NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V2 Chapter 8

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 8

Diterangi oleh Senko Hanabi

“Fuh, kenyang banget...”


Saki menyandarkan tubuhnya lemas ke sandaran kursi lipat sambil berkata begitu.


“Pisang yang terakhir tadi mungkin agak terlalu berat.”


Di sebelah Saki, Ayaka juga mengelus perutnya dengan satu tangan dan berkata dengan nada sedikit menderita.


“Walaupun makanan penutup itu masuknya ke perut yang beda, tapi kali ini aku benar-benar makan kebanyakan.”


Dua gadis yang menderita kekenyangan. Haruto melihat mereka sambil tersenyum kecut, lalu mengalihkan pandangan ke arah panggangan barbeku.


Di atas jaring panggangan, berserakan kulit pisang yang agak hangus dan menghitam di sana-sini.


Pisang sebagai makanan penutup setelah makan daging, seafood, dan sayuran sepuasnya. Itu cukup berat bahkan bagi Haruto, siswa SMA laki-laki yang nafsu makannya besar. Rasa manis yang berlipat ganda berkat saus cokelat mungkin juga menjadi salah satu faktor yang menambah rasa kenyang.


Karena itu, Haruto hanya makan satu buah pisang bakar.


Namun, dua gadis SMA di sebelahnya ini, entah bagaimana bisa menghabiskan masing-masing tiga buah.


Obsesi wanita terhadap makanan manis memang mengerikan. Saat Haruto memikirkan itu, tiba-tiba lengan bajunya ditarik-tarik pelan.


“Hm? Ada apa, Ryota-kun?”


Saat Haruto menoleh ke arah Ryota yang menarik ujung lengan bajunya, bocah itu membuka mulut dengan ekspresi tidak sabar.


“Hei, hei. Kembang apinya kapan?”


Tampaknya Ryota sudah tidak sabar ingin segera memainkan kembang api yang dibeli Haruto.


Mendengar ucapannya, Haruto menengadah ke langit.


Langit yang masih sore saat mereka memulai pesta barbeku, kini telah sepenuhnya tertutup tirai malam, dan sekeliling mereka sudah menjadi gelap gulita.


“Benar juga, ayo main kembang api. Tapi sebelum itu kita harus beresin barbekunya dulu, ya.”


Sambil bilang begitu, Haruto melihat ke arah meja lipat. Di sana berserakan nampan bekas daging dan seafood.


Saat Haruto hendak berdiri untuk membereskan, Ikue memanggilnya.


“Ootsuki-kun, kamu cukup angkat piring dan nampannya saja. Cuci piring dan sisanya biar Tante yang kerjain.”


“Benarkah? Tapi...”


Karena Haruto dan Saki ikut serta dalam barbeku kali ini, bahan makanan yang disiapkan cukup banyak. Akibatnya, jumlah cucian piring dan nampan pun otomatis jadi banyak.


Selain itu, masih ada pekerjaan membersihkan jaring panggangan dan membereskan arang.


Memikirkan hal-hal itu, Haruto tampak ragu-ragu.


Melihat Haruto seperti itu, Shuuichi yang suasana hatinya sedang bagus karena alkohol, berkata dengan wajah yang sedikit memerah dan senyum lebar.


“Beneran, nggak usah dipikirin. Beres-beres serahkan saja pada kami orang dewasa, anak-anak mainlah sepuasnya!”


Shuuichi tertawa riang “Hahaha” sambil memegang bir.


Melihat Shuuichi yang mulai menunjukkan tanda-tanda sedikit mabuk, Haruto menatap Ikue dengan wajah agak cemas.


Menerima tatapan Haruto, Ikue tersenyum ramah.


“Beneran nggak usah dipikirin, kok. Daripada itu, tolong main sama Ryota ya.”


“Baiklah. Kalau begitu, Ryota-kun. Setelah piringnya diangkat, kita main kembang api, ya.”


“Ung!!”


Bekerja sama dengan Ryota yang mengangguk dengan senyum lebar, Haruto membawa piring dan nampan dengan kedua tangannya.


“Kita juga harus gerak, nih.”


Melihat dua orang itu mulai membereskan, Ayaka dan Saki ikut serta membereskan dengan gerakan lambat seperti kukang.


Setelah membereskan piring dan menyerahkan sisanya pada Ikue dan Shuuichi, Haruto dan yang lainnya segera siap-siap untuk main kembang api.


“Kembang api yang sudah padam masukkan ke ember ini, ya.”


“Nyalain apinya pakai korek atau lilin?”


“Pakai alat yang tadi buat nyalain api aja gimana?”


Saki bertanya cara menyalakan kembang api pada Ayaka yang membawa ember berisi air dengan kedua tangan. Di saat itu, Haruto memegang pemantik api bergagang panjang yang tadi digunakan untuk menyalakan arang.


“Gagangnya panjang, jadi nyalainnya juga gampang.”


Haruto menyerahkan pemantik api itu pada Saki, lalu mengambil alih ember dari tangan Ayaka yang tampak keberatan membawanya.


“Makasih, Haruto-kun. Embernya tolong taruh di tengah situ, ya?”


“Siap.”


“Onii-chan, boleh nyalakan ini duluan?”


Saat Haruto meletakkan ember di tengah taman, Ryota berlari menghampirinya. Di tangannya tergenggam kembang api genggam berwarna-warni dengan garis pink dan emas.


“Boleh. Jangan diarahin ke orang ya, nanti bisa luka bakar.”


“Ung!!”


“Ryota, sini. Biar kunyalakan.”


Saki memanggil Ryota dengan pemantik api di satu tangan.


Dengan penuh semangat, Ryota menatap lekat-lekat saat Saki menyalakan api.


“Ryota, ujungnya jangan digoyang. Nah, begitu, tahan... oke, nyala.”


Setelah memastikan bagian ujung yang menjuntai itu terbakar, Saki mundur sedikit untuk menjaga jarak dari Ryota.


Kembang api yang dipegang Ryota, begitu apinya mencapai bubuk mesiu, awalnya mengeluarkan percikan kecil cetetek-cetetek. Lalu tak lama kemudian, semburan bunga api yang cerah memancar ke depan seperti air mancur.


“Wah!! Lihat, lihat!!”


“Cantik, ya, aku juga mau main ah.”


Saki mengambil kembang api yang sejenis dengan punyanya Ryota, lalu menyalakannya sendiri.


Sambil mengeluarkan suara swuuush seperti milik Ryota, pancuran bunga api mengalir dari kembang api Saki.


“Main ginian setelah sekian lama seru juga ya! Kalian berdua cepetan main juga!”


Saki yang semangatnya tak kalah tinggi dari Ryota mendesak Haruto dan Ayaka.


“Ayo, Haruto-kun main bareng?”


“Oke.”


Ayaka memegang dua batang kembang api dan menyerahkan satu pada Haruto.


Setelah menerima pemantik api dari Saki, Ayaka segera menyalakan kembang api genggam miliknya.


“Wah! Cantik!”


Kembang api Ayaka sedikit berbeda dengan milik Ryota yang menyemburkan bunga api seperti air mancur; kembang apinya mekar seperti kristal salju dengan percikan halus yang meletup-letup. Melihat itu, Ayaka kegirangan seperti anak kecil sambil menatap Haruto.


“Lihat, lihat, Haruto-kun! Cantik banget!”


Sosoknya yang kegirangan itu entah bagaimana mirip dengan Ryota, membuat Haruto menyadari bahwa mereka memang kakak-beradik. Sambil memegang kembang apinya sendiri, Haruto mendekati Ayaka.


“Bisa turunin kembang apinya dikit?”


“Begini?”


“Iya, makasih.”


Haruto mendekatkan kembang apinya ke ujung kembang api yang dipegang Ayaka.


Kembang api Haruto yang tersulut api dari punyanya Ayaka, memercikkan bunga api yang indah seolah melompat-lompat.


Malam musim panas.


Di taman tengah kediaman Toujou, bunga api berwarna-warni menari-nari.


Semua orang tersenyum pada kembang api yang mereka genggam.


Angin malam yang lembut bercampur dengan sedikit aroma mesiu, bersama dengan suara tawa riang, momen itu terukir sebagai kenangan penuh warna dalam ingatan mereka.


“Lihat, lihat, Ayaka. Aliran dua pedang!”


“Fufufu, Saki heboh banget sih.”


“Onii-chan! Kembang api ini keren, warnanya berubah-ubah!”


“Ryota-kun, kalau yang itu habis, selanjutnya coba yang ini, ya.”


Masing-masing memegang kembang api pilihan mereka, Haruto dan yang lainnya memainkan kembang api dengan gembira.


Shuuichi dan Ikue yang telah selesai membereskan barbeku, duduk berdua di dek kayu, tersenyum lebar melihat tingkah anak-anak yang asyik bermain kembang api.


“Hm hm, benar-benar masa muda ya.”


“Masa muda itu bikin iri, ya.”


