Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 8
Jujurlah pada Dirimu Sendiri
Beberapa hari setelah pergi camping dengan keluarga Toujou.
Haruto mengunjungi rumah keluarga Toujou seperti biasa, dan kini ia sedang duduk berdampingan dengan Ayaka di kamarnya, belajar dengan tekun.
“Haruto-kun, soal bagian ini...”
“Ah, ini sudut pertanyaannya dipecah dulu pakai sudut istimewa, terus sisanya pakai teorema penjumlahan...”
Haruto menghentikan belajarnya sendiri dan menjelaskan cara menyelesaikan soal kepada Ayaka.
“Ah, begitu ya... kalau begitu ini, pakai 30° dan 45°... ehm, karena sin jadi...”
Ayaka mengetuk-ngetukkan pensil mekaniknya ke buku catatan, berusaha mengingat rumus. Melihatnya begitu, Haruto mengulurkan bantuan.
“Saita cosmos, cosmos saita.”
“Ah! Benar juga! Kalau begitu, ini sin 30° cos 45° jadi...”
Berkat petunjuk Haruto, Ayaka menerapkan rumus itu pada soal fungsi trigonometri dan mengerjakannya.
Tak lama kemudian ia mendapat jawabannya, dan Ayaka mengembuskan napas ringan, “Fuh~.”
“Selesai~”
Dia menunjukkan ekspresi penuh rasa pencapaian. Namun, melihat soal berikutnya juga trigonometri, bibirnya sedikit mengerucut membentuk “Muu”.
“Kenapa sih kita harus belajar fungsi trigonometri? Sin, cos, tan, kalau sudah kerja nanti kayaknya nggak bakal dipakai, deh?”
Mendengar Ayaka mengeluh dengan imut di sebelahnya, Haruto tertawa kecil, “Fufu.”
“Gedung pencakar langit, pesawat terbang, bahkan jalan raya dan mobil, semuanya ada berkat fungsi trigonometri, loh?”
“Begitu? Benarkah?”
“Benar. Selain itu, kalau menguasai fungsi trigonometri, kamu bisa memotong kue utuh sesuka hati, loh?”
“Eh? Kue? Maksudnya gimana?”
Mendengar ucapan Haruto, tanda tanya muncul di atas kepala Ayaka dan ia memiringkan kepalanya.
“Misalnya, kalau mau membagi kue utuh jadi tiga bagian sama besar, itu kan berarti 2 π/3, nah ini dipecah pakai pecahan parsial jadi π/2 + π/6, terus karena sinπ/6 itu sama dengan ½, jadi kita tandai di setengah dari setengahnya kue itu, terus...”
“Tunggu! Tunggu sebentar! Aku sama sekali nggak mudeng, tahu?”
“Eh? Begitu?”
Ayaka memotong penjelasan Haruto di tengah jalan.
Melihat reaksinya, Haruto memiringkan kepala dengan wajah bingung.
“π/6 kan 30°, dan segitiga 30° itu perbandingannya 1:2:√3 kayak yang diajarkan di pelajaran sebelumnya, ‘kan? Nah, sinπ/6 adalah—”
“Wa~ wa~ wa~! Aku udah nggak mau dengar soal sin atau π lagiii~!”
Ayaka menutup telinga dengan kedua tangannya dan menggelengkan kepala, memblokir penjelasan Haruto.
Melihat perlawanannya, Haruto tersenyum kecut.
“Kalau nggak bisa membagi kue dengan sama rata, nanti bertengkar sama Ryota-kun, loh?”
Mendengar kata-kata itu, Ayaka melepaskan tangan dari telinganya, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah Haruto, menumpukan berat badannya dan berkata.
“Kalau saat itu tiba, aku bakal minta tolong Haruto-kun buat potong kuenya.”
“....”
Mendengar Ayaka berkata dengan nada suara yang agak manja, Haruto tak tahan dan terdiam.
Sejak hari mereka pergi camping, sejak menghabiskan malam bersama di bawah langit penuh bintang, Haruto merasa jarak Ayaka terasa lebih dekat dari biasanya.
Sedangkan Haruto sendiri, sejak malam itu, merasa bahwa gadis bernama Toujou Ayaka ini terlihat jauh lebih menarik dari sebelumnya, sehingga situasi saat ini pun memberikan beban yang cukup berat bagi jantungnya.
“Belum tentu aku ada saat kalian makan kue, ‘kan?”
Karena tidak sanggup menatap langsung gadis yang mempesona itu, Haruto menundukkan wajahnya ke buku catatannya sendiri dan berkata dengan lirih. Di sisi lain, Ayaka menatap profil wajah Haruto yang sedang menunduk itu dengan mata sedikit berkaca-kaca, lalu bertanya seolah berbisik.
