NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 7 Afterword + Bonus Story

Kata Penutup


Ketika mendengar kata “masa muda”, yang pertama kali terbayang di benakku bukanlah kisah cinta yang manis dan getir, melainkan hari-hari di mana aku tertawa bersama teman-teman karena hal-hal yang benar-benar konyol.

Keinginan untuk menggambarkan bentuk masa muda seperti itu dalam sebuah light novel menjadi salah satu alasan utama lahirnya cerita ini.

 

Begitulah, lama tak jumpa. Aku Amamiya Kazuki.

Volume kali ini adalah cerita Shirotori Reita. Mengikuti volume sebelumnya yang cukup berat di awal, aku rasa mulai pertengahan cerita hingga akhir kami berhasil menyajikan bagian yang jauh lebih ringan dan menyenangkan.

Entah masih ada yang ingat kata penutup di volume sebelumnya, saat itu aku menulis tentang kegelisahanku mengenai masa depan. Aku yang memiliki pekerjaan utama yang tidak ada hubungannya dengan menulis dan menjalani hari sebagai penulis sambilan — intinya, waktu selalu kurang.

Untuk laporannya, saat ini saat aku menulis kata penutup volume 7, aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan tempatku bekerja dulu dan kini menjadi penulis novel serta penulis skenario penuh waktu. Berkat itu, aku sekarang memiliki sedikit lebih banyak ruang dalam keseharian dan bisa meluangkan waktu untuk input yang lebih banyak.

Alasan utama aku memutuskan untuk resign adalah karena periode sibuk tahun ini jauh lebih berat dari biasanya, hingga aku hampir tidak sempat menulis sama sekali. Di tengah kesibukan yang membuat kepala pusing, di hari-hari di mana aku bahkan tidak bisa menyentuh novel, aku kembali memikirkan apa yang sebenarnya paling ingin aku lakukan.

Dulu aku tidak berani menjadi penulis penuh waktu karena tidak yakin bisa menghidupi diri hanya dari novel dan skenario game. Tapi setelah kurang lebih tujuh tahun berkecimpung di dunia penulisan, aku mulai memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuanku. Prestasi dan koneksiku juga bertambah, sehingga banyak orang yang mulai memberiku tawaran pekerjaan.

Dalam proses itu, banyak tawaran pekerjaan yang terpaksa kutolak hanya karena “ingin sekali, tapi jadwal tidak memungkinkan karena masih sambilan”.

Suatu saat aku tersadar. Tanpa terasa, prioritas utamaku sudah bergeser hanya untuk menjaga kestabilan hidup. Selama tujuh tahun ini, banyak orang bilang bahwa hidup hanya dari dunia tulis-menulis itu sulit. Aku setuju itu fakta. Memang di beberapa tahun pertama setelah debut, penghasilanku dari menulis belum cukup untuk hidup. Bahkan setelah beberapa tahun lagi dan penghasilanku sudah lumayan, tanpa sadar aku hanya memandang realitas semata.

Apakah hidup yang hanya memikirkan kestabilan dan tidak lagi bermimpi itu memiliki nilai?

Dengan pertanyaan itu, aku memutuskan untuk hidup tanpa meninggalkan penyesalan di masa sekarang.

Karena seperti Haibara Natsuki, kita tidak bisa kembali ke masa lalu yang penuh penyesalan.

Tentu saja ada rasa khawatir, tapi saat ini yang lebih besar adalah perasaan excited.

Setelah menjadi penulis penuh waktu, waktu yang bisa kugunakan untuk membuat cerita bertambah jauh lebih banyak.

Berkat itu, sekarang aku sedang mempersiapkan banyak hal. Saat karya-karya itu nanti dirilis, aku akan mempromosikannya lewat akun X dan lainnya, jadi kalau tertarik, silakan tunggu ya.

 

Mari masuk ke ucapan terima kasih.

Untuk editor-ku, N-san. Sekali lagi maaf karena progres yang seolah-olah konsep deadline sudah hilang… Setiap kali selalu merepotkan.

Untuk ilustrator Gin-san, terima kasih banyak atas ilustrasi yang luar biasa lagi kali ini. Hikari yang sedang kencan itu… terlalu imut.

Dan untuk semua pihak yang terlibat dalam buku ini, terima kasih banyak atas segala usahanya.

Jika cerita ini sedikit saja bisa menyentuh hati Anda, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar bagi penulis.

 

Sekian untuk kali ini.

Aku menantikan bisa bertemu lagi di volume selanjutnya atau di seri lainnya.

 

Uwooo~! Aku akan buat banyak cerita yang seru!




Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Setelah Latihan Klub Selesai

"Hari ini kita akhiri sampai sini yuk."

Serika berkata sambil melirik jam.

"Wah, sudah jam delapan lebih ternyata."

Mei berseru kaget. Aku juga merasakan hal yang sama. Kami terlalu larut dalam latihan.

"Aku juga harus pulang nih, nanti dimarahin ibu~"

Yamano memutar-mutar stik drumnya sambil mengeluh dengan wajah malas.

"Kalau begitu, ayo cepat membereskan barang."

