Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 3
Ketua Klub yang Terpojok
──15 September・Sudut Pandang Ketua Klub Sastra──
Hari Senin dimulai.
Pada akhirnya aku bahkan tidak bisa pergi ke sekolah.
Pesan-pesan yang hampir terdengar seperti jeritan terus berdatangan dari para anggota klub. Hampir semua anggota sudah dipanggil untuk dimintai keterangan sejak minggu lalu.
Kalau melihat situasi sekarang, aku hanya ditunda karena kebetulan tidak hadir.
Tidak... bukan begitu.
Mungkin mereka sengaja memanfaatkan ketidakhadiranku untuk mengguncang mental para anggota klub.
Kalau para anggota mulai panik, bukan tidak mungkin klub ini akan hancur seperti klub sepak bola. Kalau rasa saling curiga mulai muncul, semua orang akan terlihat seperti musuh.
Mungkin saja sudah ada seseorang yang berkhianat.
Tapi aku sudah menyiapkan langkah antisipasinya.
Dalam kasus ini, aku sudah membuat semua anggota merasa memiliki kesadaran sebagai pelaku.
Klub sepak bola punya terlalu banyak anggota, jadi ada banyak siswa yang sebenarnya tidak terlibat dalam perundungan. Dari sanalah semuanya runtuh seperti air yang bocor.
"Tapi kami berbeda. Orang yang memilih pura-pura tidak melihat juga sama bersalahnya. Aku sudah menanamkan itu pada mereka. Setelah melihat hukuman besar-besaran untuk klub sepak bola, semua orang pasti ketakutan."
Tinggal menekan mereka dengan rasa takut. Kalau mereka sadar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah mematuhiku, maka mereka tidak punya pilihan selain menurut.
"Lagi pula semua buktinya sudah kubuang. Kondou-kun terlalu bodoh sampai tidak sadar kalau selama ini dia diarahkan olehku."
Ada perkembangan juga di SNS yang kugunakan untuk mengumpulkan informasi.
Katanya orang tua salah satu anggota klub sepak bola yang bodoh mendatangi sekolah dan menyebarkan rekaman suaranya ke internet.
Benar-benar bodoh. Tapi ini adalah kesempatan terbesar yang diberikan Tuhan kepadaku.
Kalau berita ini membesar, pihak sekolah pasti akan sibuk mengurus itu.
Dengan begitu, penyelidikan terhadap klub sastra akan melambat. Sementara itu, aku bisa mengatur semuanya dari pihak sini.
Kalau ada waktu lebih longgar, akan lebih mudah menyamakan cerita.
"Nggak apa... semuanya akan baik-baik saja. Besok aku tinggal datang ke sekolah dan mengatasinya."
Aku terus mengatakan itu pada diriku sendiri untuk memaksa diri tenang.
Tatapanku beralih pada aplikasi situs novel di ponselku.
Novelku masih diam di sana, tak dibaca siapa pun, seolah menatapku balik.
※
──Sudut Pandang Eri Ikenobe──
Saat aku berjalan pulang dengan langkah lemas dari jalan menuju sekolah, seorang pria bersetelan jas menghentikanku.
"Anda Eri Ikenobe-san, benar? Bolehkah saya berbicara sebentar...?"
Meski sopan, ada aura mengancam dari dirinya.
Sekilas kupikir dia polisi, tapi dia tidak memiliki aura "kebenaran" seperti itu.
"Apa-apaan ini tiba-tiba... saya akan memanggil orang, lho."
"Maafkan saya. Nama saya Aoyama, seorang detektif swasta. Sebenarnya saya ingin bertanya soal Kondou-kun."
Mendengar kata-kata itu, darahku terasa mengalir terbalik dan hawa dingin menjalar di tubuhku.
Aku sempat berpikir untuk lari. Tapi kata-kata berikutnya terdengar begitu manis seperti buah menggoda hingga langkahku terhenti tanpa sadar.
"Kebetulan saya cukup punya koneksi dengan kepolisian. Kalau Anda mau menjawab satu pertanyaan saja, saya bisa mengatur agar Anda dapat bertemu dengan Kondou-kun."
Mana mungkin...
Kenapa bisa semudah itu...
Lagi pula, kalau benar bisa begitu, kenapa dia tidak langsung bertanya pada Kondou sendiri?
Tapi kata-kata itu tak keluar dari mulutku.
Karena kalimat "bisa bertemu dengannya" adalah harapan terakhir bagiku.
"Anda janji?"
"Tentu saja."
Memang mencurigakan, tapi kalau hanya menjawab pertanyaan, seharusnya risikonya tidak terlalu besar.
"...Baiklah."
Dengan perasaan seperti orang yang berpegangan pada jerami terakhir, aku menerima tawaran pria mencurigakan itu.
"Kalau begitu hanya satu pertanyaan. Bagaimana Anda dan Kondou-kun bisa menjadi dekat?"
"Hah? Cuma itu? Hanya itu saja...?"
"Ya. Kalau Anda menjawabnya, besok pun saya bisa mengatur pertemuan dengan Kondou-kun."
Bahkan tanpa berpikir panjang, kata-kata itu langsung keluar dari mulutku.
"Kami bertemu di kelompok belajar yang dibuat temanku..."
Mendengar itu, tubuh pria itu bergerak sedikit.
"Bolehkah saya tahu nama teman tersebut?"
"Eh... sekarang kami sudah hampir tidak berinteraksi lagi meskipun masih satu SMA, tapi namanya Tachibana-san. Dari klub sastra..."
Detektif berpakaian hitam itu tersenyum puas lalu menyerahkan kartu namanya.
Di bagian belakangnya ada catatan agar aku datang ke depan kantor polisi tempat Kondou-kun ditahan besok pukul empat lewat tiga puluh.
"Kalau begitu, sampai besok..."
"Te-terima kasih banyak."
Saat hendak pergi, dia sempat menoleh sekali lagi.
"Satu hal terakhir. Sebenarnya, mungkin saja pertemuan Anda dengan Kondou-kun memang sudah diatur sejak awal."
Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya. Tapi ketika kata-kata itu mulai meresap ke dalam tubuhku, rasa gemetarku tidak bisa berhenti.
Dan saat kusadari, detektif itu sudah menghilang entah ke mana.
