NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 4 Epilog

Epilog

Di Malam Musim Gugur, Daun Kering Menari


Festival sekolah yang berlangsung selama dua hari akhirnya berakhir.

Karena kelelahan luar biasa setelah konser, pada akhirnya aku hampir tidak bisa membantu teman-teman sekelas membersihkan area kelas.

Di grup RINE kelas, Hino berseru dengan semangat, "Kita adakan pesta perayaan!"

Sepertinya dia bahkan sudah memesan tempat. Entah dia memang bekerja dengan cepat, atau memang sedari awal sudah berniat mengadakan pesta perayaan. Setelah membantu membereskan peralatan klub musik ringan, aku berpisah dengan anggota band.

Kami berjanji untuk mengadakan perayaan berempat di hari lain.

Kami tidak akan berlatih bersama lagi sebagai empat sekawan ini. Memang terasa sepi, tapi bukan berarti kami tidak bisa bertemu lagi.

Setelah pulang ke rumah untuk mandi, aku bergegas menuju tempat yang diberitahukan lewat RINE.

Ngomong-ngomong, sebenarnya apa yang membuat Nanoka terus bertingkah malu-malu tadi?

Sambil memikirkan tingkah adikku dan memiringkan kepala, aku sampai di tempat tujuan, yaitu sebuah kedai monjayaki. Setelah menyingkap tirai noren, aku dipandu ke ruangan besar.

Teman-teman sekelas sudah terbagi dalam meja-meja berisi enam orang, mengobrol dengan riang di atas tatami. Di atas pelat besi di meja mereka, ada monjayaki yang terlihat lezat.

"Wah, akhirnya datang juga sang bintang utama!"

Okajima dari klub sepak bola tertawa ceria sambil merangkul bahuku.

"Maaf, maaf. Aku agak terlambat."

Seluruh tatapan mata teman sekelas tertuju padaku. Sepertinya mereka semua langsung menuju ke sini setelah dari sekolah. Aku yang ragu untuk muncul dalam keadaan penuh keringat, akhirnya menghabiskan waktu untuk mandi di rumah, itulah yang menyebabkan perbedaan waktu kedatangan.

"Natsuki, duduk di sini saja."

Reita menepuk bantalan duduk (zabuton) di sebelahnya.

Di meja itu sudah ada Hoshimiya, Nanase, Hino, dan Fujiwara.

"Kerja bagus."

Orang pertama yang menyapaku adalah Nanase.

"Konser tadi keren banget. Nggak nyangka bakal semeriah itu."

Hino menepuk bahuku sambil terus mengaduk monja dengan spatula, lalu melanjutkan ucapannya.

"Si Kanata bahkan sampai menangis terharu, tahu."

"A-aku nggak nangis! Jangan asal bicara!"

Fujiwara memukul bahu Hino berkali-kali.

"Itu... kalau itu caranya buat menutupi rasa malu, bolehkah kamu jangan memukul bahu Hino?"

"Yah, soalnya kalau dari segi posisi..."

"Bukan, alasan macam apa itu..."

Saat aku memandang Fujiwara dengan wajah bingung, Reita menyebarkan adonan monja baru di atas pelat besi.

"Festival sekolah tahun ini benar-benar jadi legenda ya. Kira-kira ada berapa banyak orang yang berkumpul tadi?"

"Lebih dari setengah siswa sekolah kita ada di sana. Kurasa pengunjung dari luar sekolah juga ada seratus orang lebih."

"Tentu saja! Penampilan kalian tadi sangat luar biasa!"

Fujiwara berkata dengan mata yang berbinar-binar tanpa alasan yang jelas.

Kemudian, menyadari tingkahnya sendiri, dia memalingkan wajah karena malu.

Mungkin dia memang penggemar berat Mishlef. Itu hal yang patut disyukuri.

Aku bisa merasakan perhatian seluruh kelas tertuju pada percakapan meja kami.

