NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V2 Chapter 5

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 5

Pacar Palsu

“...Boleh kok. Aku akan pura-pura jadi pacarmu. Di depan nenek, aku bersedia jadi pacarnya Ootsuki-kun.”


Mendengar pernyataan mengejutkan dari mulut Ayaka, Haruto ternganga dan membeku di tempat.


Setelah diam mematung selama beberapa detik, Haruto tersadar dan menggelengkan kepalanya dengan panik.


“T-Tidak! Hal kayak gitu, aku tak pantas memintanya karena rasanya sangat tidak sopan! Ini semua salahku yang sudah berbohong, jadi Toujou-san tidak perlu mempedulikan kebohonganku!”


Haruto berusaha menolak tawaran Ayaka dengan panik. Melihatnya seperti itu, Ayaka sedikit memperpendek jarak di antara mereka dan berkata.


“Hei, Ootsuki-kun. Kamu ingat apa yang pernah kukatakan sebelumnya?”


“Eh? Sebelumnya... maksudnya?”


Haruto sedikit tersentak karena Ayaka mendekat sampai-sampai ia bisa menyentuhnya jika mengulurkan tangan. Haruto mengalihkan pandangannya ke sana kemari sambil menelusuri ingatannya. Namun, melihat Haruto yang tak kunjung bisa menjawab, Ayaka tersenyum lembut.


“Waktu kita belanja berdua di supermarket, aku pernah bilang, kan, kalau aku akan melakukan apa saja demi Ootsuki-kun?”


“A-Aah... tapi, kalau sampai minta pura-pura jadi pacar, rasanya...”


Melihat Haruto tampak ragu, Ayaka semakin memperpendek jaraknya. Tak hanya itu, dia juga menumpuk tangannya di atas tangan Haruto dengan hati-hati dan berkata.


“Atau jangan-jangan, Ootsuki-kun nggak mau... kalau itu aku...?”


Melihat Ayaka yang bertanya sambil menatapnya dari bawah, wajah Haruto yang tadinya sudah merah karena demam kian memerah.


“Bukan, bukan begitu... Aku tidak berada dalam posisi untuk menolak... Maksudku, apa benar tidak apa-apa? Pura-pura pacaran sama pembohong sepertiku...”


“Iya, nggak apa-apa kok. Aku sudah banyak dibantu oleh Ootsuki-kun, jadi aku ingin balas budi.”


“Tapi, apa yang kuperbuat itu kan karena pekerjaan, aku sudah menerima upah yang pantas, jadi kalau dibalas dengan hal kayak gini rasanya agak berlebihan...”


Haruto berbicara sambil sesekali melirik tangannya yang bertumpuk dengan tangan Ayaka. Sebaliknya, gadis itu menatap lurus ke arah Haruto dan berkata dengan tegas.


“Lagipula, setelah melihat wajah nenek Ootsuki-kun yang begitu gembira dan bahagia tadi, aku nggak tega kalau harus bilang itu bohong dan membuatnya sedih. Ootsuki-kun juga nggak mau, ‘kan, bikin nenek sedih?”


Mendengar ucapan Ayaka, Haruto bergumam pelan, “Itu, benar sih, tapi...”


“Kalau begitu, di depan nenek, boleh ya aku jadi pacarnya Ootsuki-kun?”


Ayaka bertanya untuk memastikan.


Haruto menunduk dan merenung cukup lama, namun akhirnya ia mengangkat pandangannya seolah ingin melihat reaksi gadis itu.


“Apa... tidak merepotkan?”


“Tidak, tidak merepotkan kok.”


“Apa... tidak keberatan?”


“Ung, aku tidak keberatan.”


Haruto kembali menutup mulutnya, memejamkan mata, dan menunduk. Melihat itu, Ayaka berbicara seolah sedang membujuknya.


“Kalau ketahuan bohong, kurasa nenek bakal sedih banget. Padahal tadi beliau sesenang itu sampai tersenyum lebar.”


“U-Ugh... tapi, nanti malah menyusahkan Toujou-san...”


“Jangan pikirkan aku, Ootsuki-kun pikirkan saja nenekmu. Bagaimanapun juga, beliau satu-satunya keluarga tercintamu, ‘kan?”


Mendengar kata-kata ‘satu-satunya keluarga’, bahu Haruto tersentak.


Lalu, dia perlahan membuka matanya dan menundukkan kepala kepada Ayaka.


“K-Kalau begitu... bolehkah aku minta tolong? Tolong ikuti kebohonganku ini...”


“Baik, permintaannya diterima.”


Ayaka tersenyum manis, lalu dengan lembut meletakkan tangannya di kedua bahu Haruto yang masih dalam posisi bersujud.


“Nah, karena Ootsuki-kun lagi sakit, ayo lekas balik ke kasur.”


“Ah, baik.”


Meskipun sedikit sempoyongan karena demam, Haruto kembali ke kasur dibantu Ayaka.


Ayaka menyelimuti Haruto yang sudah berbaring. Tepat pada saat itu, neneknya kembali ke kamar membawa piring berisi buah-buahan yang sudah dikupas.


“Nih, sudah Nenek kupaskan.”


“Terima kasih banyak.”


Melihat Ayaka yang membungkuk sopan mengucapkan terima kasih, sang nenek ikut tersenyum lebar.


“Tuh Haruto, Ayaka-san beliin apel, pir, persik, sampai kiwi, loh.”


Neneknya meletakkan piring itu di meja samping kasur. Melihat gunungan buah-buahan di atas piring, Haruto berterima kasih pada Ayaka.


“Terima kasih banyak. Padahal ini buah-buahan mahal, banyak banget lagi.”


“Nggak kok, jangan dipikirkan. Ini kan demi... pa-pacarku tercinta.”


Mendengar ucapan Ayaka yang terlontar dengan pipi sedikit merona, wajah sang nenek langsung berseri-seri.


“Ya ampun! Bahagianya kamu, Haruto.”


“Ah, iya...”


Melihat kegembiraan neneknya, Haruto menunjukkan ekspresi rumit, antara senang dan merasa bersalah.


Di situ, Ayaka mulai menjalankan isi percakapannya dengan Haruto tadi.


“Anu, sebentar saja tidak apa-apa, tapi bolehkah saya merawat Ootsuki-kun?”


Mendengar permintaan Ayaka, sang nenek membalas dengan nada sedikit sungkan.


“Tapi nanti kalau Nak Ayaka tertular flunya, kami jadi tidak enak...”


“Tidak, tidak apa-apa kok. Sebagai pacarnya Ootsuki-kun, saya ingin berada di sisinya walau hanya sebentar.”


Melihat Ayaka yang berkata dengan malu-malu namun terdengar sangat tulus dan setia, sang nenek menatap Haruto dengan kagum.


“Dengerin tuh Haruto! Pacarmu ini benar-benar gadis yang baik! Kamu harus menjaganya baik-baik, ya!!”


“I-Iya. Itu, sudah pasti.”


Haruto menjawab dengan sedikit terbata-bata.


Baginya, hatinya dipenuhi rasa bersalah karena membiarkan Ayaka terlibat dalam kebohongan ini. Namun, nenek yang tidak tahu apa-apa tentang perasaan cucunya, menundukkan kepala kepada Ayaka dengan sangat gembira.


“Kalau begitu, Nenek titip Haruto sebentar, ya.”


“Baik! Serahkan pada saya!”


Mendengar jawaban gadis itu, sang nenek keluar kamar sambil membungkuk berkali-kali.


Di dalam kamar yang kini hanya berisi mereka berdua.


Haruto membuka mulut dengan penuh rasa bersalah.


“Aku benar-benar minta maaf.”


“Jangan minta maaf, nggak perlu dipikirkan sama sekali, kok.”


Ayaka, yang memasang ekspresi sangat ceria, mengambil piring berisi buah dan pindah ke sisi bantal Haruto. Lalu, dia menusuk sepotong apel dengan garpu dan mengarahkannya ke mulut Haruto.


“Ayo Haruto-kun, buka mulutnya.”


“...Anu, Toujou-san?”


Haruto menatap apel di depan mulutnya dengan ekspresi bingung.


“Hm? Kenapa?”


Ayaka memiringkan kepalanya dengan polos.


“Itu... aku bisa makan sendiri kok...”


Sambil berkata begitu, Haruto mengulurkan tangan ke arah garpu yang dipegang Ayaka.


Tapi sebelum tangan Haruto mencapai garpu, Ayaka dengan sigap menarik apel itu menjauh.


“...Anu, Toujou-san?”


“Nggak boleh. Ootsuki-kun kan lagi sakit, nggak boleh maksain diri.”


“Eh, tidak... kalau cuma makan buah sih aku masih baik-baik saja...”


“Ootsuki-kun.”


“I-Iya.”


“Aku sekarang ini pacarnya Ootsuki-kun, ‘kan?”


“Iya, itu... tepat sekali.”


Kalah oleh tekanan dari tatapan serius Ayaka, Haruto menjawab dengan sangat sopan.


Mendengar jawaban itu, Ayaka tersenyum puas dan kembali menyodorkan apel ke mulut Haruto.


“Aaa~”


“......”


“Aaam.”


Sejenak Haruto menatap lekat-lekat apel di depan mulutnya.


Haruto menyadari bahwa mungkin tidak ada cara lain untuk menyingkirkan apel ini selain memakannya langsung dari tangan Ayaka.


“A-Aku terima...”


Haruto membulatkan tekad dan melahap apel di depan matanya dengan bunyi hap.


Melihatnya, Ayaka tersenyum sangat senang.


“Enak?”


“...Rasanya sangat manis, dan enak.”


“Begitu ya, syukurlah.”


