan Hoshimiya tadi, aku merasa terkejut.
Itu
karena aku hanya tahu Hoshimiya yang selalu ceria dan menebar senyuman.
――Aku menyukai
Hoshimiya Hikari.
Aku jatuh cinta
pada pandangan pertama karena parasnya, dan terpikat oleh kebaikannya.
Namun,
aku tidak mengenal Hoshimiya dengan baik. Aku pasti hanya melihat permukaannya saja.
Karena itulah,
aku merasa ingin mengenal Hoshimiya lebih jauh.
Dengan tulus, aku
berpikir seperti itu.
*
Istirahat siang
hari itu.
Aku mengumpulkan
semuanya di kantin sekolah. Tujuannya adalah membicarakan rencana liburan musim
panas.
Aku sempat
berpikir untuk mengadakan rapat dengan kumpul di restoran keluarga atau kafe,
tapi mereka semua punya kegiatan klub setelah sekolah, dan mengingat liburan
musim panas, kita tidak boleh membuang-buang uang.
"Seperti
kata Natsuki, sudah saatnya kita menyusun rencana secara konkret."
Reita membuka
suara setelah menyeruput mi kakiage udon dan menelannya dengan mantap.
"Rencananya
kita mau ke laut, kan?"
Uta
bergumam seolah mencoba mengingat.
Di
tangannya ada semangkuk ramen shoyu yang ukurannya tidak cocok dengan tubuh
kecilnya.
"……Meski
begitu, aku tidak punya banyak uang, nih."
Tatsuya
yang sedang melahap kari porsi besar menggerutu dengan wajah pahit.
"Kalau
bilang mau pergi liburan, apa ibumu tidak mau kasih uang, Tatsu?"
"Yah,
mungkin dikasih sedikit, tapi tidak bisa dipastikan juga. Bukan begitu, aku
juga ingin ikut, kok."
Tetap saja,
masalah pertama adalah uang.
"Kebalikannya,
apa selain Tatsuya tidak ada masalah?"
Saat aku
bertanya, semua orang mengangguk.
"Untuk saat
ini, tabunganku lumayan cukup," ujar Reita.
"Aku sering
kerja paruh waktu di rumah, jadi bisa!" ujar Uta.
"Aku sama
seperti Haibara-kun, sering masuk shift, jadi aman," ujar Nanase.
"Aku juga,
sepertinya cukup dengan uang sakuku," ujar Hoshimiya.
Secara garis
besar, hasilnya sesuai dengan perkiraanku dan Miori. Berarti masalahnya tinggal
Tatsuya saja.
"Sebenarnya,
habis berapa banyak? Bukannya tadi bilang mau menginap satu malam?"
Tatsuya
bergumam sambil mengintip isi dompetnya. Wajahnya terlihat sangat tegang.
"Tergantung
ke mana dan menginap di mana, tapi bukankah tiga puluh ribu yen sudah
cukup?"
Tentu saja dengan
asumsi penginapan murah. Biaya transportasi kalau naik shinkansen juga
cukup menguras kantong.
"Yah,
kisaran itu cukup realistis."
Begitu
Nanase mengangguk, Tatsuya mengerutkan keningnya sambil bergumam,
"Hmm……"
"Aku
sebenarnya ingin sekali pergi bermain dengan kalian……"
"Ayo lakukan
sesuatu agar kita semua bisa pergi! Laut di musim panas! Pasti seru
sekali!"
Uta berusaha
keras meyakinkan Tatsuya yang bersikap setengah hati.
Uta yang sedang
membujuk itu tiba-tiba matanya berbinar seolah mendapat ide.
"Benar!
Tatsu, bagaimana kalau bantu-bantu di rumahku selama liburan musim panas? Dulu
kan kamu sesekali pernah bantu!"
Tatsuya yang
bingung bergumam, "……Kalau dipikir-pikir, memang pernah bantu sih."