Kalau dipikir-pikir, ini adalah dampak dari konser yang sukses, jadi rasanya tidak buruk juga, meski memang agak canggung.

...Eh, yang lebih membuatku penasaran adalah, sejak tadi Hoshimiya tidak bicara sepatah kata pun.

Saat aku melihat ke arah Hoshimiya yang duduk di depanku, mata kami bertemu.

Hoshimiya buru-buru memalingkan wajahnya dengan kuat.

"......"

"......"

Suasana canggung mengalir di antara kami.

Tatapan geli dari seluruh kelas tertuju pada kami berdua.

...Yah, meskipun aku tidak menyebutkan nama, sepertinya teman-teman sekelas pun bisa menebak.

Judul lagunya saja sangat jelas, belum lagi kata-kataku saat berlagak keren dengan mempersembahkan lagu untuk gadis yang kusukai.

"......Emm, kerja bagus."

"......A-ah. Terima kasih."

Apa-apaan ini... Mengapa pembicaraan jadi sulit sekali seperti ini?

Bagaimana pun juga, Hoshimiya terlihat gugup. Matanya berkeliling ke sana kemari.

"Hikari, tenanglah."

Hoshimiya kepalanya diusap oleh Nanase yang terlihat jengkel.

Melihat keadaan kami, Reita mengalihkan topik pembicaraan.

"Natsuki, setelah ini bagaimana? Apa bandnya bisa lanjut?"

"Tidak, seperti yang sudah kuberitahu ke semua orang, sedari awal memang rencananya hanya sampai festival sekolah."

Mendengar jawabanku, suara "Eeeeh!" terdengar dari mana-mana. Apa mereka menguping pembicaraan kami? Tolong bicara di meja masing-masing saja.

"Jadi tetap nggak berubah ya. Padahal konser tadi sukses banget."

"Yah, Senior Iwano juga mau fokus belajar untuk ujian masuk universitas, jadi mau bagaimana lagi."

Setelah berakhir, aku baru menyadarinya.

Keberhasilan konser yang sampai jadi topik pembicaraan ini, memang berkat peran besar Serika.

Dia berada di level yang berbeda dengan kita. Karena aku melihat Serika dari dekat, aku jadi bisa berjalan di atas realita tanpa terus bermimpi. Mei dan Senior Iwano mungkin juga merasakan hal yang sama denganku.

"Apa klub musik ringan bakal lanjut?"

"Untuk saat ini rencananya bakal lanjut. Karena main gitar itu menyenangkan."

"Begitu ya. Aku harap bisa mendengar nyanyian Natsuki lagi lain kali."

Saat Reita berkata begitu, aku menanyakan sesuatu yang tiba-tiba terpikirkan.

"Oh ya Reita, kamu tadi menontonnya bersama Miori, kan?"

"Padahal kami ada di barisan paling belakang, kamu teliti sekali ya."

Sejak dulu, aku memang ahli dalam menemukan Miori. Kalau main petak umpet, aku belum pernah kalah darinya.

"Tadi aku berkeliling festival sekolah bersama Miori."

Reita berkata dengan santai sambil membagi monjayaki menggunakan spatula dengan tangkas.

"——Kami sudah mulai berpacaran."

Sesaat, pikiranku menjadi kosong.

Namun jika memikirkan hubungan mereka, itu adalah hasil yang wajar.

Miori juga sempat bilang kalau dia akan menyatakan perasaan pada Reita di akhir liburan musim panas.

Ada perasaan yang menganggap, "Ternyata lambat juga ya," dan ada juga perasaan, "Tiba-tiba sekali."

Yah, mungkin saja hubungan mereka sebenarnya sudah berkembang jauh tanpa sepengetahuanku.

"Terima kasih atas bantuan Natsuki. Terima kasih ya."

"Memangnya aku melakukan apa? Aku memang bilang mau mendukung, tapi aku tidak melakukan apa-apa, kan?"

"Tidak, tidak. Kata-kata itu saja sudah sangat menguatkan bagiku."

Reita tersenyum lembut. Entah mengapa, itu terlihat sebagai ekspresi yang tulus dari lubuk hatinya.

"Haha. Apapun itu, selamat ya."

Saat aku mengangkat minuman seolah hendak bersulang, teman-teman di meja yang sama juga ikut melakukannya.

"Untuk ukuran Shiratori-kun, ternyata gerakannya lambat juga ya."

"Pendapat Nanase-san tentang diriku aneh, deh."

"Yah, kalau bicara soal impresi, memang sih."

"Natsuki, jangan ikut mengangguk. Aku tidak semain-main itu, kan? Iya kan, Hoshimiya-san?"

"Hmm... yah... setidaknya lebih baik daripada Hino-kun?"

"Eh, kenapa aku tiba-tiba terseret? Padahal aku ini setia sama Kanata, tahu!"

"Sudah, Toshiya. Tidak usah bicara yang tidak perlu... uh!"

Pesta perayaan kelas 1-2 berlangsung dengan damai.

Tidak ada satu pun orang yang menyinggung tentang ketidakhadiran Uta dan Tatsuya, yang biasanya menjadi sosok penghidup suasana.

Aku merasa sedikit sesak, lalu keluar dari kedai.

Malam sudah mulai dingin. Sambil diterpa angin malam yang sejuk, aku menyandarkan punggungku ke dinding kedai.

Aku sudah melakukan segalanya. Aku sudah memberikan yang terbaik. Aku tidak menyesali tindakanku.

Namun, perasaan yang kompleks tetap tidak bisa dihindari. Karena dua orang itu tidak ada di sini.

"......Jangan buat wajah seperti itu."

Saat aku mendongak ke arah langit, Hoshimiya mendekat.

Sepertinya dia menyelinap keluar dari pesta perayaan sepertiku.

"......Aku senang, kok. Jadi, Natsuki-kun jangan buat wajah seperti itu."

Ekspresi Hoshimiya saat mengatakan itu terlihat sedikit sedih. Mungkin Hoshimiya pun punya sesuatu yang dipikirkan.

"Hei, Natsuki-kun. Konser hari ini benar-benar keren."

"......Kalau Hoshimiya yang bilang begitu, berarti perjuanganku sampai hari ini ada artinya."

Aku berdiri berjajar di sampingnya. Bahu kami sedikit bersentuhan.

Mengikuti arah pandang Hoshimiya, aku mendongak ke langit.

Langit malam yang jernih. Di tengah gemerlap bintang yang berkedip, terdapat bulan purnama yang bersinar terang.

Meskipun tidak direncanakan, tidak ada hari yang lebih tepat daripada hari ini.

"......Hei, Natsuki-kun."

Hoshimiya ingin mengatakan sesuatu.

Namun, aku tidak akan membiarkannya. Khusus untuk hari ini, giliranku.

"——Bulannya indah, ya."

Hari ini, aku meneruskan kata-kata yang tidak bisa dikatakan Hoshimiya pada musim panas itu.

Hoshimiya pernah bilang, "Suatu saat di malam bulan purnama." Jika melewatkan hari ini, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi untuk mengatakannya.

Meskipun terasa memalukan dengan gaya bicara yang berlebihan, kata-kata itu meluncur dengan natural.

"Mungkin karena aku melihatnya bersamamu, ya?"

Hoshimiya mendekatkan bahunya, lalu tersenyum malu-malu.

Aku menatap wajah samping Hoshimiya yang sedang menatap bulan, sambil tetap merapat dengan erat.

"Hei, boleh aku egois sebentar?"

"Sekarang, aku akan mendengarkan apa pun."

"Benarkah? Kalau begitu, katakan dengan jelas lewat kata-kata. Kalau cuma kata-kata yang ambigu, aku jadi cemas."