Ayaka menatap Haruto dengan senyum berseri-seri.


Sambil merasakan tatapan gadis itu, Haruto mengunyah dan menelan apel itu, dan dengan segera potongan apel berikutnya diantarkan ke mulutnya.


“............”


“Ayo, aaa~”


“...Hap.”


“Fufufu.”


Haruto yakin wajahnya terasa panas bukan hanya karena demam, tapi dia yang sekarang tidak mungkin bisa melawan Ayaka, jadi dia terus menerima suapan “Aaa~” dari gadis itu dengan pasrah.


Haruto terus disuapi buah-buahan oleh Ayaka.


“Nah, ini yang terakhir, ya.”


Ayaka menyodorkan potongan terakhir buah persik ke mulut Haruto.


Haruto yang indranya sudah mulai mati rasa, dengan patuh melahap persik itu.


“Oke, habis semua.”


“Makasih. Terima kasih atas makanannya.”


Haruto telah menghabiskan semua apel, pir, kiwi, dan persik.


Meskipun indranya agak mati rasa karena suapan Ayaka, memakan empat jenis buah dalam kondisi flu membuatnya merasa sangat kenyang.


Bersamaan dengan itu, Haruto diserang rasa kantuk yang hebat.


“Ootsuki-kun, obatnya gimana?”


“Akan kuminum. Ah, sebelum itu bolehlkah aku ukur suhu tubuh dulu?”


“Ung, rasanya masih demam?”


Tanya Ayaka dengan cemas.


Haruto menjawab sambil tersenyum untuk sedikit menenangkannya.


“Dibandingkan kemarin, sudah jauh lebih mendingan kok.”


“...Begitu, ya.”


Mendengar ucapan Haruto, Ayaka berpikir sejenak sebelum menjawab.


Meskipun sedikit heran dengan reaksinya, Haruto mencari termometer untuk mengukur suhu tubuhnya.


“E-Err, seingatku aku taruh di sekitar bantal...”


Sambil berkata begitu, Haruto meraba-raba sekitar bantal dengan tangannya sambil tetap berbaring, mencari termometer.


Tiba-tiba, Ayaka meletakkan tangannya di samping bantal Haruto dan mencondongkan tubuhnya ke arahnya.


“Ootsuki-kun...”


“...? Eh!? To, To-Toujou-san!?”


Melihat bantalnya tertekan oleh berat badan Ayaka dan gadis itu menatapnya dari atas seolah menindihnya, mata Haruto terbelalak kaget.


“Biar aku... ukurkan suhunya...”


Sambil bilang begitu, Ayaka perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Haruto.


Rambut Ayaka yang berkilau jatuh menjuntai di sekitar wajah Haruto layaknya tirai.


Melihat wajah Ayaka yang mendekat dalam jarak yang belum pernah terjadi sebelumnya, Haruto bahkan tidak bisa menggerakkan bola matanya seolah terkena sleep paralysis.


Tak lama kemudian, kening mereka bersentuhan dengan lembut. Tuk.


Helaan napas Ayaka yang terasa agak kasar dan panas menerpa area mulut Haruto.


Pikiran Haruto langsung buyar.


Dia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.


Berawal dari kening mereka yang bersentuhan, panas yang belum pernah ia rasakan menyebar ke sekujur tubuh.


Rasanya seperti keabadian, tapi juga seperti secepat kilat.


Setelah momen itu berlalu, Ayaka menjauhkan wajahnya dari Haruto.


“Ehehe... aku nyoba hal yang mirip pasangan kekasih... tapi dengan cara ini aku nggak begitu tahu demam atau tidaknya, ya.”


Wajah Ayaka yang tersenyum saat mengatakan itu, tak diragukan lagi lebih merah daripada buah persik yang baru saja dimakan tadi.


“Ah, eh, ya, be-begitu ya. Mungkin butuh latihan.”


Dengan sirkuit otak yang masih korslet dan pikiran kosong melompong, Haruto bicara ngasal.


Mendengar itu, Ayaka tersenyum kecil, “Fufu.”


“Kalau begitu, mau latihan?”


Ekspresi wajah Ayaka saat mengatakannya terlihat sangat menggoda di mata Haruto.


Seolah sudah disihir oleh Ayaka, Haruto kehilangan kemampuan bicaranya; mulutnya terbuka tapi tak ada kata yang keluar.


Sebagai ganti kata-kata, Haruto menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Itu adalah satu-satunya perlawanan yang bisa diusahakannya saat ini.


Melihat keadaan Haruto, Ayaka kembali tertawa kecil, dan Haruto hanya bisa terpaku menatap senyuman itu.



Sebuah kafe berdiri tenang di area perumahan yang sunyi.


Di dalam kedai yang disinari cahaya mentari, alunan musik jazz mengalir pelan, menciptakan suasana tenang seolah-olah terpisah dari kegerahan musim panas.


Aku memutar sedotan di dalam gelas yang ada di depanku secara perlahan.


Sambil mendengarkan suara klunting es batu yang terdengar menyegarkan, aku meminum seteguk Chai yang tadi kupesan. Aroma teh hitam dan rempah yang menyebar di dalam mulut membuat ekspresiku melembut.


Hmm~ Chai ini juga enak, tapi kayaknya masih lebih enakan buatannya Ootsuki-kun, ya?


Saat aku sedang menghabiskan waktu sambil memikirkan itu, sahabatku, Saki, masuk ke kafe.


“Ah, sebelah sini.”


Aku mengangkat tangan untuk memberi tahu posisiku, Saki pun berjalan menghampiriku sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.


“Fuah~ hari ini juga panas, ya.”


Sambil bilang begitu, Saki duduk dan melihat minumanku dengan ekspresi heran.


“Loh? Tumben bukan es café au lait?”


“Ung. Hari ini Chai.”


“Hee~ kenapa?”


Sambil duduk di hadapanku, Saki memiringkan kepala.


“Waktu itu Ootsuki-kun pernah bikinin, rasanya enak banget.”


“Oho, pamer kemesraan nih ceritanya?”


“B-Bukan! Aku nggak maksud gitu kok.”


“Ah~ iya iya, terima kasih suguhannya.”


“Muu.”


Aku menggembungkan pipi dan memelototi Saki, tapi orangnya sama sekali nggak peduli dan dengan santai membuka menu untuk memilih minuman.


“Itu enak?”


“Ung, tapi...”


Saat ditanya Saki, aku hampir keceplosan bilang ‘Kayaknya lebih enakan buatan Ootsuki-kun’ dan buru-buru menutup mulut. Kalau bilang begitu, nanti bakal dibilang pamer kemesraan lagi.


“Tapi?”


“Enggak kok, ini enak. Saki mau minum juga?”


Aku tertawa untuk mengalihkan pembicaraan, lalu mengaduk Chai dengan sedotan dan menawarkannya pada Saki.


“Hmm. Nggak deh... aku pesan Almond au Lait saja kayaknya.”


Saki menutup menu yang tadi dibukanya, lalu mengangkat tangan memanggil bartender.


“Saki juga pesan menu yang nggak biasa, ya.”


“Lagi pengen aja. Kalau teman minum yang beda dari biasanya, kita jadi ingin pesan yang beda juga, ‘kan?”


Setelah memesan pada bartender, Saki meminum air putih seteguk lalu berkata “Nah”, dan menatapku lagi.


“Jadi? Konsultasi super penting apa yang mau kamu bicarakan denganku?”


Saki bertanya sambil tersenyum penasaran (kepo).


Sebenarnya kemarin, sepulang menjenguk Ootsuki-kun, aku kirim pesan ke Saki “Ada hal super penting yang mau kukonsultasikan, aku pengin ketemuan”.


“I-Itu. Nganu... umm...”


Aku teringat interaksiku dengan Ootsuki-kun kemarin dan merasakan wajahku memerah.


“Itu, loh. Aku... sebenarnya, pura-pura jadi... pacarnya Ootsuki-kun.”


“..................Hm? Kau bilang apa?”


Saki balik bertanya dengan wajah melongo (cengo).


“Udah kubilang. Aku, pura-pura jadi pacarnya Ootsuki-kun.”


“Hmmm............ Maaf, bisa bilang sekali lagi?”


“Ja, di. Aku, pura-pura, pacaran, sama, Ootsuki-kun!”


Aku mengucapkannya dengan tegas dan terputus-putus.


Sementara itu, Saki sepertinya bingung dengan ucapanku. Dia menempelkan tangan di dahi sambil menunduk, lalu menengadah ke atas sambil berpikir, lalu memiringkan kepala sambil mengerutkan kening, kelihatannya sibuk banget.


“Maaf Ayaka, aku sama sekali nggak mudeng? Eh? Gimana-gimana?”


Sepertinya sekeras apa pun ia memikirkannya, ia tak paham ucapanku, jadi Saki menatapku dengan ekspresi curiga.


“Jadi begini. Ootsuki-kun punya berbagai keadaan, dan sekarang dia tinggal berdua saja dengan neneknya. Terus... Ootsuki-kun bilang ke neneknya kalau aku pacarnya, lalu...”


“He, hee~”


Mendengar penjelasanku, Saki memberikan reaksi yang tidak jelas antara paham atau tidak.


“Entahlah, aku nggak begitu paham. Tapi intinya Ootsuki-kun bohong sama neneknya sendiri kalau Ayaka adalah pacarnya, gitu?”


“Ung, begitulah, kurang lebih.”


Saat aku mengangguk, Saki melipat tangan seolah sedang berpikir.


“Begitu ya... nggak disangka, ya. Aku nggak ngira Ootsuki-kun tipe orang yang bakal bohong kayak gitu.”


Kata-kata Saki barusan terdengar mengandung sedikit nada merendahkan, jadi aku buru-buru membelanya.


