NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V3 Chapter 9

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 9

Pengakuan

Selama libur musim panas tahun ini Haruto-kun datang ke rumah sebagai asisten rumah tangga, dan hari-hariku pun terasa begitu menggembirakan.


Aku jatuh cinta padanya, setiap hari terasa menyenangkan dan penuh semangat.


Selama liburan musim panas ini, aku membuat banyak kenangan bersama Haruto-kun.


Nonton film, ke kebun binatang, barbekuan, kencan, dan juga camping.


Waktu yang kuhabiskan bersamanya, semuanya benar-benar menyenangkan...


Karena itulah, mungkin aku jadi salah paham...


Kupikir Haruto-kun juga pasti menikmatinya.


Setiap kali menghabiskan waktu bersamanya, perasaanku pada Haruto-kun kian besar, dan kupikir mungkin saja, Haruto-kun juga punya perasaan yang sama denganku...


Tapi sepertinya aku salah...


Cuma aku sendiri yang kegirangan...


Bagi Haruto-kun, aku ini tak lebih dari sekadar “pelanggan” layanan asisten rumah tangga-nya saja, ‘kan...


“Haaah...”


Benar juga sih.


Kalau tiba-tiba mau dicium sama orang yang sekadar pelanggan, wajar saja kalau dia kabur...


Perasaanku yang tadinya melambung tinggi karena jatuh cinta, seolah mau terbang ke awan, kini anjlok menjadi perasaan berat yang seolah menenggelamkanku ke dasar rawa. Aku mengoperasikan ponselku dan membuka aplikasi pesan.


Aku membuka obrolan dengan nama Aizawa Saki, lalu menekan tombol panggilan.


‘Halo-halo. Kenapa?’


Panggilan langsung tersambung, dan suara ceria Saki terdengar.


“...Kayaknya aku patah hati...”


‘Begitu, ya~... Eh? ...Eeeh!? Patah hati!? Gimana, gimana!?’


Suara Saki yang benar-benar shock terdengar dari speaker ponsel.


Mendengar kata “patah hati”, dadaku meraskan sesak yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, sakit sekali sampai rasanya aku tak bisa bernapas.


“...Ugh...”


‘Tunggu sebentar!? Ayaka, kamu baik-baik aja? Ada kejadian apa sama Ootsuki-kun!?’


Aku berusaha mati-matian menahan emosiku yang rasanya hampir jebol.


Meskipun panik, Saki tetap bertanya dengan nada khawatir.


“...Aku... perasaanku... aku suka sama Haruto-kun... saking sukanya, aku nggak bisa tahan lagi... aku... aku mencoba menciumnya... tapi... aku... dihindari...”


Setelah kejadian itu, Haruto-kun mulai menghindari kontak denganku, kami bahkan tidak bisa mengobrol...


Mengingat saat itu, sampai sekarang pun dadaku terasa nyeri seolah mau meledak.


Mungkin sekalian meledak saja biar aku merasa lebih lega...


‘Tunggu, tunggu! Ayaka mencoba mencium Ootsuki-kun? Terus ditolak?’


“...Ung.”


‘Waktu itu reaksi Ootsuki-kun gimana?’


“...Setelah aku mau menciumnya, dia jadi beda dari biasanya... rasanya jadi canggung dan menjauh... mungkin... u-ugh.”


Kalau aku menceritakannya lebih jauh lagi, emosiku rasanya bakal hancur...


“Kayaknya aku cuma dianggap pelanggan biasa... aku bodoh banget, ya. Kegirangan sendiri kayak gini...”


‘Ayaka? Tenang dulu sebentar.’


“Haruto-kun sama sekali nggak... nggak mikirin aku...”


‘Stop! Stop!! Tarik napas dulu! Oke, tarik napas dalam-dalam dan tenangin diri dulu, ya? Ayo, tarik napas, hembuskan. Tarik, hembuskan.’


Aku menuruti kata-kata Saki, menarik dan menghembuskan napas berulang kali.


Aku sudah tidak mau memikirkan apa-apa lagi...


‘Gimana? Sudah tenang?’


“...Sedikit...”


Emosiku masih di ambang batas, tapi setelah bicara dengan Saki, rasanya ada sedikit ruang untuk bernapas.


‘Kalau begitu, boleh aku dengar ceritanya lebih detail lagi?’


“Ung..”


