Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 9
Menonton Kembang Api di Sisimu
Haruto selalu bangun lebih awal untuk belajar pagi-pagi. Kebiasaan itu sudah begitu mendarah daging dalam tubuhnya, sehingga di keesokan hari setelah menginap di kediaman Toujou pun, ia terbangun tepat saat fajar menyingsing.
Haruto perlahan duduk. Saat ia menoleh ke samping, ia mendapati Ryota yang sedang tidur telentang lebar, tangan dan kakinya merentang bebas membentuk huruf ‘X’.
“Ryota-kun memang beda. Posisi tidurnya sangat berani,” gumam Haruto sambil menyunggingkan senyum tipis. Ia mengambil handuk selimut yang teronggok kusut di kaki Ryota, membentangkannya, lalu menyelimuti perut bocah itu dengan lembut.
Agar tidak merusak wajah tidur Ryota yang tampak begitu pulas, Haruto keluar dari futon dengan gerakan seperlahan mungkin. Ia mengambil handuk kecil dan peralatan gosok gigi dari tasnya di sudut ruangan, lalu berjalan menuju wastafel di lantai satu.
Di tengah sisa-sisa rasa kantuk yang masih menggelayut, Haruto menyikat gigi sambil menatap kosong bayangannya sendiri di cermin. Wastafel keluarga Toujou sangat luas dengan dominasi warna putih yang elegan, benar-benar mencerminkan kemewahan rumah tersebut. Haruto merasa sedikit lebih segar saat membasuh wajah dengan air dingin, lalu mengeringkannya dengan handuk kecil yang ia bawa.
Setelah rasa kantuknya benar-benar sirna oleh dinginnya air, Haruto mengembuskan napas pendek, “Fuuu,” lalu mulai merapikan penampilannya di depan cermin. Saat itulah, ia menyadari sesuatu di sudut cermin: bercak putih kerak air yang samar.
“Eh? Ini...”
Haruto mendekatkan wajahnya pada kerak tersebut. Ternyata, ia menemukan beberapa titik kerak air lainnya.
“Hmm... tanganku gatal banget pengin bersihin,” gumamnya pelan.
Tanpa berlama-lama, Haruto segera mengeluarkan peralatan bersih-bersih dari bawah wastafel. Selama liburan musim panas, Haruto kerja sambilan jadi asisten rumah tangga di keluarga Toujou, jadi ia sudah sangat hafal seluk-beluk rumah ini.
Botol semprot yang kini ia genggam adalah cairan pembersih kerak air buatan sendiri berbahan dasar cuka, resep rahasia yang ia warisi langsung dari neneknya. Ia menyemprotkan cairan itu ke bagian yang berkerak, membiarkannya sejenak, lalu menyekanya dengan kain lap. Karena keraknya masih baru, noda-noda itu hilang dengan mudah tanpa perlu digosok kuat.
“Hehehe, rasakan kekuatan cairan pembersih spesial buatan Nenek,” gumam Haruto dengan senyum tipis yang penuh kemenangan di keheningan pagi itu.
Setelah cermin, “saklar” semangat bersih-bersih Haruto tampaknya sudah menyala sepenuhnya. Ia pun lanjut membersihkan seluruh area sekitar wastafel. Saat ia sedang puas memandangi wastafel yang sudah kinclong, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari belakang.
“Haruto-kun?”
Haruto menoleh dan mendapati Ayaka berdiri di sana dengan pakaian piyama.
“Ah, selamat pagi, Ayaka.”
“Selamat pagi... kamu lagi bersih-bersih?”
“Iya. Tadi pas gosok gigi, aku tak sengaja melihat kerak air di cermin dan jadi gatal pengin bersihin,” jawab Haruto sedikit malu-malu.
Ayaka menatap Haruto sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah wastafel yang kini tampak berkilauan.
“Bukan cuma cermin, semuanya jadi kinclong...”
“Sepertinya ‘saklar’ bersih-bersihku mendadak nyala tadi.”
“Fufu, saklar apa coba?” Ayaka tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangannya.
Melihat sosok Ayaka yang tertawa seperti itu, Haruto sempat terpana sejenak. Ayaka memakai piyama, sesuatu yang jarang ia lihat, memberikan kesan yang begitu lugu dan rentan. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit acak-acakkan khas bangun tidur, dengan sehelai rambut yang mencuat lucu di atas kepalanya.
Matanya yang besar dan memiliki lipatan kelopak mata yang indah kini tampak agak sayu karena masih terasa berat oleh kantuk, menciptakan aura yang lembut dan tenang. Melihat Ayaka yang masih setengah sadar seperti itu, rasa sayang yang amat dalam meluap di hati Haruto, hingga kata-katanya lolos begitu saja tanpa sadar.
“Ayaka, penampilanmu pas bangun tidur... manis banget, tahu.”
“Eh? ...Heh!?”
Wajah Ayaka sempat berekspresi bingung sesaat, namun sedetik kemudian wajahnya merona merah. Ia pun segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“J-Jangan! Jangan lihat!!”
“Loh? Kok nggak boleh?”
“Nggak boleh! Rambutku berantakan, aku juga belum cuci muka!”
“Tapi rambutmu yang sedikit berantakan itu justru nampak sangat menawan, loh.”
Mendengar itu, Ayaka mengintip dari celah jarinya dan mengerang pelan, “Uuuu...”
“Haruto-kun jahat...”
“Aku sama sekali nggak bermaksud jahat.”
Haruto terkekeh melihat Ayaka yang memerah hingga ke telinganya.
“Aku sungguh-sungguh berpikir kamu sangat manis. Tadi aku bahkan nyaris mau peluk.”
“............Benarkah?”
Gadis itu masih menyembunyikan wajahnya, namun tatapan matanya yang mengintip dari celah jari tampak begitu menggemaskan. Haruto mengangguk dengan senyum lembut.
“Iya, sungguh.”
“Uuu, kalau begitu... boleh. Kalau mau peluk.”
“Boleh, nih?”
“Tapi jangan lihat wajahku, ya.”
“Hmm, sayang banget, sih.”
Sambil berkata demikian, Haruto mendekat dan dengan lembut merengkuh Ayaka ke dalam pelukannya. Ayaka yang tadinya menutupi wajah segera membenamkan wajahnya di dada Haruto agar tidak terlihat, lalu melingkarkan kedua tangannya di punggung pemuda itu.
