Chapter 3
Menuju Festival Budaya
Satu
minggu telah berlalu sejak kami mulai beraktivitas sebagai band.
Hampir
setiap hari, kami berkumpul di ruang musik kedua untuk berlatih.
Agar
lebih mudah dalam berkegiatan, aku mendaftarkan diri masuk ke klub musik
ringan. Meskipun aku belum berinteraksi dengan band lain di klub, cepat atau
lambat aku harus memberi salam pada mereka.
"......Permainan
yang barusan, terasa pas sekali."
Suara
distorsi gitar yang memudar menandakan lagu berakhir, lalu Serika mengangkat
wajahnya.
"S-syukurlah......" gumam Shinohara-kun sambil
menghela napas lega.
Senior Iwano, yang wajahnya masih terlihat kaku seperti
biasa, hanya bergumam singkat, "......Hmm."
Berkat berlatih lagu yang sama selama seminggu penuh,
permainan kami kini sudah jauh lebih stabil.
Yah, yang berkembang pesat terutama bagianku, sedangkan
bagian anggota lain sudah hebat sejak awal.
Meskipun begitu, mereka bertiga ternyata masih memiliki
celah atau kesalahan kecil yang tidak kusadari, dan Serika memperbaikinya satu
per satu. Bahkan Serika sendiri terkadang mendapatkan saran dari Senior Iwano.
"......Sepertinya Natsuki juga sudah terbiasa. Bagaimana kalau kita lanjut ke lagu
berikutnya?"
"Akhirnya
ya. Aku hampir gila karena harus berlatih lagu yang sama terus-menerus."
Senior Iwano
menjawab sambil menghela napas. Tentu saja dia merasa begitu. Baik saat latihan
maupun mendengarkan rekaman latihan, kami terlalu sering mendengar lagu yang
sama sampai-sampai aku tidak bisa lagi membedakan mana yang bagus atau yang
buruk......
"Apakah lagu
selanjutnya juga lagu orisinal milikmu, Serika?"
"Memang
begitu rencananya, tapi kalau ada lagu yang kalian ingin mainkan, aku akan
mempertimbangkannya."
Serika berkata
begitu sambil memandangi wajah kami satu per satu.
"Aku berada
di sini karena ingin membawakan musikmu."
Senior Iwano
mengatakannya dengan nada datar.
"A-aku juga
suka lagu milik Hondou-san, karena terdengar keren."
Shinohara-kun pun
mengangguk berulang kali meski tingkah lakunya terlihat mencurigakan.
"Bagaimana
denganmu, Natsuki?"
"Aku juga
tidak masalah. Tapi......"
Serika tidak
hanya hebat bermain gitar, dia juga punya bakat dalam menciptakan lagu.
Lagu "Black
Witch" yang kami latih hari ini adalah lagu yang keren, dan aku sangat
menyukainya.
Saat bergabung
dengan band, aku mengira kami akan memainkan lagu cover. Jadi, aku
sempat terkejut ketika Serika tiba-tiba mengirimkan partitur lagu orisinalnya.
Namun, ada satu kekhawatiran.
"Kalau
tujuan kita adalah memeriahkan festival budaya, rasanya sulit jika hanya
mengandalkan lagu orisinal."
Membawakan cover
lagu populer yang sudah dikenal semua orang akan jauh lebih mudah untuk
membangun kemeriahan.
"......Memang
benar, penonton pasti sulit menikmati lagu yang belum pernah mereka
dengar."
Serika
pun mengerutkan keningnya sambil memegang dahi.
"Kita hanya
perlu membungkam mereka dengan kemampuan kita. Bukankah untuk itulah kita terus
berlatih?"
"K-kalau
kita membungkam mereka, bukannya malah tidak meriah......?"
Senior Iwano
melirik tajam ke arah Shinohara-kun yang mencari-cari kesalahan ucapannya.
"Hii!?
M-maafkan saya......"
"Memang
benar kata Natsuki, jadi bagaimana baiknya?"
"......Aku
punya ide solusinya. Intinya, kita cukup mengubah lagu orisinal milik Serika
menjadi lagu yang dikenal semua orang."
"......Menurutku
itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan."
Aku
menjelaskan rencanaku kepada Serika yang terlihat bingung.
"Kita
bisa mengunggah rekaman permainan kita ke media sosial seperti Minsta atau
Twister. Dengan mempromosikannya seperti itu, aku yakin akan ada orang yang
tertarik."
Aku
sangat yakin. Karena "Black Witch" adalah lagu yang bagus. Aku yakin
lagu itu pasti akan menyentuh hati para pecinta musik rock yang akan tertarik
dengan konser band kami di festival budaya nanti.
Apalagi,
jumlah pengikut akun media sosial milikku dan Serika sudah cukup banyak. Ini
bukan taruhan dengan peluang keberhasilan yang rendah. Saat aku berpikir
demikian, Serika mengatakan sesuatu yang di luar dugaan.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau aku promosikan melalui saluran MeTube milikku?"
"......Saluran
MeTube milikmu?"
"Ya.
Kalau tidak salah, jumlah pelanggannya sekitar empat puluh ribu orang."
"E-ehhhh!?"
Aku
berteriak karena terlalu terkejut, namun sepertinya Senior Iwano dan
Shinohara-kun sudah mengetahuinya.
"Dia
terkenal di klub musik ringan. Setidaknya, dibandingkan denganku yang tidak
dikenal di klub...... hahahaha......"
Aku mulai
terbiasa dengan Shinohara-kun yang selalu mengeluarkan komentar negatif dan
merasa sedih sendiri.
"Hmph...... aku sudah mengikutinya sejak jumlah
pelanggannya masih seratus orang."
Apa maksud dari
pameran "penggemar lama" yang misterius dari Senior Iwano itu?
Jangan-jangan, dia hanyalah seorang penggemar biasa?
"Mau lihat?
Aku sesekali mengunggah video bernyanyi atau video cover gitar."
Serika
menunjukkan ponselnya, lalu aku pun mengintip layarnya.
Di sana tertulis, "Saluran Gitar Serika, Gadis SMA Imut♡".
"Bukan,
maksudku nama salurannya."
"Hm? Apa ada
masalah?"
"Ya, meski
kau tidak berbohong, sih......"
"Memang
benar, kan? Lagipula aku imut, dan aku juga seorang siswi SMA."
Mendengar
pernyataannya yang lugas dengan paras cantik itu, aku jadi tidak punya niat
untuk membantahnya.
Saat aku
meminjam ponsel Serika untuk melihat salurannya, isinya memang didominasi video
cover gitar dan video menyanyi. Sesekali ada video obrolan santai, tapi ada juga video tutorial merias
wajah. Kenapa?
"Dan kau
memperlihatkan wajahmu secara terang-terangan, ya."
"Karena aku
imut, sayang kalau tidak dimanfaatkan, bukan?"
Serika
memiringkan kepalanya dengan tatapan mata ke atas yang dibuat-buat agar
terlihat nakal. Sial, aku tidak bisa membalas argumennya!
Saat aku mencoba
mengeklik video cover terbarunya, terdengar alunan gitar yang sangat
mahir seperti biasanya. Di
kolom komentar, banyak pujian seperti "Jago banget!",
"Terbaik!", dan "Imut!".
......Apakah
dia sengaja membiarkan bagian dadanya sedikit terekspos? Maksudku, bukankah
secara keseluruhan pakaiannya agak terlalu terbuka?
Dia
benar-benar tahu bagaimana cara memanfaatkan senjatanya...... Meski aku merasa sedikit khawatir.
"Apa kau
yakin? Kalau promosi di sini, bukankah nama sekolahmu akan tersebar?"
"Aku sudah
memperlihatkan wajahku juga, jadi sudah terlambat, kan?"
"......Ya
sudah, lupakan. Itu agak berbahaya bagimu. Lagipula, kalau tujuannya untuk
festival budaya, promosi ke orang luar tidak terlalu berguna."
"Tapi,
mengunggah video ke MeTube itu ide bagus. Di Minsta atau Twister kita tidak
bisa mengunggah video durasi penuh, jadi kita bisa mengarahkan mereka ke
sini."
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita unggah video rekaman saja tanpa perlu promosi
festival budaya?"
"Ngomong-ngomong,
bagaimana cara melakukan rekaman yang sebenarnya?"
"Aku akan
bertanya pada senior di live house tempatku bekerja paruh waktu. Kurasa
biayanya tidak murah, sih."
Jadi, Serika
tidak hanya mengunggah video ke MeTube, tapi juga bekerja paruh waktu di live
house?
"......A-anu.
Kalau boleh, biarkan aku saja yang melakukannya. Rekamannya."
Saat pembicaraan
hampir mencapai kesepakatan, Shinohara-kun memberanikan diri untuk mengangkat
tangan.
"Eh?
Shinohara-kun?"
"I-iya.
Setidaknya, aku pernah melakukannya. Baik mixing maupun mastering.
Kalau kita hanya meminjam peralatan di studio, kurasa bisa...... tentu
saja hasilnya mungkin tidak semulus hasil profesional."
Jika kita menyewa
tenaga profesional, biayanya pasti tidak sedikit. Aku sangat berterima kasih
jika Shinohara-kun mau melakukannya. Tapi, kenapa dia punya kemampuan seperti
itu......?
"Sebagai
penyendiri yang otaku musik, aku tidak punya pilihan selain lari ke arah
sana...... hahaha......"
"Aku paham.
Aku juga tidak bisa membentuk band, jadi aku hanya bisa membuat lagu dengan
DTM."
Serika
mengangguk-angguk setuju, tapi menurutku arahnya berbeda dengan Shinohara-kun.
DTM adalah
singkatan dari Desktop Music, yang memungkinkan kita membuat lagu di
komputer menggunakan alat musik elektronik tanpa perlu merekam alat musik asli.
Aku sendiri tidak terlalu paham soal itu.
"Kalau
begitu, urusan rekaman kuserahkan padamu ya, Shinohara-kun?"
Mendengar
konfirmasi Serika, Shinohara-kun mengangguk berkali-kali,
"I-iya......!"
"Kalau
begitu, aku yang akan menangani promosinya."
Berdasarkan
pengalamanku mempromosikan anime dan light novel favorit di media
sosial, aku punya rasa percaya diri.
"......Kalau
begitu, biar aku fokus pada komposisi lagu. Masih ada tiga lagu orisinal lagi,
tapi semuanya belum ada yang memuaskan. Aku ingin menjadikannya lagu terbaik
untuk festival budaya."
"Ngomong-ngomong,
berapa jatah waktu tampil di panggung festival budaya nanti?"
"K-kurasa
sekitar lima belas menit? Mungkin bisa membawakan tiga lagu."
"Aku percaya
diri dengan lagu pertama, 'Black Witch'. Itu adalah karya terbaikku. Nah, ini
kandidat untuk lagu kedua...... aku membuatnya dengan DTM, jadi tolong
dengarkan dulu."
Serika berkata
begitu sambil mengeklik tombol play di aplikasi ponselnya.
Lagu dimulai
dengan intro drum, diikuti oleh riff gitar yang tajam dan dentuman
rendah dari bass. Aransemennya terasa megah dan dramatis. Dibandingkan
dengan lagu pertama yang bernuansa cepat, melodi ini terasa lebih berat.
Suaranya seolah
menggambarkan dunia yang dingin dan hancur. Dalam irama yang intens, aku
merasakan campuran emosi seperti rasa sepi dan kepedihan. Ternyata dia bisa
membuat lagu seperti ini juga.
"Temanya
adalah 'Masa Lalu' atau 'Penyesalan'. Liriknya masih dalam proses. Tapi,
menurutku musiknya bagus."
"......Ya.
Aku juga berpikir begitu."
Aku
merasa terhubung. Musik ini benar-benar menyentuh hatiku.
Kesan
yang kudapatkan cukup mengejutkan. Aku tidak menyangka Serika akan mengangkat
tema ini dengan ekspresi musik seperti itu.
"Sambil
berlatih bagian masing-masing, kita bisa sekalian memikirkan liriknya."
"Lagi
pula, aransemen selain gitarnya masih sangat kasar, jadi silakan kalau kalian
mau menambah variasi."
"B-baik......!
Aku akan berusaha!"
Shinohara-kun
mengangguk mantap sambil memamerkan bass slap. Memang bagus sekali dia
mahir, tapi bukankah terlalu bersemangat justru bisa membuat aransemennya jadi
berantakan......?
*
Saat melihat jam,
waktu sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam.
Latihan itu
sendiri berakhir pada pukul tujuh malam, namun setelahnya kami masih lanjut
berlatih sendiri-sendiri.
Karena akulah
yang paling payah di antara semuanya, aku harus berlatih lebih keras.
Lagu pertama, Black
Witch, sudah cukup lancar kumainkan, tetapi untuk lagu kedua yang bahkan
belum punya judul, aku masih belum hafal sepenuhnya.
Temponya memang
lebih lambat dari lagu pertama sehingga lebih mudah dimainkan, namun lagu ini
memiliki banyak chord yang lebih rumit dibandingkan lagu pertama yang
hanya terdiri dari chord sederhana.
Shinohara-kun dan
Senior Iwano sudah pulang tadi setelah berlatih mandiri selama tiga puluh
menit. Yang tersisa hanya aku dan Serika.
Tapi, Serika
malah meninggalkan tas dan gitarnya lalu pergi entah ke mana.
Klik. Suara pintu terbuka terdengar. Serika berdiri di sana sambil
menenteng kantong plastik minimarket.
"Aku
membelikan es krim."
"......Memangnya
boleh? Soal aturan sekolah, maksudku."
"Ya
jelas tidak boleh, kan?"
Serika
masuk ke ruangan sambil memiringkan kepala, seolah bertanya "Apa yang kau
bicarakan?".
"Tenang
saja, bagianmu juga sudah ada, kok."
Aku tidak
terlalu mengkhawatirkan soal aturan itu, tapi aku terlalu lelah untuk
mendebatnya.
Sejujurnya,
latihan sampai larut malam seperti ini benar-benar menguras tenaga.
"Ini, Yukimi
Daifuku."
"......Kenapa
harus Yukimi Daifuku?"
"Karena
kau bilang kau menyukainya, kan? Mio-ri yang bilang begitu. Padahal aku tidak
tanya."
"Yah,
memang benar aku menyukainya, sih......"
Wanita itu,
seenaknya saja mengumbar apa yang disukai orang lain...... yah, tidak
apa-apalah.
Di sisi lain,
Serika duduk di sampingku sambil memakan Pino. Kami berdua duduk bersisian, menghabiskan es
krim dalam diam.
Ruangan
macam apa ini......?
Apakah
ini yang disebut masa muda? Aku tidak paham.
"Apa kau
kesulitan menulis lirik lagu kedua itu?"
"Hm. Aku
sudah mencoba beberapa kali, tapi hasilnya tidak memuaskan jadi kubuang."
Serika
melanjutkan.
"Aku,
sebenarnya payah dalam menulis lirik."
"Begitukah?
Padahal aku suka lirik Black Witch."
"Lagu itu
hanya menggambarkan perasaanku secara langsung, lalu kuterjemahkan ke bahasa
Inggris."
"Bukankah
cara itu bisa dipakai untuk lagu kedua juga? Temanya tentang 'Masa Lalu' dan 'Penyesalan',
kan?"
"......Entahlah,
aku merasa tidak bisa menuangkannya ke dalam kata-kata. Padahal aku bisa
menjadikannya musik."
Bagi Serika,
mungkin menyampaikan perasaan lewat suara jauh lebih mudah daripada lewat
kata-kata. Selama beraktivitas di band ini, aku mulai memahami hal itu.
Emosi Serika yang
biasanya sulit terbaca, kini tersampaikan dengan sangat jelas melalui perubahan
aransemen musik dan nada gitarnya.
Bahwa saat ini
dia merasa senang, bahwa masa lalunya menyakitkan, atau bahwa dia merasa takut
dengan masa depan...... musiklah yang menghubungkan kami.
Pemahamanku
terhadap Serika menjadi lebih dalam daripada sebelum kami memulai aktivitas
band.
"Hei
Natsuki, bagaimana kalau kau yang mencoba menulis liriknya?"
"......Aku?"
"Ya. Aku
rasa kau bisa melakukannya. Menulis lirik untuk lagu ini."
Mungkin Serika
juga memahami diriku lebih dalam melalui suara dan petikan gitarku.
Bagaimanapun, "masa lalu" dan "penyesalan" adalah fondasi
diriku yang berdiri di sini sekarang.
"......Baiklah.
Aku akan mencobanya."
Alasan itulah
yang membuatku bisa menerima tawaran Serika dengan lancar.
*
"Hmm......"
Meskipun sudah
bilang akan mencoba, ternyata tidak semudah itu.
Aku meremas
kertas berisi lirik yang kutulis dan melemparkannya ke tempat sampah.
Hari Minggu. Hari
ini Serika dan Shinohara-kun bekerja paruh waktu, jadi tumben sekali kami tidak
ada jadwal latihan.
Aku sudah meminta
izin pada manajer kafe Mares untuk mengurangi shift kerjaku sampai
festival budaya selesai, tapi Shinohara-kun yang baru masuk tidak bisa begitu
saja.