“Benar. Tapi orang dewasa juga punya cara sendiri untuk menikmati hidup, ‘kan?”


Sambil bilang begitu, Shuuichi menuangkan anggur merah ke gelas yang dibawanya, lalu memberikannya pada Ikue.


“Benar juga. Terima kasih, Sayang.”


Ikue menerima anggur itu dengan senyuman, lalu mengangkatnya sedikit.


“Bersulang.”


“Bersulang.”


Pasangan suami istri Toujou itu memiringkan gelas anggur sambil menikmati camilan seperti keju dan salmon asap, memandangi kembang api dengan gembira.


Sambil memegang kembang api yang memercikkan bunga api seperti ilalang, Haruto berbicara pada Ayaka di sebelahnya.


“Shuuichi-san dan Ikue-san itu, rasanya kayak pasangan ideal, ya.”


“Eh? Masa sih?”


Ayaka mengalihkan pandangan dari kembang apinya dan melihat ke arah orang tuanya di dek kayu.


“Memang sih mereka termasuk akur, tapi kalau sudah mulai bermesraan kadang aku mikir ‘ampun deh’, loh?”


“Ahahaha, rumah tangga harmonis itu bagus, ‘kan.”


Mendengar Haruto tertawa, Ayaka tersenyum kecut.


“Dari sudut pandang anak sih rasanya agak gimana gitu.”


Tiba-tiba Saki datang membawa kembang api berbentuk pistol.


“Ryota! Ryota! Ayo main ini bareng.”


“Ung!! Mau!!”


“Oke! Kalau gitu kita main di sebelah sana yuk!”


Saki pindah ke tempat yang agak jauh dari Haruto dan Ayaka. Saat itu, sekilas ia memberikan kedipan mata pada Ayaka. Setelah itu, ia langsung asyik bermain kembang api pistol bersama Ryota.


“Hei, Haruto-kun. Kita main ini bareng, yuk?”


Sambil bilang begitu, Ayaka menunjukkan kembang api jenis senko hanabi pada Haruto.


“Senko hanabi? Boleh juga, ayo.”


Haruto menerima satu senko hanabi dari Ayaka.


“Ah iya. Kita tanding siapa yang bolanya jatuh paling lama, yuk.”


Sambil berjongkok, Ayaka memberikan usulan itu. Haruto pun duduk di sebelahnya dan menyeringai percaya diri.


“Boleh. Tantangan diterima.”


“Kalau begitu, yang kalah harus menuruti satu permintaan apa pun dari yang menang di latihan pacar berikutnya, oke?”


Ayaka sedikit merendahkan suaranya dan berbisik di telinga Haruto agar tidak didengar orang lain.


Jarak yang begitu dekat membuat jantung Haruto berdegup kencang.


“Permintaan ‘apa pun’ itu, gimana ya...”


Haruto merasa agak resah mengizinkan ‘apa pun’ pada Ayaka yang selama ini sudah saling bilang ‘suka’ dan mengusulkan tiduran di paha. Melihat keraguan Haruto, Ayaka tersenyum sedikit provokatif.


“Haruto-kun, nggak pede bisa menang?”


“...Enggak lah, aku pasti menang.”


Sifat kompetitifnya tergelitik dengan tepat, dan Haruto pun secara refleks menyatakan kemenangannya.


“Kalau begitu nggak masalah, ‘kan?”


Melihat Ayaka yang tersenyum manis, Haruto merasa terkena jebakan namun tetap mengangguk.


“Oke. Kalau begitu, kita nyalakan barengan, ya.”


“Iya.”


Saat Haruto memegang pemantik api, Ayaka bergeser mendekat sambil tetap berjongkok.


Untuk menyalakan api secara bersamaan, mereka harus mendekatkan senko hanabi ke api yang sama, sehingga otomatis jarak mereka jadi sangat berdekatan.


Dalam jarak di mana bahu mereka hampir bersentuhan, detak jantung Haruto tak pelak menjadi semakin cepat.


Menyembunyikan debar jantungnya, Haruto menyalakan api di ujung pemantik.


Lalu, mereka berdua secara bersamaan mendekatkan senko hanabi ke api tersebut.


“Ah, nyala.”


Gumam Ayaka pelan dengan senang.


Di ujung senko hanabi mereka, bola merah seperti kuncup bunga mulai mengembang.


Lama-kelamaan, kuncup itu membesar sambil bergetar halus, sesekali memercikkan bunga api kecil. Ayaka menatap bola api yang menyerupai bunga peony itu dengan terpesona.


