NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V3 Chapter 4

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 4

‘Aaam’ adalah Pemanis

Demi mencapai tujuan awal kencan mereka, yaitu mencari es krim rasa terbatas, Haruto dan Ayaka mencoba mencarinya di department store lain yang ada di depan stasiun.


Namun, di sana pun mereka tidak bisa menemukan es krim yang mereka incar.


“Ternyata susah banget ya ketemunya.”


Meski mulutnya berkata demikian, ekspresi Ayaka sama sekali tidak tampak sedih, malah dia tampak gembira.


Melihat keadaan gadis itu dari sudut matanya, Haruto ikut mengangguk.


“Iya, benar.”


Sejak tadi, bayangan sosok Ayaka yang berbalut pakaian berani terus berkelebat berkali-kali di dalam kepalanya. Dan setiap kali itu terjadi, ia merasa malu dan tidak sanggup menatap gadis itu secara langsung.


Haruto menatap tajam ke arah toko pernak-pernik yang ada di dekat situ, seolah ingin mengusir bayangan Ayaka yang terlalu memikat yang terus berkedip di pandangannya.


Mengikuti arah pandang Haruto, Ayaka pun ikut melihat ke arah toko pernak-pernik itu, lalu bertanya sambil memiringkan kepala.


“Haruto-kun, kamu penasaran sama toko pernak-pernik itu?”


“Eh? A-Ah, iya. Toko kayak gitu kan isinya macam-macam, jadi bawaannya pengin mampir saja.”


Tentu saja Haruto tidak mungkin bisa berkata, ‘Aku cuma melihat ke sana buat melupakan penampilanmu yang terlalu merangsang’, jadi ia secara spontan melontarkan alasan yang terdengar masuk akal.


“Aku mengerti perasaan itu. Aku juga kalau ada toko pernak-pernik yang memajang peralatan makan lucu, pasti mampir walau nggak ada rencana beli.”


Tanpa sengaja Haruto mendapatkan empati dari Ayaka.


Ia tersenyum dan menimpali, “Iya, ‘kan.”


“Mau coba lihat-lihat sebentar?”


“Boleh tuh.”


Meskipun tidak ada dalam rencana, karena tidak ada alasan khusus untuk menolak, Haruto masuk ke dalam toko bersama Ayaka.


Di dalam toko pernak-pernik yang mereka masuki, berjejer berbagai macam barang, mulai dari merchandise karakter, aksesori ponsel, perlengkapan pesta, hingga kostum untuk cosplay.


Ayaka melihat-lihat ke sana kemari dengan ekspresi senang.


“Hei, Haruto-kun. Kaus ini, kalau dipakai pacar, pasti parah banget ya.”


Kaus yang ditunjukkan Ayaka itu bertuliskan, ‘Aku ingin menjadi benalu hidupmu’.


“Benar juga. Tapi yang ini juga parah, nggak sih?”


Sambil bilang begitu, Haruto juga mengambil sehelai kaus. Di kaus itu, tercetak tulisan, ‘Aku selalu mengawasimu. Kau adalah segalanya bagiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu’, dengan font yang sering dipakai untuk judul film horor.


“Waaaah, itu agak seram ya. ...Haruto-kun, kamu mau pakai itu?”


“Nggak mungkin lah aku mau jalan di tengah kota pakai baju ini.”


Kalau dia memakai kaus dengan dialog yandere seperti itu dan berjalan di sebelah gadis cantik yang menarik perhatian seperti Ayaka, dalam skenario terburuk dia bisa dilaporkan ke polisi. Haruto menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.


“Begitu ya, padahal aku ingin lihat Haruto-kun pakai kaus itu sebentar saja.”


Sambil mengatakan hal itu, Ayaka kembali berkeliling melihat isi toko.


Haruto pun mengikutinya dan melihat-lihat berbagai barang.


Mulai dari lencana kaleng karakter yang sedang tren akhir-akhir ini, barang-barang aktivitas fangirling seperti kipas tangan yang bisa ditempeli foto idol, hingga barang kebutuhan sehari-hari seperti lampu kecil yang bisa dipakai untuk interior kamar; berbagai macam produk dipajang berdesakan di sana.


Haruto berjalan sambil memandangi rak-rak barang itu, lalu mengambil mi instan kemasan super pedas yang diletakkan di pojok perlengkapan pesta sambil tersenyum kecut.


“Kalau ditaruh di tempat perlengkapan pesta begini, jelas-jelas ini buat hukuman permainan, ‘kan.”


Saat ia sedang bergumam sendirian seperti itu, tiba-tiba bahunya ditepuk pelan puk-puk.


“Haruto-kun...”


Dipanggil dengan suara yang agak malu-malu oleh Ayaka, Haruto mengalihkan pandangannya dari mi instan super pedas dan menoleh ke arah gadis itu.


Bersamaan dengan itu, ia membeku.


“!!??”


Melihat Haruto yang membelalakkan mata karena shock, pipi Ayaka merona merah karena malu.


