Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Interlude 3
Tanggung Jawab Orang Dewasa
──Sudut Pandang Takayanagi──
Pada Senin siang, tamu tak terduga datang.
Itu adalah ibu dari anggota klub sepak bola, seorang mama pendidikan yang terkenal sebagai petinggi PTA. Normalnya, kepala sekolah yang akan menangani urusan seperti ini, tetapi beliau sedang pergi ke kantor prefektur untuk melaporkan masalah kali ini.
Karena itu, wakil kepala sekolah dan aku yang harus menanganinya.
"Apa maksudnya ini? Anak saya tiba-tiba diskors? Tidak masuk akal. Kenapa tidak ada sepatah kata pun untuk saya?"
Dengan sikap menekan, dia mendesak kami. Suara melengkingnya menggema di ruang tamu sekolah.
"Itu karena putra Anda terbukti terlibat dalam kasus perundungan yang sedang diberitakan…"
Saat wakil kepala sekolah mencoba menjelaskan secara logis, wali murid itu memotongnya dengan amarah.
"Saya anggota komite PTA sekolah ini. Menjatuhkan hukuman tanpa izin apa pun kepada kami adalah tindakan sewenang-wenang dari pihak sekolah. Keributan kali ini jelas menurunkan citra merek sekolah. Rasa keadilan guru-guru yang salah justru merusak citra seluruh sekolah. Apa kalian paham? Ini sama saja seperti pengkhianatan. Saya akan menjadikan ini masalah di PTA. Kalau sampai begitu, kalian tahu kan apa yang akan terjadi pada kalian? Nantikan saja mutasi jabatan berikutnya."
Dia benar-benar menembakkan semua yang ingin dia katakan seperti senapan mesin.
Tanpa sadar, sisi mudaku muncul keluar. Aku bersyukur kepala sekolah dan wakil kepala sekolah sebagai senior berdiri di garis depan menghadapi semuanya.
Tapi…
"Dengan segala hormat, Aida-san."
Tanpa sadar aku membalasnya.
"A-apa?"
Karena mendapat serangan balik yang tak diduga, dia sedikit goyah. Sifat asliku sebagai petaruh yang dulu dijuluki begitu saat masa klub olahraga di sekolah muncul dengan kuat.
"PTA adalah organisasi untuk membantu pertumbuhan sehat anak-anak, benar begitu? Saya pikir sangat tidak pantas jika pihak PTA ikut campur dalam hukuman terkait masalah kali ini."
Begitu mendengar perkataanku, urat di dahinya muncul dan dia meluapkan amarahnya.
"Takayanagi-sensei. Itu ucapan bermasalah. Anda sedang merendahkan kami. Lagi pula, demi melindungi satu murid saja, menghukum begitu banyak murid lain bukankah itu sudah terbalik? Pihak yang dirundung juga punya masalah. Dia pasti melakukan sesuatu yang mencurigakan, kan? Selain itu, murid pelaku juga punya masa depan. Kalau kalian berusaha merebut masa depan cerah murid-murid itu, maka kami harus melawan."
Sepintas terdengar logis, tapi sebenarnya itu hanya emosi yang lepas kendali.
Tidak masalah kalau semuanya berakhir di sini. Dengan tekad itu, aku melanjutkan.
"Itu salah. Sejak awal, kalau kita tidak bisa melindungi satu murid yang tidak bersalah, lalu apa arti pendidikan? Anda bilang pihak yang dirundung juga punya masalah, tapi dalam kasus ini, yang terjadi hanyalah mayoritas memaksakan tuduhan palsu pada satu murid lemah lalu menghakiminya sendiri. Bahkan sampai meninggalkan jejak digital yang mungkin tidak akan pernah hilang seumur hidup. Memang benar para pelaku juga punya masa depan. Tapi bukankah masa depan itu baru bisa ada setelah mereka bertanggung jawab atas perundungan kali ini?"
Atas seranganku, dia membalas dengan histeris.
"I-itu… tapi walaupun begitu, hukuman terhadap begitu banyak murid tidak bisa diakui…"
Dalam situasi seperti ini, yang menyerang lebih dulu akan menang. Terutama tipe seperti dia, kuat saat menyerang tapi lemah saat bertahan.
