NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Interlude 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Interlude 4

Ikatan

──Sudut Pandang Endou──


Aku menerima pesan dari Aono-kun.


Sepertinya junior dari klubnya ikut terseret ke dalam masalah perundungan ini. Perkembangan yang meninggalkan rasa pahit. Padahal klub sepak bola sudah disingkirkan, tapi ternyata nanah bernama klub sastra masih belum benar-benar dibersihkan. Memikirkan fakta itu membuat hatiku berat.


Inilah yang disebut dalamnya dosa manusia.


『Tentu saja aku akan membantu. Kalau memungkinkan, besok saat jam makan siang coba kenalkan dia padaku. Bagaimana kalau kita sekalian makan siang bareng di kantin?』


Imai juga menyetujui pesanku, dan rencana makan siang besok pun diputuskan.


Sesekali makan kari kantin yang katanya enak juga tidak buruk.


Saat sedang memikirkan itu, sebuah mobil patroli berhenti di depanku.


Aku sempat waspada sejenak, tapi hanya ada satu polisi yang mungkin melakukan hal seperti ini.


Tidak, pasti dia. Seorang polisi paruh baya yang kukenal perlahan keluar dari mobil.


"Bukankah ini Kazuki-kun? Sudah lama ya."


Nada suaranya tetap lembut seperti biasa. Padahal kami sudah beberapa tahun tidak bertemu, tapi rasanya begitu akrab sampai terasa seperti kami saling menyapa setiap pagi. Dan mungkin karena seragam polisi yang dikenakannya, ada rasa aman yang luar biasa darinya.


"Paman Doumoto. Sudah lama tidak bertemu."


Dia ayahnya Yumi. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, dan dia selalu pria yang baik.


Tapi sekarang hubunganku dengan Yumi sudah seperti lebih dari teman tapi belum sepenuhnya kekasih, jadi rasanya agak rumit.


"Aku sudah mendengar ceritanya dari putriku. Kau pasti mengalami banyak hal ya. Aku juga senang kau kembali akrab dengan Yumi. Aku sebenarnya baru mau pulang ke kantor dan selesai kerja... bagaimana kalau kita makan bersama? Nanti aku yang akan menghubungi orang tuamu."


Kalau dia sudah bilang begitu, aku juga tidak punya alasan untuk menolak. Hari ini orang tuaku juga katanya pulang terlambat karena pekerjaan, dan aku tadinya memang berniat mengisi perut seadanya dengan lauk supermarket.


"Boleh memangnya?"


"Tentu saja. Hari ini istriku ada acara perkumpulan ibu-ibu, jadi aku memang berencana makan di luar bersama Yumi. Kalau kau ikut, dia pasti senang."


Sambil berkata begitu, dia memberiku memo berisi nama restoran yakiniku yang sudah lama ada di dekat sini.


Ayah Yumi memang polisi dengan jiwa atlet sejati, jadi aku teringat bagaimana dulu dia sering mengajakku makan yakiniku. Rasanya seperti dia berkata bahwa kami bisa memulai semuanya lagi di tempat yang biasa kami datangi.



Saat aku sedang menikmati aroma asap daging yang menggugah selera di depan restoran yakiniku, paman datang sepulang kerja. Tapi Yumi belum terlihat.


"Maaf membuatmu menunggu. Yumi katanya terlambat sekitar lima belas menit karena kelompok belajar di sekolah, jadi kita masuk dulu saja dan menunggu di dalam. Di luar panas sekali. Aku sudah ingin minum bir dingin."


Tanpa memberiku kesempatan menolak, kami masuk ke dalam restoran. Padahal aku berharap Yumi cepat datang karena suasananya agak canggung.


Begitu masuk, paman langsung memesan bir, kimchi, edamame, kubis asin, dan cola untukku.


"Kalau makan terlalu banyak nanti Yumi marah. Jadi kita mulai dulu sambil ngemil sayuran."


Bir dan cola segera datang.


"Bersulang."


Perkembangannya terlalu cepat sampai aku hanya bisa mengikuti alurnya.


Gelas besar bir dan cola beradu dengan suara nyaring. Karena cuacanya panas, minuman dingin terasa luar biasa nikmat.