Perlahan bola api itu mulai berbunyi pachi-pachi, semakin lama semakin hebat, memercikkan bunga api seperti jarum pinus.


Melihat pemandangan itu, ekspresi Ayaka pun ikut merekah.


“Cantik ya, Haruto-kun.”


“Iya...hh!? B-Benar juga.”


Haruto yang mengangguk dan mengangkat wajahnya, kehilangan kata-kata sejenak.


Di hadapan Haruto, terlihat profil wajah Ayaka yang sedang menatap senko hanabi dengan serius.


Wajahnya diterangi secara fantastis oleh senko hanabi yang memercik, menciptakan bayangan di sana-sini namun tetap cerah. Dan yang paling penting, hal yang menangkap pandangan Haruto dan tak mau melepaskannya adalah mata Ayaka.


Di dalam mata itu, terpantul bunga api yang memercik indah.


“Benar-benar... cantik.”


Senko hanabi yang terpantul di mata orang yang disukai.


Haruto tak menyangka hal itu bisa begitu indah dan memikat hati.


Haruto berharap.


Semoga cahaya ini terus menerangi wajahnya. Namun, harapan itu tak mungkin terkabul, senko hanabi yang tadi memercik hebat perlahan melemah, menjadi halus dan lembut seperti pohon willow.


Bersamaan dengan itu, profil wajah Ayaka juga diterangi dengan cahaya yang semakin redup dan sendu.


“Aah... mau habis.”


Mendengar suara Ayaka yang terdengar sedih, senko hanabi bergoyang kecil.


Bunga apinya sudah kehilangan momentum, hanya menyisakan percikan kecil yang menari dalam diam.


“...Ah.”


Senko hanabi yang dipegang Haruto memercikkan satu api terakhir, lalu layaknya bunga krisan yang menggugurkan kelopaknya, bola api itu jatuh ke tanah dan padam.


“Sudah selesai, ya.”


Senko hanabi milik Ayaka juga padam sesaat setelah milik Haruto.


Setelah senko hanabi habis, Ayaka yang diterangi cahaya rembulan tersenyum lembut menatap Haruto.


“Pertandingannya aku yang menang, ya.”


“...Iya. Tolong jangan minta yang aneh-aneh, ya.”


“Fufufu, minta apa yaa~”


Melihat Ayaka yang tersenyum seperti anak kecil yang hendak melakukan kenakalan, Haruto tersenyum kecut.


Sambil sedikit menantikan dalam hati, apa yang akan diminta oleh gadis itu.



Setelah menikmati barbeku dan kembang api, Haruto-kun pulang ke rumahnya, sementara Saki menginap di kamarku.


Sambil membuka pintu lemari, aku berkata.


“Saki, butuh selimut tebal?”


“Nggak usah, aku cukup pakai selimut handuk satu lembar aja.”


“Hm, kalau gitu pakai ini.”


“Oke deh, makasih.”


Aku menyerahkan selimut handuk yang jarang kupakai pada Saki.


Aku jadi senang karena Saki menginap di rumahku setelah sekian lama, membuat ekspresiku mengendur secara alami.


Terakhir kali Saki menginap di kamarku itu kapan ya?


Seingatku waktu dia mau pindahan dan bakal jauh dariku, karena kesepian aku minta Saki menginap, itu yang terakhir kali, ‘kan?


Waktu itu aku benar-benar kesepian sampai memeluk Saki sambil menangis.


“Fyuuh... hari ini seru banget ya.”


“Iya, beneran seru.”


Setelah Saki terjun ke futon yang digelar di samping kasurku, dia memandang sekeliling kamarku.


“Seperti biasa, kamar yang bagus ya.”


Kata Saki sambil menggerak-gerakkan kakinya di atas futon.


Saki memandang sekilas ke rak buku di dinding, lalu berkata “Ah, yang ini sudah keluar edisi barunya ya” dan mengambil manga romance favoritku.


“Hei, boleh baca sebentar?”


“Umm, boleh kok. Kalau gitu aku baca volume sebelumnya, ah.”


Manga ini benar-benar menarik sampai aku membacanya berulang kali.


Beberapa saat, aku dan Saki membaca manga dalam diam.


Kisah cinta dua teman masa kecil SMA yang sama-sama suka tapi tidak sadar, saling berselisih jalan namun perlahan mendekat, membuatku gemas setiap kali baca ulang.


Saat aku membalik halaman dan membacanya sekilas, tanganku terhenti di satu adegan.


Itu adalah adegan di mana dua teman masa kecil bermain senko hanabi di taman pada malam hari.


Dua orang yang menatap senko hanabi, di momen yang tak terduga mengangkat wajah bersamaan dan saling tatap-tatapan, lalu wajah mereka memerah karena jarak yang begitu dekat.


Melihat hubungan mereka yang polos dan bikin gemas, aku sedikit menggeliat.


Bersamaan dengan itu, aku menyadari sesuatu.


Lah, bukannya ini mirip banget sama aku dan Haruto-kun tadi?


Di dalam otakku, pemandangan senko hanabi bersama Haruto-kun muncul dengan jelas.


Profil wajah Haruto-kun yang diterangi senko hanabi.


Sebenarnya aku ingin menolehkan wajah dan menatapnya dari depan. Tapi, karena malu saling tatap-tatapan dalam jarak sedekat itu, aku cuma bisa curi-curi pandang dari samping.


Tapi, kalau seandainya waktu itu aku dan Haruto-kun saling bertatapan...


Mendekatkan wajah di bawah cahaya bunga api yang memercik lembut...


Uuh, membayangkannya saja wajahku jadi panas.


Tapi, mungkin itu romantis banget. Kayak di manga ini, sebenarnya kami saling suka, dan samar-samar mulai menyadarinya.


...Eh? Umm, aku suka Haruto-kun. Terus, Haruto-kun minta aku jadi pacar pura-puranya, yang berarti dia juga suka sama aku? ...Artinya saling suka! Sebenarnya aku berada di situasi yang hampir sama persis dengan manga ini!?


Aku melihat kembali adegan senko hanabi di manga itu.


Dua orang yang saling sadar dan malu-malu. Dua orang yang berjongkok berdampingan begitu dekat hingga bahu hampir bersentuhan.


Hawawawa, itu kami yang tadi!


Waktu itu, sebenarnya suasananya bagus banget, ‘kan!? Kalau di situ aku melakukan satu dorongan lagi, mungkin aku bisa menangkap hati Haruto-kun.


T-Tapi kalau agresif di situ agak memalukan... tapi demi bikin Haruto-kun nembak aku, aku harus berusaha...


Saat aku menekan wajah ke bantal sambil mengerang “Uuu~”, Saki yang sudah selesai membaca manga berkata dengan puas, “Seru banget~”.


“Wah... manga ini bikin penasaran banget lanjutannya, jadi gemes. Dua orang ini, cepetan jadian napa.”


Saki yang mengembalikan manga ke rak, melihatku yang masih menekan wajah ke bantal dan berkata dengan nada heran, “Lagi ngapain lu?”


“Ngomong-ngomong soal jadian, Ayaka juga buruan jadian gih sama Ootsuki-kun.”


“Eeeh! Tapi kan harus Ootsuki-kun duluan yang nembak...”


“Ya emang sih. Tapi gimana ya, aku baru hari ini lihat Ayaka bareng Ootsuki-kun, ‘kan?”


Sambil melipat tangan, Saki berkata padaku dengan tegas!


“Aura kalian berdua itu udah kayak pacaran beneran tahu! Justru kenapa kalian belum jadian sih!?”


“I-Itu... kalau bukan Haruto-kun yang nembak, rasa bersalah karena berbohong bikin perasaanku yang sebenarnya...”


“Itu dia! Kenapa sih Ootsuki-kun pakai bohong segala. Kebohongan itu yang bikin semuanya jadi runyam.”


Saki masih melipat tangan dengan ekspresi marah.


“Ootsuki-kun kan nggak mau bikin neneknya sedih...”


“Aku udah denger, tapi kalau dia benar-benar mikirin neneknya, jangan malah bohong yang nggak penting, mendingan tembak Ayaka dengan benar dan jadiin pacar beneran! Padahal Ayaka sudah sebucin ini sama Ootsuki-kun.”


“Bucin... aku, kelihatan kayak gitu, ya?”


Aku sendiri merasa nggak bisa nyembunyiin perasaanku sepenuhnya sama Haruto-kun, tapi kalau dibilang sejelas ini pakai kata-kata, badanku jadi panas.


“Habisnya Ayaka sih, matamu terus-terusan ngikutin Ootsuki-kun, ‘kan?”


“Gitu ya...?”


“Waktu ngobrol sama Ootsuki-kun juga senyum lebar terus.”


“Gimana ya. Akhir-akhir ini, kalau lihat wajah Haruto-kun, mulutku otomatis naik sendiri. Aku nggak bisa tahan...”


