NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V4 Chapter 7

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 7

Kehidupan Baru

Di bawah bentangan langit biru yang cerah.


Angin sepoi-sepoi berhembus melintasi atap gedung sekolah, seolah hendak meredakan teriknya sinar matahari musim panas.


Di salah satu sudut atap yang bermandikan cahaya matahari, tempat yang pas untuk menyantap makan siang. Dari balik bayangan menara air, suara terkejut Tomoya menggema.


“Serius!? Eh!? Itu namanya sudah kumpul kebo, ‘kan!?”


Sambil menyemburkan potongan roti yakisoba yang dibelinya di minimarket dari mulutnya, Tomoya dibuat tercengang oleh pengakuan yang mengejutkan itu.


“Woah, jangan semburkan yakisoba-nya dong. Jorok, tahu.”


“Dasar bodoh! Kalau dengar berita mencengangkan kayak begitu, wajar saja kalau ada satu atau dua helai yakisoba yang terbang!”


“Jangan malah diwajarin, nggak sopan, tahu. Telan dulu makanan di mulutmu baru ngomong.”


Haruto menegur layaknya didikan orang tua. Tomoya mengabaikan omelan Haruto dan bertanya dengan nada berapi-api.


“Tinggal bareng Toujou-san itu impian semua cowok, tahu!? Itu terlalu hebat, ‘kan!!”


“Sst, suaramu kegedean!”


Karena kegembiraan membuat suara Tomoya meninggi, Haruto buru-buru melihat sekitar dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan sahabatnya untuk diam.


Jika murid lain sampai mendengar topik ‘Tinggal bareng Idol Sekolah’, Haruto benar-benar bisa dikeroyok para siswa laki-laki, dan itu bukan candaan.


Untungnya, tempat Haruto dan Tomoya berada terlindung oleh bayangan menara air, sehingga tidak ada murid di dekat situ yang bisa mendengar pembicaraan mereka. Namun, agak jauh di bawah sinar matahari, ada dua kelompok lain selain Haruto dan Tomoya yang sedang makan siang.


Kedua kelompok itu tampak asyik bercengkerama dengan teman masing-masing, dan sepertinya suara Tomoya tidak sampai ke sana.


Haruto menghela napas lega sebelum mulai berbicara.


“Meski dibilang ‘kumpul kebo’, tapi bukannya agak beda, ya?”


“Beda apanya?”


“Yah, soalnya kalau kumpul kebo itu kesannya cuma sepasang kekasih yang tinggal berdua, ‘kan?”


“Hmm? Kalau dipikir-pikir, benar juga...”


Mendengar perkataan Haruto, Tomoya melipat tangan dengan wajah yang terlihat berpikir keras.


Usulan yang diajukan oleh Shuuichi adalah mempekerjakan nenek Haruto sebagai asisten rumah tangga yang tinggal di sana, dan mengajak Haruto sendiri untuk menginap di kediaman Toujou.


Saat menceritakan hal ini pada Tomoya, dia dengan bersemangat menyebutnya “Kumpul kebo!”. Tapi dalam usulan keluarga Toujou, kedua orang tua Ayaka yakni Shuuichi dan Ikue, adiknya Ryota, sampai nenek Haruto sendiri akan tinggal seatap. Situasi itu rasanya sedikit melenceng dari pemahaman Haruto tentang kumpul kebo.


“Di sana jelas ada semua anggota keluarga Toujou, bahkan nenekku juga ada, jadi nggak bisa dibilang kumpul kebo, ‘kan?”


“Hmm. Tapi ya... situasi itu justru levelnya lebih tinggi daripada kumpul kebo, nggak sih?”


Tomoya yang masih melipat tangan memiringkan kepalanya sedikit, lalu perlahan membuka mulut.


“Itu jelas step up dari sekadar kumpul kebo, ‘kan? Hidup bersama keluarga pacar, itu sih tinggal tunggu kalian berdua dewasa, tempel stempel, lalu goal.”


