NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Interlude 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Interlude 2

Miyuki dan Guru

──Tiga Hari Sebelumnya・Sudut Pandang Amada Miyuki──


Aku sedang menuju rumah sakit tempat ibu dirawat bersama Takayanagi-sensei dan Mitsui-sensei.


Aku teringat kejadian di sekolah tadi.


Setelah dihentikan oleh Ichijou Ai dan diamankan para guru di atap gedung, aku ditanyai berbagai hal, tetapi aku tidak mampu menjawab apa pun.


Para guru membawaku yang menangis tersedu-sedu ke ruang kesehatan tanpa mengatakan apa-apa, lalu mengawasiku di sana. 


Wajar saja. Dilihat dari situasinya, mereka tidak mungkin membiarkan siswi yang baru saja mencoba bunuh diri begitu saja.


Takayanagi-sensei datang menemuiku sambil bertanya, "Kau baik-baik saja?"


Tapi aku tak bisa mengatakan apa pun. Karena pada akhirnya, aku juga telah mengkhianati beliau.


Sudah tidak ada lagi siapa pun di sisiku. Teman masa kecilku, teman-temanku, keluargaku... semuanya pergi.


Karena aku sendiri yang mengkhianati mereka semua.


Setelah menyebabkan masalah sebesar ini, aku sudah tidak pantas berada di sini lagi.


Aku tidak bisa melupakan suara tulus gadis itu di atap tadi.


"Pada akhirnya... bukankah kau sebenarnya tidak mencintai Eiji-senpai?"


Kata-kata itu terus bergema jauh di dalam telingaku.

Luka yang akan tertinggal seumur hidup.


Aku hanya egois dan terus bergantung padanya.


Apa aku benar-benar mencintainya? Aku bahkan tidak bisa menjawabnya dengan baik.


Karena aku tertekan oleh cinta Ichijou Ai terhadap Aono Eiji yang hampir terasa seperti obsesi.


Fakta kejam bahwa aku, yang sudah hidup bersama teman masa kecilku selama lebih dari sepuluh tahun, ternyata tidak lebih memahami dirinya dibanding gadis itu... dipaksa untuk kuhadapi.


Fakta bahwa bahkan seseorang seperti Ichijou Ai sampai terdorong ingin mati dan diselamatkan oleh Eiji terasa begitu berat di hatiku.


Pada akhirnya... aku juga diselamatkan oleh Eiji.


Padahal aku sudah melakukan hal sekejam itu, tapi keberadaan dirinya yang tetap menyelamatkanku, bahkan secara tidak langsung, membuat tubuhku gemetar.


Karena itu membuatku sadar sebesar apa sosok yang telah kubuang.


Aku sebenarnya hanya ingin seseorang tempatku bergantung.


Aku hanya ingin menemukan pengganti ayah yang sudah pergi.


Karena itulah, dibanding cinta yang sebenarnya, aku hanya melarikan diri pada hubungan fisik yang mudah dipahami dan kepuasan instan yang diberikan kesenangan sesaat.


(Maaf, Eiji. Aku ternyata tidak mencintaimu sebesar Ichijou-san mencintaimu. Aku memang yang paling buruk. Wajar saja, ya... Ichijou-san terus percaya padamu.)


Aku kalah telak. Keputusasaan karena tahu aku tidak mungkin menang bagaimanapun caranya.


Dan sekarang aku bahkan tidak bisa mati untuk melarikan diri.


"Maaf, tapi setelah kejadian seperti ini, kami harus menghubungi orang tuamu. Untuk sementara kau masih diskors, tapi kalau ada sesuatu yang membuatmu cemas, hubungi kami kapan saja. Mitsui-sensei juga bilang begitu. Ini bukan pembicaraan antara guru dan murid, tapi antara manusia dengan manusia."


Kebaikan sensei terasa menyakitkan. Mendengar kata "menghubungi orang tua", aku hampir berteriak "jangan", tetapi aku bahkan tidak bisa melakukan itu.


Aku hanya akan memberi ibu yang sedang dirawat di rumah sakit lebih banyak beban pikiran.


Aku ingin menghilang saja.


Aku tak ingin ibu kembali mengingat diriku yang sudah berhenti menjadi manusia seperti sekarang.


Kalau saja aku tidak berselingkuh...


Seharusnya aku masih bisa kembali ke tempat hangat itu.


Aku ingin kembali. 


