Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 5
Kian Kupikirkan, Kian Membuncah Rasa yang Kupendam
Sehari setelah kencan seharian dengan Ayaka.
Haruto berada di kamar sahabatnya, Tomoya.
“Jadi? Sejak kapan Haru pacaran sama Toujou-san?”
Mendengar pertanyaan Tomoya yang bernada memastikan itu, Haruto membalas bercampur desahan napas.
“Kan waktu itu sudah kubilang, aku nggak pacaran sama Aya... Toujou-san.”
“Barusan kamu hampir bilang ‘Ayaka’, ‘kan?”
“......Nggak kok.”
Haruto membuang muka dari tatapan picik Tomoya.
“Haruto-kun! Bohong itu dosa, loh!”
Melihat Haruto yang membuang buka dan bungkam, Tomoya menirukan gaya bicara Ayaka dengan suara falsetto.
Melihat Tomoya yang berkedip-kedip berlebihan, pelipis Haruto berkedut kesal.
“Dibilangin, hubunganku sama Toujou-san nggak kayak yang kau bayangkan. Cuma staf asisten rumah tangga dan pelanggannya, dah gitu saja.”
“Omong-omong, Haru yang sekarang rutin pergi ke rumah Toujou-san buat kerja sambilan, ‘kan?”
“Yah... keluarganya Toujou-san suka sama masakanku, jadi mereka bikin kontrak langganan.”
“Artinya, hubunganmu dengan Toujou-san sudah direstui keluarga, dong.”
“Direstui keluarga apanya, kau ini...”
Melihat Haruto yang menatapnya dengan wajah jengah, Tomoya menarik kembali wajah bercandanya dan menatap Haruto dengan tatapan serius.
“Haru, dulu kamu pernah bilang, ‘kan? Kalau kamu belum bisa menata perasaanmu atau semacamnya. Terus, kamu juga tanya gimana caraku habisin waktu pas punya pacar dulu, ‘kan? Jadi, kamu kencan sama Toujou-san, ‘kan?”
Tomoya melanjutkan kata-katanya dengan tatapan tajam.
“Hei... serius kalian nggak pacaran? Kalau iya, jarak kalian berdua kemarin itu nggak wajar, tahu? Itu kalau kalian benar-benar nggak pacaran, loh ya.”
“Nggak wajar gimana... nggak sampai segitunya, ‘kan?”
“Segitunya, tahu. Kalau dengan kondisi begitu kalian bilang nggak ada apa-apa, berarti Haru adalah cowok super tidak peka sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Atau, Toujou-san adalah wanita penggoda yang bisa mempermainkan banyak pria. Kalau tidak begitu, suasana itu nggak mungkin tercipta. Atau ada kemungkinan Toujou-san naksir berat sama Haru.”
Mendengar ucapan tegas Tomoya, Haruto menggaruk kepalanya.
Meski terlihat santai dan sembrono, sahabatnya ini ternyata punya wawasan yang tajam dan sering melontarkan kata-kata yang tepat sasaran.
Haruto menghela napas kecil, “Haaah.” Lalu, setelah beberapa kali membuka-menutup mulutnya ragu-ragu, ia sepertinya menyerah dan mengungkapkan hubungan sebenarnya dengan Ayaka kepada Tomoya.
Tentang kebohongan yang Haruto ucapkan pada neneknya.
Tentang Ayaka yang bersedia mengikuti kebohongan itu dan menjadi pacar pura-pura.
Tentang latihan jadi pacar yang mereka lakukan agar kebohongan itu tidak terbongkar.
Setelah mendengar semua cerita itu, Tomoya terdiam beberapa detik setelah Haruto selesai bicara.
Lalu, dia perlahan membuka mulutnya.
“Haru. Kamu... bodoh ya?”
“Apa sih tiba-tiba.”
“Pacar pura-pura? Latihan jadi pacar? Hal kayak gitu normalnya nggak bakal dilakuin kecuali sama orang yang disuka, tahu.”
“......Mana kutahu soal itu?”
Haruto mencoba menyangkal ucapan Tomoya, tapi suaranya tidak bertenaga.
Haruto sebelumnya juga dibilang hal serupa oleh Shizuku, jadi ucapan sahabatnya ini cukup mengguncang hatinya.
“Toujou-san itu sangat baik... mungkin dia cuma berbaik hati mengikuti kebohonganku saja, ‘kan?”
Mendengar bantahan Haruto yang terdengar seperti alasan, Tomoya melipat tangannya dan berkata, “Kamu serius ngomong gitu?”
“Aku nggak tahu apa-apa soal Toujou-san, jadi nggak bisa memastikan, sih. Tapi kalau dipikir secara normal, sebaik apa pun orangnya, nggak bakal sampai segitunya, ‘kan?”
“............”
Mendengar kata-kata Tomoya, Haruto hanya bisa terdiam.