"Kalau memikirkan tujuan asli PTA, kita tidak bisa membiarkan dosa kali ini begitu saja, benar? Apa membiarkan hal ini akan membantu pertumbuhan sehat para murid? Kalau kita tidak bisa membuat murid sadar bahwa perbuatannya adalah dosa, mereka akan tumbuh dengan cara yang menyimpang. Bukankah itu berarti kita para guru dan kalian para wali murid telah meninggalkan peran asli kita?"
"……"
Perempuan yang tadi begitu penuh semangat itu kini terdiam.
Dan wakil kepala sekolah yang sejak tadi diam akhirnya memberikan pukulan penutup.
"Sayangnya, semua yang ingin saya katakan sudah diwakili oleh Takayanagi-sensei. Meski junior, dia benar-benar pria yang tidak mau memberi muka pada seniornya. Tapi kami mendukungnya. Mungkin Anda berpikir bisa memakai jabatan sebagai petinggi PTA untuk mengancam guru dan kalau beruntung menutupi masalah ini… tapi itu terlalu sombong. Aida-san, orang egois seperti Anda membuat saya muak saat berbicara tentang pendidikan yang sehat."
※
──Sudut Pandang Ibu Aida──
Aku keluar dari sekolah. Aku datang untuk memprotes masalah anakku, tapi tak pernah terpikir aku akan dipermalukan seperti ini.
Kenapa aku harus menerima penghinaan seperti ini? Lagi pula, tak mungkin mereka boleh melontarkan hinaan seperti itu kepada wali murid.
Bukankah aku seharusnya pelanggan bagi sekolah? Tapi mereka malah memperlakukanku seperti penjahat…
"Berisik, nenek tua."
Kata-kata anakku itu tak mau hilang dari kepalaku. Dia selalu jadi anak yang kubanggakan. Sampai SMP nilainya selalu termasuk yang terbaik. Dalam sepak bola yang dia tekuni sejak kecil, dia juga menunjukkan hasil, dan tahun ini bahkan masuk bangku cadangan tim utama.
Dia selalu berkata dengan senang kalau mungkin tahun ini mereka bisa masuk turnamen nasional karena ada senior berbakat luar biasa bernama Kondou di tahun ketiga. Tanpa tahu kalau senior itu orang jahat. Semua salah senior itu.
Katanya ayah Kondou adalah anggota dewan kota, tapi orang itu juga sedang dihujat di internet. Memang cara mendidiknya buruk. Jadi semua ini salah mereka.
Tapi…
Dia ditipu senior klub yang dipercayainya dan pacar senior itu, lalu terseret menjadi kaki tangan perundungan…
Padahal anakku seharusnya korban, tapi malah diperlakukan seperti pelaku. Anakku akan dihukum sekolah? Itu mustahil.
Ini kesewenang-wenangan sekolah. Waktu SD dan SMP mereka menangani semuanya dengan baik.
Tapi kali ini, bahkan saat aku datang memprotes, mereka tak menganggapku sama sekali.
Ini benar-benar aneh.
"Benar juga, kalau begini aku akan menuduh kesewenang-wenangan sekolah di internet. Bagaimanapun juga, perlakuan mereka tadi terlalu keterlaluan, dan kami pihak korban, jadi pasti, pasti…"
Untuk berjaga-jaga, tadi diam-diam aku merekam percakapan itu.
"Benar kan. Kalau aku unggah ini ke SNS, pasti semua orang akan bersimpati dan berpihak pada kami."
SNS tempat orang mengunggah foto dan video.
Aku segera mengunggahnya ke akunku.
『Anak saya terseret dalam kasus perundungan SMA yang sedang menghebohkan publik. Padahal dia hanya ditipu senior-senior jahat. Anak saya korban. Tapi respons pihak sekolah sangat buruk. Ini buktinya. Tolong bantu anak saya dengan kekuatan kalian semua』
※
Sesampainya di rumah, aku langsung memeriksa akun itu. Respons yang datang jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah kulihat.
Benar kan. Aku tidak salah. Dengan dada penuh harapan, aku membuka kolom komentar.
"Eh……"
Reaksi mereka malah mengarah ke arah yang sama sekali berbeda dari harapanku.