"Enak sekali. Apalagi bisa minum bersama Kazuki-kun, rasanya terbaik. Sebenarnya ya, sedikit impianku adalah minum bersama pacar putriku seperti ini."


Pernyataan bom yang tiba-tiba itu membuatku hampir menyemburkan cola.


Aku sadar sedang digoda karena paman menatapku dengan wajah senang.


"Hanya bercanda. Kalian masih teman, kan."


Dia sengaja menekankan kata "masih", jelas memang itu tujuannya.


"Jangan begitu dong. Aku benar-benar serius memikirkannya. Apa benar orang sepertiku pantas untuknya."


Mendengar itu, paman mengangguk-angguk sambil meneguk bir lagi.


"Benar-benar masa muda ya. Lagi pula aku sudah menilaimu tinggi sejak dulu. Jangan bilang 'orang sepertiku'."


"Terima kasih."


Mungkin karena menyadari wajahku yang sedikit gelisah, paman memperlihatkan ekspresi seorang polisi yang andal.


"Mungkin ini terdengar kurang sopan, tapi dengarkan ya. Waktu SMP, kau terlibat dalam kejadian yang sangat berat. Seharusnya kami para orang dewasa di sekitarmu yang melindungimu. Sampai sekarang aku masih menyesal dan merasa bersalah soal itu."


"Itu tidak..."


"Tidak, ketika gagal melindungi anak-anak, itu selalu tanggung jawab orang dewasa. Kalau memikirkan apa yang terjadi padamu, banyak orang dewasa pun tidak akan sanggup menahannya. Tapi kau tetap berusaha melewatinya. Meski hatimu hancur karena kejadian itu dan kau harus menanggung kerugian sampai terlambat satu tahun masuk sekolah, kau tetap berhasil lolos ujian sekolah elit di daerah ini. Itu luar biasa. Kau benar-benar hebat. Nanti saat dewasa, kau akan mengerti. Mungkin kau berpikir satu tahunmu terbuang sia-sia, tapi itu salah. Pengalaman melewati kegagalan dan kesulitan adalah sesuatu yang tak tergantikan. Hanya karena mampu melakukan itu saja... aku sudah menghormatimu sebagai seorang manusia, Kazuki-kun."


Tanpa sadar mataku terasa panas.


Paman tertawa kecil lalu berkata, "Sudahlah. Kita pesan daging saja. Mari makan karubi," dan mulai bertindak sesukanya.


"Benar juga, Paman. Aku sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukonsultasikan."


Sebelum pesta makan dimulai, aku kembali sadar betapa pentingnya berkonsultasi pada orang dewasa, lalu membuka mulut.


Aku menjelaskan situasi yang sedang dihadapi Aono-kun dan menceritakan tentang Tachibana, teman SMP kami yang bergerak mencurigakan. 


Entah sejak kapan, wajah paman sudah berubah menjadi wajah seorang detektif.



──Sudut Pandang Eri──


"Ketemu juga."


Sepulang sekolah, aku menunggu seperti sedang menyergapnya keluar dari sekolah.


Karena aku ingin melihat wajahnya langsung dan mengetahui kebenarannya.


Jadi, aku ingin dia menjawab dengan jujur.


Karena benar kan? Aku kehilangan keluarga, teman, dan teman masa kecilku karena dirimu dan Kondou-kun.


"Heeey, Tachibana-saaaan."


Aku memanggilnya dengan suara ceria seolah tak terjadi apa-apa.


Dia tersentak lalu menatapku.


"A-ada apa, Ikenobe-san, tiba-tiba begini?"


"Apa sih, jangan terlalu kaget begitu dong. Kita kan teman sejak SMP. Aku cuma ingin menanyakan sesuatu. Mau pulang bareng?"


"Maaf. Hari ini aku ada urusan."


Aah. Seperti dugaan, insting anak ini memang tajam.


Tapi kalau dia mencoba kabur, berarti memang ada sesuatu yang membuatnya merasa bersalah, kan?


Kira-kira apa ya? Apa ya?


"Begitu ya. Tapi aku tidak akan lama kok, jadi pinjam waktumu sebentar ya? Santai saja, aku cuma mau memastikan sedikit hal."


Tanpa memberinya kesempatan menolak, aku menarik tangannya dan memaksanya berduaan denganku.


Aku menyeretnya ke taman terdekat tanpa memedulikan protesnya yang berkata, "Sakit, tolong hentikan."