“Sebaliknya, Haru sendiri mikir apa soal Toujou-san?”
“Itu...”
“Suka? Atau memang cuma sekadar pelanggan kerja sambilan?”
Mendengar pertanyaan Tomoya, Haruto menunduk.
Dia sebenarnya sudah menyadari perasaannya sendiri. Perasaan seperti apa yang ia miliki pada Ayaka. Namun, ia tidak bisa mengucapkannya dengan jelas.
Mulut Haruto terkatup rapat seolah dijahit.
Melihat keadaan itu, Tomoya mengangguk, “Begitu, ya.”
“Jadi Haru juga naksir berat sama Toujou-san.”
“Aku belum ngomong apa-apa, ‘kan. Jangan seenaknya menyimpulkan.”
Haruto membantah secara spontan, membuat Tomoya menggelengkan kepalanya pelan.
“Karena kamu diam saja makanya aku tahu. Artinya, kamu benar-benar jatuh cinta sama Toujou-san sampai nggak bisa bilang ‘suka’ dengan enteng, ‘kan?”
“...........”
“Terus, karena kamu benar-benar jatuh cinta, kamu jadi nggak pede dan jadi pengecut soal hubunganmu dengan Toujou-san. Kalau cuma lawan jenis yang nggak penting-penting amat, kamu pasti bakal nembak dengan perasaan enteng kayak ‘kalau diterima ya syukur’.”
“Nggak gitu juga...”
Haruto yang sepenuhnya tertohok oleh ucapan sahabatnya, menyangkal dengan lemah sambil membuang muka.
Haruto sendiri belum pernah punya pacar, jadi tidak bisa dibilang berpengalaman dalam cinta. Namun, bahkan dia pun samar-samar merasa bahwa Ayaka mungkin menaruh hati padanya. Dia merasakannya, tapi tidak bisa yakin.
Karena tidak yakin dan tidak percaya diri, dia melarikan diri dengan berpikir bahwa kebaikan Ayaka mungkin hanya perasaannya saja.
Tapi, saat berinteraksi dengan Ayaka, senyumannya, suasananya yang menyenangkan, dan kehangatan tangannya, Haruto jadi berharap.
Berharap bahwa suatu saat Ayaka akan menjadi pacar sungguhan.
Haruto menghela napas lebih panjang dari sebelumnya. “Haaah~”
“Dia itu ‘Idol Sekolah’, loh? Cowok mana pun yang nembak nggak ada yang diterima, mana mungkin dia bakal suka sama aku?”
“Entahlah, tapi menurutku cowok-cowok sebelumnya nggak pernah ngelakuin latihan jadi pacar sama Toujou-san, deh.”
“Iya sih...”
Mendengar ucapan Tomoya, Haruto menghela napas untuk ketiga kalinya.
Di dalam kepalanya, ucapan Tomoya terngiang-ngiang.
‘Karena kamu benar-benar jatuh cinta, kamu jadi nggak pede dan jadi pengecut soal hubunganmu dengan Toujou-san.’
Tepat sekali.
Haruto menginginkan hubungan yang lebih dari sekadar staf asisten rumah tangga dan pelanggan dengan Ayaka.
Dia berharap bisa menjadi lebih dari sekadar teman sekelas.
Dan, semakin kuat perasaan itu, semakin dia takut membayangkan jika perasaannya tak terbalas, sehingga dia ciut.
“Hah, apa aku ini... pengecut ya?”
“Yah, emang pengecut.”
“Jaga perasaan dikit, napa.”
Mendengar Tomoya membalas tanpa ampun, Haruto protes dengan lemah sambil tersenyum pahit.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka lebar dengan kencang.
“Haru-nii!!”
Yang menerobos masuk ke kamar dengan suara lantang adalah adik perempuan Tomoya, Haruka.
“Woi Haruka. Kan sudah kubilang ketuk pintu dulu kalau masuk kamar.”
“Onii cerewet.”
Haruka menatap dingin pada omelan kakaknya.
“Kamu tuh ya, sama kakak sendiri kok─”
“Iya, iya. Sekarang aku nggak punya waktu buat meladeni omong kosong Onii.”
Haruka mengibaskan tangannya seolah mengusir kakaknya, lalu berbalik menghadap Haruto dengan semangat tinggi, seolah sikap dinginnya pada Tomoya tadi bohong belaka.
“Haru-nii!! Siapa cewek super cantik kemarin itu!? Pacarmu, ya!?”
Haruka mendesak dengan napas memburu, menginterogasi Haruto soal Ayaka.
“Bukan, Haruka-chan. Toujou-san itu bukan pacar─”
“Boong! Pasti pacaran, ‘kan!!”
“Katanya nggak bohong tuh. Haru nggak pacaran sama Toujou-san.”
Tomoya menyampaikan dengan wajah jengah pada Haruka yang memotong ucapan Haruto.
“Eeeh!? Serius!? Kalian nggak pacaran!? Haru-nii waras!?”
Melihat Haruka yang membelalak kaget, Haruto mengalihkan pandangan dengan canggung.
“Harusnya sih waras... tapi sekarang jadi nggak yakin.”
Haruto berkata demikian dengan tatapan menerawang.
Melihat sikap Haruto, Haruka meletakkan tangan di dagu dan berkata dengan wajah serius.
“Menurutku Toujou-san itu suka sama Haru-nii. Terus, Haru-nii juga suka sama Toujou-san, ‘kan?”
“Ah, masa sih? Belum tentu Toujou-san suka sama aku, ‘kan?”
Saat Haruto mengucapkan kata-kata dengan nuansa serupa seperti yang dia katakan pada Tomoya tadi, Haruka menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membantah pendapat Haruto.
“Enggak! Toujou-san pasti naksir Haru-nii! Seratus persen naksir!!”
“...Atas dasar apa?”
“Insting wanita!”
Saat Haruto menanyakan alasannya, Haruka membusungkan dada dan bersikeras dengan penuh percaya diri seolah itu hal yang wajar.
“Insting itu, bisa dipercaya?”
“Tentu saja! Jadi, kapan Haru-nii mau ngenalin Toujou-san ke aku?”
Melihat Haruka yang bicara seolah itu bakal kejadian, Haruto tersenyum pahit.
“Untuk saat ini, aku nggak ada rencana ngenalin ke Haruka-chan kayaknya.”
“Kok gitu!? Sebagai adik Haru-nii, aku punya kewajiban untuk menilai apakah Toujou-san pantas jadi pacarmu!”
“Tidak, tidak. Haruka-chan kan adiknya Tomoya, bukan adikku.”
Haruto memberikan komentar yang sangat masuk akal.
Mendengar itu, Haruka menatap Haruto dengan tatapan serius.
“Aku menganggap Haru-nii sebagai kakak kandungku, tahu? Sejak dulu, Haru-nii adalah salah satu keluarga berhargaku. Ya ‘kan? Onii juga anggap Haru-nii keluarga, ‘kan?”
“Jelas lah! Haru itu sohibku, sekaligus keluarga juga!”
Mendengar Tomoya yang berkata dengan bangga, Haruto menggaruk pipinya untuk menutupi rasa malu.
Dulu, saat kakek Haruto meninggal, Tomoya dan Haruka mengatakan hal serupa dan terus menemaninya.
Soal itu, Haruto benar-benar berterima kasih dari lubuk hatinya pada kakak-beradik teman masa kecilnya ini.
“Jadi, kenalin Toujou-san ya!”
“Hmmm, nanti dipertimbangin.”
“Pasti nggak bakal dikenalin!”
Tapi, soal Ayaka itu masalah lain.
Kalau Ayaka dan Haruka dipertemukan, sepertinya akan terjadi banyak hal merepotkan. Karena firasatnya berkata demikian, Haruto terus mengelak dari permintaan Haruka sampai waktu pulang di siang hari.
※
Aku berdiri di depan cermin kamar, mengecek penampilanku untuk kesekian kalinya hari ini.
“Oke, sip. Nggak ada yang aneh, ‘kan?”
Sambil memutar tubuh untuk melihat tampilan belakang, aku berkata pada diri sendiri.
Aku mengenakan atasan blus putih dipadu dengan rok warna pastel, mencoba gaya koordinasi yang memberikan kesan bersih dan sopan.
Hari ini waktunya bertemu dengan neneknya Haruto-kun. Sejak jadi pacar pura-puranya Haruto-kun, ini pertama kalinya kami berjumpa.
Fuh, gugup banget...
Aku pernah bertemu neneknya sekali waktu merawat Haruto-kun yang sakit. Waktu itu, beliau sangat baik dan punya kesan ramah. Tapi, kalau beliau tahu ini bohong, beliau bakal marah nggak ya?
Membayangkan hal itu, tubuhku sedikit gemetar.
Tapi, sebaliknya, kalau di momen ini aku bisa membuat neneknya Haruto-kun menyukaiku, rasanya beliau bisa jadi sekutu yang sangat kuat. Dengan begitu, kemungkinan Haruto-kun nembak aku juga pasti bakal naik drastis!
“O-Oke! Semangat!”
Aku menyemangati diri sendiri dan keluar kamar.
Aku mampir ke ruang tamu untuk pamit, di sana Papa sedang bermain dengan Ryota.
Hari ini Mama pergi ke kantor, jadi Papa telework dari rumah.
“Papa, aku pergi dulu ya.”
“Oh, oke.”
Papa yang sedang main pedang-pedangan sama Ryota menoleh dan menatapku.
“Pulangnya bakal malam?”
“Nggak kok. Sore juga udah pulang.”
