Penerjemah: Nels
Proffreader: Nels
Chapter 5
Pertarungan Berikutnya
Pagi hari. Pangeran Pertama Negara Noctare, Chingok, terbangun di tempat tidur di kamarnya.
"Ugh......"
Kemarin dia minum terlalu banyak, kepalanya agak berdenyut-denyut. Tiba-tiba, saat melihat ke samping, ada seorang pelacur telanjang yang bahkan tidak dia ketahui namanya sedang tidur di sana.
"......"
Apa wajahnya seperti ini, ya, pikirnya sambil meremas dadanya sekali, lalu bangkit dan menendangnya dengan kasar.
"Oi, bangun...... oi!"
"Kya! Sakit!"
"Pulang sana, dasar jelek."
Saat dia membuang kata-kata itu, wanita itu memasang ekspresi tak percaya dan membentak.
"Ap...... apa-apaan sih! Tidak sopan itu ada batasnya, tahu!?"
"Tidak sopan? Aku ini calon Raja Negara Noctare berikutnya, tahu? Wanita rendahan sepertimu, mau diperlakukan seperti apa pun tidak masalah."
"Dasar bajingaaan!"
"Kalau mau mengutuk, kutuklah kelahiranmu sendiri."
Dia membuang ludah, lalu sekali lagi menendang ulu hati wanita itu dengan kuat hingga jatuh dari tempat tidur. Wanita itu mencoba bangkit untuk menyerang balik sambil menahan sakit, tetapi dihalangi oleh para prajurit kekar.
Sementara itu, beberapa pelayan wanita berlari menghampirinya, menanggalkan pakaiannya satu per satu, dan memakaikan baju ganti. Di tengah situasi itu, seorang kepala pelayan berlari menghampiri Chingok dan membungkuk dalam-dalam.
"Selamat pagi. Anda dipanggil oleh Raja."
"Hah? Merepotkan saja."
Sambil menguap, dia menyisir rambutnya dengan kasar. Dia mencoba berbagai ekspresi sambil melihat dirinya di cermin. Belakangan ini berat badannya sudah melebihi 100 kilogram. Perut buncitnya agak mengganggu pikiran, tapi meski begitu wajahnya tetap gagah tak berubah.
Akhirnya, setelah bosan, dia menendang kasar pelayan wanita yang berusaha memakaikan celana pada tubuhnya yang sesak itu.
"Sampai kapan kau mau lelet begini! Lambat tahu!"
"Kya! Mo, mohon maaf."
Pelayan wanita yang terpental ditendang itu buru-buru meminta maaf.
"Cih...... tidak berguna."
Membuang kata-kata itu, dia keluar kamar menuju Ruang Takhta. Lalu, di lorong, seorang pria agak gemuk yang tampak penjilat mendekati Chingok dengan gembira.
"Nii-san."
"Onarun. Kau juga dipanggil?"
"Ya. Ada apa ya?"
"Entahlah."
"......Bukankah ini sudah saatnya? Nii-san menjadi Raja."
Saat dia berkata begitu, Chingok tersenyum dengan ekspresi yang tampak tidak keberatan sama sekali.
"Hmph...... yah, dengan situasi sekarang, mungkin Ayah sudah tidak sanggup menanganinya. Tapi, aku malah dapat sial harus mengurusnya, ya."
Dia punya kepercayaan diri. Ayahnya, Maladeka, bahkan di mata putranya sendiri terlihat tidak bisa diandalkan. Kenyataannya, para bawahan juga memintanya untuk segera menjadi Raja, dan dari segi usia pun, sudah saatnya. Onarun melanjutkan kata-katanya dengan gembira.
"Di medan perang dibutuhkan Raja yang gagah berani seperti Nii-san, lho."
"Kuku...... ngomong-ngomong, sepertinya si penakut tidak berguna itu tidak dipanggil, ya?"
"Ahahaha! Mana mungkin dipanggil, sampah seperti itu."
"Ku, kukuku. Ah, maaf. Bercandaku terlalu kejam."
Chingok dan Onarun saling pandang dan tertawa. Sejak mereka berdua masih kecil, Gios adalah mainan favorit mereka.
"Kalau aku jadi Raja, aku harus mempermainkannya lebiih banyak lagi, ya."
"Ayo lakukan itu, ayo lakukan itu."
"Benar-benar sampah yang tidak bisa dipakai."
"Ya, benar sekali, benar sekali."
Gios sejak dulu lamban dan lelet dalam melakukan apa pun. Sebaliknya, mereka bisa melakukan segalanya. Kenapa, padahal ada kelahiran bangsawan seperti mereka, bisa lahir orang tak kompeten seperti itu?
Itu karena darah ibunya rendahan.
Chingok dan Onarun lahir dari Permaisuri Inline. Sedangkan Gios lahir dari wanita rendahan bernama selir Zelusa. Sekilas, penampilannya terlihat bagus, tapi yang penting adalah isinya.
"Kalau Nii-san jadi Raja, pelacur itu juga harus diusir, ya."
"Ya, serahkan padaku. Tapi sebelumnya, setelah dijadikan budak dan dimainkan sepuasnya dulu, ya."
Sambil berkata begitu, mereka masuk ke Ruang Takhta.
"Ayah...... bu, bukan, Gios! Ke, kenapa...... kau."
"Jaga sikapmu. Kau ada di hadapan Raja."
"......Kh."
Chingok meragukan matanya sendiri. Raja? Pria berambut hitam ini sebenarnya bicara apa? Dan, pemandangan yang terbentang di depan matanya saat ini, tidak bisa dijelaskan secara logika.
Kenapa, yang duduk di takhta bukanlah Ayahnya, Raja Maladeka. Kenapa, Gios yang lahir dari wanita rendahan kotor dan bodoh itu, ada di tempat seperti itu. Kenapa, para bawahan memperlakukan dia seolah-olah dia adalah Raja.
Kenapa, kenapa, kenapa......
"Kubilang jaga sikapmu. Lancang sekali kau."
"......Kh."
Dia merasa ternoda. Takhta mulia yang seharusnya didudukinya suatu saat nanti, malah diduduki oleh adik bodoh yang lamban, lelet, dan idiot itu, apalagi dia anak selir.
Pemandangan itu, lebih dari apa pun, membuat darahnya mendidih naik ke kepala.
Chingok berteriak dengan punggung menegang kaku, wajah merah padam, dan tubuh menggembung seolah akan meledak kapan saja.
"Kenapa kau duduk di situ! Cepat turuuuun!"
Dia berlari menerjang dengan ganas, tetapi segera ditahan oleh para penjaga yang berada di dekatnya. Sambil menempel di tanah, dia melihat ke samping, dan Onarun juga ditahan dengan cara yang sama.
"Guh...... siapa kalian! Lepaskan! Lepaskan lepaskan lepaskaaaaaaan────────────! Segera seret Gios turun────! Segera penggal kepalanya! Kepala itu...... tebas putuuus─────!"
"Diam!"
"Guh......"
Raungan yang seolah memancar dari jiwa itu pun sia-sia, Chingok diikat dengan tali oleh para penjaga hingga tidak bisa bergerak.
Di tengah situasi itu, pria berambut hitam yang tadi melontarkan kata-kata 'kau ada di hadapan Raja' mendekat dengan langkah tegas. Dia memegang dokumen di tangannya dengan ekspresi yang tampak sulit.
"A, apa-apaan kau ini!?"
"Pangeran Pertama, Chingok...... Sihir E, Kemampuan Fisik F minus, Akademik G, Kepribadian Terburuk...... Tidak berguna. Produk gagal total."
"A, apa katamu!?"
Sebenarnya apa yang dikatakan orang ini. Berani-beraninya dia memandang rendah dirinya yang seorang Pangeran...... bukan, calon Raja berikutnya, dan melontarkan kata-kata yang begitu tidak sopan.
Hukuman mati, sudah pasti.
Akan kusiksa, kusiksa, kusiksa, kubunuh perlahan, kucekik mati, dan mayatnya akan kujadikan makanan gagak. Biarpun dia menolak, biarpun dia tidak mau, aku mutlak tidak akan mengampuninya.
Namun, seolah bisa melihat niat yang menyerupai khayalan itu, pria berambut hitam itu melanjutkan kata-katanya dengan ekspresi takjub.
"Hebat juga bisa melahirkan sampah seperti ini. Tapi, di sisi lain lahir juga orang yang kompeten seperti Raja Gios...... karma ya."
"Hah!? Sampah itu kompeten? Kalau melucu lihat situasi dong."
Chingok membuang ludah dari lubuk hatinya. Baik sihir, kemampuan fisik, maupun akademik, selain penampilan luar, dia benar-benar tidak punya kelebihan apa pun.
Namun, pria berambut hitam itu meludahinya sambil memandang rendah dengan mata dingin.
"Sensitivitas dan otak yang putus asa sampai tidak menyadari hal itu. Ini sih, cukup parah bahkan untuk ukuran yang terburuk."
"......Bicara apa kau?"
"Sudah jelas dia berpura-pura tidak kompeten, kan?"
"Hah!? Mana mungkin begitu!"
"Kalau begitu, mau dicoba?"
Pria berambut hitam itu memerintahkan bawahannya untuk membiarkan Chingok memegang tongkat sihir pengukur.
"Pengukuran sihir ya...... bolehlah. Tapi, kalau sihirku lebih kuat, segera jelaskan tentang ketidaksopanan ini."
"Jangan banyak omong, cepat alirkan sihirnya."
"Kuh...... jangan menangis melihat perbedaan dimensinya ya. Hmph!"
Chingok mengalirkan sihir sekuat tenaga ke tongkat tebal dan keras yang digenggamnya.
"Nnn...... nhaa...... haa...... bagaimana!?"
"Sampah."
!?
"Penyihir umum itu 30 Giri. Penyihir unggul itu 300 Giri. Kau cuma 27 Giri. Yah, karena kau mengaku keluarga kerajaan, setidaknya kupikir akan mencapai rata-rata umum, tapi......"
"Bo, bodoh! 27 Giri seharusnya kelas atas di benua ini......"
"Kau bodoh ya. Kelas terkuat melampaui 3000 Giri dengan mudah."
"Ti, tidak mungkin......"
"Terlalu bagai katak dalam tempurung sampai aku takjub."
"......Kh."
"Kau dibesarkan dengan manja di rumah kaca, ya. Momen keluarga kerajaan menggunakan sihir hanyalah saat upacara, jadi di masa damai, mungkin itu sudah cukup."
Pria berambut hitam itu, sambil melanjutkan pembicaraan, merebut tongkat sihir dari Chingok dan menyerahkannya kepada Gios.
"Silakan...... sihirnya."
"......"
Gios memegangnya sambil menatap Chingok tanpa ekspresi. Lalu, dia mengangkat angka yang terukur.
"Kahat...... 1600 Giri!?"
Chingok berpikir dia sedang bermimpi. Dirinya saat kondisi prima pun tidak pernah melampaui 30 Giri. Padahal dia selalu disanjung oleh menteri terdekatnya bahwa jika melampaui angka itu, dia akan melampaui yang terkuat sekalipun.
"Luar biasa. Benar saja, Raja yang asli memang berbeda, ya."
"Bohong...... curang. Pasti ada triknya."
"Mana mungkin ada."
"......Kh."
"Yah, membuang waktu saja untuk sampah sepertimu. Sekalian menjinakkanmu, nanti akan kubuktikan secukupnya."
"Bohong...... bohong bohong bohong bohong bohong bohong...... bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong."
Chingok terus-menerus mengulang kata itu, tak bisa mempercayai angka yang ditunjukkan.
"......Haa."
Sambil memandang pemandangan itu, pria berambut hitam itu menghela napas dalam-dalam.
"Analisis diri yang buruk dan menyedihkan. Kalau suasana hatimu rusak, Nyonya Zelusa, sang Mantan Permaisuri akan diserang, kan? Makanya, Raja Gios selama ini terus bersabar. Hanya itu alasannya."
"......Kh."
Degup.
Dada Chingok bergetar.
Karena ibunya yang seharusnya selalu ada, tidak ada di tempat ini.
Firasat buruk yang memutus asa menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Oi, bajingan...... bicara apa kau!? Kenapa kau menyebut pelacur itu sebagai Permaisuri? Permaisuri itu hanyalah Ibundaku, Inline seorang. D, di mana Ibunda!?"
"Ah, kalau wanita jalang itu, dia sudah tidak ada di sini."
"......Kh, apa katamu! Ibunda...... apa yang kau lakukan pada Ibundaku!?"
"Kujual."
"......Kh."
Chingok merasa seolah-olah sedang bermimpi buruk.
"Kau...... jual?"
"Ya."
"......Hah...... kh."
Mungkin karena kemarin dia minum terlalu banyak...... mungkin dia masih tidur di tempat tidur. Tidak, kumohon biarlah begitu. Dia berharap begitu berulang kali.
Namun, rasa sakit akibat diikat kencang dengan tali ini. Tekstur karpet yang keras dan dingin ini. Pemandangan yang sama sekali tidak berubah meski dia telah menerima penghinaan terburuk dalam hidupnya, tidak mengizinkannya lari dari kenyataan.
Dan...... terhadap Chingok yang merasakan keputusasaan.
Pria berambut hitam itu menyambutnya dengan senyum yang sangat cerah dan menyegarkan.
Dan, di saat dia sadar bahwa ini adalah kenyataan, wajah Ibunda tercinta terbayang di benaknya.
"Ke, ke, kenapaaa!? Kenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapakenapaaaaaa!?"
"Tidak paham? Sistem kerajaan adalah ideologi eugenika. Landasannya adalah meninggalkan keturunan yang unggul, dengan premis terus menyingkirkan gen yang buruk. Konsekuensinya, anak yang memiliki orang tua unggul, haruslah unggul."
Hazen mencengkeram rambutnya dengan kasar, dan menatap tajam menembus mata Chingok.
"Higu."
"Padahal begitu, sampah tak berguna sepertimu tidak boleh sampai terlahir."
"Ti, tidak boleh terlahir katamu......"
Meski dibilang begitu pun.
Meski dibilang begitu, lho.
"Makanya. Asal-usulmu harus disangkal."
"......Hah?"
Dia sama sekali tidak mengerti arti perkataannya. Bisa dibilang dia benar-benar tidak paham apa yang dibicarakannya. Fakta bahwa Chingok adalah pewaris takhta urutan pertama adalah rahasia umum. Sepenuhnya tidak bisa diubah, dan mutlak.
Namun, pria berambut hitam itu menggelengkan kepala.
"Kau tidak boleh menjadi anak Tuan Maladeka, melainkan harus menjadi produk gagal yang lahir dari hasil perselingkuhan wanita jalang."
"......Kh."
Mana mungkin.
"Mekanisme sistem kerajaan memang begitu. Anak yang buruk, seharusnya selalu menjadi target penyingkiran. Justru karena itulah, diperlukan usaha tak kenal lelah agar tidak disingkirkan."
"Higu...... higuu......"
Yang begitu itu.
Hal semacam itu, baru dibilang sekarang pun.
"Apa kau pikir Raja itu hal enteng yang hanya menikmati hak istimewa? Di saat kau berpikir begitu, kau sudah tersingkir dari persaingan yang keras. Sayang sekali, ya."
"Egu...... eguu......"
Tidak pernah diberitahu. Hal seperti itu, satu kata pun, tidak pernah diberitahu.
"Justru, ketika hal itu didistorsi, barulah kehancuran negara terjadi. Makanya, apa pun faktanya, kau harus dihapuskan dari sejarah Negara Noctare."
"Higuu......"
Kejam. Terlalu kejam.
"......Awalnya, aku berniat merekayasa fakta dengan premis seperti itu, tapi saat aku coba selidiki, kesaksian selingkuhan Inline bermunculan terus-menerus. Ini, buktinya. Rasakan baik-baik."
!?
Hazen menjejalkan gulungan kertas kulit domba sekuat tenaga ke tenggorokan Chingok.