Serika sepertinya
juga ada kerjaan di live house, dan Senior Iwano sedang sibuk dengan
tempat bimbingan belajar.
Minggu pertama
berjalan lancar, tapi ke depannya akan semakin sulit mencari waktu latihan jika
kami tidak menyesuaikan jadwal dengan cermat.
Apakah mengatur
jadwal menjadi tugasku? Serika
tidak terlihat seperti orang yang ahli dalam hal itu.
Aku harus
menggunakan fitur jadwal di RINE......
Saat aku
sedang sibuk mengurus percakapan di grup chat "Band-ku",
ponselku berbunyi.
Sebuah pesan
masuk dari Hoshimiya.
Isinya adalah,
"Ada yang ingin kubicarakan soal naskah baru."
Benar juga...... tidak ada salahnya aku juga berkonsultasi
dengan Hoshimiya soal lirik lagu.
Meskipun novel
dan lirik itu berbeda, keduanya sama-sama merupakan bentuk ekspresi melalui
kata-kata.
Mungkin Hoshimiya
bisa memberikan saran yang bagus.
Waktuku tidak
banyak, dan tidak ada gunanya berdiam diri memikirkan hal ini sendirian.
Aku membalas
pesan Hoshimiya yang bertanya "Apa kau ada waktu luang hari ini?"
dengan stiker tanda setuju, lalu mengirim pesan, "Aku juga ingin
berkonsultasi." Dia membalas, "Begitu ya?".
Kemudian
Hoshimiya mengirimkan alamat sebuah kafe. Nama kafe itu terdengar keren, dan aku pun
belum pernah mendengarnya.
"Kudengar
panekuk di sini enak, lho! Mau pergi?"
Setelah berpikir
sejenak, aku membalas, "Oke!", lalu berganti pakaian dan keluar
rumah.
*
Kami bertemu di
Stasiun Takasaki.
Menurut ramalan
cuaca, akhir pekan ini suhu akan turun drastis karena gelombang dingin. Benar
saja, memakai baju satu lapis saja sudah terasa dingin. Aku mengenakan kardigan
di atas kausku.
"Ah,
Natsuki-kun!"
Hoshimiya yang
menemukanku langsung menunjukkan ekspresi ceria dan berlari kecil mendekat.
Dia mengenakan camisole
dress cokelat di atas kemeja hitam. Padu padan yang sangat cocok dengan
suasana musim gugur.
"Selamat pagi, Hoshimiya...... ah, sudah siang ya
ternyata."
"Fufu,
iya kan? Aku sudah tidak sabar ingin makan panekuk."
Makan
siang hanya dengan panekuk, benar-benar tipikal anak perempuan.
Apakah
aku, seorang anak SMA laki-laki yang sehat, akan kenyang hanya dengan panekuk?
"Panekuk
itu porsinya lebih besar dari kelihatannya, sebaiknya jangan
meremehkannya."
"Oh
ya?"
Hanya
dengan berdiri di dekat Hoshimiya, perhatian orang-orang di sekitar mulai
tertuju pada kami.
"Anak
itu, manis ya?"
"Wah,
seperti idola......"
"Sial,
andai aku juga punya pacar yang manis......"
Suara
mahasiswa yang berpapasan dengan kami terdengar, dan pandanganku tidak sengaja
bertemu dengan Hoshimiya.
"Ada
apa?"
"......Kau
manis hari ini, Hoshimiya. Walaupun sebenarnya kau selalu manis, sih."
Aku mengatakannya
lalu berjalan lebih dulu. Aku sengaja tidak melihat ekspresi Hoshimiya.
Sesaat
kemudian, terdengar suara langkah kakinya yang terburu-buru menyusul di
sampingku. Bisikan lirihnya terdengar jelas di telingaku.
"......Aku
lebih suka disebut cantik daripada manis, tahu?"
Mungkin itu isi
hatinya, tapi dalam situasi ini, jelas sekali dia hanya berusaha menutupi rasa
malunya. Saat aku melirik sekilas ke samping, Hoshimiya menatapku dengan wajah
memerah karena kesal.
Begitu mata kami
bertemu, dia menabrakkan bahunya ke bahuku. Belakangan ini, Hoshimiya cenderung sering
menggunakan kekerasan (?).
"Bagaimana? Bagaimana perkembangan band-mu?"
"Kurasa kami akan membawakan tiga lagu di festival
budaya nanti. Lagu pertama hampir sempurna...... tapi lirik lagu kedua belum
selesai. Serika juga sepertinya masih bingung soal lagu ketiga."
"Wah, tiga lagu ya. Aku jadi tidak sabar."
"Itu pun belum pasti, tergantung jadwal panggung di
festival budaya nanti."
"Omong-omong, kalian membawakan lagu orisinal ya? Itu
Serika-chan yang buat?"
"Kebanyakan begitu...... tapi justru itu yang ingin
kubicarakan denganmu. Aku yang ditugaskan membuat lirik lagu kedua, tapi aku
buntu. Aku ingin minta saran
padamu."
"A-aku? Aku
tidak pernah menulis lirik lagu."
"Tapi
kau menulis novel, kan? Mungkin ada kemiripannya."
"Hmm......
karena Natsuki-kun yang minta, aku akan berusaha, tapi aku tidak janji bisa
membantu banyak ya?"
"Tidak
apa-apa. Siapa tahu dengan bicara padamu, aku bisa mendapat ide."
Sambil
berbincang, kami sampai di kafe tujuan.
Tempatnya
cukup ramai, tapi setelah menunggu sekitar lima menit, kami diantar ke meja
dekat jendela.
Kami memesan kopi
untukku dan milk tea untuk Hoshimiya, lalu menarik napas lega.
"......Kalau
begitu, boleh aku mulai konsultasi?"
Hoshimiya
mengangguk, lalu aku mengeluarkan ponsel dan earphone dari saku.
"Ini
lagu keduanya. Coba dengarkan."
Setelah
memastikan Hoshimiya memakai earphone, aku mengeklik tombol play.
Selama tiga menit, Hoshimiya menutup mata dan mendengarkan musiknya dengan
serius. Dia membuka matanya tepat saat lagu berakhir.
"......Ya.
Lagunya terasa intens, tapi entah kenapa membuatku sedih......"
"Temanya
katanya 'Masa Lalu' dan 'Penyesalan'. Berdasarkan itu, ini lirik yang
kutulis."
Aku menyerahkan
secarik kertas pada Hoshimiya.
Meskipun aku
sendiri belum puas, ini adalah lirik terbaik yang pernah kutulis.
Hoshimiya membaca
lirik itu sambil memutar kembali lagunya.
"Aku
tidak bilang lirik ini buruk, sih......"
Hoshimiya
menatap kertas itu dengan ekspresi sulit, lalu menyesap milk tea-nya.
"Tapi
rasanya, tidak ada sesuatu yang tersampaikan."
"Sesuatu
yang tersampaikan?"
Padahal aku sudah
berusaha menggambarkan perasaanku.
Namun, aku tahu
ada sesuatu yang kurang.
"Ya. Aku
bisa mengerti seperti apa masa lalumu dan apa yang kau sesali, tapi aku tidak
tahu apa yang ingin kau sampaikan dari sana."
Penjelasannya
agak sulit kupahami.
Hoshimiya
berusaha mencari kata-kata yang bisa kumengerti.
"Menurutku
lirik ini cocok dengan lagunya. Tapi...... kalau hanya berisi perasaan
gelap, sedih, atau kesepian saja, itu tidak terasa seperti Natsuki-kun."
"Begitukah?
Aku......"
——Sebenarnya,
aku memang orang seperti itu.
Setiap kali
mencoba mengungkapkan perasaanku, aku tidak bisa lari dari kenyataan itu.
Seolah melihat
menembus kata-kataku, Hoshimiya berkata.
"Aku
mengerti. Aku juga begitu. Tapi,
Natsuki-kun sedang berusaha untuk berubah, kan?"
Benar.
Aku sedang berusaha mengubah diriku sendiri.
Dari
diriku yang hanya bisa merasa payah, menjadi diriku yang keren.
Agar kali
ini aku tidak menyesal. Agar aku bisa mengubah masa remajaku yang kelabu.
"Apa yang
ingin Natsuki-kun sampaikan lewat lagu ini?"
Hoshimiya
bertanya padaku.
Itu adalah sorot
mata seorang penulis yang mengejar idealisme.
"Masa lalu
dan penyesalan itu ada untuk kita manfaatkan demi masa depan, kan?"
Setidaknya,
aku tidak pernah terpikirkan hal itu.