“Kalau bakal telat, kabari ya.”
“Iya, oke. Kalau gitu aku berangkat.”
Aku melambaikan satu tangan dan keluar dari ruang tamu. Dari belakang terdengar suara Ryota berteriak “Celah terbuka!” dan segera setelah itu terdengar teriakan terakhir Papa, “Guhaaa! Aku kena~”.
Sepertinya Papa berhasil dikalahkan Ryota.
Mendengar percakapan keluarga yang menyenangkan dari belakang, rasa gugupku sedikit mereda saat melangkah keluar.
Aku melewati area perumahan dan sampai di jalan raya, lalu berjalan menyusuri jalan itu sebentar. Di depan mata, tampak kafe waralaba terkenal.
“Haruto-kun ada nggak ya?”
Sebenarnya aku mau langsung ke rumahnya, tapi Haruto-kun bilang nggak enak merepotkan, jadi kami janjian di kafe dekat rumahnya.
Saat aku mengarahkan pandangan ke toko, orang yang kutuju langsung ketemu.
Haruto-kun sedang duduk di tiang pembatas mobil di depan toko sambil melihat ponselnya.
Begitu sosoknya tertangkap mataku, wajahku otomatis tersenyum, dan kakiku seolah tersedot untuk berlari kecil menuju tempatnya.
“Haruto-kun, maaf, nunggu lama?”
“Ah, nggak kok. Aku juga baru sampai.”
Haruto-kun mengangkat pandangan dari ponselnya dan tersenyum lembut padaku.
Sejak Haruto-kun datang ke rumah untuk kerja sambilan, aku sudah melihat berbagai ekspresinya, tapi dari semua itu, aku paling suka senyum ini.
Kalau melihat senyum lembut Haruto-kun, rasanya suasana hati yang sedih pun bisa langsung cerah seketika.
Kapan-kapan aku pengin banget bisa memotret senyum Haruto-kun.
Tapi kalau foto itu ada di ponselku, aku pasti bakal memandanginya seharian dan nggak bisa ngerjain hal lain.
Waktu itu, Saki mengambil foto kami berdua pas barbekuan di taman rumahku. Lihat foto itu saja sudah bikin aku senyum-senyum sendiri, apalagi foto dia pas senyum... bahaya banget.
Saat aku memikirkan hal itu, pandangan Haruto-kun tertuju pada tanganku.
“Ayaka, itu apa?”
“Ah, ini. Aku pikir nggak sopan kalau datang dengan tangan kosong.”
Aku sedikit mengangkat kantong kertas yang kubawa.
Isinya aneka kue kering. Sebenarnya aku mau bawa kue tart atau yang manis-manis gitu, tapi karena cuaca panas begini takutnya cepat rusak, jadi aku pilih yang tahan lama saja supaya aman.
“Maaf ya, jadi ngerepotin.”
“Nggak kok! Sama sekali nggak. Jangan dipikirin.”
Aku harus memberikan kesan sebaik mungkin pada neneknya. Demi membuat Haruto-kun menoleh padaku!
Sebagai langkah awal menjadi pacar sungguhan Haruto-kun, disukai oleh neneknya adalah syarat mutlak!
“Kalau gitu, mari jalan.”
“Oke.”
Aku mengangguk dengan penuh tekad.
Selama ini, kami berpura-pura pacaran sebagai latihan. Tapi hari ini, di depan neneknya Haruto-kun, aku bisa jadi pacar sungguhan. Jadi, aku bisa menunjukkan hasil latihan dan berakting menjadi pacar idealnya Haruto-kun sekuat tenaga. Yah, meski dibilang akting, karena aku memang sudah jatuh cinta sama Haruto-kun, aku tinggal meluapkan perasaan sukaku apa adanya saja sih.
Nggak nyangka aku bakal jatuh hati sedalam ini sama teman sekelas yang jadi asisten rumah tangga.
Sekarang, kalau nggak ketemu dia, aku suka bengong sambil mikir ‘dia lagi apa ya?’. Kalau dia lagi datang untuk kerja, cuma karena seatap saja aku sudah bikin deg-degan, terus mikirin gimana cara ngajak ngobrol yang alami atau cari topik yang sama. Terus, waktu latihan pacaran berdua di kamarku, rasanya bahagia banget sampai badanku rasanya mau melayang.
Liburan musim panas tahun ini, setiap hari rasanya deg-degan, menyenangkan, nggak sabar nunggu besok, tapi juga merasa sedih karena hari-hari terus berlalu.
Benar-benar beda banget dari musim panas yang sudah-sudah.
Dan cowok yang jadi penyebab semua itu sekarang sedang berjalan di sebelahku dengan senyum lembut yang lagi-lagi mencuri pandanganku.
Sambil memikirkan itu, tak terasa kami sudah sampai di rumahnya.