Hanya dengan sosok Haruto-kun masuk ke pandanganku, ekspresiku mengendur secara alami, dan dadaku berdebar-debar.


Selain itu, rasanya cuma di sekitar Haruto-kun warnanya jadi lebih tajam, aku tak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi rasanya dia berkilauan.


“Itu sih, udah bener-bener gadis yang kasmaran.”


“U-Umm...”


Sejak menyadari perasaanku pada Haruto-kun, rasanya setiap hari perasaanku kian menguat.


Belakangan ini, aku tak tahu perasaan ini bakal sampai sejauh mana, kadang-kadang sampai bikin takut.


Rasanya seperti ada orang lain di dalam diriku.


Tapi, aku juga bisa menyadari dengan jelas kalau itu adalah bagian dari diriku.


Perasaan yang tak bisa dikontrol bergejolak di dalam diriku, sampai aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.


“Ayaka, sebenarnya sekarang seberapa besar rasa sukamu ke Ootsuki-kun?”


Saki duduk bersila di atas futon, menatapku yang ada di atas kasur sambil bertanya.


“Kalau ditanya seberapa besar... gimana ya?”


“Gini loh, walaupun satu kata ‘suka’, tapi kan ada macam-macam jenisnya? Mulai dari yang ringan kayak ‘liburan musim panas nganggur nih, pengen punya pacar ah’, sampai yang berat kayak ‘wah ini takdir, aku menemukan belahan jiwaku’. Nah, kalau Ayaka gimana?”


“Hmm. Mungkin, lebih dari sekadar cinta musim panas sesaat? Rasanya aku beneran suka...”


“Kalau gitu gini deh, misal ya? Kalau orang yang jadi asisten rumah tangga itu cowok sekelas lain selain Ootsuki-kun, tapi cowok itu juga jago banget urusan rumah tangga, suasananya tenang, pokoknya kayak Ootsuki-kun deh, apa Ayaka bakal suka sama orang itu?”


“Eeh... gimana ya?”


Di dalam benakku, asisten rumah tangga itu imejnya sudah Haruto-kun banget, jadi kalau dibilang seandainya orang lain, aku sama sekali tak bisa membayangkannya.


“Aku nggak bisa bayangin orang selain Haruto-kun, tapi mungkin aku nggak bakal suka deh?”


Aku coba bilang begitu, tapi sejujurnya aku tidak tahu.


Cinta pertamaku itu Haruto-kun, dan yang kusuka sekarang juga Haruto-kun. Kalau itu cowok lain, aku tak bisa memikirkannya.


“Gitu ya, ternyata Ayaka memang bucin banget sama Ootsuki-kun.”


“Dibilang bucin gitu, agak malu ya...”


“Tapi faktanya gitu, ‘kan?”


“I-Iya sih tapi...”


Setelah itu, aku dan Saki terus mengobrol soal cinta sampai larut malam.


Keesokan paginya.


Aku terbangun karena sinar matahari pagi yang masuk dari celah tirai.


“Nng... ngantuk...”


Tubuhku sepertinya masih butuh tidur, jadi aku susah bangun dari kasur.


Sebenarnya kemarin malam, saat mau tidur setelah ngobrol cinta-cintaan sama Saki, tiba-tiba ucapan Saki terlintas di kepalaku.


‘Kalau gitu gini deh, misal ya? Kalau orang yang jadi asisten rumah tangga itu cowok sekelas lain selain Ootsuki-kun, tapi cowok itu juga jago banget urusan rumah tangga, suasananya tenang, pokoknya kayak Ootsuki-kun deh, apa Ayaka bakal suka sama orang itu?’


Gara-gara mikirin pertanyaan ini, aku jadi susah tidur.


Kemungkinan aku jatuh cinta pada orang selain Haruto-kun. Kalau seandainya asisten rumah tangganya bukan Haruto-kun...


Mikirin hal-hal kayak gitu, aku jadi nggak bisa tidur sama sekali.


“Hoaahm... tidur lagi ah...”


Saat aku berpikir begitu, Saki gerak-gerak di atas futon.


“Nnya? ...Eh?”


Saki yang bangun dan duduk, melihat sekeliling kamarku dengan mata setengah tertutup dan tampang masih mengantuk.


“Pagi, Saki.”


“...Pagi, Ayaka? ...Ah, iya juga, aku kan nginep.”


Sepertinya realitas dan isi kepalanya baru sinkron, Saki meregangkan tubuhnya lebar-lebar.


“Nnggh! Fyuuh melek deh...”


“Tidur nyenyak?”


