Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Afterword
Terima kasih banyak sudah membaca.
Berkat dukungan semua pembaca, akhirnya aku bisa menerbitkan volume keempat dengan sukses. Dari lubuk hati, aku sungguh berterima kasih.
Nah, kali ini aku ingin bercerita tentang alasan mengapa nama sang protagonis dalam kisah ini adalah “Haruto”.
Aku merancang cerita ini sekitar dua bulan sebelum anakku lahir. Saat itu, aku sibuk memikirkan nama untuk bayi yang akan datang. Setelah mempertimbangkan arti nama, hasil ramalan, dan kesan yang ditimbulkan, aku menyempitkan pilihan menjadi tiga kandidat. Dari ketiganya, yang paling kusuka adalah “Haruto”.
Namun, ketika aku berdiskusi dengan istri, ia berpendapat bahwa kanjinya agak membingungkan. Akhirnya, nama itu tidak dipakai, dan kami kembali mencari nama lain. Meski begitu, aku tidak bisa melepaskan nama “Haruto” begitu saja. Maka, aku memutuskan untuk memberikannya kepada protagonis dalam cerita ini.
Di sini, izinkan aku mengungkapkan sedikit ambisi pribadi.
Aku bermimpi suatu hari cerita ini menjadi sangat terkenal, lalu banyak orang tua menamai anak laki-laki mereka “Haruto”, hingga nama itu menempati peringkat pertama dalam daftar nama bayi laki-laki. Ketika berita itu muncul, aku akan menunjukkannya pada istri sambil berkata dengan bangga: “Lihat! Nama Haruto itu ternyata tidak sulit dipahami!”
Itulah ambisiku.
Sambil berkhayal seperti itu, kini tiap harinya aku bergulat dengan putraku yang sedang dalam fase “serba tidak mau”.
Nak, pergi keluar itu boleh saja, tapi tolong kenakan pakaian, ya? Ayah merasa agak resah kalau kamu jalan-jalan hanya dengan popok. Ayo, pakai baju... tidak mau? Kalau begitu, setidaknya celana saja... tidak mau? Sepatu... tidak mau? Begitu ya, tidak mau... belakangan ini cuacanya memang hangat, dan kamu masih pakai celana dalam, jadi mungkin tidak apa-apa... Oh? Mau pakai sepatu? Eh, tapi itu sepatu bot hujan!? Masa iya pakai sepatu bot hujan dengan celana dalam saja...
Mengasuh anak tiap harinya memang penuh kejutan, dan sungguh menyenangkan.
Ngomong-ngomong, mengenai asal-usul nama sang heroine, “Ayaka”. Saat aku sedang memikirkan nama heroine, kebetulan aku sedang minum teh hijau. Itu saja.
...Bukan berarti aku asal menentukan nama heroine, sama sekali tidak.
Itu adalah momen inspiratif. Sebuah kilatan ide.
Biasanya aku minum teh hijau merek “O...i”, tapi waktu itu kebetulan bukan merek itu. Jadi, aku anggap itu takdir.
Mungkin heroine dalam cerita ini bisa saja bernama “Iyuko” atau “Iyumi”, tapi karena kebetulan aku sedang minum teh hijau dengan nama yang terasa pas, lahirlah nama indah “Ayaka”.
Kuulangi sekali lagi: nama heroine ini tidak ditentukan secara asal.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment