NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Interlude 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Interlude 5

Pengampunan

──Sudut Pandang Eri Ikenobe──


Kenapa semuanya tidak berjalan dengan baik, ya.


Padahal aku ingin mati. Meski sudah tak punya apa-apa, aku tetap harus terus hidup seperti ini.


Tadi, aku dikepung beberapa pria. Dari potongan ucapan mereka, aku tahu mereka anggota klub sepak bola. Aku pikir semuanya sudah berhasil. Menambah jumlah orang yang akan ikut jatuh ke neraka bersamaku, lalu tinggal merasakan sedikit penderitaan fisik. Karena itu juga hukuman, aku seharusnya bisa menerimanya.


Namun, bersamaan dengan teriakan, "Berhenti di situ!", banyak polisi menerobos masuk. Meski anak-anak klub sepak bola itu tipe atletis, mereka tak bisa berbuat apa-apa saat dikepung polisi sungguhan dan langsung ditangkap. Aku sendiri diselamatkan tanpa luka sedikit pun.


Sekarang aku berada di ruang interogasi kantor polisi.


Karena untuk sementara aku dianggap korban, aku hanya menjalani pemeriksaan singkat sambil menerima kekhawatiran dari banyak orang. Padahal aku sama sekali tak punya nilai untuk dipedulikan seperti itu. Anak-anak klub sepak bola itu benar-benar bodoh. Kalau mereka tidak melakukan hal seperti ini, mungkin banyak dari mereka hanya akan kena skors atau hukuman sementara. Tapi mereka malah benar-benar menyesatkan diri mereka sendiri.


Sama seperti aku. Dimanipulasi wanita itu sesuka hati, lalu kehilangan semuanya.


Benar-benar bodoh.


Katanya, demi berjaga-jaga, untuk sementara akan ada pengawalan polisi. Dengan begitu, aku tak bisa lagi melakukan hal bodoh. Keputusasaan karena harus hidup di neraka ini dengan tubuh yang sudah kehilangan segalanya. Bahkan diriku yang tak bisa sampai nekat pun terasa menyedihkan. Pada akhirnya, sejak hari itu aku sudah tak bisa memilih apa pun dengan kehendakku sendiri.


Tak lama lagi mereka akan mengantarkanku pulang, dan aku disuruh menunggu di ruangan kosong.


Polisi akan melihat kamarku. Membayangkannya saja membuatku murung. Bahkan saat pemeriksaan tadi, kehidupan baruku yang tinggal sendiri dekat rumah orang tua juga dipertanyakan. Ketika mereka tahu aku dibuang orang tuaku, mereka memandangku dengan tatapan penuh belas kasihan. Harga diriku yang sudah hancur makin terluka.


Terdengar suara ketukan lembut.


Mungkin persiapan mobilnya sudah selesai.


Tebakanku yang santai itu langsung terpatahkan.


"Sudah lama ya, Eri."


Sahabatku sampai SMP berdiri di sana dengan wajah keras sambil menatap tajam ke arahku.


"Yumi... kenapa?"


Dia perlahan duduk di kursi lipat.


Aku terkejut melihat perubahan mantan sahabatku yang kini terlihat jauh lebih dewasa dan feminin. Ah, benar juga. Ayahnya. Kalau tidak salah, ayah Yumi seorang polisi. Jadi dia dihubungi lewat jalur itu.


Tanpa sadar hatiku hampir runtuh.


Mungkin saja dia juga datang.


Tentu saja khayalan egois seperti itu tak mungkin terwujud. Setelah semua yang kulakukan, mana mungkin dia datang.


"Syukurlah kau tidak terluka."


Yumi berkata begitu dengan nada penuh kewaspadaan.


"Terima kasih. Aku tidak menyangka kau masih mau menemuiku lagi."


Simbol dunia hangat yang telah hilang dariku. Dunia itu kini kembali mendekat, walau hanya sedikit.


"Sebenarnya aku sudah berniat tak akan pernah menemuimu lagi. Dan tekad itu belum berubah."


"...Begitu ya."


Bahkan aku sendiri terkejut mendengar nada suaraku turun sedemikian rendah.


Padahal aku tahu. Aku tahu semua itu. Tapi aku kembali dibuat sadar betapa besar hal yang sudah hilang dariku.


"Tapi setelah kejadian ini, ada sesuatu yang harus kukatakan."


"Ya."


Penolakan yang begitu mutlak.


"Kau tadi mencoba mati, kan?"


Tadi dia masih memanggil namaku.


Sekarang jarak itu sudah muncul lagi. Dan mantan sahabatku itu memahami pikiranku dengan mengejutkan.


Aku telah kehilangan seseorang yang bisa memahami diriku seperti itu.


Aku hanya mengangguk diam menjawab pertanyaannya.


"Seperti yang kuduga..."


Ucapan yang dipenuhi rasa kecewa dan emosi rumit lainnya menusuk dadaku.


"Kau tidak berhak mengomeliku."


Itu batas maksimal harga diri yang masih bisa kutunjukkan sekarang.


"Benar."


Dia menatap lurus ke arahku.


Apa dia memang gadis sekuat ini dulu?


Kepercayaan diri yang terpancar darinya jauh melampaui diriku yang hanya berpura-pura kuat. Ada juga tekad untuk melindungi sesuatu.


Sesuatu.


Tak mungkin itu sekadar kata abstrak.


Kazuki.


Ya, benar.


Saat aku tetap diam, dia menyampaikan perasaannya dengan kata-kata yang mantap.


Begitu mantap sampai aku sadar bahwa dirinya benar-benar berbeda dengan diriku yang selama ini hanya hidup di dalam kata-kata orang lain.


"Kau itu selalu egois..."


Matanya berkaca-kaca saat mencoba merangkai kata.


Berkali-kali suaranya tak keluar, berkali-kali dia menelan kembali ucapannya.


"Kami tidak akan pernah memaafkanmu kalau kau mencoba merasa lega dengan mati di sini, lalu membuang tanggung jawabmu sendiri."



──Sudut Pandang Seorang Polisi──


Aku memasuki ruang interogasi.


Di sana duduk seorang siswi teladan yang tampak seperti keluar dari gambar buku, sampai sulit dipercaya kalau dia otak utama kasus keji ini.


Pantas saja. Penampilan seperti itu pasti sangat berguna untuk menyembunyikan keburukannya selama ini.


Aku sudah membaca semua berkas penyelidikan sebelumnya. Polisi juga semakin mendekati kebenaran berdasarkan kesaksian yang didapat Doumoto-san dari kenalannya. Sebenarnya dia sudah tak punya jalan kabur lagi, tapi malah menambah dosanya dengan perlawanan sia-sia.


Dia memberi ide kepada putra anggota dewan Kondou dan memanipulasinya untuk melakukan perundungan terhadap junior mereka.


Dia menggunakan SNS luar negeri yang tidak populer untuk bertukar pesan agar bukti tidak tertinggal, namun gagal.


Saat panik karena semuanya mulai terbongkar, dia merencanakan penyerangan terhadap siswi yang memiliki informasi dan memanfaatkan anggota klub sepak bola.


Kalau ini zaman dulu, dia benar-benar wanita cantik penghancur negara.


Sebentar lagi genap dua puluh tahun sejak aku menjadi polisi. Belum pernah aku melihat siswi SMA secerdik ini dalam menyusun tipu daya. Benar-benar menakutkan.


Andai kecerdasannya dipakai di tempat lain.


Tanpa sadar aku menghela napas.


Begitu melihatku menghela napas sejak masuk, dia tampak kesal. Rupanya mentalnya belum sepenuhnya hancur. Sepertinya hari ini bakal panjang.


"Salam kenal, Tachibana-san. Saya Furuta, yang akan menangani interogasi hari ini. Mohon kerja samanya. Saya dengar dari yang lain kalau kamu terus bersikeras tidak terlibat. Bisa jelaskan lebih detail pada om ini?"


Aku berbicara lembut dengan suara serak. Pertama-tama, aku harus mencairkan suasana agar pembicaraan bisa berjalan.


"Bukankah saya sudah bilang berkali-kali? Itu cuma bercanda. Tapi Kondou-kun malah menganggap serius. Saya juga tidak tahu soal kasus kekerasan anggota klub sepak bola itu. Mungkin junior saya merencanakannya sendiri karena panik atau apa. Apa memang ada bukti yang menentukan?!"


Sambil berpura-pura seperti hewan kecil yang ketakutan, isi ucapannya sangat menekan.


Mungkin itulah sifat aslinya.


Tipe orang yang agak agresif dan merasa senang memanipulasi orang lain.


Keluarganya terdiri dari ibu yang sangat ambisius soal pendidikan dan ayah pekerja keras. Keluarga elite yang umum ditemui.


Terasa seperti ada aroma pemikiran kaum terpilih dari dirinya.


"Begitu ya. Kalau begitu saya ingin memastikan sesuatu. Kenapa kamu menggunakan SNS luar negeri yang sangat minor untuk berkomunikasi dengan Kondou-kun?"


Menghadapi tipe seperti ini, cara terbaik memang mengajaknya berdebat perlahan.


"Itu karena... aku dan Kondou-kun pernah punya hubungan semacam pacaran sedikit. Jadi untuk percakapan memalukan atau semacamnya, aplikasi yang bisa menghapus jejak dengan mudah terasa lebih nyaman."


Hmm, alasan yang cukup bagus.


"Begitu ya. Kalau begitu bagaimana dengan pencurian barang pribadi dan naskah novel milik Aono Eiji-kun? Juniormu bilang dia menerima perintah darimu."


Reaksinya benar-benar sesuai dugaan. Sampai terasa seperti dibuat-buat.


"Itu tidak benar! Semua orang hanya mencoba melimpahkan kesalahan kepada saya! Memangnya ada bukti kalau saya yang memberi perintah?!"


"Tapi ada banyak kesaksian. Hampir semua anggota mengatakan bahwa perintah membuang naskah dan barang pribadi Aono-kun berasal darimu. Tumpukan kesaksian yang kuat itu hampir sama nilainya dengan bukti nyata."


"Itu..."


Bagaimanapun juga, meski berpura-pura cerdas, dia tetap anak SMA.


"Ada hal menarik lainnya. Di hari Aono Eiji-kun dipukuli, ternyata kamu juga berada dekat lokasi kejadian. Kamera pengawas merekam dengan jelas. Hebat ya. Kebetulan yang astronomis. Seolah-olah kamu sudah tahu sesuatu."


Tentu saja itu bukan kebetulan. Sampai aku sendiri hampir tertawa saat pura-pura mengatakan itu.


"...Tapi soal Ikenobe-san... itu Matsuda-san dan klub sepak bola yang..."


Kena juga.


Sepertinya dia sedikit goyah.


"Nah itu benar. Matsuda-san memang bersekongkol dengan klub sepak bola. Tapi dia juga mengatakan kalau menerima instruksi lisan darimu. Kesaksian itu saja mungkin belum cukup untuk menjadi bukti pasti bahwa kamu terlibat dalam penyerangan. Soalnya anggota lain tampak bingung saat mendengar namamu."


Pertama-tama, aku harus menariknya masuk ke wilayahku.


"Benar kan? Matsuda-san cuma tidak mau dianggap dalangnya, jadi dia mencoba menjebak saya..."


Aku tersenyum tipis. Sambil yakin akan kemenangan, aku menamparnya dengan fakta.


"Tapi Tachibana-san, ada satu hal yang membuat saya penasaran. Kenapa kamu tahu kalau Matsuda-san terlibat dalam penyerangan itu? Siapa yang memberitahumu? Kalau kamu tidak terlibat, seharusnya kamu tidak tahu detailnya. Lagi pula, kenapa kamu tahu pelakunya klub sepak bola? Setelah saya konfirmasi ke guru-guru, katanya justru kamu sendiri yang lebih dulu menyinggung soal penyerangan itu."


Begitu kesalahannya ditunjukkan, wajahnya langsung pucat.


"Itu... saya lihat di berita..."


Dia malah terus menggali kuburnya sendiri.


"Karena pelakunya masih di bawah umur, sekolah dan nama mereka belum diberitakan. Untuk menyiarkannya, media butuh bukti yang pasti."


"Kalau begitu dari SNS... teman-teman sekolah menyebarkan rumor..."


"Kapan kamu melihatnya? Bagaimanapun dipikir, kamu tampaknya sudah tahu semuanya bahkan sebelum rumor itu menyebar."


"Mitsuta-kun tadi mengatakan macam-macam pada saya. Saya memang tidak mengerti maksudnya, tapi mungkin Matsuda-san juga menipunya."


Dia terdiam total lalu mulai bergumam sendiri sambil menunduk melihat lantai.


Dia jatuh.


"Tachibana-san. Memang benar kamu pintar. Tapi dunia ini tidak semudah itu sampai kamu bisa lolos hanya dengan alasan dadakan. Saat Mitsuta-kun dan Matsuda-san bertemu, kamera pengawas di depan stasiun merekam gerak-gerik mencurigakanmu. Dunia ini tidak semudah itu sampai tipu daya dangkal anak kecil bisa berhasil. Jangan meremehkan orang dewasa."



──Sudut Pandang Tachibana──


Apa-apaan orang ini.


Aku sedang terpojok.


Aku tak akan mengakuinya. Aku harus melewati ini...


"Kalau begitu, biar kutanya sekali lagi ya, Tachibana-san. Kamu adalah dalang utama kasus perundungan dan penyerangan ini, benar kan? Kamu bersama Kondou-kun adalah dua otak utamanya. Salah?"


Suara serak itu perlahan terus menekanku.


"Bukan, bukan, sama sekali bukan!"


Aku menyangkal mati-matian sambil mulai emosional.