“Gimana... menurutmu?”


Di bagian atas kepala gadis yang bertanya itu, tumbuh sepasang telinga berbulu halus.


“Aneh... nggak?”


Melihat penampilan Ayaka yang memakai kemonomimi secara tiba-tiba, Haruto menjawab dengan bahasa formal sambil berdiri tegak di tempat.


[TLN: Kemonomimi (secara harfiah berarti telinga hewan buas) adalah aksesori yang meniru ciri khas hewan berbulu (biasanya bagian telinga dan ekor) seperti kucing, anjing, atau rubah.]


“Ung... sangat, manis sekali...”


Lalu Ayaka tertawa kecil “Fufu” dengan gembira, kemudian ia membawa kedua tangannya ke depan dada, mengepalkan tangannya dengan ringan, dan memiringkannya sedikit kuit.


“...Nyaa.”


“!!??!”


Meskipun malu-malu, satu kata yang dilontarkan bersamaan dengan tatapan mendongak yang memikat—yang entah disengaja atau tidak, terasa sangat menggoda—membuat jantung Haruto melonjak dengan aneh.


Selama ini, dia tidak terlalu memahami daya tarik dari kemonomimi.


Apa cuma dengan adanya kemonomimi di kepala seorang gadis bisa membuatnya jadi begitu manis? Dia bahkan sempat meragukannya.


Namun, saat ini juga, Haruto sadar. Ini bukan soal logika.


Gadis cantik bertelinga hewan, keberadaannya sendiri sudah merupakan sesuatu yang agung. Itu adalah kebenaran yang kekal sejak zaman purbakala.


Karena penampilan Ayaka yang bertelinga hewan itu terlalu menyilaukan, Haruto tanpa sadar membuang muka.


Ketika membuang muka, di ujung pandangannya ia melihat bando kemonomimi yang sedang dipakai gadis itu dipajang di rak.


Melihat itu, Haruto menyadari sesuatu dan memberitahu Ayaka dengan sungkan.


“Anu... telinga yang dipakai Ayaka sekarang, itu bukan kucing... tapi kayaknya rubah loh?”


“Fuee!!?”


Ditegur dengan ragu-ragu, Ayaka buru-buru memeriksa rak barang.


Ternyata Haruto benar, di rak barang tertulis jelas ‘Bando Telinga Rubah’.


“Ah, sa-salah ternyata!”


Karena salah paham total dan bahkan sudah menirukan suara kucing, Ayaka menjadi panik dan kelabakan karena diterpa malu yang luar biasa.


Bahkan sosoknya yang seperti itu pun, terlihat manis di mata Haruto.


Orang yang pertama kali punya ide menumbuhkan kemonomimi pada gadis, dia pasti jenius.


Haruto merasakan rasa hormat dan kekaguman pada orang hebat yang pertama kali melahirkan konsep gadis cantik bertelinga hewan ke dunia ini. Di saat yang sama, ia merasakan keinginan yang tak tertahankan untuk menyentuh telinga rubah yang tumbuh di kepala Ayaka.


Bando yang dipajang di rak barang tidak membuatnya merasakan apa-apa. Namun, begitu benda itu terpasang di kepala Ayaka, dorongan untuk membelai bulu halusnya banjir tak terbendung.


Haruto mati-matian menahan dorongan tersebut.


Di saat itu, Ayaka yang sudah sedikit tenang melancarkan serangan susulan yang dahsyat.


“K-Kalau rubah, berarti bukan ‘Nyaa’, tapi...”


Dia membawa kedua tangannya ke depan dada seperti pose kucing tadi, lalu kembali mengepalkan tangannya dengan ringan sambil memiringkan kepala sedikit.


“...Kon kon... mungkin?”


Keimutan yang dipancarkan Ayaka begitu dahsyat, sampai-sampai rasanya memiliki massa fisik yang nyata.


Haruto tidak sanggup menjawab, ia hanya bisa berharap dalam hati.


Semoga dia mau pakai ekor yang ada di sebelah bando itu juga, pikirnya.



Setelah diperlihatkan pesona gadis bertelinga hewan, Haruto bertanya pada Ayaka sambil keluar dari toko pernak-pernik.


“Sebentar lagi siang, mau pergi makan?”


“Ah, sudah jam segini ya. Entah kenapa kalau sama Haruto-kun waktu berlalu cepat sekali.”


“Kh...”


Mendengar Ayaka mengatakan hal itu dengan senyum murni, Haruto tak tahan lagi dan membuang muka darinya, menutupi mulutnya yang menyeringai dengan satu tangan.


“Ehem... kalau begitu, sepakat ya kita pergi makan siang?”


Haruto berdeham untuk menutupi wajahnya yang menyeringai.


“Setuju. Siang ini mau ke mana? Haruto-kun mau makan apa?”


Tanpa menyinggung dehaman Haruto yang tidak wajar, Ayaka memiringkan kepala dan bertanya seolah mengintip wajahnya sedikit.


