Kata Penutup
Sejak dulu aku
memang menyukai rock. Tapi aku bukanlah orang yang begitu ahli hingga bisa
bercerita panjang lebar tentangnya. Aku hanya pernah menyentuh gitar secara
ringan saja.
Karena itu,
menggambarkan dunia musik dalam cerita ini cukup membuat kepalaku pusing.
Aku akan sangat
senang jika gelora masa muda yang ingin aku gambarkan ini dapat tersampaikan
kepada kalian semua.
Lama tak jumpa.
Aku Rainami Kazuki.
Kali ini aku
menulis cerita tentang musim gugur, festival budaya, dan musik.
Temanya adalah pilihan.
Menurutku, ketika cinta ikut terlibat, tidak peduli pilihan apa yang diambil,
semuanya tidak akan berakhir menjadi yang paling sempurna. Itulah yang
membuatnya sulit.
Meski begitu, aku percaya bahwa mengambil
keputusan adalah tugas seorang protagonis. Oleh karena itu, aku meminta
Hagiwara Natsuki untuk berusaha sekuat tenaga.
Ke depannya, bagi
Natsuki yang sama sekali tidak punya pengalaman cinta, ini pasti akan menjadi
wilayah yang benar-benar asing. Aku sendiri sudah tidak sabar menantikan volume
lima!
Sekarang saatnya
ucapan terima kasih.
Kepada editor-ku, N-san. Kali ini pun kamu maju dengan
kecepatan yang seolah berkata, “Batas waktu sudah kutinggalkan. Aku tidak bisa
mengikuti pertarungan selanjutnya.” Maafkan aku yang merepotkan sekali lagi……
Kepada ilustrator Gin-san, terima kasih banyak atas
ilustrasi-ilustrasi yang luar biasa indah. Serika itu memang menggemaskan, ya.
Serika!
Dan tentu saja, kepada seluruh pihak yang terlibat serta
para pembaca yang selalu mendukung. Terima kasih banyak untuk kali ini juga.
Semoga kita bisa bertemu lagi di volume berikutnya.
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
■ Malam di Hari Musim Panas Itu (Hoshimiya Hikari)
Aku sudah
kenyang.
Sambil mengusap
perut yang mulai membuncit, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Kami berada di
teras pondok. Malam sudah semakin larut, dan meski ada penerangan, suasana
terasa agak temaram.
Di tengah teras,
peralatan barbekyu sudah digelar dan semua orang berkumpul di sekelilingnya.
Berbeda
denganku, mereka semua masih berenergi, memanggang daging dan terus melahapnya.
Aku cukup
terkejut melihat Tatsuya-kun yang melahap makanan dalam jumlah besar. Meski
tubuhnya tinggi, dia cukup ramping. Aku bertanya-tanya, ke mana dia menyimpan
semua makanan itu?
Yui-no-chan
terus memanggang daging untuknya dan menaruhnya di piring Tatsuya-kun. Seperti
biasa, dia memang suka sekali mengurus orang lain.
Uta-chan,
Reita-kun, dan Miori-chan sudah berhenti makan dan mulai asyik
berbincang-bincang.
Lalu,
Natsuki-kun——dia berdiri agak jauh dari kerumunan, memandangi yang lain.
Aku tidak bisa
mengalihkan pandangan dari profil wajahnya yang tampak sedikit sedih. Sebelum
kusadari, aku sudah melangkah mendekatinya.
"——Kamu
sudah tidak mau makan lagi?"
Saat aku
menyapanya, raut wajah Natsuki-kun melembut. Hanya dengan itu, hatiku terasa
melayang dan sudut bibirku hampir saja tersenyum tanpa sadar.
Aku jatuh hati.
Aku bahkan tidak bisa lagi membohongi diriku sendiri, sehingga aku hanya bisa
menatap wajahnya lekat-lekat.
"Aku sudah
kenyang. Kalau Hoshimiya sendiri bagaimana?"