“Ootsuki-kun berbohong bukan karena niat jahat, tahu? Baginya, nenek adalah sosok yang begitu berharga, dan demi neneknya yang berharga itulah dia tanpa sadar berbohong. Tapi setelah itu dia minta maaf habis-habisan sama aku, dan berniat mengakui kebohongannya pada neneknya, tapi di situ aku, nganu...”


“Kamu mencegahnya mengakui kebohongan itu?”


“Ung...”


Aku mengangguk kecil.


“Yah... sepertinya memang ada banyak hal yang melatarbelakanginya, ya.”


Berkat aku mati-matian menjelaskan, sepertinya penilaian Saki terhadap Ootsuki-kun nggak jadi turun.


Kalau bisa, aku ingin menceritakan soal orang tua Ootsuki-kun dan fakta bahwa keluarganya sekarang tinggal neneknya seorang, pasti Saki juga bakal bersimpati padanya.


Tapi, aku tidak bisa sembarangan menceritakan hal itu tanpa sepengetahuan Ootsuki-kun.


“Benar. Ootsuki-kun punya keadaannya sendiri, jadi kebohongannya itu juga, anu... kebohongan demi neneknya. Jadi, bukan berarti dia pengin memaksaku jadi pacarnya atau semacamnya.”


“Begitu ya... Yah, aku nggak tahu sih detail keadaannya, tapi intinya Ayaka nggak ngerasa keberatan dengan kebohongan itu, ‘kan?”


“Ung.”


Melihatku mengangguk, Saki tampak sedikit lega, lalu menatapku dengan tatapan heran.


“Tapi nih ya, Ootsuki-kun bohong bilang Ayaka pacarnya, ‘kan? Bukannya itu berarti dia suka sama Ayaka?”


“N-Nah kan? Saki juga mikir gitu?”


Mengetahui sahabatku punya pemikiran yang sama, jantungku berdetak lebih cepat.


“Secara logika harusnya begitu, ‘kan? Yah, aku nggak tahu detailnya sih, jadi nggak bisa asal memastikan. Tapi, orang nggak bakal menjadikan orang yang nggak disukainya sebagai pacar, ‘kan? Sekalipun itu bohong.”


“I-Iya kan?”


Mendengar ucapan Saki, aku mengangguk balik.


Melihatku begitu, Saki berkata sambil tetap memiringkan kepala.


“Ayaka, waktu Ootsuki-kun melontarkan kebohongan itu, kalau kamu nembak dia bilang ‘Sebenarnya aku suka sama Ootsuki-kun’, bukannya kalian sudah bakal jadian?”


“...Aku juga, mikir begitu.”


“Eh!? Terus kenapa nggak nembak?? Padahal cinta pertamamu hampir terwujud, loh.”


Mendengar ucapan Saki, aku menunduk.


Hal yang ingin kukonsultasikan justru mengenai hal itu.


“Soalnya, kalau aku nembak waktu itu, aku merasa perasaanku yang sebenarnya nggak bakal tersampaikan...”


“Hm? Perasaan yang sebenarnya? Gimana-gimana?”


Menjawab pertanyaan Saki, aku menjelaskan keadaan saat Ootsuki-kun meminta maaf soal kebohongannya kemarin.


“Ootsuki-kun merasa sangat bersalah dan berhutang budi padaku karena kebohongan itu. Kalau aku nembak dalam kondisi seperti itu, Ootsuki-kun pasti bakal merasa ‘Dia nembak demi menyesuaikan diri dengan kebohonganku’, kan? Padahal aku nembak karena emang beneran suka sama Ootsuki-kun.”


Waktu itu, kalau aku menyatakan cinta, pasti Ootsuki-kun akan menjadikanku pacarnya.


Tapi, rasanya itu bukan lagi sekadar perasaan ‘suka’ yang murni.


Ootsuki-kun akan berpacaran denganku sambil merasa berhutang budi karena ‘aku berbohong, jadi dia menyesuaikan diri dengan kebohonganku’. Dan, karena dia orang yang baik, dia mungkin akan berusaha memerankan pacar yang sempurna untukku sebagai penebusan dosa.


Tapi... bukan itu yang aku inginkan.


Aku ingin Ootsuki-kun menyukaiku secara murni. Aku ingin dia menjadikanku pacar semata-mata karena ‘suka’, tanpa embel-embel kebohongan atau rasa hutang budi.


Karena itulah waktu itu aku tidak mengungkapkan perasaanku padanya.


Aku tidak mau mengungkapkannya.


Karena aku menginginkan perasaan murni dari Ootsuki-kun, aku jadi serakah.


Mendengar penjelasanku, Saki melipat tangan dan mengangguk-angguk, “Hmm hmm, begitu ya...”


“Yah, ini cinta pertama bagi Ayaka, sih. Aku bisa ngerti perasaan ingin mengejar cinta yang ideal itu.”


“Benarkah?”


“Ung. Tapi, jujur saja kamu menyia-nyiakan kesempatan, loh.”


Saki mencondongkan tubuhnya sedikit dan berkata padaku.


“Ayaka mungkin tidak tahu karena selalu menghindari cowok di sekolah, tapi sebenarnya Ootsuki-kun itu lumayan dilirik sebagian cewek, loh? Jadi, kalau kamu terlalu serakah, bisa-bisa dia malah keburu digondol orang di sela-sela itu, loh?”


“B-Begitu ya? Tapi, iya juga sih... Ootsuki-kun kan pintar, baik hati pula...”


“Biar nggak kejadian, bukannya ada cara di mana kamu jadian dulu, amankan posisi pacar resmi, baru setelah itu pelan-pelan menaklukkan hati Ootsuki-kun?”


Mendengar kata-kata Saki, aku jadi mendadak cemas.


“Lagipula, Ayaka ingin pacaran resmi setelah menghapus rasa bersalah atau rasa hutang budi Ootsuki-kun soal kebohongan itu, ‘kan?”


“U-Ung.”


“Tapi, selama Ayaka jadi pacar pura-pura, Ootsuki-kun tidak akan bisa melupakan kebohongan itu, ‘kan? Malahan, setiap kali Ayaka pura-pura jadi pacarnya, rasa bersalahnya bakal makin besar, bukan?”


Kata-kata Saki menancap telak di dadaku (jleb).


Benar banget, semakin aku memerankan pacar Ootsuki-kun, semakin besar rasa hutang budinya padaku. Kalau begitu terus, sampai kapan pun aku nggak bakal bisa menyatakan cinta pada Ootsuki-kun.


Kemarin setelah pulang ke rumah, saat aku berpikir dengan tenang, aku menyadari hal itu dan buru-buru menghubungi Saki.


“Sakiii~ tolong aku~ aku harus bagaimana~”


Melihatku yang merengek, Saki menghela napas “Yare-yare” dan mengangkat bahu.


“Ya ampun, baru saja jatuh cinta, eh tahu-tahu sudah jadi pacar pura-pura... kamu ini heroine romcom atau apa, sih.”


Aku terus menatap Saki yang bicara heran dengan mata berkaca-kaca.


Saki menghela napas lagi “Haaah~”, berpikir sejenak, lalu membuka mulut.


“Aku susun dulu ya. Pertama, Ootsuki-kun kemungkinan besar suka atau menaruh hati pada Ayaka.”


“...Sepertinya begitu.”


“Tapi, dia merasa bersalah karena sudah berbohong. Makanya, kalaupun sekarang Ayaka menunjukkan rasa suka, itu akan disalahpahami sebagai tindakanmu menemani kebohongannya.”


“Ung.”


“Tapi, Ayaka ingin menyampaikan cinta secara murni pada Ootsuki-kun.”


Mendengar kata-kata Saki itu, aku merasakan wajahku memanas seketika.


“...U-Ung.”


“Itu tuh! Jangan malu-malu kucing!”


“H-Habisnyaaa...”


“Jangan habisnya-habisnya!”


Saki memang sepuh Sparta cinta kayak biasa....


Sang sepuh Sparta cinta itu melipat tangan dan memejamkan mata, terhanyut dalam pikiran untuk beberapa saat.


Selama itu, aku menunggu dengan rasa cemas.


Apa sebaiknya waktu itu aku nembak saja, ya?


Tapi kan, waktu itu Ootsuki-kun lagi murung banget, rasanya seperti memanfaatkan kelemahannya, jadi aku tetap ngerasa nggak enak.


Ugh... Saki-sama, tolong daku!


Saat aku sedang memanjatkan doa pada sahabat di depanku, akhirnya Saki membuka mata.


“Umm~ aku kepikiran satu cara, sih...”


“Ada caranya?”


Karena berharap, tanpa sadar sudut bibirku naik.


“Yah, tapi aku nggak tahu, loh ini jawabannya benar atau tidak.”


Ucap Saki dengan nada kurang yakin.


Nggak perlu jawaban benar! Kemarin aku sudah mikir seharian dan nggak nemu ide bagus sama sekali.


Tapi kalau Saki, pasti dia bisa kasih saran yang jauh lebih baik daripada aku yang pengalaman cintanya nol.


“Cara yang terpikir olehku begini.”


“U-Ung.”


Aku memusatkan seluruh saraf pendengaranku untuk mendengarkan Saki.


“Kita giring supaya Ootsuki-kun yang nembak Ayaka duluan.”


“Eh? Ootsuki-kun yang nembak?”


Bukan aku yang nembak Ootsuki-kun?


Ootsuki-kun yang nembak aku?


“Ayaka ingin menjalin hubungan dengan Ootsuki-kun cuma berdasarkan perasaan ‘suka’ yang murni, ‘kan?”


“Ung, iya sih... tapi rasanya sulit deh kalau Ootsuki-kun yang nembak...”


