NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V3 Chapter 3

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 3

Ootsuki Haruka di Sini

Haruto berdiri sebelahan dengan neneknya di dapur, mengiris halus daun bawang.


Suara tok-tok-tok yang ringan dan aroma segar khas daun bawang memenuhi dapur pada pagi hari itu.


“Nek, hari ini aku akan pergi seharian. Nenek hati-hati ya, jangan sampai kena sengatan panas lagi kayak waktu itu.”


“Iya, iya, Nenek paham.”


Sang nenek mengangguk berkali-kali menanggapi ucapan Haruto sambil membuat tamagoyaki.


“Haruto, apa hari ini kamu mau pergi jalan-jalan dengan Ayaka-san?”


“Iya, benar.”


Haruto menjawab sambil menaburkan irisan daun bawang ke dalam sup miso.


“Begitu, ya.”


Neneknya tampak sangat bahagia, kerutan di wajahnya semakin dalam karena senyuman.


Melihat reaksi neneknya, Haruto merasakan rasa bersalah yang seolah mencengkeram dadanya.


“Apa hubunganmu dengan Ayaka-san lancar?”


“Tenang saja, kami akur kok.”


Sambil membawa sarapan yang sudah siap ke ruang tengah, Haruto menjawab dengan senyuman untuk menutupi rasa bersalah di relung hatinya.


Ia ingin memperkenalkan pacar agar bisa melihat wajah bahagia neneknya.


Ayaka bersedia menemani keinginan Haruto itu dengan berperan sebagai pacar palsu.


Apakah ini benar-benar demi kebaikan Nenek?


Sisi rasional dalam diri Haruto memahami bahwa hubungannya dengan Ayaka saat ini bukanlah hal yang sehat. Namun, di sisi lain, fakta bahwa Ayaka bersedia menjadi ‘pacarnya’—meskipun palsu—memberikan rasa nyaman tersendiri baginya.


“Kamu harus menjaga Ayaka-san dengan baik, ya.”


Sambil duduk di meja makan yang penuh dengan hidangan sarapan, neneknya mengucapkan kata-kata yang sama dengan tempo hari. Menanggapi itu, Haruto mengangguk mantap, seolah ingin menutupi perasaan rumit yang bergejolak di dalam dirinya.


“Tentu saja, aku akan menjaganya.”


Sambil menjawab begitu, ia memikirkan banyak hal tentang hubungannya dengan Ayaka.


Rasa penyesalan karena telah melibatkan gadis itu dalam kebohongannya. Perasaan bersalah.


Logika yang mengatakan ia harus bersikap profesional sebagai staf asisten rumah tangga.


Keraguan tentang apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan tentang dirinya.


Dan terkadang, perasaan cinta yang nyaris menyapu bersih semua emosi itu layaknya air bah.


Di dalam benaknya, bayangan wajah Ayaka yang tersenyum bahagia dan gembira terus bermunculan silih berganti. Setiap kali bayangan itu muncul, dada Haruto terasa sesak dan emosinya menjadi sulit dikendalikan.


Jantungnya berdegup kencang dengan sendirinya, dan tanpa bisa dicegah, ekspresinya melembut serta sudut bibirnya terangkat. Padahal itu tubuhnya sendiri, tapi rasanya seolah tidak mau menuruti perintahnya sama sekali.


Di tengah situasi itu, saat Haruto tanpa sadar menghela napas panjang “Haaah~”, sang nenek yang duduk di hadapannya meletakkan mangkuk nasi dan bertanya.


“Hari-hari panas terus berlanjut, apa Ayaka-san tidak kelelahan karena cuaca panas?”


“Ung, tidak apa-apa. Dia sehat kok.”


Haruto mengangguk pada ucapan neneknya dan hendak menyeruput sup miso, namun tangannya tiba-tiba terhenti.


Sejak pagi neneknya terus-menerus membicarakan Ayaka. Haruto menyadari isi hati neneknya, lalu angkat suara.


“Ah... anu, aku belum tanya pada Ayaka sih jadi belum pasti, tapi aku berencana mengundangnya lagi ke rumah untuk memperkenalkannya secara resmi pada Nenek...”


“Benarkah? Wah, Nenek jadi tidak sabar.”


Mendengar ucapan Haruto, wajah Nenek seketika berseri-seri dan tersenyum lebar.


Melihat senyuman itu, perasaan Haruto menjadi semakin rumit, namun ia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berfokus pada sarapan.


Setelah sarapan bersama nenek selesai, Haruto bersiap-siap dan pergi menuju stasiun tempat ia janjian dengan Ayaka.


Awalnya Haruto bilang akan menjemput ke rumahnya, tapi Ayaka meminta janjian di luar dengan alasan, “Sekalian biar terasa kayak kencan sungguhan kalau kita ketemuannya di tempat janjian.”


“Ayaka sudah datang nggak, ya?”


Haruto berjalan cepat menuju stasiun sambil memeriksa layar ponselnya.


Saat janjian di depan stasiun untuk menonton film sebelumnya, gadis itu datang jauh lebih awal dari waktu yang disepakati.


Karena itu, kali ini Haruto sengaja berangkat dengan rencana tiba jauh lebih awal dari waktu janjian.