"Uguoooooeeeeeeee!? Goeeee! Goeeeeeeeeeeeeee"
Chingok yang dipaksa dimasuki benda keras panjang yang digulung, tidak tahan dengan sensasi di tenggorokannya dan muntah-muntah.
"Yah, tapi. Kasihan juga orang yang dipaksa padahal wanitanya tidak punya daya tarik seksual. Hampir semua mengaku dipaksa melakukan hubungan seksual setengah memaksa dengan memanfaatkan kekuasaan sebagai istri Raja, cerita yang mengerikan, ya."
"Bohong...... bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong bohong!"
"......"
Terhadap Chingok yang menyangkal dengan keras kepala berulang kali, Hazen menjawab dengan senyuman.
"Bukan bohong, lho."
Nikkori (tersenyum manis).
"......Kh."
"Justru, bagiku itu sangat masuk akal. Karena tanah untuk lahirnya sampah sepertimu, memang sudah tersedia baik secara bawaan maupun lingkungan."
"......Ibunda."
"Makanya. Sudah kujual."
"......Ke mana."
"Tidak perlu khawatir. Bagian itu, kepala pelayanku yang kompeten sudah mengaturnya. Benar kan, Mozcoal."
"Ya...... mohon tenang saja."
Di samping pria berambut hitam itu, seorang kepala pelayan yang tampak anggun membungkuk dengan sigap.
"Dia itu mesu...... dalam hal penyesuaian seksual, tidak ada yang menandinginya. Di dunia ini ada penawaran dan permintaan. Bahkan orang yang memicu rasa jijik seksual di dalam istana pun, sepertinya dia bisa mencarikan tempat penyaluran yang bagus."
"Mantan Permaisuri yang cabul. Ada penggemar yang menginginkannya sampai-sampai 'tubuh bagian bawahnya seolah mau keluar dari tenggorokan' karena saking nafsunya."
"......Kh."
Mesum kelas kakap.
Kepada kepala pelayan gila tulen seperti ini, Ibundaku......
"......Jadi begitu, tenanglah."
"Ja, jangan, jangan jangan jangan bercandaaaaaaa───────!? Ibunda...... Ibundaaaaaaa!"
"......"
Pria berambut hitam itu kembali mencengkeram rambut Chingok dengan kasar dan mendekat.
"Jangan pasang tampang korban, ya? Kau pikir salah siapa mental Nyonya Zelusa, ibunda Raja Gios, menjadi terganggu?"
"Hii...... aku tidak tahu soal itu."
"Salah ibumu, tahu. Berkat gangguan yang gigihnya tidak normal dan lengketnya tidak normal, beliau terpaksa harus menjalani perawatan."
"Bohong...... bohong......"
"Mana mungkin bohong, kan?"
"......Ayah...... a, ayah...... a, ayah......"
Sambil menangis. Chingok memanggil-manggil ayahnya berulang kali.
Bohong. Ini mimpi. Dirinya adalah putra Raja Maladeka, dan calon Raja berikutnya...... dia meyakinkan dirinya sendiri berulang kali.
"Haa...... bagaimana ini? Tuan Maladeka."
Pria berambut hitam itu menghela napas, dan saat mengalihkan pandangan, di sana berdiri ayah yang biasa dilihatnya.
"A, Ayah! Ayah! Ayah!? Ayaaaaaah!"
"Ka, kau bukan anakku."
"......Kh."
Raja Maladeka gemetar, namun mengucapkannya dengan jelas. 'Kau bukan anakku'. Dia tak bisa mempercayainya. Padahal sampai kemarin, beliau bilang 'Calon Raja berikutnya hanya kau seorang'.
"A, Ayah? Barusan, bilang apa?"
"Hii......"
Pria gemuk yang ditanya oleh Chingok itu langsung meringkuk dan gemetar.
"A, Ayah......"
Apa-apaan keadaan menyedihkan ini. Raja yang merupakan penguasa mutlak, ketakutan pada orang gila yang tidak jelas. Mustahil. Benar-benar tidak boleh terjadi.
Namun.
Perasaan Chingok itu tidak tercermin satu milimeter pun, pria berambut hitam itu masih menatap ke bawah dengan ekspresi dingin.
"Hal segini saja tidak bisa paham, kau benar-benar tidak punya kemampuan, ya."
"Ap...... apa katamuuuuuuuu!"
"......Berisik."
Gam gam gam gam gam gam!
Pria berambut hitam itu mencengkeram rambut Chingok dengan kasar, dan membenturkan dahinya berkali-kali ke tanah. Seketika, darah menyembur, dan bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa, pandangannya terwarnai merah darah.
"Gugyaaaaaaaaa!"
"Jangan ribut melulu."
"A, a, aku tidak akan memaafkanmu...... mutlak tidak akan kumaafkan."
"Sepertinya kau masih belum paham posisimu, ya."
"A, Ayah! Ce, cepat seret turun sampah itu dari takhta yang mulia. Kembalikan wibawa sebagai Raja, dan perintahkan hukuman mati untuk orang gila ini!"
Chingok berteriak seolah berdoa.
"......Begitu ya."
Lalu, pria berambut hitam itu mendekat ke arah Maladeka, mencengkeram rambutnya dengan kasar dan memelototinya.
"Dia bilang dia anak Anda, tuh?"
"Higii...... sakit...... hentikaaaan...... hentikaaaan......"
"Kalau dipikir-pikir, rasanya memang begitu, ya. Terutama, ketidakmampuannya itu mirip sekali."
"Hii...... mohon ampun! Di, dia itu idiot sungguhan!"
"Anak Anda, kan?"
"Higii...... bu, bukan anak saya! Anak saya bukan sampah tak berguna seperti itu."
"A, Ayah......"
Dengan mata memohon, Chingok mengadu, tapi mata mantan Raja itu bahkan tidak melirik hal itu dan ketakutan pada tatapan pria berambut hitam.
"Tuan Maladeka. Jika itu gen buruk yang lahir dari Anda, saya juga harus mempertimbangkan untuk menyingkirkan sumbernya......"
"Hii...... k! Kau!"
Mantan Raja yang menunjukkan ekspresi sakit jiwa itu menindih tubuh Chingok, dan memukulinya berulang kali.
"Tarik ucapanmu! Tarik ucapanmu! Kau bukan anakku! Sampah sepertimu mana mungkin anakku!"
"Ugah...... gogaguh...... a, ayaah............"
"Masih bicara juga......"
Maladeka mencekik lehernya sekuat tenaga, berusaha membuatnya mati lemas.
"Sepertinya kau masih belum paham. Kalau begitu──"
"Hentikan!"
Gios berteriak seolah sudah muak. Di dalam kesadaran yang kian menipis, ekspresi Gios yang terlihat oleh Chingok tampak sangat pedih.
"Sudah cukup. Kumohon...... hentikan dia."
"......Baiklah."
Hazen membungkuk dalam-dalam.
"Ka, Kakak."
Dengan ekspresi ketakutan, Onarun di sebelahnya bergumam.
"Gi, Gios...... gi...... gizaa...... ti, tidak akan kumaafkan...... mutlak...... mutlak......"
"......Kakak."
Raja yang menatap dari atas takhta, dibalas gelengan kepala oleh pria berambut hitam.
"Raja Gios. Orang ini bukanlah kakak Anda. Dia hanyalah orang lain yang merupakan produk gagal, tidak kompeten, dan anak dari perselingkuhan wanita jalang."
"Kau menyuruhku menyangkal segalanya?"
"Ya. Karena Tuan Maladeka sendiri sudah bersaksi bahwa tidak ada hubungan darah. Bukti dan kesaksian objektif pun ada segudang."
"......Ikatan darah saja tidak menentukan saudara, kan."
Gios turun dari takhta, dan mendekati Chingok dan Onarun.
"Gozu...... jizu...... goo...... zu."
"Gi, gi gi Raja Gios! Sa, sasasa saya...... mo, momo mohon ampun."
Terhadap dua orang yang melontarkan kata-kata kebencian dan permohonan, Gios menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kakak-kakak sekalian...... maafkan aku, tapi aku akan melangkah maju."