Dia sudah punya rasa bersalah karena membohongiku.


Selama itu masih ada, kurasa tidak mudah baginya untuk mengambil langkah mengutarakan perasaan.


“Benar. Pasti Ootsuki-kun nggak bakal nembak dengan mudah. Tapi justru karena itulah, pernyataan cinta dari Ootsuki-kun itu bermakna.”


Saki tersenyum nyengir padaku.


“Ootsuki-kun yang sekarang punya rasa bersalah pada Ayaka. Jadi dia pasti mikir ‘Orang sepertiku nggak pantas nembak dia, itu kelewat nggak sopan’, makanya dia nggak nembak.”


“Ung, aku juga mikirnya begitu.”


Melihatku mengangguk, Saki berkata “Tapi ya,” sambil menyeringai dan melanjutkan penjelasannya.


“Kalau cowok kayak gitu sampai nembak Ayaka, itu artinya, dia sudah dalam kondisi cinta mati sama Ayaka sampai-sampai rasa sukanya melampaui rasa bersalahnya!”


“Suka sama aku sampai melampaui rasa bersalah... T-Tapi, gimana caranya, itu... biar dia suka sama aku sampai segitunya?”


Pengalaman cintaku nol, terlebih lagi aku selalu menghindari cowok.


Apa aku bisa memikat Ootsuki-kun sampai segitunya? Isinya cuma rasa cemas....


“Ayaka sekarang pacar pura-puranya Ootsuki-kun, ‘kan?”


“Ung, iya sih...”


“Di depan neneknya Ootsuki-kun, kamu harus berakting jadi pacar, ‘kan?”


“U-Ung.”


“Itu dia! Manfaatkan itu!”


Saki menunjukku dengan tegas (Ting!).


“Ayaka belum pernah pacaran sama laki-laki. Jadi supaya bisa pura-pura pacaran di depan neneknya Ootsuki-kun, butuh latihan. Kamu jelasinnya gitu ke Ootsuki-kun.”


“Maksudnya latihan jadi pacar?”


“Tepat sekali! Lalu, jadikan latihan itu sebagai alasan buat manja-manjaan ke Ootsuki-kun, atau minta dia memanjakanmu, pokoknya bermesraan sepuasnya sampai kesadarannya jadi samar! Kaburkan batas antara pacar bohong-bohongan dan pacar beneran.”


Senyum Saki saat mengatakan itu, seolah-olah sedang merencanakan hal jahat.


“Makanya Ayaka, mulai sekarang kamu harus melakukan pendekatan super agresif ke Ootsuki-kun dengan alasan latihan pacaran, dan terus tunjukkan kalau kamu suka banget sama dia!”


“Pendekatan super agresif ke Ootsuki-kun... a-apa aku bisa?”


Melihatku yang agak ciut nyali, Saki berkata dengan tegas.


“Bukan masalah bisa atau tidak, tapi lakukan! Kalau kamu terus-terusan jadi pacar pura-pura secara setengah-setengah, hubunganmu dengan Ootsuki-kun malah bakal jadi rumit dan aneh, loh?”


“Aku nggak mau itu terjadi...”


“Kalau begitu! Kamu harus menyerang dengan semangat seolah mau mendorong jatuh Ootsuki-kun!”


“M-Mendorong jatuh...”


Begitu Saki bilang begitu, kejadian di Taman Hutan Satwa terlintas kembali di benakku (flashback).


Seketika, wajahku jadi panas sampai rasanya ada uap mengepul dari kepalaku.


“Yah, itu canda doang sih. Tapi mungkin sebaiknya kamu bersikap sedikit lebih agresif.”


Setelah berkata begitu, Saki menambahkan penjelasan, “Terus, ini juga penting.”


“Untuk menaklukkan Ootsuki-kun, bukan cuma bermesraan saja, tapi penting juga untuk menjadi sosok pacar idealnya. Seperti penuh perhatian, atau anggun. Yah, aku sama sekali nggak tahu selera Ootsuki-kun, jadi aku nggak bisa bilang banyak soal itu.”


Benar juga, Ootsuki-kun itu orangnya agak terlalu serius atau mungkin punya keinginan kuat untuk jadi orang yang tulus.


Untuk melampaui rasa bersalah yang dia pendam dan membuatnya menembakku, pasti butuh usaha yang sepadan.


“Ung, aku... akan berjuang menjadi pacar ideal Ootsuki-kun! Dan... berjuang supaya ditembak!!”


Saat aku mengucapkannya dengan penuh tekad, Saki juga mengangguk dan memberiku senyuman.


“Pasti bakal banyak rintangan, tapi berjuanglah demi mendapatkan cinta pertama yang ideal. Kalau ada yang bisa kubantu, aku siap turun tangan kapan saja.”


“Ung, makasih Saki.”


Aku tersenyum mendengar kata-kata sahabatku yang mengukuhkan tekad.


Setelah itu, kami membahas strategi supaya Ootsuki-kun menembakku, yang diberi judul ‘Operasi Latihan Pacaran’.


Pasti tidak akan mudah.


Tapi... Ootsuki-kun juga pasti sedikit memikirkanku. Makanya, kalau aku berusaha terus menunjukkan perasaanku, kalau aku bisa mendekati sosok pacar ideal Ootsuki-kun, saat waktunya tiba....


Aku mengepalkan telapak tanganku erat-erat untuk menyemangati diri.


Sungguh, aku tak pernah menyangka liburan musim panas ini akan jadi seperti ini sebelum dimulai.


Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memiliki seseorang yang membuatku galau, lalu menyukainya.


Jatuh cinta untuk pertama kalinya.


Dan, berpura-pura menjadi pacar orang itu.


Ini adalah cinta pertamaku yang berharga. Aku ingin mewujudkan impianku.


Karena itu, aku akan menjadi pacar yang mempesona bagi Ootsuki-kun, agar jadi pacar sungguhan, bukan pura-pura.


Suatu saat nanti, pasti, tanpa keraguan...



Haruto yang sudah sembuh dari flu dan kondisinya telah pulih, kembali bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Toujou.


Di depan rumah mewah yang sudah akrab baginya, Haruto terlihat sedikit ragu untuk menekan bel interkom dan menarik kembali jarinya dari tombol.


Di benaknya, sosok Ayaka muncul kembali.


‘...Boleh kok. Aku akan pura-pura jadi pacarmu. Di depan nenek, aku bersedia jadi pacarnya Ootsuki-kun.’


Kata-kata gadis itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.


“Aku harus memasang tampang apa saat bertemu dengannya...”


Haruto bergumam pelan sambil menghela napas panjang.


Di satu sisi, dia merasa bersalah karena telah menyeret Ayaka ke dalam kebohongannya. Namun di sisi lain, Haruto merasa sedikit bahagia dengan fakta bahwa Ayaka akan menjadi pacarnya, sekalipun itu hanya pura-pura.


“Aku tidak bisa terus-terusan berdiri di sini...”


Haruto membulatkan tekad untuk menekan bel interkom kediaman Toujou, dan kembali mengangkat jarinya yang sempat ditarik. Tepat pada saat itu, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari belakang.


“Ah, Ootsuki-kun.”


“Eh!? To-Toujou-san?”


Terkejut karena disapa secara tiba-tiba, bahu Haruto tersentak kaget. Saat dia menoleh, sosok Ayaka ada di sana.


“Maaf ya bikin kaget. Aku baru saja mengantar Ryota ke taman dekat sini.”


“Ah, begitu rupanya... Ryota-kun sendirian?”


“Tidak, dia main sama anak-anak tetangga. Orang tua mereka biasanya ikut mengawasi Ryota juga, jadi kebantu banget.”


“Begitu ya... kalau ada pengawasan orang dewasa jadi tenang, ya.”


“Ung. Ootsuki-kun flunya sudah sembuh?”


Melihat Ayaka yang sedikit mendekat dan memasang ekspresi khawatir, Haruto merasakan wajahnya memanas.


“Iya, sudah sembuh total kok. Terima kasih sudah datang menjenguk waktu itu, sampai dikasih banyak buah-buahan segala.”


“Jangan dipikirkan, syukurlah kalau Ootsuki-kun sudah sehat.”


“Terima kasih... ah, itu, hari ini saya datang untuk layanan asisten rumah tangga.”


“Fufu, iya. Panas nih, ayo cepat masuk.”


Haruto yang masih terbayang interaksi mereka sebelumnya, menjadi agak terbata-bata. Melihatnya, Ayaka tersenyum sambil membuka pintu depan dan mempersilakannya masuk.


Saat mereka berdua masuk ke ruang tamu, Haruto bertanya pada Ayaka.


“...Hari ini Shuuichi-san dan Ikue-san ke mana?”


“Papa dan Mama hari ini pergi ke kantor buat kerja.”


“Oh, begitu ya...”


Shuuichi dan Ikue sama-sama sedang bekerja di kantor, Ryota sedang bermain di taman dengan anak-anak tetangga.


Artinya, sekarang di rumah ini hanya ada Haruto dan Ayaka saja. Situasi ini, entah kenapa, membuat Haruto merasa sangat canggung.


Di tengah keheningan canggung yang mengalir di antara mereka, Haruto hendak membuka mulut untuk melanjutkan percakapan.


Namun, sebelum dia sempat melakukannya, Ayaka lebih dulu berbicara padanya.


“Anu, Ootsuki-kun... soal pembicaraan waktu itu...”


“I-Iya. Itu... soal kemarin, aku benar-benar minta maaf. Mengenai tawaran pura-pura jadi pacar itu, kalau Toujou-san merasa sedikit saja tidak nyaman, tolong langsung berhenti saja, ya.”