“...Kamu nggak bakal ada buat aku?”
“Ehm... entahlah... i-itu, daripada bahas itu, kalau nggak serius lanjut belajarnya, liburan musim panas keburu habis, loh.”
Haruto mengalihkan pembicaraan seolah melarikan diri darinya.
Selama ini pun, saat latihan jadi pacar dan semacamnya, Haruto sering dibuat berdebar atau jantungnya berdegup kencang oleh Ayaka.
Namun, sejak malam itu, hati Haruto sepertinya benar-benar telah tertawan olehnya. Jika jarak mereka tetap sedekat dulu, perasaannya akan teraduk-aduk tak terkontrol.
Hari ini pun, Ayaka mengusulkan untuk melakukan latihan pacaran pada Haruto. Namun, Haruto yang semakin sulit mengendalikan emosinya, menghindari latihan itu dengan alasan PR liburan musim panas dan ujian berkala setelah liburan usai.
“Ayaka harus dapat nilai bagus di ujian setelah libur nanti. Aku juga sudah bilang ke Ikue-san dan yang lain kalau alasanku masuk kamar Ayaka sebelum jam kerja sambilan adalah untuk mengajarimu belajar.”
“Ugh... aku nggak mau liburan musim panas berakhiiir...”
Melihat Ayaka yang memasang ekspresi masam, Haruto tersenyum kecut.
“Kalau hasil tesnya jelek, nanti dimarahi Ikue-san, loh? Dikiranya selama liburan musim panas nggak belajar.”
“Ugh... itu juga nggak mauuu...”
Ayaka merebahkan tangannya lemas di atas meja, ekspresinya makin masam, tapi tiba-tiba ia menoleh ke arah Haruto seolah teringat sesuatu.
“Kalau soal belajar, kurasa aku bisa termotivasi kalau ada sesuatu yang dinantikan.”
“Maksudnya hadiah?”
“U-Ung.”
Ayaka mengubah ekspresi masamnya tadi menjadi ekspresi penuh harap dan menatap Haruto.
“Kalau Haruto-kun mau kasih hadiah, kayaknya aku bisa semangat belajar.”
Ditatap dengan mata berbinar-binar, Haruto berpikir sejenak lalu perlahan membuka mulut.
“...Baiklah. Kalau begitu, jika nilai semua mata pelajaran di atas sembilan puluh lima, aku kasih hadiah.”
“Eeh!? Sembilan puluh lima itu mustahil! Enam puluh ke atas saja, ya?”
Syarat yang diajukan Haruto terlalu tinggi, membuat Ayaka meninggikan suaranya dan mengajukan standar versinya sendiri. Mendengar itu, giliran Haruto yang memasang wajah kaget.
“Eeh? Enam puluh itu kerendahan, ‘kan? Setidaknya sembilan puluh ke atas, lah.”
“Aku kan nggak sepintar Haruto-kun. Tujuh puluh gimana?”
“Hmm, kalau begitu... delapan puluh lima.”
“Tujuh puluh lima.”
“...Baiklah. Kalau begitu bagaimana kalau semua mata pelajaran nilainya delapan puluh ke atas, dapat hadiah?”
Haruto mengajukan syarat yang menurutnya sudah cukup banyak kompromi.
Mendengar itu, Ayaka tersenyum manis dan mengangguk.
“Deal! Sip, aku bakal semangat belajar!”
Ayaka kembali menghadapi buku referensinya dengan penuh semangat.
Ekspresinya saat menulis di buku catatan dengan tatapan serius terlihat agak puas. Melihat itu, Haruto tersenyum kecut karena merasa telah masuk perangkap negosiasi Ayaka, lalu ia pun kembali melanjutkan belajarnya sendiri.
Setelah itu, keduanya lanjut belajar dengan serius.
Sesekali, Ayaka bertanya bagian yang tidak ia mengerti pada Haruto, dan Haruto mengajarinya atau memberikan penjelasan dengan telaten.
Beberapa saat berlalu, mereka berdua fokus belajar. Tiba-tiba, Haruto menyadari ruangan menjadi sangat gelap. Saat ia melihat jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul dua setengah siang lewat sedikit. Seharusnya cahaya matahari saja masih cukup terang di jam segini.
“Cuacanya memburuk, ya?”
Sambil melihat kondisi langit di luar jendela, Haruto bergumam pelan.
Mendengar itu, Ayaka yang sedang fokus menghadap buku catatan ikut mengangkat pandangannya dan menyadari ruangan menjadi gelap.
“Benar juga. Nyalain lampu, yuk.”
Dia mengambil remot yang ada di atas meja dan menyalakan lampu kamar.
“Padahal kata ramalan cuaca pagi tadi bakal cerah seharian.”
“Kayaknya bakal turun hujan, ya.”