"......Apakah Anda masih memanggil mereka kakak?"
Saat pria berambut hitam itu bertanya, Gios mengangguk.
"Aku sering dirundung, dan Ibunda juga sakit karenanya. Jujur, aku membenci mereka, dan tidak ada kenangan indah. Tapi...... meski begitu mereka berdua adalah kakakku. Fakta itu takkan berubah."
"......"
"Hazen Heim."
"Siap."
"Usir mereka...... dan Inline dari negara ini. Buat mereka melupakan nama dan statusnya, lalu biarkan mereka hidup sebagai rakyat jelata...... kau bisa melakukannya, kan?"
"......Saya laksanakan."
Hazen membungkuk pada Raja, lalu memberi instruksi pada para penjaga untuk membawa kedua orang itu.
*
"......"
"......"
"......"
"......"
...
Plak.
"Nah, mari kita mulai."
"Tunggu, sebentaaaaaar───────!?"
Jan langsung menyentak Hazen yang dengan senyuman mencoba memulai kembali situasi.
Setelah dua pangeran yang dihapuskan dari sejarah dibawa pergi, dan mantan Raja serta para menteri pergi seolah melarikan diri, hanya Hazen, Jan, Raja Gios, dan Menteri Luar Negeri Thomas yang tertinggal.
Di tengah situasi itu, teriakan Jan menggema.
"Jangan marah begitu dong. Meskipun membuang kotoran butuh waktu agak lama."
"Sa-saya akan bilang tegas, ini bukan masalah waktu tahu."
"Haha."
"Kenapa Anda tertawa!? Semua orang ilfeel tahu!"
Gadis berambut merah muda itu dengan tegas mempertahankan ekspresi ternganga kaget nya.
"Mereka tidak bilang apa-apa, tuh."
"Mereka itu tercengang, tahu. Anda sudah janji kan, tidak akan melakukan hal kejam!"
Mundur ke 30 menit yang lalu, dia sudah menegaskannya dengan baik.
Sudah janji kelingking juga.
"Sudah kok."
"Terus kenapa dilanggar!?"
"Karena cuma janji lisan."
"......Kh."
Jan membuka mulutnya lebar-lebar agu-agu, tapi bagi Hazen, dia tidak paham kenapa Jan tidak paham.
"Janji tanpa sanksi pengikat, itu sama saja dengan bilang 'tolong dilanggar'. Justru aneh kalau merasa terikat hanya oleh etika yang tidak jelas."
"Yang aneh itu, sudah pasti otak abnormal Guru, tahu!?"
Sementara Jan berteriak-teriak, Hazen mengalihkan pandangan ke Gios.
"Nah. Karena murid tak berbakti ini sudah menyampaikan sebagian besar unek-uneknya, apa sudah puas?"
"......Bagaimana nasib ibu tiri dan kakak-kakakku?"
"Mereka bukan ibu tiri dan kakak Anda. Tiga orang itu adalah perebut kekuasaan bodoh yang mencoba mencuri takhta Negara Noctare."
"......"
"Tidak perlu bersimpati. Anda memiliki kepribadian yang luar biasa, tapi mereka tidak. Jika salah satu dari mereka naik takhta, pasti Raja Gios akan mengalami nasib yang sama seperti mereka...... tidak, bahkan lebih kejam. Makanya, murid tak berbakti ini juga tidak ikut campur."
"......"
Jan yang dibawa-bawa dalam pembicaraan menunjukkan ekspresi rumit. Menjaga legitimasi sistem kerajaan. Ini adalah hal yang mutlak diperlukan dalam kebangkitan kembali Negara Noctare.
Di saat daya tarik terhadap Raja menipis dengan cepat, ada bahaya keruntuhan internal. Tidak ada waktu untuk melakukan perang saudara. Karena itu, Hazen mengganti Raja sebagai langkah pertama, dan menguasai militer sebagai langkah kedua.
Dan, itu sejalan dengan pendapat Jan.
Perbedaan Hazen dan Jan hanya pada metodenya. Yang pertama mengincar hasil dengan jarak terpendek, sedangkan yang kedua mementingkan proses dan hasil.
Meski begitu, penyingkiran Chingok dan Onarun. Serta pembuktian ketidaksetiaan Inline yang merupakan permaisuri Raja Maladeka, adalah hal yang sudah diputuskan oleh kedua belah pihak.
"Singkatnya, Jan hanya berteriak-teriak karena memikirkan perasaan Anda saja, kok."
"Ti, tidak begitu, kok."
"......Sudah cukup. Aku mengerti."
Gios menjawab sambil menghela napas.
"Aku juga hanyalah Raja tanpa kekuatan. Meski cuma janji lisan tanpa jaminan apa pun, bagaimana nasib kakak-kakak dan ibu tiriku?"
"Sesuai keinginan Anda, akan saya atur agar mereka bisa hidup sebagai rakyat jelata. Yah, meskipun ini cerita tanpa jaminan apa pun, sih."
"......"
"Hanya satu hal. Saya ingin mendapatkan kepercayaan dari Anda. Karena itu, saya berniat mengabulkan hal yang mungkin dilakukan meskipun agak sia-sia. Lagipula murid tak berbakti ini juga berisik."
Hazen menjawab sambil menahan kepala Jan yang mencoba menggigit-gigit gau-gau.
"......Aku berutang budi."
"Tidak perlu. Di hadapan para abdi, Anda adalah Raja yang sempurna. Benar dugaan saya, Anda memang memiliki bakat."
"......"
"Manusia tidak akan bekerja dengan baik hanya dengan rasa takut. Pada dasarnya sayalah yang akan menanggung peran 'cambuk', jadi akan sangat membantu jika Anda yang memegang peran 'permen'."
"......Apa kau tidak keberatan?"
Gios bertanya dengan wajah serius.
"Ya. Saya ini orang luar dari Kekaisaran. Saya tidak butuh kesetiaan para menteri itu."
"Makin tidak paham saja. Kupikir tujuanmu sebagai perwira Kekaisaran adalah untuk mengambil alih negara ini."
"Bukankah sudah saya katakan? Tujuannya adalah untuk menyelamatkan Negara Noctare dari krisis kehancuran."
"......"
Gios menatap Hazen dengan mata lurus.
"Yah, Anda tidak mempercayai saya sepenuh hati pun tidak masalah. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan kerja sama. Karena saya rasa murid tak berbakti ini akan melengkapinya."
"Ta, tak berbakti, tak berbakti melulu! Saya juga sedang berjuang, tahu!"
"Berjuang? Yang dibutuhkan adalah hasil. Yah, karena kau sudah memenuhi standar minimum, kau nyaris tidak kompeten, tapi masih tak berbakti."
"Kiii! Raja Gios! Jadilah kuat secepat mungkin, dan mari kita rebut kebebasan dari Guru bersama-sama!"
"......Kuku...... Hahaha."
Melihat interaksi dua orang ini.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raja menyunggingkan senyum.
*
Keesokan harinya. Hazen terbangun di dalam kastil. Dia segera melompat turun dari tempat tidur dan melihat cuaca.
"Hujan, ya......"
Bergumam begitu, dia meregangkan tubuhnya lebar-lebar. 'Untuk mengosongkan pikiran, lihatlah langit'. Dia ingat pernah diajarkan begitu oleh seseorang di masa lalu.
"Ngh......"
"......"
Jan sedang tidur dengan lelap suya-suya di tempat tidur sebelah. Di tengah jadwal yang cukup padat dan lingkungan yang berubah drastis setiap hari, kondisinya sama sekali tidak drop, itu membuatnya takjub sampai ke tahap heran.
Sebenarnya, mental macam apa yang dimilikinya?
"Hah!"
"Sudah bangun?"
"Ya. Entah kenapa, saya merasakan tatapan yang tidak mengenakkan."
"......"
Intuisinya tajam sekali. Sama seperti ketebalan mukanya, mungkin ini bakat alami. Ditambah dengan fleksibilitasnya, tidak diragukan lagi dia adalah bahan mentah kualitas tertinggi. Sisanya, tinggal bagaimana cara melatihnya, tapi......
"Ja, jangan pasang wajah menyeramkan begitu dong. Seram tahu."
"Bagaimana urusan dalam negeri?"
"Diabaikan!?"
"Aku tidak berniat memenuhi permintaanmu. Aku melihat apa yang ingin kulihat saat aku ingin melihatnya."
"Kuh...... benar-benar egois."
Meskipun memasang wajah ternganga kaget seperti biasa, karena ini kejadian sehari-hari, dia melanjutkan pembicaraan seperti biasa.
"Bantuan dari Tuan Nandal efektif, ya. Reaksi rakyat terhadap Raja baru juga bagus."
"Yah, karena wajahnya tampan."
Maladeka, Chingok, maupun Onarun memiliki penampilan yang secara umum dianggap jelek. Asalkan penampilannya bagus, penerimaan dari masyarakat akan baik.
"Yah, jujur saja tidak terlihat seperti memiliki darah yang sama, ya."
"Pasti tidak ada."
Hazen menegaskan dengan lugas. Selain sifatnya, penampilan dan kekuatan sihirnya terlalu berbeda.
"Jadi benar ya, Permaisuri Inline berselingkuh dengan orang selain Raja?"
"Bukan."
"......Masa."
Jan seketika merendahkan suaranya.
"Ini cuma imajinasiku saja, sih."
Kenyataannya, mungkin sebaliknya.
"......"
"Tidak bisakah kau membayangkannya? Dia diincar karena penampilannya dan dipaksa menjadi selir. Dia menerima perundungan yang gigih dari Permaisuri, dan Raja yang tidak bisa diandalkan tidak menghentikannya. Tidak aneh jika dia mengandalkan bawahan lain, dan rasa itu berubah menjadi cinta."
"Ta, tapi buktinya tidak keluar."
"Jika mereka saling menyayangi, tidak aneh meski begitu (tidak ada bukti)."
"......"
"Yah, yang mana pun tidak masalah."
Hazen berkata seolah tidak tertarik. Yang penting adalah orang yang memiliki kualifikasi Raja menjadi Raja. Mengenai hal itu, Jan juga sangat setuju.
"Raja Gios kepribadiannya juga bagus...... tidak seperti seseorang di suatu tempat."
"Kau tahu betul ya, tentang seseorang di suatu tempat itu."
"Su, sudah pasti Guru dong, secara mutlak dan tak terelakkan."
"Haha."
"Ini bukan lelucon tahu!?"
Jan menunjukkan ekspresi sangat kaget, tapi yah, ini juga kejadian sehari-hari, jadi dia melanjutkan pembicaraan.
"Tapi, pedagang-pedagang berpengaruh dan lainnya hampir semua sudah kabur, jadi memutar roda ekonomi yang positif sepertinya akan sulit."
"......"
"Jika situasi di sekitarnya tidak stabil, arus keluar sumber daya manusia yang unggul tidak akan berhenti."
"Aku tahu."
Kapal bernama Negara Noctare ini hampir tenggelam. Orang yang semakin unggul, semakin mengerti hal itu dan melarikan diri. Yang tersisa hanyalah dua pilihan: orang tak kompeten, atau orang kompeten yang memiliki patriotisme.
"Karena itu! Dari pihak saya mengusulkan aliansi dengan kekuatan-kekuatan tetangga!"
Secara geografis, Negara Noctare sedang berjuang sendirian. Pihak barat, Kekaisaran, sudah tidak memedulikan mereka, dan pihak timur, Perserikatan Iris, akan terus mengirimkan pasukan silih berganti.
Negara Noctare diserang oleh Suku Talal dari utara, dan dipaksa menandatangani perjanjian tidak adil untuk membayar upeti kepada bajak laut Kepulauan Gokuna yang bermarkas di pulau-pulau selatan.
"Asalkan bisa menjalin aliansi dengan Suku Talar, dan di sela-sela itu memperbaiki hubungan dengan Kepulauan Gokuna......"
"Terlalu memakan waktu."
"Tapi, itu cara yang paling pasti, kan!?"
"Pasti, tapi memakan waktu."
"Kuh...... apa Anda mau mempermainkan negara ini demi kepentingan Guru!?"
"Iya."
"......Kh."
"Aku datang ke sini bukan untuk kegiatan amal. Aku datang atas perintah Kekaisaran. Demi menghasilkan pencapaian terbaik dalam waktu sesingkat-singkatnya."
"......Akan ada banyak yang mati, lho."
"Kalau takut pada kerugian, kita tidak akan bisa meraih apa pun."
"Orang yang terseret juga banyak."
"Perang memang seperti itu."
"......"
Tidak ada niat untuk goyah. Hazen menatap Jan secara langsung.
"Aku tidak keberatan dengan isi usulan itu sendiri. Tapi, sedikit memaksa pun tidak apa-apa. Dianggap nekat pun tidak masalah. Bawa juga usulan yang bisa mewujudkan hal itu dalam jangka waktu pendek."
"Ma, mana bisa langsung terpikirkan hal seperti itu."
"Pikirkan."
"......Kh."
Gadis berambut merah muda itu ternganga kaget.
"Kiii! Apa-apaan, apa-apaan apa-apaan sih!? Kalau begitu, kenapa tidak pikirkan sendiri saja!?"
"Aku butuh sudut pandang yang berbeda. Aku butuh pemikiran yang lain. Aku menginginkan strategi yang melampaui siasatku sendiri."
"......"
"Mulai sekarang, aku akan memutar otak untuk aspek taktis di medan perang. Kalau begitu, pemikiranku pasti akan menjadi terbatas. Diperlukan pandangan strategis dari sudut pandang yang luas."
"......Mustahil lho, bagiku."
"Kalau begitu, aku dan Jan akan mati. Negara Noctare juga akan hancur. Itu saja."
"......"
Jan memejamkan matanya dalam diam.
*
Setelah menyelesaikan sarapan dengan cepat, Hazen menuju ruang urusan militer bersama Jan. Di sana, Jenderal Besar Dogma dan Letnan Jenderal Jimid sedang duduk.
"Hah! Akhirnya datang juga kau."
Jimid mencari gara-gara dengan nada kasar. Meliriknya sekilas, Hazen menghela napas dengan kecewa.
"Padahal cukup Jenderal Besar Dogma saja."
"Apa...... kau ini!"
"Jangan bicara begitu. Jimid dikagumi oleh bawahannya di level bawah. Tanpa orang ini, semangat pasukan tidak akan naik dengan baik."
"......Saya mengerti."
Hazen menghela napas dan mengangguk.
"Lalu? Si cebol di situ?"
"Kumohon, jangan biarkan dia bicara sepatah kata pun."
"A, apa katamu!?"
"Hentikan! Salam kenal, saya Jan. Saya bekerja sebagai sekretaris Guru."
Gadis berambut merah muda itu membungkuk kepada dua orang itu.
"Se, sekretaris? Si cebol sepertimu?"
"Karena dia 100 juta kali lebih berguna daripada kau, tinggi badan bukan masalah."
"Ja, jangan bercanda!"
"Itu fakta."
"Kuh......"
"Hentikan! Guru. Sebenarnya seberapa tidak populernya sih Anda!?"
"Tidak butuh."
"Kuh...... sifatnya buruk sekali."
Jan bergumam sambil gemetar menahan emosi. Dogma menatap interaksi dua orang itu dengan ekspresi tak percaya.
"Aku terkejut. Bisa berinteraksi setara dengan pria ini."
"Saya tidak ingin berinteraksi sih, tapi terpaksa."
"Jenderal Besar Dogma. Jan itu istimewa. Dia akan membantu Anda dalam aspek strategi juga."
"U, umu."
Jenderal tua itu mengangguk dengan wajah masam.
"Nah, mari kita lanjutkan pembicaraan."
Jan membentangkan peta besar di atas meja militer dengan tangan kecilnya. Lalu, Hazen menekan satu titik dan mendeklarasikan.
"Kita akan menyerang."
Tempat yang ditunjuknya adalah Kastil Logiant yang terletak di sebelah timur Benteng Gadar. Kastil itu milik Perserikatan Iris, dan memiliki kekuatan tempur beberapa kali lipat dari Negara Noctare.