“Ah, enggak kok, aku sama sekali nggak masalah. Cuma itu, anu... aku kan belum pernah pacaran sebelumnya? Jadi, aku agak kurang punya bayangan gimana caranya jadi pacar pura-pura...”


Ayaka berbicara dengan sedikit malu-malu, pipinya merona merah sambil menatap Haruto dengan pandangan dari bawah ke atas.


“Makanya... umm... kupikir kita mungkin perlu latihan pura-pura jadi pacar... gimana menurutmu?”


“Eh? La-Latihan?”


“Ung.”


Ayaka mengangguk dengan wajah yang masih merah. Mendengar usulan tak terduga itu, Haruto sempat kehilangan kata-kata.


“...Tidak, tanpa latihan pun, Toujou-san sudah cukup sebagai pacar, itu... sangat mempesona, maksudnya... anu... malah sudah lebih dari aslinya...”


“Ah, ung... makasih... ta-tapi ya. Tetap saja, kalau ketahuan neneknya Ootsuki-kun bahwa aku cuma pacar palsu, nanti beliau sedih... makanya, aku ingin latihan...”


Sekali lagi, Ayaka menatap Haruto dengan tatapan memohon dan bertanya, “Nggak boleh, ya?”


Ditatap dan dimohon seperti itu, Haruto tentu saja tak punya kuasa untuk menolak.


“...Aku benar-benar minta maaf. Sampai harus merepotkanmu sejauh ini... aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana.”


“Nggak perlu memikirkan soal terima kasih atau semacamnya, kok.”


Melihat Haruto yang membungkuk dalam-dalam, Ayaka melambaikan kedua tangannya.


“Anu... soal latihannya itu, umm... latihan yang seperti apa?”


Bukan bermaksud sombong, tapi Haruto juga sama seperti Ayaka, pengalaman cintanya nol besar. Jadi, dia sama sekali tidak punya bayangan tentang apa yang dimaksud dengan ‘latihan’ oleh gadis itu.


“Ung, itu... aku ingin latihan supaya aku dan Ootsuki-kun bisa kelihatan kayak sepasang kekasih sungguhan. Kalau Ootsuki-kun nggak keberatan, mulai sekarang datamg kerjanya bisa lebih awal nggak? Sekitar lewat tengah hari?”


“Lewat tengah hari, maksudnya sekitar jam satu siang?”


“Ung, kalau ada urusan lain jangan dipaksakan kok, nggak apa-apa.”


Kontrak kerja asisten rumah tangga Haruto dengan keluarga Toujou dimulai pukul tiga sore. Artinya, waktu antara jam satu hingga jam tiga sore akan menjadi sesi ‘Latihan Pacaran’ yang dimaksud Ayaka.


“Tidak, aku nggak masalah sih... tapi, kalau setiap kali sebelum kerja aku sudah datang dan... latihan pacaran... dengan Toujou-san, apa Shuuichi-san dan Ikue-san tidak akan, anu... salah paham atau semacamnya...”


“Soal itu, nanti aku bilang ke Papa dan Mama kalau kita sedang belajar bareng. Kan Ootsuki-kun nilainya bagus? Jadi kalau bilang kita ngerjain PR musim panas bareng sambil diajari, pasti aman, ‘kan?”


“Ah, aah, benar juga...”


Haruto mengangguk paham mendengar penjelasan Ayaka.


“Lagipula, kalau mau benar-benar belajar di waktu itu juga boleh, kok. Aku, sejujurnya memang ingin diajari sama Ootsuki-kun.”


Ayaka memasang ekspresi sedikit muram sambil berkata, “Hasil tes sebelumnya agak...”


“Kalau aku bisa membantu, akan kuajari sebisa mungkin.”


AC di kamar Haruto sedang rusak, jadi dia pusing mencari tempat belajar di siang yang panas. Selama ini dia berpindah-pindah mencari tempat sejuk, seperti ke kamar sahabatnya, Tomoya, atau ke perpustakaan.


Jika dia bisa belajar di kamar Ayaka setiap kali ke sini, itu adalah tawaran yang sangat menguntungkan bagi Haruto. Selain itu, dia bisa langsung lanjut kerja, jadi waktu belajarnya pun bisa bertambah.


“Kalau begitu, mulai sekarang kamu datangnya lewat tengah hari, ya. Oke?”


“Baik, itu... mohon bantuannya.”


Haruto menundukkan kepala pada Ayaka. Ayaka juga menunduk membalas Haruto.


“Mohon bantuannya juga.”


Mereka berdua saling membungkuk.


Ayaka yang mengangkat kepala lebih dulu, kembali membuka mulut dengan ragu-ragu.


“Ah, terus. Aku mau minta satu hal lagi...”


“Apa itu?”


“Anu, ya. Soal panggilan kita satu sama lain... sekarang kan kita saling panggil pakai nama marga?”


Ayaka memanggil Haruto ‘Ootsuki-kun’, dan Haruto memanggil Ayaka ‘Toujou-san’.


Dalam kasus Haruto, saat sedang bekerja dan ada anggota keluarga Toujou lain selain Ayaka, dia memanggilnya ‘Ayaka-san’ dengan nama asli, tapi di luar situasi itu, pada dasarnya dia memanggil dengan nama marga.


“Menurutku, pasangan kekasih itu wajarnya saling panggil nama asli, ‘kan.”


“Begitu, ya?”


Haruto sedikit memiringkan kepala.


Mungkin memang banyak pasangan yang saling panggil nama asli, tapi bukan berarti harus selalu begitu, ‘kan? Di dunia ini pasti banyak juga pasangan yang saling panggil nama marga.


Keraguan Haruto itu langsung ditepis oleh argumen kuat Ayaka.


“Ung. Pasangan akrab pasti panggil nama asli! Makanya, aku mau kamu memanggilku... dengan nama asli juga, mulai sekarang.”


“B-Baiklah... kalau begitu, mulai sekarang aku panggil Ayaka-san, boleh?”


“...Ayaka saja.”


“Eh?”


“Tanpa ‘san’, panggil saja langsung... Ayaka.”


Dengan ekspresi yang penuh rasa malu, Ayaka mengatakannya sambil sedikit memalingkan pandangan.


Melihat sikapnya itu, jantung Haruto dipaksa berdetak lebih kencang.


“...A... Ayaka.”


Haruto mengucapkannya dengan suara pelan. Seketika, senyum Ayaka merekah cerah.


“Ung! Apa, Haruto-kun?”


Sambil tersenyum lebar berseri-seri, Ayaka melangkah maju satu langkah mendekati Haruto dan memiringkan kepalanya dengan imut.


Meskipun terasa sedikit menggoda, tapi rasa gemasnya jauh lebih mendominasi, sehingga Haruto lupa untuk menyanggah kenapa Ayaka memanggilnya pakai imbuhan ‘-kun’.


“Anu... kalau panggil tanpa imbuhan, bolehkah hanya di depan nenek saja?”


Hanya memanggil nama tanpa embel-embel.


Namun, hanya dengan itu Haruto merasa jarak dengan gadis itu menyusut drastis. Dan hal itu, sangat menstimulasi perasaan terhadap Ayaka yang bergolak di dalam dirinya.


Mendengar permintaan Haruto, Ayaka bergumam “Uumm” sambil berpikir sejenak, lalu perlahan menaikkan sudut bibirnya.


“Oke. Kalau begitu, di depan neneknya Ootsuki-kun, dan...”


Ayaka menatap lurus tepat ke mata Haruto, dan berkata dengan senyum ramah.


“Saat kita berduaan saja, tolong panggil begitu, ya.”


“...Baik.”


Haruto hanya bisa mengangguk pasrah. Sebaliknya, Ayaka menunjukkan senyum sangat puas.


“Ah, maaf ya jadi ngobrol panjang sebelum kerja.”


“Tidak, tidak apa-apa. Kalau begitu... aku akan mulai bekerja, apa ada permintaan khusus?”


“Ah, Mama bilang, hari ini tolong bersihkan halaman.”


Kediaman Toujou adalah rumah mewah, jadi tentu saja memiliki halaman luas di samping ruang tamu. Di halaman itu terdapat dek kayu dan panggangan barbeku.


Haruto mengangguk menyanggupi permintaan Ayaka.


“Baik, aku terima tugasnya. Lalu untuk makan malam hari ini, aku berencana membuat chicken nanban dada ayam, dan somen dengan tomat, tuna, serta daun shiso. Tak keberatan?”


“Ung, kedengarannya enak banget!”


“Baiklah. Kalau begitu aku akan segera membersihkan halaman.”


Haruto hendak keluar dari ruang tamu menuju halaman.


Ayaka memanggilnya dari belakang.


“Ah iya. Katanya hari ini Papa dan Mama pulangnya agak cepat, Haruto-kun mau makan malam bareng lagi hari ini?”


“Apa boleh?”


Mendengar namanya dipanggil, Haruto merasa gatal karena malu.


“Papa dan Mama lebih senang kalau ada Haruto-kun. Ryota juga pastinya.”


Mengingat situasi belakangan ini di mana makan bersama keluarga Toujou sudah menjadi hal yang lumrah, Haruto tersenyum kecut.


“Kalau begitu, izinkan aku bergabung.”


“Ung!”


Mendengar jawaban Haruto, Ayaka tersenyum senang.


Karena Haruto merasa senyuman Ayaka kini terasa lebih memikat dari sebelumnya, dia mengalihkan pandangannya dari senyum itu karena malu.


Dia melarikan diri dari keheningan menuju halaman, lalu fokus membersihkan halaman seolah ingin mengusir pikiran-pikiran kotor.


Menyapu dek kayu dengan sapu, lalu menyikatnya. Memotong rumput yang terlalu panjang, dan mencabut ilalang.