Melihat awan tebal yang menggantung rendah dan kelabu di luar jendela, mereka saling bertukar percakapan.
Tiba-tiba, hujan deras turun seolah ada ember raksasa yang ditumpahkan.
Suara hujan menghantam atap dengan keras.
Ayaka menatap Haruto dengan wajah sedikit cemas.
“Hujannya deras banget.”
“Iya. Belakangan ini sering ada hujan badai dadakan yang nggak ada di ramalan cuaca kayak gini, ya.”
Akhir-akhir ini, cuaca musim panas tidak stabil.
Bukannya melemah, hujan justru makin deras, suara hujan pun semakin keras beriringan dengannya, dan di luar jendela semakin gelap. Padahal masih siang, tapi di luar gelapnya seperti sudah senja. Ditambah lagi dengan suara hujan yang makin bising.
Keduanya terus menatap ke luar jendela yang kian mengamuk dalam diam.
Tiba-tiba, kilatan cahaya melintas sesaat, dan beberapa detik kemudian terdengar suara gemuruh rendah yang seolah menggetarkan bumi.
“Petir mulai menyambar, ya.”
“...Ung.”
Ayaka menjawab dengan lemah, memasang ekspresi takut dan perlahan mendekatkan tubuhnya ke Haruto.
Merasakan betapa menempelnya tubuh mereka, perasaan Haruto menjadi lebih rusuh daripada cuaca di luar, tapi ia berusaha mati-matian menekannya.
Ia tidak mungkin menepis Ayaka yang murni ketakutan pada suara petir, jadi Haruto meletakkan tangannya dengan lembut di punggung Ayaka untuk menenangkannya.
Tepat pada saat itu, luar jendela menjadi terang menyilaukan mata, dan bersamaan dengan itu terdengar suara ledakan raksasa yang seolah mengguncang rumah.
“Kyaa!?”
Ayaka menjerit spontan.
Tubuhnya tersentak kaget, dan ia memeluk lengan kanan Haruto dengan erat.
“Eh!?”
Bersamaan dengan suara petir yang meledak, sensasi lembut terasa di lengannya.
Haruto secara refleks mencoba menarik lengannya.
Pada saat itu juga, lampu tiba-tiba padam, dan ruangan itu terbungkus kegelapan yang remang-remang.
“Wawa!?”
“Tu-!?”
Karena Haruto menarik lengannya, Ayaka yang sedang mencengkeram erat lengan Haruto kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arah Haruto.
Haruto mencoba menangkapnya.
Namun, karena kaget dengan petir dan tiba-tiba mati lampu, ditambah kedekatan fisik dengan Ayaka, Haruto jadi panik. Akibatnya, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan baik, dan akhirnya ia jatuh tertimpa Ayaka.
“Ah...”
“Umm...”
Ayaka menindih Haruto.
Haruto tertindih Ayaka.
Keduanya terdiam saling tatap-tatapan mata dengan ekspresi terkejut.
Ruangan menjadi remang-remang karena mati lampu.
Yang terdengar di telinga Haruto adalah suara hujan yang menghantam dengan keras.
Serta detak jantung yang menghantam dadanya tak kalah keras dari hujan.
Seolah terkena sleep paralysis, ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ayaka yang berada di atasnya.
Aku harus segera bangun dan menjauh darinya.
Otaknya mengerti. Tapi, tubuhnya tidak mau menurut. Tubuhnya saat ini sepertinya mengikuti kata hati, bukan otak.
Langit mendung yang membawa badai petir, ruangan yang remang-remang.
Meski begitu, Haruto hanya diam menatap mata gadis yang berada dalam jarak yang sangat jelas itu.
Di telinganya, terdengar suara halus dan gemetar yang seolah akan ditenggelamkan suara hujan deras.
“Haruto-kun...”
Dia menatap lurus ke mata Haruto, dan membuka bibirnya sedikit.
“Ngomong-ngomong... kita belum melakukan... latihan yang paling penting... sebagai sepasang kekasih, ya...”
Bisikan yang penuh gairah, namun juga terdengar rapuh.
“Eh... ja...”
Haruto tidak bisa mengeluarkan kata-kata, hanya suara tak bermakna yang lolos dari mulutnya.
Seolah kehilangan kemampuan berbahasa, Haruto hanya bisa membuka dan menutup mulutnya berulang kali. Ayaka pun perlahan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Haruto yang seperti itu.
Rambutnya yang lembut dan berkilau jatuh tergerai menutupi Haruto, memutus pandangan dari dunia luar.
Kini di pandangannya, hanya ada Ayaka yang semakin mendekat.
Dalam otak Haruto, akal sehatnya membunyikan alarm peringatan dengan keras.
Ayaka bukan pacar sungguhan.