『Wakil kepala sekolah dan Takayanagi-sensei keren banget. Argumennya mutlak benar』
『Monster parent dibantai habis logikanya, ahahaha』
『Korban aja masih menderita, tapi ini pertama kalinya aku lihat orang ngomong pelaku juga punya masa depan』
『Pantes anaknya jadi pelaku bullying, ibunya aja monster parent gini』
『Sekolah mungkin agak keterlaluan ngomongnya, tapi mereka benar sih. Katanya korban juga punya masalah, padahal kasus ini ternyata korban fitnah total kan? Korban nggak salah sama sekali』
『Ini baru yang namanya maling teriak maling』
『Jujur aja, aku yang nggak ada hubungan pun muak lihat reaksi si pengunggah』
『Malah jadi pengen nitipin anak ke sekolah kayak gini』
Hampir semuanya menyangkal diriku. Ketakutan, aku buru-buru menghapus unggahan itu.
Sekarang aman kan? Lagi pula jumlah pengikut akunku juga tidak banyak. Sambil menenangkan diri seperti itu, aku mulai menyiapkan makan malam.
『Eh, postingannya buru-buru dihapus?』
『Tenang aja, gambar sama data audionya udah disimpan kok sama aku』
『Ini bakal jadi gelombang besar』
Tanpa pernah menyangka bahwa kali ini justru mereka sendiri yang akan diterpa kebencian internet.
※
──Sudut Pandang Endou Kazuki──
『【Berita Buruk】Monster parent bilang korban bullying juga punya salah, lalu kena hujat』
『Korban juga salah? Melindungi masa depan pelaku? Hari ini kamu nggak berhak ngomong gitu, thread-nya di sini』
『【Arsip tersedia】Orang tua anak pelaku utama bullying. Kena hujat karena logika egois lalu kabur setelah menghapus postingan』
Setelah pelajaran selesai, aku mencari kabar terbaru soal klub sepak bola di internet. Rupanya ibu Aida, yang orang tuanya merupakan bagian dari pasukan pelaksana perundungan, mengancam sekolah dan entah kenapa malah mengunggah data audio itu ke SNS.
Dia dihujat habis-habisan lalu buru-buru menghapus postingannya, tapi semuanya sudah terlambat dan malah jadi menambah bahan bakar.
Karena memakai akun nama asli, identitasnya sudah terbongkar dan situasinya mulai jadi yang terburuk.
"Dia sebenarnya sedang ngapain sih…"
Meski musuh, aku sampai ikut memegangi kepala melihat kebodohan sebesar itu.
Karena blunder besar keluarga Kondou sebelumnya, opini publik yang tadinya sudah condong bersimpati pada Aono kini jadi benar-benar berpihak padanya.
Sepertinya pemulihan nama baik Aono tidak akan lama lagi.
"Ah, sudahlah. Sisanya tinggal jatuh sendiri. Aku lebih baik menyiapkan eksperimen."
Hari ini aku akan fokus membantu pelajaran tambahan Aono. Setelah berkonsultasi dengan guru pembina, kami memutuskan melakukan eksperimen sublimasi yodium. Itu eksperimen yang cukup indah dan menarik.
Untuk berjaga-jaga, kemarin aku juga sudah mengulanginya lewat situs video, dan guru pembina juga akan ikut membantu. Anggota klub juga tidak punya prasangka terhadap Aono, dan setelah mendengar fakta sebenarnya mereka dengan senang hati rela meluangkan waktu klub untuk membantu.
Selain itu, Ichijou-san juga katanya akan ikut. Fakta itu membuat klub kimia kami yang isinya laki-laki semua jadi heboh. Bukan berarti mereka punya khayalan aneh bisa melakukan apa-apa karena sudah jelas dia saling menyukai dengan Aono. Tapi tetap saja, bisa bereksperimen bersama gadis tercantik di sekolah tentu membuat mereka senang.
Aku sendiri juga senang akhirnya bisa membantu Aono secara terbuka seperti ini.
Ngomong-ngomong, dulu yang mendorongku bergabung ke klub saat aku takut pada orang lain karena trauma juga Aono dan Imai. Klub kimia ini kelompok kecil tapi solid, suasananya hangat, jadi sekarang aku bisa berbagi waktu yang tak tergantikan bersama mereka. Gurunya juga seperti kakek baik hati yang sebentar lagi pensiun.