"Karena kamu
ada kegiatan klub, mungkin dasarnya jadi malam hari, tapi apa tidak
apa-apa?"
"Ya!
Kebetulan kedai sedang cari pekerja baru, jadi menurutku pas sekali! Aku akan
coba tanya orang tuaku!"
Uta menyampaikan
hal itu kepada Tatsuya dengan senyuman yang sangat lebar.
"Karena
Tatsuya punya kegiatan klub, mungkin sulit kalau harus cari kerja paruh waktu
baru, jadi membantu di rumah Uta dengan fokus jangka pendek selama liburan
musim panas mungkin ide yang bagus."
"Ya,"
ujar Reita dengan ekspresi tenang.
"Tatsu
sudah pernah bantu beberapa kali sebelumnya dan sudah terbiasa, jadi bagi kami
pun sangat terbantu."
Uta
berkata dengan senyum bahagia.
Itu
benar-benar hubungan yang saling menguntungkan atau istilahnya sekali dayung
dua pulau terlampaui.
Ada solusi yang
pas di sekitar kita.
Masalah semacam
ini paling baik dibicarakan bersama.
……Tapi, saat
membayangkan Tatsuya bekerja paruh waktu bersama Uta, hatiku terasa tidak
tenang.
Tiba-tiba, malam
festival Tanabata melintas di pikiranku.
Sensasi bibir Uta
yang menyentuh pipiku masih bisa kuingat dengan jelas.
'……Ini adalah
perasaanku.'
Aku belum
menjawab kata-kata itu.
Uta bilang jangan
menjawab dulu, mungkin karena dia sudah melihat keraguanku.
Artinya, saat ini
aku sedang memanfaatkan kebaikan hati Uta.
Seseorang seperti
aku tidak pantas memiliki perasaan seperti ini terhadap Uta dan Tatsuya.
……Aku tahu. Ini
adalah perasaan cemburu yang jelek. Aku sudah tahu perasaan Uta dan menunda
jawabannya, namun sekarang aku merasa tidak ingin dia dekat dengan pria lain.
Pemikiran seperti
itu tidak mungkin bisa dimaafkan.
Aku menggelengkan
kepala untuk mengusir pikiranku sendiri, lalu menyimpulkan pembicaraan untuk
mengalihkan suasana.
"Kalau
begitu, masalah uang untuk sementara sepertinya aman."
"Walaupun
begitu, tidak mungkin bisa masuk shift sebanyak itu, tetap saja
sulit."
"Hal itu
juga berlaku untukku. Kita harus rencanakan agar bisa selesai sehemat
mungkin."
Reita berkata
begitu sambil menyudahi topik, lalu memberikan masalah berikutnya.
"Sebelum
itu, soal tanggalnya. Semuanya punya kegiatan klub atau urusan lain, jadi harus
disesuaikan."
Menanggapi
kata-kata Reita, semuanya mengecek jadwal di smartphone atau buku
catatan.
Sepertinya
tanggal 6 atau 7 Agustus semuanya bisa.
Selain itu,
memang ada hari-hari lain di mana kita bisa luang, tapi sulit jika dua hari
berturut-turut.
Selama periode
Obon, anggota klub memang luang, tapi banyak yang harus pulang ke rumah
kakek-nenek.
Yah, mungkin tanggal 6-7 sudah final.
Senang juga akhirnya tahu jadwal luang semua orang.
Karena kita juga
punya rencana untuk mengadakan kelompok belajar mengerjakan tugas sekolah.
Selain itu, jadi
lebih mudah untuk mengajak mereka bermain.
"Kalau tanggal sudah final…… selanjutnya masalah
tempat, ya."
Reita bergumam dengan wajah sulit sambil menatap smartphone-nya,
mungkin sedang mencari sesuatu.
Aku sempat berpikir untuk menyerahkannya pada siapa pun yang
punya ide, tapi sepertinya tidak ada yang punya ide. Baiklah, aku akan
mengusulkan beberapa kandidat yang sudah dipikirkan bersama Miori.