Setelah sekitar satu jam membersihkan dan merawat halaman dengan konsentrasi penuh, pekerjaan selesai lebih cepat dari dugaan. Haruto pun kembali ke ruang tamu untuk menyiapkan makan malam.


Di sana, Ayaka sudah menunggu dengan gelas berisi teh di tangannya.


“Haruto-kun, terima kasih atas kerja kerasnya. Haus, ‘kan?”


Mendengar apresiasinya, Haruto berterima kasih dan menerima teh itu.


“Terima kasih. Kebetulan aku memang haus, kebantu banget.”


Haruto yang bekerja di bawah terik matahari langsung menghabiskan teh itu dalam sekali teguk. Ayaka menatap sosoknya dengan sangat senang.


“Mau tambah?”


“Ah, tidak usah, terima kasih... anu, kalau begitu aku akan mulai menyiapkan makan malam.”


“Ung.”


Haruto merasa gatal ditatap terus oleh Ayaka, jadi dia segera mulai menyiapkan makan malam untuk mengalihkannya.


Ayaka memandangi Haruto yang sedang memasak dari meja makan.


Haruto berusaha sebisa mungkin untuk fokus memasak, tapi tetap saja dia kepikiran. Sambil menggoreng dada ayam untuk chicken nanban di wajan, dia sesekali mengangkat wajah dan melirik ke arah Ayaka.


Ternyata Ayaka juga sedang melihat ke arah Haruto, dan pandangan mereka bertemu satu sama lain.


Saat pandangan mereka bersilangan, Ayaka tersenyum dengan pipi merah merona.


Melihat sikapnya itu, jantung Haruto berdegup kencang sampai-sampai ia sempat mengira jantungnya akan berhenti.


“Eh... ngo-ngomong-ngomong, itu... soal latihan pacaran.”


“Ung.”


Sambil membalik dada ayam dengan sumpit masak, Haruto perlahan membuka pembicaraan.


“Rencananya mau latihan yang seperti apa?”


“Itu... latihan gerakan atau ucapan yang mirip orang pacaran, terus... s-skinship, mungkin?”


Penjelasan Ayaka menjadi cepat di akhir karena malu.


“Skinship... ya?”


Haruto menghentikan sementara gerakannya mengangkat dada ayam dari minyak, dan menatap Ayaka dengan bingung. Melihat itu, Ayaka buru-buru menjelaskan dengan suara agak keras.


“S-Soalnya kan! Kalau bagian itu kaku, nanti nenekmu curiga kalau kita bukan pacar beneran!”


“Apa bakal dicurigai...?”


Ada kok pasangan yang saking malunya sampai pegangan tangan saja belum.


Pasangan yang masih polos seperti itu juga bagus, ‘kan?


“Umm, karena aku bilangnya ke nenek kalau baru punya pacar, jadi... anu... kalau skinship-nya terlalu berlebihan malah jadi tidak wajar, menurutku.”


“Ah... ung, b-benar juga, ya...”


Mendengar ucapan Haruto, Ayaka langsung kelihatan murung. Melihat sosoknya yang seperti itu, rasa bersalah perlahan merayapi dada Haruto.


Haruto sadar bahwa dialah yang menyeret Ayaka ke dalam kebohongannya, jadi dia tidak berhak mengatur-atur Ayaka.


“Tapi ada benarnya juga, mungkin perlu latihan sampai batas tertentu. Kalau tiba-tiba minta ngelakuin hal-hal layaknya pacar pasti berat. Kalau Ayaka-sa... kalau Ayaka tidak keberatan, ayo kita latihan... skinship juga.”


“...Benarkah?”


Saat Ayaka mengangkat wajahnya, Haruto merasa ada sedikit ekspresi gembira di wajahnya, dan itu membuat hati Haruto bergetar.


“Benar. Asal tidak keberatan.”


“Kan aku yang usul, mana mungkin aku keberatan.”


Berubah drastis dari ekspresi murung tadi, Ayaka kini tersenyum riang gembira.


Haruto mengalihkan pandangan darinya, dan buru-buru mengangkat dada ayam yang sedikit terlalu matang dari wajan.


Haruto memindahkan dada ayam itu ke nampan berisi bawang bombai, paprika, dan wortel yang sudah dipotong sebelumnya, lalu menyiramnya dengan saus nanban resep asli neneknya hingga terendam.


Setelah bagian ayam nanban selesai, Haruto beralih membuat kuah somen.


Saat itu, Ayaka membuka mulut dengan pelan.


“Hei, Haruto-kun.”


“Ya, ada apa?”


Mendengar panggilan Ayaka, Haruto menoleh ke arahnya.


“Sekarang, kebetulan Papa dan Mama, juga Ryota lagi nggak ada...”


Ekspresi Ayaka saat mengatakan itu terlihat basah dan sedikit panas, memancarkan pesona yang tak terlukiskan.


“Mau latihan jadi pacar... sebentar?”


Ayaka berdiri dengan mulus, lalu perlahan berjalan memutar menuju dapur tempat Haruto berada.


“Ah, eh...”


Haruto hanya bisa diam terpaku menatap Ayaka yang mendekat, sambil tetap memegang tomat untuk kuah somen. Ayaka berhenti sejenak beberapa langkah dari Haruto.


Dia menunduk dan diam selama beberapa detik.


Lalu, seolah telah membulatkan tekad, dia mengangkat wajahnya dengan tajam, menatap lurus ke arah Haruto, dan melangkah maju.


“To-Toujou... san?”


“Kalau berdua panggilnya Ayaka, ‘kan?”


Sambil menggembungkan pipi sedikit membuat ekspresi tidak puas, Ayaka maju selangkah lagi, memperpendek jarak dengan Haruto.


“Haruto-kun...”


Ayaka berada dalam jarak di mana jika Haruto mengulurkan tangan sedikit saja, dia bisa menyentuhnya.


Berbagai pikiran muncul di benak Haruto.


Dia merasa jika dia melakukan salah satu saja dari pikiran itu, hubungan mereka akan berubah.


Teman sekelas di sekolah.


Staf asisten rumah tangga dan pelanggan.


Dan, pacar palsu....


Haruto tersedot ke dalam tatapan Ayaka yang seolah membawa hawa panas.


Mata yang besar dan indah. Saat menatap mata yang membuatnya berpikir demikian, pikiran Haruto perlahan macet, dan hasrat yang ada di lubuk hatinya mencoba untuk muncul ke permukaan.


Bagian rasional dalam diri Haruto membunyikan alarm peringatan bahwa ini tidak boleh terjadi, tapi pikiran yang didorong hasrat perlahan melebihi itu.


Dan, saat tangan Haruto perlahan hendak terulur ke arah Ayaka, suara riang bergema dari pintu depan.


“Aku pulaaaang!!”


Suara Ryota yang menandakan kepulangannya.


Tubuh Haruto dan Ayaka tersentak kaget secara bersamaan, dan mereka buru-buru saling menjauh. Menyusul suara itu, langkah kaki dug dug dug terdengar dari lorong, pintu ruang tamu terbuka lebar dengan suara klek!, dan Ryota yang baru pulang dari taman melompat masuk.


“Ah! Onii-chan!”


Begitu melihat Haruto berdiri di dapur, Ryota berlari menghampirinya dengan kegembiraan yang meluap-luap.


“Onii-chan, aku pulang!”


“Selamat datang kembali, Ryota-kun.”


“Onii-chan, flunya sudah nggak apa-apa? Sudah sehat?”


Melihat Ryota menatapnya dengan cemas, Haruto tersenyum lebar.


“Terima kasih sudah khawatir. Flunya sudah sembuh dan aku sudah sehat kok.”


Saat Haruto mengelus kepala Ryota, anak itu menyipitkan mata karena geli.


“Tahu nggak, waktu Onii-chan sakit flu, ada bibi-bibi tak dikenal datang gantiin Onii-chan bantu-bantu di rumah, loh.”


“Begitu ya, masakan orang itu enak tidak?”


“Ung. Tapi, aku lebih suka masakan Onii-chan! Terus, lebih seru kalau Onii-chan yang ada di rumah!”


Ucap Ryota sambil tersenyum polos. Haruto melembutkan ekspresinya mendengar kata-kata itu.


“Hari ini juga akan kubuatkan makanan enak buat Ryota-kun, jadi tunggu sebentar lagi ya. Sambil nunggu, Ryota-kun cuci tangan dan kumur dulu, gih.”


“Oke!”


Ryota mengangguk patuh dan berlari menuju wastafel. Haruto menatap punggungnya dengan tatapan lembut.


Di ruang tamu yang kembali hanya berisi mereka berdua, Haruto perlahan melirik ke arah Ayaka.


“Latihannya lain kali saja, ya.”


“B-Begitu, ya...”


Ayaka menjawab dengan senyum malu-malu, dan Haruto pun mengangguk kaku.


Sambil lanjut memasak makan malam, Haruto merenungkan hasrat yang tadi sempat mencuat.


Saat Ayaka mendekat tadi, dia sempat berpikir.


Bahwa dia ingin menjadikan gadis itu miliknya.


Bahwa dia ingin memeluknya dalam dekapannya.


Namun, hal itu tidak diizinkan bagi dirinya yang sekarang. Ayaka mau berpura-pura jadi pacarnya karena dia percaya padanya. Karena kepercayaan itulah Ayaka mencoba bersikap seperti pacar sungguhan dengan melakukan skinship. Jadi, dia tidak boleh mengkhianati kepercayaan itu.


Tapi, Haruto menghentikan tangannya yang sedang memotong tomat dan berpikir sejenak.