Hal seperti ini tidak boleh dilakukan.
Latihan pacaran, itu tidak bisa dijadikan alasan.
Namun, tubuhnya telah dikuasai oleh hatinya.
Hati itu menginginkan Ayaka.
Wajah Ayaka mendekat lebih dekat dari sebelumnya, sampai pada jarak di mana ia bisa merasakan hembusan napas hangatnya.
Saat itu, lampu ruangan menyala, menerangi dua orang yang sedang bertindihan itu dengan terang benderang.
Dari kegelapan remang-remang yang tiba-tiba menjadi terang, Haruto tersadar seketika, dan memanfaatkan celah itu untuk mengerahkan seluruh akal sehatnya.
Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Ayaka, dan mendorongnya pelan.
Awalnya terasa ada sedikit perlawanan, tapi karena Haruto terus mendorong, akhirnya Ayaka menyerah dan perlahan menjauh dari Haruto.
Ayaka yang berada di atas menyingkir, dan Haruto menegakkan badan.
Di sebelahnya, gadis itu menatap Haruto dengan wajah merah padam sampai ke telinga, dan mata yang berkaca-kaca seolah akan menangis.
“Hei... Haruto-kun...”
Sambil memanggil namanya, Ayaka mencoba mendekatkan jarak lagi.
Melihatnya begitu, sambil menahan perasaan yang seolah akan meledak di dada, Haruto berusaha mati-matian berpura-pura tenang dan memeras kata-kata.
“Ayaka. Latihan yang mau kamu lakukan barusan... nggak bisa.”
Mendengar kata-kata itu, gerakan Ayaka yang hendak mendekatkan tubuh ke Haruto berhenti mendadak.
“Soal latihan pacaran, aku benar-benar berterima kasih. Tapi, lebih dari ini, aku merasa terlalu bersalah pada Ayaka jadi aku nggak bisa.”
“Ehm... ta-tapi! Supaya kebohongan kita nggak ketahuan Nenek—”
“Biarpun begitu. Kalau lebih dari ini, nggak boleh dilakukan cuma karena latihan pacaran. Demi saat... Ayaka punya pacar sungguhan nanti.”
“...A-Anu! Haruto-kun!”
Setelah hening sejenak, Ayaka menatap Haruto dengan mata penuh tekad.
Namun, sebelum dia sempat melanjutkan ucapannya, Haruto memotongnya.
“Maaf. Sudah mau jam tiga, aku harus mulai kerja.”
Haruto berkata dengan suara datar tanpa intonasi, lalu membereskan alat tulis yang berserakan di meja, dan meninggalkan kamar Ayaka seolah melarikan diri.
※
Haruto berjalan gontai sendirian menyusuri gang perumahan yang dialiri udara dingin setelah hujan.
“Aah... sial...”
Sambil menunduk, ia mengumpat pelan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga di rumah keluarga Toujou, Haruto berjalan pulang di jalanan yang mulai gelap sambil menunduk.
Di kepalanya, kejadian di kamar Ayaka terus terulang tanpa henti.
“Kenapa aku... hah...”
Matanya yang berkaca-kaca.
Suara kecilnya yang gemetar karena cemas namun seolah mengharapkan sesuatu.
Hanya dengan mengingat sosok dan suara Ayaka, dada Haruto merakan sesak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kenapa saat itu, ia malah keluar kamar seolah menepisnya?
Haruto menyadari perasaannya sendiri, perasaannya terhadap Ayaka.
Kendati demikian, di saat Ayaka mencoba mendekatkan jarak, entah kenapa ia justru merasa begitu ingin melarikan diri. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia mengambil tindakan seperti itu.
Orang yang disukainya sudah mengambil inisiatif, tapi ia malah lari darinya.
“Aku benar-benar payah...”
Selama kerja sambilan setelah kejadian itu pun, Ayaka beberapa kali mencoba mengajaknya bicara.
Tapi, Haruto menghindarinya dengan berpura-pura sibuk mengurus Ryota atau memasak.
Ia juga diajak makan malam bersama, tapi ia menolak dengan alasan bohong, “Hari ini ada urusan,” lalu meninggalkan rumah keluarga Toujou begitu saja.
Saat berjalan sendirian di jalanan senja, perlahan Haruto mulai mendapatkan kembali ketenangannya.
Bersamaan dengan itu, rasa benci pada diri sendiri menggebu-gebu mengingat betapa buruknya tindakan yang telah ia ambil.
Ia tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi saat didekati Ayaka, Haruto samar-samar merasa ketakutan.
Ketakutan di relung hatinya itu menolak perubahan hubungan dengan Ayaka.
Di saat jam kontrak habis dan siap-siap pulang dengan tergesa-gesa, sekilas ia melihat ekspresi Ayaka.
Itu adalah ekspresi penuh kecemasan dan kesedihan yang tak sanggup ia lihat.
Haruto semakin menyalahkan diri karena telah membuat Ayaka memasang wajah seperti itu.
“Ternyata aku ini memang pecundang dan pengecut, ya...”
Ia benar-benar merasa terpuruk, dan tidak berniat langsung pulang ke rumah, melainkan keluyuran tanpa arah tujuan di kawasan perumahan dengan langkah sempoyongan.
Lalu, ia menemukan sebuah taman sepi yang diterangi lampu jalan yang remang-remang.
Haruto perlahan menuju taman itu, lalu duduk di ayunan yang sedikit berkarat.
“Haaah...”
Haruto menunduk lesu sambil duduk di ayunan.
Kerja sambilan berikutnya...
Tampang seperti apa yang harus ia tunjukkan saat pergi ke rumah Toujou?
Di tengah pikirannya yang tidak berfungsi dengan baik, ia terus merenung sambil sesekali menghela napas panjang.
Tiba-tiba, ada suara yang memanggilnya.
“Haruto? Sedang apa kau di tempat seperti ini?”
Saat Haruto mengangkat wajah ke arah suara itu, di sana berdiri Ishigura yang memeluk kantong kertas di satu tangan dengan ekspresi heran.
“Eh? Kazu-senpai? Ada apa, Senpai?”
“Tidak, tidak, justru aku yang harus bilang ‘ada apa’. Rumahmu bukan ke arah sini, ‘kan?”
“Benar... juga, ya. Tidak, aku cuma... lagi mikirin banyak hal...”
Mendengar celetukan Ishigura, Haruto tersenyum kecut tanpa daya.
Melihatnya begitu, Ishigura bergumam pelan “Apa boleh buat,” lalu duduk di ayunan sebelah Haruto.
“Kalau kau mau cerita, bakal aku dengarkan, loh?”
“Eh? Tidak, nggak apa-apa kok.”
Setelah melirik sekilas ke Ishigura di sebelahnya, Haruto menggeleng.
“Serius nggak apa-apa?”
“Ya...”
Setelah mengangguk kecil sekali, Haruto terdiam cukup lama sebelum kembali menatap Ishigura.
“Maaf, Kazu-senpai. Sepertinya... boleh aku curhat?”
“Ou.”
Kakak seperguruan yang lebih tua satu tahun dan bisa diandalkan itu tersenyum di wajah sangarnya.
Orang lain yang melihatnya mungkin akan mengira itu senyum sadis dan dingin dari seorang pembunuh bayaran sesaat sebelum menghabisi targetnya. Tapi, bagi Haruto yang sudah menghabiskan waktu bersama di dojo sejak kecil, senyuman itu terasa sangat hangat dan bisa diandalkan.
“Ceritanya mungkin bakal panjang, nggak apa-apa?”
“Ou, jangan dipikirkan. Muntahkan saja semuanya.”
Memanfaatkan kebaikan hati Ishigura yang terasa lapang, Haruto menceritakan soal Ayaka dan perasaannya pada gadis itu. Mengenai layanan asisten rumah tangga, karena menyangkut privasi keluarga Toujou, Haruto menyamarkan nama-namanya, tapi ia menceritakan garis besar kejadiannya pada Ishigura.
Selama mendengar cerita, Ishigura tidak memotong pembicaraan Haruto, ia hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk diam.
Akhirnya, setelah selesai mendengar semuanya, ia mengangguk kecil, “Jadi begitu.”
“Aku sendiri nggak paham kenapa aku melarikan diri...”
Melihat Haruto menunduk saat mengatakan itu, Ishigura mengarahkan pandangan sedikit ke atas, merangkai kata sambil berpikir.
“Itu mungkin berhubungan dengan latar belakangmu.”
“Latar belakangku?”
Sambil menoleh ke arah Ishigura, Haruto memiringkan kepala karena tidak mengerti maksud ucapannya.
“Kau kehilangan orang tua karena kecelakaan lalu lintas waktu masih kecil, ‘kan? Lalu, saat masuk SMP, kau juga kehilangan kakekmu. Selama ini kau terus kehilangan orang-orang berharga. Jadi mungkin, di suatu tempat dalam hatimu, kau jadi takut untuk memiliki orang berharga baru, ‘kan? Takut kalau suatu saat nanti, kau akan kehilangannya lagi.”
“...Begitu, ya? Tapi soal Ayah, Ibu, dan Kakek, rasanya aku sudah berdamai dengan semua itu, kok.”
“Itu cuma ‘rasanya’, ‘kan? Kadang, bagian terdalam dari hati kita justru sulit dimengerti oleh diri sendiri, loh.”
Haruto perlahan meresapi perkataan Ishigura.
