NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Interlude 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Interlude 1

Di Bar Seperti Biasa

──Sudut Pandang Sekretaris Jenderal Ugaki──


Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku kembali ke kampung halaman.


Di bar langgananku, aku meminum sedikit wiski.


"Jarang juga ya. Malt ini memakai tong bourbon, bukan tong sherry."


Begitu kukatakan, bartender yang biasa melayaniku tersenyum.


"Iya. Ini produk khusus toko bebas bea, jadi saya memesannya khusus."


"Rasanya manis dan creamy. Karakter asli spirit-nya juga mudah terasa."


Saat kusampaikan kesan sederhana itu, sang bartender tersenyum.


"Kalau begitu, aku juga pesan yang sama."


Sebuah suara terdengar dari belakang. Suara yang familiar dan penuh nostalgia.


"Minami-san?"


"Ya, sudah lama tidak bertemu, Ugaki-kun."


Minami-san duduk di sebelahku.


Seolah kembali ke masa lalu.


Tak lama kemudian, segelas air sebagai chaser, wiski, dan kacang disajikan di depan pria tua itu.


"Hou, malt dengan tong bourbon memang benar-benar jarang. Mungkin usianya masih cukup muda."


Memang pantas disebut guruku dalam urusan wiski. Hanya dari aroma dan satu tegukan saja, dia sudah bisa menebak hampir semua karakteristiknya.


"Aroma vanila dan kayunya kuat, tapi di balik itu masih terasa citrus dan nuansa floral. Kesan floral ini mungkin menunjukkan kualitas spirit aslinya."


Saat bartender menuangkan wiski tadi, aku sempat melihat botolnya. Ternyata memang tertulis delapan tahun. Tidak terlalu muda, tapi juga belum terlalu tua.


Namun jelas ini bukan kebetulan. Mengenal orang ini, pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya sampai datang ke sini.


"Jarang sekali. Hari ini tidak ada kegiatan sukarela?"


"Tentu saja ada. Siang tadi aku membantu mengawasi anak-anak SD pulang sekolah."


"Di cuaca sepanas ini, Anda masih bisa bicara santai begitu. Kalau tubuh sedang lelah lalu minum wiski straight seperti itu, nanti efeknya terasa."


Orang ini memang selalu begitu sejak dulu. Penuh vitalitas dan sangat kuat minum.


"Tidak masalah. Saat medical check-up, tidak ada satu pun masalah ditemukan."


"Benar-benar ya..."


Tanpa sadar aku menoleh ke sisi kanan. Karena di situlah biasanya kursi tetap miliknya berada. Padahal aku tahu tidak mungkin ada orang di sana.


Seharusnya ada sahutan balasan seperti biasanya, tetapi kini tidak ada lagi.


Aku tahu Minami-san memperhatikan reaksiku. Dia pasti mengerti arti gerakanku tadi.


"Begitu ya."


Hanya itu yang dia katakan singkat. Sepertinya dia tidak berniat membahasnya lebih dalam.


"Namun tetap saja, pemuda itu sekarang menjadi Sekretaris Jenderal partai penguasa. Aku tidak pernah menyangka akan melihat politikus yang memecahkan rekor termuda milik Ima Taikou."


"Aku hanya beruntung."


"Begitu ya. Mungkin tidak perlu kukatakan, tapi seorang politikus tak akan bisa naik ke puncak tanpa mampu menarik keberuntungan ke sisinya. Bukankah itu justru bakat yang paling penting?"


Mengatakan itu, Minami-san perlahan menyesap minumannya. Aku pun ikut meneguk wiski.


"Ada hal yang ingin kulakukan, dan itu hanya bisa tercapai kalau aku berhasil naik ke puncak."


Kalau tidak berhasil... maka apa yang telah hilang terlalu besar.


"Kalau para rubah tua di dunia politik tahu kalau orang yang mereka anggap licik itu sebenarnya masih bergerak dengan emosi mentah seperti anak muda, mereka pasti akan terkejut."


"Anda terlalu menilaiku tinggi. Aku sendiri tidak merasa punya nilai sebesar itu."


Aku hanya terus bergerak karena janji dengan sahabatku dan dendam pribadi.


Entah karena menyadari suasanaku, Minami-san tiba-tiba bergumam pelan.


"Mungkin... sudah waktunya kau memaafkan dirimu sendiri."


Kata-kata itu terasa seperti senjata dingin yang menusuk.


Aku tak mampu membalas apa pun.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close