Dan benar saja, setibanya di depan stasiun empat puluh menit sebelum waktu janjian, ia memandang sekeliling alun-alun stasiun.


“Ternyata belum datang, ya...”


Haruto bergumam sendirian sambil menatap kerumunan orang yang sibuk berlalu-lalang.


Saat ia hendak melangkah menuju alun-alun, berpikiran untuk duduk di bangku sambil menunggu Ayaka, terdengar suara yang tak asing dari belakangnya.


“Haruto-kun!”


Haruto menoleh saat namanya dipanggil, dan di sana berdiri Ayaka dengan senyum bahagia yang merekah.


“Maaf, ya. Apa aku membuatmu menunggu?”


“Tidak, aku juga baru saja sampai kok.”


Haruto juga menyambut Ayaka yang berlari kecil mendekat dengan wajah berseri-seri itu dengan senyuman.


Hari ini gadis itu mengenakan gaun terusan putih kasual, memancarkan aura yang murni dan menawan ke sekelilingnya.


“Gaunmu hari ini juga sangat cocok dan cantik.”


“Fufu, makasih. Aku senang mendengarnya.”


Mendengar pujian Haruto, pipi Ayaka merona, namun ia menunjukkan ekspresi bahagia dengan senyum malu-malu.


“Haruto-kun juga kelihatan sangat keren, loh.”


Hari ini statusnya adalah kencan untuk latihan jadi pacar.


Karena itu, Haruto juga memperhatikan penampilannya; gaya rambutnya ditata rapi menggunakan minyak rambut. Biasanya Haruto tidak pernah memakai minyak rambut. Namun, hanya dengan mendapat satu kalimat ‘keren loh’ dari Ayaka, ia merasa usaha menata rambut dan merapikan penampilannya tidak sia-sia, membuat wajahnya menjadi rileks.


“Terima kasih. Uuum, ini masih jauh lebih awal dari waktu janjian, tapi mau langsung jalan aja?”


Mereka berdua berkumpul lebih dari tiga puluh menit lebih awal dari waktu yang seharusnya. Haruto mengecek waktu di ponselnya lalu menatap Ayaka. Gadis itu tersipu pelan dan mengalihkan pandangannya ke samping dengan malu-malu.


“Hari ini aku kelewat bersemangat mau cari es krim bareng Haruto-kun, jadi berangkatnya kepagian, deh.”


“B-Begitu, ya...”


Melihat reaksi Ayaka yang begitu manis, Haruto sampai kehabisan kata-kata. Ia berusaha keras mengencangkan ekspresi wajahnya yang menyeringai karena tersipu.


“Es krim rasa terbatas itu enak banget soalnya. Aku paham kok kalau kamu jadi nggak sabar.”


“...Ung.”


Ayaka mengangguk pelan setelah jeda sesaat. Jeda waktu itu membuat jantung Haruto berdetak lebih cepat.


“...Kalau begitu, kita langsung cari aja yuk es krim rasa terbatasnya.”


“Yuk! Semoga es krimnya ketemu, ya.”


“Iya.”


Hari ini pun sinar matahari musim panas terasa tanpa ampun. Haruto mulai berjalan sambil berpikir bahwa hari ini akan menjadi hari yang tepat untuk makan es krim, mencoba mengalihkan perhatian dari jantungnya yang berdebar kencang.


Namun, Ayaka di sebelahnya tetap diam di tempat, membuat Haruto segera menghentikan langkahnya.


“Ayaka?”


Melihat Haruto yang memiringkan kepala bingung, Ayaka menatapnya dengan pandangan mendongak sambil tersipu malu.


“Hari ini... latihan kencan, ‘kan?”


“Iya.”


“Kalau begitu... kita harus bersikap layaknya sepasang kekasih, ‘kan?”


“Iya, benar.”


“Waktu jalan pun, lebih baik jalan layaknya sepasang kekasih, ‘kan?”


“...Ung, benar juga.”


Haruto menyadari apa yang diinginkan gadis itu, lalu mengulurkan tangan kirinya pada Ayaka.


“Kalau begitu, ayo.”


“Ung!”


Ayaka menjawab dengan riang, lalu menautkan tangan kanannya ke tangan kiri Haruto yang terulur.


Haruto melirik sekilas ke arah tangan kirinya yang kini tergenggam erat oleh Ayaka, lalu mulai berjalan perlahan menyesuaikan langkah dengan gadis itu sambil bergulat dalam hati betapa sulitnya mengalihkan pikiran dari genggaman itu.


“Pertama kita ke department store di depan stasiun, ‘kan?”


“Iya. Ada nggak ya es krim rasa terbatasnya...”


“Entahlah? Di sana stok barangnya lengkap, jadi kurasa kita bisa berharap banyak.”


Sambil bertukar percakapan seperti itu, mereka berdua berjalan menuju tujuan dengan tangan saling bertautan ala kekasih.


Di lantai bawah tanah department store stasiun, berbagai jenis makanan dijual. Mulai dari lauk pauk, kue-kue manis, oleh-oleh untuk turis, hingga kue tradisional Jepang. Di tengah deretan produk yang harganya relatif mahal itu, Haruto dan Ayaka berjalan sambil bergandengan tangan.


“Ah, lihat Haruto-kun! Kue ini kelihatannya enak!”


“Wah! Kue yang ini cantik ya.”


“Ada wangi roti panggang... baunya enak ya, Haruto-kun.”


Di sebelahnya, Ayaka memandang ke sana kemari dengan mata berbinar-binar.


Gadis yang senyumnya serlah sinar mentari itu, biasanya sudah menawan, tapi hari ini tampak berkali-kali lipat lebih manis dan cantik.


“Ayaka, jangan asal jalan sendiri, nanti nyasar, loh?”


Melihat Ayaka yang tatapannya terpaku pada etalase kue tradisional Jepang, Haruto tersenyum kecut.


“Kalau begitu biar aku nggak nyasar, Haruto-kun pegang tanganku yang erat, ya.”


Mendengar ucapan Haruto, Ayaka melepaskan pandangannya dari etalase dan menatap lurus ke arah Haruto.


Bersamaan dengan itu, tangan kiri Haruto digenggam sedikit lebih erat.


“...Aku pegang erat kok.”


Haruto membuang muka agar wajahnya yang memerah tidak ketahuan, lalu bergumam pelan. Terdengar suara tawa kecil “Fufu” dari Ayaka di sebelahnya, tapi Haruto saat ini tidak punya nyali untuk menatap wajah gadis itu.


“Kalau ada yang jual es krim, mungkin di area sebelah sana? Kita coba ke sana yuk.”


“Ung, ayo.”


Haruto terus berjalan membelah keramaian lantai bawah tanah sambil tetap membuang muka dari Ayaka, namun tangannya menggenggam erat tangan gadis itu.


Seperti biasa, kecantikan Ayaka benar-benar luar biasa, sehingga Haruto yang bergandengan tangan dengannya sesekali merasakan tatapan sinis yang kurang menyenangkan dari orang sekitar. Namun, Haruto berpikir masa bodoh; jika ia bisa merasakan sentuhan lembut dan kehangatan tangan kecil Ayaka, tatapan-tatapan itu mungkin adalah harga yang wajar, atau bahkan terlalu murah untuk dibayar.


Mereka tiba di area penjualan es krim dan melihat sekeliling kotak pendingin.


Di sana berjajar berbagai jenis es krim, mulai dari produk standar yang kerap dijumpai hingga yang dijual dalam kotak besar.


“Es krim rasa terbatasnya nggak ada, ya...”


“Iya nih.”


Namun, barang yang mereka cari tidak ada di sana.


Mendapati hal itu, Haruto justru bersorak dalam hati.


Jika es krimnya ketemu, tujuan kencan kali ini akan terpenuhi. Tapi jika tidak ketemu, itu masih bisa jadi alasan untuk melanjutkan kencan. Dia bisa bersama Ayaka lebih lama.


Seolah menyembunyikan isi hatinya itu, Haruto melontarkan kata-kata penyesalan.


“Ternyata nyarinya nggak gampang, ya.”


“Ung, tapi... aku malah lebih senang begini.”


“Eh?”


Mendengar ucapan Ayaka, Haruto bersuara heran dan menatap wajah gadis itu.


“Soalnya, kalau begini... aku bisa bareng Haruto-kun lebih lama.”


“...B-Begitu, ya.”


“U-Ung.”


Ayaka mengucapkan hal yang sama persis dengan apa yang dipendam Haruto dalam hatinya, sambil merona merah.


Memang benar, saat ini mereka sedang latihan jadi pacar.


Kalau begitu, keinginan untuk bersama sedikit lebih lama adalah perasaan yang wajar bagi sepasang kekasih.


Ayaka benar-benar serius menjalani latihan ini, ya.


Dengan ekspresi malu-malu bercampur rona merah, Ayaka melontarkan pernyataan yang memiliki damage luar biasa.


Otak Haruto nyaris macet sesaat akibat ucapan itu, namun ia berhasil memikirkan alasan yang masuk akal dan menjaga ketenangannya.


“Kalau begitu, ayo kita ke tempat berikutnya.”


“Ayo.”


Sambil merasakan telinganya yang terasa sangat panas, Haruto menarik tangan Ayaka dan mulai berjalan.


Setelah keluar dari area makanan di lantai bawah tanah, mereka naik ke lantai satu dan berniat keluar dari department store.


Di tengah jalan, Ayaka bergumam “Ah” dan menghentikan langkahnya saat melihat sesuatu.


Haruto ikut berhenti dan melihat ke arah yang sama, di sana terdapat spanduk bertuliskan ‘Pameran Festival Musim Panas’ beserta banyak yukata yang dipajang.


Melihat Ayaka yang menatap yukata dengan penuh minat, Haruto tersenyum.


“Mau lihat-lihat sebentar?”


“Boleh?”


“Tentu saja.”


Setelah menjawab, Haruto berjalan menuju sudut pameran yukata.


“Wah, yukata ini cantik!”


Ayaka segera melihat-lihat yukata yang dipajang.


Melihat yukata berwarna-warni itu, wajah Ayaka berseri-seri. Melihat keadaan gadis itu, wajah Haruto pun secara alami ikut cerah.