Ketakutan samar yang ia rasakan saat didekati Ayaka.
Dorongan ingin melarikan diri dari perubahan hubungan dengannya.
Itu karena ia takut Ayaka jadi orang yang berharga baginya, dan takut kehilangannya. Seperti kedua orang tuanya, dan kakeknya.
“...Mungkin... memang begitu, ya.”
Haruto mengangguk pelan.
Saat itu juga, ia merasa hatinya sedikit lebih lega.
Selama ini ada sesuatu yang tak jelas dan menyesakkan bergulung-gulung di dalam dadanya, tapi kini ia merasa sedikit memahami wujud aslinya. Bersamaan dengan itu, ia kembali menyadari perasaannya pada gadis itu.
Takut dia menjadi orang yang berharga, jika dibalik, artinya ia sangat ingin menjadikannya orang yang berharga.
“Haaah...”
Haruto menghela napas lagi, berbeda dari sebelumnya, kali ini mengandung sedikit ketegangan.
Kenapa ia melarikan diri dari hadapan Ayaka.
Sekarang setelah tahu alasannya, ia tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja.
Ia harus menghadapi dirinya sendiri dengan benar.
Apa yang diinginkan hatinya.
Seberapa kuat perasaan itu.
Namun, Haruto merasa sedikit gentar oleh besarnya perasaan yang menggelembung di dalam dirinya.
“Kazu-senpai. Kalau pihak perempuan yang... mencoba mencium, itu berarti dia ada rasa, ‘kan?”
“Memangnya bukan? Entahlah.”
Melihat Haruto ragu-ragu, Ishigura menjawab asal. Setelah itu, Ishigura membuka mulut seolah menasihatinya.
“Haruto suka sama anak itu, ‘kan?”
“Ee, yah... iya.”
“Kalau begitu. Ada rasa atau tidak, jangan galau mikirin hal begitu. Justu aneh kan kalau kau menembak cewek cuma karena alasan ‘kayaknya dia ada rasa’? Terus kalau roman-romannya dia nggak ada rasa, kau nggak bakal nembak, gitu?”
“Bukan, itu...”
“Nah kan? Menghargai perasaan orang lain itu penting. Tapi, kalau kau menembak karena pihak sana menaruh hati padamu, itu namanya bukan orang yang kau suka, tapi cuma pasangan yang ‘nyaman’ buatmu, ‘kan?”
Haruto hanya diam mendengarkan ceramah Ishigura.
“Yang penting itu perasaan Haruto sendiri, ‘kan? Seberapa besar kau memikirkannya. Menyampaikan perasaan itu dengan tulus dan sepenuh hati adalah hal yang terpenting. Kalau diterima ya syukur. Kalau gagal, ya relakan saja, atau berusaha mati-matian untuk berbenah supaya dia menoleh padamu. Galau memikirkan perasaan lawan bicara itu bukan hal yang dilakukan laki-laki sejati.”
Mendengar kata-kata Ishigura yang jantan dan to the point itu, Haruto jadi tampak seolah beban pikirannya terangkat.
“Kazu-senpai, terima kasih. Rasanya aku jadi sadar.”
“Begitu, syukurlah kalau begitu.”
Melihat Haruto berterima kasih, Ishigura tersenyum santai.
“Kalau aku cewek, aku pasti sudah jatuh cinta sama Kazu-senpai.”
“Hentikan, menjijikkan.”
Mendengar ucapan Haruto, Ishigura mengerutkan wajahnya dengan sedikit berlebihan.
Melihat ekspresi Ishigura itu, Haruto tersenyum cerah.
“Terima kasih banget. Kapan-kapan bakal kubalas.”
“Kecil itu mah. Jangan dipikirkan.”
Ishigura melambaikan satu tangannya dan berdiri dari ayunan.
“Kalau sudah beres aku pulang, ya?”
Sambil bilang begitu, ia mengambil kantong kertas yang diletakkan di kakinya.
“Kazu-senpai. Itu isinya apa?”
“Hm? Ah, ini whisk elektrik baru.”
Sambil berkata begitu, Ishigura tersenyum menyeringai dan menepuk-nepuk kantong kertas itu.
“Model terbaru, loh. Efisiensi pengocokannya beda level.”
Di taman sepi yang remang-remang dan tak berpenghuni, Ishigura yang berwajah sangar tersenyum mencurigakan sambil memeluk kantong kertas dengan puas.
Jika dilihat orang lain, ini benar-benar tampak seperti lokasi transaksi pasar gelap dunia bawah. Siapa pun pasti menduga isi kantong itu serbuk putih. Sambil memikirkan hal itu di sudut kepalanya, Haruto tersenyum polos dan lebar.
“Kazu-senpai. Aku menantikan manisan yang enak lagi.”
“Ou. Serahkan padaku.”