"Apa sih, memaksaku sampai sejauh ini. Bagaimanapun ini keterlaluan."


Tachibana-san memprotes dengan nada sedikit lebih keras.


"Maaf ya. Tapi nggak apa kan? Kurasa aku punya hak untuk sebanyak itu."


Mendengar kata-kataku, wajah Tachibana-san makin pucat.


"Hak? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


Seperti dugaan, dia mencoba berpura-pura tidak tahu.


Perempuan jahat.


Perebut laki orang.


Wanita tukang selingkuh.


Berbagai hinaan muncul satu demi satu di kepalaku.


"Begitu ya, jadi kau mau pura-pura tidak tahu. Kalau begitu, bagaimana kalau aku bilang begini? Sebenarnya, aku berhasil menemui Kondou-kun yang sedang ditahan polisi. Dan di sana... aku mendengar semuanya. Termasuk fakta bahwa kau terus mengkhianatiku selama ini. Semuanya."


Mendengar itu, wajahnya semakin pucat.


Benar-benar mudah dibaca. Sampai terasa lucu.


Tapi semakin lucu, semakin besar pula kebencianku.


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Mm, aku sudah menduga kau bakal bilang begitu. Memang ya, kau pasti akan pura-pura tidak tahu."


Dia mencoba menyembunyikan wajah pucatnya sambil mati-matian memikirkan alasan.


"Lagi pula tidak mungkin kau bisa menemui Kondou-kun. Dia ditangkap polisi dan seharusnya hanya pengacara yang boleh menemuinya. Dan memangnya kau punya bukti kalau aku mengkhianatimu? Bahkan kalau kau benar-benar bertemu Kondou-kun, mana buktinya kalau dia berkata jujur? Bisa saja dia panik karena hidupnya hancur lalu mengarang kebohongan yang tidak pernah ada. Dan kau juga aneh kalau percaya omongan seperti itu."


Aah. Seperti dugaan, Tachibana-san memang pintar. Dia bisa mengatakan sesuatu yang terdengar meyakinkan.


Tapi ya, Tachibana-san.


Aku tidak akan membiarkanmu lepas dengan mudah.

Kau harus menderita sampai hancur sepenuhnya.


Kalau tidak begitu, kau tidak akan mengerti rasa sakitku.


Karena itu kali ini aku akan mundur dulu. Sambil meninggalkan kata-kata yang paling menyakitinya.


"Begitu ya. Kalau dipikir-pikir, mungkin benar juga. Maaf tiba-tiba begini. Sepertinya aku memang sedang kehilangan ketenangan."


Melihatku mundur semudah itu, Tachibana-san tanpa sadar menunjukkan ekspresi lega.


Aah, jadi begini rasanya mengangkat seseorang lalu menjatuhkannya. Hatiku sampai berdebar kegirangan.


Kau juga sebaiknya jatuh ke tempat yang sama denganku.


Tentu saja aku tidak berpikir diriku layak dimaafkan.


Karena aku sudah melakukan hal mengerikan pada Kazuki.


Orang paling buruk memang diriku sendiri.


Tapi setidaknya aku boleh melampiaskan amarah pada kalian berdua yang memainkan perasaanku, kan?


"Jadi kau mengerti?"


"Mm. Memang mungkin benar begitu. Karena itu aku akan mencoba berkonsultasi dengan para guru."


Warna wajahnya memburuk dengan cepat.


"Eh...?"


"Karena Kondou-kun merundung anak bernama Aono Eiji kali ini, kan? Mungkin saja masih ada banyak kejahatan lain yang belum terungkap. Jadi aku akan menceritakan pada sekolah tentang apa saja yang dikatakan Kondou-kun saat kami bertemu. Mungkin itu bisa membantu penyelidikan. Terima kasih ya, Tachibana-san! Berkatmu, pikiranku jadi jauh lebih jelas."


Wajahnya memucat seperti orang yang baru saja melihat keputusasaan, bahkan pupil matanya membesar.


Dengan ini, dia pasti terpaksa melakukan sesuatu.


Nah, sekarang kau akan bagaimana ya?


Aku jadi menantikannya.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Tachibana-san!"


Aku pergi dari tempat itu dengan ceria.


Bolanya sudah kuberikan padanya.