"Aku punya
beberapa ide, pertama bagaimana kalau Niigata?"
Aku meletakkan smartphone
di meja dan menunjukkan halaman situs tempat tersebut kepada semuanya sambil
menjelaskan.
Karena semuanya
mengintip ke smartphone-ku, jarak kami jadi sangat dekat.
Terutama
Hoshimiya yang di sampingku, jarak bahu kami hampir menempel, aku jadi sadar
akan hal itu.
Ditambah lagi, ada aroma wangi khas gadis.
Ba-bahaya…… kalau begini terus, penjelasanku bakal buyar!
Sekarang aku yang memimpin pembicaraan, jadi aku harus tetap
menjaga kewarasan……
"Wa, tempat
ini, indah sekali!"
"A-ah. Aku
sudah pernah ke sana, tempatnya memang bagus."
Uta memandang
interaksimu dan Hoshimiya dengan wajah serius, tapi aku berpura-pura tidak
menyadarinya.
"Ya,
bagaimana kalau ini? Kalau dari Gunma ke laut, ini yang paling dekat."
Berkat keputusan
mutlak dari Reita dan tidak ada keberatan, pembicaraan sepertinya sepakat
dengan kandidat pertama yang aku dan Miori susun. Uta juga matanya berbinar,
"Ayo kita ke sini! Pasti seru!"
"Kalau jadi
ke sini, ada beberapa kandidat penginapan. Aku terpikir untuk menyewa pondok (cottage)……
bagaimana menurut kalian? Kira-kira seperti ini."
Aku menunjukkan
halaman pondok yang kucari bersama Miori. Uta memiringkan kepalanya dengan
bingung.
"Pondok?"
"Singkatnya
itu seperti vila sewaan. Rasanya seperti menyewa satu rumah utuh."
Aku menunjukkan
fotonya pada Uta.
Di jalan
pegunungan pedesaan, ada bangunan kayu yang tersembunyi. Interiornya punya
dapur, ruang makan, ruang tamu, ditambah teras yang luas, dan di lantai dua ada
beberapa kamar pribadi.
"Ah,
kelihatannya bagus!"
"Eh,
ternyata bisa barbekyu di teras ya. Ayo kita lakukan."
Saat Reita
bergumam melihat halaman pengenalan, Tatsuya langsung bereaksi.
"Apa, bisa
makan daging? Kalau begitu, di sana saja."
"Kalau
menginap di pondok, kita harus beli bahan sendiri dan memanggangnya sendiri,
lho?"
"Memang kenapa? Itu malah…… apa ya namanya? Memberi
kesan tersendiri?"
Menanggapi poin yang Nanase tunjukkan dengan heran, Tatsuya
menjawab dengan optimis sambil memiringkan kepala.
"Ahaha!
Tatsu pakai kata-kata yang sulit!"
"Apa lucunya
dari situ?"
Uta tertawa
terbahak-bahak, sementara Tatsuya menunjukkan wajah yang sulit diartikan.
Dua orang ini pun
sudah kembali ke pola interaksi mereka yang seperti dulu, ya.
"Tapi,
bukankah mahal?"
Menanggapi poin
Nanase itu, aku sudah punya jawabannya.
"Justru, harganya cukup murah. Ini harga per satu
malam…… kalau dibagi enam orang, lihatlah."
Saat aku menghitung dengan kalkulator di aplikasi, suara
"Ohh" keluar dari semuanya.
"Ternyata malah lebih murah daripada menginap di hotel
biasa di sekitar sini, ya?"
"Aku juga berpikir begitu. Meski sekilas terlihat
mahal, kan dibagi enam orang. Kalau jumlah orangnya lebih banyak, mungkin bakal
lebih murah. Ukurannya mungkin cukup untuk delapan atau sembilan orang."