Karena
aku adalah orang yang kembali ke masa lalu untuk memperbaiki penyesalanku.
Itulah mengapa
kata-kata Hoshimiya begitu menusuk hatiku.
"Kalau kau
hanya ingin bilang kalau kau itu orang yang lemah, itu juga tidak masalah......
tapi itu bukan Natsuki-kun yang kusukai. Karena Natsuki-kun adalah orang yang
bisa bilang bahwa dirinya akan berubah, kan?"
Hoshimiya
mengucapkannya dengan agak cepat di bagian akhir.
"......Kau
tidak perlu mengatakannya jika itu membuatmu malu."
"B-berisik.
Aku sedang serius sekarang."
"Maaf."
Saat aku
meminta maaf dengan tulus, Hoshimiya tersenyum lembut.
"Bagiku,
Natsuki-kun yang berusaha menjadi keren itu sangat keren."
Kata-kata itu
meresap perlahan ke dalam hatiku.
"Jadi, aku
ingin kau terus seperti itu. Yah, ini hanya keinginanku saja sih."
Hoshimiya
memintaku untuk terus melangkah maju.
Jangan pernah
puas dengan keadaan sekarang, jadilah dirimu yang lebih keren dari hari ini.
"......Kedengarannya
cukup berat ya?"
"Aku ingin
menjadi seseorang yang selalu mendorong punggungmu, Natsuki-kun."
——Seperti kau
yang selalu mendorong punggungku, lanjut Hoshimiya.
"Aku ingin
hubungan kita menjadi seperti itu. Kita berjuang menggapai tujuan
masing-masing...... tapi saat kesulitan atau sedang merasa sakit, kita bisa
saling mendukung......"
Mungkin karena
malu setelah mengucapkannya, pipi Hoshimiya mulai memerah dengan cepat.
"......Kenapa?"
"......Hal
seperti itu, kau pasti tahu tanpa aku beri tahu pun."
Hoshimiya
memalingkan wajah, dan entah kenapa aku merasa sangat menyayanginya.
"......Begitu ya."
Diriku yang berusaha menjadi keren, terlihat keren...... ya?
Hoshimiya adalah orang pertama yang mengatakan hal seperti
itu padaku.
Ini bukan pertama atau kedua kalinya aku berusaha untuk
berubah.
Namun, dulu aku hanya selalu ditertawakan. Setelah melakukan
time leap dan memiliki lebih banyak pengalaman hidup dibandingkan orang
lain, akhirnya kurasa usahaku membuahkan hasil sedikit demi sedikit.
Ada
banyak orang yang bilang diriku keren setelah aku berhasil berubah seperti ini.
Tentu saja aku senang. Karena itu adalah bukti bahwa usahaku diakui.
Namun,
Hoshimiya adalah satu-satunya orang yang memperhatikan proses di baliknya.
Hanya karena hal
itu, entah mengapa aku merasa sangat bahagia sampai hampir menangis.
"Pokoknya,
pokoknya... aku hanya ingin melihat sisi Natsuki-kun yang seperti itu di dalam
lirik ini."
Aku benci lagu
yang hanya berisi kata-kata positif.
Aku benci lagu
yang menyanyikan tentang mimpi dan harapan yang gemerlap.
Aku juga benci
lagu yang menyanyikan tentang masa muda yang penuh kilauan.
Bukan
berarti aku menyukai lagu yang hanya bernada suram.
Aku
menyukai lagu yang berusaha menatap ke depan meski dalam kepenatan. Tiba-tiba, aku teringat akan hal itu.
"Terima
kasih Hoshimiya, itu sangat membantuku."
Sekarang aku
mengerti arah lirik yang aku tuju untuk lagu ini.
"Maaf
membuat kalian menunggu."
Petugas toko
membawakan pancake ke meja kami.
Pancake itu
terlihat lebih besar dan tebal daripada yang ada di menu, dengan sirup maple
yang dituangkan berlimpah.
Kenapa para gadis
selalu bicara soal diet tapi tetap memakan makanan yang terlihat menggemaskan
dan tinggi kalori seperti ini?
Aku
memikirkannya, tapi aku tahu lebih baik untuk tidak mengatakannya.
"Wah,
kelihatannya enak."
Hoshimiya menatap
pancake itu, pipinya mengembang dengan gembira.
Dia merapatkan
tangan dan berkata, "Selamat makan," dengan pose yang sangat manis
saat mulai menyantapnya.
"......E-eh,
kalau ditatap seperti itu, aku jadi sulit makan, tahu?"
"......A-ah,
maafkan aku."
Aku berusaha
menahan suasana yang terasa canggung, lalu melanjutkan makan pancake-ku.
"Cerita yang
sedang kutulis sekarang adalah kisah cinta masa muda dengan elemen sci-fi,
tapi—"
Setelah itu,
Hoshimiya meminta saran untuk karya barunya.
Sepertinya dia
sedang buntu dengan perkembangan cerita di bagian tengah.
Aku melontarkan
pendapat yang sepertinya tidak berguna seperti, "Kenapa tidak tambah saja
karakternya?" atau "Di manga yang biasa kubaca, biasanya ada karakter
berkacamata misterius yang mulai menjelaskan sesuatu," atau "Ayo tambah
heroine lagi."
Namun, setiap
kali aku mengatakannya, Hoshimiya hanya tertawa geli.
"Terima
kasih ya, Natsuki-kun."
Saran Hoshimiya
sangat membantuku, tapi aku merasa sangat tidak enak karena saranku sama sekali
tidak berguna untuknya. Bahkan aku sampai membuatnya harus berbasa-basi...
Saat kami asyik
mengobrol, Hoshimiya melihat jam tangannya.
"Maaf, sudah
saatnya."
"Jam
malam?"
"Jam
malamnya sudah diundur sedikit sih, tapi aku tidak mau membuat Papa terlalu
khawatir. Hari ini aku harus pulang. Terima kasih sudah menemaniku ya."
"Ya. Sampai
jumpa di sekolah."
Sepertinya
hubungan keluarganya menuju ke arah yang baik.
Senyum tenang
yang ditunjukkan Hoshimiya menjadi bukti nyatanya. Aku merasa benar-benar lega
mendengarnya.
"Natsuki-kun!"
Saat akan
berpisah di peron stasiun, Hoshimiya memanggilku sekali lagi.
Dia mengangkat
kepalan tangan kanannya dan berucap dengan suara yang penuh semangat.
"Semangat!
Aku menantikan penampilan kalian di live nanti!"
"—Serahkan
padaku!"
Belajar dari
pengalaman sebelumnya, aku dengan percaya diri berjanji padanya.
*
Sepulang sekolah.
Saat menuju ruang musik kedua, entah kenapa Serika sedang berdiri di depan
pintu.
Sepertinya
dia sedang mengobrol dengan seseorang. Orang yang berdiri di depan Serika
adalah siswa laki-laki bertubuh tinggi dan kurus. Dia memakai kacamata, namun senyumnya memberikan
kesan yang menyegarkan.
"Ah,
Natsuki."
"Eh? Dia
anggota baru?"
"Bukan. Ini
Haibara Natsuki, gitaris vokal di band kita."
"Halo, halo.
Aku Kano Tsubasa. Aku menjabat sebagai ketua klub musik ringan. Salam
kenal."
"Ah, aku
Haibara. Maaf ya, baru menyapa sekarang..."
"Tidak
apa-apa, namanya juga beda band, jadi jarang ada kesempatan untuk
mengobrol."
Dia orang
yang supel dan mudah diajak bicara. Tapi, kenapa dia ada di ruang musik kedua?
"Jadi
begini, festival budaya sudah dekat, kan? Kami juga ingin latihan dengan
serius, dan tempat latihan yang bisa dipakai cuma ruang klub dan ruang musik
kedua ini saja. Jadi, aku ingin minta tolong untuk mengatur jadwalnya."
"Sampai
baru-baru ini, kitalah yang memonopoli ruangan ini."
"Benar
sekali. Yah, kami dan satu band lainnya pun biasanya latihan seminggu dua kali,
jadi cukup dengan ruang klub saja. Tapi mulai sekarang, sepertinya tidak bisa
begitu terus. Ya kan?"
Kalau ketua sudah
memintanya dengan cara seperti itu, aku tidak mungkin bisa menolaknya. Lagi
pula, itu adalah argumen yang logis. Tempat ini bukan tempat yang bisa kami
monopoli sesuka hati.
"Oke, mulai
besok kita atur jadwalnya lewat RINE ya, sampai jumpa!"
Ketua pergi
begitu saja. Orang yang santai sekali. Meskipun bagus karena dia mudah diajak
bicara.
"Itu ketua.