Saat Haruto mengikuti di belakang Ayaka sambil tersenyum ramah, tiba-tiba gadis itu menoleh.


“Haruto-kun ingin pacarmu pakai yukata yang kayak gimana?”


“Eh? Uuum... apa ya...”


Mendapat pertanyaan mendadak dari Ayaka, Haruto mengamati yukata yang berjejer sekilas.


“Aku sih, daripada warna merah atau pink, lebih suka yang bernuansa sejuk dan tenang seperti warna nila atau biru muda, mungkin?”


“Begitu ya, nuansa sejuk dan tenang, ya...”


Mendengar pendapat Haruto, Ayaka mengangguk dengan ekspresi sangat serius.


Haruto merasa sedikit canggung dan malu, jadi ia menambahkan kalimat lain untuk mengalihkannya.


“Yah, tapi kalau Ayaka sih pakai apa saja pasti cocok.”


Jika Ayaka adalah pacar sungguhan dan memakai yukata yang sesuai dengan seleranya, tentunya itu akan sangat membahagiakan.


Sambil memikirkan hal itu, ia memandangi punggung Ayaka yang mulai meneliti yukata dengan lebih serius.


Tiba-tiba, ada suara yang memanggil Haruto.


“Lah? Itu Haru, bukan? Dan juga... Toujou-san?”


Mendengar suara yang begitu ia kenal itu, Haruto menoleh.


Di sana berdiri sahabatnya, Tomoya, yang menatap Haruto dan Ayaka yang berdiri berdampingan dengan ekspresi terkejut.


Dia menatap Haruto dan Ayaka bergantian dengan tatapan yang bercampur antara sedikit kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar.


“Eh? Eh? Kalian berdua kelihatan akrab banget?”


“Ah, nggak, ini...”


Melihat senyum menyeringai di wajah Tomoya, Haruto tahu persis apa yang ada di pikiran sahabatnya itu, dan ia pusing memikirkan cara meluruskan kesalahpahaman ini.


Saat itu Ayaka menarik-narik baju Haruto pelan.


“Haruto-kun...”


Melihat Ayaka menatapnya dengan ekspresi sedikit cemas, Haruto memutuskan untuk memperkenalkan sahabatnya yang ada di depannya.


“Ini sahabatku, Akagi Tomoya. Dia sekelas sama kita juga sih.”


“Akagi-kun... ah! Anu, halo.”


Mendengar perkenalan Haruto, Ayaka menengadah ke atas sedikit untuk mengingat-ingat. Lalu, sepertinya ia ingat siapa Tomoya dan membungkuk sopan.


“Halo~ wah, Toujou-san pakai baju kasual begini manis banget ya!”


“A-Anu... terima kasih.”


Ayaka tampak agak bingung menanggapi pujian Tomoya yang bernada santai itu.


“Hei Toujou-san, boleh pinjam Haru sebentar? Bentar doang kok.”


“Eh? U-Ung...”


Melihat Ayaka mengangguk kecil dengan ragu, Tomoya merangkul bahu Haruto dan membawanya agak menjauh dari gadis itu.


“Woy Haru! Aku nggak pernah dengar loh kalau kamu jadian sama Toujou-san!?”


Tomoya mendekatkan wajahnya ke Haruto sambil membelakangi Ayaka dan merendahkan suaranya agar tak terdengar.


“Kenapa kau nggak kasih tau aku sih! Kita sohib, ‘kan? Kiw, kiw.”


“Jangan tusuk-tusuk pinggangku. Lagian aku nggak pacaran sama Ayaka...”


“Hah? Boong ah! Kalian mesra-mesraan kayak gitu. Terus Haru juga panggil Toujou-san pakai nama ‘Ayaka’, ‘kan?”


“Itu... yah, ada banyak hal yang terjadi.”


Haruto memalingkan wajah untuk menghindari interogasi Tomoya. Melihat sikapnya itu, seringai di wajah Tomoya semakin lebar.


“Kalaupun nggak pacaran, kalian saling suka, ‘kan? Pasti itu.”


“Mana aku tahu. Aku sih mungkin iya, tapi kalau dia...”


Menanggapi ucapan Tomoya yang terdengar yakin, Haruto menjawab dengan suara yang nyaris hilang.


Mendengar nada suara Haruto yang tidak percaya diri, Tomoya memasang ekspresi seolah berkata “Ohooo?”.


Haruto tak tahan melihat ekspresi sahabatnya itu, lalu menepis lengan Tomoya yang merangkul bahunya.


“Lagian, kau ngapain ke depan stasiun? Sendirian?”


“Nggak lah, aku dipaksa nemenin Haruka belanj—”


“HARU-NII~!!”


Ucapan Tomoya tiba-tiba terpotong oleh teriakan bernada tinggi yang penuh semangat.


Saat Haruto menoleh ke arah suara itu, dari kejauhan terlihat seorang gadis berambut terang yang diikat kuncir samping berlari kencang dan langsung menubruk-memeluk lengan Haruto dengan momentum larinya.


“Tak kusangka bisa ketemu Haru-nii di tempat kayak gini! Untung ramalan zodiakku hari ini peringkat pertama!”