※
──Sudut Pandang Kuroi──
Aku melaporkan hasil kontak tersebut.
Aoyama adalah nama samaran yang sering kugunakan.
Nona muda benar-benar menakutkan.
Intuisinya terlalu tajam.
Aku menerima instruksi serupa dari beliau, tapi kali ini beliau sendiri tampaknya ingin bergerak langsung. Jadi benar seperti dugaan mereka berdua, Tachibana memang terlibat.
Dia muncul secara tidak wajar dalam semua kasus sejauh ini. Memang belum ada bukti pasti, tetapi kesimpulan yang muncul hanya satu.
Kemungkinan besar dialah dalang di balik semuanya.
Dan kedua orang itu...
"Bahkan Eri Ikenobe pun berniat mereka manfaatkan demi mendekati dalang sebenarnya."
※
──Sudut Pandang Tachibana──
Saat aku mati-matian mencoba menata pikiranku, ponselku berbunyi.
Siapa sih di saat sesibuk ini? Masih banyak yang harus kupikirkan. Waktunya tidak cukup.
Saat sedang panik seperti ini, aku tidak ingin siapa pun mendekat.
Di layar ponsel muncul nama mainan lama yang terasa nostalgik.
Eri Ikenobe. Gadis yang dulu kuintervensi lalu kubuat direbut Kondou-kun saat SMP. Kalau tidak salah dia juga pasangan teman masa kecil seperti Eiji-kun.
"Sudah lama ya. Aku cuma mau tanya sedikit, apa Tachibana-san sebenarnya dekat dengan Kondou-kun?"
Seketika darahku terasa dingin.
Tidak mungkin ketahuan.
Dalam kasus dia dan Kondou-kun, aku cuma mengatur tempat mereka bertemu. Aku hanya berhubungan diam-diam di balik layar, sementara di depan umum kami hanya seperti teman sekelas biasa.
Bahkan saat bertemu diam-diam pun aku selalu berhati-hati agar tidak ketahuan.
"Apa-apaan tiba-tiba? Memang kami satu SMP dan satu SMA, jadi kalau bertemu ya ngobrol sedikit... tapi tidak sedekat itu kok. Lagi pula dia sekarang sudah jadi seperti itu."
Aku berusaha menjawab setenang mungkin.
Balasan langsung datang.
"Ya juga sih. Selama ini memang tidak kelihatan begitu. Kau tidak mungkin mengkhianatiku padahal tahu hubunganku dengannya, kan? Aku boleh percaya padamu, kan?"
Sepertinya dia jadi tidak stabil setelah Kondou-kun ditangkap. Kalau tidak salah dia bahkan sudah diputus hubungan oleh orang tuanya dan hidup sendiri.
Jadi sekarang mungkin dia benar-benar hanya punya Kondou.
"Tentu saja. Aku tidak mungkin melakukan hal sekejam itu. Kondou-kun cuma teman sekelas. Aku tidak bohong."
Bahkan saat dia masih pacaran dengan Kondou, aku juga sudah berhubungan dengannya.
Tapi dia tidak menyadarinya. Atau mungkin dia sengaja tidak mau menyadarinya. Karena dia sudah tidak punya siapa-siapa selain dirinya.
Kurasa dia memaksa dirinya untuk percaya.
Itulah kenapa dia jadi mainanku.
"Terima kasih. Maaf ya tiba-tiba bertanya aneh begitu. Benar-benar maaf. Aku percaya padamu."
Sambil melihat kata-kata kosong itu, aku membalas dengan stiker ringan.
Kalau digunakan dengan baik, gadis itu mungkin bisa menjadi petunjuk untuk membalikkan keadaan.
Dalam skenario terburuk, mungkin aku bahkan bisa menimpakan semua kejahatan padanya lalu kabur.
Karena bagaimanapun, hubungannya dengan Kondou jauh lebih dekat.
Sedikit demi sedikit, rasanya aku mulai melihat secercah cahaya.
"Terima kasih, Eri Ikenobe-san. Kau benar-benar mainan yang berguna."
Aku tersenyum jahat sambil mulai memikirkan cara untuk menjadikan dirinya kambing hitam.
※
──Sudut Pandang Eri Ikenobe──
"Aku percaya padamu, Tachibana-san..."
Waktu terasa berhenti.
Dalam kesunyian dingin dan sepi itu, aku gemetar sambil mencengkeram ponsel sekuat tenaga seolah ingin menghancurkannya.
※
──Sudut Pandang Sekretaris Jenderal Ugaki──
Di dalam mobil, aku membaca laporan yang dikirim Kuroi.
Sejak Ai mulai menyelidiki informasi mengenai Eiji-kun, semua hasilnya juga langsung diteruskan kepadaku.
Kalau dia mencoba mengambil risiko berbahaya, aku berniat menghentikannya secara paksa dan mengambil alih semuanya sendiri.
Tapi Ai mengumpulkan informasi dengan sangat cerdik.
Kurasa tujuan kami memang sama.
Haruskah aku bilang "sesuai dugaan"? Tindakan putriku membuatku sangat sadar akan hubungan darah kami.
Jadi pemicu kehancuran pasangan teman masa kecil yang melibatkan putra keluarga Kondou di masa SMP juga adalah ketua klub Tachibana.
Terlalu sempurna untuk disebut kebetulan.
Orang-orang di sekitar Tachibana selalu terlibat dalam berbagai insiden, sementara dia sendiri hanya menontonnya dari jauh.
Namun pengamat sekaligus kandidat dalang itu sekarang sedang terpojok. Kalau dipikir normal, dia pasti sudah tidak mampu membuat keputusan dengan tenang.
"Menutup semua jalan keluar, lalu menekannya secara logis dan sistematis hingga panik. Itulah langkah terbaik."
Saat seseorang panik, kesalahan yang seharusnya tampak jelas justru terlihat seperti ide cemerlang, lalu mereka mulai bertindak gegabah.
Dan jika banyak orang di sekitarnya sudah dalam keadaan tak terkendali, kegilaan akan menyebar dengan cepat.
Orang yang panik sangat mudah diarahkan.
Mengendalikan orang lain dengan licik lalu menciptakan papan permainan yang menguntungkan diri sendiri.
Instruksi Ai juga kemungkinan besar mengarah ke sana.
Sungguh menyedihkan bahwa bakat menjijikkan ini diwariskan kepadanya...
Namun untuk sekarang, aku akan memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Kuroi adalah mantan pejabat kepolisian pusat. Dia pernah bertugas di kepolisian daerah ini, jadi koneksinya luas.
Kalau menggunakan namaku, mengatur pertemuan dengan putra anggota dewan Kondou bukanlah hal sulit.
Perangkap sudah dipasang.
Dan perangkap itu akan meledak besok.
Setidaknya, mereka harus menebus tanggung jawab karena telah menyakiti peninggalan terakhir sahabatku.
Melindungi Eiji-kun adalah bentuk penebusan dosa kecil dariku.
※
──16 September・Sudut Pandang Eri Ikenobe──
Keesokan harinya. Aku datang ke dekat kantor polisi sesuai waktu yang diberitahukan.
"Ikenobe-san!"
Detektif swasta itu segera memanggilku. Untuk sementara aku merasa lega. Bagaimana kalau dia tidak datang? Bagaimana kalau semuanya bohong? Karena ini harapan terakhirku, aku terus merasa cemas.
"Hari ini tolong bantuannya."
Aku membungkuk seformal mungkin.
"Ya, tentu saja. Lewat sini. Kita masuk dari pintu belakang."
Dengan gerakan yang sudah terbiasa, dia menuju pintu belakang kantor polisi. Beberapa polisi melihat dirinya dan diriku, lalu memberi hormat sambil menyambut kami.
Tak lama kemudian mereka kembali bekerja seolah tak terjadi apa-apa.
Dia berjalan menuju ruang kunjungan sel tahanan seolah punya akses bebas. Padahal dia bukan polisi, tapi terlihat sangat terbiasa.
"Saya ini mantan polisi. Karena itu saya bisa melakukan hal seperti ini."
Menyadari keherananku, dia menjelaskan begitu.
"Tolong tunggu di sini sebentar lagi. Kondou-kun akan segera datang."
Aoyama-san berkata demikian lalu menunggu di belakang ruangan.
Aku menunggu dengan gelisah, bertanya-tanya kapan dia akan datang.
Sekitar lima menit kemudian, pintu di balik sekat kaca terbuka.
Perlahan Kondou-kun masuk ke dalam. Padahal tidak terlalu lama sejak terakhir kali aku melihatnya, tapi wajahnya tampak sangat kurus dan lelah.
"Eri!? Kenapa kau ada di sini. Kau datang menemuiku?"
Sepertinya dia tidak tahu kalau aku ada di sini. Dia masuk sambil menunduk, lalu wajahnya langsung cerah. Lucu sekali. Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan orang yang kucintai.
"Iya. Sebenarnya ada orang baik yang membantuku. Jadi aku diberi izin khusus untuk bertemu denganmu."
"Begitu ya. Begitu! Terima kasih. Aku benar-benar merasa sendirian selama ini, jadi aku senang sekali."
Kata-katanya yang begitu rendah hati, sesuatu yang jarang kulihat darinya, sedikit membuatku terharu.
"Kamu baik-baik saja? Mereka nggak memperlakukanmu dengan kasar?"
"Mereka memperlakukanku dengan buruk terus. Padahal aku ini seharusnya manusia terpilih, tapi polisi memperlakukanku seperti penjahat."
Kasihan sekali. Kondou-kun yang biasanya selalu penuh percaya diri terlihat mengecil sekarang.
Harga dirinya terluka sampai dia kehilangan jati dirinya.
"Tidak apa-apa. Meskipun semua orang jadi musuhmu, setidaknya aku akan tetap berada di pihakmu."
Kami saling mengangkat tangan di balik kaca. Aku ingin sedikit saja merasakan suhu tubuhnya, tapi yang terasa hanya dinginnya benda tak bernyawa.
"Benar juga. Aku masih punya bakat sepak bola. Setelah keluar dari sini, aku akan bermain sepak bola lagi…"
Seolah berpegang pada harapan terakhirnya, dia mulai bicara semakin cepat.
"Iya… benar ya."
Tapi aku tahu kenyataannya. Karena itu aku hanya bisa menjawab dengan suara tak tegas.
"Ada apa? Eri juga tahu kan bakat sepak bolaku?"
Melihat dirinya yang begitu menyedihkan, aku tak bisa mengatakan apa pun.
Namun tiba-tiba detektif swasta itu memotong pembicaraan dan memaksakan kenyataan padanya.
"Biar aku yang menjelaskan. Ikenobe-san pasti sulit mengatakannya."
"Siapa kau!?"
"Kondou-kun. Klub sepak bola akan dibubarkan. Rekomendasimu sudah resmi dicabut… dan karena kemungkinan besar kau juga akan dikeluarkan dari sekolah, kau tidak akan bisa kembali ke dunia sepak bola lagi."
Mendengar kata-kata itu, wajahnya terlihat seperti dunia telah berakhir.
"Hah? Bohong. Soalnya aku ini pria yang akan menjadi harta karun sepak bola Jepang—"
"Sudah waktunya kau melihat kenyataan."
Sambil menghela napas, detektif swasta itu keluar dari ruangan.
"Bohong… bohong… bohoooogggggg!!"
Jeritan histeris menggema di ruang kunjungan yang sempit.
Aku tak tahan lagi, lalu mengatakan hal itu.
"Hei, Kondou-kun. Aku juga sudah kehilangan semuanya. Kamu juga merasakannya, kan? Jadi… mau mati bersama denganku?"
Dengan suara dingin penuh keputusasaan yang belum pernah keluar sebelumnya, aku tersenyum padanya. Dia menatapku seperti sedang melihat hantu.
※
──Sudut Pandang Kondou──
"Apa yang kau katakan, Eri? Bahkan sebagai bercanda pun hal seperti itu…"
Matanya tidak tersenyum. Tatapannya dingin, seolah cahaya di matanya telah lenyap. Aku bisa merasakan kalau dia sudah putus asa terhadap segalanya.
"Bercanda? Mana mungkin aku mengatakan hal seperti ini sebagai bercanda. Aku sudah menyerahkan keluarga, teman, dan masa depanku untukmu. Kau kehilangan keluarga, bakat masa depan, dan sekolahmu. Bukankah kita benar-benar cocok sekarang? Kita berdua sudah tidak punya apa-apa lagi."