Aku tak kuasa menahan senyum pahit mendengar Hoshimiya yang bilang ingin sesuatu yang lebih pasti.

"......Padahal Hoshimiya sendiri yang memulai alurnya, kan?"

"U-uh, berisik. Ini kan usia yang ingin terlihat keren. Aku juga begitu, tahu."

Hoshimiya menekankan kepalanya ke bahuku.

Karena diminta, mau tidak mau aku dengan jujur mencurahkan isi hatiku.

"......Aku menyukaimu, Hoshimiya. Lebih dari siapa pun di dunia ini. Jadi, tolong jadilah pacarku."

Saat aku mengatakannya, Hoshimiya melingkarkan tangannya di punggungku. Aku pun menyentuh rambut Hoshimiya dan menariknya ke dalam pelukanku.

"......Iya. Aku juga menyukaimu, Natsuki-kun."

Meskipun melakukan tindakan ini mengikuti suasana, jantungku berdebar kencang secara alami.

Hoshimiya yang sedang kupeluk mungkin menyadarinya, karena dia menatapku lalu tertawa kecil.

"Natsuki-kun, sebenarnya sedang berdebar ya?"

"Bukan soal sebenarnya atau tidak, mana mungkin tidak berdebar, kan?"

"Ah, dia mengakui."

"Padahal Hoshimiya juga begitu, kan?"

"Fufu. Sayangnya, aku punya lapisan baju pelindung dada yang tebal, jadi tidak akan ketahuan."

Itu khas Hoshimiya sekali, mengklaim hal seperti itu.

Benar saja, bahkan saat kupeluk sekarang, hanya sensasi lembut yang terasa.

"Hei, Natsuki-kun. Boleh aku minta satu hal egois lagi yang sudah kupikirkan sejak lama?"

"Silakan."

"......Panggil aku dengan namaku. Padahal aku sudah memanggilmu dengan namamu."

Memang benar, di dalam diriku, Hoshimiya sudah terlalu lekat sebagai "Hoshimiya", sampai-sampai ide untuk memanggil namanya saja tidak pernah terpikirkan... Tidak, mungkin pernah. Hanya saja aku menyerah karena merasa terlalu malu.

Tapi jika sudah menjadi sepasang kekasih, aku tidak bisa lagi beralasan malu, kan?

"E-emm... Hikari."

Saat aku memberanikan diri memanggil namanya, Hoshimiya—Hikari—tersenyum seolah bunga yang mekar dengan lembut.

Itu adalah senyuman yang lebih indah daripada bulan.

"Iya, ini Hikari. Hikari, pacarmu."

"Jujur saja, rasanya belum terbiasa, memalukan sekali..."

"Tolong tahan sedikit ya. Soalnya, setiap kali kamu memanggilku Hoshimiya, aku akan memberimu hukuman."

"Tega sekali..."

Saat kami sedang berpelukan, suara percakapan terdengar dari balik jendela kedai.




"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Haibara dan Hoshimiya?"

"Tanpa sadar mereka tidak ada, ya? Mungkin saja mereka sedang..."

"Wah, seriusan mereka? Memanfaatkan pesta perayaan buat pacaran, dasar anak muda."

Suara percakapan itu perlahan menjauh. Mungkin mereka menuju koridor ke arah toilet.

Aku menatap wajah Hikari dalam jarak yang sangat dekat.

Setelah secara logis mempertimbangkan situasi kami saat ini, kami pun menjauh perlahan.

"......A-ayo kembali."

"......Y-ya, benar!"

Wajah Hikari memerah padam. Pipiku pun terasa panas.

......Sepertinya kami berdua terlalu terbawa suasana.

Untung saja tidak ada orang di sekitar. Kalau sampai dilihat orang lain, aku pasti sudah mati karena malu.

Untuk menghilangkan kecurigaan teman sekelas, kami memutuskan untuk kembali ke tempat pesta dengan selisih waktu.