Gerak-gerik dan jarak yang begitu dekat itu sangat manis, membuat ekspresi Haruto nyaris runtuh lagi.


“...Anu, sebenarnya untuk makan siang, aku sudah reservasi tempat, apa boleh di sana?”


“Eh!? Kamu sudah reservasi tempat makan siang?”


“Ung, anu... ini kan hitungannya kencan juga, jadi kupikir melakukan hal kayak gini bakal kelihatan lebih asli.”


Dengan malu-malu Haruto mengalihkan pandangan sedikit dari Ayaka, “Yah, walaupun cuma latihan sih...” katanya sambil menggaruk kepala belakang dengan satu tangan untuk menyembunyikan rasa malunya.


Ayaka yang sama sekali tidak menyangka Haruto sudah mereservasi tempat makan siang, membelalakkan matanya yang bulat bening itu lebar-lebar karena terkejut sekaligus senang.


“Hebat! Toko macam apa yang kamu reservasi?”


“Itu, kita lihat saja nanti kalau sudah sampai.”


Mendengar Haruto merahasiakan jawabannya, mata Ayaka berbinar dengan ekspresi gembira. Mungkin karena tidak bisa menahan rasa senangnya, mulutnya tetap menyunggingkan senyum lebar.


Melihat reaksinya itu, sedikit rasa tegang mulai muncul di diri Haruto.


Ia merahasiakan tempat yang dipesannya untuk memberikan sedikit kejutan, tapi kalau toko itu ternyata tidak sesuai selera Ayaka, Haruto merasa perutnya akan sedikit sakit karena cemas.


Merasa standar ekspektasi terhadap tokonya sudah naik, Haruto berusaha bersikap tenang agar kepanikan batinnya tidak tercium, sambil memasang garis pertahanan secara halus.


“Anu... biar kukatakan dulu ya, ini bukan restoran mewah loh? Cuma toko yang bisa dimasuki anak SMA biasa kok.”


“Fufufu, aku sangat menantikannya! Makasih sudah reservasi, aku senang!”


“U-Ung. Kalau begitu, ayo.”


Haruto merasa akal sehatnya bisa runtuh jika terus memandangi senyum bahagia Ayaka, jadi ia buru-buru menghadap ke depan dan mulai berjalan menuju toko yang dituju.


Ayaka yang berjalan di sebelahnya tampak sangat riang, dan mungkin tanpa sadar, ia bersenandung kecil “Fun fuun” sambil melangkah dengan ringan, secara harfiah tampak melompat-lompat kecil.


Dalam perjalanan menuju toko yang dipesan Haruto, Ayaka menunjukkan senyum cerah yang tak kalah dengan matahari musim panas.


Padahal dia sudah merupakan gadis cantik yang menarik perhatian, ditambah dengan menebarkan senyum memikat seperti itu, orang-orang yang berpapasan setidaknya pasti akan menoleh sekali atau dua kali ke arah Ayaka.


Dan kepada Haruto yang berjalan di sebelahnya, tertuju tatapan iri, cemburu, dan rasa ingin tahu.


Jika itu Haruto yang biasanya, tatapan-tatapan itu mungkin akan menguras mentalnya. Namun, Haruto yang sekarang tidak punya ruang untuk mempedulikan hal semacam itu.


Yang memenuhi isi hatinya saat ini hanyalah apakah toko yang dipesannya akan disukai oleh Ayaka atau tidak, itu saja.


Ayaka yang tersenyum riang dan Haruto yang sedikit memancarkan ketegangan terus berjalan sambil mengumpulkan tatapan orang-orang yang berlalu lalang, hingga akhirnya tiba di depan sebuah toko.


Toko itu dihiasi tanaman hijau di dekat pintu masuknya, dan juga memiliki kursi teras.


Di depan pintu masuk toko yang memancarkan suasana tenang dan stylish itu, Haruto menghentikan langkah.


“Ini tempat yang kureservasi.”


“Wah! Tokonya kelihatan bagus! Ini... toko pancake?”


“Iya, pancake di sini katanya enak banget... kalau makan siangnya pakai pancake nggak apa-apa, ‘kan?”


“Ung! Aku suka banget pancake!”


Melihat senyum bahagia Ayaka, ketegangan Haruto sedikit mereda.


Setidaknya kesan pertama terhadap tokonya bagus, Haruto mengelus dada lega sambil menarik tangan Ayaka masuk ke dalam toko.


Sesuai reputasinya, bagian dalam toko penuh sesak dengan pelanggan, tapi karena sudah reservasi, mereka berdua dipandu ke kursi dengan lancar.


“Interiornya juga bergaya banget!”


“Iya, ya. Rasanya kayak di dalam hutan.”


“Benar juga.”


Sambil duduk di kursi kayu, Haruto dan Ayaka saling bertukar percakapan itu.