"Aku juga.
Aku makan terlalu banyak."
Aku berusaha
menjawab senatural mungkin, padahal jantungku berdegup kencang. Tubuh ini
sungguh menyebalkan. Hanya karena berbicara dengan cowok yang kusukai, kepalaku
sampai terasa kosong. Wajahku pun entah mengapa terasa panas.
Aku berdiri di
sampingnya dan menyandarkan punggung ke pagar teras. Lengan kami bersentuhan.
Aku terkejut dan
hampir menjauh, namun aku tidak menggerakkan tubuh atas kemauanku sendiri. Aku
tidak ingin memikirkan alasannya karena itu terlalu memalukan. Natsuki-kun pun
tidak berusaha mengubah posisinya.
Tidak ada
percakapan. Namun, hiruk-pikuk suara teman-teman kami terdengar sampai ke sini.
Bisa dibilang, ini adalah keheningan yang nyaman. Aku ingin terus seperti ini.
Saat aku melirik
ke samping sambil memikirkan hal itu, Natsuki-kun sedang menatap langit malam.
Aku pun ikut menengadah. Langit malam yang cerah dipenuhi bintang-bintang yang
bersinar terang.
Indah sekali. Aku
sungguh bersyukur cuacanya cerah. ……Tapi, lebih dari itu, profil wajah
Natsuki-kun sangat menyita perhatianku…… Eh, tunggu? Apakah dia selalu setampan
ini……?
Aku menyukainya.
Perasaan itu muncul begitu saja. Aku menyukai orang ini.
Begitu
ya. Jatuh cinta pada
seseorang ternyata rasanya seperti ini. Aku jadi mengerti mengapa semua orang
selalu heboh soal cinta.
Membawa perasaan
seperti ini, tidak mungkin aku bisa tetap waras……
Didorong oleh
dorongan hati, aku menggenggam tangan Natsuki-kun. Tangannya ternyata
lebih besar dari dugaanku.
Eh? Menggenggam…… tangan? Apa yang sedang kulakukan?! Eh???
Aku
berusaha sekuat tenaga agar kepanikanku tidak terlihat, namun Natsuki-kun sama
sekali tidak bergerak. Entah mengapa aku merasa kesal karena dia tetap tenang
sementara hatiku sedang kacau balau.
——Saat
aku sedang dipermainkan oleh perasaan cinta seperti itu, tatapanku bertemu
dengan Uta-chan. Sambil mengobrol dengan yang lain, pandangan mata Uta-chan
benar-benar tertuju padaku.
Hatiku
terasa mendingin dengan cepat.
"……Tidak
boleh. Aku curang, ya."
Aku melepaskan
tangan Natsuki-kun perlahan. Kehangatan kulitnya masih tertinggal di telapak
tanganku.
Seolah bertukar
tempat dengan Uta-chan yang mendekat, aku kembali ke kerumunan teman-temanku.
Aku tidak
sanggup menatap mata Uta-chan. ……Karena yang salah di sini adalah aku.
Saat aku
tertunduk lesu, bahuku ditepuk. Begitu menoleh, ternyata itu Serika-chan.
"Kamu
kelihatan lemas. Mau ikut bernyanyi?"
Sambil
memutar musik, Serika-chan bergoyang mengikuti irama dan mulai bernyanyi.
"Maaf.
Untuk sekarang……"
"Begitu,
ya? Musik itu bisa memberimu semangat, lho."
Ucap
Serika-chan sambil sedikit tersenyum.
Lagu yang
sedang diputar saat itu adalah The Autumn Song dari ELLEGARDEN.
Karena
itu adalah band favorit Natsuki-kun, aku pernah mendengarnya beberapa kali.
Aku merasa sedih
karena musim panas perlahan akan berakhir…… tapi memang benar, aku
merasa sedikit lebih bersemangat.



Post a Comment