“Aku pengin lihat wajahmu sedikit saja.”
“Uuu~ nggak boleh.”
Ayaka menggelengkan kepalanya yang masih terbenam di dada Haruto. Haruto menyahut dengan nada sedih yang dibuat-buat mendengar penolakan manis itu.
“Begitu, ya... aku tidak mau melakukan hal yang tidak kamu sukai, jadi aku tidak akan memaksa, tapi...”
Haruto sedikit mempererat pelukannya.
“Sebagai pacar, kurasa wajar jika aku ingin melihat kekasihku yang cantik.”
Punggung Ayaka sedikit gemetar mendengar kata-kata itu.
“...Aku yang sekarang tidak cantik.”
“Di mataku, tidak pernah ada saat di mana Ayaka tidak cantik.”
“K-Kalau begitu, artinya Haruto-kun ngin melihatku setiap saat?”
“Aku tidak akan menyangkalnya.”
“Iih! Bego!”
Ayaka memukul-mukul punggung Haruto dengan kepalan tangan kecilnya. Haruto menerima serangan dengan “damage nol” itu dengan senang hati, sampai akhirnya gerakan tangan Ayaka berhenti.
“B-Bentar doang, ya? Cuma sekejap, oke?”
Setelah memastikan hal itu, Ayaka perlahan mengangkat wajahnya dari dada Haruto dan menatapnya. Dari jarak sedekat itu, Haruto menatapnya balik dengan senyum yang sangat lembut.
“Cantiknya.”
“S-Sudah! Selesai!!”
“Ah, sayang sekali,” ujar Haruto, meski nadanya tidak terdengar terlalu menyesal.
“Haruto-kun jahat banget, ih...”
Kembali membenamkan wajahnya di dada Haruto, sudut bibir Ayaka tak bisa berhenti menyunggingkan senyum lebar yang penuh kebahagiaan.
Setelah hatinya merasa terpuaskan karena bisa memeluk Ayaka di pagi hari, Haruto berdiri di dapur untuk menyiapkan sarapan sebagai tanda terima kasih karena telah diizinkan menginap.
Ia merendam potongan akar burdock ke dalam air, lalu mulai mengupas wortel dan mengirisnya tipis-tipis untuk membuat Kinpira Gobo. Di sampingnya, Ayaka yang menawarkan bantuan sedang menuangkan kaldu dashi dari wadah plastik ke dalam panci. Kaldu itu juga merupakan salah satu stok masakan yang dibuat Haruto saat ia bekerja sebelumnya.
[TLN: Kinpira Gobo adalah tumisan akar burdock (gobo) dan wortel ala Jepang yang renyah, gurih, dan sedikit manis.]
“Haruto-kun, isi sup misonya apa?”
“Hmm, bagaimana kalau bawang bombay dan aburaage?” jawab Haruto sambil menyiapkan terong sebagai pelengkap.
“Boleh, tuh. Bawang dan aburaage... emm, aburaage-nya ada di...”
Ayaka mengambil bawang dari lemari bawah, lalu mengintip ke dalam kulkas mencari aburaage tersebut.
[TLN: Aburaage adalah lembaran tahu tipis yang digoreng dua kali hingga berwarna cokelat keemasan.]
“Ah, aburaage-nya ada di freezer.”
“Yang ini?”
“Iya, benar yang itu.”
Ayaka mengeluarkan aburaage yang sudah diiris kecil-kecil dan dibekukan. Berkat pengalamannya bekerja di sana, Haruto benar-benar hafal isi kulkas keluarga Toujou.
“Apa perlu dicairkan dulu?”
“Tidak usah, langsung masukkan ke panci juga tidak apa-apa.”
“Siap.”
Sambil membiarkan Ayaka mengurus sup miso, Haruto menumis Kinpira Gobo dan memasukkan terong yang sudah disiapkan ke dalam microwave. Aroma khas akar burdock dan harumnya minyak wijen yang gurih mulai menyerbak dari wajan, membuat Ayaka yang sedang mengiris bawang tersenyum senang.
“Harumnya.”
“Sarapan masakan Jepang di pagi hari itu rasanya pas banget, ya.”
Di tengah percakapan itu, pasangan Toujou muncul di dapur.
“Ara! Ootsuki-kun, kamu sampai buatkan sarapan untuk kami?”
“Ini hanya tanda terima kasih kecil karena sudah diperbolehkan menginap. Saya juga menggunakan terong yang tersisa di laci sayur.”
“Aduh, Ootsuki-kun. Kamu tidak perlu sampai sungkan begitu, loh,” ujar Ikue dengan senyum penuh kegembiraan.
Di sampingnya, Shuuichi juga tampak sumringah melihat Kinpira Gobo buatan Haruto.
“Selamat pagi, Haruto-kun. Terima kasih sudah membuatkan sarapan!”
“Selamat pagi, Shuuichi-san. Sebentar lagi selesai, silakan duduk dan tunggu sebentar.”
Haruto menjawab ramah sembari mengeluarkan terong dari microwave, lalu merendamnya ke dalam kaldu dashi yang digunakan Ayaka tadi. Tak lama kemudian, Ryota datang ke ruang makan dengan mata yang masih tampak mengantuk.
“Ah, Onii-chan ada di sini...” gumam Ryota saat melihat Haruto di dapur.
“Onii-chan bangun jam berapa? Aku juga pengin bangun bareng Onii-chan.”
“Maaf, ya. Lain kali, aku akan bangunin kamu juga,” ucap Haruto lembut.
Wajah Ryota tampak sedikit tidak puas karena saat ia bangun, Haruto sudah tidak ada di sampingnya. Melihat itu, Ayaka yang sedang menuangkan sup miso ke mangkuk menegur adiknya.
“Ryota, sarapan sudah hampir siap. Cepat cuci muka dan sikat gigi.”
“Oh iya, Ayaka. Hari ini kamu jadi pergi melihat kembang api dengan Ootsuki-kun, ‘kan?” tanya Ikue sambil duduk di meja makan.
“Iya, jadi.”
“Bagaimana dengan yukata-mu? Mau pakai punyaku?”
“Eh? Boleh?”
“Boleh, dong. Kamu harus pakai berbagai macam yukata untuk terus memikat hati Ootsuki-kun, ‘kan?”
“I-Iya, sih. Tapi jangan bicara blak-blakan di depan orangnya, dong. Kan malu!”
Ayaka menyahut dengan pipi merona, sesekali melirik Haruto.