Interior tokonya mirip rumah kayu, dindingnya tersusun dari batang kayu bulat dan di langit-langit yang tinggi pun melintang balok kayu yang tebal. Selain itu, banyak tanaman hias dipajang di berbagai sudut, membuat interiornya benar-benar seperti pondok kayu di tengah hutan.


“Tapi suasana begini bikin tenang, ya.”


“Kayaknya banyak ion negatifnya.”


Haruto menjawab ucapan Ayaka sambil mengelus meja kayu.


Saat mereka menikmati kehangatan dan kelembutan kayu yang tersalur ke tangannya, seorang pelayan membawakan air dan menu.


“Ini air dan menunya. Jika sudah menentukan pesanan, silakan panggil kami. Permisi.”


Ayaka membalas dengan anggukan kecil pada pelayan yang membungkuk sopan sebelum pergi, kemudian ia segera mengulurkan tangan ke buku menu dan membukanya.


“Waaah! Semuanya kelihatan enak!”


Mata Ayaka berbinar-binar, rupanya dia benar-benar menyukai pancake. Tatapannya berkeliaran dengan sibuk di atas buku menu.


“Uuh... bingung nih... Haruto-kun sudah memutuskan?”


“Aku mungkin pesan pancake matcha ini?”


“Mumumuu~ Haruto-kun pilih itu ya...”


Ayaka bergumam sambil berpikir keras.


Dia menatap menu dengan tatapan serius seolah sedang membuat keputusan penting dalam hidup. Melihat itu, Haruto tanpa sadar tertawa kecil “Fufu”.


“Ayaka bingung mau yang mana?”


“Yang bikin aku bingung sih aku mau semuanya...”


“Semuanya...”


“Tapi, hmm... kalau harus dipersempit, mungkin antara ini atau ini?”


Sambil bilang begitu, Ayaka menunjuk dua menu.


Yang satu adalah pancake klasik yang sederhana dengan topping mentega dan sirup mapel di atasnya. Yang satunya lagi adalah pancake dengan topping stroberi, saus cokelat, dan krim kocok, yang terlihat sangat instagramable.


“Pilih yang mana, ya... dua-duanya susah dilewatkan...”


Ayaka menatap foto kedua pancake itu berulang-ulang seolah hendak melubanginya dengan tatapan.


“Kalau begitu, begini saja. Aku pesan yang mentega dan sirup mapel itu, lalu Ayaka pesan pancake yang cantik itu. Terus, kita bagi dua punya masing-masing. Gimana?”


“Eh? Tapi kalau begitu Haruto-kun jadi nggak bisa makan yang matcha, dong.”


“Aku juga penasaran sama yang simpel ini, jadi sama sekali nggak masalah kok.”


“...Beneran? Boleh nih?”


Melihat kelucuan gadis yang bertanya dengan tatapan sedikit mendongak itu, wajah Haruto melembut dan ia mengangguk.


“Boleh kok.”


“Asyik! Kalau gitu kita pesannya begitu aja! Boleh pesan sekarang?”


“Ung.”


Saking senangnya, Ayaka terlihat sedikit heboh.


Melihat sosoknya itu, Haruto merasakan kemiripan dengan Ryouta, dan menatapnya dengan rasa kagum sambil berpikir, ‘Ternyata mereka memang kakak-beradik, ya.’


Saat itu, Ayaka yang sudah selesai memesan menujukan senyum manis pada Haruto.


“Haruto-kun, kamu baik ya.”


“Nggak kok, biasa saja.”


“Nggak gitu loh. Haruto-kun itu baaaiiik banget.”


Mendengar Ayaka menegaskan dengan penuh penekanan, Haruto membalas dengan nada sedikit menggoda.


“Habisnya kamu memperlihatkan ekspresi seolah sedang membuat keputusan berat begitu, sih. Aku nggak tega bilang hal kejam kayak ‘relakan salah satunya’ padamu.”


“I-Itu sih... menurutku Haruto-kun yang salah karena membawaku ke toko semenarik ini!”


“Eeh, argumennya maksa amat.”


“Bukan maksa kok. Ini salah Haruto-kun.”


Seolah melawan godaan Haruto, Ayaka memanyunkan bibirnya dan bersikeras bahwa ini salah Haruto.


Melihat ekspresinya itu, Haruto tidak bisa menahan diri lagi dan tertawa terbahak.


Lalu, seolah tertular, Ayaka pun ikut tertawa bersamanya.


“Ahahahaha.”


“Fufufufufu.”


Mereka berdua tertawa bersama dengan gembira, dan dalam suasana itu mereka menunggu pesanan sambil bertukar kata seperti, “Nggak sabar nunggu pancake-nya ya”, “Iya, ya”.


Tak lama kemudian, dua porsi pancake yang baru matang diantarkan ke hadapan mereka.


Seketika, kegembiraan Ayaka memuncak.


“Waaaah! Kelihatannya enak banget!”


“Iya, wanginya juga enak banget.”


Di hadapan dua pancake yang berjajar, Ayaka mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera.


“Haruto-kun, boleh aku foto?”


“Silakan.”


Haruto menggeser piringnya agar Ayaka lebih mudah mengambil foto.


Sambil mengucapkan “Makasih”, gadis itu memotret pancake tersebut dari berbagai sudut.


“Fufu, nanti aku pamerin ke Saki ah.”


Melihat Ayaka tersenyum sangat bahagia, Haruto memegang pisau dan garpu lalu berkata.


“Kalau begitu, ayo makan.”


“Ung! Selamat makan!”


Setelah menangkupkan kedua tangan, Haruto segera memotong pancake sesuap dan memasukkannya ke mulut.


Pancake yang tebal dan mengembang itu memiliki tekstur lembut seperti tampilannya, rasa gurih mentega yang kental dan manis alami sirup mapel menyebar di dalam mulut.


“Ung, enak.”


Haruto melontarkan komentarnya dengan tenang sambil mengendurkan bibirnya.


Sementara itu, Ayaka yang melahap pancake dengan topping stroberi, krim kocok, dan saus cokelat, menggeliat kenikmatan.


“Nnghh!”


Ayaka meluapkan kegembiraannya pada pancake lezat itu sampai tubuhnya goyang-goyang.


“Haruto-kun! Ini enak banget loh!”


“Iya, enak ya.”


Mereka berdua saling melempar senyum sambil terus menyantap pancake.


Dan, tepat saat mereka sudah makan sekitar setengah porsi, Haruto hendak memberikan pancake-nya kepada Ayaka.


Namun, Ayaka tidak menerimanya, melainkan dengan santai memotong pancake miliknya satu suapan, mengambilnya dengan garpu, lalu mengantarnya langsung ke depan mulut Haruto.


“Nih, Haruto-kun.”


“...Eh?”


Mendapat serangan “Aaam” yang tiba-tiba dari Ayaka, Haruto mengeluarkan suara bingung.


“Kita bakal sharing setengah-setengah, kan? Aku juga sudah makan setengah, jadi sisanya mau aku suapin ke Haruto-kun.”


“Nggak usah... aku bisa makan sen—”


“Ini juga latihan jadi pacar, loh? Coba lihat pasangan di kursi sana.”


Mendengar ucapan gadis itu, Haruto melihat ke arah yang ditunjuk Ayaka, dan di sana tampak sepasang kekasih yang begitu mesra sedang suap-suapan pancake.


“Kekasih yang akur itu makannya begitu, tahu?”


“...”


Melihat pasangan asli melakukan “Aaam” dengan mata kepalanya sendiri, Haruto tidak mampu membantah apa-apa lagi.


“Ayo Haruto-kun. Aaam.”


Dengan senyum berseri-seri yang menyilaukan, Ayaka tanpa ampun menyodorkan pancake ke depan mulut Haruto.


Haruto melirik sekilas keadaan pelanggan lain di sekitar, sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu ‘hap’, ia memakan pancake yang disuapkan Ayaka.


“Fufu, enak?”


“...Manis banget.”


Pancake yang ia kunyah terasa lebih manis dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.


Apakah itu karena krim kocoknya, atau karena saus cokelatnya? Atau, apakah itu ilusi karena disuapi oleh gadis itu?


Yang jelas, mulut Haruto merasakan rasa paling manis sepanjang riwayat hidupnya.


“Haruto-kun, aku juga mau makan pancake-nya Haruto-kun.”


“Ah, iya. Oke.”


Melihat Ayaka yang meminta dengan manja, Haruto memotong pancake-nya satu suapan dengan perasaan agak deg-degan.


Di situ Haruto melirik sekilas keadaan Ayaka.


Gadis itu menatap lekat-lekat pancake yang dipotong Haruto dengan tampang penuh harap.


Haruto mengembuskan napas kecil “Fuuuh” yang tak bisa didengar Ayaka, lalu mengambil potongan pancake itu dengan garpu dan mengantarnya ke mulut Ayaka.


“Ini, Ayaka.”


“Makasih.”


Setelah mengucapkan terima kasih, kali ini giliran Ayaka yang memakan pancake Haruto dengan lahap.


“Ufufu, manis dan enak.”


Ayaka berkata dengan gembira sambil menunjukkan senyum yang sangat rileks pada Haruto.


Pipi gadis itu merona merah jambu.


Meskipun merasa malu, Ayaka tetap melakukan latihan jadi pacar untuknya, membuat rasa terima kasih menyeruak di hati Haruto.


“Ayo Haruto-kun, aaam.”


Melihat Ayaka menyodorkan pancake dengan senang, ekspresi Haruto pun secara alami menjadi cerah dan melembut.


Setelah itu, mereka menghabiskan pancake yang terasa manis itu, lalu Haruto dan Ayaka menikmati minuman setelah makan dengan santai.


“Pancake-nya enak, ya.”


Ayaka tersenyum sambil memegang cangkir teh dengan kedua tangan seolah membungkusnya.


“Pantas saja toko ini populer.”


Haruto mengangguk menyetujui ucapan gadis itu sambil meminum kopi tanpa gula maupun susu.


Aroma harum dan rasa pahit khas kopi menenangkan hatinya.


“Oh iya. Ada yang mau kutanyakan, atau lebih tepatnya kuminta pada Ayaka.”


“Hm? Apa?”


Ayaka yang sedang meminum tehnya perlahan mendongak mendengar ucapan Haruto.


“Anu... di hari libur kerja berikutnya, bisakah kamu menemui Nenek?”


“Libur Haruto-kun selanjutnya, lusa ya?”


“Ung. Sebenarnya tadi pagi, Nenek kelihatan pengin banget Ayaka...”


Nenek tidak bilang secara langsung ingin berjumpa.


Namun, sebagai keluarganya, Haruto bisa merasakan perasaan neneknya.


Mendengar permintaan Haruto agar ia menemui neneknya, Ayaka mengepalkan tangannya kuat-kuat.


“Ung! Jadwalku kosong kok, bisa banget! Saatnya menunjukkan hasil latihan jadi pacar selama ini, ya!”


Melihat Ayaka yang bersemangat, Haruto merasakan sedikit kecemasan.


Latihan jadi pacar yang mereka lakukan selama ini.


Ayaka yang tidak punya pengalaman cinta khawatir kebohongannya akan terbongkar oleh nenek Haruto. Karena itu dia mengusulkan latihan untuk berakting sebagai pasangan yang alami.


Mengingat kembali isi latihannya, Haruto tanpa sadar menyeruput kopinya.


Latihan bilang ‘suka’ tanpa malu-malu. Latihan tidur di paha sambil mengelus kepala. Dan, couple yoga.


Kemungkinan besar, jika hasil latihan selama ini dipraktikkan semua, neneknya bakal bilang pada Ayaka, “Maukah kamu jadi menantu di rumah ini?”


Hanya dengan membuatnya berpura-pura saja hati Haruto sudah sesak karena rasa bersalah, apalagi jika sampai dibilang seperti itu, Haruto takkan sanggup menatap wajah Ayaka dengan benar.


“Itu, karena aku bilang ke Nenek kalau kita baru jadian, anu... kalau terlalu banyak kontak fisik rasanya malah jadi agak tidak wajar...”


“Begitu... ya?”


Mendengar ucapan Haruto, Ayaka memiringkan kepalanya sedikit.


Haruto merasa bahwa standar pacaran normal gadis itu didasarkan pada fiksi.


Saat Haruto mengingat-ingat deretan buku di rak buku kamar Ayaka, tiba-tiba ia ditatap dengan pandangan serius oleh gadis itu.


“Hei, Haruto-kun.”


“Ya, ada apa?”


“Mungkin aku pernah tanya sebelumnya, tapi... pacar ideal bagi Haruto-kun itu orang yang kayak gimana?”


Di mata Ayaka yang bertanya demikian, tersirat sedikit kecemasan.


“Kita sudah latihan jadi pacar selama ini... tapi aku merasa mungkin aku terlalu heboh sendiri... jangan-jangan, Haruto-kun merasa terganggu?”


Nada suaranya perlahan menurun, terdengar tidak percaya diri.


Haruto merasa bersalah karena telah membuat Ayaka cemas.


“...Nggak terganggu kok. Sama sekali enggak.”


“Beneran?”


“Ung, benar.”


Meskipun Haruto bilang begitu, kecemasan Ayaka sepertinya belum sepenuhnya hilang, matanya masih sedikit bergetar.


Haruto memasang ekspresi lembut dan tersenyum untuk menenangkan Ayaka.


“Soal pacar idealku, seperti yang kubilang sebelumnya, aku suka gadis yang senyumnya manis. Selain itu, gadis yang terlihat bahagia saat makan makanan enak, dan gadis yang berjalan dengan riang gembira di sebelahku, bagiku itu adalah pacar ideal.”


“B-Begitu ya...”


Mendengar kata-kata Haruto yang diucapkan dengan nada serius meski sambil tersenyum lembut, pipi Ayaka merona seketika dan ia menunduk.


“Makanya, aku bisa memperkenalkan Ayaka pada Nenek dengan pede sebagai pacar terbaik.”


“...U-Ung...”


Ayaka mengangguk kecil berkali-kali sambil tetap menunduk.


Melihatnya seperti itu, Haruto tersadar dan buru-buru menambahkan.


“Tentu saja, dengan premis bahwa Ayaka bukan pacar sungguhan, tapi hanya pura-pura jadi pacar, loh ya.”


“Ah... ung. I-Iya, benar.”


Ayaka menunjukkan ekspresi rumit antara senang dan kecewa, lalu menyatakan sesuatu pada Haruto seolah telah membulatkan tekad.


“Aku, akan berjuang lebih keras lagi!”