"Tidak, aku belum kehilangan semuanya. Aku masih punya bakat sepak bola. Para pengacara bilang semuanya sudah selesai, tapi aku masih punya sesuatu untuk kupegang. Aku tidak bisa berakhir di tempat seperti ini. Aku… aku… aku… tidak akan pernah mengakui kalau hidupku berakhir di sini!"
Eri menggelengkan kepalanya seperti boneka rusak.
"Begitu ya. Tapi dengar, Kondou-kun? Setelah semua jadi sebesar ini, memangnya masih ada orang yang mau bermain sepak bola bersamamu? Sepak bola itu nggak bisa dimainkan sendirian. Kamu belum benar-benar memahami pahitnya kenyataan. Mulai sekarang, kamu ditakdirkan hidup sendirian selamanya. Sama sepertiku. Kamu dijatuhkan ke dunia gelap yang hanya berisi kesepian dan menunggu kematian. Kondou-kun yang selama ini hidup di dunia gemerlap pasti nggak akan bisa hidup seperti itu. Jadi, setelah keluar dari sini, ayo mati bersama saja. Lebih baik semuanya diakhiri di sini."
Suaranya datar dan dingin tanpa emosi. Meski terhalang kaca, tubuhku mulai gemetar karena ketakutan.
"Jangan seenaknya memutuskan begitu! Aku masih punya banyak hal. Aku berbeda denganmu!"
Dengan gemetar aku memaksakan suaraku keluar. Gadis di depanku menampilkan senyum mengejek.
"Contohnya?"
Eri perlahan berubah menjadi wujud dari kecemasan masa depanku sendiri.
Aku harus menyangkalnya dengan keras…
"Bukan cuma kau yang menyukaiku. Masih banyak perempuan lain. Jangan samakan aku denganmu yang nggak punya apa-apa selain diriku. Aku tidak boleh mati!"
Suaraku menggema keras di ruangan itu. Gadis biasa pasti akan terkejut, tapi Eri malah terus berbicara dengan tatapan menghina.
"Begitu ya. Soalnya masih ada cewek yang dekat denganmu seperti Tachibana-san atau Amada-san."
Aku tidak mengerti kenapa dua nama itu muncul.
Eri adalah wanita yang nyaman untuk dimanfaatkan. Demi mempertahankan posisi nyamannya itu, aku sengaja tidak pernah membicarakan perempuan lain di depannya. Tapi…
"Kenapa kau tahu nama-nama itu…"
Setelah mendengar kata-kataku, Eri tersenyum lebar dengan kulit pucatnya yang tampak sakit-sakitan.
"Sekarang semuanya tersambung."
Dia bergumam kecil begitu.
"Aku tahu semuanya. Bahkan sejak kita masih pacaran, kau sudah selingkuh diam-diam dengan Tachibana-san. Dan juga kalau Amada Miyuki adalah perempuan yang benar-benar kau cintai."
"Hei, Eri. Siapa yang memberitahumu soal Tachibana? Kenapa kau bisa tahu itu?"
Kalau soal Miyuki, mungkin karena sedang jadi pembicaraan di sekolah…
"Jadi kau tidak menyangkalnya ya."
Dengan senyum penuh amarah di balik ejekannya, dia berdiri untuk pergi menuju pintu keluar.
Sial. Aku sadar kalau aku baru saja menggali kuburanku sendiri, lalu buru-buru mencoba mengelak.
"Tidak. Aku nggak tahu siapa yang menanamkan itu padamu, tapi aku nggak punya hubungan seperti itu dengan Tachibana. Percayalah padaku."
"Sudahlah, Kondou-kun. Sekarang aku sudah mengerti semuanya."
Saat menoleh ke belakang, dia bergerak kaku seperti robot yang kehilangan emosi.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Dengan suara penuh kebencian, dia pergi meninggalkanku.
※
──Sudut Pandang Kuroi──
Sebenarnya, aku sudah memasang alat penyadap di pakaian Eri Ikenobe. Kupikir kalau aku ada di sana, mereka tidak akan berbicara jujur, jadi aku sengaja keluar. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau pembicaraan mereka akan sampai pada rencana bunuh diri bersama.
Rencana awalnya adalah membuat Kondou terguncang secara tidak langsung melalui Eri, lalu memancingnya untuk mengungkap hubungan-hubungan tersembunyi. Tapi ternyata semuanya berjalan jauh lebih baik dari dugaan.
Untuk sementara, Eri perlu diawasi. Ugaki-sama tidak menginginkan adanya korban jiwa. Aku memberi instruksi kepada mantan bawahanku yang menunggu di luar untuk memperketat pengawasan terhadap Eri Ikenobe.
Dilihat dari alur pembicaraannya, kemungkinan dia bunuh diri memang rendah, tapi tetap lebih baik berjaga-jaga.
"Tapi dengan ini, dugaan kedua orang itu hampir terbukti sepenuhnya. Kondou dan Tachibana memang terhubung."
※
──Sudut Pandang Miyuki──
Aku bahkan tidak bisa mati, juga tidak bisa meminta maaf. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu hukuman dijatuhkan kepadaku.
Sudah tidak ada keselamatan di mana pun. Kebahagiaan itu sudah kuhancurkan sendiri. Tak ada siapa pun di rumah. Kesepian perlahan menggerogoti hatiku. Aku putus asa karena bahkan tak bisa melarikan diri lagi dari penderitaan ini.
Aku mengerti apa yang dikatakan Takayanagi-sensei. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana.
Karena semua ini memang salahku, tidak ada yang bisa kulakukan. Dan rasa putus asa itu terus menekan hatiku.
Aku mengurung diri di kamar lalu tanpa sadar melihat sekeliling. Sisa-sisa masa bahagiaku kini menusuk hati seperti senjata tajam.
Di kamarku ada banyak kenangan bersama Eiji.
Kartu remi yang kami mainkan bersama.
Purikura pertama yang kami foto bersama.
Foto-foto saat upacara masuk sekolah, kelulusan, dan perjalanan sekolah.
Hadiah Natal yang kami tukarkan setelah menjadi sepasang kekasih.
Kaleng lucu bekas tempat manisan hadiah balasan White Day darinya.
Aku harus membuang semuanya. Barang-barang kenangan dari masa ketika aku benar-benar bahagia kini justru menyiksaku. Aku membuka laci meja.
Di sana masih tersimpan simbol dosaku, persis seperti hari itu.
"Hadiah ulang tahun yang seharusnya kuberikan pada Eiji… pada akhirnya aku bahkan tidak bisa memberikannya."
Saat melihatnya, air mataku meluap.
Kenapa waktu itu aku mengatakan hal sekejam itu?
Yang seharusnya dimarahi adalah aku. Tapi hanya karena Eiji panik lalu memegang pundakku, aku malah menjebak lelaki selembut dirinya dengan tuduhan palsu. Semua demi melindungi diriku sendiri…
Baru setelah kehilangan, aku menyadari betapa besar keberadaannya bagiku. Rasa kehilangan itu terus membesar. Sampai kapan perasaan ini akan terus membesar? Rasa sakit tumpul seolah separuh tubuhku direnggut paksa. Hatiku menjerit.
Aku membuka buku harian.
Buku harian rahasia yang selalu kutulis sampai sebelum aku mulai berselingkuh.
Setelah mulai berselingkuh, aku tidak sanggup menulis lagi.
Kurasa aku memang melarikan diri.
Halaman hari ketika Eiji menyatakan perasaannya padaku. Ada bekas berkali-kali kubaca ulang.
Aku seharusnya terus membuka halaman itu sambil merasa bahagia selamanya.
Di halaman itu, diriku di masa lalu yang mabuk kebahagiaan memenuhi tulisan dengan mimpi dan harapan.
[Eiji menyatakan perasaannya padaku. Akhirnya kami menjadi sepasang kekasih. Bahagia sekali. Aku ingin terus hidup bersamanya selamanya. Kalau begitu, kami pasti akan bahagia. Setelah lulus SMA, menjadi dewasa, bahkan sampai menjadi nenek nanti, hari ini akan tetap menjadi hari istimewa. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Aku ingin terus bersama dan hidup bahagia dengannya selamanya.]
Aku membaca tulisan itu sambil merasa seperti diriku di masa lalu sedang menghakimiku. Air mataku tidak berhenti.
Diriku waktu itu percaya kalau harapan itu pasti akan terkabul.
Tidak. Kalau saja aku tidak menghancurkan kebahagiaan itu sendiri, harapan ini pasti akan terwujud.
Kenangan sejak kecil bermunculan satu demi satu.
Eiji yang mengajakku keluar saat aku terpuruk karena ayah pergi.
Kenangan membuat mahkota bunga bersama di ladang bunga. Padahal Eiji mungkin sebenarnya tidak tertarik, tapi dia tetap membuatnya demi menemaniku.
Demi menghiburku…
Dia selalu melindungiku. Tak peduli berapa banyak teman sekelas menggosipkan dan mengejek kami, dia tidak pernah melepaskan tangan yang melindungiku. Dan sekarang aku sangat menyadari betapa luar biasanya itu.
Banyak kenangan berharga terus mengalir dalam pikiranku. Saat SMP aku bahkan membuat cokelat Valentine khusus untuk Eiji dan memberikannya diam-diam… semuanya, semuanya…
Seharusnya itu kenangan berharga… tapi kenapa malah terasa begitu menyakitkan?
Kenapa semakin kuingat, semakin menyakitkan…
Lalu Natal tahun lalu.
Taman penuh kenangan itu. Kami terbawa suasana kota yang ramai hingga sedikit merasa seperti sedang berada di festival.
Kami berdua saling sadar mungkin sesuatu akan terjadi, dan mengingat bagaimana kami saling melirik dengan gugup.
Padahal jelas-jelas kami saling mencintai… tapi kami tidak bisa melangkah maju.
Karena hubungan kami sudah melampaui sekadar kekasih dan hampir seperti keluarga, justru kami takut melangkah lebih jauh. Bagaimana kalau hubungan kami rusak hanya karena dorongan kecil? Kalau kami menjadi kekasih, kami pasti tak akan bisa kembali ke hubungan seperti sekarang lagi.
Meski jalan menuju kebahagiaan ada tepat di depan mata, aku terlalu takut untuk melangkah.
Kalau dia menyatakan perasaannya, aku pasti akan menerimanya. Jadi Tuhan, kumohon…
Dan harapan itu segera terkabul.
"Miyuki… aku sudah lama menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?"
Kata-kata sederhana yang sangat khas Eiji.
Seolah waktu dunia berhenti sesaat, keheningan menguasai segalanya. Lalu aku segera tersadar kalau ini bukan mimpi.
Bibirku bergerak sendiri. Tapi itu adalah kata-kata yang selama ini kuinginkan.
"Iya. Aku juga sudah lama menyukai Eiji."
Pandangan mataku langsung kabur. Meski mencoba menahan, air mata tidak berhenti.
Mungkin itulah saat paling bahagia dalam hidupku. Dan kebahagiaan sebesar itu tidak akan pernah datang lagi padaku.
Setelah itu kami dirayakan di Aono Kitchen. Ibunya juga ikut senang untuk kami.
Masa yang begitu bahagia itu sekarang menyerangku seperti kutukan.
Kenapa ya? Semakin jauh aku darinya, semakin aku sadar betapa bahagianya diriku dulu.
"Aku ingin kembali. Aku sangat mencintai Eiji… bahkan sekarang pun aku masih mencintainya…"
Aku tidak akan salah lagi. Jadi, jadi…
Harapan itu hancur begitu mudah, dan aku ditarik kembali ke pagi kenyataan. Bahkan untuk jatuh tersungkur pun aku sudah tidak punya tenaga.
Hari setelah dia menyatakan cinta, dan hari-hari sesudahnya, aku menikmati kehidupan yang begitu bahagia.
Berangkat sekolah pertama sebagai pasangan.
Mampir bersama sepulang sekolah untuk pertama kali.
Belajar ujian bersama untuk pertama kali.
Bahkan hari-hari biasa seperti itu pun terasa bersinar. Kenapa aku bisa melupakannya ya. Bodohnya aku.
Saat aku menangis tersedu-sedu, bel rumah berbunyi.
Sepertinya ada tamu datang.
Dengan takut-takut aku melihat monitor interkom. Di sana berdiri seorang wanita berkulit pucat seperti orang sakit dengan mata kosong.