Meski beberapa kali tersendat di tengah jalan, aku akhirnya berhasil menceritakan kejadian dengan Haruto-kun pada Saki.


Saki mendengarkan semua ceritaku tanpa menyela, lalu berbicara perlahan dengan nada hati-hati.


‘Kalau mendengar cerita Ayaka barusan, rasanya terlalu cepat deh kalau menyimpulkan kamu patah hati.’


“Begitu... kah? Tapi, Haruto-kun... menghindariku, loh?”


‘Hmm. Menurutku sih, kemungkinan besar itu cuma karena Ootsuki-kun nyalinya ciut saja.’


“Nyalinya ciut?”


‘Iya, benar.’


Mendengar ucapan Saki, rasanya ada secercah cahaya yang menyinari hatiku, walau hanya sedikit.


‘Waktu barbeku dan camping, aku sudah dua kali melihat interaksi Ayaka dan Ootsuki-kun, dan aku yakin banget Ootsuki-kun itu suka sama Ayaka.’


“Tapi... ciumanku... dihindari, loh? Kalau Haruto-kun suka sama aku, harusnya nggak gitu, ‘kan?”


‘Itu sih kalau ciuman “biasa” yang dihindari, mungkin ada sedikit kemungkinan patah hati.’


“Ciuman biasa? ...Memangnya ada ciuman yang nggak biasa?”


Ciuman yang nggak biasa itu apa?


Aku... nggak berniat melakukan hal aneh-aneh sama Haruto-kun, kok...


‘Bukan begitu, situasi saat Ayaka mau mencium Ootsuki-kun itu posisinya kamu menindih dia, kan? Ciuman dalam kondisi begitu itu cuma dilakukan sama pasangan yang lagi panas-panasnya, atau protagonis romcom yang punya bakat sial kena masalah, tahu.’


Be-Benar juga sih, waktu itu... posisinya aku memang kayak menutupi tubuh Haruto-kun...


‘Ayaka pernah bilang kan, kalau Ootsuki-kun belum pernah punya pacar?’


“Ung...”


‘Kalau begitu, wajar saja kalau dia langsung ciut dalam situasi itu, kan? Justru kalau di situ dia malah balik agresif, rasanya dia malah terlalu terbiasa sama cewek.’


“Be-Begitu, ya? Tapi, kenapa setelah itu dia menghindari ngobrol sama aku?”


‘Itu pasti menghindar karena suka.’


“Menghindar... karena suka?”


Menghindar karena suka itu... sikap yang sering ada di manga shoujo, di mana cowoknya bersikap dingin padahal suka? Memangnya hal kayak gitu beneran ada di dunia nyata?


‘Ini cuma tebakanku, ya. Ootsuki-kun itu suka sama Ayaka, ditambah lagi dia “diserang” sama Ayaka, jadi dia makin sadar akan perasaannya, makanya dia jadi menghindar karena gugup.’


“A-Aku nggak bermaksud menyerang kok, itu cuma kebetulan jatuh menindih dia saja...”


‘Biarpun cuma kebetulan, bagi Ootsuki-kun kejadian itu dampaknya pasti besar banget.’


Begitu, ya...


Ka-Kalau begitu... aku belum patah hati, ‘kan?


‘Coba pikirkan dari posisi sebaliknya. Kalau tiba-tiba kamu didorong Ootsuki-kun sampai jatuh, terus dia menindihmu dan mau menciummu, gimana?’


“I-Itu...”


Kalau waktu itu posisi kami tertukar, dan sebaliknya Haruto-kun yang mau menciumku...


Membayangkannya saja sudah membuat badanku panas saking malunya... tapi, kalau itu Haruto-kun, mungkin aku bakal menerimanya...


Ah, tapi...


Itu kan bakal jadi ciuman pertamaku, jadi aku ingin situasi yang sedikit lebih pantas dan romantis... aku juga ingin sikat gigi dulu...


“Aku juga... mungkin bakal menghindar.”


‘Nah, kan? Makanya, Ayaka belum patah hati kok. Tenang saja.’


Saki berkata dengan suara ceria seolah menyemangatiku.


Berkat kata-kata sahabatku itu, hatiku yang tadi rasanya hancur lebur kini terasa jauh lebih mendingan.


“Aku, belum dibenci sama Haruto-kun, ‘kan?”


‘Enggak dibenci, kok! Tenang saja!’


Saki menegaskan dengan mantap.


