NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V4 Chapter 10

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 10

Dua Sosok yang Bikin Teringat Masa Lalu

Di kawasan perumahan yang terselimuti kesunyian malam.


Di bawah pendar lembut cahaya rembulan, Haruto dan Ayaka berjalan perlahan sambil membiarkan jemari mereka saling bertaut.


“Kembang apinya indah banget, ya.”


“Apa festival kembang api memang selalu sehebat itu setiap tahunnya? Aku jadi sedikit menyesal karena selama ini tidak pernah benar-benar memperhatikannya,” ucap Haruto dengan nada kagum, membalas Ayaka yang wajahnya masih berbinar mengingat pemandangan yang baru saja mereka tonton.


Mendengar hal itu, sang gadis menoleh padanya seraya mengulas sebuah senyum yang teramat manis.


“Mulai sekarang, kita harus selalu menonton berdua, ya. Tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya... bersama-sama.”


“Iya, tentu saja.”


Begitu Haruto mengangguk, rona merah tipis menjalar di pipi Ayaka, dan gadis itu tersipu dengan raut bahagia. Melihat senyuman lembut kekasihnya itu, sebuah gumaman pelan lolos dari bibir Haruto, “Begitu, ya.”


“Alasan kembang api kali ini terasa begitu indah... ternyata karena aku menontonnya bersamamu, Ayaka.”


Bunga-bunga cahaya raksasa yang bermekaran di hamparan langit malam, serta Ayaka yang menengadah dengan sepasang netra yang berbinar terang. Haruto sadar, justru karena kedua elemen itulah yang bersanding menjadi satu, festival kembang api malam ini terasa begitu menyentuh relung hatinya.


“Aku juga merasa festival kembang apinya sangat indah dan berkesan karena aku menyaksikannya bersamamu, Haruto-kun.”


Mendengar ucapan riang bernada bahagia dari gadis itu, lengkung senyum pun tak ayal ikut terbit di bibir Haruto.


Setelahnya, kedua insan itu melanjutkan langkah menuju kediaman Toujou, diselingi obrolan hangat tentang kembang api yang baru saja mereka nikmati.


Jinbei yang saat ini dikenakan Haruto adalah pinjaman dari Shuuichi, ayah Ayaka. Karena ‘syarat’ untuk meminjam pakaian tradisional itu adalah mengantar Ayaka pulang dengan selamat, Haruto pun menggenggam tangan kekasihnya erat-erat di sepanjang jalan.


“Ngomong-ngomong, syarat Shuuichi-san saat pinjamin jinbei ini lumayan aneh, ya?”


Haruto berujar sembari memiringkan kepalanya keheranan. Lagipula, tanpa perlu diberi syarat semacam itu pun, mengantar pulang kekasih tercintanya adalah sebuah kewajiban mutlak. Begitulah prinsip di benak Haruto.


“Hmm, mungkin Papa pengin kamu mampir ke rumah sepulang dari festival kembang api?”


“Apa iya? Tapi untuk apa?”


“Kenapa, ya?”


Gagal menebak maksud tersembunyi Shuuichi, keduanya pun kompak memiringkan kepala.


Tiba-tiba, pandangan Haruto beralih ke arah kaki Ayaka.


“Ayaka, kakimu nggak apa-apa? Sakit nggak?”


Malam ini, gadis itu mengenakan sandal kayu untuk melengkapi balutan yukata-nya. Jika tidak terbiasa, tali sandal bisa menggesek kulit dan membuat kaki lecet. Jika dibiarkan begitu, kulitnya bahkan bisa terkelupas.


Memahami kekhawatiran Haruto, Ayaka membalas dengan seulas senyuman, “Nggak apa-apa, kok.”


“Sebelum aku memakainya, Ibu sudah melonggarkan tali sandalnya supaya kakiku nggak sakit.”


“Syukurlah kalau begitu. Ikue-san memang pengertian, ya.”


Haruto menghela napas lega mengetahui kaki kekasihnya baik-baik saja. Namun, tiba-tiba gadis itu berseru, seolah baru saja menyadari sesuatu.


“...Ah.”


“Ya?”


“...Sepertinya, kakiku... agak sakit, deh...”


“Eh!? Kamu nggak apa-apa?”