Karena rasa bersalah telah menyeret Ayaka ke dalam kebohongan, perasaan tidak enak pada gadis itu sangat kuat. Karena itulah dia tidak pernah memikirkan perasaan Ayaka sendiri dengan serius.


Tentang pacar palsu ini, apa yang dipikirkan gadis itu tentang dirinya....


Haruto mengingat kembali kejadian sejak dia datang ke kediaman Toujou sebagai asisten rumah tangga dan bertemu Ayaka hingga sekarang.


Lalu, dia memikirkan satu kemungkinan.


Yaitu kemungkinan bahwa Ayaka menaruh hati padanya.


Dia tidak bisa yakin sepenuhnya, tapi dia juga tidak merasa kemungkinannya nol.


Mereka pergi nonton film berdua, bergandengan tangan di sana. Sering pergi belanja ke supermarket bersama. Dan di Taman Hutan Satwa, meskipun tidak disengaja, mereka sempat berpelukan.


Mengingat kembali adegan-adegan itu dan reaksinya, Haruto merasa Ayaka tidak pernah menunjukkan ekspresi enggan.


Masih belum lama sejak dia mengenal Ayaka. Masih ada kemungkinan besar ini hanya kesalahpahaman Haruto sendiri.


Tapi....


Saat itu, sebuah adegan terlintas kembali di benak Haruto.


Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Saat Ayaka datang merawatnya dan menempelkan keningnya untuk mengukur suhu tubuh.


Apakah orang akan melakukan hal seperti itu pada orang yang tidak disukainya?


Jika Ayaka menyukai Haruto, maka tidak perlu jadi pacar palsu.


Haruto menyadari perasaan yang ada di lubuk hatinya, perasaannya terhadap Ayaka.


Jadi, kalau perasaan gadis itu juga sama dengannya....


Saat berpikir sampai situ, Haruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Mana mungkin ada kebetulan yang seindah itu... ya, ‘kan?”


Melalui pekerjaan asisten rumah tangga, Haruto bisa mengetahui bahwa sosok Ayaka sebagai ‘Idol’ di sekolah bukanlah sosok aslinya. Namun, citra Ayaka sebagai ‘Idol Sekolah’ belum sepenuhnya hilang dari benaknya.


Tidak tertarik pada asmara, dan sama sekali tidak membiarkan laki-laki mendekat. Yang ada di sekelilingnya hanya teman perempuan, dan menolak semua pernyataan cinta.


Karena citra itu masih tersisa, Haruto sulit mempercayai kemungkinan bahwa Ayaka menyukainya.


Dia memindahkan tomat yang sudah dipotong ke dalam mangkuk, lalu mulai mencincang daun shiso.


Saat melakukan itu, dia sedikit mengangkat pandangan dan kembali melirik Ayaka yang duduk di meja ruang makan.


Dan, sama seperti tadi, pandangan mereka benar-benar kembali bersilangan.


“Ah... sebentar lagi, beres kok.”


“U-Ung.”


Merasa malu, mereka berdua saling memalingkan muka.


Sambil mencincang halus daun shiso, Haruto berusaha menenangkan detak jantungnya.


Mulai sekarang, sebelum kerja sambilan asisten rumah tangga, dia akan melakukan ‘Latihan Pacaran’ di kamar Ayaka. Tentu saja, rencananya mereka juga akan belajar dengan serius.


Haruto menyadari perasaannya sendiri, entah detak jantungnya ini disebabkan oleh kecemasan atau kebahagiaan, ia belum ingin mencari tahunya dengan pasti. Untuk saat ini, ia memutuskan untuk lanjut memasak makan malam dalam diam.



“Wah~ masakan Ootsuki-kun luar biasa enak kayak biasa, ya!”


Shuuichi memuji habis-habisan sambil memakan chicken nanban buatan Haruto.


“Bumbunya pas, tekstur sayurannya juga enak banget.”


Ikue juga menikmati masakan Haruto dengan lahap.


Setelah menyelesaikan pekerjaan asisten rumah tangganya, Haruto duduk mengelilingi meja makan bersama Shuuichi dan Ikue yang baru pulang kerja, serta Ayaka dan Ryota.


“Terima kasih. Kali ini mungkin ayamnya agak sedikit keras karena saya memasaknya terlalu lama.”


“Tidak, tidak, sama sekali nggak kerasa kok. Tapi, rasa pedas yang agak menyengat ini bikin ingin minum alkohol, ya. Ini cocoknya bir... ah tidak, kayaknya lebih cocokan sake dingin.”


Sambil berkata begitu, Shuuichi melirik ke arah Ikue.


“Fufufu, jangan minum kebanyakan loh.”


“Tentu saja! Kebetulan aku dapat barang bagus dari rekan kerja.”


Dengan langkah riang gembira, Shuuichi pergi mengambil sake.


Di sisi lain, Ryota menatap chicken nanban milik Ayaka dengan ekspresi heran.


“Onee-chan, ini pedas?”


Melihat Ryota yang memiringkan kepala bingung, Haruto tersenyum.


“Punya Ryota-kun bumbunya beda biar nggak pedas.”


“Aku juga mau makan yang pedas!”


Mungkin karena tidak suka rasanya dibedakan sendiri, Ryota menatap chicken nanban di piring Ayaka yang duduk di sebelahnya.


“Ini masih terlalu cepat buat Ryota.”


Ayaka berkata seolah menasihati adiknya. Tapi Ryota menggelengkan kepala membantah ucapan kakaknya.


“Aku kuat makan pedas, kok!”


“Benarkah? Kalau begitu mau coba sedikit?”


“Mau!!”


Ryota yang mengangguk mantap, Ayaka pun memberikan sedikit potongan chicken nanban miliknya.


Ryota memasukkannya ke mulut dengan mata berbinar, tapi ekspresinya langsung berubah keruh.


Ternyata memang masih terlalu pedas buat Ryota, tapi anak itu berusaha mati-matian menahannya dan mengunyah chicken nanban di mulutnya. Melihat tingkah lucu adiknya, Ayaka tidak bisa menahan tawa, “Fufu”.


“Gimana Ryota? Enak?”


“...Ung, enak...”


“Mau lagi?”


Mendengar tawaran Ayaka, Ryota menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kuat.


Saat mereka sedang tersenyum melihat interaksi Toujou bersaudara itu, Shuuichi kembali dengan wajah berseri-seri sambil memeluk botol sake ukuran besar.


“Ini katanya barang langka yang susah didapat di pasaran, loh.”


Dengan suasana hati yang sangat baik, Shuuichi meletakkan cawan di atas meja dan hendak menuangkan sake sendiri.


“Ah, Shuuichi-san. Biar saya tuangkan.”


“Ah tidak usah! Jangan repot-repot ah.”


“Setidaknya biarkan saya menuangkan gelas pertama.”


Sambil berkata begitu, Haruto perlahan mengulurkan tangan ke botol besar yang dipegang Shuuichi.


“Begitu, ya? Kalau begitu, boleh deh satu gelas saja.”


Shuuichi menyerahkan botol itu pada Haruto dan memegang cawannya.


“Silakan.”


“Terima kasih... oop, terima kasih.”


Setelah dituangkan oleh Haruto, Shuuichi langsung menenggak cawan itu dengan sekali teguk.


“Ngh! Enak!”


“Fufu, kamu kelihatan senang sekali ya, Sayang. Dituangkan sake sama Ootsuki-kun.”


Ikue berkata pada Shuuichi yang tersenyum lebar.


“Sudah tentu! Kalau Ootsuki-kun sudah dewasa nanti, aku ingin sekali bersulang dengannya.”


“Saat itu tiba, mohon bimbingannya.”


Haruto menunduk menanggapi ucapan Shuuichi. Saat itu, Ikue menatap ke arah Ayaka.


“Kalau Ootsuki-kun sudah boleh minum alkohol, berarti Ayaka juga sudah boleh minum, ya.”


“Benar juga. Haruto-kun dan aku kan seumuran.”


Saat Ayaka menjawab begitu, Ikue menunjukkan ekspresi “Oya?”.


“Ada apa, Ma?”


“Tidak, tidak apa-apa kok. Tapi begitu ya...”


Sang ibu menatap putrinya dengan ekspresi senang.


“Ayaka, sepertinya hubunganmu dengan Haruto-kun lancar, ya.”


“U-Ung... begitulah.”


Meski wajahnya sedikit memerah, Ayaka mengangguk kecil tanpa menyangkal perkataan Ikue.


Melihat sikap putrinya, Ikue tersenyum geli “Fufufu”.


“Semoga kamu bisa terus bareng Ootsuki-kun sampai dewasa nanti, ya.”


“Ung... aku ingin, terus bersamanya.”


Meskipun malu-malu, Ayaka mengatakannya dengan tegas kepada Ikue. Di saat itu, Shuuichi yang suasana hatinya makin bagus karena alkohol dan suaranya mulai membesar, menatap Haruto dan Ayaka bergantian.


“Begitu rupanya! Kalau Ootsuki-kun bisa minum, berarti Ayaka juga bisa minum!”


Shuuichi mengulang hal yang sama persis dengan yang dikatakan Ikue tadi.


“Ini kabar gembira!”


Sambil berkata begitu, Shuuichi menenggak sisa sake di cawannya.


“Shuuichi-san, silakan.”


“Wah wah Ootsuki-kun, maaf ya. Ottoto, terima kasih, terima kasih!”


Saat Haruto menuangkan lagi, Shuuichi menyodorkan cawannya dengan gembira, dan segera menempelkan bibirnya ke cawan penuh sake itu.


“Tapi kalau Ootsuki-kun dan Ayaka bisa minum alkohol di waktu yang sama... hm? Minum alkohol barengan, berarti? Upacara San-san-kudo, ya?”