Padahal aku tahu mustahil bisa kembali lagi, tapi tetap saja aku memikirkannya, dan aku membenci diriku sendiri karena itu.


Aku ingin kembali ke tempat yang dulu kubuang sendiri.


Sekarang aku sadar... itulah kebahagiaan yang sebenarnya.


Hanya karena terlalu dekat, aku jadi tidak menyadarinya, lalu dengan mudah melepaskannya. Aku tak akan pernah bisa menemukan pengganti tempat hangat itu.


Mungkin... selamanya tidak akan pernah bisa.


Sambil menyadari bahwa waktu yang kuhabiskan bersama Eiji adalah masa paling bahagia dalam hidupku, aku merasa harus menjalani sisa hidup panjang penuh keputusasaan setelah ini.


Di jalan dekat stasiun, aku melihat Eiji dan Ichijou-san.


Karena kami berada di sisi jalan yang berlawanan, mereka tidak menyadari keberadaanku.


Mereka berjalan sambil terlihat sangat bahagia bersama.


Sambil menyaksikan kebahagiaan yang telah hilang dariku, aku terus melangkah di jalan penuh kehampaan.


Saat sampai di kamar rumah sakit, ibu sudah duduk di atas ranjang dengan wajah tegas. Sepertinya beliau sudah menerima penjelasan singkat dari pihak sekolah.


Keheningan canggung menguasai ruangan.


Sambil menunduk, aku mencoba menjelaskan sesuatu, memikirkan kata-kata di kepalaku, tetapi tetap tak bisa mengucapkannya.


Aku harus menjelaskannya dengan benar.


Meski berpikir begitu, kata-kataku tetap tidak keluar.


Dengan suara seperti kecewa, ibu bertanya, "Kenapa kau ingin melakukan hal seperti itu?"


Kata-kata itu terdengar dingin. Seolah beliau benar-benar kecewa dari lubuk hati terdalamnya.


Aku tidak memberitahu siapa pun selain Ichijou Ai bahwa aku ingin bunuh diri. Kurasa dia juga begitu. Tapi siapa pun pasti bisa menebaknya. Siswi yang sedang diskors diam-diam masuk sekolah lalu menangis di dekat pintu menuju atap gedung. Situasinya hanya bisa diartikan sebagai percobaan bunuh diri.


"Maaf..."


Aku hanya bisa meminta maaf.


"Kau bilang, kan? Bahwa kau akan meminta maaf kepada Eiji-kun dan menebus dosamu seumur hidup."


Dadaku terasa sakit seolah ditunjukkan kontradiksi dari kata-kataku sendiri.


"Aku pikir... hanya ini satu-satunya cara... untuk menebus semuanya..."


Meski terbata-bata, aku berhasil mengucapkannya.


"Itu juga bohong, kan? Kau hanya ingin lari. Meskipun memakai kata keren seperti 'menebus dosa', pada akhirnya kau cuma ingin melarikan diri dari tanggung jawabmu. Dengan cara yang dangkal... mungkin sebenarnya kau belum pernah mencintai siapa pun. Apa dengan melakukan itu kau ingin membuat Eiji-kun dan yang lain semakin menderita?"


Ibu menyebut nama Eiji, sama seperti Ichijou Ai.


Nama Eiji kembali menusuk hatiku dengan tajam seperti kegilaan.


Rasa kehilangan yang berat dan tumpul menguasai hatiku.


Hatiku yang semakin berat membuat mulutku tertutup.


Aku tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


Melihat itu, ibu kembali berbicara seolah menasihatiku.


"Pelarian semudah itu bukanlah penebusan dosa. Dalam arti yang sebenarnya, kau bahkan belum memahami dosamu sendiri."


Setelah mengatakan itu, ibu menghela napas berat sambil tubuhnya tampak menegang kesakitan.



Setelah itu, ibu tidak mengatakan apa-apa lagi.


Para guru diam-diam mengantarku pulang sampai rumah.


Saat kami tiba di taman dekat rumah, Takayanagi-sensei bergumam,


"Amada, boleh bicara sebentar?"


Karena sejak tadi tidak ada percakapan sama sekali, aku sedikit terkejut lalu menjawab,


"Iya."


Mungkin karena sudah lewat pukul lima sore, tidak ada lagi anak-anak di taman itu.


Kurasa Takayanagi-sensei memang ingin berbicara denganku.


Aku dan Mitsui-sensei duduk di bangku taman, sementara Takayanagi-sensei berdiri agak berjauhan.


