Chapter 2
Pembentukan Band
Hari Minggu. Aku
dipanggil oleh Serika dan kini sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Meskipun
hari masih pagi, tampaknya latihan band akan dimulai hari ini.
Saat
berada di dalam kereta, aku membaca ulang obrolan RINE. Grup RINE khusus
kegiatan band itu dibuat oleh Serika tak lama setelah aku mengajak
Shinohara-kun kemarin.
Namanya
adalah "Band-ku". Bukankah itu band-mu sendiri? Ya memang itu
band-mu. Meskipun ini hanya nama sementara, bukankah seharusnya ada nama yang
lebih baik...?
Jika boleh dibilang, itu memang sangat khas Serika.
"Besok jam sembilan, kumpul di ruang musik dua,"
tulis Hondo Serika.
"Kita bakal latihan?" tanya Natsuki.
"Aku kirim
partiturnya ya. Ayo coba mainkan ini. Hafalkan sebelum besok," tulis Hondo
Serika.
"Kamu iblis
ya?" tanya Natsuki.
"Nanti juga
bisa kok," tulis Hondo Serika.
"Ini lagu
buatanmu?" tanya Iwano.
"Iya. Lagu
paling percaya diri yang pernah kubuat seumur hidup," tulis Hondo Serika.
"Maaf ya,
aku cuma paham kalau pakai Tab," tulis Natsuki.
"Oke, aku
kirim itu juga," tulis Hondo Serika.
"Apakah izin
penggunaan ruang musik dua saat libur sudah diurus?" tulis Shinohara @
Pecinta Anime.
"Selain
Natsuki, semua member klub musik ringan, jadi nggak masalah kan?" tulis
Hondo Serika.
"Nanti aku
coba konfirmasi ke pembina," tulis Shinohara @ Pecinta Anime.
"Bukankah
lebih cepat kalau Haibara masuk ke klubnya saja?" tulis Iwano.
"Benar juga.
Besok, ayo kita urus pendaftarannya sekalian," tulis Hondo Serika.
"Itu sih
boleh saja, tapi apa nggak perlu konfirmasi ke ketua atau semacamnya?"
tulis Natsuki.
"Biar aku
saja yang minta izin," tulis Iwano.
"Mungkin ada
baiknya kita menyapa anggota lain nanti. Akan kuperkenalkan," tulis Hondo
Serika.
"Apa itu
perlu? Klub musik ringan kita pada dasarnya bergerak per band, jadi paling kita
cuma berhubungan dengan band lain saat mengatur jadwal pemakaian ruang,"
tulis Iwano.
"Hanya
Senior Iwano yang berpikir begitu, tahu? Selain Senior, yang lain akrab
kok," tulis Hondo Serika.
"Begitu ya......" tulis Iwano.
"Hei, jangan mencincang orang dengan pisau kata-kata
begitu," tulis Natsuki.
"Aku sendiri bahkan keberadaannya tidak diingat siapa
pun, jadi tidak apa-apa," tulis Shinohara @ Pecinta Anime.
"Di bagian mananya yang bisa dibilang tidak
apa-apa...?" tulis Natsuki.
Percakapan
seperti itu tercatat di layar obrolan. Setidaknya, terlihat kalau mereka akur
(?), itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak suka suasana yang canggung.
Aku sudah
berusaha keras menghafal kord lagu yang dikirim Serika kemarin, tapi waktunya
masih kurang. Aku sudah cukup menguasai bagian intro dan verse,
tapi bagian chorus-nya masih meragukan.
Sepertinya
bagianku memang sengaja dibuat mudah olehnya. Tingkat kesulitannya jelas berbeda dibanding
bagian Serika. Banyak Power Chord dan pengulangan Riff yang
sederhana.
"Huah......"
Aku
kurang tidur karena berlatih sampai larut malam. Sejak mengulang hidup, aku
belum pernah pergi ke sekolah di hari libur. Ini pertama kalinya sejak hidup di loop
pertama saat aku masuk klub basket.
Aku tiba di
Stasiun Maebashi dan menyusuri jalanan sekolah. Rasanya segar sekali. Padahal
biasanya jalanan ini dipenuhi siswa, tapi sekarang kosong melompong. Keheningan
yang damai ini terasa begitu nyaman.
Saat sedang
berpikir begitu, tiba-tiba tangan seseorang terulur dari belakang dan menutupi
mataku hingga gelap gulita.
"Siapa
ini?"
"Orang yang
melakukan hal seperti itu cuma Serika, kan?"
Lagipula aku tahu
dari suaranya. Aku mencengkeram lengan kurus Serika dan melepaskan tangannya
dari wajahku.
Saat berbalik,
wajah rupawan Serika berada di jarak yang lebih dekat dari yang kuduga. Aroma
parfumnya tercium lembut. Serika terkekeh pelan.
"Jangan
terpesona, ya. Natsuki kan sudah punya Hikari-chan dan Uta."
"......Berisik.
Aku tahu."
Inilah mengapa
aku tidak suka orang yang sadar akan wajah rupawannya...
"Kenapa nada
bicaramu rendah sekali? Padahal cerita kita baru saja dimulai."
Serika
berkata sambil melakukan gerakan shadow boxing yang aneh. Sedang apa dia?
"Serika
bersemangat sekali ya?"
"Tentu saja.
Kemarin aku tidur sepuluh jam."
"Bukankah
itu terlalu banyak tidur?"
"Gadis yang
banyak tidur akan tumbuh besar. Baik tinggi badan maupun dadanya. Aku percaya
itu."
"......Itu
bukan hal yang seharusnya dibicarakan dengan pria, kan?"
Lagipula,
ingatanku saat melihat Serika di pantai, dia cukup... tidak, mari berhenti
memikirkannya. Saat Serika memiringkan kepala, dia pasti bicara tanpa berpikir
panjang.
Saat aku menghela
napas, Serika melontarkan pertanyaan yang keterlaluan.
"Natsuki
lebih suka yang besar atau yang kecil?"
"Hah!?"
Detik itu juga,
bayangan Hoshimiya dan Uta melintas di benakku. "H-hentikan aku! Jangan berpikir
macam-macam! Memikirkan hal
itu di saat seperti ini sungguh salah!"