Sama seperti waktu aku datang merawatnya dulu, rumah tapak biasa yang terasa sedikit tua. Tapi bagiku, ini tempat spesial, rumah orang yang kusuka.
Haruto-kun maju selangkah dan membukakan pintu depan.
“Makasih.”
Sambil mengucapkan terima kasih, aku melewati pintu dan masuk ke rumah Haruto-kun.
Aku juga ngerasain waktu itu, tapi rumah ini samar-samar memang punya aroma Haruto-kun, dan tanpa sadar aku menarik napas dalam-dalam.
“Nenek, aku pulang. Ayaka sudah datang.”
Sambil menutup pintu depan, Haruto-kun memanggil ke arah ruang tengah.
Tak lama kemudian, neneknya datang ke pintu depan.
“Ara, selamat datang Ayaka-san.”
“Selamat siang. Anu, ini ada sedikit buah tangan.”
Aku menyerahkan kantong kertas berisi kue kering ke nenek.
“Ya ampun! Terima kasih banyak loh udah repot-repot. Di luar panas, ‘kan? Mari masuk, santai saja, ya.”
Sanbio bilang begitu, nenek menyiapkan sandal rumah untukku.
Aku menunduk bilang “Terima kasih” dan memakai sandal itu.
Waktu datang sebelumnya, aku langsung ke kamar Haruto-kun di lantai dua, tapi kali ini aku diantar ke ruang tengah.
“Duduk yang santai, ya. Nenek buatkan teh dulu.”
“Ah, iya. Terima kasih.”
Saat aku menunduk berterima kasih, nenek tersenyum ramah dan menghilang ke arah dapur.
“Mungkin sempit, tapi duduk di mana saja yang kamu suka.”
“Nggak kok, nggak sempit sama sekali. Menurutku ini rumah yang bagus!”
Memang sih, kalau dibandingkan dengan ruang tamu rumahku, secara luas mungkin ruang tengah rumah Haruto-kun lebih sempit.
Tapi aku sama sekali nggak merasa nggak nyaman.
Justru, lebih sempit pun aku senang banget. Soalnya dengan begitu, aku bisa nempel sama Haruto-kun secara alami.
Saat memikirkan itu, Haruto-kun duduk di bantal duduk depan meja.
Melihat itu, aku juga duduk di bantal duduk di sebelah Haruto-kun.
Supaya kelihatan kayak pacar sungguhan, aku duduk bersimpuh sambil merapatkan tubuhku ke Haruto-kun di sebelahku.
“......Ehm, kalau terlalu nempel nanti kepanasan, loh? AC rumahku tipe lama jadi nggak terlalu dingin.”
“Nggak apa-apa, kok. Daripada itu, kita harus menonjolkan kalau kita pasangan yang mesra, kalau nggak nanti ketahuan bohong sama nenek.”
Aku berbisik di telinga Haruto-kun dengan suara pelan agar tidak terdengar nenek yang ada di dapur.
“B-Begitu, ya... makasih.”
Haruto-kun yang wajahnya sedikit memerah dan berterima kasih dengan malu-malu itu manis banget, aku jadi tersenyum kecil, “Fufu”.
Seperti sekarang ini, kalau Haruto-kun malu atau wajahnya memerah, hatiku dipenuhi rasa bahagia dan kepuasan yang sulit dijelaskan.
Soalnya, kalau Haruto-kun bereaksi begitu, artinya dia sadar akan keberadaanku, ‘kan?
Saat aku memandangi profil wajah Haruto-kun yang memerah manis itu dengan perasaan bahagia, nenek kembali ke ruang tengah membawa nampan berisi cangkir teh dan kue yang kubawa tadi.
“Wah, wah. Akur sekali ya, baguslah.”
Nenek melihat aku dan Haruto-kun yang duduk berdempetan dan berkata dengan wajah bahagia. Mendengar itu, aku jadi gatal sendiri karena malu.
“Haruto. Ayaka-san benar-benar pacar yang manis dan baik, ya.”
“Iya lah, Ayaka itu, anu... pacar terbaik di dunia.”
“Fua... ma-makasih Haruto-kun.”
Terbaik di dunia! Aku jadi yang terbaik di dunia bagi Haruto-kun!
Tentu saja yang barusan itu ucapan dengan premis bahwa aku adalah pacar pura-pura. Aku tahu. Otakku paham. Tapi, hatiku kegirangan sendiri!
Peduli setan dengan akal sehatku, aku jadi bahagia sendiri!
Pasti aku sekarang lagi senyum-senyum nggak jelas. Wajah kayak gitu nggak boleh dilihat nenek, tapi entah kenapa pipiku nggak bisa terkontrol.
“Iya, ya, syukurlah kalau rukun.”
Sambil bilang begitu, nenek menaruh teh dan kue di depan kami.
Setelah bilang, “Terima kasih. Selamat makan”, aku pun menyeruput teh sedikit.
