NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Prologue

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Prologue

──13 September・Sudut Pandang Ai──


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang dari makam, kami terus saling menggenggam tangan. Aku selalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Karena aku sudah berbohong. 


Meski aku tak mampu mengatakan hal yang penting, dia tetap bersikap lembut seperti biasanya. Tanpa sadar aku merasa lega sampai menangis. Mungkin karena hari ini terlalu banyak hal yang terjadi, aku jadi kelelahan.


Di dalam mobil, kami terus menghabiskan waktu dalam diam sambil berpegangan tangan. Padahal kami tidak membicarakan apa pun, tetapi entah kenapa keheningan ini terasa nyaman, dan aku merasa sedikit terbebas dari penderitaan yang selama ini terus menekanku.


"Senpai, sebentar saja."


Mengatakan itu, aku menyandarkan kepala ke bahunya. 


Kehangatan tubuhnya terasa sampai kepadaku, dan perlahan aku jatuh ke dalam mimpi.



Mungkin karena akhirnya merasa tenang. Begitu ketegangan yang selama ini menahanku terlepas, aku langsung tertidur. 


Saat membuka mata, dari pemandangan di luar jendela aku sadar rumahku sudah hampir tiba.


Selama ini aku tertidur sambil dilindungi bahunya. Mereka berdua masih belum sadar kalau aku sudah bangun.


"Terima kasih banyak, Aono-sama."


Tiba-tiba Kuroi membuka suara. Aku panik karena merasa akan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak kudengar, jadi aku memutuskan tetap memejamkan mata.


"Aku tidak melakukan sesuatu yang pantas untuk diberi ucapan terima kasih."


"Meskipun begitu, sejak Ojou-sama bertemu dengan Anda, beliau jadi jauh lebih sering tersenyum. Hal yang tak bisa kami lakukan selama bertahun-tahun, Anda berhasil melakukannya hanya dalam waktu singkat."


Kurasa aku juga sudah membuat Kuroi sangat khawatir.


Senpai memilih kata-katanya dengan hati-hati agar suasana tidak menjadi terlalu berat.


"Ai-san itu di sekolah disebut malaikat atau idola. Cantik, anggun, dan penuh wibawa. Tapi dengan tubuh selemah ini, dia terus memikul beban yang begitu berat. Orang biasa pasti sudah hancur."


Tangan besarnya terasa hangat. Orang yang begitu lembut dan selalu mau memahami diriku sepenuhnya. Aku ingin percaya kalau pertemuan kami adalah takdir.


Sepertinya Kuroi juga merasakan kelembutan dirinya. Suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.


"Itu juga berkat Anda. Sejak hari Ojou-sama bertemu dengan Anda, beliau menjadi lebih ceria. Sebelumnya saya rasa beliau terus berusaha memainkan peran sebagai gadis ideal bernama Ichijou Ai. Namun perlahan beliau kembali menjadi dirinya sendiri. Ojou-sama sebelum kehilangan Okusama akhirnya kembali lagi. Sebagai seorang pelayan, mungkin saya sudah terlalu lancang mengatakan ini, tetapi saya sungguh bahagia. Ojou-sama akhirnya bisa kembali ke dunia yang membahagiakan. Semua itu berkat Anda."


Biasanya dia pendiam dan hampir tidak pernah bicara. Ternyata dia memikirkanku sedalam ini. Hatiku terasa hangat.


"Terima kasih banyak. Tapi itu juga karena dukungan Kuroi-san dan semuanya. Juga ibu Ai-san yang sudah meninggal. Karena semua orang, Ai-san bisa tumbuh menjadi seseorang yang peduli pada orang lain. Karena semua orang mendukungnya, Ai-san bisa bertahan sejauh ini. Dan karena Ai-san gadis yang begitu baik, dia menyelamatkan aku yang saat itu sedang berada di titik terendah. Maaf, padahal aku cuma anak SMA tapi malah bicara seperti orang yang lebih tahu."


"Tidak sama sekali. Kami gagal menjalankan tanggung jawab kami sebagai orang dewasa. Karena itulah kami tidak bisa memperlakukan Aono-sama seperti anak-anak. Mulai sekarang juga, tolong terus jaga Ojou-sama."