“Tidak, tidak. Itu masih terlalu cepat. Kami baru pacaran seminggu, tahu?”


“Hadeh, Haru. Cinta sejati itu tak mengenal waktu, tahu?”


Sambil menyisir poni depannya dengan gaya misterius, Tomoya melontarkan kalimat gombal dengan ekspresi sok jantan.


Haruto memasang wajah kecut mendengar ucapan sahabatnya itu.


“Kalau kau yang bilang kedengarannya malah menjijikkan.”


“Jahat amat. Ah, tapi aku paham! Kasus Haru ini bukan kumpul kebo, tapi hidup bersama, ya.”


“Hidup bersama... ya?”


“Iya, ‘kan.”


Tomoya mengangguk sekali menanggapi keraguan Haruto, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya, mencari arti kata hidup bersama. Kemudian, ia memamerkan hasil pencariannya kepada Haruto.


“Tuh! Hidup bersama artinya suami-istri atau keluarga yang tinggal bersama di rumah yang sama!”


“Tidak, tidak, di bawahnya juga tertulis ‘orang yang bukan keluarga tinggal bersama di rumah suatu keluarga’, ‘kan?”


“Hm? Bukannya itu keadaan Haru yang sekarang?”


“Eh? Ah... benar juga...”


Tanpa sadar Haruto menyetujui ucapan Tomoya.


“Artinya aku akan hidup bersama dengan Ayaka, atau lebih tepatnya dengan keluarga Toujou?”


“Begitu, ‘kan? Bikin iri saja kau ini, brengsek!”


Haruto kembali memiringkan kepala sedikit saat Tomoya menyenggol-nyenggolnya sambil cengar-cengir.


“Tapi aku tidak akan tinggal menetap terus-menerus. Aku tidak bisa membiarkan rumahku kosong selamanya.”


Kalau disebut hidup bersama, rasanya seolah ia akan selalu menjalani kehidupan di rumah itu.


Sedangkan Haruto tidak akan terus-menerus menginap di kediaman Toujou; ia berencana menjalani gaya hidup komuter antara rumahnya sekarang dan rumah keluarga Toujou. Di rumahnya ada foto mendiang orang tua dan kakeknya serta altar Buddha, jadi ia tidak bisa meninggalkan rumah itu kosong dalam waktu lama demi membersihkan dan merawatnya.


“Katanya rumah bakal cepat rusak kalau tidak dihuni, ya.”


“Tapi, kan, saat Nenek Haru bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Toujou-san, kau bakal sendirian di rumah, ‘kan?”


“Yah, iya sih.”


Karena mengkhawatirkan hal itulah Shuuichi menyarankan agar Haruto juga ikut tinggal.


“Artinya, Haru bisa merasakan hidup bersama Toujou-san, sekaligus merasakan pengalaman hidup sendiri?”


“Itu sih kau terlalu memandangnya dari sisi positif.”


Haruto tersenyum kecut melihat sahabatnya yang menunjukkan ekspresi sedikit antusias.


“Sebenarnya, seperti apa Nenek akan bekerja dan seberapa sering aku akan menginap di rumah keluarga Toujou, itu baru akan dibicarakan nanti, jadi aku belum tahu bakal kayak apa.”


“Hmm. Kapan pembicaraannya?”


“Sabtu pekan ini, rencananya aku dan Nenek akan pergi ke rumah keluarga Toujou untuk menyapa.”


Karena pada hari itu Shuuichi-san dan Ikue-san libur kerja, rencananya semua orang termasuk Haruto, Nenek, Ayaka, dan Ryota akan berkumpul untuk membicarakan bagaimana sistem kerjanya dan seberapa sering Haruto akan menginap di sana.


Mendengar cerita Haruto, Tomoya bergumam “Begitu ya,” lalu menyeruput jus jeruk kemasannya hingga berbunyi. Sambil bertanya-tanya dalam hati bagaimana rasanya kombinasi roti yakisoba dengan jus jeruk, Haruto meminum café au lait kemasan yang ditraktir Tomoya.