Aku mengenali wajah itu. Siswi kelas tiga. Aku pernah mendengar dari dia kalau wanita itu adalah mantan pacarnya.
Kenapa dia ada di sini? Bagaimana dia tahu alamat rumahku?
Rasa takut menyerangku.
"Tolong buka pintunya. Aku ingin bicara soal Kondou-kun. Tolong buka. Dasar perebut pacar. Padahal kau sudah merebut dia dariku. Kenapa yang dipilih justru kau, bukan aku yang sudah mengorbankan semuanya?"
Aku ketakutan. Dia menggedor pintu dengan suara keras.
"Tolong hentikan… aku takut."
Aku akhirnya berhasil bersuara lewat interkom. Mendengar suaraku, wanita itu langsung menangis terpuruk di depan pintu.
"Pada akhirnya kau juga sama saja denganku. Aku dengar kau mengkhianati teman masa kecilmu lalu memilih Kondou-kun. Sama sepertiku. Sama. Sama. Sama. Tapi aku tidak sekejam dirimu. Kau menjebak teman masa kecilmu dengan tuduhan palsu lalu memicu perundungan terhadapnya. Iblis. Iblis. Iblis."
Sambil terus mengulang kata-kata itu, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu lalu menatapku sambil tertawa.
Seolah ada sesuatu dalam dirinya sebagai manusia yang telah hancur… tidak, seolah telah dihancurkan.
"Aku selalu membencimu. Karena bukan aku yang sudah mengorbankan semuanya, tapi kau yang tiba-tiba muncul dan menerima kasih sayangnya. Aku terus bertanya-tanya kenapa harus kau. Tapi sekarang aku mengerti. Aku sudah mengerti semuanya."
Tanpa sadar aku malah memintanya melanjutkan.
"Apa yang kau mengerti?"
Mendengar pertanyaanku, dia tersenyum senang.
"Kalau kau juga sama. Pada akhirnya kau juga sama sepertiku. Kita cuma dipermainkan. Lucu ya. Kita ini cuma mainan. Kalau sudah membosankan ya dibuang. Penulis skenarionya sudah menentukan semuanya sejak awal."
"Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Fufu, tentu saja kau belum mengerti. Tapi tidak apa-apa untuk sekarang. Kau akan segera mengerti. Beratnya dosa atas semua yang telah kau lakukan perlahan akan menyerangmu. Hatimu akan terus terkikis, dan kau akan sadar kalau kau berada di tempat yang bahkan jika ingin kembali pun sudah tak bisa. Kau akan terus menderita. Aku ini adalah dirimu beberapa tahun di masa depan. Lihat baik-baik ya. Akhir tragis kita semua. Ini juga balas dendamku terhadapmu."
Keheningan berat memenuhi udara.
Dia menunduk, menarik napas, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Tunggu!"
Tanpa sadar aku berlari menuju pintu depan. Tapi aku terlambat.
Beberapa ibu-ibu tetangga menatapku dengan pandangan aneh. Meski mulut mereka tertutup, rasanya seperti mereka sedang menertawakanku, dan aku buru-buru kembali masuk ke dalam rumah.
※
──Sudut Pandang Eri Ikenobe──
Aku sudah mengerti semuanya. Tidak ada bukti. Tapi, aku tidak membutuhkan bukti.
Aku sudah kehilangan segalanya, jadi tidak ada lagi yang perlu kutakuti.
Kondou-kun juga akan kehilangan semuanya, termasuk sepak bolanya. Kalau begitu, aku harus membebaskannya. Kalau dia, dia tak akan sanggup menghadapi neraka setelah ini……
Kalau begitu, akulah yang harus mengakhirinya. Itulah cintaku.
Dan wanita itu juga. Wanita yang dengan niat jahat yang jelas telah menghancurkan hubungan antara aku dan Kazuki.
Dia telah menghancurkan masa depan cemerlang miliknya, jadi dia juga harus membayar harga yang setimpal, bukan?
Mari bersiap. Bersiap untuk mengakhiri semuanya……
※
──Sudut Pandang Ugaki──
Aku mendapat kabar dari Kuroi.
Jadi benar, Kondou dan ketua klub sastra Tachibana memang saling terhubung.
"Kuroi. Bagaimana keadaan Ikenobe? Kurasa mentalnya sudah sangat terpojok."
"Itu sudah kami tangani. Kami memasang pengawasan ketat padanya. Tadi sepertinya dia sempat bertemu dengan Amada Miyuki."
Aku juga membaca laporan tentang itu. Rasanya dia sudah dibutakan oleh keinginan balas dendam. Tapi, kalau dia bilang semuanya aman, seharusnya tidak masalah.
"Begitu ya. Lalu bagaimana dengan penyelidikan polisi? Ada perkembangan?"
"Anggota dewan kota Kondou tampaknya tetap bungkam. Mentalnya sudah tertekan dan katanya dia mulai memberikan kesaksian yang tidak masuk akal. Selain itu, dia tampaknya ketakutan kalau dirinya akan dibunuh."
Siapa juga yang mau melakukan hal berisiko seperti itu? Aku sampai tercengang sendiri. Sepertinya dia benar-benar menganggap dirinya tokoh besar. Dari caranya menyebut diri sebagai golongan elite saja sudah terlihat betapa rendah seleranya.
"Seperti dugaanku, dia memang lemah kalau berada di pihak yang bertahan. Kalau putranya?"
"Saat ini mereka sedang menyaring siswa-siswa yang terlibat. Ada satu bagian mencurigakan di data ponselnya, jadi sedang diperiksa oleh ahli. Tampaknya ada jejak penghapusan data untuk menutupi sesuatu, dan kemungkinan besar bagian mencurigakan itu adalah……"
"Bukti penentu bahwa Kondou dan Tachibana saling terhubung."
Mendengar perkataanku, Kuroi menambahkan,
"Aku sudah meminta mantan bawahanku menghubungi jika menemukan sesuatu. Begitu ada kabar lanjutan, aku akan segera melapor."
"Ya, terima kasih."
Kuroi melanjutkan dengan nada sulit bicara.
"Tapi, apakah tidak apa-apa memberi informasi ini pada nona muda? Dalam kasus ini, beliau sedang mengambil langkah yang cukup berbahaya……"
Kalau orang biasa, tentu akan berpikir begitu.