Sambil memikirkan kebaikan semua orang yang selalu mendukungku, aku mati-matian menahan air mata.



Aku berpisah dengannya di depan Aono Kitchen. Dia sempat mengajakku makan bersama juga, tetapi kutolak karena ingin sedikit menenangkan perasaanku sendiri.


Lelah sekali.


Aku bahagia karena dia menerimaku, tetapi tetap saja aku sangat gugup. Lagi pula ini pertama kalinya aku sendiri menceritakan tentang ibu, jadi rasanya sangat menyakitkan.


Setelah berganti ke pakaian rumah, aku menjatuhkan tubuh ke sofa.


Entah kenapa, aku merasa kalau sekarang aku bisa mengingat kembali hal-hal menyakitkan itu.


Setelah ibu meninggal, dan aku keluar dari rumah sakit... aku memang masih belum bisa pergi ke sekolah, tetapi meski begitu aku merasa sudah berusaha sedikit demi sedikit untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari.


Setelah keluar dari rumah sakit, telepon anonim berkali-kali berdering pada malam hari. Awalnya aku mengabaikannya. Karena kupikir mungkin itu dari media massa. Tapi telepon itu terlalu gigih, sampai akhirnya tanpa sadar aku mengangkatnya.


"Apa-apaan sih, cukup su—"


Saat hendak memprotes, terdengar suara wanita dari seberang telepon.


"Ai... sakit sekali. Kenapa kau meninggalkan ibu sendirian?"


Jelas itu bukan suara ibu. Tapi kata-kata itu dengan mudah membuka kembali luka di hatiku. Tanganku kehilangan tenaga untuk menggenggam ponsel, dan benda itu perlahan jatuh.


Dari telepon terdengar tawa mengejek kecil, "kukuku", lalu sambungannya terputus.


Kepalaku langsung kosong, tubuhku gemetar tanpa henti. Aku tahu harus meminta bantuan seseorang, tetapi kata-kata yang dulu kuucapkan kepada para pengemudi di sekitar saat kecelakaan itu terus bergema di kepalaku.


"Mungkin... kalau waktu itu aku tidak meminta bantuan siapa pun, ibu bisa saja terselamatkan. Mungkin akan lebih mudah kalau aku tidak meminta pertolongan dan mati bersama ibu."


Pikiran bodoh seperti itu muncul di benakku, membuat tubuhku semakin gemetar. Padahal itu sama saja dengan menyangkal perasaan ibu.


Sambil memendam penderitaan itu, aku menuju tempat tidur. Aku mencoba melarikan diri ke dalam tidur. Setidaknya aku berharap bisa memimpikan ibu yang lembut... tetapi bahkan itu pun tak bisa kudapatkan.


Mungkin sejak hari itu, perlahan aku mulai berjalan menuju kematian.


Hanya saat belajar saja aku bisa sedikit terbebas dari rasa sakit itu. Tapi itu pun cuma sesaat. Luka di hatiku semakin dalam setiap kali aku mencoba menutupinya.


Aku berpikir, kalau masuk SMA dan mengganti lingkungan serta nama, mungkin aku bisa berubah sedikit. Tapi pada akhirnya, aku tetaplah diriku sendiri.


Mungkin ada seseorang yang akan benar-benar melihat diriku. Namun pada akhirnya, yang diperhatikan hanya penampilan dan statusku, sementara jati diriku terus diabaikan. Keausan mental itu semakin parah, dan penyakit mematikan bernama keputusasaan mulai bersarang di dalam hatiku.


Sampai sekarang aku masih ingat jeritan yang kutinggalkan dalam hati saat aku sudah benar-benar terpojok.


"Tuhan... apa lagi yang harus kuberikan agar Engkau memaafkanku? Ibu, ayah, bahkan orang-orang yang kukira teman... aku sudah kehilangan semuanya... apa yang harus kupersembahkan... bagaimana caranya agar Engkau mau menyelamatkan hatiku...?"


Jeritan itu tidak sampai kepada siapa pun. Tidak... sebenarnya aku sendiri tak mampu menyampaikannya kepada siapa pun.