“Tapi... kalau Haruto-kun menghindar karena suka? Mulai sekarang aku harus bersikap gimana ke dia?”


‘Hmm. Kalau itu sih─’


Tepat saat Saki hendak memberiku saran, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar ponselku.


Melihat itu, detak jantungku langsung berpacu satu tingkat lebih cepat.


“Tunggu Saki! Ha-Haruto-kun kirim pesan!”


‘Oh? Isinya apa?’


Sambil tetap tersambung dengan Saki, aku memeriksa pesan darinya dengan jantung deg-degan.


“Ehm... ‘Maaf malam-malam begini. Soal kejadian hari ini, bisa kita bicara sebentar?’ katanya.”


‘Ooh, Ootsuki-kun duluan yang menghubungi, ya. Kalau begitu, mau matikan telepon denganku dulu?’


“U-Ung. Maaf ya.”


‘Santai saja. Kalau begitu kututup ya?’


Setelah berkata begitu, Saki mengakhiri panggilan.


Dengan ujung jari yang sedikit gemetar karena gugup, aku membalas pesan Haruto-kun.


(“Ung, nggak apa-apa kok.”)


Aku memeriksa kalimat pendek yang kuketik itu berulang kali, lalu menekan tombol kirim dengan jari yang sedikit gemetar.


Sfx saat terkirim terdengar sangat keras di telingaku, dan aku menatap pesan yang baru saja kukirim itu lekat-lekat.


Hampir bersamaan dengan pesan terkirim, tanda “Dibaca” muncul, membuat dadaku berdesir.


Beberapa detik kemudian, panggilan masuk dari Haruto-kun.


Sambil merasakan detak jantung dag-dig-dug yang rusuh, aku menyentuh layar ponsel dan tersambung dengan Haruto-kun.


“...Halo.”


‘Ah, maaf ya. Menelepon jam segini.’


“Ung. Sama sekali nggak apa-apa, kok.”


Aku menjawab sambil menggelengkan kepala.


Suaranya yang pertama kali kudengar sejak kami belajar berdua tadi.


‘Anu... ada yang ingin kubicarakan soal kejadian hari ini...’


Mendengar suara orang yang kusukai dari ponsel, hatiku otomatis merasa senang tanpa syarat. Tapi di saat yang sama, mendengar nada suaranya yang terdengar lebih kaku dari biasanya, rasa cemas juga ikut menyeruak.


“Ke-Kejadian hari ini... itu soal, anu, itu kan?”


‘...Ung. Iya, benar.’


Suara Haruto-kun terdengar agak tegang, membuat rasa cemasku makin menjadi-jadi.


Gimana nih... kalau dia bilang nggak mau ke sini lagi buat jadi asisten rumah tangga...


A-Atau, kalau dia bilang nggak mau lagi berpura-pura pacaran denganku...


Semangatku yang tadi sempat naik setelah bicara dengan Saki, kini rasanya mau tenggelam lagi.


‘Mengenai hal itu, ada sesuatu yang benar-benar ingin kusampaikan pada Ayaka, dan kalau bisa aku ingin bicara langsung denganmu.’


“Aku juga! Aku juga mau menyampaikan sesuatu ke Haruto-kun! Makanya... makanya, aku pengin ketemuan sekarang.”


Mendengar kata “ingin kusampaikan” dari Haruto-kun, aku jadi nggak bisa menahan emosiku lagi, dan mulutku bergerak sendiri.


‘...Baiklah. Kalau begitu aku akan ke sana sekarang. Umm...’


“Kita ketemuan di taman, yuk? Di dekat rumah ada taman yang sering jadi tempat main Ryota. Di sana boleh?”


‘Ung. Aku mengerti.’


“Kalau begitu... aku tunggu ya.”


‘Ung... aku akan segera ke sana.’


Sambil merasakan jantung yang memukul-mukul dada dengan keras, aku memutus panggilan dengannya.


Sesuatu yang ingin disampaikan Haruto-kun.


Aku tidak tahu apa itu.


Mungkin saja itu hal terburuk bagiku. Kalau memang begitu, cinta pertamaku akan berakhir. Memikirkan hal itu saja membuat pandanganku gelap gulita, rasa takut dan kehilangan yang luar biasa besar meluap-luap.


Tapi, aku nggak mau cinta ini berakhir begitu saja. Aku benar-benar nggak mau.