“Eh? Enggak, aku kan barusan bilang Ayaka sudah memenuhi kriteria pacar ideal, jadi nggak perlu berjuang sampai segitu...”


“Uuun. Harus berjuang lebih keras, nggak boleh enggak. Ini juga demi diriku sendiri.”


Ayaka berkata sambil menggelengkan kepala.


Haruto merasakan tekad yang luar biasa darinya.


“Terima kasih. Maaf ya, kamu jadi harus menemani kebohonganku sampai seserius itu.”


Sambil bilang begitu, Haruto menundukkan kepala pada Ayaka.


Sementara itu, Ayaka bergumam dengan suara pelan yang tak bisa terdengar oleh Haruto, seolah bicara pada dirinya sendiri.


“Pokoknya, aku akan bikin kamu nggak bakal bilang ‘maaf’ lagi.”


“Hm? Kamu ngomong sesuatu?”


“Enggak kok, jangan dipikirin.”


Ayaka tersenyum, lalu meneguk habis sisa tehnya.


“Haruto-kun. Lanjut cari es krimnya yuk!”


Sambil bangkit dari kursi, Ayaka mengulurkan tangan pada Haruto.


Mendengar ajakannya, Haruto pun menghabiskan sisa kopinya dan ikut bangkit.


Mereka berdua kembali bergandengan tangan, dan melangkah keluar di bawah matahari musim panas demi mencari es krim rasa terbatas.



Matahari yang tadinya mencurahkan sinar putih yang kuat tanpa ampun dari atas kepala, tanpa terasa sudah turun cukup rendah, mewarnai seluruh penjuru dengan cahaya sunset yang merah menyala.


“Sama sekali nggak ketemu, ya.”


“Mungkin memang sudah nggak ada di supermarket.”


Mereka berdua berjalan sebelahan, perlahan menyusuri tepi sungai yang terpapar sinar senja.


Dari percakapan mereka tercium suasana menyerah. Meski begitu, sama sekali tak ada rasa sedih di wajah mereka.


Setelah makan pancake, mereka berdua terus mencari es krim, tapi di sela-sela itu mereka mampir di game center, melihat-lihat etalase toko di pusat perbelanjaan, dan makan crepe di food truck yang buka di taman. Sebagai ganti tidak ditemukannya es krim tujuan mereka, mereka bisa menikmati kencan sepuas-puasnya.


“Walau es krimnya nggak ketemu, hari ini menyenangkan banget!”


Dibanding pas awal-awal, kini mereka sudah bisa bergandengan tangan ala kekasih dengan jauh lebih alami.


Ayaka meremas tangan Haruto erat-erat dan berkata dengan senyum yang merekah.


“Iya, ya. Yah, andai es krimnya ketemu juga pasti bakal sempurna sih.”


Sambil menjawab begitu, Haruto menatap langit yang telah berubah warna menjadi merah.


Kalau tidak lekas pulang sekarang, dia bisa terlambat mengantar Ayaka ke rumahnya. Kalau begitu, bisa-bisa dia membuat Shuuichi dan Ikue khawatir.


Saat Haruto mulai berpikir untuk pulang, matanya tertuju ke sebuah toko kecil.


Sebuah toko kecil yang tampaknya sering didatangi anak-anak setempat untuk mencari dagashi. Haruto menunjuk toko itu dan berkata pada Ayaka.


[TLN: Dagashi adalah jajanan anak-anak berupa camilan atau permen yang murah meriah.]


“Terakhir, mau coba lihat toko itu?”


“Ung, boleh.”


Ayaka mengangguk pada ucapan Haruto, lalu memiringkan kepala dengan riang, “Kira-kira es krimnya ada nggak ya?”


Karena hari sudah sore, bagian dalam toko terasa agak gelap, dan tidak ada pelanggan lain selain Haruto dan Ayaka.


Di sebelah kasir, duduk seorang nenek yang menyapa Haruto dan Ayaka yang baru masuk.


“Selamat datang”


Melihat dagashi yang berjejer padat di dalam toko yang sempit itu, Haruto merasakan nostalgia.


“Dulu aku sering banget datang ke toko kayak ginian.”


“Aku juga. Kalau dapat uang saku dari Mama, aku suka bingung mau jajan apa.”


“Dengan kekuatan finansial hasil kerja sambilan sekarang, aku bisa memborong semuanya.”


Haruto memandang sekeliling jajanan yang dipajang dan tersenyum percaya diri.


Saat kecil, ia menggenggam uang receh di satu tangan dan menimbang-nimbang dengan sangat hati-hati jajanan mana yang akan dibeli. Namun, bagi Haruto yang sekarang sudah punya penghasilan dari kerja sambilan, jajanan seharga puluhan yen bisa dia borong tanpa pikir panjang. Mau beli sekotak pun bukan mimpi lagi.


Merasakan jalan pikiran Haruto, Ayaka tersenyum kecut dan memperingatkan, “Nggak boleh boros, loh.”