“Tunggu, Haruka-chan!?”


Nama gadis yang muncul tiba-tiba itu adalah Akagi Haruka. Adik perempuan Tomoya.


Sebagai adik Tomoya, Haruka juga memiliki wajah yang rupawan.


Meski raut wajahnya kelihatan agak galak, hidungnya mancung dan matanya yang berbentuk almond dengan kelopak ganda terlihat bulat besar seperti idol, memberikan kesan yang manis.


Dia masih kelas tiga SMP sehingga masih terasa sedikit kekanak-kanakan, tapi siapa pun bisa tahu bahwa dalam beberapa tahun kedepan dia akan menjelma jadi wanita cantik yang bisa membuat pria-pria di jalan menoleh.


Gadis itu melompat-lompat sembari tetap memegangi lengan Haruto, membuat Haruto bingung.


“Haruka-chan, ada banyak orang loh, jangan nempel-nempel gini...”


“Eeeh! Kan udah lama nggak ketemu Haru-nii, jadi harus isi ulang energi banyak-banyak.”


“Isi ulang apanya?”


Haruto tersenyum kaku. Di punggungnya, terdengar suara yang memanggil dengan ragu-ragu.


“A-Anu... Haruto-kun?”


Mendengar suara itu, Haruto menoleh dan melihat Ayaka menatap Haruka dan Haruto bergantian berulang kali.


Ekspresinya jelas terlihat memancarkan rasa panik yang kental.


“Ehm... anak itu... anu...”


“Ah, maaf. Anak ini adiknya Tomo—”


“Aku Haruka, adiknya Haru-nii!”


Padahal aslinya adik Tomoya, Haruka berbohong dengan wajah tanpa dosa.


“Ah! Ternyata begitu.”


Namun, Ayaka yang tidak menyadari kebohongan itu menundukkan kepala pada Haruka dengan ekspresi yang tampak lega.


“Salam kenal, aku Toujou Ayaka, teman sekelas kakakmu.”


“Terima kasih karena selalu membantu kakakku! Aku adiknya, Ootsuki Haruka!”


“Ngawur lu!”


Bersamaan dengan celetukan spontan itu, Haruto mengetok pelan dahi Haruka dengan tangan.


Haruka memegangi dahinya sambil mengerang, “Aduh.”


“Eh? Haruto-kun kenapa?”


“Maaf Ayaka, anak ini bukan adikku, tapi adiknya Tomoya.”


“Eh? Eh? Adiknya Akagi-kun?”


Sambil memegangi kepala gara-gara ulah Haruka yang lepas kendali, Haruto menunjuk ke arah Tomoya.


Sementara itu Ayaka tampak sangat bingung, menatap Haruto, Tomoya, dan Haruka bergantian dengan cepat.


“Eeeh! Aku kan adiknya Haru-nii!! Daripada yang kayak beginian, jelas-jelas Haru-nii lebih bagus!”


“Woy, apa maksudmu bilang kakak kandungmu sendiri ‘yang kayak beginian’. Kakakmu sakit hati, tahu?”


Tomoya memprotes, tapi Haruka hanya menjulurkan lidah “Wleee”.


Melihat interaksi itu, Ayaka yang masih bingung akhirnya mulai mengerti bahwa Haruka bukanlah adik Haruto.


“Aku perkenalkan ulang ya. Anak ini Akagi Haruka. Bukan adikku, tapi adiknya Tomoya.”


“Ternyata begitu... tapi, Haruto-kun dan Haruka-chan kelihatan kayak kakak-adik sungguhan, ya?”


“Ah~ itu sih, karena aku dan Tomoya teman masa kecil, jadi otomatis sudah kenal Haruka-chan sejak dulu.”


Bagi Haruto, Tomoya adalah sahabat sekaligus teman masa kecil. Dan adiknya, Haruka, adalah sosok yang sudah ia kenal sejak masih pakai popok, jadi rasanya memang seperti adik kandung sendiri.


“Saking dekatnya, kami sampai pernah mandi bareng, loh!”


Entah kenapa Haruka membusungkan dada dengan bangga. Mendengar itu, wajah Ayaka terlihat sangat kaku.


“He, hee... mandi... bareng...? Eh!? Mandi bareng!?”


“Bukan, bukan! Itu cerita masa lalu, oke? Waktu masih TK atau baru masuk SD!”


“B-Begitu, ya. Iya juga ya...”


Mendengar Haruto mati-matian membela diri, Ayaka mengelus dada lega. Saat itu, Haruka menatap Ayaka dan berkata.


“Ayaka-san, ya? Ada hubungan apa sama Haru-nii?”


Merasakan aura yang sedikit menekan seolah menginterogasi, Ayaka tercekat.


“Ehm..”


“Untuk sekadar teman sekelas, kok rasanya suasananya terlalu mesra ya?”


Haruka mendesak Ayaka sambil bergumam “Mumumu”.


“Jangan-jangan pacarnya Haru-nii? Kalau iya, sebagai adik, aku harus menilai apakah Ayaka-san pantas buat Haru-nii—”


“Jangan ngomong yang enggak-enggak, ayo cepetan belanja.”


