Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 6
Setelah Badai Berlalu
──Sudut Pandang Ai──
Dengan ditangkapnya Ketua Klub Tachibana, kasus perundungan akhirnya mencapai titik balik besar. Seluruh sekolah dipenuhi pembicaraan tentang itu. Fitnah terhadap Senpai juga perlahan akan menyebar kebenarannya.
Aku berpikir kehidupan damai Eiji-senpai akan sedikit demi sedikit kembali seperti semula, tapi di saat seperti itu, tiba-tiba ayah menghubungiku.
Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ayah akan datang menemuiku.
Dadaku terasa sesak. Kenapa aku malah merasa tidak ingin melihat wajah ayah? Aku benar-benar putri yang buruk. Bukan hanya merebut orang yang paling dicintainya, aku juga tak mampu memenuhi harapannya sedikit pun.
Hari ini kebetulan aku juga tidak punya rencana dengan Senpai.
Tak ada alasan untuk menolak. Karena itu, aku menguatkan tekad. Aku akan makan bersama ayah. Padahal seharusnya itu bukan sesuatu yang perlu sampai memantapkan hati seperti ini. Tapi bagiku, itu mutlak diperlukan. Aku merasa putus asa menyadari betapa bengkoknya hubungan keluarga kami sekarang.
Sepanjang siang, isi pelajaran hampir tidak masuk ke kepalaku. Kalau dipikir-pikir, sebelum bertemu Senpai aku memang selalu seperti ini. Hidup di dunia berwarna sepia, hanya menunggu waktu berlalu begitu saja.
Aku telah berubah menjadi mesin yang hanya bisa memasang senyum ramah untuk orang lain.
Mesin itu mengabaikan perasaannya sendiri dan hanya terus mengejar rasionalitas. Sampai-sampai menarik kesimpulan yang menyangkal keberadaannya sendiri.
"Ichijou-san, kamu bisa mengerjakan soal ini?"
Mungkin karena aku sedikit melamun, aku jadi sengaja ditunjuk.
Aku melihat soal di papan tulis.
Soal bangun ruang ya.
Aku maju ke depan dan menuliskan langkah pengerjaan di papan sebelum menemukan jawabannya.
"Ya. Kita menggunakan teorema kekuatan titik. Dalam kasus ini, tinggal menyelesaikan persamaan PA×PB=PC×PD... dan inilah jawabannya."
"Seperti dugaan, benar. Kalian juga harus mencontoh Ichijou-san dan belajar lebih dulu dengan baik, ya."
Guru itu berkata sambil tersenyum pahit. Dari teman-teman sekelas terdengar suara kagum.
Ah, jadi mereka memang belum diajari teorema kekuatan titik. Syukurlah soalnya soal dasar. Kalau tidak salah, teorema ini memang termasuk materi yang akan dipelajari hari ini.
Aku kembali tenggelam dalam pikiranku.
Hujan yang tadi turun rupanya sudah berhenti tanpa kusadari. Cahaya matahari menyinari genangan air di lapangan dan memantulkannya dengan indah.
Aku teringat hari itu.
Hari pertama aku bertemu Senpai.
Dunia di hari itu juga seindah ini. Saat aku buru-buru kabur dari sekolah hari itu, aku bahkan tak punya waktu untuk melihat sekeliling.
"Menyenangkan sekali ya. Aku belum pernah merasa berdebar seperti itu sebelumnya."
Aku berniat hanya mengatakannya dalam hati, tapi tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku.
Aku buru-buru melihat sekeliling. Sepertinya tak ada yang menyadarinya. Syukurlah.
Dan sekali lagi aku teringat hari takdir itu.
Demi melindungiku, dia menghantamkan tubuhnya keras ke pagar. Kalau saja dia jatuh dengan posisi yang buruk, atau kalau pagarnya sudah rapuh...
Aono Eiji, senpai itu, mempertaruhkan nyawanya demi junior bernama Ichijou Ai yang baru pertama kali ditemuinya.
Aku sangat bahagia karena itu.
Menggantikan ibu, dia mengatakan bahwa dia ingin aku tetap hidup. Mungkin tanpa sadar aku menumpangtindihkan dirinya dengan ibu.
Meski tahu itu tidak sopan, aku jadi tertarik padanya.
Karena itulah aku tidak menolak usulannya yang tiba-tiba waktu itu. Aku merasa dia mungkin akan menghancurkan cangkang yang selama ini mengurung diriku.
Diriku yang selama ini selalu menjadi murid teladan malah kabur dari sekolah di siang bolong. Rasanya seperti berhasil keluar dari sangkar yang selama ini mengurungku.
Dan sekarang, aku yang seperti ini ada di sini.
Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi berpikir untuk mati.
Bahkan sekarang pun, saat aku harus menghadapi ayah nanti, perasaan itu tidak muncul. Meskipun ayah tidak mencintaiku, masih ada orang yang mencintaiku.
Karena aku menyadari itu, aku bisa menjadi kuat.
Aku bahkan mulai bisa menunjukkan sisi lemah dan pengecutku yang selama ini tak pernah kutunjukkan pada siapa pun.
※
Sepulang sekolah.
Seperti biasa kami pulang bersama, dan aku berkata, "Hari ini aku makan bersama ayah."
Dia terlihat sangat khawatir, namun berbicara lebih lembut dari biasanya.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Hanya makan dengan ayah kandungku saja, jadi tidak apa-apa kok. Lagi pula, aku ingin sedikit demi sedikit mencoba menghadapi ayah."
"Begitu ya... Ai-san memang kuat."
Apa yang dia katakan sih. Padahal aku bisa menjadi kuat justru karena dirinya.
"Hehe, siapa tahu ya."
Aku sedikit ingin menggodanya.
"Tapi kalau terjadi apa-apa, langsung bilang padaku ya. Ai-san tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi kuat."
"Curang... kalau senpai berkata begitu..."
Aku berkata dengan suara bergetar sambil berjalan mendahuluinya.
Dia selalu melakukan hal yang ingin kudengar, melakukan hal yang ingin kulihat. Kadang bahkan melampaui bayanganku, tapi semuanya karena dia benar-benar memikirkanku.
Aku berbalik menghadapnya lalu berkata,
"Aku sangat mencintai dirimu yang seperti itu."
Aku naik mobil menuju restoran yang sudah ditentukan.
Rasanya seperti kembali menjadi burung dalam sangkar.