Dia bisa memainkan apa saja, tapi kalau harus memilih, dia paling mahir main
drum. Meski orangnya
tidak terlalu niat, sih."
Serika
masuk ke ruang musik kedua sambil mengangkat bahu.
Sepertinya
setidaknya hari ini kami masih boleh menggunakannya.
"Kalau
mereka mulai latihan, rasanya festival budaya sudah semakin dekat ya."
"Memangnya
dia tidak punya niat latihan?"
"Biasanya
kalau mereka kumpul di ruang klub, mereka cuma main mahjong atau kartu.
Bukannya mereka tidak berbakat, sih. Terutama band milik ketua, aku bisa
merasakan bakat mereka. Sayang sekali."
Kalau
lingkungannya seperti itu, wajar saja jika Serika merasa tidak cocok. Meskipun
mereka bukan orang jahat, perbedaan motivasi adalah sesuatu yang tidak bisa
dihindari.
"Mulai
besok, mungkin hari di mana kita tidak bisa latihan akan bertambah."
"Lalu
bagaimana?"
"Aku akan
menyewa studio yang biasa kupakai. Meski agak mahal, sih."
"Yah,
masalah uang tidak bisa dihindari."
Latihan di
studio, ya. Yah, kami sudah terlalu terbiasa di ruang musik kedua, dan ini bisa
menjadi penyegaran suasana yang tidak buruk.
"Ada
keuntungan dari kanal dan pendapatan dari kerja paruh waktu, jadi aku akan
mengurusnya."
"Aku tidak
suka terus-terusan mengandalkan Serika. Aku juga punya pendapatan dari kerja
paruh waktu, jadi tenang saja."
"Begitu?
Padahal kamu baru saja beli gitar, kan?"
"Aku akan
mengusahakannya. Itu bukan masalah yang perlu dipikirkan Serika."
Meskipun Serika
punya uang lebih banyak daripada kami, terus mengandalkannya bukanlah hal yang
baik.
Masalah uang
harus diselesaikan secara adil agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Itu adalah pelajaran yang kupetik dari pengalaman masa lalu.
"Bagaimana
dengan liriknya?"
"Aku sudah
membuatnya."
Gara-gara itu,
hari ini aku kurang tidur. Aku membuatnya semalaman setelah mendapat saran dari
Hoshimiya. Aku merasa hasilnya cukup memuaskan, tapi bagaimana penilaian
Serika?
Serika menatap
selembar kertas yang kuberikan dengan saksama.
Jantungku
berdegup kencang. Ternyata, waktu yang dibutuhkan untuk menunggu penilaian atas
lirik yang kubuat ini terasa sangat lama...
"Hmm, bagus
kok. Aku tidak salah percaya pada Natsuki."
Tak lama
kemudian, Serika mengacungkan jempolnya.
"Benarkah?"
"Ya. Ini
lirik yang sangat 'Natsuki'. Begitu ya, ini adalah hal yang ingin kamu
sampaikan."
Serika
mengangguk berulang kali sambil memandangi kertas itu.
"Sudah
seminggu berlalu, jadi aku sempat khawatir akan jadi seperti apa."
"Mengenai
itu, aku minta maaf."
"Karena
lirik terbaik sudah tercipta, jadi tidak masalah. Lalu, bagaimana dengan
judul lagunya?"
"Ah, aku berpikir untuk memberinya judul
'Monokrom'."
"Hmm... cukup dalam juga, ya?"
Aku tidak tahu apa yang membuat dia bilang itu dalam, tapi
aku mengangguk saja.
"Akhirnya lagu kedua sudah selesai?"
Senior Iwano masuk ke ruang musik kedua, membuatku
menundukkan kepala dan berkata, "Maafkan saya."
"Ya. Lagunya sudah jadi dan bagus. Tapi dengan lirik
ini, sepertinya aku ingin sedikit menyesuaikan aransemen musiknya."
"Begitu ya.
Aku mengerti. Kita masih punya waktu, mari kita diskusikan saat Shinohara
datang."
"......Ah,
maaf, sebenarnya dia sudah ada di sini......"
Suara
Shinohara-kun terdengar, membuat kami semua terpaku.
Aku mulai
terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba, tapi tetap saja itu mengejutkan.
"Hei Serika,
bagaimana dengan lagu ketiga?"
"......Lagu
kedua saja baru selesai, jadi ya, begitulah. Hmm, bagaimana ya."
"Kalau belum
ada rencana, bolehkah aku yang memikirkan liriknya?"
Serika
membelalakkan matanya mendengar tawaranku.
Sejujurnya, aku
pun tidak menyangka akan mengajukan hal seperti itu.
Namun setelah
menulis lirik 'Monokrom', aku sadar ada banyak hal yang ingin kusampaikan.
Sebagian besar
sudah tertuang di 'Monokrom', tapi... masih ada hal lain yang ingin kukatakan.
"......Baiklah.
Aku percaya pada Natsuki yang sudah membuat lirik lagu ini."
"Aku
tidak paham soal komposisi musik. Kalau Hondo sudah memutuskan begitu, aku akan mengikutinya."
"A-aku juga
percaya pada Haibara-kun...!"
Anggota band
lainnya menyuarakan dukungan mereka satu per satu.
Mendapatkan
kepercayaan seperti itu dari rekan-rekanku sungguh sangat berarti.
"Baiklah,
ayo kita mulai latihannya."
Serika bertepuk
tangan, lalu kami mulai mengatur peralatan masing-masing.
Setiap kali
festival budaya mendekat, aku bisa merasakan semangat mereka yang semakin
membara.
Transisi dari
lagu pertama 'Black Witch' ke lagu kedua 'Monokrom' terasa sangat dramatis.
Suara yang
awalnya liar dan kasar, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan berat.
Drum Senior Iwano
dan bass Shinohara-kun terasa jauh lebih presisi dibandingkan dengan rekaman
DTM yang dibuat Serika.
Perpindahan
antara dinamika tenang dan kuat terasa sangat nyaman di telinga.
Terlebih
lagi, timbre gitar Serika terdengar sangat berbeda saat dimainkan secara
langsung.
Suara
gitar yang terdistorsi oleh pedal efek terdengar melengking di atas fondasi
ritme yang kuat.
Saat
intensitas lagu mencapai puncak, suara hi-hat dipukul dengan keras, lalu semua
dentuman musik menghilang seketika.
Di bagian
C-melody, lagu dimulai dari vokalku secara akapela.
Seiring
mendekati bagian chorus, suara drum, bass, dan gitar ritmeku mulai masuk satu
per satu.
Begitu
melodi gitar Serika menyatu dengan suara kami, aku berteriak menyanyikan lirik
yang kubuat sendiri.
Musik
benar-benar memenuhi seluruh dunia kami.
Ah,
rasanya menyenangkan. Tempat ini benar-benar membuatku nyaman.
Meski
keringat masuk ke mata atau tangan yang terus melakukan Stroke intens
terasa hampir kram, aku terus bernyanyi.
Kurasa kami
berempat sedang merasakan hal yang sama saat ini.
Latihan kali ini
terasa jauh lebih kompak daripada sebelumnya.
Aku ingin terus
memainkannya selamanya, tapi musik pasti akan menemui akhirnya.
Bahkan setelah
lagu berakhir, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.
"......Kita
harus bisa mengeluarkan kualitas seperti tadi saat konser nanti."
Semua
orang, termasuk diriku, mengangguk setuju atas ucapan Serika.
Kemampuanku
dalam menyanyi sambil bermain gitar juga sudah mulai membaik.
Meski
begitu, itu masih belum cukup. Nyatanya, aku masih menjadi beban bagi mereka.
Sedikit
lagi. Aku merasa kami semakin dekat dengan penampilan ideal.
*
Setelah
latihan selesai, aku memikirkan lirik lagu ketiga sambil memetik gitar.
Lirik
lagu kedua, 'Monokrom', menggambarkan masa lalu dan penyesalanku yang
menghabiskan masa muda dalam abu-abu karena kegagalanku sendiri, namun tetap
menunjukkan tekad untuk menatap ke depan.
Aku
mengekspresikan perasaanku saat ini—perasaan untuk mengubahnya menjadi masa
muda yang penuh warna pelangi—secara langsung.
Hasilnya
adalah lagu yang terasa seperti meraih secercah cahaya di dalam kegelapan.
Semuanya
berkat saran Hoshimiya.
Untuk
lagu ketiga... apa yang sebaiknya aku lakukan?
"Kau
sedang kesulitan?"
Ternyata
Senior Iwano yang kembali ke ruangan.
Serika
sepertinya pergi ke toko musik karena senar gitarnya rusak, sementara
Shinohara-kun langsung lari karena ada shift kerja paruh waktu.