"Permisi. Sensei, aku datang membantu pelajaran tambahan."
Di ruang persiapan eksperimen, sensei sedang menonton acara berita siang di televisi kecil.
"Oh, terima kasih. Aono-kun dan yang lain juga sebentar lagi datang, jadi ayo kita selesaikan persiapannya."
Tapi sepertinya sensei masih memperhatikan televisi.
Beliau tidak kunjung mematikannya.
『Kasus perundungan kali ini pasti akan menjadi model kasus di masa depan. Ini sudah tidak bisa disebut sekadar bullying. Kalau ada kekerasan, itu penyerangan atau penganiayaan. Menyembunyikan barang milik orang lain adalah pencurian. Menghina lewat SNS adalah fitnah dan pencemaran nama baik. Pelecehan seksual bahkan lebih parah lagi. Semua itu jelas merupakan tindak kriminal. Selama ini sekolah mencoba menyelesaikannya sendiri memang sudah tidak realistis』
『Tapi bagi generasi kami, rasanya agak aneh…』
『Memang mungkin begitu. Tapi kenyataannya sangat banyak siswa yang terdorong bunuh diri atau putus sekolah karena bullying. Masyarakat secara keseluruhan perlu mengubah kesadarannya』
Bahkan acara berita siang yang biasanya hanya membahas gosip artis tampaknya sangat memperhatikan masalah ini.
Karena banyak penonton yang punya anak atau cucu, mereka membahasnya panjang lebar. Bahkan ada orang tua yang kehilangan anak karena bullying ikut memberikan komentar.
『Kalau saja ada guru atau teman yang mau berpihak, atau orang dewasa yang mengatakan bullying itu kejahatan, mungkin anak saya tidak perlu mati. Setelah melihat pemberitaan kali ini, saya terus memikirkannya』
Itu terdengar seperti jeritan penuh penderitaan.
Kalau Aono sampai memilih jalan terburuk, aku yakin aku juga tak akan bisa bangkit lagi.
"Endou-kun. Kamu sudah berusaha keras ya."
Guru tua itu mematikan televisi dan berkata lembut tanpa menoleh ke arahku.
"Eh?"
"Saya tidak akan bilang soal apa. Kalau saya mengatakannya, nanti jadi masalah, kan? Tapi, memiliki seseorang yang bisa menemani saat masa tersulit adalah hal yang membahagiakan. Mulai sekarang juga, jagalah hubungan itu baik-baik."
Mendengar kata-kata hangat itu, aku hampir menangis dan menjawab "ya" dengan suara gemetar. Sensei pun menoleh dan tersenyum lembut.
※
──Sudut Pandang Takayanagi──
Tanpa tahu bahwa ibu Aida sedang dihujat di internet, aku datang ke sebuah bar tempat bisa bermain shogi karena diajak kepala sekolah. Sepulang perjalanan dinas, beliau mampir ke sini. Karena beliau tahu hobiku, katanya ingin bicara di sini.
Karena sibuk menangani masalah kali ini, aku hampir tidak punya waktu santai, jadi kepala sekolah mengajakku minum sebagai bentuk perhatian.
"Kalau begitu, bersulang."
Sambil berkata begitu, kepala sekolah mengangkat birnya ke arahku. Aku mengangguk dan perlahan membenturkan gelas.
"Selamat atas kerja kerasnya."
"Meski begitu, memang pantas disebut mantan juara amatir. Bagaimanapun saya tidak bisa menang."
Sambil tersenyum pahit, kepala sekolah memandang rajanya yang sudah tersudut mati.
"Sudah lama aku tidak bermain shogi. Rasanya menyegarkan."
Sepertinya beliau benar-benar mengkhawatirkanku. Memang belakangan ini aku terus lembur.
"Syukurlah begitu. Ngomong-ngomong, tahu kutipan terkenal dari Yoshio Kimura, meijin besar sebelum perang, saat kalah dari Yasuharu Oyama dan kehilangan gelar meijin?"
Para pemain shogi umumnya memang otaku shogi yang memanfaatkan daya ingat mereka. Aku juga tidak terkecuali.
"Tentu saja. ‘Aku telah mendapatkan penerus yang baik’, kan?"