"Yang
mana?"
"Ya
tidak ada! Aku tidak punya preferensi seperti itu!"
Saat aku
menggelengkan kepala dengan kuat, Serika menatapku dengan curiga.
"Begitukah?"
Ya,
begitulah. Kalau dipaksa menjawab, bukankah kita akan menyukai ukuran dari
orang yang kita cintai?
"Tapi
tetap saja, bukankah yang besar lebih baik? Terasa empuk dan nyaman."
Permisi. Bisakah
kamu tidak memberikan informasi tambahan pada seorang perawan tua seperti
diriku? Berurusan dengan Serika benar-benar menguras tenaga, terutama untuk
menyembunyikan isi hatiku yang panik ini.
"......Entahlah.
Yang kecil juga punya daya tariknya sendiri, kan?"
Misalnya, fakta
bahwa mereka malu dengan ukuran dadanya yang kecil itu lucu... Entah kenapa,
pemandangan itu terbayang dengan sangat jelas di kepalaku. Modelnya pun sudah
terpampang nyata. "Sudah kubilang berhenti memikirkannya, diriku!"
"Hmm,
begitu ya."
"......Yah,
ukuran dada bukan penentu segalanya."
Namun
biasanya, yang besar tetap lebih unggul (apakah ini merusak suasana?).
Saat aku
sedang berdebat hal tak penting dengan Serika sambil menuju ruang musik dua,
sebuah suara ragu-ragu terdengar dari arah belakang.
"E-ehm...... selamat pagi......"
Aku terkejut dan berbalik, ternyata Shinohara-kun sudah
berjalan tepat di samping kami tanpa kusadari.
"O-oh, pagi...... sejak kapan kamu di sana?"
"Sudah
sekitar sepuluh menit......"
"Sepuluh
menit yang lalu!?"
"Maaf. Aku
ragu apakah harus menyapa atau tidak......"
"......Sepuluh
menit?"
"Biasanya,
kalau aku menyapa saat orang tidak sadar, mereka akan terkejut......"
Shinohara-kun tertawa getir. Wajahnya pucat sekali, bukan?
"Sampai ada
orang se-transparan itu ya......" Serika berkomentar dengan nada agak menjauh.
Hei, jangan bicara setajam itu!
Namun,
memang jarang sekali ada orang yang keberadaannya setipis Shinohara-kun.
"Itu satu-satunya keahlianku...... meskipun aku tidak
menginginkannya. Haha......"
Memang benar, kami para penyendiri memiliki kemampuan untuk
menghilangkan keberadaan diri sendiri. Tapi, aku merasa levelku dan
Shinohara-kun berbeda. Aku bisa merasakan perbedaan bakat dalam hal kesuraman.
"Lagipula, topiknya tadi...... agak sulit untuk masuk
ke pembicaraan......"
"Aku ingatkan ya, tadi itu Serika saja yang tiba-tiba
mengungkit topik itu."
Shinohara-kun
mengangguk seolah mengerti, lalu berbisik agar tidak didengar Serika.
"......D-di depan perempuan, memang harus bicara seperti itu, ya. Aku
paham."
Sebenarnya,
kamu tidak perlu memahaminya.
Saat aku
sedang dalam suasana hati yang canggung, kami sampai di depan ruang musik dua.
"Kalian
berdua bicara apa sih? Ternyata akrab juga ya?"
"A-ah,
tidak. Sama sekali tidak seperti itu......"
Bukankah
penolakannya terlalu cepat?
Karena aku juga
pernah menjadi penyendiri, aku memahami pikirannya—"Kalau sampai dianggap
akrab denganku, itu mungkin akan menyusahkan Haibara-kun"—sehingga aku
tidak tersinggung. Aku bisa membacanya, aku bisa membaca pikiran Shinohara-kun!
Yah, meski bisa
membacanya, aku tidak tahu cara meresponsnya. Tidak ada orang yang bisa diajak
bicara saat aku masih seperti dia dulu, jadi tidak ada referensi. Diriku di
masa lalu, kamu terlalu hebat......
Saat kami sedang
kacau begitu, pintu ruang musik dua terbuka tiba-tiba.
"Cepat masuk
dan bersiap. Tidak banyak waktu tersisa sampai festival sekolah."
Senior Iwano
berdiri dengan tangan bersedekap, memasang wajah keras seperti batu karang.
"M-maaf......"
Shinohara-kun
gemetar ketakutan dengan wajah hampir menangis.
*
Tan, tan, don,
jyaaan. Ben-ben-ben.
Jaran, kiiin.
Di dalam
ruang musik dua yang telah menjadi markas kami, suara instrumen masing-masing
pun bergema.
Melakukan
tuning dan penyesuaian. Berdialog dengan instrumen sendiri. Aku pun
melakukan Tuning sebelum menyesuaikan volume suaraku.
Berapa
volume yang pas? Karena aku belum pernah bermain musik bersama orang lain, aku
benar-benar tidak paham.
"Natsuki,
kecilkan volumenya. Shinohara-kun, posisi berdirimu sepertinya terlalu
jauh."
Mengikuti
instruksi Serika, aku pun mengatur suara pada amp dan effector.
Ternyata hal ini cukup sulit dilakukan. Pada akhirnya, hampir semuanya
dilakukan oleh Guru Serika.
Selain itu, aku
tidak hanya memikirkan gitar. Ada terlalu banyak hal yang harus kupikirkan.
"Ah, a-a. Apakah segini cukup?"
Serika mengeluarkan suara ke arah mikrofon yang entah dicuri
dari mana (?) dari ruang klub musik ringan. Sambil menyesuaikan posisi tiang
mikrofon dan memastikan kondisi tenggorokanku,
"Oke. Kedengarannya bagus."
Serika
membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Kondisi tenggorokanku
tidak buruk. Namun, menggunakan mikrofon di luar tempat karaoke adalah
pengalaman yang segar.
Tepat saat semua
orang selesai bersiap, Serika bertanya padaku.
"Natsuki,
bisa menyanyi?"