Awalnya, aku cuma ingin perasaan tulus dari Haruto-kun, lalu aku jadi serakah... aku berharap dia yang menembakku. Tapi, semakin sering bersamanya, rasa cintaku semakin kuat, dan sekarang hatiku sudah penuh sesak olehnya.


Menghapus perasaan yang sudah sebesar ini jelas mustahil, dan aku juga nggak mau melakukannya. Meskipun mungkin perasaanku tak tersampaikan, aku ingin mengatakannya.


Aku suka kamu.


Saat aku menyampaikan kata-kata ini, Haruto-kun bakal jawab apa ya...


Membayangkannya saja sudah bikin aku takut, tapi aku nggak mau semuanya berakhir tanpa melakukan apa-apa...


Aku sekali lagi menyambungkan panggilan ke Saki.


‘Gimana? Sudah bicara sama Ootsuki-kun?’


Panggilan langsung tersambung, dan Saki bertanya dengan nada khawatir.


Pasti dia terus memegang ponselnya sambil menungguku.


“Aku mau ketemuan sama Haruto-kun sekarang.”


‘Begitu, ya... Ayaka, kamu baik-baik saja?’


“Ung. Terus... Saki, aku...”


Kepada sahabat terbaikku yang lembut, bisa diandalkan, dan tempatku berkonsultasi tentang apa saja, aku menyampaikan tekadku.


“Aku akan mengungkapkan perasaanku pada Haruto-kun.”


‘...!?’


Mendengar deklarasiku, suara orang menahan napas terdengar dari seberang telepon.


“Maaf ya, Saki. Padahal kamu sudah kasih banyak saran... tapi aku, aku udah nggak bisa lagi nunggu Haruto-kun nembak.”


‘Kenapa Ayaka yang minta maaf. ...Justru aku yang minta maaf. Rasanya aku malah kasih saran yang nggak perlu. Kalau dari awal kamu jujur menyampaikan perasaanmu, mungkin Ootsuki-kun bakal lebih cepat menoleh ke arahmu.’


Dari speaker, terdengar suara Saki yang agak lesu. Di akhir kalimatnya dia bilang “Maaf banget, ya” sekali lagi.


“Ung. Aku sangat berterima kasih sama Saki, loh. Kalau nggak ada Saki, aku pasti sudah tersesat nggak tahu arah. Makasih ya, Saki.”


‘...Ayaka.’


“Hm?”


‘Semangat nembaknya!!’


“Ung!!”


Menjawab dorongan semangat dari sahabatku, aku mengangguk mantap, mencoba melawan rasa takut dan cemas yang membesar dan hendak meremukkan hatiku.


“Kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku mau menemui Haruto-kun!”


‘Ung, aku mendukungmu!!’


Setelah mendapat keberanian dari kata-kata Saki, aku memasukkan ponsel ke saku dan keluar kamar. Aku pun menuju ruang tamu. Di sana, Mama sedang duduk di sofa sambil membaca buku.


“Mama, aku mau keluar sebentar.”


“Ara? Jam segini?”


Mama mengalihkan pandangan dari bukunya dan menatapku heran.


“Ung, cuma ke taman situ kok... aku mau ketemu Haruto-kun.”


Saat aku bilang begitu, Mama sepertinya mengerti segalanya, dan tersenyum lembut.


“Begitu... berjuanglah, ya.”


“...Ung.”


Kata-kata dorongan yang lembut dari Mama serasa menyelimuti tubuhku yang dipenuhi rasa cemas dan takut.


Aku membangkitkan semangat hatiku, lalu keluar rumah.


Aku ingin... menyampaikan perasaan ini padamu.



Matahari sudah benar-benar terbenam, dan area perumahan kini diselimuti kegelapan malam.


Haruto berlari dengan napas terengah-engah membelah jalanan sepi yang sunyi.


Karena berlatih di dojo karate sejak kecil dan melatih fisiknya, seharusnya napasnya tidak akan habis semudah ini.


Namun, saat ini, ketika ia berlari menuju taman tempat Ayaka menunggu, napasnya cepat habis dan menjadi dangkal seolah sedang latihan di dataran tinggi.


Semakin dekat jaraknya dengan gadis itu, semakin kencang jantungnya menghantam dada.


Setelah ini, ia akan meminta maaf dengan tulus dan sepenuh hati atas kebohongan telah ia lakukan.


Lalu setelah itu, ia akan menyampaikan perasaan yang ada di dalam dadanya apa adanya.


