Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Bonus E-book Cerita Pendek Original
Pagi Baru Ai
──Sudut pandang Ai──
Keesokan harinya setelah menginap di rumah Senpai. Saat membuka mata, aku melihat wajah tidurnya yang lelap di sampingku. Rasanya seperti hari yang istimewa.
Sambil perlahan merasakan kebahagiaan setelah berciuman dengannya, aku menghela napas pelan.
Sekarang, harus bagaimana ya.
Aku berpura-pura berganti posisi tidur lalu melirik jam. Masih pukul empat pagi. Terlalu cepat untuk bangun, tapi karena ada persiapan di Aono Kitchen, mungkin ibunya dan kakaknya senpai juga bangun pagi.
Kalau dipikir dengan tenang, aku sudah merepotkan mereka, jadi aku ingin membantu sesuatu. Mereka membiarkanku menginap di sini juga mungkin karena melihat kondisiku kemarin dan merasa tak boleh membiarkanku sendirian.
Dan itu memang wajar.
Aku menangis di tengah hujan tanpa payung sampai tubuhku basah kuyup. Kalau Senpai dan Ibunya yang tahu situasiku melihat itu, tentu mereka akan khawatir.
Meski begitu, mereka sengaja tidak mengorek apa pun dan menyambutku dengan lembut dalam diam.
Aku merasa bersalah atas perhatian seperti itu, tapi tetap saja aku bahagia.
Bahkan aku sampai berpikir tempat ini jauh lebih terasa seperti rumahku dibanding apartemen tempatku tinggal sendirian itu.
Padahal memikirkan hal seperti itu saja terasa lancang.
Aku terus diselimuti sisa kehangatan kebahagiaan yang kurasakan semalam.
Tanpa sadar, matahari pagi mulai terlihat.
Lalu aku mendengar suara langkah kaki ibunya dan yang lain. Sepertinya persiapan sudah dimulai.
Aku bangkit untuk membantu. Tapi aku hanya memakai kemeja Senpai. Jelas aku tak mungkin keluar dengan penampilan seperti ini.
Saat membuka pintu kamar sambil berpikir bagaimana caranya, ternyata ibunya senpai sudah menyiapkan pakaian wanita di dalam kantong kertas.
Sungguh, aku terus merepotkan mereka dalam segala hal.
Sambil memastikan dia masih tidur, aku pun berganti pakaian itu.
※
"Ara, Ai-chan. Selamat pagi, cepat sekali bangunnya."
Ibunya senpai sedang menyiapkan sarapan di dapur. Sebelumnya kakaknya yang melakukannya, jadi mungkin mereka bergantian.
"Iya. Karena sudah diizinkan menginap, aku ingin membantu."
Saat aku berkata begitu, ibu tersenyum senang.
"Impianku jadi kenyataan. Aku selalu ingin memasak bersama anak perempuan."
Sambil berkata begitu, dia melambaikan tangan memanggilku mendekat.
Apa dia sadar wajahku memerah?
Ibunya dengan senang hati mengajariku memasak.
Rasa masakan rumahnya...
Dan aku merasa waktu pagi yang bahagia ini adalah kehidupan sehari-hari yang selama ini selalu kuinginkan.
Kalau saja Ayah ada di sini juga...
Sembari menyembunyikan keinginan mewah itu, aku membantu menyiapkan sayuran.
※
Nasi, sup miso, salmon panggang, lobak yang diasinkan dengan miso, dan rumput laut panggang.
Hanya dengan melihatnya saja, sarapan itu tampak lezat.
"Kalau begitu, Ai-chan. Tolong bangunkan Eiji, ya?"
Setelah semuanya selesai disajikan, ibunya memintaku begitu.
"Baik."
Aku menjawab lalu pergi menuju kamarnya.
Sedikit saja, aku berkhayal.
Khayalan tentang masa depan bahagia kami nanti...
Sebelum membuka pintu kamar, aku berbisik pelan agar tak terdengar siapa pun.
"Selamat pagi, suamiku."
Begitu mengucapkannya, aku langsung malu sendiri sampai tubuhku gemetar.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment