NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 4 Interlude III

Interlude 3


——Buatlah dia bahagia.

Kata-kata Tatsuya terus terngiang di telingaku.

Aku mengerti. Aku sadar bahwa pemikiranku selama ini terlalu naif.

Selama memikirkan lirik lagu, aku menggali lebih dalam tentang jati diriku sendiri.

Orang seperti apa aku ini, bagaimana cara berpikirku, dan siapa sebenarnya yang kucintai?

Jika mencoba mengekspresikan diri melalui musik, kesempatan untuk berhadapan dengan diri sendiri secara otomatis akan meningkat.

Aku dipaksa untuk menyadari hal-hal yang selama ini sebisa mungkin kuhindari. Aku hanya seorang pengecut yang melarikan diri.

Aku melarikan diri dari pilihan. Aku melarikan diri dari keharusan memberikan jawaban.

Sebab, pilihan itu pasti akan berakhir dengan melukai salah satu di antara mereka.

Aku membenci hal itu. Aku hanya ingin melihat senyum mereka berdua.

Tidak mungkin aku menginginkan orang-orang berharga itu tersakiti. Lagipula, aku sendiri merasa tidak pantas untuk memilih salah satu dari mereka.

Tidak, bahkan pemikiran itu hanyalah kedok semata. Aku bukanlah orang sebaik itu.

——Sebenarnya, bukankah kau hanya takut jika "dirimu sendiri" yang justru melukai mereka?

Aku adalah orang yang plin-plan. Lebih tepatnya, aku menjadi ragu-ragu sejak masa SMA-ku yang kelabu.

Alasannya adalah karena aku menjadi penakut setelah mengalami kegagalan besar di masa lalu.

Setiap kali harus memilih, aku selalu punya kebiasaan memeriksa apakah aku melakukan kesalahan dengan memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.

Jika disebut berhati-hati, kedengarannya memang terdengar bagus. Padahal kenyataannya, aku hanyalah seorang pengecut.

Pada akhirnya, aku tidak percaya diri. Sama seperti yang sering dikatakan orang lain padaku selama ini.

Itulah mengapa aku tidak bisa memilih. Memilih berarti menjadi kekasih seseorang.

Apakah aku yang hanya seorang pemula tanpa pengalaman berpacaran ini benar-benar layak?

Apakah aku orang yang bisa membahagiakan dirinya? Apakah aku orang yang pantas berada di sisinya?

Seiring eksistensi "kekasih" menjadi semakin nyata, pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar-putar di kepalaku.

Ini bukan dunia fantasi. Ada beban tanggung jawab di dalamnya.

Saat cinta bertepuk sebelah tangan, segalanya terasa mudah. Karena konsep "kekasih" itu sendiri terasa tidak nyata.

Memilih ataupun tidak memilih, keduanya terasa menyakitkan bagi diriku saat ini.

Tidak ada gunanya memalsukan jati diri. Selama aku harus memberikan jawaban dengan diriku yang sebenarnya.

Karena itulah aku hanya berpura-pura bimbang dan terus menunda kesimpulan.

Namun, jika tindakanku itu justru malah menyakiti mereka,

jika aku membuat dua orang yang sudah memberanikan diri itu merasa canggung,

——maka aku tidak punya pilihan lain selain berubah.

Berubah menjadi diriku yang bisa memiliki kepercayaan diri.

Menjadi diriku yang bisa kuanggap keren.

Menjadi diriku yang bisa dengan bangga mengatakan, "Aku mencintaimu," dan "Aku akan membahagiakanmu."

......Setidaknya, agar mereka bisa berpikir bahwa tidak apa-apa jika mereka menyukaiku.

Oleh karena itu, aku akan menunjukkan sisi kerenku di atas panggung festival budaya.

Demi hal itu, aku berlatih mati-matian setiap hari. Karena aku tidak bisa menerima diriku yang selalu berkompromi.

Itu adalah ritual bagiku untuk berubah. Melalui musik kami, aku akan mengubah dunia yang kulihat.

Dengan keyakinan bahwa saat lagu ini sampai kepadamu, sosok diriku yang pantas berada di sampingmu sudah berdiri di sana.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close