Aku menyukaimu.


Kata-kata itu. Perasaan itu.


Saat memikirkan momen itu, rasa takut menyebar di hatinya dan dorongan untuk melarikan diri datang menyerbu.


Mungkin karena siang tadi hujan deras, malam musim panas ini terasa lebih lembap dan panas dari biasanya.


Keringat perlahan membasahi dahi Haruto yang sedang berlari, dan kemejanya mulai lengket di badan.


Haruto sengaja mengumpat dengan suara keras untuk mengusir rasa takut yang merajalela di hatinya.


“Aah! Sial!”


Padahal ia mau menyatakan cinta pada Ayaka, tapi ia malah keringatan, rambutnya lepek; sungguh penampilan yang menyedihkan.


Kalau bisa, ia ingin merapikan diri dulu. Tapi, kalau ia berhenti sekarang, ia merasa bakal kaku karena ketakutan dan tidak mampu bergerak lagi. Karena takut akan hal itu, ia terus berlari.


Sambil terus berlari dan bertarung dengan kelemahannya sendiri, matanya menangkap sosok taman yang diterangi lampu jalan.


Di sana, akhirnya Haruto memperlambat langkahnya dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


“Hah... hah... hah... fuuuh... oke.”


Setelah menghembuskan napas panjang untuk menguatkan tekad, Haruto melangkah ke taman malam yang sunyi tanpa anak-anak.


Karena tamannya tidak begitu luas, Haruto segera menemukan sosok Ayaka.


Gadis itu berdiri sendirian di sebelah gazebo taman.


Lampu jalan di dekatnya menyinarinya dari atas bagaikan lampu sorot panggung.


“...Ah.”


Ayaka yang berdiri sambil agak menunduk, mengangkat wajahnya disertai suara kecil saat melihat sosok Haruto.


Ekspresinya terlihat goyah oleh kecemasan, namun di matanya tersimpan kekuatan seolah ada tekad yang kokoh.


“Maaf. Aku membuatmu menunggu, ya.”


Haruto berlari kecil menghampirinya.


“Ung. Haruto-kun justru cepat banget sampainya.”


“Karena aku lari ke sini. Makanya jadi basah kuyup sama keringat begini.”


Keduanya bertukar percakapan ringan.


Haruto dan Ayaka saling tatap-tatapan, terdiam sejenak, dan kemudian berbicara serempak.


“Anu...”


“Anu, ya...”


Kata-kata mereka tumpang tindih, dan keduanya kembali menutup mulut lalu saling pandang.


Saat itulah Haruto teringat kata-kata neneknya.


Ia harus meminta maaf dengan benar pada Ayaka. Tapi, permintaan maaf yang egois itu tidak boleh. Sangat penting untuk mendengarkan cerita Ayaka juga.


Saat bicara di telepon, Ayaka bilang ingin menyampaikan sesuatu pada Haruto. Kalau begitu, ia harus mendengarkan cerita itu dengan baik.


Tapi, Haruto ingin meminta maaf pada Ayaka lebih dulu sebelum urusan lain.


Itu termasuk soal melibatkan Ayaka dalam kebohongannya pada Nenek, tapi selain itu, ia ingin minta maaf soal satu hal lagi.


Yaitu fakta bahwa hari ini, ia telah melarikan diri.


Dan setelah itu, ia malah mengambil sikap menghindarinya.


Akibatnya, ia membuat Ayaka memasang wajah cemas.


Haruto yang jatuh cinta pada senyuman gadis itu, merasa sangat bersalah karena telah merenggut senyumannya.


Ia ingin Ayaka terus tersenyum.


Haruto mengharapkan hal itu dari lubuk hatinya.


Ia perlahan membuka mulut, memecah keheningan yang mengalir di antara mereka.


“Anu, boleh aku bicara duluan?”


“...Ung. Baiklah.”


Ayaka menjawab dengan ekspresi seperti orang ketakutan akan sesuatu, namun berusaha mati-matian menahannya.


Melihat ekspresinya itu, Haruto merasa dadanya sesak, namun ia mulai bicara perlahan untuk menenangkan hatinya sendiri.


“Pertama-tama, aku minta maaf.”


Bersamaan dengan kata-kata itu, Haruto menundukkan kepala dalam-dalam.


“Hari ini, aku melarikan diri dari Ayaka, dan setelah itu... aku malah menghindarimu.”