"Begitu ya. Kalau begitu coba jelaskan kenapa bukan. Pertama, soal kamu berada di lokasi saat Aono Eiji-kun dipukuli."


"Itu benar-benar kebetulan... karena ada keributan di dekat sana, aku cuma penasaran seperti penonton dan pergi melihat."


"Oh? Jadi cuma melihat. Tapi kamu juga memotret, kan? Meski tahu junior klub dan teman sekelasmu sedang berkelahi, kamu pergi begitu saja tanpa bertanya apa pun pada kedua pihak. Aneh ya."


"Aku cuma tidak mau terlibat masalah merepotkan. Foto itu juga kuambil tanpa sengaja."


Aku sendiri tahu itu alasan yang sangat dipaksakan.


"Oh, jadi karena merepotkan kamu kabur ya. Tapi sempat mengambil foto. Rasanya kontradiktif ya menurut saya."


"Itu tindakan spontan. Bukankah manusia memang penuh kontradiksi?"


"Yah, itu juga benar sih."


Sambil berkata begitu, polisi tua itu tertawa keras.

Namun jantungku terus berdetak kencang.


Pria ini terlalu berbahaya.


"Tapi ya, Tachibana-san. Kamu membuat kesalahan. Dan itu kesalahan fatal. Kamu tahu?"


Ini gertakan. Pasti cuma gertakan.


Mustahil aku membuat kesalahan.


"Oh, jadi tidak tahu ya. Kami ini polisi. Kamu mungkin pikir sudah menyembunyikannya dengan baik. Tapi sebenarnya foto Aono-kun saat terkapar yang masih ada di ponselmu ternyata menyebar luas di internet. Akun SNS asal penyebaran foto itu memang sudah dihapus, tapi setelah kami menyelidiki sana-sini dan mengumpulkan informasi dari akun lain, ternyata akun itu menulis begini."


Dia sengaja menghentikan ucapannya untuk melihat reaksiku.


['Breaking news, gambar tepat setelah Aono Eiji yang melakukan KDRT pada pacarnya dipukuli habis-habisan.']


"Aneh ya. Dari lokasi yang hanya menunjukkan adanya kekerasan, kenapa postinganmu langsung sepenuhnya mempercayai versi cerita Kondou-kun? Aneh sekali. Seolah-olah kamu sudah tahu semuanya sejak awal."


"Aku bahkan tidak tahu akun itu."


"Ya, tentu saja saya sudah menduga kamu akan bilang begitu. Karena itu kami menyelidikinya. Alamat IP saat posting, lokasi login, semuanya ternyata berada dekat rumahmu. Dan walaupun akunnya dihapus, perusahaan pengelolanya masih menyimpan catatan. Untungnya mereka juga cukup kooperatif dengan polisi. Informasi ini baru laporan awal saja. Sebentar lagi semua datanya akan dipulihkan."


Darahku terasa menghilang.


Baru sekarang aku sadar kalau aku benar-benar sudah terpojok sepenuhnya.


"......."


"Oh iya, satu hal lagi. Katanya tempat Matsuda-san berdiskusi dengan anggota klub sepak bola adalah taman dekat stasiun, ya? Seperti yang tadi saya bilang, kami juga memeriksa kamera pengawas dan mewawancarai orang-orang yang bekerja di sekitar sana. Karena kalau saya jadi Tachibana-san, saya pasti akan melakukan hal itu. Lagi pula, tidak mungkin anak SMA biasa tiba-tiba melakukan semua ini. Ini kejahatan hasil akumulasi panjang. Berpikir seperti itu jauh lebih masuk akal. Kamu pasti meninggalkan bukti di suatu tempat."


".....!"


Aku mulai takut melihat seberapa tepat dia menganalisis diriku.


"Baiklah, cukup sampai sini untuk hari ini. Tapi Tachibana-san, mengingat perilaku, kepribadian, dan kejahatan yang sudah kamu lakukan, kamu tidak akan mudah dimaafkan. Kalau dibiarkan, kemungkinan besar kamu akan menjadi semakin berbahaya. Kalau hanya diberi hukuman ringan, itu akan meninggalkan masalah di masa depan. Setidaknya bagiku, semua ini tak bisa dimaafkan. Apa pun yang coba kamu sembunyikan, akan kupastikan semuanya terbongkar... aku orangnya gigih, tahu."


Setelah berkata begitu, polisi tua iblis yang tersenyum ramah itu meninggalkan ruangan.


Kenapa semuanya jadi begini?


Aku bisa merasakan mentalku perlahan hancur. Berapa kali lagi aku harus menjalani interogasi sekeras ini?


Neraka telah dimulai.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close