Tomoya memotong pembicaraan dan mencengkeram kerah belakang adiknya.


“Hei! Onii! Jangan ganggu, dong!”


“Yang ganggu itu kamu. Yaudah, kami pergi dulu, ya. Sampai nanti Haru, dan Toujou-san juga.”


Tomoya menyeret adiknya pergi sambil tetap mencengkeramnya. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Haruto dan berbisik, “Nanti ceritain detailnya, oke?” lalu pergi.


Melihat berlalunya badai Akagi, Ayaka mematung sambil bengong.


Selama diseret Tomoya, Haruka masih ribut berteriak “Tugas sebagai adik belum selesai!” dan dibalas oleh kakak kandungnya, “Kakakmu itu aku!”


“Umm... adiknya Akagi-kun, anak yang lucu, ya?”


“Ung... mungkin agak unik, ya?”


Ayaka berbicara dengan hati-hati, Haruto pun membalasnya dengan senyum kecut.


“Tapi, Haruka-chan ya? Rasanya benar-benar kayak adik kandungnya Haruto-kun. Aku sampai lupa kalau Haruto-kun itu anak tunggal.”


“Yah, itu... karena aku mengenalnya sejak bayi, aku akui dia memang kayak adik kandung.”


Haruto sudah menganggap teman masa kecilnya, Akagi bersaudara, layaknya keluarga sungguhan.


Jadi, Haruto sendiri sadar bahwa Haruka sudah menjadi sosok yang seperti adik kandung baginya.


“Begitu, ya... Haruka-chan, manis banget, ya?”


“Eh? Ah, gen Akagi bersaudara memang pada rupawan sih.”


Kalau Haruto bilang begini, Haruka mungkin tidak masalah, tapi Tomoya pasti langsung besar kepala, jadi Haruto berusaha tidak mengatakannya di depan orangnya langsung. Tapi fakta bahwa Tomoya dan Haruka adalah kakak-adik yang tampan dan cantik tidak bisa dipungkiri.


Mendengar Haruto mengakui hal itu, Ayaka bergumam pelan “Hmmm”. Ekspresinya tampak sedikit merajuk.


“...Bagi Haruto-kun, Haruka-chan itu udah dianggap kayak adik?”


“Iya.”


“Begitu, ya...”


Melihat Ayaka yang terus-terusan membahas Haruka, bagian dalam dada Haruto terasa gatal.


Jika Ayaka cemburu pada Haruka yang akrab dengannya, maka kemungkinan besar Ayaka juga memendam perasaan yang sama dengan yang dipendam Haruto pada Ayaka.


Memikirkan hal itu, jantung Haruto berdegup kencang dengan sendirinya dan wajahnya memanas.


Ia mati-matian menahan agar bibirnya tidak menyeringai lebar, lalu diam-diam mengintip ekspresi Ayaka.


Gadis di ujung pandangannya itu sedang berpikir dengan wajah serius.


“...Ayaka?”


“Ah, maaf ya Haruto-kun.”


Mendengar Haruto memanggil namanya, Ayaka menunjukkan senyum lebar.


“Kalau begitu, kita lanjutin yuk KENCANnya.”


Dengan senyum yang sangat manis dan memikat, entah kenapa dia menekankan kata ‘kencan’.


Merasakan sedikit tekanan dari Ayaka, Haruto mengangguk.


“I-Iya, benar. Selanjutnya mau bagaimana? Mumpung di sini, mau lihat-lihat toko di gedung stasiun lagi?”


“Ung!”


Begitu Haruto menjawab, Ayaka mengangguk sambil tersenyum. Bersamaan dengan itu, ia memeluk lengan Haruto seolah menempelkan tubuhnya, dan menggenggam tangannya erat-erat.


“Ayaka?”


“Sekarang kan lagi latihan jadi pacar. Harus bersikap supaya kelihatan kayak pacar beneran, dong.”


Haruto goyah karena Ayaka begitu menempel padanya.


Melihat Haruto seperti itu, Ayaka menunjukkan semangat tinggi untuk latihan menjadi pacar, seolah berkata dia siap sepenuh hati.


Ini sih sudah kelewat pacar namanya...


Sambil memendam jeritan hati itu, Haruto mulai berjalan dengan Ayaka.



Aku berjalan sambil memeluk lengan kiri Haruto-kun erat-erat ke dadaku.


Di hatiku saat ini, mulai tumbuh rasa panik yang tidak sedikit. Penyebabnya adalah keberadaan Haruka-chan, adik dari sahabatnya, Akagi-kun.


Haruto-kun bilang Haruka-chan seperti adiknya sendiri, tapi tak ada jaminan akan terus begitu ke depannya.


Cinta bisa tumbuh karena pemicu apa saja, itu tak bisa diprediksi. Aku sendiri jatuh cinta sama Haruto-kun, dan aku sangat merasakan hal itu.


Apalagi, ada kemungkinan Haruka-chan juga memendam perasaan pada Haruto-kun.


Melihat interaksi akrab mereka tadi, aku merasakan kepanikan yang seolah meremas dadaku.