Perbedaan dengan waktu bebas dan bahagia beberapa saat lalu terasa begitu besar. Bahkan Kuroi yang biasanya mengajakku mengobrol tampaknya memahami suasanaku dan hanya diam memegang kemudi.
Dari beberapa restoran yang dulu sering kami datangi bersama keluarga, ayah memilih restoran masakan Cina.
Tempat yang sangat disukai ibu.
Karena ada ruang privat, ayah juga bisa makan dengan tenang di sana.
Restoran yang dipenuhi begitu banyak kenangan berharga.
Mobil ayah belum ada. Sepertinya aku datang lebih dulu.
"Saya atas nama Ugaki."
Aku masih harus menggunakan nama keluarga ini ya.
Saat memikirkannya, nama itu terasa nostalgia dan seharusnya berharga, tapi sekarang malah terasa berat seperti timah.
Di ruang privat yang luas itu hanya tersedia dua kursi.
Di tempat yang seharusnya menjadi ruang hangat kebersamaan keluarga, aku sendirian menunggu ayah.
Sambil menahan suasana berat itu, aku mencoba memikirkan masa-masa bahagia dulu. Tapi sedikit demi sedikit aku mulai tak bisa mengingatnya.
Terutama wajah ayah saat tersenyum...
Sejak ibu meninggal, ayah sudah tidak pernah tersenyum lagi.
Dulu dia orang yang tenang dan cerdas.
Namun sekarang...
Dia terlihat seperti iblis pendendam yang dingin.
Terdengar suara dari belakang.
Ayah datang.
Pintu terbuka perlahan.
Padahal cuaca masih panas, tapi suasana dingin dan sesak yang masuk bersamanya sampai membuatku merasa seperti hawa dingin menyusup masuk. Monster yang membuang kelemahannya dan hidup hanya dengan otaknya yang luar biasa.
Sekarang aku bahkan tidak bisa memanggilnya ayah.
Karena dia terlalu berbeda dari ayah yang kukenal.
Monster yang mengenakan kulit ayah tercintaku itu perlahan duduk di depanku.
Tangannya menekan pena yang disimpan di sakunya.
"Sudah lama ya. Kau sehat?"
Ucapan formal yang terasa seperti tidak benar-benar melihat diriku.
"Iya."
"Begitu."
Percakapan yang bahkan tak terasa seperti hubungan ayah dan anak itu terputus begitu saja, digantikan keheningan berat.
"Mau pesan apa?"
Tak tahan dengan kesunyian itu, aku membuka menu.
Ayah yang dulu selalu tersenyum dan membiarkanku memilih menu lebih dulu. Dia selalu mengingat makanan kesukaanku, dan diam-diam juga memesan makanan favorit ibu.
Namun sekarang...
"Pesan saja sesukamu. Setelah ini aku ada pertemuan, jadi aku hanya makan ringan."
"...Begitu ya."
Padahal dia sendiri yang mengatur makan malam ini, tapi dia malah memprioritaskan pekerjaannya setelah ini.
Di suatu sudut hatiku, aku merasa terluka.
Ayah dulu pasti tidak akan melakukan hal seperti ini. Dan ucapan yang terdengar setengah putus asa itu.
Ayah yang berada begitu dekat di depanku terasa sangat jauh.
Jarak di hati kami sama sekali belum terisi.
"Kasus perundungan di sekolah itu rupanya menjadi topik besar sekali."
Aku refleks terkejut.
Seberapa banyak yang ayah tahu? Jangan-jangan tujuan utama makan malam ini sebenarnya tentang Eiji-senpai?
"Ya. Di sekolah juga semua orang terus membicarakannya."
"Skandal terbesar sejak sekolah itu berdiri. Mungkin memindahkanmu ke sekolah itu adalah kesalahan. Riwayatmu jadi tercoreng."
"...!"
Dadaku langsung terasa sesak.
Jangan rendahkan tempat penting bagiku hanya karena alasan sesederhana itu.
Kalau aku dulu masuk sekolah selain sekolah itu...
Mungkin aku...
Tanpa sadar aku menatap tajam ke arah ayah, lalu buru-buru mengembalikan ekspresiku.
Jangan-jangan ini jebakan?
Untuk menggoyahkan diriku?
Dengan jaringan informasi ayah, seharusnya dia sudah mengetahui hampir semua informasi penyelidikan tentang kasus perundungan ini.
Ayah tak mengatakan apa-apa dan hanya menatapku.
Seolah dia bisa melihat semuanya.
"Sudahlah. Mulai besok aku akan sibuk lagi untuk sementara waktu. Aku tidak bisa datang menemuimu, jadi kalau ada apa-apa konsultasikan saja pada Kuroi."
Setelah kata-kata itu, makan malam kami berlanjut hampir sepenuhnya dalam keheningan.
※
──Sudut Pandang Ugaki──
Aku hampir tidak melakukan percakapan yang layak dengan putriku dan terus makan dalam diam.
Tidak... bisa bertemu dengannya saja sudah cukup.
Hanya dengan bertemu dengannya, aku bisa memantapkan tekad untuk menuju medan kematian.
Fakta bahwa aku memesan tiram goreng harum ala nelayan, makanan favorit istriku dulu, mungkin adalah simbol kelemahanku sendiri.
Kalau bisa, aku ingin kembali ke masa bahagia itu.
Saat kami bertiga selalu tersenyum, dan sahabatku yang lembut serta selalu memahami kami masih hidup.
Namun semuanya sudah terlambat.
Semua telah hilang.
Kalau begitu, yang tersisa hanya menyelesaikan balas dendam ini. Tentu saja aku tidak berniat membuat keributan di sini.
Tapi ketika mengetahui peninggalan sahabatku justru mengalami perundungan keji oleh putra anggota dewan Kondou, aku tak punya pilihan selain menjalankan rencana yang sudah lama kupersiapkan sebelum semuanya benar-benar siap.
Sekalipun itu berarti perang total melawan kubu Perdana Menteri, aku harus menghancurkan keluarga Kondou sampai mereka tak bisa bangkit lagi.
Perintah dari Perdana Menteri adalah, "Tak masalah apa yang terjadi pada Kondou, yang penting selesaikan skandal ini secepat mungkin."
Namun di luar dugaan penguasa tertinggi negara ini, masalah ini terus meluas dan mengguncang fondasi pemerintahan.
Kalau keluarga Kondou dibiarkan begitu saja, ada kemungkinan keluarga Aono akan melakukan balas dendam.