"Kalau Kuroi tidak memberitahunya, Ai pasti akan mulai bergerak sendiri. Kalau itu terjadi, kita tak akan bisa mengendalikannya lagi. Kalau begitu, lebih baik Kuroi berada di dekatnya. Maaf, waktuku bertemu Perdana Menteri sudah tiba. Aku tutup teleponnya dulu."
※
Aku dipanggil Perdana Menteri dan memasuki kantor pemerintahan. Padahal sekarang bukan waktunya melakukan hal seperti ini.
"Ugaki-kun. Maaf memanggilmu mendadak."
Nada bicara yang jarang terdengar rendah hati. Suaranya juga terdengar lelah.
Wajar saja. Skandal anggota dewan kota Kondou terus muncul siang malam, dan rumor bahwa uang gelapnya mengalir sampai ke pusat mulai menyebar liar. Bisa jadi minggu depan majalah mingguan akan menerbitkan berita sensasional lagi.
Terutama masalah perundungan yang disebabkan putra Kondou juga sangat besar. Di masyarakat internet yang sensitif terhadap isu perundungan, rekaman suara dan video yang begitu nyata telah menyebar luas, membuat kasus ini bukannya mereda malah semakin membesar. Ditambah lagi skandal politik.
Dengan begini, rasanya akhir dari semua ini masih belum terlihat.
"Anda tampak sangat lelah, Perdana Menteri."
Sampai aku sendiri merasa geli karena bisa mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak tulus itu.
"Ah, memang begitu. Kasus anggota dewan kota Kondou benar-benar merepotkan. Kalau berita tak berdasar itu dijadikan skandal besar, pemilihan daerah serentak nanti bisa terkena dampaknya. Kalau begitu, posisiku juga akan goyah."
Dengan kata lain, dia seperti mengakui sendiri kalau memang ada sesuatu yang mencurigakan. Apa dia sangat mempercayaiku? Atau ini cuma gertakan?
"Ya. Dari pihakku juga merasa semuanya harus segera diredakan."
Kalau tidak, Eiji-kun akan berada dalam posisi yang menyakitkan.
Mendengar itu, Perdana Menteri mendengus kecil. Dalam senyum sinisnya seolah tersirat ejekan, "Bukankah hanya dirimu yang reputasinya naik karena konferensi pers itu?"
"Tolonglah. Hanya kau yang bisa kuandalkan. Kalau perlu uang, tak masalah memakai dana rahasia sekalipun."
Meski sikapnya seburuk itu, dia tetap melemparkan masalah berat kepadaku.
"Ya, akan kuusahakan semampuku."
Perdana Menteri menuangkan wiski dari decanter lalu menyerahkannya padaku.
Aku mencium aromanya. Unsur tong mizunara dan tong anggurnya kuat sekali. Single malt produksi dalam negeri, ya.
"Aku berterima kasih padamu. Pada reshuffle kabinet berikutnya, faksimu akan kuperlakukan lebih baik."
Pada akhirnya itu cuma janji kosong. Di kota ini, janji seperti itu tidak berarti apa-apa.
"Terima kasih. Aku menantikannya."
Belakangan ini rasanya hati dan mulutku seperti makhluk yang berbeda.
Aku menyesap minuman itu. Rasa pahit seperti milk caramel dan buah kering dengan sensasi sepat seperti wine menyebar di dalam mulutku.
"Wiski dari daerah pemilihan Anda?"
Perdana Menteri tertawa kecil.
"Kau benar-benar tahu ya."
Sambil berkata begitu, aku menatap dingin sosok penguasa yang memasukkan es ke gelasnya sendiri.
Kalau melakukan itu, aroma tong wine yang bagus itu jadi tidak terasa lagi. Pada akhirnya, dia cuma pria kelas segini.
Jamuan minum yang membosankan, tapi aku jadi mengetahui sesuatu yang cukup menarik. Pria kecil di depanku ini ternyata sangat panik.
Anggota dewan kota Kondou masih punya nilai guna. Selanjutnya mungkin aku akan mengguncang Tachibana. Tidak… kalau laporan itu sudah sampai ke Ai, kemungkinan besar putriku sudah mulai bergerak.
※
──Sudut Pandang Tachibana──
Ponselku terus berdering sejak tadi.
Saat kulihat, selalu nomor anonim. Karena takut pada kegigihan itu, aku terus mengabaikannya. Aku sempat berpikir untuk mengaktifkan penolakan panggilan anonim, tapi firasatku menolaknya.
"Harus bagaimana……"
Kalau telepon ini berkaitan dengan Kondou-kun dan hal-hal yang melibatkanku, mengabaikannya adalah langkah buruk. Mungkin saja ini polisi.
Atau pengkhianat dari klub sastra. Apa ada seseorang yang menyadarinya? Mungkin Eiji-kun? Atau Amada Miyuki?
Yang pasti, orang di balik telepon ini jelas memiliki permusuhan terhadapku. Dengan tangan gemetar, aku mengangkat ponsel.
"Selamat malam, Tachibana-san. Maaf menghubungi Anda secara mendadak."
Terdengar suara mesin. Mungkin seseorang memakai pengubah suara.
Bahasanya sangat sopan. Tapi aku bisa merasakan ketegangan seolah dia sedang waspada terhadapku.
"Siapa kau?"
"Aku tidak bisa menyebutkan namaku. Tapi ada sesuatu yang harus kusampaikan."
"Seenaknya saja. Aku tutup teleponnya. Dari mana kau tahu nomorku?"
Meski aku bersikap menekan, wanita itu tetap berbicara dengan suara dingin dan tenang.
"Baiklah. Kalau begitu sebelum telepon ditutup, izinkan aku mengatakan satu hal saja. Aku tahu segalanya."
Jantungku berdegup keras. Rasanya sesak seperti waktu berhenti.
Apa yang dia tahu? Bahkan kata-kata itu tak bisa keluar dari mulutku. Dengan cara seheboh ini, jelas ada maksud tertentu. Tapi kalau lawan sedang merekam percakapan ini, aku harus berhati-hati.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."
"Begitu ya. Kalau begitu izinkan aku bicara sepihak. Aku sudah mendapatkan bukti bahwa Anda terhubung dengan Kondou. Kasus perundungan terhadap Aono Eiji kali ini. Andalah yang mengendalikan semuanya. Benar, bukan?"
