NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Paman Ugaki

"Bu, Paman Ugaki akhir-akhir ini tidak datang ke toko lagi, ya?"


Mendengar pertanyaanku, ibu tersenyum seolah langsung memahami semuanya. Senyum yang lembut dan hangat.


"Begitu ya. Kalau Eiji sampai menanyakan itu, berarti memang benar."


Ekspresi ibu yang tersenyum dengan sedikit emosi rumit di dalamnya terlihat sedih, seperti seorang ibu yang memikirkan anak perempuannya.


"Bu?"


"Nanti setelah pekerjaan selesai akan ibu ceritakan. Tunggu sebentar, ya."


"Iya."


Aku pulang ke rumah lalu bersiap-siap menyiapkan mandi sambil menunggu. Karena hari ini banyak sekali hal yang terjadi, aku tanpa sadar jadi mengantuk.


"Eiji?"


Aku terbangun karena suara ibu. Sepertinya aku ketiduran. Saat melihat jam, ternyata waktu tutup toko sudah lewat.


"Maaf, aku ketiduran."


Karena tadi tertidur dengan posisi menelungkup di meja ruang tamu, tubuhku terasa sedikit sakit.


"Kamu capek, kan? Mau lanjut besok saja ceritanya?"


"Nggak, hari ini saja."


Kalau ingin benar-benar mendukung dirinya sedikit saja, aku ingin cepat mengetahui semuanya.


Ibu mengangguk paham lalu duduk di depanku.


"Begitu ya. Kalau begitu ibu ambilkan teh barley dulu."


Mengatakan itu, ibu menuangkan teh barley dari kulkas dan membawakannya untukku juga.


"Terima kasih."


Kami masing-masing meneguk teh barley sekali, seolah itu menjadi tanda dimulainya pembicaraan.


"Ibu sudah tahu?"


"Kalau dibilang tahu sih tidak juga. Ibu cuma sempat berpikir mungkin begitu. Karena Ai-chan sangat mirip dengan Hitomi-san. Lagi pula, ibu cuma pernah bertemu Ai-chan waktu dia masih bayi, jadi ibu tidak yakin. Nama marganya juga bukan Ugaki, jadi mungkin saja ibu salah orang, atau mungkin ada keadaan rumit di baliknya. Karena itu ibu merasa tidak pantas bertanya terlalu jauh."


"...Begitu ya."


Ibu memang cukup menghargai keinginan anak-anak. Kurasa dia juga memperlakukan Ai-san seperti memperlakukanku.


"Kalau menjawab pertanyaan Eiji tadi, Ugaki-san memang sudah tidak datang ke sini lagi sejak pemakaman ayahmu. Dia merasa bertanggung jawab jauh lebih besar dibanding Minami-san..."


Benar juga. Ayah dan ketiga orang itu memang sangat akrab. Mereka sering minum bersama sepulang kerja, bahkan ikut kegiatan sukarela bersama saat libur.


"Jadi setelah kecelakaan itu terjadi?"


"Iya. Ibu juga hanya sempat menghadiri pemakamannya. Karena putrinya dirawat di rumah sakit, kami tidak bisa bertemu. Ugaki-san sibuk sebagai kepala keluarga yang mengurus pemakaman, jadi hampir tidak sempat bicara. Sejak itu ibu belum pernah bertemu lagi dengannya. Ibu memang sempat dengar dari Minami-san kalau dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan seolah ingin melupakan sesuatu... tapi setelah itu tidak ada kabar lagi."


Kehilangan istri tercinta dan ayahku yang juga sahabatnya hampir bersamaan... mungkin ada sesuatu dalam diri Paman Ugaki yang hancur. Aku samar-samar berpikir begitu.


"Bu, soal yang kudengar hari ini... bisa rahasiakan dulu nggak? Kurasa dia sendiri ingin menjelaskan semuanya dengan benar pada ibu nanti. Dia kelihatan sangat merasa bersalah karena akhirnya jadi seperti berbohong."


"Iya, ibu mengerti. Padahal tidak perlu menganggap itu sebagai kebohongan."


Kalau melihat kepribadian Ai-san, dia pasti benar-benar memikirkannya. Dengan sifatnya, dia pasti ingin menjelaskan semuanya sendiri dengan baik. 


Mungkin kali ini aku terlalu terburu-buru. Saat aku menatap ibu sambil memendam sedikit penyesalan, entah karena memahami perasaanku atau bagaimana, ibu tersenyum lembut.


Mendengar ibu berkata begitu membuatku ikut merasa terselamatkan. Aku merasa lega.


"Kau sudah berusaha keras ya, Eiji."


"Hah?"


"Karena kau benar-benar mendampingi Ai-chan, makanya kau bisa membuka pintu hati berat yang selama ini tertutup itu. Jadi, kau sudah berusaha keras."


Kalau dibilang begitu, dadaku jadi terasa sedikit geli.


"Nggak kok, aku malah selalu ditolong semua orang."


"Memang. Tapi Eiji, saat hati seseorang sedang lemah, hanya dengan ada di sisinya saja itu sudah bisa menyelamatkan. Sama seperti yang kau dan kakakmu lakukan untuk ibu setelah ayahmu meninggal. Hanya dengan ada seseorang yang menghabiskan waktu bersama kita saja..."


"Iya. Terima kasih."


Mungkin karena tadi sempat tidur sebentar, tubuhku terasa ringan. Aku jadi ingin menulis novel sedikit.


Sambil berpikir begitu, aku masuk ke kamarku.


Paman Ugaki yang dulu begitu baik ternyata berubah. Apa kehilangan ibu Ai-san benar-benar memberinya guncangan sebesar itu? Aku teringat sosok paman yang selalu tersenyum lembut padaku.


Bahkan aku yang bukan siapa-siapanya saja merasa kehilangan. Kalau begitu, sebagai putri kandungnya... pasti luka yang dia rasakan jauh lebih dalam daripada aku.


Karena itulah aku harus mendukungnya sebagai kekasih. Kalau memang bisa, aku akan melakukan apa saja untuknya.


Dengan tekad kuat seperti itu, aku pun menghadap komputerku.



──14 September・Sudut Pandang Ai──


Padahal hari libur, tapi aku justru bangun lebih pagi dari biasanya.


Setelah merapikan diri, aku pergi menuju Aono Kitchen. Karena aku merasa harus mengatakan yang sebenarnya kepada ibu dan kakak yang selalu memperlakukanku seperti keluarga sungguhan.


Orang-orang keluarga Aono begitu baik, sampai membuatku tanpa sadar ingin terus bergantung pada mereka. Tapi meski begitu, aku merasa tetap harus bersikap benar. Aku tidak boleh terlalu dimanjakan.


Saat aku pergi ke toko dengan gugup, ternyata meskipun masih pagi sekali, ibu sedang membersihkan depan rumah. Mungkin kakak sedang menyiapkan sesuatu di dapur.


"Ara, Ai-chan! Ada apa pagi-pagi sekali begini?"


Bahkan sebelum aku sempat menyapa, ibu sudah menyadarinya. Suaranya terdengar ceria. Seolah beliau benar-benar senang bertemu denganku. Sedikit demi sedikit rasa gugupku mulai mereda.


"Selamat pagi. Padahal pagi-pagi begini pasti sedang sibuk persiapan, tapi aku malah datang tiba-tiba..."


Saat aku hendak meminta maaf, ibu langsung menghentikanku sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa kok. Jangan dipikirkan. Jangan-jangan hari ini mau kencan dengan Eiji? Anak itu tidak bilang apa-apa sih. Dia sudah bangun belum ya? Benar-benar anak itu."


"Bukan begitu. Hari ini aku datang karena ada yang ingin kubicarakan dengan ibu dan kakak..."


"Ara, dengan kami? Senangnya. Kebetulan sebentar lagi kami mau sarapan, jadi Ai-chan ikut makan juga, ya?"


"Aku datang tiba-tiba begini, jadi rasanya merepotkan kalau sampai..."


"Mana mungkin merepotkan. Malah ibu senang bisa bertemu dan mengobrol dengan Ai-chan dari pagi. Masuklah, masuk. Eiji sepertinya semalam menulis sampai larut, jadi mungkin belum bangun. Perlu ibu bangunkan?"


"Tidak usah. Biar dia tidur."