Karena itu mereka harus dihancurkan sampai tuntas.
Sekalipun itu bertentangan dengan keinginan Perdana Menteri.
Pada titik ini, pria itu mungkin sudah menyadarinya.
"Di suatu tempat ada pengkhianat."
Dan kandidat pengkhianat paling kuat adalah aku.
Akulah yang diam-diam membocorkan informasi kasus ini ke media dan membuat apinya terus membesar.
Saat ini konflik dengan pemerintahan masih terjadi di balik layar, tapi sebentar lagi semuanya pasti akan muncul ke permukaan.
Aku sudah melangkah terlalu jauh untuk mundur.
Namun aku hampir tidak mengkhawatirkan keselamatan Ai.
Di Nagatachou sudah beredar rumor bahwa hubungan antara aku dan putriku buruk. Musuh pasti menganggap dia tak punya nilai untuk dimanfaatkan.
Dalam arti tertentu, Aono Kitchen adalah titik lemah kami.
Namun karena keributan kali ini, perhatian media terus tertuju pada keluarga Aono. Artinya, bahkan orang berkuasa pun tak bisa sembarangan bergerak terhadap mereka lagi.
Orang-orang penting bagiku kini aman.
Lingkungan terbaik untuk pertarungan terakhir telah tercipta.
Makan malam ini diperlukan untuk memantapkan tekadku dan melangkah menuju gerakan berikutnya.
Mulai dari sini, drama balas dendamku akan dimulai.
Sekalipun akhirnya kami saling menusuk sampai mati, aku tidak akan memaafkan mereka.
※
──Sudut Pandang Ai──
Setelah makan malam selesai, aku mengantar ayah pergi.
Sebenarnya aku sempat berpikir untuk menjelaskan tentang Senpai, tapi bagaimanapun juga aku tak bisa melangkah maju.
Ayah pasti tahu.
Namun dia sengaja tidak mengatakan apa-apa.
Apa ini berarti aku diizinkan? Atau justru hanya dibiarkan bergerak bebas sambil dia mengawasiku?
"Nona muda, apa Anda ingin mampir ke suatu tempat?"
Setelah aku menatap punggung ayah yang semakin menjauh, Kuroi bertanya begitu padaku, dan aku menjawab, "Aku ingin pergi ke Aono Kitchen."
Aku ingin bertemu Senpai.
"Turunkan aku di sini."
Aku meminta Kuroi menurunkanku di tempat yang masih agak jauh dari Aono Kitchen.
"Tapi kalau dari sini akan memakan waktu sedikit lebih lama."
Aku tahu.
Namun untuk kembali ke tempat hangat itu, aku butuh sedikit waktu untuk menenangkan hati.
"Tolong. Aku ingin menghirup udara luar sebentar sambil menenangkan kepala."
"Baik."
Aku perlahan turun dari mobil. Udara di luar masih terasa panas seperti musim panas belum pergi.
Aku berjalan di tengah keramaian.
Semua orang tampak berjalan dengan bahagia. Mungkin hanya aku yang memasang wajah muram.
Ayah yang dulu begitu lembut dan ayah yang sekarang. Mereka sudah berubah sampai terasa seperti dua orang berbeda.
Kalau terus begini, dia akan sendirian.
Aku tidak ingin sendirian. Karena itu aku menuju tempat yang akan menyambutku dengan hangat.
Aku harus mengubah suasana hatiku sebelum sampai di sana agar tidak membuat semua orang khawatir.
Aku harus kembali menjadi diriku yang biasa.
Cepat.
Hanya perasaanku yang terburu-buru sementara kakiku terus melangkah maju.
Tetesan air mulai jatuh dari langit dan membasahi rambutku.
"Kyaa, hujan! Ayo cepat ke stasiun!"
Seorang wanita di dekatku menjerit. Aku melihat seorang pria mengeluarkan payung lipat dari tasnya.
Sial. Aku lupa membawa payung.
Tapi untuk diriku yang sekarang, ini justru membantu.
Karena hujan bisa menyembunyikan wajahku yang hancur karena menangis. Karena aku bisa menangis sambil berjalan tanpa dicurigai siapa pun.
Berkat cuaca ini, aku bisa kembali menjadi anak kecil.
Kenapa aku harus mengalami semua ini?
Aku selalu menjadi murid teladan.
Aku tak pernah merepotkan orang tuaku.
Karena mereka berdua sibuk, aku juga banyak menahan diri.
Aku juga berusaha keras. Karena aku ingin mereka senang.
Tapi kenapa aku harus mengalami perlakuan menyakitkan seperti itu?
Kenapa aku harus berpisah dari ayah yang sebenarnya ingin selalu berada di sisiku?
Emosiku meledak dan sedikit demi sedikit hatiku mulai menghitam.
Keseimbangan hatiku yang seharusnya sudah stabil sejak bertemu Senpai kini kembali runtuh setelah sekian lama.
Aku ingin bertemu.
Aku ingin bertemu.
Aku ingin bertemu.
Saat aku memanjatkan harapan itu dengan kuat, hujan deras yang turun tiba-tiba menjauh dari tubuhku.
Aku mendengar suara air terpental di atas kepala.
Baru sesaat kemudian aku sadar seseorang memayungiku.
Aku buru-buru menoleh ke belakang.
Orang yang paling kucintai menatapku dengan wajah khawatir. Di tangan kirinya ada kantong belanja.
"Ada apa sih? Jalan di tengah hujan begini tanpa payung lagi."
"Senpai, kenapa bisa ada di sini?"
"Ibu menyuruhku beli tambahan selada buat salad karena stoknya hampir habis. Aku baru pulang dari belanja."
Sepertinya dia bahkan belum sempat mengganti seragamnya.
Itu Senpai yang sudah biasa kulihat.
"Begitu ya."
Tanpa sadar ekspresiku mengendur lega seperti anak hilang yang akhirnya menemukan orang tuanya.
Tadi aku sempat menyalahkan Tuhan karena begitu kejam, tapi sekarang aku malah berubah pikiran.
Waktu pertemuanku dengannya selalu sempurna.
"Kamu menangis?"
Aku refleks tersentak.
"Aku tidak menangis. Ini pasti cuma karena hujan."
Dia tertawa mendengar alasanku yang jelas dipaksakan. Lalu dia membalas dengan kata yang sama seperti yang tadi kuucapkan.
"Begitu ya."