Begitu aku mengatakan itu, semua orang langsung bergerak.

Studio ini disewakan per jam, jadi semakin cepat kami keluar, semakin murah biayanya.

Untungnya, pada malam hari biasa jarang ada yang menyewa, jadi akhir-akhir ini studio ini hampir selalu kami kuasai. Lagipula harganya cukup terjangkau. Karena semua orang kecuali Yamano punya pekerjaan paruh waktu, kami bisa membayarnya dengan mudah. Ini salah satu keuntungan tinggal di daerah pinggiran. Kalau di studio kota besar, pasti tidak semudah ini.

"Uu, dingin sekali~"

Begitu keluar, udara dingin yang menusuk langsung menyambut kami. Mei menggigil hebat.

"Hari ini memang lebih dingin dari biasanya."

Saat aku dan Mei hendak berjalan, Yamano memanggil kami dengan nada heran.

"Senpai, kalian mau ke mana? Stasiunnya ke arah sini lho?"

"Eh, iya ya? Aku masih belum terbiasa."

Kami baru menemukan studio ini dan mulai latihan lagi baru-baru ini.

Lokasinya sekitar lima menit berjalan kaki dari Stasiun Maebashi, dan hampir sama jauhnya dari sekolah. Jika menghubungkan stasiun, sekolah, dan studio, posisinya membentuk segitiga sama sisi. Meski agak tua, fasilitasnya cukup lengkap.

"Eh? Natsuki?"

Dalam perjalanan menuju stasiun, seseorang memanggilku.

Gelap jadi aku tidak bisa melihat jelas, tapi dari suaranya aku langsung tahu itu Uta.

"Yahoo~! Kalian juga baru pulang dari klub?"

"Begitulah. Kalian kok ramai sekali?"

Uta mendekat dengan sikap ramah, ditemani Miori dan Reita.

Uta dan Miori berjalan kaki, sementara Reita mendorong sepedanya.

"Kebetulan latihan klub basket cewek selesai barengan sama kami."

"By the way, Tatsuya langsung pulang naik sepeda. Cuek banget sih~"

"Bukannya kamu juga biasanya naik sepeda, Uta?"

"Akhir-akhir ini aku jalan kaki! Soalnya pulang bareng Miorin."

Rumahnya kan nggak terlalu jauh, kata Uta.

"Aku sudah bilang nggak apa-apa kok. Tapi dari stasiun ke rumah Uta itu agak memutar."

Miori mengangkat bahu dengan wajah malas.

"Ah! Jadi Miorin nggak mau pulang bareng aku!?"

"Kita kan sudah banyak ngobrol di klub, itu sudah cukup kan?"

"Belum cukup! Kamu di klub jarang banget ngobrol! Dasar sok jagoan!"

"Ja-jagoan!? Aku nggak gitu kok! Aku cuma lagi fokus latihan!"

Melihat Uta dan Miori saling menggerutu, aku bergumam pelan.

"…Kok akhir-akhir ini mereka sering sekali bertengkar ya?"

"Karena Uta sudah nggak sungkan lagi sama Miori. Berkat kasus hilangnya itu."

"Apaan sih itu…? Maksudnya hasilnya malah bagus gitu?"

Apakah situasi sekarang ini bisa dibilang berhasil?

"Hujan deras membuat tanah semakin padat. …Ternyata mataku memang tidak salah."

Serika mengangguk-angguk sambil bersedekap. Kamu ini sebenarnya di pihak mana sih?

"Miori-senpai kelihatan agak berubah ya."

Yamano yang dari tadi hanya memandang dengan melongo berkomentar.

"Dulu dia lebih suka membuat tembok dengan orang lain."

"Dia kan tipe yang suka berpura-pura kuat."

"Yang bikin dia berpura-pura itu malah bilang begitu."

Kata-kata Yamano yang santai itu menusuk hatiku.

Sudah, cukup. Hatiku ini rapuh seperti kaca.

Miori yang tadi bertengkar dengan Uta sekarang melirik Yamano dengan tatapan tajam.

Sepertinya dia mendengar percakapan kami. Aku bisa merasakan tekanan "jangan ngomong sembarangan".

"Aku kena marah," kata Yamano sambil terkikik tanpa merasa bersalah.

Sambil berbincang seperti itu, tanpa terasa kami sudah sampai di depan stasiun.

"Sudah-sudah, cukup bertengkarnya. Aku pulang dulu ya."

Reita menengahi Uta dan Miori, lalu naik ke sepedanya.

"Kalian naik kereta kan? Kalau begitu aku juga turun di sini!"

Uta mengeluarkan lidah ke arah Miori sambil bilang "bleh", lalu pergi.

"Ya ampun…" Miori menghela napas, tapi bibirnya tersenyum.

Kalau percaya kata Serika, sepertinya hubungan mereka justru semakin dekat.

"Ngomong-ngomong, Mei ke mana?"

"Kok tiba-tiba hilang ya?"

"Tadi sudah pulang duluan. Kayaknya."

"Err… Aku sebenarnya masih di sini kok…"



Previous Chapter | ToC

Post a Comment

Post a Comment

close