Kita juga bisa barbekyu, dan sepertinya bisa menghabiskan
waktu dengan ruang yang luas. Sebagai gantinya, kita harus menyiapkan makan dan
mandi sendiri, tapi karena hanya satu malam, itu bukan repot yang berarti.
Saat aku
menjelaskan bagian itu, reaksi semuanya sangat bagus.
"Terima
kasih ya, Natsu. Kamu sudah memikirkan berbagai hal, kan?"
Uta bergumam
pelan, lalu ekspresinya melunak.
"Yah, karena
aku yang paling luang. Aku cuma asal melihat-lihat situs pariwisata saja."
Saat aku
mengangkat bahu, Tatsuya berkata sambil melipat tangan.
"Memang
dasarnya Natsuki. Itu pemikiran dari orang cerdas sepertimu. Sudah diputuskan
saja."
"Ya,
secara garis besar rencana Natsuki sepertinya tidak masalah."
Mendengar
kata-kata Tatsuya dan Reita, aku mengembuskan napas lega.
Jerih
payah begadang bersama Miori benar-benar tidak sia-sia.
"Lagipula,
kalau dengan begitu biayanya jadi lebih murah, bukankah boleh mengajak orang
lain lagi?"
"Benar
juga! Semakin banyak semakin seru, kan!"
Ide
Tatsuya yang mempertimbangkan sisi biaya, disetujui Uta dari sisi lain.
"Logikanya
memang begitu, tapi kalau digabung dengan kelompok ini, bukankah akan sedikit
canggung?"
Nanase
mengungkapkan keberatan dengan wajah yang tampak sulit.
"Begitukah?
Kalau teman sekelas, menurutku tidak masalah?"
Mendengar
itu, Uta memiringkan kepalanya dengan bingung.
Yah, Uta
memang akrab dengan kelompok lain di luar kami tanpa pilih kasih.
Tidak
hanya Uta, mungkin semuanya kecuali aku memang punya kecenderungan seperti itu.
"Meskipun
begitu, biasanya kita berenam saja, jadi kalau ada satu orang saja yang ikut,
mungkin hambatannya memang agak tinggi. Itu pun kalau pihak sana bukan kelompok yang terdiri dari beberapa
orang."
Reita
berkata dengan wajah serius.
Aku setuju, jadi
aku menimpali untuk mendukungnya.
"Sebaliknya,
apa ada kandidat?"
Benar,
sejauh ini belum ada kandidat spesifik.
Kalau ada
kandidat, kita bisa memikirkannya, tapi kalau tidak ada, tidak perlu memaksakan
diri mengajak orang.
Kalau diajak
karena hanya sebagai cadangan, pihak sana pasti tidak akan senang.
Tujuanku adalah
menikmati acara musim panas ini semaksimal mungkin.
Bahkan tanpa
menambah orang pun, aku pikir berenam saja sudah cukup.
"Orang yang
akrab dengan kita semua dan mau ikut kalau diajak…… ya."
Tatsuya
menggumamkan prasyaratnya, tapi sepertinya dia juga tidak kepikiran, sesuai
dugaanku.
Namun, di sini
muncul pernyataan di luar dugaanku.
"Aku sih,
kalau dengan Miorin dan Seri, mau ikut!"
Itu satu kalimat
dari Uta. Miorin pasti maksudnya Miori. Tapi Seri itu siapa?
"Ah, benar
juga! Kalau dua orang itu, mereka juga akrab dengan anggota ini, kan?"
Hoshimiya-lah
yang setuju dengan Uta.
Aku
sempat khawatir karena dia jarang bicara, tapi nada suaranya tidak terdengar
muram.
……Apa dia cuma
diam saja tanpa alasan khusus?
Atau bagaimana
maksudnya "akrab dengan anggota ini"?
Aku tidak tahu
siapa gadis bernama Seri itu?
"Eh?
Apa Natsu tidak punya hubungan dengan Seri?"
Uta
bertanya dengan heran.