Pada hari festival kembang api yang sempat tertunda karena hujan sebelumnya, Ayaka sebenarnya sudah memperlihatkan yukatanya saat Haruto mengadakan festival di rumah. Awalnya Ayaka berniat memakai yukata yang sama hari ini. Namun, Ikue merasa itu akan cepat bikin jenuh, maka ia menawarkan miliknya.
Melihat reaksi manis putrinya, Ikue tersenyum geli, lalu tiba-tiba menepuk tangannya seolah mendapat ide cemerlang.
“Ah, benar juga! Ootsuki-kun, kamu punya jinbei?”
“Eh? Tidak, saya tidak punya.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau pinjam punyanya Shuuichi-san?” ujar Ikue sambil menoleh ke suaminya.
“Ooh! Boleh, tuh! Ukuran tubuh Haruto-kun tidak jauh berbeda denganku, jadi pasti pas!” sahut Shuuichi yang langsung menangkap maksud istrinya dengan antusias.
“Eh? Apa boleh?”
“Tentu saja! Tapi dengan satu syarat, boleh?”
“Iya, apa itu?” Haruto sedikit memiringkan kepalanya bingung.
“Syaratnya adalah... sepulang dari festival, kamu harus antar Ayaka sampai depan pintu rumah.”
“Eh? Hanya itu syaratnya?”
Haruto mengira akan diminta membelikan makanan festival seperti takoyaki atau yakisoba. Namun, di luar dugaan, syarat Shuuichi adalah sesuatu yang memang sudah jadi kewajibannya.
“Umu. Bisa janji?”
“Tentu saja. Saya akan sepenuhnya bertanggung jawab untuk mengantar Ayaka-san sampai rumah dengan selamat.”
Bagi Haruto, mengantar kekasihnya pulang adalah kewajiban mutlak. Apalagi Ayaka yang tadinya sudah sangat cantik akan berdandan dalam balutan yukata; entah gangguan macam apa yang mungkin muncul di jalanan. Tanpa syarat dari Shuuichi pun, Haruto memang berniat menjaga dan mengantar Ayaka hingga sampai ke rumahnya.
“Bagus, bagus! Hahaha, aku menantikannya!”
“Eh? Ah, iya.”
Haruto agak bingung melihat Shuuichi yang mendadak sangat bersemangat, begitu pula Ikue yang tampak sangat ceria.
“Baiklah, setelah sarapan selesai, akan kupinjamkan jinbei-nya.”
“Terima kasih banyak.”
Meski tidak terlalu memahami reaksi pasangan Toujou, Haruto mengucapkan terima kasih dan mulai menata hidangan sarapan yang telah selesai di atas meja.
※
Langit mulai merona jingga, perlahan merayap menuju kegelapan malam. Namun, kontras dengan datangnya malam, jalan yang dilalui Haruto justru benderang oleh deretan lampion dari kedai-kedai pinggir jalan yang berjajar di kedua sisi. Suara riuh para pedagang yang menjajakan dagangan terdengar dari segala penjuru, bersahut-sahutan di tengah lautan manusia yang memadati jalanan.
Ini adalah festival kembang api terbesar di kota tempat tinggal Haruto. Meski sempat tertunda karena hujan, akhirnya festival ini bisa dilaksanakan di hari lain. Haruto berjalan berdampingan dengan sahabatnya, Tomoya, sambil mengunyah sate karaage untuk mengganjal perut.
“Satu tusuk empat ratus yen... harganya gila juga ya,” gumam Haruto sambil menatap tusukan kayu di tangannya.
“Empat ratus yen itu sudah termasuk biaya suasana, tahu. Itu namanya harga festival,” sahut Tomoya.
“Yah, benar juga, sih.”
Haruto melirik tusukan karaage-nya yang sudah kosong, lalu melemparkannya ke tempat sampah di pinggir jalan.
“Ngomong-ngomong, ramai sekali, ya.”
“Iya. Cuma jalan saja sudah bikin capek,” jawab Haruto sambil mengangkat bahu menanggapi kekaguman Tomoya.
Hari ini ia berencana menonton kembang api bersama Ayaka. Jika bukan karena itu, Haruto jelas ogah bersusah payah datang ke tengah kerumunan sehebat ini. Haruto menoleh ke arah Tomoya yang sedang asyik makan takoyaki sambil memandangi orang-orang yang lewat, lalu mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih, ya.”
“Hmm? Terima kasih untuk apa?”
“Karena sudah mau menemaniku ke festival ini.”
Awalnya, Haruto berencana untuk langsung berangkat dengan Ayaka. Namun, jika ada anak sekolah yang melihat mereka berdua, rahasia hubungan mereka pasti akan terbongkar. Akhirnya diputuskanlah Haruto akan pergi dengan Tomoya, sementara Ayaka dengan Saki. Nanti mereka akan “secara tidak sengaja berpapasan” di lokasi.
“Ooh, jelas. Berterimakasihlah padaku.”
“Iya, iya, Tomoya-sama.”
“Ngomongnya lebih ikhlas, dong!”
Tomoya terkekeh mendengar jawaban asal-asalan Haruto.
“Lagipula, kalau ikut denganmu, aku juga jadi bisa lihat Toujou-san pakai yukata,” tambah Tomoya.
“Jadi itu tujuanmu?”
“Iya, lah! Kalau bukan karena itu, buat apa aku pergi ke festival kembang api cuma sama cowok dekil sepertimu?”
Haruto balas terkekeh mendengar deklarasi percaya diri sahabatnya itu. Meski mulutnya berkata demikian, Haruto tahu Tomoya adalah sahabat yang sangat pengertian, dan ia kembali berterima kasih dalam hati. Mereka berdua kemudian menepi di pinggiran jalan yang agak sepi dari kerumunan, menunggu Ayaka dan Saki tiba.
“Toujou-san dan yang lain sudah sampai di lokasi belum?”
“Hmm, sebentar... ah, sepertinya mereka lagi otw ke sini,” jawab Haruto setelah mengecek pesan dari Ayaka.
Karena skenarionya adalah tidak sengaja berpapasan, mereka tidak menentukan titik pertemuan yang terlalu mencolok.
“Omong-omong, Aizawa-san bakal pakai yukata juga nggak, ya?”
“Mungkin? Soalnya Ayaka bilang begitu tadi.”
Haruto mengingat saat Ayaka bilang, “Jadi nggak sabar lihat Saki pakai yukata,” di kediaman Toujou tadi pagi.