[TLN: San-San-Kudo adalah ritual minum sake tradisional Jepang dalam pernikahan yang melambangkan penyatuan pasangan dan keluarga, di mana pengantin pria dan wanita secara bergiliran minum sake dari tiga cangkir berbeda (kecil, sedang, besar).]


Mungkin karena mulai agak mabuk, Shuuichi yang wajahnya mulai memerah omongannya jadi ngelantur.


Mendengar ucapan ayahnya yang tidak masuk akal, Ayaka langsung protes.


“Tunggu dulu! Kenapa minum alkohol pertamanya harus di upacara pernikahan!?”


“Benar tuh, Sayang. Anak muda zaman sekarang kan lebih suka upacara di kapel ketimbang upacara tradisional di kuil.”


“Bukan itu masalahnya!! Sebelum nikah kan ada upacara kedewasaan dulu!!”


Ayaka juga melontarkan sanggahan pada komentar Ikue yang melenceng.


Namun, Ikue dengan lihai mengabaikan sanggahan itu dan bertanya pada Haruto.


“Ootsuki-kun, menurutmu mana yang lebih cocok untuk Ayaka, gaun pengantin atau Shiromuku?”


[TLN: Shiromuku adalah kimono pengantin tradisional Jepang yang serba putih dan dikenakan oleh pengantin wanita selama upacara pernikahan Shinto.]


“Tunggu, Mama!? Jangan tanya aneh-aneh sama Haruto-kun!”


“Bukan hal aneh, kok? Kali aja bisa jadi masukan yang berguna buat masa depan?”


Mendengar Ikue berbicara sambil tersenyum manis, wajah Ayaka memerah padam dengan bunyi psyuuu dan terdiam seribu bahasa.


“Jadi, bagaimana menurut Ootsuki-kun?”


Ditanya sekali lagi oleh Ikue, Haruto sadar tidak ada jalan keluar. Sambil menggaruk pipinya karena malu, dia menjawab dengan ragu-ragu.


“Umm, karena Ayaka-san itu, anu... sangat cantik dan manis, saya rasa baik gaun maupun Shiromuku akan cocok untuknya...”


“Begitu ya? Kalau begitu, untuk gaun berwarna atau Irouchikake, kamu penginnya Ayaka pakai warna apa?”


[TLN: Irouchikake adalah pakaian pengantin tradisional Jepang yang berwarna cerah, sering kali dengan sulaman rumit yang menampilkan motif seperti bunga, burung, dan simbol keberuntungan.]


Ikue tampak begitu senang mencecarnya, Haruto menjawab sambil tersenyum canggung.


“G-Gimana ya... warna klasik seperti pink atau merah juga bagus sih... tapi karena kulit Ayaka-san putih dan indah, saya rasa warna biru yang memberi kesan segar, atau warna wisteria dan ungu yang memberi kesan bangsawan anggun juga akan sangat cocok.”


Melihat Haruto yang mengatakannya meski dengan malu-malu, Ikue menatap Ayaka dengan senyum puas.


“Katanya begitu, bisa jadi referensi, ‘kan?”


“...Ung.”


Ayaka mengangguk kecil dengan suara yang hampir tak terdengar.


Dengan telinga yang memerah sampai ke ujungnya, dia curi-curi pandang ke arah Haruto dengan tatapan dari bawah. Saat pandangan mereka bertemu, keduanya langsung memalingkan muka dengan cepat.


Melihat reaksi mereka berdua, Ikue menyeringai, “Bagus nih.”


“Gaun pengantin dan gaun berwarna. Shiromuku dan Irouchikake. Kalau mau pakai semuanya, berarti harus ngadain upacara di gereja sekaligus di kuil, ya? Terus ganti baju di resepsi... hmm, kayaknya aku harus mulai menabung dana pernikahan dari sekarang.”


Shuuichi yang wajahnya memerah karena mabuk bergumam sendirian.


Mendengar itu, Ayaka buru-buru menghentikannya.


“Tunggu, Papa! Masih terlalu cepat, tahu!”


“Tidak, tapi dengar ya. Pernikahan itu butuh biaya yang lumayan besar, loh? Karena ini pernikahan Ootsuki-kun dan Ayaka tersayang, aku tidak mau pestanya terlihat menyedihkan! Hahaha!”


Shuuichi tertawa riang sambil menenggak sake-nya lagi.


Ayaka merebut cawan kosong dari tangan Shuuichi.


“Papa minumnya kebanyakan! Sudah mabuk tuh!”


“Tidak, tidak, aku masih sadar kok. Daripada itu, Ootsuki-kun!”


“Y-Ya.”


Melihat Shuuichi tiba-tiba menegakkan postur tubuh dan menghadapnya, Haruto ikut menegakkan punggungnya.


“Meskipun putriku banyak kekurangan, tolong jaga dia untuk selamanya, ya.”


“Ah, iya... ya? Eh? Tidak, anu...”


“Papa! Jangan ganggu Ootsuki-kun dengan mabukmu!”


Meskipun ditahan putrinya, Shuuichi tertawa senang “Wahahaha!”.


“Anu... apa Shuuichi-san tidak kuat minum alkohol?”


Haruto bertanya diam-diam pada Ikue.


“Yah begitulah, orang ini baru minum seteguk saja langsung jadi heboh begitu. Hari ini dia sudah minum tiga cawan, jadi bisa dibilang sudah ‘jadi’, deh.”


Ikue menambahkan sambil tetap tersenyum, “Sebenarnya dia kuat minum banyak dan nggak pernah teler, jadi bukan berarti lemah sih.”


“Begitu rupanya...”


Haruto menatap Shuuichi sambil tersenyum kecut.


Sekarang ayah itu sedang berdebat soal pernikahan dengan Ayaka. Meskipun Haruto perasaannya campur aduk karena dialah yang menjadi topik perdebatan itu, dia memutuskan untuk tidak ikut campur agar tidak terseret lebih jauh.


Saat itu, Ryota menatap botol besar di atas meja dengan penuh rasa ingin tahu.


“Hei, Hei, Onii-chan? Ini enak?”


“Ini belum boleh diminum Ryota-kun, tahu. Lagipula kalaupun diminum, Ryota-kun pasti ngerasa nggak enak.”


“Masa? Ayah minumnya kelihatan enak banget tuh.”


“Ini minuman ajaib yang baru terasa enak kalau sudah jadi orang dewasa.”


Ryota memiringkan kepala mendengar penjelasan Haruto.


“Hmm? Aneh.”


“Nanti kalau Ryota-kun sudah dewasa, kita minum bareng, ya.”


“Ung!”


Ryota mengangguk senang mendengar kata-kata Haruto, lalu mengalihkan pandangan dari botol sake dan kembali menyeruput somen-nya.


“Ngomong-ngomong, Ootsuki-kun. Aku ada satu usulan.”


“Ya, apa itu?”


Shuuichi menyudahi perdebatannya dengan Ayaka dan memanggil Haruto.


Mengingat ucapan-ucapannya tadi, Haruto agak waspada menunggu kata-kata Shuuichi selanjutnya.


“Akhir pekan ini, kami bakal barbekuan di halaman rumah. Bagaimana kalau Ootsuki-kun ikut gabung?”


“Barbeku? Ah, jadi itu alasan minta halamannya dibersihkan...”


“Gimana? Kamu bisa makan banyak daging enak, loh?”


“Umm...”


Haruto menatap Ikue, meminta pendapat lewat pandangan mata.


Haruto ragu apakah boleh menelan mentah-mentah ajakan Shuuichi yang sedang mabuk ceria itu. Ikue mengangguk sambil tetap tersenyum ramah seperti biasa.


“Kalau Ootsuki-kun nggak ada acara, kita barbekuan bareng yuk.”


Mendengar persetujuan dari Ikue, Haruto menundukkan kepala.


“Kalau begitu, saya ikut. Mohon bantuannya.”


“Umu! Akhir pekan ini kayaknya bakal seru!”


Meja makan keluarga Toujou bersama Haruto diliputi gelak tawa yang riuh.


Setelah makan malam selesai, dan saat Haruto hendak pamit pulang, Ayaka berkata pada Ikue.


“Mulai sekarang, aku mau belajar bareng sama Haruto-kun. Jadi di hari kerja, kami bakal belajar bareng di kamarku dari siang.”


“Ara, begitu? Bagus dong, Ootsuki-kun kan nilainya bagus, ya?”


“Nilainya ranking satu di seangkatan, loh. Ya ‘kan, Haruto-kun?”


“Ah, iya.”


Haruto mengangguk dengan sedikit sungkan.


“Hebat banget. Hasil tes setelah liburan musim panas nanti patut dinantikan, nih.”


“Eh? Ah... kalau itu sih belum tentu...”


Mendengar ucapan Ikue, Ayaka tersenyum samar dan mengalihkan pandangan.


Melihat percakapan ibu dan anak itu, Haruto berkata sambil tersenyum kecut.


“Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar nilai Ayaka-san naik.”


“Ara! Ternyata Ootsuki-kun bukan cuma asisten rumah tangga tapi juga guru privat, ya. Dengerin kata Ootsuki-sensei baik-baik ya, Ayaka?”


Saat Ikue berkata dengan nada bercanda, Ayaka juga sedikit meronakan pipinya dan ikut menimpali.


“Mohon bimbingannya, Haruto-sensei.”


Tatapan mata dari bawah itu terasa sedikit disengaja dan menggoda, tapi bagi Haruto, damagenya sudah lebih dari cukup.


“S-Saya akan berusaha sebaik mungkin.”


Haruto merasakan debaran di dada sekaligus kecemasan menghadapi situasi di mana dia akan belajar berduaan dengan Ayaka.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close