Haruto terkejut bukan main mendengar Ayaka tiba-tiba menarik kembali kata-katanya. Tatapannya pun seketika tertuju lagi ke arah kaki gadis itu.


“Ah, tidak, ah, eh, maksudku... lumayan sakit buat jalan... mungkin...”


“Baiklah. Biar kugendong sa—“


“Mau!”


Belum sempat Haruto menuntaskan kalimatnya, Ayaka sudah menyela dengan antusias.


Haruto pun memicingkan mata curiga. Saat diperhatikan lebih saksama, raut wajah Ayaka justru memancarkan kegembiraan yang meluap-luap, dan manik matanya berkilat penuh harap.


“...Ayaka?”


“Ugh... aduh, kakiku sakit banget... rasanya aku sudah tak sanggup jalan...”


Dihujam tatapan penuh selidik oleh Haruto, Ayaka terang-terangan membuang muka. Ia menatapnya lekat-lekat selama beberapa saat, tetapi gadis itu terus memalingkan wajahnya. Reaksi kelimpungan yang begitu menggemaskan itu pada akhirnya meruntuhkan pertahanan Haruto, memaksanya tersenyum geli.


“...Fufu, baiklah. Ayo, naik ke punggungku.”


Haruto membelakangi kekasihnya yang sedari tadi habis-habisan berakting kesakitan, lalu berjongkok.


Dengan mudahnya mendapat persetujuan, justru Ayaka-lah yang kini menunjukkan gelagat ragu.


“K-Kamu beneran mau gendong?”


“Tentu saja. Kalau aku biarin pacarku yang lagi kesakitan jalan kaki sendirian, aku gagal jadi pacar yang baik, ‘kan?”


“A-Anu, soal kakiku yang sakit itu... um... itu...”


Merespons kebaikan Haruto, Ayaka menatap gelisah kesana-kemari, mungkin dihantui rasa bersalah karena telah berbohong.


Melihat reaksi imut kekasihnya itu, Haruto hanya bisa menggeleng pelan seraya membatin, Hadeh.


“Padahal tanpa beralasan pun, kalau Ayaka bilang pengin digendong, aku pasti bakal gendong kapan pun kamu mau.”


“S-Sungguh?”


“Iya. Ayo, naiklah.”


Haruto mengulurkan kedua tangannya ke belakang, menyambut Ayaka.


“K-Kalau begitu, tolong, ya.”


Dengan malu-malu, gadis itu menempelkan tubuhnya ke punggung Haruto, lalu melingkarkan kedua lengannya melewati bahu pemuda itu, menautkan jemarinya dengan longgar di depan dada.


“Aku berdiri, ya?”


“Iya.”


Usai memastikan, Haruto perlahan bangkit berdiri, lalu melepaskan sandal kayu dari kedua kaki Ayaka yang terjuntai di sisi pinggangnya.


“Terima kasih, Haruto-kun. Um... apa aku nggak berat?”


“Sama sekali nggak.”


Haruto menyelipkan lengannya di bawah lutut Ayaka, menopang tubuh gadis itu dengan mantap, dan perlahan mulai mengayunkan langkah.


Pada awalnya, Haruto bisa merasakan sedikit ketegangan dari tubuh Ayaka di punggungnya. Namun, tak lama berselang, gadis itu tampaknya mulai rileks, membiarkan punggung Haruto menanggung beban tubuhnya sepenuhnya.


“Punggungmu lebar dan hangat, ya, Haruto-kun.”


“Begitukah?”


“Iya. Ayunan langkahmu juga sangat nyaman... entah kenapa aku jadi agak ngantuk.”


“Tidurlah kalau mau, nanti kubangunkan kalau kita sudah sampai.”


Mendapat tawaran selembut itu, Ayaka justru menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku nggak mau tidur. Kalau aku tidur, momen berharga digendong olehmu ini akan berlalu dalam sekejap. Aku harus benar-benar menikmatinya.”


“Menikmati apanya, ini nggak istimewa-istimewa amat, kok.”


“Bagiku ini sangat istimewa.”


Berujar demikian, Ayaka mempererat pelukan lengannya di leher Haruto.


“Aku merasa sangat bahagia karena bisa merasakan kehadiranmu dengan seluruh tubuhku...”


“Kh... Ayaka? Kalau kamu terlalu menempel, um... di punggungku, ada sesuatu yang... pahamlah, jadi bisakah kamu sedikit melonggarkannya?”