Kepala sekolah tersenyum lebar.
"Benar. Karena ini kesempatan bagus, aku memang ingin bicara serius denganmu, Takayanagi-sensei. Kau benar-benar guru yang luar biasa. Aku bahkan tak bisa dibandingkan denganmu. Karena itu, mungkin lancang bagiku mengatakan ini. Tapi melihat caramu bekerja, aku juga ingin mengikuti teladan besar masa lalu dan mengatakan hal yang sama. Di timing menjelang pensiun beberapa tahun lagi ini, aku benar-benar merasa telah ‘mendapatkan penerus yang baik’."
"Tidak, aku masih jauh dari itu. Masalah kali ini juga tidak akan bisa kuselesaikan tanpa bantuan guru-guru lain…"
"Tidak, itu bukan kerendahan hati. Biasanya orang akan mundur menghadapi masalah seperti ini. Karena kau cepat menyadarinya, kita bisa sampai sejauh ini. Mari sedikit bercerita tentang masa lalu. Sebenarnya dulu aku juga pernah menjadi wali kelas tempat kasus bullying terjadi."
Di wajahnya samar terlihat penyesalan. Dari itu saja aku bisa memahami semuanya.
"……Pada akhirnya, aku tidak bisa melindungi murid itu seperti dirimu. Dia berhenti sekolah. Aku baru sadar setelah korban mulai sering absen. Itulah penyesalan terbesar dalam hidupku sebagai guru."
Aku merasa itu benar-benar terus menyiksa seorang guru di depanku.
Profesi guru adalah pekerjaan penuh tanggung jawab yang menentukan masa depan anak-anak. Kami mengerti itu lewat kata-kata, tapi terkadang kesibukan sehari-hari membuatnya terasa jauh.
"Itu…"
Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Karena aku tahu, kalau Aono bernasib seperti murid kepala sekolah itu, aku juga akan menyesal seumur hidup.
"Karena itulah responsmu luar biasa. Mengetahui ada guru seperti Takayanagi-sensei di lapangan membuatku bisa menyerahkan tongkat estafet pada kalian dengan tenang."
Dan ekspresinya terasa seperti orang yang sudah meneguhkan tekad.
"Terima kasih."
Hanya itu yang bisa kuucapkan.
"Ya. Ngomong-ngomong, anak muda zaman sekarang luar biasa ya. Atlet Olimpiade remaja sudah jadi hal biasa, begitu juga di shogi. Ada anak-anak yang usianya nyaris masih SMA tapi sudah berada di puncak profesional. Aono Eiji yang kau lindungi itu juga pasti akan jadi seperti itu. Banyak orang dewasa pesimis soal masa depan Jepang, tapi dengan begitu banyak anak muda hebat seperti mereka… menurutku negeri ini masih belum habis harapan. Karena itu…"
Kepala sekolah berbicara penuh semangat sambil tersenyum. Matanya menatap lurus ke arahku.
"Semua tanggung jawab akan kutanggung. Aku ingin kau terus maju lurus seperti sekarang. Mungkin mulai sekarang juga akan ada orang luar yang banyak bicara. Tapi kau tidak perlu memikirkannya. Karena mengambil tanggung jawab adalah pekerjaanku."
Aku juga harus menjawab tekad atasanku itu.
"Aku akan melakukan yang terbaik."
Kepala sekolah tersenyum tenang.
※
──Sudut Pandang Kepala Sekolah──
Setelah berbincang dengan Takayanagi-sensei, aku berdiri ke toilet di timing yang tepat.
Sambil melihat kotak masuk email di ponsel yang kusimpan di saku dalam, aku menahan amarah.
Itu adalah pesan peringatan yang dikirim beberapa jam lalu oleh temanku yang bekerja di kementerian pendidikan.
『(Sepertinya pihak atas ingin ikut campur dalam kasus bullying di sekolah kalian demi menyelesaikan skandal politik kali ini secepat mungkin. Mungkin nanti akan ada tekanan tertentu, jadi berhati-hatilah)』
Sambil berterima kasih pada temanku yang baik hati, aku merasa muak pada dunia yang sudah membusuk ini.
"Kalau tak bisa melindungi murid dan bawahanku, untuk apa aku jadi kepala sekolah?"



Post a Comment