Sambil bertukar kata-kata itu, keduanya meninggalkan taman dan pulang ke rumah masing-masing.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Haruto membulatkan tekad.
Ia jatuh cinta pada Toujou Ayaka. Benar-benar terpikat dari lubuk hati.
Kalau begitu, ia harus mengutarakan perasaan itu.
Namun, sebelum menyatakan cinta, ada hal yang harus ia lakukan.
Yaitu memperbaiki kesalahan yang diperbuat dirinya di masa lalu.
Jika tidak melakukan itu, Haruto takkan bisa menghadapi Ayaka dengan tulus dan sepenuh hati.
Dengan perasaan tegang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ia membuka pintu depan rumahnya.
“Aku pulang.”
“Selamat datang, Haruto.”
Neneknya muncul dari lorong dan menyambutnya dengan senyum manis.
Sejak Haruto memperkenalkan Ayaka sebagai pacarnya, Nenek selalu dalam suasana hati yang baik.
Membayangkan bahwa ia akan merenggut senyuman itu setelah ini, tekad Haruto sempat goyah.
Namun, demi bisa menghadapi Ayaka dengan benar, demi memajukan hubungan mereka, ia tidak boleh melarikan diri.
Haruto membulatkan tekad dan membuka mulut.
“Nenek. Ada hal yang harus kubicarakan dengan Nenek.”
Dengan tatapan serius, Haruto menceritakan kebenaran.
Demi mengubah hubungan dengan Ayaka, dari yang palsu menjadi nyata.
※
Ruang tengah didominasi keheningan.
Haruto duduk berhadapan dengan neneknya dibatasi meja.
Haruto menceritakan semuanya dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi tentang kebohongan yang ia lontarkan. Fakta bahwa Ayaka bukan pacar sungguhan. Mendengar cerita itu, neneknya memejamkan mata dan menunduk sejenak, lalu mulai bicara dengan nada pelan.
“Haruto. Yang tadi itu sudah semuanya? Sudah tidak ada kebohongan lagi?”
“Ung. Sudah tidak ada kebohongan lagi. Ayaka pura-pura jadi pacarku demi diriku.”
Menanggapi konfirmasi neneknya, Haruto mengangguk dengan wajah serius.
“...Haruto, kebohongan yang kau ucapkan itu adalah kebohongan yang sangat bodoh. Meskipun itu kau lakukan karena memikirkan Nenek.”
Neneknya tidak meninggikan suara, ia memarahi Haruto dengan nada tenang.
“Kebohongan itu selalu dibayangi oleh kebenaran. Membangun sesuatu dengan kebohongan itu mudah. Tapi, suatu saat itu pasti akan dihancurkan kebenaran. Dibanding kebenaran, kebohongan itu terlalu rapuh dan konyol. Oleh karena itu, lebih baik jangan berbohong sejak awal.”
Neneknya menatap lurus ke arah Haruto.
“Un. Aku benar-benar minta maaf.”
Melihat Haruto menundukkan kepala dalam-dalam, sang nenek berbicara sambil tetap mempertahankan ekspresi tegasnya.
“Orang yang harus benar-benar kau mintai maaf itu bukan Nenek, loh. Kau mengerti itu, ‘kan? Bagian terburuk dari kebohonganmu adalah kau melibatkan Ayaka-san. Haruto, kau telah mempermainkan perasaan Ayaka-san sembarangan. Itu adalah hal yang sama sekali tidak bisa dimaafkan.”
“Ung...”
Haruto menunduk lesu.
Melihat sosok cucunya yang begitu, sang nenek merasa dia sudah cukup merenung, dan sedikit melunakkan ekspresinya.
“Minta maaflah dengan benar pada Ayaka-san. Minta maaflah dengan tulus dan sepenuh hati.”
“Ung. Aku akan melakukannya.”
Nenek mengangguk kecil mendengar jawaban Haruto.
“Manusia itu makhluk yang lemah. Hidup tanpa berbuat kesalahan itu sulit. Makanya, yang penting adalah mengakui kesalahan yang diperbuat, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Haruto, kau janji tak akan berbohong seperti ini lagi seumur hidupmu?”
“Ung, aku janji. Aku nggak bakal berbohong seperti ini lagi, selamanya.”
Melihat Haruto mendeklarasikan hal itu dengan tegas sambil menatap matanya, akhirnya sang nenek tersenyum kecil.
Dia berkata dengan suara yang sedikit lebih lembut dan hangat.
“Haruto, jangan berbohong pada orang lain. Tapi, lebih dari itu, kau tidak boleh berbohong pada dirimu sendiri. Kapan pun itu, jangan memalsukan dirimu sendiri. Nanti kau kehilangan jati diri dan tidak bisa mempercayai apa pun. Kapan pun itu, jujurlah pada dirimu sendiri.”