“Tentu saja, futon orang kaya itu empuk banget, tidurnya jadi nyaman banget.”


Saki yang berkata setengah bercanda, mengacungkan jempol padaku.


“Futon itu lebih dari sekadar harganya, loh. Saki mau bangun?”


[TLN: Maksudnya nilainya lebih dari harga yang dibayarkan]


“Umm, Ayaka sudah melek juga?”


“Aku masih agak ngantuk sih, tapi perutku juga udah keroncongan, jadi bangun deh.”


Aku dan Saki cuci muka dan gosok gigi di wastafel, lalu menuju ruang tamu.


Di sana Mama sudah bangun, duduk di meja makan sambil minum milk tea dan menatap laptop.


“Ara, Saki-chan, Ayaka. Selamat pagi.”


“Selamat pagi, Tante.”


“Pagi, Ma.”


“Kalian berdua lapar?”


Mama bertanya sambil bangkit dari kursi.


“Umm, aku lapar. Saki?”


“Aku juga udah lapar kayaknya.”


Melihat Saki yang mengelus perut sambil bilang begitu, Mama tersenyum ramah.


“Oke. Mama siapkan sebentar, duduk dan tunggu ya.”


“Terima kasih! Saya numpang makan!”


Saki berterima kasih pada Mama sambil duduk di meja makan.


Aku juga duduk di sebelah Saki, melihat Mama yang berdiri di dapur.


“Ma, hari ini masakan Jepang?”


“Iya. Saki-chan sarapannya mau makan nasi atau roti?”


“Nggak, nasi saja. Terima kasih Mama Ikue.”


Mendengar jawaban Saki, Mama segera mulai menyiapkan sarapan.


Dan, hanya dalam beberapa menit, lauk pauk sarapan berjejer satu per satu di atas meja.


Melihat sarapan yang keluar dengan kecepatan setara makanan cepat saji, Saki menunjukkan ekspresi terkejut.


Kelihatan lucu, aku pun tertawa kecil “Hihi”.


“Eh? Eh? Kok jadinya cepet banget? Bisa bikin lauk sebanyak ini dalam waktu sesingkat ini? Teknik time-saving macam apa ini?”


Di atas meja berjajar ohitashi, namasu, chikuzenni, dan nanbanzuke. Lalu, sup miso dan nasi yang baru matang.


Saki tampak tercengang dengan banyaknya lauk yang keluar di pagi hari.


“Ini... jangan-jangan semuanya stok makanan jadi?”


Saki menebak begitu, Mama pun menjawab sambil tersenyum, “Tepat sekali.”


“Sebenarnya ini Ootsuki-kun yang buatkan saat dia kerja sambilan. Kalau pagi lagi sibuk, stok makanan buatan Ootsuki-kun sangat membantu, benar-benar memudahkan hidup.”


“Hee, kemampuan rumah tangga Ootsuki-kun mengerikan ya.”


“Yang lebih gila, masakan Haruto-kun semuanya enak-enak banget, loh.”


Masakan Haruto-kun belum pernah ada yang nggak enak.


Benaran enak semua, sampai-sampai bisa gawat kalau nggak hati-hati, entar bisa-bisa makannya kebanyakan.


“Kalau begitu, selamat makan.”


Saki menangkupkan kedua tangan, lalu pertama-tama menyuapkan chikuzenni.


“Hhk!? Eh? Enak banget.”


Saki sedikit membelalakkan mata, lalu menyantap lauk lainnya. Dan setiap kali memasukkannya ke mulut, dia bergumam kecil “Enak”.


Kalau masakan Haruto-kun dipuji, entah kenapa aku juga ikut senang.


“Ya kan? Enak kan?”


“Umm, parah sih. Eeh, jadi iri deh. Apa aku harus minta Ootsuki-kun jadi asisten rumah tangga di rumahku juga, ya?”


Mendengar ucapan Saki itu, sedikit rasa panik muncul dalam diriku.


“H-Haruto-kun itu milikku... eh tidak, dia terikat kontrak eksklusif dengan keluarga Toujou, jadi kalau mau minta asisten rumah tangga, minta staf lain saja ya?”


“Ah! Curang ih mau monopoli masakan ini sendirian!”


“C-Curang apanya! Kan emang kontrak eksklusif langganan, kontrak resmi tahu!”


Saat kami berdebat curang-nggak curang, Mama datang membawakan chawanmushi sambil tertawa.


“Saki-chan. Ini juga buatan Ootsuki-kun, enak loh, cobain deh.”