Sebelum
aku bereaksi, Reita tiba-tiba bergumam.
"Tentu
saja, mungkin hanya Natsuki yang tidak punya hubungan. ……Tidak, seharusnya dia
pernah bertemu saat kita belajar kelompok di kafe, tapi waktu itu kalian tidak
banyak bicara, ya."
Dengan kata-kata
itu, ingatanku muncul kembali.
……Ah, gadis
berambut pirang bergaya gyaru yang duduk tepat di depan Miori itu, ya.
"Kalau
dipikir-pikir, aku dengar beberapa kali dari Miori. Aku tahu dia akrab dengan
Miori."
Kalau tidak salah
namanya Serika. Begitu ya, karena Serika makanya dipanggil Seri.
"Sebaliknya,
apa kalian semua akrab dengan orang bernama Serika itu?"
Saat aku
bertanya, semuanya saling bertukar pandang sejenak, lalu Nanase menjawab.
"Dia satu
SMP yang sama denganku dan Hikari."
"Dia juga
satu SD yang sama denganku dan Tatsuya."
Uta tidak, lanjut
Reita.
Te-ternyata
begitu. Hubungan seperti itu di luar dugaanku……
"Karena
akrab dengan Miorin, akhir-akhir ini aku juga sering bicara dengannya!"
Artinya, semua
orang kecuali aku cukup akrab dengan orang bernama Serika itu……
Dan kalau Miori
dan Serika akrab, mereka memang pasangan yang sempurna untuk diajak.
"Kalau
Natsuki belum pernah bicara, sebaiknya jangan saja?"
Reita memberikan
saran dengan nada penuh perhatian.
"Tidak……"
Aku
secara refleks menggelengkan kepala.
Reita pasti ingin
pergi bersama Miori.
Dan aku sendiri
merasa akan menyenangkan jika bisa bermain bersama Miori.
Untuk itu, meski
ada satu orang yang belum pernah kukenal, itu seharusnya tidak masalah.
Justru ini bisa
dianggap sebagai kesempatan bagus untuk memperluas hubungan pertemanan.
"――Tidak
apa-apa. Ayo kita ajak mereka."
Percakapan tadi
malam dengan Miori melintas di pikiranku.
'Atau, apa, nih?
Apa kamu merasa gelisah kalau aku tidak ikut?'
'……Tidak, aku
cuma merasa pasti akan lebih menyenangkan kalau kamu juga ikut.'
Saat aku mengajak
untuk ikut, Miori menggelengkan kepala. Namun, ada alasan kedua bernama Serika,
dan yang terpenting semuanya mengusulkan untuk mengajak mereka. Jika begitu,
pasti……
"Kalau
Natsuki-kun tidak keberatan, untuk sementara kita ajak saja dulu. Kalau ditolak
ya tidak apa-apa."
"Soal dua
orang itu, nanti biar aku yang ajak dalam waktu dekat. Nanti aku hubungi lagi
di RINE."
Setelah Hoshimiya
memberikan dorongan, Reita menyimpulkan hal itu.
Setelah itu, saat
kami sedang berkonsultasi mengenai poin-poin detail, tiba-tiba Hoshimiya
memberitahu.
"Emm…… sebenarnya, aku masih belum dapat izin dari Ayah
untuk perjalanan ini……"
Berbanding
terbalik dengan tadi, nada suaranya terdengar gelap.
"Mungkin,
aku tidak bisa ikut. Maaf ya."
Entah karena
semuanya sudah merasa, atau mungkin sudah mendengar dari Nanase sepertiku.
Tidak ada
keterkejutan di ruangan itu. Namun, suasananya sedikit menjadi gelap. Saat aku
mencari kata-kata untuk menjawab, Uta lebih dulu mengubah suasana dengan suara
yang ceria.
"Urusan
keluarga tidak bisa dibantu. Tentu saja, aku ingin pergi bersama Hikarin,
kok!"