Bagaimana dia tahu aku terhubung dengan Kondou-kun? Bukti? Itu bohong. Tidak mungkin ada. Tidak mungkin bisa ditemukan. Meski hampir meledak marah, aku berusaha tetap tenang.
"Apa yang kau bicarakan? Itu fitnah. Tidak mungkin aku sengaja merundung junior yang lucu begitu. Memang kami lemah dan tidak bisa mempercayainya. Tapi bukan berarti seperti itu. Semua itu dilakukan klub sepak bola dan Amada Miyuki atas kehendak mereka sendiri!"
Suaraku gemetar karena takut.
"Begitu ya. Kalau begitu bagaimana kalau kukatakan aku juga tahu tentang Endou-san dan Ikenobe-san?"
Serangan datang dari arah yang tak terduga.
Kenapa nama itu muncul? Jangan-jangan teman sekelas SMP? Tidak, selain Ikenobe-san, tidak ada siswi lain dari SMP kami yang masuk sekolah yang sama. Kalau begitu siapa wanita di balik telepon ini?
"Itu nama teman SMP-ku, tapi kenapa tiba-tiba? Siapa sebenarnya kau? Jangan seenaknya menjadikanku penjahat. Semua itu tidak benar."
Pokoknya aku harus terus berpura-pura tidak tahu. Menyangkal semuanya dan terus melarikan diri.
"Kenapa Anda melakukan hal seperti itu? Karena iri? Karena rasa penasaran? Atau karena ingin merasa superior? Menginjak-injak perasaan tulus seseorang dan menghancurkan masa depan junior berbakat……"
Kata-kata itu seperti ucapan dewa kematian yang bisa melihat semuanya.
"Sudah kubilang bukan begitu!"
"Kurasa memang kita tidak akan bisa saling memahami. Tapi justru syukurlah kita tidak bisa saling memahami."
"Ya, aku juga berpikir begitu. Wanita yang tidak sopan. Kalau kau bilang aku pelakunya, bawalah bukti yang jelas."
"Baiklah. Aku akan menghakimi Anda. Pasti."
"Coba saja. Meski kurasa itu usaha yang sia-sia."
Aku benar-benar ingin membanting ponsel itu ke tempat tidur.
"……Kasihan sekali. Anda tidak bisa menyamai Aono Eiji."
Di akhir percakapan, wanita itu meninggalkan kata-kata yang paling tidak ingin kudengar.
Setelah telepon terputus, darahku mendidih.
"Diam………"
Aku dengan kasar mengambil piagam penghargaan lomba sastra yang selama ini kuanggap simbol bakatku, lalu merobeknya.
Dan setelah melakukannya, yang tersisa hanyalah penyesalan yang tak tertolong. Rasanya seperti sedang menaiki tiang eksekusi, keputusasaan menyerangku.
※
──Sudut Pandang Ai──
"Huu……"
Panggilan telepon selesai dan tanpa sadar aku menghela napas.
Tapi dari telepon ini, aku jadi mengerti seperti apa pribadi Ketua Tachibana.
Seseorang yang percaya pada bakatnya sendiri. Dan aku juga tahu dia telah kehilangan itu. Karena itulah dia jadi begitu agresif.
Pada akhirnya dia memang iri pada bakat bernama Aono Eiji. Karena itulah provokasiku sangat efektif.
—"Anda tidak bisa menyamai Aono Eiji."
Perkataanku itu tulus. Aku sampai meminta majalah klub sastra mereka dan membaca karyanya.
Memang novel yang menarik. Tapi tetap saja tidak bisa menyamai Aono Eiji. Aku sengaja menusuk bagian yang pasti dia sadari sendiri. Dan benar saja, dia terlihat terguncang.
"Dengan ini, pihak sana pasti akan mulai bergerak. Perketat pengawasannya."
Kuroi mengangguk. Dengan penyelidikan yang mulai mengarah ke klub sastra, wajar kalau dia panik.
Setelah dihadapkan pada kenyataan seperti ini, dia pasti tidak punya pilihan selain bergerak. Apalagi jika ada wanita anonim yang hampir mencapai kebenaran, dia pasti harus mengambil tindakan.
Artinya, dia akan dipaksa bertindak gegabah. Kami berhasil menancapkan paku penahan, dan kendali sepenuhnya ada di pihak kami sekarang. Dia yang selama ini bermain sebagai dalang dan hanya menonton dari atas, untuk pertama kalinya direbut kendalinya.
※
──Sudut Pandang Tachibana──
Aku tidak bisa tidur.
Kenapa semuanya terbongkar? Dan lagi, oleh wanita tak dikenal itu. Siapa sebenarnya dia?
Apa yang harus kulakukan mulai sekarang? Kalau itu terbongkar, habislah aku juga.
"Yang paling mencurigakan adalah pengkhianat di klub sastra. Kemungkinan lainnya Eri Ikenobe? Amada Miyuki? Atau siswi yang hampir dihukum karena kasus ini. Aku tidak tahu. Semakin kupikirkan, semakin takut rasanya."
Tapi semuanya pasti baik-baik saja. Satu-satunya bukti hanyalah pesan antara aku dan Kondou-kun, dan itu sudah kuhapus. Tidak bisa dipulihkan lagi. Jadi tidak mungkin aku tertangkap.
Meski sudah yakin begitu, kenapa aku tetap sangat takut?
"Tak apa. Aku sudah membuang Kondou-kun. Semua dosa seharusnya bisa dialihkan kepadanya. Kalau penyelidikan sampai ke klub sastra pun, aku tinggal mengorbankan seseorang dan lolos. Aku tidak turun tangan langsung. Jadi pasti masih bisa lolos. Benar. Ada gadis klub sastra yang jelas lebih dekat dengan Kondou-kun daripada aku. Untuk berjaga-jaga, aku bahkan memanfaatkannya untuk mengarahkan Amada Miyuki kepada Kondou-kun. Aku tinggal memanfaatkan itu. Lagi pula, tidak ada bukti, jadi semuanya pasti bisa diatasi."
Aku bergumam sambil gemetar, seolah mencoba meyakinkan diriku sendiri.



Post a Comment