“Jujur pada diri sendiri... ung, aku mengerti.”
Selama ini Haruto memalsukan dirinya sendiri.
Ia memalingkan muka dari hatinya yang berteriak, dan terus lari dari perasaannya.
“Dan satu lagi, Haruto. Kau harus minta maaf dengan benar pada Ayaka-san. Tapi, dengarkan juga cerita dan perasaan dia dengan baik, ya? Jangan sekali-kali meminta maaf cuma demi kepuasanmu sendiri, mengerti?”
Mendengar neneknya menekankan hal itu, Haruto mengangguk dalam dan mantap.
“Aku berniat menemui Ayaka langsung dan bicara baik-baik.”
“Lakukanlah. Baiklah, kalau begitu kita sudahi pembicaraan ini. Ayo makan malam.”
“Ung. Akan kubantu, Nek.”
Keduanya mengakhiri pembicaraan dan berjalan beriringan ke dapur.
Seusai makan malam, Haruto duduk di depan meja di kamarnya dan menghembuskan napas panjang “Fuu~” untuk menenangkan detak jantungnya yang rusuh karena gugup.
Liburan musim panas ini, ia mulai pergi ke rumah keluarga Toujou untuk kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga.
Di sana ia mulai berinteraksi dengan Ayaka, dan terkejut dengan gap antara sosoknya di sekolah, sekaligus tertarik pada sisi Ayaka yang ternyata gadis biasa.
Saat Haruto perlahan memejamkan mata, di balik kelopak matanya terbayang berbagai kejadian yang ia alami lewat kerja sambilan di musim panas ini.
Saat pertama kali mengunjungi rumah keluarga Toujou. Ayaka menunjukkan ekspresi bingung sambil memegang pintu depan karena kaget. Haruto pikir dia tidak akan dipanggil lagi, tapi berlawanan dengan dugaannya, ia malah mendapat kontrak langganan dengan keluarga Toujou. Sejak itu, ia disukai oleh anggota keluarga Toujou, dan makan malam bersama di satu meja pun sudah tidak aneh lagi.
Sesekali ia digoda soal Ayaka, tapi Haruto sangat menyukai suasana keluarga Toujou yang ceria dan ramai.
Haruto mengingat masa-masa itu, dan merasakan kehangatan menjalari hatinya.
Ia mengambil ponselnya, dan membuka obrolan di aplikasi pesan yang menampilkan nama Toujou Ayaka.
“Kalau diingat-ingat, aku tukaran kontak sama Ayaka itu buat janjian nonton film, ya...”
Demi membicarakan jadwal pergi ke Taman Hutan Satwa, mereka memutuskan untuk janjian di luar, dan waktu itu Haruto diajak nonton film oleh Ayaka.
“Waktu itu, pertama kalinya kami pegangan tangan, ya...”
Momen pertama kali menggenggam tangan gadis itu masih bisa ia ingat dengan jelas sampai sekarang.
Tangan yang lembut, ramping, dan indah itu terasa sedikit dingin. Tapi, selama bergandengan, perlahan rasanya jadi hangat seolah suhu tubuhnya tersalurkan.
“Waktu diajak gandengan tangan ala kekasih, aku kaget sih...”
Mengingat saat credit film bergulir dan cara pegangan tangan mereka diubah jadi gandengan tangan ala kekasih, Haruto tersenyum kecil dengan pipi sedikit merona.
Sejak itu, ia beberapa kali melakukan gandengan tangan ala kekasih dengan Ayaka.
Dalam ingatannya, Ayaka selalu tersenyum ceria dan tampak bahagia.
Bukan hanya saat bergandengan tangan, Ayaka yang berada di sebelahnya selalu menunjukkan senyum yang bersinar dan tampak senang.
Waktu pergi ke Taman Hutan Satwa.
Waktu barbekuan dengan keluarga Toujou.
Waktu main kembang api, waktu nyari es krim berdua.
Waktu camping, waktu menatap langit berbintang berdampingan.
Dan, waktu latihan jadi pacar pun...
Mulai sekarang dan seterusnya, ia ingin Ayaka terus tersenyum.
Ia ingin terus melihat senyuman itu di sebelahnya.
Ekspresi penuh kecemasan dan kesedihan yang Ayaka tunjukkan saat Haruto melarikan diri darinya.
Wajah seperti itu, ia tidak ingin melihatnya lagi.
Sambil merasakan tanggung jawab yang kuat karena telah membuat Ayaka memasang ekspresi seperti itu, Haruto mengoperasikan ponselnya dan mengetik pesan.
“Jujur pada diri sendiri... ya.”
Haruto bergumam pelan, lalu mengirim pesan pada Ayaka.




Post a Comment