“Ayaka-san.”
“Iya.”
“Haruto bersikap baik, kan? Dia nggak bikin Ayaka-san sedih atau mengacuhkanmu, ‘kan?”
Mendengar ucapan nenek, aku menggelengkan kepala kuat-kuat, dan menjawab dengan senyum lebar.
“Bagi saya, Haruto-kun adalah pacar terbaik nomor satu di dunia!!”
Karena malu sama ucapanku sendiri, telingaku jadi panas.
Tapi kata-kata tadi adalah suara jujur hatiku. Kalau Haruto-kun benar-benar jadi pacarku, sudah tentu dia bakal jadi pacar terbaik di dunia.
※
“Bagi saya, Haruto-kun adalah pacar terbaik nomor satu di dunia!!”
Ekspresi Ayaka yang mendeklarasikan itu dengan tegas, meski memerah karena malu, bersinar begitu terang seolah memancarkan cahaya.
Nenek yang melihat senyum penuh pesona itu dari depan, membeku beberapa saat, lalu menatap tajam ke arah Haruto.
“Haruto! Pacarmu ini benar-benar hebat! Ayaka-san luar biasa!”
“I-Iya. Nenek, jangan terlalu bersemangat, nggak baik buat kesehatan.”
“Melihat senyum indah Ayaka-san, rasanya nenek jadi sepuluh tahun lebih muda.”
“Ufufu, terima kasih.”
Ayaka tersenyum senang mendengar ucapan sang nenek, dan ekspresi itu kembali mencuri perhatian sang nenek.
Belum pernah Haruto melihat neneknya sebahagia ini. Tampaknya neneknya sangat menyukai Ayaka, lalu beliau teringat sesuatu dan menepuk tangan sambil berdiri.
“Oh iya, Ayaka-san. Mau lihat album foto masa kecil Haruto?”
“Eh!? Mau!! Aku mau lihat!!”
Ayaka langsung menjawab tawaran sang nenek tanpa jeda.
Saking inginnya melihat album itu, dia sampai menggebrak meja depan dan mencondongkan tubuhnya, pinggulnya bahkan sedikit terangkat.
Melihat tingkah Ayaka, Haruto protes dengan malu pada neneknya.
“Tunggu Nek. Jangan ngomong yang aneh-aneh, dong.”
“Pasti bagus, ‘kan? Haruto-kun kecil pasti imut banget!”
“Iya, iya, nenek ambilkan sekarang, tunggu sebentar, ya.”
“Baik!!”
Nenek yang sama sekali tidak mendengarkan cucunya, keluar dari ruang tengah untuk mengambil album.
Ayaka yang menanti album foto Haruto tersenyum lebar sampai pipinya mau pecah.
“Nggak sehebat yang kamu harapkan, loh?”
Melihat Haruto yang tersenyum kecut, Ayaka menoleh padanya dengan wajah yang masih senyum-senyum.
“Eh? Aku berharap banyak, loh. Soalnya itu Haruto-kun kecil, ‘kan? Mini Haruto-kun, loh?”
“Mini itu... aku bukan maskot.”
“Kalau ada maskot Haruto-kun, jadi pengin, deh.”
Meski nadanya terdengar bercanda, tapi matanya terlihat cukup serius, membuat Haruto tersenyum kaku.
“Jangan ah, aku nggak mau lihat barang dagangan kayak gitu.”
“Laku loh kayaknya.”
“Kalau soal itu, rasanya kalau Ayaka yang dijadikan merchandise bakal lebih laku, deh.”
Kalau gadis cantik yang dijuluki Idol Sekolah seperti Ayaka dijadikan figure atau acrylic stand, sepertinya bisa bikin tajir mendadak. Saat Haruto memikirkan hal itu, Ayaka menatapnya lekat-lekat.
“Haruto-kun, mau? Merchandise-ku.”
“Eh? Ah, tidak, yah... tapi kan Ayaka itu manisnya setara idol beneran, jadi kalau ada poster atau apa gitu, pasti banyak yang mau pajang di kamar, ‘kan?”
Mendengar kata-kata Haruto ‘manis setara idol’, sudut bibir gadis itu naik dengan senang.
“Haruto-kun juga?”
“Eh?”
“Haruto-kun juga kalau punya posterku bakal dipajang di kamar?”
Mendengar pertanyaan Ayaka, Haruto hampir menjawab ‘Ya’ secara refleks. Tapi, mengakui hal itu dengan jujur padanya terlalu memalukan, jadi dia tidak menjawab pertanyaan itu dan mencoba mengalihkan topik.
“O-Omong-omong, di sekolah sering ada rumor kalau Ayaka itu tergabung di agensi hiburan, sebenarnya itu beneran nggak sih?”
“Eh, apa coba!? Di sekolah beredar rumor kayak gitu!?”