“Sa-Sama sekali nggak apa-apa kok! Soal itu, Haruto-kun nggak perlu pikirin sampai segitunya. Itu juga salahku, kok... jadi angkat kepalamu? Oke?”


Ayaka mendesak Haruto untuk mengangkat kepala dengan suara lembut yang penuh perhatian.


Namun, Haruto tetap menunduk selama beberapa saat, sebelum akhirnya perlahan mengangkat kepala dan menatap lurus ke mata Ayaka.


“Lalu, maaf sudah melibatkanmu dalam kebohonganku. Maafkan aku karena memintamu melakukan peran pacar palsu.”


“Itu juga jangan dipikirkan. Pacar palsu itu kan juga permintaanku, bukan Haruto-kun doang yang salah.”


Menanggapi permintaan maaf Haruto, Ayaka menggelengkan kepala sambil merangkai kata.


Sikapnya itu terdengar seolah ada keputusasaan yang merembes dalam suaranya.


“Tapi, aku... berlindung di balik alasan latihan pacaran, dan mempermainkan perasaan Ayaka dengan sembarangan.”


“Bukan... bukan begitu... nggak kayak gitu... sama sekali nggak...”


Sejak tadi Ayaka terus menggelengkan kepalanya kecil.


Ekspresinya begitu rapuh seolah akan hancur sewaktu-waktu, dan matanya berkaca-kaca.


Melihat gadis di hadapannya itu, Haruto membulatkan tekad dan mengucapkan kata-kata itu.


“Hari ini, aku sudah menceritakan semua kebenarannya pada Nenek.”


“...Eh?”


Mendengar pengakuan Haruto, Ayaka membelalakkan matanya yang berkelopak ganda dan indah itu.


“Aku, udah nggak tahan lagi. Dengan Ayaka, aku sudah...”


“Tu-Tunggu... ja...jangan...”


Suara Ayaka terdengar kecil, bergetar, halus, dan lemah.


Namun, karena Haruto sudah bertekad untuk menyampaikan perasaannya sampai tuntas, ia tidak berhenti dan terus mengucapkannya.


“Aku nggak bisa terus jadi pacar palsu.”


Saat Haruto mengucapkannya, air mata tumpah dari mata Ayaka.


“Ha-Haruto-kun... a-aku... aku...”


“Karena aku menyukaimu.”


“......Eh?”


“Aku menyukaimu, sampai-sampai aku nggak bisa lagi berada dalam kepalsuan ini. Dari lubuk hatiku, sampai rasanya tak tertolong lagi, aku... sudah tergila-gila padamu, Ayaka.”


Haruto merangkai kata untuk menyampaikan perasaan yang selama ini ia pendam dalam dada.


Seketika, seluruh tubuhnya terasa panas, dan jantungnya seolah mau melompat keluar dari mulut.


Namun di saat yang sama, ada perasaan lega yang menyegarkan bercampur di sana, seolah sumbatan di dadanya telah terlepas, kata-kata Haruto mengalir keluar begitu saja.


“Aku suka senyumanmu. Saat kamu tertawa riang dan polos, saat kamu tersenyum lembut, atau senyum malumu saat tersipu, semuanya tampak mempesona bagiku. Dan juga, aku suka sisi lembut Ayaka. Saat kamu mengurus Ryota-kun sebagai seorang kakak. Aku juga suka sisimu yang agak polos. Lalu, aku juga suka sisimu yang ternyata cukup romantis. Kamu benar-benar berbeda dari yang di sekolah, ternyata kamu gadis biasa, dan itu terlihat sangat manis bagiku.”


Setelah bicara panjang lebar dalam satu tarikan napas, Haruto mengambil jeda sejenak lalu menatap mata Ayaka lekat-lekat.


Sejak mulai kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga, Haruto bertemu dengannya.


Tawanya cerah bagai mentari.


Dikelilingi keluarga yang menyenangkan dan ramai, polos, dan sedikit lugu.


Ternyata punya sisi gadis remaja romantis; dan kepada gadis biasa itulah...


Haruto benar-benar tercuri hatinya, terpikat tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Segala hal tentangmu... aku menyukainya.”


Haruto melakukan pernyataan cinta pertama dalam hidupnya.


Meskipun merasa sangat gugup sampai-sampai suaranya sendiri terdengar jauh, Haruto berusaha keras melanjutkan kata-katanya.