──Sudut Pandang Tachibana──


Apa yang harus kulakukan.


Apa yang harus kulakukan.


Apa yang harus kulakukan.


Aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan masuk ke sebuah kafe di depan stasiun untuk menenangkan pikiran.


Pertama-tama, apakah perkataan Ikenobe Eri itu benar? Atau hanya kebohongan?


Memang benar, dia sudah terpojok sampai hampir hancur. Jadi mungkin dia sudah tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Kalau dipikir seperti itu, semuanya masuk akal. Kalau dipikir dengan tenang, tidak mungkin dia bisa menemui Kondou-kun.


Jadi tadi itu memang bohong, ya. Kalau begitu, aku tidak perlu takut meski guru mendengarnya. Tidak takut... tapi...


Yang lebih parah adalah rasa curiga terhadap klub sastra pasti akan semakin besar. Para guru sudah mulai mempersempit pengepungan terhadap kami.


Lagi pula, apa para guru bisa benar-benar menganggap omongan gilanya sebagai omong kosong?


Kesaksian Ikenobe-san memiliki kesan realistis tertentu. Kalau sampai ketahuan sejak SMP aku diam-diam bekerja sama dengan Kondou-kun, semuanya bisa terbongkar satu per satu.


"Kalau begini, aku harus membungkam Ikenobe-san."


Memberinya uang tutup mulut? Tidak mungkin. Itu tidak akan mampu meredakan kemarahan seseorang yang sudah kehilangan segalanya. Malah hanya akan memperbesar masalah.


Kalau begitu, aku harus menghentikan kesaksiannya secara fisik. Tapi bagaimana caranya?


"Tidak ada yang bisa kulakukan!"


Awalnya aku berpikir untuk menimpakan semua kesalahan kepada para junior lalu melarikan diri, tapi kalau ada kesaksian darinya, mustahil aku bisa lolos dari tuduhan.


"Kalau begitu..."


Dengan mempertaruhkan kemungkinan terakhir, aku mulai menghasut seseorang.


Kalau ini gagal... aku akan hancur.


Aku menghubungi kenalan sejak SMP.


Untuk berjaga-jaga, selain Kondou-kun, aku memang sudah menyiapkan satu jalur lain di klub sepak bola.


"Halo."


Suara rendah dengan cara bicara lambat.


"Ini Tachibana. Sudah lama ya, Mitsuta-kun. Kau baik-baik saja?"


Mitsuta-kun adalah teman Kondou-kun, kenalan sejak SMP yang selalu diperlakukan seperti bawahan olehnya. Syukurlah aku dulu menyimpan kontaknya.


"A-ah, ya."


Tentu saja, seperti anggota klub sepak bola lainnya, dia juga sedang diskors. Apalagi dia sangat dekat dengan Kondou-kun, jadi posisinya pasti sangat tidak nyaman. Karena itu, kalau kuguncang sedikit, dia pasti akan bergerak sesuai keinginanku.


"Sebenarnya, aku baru tahu sesuatu yang buruk. Kau masih ingat Ikenobe Eri-san?"


"Ya, tentu saja. Mantan pacarnya Kondou, kan?"


"Iya. Katanya, karena dendam diputusin Kondou-kun, dia mau melapor ke guru tentang hal-hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi."


"Hah!?"


Dia langsung terpancing.


"Katanya sih, karena dulu pacaran dengan Kondou-kun, dia sampai dibuang keluarganya. Dia merasa hidupnya jadi sengsara gara-gara Kondou-kun, jadi katanya dia mau menyeret semuanya ke kehancuran bersama. Dia juga sepertinya menyimpan dendam pada orang-orang dari SMP yang sama seperti aku dan kamu, lalu bilang akan membocorkan ke guru kalau kami juga terlibat dalam masalah perundungan bersama Kondou-kun... Bahkan sekarang klub sastra juga sedang diselidiki guru gara-gara kebohongannya... bagaimana ini? Sebagai ketua klub, aku bahkan tidak bisa melindungi anggota klubku."


Aku berpura-pura menjadi orang suci sambil memancing simpati dan memperbesar kecemasan klub sepak bola. Kalau terus begini, mereka bukan hanya takut diskors atau dihentikan sementara, tapi mulai takut pada hukuman terburuk—dikeluarkan dari sekolah.