Saat masalah perundungan terhadap Senpai terjadi, aku tanpa sadar menumpangtindihkan diriku dengannya. Hatiku yang sudah hancur benar-benar mencapai batasnya. Aku berpikir untuk mengakhirinya saja. Karena itulah aku pergi ke atap gedung itu.


Aku keluar ke atap melalui pintu dan perlahan melangkah maju. Saat itu, hatiku yang sudah mati rasa anehnya tidak merasakan takut sama sekali. Tapi sekarang setelah aku bisa berpikir jernih, aku sadar bahwa sebenarnya waktu itu aku ketakutan. Padahal saat itu aku seharusnya mendambakan kematian, tetapi sekarang aku merasa sangat takut.


Lalu dia menyelamatkanku, mengajakku kabur dari sekolah bersama, memperlihatkan kembali nikmatnya makanan hangat dan kehangatan keluarga... dan akhirnya aku mengerti.


Bahwa sebenarnya aku takut mati.


Di hadapan kematian, aku menjadi sangat ketakutan. Kenyataan pahit, dan ketidakadilan karena aku tak lagi mampu meminta pertolongan kepada siapa pun. Dan di saat seperti itu, aku kembali mengingat kebaikan dirinya yang mengulurkan tangan kepadaku.


Padahal dia sendiri pasti sudah berada di ambang batasnya. Namun tetap saja dia menyelamatkanku. 


Dia menyelamatkanku dari keputusasaan, diriku yang bahkan tidak mampu mengatakan "tolong aku". Tepat sebelum mati, sebenarnya aku ingin seseorang menolongku.


Bahkan dalam kenangan yang seharusnya menyakitkan itu, orang terakhir yang selalu kuingat tetaplah dirinya, simbol harapan itu.


Tapi sekarang dia justru menderita karena perundungan. Setidaknya aku ingin mengakhirinya. Memang, dengan ditangkapnya dalang utama, keadaan mulai cepat menuju akhir. Namun soal naskah Senpai yang dicuri, masih belum jelas. Kurasa itu bukan hanya ulah klub sepak bola. Pasti ada keterlibatan mendalam dari anggota klub sastra selain Hayashi-san.


Saat itu aku tiba-tiba bangkit seperti menyadari sesuatu.


Waktu aku bermain berempat bersama Senpai, Endou-san, dan Domoto-san... Senpai sempat bertemu editornya di sebuah kafe. Karena kepanasan, aku sedang mendinginkan diri di toko es krim dekat sana, dan saat itulah aku melihatnya.


Seorang wanita keluar dari sana...


Kalau tidak salah, itu ketua klub sastra, Tachibana.


Kenapa dia ada di tempat seperti itu? Kebetulan belaka? Tidak... kalau begitu rasanya terlalu kebetulan.


Lagi pula, sebenarnya apa yang sudah dia lakukan selama ini?


Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai senior klub Senpai yang, karena termakan rumor, membuang barang pribadi dan naskah Eiji-senpai. Kalau penyelidikan sekolah berlanjut, dia pasti akan dihukum. Karena itu aku tidak terlalu memperhatikannya.


Dibandingkan Kondou dan anggota klub sepak bola lainnya, kupikir dia tidak menimbulkan kerugian secara langsung.


Tapi...


Apa dia masih berniat menghalangi Senpai?

Aku tidak akan pernah mengizinkan itu.


Kalau dipikir kembali, bagaimana Amada-san pertama kali bisa berhubungan dengan Kondou? Apa ada seseorang yang memperkenalkan mereka? 


Kalau begitu, dengan tujuan apa seseorang memperkenalkan perempuan yang sudah punya pacar kepada pria yang terkenal buruk soal wanita seperti itu?


Aku punya firasat buruk. Mungkin masalah perundungan itu masih belum benar-benar berakhir.


Jika masih ada kemungkinan sedikit saja Senpai akan disakiti...


Maka aku akan melenyapkan kemungkinan itu.


Sisi gelap diriku yang dingin dan penuh perhitungan, warisan dari orang tuaku. Biasanya aku membencinya, tetapi kali ini aku justru bersyukur memilikinya.


Aku mengambil ponselku lalu menelepon.


"Kuroi, ada seseorang yang ingin kuselidiki…”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close