“Aku... sudah tidak mau lagi melakukan sandiwara pacar palsu. Oleh karena itu...”


Mulutnya terasa kering kerontang.


Meski begitu, Haruto memeras kata-kata terakhir dari pernyataan cintanya ini.


“Tolong jadilah... kekasihku yang sesungguhnya.”


Setelah menyelesaikan kalimat pernyataannya sampai akhir, Haruto yang masih merasakan jantungnya berdegup kencang seolah mau rusak, menunggu reaksi Ayaka.


Di situlah Haruto sadar.


Bahwa mata besar Ayaka kini dipenuhi air mata, dan air mata itu terus mengalir deras membasahi pipinya tanpa henti.


“Eh!? A-Anu... maaf... i-itu...”


Melihat air matanya, Haruto jadi panik dan gelagapan.


Padahal neneknya sudah bilang ‘Jangan minta maaf demi kepuasan sendiri’, tapi tanpa sadar ia malah bicara sepihak, dan di dalam hati Haruto sangat menyesal, ‘Gawat, aku mengacaukannya!’.


Karena ketegangan yang belum pernah ia alami sebelumnya, otaknya jadi blank, dan ia malah kebablasan menyatakan cinta karena terbawa momentum.


Haruto yang tidak tahu harus berbuat apa, melihat ke sana kemari dengan gelisah, sampai telinganya menangkap suara kecil.


“...Bo... doh...”


“Eh?”


“...Bodoh...”


Suara yang rapuh, seolah akan menghilang.


Namun, kata itu terdengar jelas di telinga Haruto. Bersamaan dengan itu, keputusasaan menyebar di dalam dadanya.


Benar juga, kalau dikatain ‘Bodoh’, itu artinya pernyataan cintanya gagal, ‘kan.


Haruto menjatuhkan bahunya dan menundukkan wajah.


Ternyata benar, idol sekolah tak akan menerima pernyataan cinta dari siapa pun...


Pikiran seperti itu melintas di benak Haruto. Namun kemudian, kata-kata Ayaka selanjutnya menerobos masuk.


“...Bodoh... jangan bikin... salah paham begitu dong...”


“Eh? Salah paham?”


“Kupikir... aku sudah... dibenci... sama Haruto-kun.”


“Dibenci? Mana mungkin! Dari lubuk hatiku, aku benar-benar suka sama Ayaka!”


Mendengar kata-kata Ayaka, Haruto meninggikan suaranya, berusaha mati-matian mengutarakan perasaannya.


Mendengar itu, pipi gadis yang sedari tadi meneteskan butiran air mata besar itu tiba-tiba merona merah.


“...Aku juga... suka.”


Bersama hangatnya angin malam musim panas, kata-kata Ayaka yang seperti bisikan menyelimuti Haruto.


“Suka... Aku juga... suka banget sama Haruto-kun, lebih dari siapa pun!”


Melihat ekspresinya saat mengatakan itu, Haruto kehilangan kata-kata.


Senyuman yang terang dan menyilaukan bagaikan matahari yang bersinar di taman malam.


Matanya basah oleh air mata, berkilauan layaknya permata.


Sambil membiarkan pipinya basah oleh air mata, ekspresinya merekah seolah tak mampu menahan kebahagiaan yang meluap.


Senyuman Ayaka yang mengandung berbagai macam emosi itu terlihat lebih mempesona, lebih fantastis, bahkan terasa lebih mistis daripada senyuman mana pun yang pernah ia lihat sebelumnya.


Dalam sisa hidupnya nanti, apa pun yang terjadi, ekspresi Ayaka saat ini tak akan pernah ia lupakan.


Haruto yang benar-benar terpanana, meyakini hal itu di lubuk hatinya.


Ke telinganya, terdengar kata-kata Ayaka yang jernih dan nyaman, namun penuh dengan kehangatan.


“Haruto-kun, aku juga ingin menyampaikan sesuatu. Boleh?”


“Ung, tentu saja.”


Melihat gadis yang mempesona itu, Haruto mengangguk dengan otak yang setengah berhenti bekerja.


Wajah Ayaka memerah padam, namun matanya yang berkaca-kaca menatap Haruto dengan mantap. Suaranya berubah drastis dari yang tadinya terdengar rapuh, kini ia mengucapkan kata-kata dengan tekad yang lembut namun kuat.


“Jadikanlah aku kekasih aslimu.”



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close