“Eh, bentar. Haru, bukannya kamu nggak punya jinbei?”
“Iya. Ini hasil pinjam dari Shuuichi-san, ayahnya Ayaka.”
“Wah... sehebat apa kamu sudah mengambil hati keluarga Toujou?”
Haruto hanya bisa membalas dengan senyum kecut melihat reaksi Tomoya yang antara kagum dan heran. Tomoya juga memakai jinbei hari ini, membuat mereka berdua tampil serasi dengan tema festival musim panas. Tomoya menusuk bola takoyaki terakhirnya, lalu kembali bicara dengan santai.
“Jadi aku bisa melihat Aizawa-san pakai yukata juga, ya... ini benar-benar hal yang patut dinanti, ya kan Haru-san?”
“Hmm? Ah... mungkin saja.”
“Reaksi macam apa itu! Jangan-jangan kamu mau bilang kalau di duniamu cuma pacarmu saja yang cantik?”
“Benar sekali. Bagiku tak ada wanita yang lebih cantik dari Ayaka.”
Melihat Haruto yang menjawab dengan ekspresi sangat serius dan tanpa ragu, wajah Tomoya langsung berubah aneh. Gumaman “Huek” bahkan lolos dari bibirnya.
“Ah iya, terserah. Selamat ya yang sudah punya pacar paling cantik di dunia.”
“Iya, terima kasih atas ucapannya.”
“Meledak saja sana!”
Tomoya segera melontarkan ejekan tajam saat Haruto mulai pamer kemesraannya. Di tengah candaan itu, tiba-tiba seseorang memanggil mereka.
“Hai, kalian cuma berdua?”
Saat Haruto menoleh, ia melihat dua orang wanita yang tampak lebih tua darinya sedang tersenyum ke arah mereka.
“Kalau cuma berdua, bagaimana kalau nonton kembang api bareng kami?”
Dilihat dari penampilannya, mungkin mereka mahasiswi. Kejadian seperti ini, yang biasa disebut ‘digoda cewek’ terkadang dialami Tomoya. Sahabatnya itu memang tampan dan entah kenapa punya aura yang disukai oleh wanita yang lebih tua.
“Ah, maaf. Kami sedang menunggu orang,” jawab Tomoya dengan senyum ramah yang biasanya sangat ampuh meluluhkan hati para wanita.
Haruto memperhatikan wanita satunya yang tidak bicara, namun saat mata mereka tidak sengaja bertemu, wanita itu segera membuang muka dengan panik dan menarik tangan temannya.
“Pergi aja, yuk! Anak-anak ini pasti sudah punya pacar! Jangan ganggu mereka!”
“Yah, sayang banget! Padahal tipeku banget,” ujar wanita yang pertama menyapa sambil memberikan tatapan terakhir pada Haruto dan Tomoya.
Haruto merasa seperti tikus yang sedang diincar burung pemangsa.
“Ahaha...”
Haruto hanya bisa tertawa kaku untuk mencairkan suasana. Pada saat itulah, suara yang sangat ia kenal terdengar dari kejauhan.
“Haruto-kun!”
Di sana tampak Ayaka dan Saki menghampiri. Ayaka mengenakan yukata milik Ikue, berwarna dasar putih dengan motif ikan koki merah cerah yang sangat indah. Ia berjalan cepat, nyaris berlari kecil tanpa merusak tatanan yukatanya, dan langsung menggandeng lengan Haruto dengan erat.
“Maaf ya Haruto-kun, sudah menunggu!”
“Ah, iya. Tidak apa-apa, aku belum menunggu lama, kok.”
Haruto sedikit terkejut dengan suara Ayaka yang agak keras, seolah sengaja ingin memamerkan hubungan mereka pada orang di sekitar. Ayaka tersenyum manis, namun entah kenapa Haruto merasakan aura yang sama seperti saat Ryota mengejek perutnya tempo hari.
Sambil tetap tersenyum manis, Ayaka melirik ke arah dua wanita mahasiswi tadi.
“Haruto-kun, mereka siapa?”
“Ah, itu, mereka tadi cuma menyapa karena kebetulan lewat...”
Haruto berusaha menjelaskan situasinya setelah menyadari penyebab aura intimidasi Ayaka. Namun sebelum selesai menjelaskan, wanita mahasiswi tadi justru berseru heboh.
“Eh!? Tunggu!? Jadi gadis ini pacarmu!?”
“Iya, benar sekali,” jawab Haruto.
“Uwah!! Pacarmu imut banget!! Pasangan macam apa ini, benar-benar memanjakan mata! Luar biasa!!”
Wanita itu berceloteh dengan nada bicara yang sangat cepat dan antusias.
“Hei kamu!! Kalau punya pacar semanis ini bilang dong dari tadi!! Wah, ini jauh lebih hebat dari kembang api manapun! Benar-benar pemandangan yang indah! Terima kasih, ya!!”
Setelah berkata demikian, wanita itu pergi dengan penuh semangat, disusul temannya yang mengejar dengan tergesa-gesa.
“Orang-orang itu pada kenapa, sih...?”
Haruto termangu bingung. Tak lama kemudian, Saki pun tiba di depan mereka.
“Halo, Ootsuki-kun, Akagi-kun.”
Berbeda dengan Ayaka yang bernuansa putih-merah, yukata Saki berwarna dasar ungu pucat dengan motif bunga ajisai. Saki menatap Haruto dan Tomoya dengan ekspresi sedikit mengejek.
“Tadi itu kalian sedang diajak kenalan, ya?”
“Hehehe, jadi pria tampan memang berat,” seloroh Tomoya sambil menyisir poni depannya dengan gaya berlebihan.
“Aku cuma keseret-seret Tomoya saja,” sahut Haruto sambil menunjuk sahabatnya.
“Hmm, begitu ya. Jadi sebab itu Ayaka masuk mode siaga penuh untuk menjaga pacar berharganya?”
“Aku tidak sedang siaga, kok?” sahut Ayaka tetap dengan senyum manisnya.
Namun bagi Haruto, senyum Ayaka justru membuatnya merasa harus berdiri tegak karena aura intimidasi yang kuat. Saki menghela napas melihat sahabatnya yang masih memeluk erat lengan Haruto.
“Iya deh, bukan siaga. Mumpung sudah kumpul dan masih ada waktu sebelum kembang api dimulai, bagaimana kalau kita keliling kedai dulu?”