"Dengan kekuatan tempur saat ini? Itu nekat."
Dogma menjawab tanpa ragu. Biasanya, pengepungan membutuhkan kekuatan dua kali lipat atau lebih. Dan, mereka tidak hanya kalah jumlah dari Kastil Logiant. Kekuatan penyihir yang ditempatkan di sana. Tingkatan. Dia menjelaskan bahwa semuanya berbeda level.
Namun, Hazen menggelengkan kepalanya.
"Saya yakin saat pertempuran itu. Negara Noctare memiliki banyak penyihir unggul. Dari segi kualitas kita tidak kalah."
"Hmph! Apa itu sindiran?"
Jimid mendengus kesal. Meskipun terlihat sangat kesal, sepertinya dia menghormati Hazen sebagai sesama penyihir.
"Bukan. Itu murni penilaian objektif."
"......Di Kekaisaran pasti ada banyak sekali penyihir hebat kan."
"Apa menurutmu begitu? Para pejuang tangguh yang berkali-kali menangkis serangan gencar meski negara di ambang kehancuran."
"......"
"Meskipun jumlahnya sedikit, mereka yang tersisa hampir semuanya adalah orang kuat. Pertarungan penyihir bukanlah soal jumlah. Tapi kualitas. Dalam hal itu, saya tidak merasa kita kalah dari para penyihir Kastil Logiant."
"......"
Jimid diam dengan tampang tidak senang.
"......Tapi, apa kau pikir kekuatan di sekitar akan menonton saja saat kita menyerang?"
Dogma bertanya dengan tenang.
Negara Noctare diserang Suku Talal dari utara, dan dipaksa perjanjian tidak adil untuk membayar upeti kepada bajak laut Kepulauan Gokuna yang bermarkas di pulau-pulau selatan. Jika lengah sedikit saja, mereka pasti akan menyerang dengan gembira.
Tentu saja, bantuan dari Kekaisaran tidak bisa diharapkan.
"Memang benar Negara Noctare diancam dari utara dan selatan. Namun, di utara ada kekuatan yang lebih utara, dan di selatan ada kekuatan yang lebih selatan."
"......"
Di sebelah utara Suku Talar, ada suku bermusuhan bernama Suku Dolca. Dan, bajak laut Kepulauan Gokuna juga sedang berselisih kecil dengan Negara Goreinu yang lebih selatan lagi.
"Dengan memiliki saluran negosiasi dengan Suku Dolca dan Negara Goreinu, itu akan menjadi penangkal agar kita tidak diserang dari dua negara itu."
"Itu nekat. Bahkan untuk sampai ke sana saja sulit."
Jika masuk ke wilayah musuh, pembunuhan akan langsung dimulai. Di tengah kondisi itu, menyeberangi perbatasan adalah hal yang mustahil dilakukan.
"Bukan kita yang melakukannya."
"......Siapa lagi selain kita?"
"Kita pinjam kekuatan pedagang."
Saat Hazen mengatakan itu, Nandal masuk ke ruang urusan militer.
*
Berat badan Nandal telah turun 20 kg dibandingkan sebelumnya. Tentu saja, tanpa libur selama 365 hari, dan tidur pun untung-untungan bisa dapat 2 jam sehari. Begadang seminggu penuh adalah hal biasa, dan dia bahkan sudah beberapa kali pingsan.
Baru-baru ini, dia memastikan di cermin bahwa lingkaran hitam di matanya sudah begitu dalam hingga tak bisa hilang. Meski begitu, pemanggilan tanpa ampun seperti kali ini tidak pernah berhenti.
Bicara soal pergerakan belakangan ini, tugasnya adalah mengoordinasi para pedagang di ibukota Negara Noctare, Gilvana. Karena pelaksanaan sedekah besar-besaran beberapa waktu lalu, perlawanan dari para pedagang lokal semakin membesar.
Bagi Nandal, kuncinya adalah bagaimana menjaga hubungan baik dengan mereka. Pertama, mencegah kebangkrutan mereka dengan membeli kembali barang-barang yang harganya melambung tinggi dan tidak laku dengan harga wajar.
Di sisi lain, memberikan pinjaman dengan bunga sangat kecil kepada pedagang yang macet usahanya, serta mendistribusikan barang kebutuhan pokok dengan harga rendah untuk sementara waktu. Mengembalikan harga barang yang melambung tidak wajar menjadi harga normal. Itulah langkah yang diajarkan oleh Jan.
Langkah berani yang diambil Hazen menciptakan dampak di mana-mana karena besarnya pengaruh tersebut. Pedagang ini, yang selalu menerima dan meredam dampak itu di garis depan, sudah berkali-kali menghadapi bahaya yang mengancam nyawa.
Namun, berkat perjuangan keras Nandal, untuk sementara hubungan baik dengan para pedagang berhasil dibangun, dan harga barang pun sudah stabil sampai tingkat tertentu.
Karena dipanggil tepat pada waktu yang pas, dia sedang menunggu di depan ruang urusan militer dengan hati riang (uki-uki), berniat membawa laporan bagus.
Namun.
"......Kh."
Sesaat setelah masuk, dia yakin pembicaraannya tidak akan berjalan seperti itu. Malahan, karena ekspresi Hazen dan Jan yang luar biasa serius, Nandal menunjukkan ekspresi yang semakin lesu.
"Jadi? Apa yang harus saya lakukan?"
Hasilnya, sang pedagang hanya bisa bertanya.
Dan, seperti biasa, Hazen menyampaikan permintaannya dengan datar.
"Aku ingin kau membangun jaringan perdagangan dengan Suku Talar di utara, dan bajak laut Kepulauan Gokuna di selatan. Segera."
"......Kh."
Sudah kuduga.
Padahal baru datang 3 hari yang lalu.
Atau lebih tepatnya, sudah seminggu hampir begadang terus.
"Guru! Sebelum itu, ada berbagai hal lain, kan?"
Jan berkata dengan panik, sambil tersenyum seolah berempati.
Seketika, Nandal menunjukkan ekspresi lega. Syukurlah, gadis ini pernah menjadi muridnya, jadi dia mengerti apa itu tenggang rasa.
Batas fisiknya sudah dekat. Maksudnya, sekali lihat saja pasti paham, kan. Dia jelas-jelas sudah babak belur begini, kalau dibiarkan begini dia pasti akan mati karena kelelahan kerja.
"Benar. Sebenarnya...... saya ingin istira──"
"Negosiasi dengan para pedagang di ibukota Gilvana, dan stabilisasi harga di sekitarnya. Tentu saja, berjalan lancar, kan?"
"......Kh."
Nandal menelan ludah dengan bunyi gokuri. Cuma konfirmasi hasil. Apalagi, dengan premis sudah berhasil.
"Apa belum selesai? Kalau begitu, pergilah setelah selesai, atau tolong selesaikan hari ini juga lalu pergi, ya."
"Jan. Justru kau, bicara apa sih?"
Mendengar perkataan Hazen, kali ini Nandal benar-benar merasa lega. Ternyata, majikannya mengerti.
"Benar sekali. Maaf, tapi isti──"
"Sudah pasti selesai, kan? Kalau dengan kemampuan Nandal, itu hal wajar."
"......Kh."
Ekspektasi berlebihan.
Atau lebih tepatnya, premis bahwa itu sudah selesai.
Dia sama sekali tidak melihat kondisi dirinya sedikit pun.
Awalnya, Nandal bukanlah pedagang yang beruntung. Dia hanyalah pria liar yang menyuruh gadis yatim piatu melakukan hal-hal yang menyerupai penyelundupan dengan suku asing, dia tidak pernah menyangka akan diandalkan sampai sejauh ini.
"......"
Tolak saja.
Ini batas kemampuannya.
Minta libur satu hari saja.
Harusnya segitu dimaafkan.
Lagipula, dari tadi dua orang ini bicara apa sih.
"Anu......"
"Tujuannya adalah lebih ke utara dan selatan. Dalam 2 bulan, tolong perluas jaringan perdagangan sampai Suku Dolca dan Negara Goreinu di selatan."