Karena dia tahu aku makan malam dengan ayah hari ini, mungkin dia sudah menebak apa yang terjadi.
"Kalau begitu anggap saja begitu. Pokoknya ayo ke rumah dulu. Kalau terus begitu nanti kamu masuk angin. Sudah makan?"
"Sudah."
"Kalau begitu kita minum teh hangat."
Dia berbicara begitu lembut sampai tanpa sadar aku menjawab, "Ya."
Mungkin karena payungnya, diriku yang tadi hampir hancur perlahan kembali menjadi diriku yang biasa.
Dia menyerahkan saputangan yang dibawanya padaku.
Sama seperti hari itu. Walaupun nanti langsung basah lagi dan jadi tak berguna, aku tetap bahagia menerima kebaikannya.
"Situasinya mirip hari pertama kita bertemu ya. Hari itu juga hujan turun dan aku meminjam handuk darimu."
"Iya juga ya. Tapi berbeda dengan hari itu, Ai-san sekarang berpakaian jauh lebih modis. Tidak apa-apa? Bajumu mahal kan?"
"Memang sih, tapi tidak apa-apa. Anggap saja biaya pelajaran. Hacih."
Aku sempat berpura-pura kuat sedikit, tapi setelah merasa tenang aku tak bisa melawan dinginnya lagi.
Melihatku bersin, dia melepas jaketnya dan menyelimutkannya padaku.
"Aku tidak punya apa-apa, jadi cuma ini yang bisa kulakukan."
Dia mengatakannya dengan malu-malu.
"Ini justru yang paling bagus."
Aku bisa merasakan aroma tubuhnya dan hangat samar tubuhnya.
Menikmati kebahagiaan itu, kami berjalan perlahan ke depan.
※
Kami berjalan pulang di bawah satu payung sambil berusaha menyesuaikan langkah.
Tanpa sadar aku sedikit memiringkan payung ke arahnya.
"Senpai, bahumu jadi basah. Aku sudah basah kuyup, jadi jangan dipikirkan."
Ternyata dia langsung menyadarinya.
"Tapi kalau lebih dari ini..."
"Aku suka sisi baik hati seperti itu, benar-benar suka, tapi... kalau terlalu begitu aku malah merasa bersalah, jadi tolong jangan."
Kalau dia sudah bilang sejauh itu, mau bagaimana lagi.
Aku kembali memegang payung lurus.
"Kau tidak bertanya apa yang terjadi ya."
"Iya. Aku tidak akan bertanya."
"Kenapa?"
"Karena saat aku berada di titik paling sulit, Ai-san juga melakukan hal yang sama."
Dia sengaja tidak memasuki wilayah yang tak ingin kumasuki. Aku hanya melakukan hal yang sama.
"Begitu ya. Terima kasih."
Dia berkali-kali memasang wajah merasa bersalah.
"Lagi pula aku percaya padamu."
"Percaya?"
"Kalaupun ada rahasia, hubungan kita bukan hubungan rapuh yang bisa hancur hanya karena itu, kan?"
Saat aku menoleh, dia memerah sampai ke telinga, tapi tetap terlihat bahagia.
Benar-benar ajaib.
Baru saja terjadi insiden besar seperti itu, tapi aku bisa bertemu gadis yang bisa begitu kupercayai.
"......."
"Ada apa? Masih kedinginan?"
Dia menggeleng.
"Justru sebaliknya. Aku terlalu senang sampai rasanya panas. Kalau aku tidak basah kuyup seperti ini, aku mungkin ingin memelukmu..."
Mungkin dia sadar telah mengatakannya sendiri. Dia langsung menunduk malu dengan wajah merah.
"Mungkin untuk yang itu sebaiknya tunggu dulu."
Begitu aku menggoda balik, wajahnya makin merah.
"Jadi kedengaran ya?"
"Entahlah."
"Jahat. Senpai bodoh. Walaupun dengar, pura-pura tidak dengar dong."
Melihat reaksinya yang sangat sesuai usianya membuatku senang.
Mengobrol santai dan bercanda seperti ini benar-benar terasa membahagiakan. Dia menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali menatap depan.
Sepertinya suasana hatinya sudah sedikit membaik.
"Kalau terjadi hal buruk, aku jadi seperti ini dan mulai bertindak nekat. Aku benci diriku yang ternyata belum berubah."
Mendengar dia bisa mengatakan itu terus terang membuatku bahagia karena berarti dia benar-benar mempercayaiku.
"Begitukah? Setidaknya sekarang berbeda dengan waktu itu. Sekarang kamu sudah mau mengandalkan seseorang."
"...Itu karena ada dirimu. Karena kau berjanji akan selalu berada di sisiku..."
Kata-katanya keluar perlahan dengan suara lembap.
"Karena Senpai memberiku kata-kata yang selama ini paling ingin kudengar, aku bisa terus melangkah maju."
Aku juga begitu.
Sejak hari itu dia melindungiku bahkan sampai rela merusak penilaiannya sendiri demi diriku.
Dia merebut kembali naskah berhargaku dan mendorongku maju, jadi diriku yang sekarang bisa ada.
Aku akan membuatnya bahagia apa pun yang terjadi.
Tekad itu sudah bulat.
"Ah, maaf. Jaket seragammu jadi basah ya. Padahal besok masih dipakai."
Sepertinya dia perlahan mulai tenang kembali.
"Tidak apa-apa. Aku masih punya satu lagi di rumah."
"Terima kasih."
Setelah mengatakannya, dia memeluk jaket itu erat-erat seolah merasa sedikit dingin.
Setelah itu, percakapan kami menjadi lebih sedikit, hanya saling memastikan bahwa kami benar-benar saling menyayangi.
※
──Sudut Pandang Ai──
Aroma Senpai terasa begitu kuat.
Karena rasa aman dan malu yang bercampur, alur percakapanku jadi berantakan, dan aku sadar diriku sedang berada dalam suasana hati yang aneh.
Aku bukan lagi diriku yang murung beberapa saat lalu, melainkan hanya gadis SMA biasa yang menikmati jalan bersama kekasihnya.
Aku sadar tak perlu memikirkan hal-hal rumit sekarang.
Saat ini, aku hanya ingin tenggelam dalam waktu bahagia sebagai siswi SMA biasa.
Sebagai pengganti memeluk dirinya, aku malah memeluk erat jaketnya. Begitu masuk ke rumah Senpai, suasananya langsung kacau.