Setelah sendirian, aku mengembuskan napas panjang. Aku mencubit pipiku. Terasa sakit yang menusuk.

Benar, ini nyata.

――Artinya, Hoshimiya Hikari telah menjadi pacar pertama dalam hidupku.

Berbagai emosi bercampur aduk, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ada kecemasan menghadapi masa depan.

Namun, setidaknya untuk saat ini, aku ingin berlama-lama dalam kebahagiaan ini.

Bulan purnama bersinar di langit malam yang cerah. Ditiup angin, dedaunan kering menari-nari.

Itulah kejadian di malam musim gugur tersebut.

Tentu saja, aku sudah memutuskan kepada siapa aku akan melapor lebih dulu.

Setelah pulang ke rumah dan mandi, aku mengambil ponsel dan melakukan panggilan.

Sudah larut malam. Mungkin dia sudah tidur. Meski sadar akan hal itu, aku tidak bisa membendung keinginanku untuk berbicara dengannya sekarang juga. Sambil mendengar nada panggil, aku menunggu jawaban. Begitu nada itu terputus, suara napas lawan bicaraku terdengar.

"......Miori?"

"......Ada apa? Natsuki."

Suaranya terdengar begitu tenang. Sangat berbeda dari kesan dingin yang biasanya ia tunjukkan.

"......Ada apa denganmu?"

"Hm? Tidak ada apa-apa, kok. Lagipula, ada urusan apa?"

Keanehan itu semakin menjadi-jadi. Tapi Miori berpura-pura tenang. Mengapa? Tentu saja agar aku tidak menyadarinya saat sedang menelepon. Jika begitu, mungkin lebih baik aku tidak bertanya apa-apa.

Saat aku ragu apakah harus mendesak lebih dalam atau tidak, Miori menghela napas.

"......Kamu sensitif terhadap hal-hal yang tidak perlu. Sudah dari dulu begitu, ya."

Mungkin Miori merasa begitu. Soal Miori, bahkan hanya dari suaranya saja aku bisa sedikit memahami kondisinya.

"Aku sudah resmi berpacaran dengan Reita."

Laporan Miori dengan nada yang terdengar sakral itu hanya membuat pertanyaanku semakin membuncah.

Kenapa dia tidak terdengar senang? Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa aku salah paham tentang sesuatu?

"......Selamat, kan?"

"Ya. Terima kasih. Aku senang. Dengan ini, tujuannya tercapai."

"Lalu, kenapa kamu menangis?"

Miori terdiam. Aku tidak punya dasar yang kuat untuk mengatakannya, tapi keheningannya justru membenarkan dugaanku.

"......Itu karena alasan lain. Jangan dipikirkan."

"Miori."

"Hei, Natsuki."

Miori memotong ucapanku.

"Penampilan kalian tadi bagus sekali, sungguh."

"Terima kasih. Jarang-jarang kamu memujiku."

"Karena biasanya tidak ada yang bisa dipuji darimu."

"Oi. Hentikan kebiasaan menyakiti orang dengan fakta."

"Itu bukan fakta. Kamu ini bodoh ya."

"......Begitu ya."

"Mau kutebak tujuan teleponmu?"

"Coba saja. Dengarkan dan terkejutlah."

"Kamu resmi berpacaran dengan Hikari-chan, kan?"

Dia menebaknya dengan tepat sasaran. Padahal aku pikir Miori akan terkejut.

"......Bagaimana kamu tahu?"

"Mana mungkin aku tidak tahu. Yang tidak tahu itu cuma kamu."

Miori memang sering melebih-lebihkan keadaan. Hanya karena dia sensitif. Memang benar aku melakukan tindakan yang hampir seperti pengakuan cinta saat konser, tapi itu tidak menjamin aku akan diterima Hikari, kan?

"......Yah, sudahlah. Intinya begitu, makanya aku menelepon untuk melapor."

"......Kenapa?"