"Teh nggak apa-apa?"


Takayanagi-sensei membelikan minuman untuk kami bertiga dari mesin penjual otomatis.


"Terima kasih."


Setelah melihat para sensei mulai meminumnya, aku ikut meneguk minumanku.


Rasanya hampir tidak terasa apa-apa, tetapi setidaknya membasahi tenggorokanku yang kering.


"Amada. Bisa kau ceritakan apa yang kau lakukan di sana tadi?"


Aku menggeleng sambil berkata, "Maaf."


Aku masih belum ingin membicarakannya. Aku tidak bisa membicarakannya.


"Begitu ya..."


Sensei tampak kecewa, tetapi beliau tidak memaksaku. Justru sikap santainya itu sedikit mengacaukan hatiku.


"Sensei sebenarnya sudah tahu, kan? Bahkan tanpa bertanya pun."


Nada putus asa dalam diriku keluar terlalu kuat.


Setelah mengatakannya, aku sadar itu sama saja dengan mengakui apa yang kulakukan sendiri, dan itu malah membuatku semakin kesal.


"Begitu ya..."


Jawabannya sama seperti tadi.


Beliau menungguku. Aku merasa begitu.


Padahal aku bersikap seburuk ini... padahal beliau pasti sibuk dengan masalah Eiji, tetapi aku malah menambah pekerjaannya lagi. Meski begitu, beliau tetap memperlakukanku tanpa menunjukkan wajah kesal sedikit pun.


Sejak insiden itu terjadi, para guru terus mendampingiku.


Padahal aku sudah menginjak-injak niat baik mereka... tetapi mereka masih berusaha mengulurkan tangan padaku.


Mereka tidak menyerah demi orang sebodoh diriku...


Memikirkan itu membuatku hampir menangis. Dan karena rasa aman semacam itu, sedikit demi sedikit perasaanku mulai bocor keluar seperti air yang merembes.


"Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku menyakiti Eiji yang sangat penting bagiku, merusak hidup banyak orang. Rasanya aku juga sudah kehilangan keluargaku. Jadi kupikir... satu-satunya cara menebus semuanya hanyalah mati. Aku tahu itu cuma pelarian. Tapi kalau keadaannya sudah seperti ini, bukankah tidak apa-apa kalau aku melarikan diri?"


Aku berteriak seperti melampiaskan kemarahan.


Botol teh di tanganku jatuh lalu menggelinding, tapi aku bahkan tidak mencoba mengambilnya.


Aku terus menunduk sambil membiarkan emosiku meledak.


Aku menangis dan berteriak, bahkan tak tahu sudah berapa lama berlalu.


Para guru tetap sabar menemaniku.


"Amada. Apa yang akan kukatakan sekarang sebenarnya tidak ada hubungannya denganmu. Mungkin sebagai guru aku hanya sedang memaksakan nilai-nilaiku sendiri. Bahkan mungkin membicarakan hal seperti ini kepada murid membuatku gagal sebagai guru."


Setelah berkata begitu, beliau melanjutkan,


"Aku... adalah keluarga yang ditinggalkan korban bunuh diri."


Mendengar kata-kata itu, aku merasa waktu berhenti sesaat. Rasanya seperti kepalaku dipukul benda tumpul.


Aku terdiam tak bisa berkata-kata.


Melihat reaksiku, sensei bergumam dengan wajah penuh penyesalan.


"Aku kehilangan seseorang yang sangat penting karena bunuh diri. Jadi aku tahu betul bagaimana luka dan penyesalan orang-orang yang ditinggalkan. Aku yakin sekarang Amada sedang sangat menderita, dan takut kehilangan banyak hal."


Mendengar fakta yang sama sekali tak terduga itu, aku benar-benar kehilangan kata-kata.


"Tapi kau tidak kehilangan segalanya. Kenangan tetap ada, dan semua usaha yang selama ini kau lakukan juga tetap ada. Tapi tindakan yang ingin kau lakukan hari ini akan menghilangkan semuanya. Menurutku tindakanmu itu adalah pengkhianatan terhadap semua orang yang selama ini mencintaimu. Dan juga pengkhianatan terhadap dirimu sendiri selama ini. Apa benar mati bisa menjadi penebusan dosa atas kesalahan yang telah kau lakukan?"


Kata-kata Takayanagi-sensei terdengar seperti juga ditujukan kepada dirinya sendiri.


Dan aku... tidak bisa menjawab apa pun.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close