Ibunya hampir menangis sambil berkata, "Ai-chan, kamu tidak apa-apa? Dingin kan? Aku siapkan baju ganti, jadi mandi dulu ya. Airnya langsung kupanaskan," sambil memberiku hampir sepuluh handuk dan secangkir teh hangat.
Hanya dengan meminum teh itu saja, aku merasa tenang sampai air mata hampir keluar lagi.
Karena aku memasang wajah sedih, ibunya malah makin panik dan khawatir, jadi aku buru-buru memaksakan senyum.
Barulah setelah melihat senyumku, ibunya tampak sedikit tenang.
Aku masuk ke kamar mandi yang sudah dipanaskan untukku.
Baju yang kupakai tadi langsung dibawa ibunya ke laundry.
"Benar-benar... apa sih yang kulakukan tadi."
Begitu berendam dan menghela napas lega, rasa malu langsung menyerang.
Aku membuat semua orang khawatir dan panik, sementara diriku sendiri cuma meluapkan emosi sesuka hati.
Aku buru-buru mengusir pikiran negatif itu.
Tidak boleh. Karena Senpai dan ibunya menyayangiku. Kalau aku merendahkan diriku sendiri, itu sama saja menyangkal perasaan orang-orang yang peduli padaku.
Aku membasuh wajah dengan air hangat.
Karena suhu tubuhku naik, rasa nyaman itu makin terasa.
Aku menghela napas pelan.
"Begitu ya... jadi Senpai selalu mandi di sini."
Mungkin karena sudah merasa tenang, aku malah memikirkan hal seperti itu. Bukan cuma karena suhu tubuhku, detak jantungku juga mulai makin keras.
Sabun mandi dan sampo yang tadi kupakai.
Mungkin saja dia juga memakainya.
Tanpa sadar aku sedikit mencari aroma dirinya.
"Aromanya sama..."
Begitu mengatakannya, wajahku langsung memerah.
Apa yang sedang kupikirkan sih?
Saking malunya aku ingin menendang-nendangkan kaki dan berguling kesakitan, tapi aku sadar sedang meminjam kamar mandi orang lain, jadi buru-buru menahan diri.
Namun justru karena itu aku tak punya cara untuk melampiaskan rasa malu ini, dan suhu tubuhku malah makin naik.
Aku buru-buru membasuh wajah sekali lagi dengan air dingin.
"Ai-chan?"
"I-iya!!"
Ibunya tiba-tiba memanggil dari ruang ganti, dan mungkin karena waktunya terlalu buruk, aku sampai terkejut berlebihan.
"Aku taruh baju gantinya di sini ya, pakai saja sesukamu."
"Terima kasih banyak untuk semuanya."
"Tidak usah dipikirkan. Ai-chan kan sudah seperti keluarga sendiri. Kalau sedang kesulitan ya harus saling membantu."
"Tapi biaya laundry-nya akan tetap kubayar."
"Anak-anak tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Sesekali manjakan dirimu."
"Aku sudah terlalu sering dimanja."
Saat aku berkata dengan rasa bersalah, dia berbicara dengan nada sedikit senang.
"Kalau begitu lain kali ayo belanja bersama. Sesekali sesama perempuan juga menyenangkan."
Ibunya pergi sambil terlihat bahagia.
Agar tidak pusing karena terlalu lama berendam, aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi.
Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk, tercium aroma pelembut pakaian yang lembut.
Aroma yang sama itu lagi membuat jantungku berdebar.
Lalu saat melihat baju ganti yang disiapkan...
"Eh..."
Aku sampai kehilangan kata-kata.
Yang disiapkan di sana jelas-jelas kemeja pria berukuran besar. Dan lebih dari itu... aku ingat pernah melihat Senpai memakainya.
Aku menjerit tanpa suara saat merasakan tubuhku mendadak panas. Lalu terdengar suara pintu tiba-tiba dibuka.
Pintu itu terbuka sepenuhnya.
Di depanku berdiri Senpai sambil membawa tumpukan handuk.
Karena handuk itu ditumpuk lebih tinggi dari pandangannya, dia belum menyadari keberadaanku.
"Maaf, Ai-san. Aku buka ya. Ibu menyuruhku membawa handuk."
Mendengar suara santainya, aku hanya bisa menjerit tanpa suara.
Sedikit panik, aku refleks mencengkeram kemejanya.
Tidak boleh begitu! Kalau mau membuka pintu, bilang dulu sebelum membukanya!
Mungkin karena ini rumahnya sendiri, dia jadi lengah.
Sebelum dia sadar, aku harus mengatakan sesuatu.
Dengan suara gemetar, aku pun bersuara.
"Senpai, jangan bergerak. Aku sekarang tidak memakai apa pun, jadi beri aku sedikit waktu..."
Namun, kata-kata itu justru membawa efek sebaliknya. Karena setelah mendengarnya, dia juga jadi panik.
"Eh, ah, maaf!"
Saat buru-buru mencoba keluar dari ruang ganti, tumpukan handuk yang menjulang di depan matanya ikut roboh karena gerakannya. Sebelum semuanya jatuh, aku cepat-cepat membalikkan badan.
Waktu kami seakan berhenti.
Aku memejamkan mata erat-erat. Jantungku berdetak begitu keras sampai terasa sakit.
Lalu aku sadar. Penampilanku benar-benar parah. Dengan kedua tangan, aku sedang memegang kemejanya. Ini jadi terlihat seolah-olah aku sedang mengendus aromanya.
Dibanding rasa malu karena tubuhku terlihat, aku lebih takut kalau Senpai salah paham dan jadi membenciku.
"Kyaaaahhhhhh!!"
Tanpa sadar aku menjerit.
Perlahan aku membuka mata untuk memastikan keadaannya, dan kulihat dia mati-matian menutup matanya.
Kesungguhannya terasa sampai aku tanpa sadar tertawa kecil.
"Maaf... aku lengah."
Suaranya juga gemetar.
"Senpai melihatnya?"
Aku pun bertanya dengan hati-hati. Dia menggeleng keras sampai rambutnya berantakan.
"Benarkah?"
Dengan sedikit curiga, aku memastikan sekali lagi.
Gerakannya sedikit terhenti.
"...Maaf. Aku melihat sedikit."
Melihat dia jujur dan benar-benar tampak merasa bersalah, entah kenapa aku justru merasa dia begitu menggemaskan.
"Bodoh."
"Maaf..."