Selanjutnya yang
ikut bicara adalah Tatsuya yang tidak disangka-sangka.
"Apa tidak
ada cara? Bukankah keseruan akan berkurang kalau tidak ada Hoshimiya?"
Jujur saja,
mengejutkan melihat Tatsuya berbicara seperti itu kepada Hoshimiya.
Mungkin karena
semuanya merasa sama, mereka saling bertukar pandang, sementara Hoshimiya
mengerjap.
"Ke-kenapa?
Apa aneh aku bicara begitu?"
"Ah, tidak,
ti-tidak ada apa-apa! Terima kasih!"
Hoshimiya
buru-buru menyangkal meski kegelisahannya terlihat jelas.
"Hoshimiya-san,
kamu terlalu gugup, ya."
Melihat Hoshimiya
seperti itu, Reita tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
Tatsuya menatapku
dengan wajah sulit, tapi aku juga bingung meski dilihat seperti itu.
"Po-pokoknya,
aku akan berusaha sebisa mungkin agar bisa ikut!"
"Aku juga
akan membantu Hikari. Nanti akan kuberitahu dalam waktu dekat, jadi tunggu
sebentar ya?"
Kata Nanase
sambil mengelus kepala Hoshimiya.
Saat
semuanya mengangguk ceria, bel tanda istirahat siang berakhir pun berbunyi.
*
Itu terjadi
beberapa hari kemudian.
Rupanya
Miori dan Serika yang diajak Reita bersedia.
Tadi aku
memanggilnya Serika demi kenyamanan, tapi nama lengkapnya sepertinya Hondo
Serika.
Kalau
begitu, seharusnya aku memanggilnya Hondo-san.
Di suatu
kesempatan, aku ingin mencoba memperkenalkan diri setidaknya.
Dan sepertinya
Hoshimiya berhasil membujuk ayahnya berkat bantuan Nanase.
Laporan seperti
itu sudah masuk ke grup chat kami. Untuk saat ini, satu beban hilang.
"Hei."
"Gueh."
Sebelum kelas
pagi dimulai, saat aku sedang berjalan di lorong, tiba-tiba aku ditarik dari
belakang.
Sepertinya kerah
kemejaku ditarik. Hanya Miori yang melakukan hal seperti ini padaku.
"Ada
apa?"
"Itu
usulmu?"
Jangan membalas
pertanyaan dengan pertanyaan. Lagipula, tidak ada subjeknya. Tapi yah, karena
aku mengerti, tidak apa-apa.
"Bukan. Yang
mencetuskan itu Uta dan Reita. Setelah itu, semuanya setuju karena ingin pergi
bersama Miori dan yang lainnya. Yah, ada juga alasan karena Hondo-san yang
akrab denganmu itu akrab dengan semua orang kecuali aku."
"Itu pun aku
sudah dengar dari Serika……"
Miori tampak
tidak puas.
"Bukankah
tadi sudah setuju?"
"Itu karena
Serika juga berminat, dan tidak ada alasan untuk menolak……"
"Kalau
begitu, tidak ada masalah, kan? Aku pun bisa bermain bersamamu, sekali dayung
dua pulau terlampaui."
Aku tidak
tahu kenapa Miori menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan.
Miori
yang tampak tidak puas entah kenapa berdiri dengan ujung kaki, lalu mencubit
pipiku.
"Sakit,
tahu."
Lagipula, kalau
melakukan hal seperti ini di lorong, nanti dikira kita sedang pacaran, tahu?
Faktanya,
sekarang pun kami sedang dilihat oleh beberapa orang.
"Lagipula,
teman yang lain meski akrab, bukannya kamu tidak punya hubungan dengan
Serika?"
"Memang benar sih…… tapi, tidak apa-apa kalau
menganggapnya sebagai kesempatan untuk mencari teman baru, kan?"
Meski aku yang mengucapkannya sendiri, itu adalah pemikiran
yang tidak seperti diriku.