"Untuk saat
ini, aku sudah menghafal liriknya. Meski ada bagian yang masih
samar-samar."
"Hebat juga
kamu menghafalnya dalam sehari. Padahal lagunya penuh bahasa Inggris."
"Kalau kamu
tahu itu sulit, bisa tidak berhenti memberikan permintaan mustahil seperti
menghafal dalam sehari?"
Aku saja
sudah setengah mati menghafal progresi kord gitarnya!
"Ini
laguku, jadi awalnya aku yang akan menyanyi. Kamu boleh mengaransemennya, tapi
jadikan itu sebagai contoh."
"Mengerti."
Aku
menjauh dari tiang mikrofon, lalu Serika berdiri di posisi tersebut. Yah, dari Tab
aku bisa menangkap nada dasarnya, tapi karena belum mendengar lagu aslinya,
cara menyanyi yang diinginkan Serika mungkin akan berbeda. Ada contoh yang bisa
diikuti sangatlah membantu.
"Kalau
begitu, mulai dari intro ya. Kita mulai dengan hitungan empat."
Waduh, ini bukan
saatnya merasa tenang. Aku harus fokus karena aku masih amatir.
Satu, dua, tiga,
empat; stik drum mengetuk ritme, dan intro dimulai dengan alunan arpeggio
Serika yang terasa seperti melayang dalam lamunan. Seolah mendukung alur yang
santai, drum Senior Iwano mengetuk ketukan yang tenang.
Bass yang dimainkan Shinohara-kun secara
diam-diam berdentum berat seolah menghentak bumi, membentuk melodi yang modis
dan enak didengar.
Setelah satu bar
masuk, Senior Iwano memukul hi-hat dengan keras di bar kedua. Saat intensitas drum tiba-tiba
meningkat, Serika menggenjreng gitarnya dengan penuh tenaga.
Suasana
lagu berubah total; sapuan gitar yang seolah merobek udara mengubah komposisi
lagu menjadi sangat tajam.
Solo
gitar Serika berakhir—dan di sinilah saatnya. Gitar ritmeku bergabung ke dalam
lagu. Mengikuti ketukan drum, aku melakukan strumming secara mekanis.
Karena tidak ada kord sulit di bagianku, seharusnya aku tidak akan melakukan
kesalahan jika fokus... seharusnya.
Saat mataku
tertuju pada gitar, tanpa sadar sudah waktunya vokal masuk. Namun, kali ini
bukan aku yang bernyanyi. Suara Serika yang agak serak meluncur di atas musik.
Verse pertama hanyalah pengulangan riff
sederhana. Ritme akurat dari Senior Iwano sangat bisa diandalkan. Low-end dari bass Shinohara-kun
juga terasa seperti mendukungku dari balik bayang-bayang.
Meskipun
aku melakukan kesalahan beberapa kali, dua orang di bagian ritme tidak goyah
sedikit pun. Justru karena itulah vokal Serika bisa masuk ke bagian chorus
di saat yang sempurna.
Setelah
menginjak pedal effector, Serika menggenjreng gitarnya, membuat lagu
yang tadinya datar menjadi penuh warna. Lalu, suara Serika yang hampir seperti
teriakan menambah kemeriahan pada bagian chorus yang megah.
Luar biasa,
pikirku. Jadi ini Serika. Meski aku awam dalam sebuah band, aku bisa melihatnya
dengan jelas. Tentu saja, Senior Iwano dan Shinohara-kun juga sangat mahir.
Tidak bisa dibandingkan denganku.
Akan tetapi,
setiap suara yang ditenun oleh Serika memiliki kilauan yang berbeda dari kami.
Ah, mudah dipahami. Aku pun mengerti jalan untuk membuat lagu ini menjadi
bagus. Serika adalah cahaya dalam lagu ini. Suara Serika dan gitar Serika
menentukan nilai lagu ini.
Kami bertiga
adalah bayangan. Kami hanya perlu mendukung agar cahaya Serika semakin
menonjol. Tanpa perlu bertukar kata, tujuan kami bertiga selaras. Perubahan
suara yang keluar dari instrumen masing-masing adalah jawaban kami.
Riff gitar Serika yang memercikkan api
beterbangan di atas fondasi suara yang kami buat. Bagian chorus terakhir
berubah menuju klimaks yang dramatis. Suara serak Serika menggema dengan penuh
semangat namun terasa agak sedih, dan bersamaan dengan Serika yang menggenjreng
gitar dengan liar, Senior Iwano mengayunkan simbal untuk mengakhiri lagu.
Tetesan keringat
jatuh ke gitar, dan barulah aku sadar bahwa aku sudah mengeluarkan banyak
sekali keringat. Aku sangat fokus. Aku rasa itu adalah penampilan yang bagus.
Ada beberapa kesalahan, tapi bukankah itu hasil yang cukup baik untuk pertama
kalinya?
Lagipula, ada hal
yang tidak bisa kupahami saat latihan kemarin hanya dengan melihat Tab.
Sekarang setelah aku memahami gambaran besarnya, mungkin aku bisa bermain lebih
baik lagi.
"Itu tadi
'Black Witch'. Lagu pertama yang kubuat dalam hidupku."
"......Lagu
yang keren sekali. Kamu yang membuat lagu seperti ini, Serika......"
"Iya. Cukup
bagus, kan? Aku juga menyukainya."
Haruskah kusebut
ini guitar rock yang kental? Lagunya sangat menonjolkan gitar, sejajar dengan vokal. Band
sound yang berat dan intens, condong ke melocore. Chorus yang
terasa seperti berlari kencang. Sejujurnya, aku tidak akan terkejut jika ada
yang bilang lagu ini dibuat oleh komposer profesional.
"Aku senang
kalau kalian semua juga menyukainya."
Saat aku
mengangkat pandangan dari gitar di tangan, senyum tipis terukir di bibir
Shinohara-kun.
"......L-lagu
yang bagus. Ini luar biasa."
Aku dan
Shinohara-kun yang tampak bersemangat saling mengangguk.
"Aku
ingin merekam ini dan mendengarkannya dari luar. Pasti keren sekali."
