Kata Penutup
Ketika mendengar
kata “masa muda”, yang pertama kali terbayang di benakku bukanlah kisah cinta
yang manis dan getir, melainkan hari-hari di mana aku tertawa bersama
teman-teman karena hal-hal yang benar-benar konyol.
Keinginan untuk
menggambarkan bentuk masa muda seperti itu dalam sebuah light novel menjadi
salah satu alasan utama lahirnya cerita ini.
Begitulah, lama
tak jumpa. Aku Amamiya Kazuki.
Volume kali ini
adalah cerita Shirotori Reita. Mengikuti volume sebelumnya yang cukup berat di
awal, aku rasa mulai pertengahan cerita hingga akhir kami berhasil menyajikan
bagian yang jauh lebih ringan dan menyenangkan.
Entah masih ada
yang ingat kata penutup di volume sebelumnya, saat itu aku menulis tentang
kegelisahanku mengenai masa depan. Aku yang memiliki pekerjaan utama yang tidak
ada hubungannya dengan menulis dan menjalani hari sebagai penulis sambilan —
intinya, waktu selalu kurang.
Untuk laporannya,
saat ini saat aku menulis kata penutup volume 7, aku sudah mengundurkan diri
dari perusahaan tempatku bekerja dulu dan kini menjadi penulis novel serta
penulis skenario penuh waktu. Berkat itu, aku sekarang memiliki sedikit lebih
banyak ruang dalam keseharian dan bisa meluangkan waktu untuk input yang lebih
banyak.
Alasan utama aku
memutuskan untuk resign adalah karena periode sibuk tahun ini jauh lebih berat
dari biasanya, hingga aku hampir tidak sempat menulis sama sekali. Di tengah
kesibukan yang membuat kepala pusing, di hari-hari di mana aku bahkan tidak
bisa menyentuh novel, aku kembali memikirkan apa yang sebenarnya paling ingin
aku lakukan.
Dulu aku tidak
berani menjadi penulis penuh waktu karena tidak yakin bisa menghidupi diri
hanya dari novel dan skenario game. Tapi setelah kurang lebih tujuh tahun
berkecimpung di dunia penulisan, aku mulai memiliki kepercayaan diri terhadap
kemampuanku. Prestasi dan koneksiku juga bertambah, sehingga banyak orang yang
mulai memberiku tawaran pekerjaan.
Dalam proses itu,
banyak tawaran pekerjaan yang terpaksa kutolak hanya karena “ingin sekali, tapi
jadwal tidak memungkinkan karena masih sambilan”.
Suatu saat aku
tersadar. Tanpa terasa, prioritas utamaku sudah bergeser hanya untuk menjaga
kestabilan hidup. Selama tujuh tahun ini, banyak orang bilang bahwa hidup hanya
dari dunia tulis-menulis itu sulit. Aku setuju itu fakta. Memang di beberapa
tahun pertama setelah debut, penghasilanku dari menulis belum cukup untuk
hidup. Bahkan setelah beberapa tahun lagi dan penghasilanku sudah lumayan,
tanpa sadar aku hanya memandang realitas semata.
Apakah hidup yang
hanya memikirkan kestabilan dan tidak lagi bermimpi itu memiliki nilai?
Dengan pertanyaan
itu, aku memutuskan untuk hidup tanpa meninggalkan penyesalan di masa sekarang.
Karena seperti
Haibara Natsuki, kita tidak bisa kembali ke masa lalu yang penuh penyesalan.
Tentu saja ada
rasa khawatir, tapi saat ini yang lebih besar adalah perasaan excited.
Setelah menjadi
penulis penuh waktu, waktu yang bisa kugunakan untuk membuat cerita bertambah
jauh lebih banyak.
Berkat
itu, sekarang aku sedang mempersiapkan banyak hal. Saat karya-karya itu nanti
dirilis, aku akan mempromosikannya lewat akun X dan lainnya, jadi kalau
tertarik, silakan tunggu ya.
Mari masuk ke
ucapan terima kasih.
Untuk editor-ku, N-san. Sekali lagi maaf karena progres yang
seolah-olah konsep deadline sudah hilang… Setiap kali selalu merepotkan.
Untuk ilustrator Gin-san, terima kasih banyak atas ilustrasi
yang luar biasa lagi kali ini. Hikari yang sedang kencan itu… terlalu imut.
Dan untuk semua pihak yang terlibat dalam buku ini, terima
kasih banyak atas segala usahanya.
Jika cerita ini sedikit saja bisa menyentuh hati Anda, itu
sudah menjadi kebahagiaan terbesar bagi penulis.
Sekian untuk kali ini.
Aku menantikan bisa bertemu lagi di volume selanjutnya atau
di seri lainnya.
Uwooo~! Aku akan buat banyak cerita yang seru!
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Setelah Latihan Klub Selesai
"Hari ini
kita akhiri sampai sini yuk."
Serika
berkata sambil melirik jam.
"Wah, sudah jam delapan lebih ternyata."
Mei
berseru kaget. Aku juga merasakan hal yang sama. Kami terlalu larut dalam
latihan.
"Aku
juga harus pulang nih, nanti dimarahin ibu~"
Yamano
memutar-mutar stik drumnya sambil mengeluh dengan wajah malas.
"Kalau
begitu, ayo cepat membereskan barang."
Begitu
aku mengatakan itu, semua orang langsung bergerak.
Studio
ini disewakan per jam, jadi semakin cepat kami keluar, semakin murah biayanya.
Untungnya,
pada malam hari biasa jarang ada yang menyewa, jadi akhir-akhir ini studio ini
hampir selalu kami kuasai. Lagipula harganya cukup terjangkau. Karena semua
orang kecuali Yamano punya pekerjaan paruh waktu, kami bisa membayarnya dengan
mudah. Ini salah satu keuntungan tinggal di daerah pinggiran. Kalau di studio
kota besar, pasti tidak semudah ini.
"Uu,
dingin sekali~"
Begitu
keluar, udara dingin yang menusuk langsung menyambut kami. Mei menggigil hebat.
"Hari
ini memang lebih dingin dari biasanya."
Saat aku
dan Mei hendak berjalan, Yamano memanggil kami dengan nada heran.
"Senpai,
kalian mau ke mana? Stasiunnya ke arah sini lho?"
"Eh,
iya ya? Aku masih belum terbiasa."
Kami baru
menemukan studio ini dan mulai latihan lagi baru-baru ini.
Lokasinya
sekitar lima menit berjalan kaki dari Stasiun Maebashi, dan hampir sama jauhnya
dari sekolah. Jika menghubungkan stasiun, sekolah, dan studio, posisinya
membentuk segitiga sama sisi. Meski agak tua, fasilitasnya cukup lengkap.
"Eh?
Natsuki?"
Dalam
perjalanan menuju stasiun, seseorang memanggilku.
Gelap
jadi aku tidak bisa melihat jelas, tapi dari suaranya aku langsung tahu itu
Uta.
"Yahoo~!
Kalian juga baru pulang dari klub?"
"Begitulah.
Kalian kok ramai sekali?"
Uta
mendekat dengan sikap ramah, ditemani Miori dan Reita.
Uta dan
Miori berjalan kaki, sementara Reita mendorong sepedanya.
"Kebetulan
latihan klub basket cewek selesai barengan sama kami."
"By
the way, Tatsuya langsung pulang naik sepeda. Cuek banget sih~"
"Bukannya
kamu juga biasanya naik sepeda, Uta?"
"Akhir-akhir
ini aku jalan kaki! Soalnya pulang bareng Miorin."
Rumahnya kan
nggak terlalu jauh, kata Uta.
"Aku sudah
bilang nggak apa-apa kok. Tapi dari stasiun ke rumah Uta itu agak
memutar."
Miori
mengangkat bahu dengan wajah malas.
"Ah!
Jadi Miorin nggak mau pulang bareng aku!?"
"Kita
kan sudah banyak ngobrol di klub, itu sudah cukup kan?"
"Belum
cukup! Kamu di klub jarang banget ngobrol! Dasar sok jagoan!"
"Ja-jagoan!?
Aku nggak gitu kok! Aku cuma lagi fokus latihan!"
Melihat
Uta dan Miori saling menggerutu, aku bergumam pelan.
"…Kok
akhir-akhir ini mereka sering sekali bertengkar ya?"
"Karena Uta
sudah nggak sungkan lagi sama Miori. Berkat kasus hilangnya itu."
"Apaan sih
itu…? Maksudnya hasilnya malah bagus gitu?"
Apakah situasi
sekarang ini bisa dibilang berhasil?
"Hujan deras
membuat tanah semakin padat. …Ternyata mataku memang tidak salah."
Serika
mengangguk-angguk sambil bersedekap. Kamu ini sebenarnya di pihak mana sih?
"Miori-senpai
kelihatan agak berubah ya."
Yamano
yang dari tadi hanya memandang dengan melongo berkomentar.
"Dulu
dia lebih suka membuat tembok dengan orang lain."
"Dia
kan tipe yang suka berpura-pura kuat."
"Yang
bikin dia berpura-pura itu malah bilang begitu."
Kata-kata Yamano
yang santai itu menusuk hatiku.
Sudah, cukup.
Hatiku ini rapuh seperti kaca.
Miori
yang tadi bertengkar dengan Uta sekarang melirik Yamano dengan tatapan tajam.
Sepertinya
dia mendengar percakapan kami. Aku bisa merasakan tekanan "jangan ngomong
sembarangan".
"Aku
kena marah," kata Yamano sambil terkikik tanpa merasa bersalah.
Sambil
berbincang seperti itu, tanpa terasa kami sudah sampai di depan stasiun.
"Sudah-sudah,
cukup bertengkarnya. Aku pulang dulu ya."
Reita
menengahi Uta dan Miori, lalu naik ke sepedanya.
"Kalian
naik kereta kan? Kalau begitu aku juga turun di sini!"
Uta
mengeluarkan lidah ke arah Miori sambil bilang "bleh", lalu pergi.
"Ya
ampun…" Miori menghela napas, tapi bibirnya tersenyum.
Kalau percaya
kata Serika, sepertinya hubungan mereka justru semakin dekat.
"Ngomong-ngomong, Mei ke mana?"
"Kok tiba-tiba hilang ya?"
"Tadi sudah pulang duluan. Kayaknya."
"Err… Aku sebenarnya masih di sini kok…"



Post a Comment