Dia makin ciut, seperti hampir menangis karena aku pojokkan.
"Mesum."
Dia makin mengecil lagi.
"Masih belum boleh lihat, tahu."
Setelah mengatakan itu, aku kembali ke kamar mandi.
"Sudah boleh."
Karena terlalu panik, aku malah masih membawa kemejanya.
"Maaf banget. Untuk sementara, handuknya kutaruh di samping mesin cuci ya."
Terdengar suara dia keluar dari ruang ganti seperti melarikan diri. Aku sedikit lega lalu menghela napas.
"Aku ketahuan..."
Malu sekali. Dengan begitu, aku memaksa diriku membenarkan tindakan yang akan kulakukan setelah ini.
"Ini balasannya."
Sambil berkata begitu, aku memeluk erat kemejanya. Seolah-olah sedang dilindungi olehnya, hatiku dipenuhi rasa bahagia karena ilusi itu.
Aku kembali sadar betapa aku sangat mencintainya. Setelah ini suasananya pasti jadi sedikit canggung. Tapi memang harus sedikit canggung, kan?
Sambil merasakan kehangatan orang yang kucintai, hatiku perlahan meleleh.
Perlahan aku memasukkan tanganku ke lengan kemejanya.
※
Sial.
Aku melarikan diri dari kamar mandi lalu meringkuk karena jijik pada diri sendiri.
Aku seharusnya mengetuk pintu tadi. Aku benar-benar lengah karena ucapan ibu, "Ai-chan baru masuk, jadi tolong bawakan handuk untuknya."
Kalau dipikir-pikir, karena keluargaku kebanyakan laki-laki, aku tidak pernah sekalipun harus berhati-hati soal kamar mandi sejak lahir. Kelengahan itu benar-benar jadi bumerang.
Hanya dengan samar mengingat pemandangan tadi saja tubuhku sudah membeku.
Karena sosok putih dan indah yang seharusnya tak boleh kulihat tadi ada di ruang ganti rumahku.
"Apa dia marah ya..."
Sambil cemas, aku menatap kosong ke langit-langit. Tiba-tiba wajahnya muncul di sana.
"Tenang saja. Aku tidak semarah itu kok."
Dia muncul tanpa suara, mencoba mengejutkanku sambil tersenyum. Rambutnya masih basah, memberi suasana yang terasa tidak nyata. Dan lagi, dia memakai kemejaku.
Yah, pakaian yang tadi dipakainya memang sedang dibawa ke laundry, jadi tidak bisa dihindari. Tapi tetap saja, gadis habis mandi dengan rambut basah memakai baju longgarku sendiri... ini benar-benar sesuatu yang terlalu berbahaya untuk dialami anak SMA biasa.
"Waktu, berhentilah. Kau begitu indah."
Tanpa sadar kalimat terkenal dari Faust karya Goethe keluar dari mulutku.
"Apa-apaan itu. Kalau tiba-tiba mengucapkan kata-kata orang yang mau mati tanpa meminta maaf dulu, aku malah bingung tahu. Atau Senpai mau bunuh diri?"
Balasan itu membuatku tertawa tanpa sadar. Itu bukan jenis respons yang bisa diberikan kalau tidak membaca Faust sampai selesai. Sesuai dugaan, murid teladan memang berwawasan luas. Tapi sebelum mengaguminya, ada hal yang harus kukatakan dulu.
Aku berbalik, duduk seiza, lalu menundukkan kepala.
"Maaf soal tadi. Jujur aja, aku lengah."
"Tidak apa-apa kok. Kalau Senpai sih, melihatku juga nggak masalah."
Dia mengatakannya dengan sedikit malu saat aku terus meminta maaf.
"Makasih. Eh, kamu nggak apa-apa? Wajahmu merah banget..."
Bahkan kalau dihitung karena habis mandi pun, wajahnya tetap terlalu merah. Apa dia kepanasan?
"Aku juga malu tahu... dasar bodoh."
Dia menjawab sambil gelisah.
"Mau makan es krim?"
Tanpa sadar itulah kata-kata yang keluar dariku...
"Mau."
Dia mengipas-ngipaskan tangan seperti kipas kecil untuk sedikit menurunkan suhu tubuhnya.
Aku buru-buru lari ke freezer.
"Karena terbawa suasana... aku malah bilang kalau untuk Senpai, aku nggak masalah memperlihatkan tubuhku... bodohnya aku..."
Rasanya aku mendengar kata-kata manis itu dari belakang.
Aku memindahkan es krim vanila kualitas bagus yang biasa dipakai dessert di restoran ke mangkuk dan menyiapkan dua porsi.
"Nih."
"Terima kasih."
Setelah itu, kami makan es krim dalam suasana canggung tanpa bicara. Dia berkata "Enak" setelah suapan pertama. Memang canggung, tapi bukan suasana yang tidak nyaman.
Lalu ibuku masuk.
"Hujannya deras lagi ya. Ara, kalian kenapa? Diam-diam saja."
Ibu tersenyum seolah merasa senang.
"......"
Kami hanya bisa diam sambil makan es krim.
"Eiiji, bantu ibu sebentar dong."
Setelah mengatakan itu, aku kembali menuju dapur.
※
"Bu, tadi ibu sengaja mau menggoda kami ya..."
Saat aku protes, ibu hanya tersenyum kecil tanpa menjawab.
"Eiiji, Ai-chan baik-baik saja?"
Menghapus senyumnya, ibu bertanya dengan serius.
"Nggak tahu. Tapi dia kelihatan sangat sedih."
"Begitu ya. Makanya, ibu rasa kamu sebaiknya tetap di samping Ai-chan."
"Eh?"
"Hujannya juga belum reda, jadi malam ini suruh dia menginap di sini."
Eh, menginap di rumah? Bukannya itu ucapan yang cukup berbahaya kalau diucapkan ibu kandung kepada pacar anak laki-lakinya?
Orang zaman dulu juga bilang laki-laki dan perempuan sejak usia tujuh tahun tidak boleh duduk bersama, kan.
"Itu pepatah Tiongkok kuno. Zaman sekarang cuma kamu yang masih pakai."
Ibu tertawa seperti cenayang yang bisa membaca pikiranku.
"Kenapa ibu bisa baca pikiranku sih?"
"Soalnya tertulis jelas di wajahmu, 'laki-laki dan perempuan sejak usia tujuh tahun tidak boleh tinggal bersama'."
"Nggak mungkin ada tulisan begitu di wajahku."
Kalau ibu sudah seperti ini, aku tahu dia tidak akan berhenti.
"Tapi tetap saja..."
"Nggak apa-apa. Justru lebih berbahaya kalau membiarkannya sendirian di apartemen."
"Bisa jadi keributan besar."
"Tenang saja. Kalau perlu, ibu sendiri yang akan bicara dengan ayahnya."
Karena dia berkata sekeras itu, aku jadi tidak bisa membantah lagi.
Saat kembali ke ruang tamu tempat dia menunggu, dia sedang menonton TV dengan wajah yang sedikit lebih tenang.
"Sudah selesai urusan dengan ibumu?"
"Iya. Jadi... aku ingin kamu menginap di rumah kami malam ini."
Karena tidak ada gunanya bertele-tele, aku langsung mengatakannya. Dia pun membeku sesaat. Dengan gerakan seperti menutupi dadanya sedikit, dia menatapku penuh curiga.
"Eh... maksudnya mengandung banyak arti?"
Balasan ambigu itu membuatku malu setengah mati.
"B-bukan begitu. Hujannya makin deras, terus kamu juga kelihatannya sedih hari ini. Jadi kurasa nggak baik kalau kamu sendirian... aku juga sudah bicara sama ibu."
"Begitu ya. Aku jadi membuat kalian khawatir. Maaf."
"Aku nggak memaksa kok. Bagaimanapun juga, menginap di rumah laki-laki itu pasti berat."
"Benar juga. Tapi untuk malam ini, aku mohon."
"Ya kan, memang sulit untu— eh?"
Karena reaksinya tidak terduga, aku jadi menjawab aneh sesaat.
"Makanya aku bilang mohon. Aku belum pernah menginap di rumah teman sebelumnya. Aku juga sedikit penasaran, dan lagi..."
"Dan lagi?"
"Kesempatan menginap di rumah pacar itu jarang ada, kan? Ada sedikit bagian diriku yang merasa bersemangat."
Rasanya suara akal sehatku terkikis habis terdengar jelas. Bersemangat... untuk apa?
"Nggak apa-apa kalau ayahmu tidak diberi tahu?"
"Nggak apa-apa. Setidaknya aku akan kirim email bilang kalau aku menginap di rumah teman."
Apa itu benar-benar aman?
"Aman kok. Kalau memberi tahu Kuroi dengan benar, dia pasti akan membantu menutupinya."
"Begitu ya. Kalau begitu aku siapkan futon dan lainnya."
"Tolong ya. Dan juga..."
Dia mendekatiku lalu berbisik pelan, cukup agar hanya kami berdua yang mendengarnya.
"Rasanya seperti sedang melakukan sesuatu yang nggak boleh ya. Soalnya aku juga bohong pada orang tua."
Aku bisa merasakan suhu tubuhku naik drastis. Agar dia tidak menyadarinya, aku segera meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
※
──Sudut Pandang Ai──
"Haaah, hari ini benar-benar aku nggak bisa jadi diriku sendiri."
Di ruang keluarga rumah Aono yang sudah tak ada siapa-siapa lagi, aku menghela napas.
Tubuhku panas. Bahkan saat menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, aku malah bisa merasakan aroma tubuh Senpai secara langsung. Aku sadar sedikit demi sedikit akal sehatku mulai runtuh.
"Kalau begitu, selamat menikmati waktu berdua ya, anak muda."
Ibu berkata begitu sambil tertawa pelan sebelum kembali ke kamarnya.
"Tunggu dulu!"
"Ini jelas nggak boleh!"
Saat kami memprotes, beliau malah membalas dengan nada malas.
"Apanya yang nggak boleh?"
Di depan mataku ada tempat tidur dan futon tamu yang sudah dibentangkan. Kami bakal tidur berdua di kamar Senpai!?
"Biasanya itu ibu yang melarang, lalu anak-anaknya diam-diam melanggar. Kalian berdua terlalu anak teladan."
Mendengar ucapan bom dari ibu, aku sadar beliau benar-benar serius.
"Paling nggak, Ai-san tidur di kamar ibu saja—"
Meski Senpai berkata begitu, ibunya sama sekali tak mau mendengar. Bahkan beliau malah berbisik padaku. Dengan suara yang juga terdengar oleh Senpai...
"Ai-chan pasti mau tidur bareng Eiji, kan? Atau nggak suka?"
Wajahku langsung merah padam, lalu aku menunduk.
"Bukan nggak suka sih... cuma rasanya masih terlalu cepat..."
"Nggak apa-apa. Begadang sedikit saja sambil banyak mengobrol dengan Eiji. Kurasa sekarang Ai-chan memang membutuhkan itu."
Aku sempat ragu sebentar sebelum mengangguk kecil. Suasananya sudah dibuat seperti ini, rasanya mustahil untuk mundur sekarang.
"Kalau begitu biar aku saja yang tidur di bawah."
"Nggak boleh. Masa tamu disuruh tidur di lantai."
Mendengar itu, hatiku terasa hangat oleh kebaikannya, sekaligus sedikit merasa bersalah.
"Nggak dingin?"
"Nggak apa-apa, ini masih bulan September."
Mendengar jawabannya, aku tanpa sadar tertawa kecil. Saat menarik napas panjang untuk menenangkan diri, bukan cuma dari pakaian, tapi dari futon dan udara kamar pun terasa aroma Senpai. Kepalaku sedikit pusing.
"Mau ngobrol sebentar?"
Untuk menyembunyikan kegugupanku, aku berbaring sambil menghadap ke arahnya.
"Boleh kok."
Dia juga bergerak pelan menghadap ke arahku.
"Senpai mulai suka padaku sejak kapan?"
Setelah mengucapkannya, aku langsung malu sendiri karena terlalu terus terang. Rasanya seperti mencoba menggoda, tapi justru aku sendiri yang kena serangan balik. Tapi malam ini, aku nggak ingin berbohong.
"Sejak kita kabur dari sekolah bareng."
Begitu ya. Sama sepertiku.
"Kenapa? Memangnya ada alasan buat suka padaku dari situ?"
"Karena Ai-san melihatku tanpa prasangka, dan juga karena Ai-san tertawa lebih bahagia dari yang kubayangkan. Kesanmu berbeda dari yang kubayangkan sebelumnya."
"Senpai ngomongnya blak-blakan ya. Tapi aku selalu mengingat hari itu. Kurasa saat itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku bisa tertawa dari lubuk hati. Semua karena Senpai."