“Omong-omong, hari Minggu akhir pekan ini adalah hari pengganti festival kembang api yang ditunda itu, ‘kan? Apa Haru bakal pergi sama Toujou-san?”


Tomoya meremas kotak jus jeruk yang sudah kosong hingga penyok.


“Ya, rencananya sih begitu.”


“Kalau tinggal bareng, enaknya nggak perlu bikin janji ketemuan, ya.”


“Iya sih kalau dipikir-pikir... tapi kayak yang kubilang tadi, bagaimana jadinya tergantung pembicaraan hari Sabtu nanti.”


Kecuali jika hasil pembicaraan hari Sabtu memutuskan dia langsung menginap hari itu juga, situasi berangkat bersama dari rumah seperti yang dikatakan Tomoya tidak akan terjadi.


“Kurasa nggak bakal sampai langsung nginap di hari itu juga, deh.”


“Apa iya? Dari yang kudengar, kau kan sangat disukai keluarganya Toujou-san? Kemungkinannya tinggi, ‘kan?”


Mendengar ucapan Tomoya, terbayang di benak Haruto sosok Ryota yang meledak kegirangan dan menjadi sangat antusias. Ryota yang masih kecil dan polos mungkin akan memohon sekuat tenaga agar Haruto menginap mulai hari itu juga begitu mendengar Haruto akan tinggal bersama.


Karena bisa membayangkan adegan itu dengan jelas, Haruto tersenyum kecut.


“Yah, kemungkinannya... mungkin ada.”


“Nah, ‘kan? Iri banget, deh.”


Tomoya menautkan kedua tangan di belakang kepala, menatap langit sambil berulang kali mengatakan “Iri banget”.


“Lagipula, kalau hidup bareng cewek, pasti ada kejadian happening yang tak terelakkan, ‘kan.”


“Happening apaan?”


“Ya itu, loh... misalnya papasan di ruang ganti terus nggak sengaja lihat Toujou-san telanjang?”


“Ini bukan dunia manga, happening kayak gitu nggak bakal kejadian.”


Haruto menatap sahabatnya dengan terheran-heran.


“Terus, Toujou-san yang masih setengah sadar pas bangun tidur salah masuk ke kasur Haru karena dikira kasurnya sendiri?”


“Ayaka pun nggak bakal se-lugu itu... mungkin.”


Ini pun disangkal Haruto, tapi nadanya terdengar kurang yakin dibandingkan insiden ruang ganti tadi.


Setelah menghabiskan waktu bersamanya selama liburan musim panas, Haruto bisa menyimpulkan bahwa Ayaka memang agak lugu. Ditambah lagi, pandangannya tentang asmara agak ngawur, jadi kemungkinan dia salah masuk kasur saat setengah sadar, meski sangat kecil, tidak bisa disangkal sepenuhnya.


Membayangkan Ayaka menyusup ke kasurnya, wajah Haruto memerah.


Melihat itu, sudut bibir Tomoya naik membentuk seringai.


“Iri banget~ tinggal seatap sama Toujou-san. Kalau Kaidou-senpai dengar, dia pasti nangis darah, tuh.”


“Aku nggak bakal ngelakuin hal yang menyayat hati orang kayak gitu. Lagipula, untuk sekarang kami merahasiakan kalau kami pacaran.”


“Kalau Haru mengaku sebagai pacarnya di situasi sekarang, pasti bakal heboh banget, sih.”


Sejak liburan musim panas usai, tiada hari tanpa mendengar gosip tentang Ayaka yang mendeklarasikan ‘ada orang yang disukainya’.


Baik di kelas, maupun saat berjalan di lorong, pembicaraan tentang itu terdengar sayup-sayup di telinga.


“Untuk sementara waktu, aku tidak bisa mendekati Ayaka di sekolah...”