Untuk menenangkan gejolak emosi yang berputar di dalam hatiku, aku menggenggam tangan kiri Haruto-kun dengan kuat.


“...Ayaka?”


“Hei, Haruto-kun. Aku mau lihat-lihat baju sebentar, boleh?”


“Eh? Ah iya, boleh banget kok.”


Haruto-kun langsung mengangguk menyetujui permintaanku.


Dia melihat papan petunjuk di samping eskalator dan bergumam, “Uuum, pakaian wanita ada di...” untuk memastikan ke lantai berapa kami harus pergi.


Aku menatap profil wajah Haruto-kun lekat-lekat.


Saki pernah bilang. Kalau hubungan pacar pura-pura ini dibiarkan berlarut-larut, hubunganku dengan Haruto-kun bisa jadi rumit dan aneh. Ditambah lagi, sepertinya dia diam-diam cukup populer di kalangan gadis-gadis sekolah. Aku tidak punya waktu untuk berleha-leha! Aku harus berjuang dalam operasi latihan pacaran ini dan menarik perhatian Haruto-kun sekuat tenaga!


Dengan tekad baru, aku tiba di area pakaian wanita bersama Haruto-kun.


“Boleh aku lihat-lihat sebentar?”


“Tentu saja.”


Haruto-kun mengikutiku tanpa menunjukkan wajah keberatan sedikit pun.


Andai saja ini kencan sebagai pasangan sungguhan, pasti rasanya bahagia sekali... Demi memenangkan masa depan itu, aku harus berjuang!


Aku memilah-milah dengan cermat, baju seperti apa yang bisa menembus hati Haruto-kun.


Koleksi baju yang dijual sedang beralih dari musim panas ke musim gugur, tapi karena hari-hari panas masih berlanjut, baju musim panas berbahan tipis masih banyak tersedia.


Haruto-kun kan laki-laki, mungkin yang sedikit terbuka itu lebih bagus... ya?


Sambil memikirkan kesan yang akan didapat darinya, aku mengambil beberapa potong baju yang biasanya tak akan pernah kupilih.


“...Boleh minta tolong lihat saat aku coba?”


“Aku nggak paham fashion wanita loh, nggak apa-apa?”


“Ung. L-Lagian, hari ini kan aku pacarnya Haruto-kun? Jadi, buatku saat ini, pendapat Haruto-kun sebagai pacar adalah yang terpenting.”


“B-Begitu, ya...”


Karena malu, aku bicara agak cepat, lalu langsung memeluk baju-baju itu dan menuju kamar pas. Di belakangku terdengar langkah kaki Haruto-kun yang mengikuti, tapi karena terlalu malu untuk bertatap muka, aku langsung masuk ke dalam kamar pas dan menutup tirai.


“Fuuuh...”


Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu mengumpulkan semangat dan melepas gaun terusan yang kupakai. Kemudian, aku segera mengenakan baju pertama yang kubawa.


Yang pertama kupakai adalah blus off-shoulder putih dan rok yang lebih pendek dari yang biasa kupakai.


Sebenarnya aku pernah pakai off-shoulder waktu kencan nonton film sama Haruto-kun, dan kadang pakai juga buat harian, jadi rintangan mentalnya agak rendah.


Tapi, yang kupakai waktu kencan nonton film desainnya lebih sopan, dan aku pakai kardigan tipis di luarnya. Baju harianku juga desainnya kalem.


Dibandingkan itu, blus yang kupakai sekarang punya frill besar di dada, memang manis banget sih, tapi rasanya bagian kulit yang terbuka agak kebanyakan...


Ta-Tapi kalau ini bisa menarik perhatian Haruto-kun!!


Aku membulatkan tekad dan membuka tirai kamar pas.


“Haruto-kun, gimana... menurutmu?”


Aku meminta pendapat Haruto-kun yang sudah menunggu dengan patuh di depan kamar pas.


“Ung, cocok banget dan kelihatan manis kok.”


“Uh... makasih... kalau gitu, aku ganti baju berikutnya, ya.”


Begitu berkata demikian, aku langsung menutup tirai untuk menyembunyikan wajahku yang menyeringai karena dipuji.


Dibilang manis itu rasanya senang banget. Tapi, ada sedikit rasa kesal juga. Padahal aku sudah memberanikan diri buat pamer kulit, tapi reaksi Haruto-kun biasa saja.


Padahal aku ingin membuatnya lebih, gimana ya... deg-degan gitu...


“Kalau yang ini, bisa menggetarkan hati Haruto-kun nggak ya?”


Sambil bergumam begitu, aku mengecek penampilanku di cermin.


Yang kupakai berikutnya adalah kemeja dengan potongan V di punggung dan celana skinny jeans.


Dari depan terlihat biasa, tapi bagian belakangnya memamerkan punggung dengan berani.


“Maaf menunggu, Haruto-kun. Kalau yang ini gimana?”


Aku bertanya pada Haruto-kun sambil memutar tubuh dengan santai untuk memperlihatkan punggungku.


Lalu, aku merasa wajahnya sedikit memerah.


“...Itu juga, cocok banget kok. Ayaka pakai apa saja tetap manis, ya.”


“A-Ah, makasih... Boleh lihat satu lagi?”