Jadi,
tinggal aku dan Senior Iwano yang tersisa.
Senior
Iwano memegang dua kaleng kopi yang dibelinya dari mesin penjual otomatis.
"Mana
yang kau mau, yang tanpa gula atau yang sedikit manis?"
"Yang
tanpa gula saja."
"Yang
tanpa gula untukku, jadi kau ambil yang sedikit manis."
Lalu kenapa kau
bertanya...?
Aku menerima kopi
itu sambil membukanya.
Yah,
karena ditraktir, aku tidak bisa banyak mengeluh.
Cuaca mulai
menjadi dingin, sehingga minuman panas terasa nikmat, meski kopi ini agak
terlalu manis bagi seleraku.
Senior
Iwano menatapku tajam sambil memegang kaleng kopinya.
"Haibara,
kenapa kau ingin membentuk band?"
"......Itu,
akhir-akhir ini aku sering ditanya begitu. Ada banyak alasannya. Tapi aku sadar, alasan
utamanya ternyata cuma karena ingin terlihat keren saja."
"......Di
depan wanita yang kau sukai, maksudnya?"
Aku mengangguk
tanpa kata. Senior Iwano tersenyum tipis, sesuatu yang jarang dia lakukan.
"Alasan
orang nge-band, rata-rata memang seperti itu."
"......Apakah Senior Iwano juga begitu?"
"Awalnya,
aku cuma ingin populer di mata wanita."
"......Eh?"
Mataku
terbelalak. Namun, melihat ekspresi serius Senior Iwano, aku tidak bisa menahan
tawa.
"Kenapa kau
tertawa? Aku memang ingin populer di mata wanita. Kau keberatan?"
"Ti-tidak,
sama sekali tidak keberatan kok... ha-ha-ha..."
Tak
disangka sekali. Kalau itu tujuannya, kupikir ada cara lain yang lebih efektif
daripada nge-band. Aku
mengira alasannya jauh lebih serius dan "jantan".
"Apakah
sekarang masih sama?"
"Tidak,
percuma populer sekarang. Setelah ini selesai, aku harus fokus belajar untuk
ujian masuk universitas."
Tanggapan yang
realistis khas Senior Iwano. Dia meletakkan kaleng kosongnya dan mulai
memainkan stik drumnya dengan irama tatatan.
"Mungkin kau
tidak tahu, tapi sebelum masuk band ini, aku berada di band anak kelas
tiga."
Aku
samar-samar pernah mendengarnya dari Serika. Bahwa Senior Iwano adalah
satu-satunya anak kelas dua di band itu, dan ketika mereka lulus, dia menjadi
anggota yang tidak punya band dan tidak ada yang mengajaknya bergabung.
"Di
sana ada guruku yang mengajariku bermain drum. Dia bisa memainkan apa saja, dan
dia adalah basis di band itu. Dia orang yang ceria, punya jiwa kepemimpinan,
dan orang yang manis."
Dia terus
bercerita sambil memukul drum.
Bass
drum, snare, hi-hat, snare. Pukulannya mengalir indah.
Saat
dilihat langsung, dia memang sangat hebat. Suara bertenaga keluar dari
lengannya yang kekar. Dia bahkan sempat memutar stik drumnya di sela-sela
permainan. Hanya saja, ekspresinya selalu terlihat galak.
"Dia
adalah orang baik yang selalu mengajakku bicara, meski aku sulit
didekati."
"......Apakah
Senior menyukainya?"
Aku
bertanya setelah menangkap arah pembicaraannya. Senior Iwano terdiam
sejenak sebelum menjawab.
"Baru-baru ini dia cerita dengan gembira bahwa dia
sudah punya pacar."
Aku hampir menyemburkan kopiku.
Uhuk, uhuk! Aku berusaha menelan kembali kopi yang
hampir masuk ke saluran pernapasan.
"Itu...
bagaimana ya mengatakannya..."
"Tidak perlu
sungkan. Aku sudah tahu sejak lama kalau guruku itu menyukainya, dan aku pun
mendukungnya. Selama guruku bisa bahagia, itu sudah cukup bagiku."
Mendengar nada
bicara Senior Iwano yang tenang, suara drum itu justru terdengar melankolis.
Mungkin tidak
semua yang dikatakannya adalah isi hatinya, tapi sepertinya dia sudah berdamai
dengan perasaannya.
"Aku berniat
merayakan kebahagiaan guruku lewat penampilan di konser festival budaya
nanti."
"Itu...
bagaimana ya, sangat rock sekali."
"Benar kan?
Aku akan memberikan penampilan terbaik. Awalnya aku sempat khawatir, tapi aku
yakin band kita sekarang bisa melakukannya. Jadi Haibara, aku serahkan lirik
lagu ketiga padamu."
"......Senior
memberikan tekanan yang cukup berat, ya?"
"Untuk
ukuranmu, itu sudah pas. Aku mulai memahami watakmu."
Senior Iwano
tertawa kecil. Aku juga mulai memahami dirinya. Pria ini hanya terlihat seram
dan bicaranya kasar, padahal aslinya dia hanyalah siswa SMA yang baik hati.
"Dimengerti.
Akan kulakukan yang terbaik."
Aku
merasa senang karena jarak kami sedikit lebih dekat. Di saat yang sama, aku
teringat bahwa band ini akan berakhir setelah festival budaya, dan itu
membuatku merasa sedih.
*
Saat aku
tertidur di tengah pelajaran, tahu-tahu guru sudah berdiri di depanku.
"Meski
kau peringkat satu di sekolah, bukan berarti kau boleh tidur di kelas,
kan?"
Guru
wanita muda yang baru mulai mengajar tahun ini menatapku dengan senyum lebar.
"Maafkan
saya. Suara Ibu guru sangat menenangkan."
"Fu-fu-fu,
kata-kata itu tidak akan mempan untuk mengelabuiku."
Begitulah,
akhirnya hanya aku yang diberi tugas tambahan. Tidak adil! Bukankah ini tidak adil? Aku
menatapnya dengan rasa tidak puas, tapi dia mengabaikanku begitu saja sampai
jam pelajaran berakhir.
Hoshimiya
yang duduk di sebelahku menepuk pundakku, "Ahaha, sabar ya."
Apa pun itu,
waktu istirahat makan siang akhirnya tiba.
"Ayo pergi
makan."
"Iya,
iya."
Aku
mengangguk pada Tatsuya lalu berdiri mengambil dompet.
Hoshimiya dan
teman-teman wanita lainnya sepertinya berencana makan dengan teman lain hari
ini.
"Di mana
Reita?"
"Dia hari
ini sedang bersama Motomiya."
Tatsuya menunjuk
ke arah Reita dan Miori yang sedang berjalan bersama.
Miori
menyadari keberadaanku dan melambaikan tangan dengan ringan. Aku pun
membalasnya.
Sepertinya
mereka berjalan dengan lancar. Kalau dilihat, mereka pasangan yang sangat
serasi.
"Tadi
sepertinya kau dapat tugas tambahan, ya?"
"Ah, iya.
Setelah kulihat, ternyata tugasnya tidak terlalu sulit, jadi tidak
masalah."
"Yah,
memberikan tugas berlebihan pada peringkat satu sepertinya tidak ada gunanya.
Tapi jarang sekali, seorang murid teladan sepertimu tidur di kelas. Kau
kelelahan karena kegiatan band?"
"Begitukah?
Aku sebenarnya cukup sering tidur, hanya saja sebelumnya tidak pernah
ketahuan."
Aku membeli tiket
makan di mesin penjual otomatis kantin. Hari ini aku ingin makan kari. Porsi besar, tentu saja.
"Tapi
memang benar aku sedang lelah. Kemarin malam aku begadang untuk menulis lirik."
"Kegiatan
band terdengar sangat sibuk, ya."
"Yah,
begitulah. Tapi karena semuanya memuaskan, aku tidak keberatan."
Aku
membawa kari porsi besar dan duduk di depan Tatsuya. Dia memesan nasi ayam
goreng.
Ngomong-ngomong,
ini pertama kalinya kami berdua saja setelah sekian lama.
Akhir-akhir ini,
kami biasanya makan bersama teman-teman wanita atau bertiga dengan Reita.
Tatsuya mulai melahap ayam gorengnya dengan mulut besar.
"......Sebenarnya,
apa yang ingin kau lakukan?"
Tatsuya menelan
ayamnya, lalu meminum air di gelasnya sampai habis dalam sekali teguk.
"......Maksudmu
soal lagu itu?"
"Ya. Kenapa
kau masih ragu sampai sekarang?"
Tatsuya tidak
menatapku. Sambil terus memakan nasi ayamnya, dia berbicara.