"......Kh."
Sumbu waktu macam apa ini.
Memperluas jaringan perdagangan antar dua negara, kalian pikir biasanya butuh berapa tahun.
"Guru. Meskipun itu Tuan Nandal, 2 bulan itu berat lho."
Dia merasa lega. Dari tadi, kenaikan rintangannya tidak tahu batas. Nandal tidak bisa berhenti gemetar, tapi ternyata Jan itu realistis.
"Jan...... teri──"
"Saya sudah siapkan beberapa penerjemah Suku Dolca di sini. Jadi, kalau bisa dipersingkat 10 hari, dalam 55 hari bisa, kan?"
"......Kh."
Akhirnya, ujung-ujungnya, target satu bulan dibebankan kepadanya.
Setelah pemberitahuan itu, Nandal segera keluar ruangan. Pekerjaan terlalu menumpuk sampai dia tidak tahu harus mulai dari mana. Dia tidak bisa memenuhi permintaan iblis dan iblis kecil yang tak tahu batas itu.
"Haa......"
"Helaan napasmu dalam sekali. Ada yang kau khawatirkan?"
"......Kh."
Yang berada di sebelahnya tanpa terdeteksi hawa kehadirannya adalah Hazen.
"Ke, kenapa...... rapat militernya?"
"Ah. Sudah kuserahkan pada Jan. Informasi seputar wilayah ini lebih masuk ke kepalanya daripada aku."
"......"
Anak itu memang unggul. Dia tahu hal itu. Namun, yang membuatnya syok adalah fakta bahwa anak itu ternyata monster yang jauh melampaui bayangan Nandal.
"Saat bersama saya, dia tidak menunjukkan gelagat seperti itu, sih."
"Bertahan hidup itu memang begitu. Anak itu pintar. Dia pasti sudah memahami pepatah 'paku yang menonjol akan dipukul' meskipun masih kecil."
"......"
Sekarang dia bisa menerima bahwa dirinya pun termasuk dalam pihak yang diwaspadai anak itu. Setiap kali disadarkan akan ketidakmampuannya, dia mau tidak mau merasa putus asa. Bohong jika dia bilang tidak iri pada Jan yang mampu menjawab ekspektasi besar Hazen.
Pada akhirnya, mungkin dia takut ditinggalkan. Dia sudah berusaha mati-matian untuk mengikutinya, tapi seiring membesarnya skala serikat dagang, banyak hal yang tak bisa dia pahami lagi.
Masalah bertambah dan semakin banyak yang tidak bisa dia tangani. Dan, dia juga takut bahwa meskipun dia melewatkan sesuatu dan menderita kerugian, segalanya entah bagaimana masih bisa berjalan.
Sebagai seorang pedagang. Dia merasakan ketidakmampuannya...... merasakan batasnya.
"Anu...... Mayor Hazen."
"Ups. Datang juga, ya."
"Eh?"
Saat itu. Seorang gadis berkacamata dan berambut hijau datang menghampiri. Usianya sekitar 12 atau 13 tahun, masih sangat muda.
"Namanya Shion. Rakyat jelata yang tinggal di wilayah saya, tapi karena otaknya encer dan pekerja keras, saya mendidiknya."
"Salam kenal."
Gadis berkacamata itu membungkuk dengan sopan.
"Anak ini...... ada apa?"
"Dia sudah cukup berkembang. Saya membawanya untuk membantu Nandal sebagai pendukung."
"Membawanya...... anak sekecil ini?"
Nandal memandang gadis itu dengan ekspresi terkejut.
"Dia menangani aspek urusan dalam negeri Distrik Kwal seorang diri. Kehilangan dia memang kerugian, tapi sebagai gantinya saya meminta Emma mengirimkan 3 sekretaris unggul. Selain itu, Gilmond, mantan sekretaris urusan dalam negeri tingkat menengah wilayah Doktrin, sekarang ada di Istana Langit, jadi saya minta dia memberi saran secara berkala."
"......Bolehkah?"
Fakta bahwa Hazen menaruh harapan padanya, berarti dia pasti sangat unggul.
"Sebenarnya saya ingin mengirim sekretaris unggul langsung ke bawah Anda, tapi saya tidak bisa melibatkan Keluarga Donaire. Gilmond pasti mau jika diminta, tapi karena sudah susah payah masuk departemen Istana Langit, saya ingin dia meniti karirnya di sana."
Hazen menjawab dengan datar, tapi tersirat bahwa dia telah bersusah payah demi hal ini. Demi memberikan asisten untuk orang seperti dirinya. Karena ketidakmampuannya sendiri.
"......Ternyata, saya kurang mampu, ya."
Nandal menjatuhkan bahunya.
"Kurang mampu?"
"Habisnya...... Anda berpikir saya tidak bisa melakukannya, makanya memasukkan dia sebagai asisten, kan?"
"Bukan. Demi memperluas jalur pemasaran, saya akan repot kalau Anda sampai tumbang, makanya saya atur begini. Kalau ada dia, Anda bisa mengambil libur beberapa hari, kan."
"......Eh?"
"Jan juga berpikiran sama, dia mati-matian mencari penerjemah lokal demi bisa membuat Anda mengambil libur."
"......"
"Di sini juga ada orang yang rasanya mau tumbang, lho."
Sambil tersenyum pahit, yang tiba-tiba sudah ada di sebelah adalah Gizal.
"Bisakah kau hentikan kebiasaan 'waktu tersingkat' itu? Pergi ke Istana Langit untuk mengajukan permintaan, sampai membawa Shion ke sini dalam satu minggu itu benar-benar gila."
"Sekalian tolong kawal Nandal dan Shion."
"Kau dengar omonganku tidak!?"
"Anda kan tidak seserius Nandal. Anda pasti istirahat sesuka hati secukupnya, jadi saya tidak terlalu khawatir."
"......Kh."
Mengabaikan mantan jenderal yang mulutnya membuka-tutup itu, Hazen menyerahkan dokumen kepada Nandal.
"Hubungan Anda dan saya hanyalah sebatas pedagang dan bangsawan. Tidak ada hubungan atasan-bawahan di sana. Karena itu, jika Anda tidak merasa untung dengan permintaan saya, silakan tolak kapan saja."
"Ini......"
"Imbalan."
"......Hah?"
Nandal tanpa sadar bertanya balik. Jumlah digitnya tidak wajar. Apakah dia kelelahan? Dia mengucek mata dan memeriksanya berulang kali, tapi jumlah digitnya tidak berubah. Itu dengan mudah melampaui seribu kali lipat aset yang dimilikinya saat ini.
"Haha. Ini keuangan negara antah berantah mana?"
Angka yang terlalu konyol, hingga dia tanpa sadar tertawa. Jika punya uang sebanyak ini, dia bisa dengan mudah masuk dalam jajaran 100 pedagang teratas di Kekaisaran.
"Ini imbalan keberhasilan. Jumlah total dari keuntungan yang didapat setelah tujuan kali ini tercapai, dikurangi berbagai biaya operasional. Semuanya."
"Semuanya...... katamu?"
"Uang, kan?"
Hazen menatap lurus ke mata Nandal.
"Bagi pedagang, uang adalah segalanya. Karena itu, saya menyerahkan segalanya kepada Anda."
"......Kenapa, sampai sebegitunya...... pada orang seperti saya."
Dia tidak bisa mempercayainya. Surat kontrak ini ditulis dengan sah. Jika berhasil, tak diragukan lagi, harta yang tak terbayangkan akan jatuh ke tangan Nandal.
Kepada dirinya yang tidak punya kemampuan ini.
"Alasannya ada tiga. Pertama. Mata Anda jeli. Anda menaruh perhatian pada Jan, dan melakukan perdagangan dengan Suku Kumin."
"Itu...... cuma kebetulan."
"Kedua. Kemampuanmu dalam mengambil keputusan sangat bagus. Bisa dibilang kau berani mengambil risiko. Saat aku jatuh dalam kesulitan, kau menginvestasikan seluruh uangmu padaku."