"Oh iya,
kita lupa merekamnya. Lain kali aku akan melakukannya dengan ponselku
sendiri."
Menanggapi kami,
Senior Iwano dan Serika tetap tenang.
"Aku pernah
mendengarnya. Aku pernah mendengarnya saat kamu membentuk band
sebelumnya."
"Ah, benar juga. Hal itu pernah terjadi, ya."
"Hondo. Dari
sudut pandangmu, berapa skor sesi kita tadi?"
"Hmm, yah...... kalau mempertimbangkan ini pertama
kalinya kita main bersama...... tiga puluh poin?"
Evaluasi Serika
cukup mengejutkan.
"Apa
serendah itu?"
"Kalau
idealku adalah seratus poin, ya. Semuanya, kalian terlalu sungkan padaku."
"......Eh,
aku tidak merasa sungkan..."
Shinohara-kun
berkata dengan hati-hati sambil mengalihkan pandangan.
"Hanya
saja, menurutku lagu akan terdengar lebih bagus jika aku mengikuti
Hondo-san..."
"......Aku
tidak terlalu menyukai pola pikir itu."
Serika
bergumam pelan, membuat Shinohara-kun gemetar hebat.
"Shinohara-kun,
bass-mu mahir, tahu. Aku kaget. Jadi, tolong main dengan lebih
sungguh-sungguh."
"B-baik......
aku akan berusaha."
"Senior
Iwano juga. Drum senior yang membuatku jatuh hati bukanlah yang terasa
datar seperti tadi."
"......Ah,
aku mengerti."
Mendengar
kata-kata tajam Serika, Senior Iwano mengangguk berat. Kemudian Serika bertepuk
tangan dua kali, mengubah suasana.
"Nah,
sudah paham lagunya, kan? Selanjutnya, Natsuki yang menyanyi. Dari sinilah
pertunjukan yang sebenarnya dimulai."
"Itu sih
tidak masalah, tapi...... bagaimana denganku? Tidak ada komentar?"
Saat aku
bertanya, Serika memberikan senyum pahit yang jarang ia tunjukkan, tampak
sedikit bingung.
"Natsuki...... tetap seperti sekarang saja tidak
apa-apa. Mari berusaha mulai dari
sekarang."
Ah......
mungkinkah aku belum berada di level yang pantas dikomentari!? Sebelum aku bisa
tenggelam dalam rasa sedih, Serika memindahkan tiang mikrofon ke depanku.
"Temponya
mungkin agak lambat di bagian intro."
"Dimengerti,"
jawab Senior Iwano, memulai lagu kembali dengan hitungan empat. Meskipun
seharusnya aku sudah lebih terbiasa daripada yang pertama kali, hasilnya tidak
semulus itu.
Masalahnya
ada setelah vokal masuk. Bernyanyi sambil memainkan gitar. Jika fokus pada
nyanyian, kord-ku berantakan. Jika fokus pada gitar, nada dan volume suaraku
tidak stabil.
Tentu saja aku
tahu itu sulit, tapi...... sampai separah inikah? Keringat yang mengalir tanpa
kusadari masuk ke mata, membuat pandanganku kabur.
Karena aku salah
waktu masuk ke bagian chorus, Shinohara-kun sedikit mengubah ritmenya
menjadi lebih berat, sementara Senior Iwano tetap memukul ritme awal dengan
akurat. Terjadi ketidakselarasan antara bass dan drum. Hal itu
juga membuat waktu melodi yang dimainkan Serika jadi berantakan. Ritme yang
tidak sinkron mengubah lagu yang seharusnya indah menjadi disonan. Tiba-tiba,
jemariku tidak bisa digerakkan.
"Berhenti
sebentar. Terlalu banyak ketidaksinkronan."
Serika mengangkat satu tangan, menghentikan permainan semua
orang. ......Ini salahku. Aku yang menghambat band ini. Dengan keadaan seperti
ini, apakah aku benar-benar bisa menjadi wajah band sebagai guitar vocal?
"Shinohara-kun, aku ingin kamu lebih sering mengangkat
wajah. Ada hal yang bisa disampaikan melalui mata."
"Benar juga.
Kita harus menyelaraskan ritmenya sedikit lagi."
"Ah......
m-maaf."
Shinohara-kun
menundukkan kepala berulang kali. Selanjutnya, Serika menatapku. Apa yang akan
dia katakan? ......Memang tidak aneh jika dia bilang mengundangku ke band ini
adalah sebuah kesalahan. Hanya aku yang levelnya jelas tidak cocok.
"Natsuki,
bagus kok. Aku memang suka suara nyanyian Natsuki."
Namun,
Serika tersenyum dan memukul dadaku dengan punggung kepalan tangannya.
"Tadi itu?
Berantakan sekali, tahu?"
"Begitukah? Itu sudah cukup bagus. Ah, ritmenya berantakan bukan salah Natsuki."
"......Ya,
tadi itu salahku..."
Shinohara-kun
terhuyung dengan mata berkaca-kaca. A-apa dia baik-baik saja...?
"Menyeimbangkan
gitar dan vokal itu masalah kebiasaan. Tidak bisa dihindari."
"......Sudah
terlambat untuk mengatakannya, tapi bukankah lebih baik kalau Serika saja yang
menyanyi?"
"Yah,
untuk sekarang memang begitu. Tapi aku punya ekspektasi tinggi pada
Natsuki."
......Ekspektasi,
ya. Begitu rupanya. Kami baru
saja mulai latihan. Masih terlalu dini untuk mengeluh.
"Kalau
kemampuan menyanyimu diambil, yang tersisa hanyalah gitar yang tidak seberapa
mahirnya."
"Uh, benar
juga ya..."
Satu kalimat
pedas dari Senior Iwano adalah fakta belaka. Jika aku berhenti menjadi vokalis, tidak
banyak arti bagiku berada di band ini. Justru lebih realistis jika aku berhenti
bermain gitar dan fokus sepenuhnya pada vokal. Beban Serika akan bertambah,
tapi dengan kemampuan Serika, seharusnya itu bukan masalah besar.
"T-tidak
perlu sampai berkata begitu...... bagaimanapun, dia jauh lebih mahir dariku..."