"Itu... dia bilang sesuatu soal klub sepak bola?"


"Aku tidak dengar detailnya, tapi katanya kalau harus jatuh ke neraka, lebih baik ada banyak orang yang jatuh bersamanya."


Dengan ini, rasa takut akan menyebar. Para anggota klub sepak bola memang sudah ketakutan kalau-kalau mereka dikeluarkan dari sekolah, jadi kepanikan mereka pasti makin besar.


"Sial, kalau sampai begitu, kita tamat."


Mereka memang orang-orang yang sudah punya banyak masalah. Kalau rasa takutnya dipancing, mereka akan bergerak sesuai keinginanku.


"Itulah kenapa aku menghubungimu, Mitsuta-kun. Ayo kita hentikan Ikenobe-san bersama-sama. Kalau tidak, benar-benar akan jadi buruk... Aku cuma bisa meminta bantuanmu."


"Kenapa...?"


Mudah sekali. Kalau dia semudah ini digerakkan, aku pasti bisa lolos.


"Sejak SMP, aku sebenarnya selalu memperhatikanmu."


Sekalian saja kuguncang harga dirinya yang pasti selalu merasa inferior dibandingkan Kondou-kun. Dengan begitu, laki-laki akan mudah dikendalikan.


Setelah itu, kalau anggota klub sepak bola menghakimi Ikenobe-san sendiri dan menimpakan semua dosa padanya...


"Begitu ya."


"Lalu aku juga ingin bicara langsung. Bisa kumpulkan anggota klub sepak bola lain yang bisa dipercaya? Apa kita bisa bertemu malam ini?"


Dia langsung setuju. Sesuai rencana. Tinggal mengarahkan mereka dengan baik, lalu membuat anggota klub sepak bola bertindak di luar kendali... semuanya akan berjalan lancar. Lucu sekali betapa mudahnya manusia digerakkan.


Tinggal menjadikan mereka tumbal saja... Nah, tirai pertunjukan terakhir akhirnya dibuka.



Begitu selesai membuat janji dengan Mitsuta-kun, aku langsung menghubungi Matsuda-san, junior di klub sastra. 


Dia adalah bidakku. Dia selalu menuruti semua perkataanku, bahkan menjadi pelaksana utama dalam kasus naskah Eiji-kun.


Semua ini juga demi berjaga-jaga agar nantinya semua kesalahan bisa ditimpakan kepadanya.


[Matsuda-san. Gawat. Aku ingin segera bertemu denganmu. Bisa datang ke sini? Oh iya, sebelumnya aku akan meninggalkan memo rahasia di loker nomor ini, jadi tolong baca.]


Aku meninggalkan instruksi untuknya di loker. Karena sekarang aku sedang menuju stasiun, persiapannya akan segera selesai.


Tinggal membuat dia, Mitsuta-kun, dan para anggota klub sepak bola bergerak...


Membungkam Ikenobe Eri, lalu menimpakan semua kesalahan kepada mereka.


Hanya itu satu-satunya jalan.


"Benar. Tidak apa-apa. Aku lebih pandai memanipulasi manusia dibanding siapa pun."


Setidaknya, aku yakin bakat itu lebih hebat dibanding Eiji-kun maupun Kondou-kun.


Aku akan menggunakan senjata terakhirku semaksimal mungkin untuk melewati situasi sulit ini. Itulah harapan terakhirku.


Harapan terakhir?


Apa maksudnya itu? Tanpa kusadari, aku menyadari kalau hidupku sudah berada di tepi jurang. Aku juga dipaksa memikul rasa inferior yang tak tertahankan...


Bahkan jika aku berhasil lolos setelah kehilangan semua yang telah kubangun, aku harus terus hidup sambil memendam rasa rendah diri terhadap sang jenius bernama Aono Eiji. Salib berat itu terus memperdalam luka di hatiku.



Kami mengantar Hayashi-san pulang lalu menuju Aono Kitchen.


Ai-san tampak sedikit lelah. Karena dia sudah bergerak ke sana kemari demi melindungiku dan Hayashi-san.


Melihatnya seperti itu membuatku semakin menyayanginya.


"Terima kasih selalu ya, Ai-san."


Saat aku tiba-tiba mengucapkan terima kasih, dia berseru kaget, "Eh?"