Haruto berucap dengan wajah bersemu merah, salah tingkah akibat sentuhan tubuh Ayaka yang terlalu intim.


Alih-alih menurut, gadis itu justru menggesekkan pipinya ke punggung Haruto dan langsung menjawab tegas.


“Nggak mau. Nggak bakal kulepas.”


“...Begitu, ya.”


“Iya, begitu.”


Mendengar jawaban Ayaka yang teramat riang, Haruto hanya bisa berusaha sekuat tenaga mengabaikan sensasi lembut di punggungnya sembari terus melangkah menembus malam menuju kediaman Toujou.


Beberapa menit berlalu. Tepat sebelum mereka tiba di pekarangan kediaman Toujou, Haruto menurunkan Ayaka dari punggungnya.


“Terima kasih, ya. Gendonganmu sangat nyaman.”


“Syukurlah kalau usahaku menggendongmu tak sia-sia.”


Begitu kehangatan di punggungnya sirna, Haruto diam-diam merasakan secercah rasa kecewa menyelinap di relung hatinya.


“Kamu mau mampir dulu, ‘kan?”


Tanya Ayaka seraya meraih gagang pintu masuk rumahnya.


“Iya, kurasa aku akan singgah sebentar.”


Malam sebenarnya sudah cukup larut. Normalnya, Haruto pasti akan menolak demi kesopanan. Namun, ia sudah cukup akrab dengan keluarga Toujou, dan di samping itu, ia harus memenuhi ‘syarat’ dari Shuuichi. Terlebih, ia memang tulus ingin berterima kasih karena telah dipinjami pakaian. Berbekal alasan-alasan itu, Haruto pun melangkah masuk membuntuti Ayaka.


Begitu melangkah masuk ke ruang keluarga bersama Ayaka, tampak Ikue dan Shuuichi tengah asyik menikmati minuman ringan di meja makan. Sosok Ryota tidak terlihat, kemungkinan besar sang adik sudah terlelap di kamarnya.


Shuuichi adalah orang pertama yang menyadari kepulangan mereka. Pria itu meletakkan gelas anggur di tangannya ke atas meja dan berseru dengan nada takjub.


“Oh!! Selamat datang, kalian berdua! Wah, Haruto-kun! Jinbei itu benar-benar cocok untukmu! Sudah kuduga, seleraku memang tak pernah salah!”


Sambutan Shuuichi terdengar terlampau heboh. Menyusul sang suami, Ikue pun menoleh ke arah pasangan muda itu.


“Selamat datang. Ih, Sayang, lihat deh. Yukata Ayaka dan jinbei Ootsuki-kun. Manis sekali, ya. Rasanya aku jadi teringat masa lalu kita.”


“Benar banget! Aku merasa seperti menaiki mesin waktu dan kembali ke masa-masa awal kita berpacaran dulu!”


Begitu melihat kedatangan Haruto dan Ayaka, entah mengapa sepasang suami istri itu malah asyik bernostalgia sendiri. Mendengar percakapan mereka, Haruto perlahan mulai menangkap maksud dari semua ini.


Yukata yang dikenakan Ayaka malam ini rupanya pakaian milik Ikue di masa mudanya. Begitu pula dengan jinbei yang dipakai Haruto, itu adalah setelan yang dulu biasa dikenakan Shuuichi. Tampaknya, melihat sosok Ayaka dan Haruto berbalut pakaian-pakaian tersebut membuat pasangan Toujou tanpa sadar memproyeksikan bayangan masa muda mereka pada kedua remaja di hadapannya.


“Umu, umu! Ayaka benar-benar salinan persis dirimu waktu muda, Ikue.”


Shuuichi memiringkan gelas anggurnya dengan senyum puas. Di sisi lain, Ikue menatap Haruto dalam balutan jinbei dan mulai bernostalgia.


“Melihat jinbei itu... aku jadi teringat kencan pertama kita ke festival kembang api. Ootsuki-kun, asal kamu tahu saja, pria ini selalu memasang tatapan membunuh tiap kali ada laki-laki yang mencoba menyapaku.”


“Soalnya sejak dulu kamu memang selalu digoda banyak pria, Ikue. Tentu saja aku ketar-ketir dibuatnya.”


“Aduh, kamu ini. Ufufu.”