Ucapan Haruto sepertinya hal baru baginya, dia membelalak kaget.
“Dari reaksinya, sepertinya rumornya bohong, ya.”
“Jelas lah! Mana mungkin aku bisa jadi kayak artis gitu!”
“Masa? Ayaka kalau lagi jalan di kota nggak pernah direkrut?”
“......Kadang-kadang, ada sih orang pakai jas yang kasih kartu nama.”
“Itu pasti pencari bakat agensi hiburan.”
Yaps, gadis secantik dia wajar kalau dilirik orang-orang seperti itu.
“Kalau Ayaka mau, kayaknya kamu bisa jadi idol populer dengan mudah.”
Mendengar ucapan Haruto, pipi Ayaka sedikit merona malu dan menatap Haruto dengan pandangan ke atas.
“Aku... daripada disoraki banyak orang, aku lebih ingin satu orang yang berharga saja yang melihatku.”
“Ugh...”
Ditatap dengan mata berkaca-kaca sambil dibilang begitu, Haruto kehilangan kata-kata karena betapa menyentuhnya sikap gadis itu.
Seolah tersedot ke dalam mata Ayaka, Haruto terpaku tak bisa mengalihkan pandangan. Melihatnya, Ayaka tersenyum lembut.
“Aku tuh... asal ada Haruto-kun di sisiku, itu saja sudah bahagia.”
Setelah bilang begitu dengan senyum bak bidadari, Ayaka yang tak tahan menanggung rasa malunya, dengan wajah merah padam buru-buru menambahkan.
“G-Gimana? Yang barusan rasanya kayak pacar beneran banget, ‘kan?”
“Eh? ...A-Aah! Iya! Terasa asli banget!”
Mendengar ucapan Ayaka, Haruto yang tersadar juga ikut panik dan mengangguk berkali-kali.
Saat mereka berdua saling mengangguk “Iya, iya” dengan wajah sama-sama merah, sang nenek kembali ke ruang tengah setelah mengambil album.
“Maaf menunggu, Ayaka-san.”
Sang nenek menyebarkan tiga jilid album yang dipeluknya ke atas meja.
“Terima kasih. Boleh kulihat?”
Seolah ingin mengusir suasana canggung dengan Haruto, Ayaka mengeluarkan suara yang lebih ceria dari biasanya.
Setelah memastikan sang nenek mengangguk, “Tentu saja”, ia mengulurkan tangan ke album itu.
“Itu waktu Haruto masih SD.”
Kata sang nenek saat melihat album yang diambil Ayaka.
“Wah! Haruto-kun pas SD lucu banget!! Ini waktu lari estafet, ya?”
“Benar. Ini waktu dia lari jadi anchor di estafet.”
Mengingat masa itu, sang nenek menyipitkan mata penuh nostalgia menatap album.
Di sana tertempel beberapa foto Haruto SD memakai topi merah putih dan berlari di lintasan memegang tongkat estafet.
“Haruto-kun jadi anchor estafet ya. Larinya cepet, dong”
“Waktu itu sih iya. Kalau sekarang sih lambat banget.”
“Gitu ya? Lari bisa jadi lambat?”
“Setidaknya nggak bakal menang lawan anak klub atletik.”
“Jangan dibandingin sama anak klub atletik, dong.”
Ayaka tersenyum “Ufufu” mendengar ucapan Haruto, lalu lanjut membalik halaman album dengan senang.
Sesekali, dia bertanya pada nenek tentang cerita masa itu dan tak jemu-jemu memandangi foto.
“Ah, pentas seni. Ini... Momotaro? Haruto-kun jadi monyet, lucu banget.”
“Haruto sepertinya suka banget peran monyet. Pas pulang ke rumah habis pentas seni pun, dia ngomongnya pakai akhiran ‘Ukiki’ saking senangnya.”
“Kok imut banget, sih?”
“Nenek... jangan cerita yang aneh-aneh ke Ayaka.”
Nenek dan Ayaka menghabiskan waktu dengan sangat menyenangkan, tapi bagi Haruto ini adalah waktu menahan rasa malu.
Setiap Ayaka membalik halaman dan melihat foto baru, dia terus bilang “Imut”, hati Haruto pun terasa gatal.
Setelah itu pun, Ayaka dan sang nenek sepertinya sangat akrab ngobrol lewat foto-foto masa lalu Haruto, mereka heboh membicarakan Haruto kecil, dan saat mereka selesai melihat tiga album yang dibawa nenek, matahari mulai condong ke barat.
Melihat jam dinding, sang nenek bersuara kaget.
“Oya? Sudah jam segini?”
“Sudah sore ya.”
Cahaya matahari sore menerobos jendela, Ayaka memandang sekeliling ruang tengah yang berwarna oranye.
“Anu, kalau begitu saya izin pamit.”