"Sungguh, kami terselamatkan berkat Ai-san. Bahkan rasa terima kasih saja tidak akan cukup."


Aku menyampaikan perasaanku dengan jujur. Sejak kejadian tempo hari, rasanya lebih mudah untuk mengatakannya.


"Mou, curang sekali."


Dia tersenyum malu-malu, tapi di wajahnya juga ada bayangan kesedihan.


"Ada apa?"


Mendengar itu, dia mulai berbicara pelan dengan susah payah.


"Mm. Aku cuma berpikir... apa aku pantas menerima rasa terima kasih sebesar itu dari Senpai. Senpai selalu menyukaiku, tapi kalau suatu saat sisi gelapku atau sisi burukku mulai terlihat... aku takut."


Ekspresinya menggelap seolah mengingat rasa sakit tumpul dari luka lama yang kembali terkoyak.


"Memang sih, manusia pasti punya sisi buruk."


"Iya kan. Aku juga sadar kalau aku bukan orang suci. Malah terkadang aku merasa sisi gelapku jauh lebih besar, dan aku terus membenci diriku sendiri karena itu. Kalian semua terlalu baik, jadi aku takut sebenarnya aku cuma memanfaatkan kebaikan kalian..."


Di sana tidak ada sosok sempurna seperti idolanya selama ini, melainkan hanya seorang gadis SMA yang rapuh dan lemah. Dan kerapuhan itu terasa terhubung dengan kelemahan yang kulihat saat pertama kali bertemu dengannya di atap sekolah.


"Meski begitu..."


Karena itulah aku ingin menyampaikan perasaanku dengan jujur.


Kepada gadis yang tampak ketakutan seperti hewan kecil itu.


"Aku rasa sisi gelap Ai-san itu juga digunakan untuk melindungi seseorang. Karena kau terlalu baik, kau jadi mengerahkan seluruh kekuatanmu demi melindungi orang lain. Karena kau begitu serius sampai lebih sering menyalahkan dirimu sendiri daripada orang lain. Dan karena kau pekerja keras sampai selalu mencoba melewati kesulitan apa pun."


Aku tidak pandai merangkai kata. Tapi karena sifatnya itulah, dia terus mengikis hatinya sendiri.


Dia berhenti berjalan lalu menoleh menatap wajahku. Air mata memantulkan cahaya matahari senja.


"Karena kau gadis seperti itulah, aku jadi menyukaimu."


Itulah perasaanku yang sebenarnya. Kekurangan yang dia pikir dia miliki hanyalah sisi lain dari kelebihannya.


"Senpai benar-benar curang ya... Kalau begitu, nanti aku benar-benar akan memperlihatkan sisi burukku lho."


"Iya. Aku ingin kau begitu. Dan kalau ada yang bisa kulakukan, aku ingin kau terus mengandalkanku. Karena aku ingin terus berjalan seperti itu bersamamu."


Aku perlahan mengulurkan tangan. Dia berkata, "Terima kasih," lalu menggenggamnya.


"Menurut Eiji-senpai, bagaimana orang-orang klub sastra itu?"


Ai-san bertanya dengan hati-hati.


"Aku rasa mereka orang-orang yang kasihan."


Aku menjawab jujur.


"Kasihan?"


"Iya. Pada akhirnya mereka bahkan tidak bisa menganggap orang lain sebagai manusia. Makanya mereka selalu kesepian. Meski terlihat pandai bersosialisasi di permukaan, mereka sebenarnya tidak benar-benar percaya pada siapa pun, jadi semuanya terasa dangkal."


Ai-san mengangguk sambil mendengarkan.


"Itulah kenapa mereka tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena mereka tidak bisa meminta bantuan atau bersandar pada orang lain, jadi saat mereka berada di titik paling menyakitkan, tidak ada seorang pun yang akan mengulurkan tangan pada mereka."


Di krisis terbesar dalam hidupku, aku berhasil menemukan sesuatu yang tak tergantikan. Tapi aku yakin orang-orang itu tidak akan pernah bisa menemukan harta yang kutemukan. Yang tersisa bagi mereka hanyalah jalan menurun menuju kehancuran.


"Ai-san, jangan melakukan sesuatu yang berbahaya ya. Kalau terjadi apa-apa, aku ingin kau mengandalkanku. Seperti kau sudah menolongku, aku juga pasti akan menolongmu."