Shinohara-kun
membelaku, tapi itu tidak terlalu membuatku senang. Mungkin itu bukan
kerendahan hati yang berlebihan, melainkan penilaian diri yang sangat rendah.
Shinohara-kun adalah pemain bass yang hebat. Aku merasakannya sendiri
hari ini saat bermain bersama. Tidak perlu merendahkan diri sendiri seperti
itu.
"Bagaimanapun
juga, mari latihan. Ini belum saatnya untuk merasa bimbang."
Apa pun itu,
Serika benar.
"Ya."
"B-baik......!"
"Benar
juga."
Kami
saling mengangguk dan memulai permainan sekali lagi.
*
Langit
sudah benar-benar gelap. Meskipun kami latihan dari jam sembilan pagi, hari
sudah lewat jam tujuh malam. Waktu berlalu begitu cepat sampai-sampai aku
sempat meragukan apakah jam-nya rusak.
......Waktu
berlalu dalam sekejap, namun suara yang hampir habis adalah bukti durasi
latihan kami.
"Ah, a-a. Nnn... bagian akhirnya membuat nada tinggi
terasa sulit."
"Jaga tenggorokanmu baik-baik ya. Tapi hebat sekali kamu bisa menyanyi sampai
akhir."
Karena aku
belajar secara otodidak, aku rasa aku tahu cara menggunakan tenggorokan dengan
benar. Aku menggunakan diafragma agar tidak merusak tenggorokan. Namun, wajar
saja jika tenggorokan terasa serak setelah bernyanyi sekuat tenaga dalam durasi
yang begitu lama. Yah, dengan sensasi ini, aku yakin akan sembuh setelah tidur
semalam.
"Hah......"
Tanpa sadar, aku
mengembuskan napas panjang. Napas tak sengaja itu disadari oleh Serika yang
berjalan di sampingku.
"Ini baru
hari pertama, tahu. Kamu pikir kamu jenius?"
Serika membeli
air dari mesin penjual otomatis di depan gedung ruang klub, lalu melemparkannya
padaku. Aku memutar tutupnya dan meminumnya untuk membasahi tenggorokan yang
kering. Air adalah yang paling enak saat lelah.
"Aku tidak
berpikir begitu, hanya saja...... aku sedih kalau semuanya tidak berjalan
lancar."
"Bagiku ini
cukup segar. Natsuki kan selalu punya kesan bisa melakukan segalanya dengan
sempurna sejak pertama kali mencoba."
"Itu......
aku hanya mempersiapkannya dengan baik di tempat yang tidak terlihat."
"Ya, hari
ini aku sadar kalau kamu sebenarnya adalah pekerja keras."
"Itu pujian
atau bukan, ya? Garisnya tipis sekali..."
Saat aku
mengobrol dengan Serika seperti itu, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"H-Haibara-kun
sudah cukup mahir, kok. Aku rasa tidak perlu sesedih itu."
W-wah,
kaget......
Tanpa kusadari,
Shinohara-kun sudah berdiri di belakang kami. Bahkan Serika yang tenang pun terkejut sampai
mengangkat kedua tangannya dengan posisi yang aneh.
"......Aku
hampir menyemburkan tehku."
Jadi
Serika yang selalu tenang dan santai juga bisa terkejut, ya.
"M-maaf
sudah mengejutkanmu...... tapi, aku khawatir melihat Haibara-kun
bersedih."
Shinohara-kun,
orang baik ya...
"Mungkin
karena perbandingannya adalah Hondo-san, jadi kamu merasa tidak mahir."
"Ya. Natsuki
sudah cukup mahir, kok, dalam bermain gitar. Nanti juga akan membaik setelah
terbiasa melakukan keduanya sekaligus."
Yah, memang benar
bahwa warna suara gitar yang kumainkan tampak pudar karena Serika yang bermain
tepat di sampingku terlalu berkilau. Wajar jika aku tidak bisa dibandingkan
dengan Serika yang terus bermain selama ini sementara aku baru saja mulai
lagi... aku paham. Namun, aku ingin menjadi lebih mahir bermain gitar.
Hari itu. Karena
mengagumi Serika, aku ingin menjadi seperti dirinya.
"Lagipula,
aneh rasanya jika langsung bisa memainkan lagu sampai akhir pada percobaan
pertama...... Hondo-san dan Senior Iwano pun levelnya tidak seperti anak SMA.
Tidak ada gunanya membandingkan."
"Shinohara-kun
juga mahir, kan. Siapa
sangka pemain Bass sepertimu menganggur."
"Hahaha...... lagipula sepertinya aku tidak diakui
sebagai anggota klub musik ringan..."
Shinohara-kun
menunjukkan senyum kering dengan mata seperti ikan mati.
"Lagipula aku tidak mahir...... hari ini pun aku yang
mengacaukan ritmenya... apakah ada nilai keberadaan bagi pemain Bass
yang mengacaukan ritme...? Padahal sudah repot-repot diajak ke band..."
Melihat aura kelam yang menguar dari Shinohara-kun yang
bergumam, bahkan Serika pun tertekan.
"W-waktunya memang singkat, tapi jika bersama kita,
pasti akan bisa bermain dengan bagus."
Seperti kata
Serika, aku merasakan potensi di band ini. Setidaknya, tiga orang selain diriku memiliki
tingkat teknis yang tinggi. Oleh karena itu, aku ingin berlatih sendiri agar
bisa mengejar level mereka.
"......Omong-omong,
apakah aku lulus seleksi...?"
"Tentu saja
aku menyambutmu. Aku suka Bass-mu, Shinohara-kun. Karena mudah
dimainkan."
Benar, kesan
pertama yang kudapatkan dari Bass Shinohara-kun adalah "mudah
dimainkan". Ada sensasi seolah dia mendukung gitarku dari balik
bayang-bayang, dan terasa nyaman bermain bersama.
Kemudian, Serika
bertanya pada Shinohara-kun dengan suara yang serius.
"......Tapi,
kami berencana berlatih dengan sungguh-sungguh seperti hari ini, apa kamu tidak
apa-apa?"
Itu adalah
kata-kata yang menanyakan tekad. Hari ini kami berlatih dari pagi sampai malam.
Serika menyiratkan bahwa ini bukan hanya hari ini saja, tapi akan berlanjut
setiap hari sampai festival sekolah. Apakah dia bisa menahannya?
"——Tidak
apa-apa."
Shinohara-kun
mengangguk dengan tegas.
"S-saat
diajak oleh Hondo-san, aku sudah membulatkan tekad untuk melakukannya dengan
sungguh-sungguh."
Serika membeli
satu kaleng kopi lagi di mesin penjual otomatis, lalu melemparkannya ke
Shinohara-kun.
"Oke. Ini hadiah perayaan bergabung."
Shinohara-kun yang panik mengayunkan tangannya dan entah
bagaimana berhasil menangkap kaleng kopi tersebut. Shinohara-kun menghela napas
lega dan meminum kopi tersebut, namun langsung mengernyitkan wajah dan
menjulurkan lidah. Sepertinya dia
tidak suka kopi hitam. Tingkah lakunya menarik juga.
"Jadi, bolehkah kita anggap band ini sudah resmi
terbentuk?"
"Hahaha...... padahal Senior Iwano sudah pulang lebih
dulu..."
"Itu khas dia, kan. Band kita punya kebijakan untuk
menghargai kepribadian masing-masing."
"Pembentukan band tidak masalah, tapi bagaimana dengan
namanya?"
Saat
kutanyakan bagian fundamental tersebut, Serika mengerang, "Uuuuuh..."
"Masalah sulit ya...... aku ingin nama band yang
keren..."
"Antara membuat yang simpel, yang panjang, menggunakan
bahasa Inggris, atau Jepang, ya."
"Pasti harus
bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris lebih keren."
"B-benarkah?
Nama Jepang pun ada yang keren. Seperti Rinto Shite Shigure."
"Kalau nama
band rock Jepang, aku suka The Oral Cigarettes."
Saat kami sedang
asyik mengobrol, sebuah suara ceria menyapa kami.
"Eh?
Itu kan Natsu dan Seri!"
Suaranya
keras sampai menggema ke seluruh gedung ruang klub, jadi aku langsung tahu.
Sambil menyeka keringat dengan handuk, orang yang melambaikan tangan adalah Uta
yang baru selesai kegiatan klub.
Pakaian
latihan yang membalut tubuh kecilnya tampak imut. Pakaian latihan basket pada
dasarnya berbentuk longgar, tapi milik Uta tampak sangat kebesaran. Karena pakaian latihannya didominasi warna
hitam, itu pun memberikan kesan berbeda dari pakaian sehari-harinya. Secara
keseluruhan terlihat segar dan imut. Jujur saja, melihatnya basah karena
keringat itu juga... bagus.
Tidak,
tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh. Tenang, diriku.
"Jangan-jangan,
kalian latihan band?"
Uta
menyapa kami dan sedikit menunduk pada Shinohara-kun dengan berkata,
"Salam kenal~". Hebat, skill komunikasi tinggi memang beda. Di
sisi lain, Shinohara-kun bergumam, "D-dia... menyadari
keberadaanku...?" dengan tatapan terpaku. Terlalu percaya diri akan
keberadaannya yang tipis, ya.
"Iya. Baru
saja selesai."
"Wah, hebat
sekali kalian mau berusaha sampai jam segini."
"Uta juga
berusaha, kan? Latihannya sudah selesai, kan?"
"Iya.
Sekarang aku sedang latihan mandiri. Karena senior kelas tiga sudah pensiun, ini kesempatan untuk mengincar
posisi inti. Aku harus berusaha! Aku juga tidak mau kalah dari Miori!"
Uta menjelaskan
hal itu pada Serika sambil melirik ke arahku. Aku bisa merasakan kata-kata apa
yang diinginkan.
"Semangat
ya, Uta. Tendang Miori dari posisi inti."
Saat kukatakan
dengan nada bercanda, Uta tertawa bahagia. Dia berpose seperti memberi hormat
dan menunjukkan gigi putihnya sambil berkata, "Siap!"
Senyumnya sangat
menyilaukan. Yang paling indah di dunia ini.
"Sebentar
sebentar, apa-apaan kalian bicara seenaknya begitu?"
Miori
datang mendekati kami sambil mendribel bola basket. Karena dia menyeka keringat di lehernya dengan
baju, kulit putih dan pusarnya terlihat jelas. Garis pinggangnya yang indah
terpampang nyata. Tidak, aku tidak berpikir apa-apa, kok. Meskipun perilaku
Miori terkadang masih terlihat tomboi, menurutku ada hal-hal yang sudah
seharusnya dihentikan di usianya sekarang.
"Jarang
sekali kamu melakukan latihan mandiri."
"Yah......
aku terpikir untuk lebih berusaha sedikit lagi."
Miori dengus. Dia
tampak sedikit malu-malu. Mungkin kesadarannya terhadap kegiatan klub telah
berubah setelah kekacauan yang terjadi di musim hujan.
"Ngomong-ngomong, ternyata benar ya kalian berdua
memulai band."
"Kamu meragukannya?"
"Tentu saja, aku tidak percaya kamu mau nge-band."
Kalian
berdua sampai menggendong gitar, kata Miori sambil tertawa kecil.
"Aku
ingin mendengar permainan kalian."
"Kalau
kamu datang ke ruang musik dua, akan kami perdengarkan."
"Benarkah?
Kalau begitu, mungkin aku akan mampir kalau sedang luang."
"Tapi
mungkin Senior Iwano akan marah. Kalau kami sih tidak masalah."
"Kalau ada
senior yang seram, mungkin aku urungkan niatnya..."
Pembina tim
basket wanita yang menyadari kami sedang mengobrol menegur kami.
"Kalian yang
di sana. Sudah gelap, cepat pulang. Orang tuamu akan khawatir."
"Iyaaa,"
jawab kami semua.
Pembina tim
basket wanita bergumam, "Ya ampun, masa muda ya," lalu pergi. Siapa
dia sebenarnya.
Saat aku mengira
kami akan bubar, ujung bajuku ditarik.