"......Karena ini berkat bantuanmu, aku ingin bilang terima kasih."

Sambil menjawab, aku merasa heran.

Apakah aku perlu alasan untuk melapor pada Miori? Bukankah dia rekan dari "Rencana Masa Muda Pelangi"-ku?

"Sama-sama. ......Selamat ya."

"......Ah."

Apa ini, kenapa suasananya begini? Tidak seperti yang kubayangkan.

Aku pikir kami akan lebih antusias dan saling mengucap "Baguslah."

Karena kami berdua telah mencapai tujuan masing-masing. Karena itulah alasan kami berjuang selama ini.

"Yah, meskipun dari tengah jalan aku hampir tidak melakukan apa pun. Itu berkat usahamu sendiri."

Memang benar, kesempatan untuk meminta bantuan Miori semakin berkurang.

Pertama, karena aku merasa tidak enak pada Reita jika terlalu dekat dengan Miori.

Kedua, karena aku punya banyak teman yang bisa diandalkan seperti Serika dan Nanase.

Ketiga――karena entah mengapa, aku merasa Miori terus menghindariku.

"......Aku juga tidak bisa banyak membantu rencana strategimu dari tengah jalan."

"Bagiku pun sudah berhasil, jadi tidak apa-apa. Hasil adalah segalanya, bukan?"

Memang benar. Hasilnya berjalan lancar. Jadi seharusnya tidak ada masalah.

"Lagipula, meskipun kita rekan kerja, tidak baik kalau terlalu bergantung, kan?"

Apakah itu alasan Miori mulai menghindariku?

Penjelasannya masuk akal. Tapi aku merasa tidak puas. Aku merasa ada sesuatu yang sangat keliru.

"Kamu dengan Hikari-chan, dan aku dengan Reita-kun telah menjadi sepasang kekasih. Tujuan kita berdua sudah tercapai."

Secara teknis, sedikit berbeda. Tujuan Miori sudah tercapai, tapi tujuanku adalah menjalani masa muda penuh warna. Menjadi kekasih Hikari adalah salah satu bagiannya, tapi menunjukkan hal itu sekarang rasanya kurang sopan.

Saat aku mengangguk, Miori memberi tahu dengan datar.

"Kalau begitu, hubungan kerjasama kita berakhir di sini. Kemitraan kita dibubarkan ya."

Itu kata-kata yang tidak kuduga.

"Miori? Kenapa..."

"Eh? Karena tujuan kita sudah tercapai, justru tidak ada alasan untuk melanjutkannya, kan?"

Kata-kata Miori adalah kebenaran yang tak terbantahkan.

Kesalahanku karena mengira hubungan ini akan terus berlanjut.

Bahkan jika aku memberitahu bahwa tujuanku belum sepenuhnya tercapai, selama tujuan Miori sudah tercapai, tidak ada lagi alasan untuk saling bekerja sama. Hubungan kerjasama kami berakhir di sini.

"Tidak perlu terlalu dipikirkan, kan? Kita masih tetap teman, kok."

"......Iya, benar juga."

"Jangan sedih. Tanpaku pun, kamu sudah baik-baik saja."

"Tidak juga. Aku masih sering melakukan kesalahan, tahu."

"Meskipun begitu."

Miori menghentikan kalimatnya di sana. Suaranya sedikit gemetar.

"Mulai sekarang, Hikari-chan yang akan mendukungmu."

Sadar-sadar, telepon sudah terputus. Aku meletakkan ponsel dan merebahkan diri di atas tempat tidur.

Tujuan tercapai, kontrak berakhir. Hal yang sangat wajar. Tidak ada yang aneh.

Namun, perasaan hampa di dalam hati tak kunjung hilang.

Dan Motomiya Miori bukan lagi kolaborator dalam "Rencana Masa Muda Pelangi" milik si anak laki-laki abu-abu.

Tapi hanya itu saja.

VOLUME 4 END



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close