"Begitu ya. Kalau begitu, biar ibu menikmati Ai-chan sendirian dulu."


Seolah tahu kalau aku sedang gugup, ibu mengatakannya sambil tersenyum, membuatku merasa sedikit terselamatkan saat beliau mengajakku masuk ke dalam toko.


"Oh, hari ini pagi sekali ya."


Kakak sedang memanggang sesuatu. Mungkin sarapan.


"Ai-chan katanya mau bicara dengan kita. Kak, tambahkan satu telur mata sapi lagi ya."


"Oh? Jarang-jarang. Oke. Tunggu sebentar."


Kakak dengan cekatan menyiapkan sarapan untukku juga. Merasa sedikit tidak enak, aku duduk di meja dekat dapur.


Mereka menyeduhkan teh harum aroma apel untukku. Wanginya lembut dan menenangkan hati.


"Jadi, apa yang mau dibicarakan?"


Saat aku tampak memperhatikan kakak, ibu tertawa lalu berkata, "Anak itu pendengarannya bagus, jadi pasti sudah dengar."


Beliau berusaha agar aku tidak terlalu tegang.


Aku memejamkan mata sebentar lalu menceritakan semuanya. Sama persis seperti yang kuceritakan pada Senpai kemarin... ibu mendengarkannya tanpa mengatakan apa pun.


"Padahal ibu sudah menerima aku dengan sangat baik... tapi jadinya seperti aku menipu kalian. Aku benar-benar minta maaf."


Suaraku bergetar. Aku sangat takut dan dipenuhi rasa bersalah.


Dia memang menerimaku dengan lembut. Tapi belum tentu ibu juga akan begitu. Waktu terasa berjalan begitu berat, seperti sedang menunggu keputusan hakim. Padahal sebenarnya mungkin hanya beberapa detik, tetapi bagiku terasa sangat lama.


Tanpa kusadari, ibu sudah mendekat dan memelukku dengan lembut dari belakang saat aku menunduk.


"Terima kasih sudah mau cerita. Pasti menakutkan, ya. Kau sudah melalui banyak hal berat, mengalami banyak penderitaan yang sebenarnya tak perlu kau alami... kau sudah berusaha keras. Bahkan terlalu keras. Ai-chan anak yang hebat."


Rasanya nyaman sekali, seperti berada di dalam buaian.


"Tapi..."


Saat aku hendak mengungkapkan dosaku sendiri, ibu melepaskan pelukannya lalu berjongkok agar sejajar denganku dan berbicara dengan lembut. Dengan senyum seperti malaikat yang memaafkanku dan mengatakan bahwa aku tidak bersalah apa pun.


"Ibu tidak merasa ditipu kok. Sebenarnya ibu sempat merasa mungkin memang begitu. Lagi pula, Ai-chan tetaplah Ai-chan."


Beliau menggenggam tanganku dengan lembut, mengakui diriku yang sekarang apa adanya. Tanpa sadar air mataku menetes. Dengan suara serak aku bertanya,


"Benarkah...?"


Untuk menenangkanku, beliau mengangguk besar.


"Tentu saja benar. Kau adalah dirimu sendiri. Eiji juga bilang hal yang sama, kan?"


"Iya..."


"Nah, begitu dong. Memang begitu anakku. Lagi pula ya, mungkin terdengar kurang sopan, tapi ibu sebenarnya tidak terlalu peduli soal nama keluarga."


Ibu tersenyum seperti biasanya.


"Kenapa...?"


Seolah berkata "masih tanya juga", ibu lalu menambahkan,


"Karena mungkin sebentar lagi namamu berubah jadi Aono."


Padahal aku belum pernah bilang kalau kami mulai berpacaran, tapi ibu ternyata sudah menyadarinya. Aku langsung menangis sambil wajahku memerah.


Kali ini beliau memelukku dari depan saat aku masih duduk di kursi.


"Mungkin ibu tidak bisa menggantikan ibu kandungmu yang melindungimu dengan taruhan nyawa... tapi ibu juga sangat menyayangimu."


Mendengar kata-kata sehangat itu, aku tak mungkin bisa lagi menahan emosiku.


"Iya..."


Dari dapur terdengar juga suara isakan pelan yang lembut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close