“Hei, hei, bung. Jangan murung begitu, dong. Begitu pulang sekolah kan kau bisa barengan terus di rumah.”


Melihat Haruto yang bahunya sedikit turun, Tomoya berkata dengan nada menggoda.


Saat Haruto hendak membalas ucapan itu, terdengar langkah kaki mendekat, membuatnya menutup kembali mulut yang sudah setengah terbuka. Tomoya juga menyadarinya; ia segera menarik ekspresi cengar-cengirnya kembali menjadi wajah datar, lalu memasang telinga pada langkah kaki yang mendekat.


Mereka berdua duduk bersandar pada beton pondasi menara air yang menjadi titik buta dari pintu masuk atap. Karena itu, mereka tidak bisa melihat sosok yang mendekat. Suara langkah kaki semakin keras, dan akhirnya dari balik bayangan pondasi menara air, seseorang muncul.


“Loh? Akagi-kun dan Ootsuki-kun. Sedang apa di tempat begini?”


Yang menyapa adalah Saki.


Dengan ekspresi sedikit terkejut, ia melihat dua orang yang sedang duduk bersila itu.


Haruto tampak sedikit lega melihat yang muncul adalah Saki. Karena gadis itu tahu hubungan Ayaka dan Haruto, tidak masalah meskipun percakapan tadi terdengar olehnya.


“Cuma lagi ngobrolin soal Ayaka sama Tomoya.”


“Ah, makanya cari tempat sepi begini, ya.”


Mendengar ucapan Haruto, Saki mengangguk paham.


“Aizawa-san mau kemana?”


“Aku juga lagi cari tempat sepi bareng Aya─”


“Haruto-kun!?”


Di tengah ucapan Saki, sosok lain muncul dari balik punggungnya.


Itu adalah Ayaka, dengan senyum cerah gembira yang memenuhi wajahnya, tak kalah terang dari sinar mentari musim panas. Begitu muncul dari belakang Saki dan melihat Haruto, ia bersiap berlari dengan senyum lebar. Sosoknya persis seperti anak anjing yang menemukan pemiliknya.


Jika Ayaka punya ekor, pasti ekor itu sudah berkibas-kibas dengan kencang.


Namun, Saki mencengkeram kerah belakang Ayaka, menahan serudukannya.


“Ayaka, stay!”


Saki mengeluarkan perintah seolah sedang menyuruh anjingnya ‘tunggu’.


Ayaka yang tengkuknya dicengkeram, tubuh bagian atasnya sedikit tersentak ke belakang dan berhenti sambil mengeluarkan erangan imut “Fugyu!”. Ia segera menoleh ke belakang, menatap Saki dengan wajah protes.


“Muu!”


“Jangan malah ‘Muu!’. “


Saki menepis ketidakpuasan temannya itu, lalu dengan sigap melihat sekeliling.


Di atap itu, selain mereka, ada dua kelompok siswa lain yang sedang makan siang. Setelah melirik sekilas ke arah dua kelompok itu, Saki menarik lengan Ayaka mendekat ke arah Haruto dan Tomoya, memastikan mereka benar-benar masuk ke dalam bayangan menara air, baru kemudian menegur Ayaka.


“Bagaimana kalau dilihat orang? Apa kamu sudah lupa kehebohan gara-gara deklarasi suka sama seseorang pas hari pertama masuk sekolah?”


“M-Maaf...”


Dimarahi Saki, Ayaka meminta maaf dengan wajah murung.


Dua kelompok siswa yang sedang makan bekal di bawah sinar matahari itu semuanya sedang asyik mengobrol dengan teman mereka, dan sepertinya tidak menyadari kehadiran sang Idol Sekolah.


Namun, jika ada yang melihat tingkah Ayaka barusan, akan sangat mudah menebak siapa orang yang disukainya. Setelah meminta maaf pada Saki, Ayaka menoleh ke arah Haruto.