Aku tak bisa mengucapkan kata-kata berikutnya.
Hari itu, aku diselamatkan olehmu yang kutemui secara kebetulan. Saat kita kabur dari sekolah bersama, kau membuatku bisa tersenyum lagi, lalu di Aono Kitchen ini, kau membuatku merasakan kembali kehangatan keluarga yang selama ini ingin kurebut kembali. Mana mungkin aku tidak jatuh cinta padamu. Aku yang selalu buruk dalam mengandalkan orang lain, tak pernah punya seseorang yang bisa kubuka semuanya seperti ini.
Karena itulah aku jatuh cinta pada laki-laki bernama Aono Eiji.
"Senpai... boleh aku mendekat sedikit?"
Apa yang baru saja aku katakan...? Dari usulan mendadak itu, aku bisa merasakan dia menahan napas dan membeku.
Keheningan berlalu sesaat. Dalam ruang gelap ini, hanya napas kami yang terdengar. Setelah mengatakannya, jantungku mulai terasa sakit karena berdebar terlalu keras.
"Boleh."
Dia menjawab dengan suara lembut. Suara lembut itu perlahan ditelan kegelapan.
"Kalau begitu, aku terima tawarannya."
Aku berusaha sebisa mungkin menjaga penampilan. Mungkin itu harga diri terakhirku sebagai perempuan.
Padahal di dalam hati aku sangat gugup, tapi tubuhku yang diam-diam berharap perlahan masuk ke dalam futonnya. Dia menghadap ke arahku dan memutar tubuhnya, memberi sedikit ruang untukku.
"Ah."
Begitu masuk ke dalam futon, aku sadar wajah kami begitu dekat hingga bahkan dalam gelap pun aku bisa melihat wajahnya.
Ditambah lagi, karena tadi tubuhnya berada di sana, masih ada sisa kehangatan yang terasa. Aku mengenakan kemejanya dan masuk ke futon yang sama dengannya, membuat aroma yang sejak tadi kurasakan menjadi jauh lebih kuat.
"Nggak dingin?"
Bahkan dalam situasi seperti ini, dia tetap bersikap lembut padaku.
"Iya, aku nggak apa-apa."
Kami begitu dekat sampai napas satu sama lain bisa terasa, dan kalau tak hati-hati tubuh kami akan saling bersentuhan. Rasa canggung tadi kini berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
Sebelum akal sehatku lenyap, ada sesuatu yang harus kusampaikan.
"Senpai, terima kasih untuk hari ini."
"Nggak apa-apa. Kita bertemu juga kebetulan, dan soal menginap juga karena ibu yang mengusulkannya."
Dia tetap lembut seperti biasanya. Aku lalu menyentuhkan tangan kananku yang sedikit dingin ke tangan kirinya di dalam futon.
"Tetap saja. Terima kasih sudah menemukanku."
Tanpa kusadari, tangan kami sudah saling menggenggam. Kehangatan tubuhnya perlahan mengalir ke tanganku yang dingin.
Ya, dia memang selalu begitu. Dia selalu menemukanku tepat di saat aku ingin ditemukan, tepat di saat aku ingin dia berada di dekatku.
Dia selalu menemaniku tanpa berkata apa-apa.
Sebelum bertemu dengannya, aku tak pernah percaya pada kata takdir. Tidak... mungkin dalam arti tertentu aku justru percaya. Dalam arti yang buruk...
Kenapa aku harus mengalami semua ini? Aku berkali-kali memikirkannya. Aku percaya dunia yang tidak adil ini adalah takdir.
"Waktu itu aku janji akan menangkapmu, kan?"
Janji di hari penting itu. Aku begitu bahagia karena dia masih mengingatnya hingga genggaman tangan kami berubah menjadi saling mengait seperti sepasang kekasih. Tanpa sadar aku menggenggam lebih erat.
Saat itu aku bahkan berpikir tak masalah apa pun yang dilakukan padaku, karena aku sudah putus asa. Aku bahkan siap dicium atau didorong jatuh. Tapi dia justru menemukan hal yang benar-benar kuinginkan. Jadi, semuanya akan baik-baik saja.
Orang yang paling kucintai di depanku ini pasti... akan tetap berada di sisiku.
"Aku senang."
"Aku nggak akan pernah lupa. Karena aku bilang akan selalu ada di sisimu."
Itu dia, sifat Senpai yang bodoh itu. Kenapa kau selalu tahu kata-kata yang ingin kudengar? Padahal kurasa semua orang sudah meninggalkanku... lalu kenapa kau malah menarikku kembali? Bahkan memberiku tempat untuk pulang...
"Iya."
Aku mengucapkan kata yang tak bermakna itu. Lalu menyandarkan kepala di dadanya. Di tempat ini aku selalu menangis. Tapi sekarang berbeda.
Seperti biasa, dia memelukku dengan lembut.
"Semuanya akan baik-baik saja."
Suara lembutnya sampai di telingaku. Aku perlahan mengangkat kepala dan menatap wajahnya.
Dengan semua alasan dan perasaan yang membuatku jatuh cinta...
Perlahan, bibir kami saling bersentuhan.
Kami menikmati waktu itu seolah enggan melepaskannya.
Setelah sekali menjauhkan tubuh, aku melihat wajahnya yang terkejut. Apa yang akan terjadi kalau aku memejamkan mata di sini? Dengan harapan kecil itu, aku perlahan menutup mata.
Ciuman kedua terasa lebih lembut daripada sebelumnya.
Mungkin karena kami baru saja melewati momen penting bagi sepasang kekasih. Atau mungkin karena aku merasa tenang oleh kelembutannya.
Kata-kata yang selama ini tak pernah bisa kuucapkan perlahan keluar begitu saja dari bibirku. Kata-kata yang tak pernah bisa kukatakan pada orang tua, guru, atau siapa pun. Kata-kata yang bahkan setelah menasihati Hayashi-san pun, aku sendiri tak mampu mengucapkannya...
Aku bisa berubah karena jatuh cinta padamu. Aku mulai bisa memaafkan diriku sendiri.
"Senpai, tolong aku. Tolong bantu aku supaya aku dan ayah bisa menjadi keluarga lagi seperti dulu."
Senpai menjawab dengan nada tenang seolah memahami semuanya.
"Iya. Aku pasti akan melakukan sesuatu.”





Post a Comment