"Akhir-akhir
ini, melihatnya... sedikit menyakitkan."
"Aku sadar
dia pura-pura ceria..."
"Dia merasa
cemas karena kau tidak punya pendirian. Tapi, dia berusaha menyembunyikan hal
itu."
"......Maaf."
Setelah
memikirkannya, hanya kata itu yang bisa keluar.
"......Aku
tahu kau tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas hal itu."
Tatsuya memukul
dahinya sendiri dengan kepalan tangan, lalu menghela napas.
"......Bahagiakanlah
dia."
Tanpa perlu
dijelaskan, dia pasti sudah memahami situasi kami saat ini.
Aku tidak akan
menyerah.
...Meskipun itu
berarti aku harus memutarbalikkan kata-kataku sendiri di masa lalu.
Tetap saja, aku
mendoakan kebahagiaan gadis yang kucintai. Sekalipun aku tidak berada di
sampingnya.
Aku tidak
mengatakan apa-apa. Karena aku tidak punya kata-kata untuk membalas Tatsuya.
*
Sepulang sekolah,
kami melakukan latihan studio untuk pertama kalinya.
Akustik dan
peralatannya lebih baik daripada tempat biasa. Meski mahal, itu sepadan.
Karena hari ini
kami juga berencana merekam 'Black Witch' dan 'Monokrom', aku harus
bersemangat.
"Aku sudah
membuat lirik lagu ketiga. Meski aku sendiri belum merasa puas."
Aku memberikan
kertas itu kepada Serika.
Serika menatap
liriknya dengan saksama, lalu memiringkan kepalanya.
"Kurasa
tidak buruk... tapi kau sendiri belum puas?"
"Hmm...
rasanya ada elemen penting yang masih kurang."
Serika
menjawab "Hmm" dan terus menatap lirik itu, sebelum tiba-tiba
mendongak.
"Tapi
sebagian besar sudah selesai, kan? Aku akan mencoba membuat musiknya
berdasarkan ini dulu. Natsuki, tolong pikirkan lagi liriknya. Festival budaya
sudah dekat, kita harus bekerja cepat."
"Maafkan
aku, Serika. Aku serahkan
padamu."
"Serahkan
padaku. Aku akan membuatnya menjadi lagu yang bisa menyampaikan cintamu."
Mendengar
kata-kata itu, perasaanku menjadi agak canggung. Aku bertanya sambil menggaruk pipi.
"......Memangnya,
sudah kelihatan ya?"
"Bagaimana
pun dilihatnya, ini adalah lagu cinta. Tidak mungkin bisa disembunyikan. Bahkan
aku saja yang cuma membaca liriknya merasa wajahku memanas. Ah, benar-benar
deh, kau sedang menikmati masa mudamu ya, Natsuki."
"Berisik."
Hanya itu yang
bisa kukatakan sebagai sanggahan.
Jujur saja, ini
sangat memalukan. Wajahku terasa panas.
"Aku suka
lirik yang terasa 'anak muda' seperti ini."
"......Begitukah."
"Sudah ada judul lagunya?"
Aku menjawab pertanyaan Serika.
Mendengar jawabanku, Serika tersenyum geli dengan cara yang
tidak biasa.
"Kau
benar-benar jatuh cinta padanya ya."
"......Berisik.
Ayo kita mulai rekamannya."
Saat aku bertepuk
tangan, Shinohara-kun dan Senior Iwano yang sedang asyik mengobrol menoleh.
Entah sejak kapan
mereka berdua jadi akrab.
Mungkin karena
keduanya adalah bagian dari Rhythm Section.
"Ngomong-ngomong,
jadi apa nama band kita?"
Aku
teringat topik itu. Serika yang merespons.
"Ah,
benar juga."
"Aku
sudah memikirkan kandidatnya."
Yang
berbicara justru Senior Iwano, yang di luar dugaan.
"Selain
Haibara, kita ini kan sekumpulan orang-orang yang tersisa dari klub musik
ringan, bukan?"
"Yah,
mungkin begitu... apalagi aku... ha-ha-ha..."
"Makanya,
aku menerjemahkannya ke bahasa Inggris. 'Sekumpulan orang yang tersisa' bisa
disebut mishmash. Dan, orang yang tersisa bisa diterjemahkan menjadi leftover
yang terdengar paling keren. Jadi jika dikombinasikan—"
Senior Iwano
menuliskan ejaan itu di balik kertas lirik lagu ketiga yang kubawa.
"—Bagaimana kalau mishmash leftovers?"
"Bagus juga. Meskipun sederhana."
"Untuk kita,
rasanya itu sudah cukup pas."
"Singkatannya
bagaimana? Mish-Lev? Terdengar lucu, ya."
"Tidak
apa-apa kan kalau kepanjangannya keren tapi singkatannya lucu? Aku suka."
"A-aku juga
setuju dengan itu!"
Begitulah
ceritanya, kami pun sepakat.
*
Saat istirahat,
ketika aku melangkah ke luar, aku merasa ada yang mengikuti.
"Shinohara-kun?"
"......Hebat.
Kau menyadari keberadaanku di belakangmu."
"Kau
tidak sedang membicarakan hal seperti pembunuh bayaran, kan?"
"Aku
sedang mempertimbangkan itu sebagai karier masa depanku."
Sepertinya
Shinohara-kun mulai terbiasa, dia sudah mulai bisa melontarkan lelucon seperti
ini.
...Iya,
itu kan cuma lelucon... kan???
Dia
kemudian berdiri di sampingku yang sedang bersandar di tembok.
Mungkin dia ingin
membicarakan sesuatu.
Namun, aku merasa
tidak baik untuk terburu-buru dengan tipe seperti Shinohara-kun.
Saat aku terdiam,
tiba-tiba Shinohara-kun menundukkan kepalanya.
"......Anu.
Terima kasih banyak. Karena sudah mengajak orang seperti aku untuk bergabung di
band ini."
"Apa ini episode terakhir? Persiapan festival budaya
bahkan belum dimulai, lho."
"A-ah, maaf. Tapi aku benar-benar berterima kasih. Kalau Natsuki-kun tidak mengajakku, aku akan terus
sendirian. Aku tidak akan bisa menjalani hari-hari semenyenangkan ini."
"......Itu,
adalah hal terbaik yang pernah kudengar."
Sebenarnya, aku
penasaran dengan perasaan Shinohara-kun terhadap kegiatan band ini.
Berbeda denganku
atau Serika yang mengajak, serta Senior Iwano yang punya tujuan jelas,
Shinohara-kun seperti kuseret secara paksa ke sini.
Jika dia merasa
tidak nyaman, aku pun berencana untuk memperbaikinya sebisa mungkin.
"Hanya
dengan berada di sini saja, aku sudah menganggapnya sebagai sebuah
keajaiban."
......Ah,
ternyata dia orang yang baik.
"Makanya,
aku ingin membalas budi pada Natsuki-kun, Hondo-san, dan Senior Iwano. Aku
ingin memberikan penampilan terbaik saat konser dan mewujudkan keinginan kalian
semua. Hanya itu yang bisa aku lakukan."
"Kalau kau
melakukan itu, itu sudah lebih dari cukup."
Bass
Shinohara-kun benar-benar menopang suara kami. Orang yang diam-diam
mengendalikan permainan Serika yang sering lepas kendali dan gitarku yang tidak
stabil adalah Shinohara-kun.
Meski tidak
menonjol, aku bisa merasakan kemampuan tekniknya yang mumpuni. Itu adalah gaya
yang sangat khas Shinohara-kun.
"Hei,
bagaimana kalau panggilan 'Haibara-kun' itu kita hentikan saja?"
"Eh. Kalau
begitu, aku harus memanggilmu apa...?"
"Panggil
saja Natsuki. Bolehkan aku memanggilmu Mei?"
"Eh!? Kau
ingat nama depanku?"
"Kenapa kau
terkejut karena hal itu—Mei."
Saat aku
mengatakannya sambil tertawa, Shinohara-kun pun melonggarkan ekspresinya.
"Baiklah—Natsuki.
Begitu ya? ...Ini pertama kalinya aku memanggil orang di luar keluarga dengan
nama depan, dan dipanggil dengan nama depan juga. Perasaannya agak
aneh."
"Tapi, tidak buruk kan?"
"Iya. Rasanya seperti baru saja mendapat teman."
"Apa yang
kau bicarakan? Kita kan sudah berteman sejak lama."
"Eh!? Aku
dan Natsuki... teman?"
"......Tidak, itu membuatku sedih lho?"
Mental ku ini
rapuh seperti kaca, tahu.