“Waktu kecil toko semacam ini terasa luas, tapi saat dikunjungi pas sudah besar begini rasanya jadi agak sempit, ya.”


“Iya, ya. Itu tandanya kita juga sudah menua... eh, kok obrolan kita jadi kayak orang tua sih.”


“Padahal kita masih SMA, ya.”


Mereka berdua pun tertawa bersama.


“Oh, Ayaka. Di sebelah sini jual es krim.”


“Beneran? Es krim yang kita cari kira-kira ada nggak?”


“Hmm, kayaknya jenisnya nggak banyak sih... Ah!”


Haruto mengintip ke dalam freezer stocker kecil yang diletakkan di sudut toko tanpa berharap banyak. Namun detik berikutnya, ia berseru kaget.


Mendengar suara itu, Ayaka buru-buru berlari mendekat.


“Eh!? Jangan-jangan ada!?”


Ayaka datang tepat di sebelah Haruto dan ikut mengintip ke dalam freezer. Saat itu juga, ia berteriak kegirangan.


“Serius!? Ada! Ada loh, Haruto-kun!”


Di ujung pandangan mereka, tergeletak satu buah es krim rasa terbatas yang selama ini mereka cari-cari.


Begitu melihatnya, saking senangnya Ayaka melompat-lompat kecil di tempat.


“Nggak nyangka bakal ketemu di tempat seperti ini.”


Haruto juga terkejut, namun senyum mengembang di wajahnya.


Seharian ini mereka sudah mencari ke seluruh kota dan tidak ketemu sampai hampir menyerah. Karena itu, kegembiraan karena akhirnya berhasil menemukannya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.


“Haruto-kun! Harus cepat dibeli!”


“Benar juga.”


Padahal tidak ada pelanggan lain selain mereka, Ayaka berkata pada Haruto dengan agak panik.


Haruto sepertinya merasakan hal yang sama, dia buru-buru mengulurkan tangan dan mengamankan es krim tujuan mereka. Lalu, dia langsung membawanya dengan langkah cepat ke tempat nenek penjaga toko dan membayarnya.


Setelah itu, dengan diiringi ucapan “Terima kasih, ya” dari nenek penjaga toko, mereka berdua keluar.


“Mau makan di mana?”


Begitu keluar toko, Haruto melihat sekeliling dan bertanya.


“Bangku di sini gimana?”


Di sebelahnya, Ayaka menunjuk bangku tua yang diletakkan di depan toko.


“Oke. Kalau gitu kita makan di situ.”


Menyetujui usulan Ayaka, mereka berdua duduk di bangku yang catnya sudah sedikit mengelupas dan berkarat.


Di atas kepala mereka, lonceng angin yang digantung di ujung atap bergoyang tertiup angin sore, mendentingkan suara cring-cring yang menyejukkan.


“Es krim idaman ada di depan mata...”


Ayaka menatap es krim rasa terbatas yang dicarinya itu dengan tatapan penuh haru.


“Akhirnya kamu bisa makan, ya.”


“Ung!”


Es krim rasa pai apel edisi terbatas musim panas yang sedang ramai diperbincangkan karena kelezatannya, yang dulu harus dikorbankan dengan air mata demi bisa belanja berdua dengan Haruto. Ayaka pun menerimanya dari Haruto.


Karena akhirnya ia bisa memakannya, Ayaka membuka tutup es krim cup itu dengan gembira. Lalu, ia menyendok permukaannya dengan sendok plastik dan membawanya ke mulut.


“Unnnh!”


Ayaka menunjukkan reaksi yang sama seperti saat makan pancake siang tadi.


Melihat sosoknya yang makan dengan begitu nikmat, Haruto tersenyum senang.


“Gimana? Enak?”


“Enak bangeeet!”


Ayaka membalas dengan senyum lebar, lalu menyendok es krim lagi dan membawanya ke depan mulut Haruto.


“Aku kan udah pernah makan, jadi Ayaka saja yang makan.”


“Barang enak begini kalau dimakan dengan cara sharing rasanya bakal makin enak, tahu?”


“Masa sih? Beneran?”


“Ung, percaya deh sama aku.”


Ayaka mendekatkan es krim ke mulut Haruto sambil tersenyum.


Setelah melirik sekilas ekspresi gembira gadis itu, Haruto memasukkan es krim ke dalam mulutnya.


“Iya ‘kan? Enak, ‘kan?”


“...Terasa lebih manis daripada waktu makan sebelumnya.”


Haruto kira ia sudah cukup kebal dan terbiasa dengan suapan “Aaam” Ayaka saat makan pancake tadi siang, tapi ternyata konsep ‘terbiasa’ tampaknya tak berlaku untuk hal ini.


Rasanya berkali-kali lipat lebih enak dan lebih manis dibanding saat ia memakannya dulu. Sambil memandangi es krim yang kembali disuapkan Ayaka ke dalam mulutnya, itulah yang dirasakan Haruto.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close