“Terima kasih!”


Saki segera mulai memakan chawanmushi yang disajikan.


Begitu menyendok satu suap dan memasukkannya ke mulut, ekspresi Saki meleleh.


“Tekstur halus di tenggorokan, kekayaan rasa telur yang pekat, aroma kaldu yang lembut... Hei, Ayaka, pinjam Ootsuki-kun sebentar saj─”


“Nggak boleh! Pokoknya nggak boleh!”


Aku memotong ucapan Saki di tengah jalan.


Ootsuki-kun itu, bukan cuma buatku, tapi keberadaan yang tak tergantikan bagi keluarga Toujou!


Aku memang tak punya wewenang menentukan tempat kerja sambilan Haruto-kun, tetapi aku inginnya dia secara eksklusif di keluarga Toujou.


Saking memikatnya masakannya, sampai-sampai aku merasa posesif begini.


“...Haruto-kun nggak bakal kuserahin sama siapa pun...”


Aku bergumam sangat pelan.


Rupanya Saki mendengarnya, dia menatapku sambil nyengir dan berkata.


“Fufu, Ayaka si bucin serakah.”



Pagi hari setelah diundang ke barbeku keluarga Toujou.


Haruto melakukan rutinitas belajar paginya dengan tekun sambil menerima sinar matahari pagi yang masuk dari jendela.


Beberapa saat ia mengarahkan pandangan bergantian antara buku referensi dan catatan dengan mata serius, namun saat sampai di bagian yang pas untuk berhenti, ia meletakkan pulpen dan meregangkan tubuh di atas kursi.


“Haaah, barbeku kemarin enak banget ya...”


Haruto teringat daging dan seafood yang dimakannya kemarin. Mengingatnya saja sudah membuat air liurnya hampir menetes. Selezat itulah barbeku kemarin.


“Terus, kembang api setelahnya juga bikin semua orang senang.”


Haruto menopang dagu dengan siku di meja, senyum tersungging di bibirnya.


Ryota yang memegang kembang api dan menatapnya dengan senyum lebar sambil bilang “Onii-chan hebat ya!”.


Saki yang memegang kembang api di kedua tangan dan menikmati dengan heboh.


Dan, Ayaka yang duduk di sebelahnya menatap senko hanabi.


“.....Cantik banget.”


Mata yang berbinar.


Cahaya kembang api dan cahaya rembulan.


Profil wajahnya yang diterangi kedua cahaya itu, memancarkan keindahan yang fantastis.


Haruto menyipitkan mata melihat matahari pagi yang semakin tinggi.


Tak terasa, liburan musim panas sudah sampai di pertengahan. Gadis yang ditemuinya lewat pekerjaan asisten rumah tangga. Memikirkan gadis itu, Haruto merasakan kesepian yang samar di dadanya akan hari-hari musim panas yang telah berlalu. Dan bersamaan dengan itu, ia juga merasakan sesuatu yang mengganjal, seperti gumpalan di sudut hatinya.


Latihan jadi pacar.


Hubungan dengan Ayaka yang dimulai dari kebohongan yang ia ucapkan.


Tidak mungkin ini boleh terus berlanjut. Haruto membuang pandangan dari jendela dan menggelengkan kepala kecil.


Meskipun kebohongan itu diucapkan demi menyenangkan neneknya, pada akhirnya itu hanya menciptakan kebahagiaan palsu. Kelak ia harus mengungkapkan kebenarannya. Jika itu terjadi, akhirnya ia akan membuat neneknya sedih dan kecewa.


Karena itu, suatu saat ia harus berterus terang tentang hubungannya dengan Ayaka.


Setiap kali melakukan latihan jadi pacar dengannya, pemikiran itu kian menguat dalam diri Haruto. Itu disebabkan oleh rasa bersalah karena telah melibatkan Ayaka dalam kebohongannya.


Namun, belakangan ini alasannya bukan hanya itu saja.


Saat berlatih dengannya, mau tidak mau ia berimajinasi.


Seandainya ini bukan latihan, tapi sentuhan sebagai sepasang kekasih sungguhan.


Mengubah hubungan dengan Ayaka.


Menghilangkan rasa bersalah, dan mengutarakan perasaan di dalam hatinya secara murni.


Untuk itu, melunasi kebohongan yang telah ia ucapkan menjadi syarat mutlak.


“...Hah, hari ini libur kerja ya...”


Gumam Haruto sambil menatap kalender di dinding.


Sambil merasakan kesepian yang nyata karena tidak bisa bertemu dengannya...


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close