“Ung, dengan senang hati.”


Melihat Haruto-kun mengangguk, aku kembali mengurung diri di kamar pas.


“Apa dia sedikit deg-degan tadi?”


Mengingat reaksi Haruto-kun barusan, rasa senang sekaligus malu membuncah di dalam hatiku.


Lebih... aku ingin membuatnya lebih deg-degan lagi...


Sambil merasakan hasrat itu meluap di dalam dada, aku mencoba baju terakhir.


“...Ini sih... terlalu agresif...?”


Aku menatap lekat-lekat sosokku yang terpantul di cermin.


Yang kupakai sekarang adalah off-shoulder yang bukaannya jauh lebih lebar dari blus pertama tadi, dan potongannya pendek sampai perut dan pusarku kelihatan.


Ini namanya tube top ya? Atasannya cuma ini doang, ‘kan? Karena ada frill besarnya, ini bukan pakaian dalam, ‘kan?


Melihat baju yang sepertinya cuma menutupi area dada, aku jadi agak cemas.


Ngomong-ngomong, bawahannya juga celana pendek yang cuma sampai separuh paha.


“Rasanya kayak pakai baju renang...”


Saking banyaknya bagian yang terbuka, aku terdiam kaku sambil memegang tirai.


Aku membeku beberapa detik. Tapi, didorong oleh hasrat ‘Ingin membuat Haruto-kun deg-degan!’ yang memuncak di dalam dada, aku membuka tirai dengan suara srekk yang kencang.


“!!??”


Saat melihat penampilanku, mata Haruto-kun terbelalak lucu, dan dia menatapku tanpa berkedip seolah kena guna-guna.


“Anu... gimana, menurutmu?”


Aku bertanya sambil merasakan tatapannya menyapu tubuhku.


Lalu Haruto-kun memasang ekspresi seperti orang yang baru sadar dari lamunan. Setelah itu, dia menjawab dengan mata yang bergerak ke sana kemari sampai rasanya aku pengin tertawa sendiri melihatnya.


“E-Eehm... itu...”


Haruto-kun mulai bicara dengan suara pelan meski terbata-bata.


“Sekarang kan lagi latihan pacaran, jadi kalau aku ngasih pendapat sebagai pacar... boleh, ‘kan?”


“Ung. Tolong pendapatnya.”


Saat aku mengangguk, dia terdiam sejenak sebelum menjawab.


“Kalau begitu, baju itu... kayaknya nggak boleh?”


“Eh!?”


Mendapat penolakan ‘No’ yang tak terduga, hatiku seketika dipenuhi rasa panik.


Terlalu agresif ya!? Terlalu terbuka!?


Jangan-jangan... aku dianggap cewek murahan!? Gi-Gimana, dong~~!!


Pikiranku membeku karena kata-katanya, aku setengah panik.


Mungkin tindakanku sudah terlalu jauh karena kelewat semangat...


Saat aku berpikir begitu, suara pelan Haruto-kun sampai ke telingaku.


“Bajunya cocok banget kok. Sangat, ehm, dewasa dan memikat. Tapi, karena terlalu memikat, aku jadi nggak bisa konsen kencannya.”


“Eh?”


“Aku senang banget kamu semangat pilih baju buat kencan, tapi aku nggak mau kalau selama kencan pikiranku jadi blank gara-gara itu. Lagipula...”


Haruto-kun memutus kalimatnya sejenak, lalu sambil menggaruk pipinya dengan malu-malu dan membuang muka, dia berkata padaku.


“Aku nggak mau memperlihatkan penampilan itu ke cowok lain. Kalau aku... pacar beneran Ayaka, aku ingin memonopolimu sendirian... makanya... baju itu kayaknya nggak boleh?”


“!!??”


Mendengar ucapan Haruto-kun, tubuhku mendadak diterpa panas luar biasa.


“...B-Baik. Aku... ganti baju dulu.”


“Ung.”


Sambil menunduk, aku menutup tirai dengan ragu-ragu.


Begitu tirai benar-benar menutupi sosok Haruto-kun, aku tak tahan lagi dan langsung jongkok di tempat, menutupi wajah dengan kedua tangan.


“Uuuh...”


Aku mengganti baju dengan gerakan agak lambat, sambil berusaha mengembalikan ketenanganku.


“Ma-Maaf menunggu...”


“Ung... baju yang tadi, mau dibeli?”


“Enggak. Nanti aku beli bajunya bareng Saki saja.”


“Aah... kalau Aizawa-san, sepertinya dia bisa kasih saran yang bagus ya.”


“Ung...”


“...Kalau begitu, mau ke tempat berikutnya?”


Di tengah suasana yang agak canggung, Haruto-kun tetap mengulurkan tangannya padaku.


Sambil mendengarkan suara detak jantungku yang ribut dag-dig-dug, aku menggenggam tangan itu dan mulai berjalan sebelahan dengannya.


Di dalam kepalaku, kata-kata ‘Aku ingin memonopolimu’ terus berulang tanpa henti.


Haaah... dimonopoli... aku mau banget...


Sambil menggumamkan itu dalam hati, aku berkali-kali curi-curi pandang ke arah Haruto-kun.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close