"Natsu,
Seri, pulang bareng ya? Aku akan segera ganti baju, jadi tunggu sebentar!"
Uta
berlari kembali ke ruang klub. Miori mengangkat bahu, lalu mengikuti Uta dari
belakang.
Aku
disenggol oleh Serika di bagian samping.
"Gaya sekali
ya kamu?"
"......Berisik.
Tanpa kamu katakan pun aku sudah tahu."
"......Itu.
Aku permisi pulang duluan ya..."
Mumpung masih
sempat, aku mencengkeram bahu Shinohara-kun yang akan pergi.
"S-Shinohara-kun..."
"Jangan
berkata begitu, ayo pulang bareng. Ya?"
Perbedaan
antara tindakanku ini dengan perilakuku yang seperti orang supel yang dominan
terasa sangat aneh. Namun, jika Shinohara-kun kabur sekarang, rasio gender
dalam perjalanan pulang akan menjadi sangat tidak seimbang. Aku tidak mau
sendirian dengan para gadis lagi.
"T-tapi,
kupikir kehadiranku hanya akan mengganggu..."
"Tidak sama
sekali. Aku senang bicara dengan Shinohara-kun."
"......Eh?
Benarkah? A-aku baru pertama kali mendengarnya seumur hidupku."
Shinohara-kun
terharu sampai matanya berkaca-kaca. Rasa bersalahnya luar biasa. Tidak, aku
tidak bermaksud berbohong, kok. Aku merasa simpati karena dia mirip dengan
diriku yang dulu, dan lagi tingkah lakunya menarik...
"Musik apa
yang kamu sukai, Shinohara-kun?"
Sambil menunggu
Uta dan yang lainnya kembali, aku bertanya karena penasaran.
"......Kalau
harus memilih, aku suka alternative atau punk rock. Sesuatu yang
menyuarakan keluh kesah kaum muda terhadap masyarakat, sesuatu yang,
katakanlah, menantang dunia, atau mencoba meninggalkan jejak... ada semangat di
sana, musik seperti itulah, aku menyukai rock yang seperti itu."
"Itu bagus,
Shinohara-kun."
Aku tertawa tanpa
sadar.
"Tidak, itu,
maaf, tiba-tiba bercerita panjang lebar..."
Aku paham karena
aku juga seorang otaku, jadi aku tahu bagaimana rasanya tidak bisa berhenti
bicara jika membahas hal yang disukai.
Aku senang bisa
mendengar isi hati Shinohara-kun. Mungkin saja dia sudah sedikit membuka hati.
Karena aku pikir
bagi Shinohara-kun, diriku yang sekarang adalah sosok yang sulit untuk diajak
berinteraksi, jadi aku sempat khawatir apakah kami bisa akur. Namun, musik
menghubungkan kami.
"Band
favorit?"
Terhadap
pertanyaan singkat Serika, Shinohara-kun menjawab tanpa ragu, sesuatu yang
jarang terjadi.
"Sonic
Youth."
"Terbaik."
Serika mengangkat
satu tangan, namun Shinohara-kun memiringkan kepalanya.
"Lihat,"
kataku sambil meraih tangan Shinohara-kun dan mengangkatnya.
Serika menepuk
tangan Shinohara-kun. Terdengar
suara tepukan tangan yang memuaskan.
Shinohara-kun
menatap tangannya sendiri dengan serius. Ini adalah wajah orang yang baru
pertama kali melakukan high-five.
"A-aku
menyentuh tangan perempuan..."
"Eh, apa
maksud komentar itu. Menjijikkan..."
"Maaf,
menjijikkan ya, aku tidak bermaksud mengucapkannya, maaf..."
Sambil mengobrol
seperti itu, Uta dan Miori yang sudah berganti seragam kembali.
"Oke. Ayo
pulang! Hari ini melelahkan sekali."
"Nada
bicaramu tidak terdengar sedang lelah, tuh."
Miori
bergumam.
"Kamu
pasti senang karena bisa bertemu Natsu, kan?"
"T-tunggu,
Miorin!? Tidak seperti itu!"
Ternyata tidak
seperti itu ya... Uta akan segera menanggapi jika aku merasa sedih.
"T-tidak...
itu, yah, bukan berarti tidak juga sih..."
Langkahnya
meredup, hal yang jarang terjadi pada Uta.
Di gedung
ruang klub yang ramai oleh siswa sepulang kegiatan, suaranya tidak terdengar
jelas.
Para
senior dari klub bulu tangkis berjalan melewati kami sambil mengobrol dengan
berisik.
Mereka menatap
kami dengan penasaran karena kami memancarkan suasana canggung yang tak
tertahankan.
Uta memerah
pipinya dan memasang senyum paksa yang kentara, "Ahaha..."
Shinohara-kun menatap langit sambil bergumam, "Aku akan
mati... aku akan mati terbakar api masa muda..." Miori mengangkat bahu,
dan Serika memainkan gitar udara. Kenapa
dia melakukannya?
"Aku sedang
memikirkan penampilan di atas panggung. Ini rutinitas."
Serika
bergoyang dengan semangat sambil mengatakan hal yang tidak bisa dimengerti.
Aku tanpa
sadar menatap Miori, namun dia hanya tersenyum pahit dan berkata, "Dia
selalu begitu, biarkan saja," lalu berjalan menuju pintu keluar.
Mengikuti
Miori, kami mulai berjalan pulang dengan anggota yang sangat unik. Kepribadian
kami terlalu kuat.
*
Karena lebar
jalan, di perjalanan pulang kami secara alami terbagi menjadi Serika,
Shinohara-kun, dan Miori, sementara aku bersama Uta.
Shinohara-kun
dikelilingi oleh dua gadis yang mencolok, matanya berkedip bingung, tapi
kuharap dia tetap bersemangat.
"Aku
dengar dari Seri, kalian akan tampil live di festival budaya, kan?"
"Kira-kira
begitu, aku sedang berlatih untuk itu."
"Aku
tidak sabar! Aku akan melambai dari barisan paling depan!"
"Itu sangat
membantu. Rasanya sulit kalau penonton terlihat tidak antusias."