"Ah, itu,
maaf... Aku hanya berpikir bahwa orang sepertiku tidak mungkin bisa menjadi
teman Haibara-kun, eh, maksudku Natsuki... jadi, aku tidak bermaksud untuk
menolak..."
"Syukurlah kalau begitu. Tadi mental kaca milikku
hampir saja hancur."
Haha, tawa kering keluar dari mulut
Shinohara-kun—tidak, Mei.
"Terima
kasih, ya."
"Ya?"
"Tiba-tiba
mengajakmu ke band dan membuatmu latihan sekeras ini, orang biasa mungkin tidak
akan mau ikut. Tapi karena Mei melakukannya dengan motivasi yang sama dengan
kami, kami bisa berjalan tanpa keraguan."
Jadi, aku pun
berterima kasih padanya.
"Kita juga berhasil membuat lagu yang bagus."
Aku menunjuk ke arah komputer yang baru saja menyelesaikan
proses recording, tapi Mei menggelengkan kepalanya.
"Ini baru mix sementara. Aku akan membuatnya
jauh lebih baik lagi."
"Serius? Itu akan jadi sesuatu yang luar biasa."
"Pertama, lagunya memang sudah bagus. Ditambah gitar
Hondo-san, suara nyanyian Natsuki, dan drum Senior Iwano juga hebat. Karena
itulah, lagu ini terdengar keren. Usahaku menopangnya dengan bass pun tidak
sia-sia."
Mei berkata begitu, lalu menengadahkan wajahnya ke langit.
"Sayang sekali kalau harus berakhir saat festival
budaya nanti."
Itu adalah hal yang tidak bisa diubah selama ada tembok
besar bernama ujian masuk universitas.
Seandainya kami bertiga bisa melanjutkannya, sudah pasti
Senior Iwano akan keluar dari band.
"Tapi,
mungkin karena itulah kita bisa mengerahkan seluruh kekuatan kita tanpa
keraguan sampai festival budaya nanti."
Mei mengatakan
hal itu seolah sedang mengubah pola pikirnya.
"......Mei,
kenapa kau memilih untuk bermain bass?"
"......Kau
tidak akan menertawakanku, kan?"
"Apapun
alasannya, aku tidak akan tertawa. Alasanku sendiri juga tidak seberapa
hebat."
"——Aku ingin
terlihat menonjol."
Suara Mei yang
tenang larut ke dalam malam musim gugur.
"Aku ingin
tempat di mana orang seperti aku ini pun bisa bersinar. Karena itulah aku
mengaguminya. Saat aku tidak sengaja membuka video konser band rock di
internet. Aku berpikir, kalau aku ada di sana, apakah aku juga bisa
bersinar?"
"......Dengan
alasan itu, kenapa kau malah memilih bass?"
"Haha,
karena instrumen yang paling kusukai adalah bass. Aku sadar bahwa aku tidak
bisa lari dari sifat asliku sendiri. Tapi, tidak apa-apa. Memang benar, bass
sulit didengar dibanding instrumen lain dan mungkin orang awam tidak akan
memahaminya. Tapi, kalau di atas panggung kita bisa membuat musik yang terbaik,
kurasa itu sudah cukup untuk membuatku merasa bersinar."
"Baguslah.
Ayo kita bersinar. Mari kita buat mereka terkejut dan bertanya, 'Memang ada
orang yang bisa memainkan bass seperti ini?'"
Sambil
berkata begitu, aku menyodorkan kepalan tanganku ke arah Mei.
Mei
dengan ragu-ragu menyatukan kepalan tangannya dengan kepalanku.
*
"......Tahu
tidak, fakta bahwa masa kegiatan kita terbatas itu justru membuatku merasa
sedikit lebih lega."
Serika
menengadah ke langit dengan ekspresi yang seperti biasanya. Daun-daun kering
menari-nari di langit malam musim gugur.
Ini
adalah perjalanan pulang setelah latihan studio selesai. Mei dan Senior Iwano
berjalan di depan kami.
"Waktu
SMP, aku pernah membentuk band dengan teman-teman dekatku. Tapi, sepertinya
semua orang benci latihan, jadi frekuensi latihan kami terus berkurang......
Saat aku bilang ingin latihan lebih banyak agar bisa menampilkan permainan yang
lebih baik, suasana jadi tidak enak...... Tak lama setelah itu, band
kami bubar."
Aku terus mengulangi hal yang sama, lanjut Serika.
Menurutku, tidak ada pihak yang salah di sini. Sering kali, perbedaan motivasi
itulah yang melahirkan ketidakbahagiaan.
Jika tim basket yang lemah tiba-tiba dipaksa latihan sekeras
tim juara, anggotanya pasti akan berkurang satu per satu. Bermain band dengan
santai dan sekadar bersenang-senang, itu pun merupakan satu halaman dari kisah
masa muda.
"Saat masuk SMA dan bergabung dengan klub musik ringan
pun...... rasanya sama saja dengan waktu SMP."
Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh itu tidak semudah
yang diucapkan.
Karena kau tidak akan bisa mencapainya tanpa mengorbankan
banyak hal. Bahkan jika hanya satu orang yang serius, orang-orang di sekitarnya
pasti akan menjauh.
Bahkan orang yang punya kesadaran tinggi pun, jika berada di
lingkungan seperti itu, akan terbawa arus—setidaknya itulah yang terjadi pada
orang biasa.
"Meski
begitu, aku tetap ingin bersikap tulus terhadap musik."
Namun,
Serika bukan orang biasa. Aku yakin, itulah yang disebut bakat.
Meski
begitu, menemukan rekan dengan motivasi yang sama tidaklah mudah.
"Karena itu,
aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur. Aku ini egois. Aku tidak
bisa hanya memikirkan permainanku sendiri yang bagus. Aku ingin kami semua
menampilkan permainan yang terbaik."
"Tapi,
karena itulah aku terus berpikir sampai kapan band ini akan bertahan...... Aku
merasa takut."
Bahwa seseorang
yang berada di sampingmu saat ini memiliki tujuan yang sama, serta memiliki
dedikasi yang sama, mungkin hanyalah sebuah fantasi yang terlalu muluk.
Jika kau
menginginkan rekan yang bisa berlari bersamamu, kau harus mengumpulkannya
sendiri.
"......Hei,
Natsuki. Apa kau mau memimpikan mimpi yang sama denganku?"
Karena itulah
Serika memilihku. Karena dia merasa aku mungkin bisa berlari bersamanya.
Menyukai suara
nyanyianku atau fakta bahwa aku bisa sedikit bermain gitar, itu hanyalah nilai
tambah belaka.
Serika tidak
mengatakannya sampai sejauh itu, tapi bahkan aku yang tidak peka ini bisa
merasakan hal tersebut.
"Kenapa kau
jadi lemah begitu? Itu
tidak seperti dirimu."
Aku
menepuk punggung Serika yang terlihat rapuh. Serika mengedipkan matanya dengan
terkejut.
"Bukankah
kita akan mengubah dunia dengan musik kita?"
Aku tahu bahwa
untuk terus berjuang bersama selamanya adalah hal yang mustahil. Aku tidak punya bakat musik.
Setidaknya, aku sangat jauh tertinggal dari Serika.
Suatu saat nanti,
aku pasti akan ditinggalkan. Aku sudah tahu itu sejak hari di mana aku jatuh
cinta pada permainannya.
Tapi, jika sudah
ditentukan bahwa ini hanya sampai festival budaya, aku pasti bisa berjuang.
Demi memimpikan mimpi yang sama dengan Serika.
"Besok kita
latihan lagi. Demi mewujudkan mimpi kita."
Aku ingin
menyemangati Serika yang tampak gelisah. Saat aku mengatakannya dengan
sungguh-sungguh, Serika tertawa kecil.
"......Lucu
sekali. Natsuki, kau sedikit terlalu dramatis."
"Hei, jangan
tiba-tiba kembali ke kenyataan begitu. Tadi itu momen yang bagus, kan!"
Sejujurnya,
setelah mengatakannya pun aku berpikir, "Gawat, sepertinya aku terlalu
bersemangat......"
"Sebagai
peringatan akan sejarah hitam Natsuki yang baru saja diperbarui, ini kuberikan
cokelat. Nih."
"Aku tidak
butuh cendera mata seperti itu, lupakan saja. Aku tidak mengatakan apa-apa.
Oke?"
Saat aku berusaha
menganggap semuanya tidak pernah terjadi, Serika menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau.
Aku tidak akan pernah melupakannya."
Sepertinya, meski
aku mengulang masa mudaku, aku tetaplah tipe orang yang akan terus memproduksi
sejarah hitam.
Itu adalah malam
musim gugur yang penuh dengan kesedihan.



Post a Comment