“Setuju! Aku lapar banget!” seru Tomoya.
“Kamu kan tadi sudah makan sate cumi, omusoba, sama takoyaki? Masih lapar juga?”
“Perut anak SMA tidak akan kenyang cuma dengan itu, tahu!”
“Eh? Aku juga pengin makan sate cumi,” sela Saki menanggapi Tomoya. Diikuti oleh Ayaka yang mendongak menatap Haruto.
“Aku juga pengin makan sesuatu.”
“Baiklah. Ayo kita keliling kedai.”
“Ayo! Aizawa-san, tadi aku lihat ada sate daging sapi di sebelah sana, mau coba?”
“Boleh, kedengarannya enak.”
Sambil berbincang seru, mereka berempat mulai menjelajahi deretan kedai. Selain makanan, mereka juga menikmati berbagai permainan festival seperti menyerok ikan koki dan permainan menembak.
※
Ayaka masih memeluk lengan Haruto sambil memakan permen kapas dengan gigitan kecil-kecil di tangan satunya. Melihat itu, Haruto tersenyum lembut dan bertanya.
“Enak?”
“Iya. Haruto-kun mau?”
“Minta sedikit.”
“Boleh, nih.”
Ayaka mengarahkan permen kapasnya ke mulut Haruto.
“Enak?”
“Manis.”
“Fufu, mau lagi?”
“Boleh.”
Ayaka menyuapi Haruto dengan ekspresi yang sangat bahagia. Beberapa langkah di belakang mereka, Saki yang sedang memakan hotdog keju hanya bisa tersenyum pahit.
“Lihat Ayaka, wajahnya sampai mabuk kepayang begitu. Secinta apa sih dia sama Ootsuki-kun?” gumam Saki sambil mengunyah keju yang molor.
Di sampingnya, Tomoya yang sedang lahap memakan american dog menatap Saki dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Hei, Aizawa-san. Kita datang bareng mereka supaya kalau ada anak sekolah yang lihat, kita punya alasan untuk mereka, ‘kan?”
“Iya, benar.”
“Tapi melihat mereka sekarang, kayaknya keberadaan kita sudah nggak ada artinya lagi ya?”
“Setuju banget.”
Melihat aura “dunia milik berdua” yang dipancarkan pasangan itu, kedua sahabat mereka hanya bisa mengangguk pasrah.
“Yah, kalau cowok lain lihat betapa mesranya mereka, pasti mereka bakal langsung nyerah,” ujar Saki.
Bahkan Saki yang sudah berteman sejak SD dengan Ayaka pun merasa jarang melihat sahabatnya tersenyum sebahagia ini. Laki-laki normal manapun pasti akan sadar bahwa tidak ada celah bagi mereka.
“Masalahnya ada pada para cewek.”
“Kenapa? Apa semengkhawatirkan itu?”
“Ootsuki-kun itu diam-diam punya banyak fans, loh.”
“Hmm, yah, Haru memang anak yang baik, sih.”
“Peringkat satu di angkatan juga faktor yang cukup mencolok.”
“Benar juga.”
“Aku hanya berharap tidak ada cewek yang iri berlebihan saat melihat mereka berdua nanti.”
Ayaka punya trauma masa SMP di mana hubungan pertemanannya rusak gara-gara ditembak laki-laki. Saki yang mengetahui kejadian itu merasa khawatir hal serupa terulang.
“Tapi, kurasa mereka berdua akan baik-baik saja dan tetap bahagia apapun yang terjadi,” ujar Tomoya optimis.
Mendengar itu, Saki sedikit lebih tenang dan tersenyum.
“Mungkin saja. Bagaimana kalau kita memisahkan diri dari mereka sekarang?”
“Ide bagus. Terlalu lama dekat mereka bisa bikin dadaku sesak karena iri.”
“Ahaha, Akagi-kun benar juga.”
Sambil tertawa menanggapi candaan Tomoya, mereka berdua mulai melambatkan langkah dan menjaga jarak dari Haruto dan Ayaka. Tak lama kemudian, dinding kerumunan manusia memisahkan mereka hingga punggung Haruto dan Ayaka tak lagi terlihat.
Setelah berhasil memisahkan diri, Tomoya bertanya.
“Nah, sekarang kita mau ngapain?”
“Emm... karena sudah terlanjur di sini, bagaimana kalau kita lanjut keliling kedai?”
“Ayo.”
Karena tujuan awal mereka menemani sahabat masing-masing sudah tercapai, Tomoya dan Saki memutuskan untuk menikmati festival tersebut untuk diri mereka sendiri.
“Aizawa-san, mau coba makan doteni, nggak?”
“Ah, aku penasaran dengan itu!”
[TLN: Doteni adalah hidangan khas Nagoya berupa rebusan jeroan sapi yang dimasak perlahan dalam campuran miso merah, mirin, dan gula hingga teksturnya lembut dan kuahnya kental.]
Mereka berdua pun lanjut berkeliling dan mencicipi berbagai makanan festival yang jarang mereka makan sehari-hari. Saki yang tampak puas berjalan setelah kenyang makan. Tomoya meliriknya sejenak, lalu bertanya dengan santai.
“Aizawa-san, setelah ini kamu mau nonton kembang api?”
“Hmm... iya. Sayang kalau nggak nonton.”
“Kalau begitu, mau nonton bareng?”
“......Boleh juga.”
Setelah jeda sejenak, Saki menjawab sambil tetap menatap lurus ke depan.
“Oke! Ayo kita cari tempat yang bagus!”
“Oke.”
Saki mengikuti langkah Tomoya yang tampak bersemangat.
“Ah, omong-omong, yukatamu sangat cocok, loh.”
“Fufu, telat banget mujinya! Potong sepuluh poin!”
“Ketatnya~”
Di tengah percakapan riang itu, Tomoya dan Saki berjalan berdampingan dengan akrab.
※
Haruto memandangi deretan kedai yang ramai sebelum menundukkan kepalanya menatap lengan kirinya. Sejak mereka bertemu tadi, lengannya selalu didekap erat oleh Ayaka.
“Ayaka? Bagaimana kalau jalannya agak jauhan dikit?”
“Emoh. Nanti kalau terpisah di kerumunan bagaimana?”
Ayaka langsung menolak usul Haruto dan malah semakin mempererat pelukannya pada lengan pemuda itu.
“Selain itu... nanti kalau ada wanita lain yang mengajakmu kenalan lagi bagaimana...” gumamnya pelan sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
“Itu kan karena tadi aku bareng Tomoya,” sahut Haruto lembut dengan senyum tipis.
Ayaka menatap Haruto lekat-lekat, lalu menjalin jemari tangan kanannya dengan tangan kiri Haruto, dan berbisik pelan.
“......Nggak bakal kulepas.”
Gadis itu ngambek dengan tingkah yang agak kekanak-kanakan. Haruto merasa ia sangat menggemaskan, namun ia juga merasa resah karena jika mereka dilihat anak sekolah dalam kondisi begini, bantuan Tomoya dan Saki jadi tidak ada gunanya.
“Padahal Aizawa-san dan Tomoya sudah susah-susah datang supaya kita punya alasan, kalau terlihat dalam posisi begini sih bakal langsung ketahuan dalam sekali lihat. Iya kan, Tomo—eh?”
Haruto menoleh ke belakang untuk meminta persetujuan sahabatnya. Namun, baik Tomoya maupun Saki sudah tidak ada di sana. Haruto segera menyadari bahwa mereka sengaja memberi ruang bagi mereka berdua, dan ia berterima kasih dalam hati atas pengertian sahabatnya itu.
“Eh? Saki nggak ada?”
Ayaka ikut menoleh dan celingukan mencari.
“Sepertinya mereka sengaja membiarkan kita berdua saja.”
“Begitu, ya. Nanti aku harus berterima kasih pada Saki. Juga pada Akagi-kun.”
“Iya. Masih ada waktu sebelum kembang api dimulai, bagaimana kalau kita mulai mencari tempat buat nonton?”
“Ayo, nanti tempatnya keburu penuh.”
Haruto dan Ayaka berjalan sambil bergandengan tangan menuju lokasi utama. Kembang api akan diluncurkan di area sungai yang luas, jadi tempat terbaik untuk menonton adalah di bantaran sungai tersebut.
“Padahal masih sejam lagi, tapi sudah ramai orang ya,” ujar Ayaka sambil memakan es serut yang baru dibelinya.
“Semua orang mikirnya sama. Ah, di sebelah sana masih kosong, ayo ke sana.”
Haruto menunjuk ke arah rerumputan hijau di bantaran sungai. Ia menuntun tangan Ayaka menuruni tangga tanah dengan perlahan, lalu membentangkan tikar plastik kecil yang ia simpan di dalam tas kainnya.
“Untung tadi sempat pinjam ini dari Shuuichi-san,” ujar Haruto sambil menatap tas kainnya.
“Iya, ya. Yukata atau jinbei memang sangat manis dan punya suasana tersendiri, tapi sulit untuk bawa barang. Tidak ada sakunya juga,” sahut Ayaka sambil menggoyangkan tas serut motif ikan kokinya. “Ini saja cuma muat HP dan barang kecil.”
“Tapi kalau pakai ransel, suasana festivalnya jadi hilang, ‘kan?”
“Betul sekali.”
“Kita harus berterima kasih pada Shuuichi-san karena sudah meminjamkan tas kain ini.”
“Terima kasih, Papa,” gumam Ayaka.
Mereka berdua duduk berdampingan di atas tikar. Karena tikarnya cukup kecil, bahu mereka saling menempel satu sama lain.
“Masih ada waktu ya sebelum dimulai.”
“Berapa lama lagi?”
“Emm, sekitar tiga puluh menitan lagi.”
Setelah Haruto mengecek waktu di ponselnya, Ayaka menyahut, “Berarti kita bisa santai-santai dulu ya,” sambil menyandarkan berat tubuhnya dengan lembut pada bahu Haruto.
Haruto merasakan kehangatan yang amat menenangkan dari beban tubuh Ayaka.
“Ayaka, es serutnya enak?”
“Iya, enak. Ah, mau main tebak rasa?”
Ayaka menatap Haruto seolah teringat sesuatu.
“Mana mungkin lah, dari warna sirupnya saja sudah kelihatan. Itu rasa stroberi, ‘kan?” Haruto terkekeh melihat warna es yang merona merah muda.
“Belum tentu, loh!” Ayaka membantah dengan bibir sedikit mengerucut. “Bisa saja ini rasa melon tapi warnanya stroberi!”
“Untuk apa ada gimmick kayak begitu?”
Haruto tertawa mendengar bantahan paksa Ayaka. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ayaka dan berbisik pelan.
“Atau, kamu memang ingin main tebak rasa ‘yang itu’ di sini?”
“J-Jangan di sini...!”
Ayaka merona merah, menundukkan kepala, lalu menyendok es serut dan menyuapkannya ke mulut Haruto.
Haruto memakannya dengan lahap dan menegaskan.
“Iya, ini pasti rasa stroberi.”
“Benar. Hadiahnya satu suapan lagi.”
“Aam.”
Mereka berdua berbagi satu cup es serut dengan mesra di tengah kerumunan. Tak lama kemudian es serut itu habis, dan mereka berdua hanya terdiam sambil menatap langit malam dan suasana sekitar.
Haruto merenungkan betapa banyak perubahan yang terjadi dalam hubungan mereka sejak pertama kali bertemu. Ia menoleh menatap profil wajah Ayaka dari samping. Di sela menunggu kembang api dimulai, tidak ada topik pembicaraan khusus, namun Haruto tidak merasakan kecanggungan sedikit pun. Meski tanpa kata, meski hanya diam berdampingan, hatinya terasa terpuaskan dan damai. Ada rasa aman yang luar biasa karena ia tidak perlu bersusah payah mencari topik pembicaraan jika sedang bersama Ayaka.
“Hmm? Ada apa, Haruto-kun?” tanya Ayaka yang menyadari tatapan Haruto.
“Tidak, aku hanya berpikir betapa cantiknya dirimu dalam balutan yukata. Yukata yang sebelumnya juga bagus, tapi yang hari ini manis banget.”
“Fufu, terima kasih. Haruto-kun juga kelihatan gagah banget pakai jinbei. Aku jadi jatuh cinta lagi, loh.”
Ayaka membalas pujian Haruto dengan senyum ceria. Mereka kembali terdiam dalam keheningan yang membahagiakan, menanti detik-detik kembang api meluncur ke angkasa.
“Jadi nggak sabar nunggu kembang apinya.”
“Iya. Pasti akan sangat indah.”
“Ung.”