"Itu pun, cuma keberuntungan semata."
"Ketiga adalah itu."
"Eh?"
"Momentum. Itu adalah bakat paling unggul bagi seorang pedagang."
"......"
"Nandal. Ini investasi."
"......"
"Aku akan mendapatkan Kekaisaran. Apa yang kau inginkan?"
"......Uang. Dalam jumlah yang tak terbayangkan."
Benar. Pedagang itu uang. Menghasilkan uang adalah impian, tujuan, dan segalanya. Tidak masalah jika tidak bisa makan enak. Tidak masalah sama sekali jika tidak bisa memakai pakaian bagus. Tidak masalah jika tidak tinggal di rumah bagus. Hanya menghasilkan uang. Dia hidup dengan merasakan kepuasan dalam menghasilkan uang lebih dari siapa pun.
Meski lelah...... meski nyawa taruhannya, dia ingin menghasilkan uang.
Saat dia menjawab begitu, Hazen tersenyum.
"Gunakan apa pun yang bisa digunakan. Bilang saja padaku, akan kuatur. Aku bukan mengkhawatirkanmu, tapi kalau kau sampai tumbang, aku yang repot."
"......"
"Makanya, aku menempatkan Shion untuk mendampingimu. Dia seharusnya bisa membantumu agar kau tidak tumbang. Hanya itu yang bisa kukatakan."
"......Haa. Orang yang benar-benar luar biasa. Tapi, mau bagaimana lagi, ya."
Meski merasa takjub.
Ekspresi Nandal menjadi cerah, dan dia mengangguk mantap.
*
"Haa...... haa......"
Beberapa jam kemudian, di Benteng Gadar, Ray Fa masih berjuang keras. Sudah beberapa hari berlalu sejak perebutan benteng, tetapi mereka terus diserang tanpa henti oleh Perserikatan Iris.
Dalam aspek pertahanan, Guren memberikan efek yang besar. Tongkat sihir seperti tombak ini bisa diisi sihir sebelumnya, dan total ada 100 batang cadangan.
Dengan menembakkannya secara acak, mereka merencanakan agar musuh mengira ada puluhan penyihir di sana. Tujuannya agar musuh tidak mudah menyerang, tetapi musuh tidak termakan siasat itu.
Lima kali dalam empat hari ini. Di antaranya, satu kali adalah serangan malam, sehingga mereka terus-menerus dalam posisi bertahan tanpa bisa tidur dengan layak. Namun, pasukan Negara Noctare juga menunjukkan ketangguhan yang luar biasa.
Jujur saja, jika hanya Ray Fa sendiri, dia pasti akan dipaksa menjalani pertempuran yang sangat sengit, tetapi berkat perjuangan mereka, dia bisa beristirahat di titik-titik penting.
"Lawan menyerang dengan jumlah logistik yang luar biasa. Itu karena mereka tahu betul bahwa logistik kita tidak bisa diandalkan."
Mayor Jenderal Pasukan Negara Noctare, Zirconia Lania, yang berdiri di sebelahnya bergumam sambil melihat ke luar dari benteng. Dia adalah komandan Benteng Gadar yang ditunjuk oleh Hazen.
Hazen telah mendengar riwayat pertempurannya, dan menilainya sebagai 'tekun dan tenang. Menggunakan taktik yang kokoh dan ulet'. Meskipun Zirconia sendiri tertawa dengan ekspresi menyindir sambil berkata, 'Di Kekaisaran, aku dibilang polos, tidak menonjol, dan membosankan'.
Karena dia tidak banyak mengubah susunan pasukan dan menerima pendapat dari lapangan, mereka pun bisa menghadapi pertempuran pertahanan tanpa kebingungan.
"Tapi, kalau begini terus kita akan perlahan-lahan kalah. Aku ingin langkah yang tidak biasa. Apa ada ide?"
"Uugh...... aku harap kau tidak mengatakan hal yang sulit padaku, ya."
Ray Fa bergumam seolah kesulitan.
"......Eh?"
"Aku tidak terlalu paham soal begituan. Soal strategi dan semacamnya. Jadi, kuserahkan pada Mayor Jenderal Zirconia."
"Ba, baiklah."
Mayor Jenderal Zirconia menunjukkan ekspresi yang agak cemas.
"......Ah, tapi aku lapar nih."
"La, lapar?"
"Iya."
"......"
Saat sang Mayor Jenderal menunjukkan ekspresi cemas yang nyata, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Dia itu kalau tidak diberi makan tidak akan bekerja, jadi hati-hatilah."
"......Mayor Hazen."
Penyihir berambut hitam yang muncul tanpa suara itu membuat Mayor Jenderal Zirconia menunjukkan ekspresi ketakutan. Di tangannya, dia membawa piring besar berisi masakan yang terdiri dari banyak daging ayam dan rumput hijau.
"Ugh...... itu bikin nostalgia saja."
"Mengingatkan masa-masa sekolah, kan?"
"Padahal aku tidak ingin mengingatnya, lho."
Ray Fa menjawab sambil melahap makanannya. Seperti biasa, rasa bumbunya hambar, lebih mirip suplemen nutrisi daripada makanan.
"Mayor Jenderal Zirconia. Ray Fa bisa digunakan sebagai bidak, tapi tidak punya bakat sebagai jenderal. Jadi, tolong kau gerakkan dia dengan baik dan pertahankan tempat ini."
"Ba, baik. Jadi, apa tujuan Anda ke sini hari ini?"
"Menyerang Kastil Logiant."
"......Hah?"
"Langkah yang tidak biasa, kan. Katanya kau menginginkannya."
"......Eh?"
Zirconia bertanya balik dengan ekspresi bingung, tapi Hazen mengabaikannya dan melanjutkan pembicaraan.
"Ray Fa tetap bertahan di sini. Aku akan menyerang dengan orang-orang yang sudah saya pilih. Aku juga meminjam kelompok dagang dari Nandal, jadi totalnya Lima ribu orang untuk menaklukkannya."
"Li......"
Zirconia yang sejak tadi hanya bisa mengeluarkan satu patah kata. Jika bicara soal skala, itu adalah kastil tak tertembus dengan lebih dari 50.000 tentara. Perbedaan kekuatannya terlalu jauh.
"Kalau meminjam kelompok dagang Nandal, apa Nandal tidak apa-apa?"
"Sebagai gantinya, aku mengirim Gizal untuk mengawalnya."
"......Ngomong-ngomong, apa Nandal baik-baik saja?"
Dia terlihat sangat kurus kering dan tidak bersemangat.
"Tidak, dia sudah di batasnya. Wajar saja karena terlalu diforsir, mentalnya juga sudah kena. Tapi, dia harus melakukannya."
"Kalau begitu, biarkan dia istirahat sebentar saja......"
"Sekarang saatnya untuk terus bergerak. Momen yang harus dilakukan itu tidak datang berkali-kali dalam hidup. Kalau datang, kita harus menggerakkannya."
"......"
"Bagi Nandal maupun aku, ini adalah momen penentuan. Kalau gagal, posisi kita akan terancam."
"......"
"Ray Fa. Aku tidak meminta kerja yang wajar. Langkah yang di luar akal sehat. Cuma itu cara untuk bertahan hidup."
"......"
"Ini medan perang. Kegagalan berarti kematian. Kalau tumbang berarti kehancuran. Tentu saja, aku menuntut hal itu juga dari Nandal."
"......"
"Jangan khawatir. Aku akan berusaha sebisa mungkin agar dia tidak tumbang. Tapi, kalau dia tumbang, berarti aku salah perhitungan. Tentu saja, aku juga sudah bersiap untuk itu."
"......Kalau Jan?"
"Anak itu agak aneh, sih. Dia bekerja sambil menggerutu tapi tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa."
"Gishi...... Gishishishi...... Kalau sampai dibilang begitu oleh Hazen, tamat sudah, ya."
"......Lancang sekali."
Melihat Ray Fa tertawa seperti masa sekolah dulu, ekspresi Hazen juga sedikit melunak.
"Pokoknya, besok, kita akan memulai invasi ke Kastil Logiant."




Post a Comment