Ayaka berkata dengan nada enggan berpisah, dan sang nenek pun tersenyum ramah.
“Ayaka-san. Terima kasih untuk waktu yang menyenangkannya, ya. Kapan-kapan main lagi, ya.”
“Baik!!”
Ayaka yang tampak begitu senang dengan ucapan sang nenek mengangguk mantap.
“Ayaka, mari kuantar.”
“Iya, makasih Haruto-kun.”
Haruto dan Ayaka berdiri menuju pintu depan. Sang nenek mengikuti di belakang.
Ayaka yang sudah mengganti sepatu di pintu depan, berbalik sekali lagi menghadap sang nenek dan menunduk.
“Terima kasih banyak untuk hari ini.”
“Tidak, tidak, justru nenek yang harus berterima kasih.”
“Kalau begitu, sampai jumpa.”
“Aku pergi dulu, Nek.”
Setelah diantar sang nenek sampai depan pintu, Ayaka melambaikan tangan dan meninggalkan kediaman Ootsuki.
※
Haruto dan Ayaka berjalan beriringan di perumahan yang memerah karena matahari sore.
“Hari ini makasih banget, ya. Sudah lama aku nggak lihat Nenek sesenang itu.”
“Syukurlah. Kalau nenek nggak senang, nggak ada gunanya ‘kan aku jadi pacar pura-pura.”
“Iya... sih.”
Haruto sedikit tersendat menanggapi jawaban Ayaka.
Nenek sangat senang.
Itulah yang diinginkan Haruto.
Tidak ingin membuat neneknya sedih, ingin membuatnya tenang, ingin membahagiakannya. Karena Haruto menginginkan itulah, Ayaka bekerja sama dan berperan jadi pacar palsunya.
Haruto merasa berhutang budi pada Ayaka sampai tak terhitung.
Tapi, di saat yang sama, dia juga merasakan sesak di dada seperti rasa bersalah.
“Ah, Haruto-kun. Sampai sini saja nggak apa-apa. Makasih sudah diantar.”
“Oke, hati-hati di jalan ya.”
“Iya. Dah~!”
Bahkan setelah berpisah dengan Haruto, Ayaka berkali-kali menoleh ke belakang dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Haruto pun membalas lambaian kecil sambil berdiri diam di tempat mereka berpisah.
Akhirnya, saat Ayaka berbelok di tikungan dan sosoknya tak nampak lagi, Haruto menghela napas kecil.
“Kalau terus begini... nggak baik, ‘kan.”
Melihat kedekatan Ayaka dan neneknya; semakin hangat suasana itu, membuat Haruto semakin tertekan oleh kenyataan bahwa Ayaka hanyalah pacar pura-pura.
Senyuman neneknya terbentuk dari kebohongannya, dari hubungan palsu antara dirinya dan Ayaka.
Hal itu mencekik hati Haruto.
“Pacar pura-pura... ya.”
Sambil bergumam sendirian, bayangan senyum Ayaka muncul di benak Haruto.
Ayaka yang ada di sampingnya selalu menunjukkan wajah senang dan bahagia. Setiap mengingat gadis yang begitu menawan itu, kata-kata Shizuku dan Tomoya bangkit bersamaan di dalam benak Haruto.
‘Haru-senpai terlalu tidak mengerti hati perempuan. Meskipun cuma pura-pura, statusnya tetap pacar, ‘kan? Mana mungkin orang mau ngelakuin itu kalau nggak suka? Apalagi, latihan jadi pacar? Itu Toujou-senpai lagi berusaha biar Haru-senpai nengok dia.’
‘Pacar pura-pura? Latihan jadi pacar? Hal kayak gitu normalnya nggak bakal dilakuin kecuali sama orang yang disuka, tahu.’
Ayaka yang selalu menunjukkan senyum menyilaukan.
Dan kata-kata teman-temannya.
Kalau ini bukan tentang dirinya, Haruto pun pasti akan berpikir sama.
‘Cepat tembak dan jadian sana,’ begitu.
Namun, begitu menyangkut dirinya sendiri, ia sulit membulatkan tekad.
Kalau Ayaka jadi pacar sungguhan, ia bisa melihat wajah bahagia neneknya tanpa rasa was-was.
Dan yang terpenting, perasaannya sendiri terhadap gadis itu akan terwujud.
Itu adalah hal yang sangat menggembirakan bagi Haruto. Justru karena itulah, ia tak mampu membulatkan tekad. Kian kuat ia berharap, kian takut ia membayangkan jika seandainya tidak terwujud.
Akhirnya, ia memilih melarikan diri ke keadaan seperti sekarang, dan meyakinkan diri bahwa itu sudah cukup.
“......Sial, aku menyedihkan banget... benar-benar pengecut.”
Monolog lirihnya tenggelam dalam sunyi, di kompleks perumahan yang mulai diselimuti senja.



Post a Comment