Ayaka mengangguk senang, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Haruto dengan manja.
“Kembang api yang kutonton bersamamu pasti akan jadi yang terindah.”
Mendengar kata-kata semanis itu, Haruto melingkarkan lengan kirinya di punggung Ayaka, merangkulnya dengan lembut.
※
Papa dan Mamaku sangat rukun.
Mungkin, mereka jauh lebih mesra dibanding pasangan pada umumnya.
Sebagai anak, tentu aku senang orang tuaku akur, tapi terkadang aku jadi risih sendiri kalau lihat mereka sedang asyik bermesraan.
Namun, karena tumbuh dengan melihat mereka seperti itu, sejak kecil aku selalu bermimpi bertemu seseorang yang hebat dan jatuh cinta. Lalu menjadi kekasihnya, semakin mencintainya, menikah, dan membangun keluarga yang harmonis seperti Papa dan Mama. Bahkan saat sudah jadi kakek-nenek keriput pun, kami tetap bergandengan tangan saat jalan-jalan sore.
Aku ingin bertemu orang seperti itu. Keinginan itu selalu ada dalam hatiku.
Namun kenyataannya tak semudah itu. Aku sulit sekali menemukan orang yang membuatku berpikir ‘Dialah orangnya!’.
Setelah merasakan sendiri apa itu jatuh cinta, aku baru tahu bahwa mengungkapkan perasaan adalah tindakan yang sangat berani. Karena itu, aku menghormati orang-orang yang pernah menyatakan cinta padaku. Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang membuatku merasa bisa membangun hubungan seperti Papa dan Mama.
Sampai akhirnya aku meminta bantuan jasa asisten rumah tangga di libur musim panas.
Ootsuki Haruto-kun. Laki-laki dengan kemampuan rumah tangga luar biasa yang selalu membuatkan masakan enak. Laki-laki yang lembut, tenang, dan memiliki aura dewasa. Cinta pertamaku yang kutemui di musim panas ini. Dan sekarang, dia adalah pacarku.
“Sebentar lagi akan dimulai, ya,” ucapku sambil bersandar di bahunya.
“Katanya kembang api kali ini terdiri dari dua bagian,” sahut Haruto-kun.
“Oh ya?”
“Iya, lihat ini.”
Haruto-kun memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan situs resmi festival kembang api.
“Bagian pertama adalah kembang api tradisional, dengan fokus utama pada Shakudama.”
“Apa itu Shakudama?”
“Sepertinya itu istilah ukuran bola kembang api. Ukurannya mulai dari nomor 2,5 sampai 40. Bola nomor 10 itu ukurannya tepat satu shaku, makanya disebut Shakudama.”
Haruto-kun menjelaskan hasil pencariannya padaku.
“Oalah.”
“Satu shaku itu kalau tidak salah sekitar 30 cm, jadi cukup besar, ya.”
Haruto-kun mencoba mengira-ngira ukuran 30 cm dengan jari telunjuknya. Melihat profil wajahnya itu, pipiku rasanya meleleh karena tak bisa berhenti tersenyum.
Haruto-kun tidak hanya pandai mengurus rumah, dia juga pintar pelajaran sekolah. Nilainya peringkat satu di angkatan, tapi dia tidak pernah pamer. Sungguh, dia adalah sosok yang terlalu mempesona untukku. Sampai sekarang pun aku masih sulit percaya bahwa laki-laki sehebat ini adalah pacarku.
Saat aku terus menatap wajahnya, Haruto-kun menyadari tatapanku dan menoleh, “Hmm?”. Hanya dengan bertatapan mata saja, dadaku sudah dipenuhi rasa puas dan kebahagiaan.
“Lalu, bagian kedua seperti apa?” tanyaku.
“Emm, bagian kedua adalah perpaduan kembang api dan musik. Katanya kembang api dan sinar laser akan menghiasi langit mengikuti irama lagu.”
“Wah! Pasti indah banget! Jadi nggak sabar!”
“Iya.”
Haruto-kun mengangguk dan tersenyum lembut padaku.
Aku sungguh bersyukur bisa mengenalnya.
Aku kembali menyandarkan kepala di bahunya, merenungi segalanya. Di awal libur musim panas, aku ingin memuji diriku sendiri karena sudah berani mengajaknya nonton film. Juga saat aku gencar pepetin dia dengan alasan ‘latihan pacaran’. Berkat itu semua, sekarang aku bisa menonton kembang api di sebelah Haruto-kun yang amat kucintai.
Rasanya benar-benar kayak dalam mimpi...
“Lihat Haruto-kun! Itu bentuk love! Ah, yang itu bentuk kupu-kupu! Hebatnya!”
Kembang api dengan berbagai bentuk menghiasi langit. Ada juga yang berbentuk karakter populer, membuat Haruto-kun berkomentar dengan kagum.
“Kembang api zaman sekarang hebat, ya. Bagaimana mereka bisa membuat bentuk serumit itu? Apakah pakai software penghitung khusus? Atau itu murni keahlian pengrajinnya?”
Melihatnya bergumam “Hmm” dengan serius di sampingku, aku tak tahan untuk tidak tertawa.
“Haruto-kun mau coba jadi pengrajin kembang api?”
“Ehh, sepertinya aku lebih suka menonton daripada membuatnya.”
Mendengar jawabannya, aku terkekeh. Padahal, aku ingin lihat Haruto-kun pakai baju happi dan ikat kepala khas pengrajin.
Saat kami asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar dentuman yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Getarannya terasa hingga ke perut, disusul dengan mekarnya kembang api raksasa yang memenuhi seluruh pandangan di langit malam.
“Wah! Indahnya!”
“Besar banget, ya. Mungkin itu yang disebut Shakudama.”
Berbagai kembang api besar yang berwarna-warni terus meluncur satu demi satu. Intensitasnya semakin meningkat hingga akhirnya mencapai puncak: Starmine. Ribuan butiran cahaya meluncur tanpa henti, menerangi seluruh area bantaran sungai hingga benderang. Suara ledakan cahaya yang bertubi-tubi sungguh memukau.
Terpukau oleh pemandangan yang luar biasa itu, aku hanya bisa menatap langit yang bercahaya.
“Wah...”
“Luar biasa...”
Di sampingku, Haruto-kun juga menatap kembang api itu dengan mulut sedikit terbuka. Bagian penutupnya adalah ledakan serentak yang membuat suasana sekitar menjadi terang benderang layaknya siang hari. Sorak sorai “Waaah!” dan tepuk tangan meriah membahana dari arah penonton.