Saat tampil di
festival budaya nanti, justru hal itulah yang paling kutakutkan.
Jika
penampilannya buruk, ada kemungkinan hal itu langsung menjadi sejarah hitam
dalam hidupku.
Tidak,
ini benar-benar menakutkan... Sejujurnya, aku tidak terlalu percaya diri dalam
membakar semangat penonton.
"Apa aku
perlu berlatih MC?"
"Ahaha,
mungkin itu perlu. Soalnya
Natsu sang vokalis, kan?"
"Ah, ah,
halo, aku vokalisnya, Haibara... Tolong dengarkan lagu pertama kami."
"Itu kurang
mencolok! Kamu harus lebih percaya diri!"
Uta tertawa
sambil menepuk punggungku dengan keras.
Aku pun ikut
tertawa bersamanya. Saat bersama Uta, hal-hal sepele pun terasa menyenangkan.
"Bagaimana?
Bagaimana kondisi band-nya?"
"Tadi adalah
latihan pertama dengan semua anggota, dan mereka semua luar biasa hebat.
Shinohara-kun yang pemain bass, Senior Iwano yang pemain drum, dan tentu saja
Serika sang gitaris. Aku merasa seperti mendapatkan keajaiban karena
orang-orang sehebat itu mau bermain bersamaku."
Sulit dipercaya
kalau tiga orang ini hanyalah orang-orang yang tersisa di klub musik ringan.
Secara teknis, mungkin kemampuan mereka jauh di atas anggota klub lainnya.
Meskipun, kepribadian mereka memang sangat kuat.
"Wah! Itu...
hal yang bagus, kan?"
Uta yang awalnya
menanggapi dengan antusias, mulai memperhatikan nada bicaraku yang rendah dan
bertanya dengan nada khawatir.
"Ya. Tentu
saja aku senang, tapi kenyataannya... akulah yang menjadi beban."
"Eh~?
Padahal Natsu bernyanyi dengan sangat baik, bukan?"
"Tetap saja,
rasanya berbeda dengan karaoke, dan aku masih kesulitan menyeimbangkan diri
dengan permainan gitar."
Melihatku yang
berkata harus berlatih meski sudah sampai di rumah, Uta tampak bingung.
"......Kenapa,
Natsu harus berusaha sekeras itu?"
"Kenapa
ya... mungkin karena aku ingin memberikan penampilan yang terbaik?"
Uta mengangguk
mendengar jawabanku, lalu mengangkat jari telunjuknya untuk bertanya.
"Begini,
bukannya Natsu memulai band ini karena diajak oleh Seri? Sebelumnya tidak
pernah ada pembicaraan tentang nge-band."
"Yah, kalau
tidak diajak Serika, aku mungkin tidak akan pernah membentuk band seumur
hidupku."
"......Entahlah.
Aku tidak bisa melihat dorongan? Atau motivasimu? Aku tahu Natsu suka band,
tentu saja."
"Doronganku,
ya......"
Alasannya ada
banyak.
Aku
mengagumi suara gitar yang dimainkan Serika.
Sejak
awal, aku memang memiliki keinginan untuk membentuk sebuah band.
Di masa muda
putaran kedua ini, aku tidak ingin merasakan penyesalan karena tidak
melakukannya.
Dan juga... masih
ada alasan lain yang tidak bisa kuceritakan di sini.
Namun, memang
benar, aku tidak cukup percaya diri untuk mengatakannya dengan lantang.
—Kenapa aku
begitu serius ingin melakukan ini?
Jawabannya muncul
begitu saja dari lubang hatiku.
"......Aku
ingin menunjukkan sisi kerenku."
Ada
seseorang yang menyukaiku yang seperti ini. Aku ingin menjadi diri yang pantas untuk perasaan
itu.
"......Jangan
terlalu memaksakan diri, ya?"
Melihatku yang
seperti itu, Uta mengatakannya dengan suara lembut.
"Eh? ......Ah, aku akan berhati-hati."
"Kalau
terlalu bersemangat, nanti kau kelelahan. Belakangan ini Natsu selalu
memikirkan band saja, jadi aku sedikit khawatir."
"......Begitu
ya. Sejak dulu, kalau aku menyukai sesuatu, aku selalu tenggelam di
dalamnya."
"Aku merasa
Natsu yang sekarang pun sudah cukup keren."
Aku merasa sangat
senang secara tulus. Karena itu adalah kata-kata yang menegaskan diriku yang
sekarang.
Namun, entah
mengapa, aku merasa itu adalah bentuk perhatian yang tidak seperti Uta
biasanya.
Tanpa sempat
menghilangkan rasa janggal itu, kami sampai di persimpangan jalan.
"Kalau
begitu, rumahku ke arah sini!"
Mendengar
suara keras Uta, tiga orang yang berjalan di depan pun bereaksi.
"Oh
begitu. Uta tidak naik kereta, ya."
"Ya! Sampai
jumpa semuanya! Sampai bertemu besok!"
Uta pergi
sambil melambaikan tangannya dengan lebar.
Mataku
tertuju pada tubuh kecilnya yang bergerak heboh, dan aku terus menatap
punggungnya yang menjauh.
"Dia
berusaha keras, ya."
"Ya."
Serika
dan Miori saling mengangguk setuju.
"—Uta,
biasanya dia naik sepeda, kan?"
Bahkan
aku yang tidak peka pun bisa mengetahui hal itu tanpa perlu diberi tahu.
Dia pasti sengaja
meninggalkan sepedanya di sekolah karena ingin pulang bersamaku.
"Kau
benar-benar populer, Haibara-kun."
Shinohara-kun
menatapku dengan mata yang memancarkan rasa hormat.
"A-aku juga,
kuharap bisa menjadi seperti Haibara-kun......"
Shinohara-kun
tertawa aneh. Serika dan Miori secara alami mengambil satu langkah mundur.
"......Daripada
disukai, rasanya lebih mudah jika kita sendiri yang menyukai orang lain."
Kata-kata yang
terucap begitu saja itu terbawa oleh angin malam musim gugur, dan menghilang
bersama dedaunan yang gugur.



Post a Comment