Meski sekarang sudah sedikit lebih baik, sifat dasarku
sebagai penyendiri tidak berubah.
Tidak diragukan lagi, aku adalah orang yang punya teman
paling sedikit di dalam grup.
Pada
dasarnya, aku pengecut dalam hal pertemanan baru.
Meski
begitu, aku tidak berpikir idealnya masa muda adalah mengurung diri di dunia
yang hanya terdiri dari kami berenam.
Aku merasa perlu
sedikit demi sedikit mengeluarkan keberanian untuk memperluas dunia ini.
"……Fuun,
yah, kalau kamu tidak keberatan, ya sudah."
Setelah Miori
menggumamkan itu sambil menatap wajahku, dia membuang muka seolah pembicaraan
sudah selesai.
"Pagi,
Miori."
Tepat saat itu,
ada yang menyapa, dan kami menoleh bersamaan.
Apakah ini yang
disebut "bicarakan setan, maka ia akan muncul"?
Hondo-san yang
dibicarakan sedang melambaikan tangannya.
"Ah, Serika.
Pagi."
Miori membalas
sapaan dengan sangat wajar, tapi apa yang harus aku lakukan?
Lewat Miori,
seharusnya kami tahu nama masing-masing, tapi kami belum pernah bicara secara
langsung.
Rasanya tidak
mungkin untuk menyapa, tapi sudah dipastikan kami akan pergi liburan bersama.
Lagi pula,
tidakkah aneh jika aku tidak berkata apa-apa padahal Miori yang baru saja
menyapa ada di sampingku?
Saat aku sedang
memutar-mutar pikiran penyendiri itu, Serika menatapku.
"Pagi,
Haibara-kun."
"……Oh,
pagi."
Itu adalah sapaan
yang sangat wajar.
Te-ternyata
begitu ya. Hanya perlu menyapa seperti biasa……
Kenapa tadi aku
sampai ragu-ragu……?
Meninggalkan aku
yang merasa kalah oleh teka-teki, Miori dan Hondo-san mengobrol.
Setelah itu,
mereka berdua menatapku.
"Haibara-kun
juga ikut liburan yang itu, kan?"
"Iya.
Yah, aku bukan orang jahat, jadi mohon berteman dengan baik, ya."
"Mohon
bantuannya ya, Haibara-kun."
"Ah, ya. Mohon bantuannya, Hondo-san."
Menanggapi
kata-kata Hondo-san, aku mengangguk.
"Kalau
begitu, aku ke kelas dulu ya."
Hondo-san
mengatakannya dengan datar, lalu masuk ke dalam kelas.
……Fuu, entah
kenapa aku merasa sangat gugup.
Melihatku
mengembuskan napas lega, Miori tersenyum pahit.
"Serika,
memang nada bicaranya rendah, tapi dia memang selalu seperti itu. Jangan
dimasukkan ke hati, ya."
"Heh, jadi
bukan karena masih pagi atau alasan semacam itu?"
Karena Nanase
juga punya wajah seperti orang sekarat dan nada bicara yang rendah di pagi
hari, aku sempat mengira dia termasuk jenis orang yang sama.
"Iya.
Makanya, mungkin dia tidak terlalu ramah. Padahal dia manis sekali."
Sayang
sekali, ya, ujar Miori sambil memanyunkan bibirnya.
Yah,
memang benar dia memiliki paras yang sangat rupawan, tapi dia adalah tipe orang
dengan perubahan ekspresi yang minim.
Mungkin kesan gyaru
itu hanya sebatas penampilannya saja.
"Apa
menurutmu aku bisa akrab dengannya?"
"Tidak perlu
khawatir, bukankah akan baik-baik saja? Dia tidak terlalu pilih-pilih orang.
Lagipula dia bukan tipe orang yang pemalu. Meski kelihatannya begitu, dia
sebenarnya cukup asyik diajak seru-seruan."