Di saat sepasang suami istri itu mulai tenggelam dalam dunia manis mereka sendiri, Haruto memberanikan diri untuk menyela dengan canggung.


“Anu, terima kasih banyak karena telah meminjamkan jinbei ini pada saya. Nanti akan saya cuci bersih sebelum mengembalikannya.”


“Ah, tidak, tidak, jangan sungkan begitu! Kembalikan saja apa adanya, tidak masalah, kok! Malahan, kalau kamu menyukainya, ambil saja!”


“Eh? T-Tapi rasanya sangat tidak sopan kalau saya menerimanya...”


“Tidak ada yang perlu disungkankan! Karena orangnya adalah kamu, aku malah sangat rela memberikannya! Hahaha.”


Melihat tabiat Shuuichi yang kelewat semringah sejak tadi, pandangan Haruto melirik sekilas ke arah gelas anggur yang terhidang di depan pria itu.


Setiap kali berada di bawah pengaruh alkohol, suasana hati Shuuichi memang selalu ceria, namun bersamaan dengan itu, ia juga cenderung hilang kendali dan jadi berlebihan jika menyangkut Haruto dan Ayaka.


“Papa sengaja kasih syarat saat pinjamin jinbei itu karena pengin melihat Haruto-kun memakainya, ya?”


“Umu! Membayangkan Ayaka yang memakai yukata Ikue bersanding dengan Haruto dalam jinbei-ku... aku merasa sosok kalian berdua akan terlihat sangat mirip dengan kami di masa lalu. Kalau pakai bahasa anak muda zaman sekarang, mungkin ini yang dinamakan aesthetic, kali ya?”


“Umm... kurasa penggunaan katanya agak kurang tepat, deh...”


Putrinya hanya bisa memasang raut wajah serba salah merespons ujaran ayahnya.


“Haruto-kun, kalau tidak keberatan, bolehkah aku memotret kalian berdua?”


“Ah, iya. Silakan, Shuuichi-san.”


Haruto mengangguk mengiyakan permintaan Shuuichi. Tanpa berlama-lama, Shuuichi segera mengeluarkan ponselnya dan mulai mengabadikan potret kebersamaan Haruto dan Ayaka.


“Papa, motretnya jangan berlebihan begitu, dong.”


Tegur Ayaka, mulai merasa risi melihat kelakuan ayahnya.


“Tidak apa-apa, lah. Kelak, saat kamu dan Haruto-kun sudah punya anak, kamu pasti akan memahami perasaanku ini.”


“A-Anak!?”


Satu celetukan spontan dari Shuuichi sukses membuat wajah Ayaka merah padam dalam sekejap.


“Wah~ foto-fotonya bagus sekali. Terima kasih, Haruto-kun.”


“Sama-sama, Shuuichi-san.”


“Melihat kalian mengenakan pakaian masa muda kami ternyata sangat menyenangkan, ya. Kira-kira apa lagi yang bagus, ya... Oh? Ngomong-ngomong, kostum Sinterklas waktu perayaan Natal—“


“Sayang, kurasa hal semacam itu masih terlalu dini untuk mereka berdua, oke?”


Tepat sebelum Shuuichi merampungkan kalimatnya, Ikue menyela dengan nada teramat halus. Wanita itu menyematkan sebuah senyuman paripurna yang memancarkan intimidasi absolut, menolak segala bentuk bantahan.


Mendapat peringatan maut dari sang istri, bahkan pria sekelas Shuuichi pun seketika tersadar dari mabuknya. Ia terbatuk pelan, “Ehem”, membersihkan tenggorokan, lalu kembali beralih menatap Haruto.


“Haruto-kun, terima kasih sudah mengantar Ayaka pulang dengan selamat.”


“Ah, iya, sama-sama...”


Haruto tak kuasa menahan senyum kecut melihat perubahan drastis Shuuichi yang tiba-tiba kembali ke watak normalnya.


Sementara itu di sebelahnya, Ayaka memasang wajah masam setelah tak sengaja mengintip sekelumit sejarah ‘kelakuan liar’ masa muda kedua orang tuanya.


“Papa... sebenarnya kostum apa yang Papa suruh Ibu pakai...”


“Hm? Memangnya kita lagi ngomongin apaan?”


Menanggapi cecaran putrinya, Shuuichi hanya membuang muka dan berpura-pura bego.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close