Aku menoleh ke arah Haruto-kun dengan penuh semangat.
“Tadi itu keren banget, ya!”
“Iya, sangat indah.”
“Aku sampai terharu.”
Di sekitar kami juga terdengar suara-suara kagum seperti “Gila, keren abis!” atau “Luar biasa!”. Di tengah sisa-sisa keindahan Starmine, aku mengalihkan pandangan dari asap kembang api yang mengepul di langit ke arah Haruto-kun. Dia masih menatap langit dengan tatapan kosong.
“Fufu, Haruto-kun juga terharu ya?”
“Eh? Ah, iya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menonton kembang api dengan sungguh-sungguh.”
“Benarkah?”
“Waktu kecil aku sering menonton dengan antusias, tapi setelah besar aku lebih sering menikmati jajanan kedai daripada kembang apinya.”
“Jadi prinsipmu ‘lebih pilih pangsit daripada bunga’ ya,” ujarku yang disambut tawa olehnya. Tak lama kemudian, musik mulai terdengar.
“Ah, sepertinya bagian kedua dimulai.”
“Sepertinya begitu.”
Kami kembali menatap langit bersama. Bagian kedua festival ini menampilkan kembang api yang meluncur mengikuti lagu populer, diiringi sinar laser yang menari-nari di langit malam.
“Lagunya enak, ya.”
Lagu yang digunakan sebagai BGM kembang api adalah lagu yang sedang tren dan aku sangat menyukainya. Tapi, sepertinya Haruto-kun tidak mengetahuinya.
“Ini lagu baru?” tanyanya.
“Iya. Eh? Haruto-kun nggak tahu? Padahal sering diputar di minimarket, loh.”
“Ah, kalau dipikir-pikir melodinya terasa akrab di kuping.”
Haruto-kun ternyata agak buta soal tren ya?
Kalau dipikir-pikir, aku belum tahu musik apa yang dia sukai.
Bukan hanya musik. Makanan favoritnya. Seleranya. Hal yang dia benci atau tidak sukai. Olahraga favorit atau hobi yang sedang ditekuninya. Acara TV kesukaannya, apakah dia suka komedi atau tidak.
Aku masih tidak tahu banyak tentangnya.
Saat memikirkan itu, setitik rasa kesepian muncul di hatiku. Namun, rasa itu segera berganti dengan debaran jantung yang penuh semangat. Aku sudah jadi pacarnya. Jadi, mulai sekarang kami bisa menghabiskan waktu bersama dan mempelajari itu satu per satu.
Aku teringat kata-kata Saki saat aku curhat padanya dulu.
‘Bukankah karena kamu tidak tahu, makanya kamu jadi jatuh cinta?’
Saat aku baru pertama kali jatuh cinta pada Haruto-kun dan bingung kenapa aku menyukainya, Saki bilang begitu.
Karena tidak tahu, maka ingin tahu. Dan saat mengetahui sisi barunya, aku akan semakin jatuh cinta.
Aku masih belum tahu banyak soal Haruto-kun. Artinya, aku masih punya banyak ruang untuk semakin mencintainya. Memikirkan itu membuat dadaku berdegup kencang. Kebahagiaan mekar di hatiku seperti kembang api di depanku.
“Ternyata hari-hari yang kujalani jauh lebih bahagia dari kubayangan...” gumamku pelan sambil menyandarkan seluruh berat tubuhku padanya.
Seketika, ia merangkul bahuku dengan lembut.
Aku mengalihkan pandangan dari langit penuh cahaya dan menatap Haruto-kun.
“Haruto-kun.”
“Hmm?”
“Tahu nggak, saat pertama kali kita kencan nonton film dulu, aku merasa itu adalah hari paling bahagia dalam hidupku.”
“Benarkah?”
“Iya! Karena itu pertama kalinya aku bergandengan tangan dengan orang yang kusuka. Malamnya, aku tidur sambil memegangi tangan kiriku seperti jimat karena ingin ketemu Haruto-kun lagi dalam mimpi.”
“Apa coba. Tingkahmu manis amat.”
“Waktu itu aku juga mikir... jika aku bisa pacaran dengan Haruto-kun, kebahagiaan saat bergandengan tangan itu pasti akan terlampaui dalam sekejap.”
“Terus? Setelah pacaran denganku, apakah kebahagiaan itu sudah terlampaui?”
“Iya! Terlampaui dalam sekejap! Sekarang tiap harinya terasa seperti hari terbaik dalam hidupku!” ucapku dengan senyum lebar, yang dibalas dengan senyum yang sama olehnya.
“Begitu, ya. Aku juga bahagia bisa pacaran dengan Ayaka.”
Haruto-kun kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke langit malam.
“Untuk ke depannya, saat kita menghabiskan waktu bersama, pasti akan ada banyak kejadian. Mungkin tidak semuanya baik atau menyenangkan. Tapi, jika bersamamu, aku merasa kita bisa menemukan berbagai kebahagiaan, baik kecil maupun besar, lalu menyusunnya satu per satu dan menghargainya. Karena itu...”
Haruto-kun menundukkan pandangannya dan menatapku lekat-lekat.
“Aku menyukaimu, Ayaka. Semoga kita bisa terus bersama.”
“!? U-Uhm...!”
Serangan mendadak itu curang banget!! Mengatakan hal seperti itu dengan suara berbisik dari jarak sedekat ini dengan latar belakang kembang api... jantungku bisa copot tahu!!
Mau tanggung jawab kalau aku mati gara-gara terlalu baper!? Kalau itu terjadi, kamu harus kasih napas buatan, ya!?
Duh... pacarku ini keren banget sih, tapi justru itu letak bahayanya. Haruto-kun terkadang suka melancarkan serangan kejutan yang tidak disangka-sangka.
Tapi, kalimatnya tadi terdengar sangat luar biasa.
Begitu ya, kebahagiaan kecil maupun besar...
Hmm? Kebahagiaan besar? Kebahagiaan besar dalam hidup?
Itu... jangan-jangan... me-menikah?
Apakah yang barusan itu... la-la-lamaran?
Eh? Beneran? Eh? Apa akunya saja yang kegeeran? Bener nggak sih, Haruto-kun!?
Apa maksud perkataanmu tadi!? Haruto-kun!?





Post a Comment