"Tidak,
justru aku yang pemalu……"
"Itu
urusanmu sendiri. Bukankah tadi kamu bilang ini kesempatan untuk mencari teman
baru?"
"Begitu
bicara langsung dengan orangnya, tiba-tiba aku jadi tidak percaya diri……"
"Duh, kamu
ini……"
Tepat saat Miori
menekan dahinya dengan ekspresi jengkel, bel wali kelas pagi pun berbunyi.
Tanpa kusadari,
di lorong itu hanya tinggal kami berdua.
"Ah, gawat!
Aku harus kembali. Sampai nanti."
"Oke, sampai
nanti."
Aku melihat Miori
yang bergegas kembali ke kelasnya, lalu aku pun membuka pintu kelas di
sebelahnya.
"Kamu
terlambat, Natsuki."
"Aku tadi
bicara dengan Miori soal rencana liburan."
Aku menjawab
pertanyaan Reita sambil duduk di bangkuku.
Tepat pada saat
itu, guru wali kelas pun muncul.
"Baiklah,
mulai besok kalian akan memasuki liburan musim panas. Pastikan kalian bertindak
sesuai kesadaran sebagai siswa sekolah ini. Selain itu, saya rasa ada banyak
tugas liburan yang diberikan, tapi jika kalian mencicilnya setiap hari,
jumlahnya akan selesai dengan wajar. Jangan sampai menunda-nunda. Dengar,
meskipun libur――"
Kata-kata guru
wali kelas yang seharusnya membuat kami waspada, justru membuat suasana kelas
jadi tidak sabar.
Guru wali kelas
terus mengoceh panjang lebar tentang kedisiplinan dan sebagainya, tapi teman
sekelas yang lain sibuk mengobrol pelan atau tertawa satu sama lain. Saat aku
memperhatikan suasana kelas seperti itu, mataku bertemu dengan Hoshimiya.
Hoshimiya
buru-buru membuang muka, tapi entah kenapa dia menatapku lagi.
Kemudian, dengan
gerak bibir tanpa suara, dia berkata, "Aku menantikannya," lalu
ekspresinya melunak.
……Hah???
Apa itu tadi?
Terlalu manis, tahu.
Jangan berusaha
mencuri hatiku dengan begitu santainya.
"Baiklah,
jangan lupa untuk menjaga perilaku yang disiplin."
Saat aku sedang
berusaha menenangkan kegelisahan di dalam hati, bel tanda berakhirnya wali
kelas berbunyi.
Guru wali kelas
yang mengulangi pembicaraan yang sama berkali-kali itu akhirnya menutup
mulutnya.
Dia orang yang
selalu punya pembicaraan panjang seperti biasanya.
Toh, hari ini
kami akan dipaksa mendengarkan pidato super panjang kepala sekolah di gimnasium
yang panas, jadi seharusnya wali kelas ini bisa ditutup lebih singkat saja.
Begitu guru wali
kelas keluar, kelas kembali dipenuhi kebisingan.
Topik
pembicaraannya didominasi soal liburan musim panas.
Ada yang
berencana pergi ke kolam renang bersama teman, menantikan festival kembang api,
turnamen Smash Bros di rumah teman, liburan keluarga ke luar negeri,
mengeluhkan banyaknya tugas, hingga keluhan karena harus ikut kegiatan klub
setiap hari sehingga tidak punya waktu libur.
Meski penuh
keluhan, mereka semua punya kesamaan: suasana hati mereka sedang sangat bagus.
Dari luar
jendela, sinar matahari menyengat dengan terang.
Meski
ruangan ini seharusnya sudah dipenuhi pendingin udara, aku bisa merasakan
sensasi kulit yang seolah terbakar.
Upacara penutupan
semester pertama.
Hari ini pun
suhunya diperkirakan akan melebihi tiga puluh derajat Celsius.
――Mulai besok,
liburan musim panas dimulai.



Post a Comment