Dia memerah lalu hanya menjawab, "Mm." Tapi entah kenapa, ada kesedihan yang tersisa di wajahnya.



──Sudut Pandang Ugaki, Suatu Tempat di Tokyo──


Aku sedang minum wiski di bar langganan untuk sebuah pertemuan rahasia.


Scotch hari ini berasal dari daerah Speyside.


Botol penuh kenangan yang dulu sering kuminum bersama sahabatku saat masih muda. Kami sama-sama tipe yang menikmati aroma wiski, jadi kami meminumnya perlahan tanpa es, sambil berbicara tentang berbagai mimpi.


"Masa itu memang yang paling menyenangkan."


Aku benar-benar merasa begitu.


Kalau dipikir-pikir, desain botol langgananku ini sudah beberapa kali diperbarui sejak saat itu. Namun, rasanya yang manis dan fruity khas wiski lama yang dibuat dengan tong sherry tetap dipertahankan. Aku bahkan masih mengingat seperti baru kemarin saat kami saling menghadiahkan botol tahun kelahiran anak masing-masing.


Aku kembali meneguk minuman penuh kenangan itu. Tetap manis. Aroma kismis, herbal, gula hitam, dan saus mitarashi menyebar berlapis-lapis di dalam mulut.


"Sekjen, maaf terlambat."


Pria yang kutunggu akhirnya datang. Padahal aku masih ingin sedikit tenggelam dalam nostalgia.


"Tidak apa-apa. Karena aku sedang menikmati wiski kesukaanku, sebenarnya kau boleh datang lebih santai."


"Tapi saya tidak mungkin terlambat lebih lama lagi."


"Mau minum apa?"


"Kalau begitu, Martini."


Pilihan yang bagus. Martini adalah koktail yang dibuat dari gin, minuman suling herbal, dicampur dengan vermouth, anggur putih beraroma rempah.


Koktail itu pun diantar. Aku sengaja tidak membicarakan pekerjaan sampai dia meneguknya terlebih dahulu.


"Enak sekali."


Koktail seperti Martini benar-benar menunjukkan kemampuan bartender. Sebagai pelanggan tetap, mendengar pujian itu membuatku senang.


"Nah, sekarang mari bicara soal pekerjaan. Bagaimana keadaan Perdana Menteri di rapat kabinet tadi?"


Pertanyaan dariku dijawab oleh politisi muda yang sedang naik daun itu. Rumor tentang anggota dewan kota Kondo mulai diberitakan kecil-kecilan oleh majalah mingguan. 


Detailnya memang belum keluar, tetapi ada laporan yang menyebut kemungkinan dirinya terhubung dengan tokoh besar dunia politik.


"Beliau tampak cukup panik. Sepertinya kasus anggota dewan Kondou benar-benar membuatnya gelisah."


"Kurasa begitu. Dia tampaknya sedang mencoba melarikan diri, tapi kurasa semuanya tidak akan berjalan semudah itu."


"Kebocoran informasi ke media itu… dilakukan oleh Ketua Sekretaris Jenderal, ya?"


Benar saja, sebagai politikus dia masih muda. Masih punya idealisme dan kepolosan anak muda yang menyala-nyala. Aku tidak membenci kepolosan itu, tapi menurutku itu juga terlalu ceroboh.


"Entahlah, siapa tahu."


Senjata terbaik adalah ketidakjelasan. Seseorang tak seharusnya berbohong. Tapi ada saatnya kebenaran juga tak boleh diucapkan secara langsung. Dalam situasi seperti itu, cara terbaik adalah mengaburkannya seperti ini.


"Perdana Menteri juga berkata kalau keadilan ditentukan di tempat ini. Demi menyelesaikan masalah perundungan itu secepat mungkin, beliau tampaknya akan memberi tekanan kepada pihak sekolah."


"Begitu ya. Ternyata Perdana Menteri juga cukup naif."


Sambil tersenyum tipis seperti itu, aku mengarahkan senyum kepada Menteri Pendidikan—harapan muda dari faksi kami.


Jadi pada akhirnya, mereka memang berniat menutup-nutupi semuanya.


Aku memikirkannya dengan nada penuh penghinaan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close