“Maaf ya, Haruto-kun.”


“Yah, tidak apa-apa, belum ketahuan juga, kok. Lagipula aku juga senang bisa ketemu Ayaka.”


Begitu mendengar ucapan itu, ekspresi Ayaka yang tadinya agak murung seketika jadi berseri-seri.


Melihat tingkah Ayaka, Saki menghela napas kecil seolah berkata “Hadeh”, lalu sekali lagi melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat ke arah mereka.


“Ayaka, boleh!”


“Ih, Saki! Aku bukan anjing, tahu!”


Ayaka menggembungkan pipinya memprotes sahabatnya yang sejak tadi memberi perintah layaknya pemilik hewan peliharaan.


“Padahal tadi kamu mau menyeruduk Ootsuki-kun kayak anjing.”


“I-Itu... habisnya kalau tiba-tiba ketemu Haruto-kun, tubuhku gerak sendiri.”


Ayaka memberikan alasan dengan malu-malu.


Melihat tingkah gadis itu, Tomoya menyipitkan mata dan bertanya pada Haruto yang duduk di sebelahnya.


“Woi Haru-san. Apa yang kau lakukan pada Toujou-san? Dia benar-benar tergila-gila padamu, tuh.”


“Aku tidak melakukan apa-apa. Cuma menembaknya secara normal lalu pacaran, dah.”


“Kau ini ternyata punya bakat alami penakluk hati ya, Toujou-san juga jadi korbannya.”


“Apa coba. Jangan bicara yang nggak enak didengar begitu.”


“Yang tidak sadar diri justru yang paling parah.”


Di tengah percakapan Tomoya dan Haruto, Ayaka menyela dengan malu-malu.


“Akagi-kun. Boleh aku duduk di sebelah Haruto-kun?”


“Boleh, dong! Monggo, monggo!”


“Makasih.”


Mendengar jawaban Tomoya, Ayaka dengan tak sabar langsung duduk menempel rapat di sebelah Haruto. Melihat senyum merekah gadis itu saat duduk, Tomoya memejamkan mata dengan tenang, meletakkan tangan di dada, dan menengadah ke langit.


“Dewi... turun ke bumi...”


“Ngomong bodoh apa sih kau ini.”


“Haru. Meledak saja sana.”


“Ogah.”


“Sial~ iri banget~”


Tomoya menggertakkan gigi gerahamnya, menunjukkan ekspresi cemburu. Saki kemudian menyapanya.


“Akagi-kun, boleh aku duduk di sebelahmu?”


“Eh? Ah, boleh kok.”


Tomoya menatap sedikit heran saat Saki duduk begitu saja di sebelahnya.


Merasakan tatapan itu, Saki tersenyum kecut dan berkata sambil melihat Ayaka yang duduk di sebelah Haruto.


“Kalau berada di sebelah Ayaka yang lagi mode kasmaran, rasanya bikin eneg.”


“Ah, paham, sih.”


Tomoya mengangguk setuju pada ucapan Saki. Ayaka yang duduk di sebelah Haruto sudah memancarkan aura kebahagiaan dari sekujur tubuhnya, dan wajahnya terus-menerus tersenyum lebar.


“Ufufu, senang rasanya bisa berada di sebelah Haruto-kun pas di sekolah juga.”


Mendengar ucapan Ayaka yang tersipu malu, sudut bibir Haruto juga terangkat senang.


Tomoya yang melihat kelakuan dua orang itu langsung mengerutkan wajah seolah mulutnya disumpal sebongkah cokelat susu. Lalu, ia merampas café au lait yang sedang dipegang Haruto.


“Woi, café au lait-ku!”


“Bacot!”


Diiringi suara protes, Haruto mencoba merebut kembali café au lait-nya.


Tomoya menepis lengan Haruto, lalu menenggak habis sisa café au lait tersebut.


“Sial, café au lait ini kemanisan. Kalau begini sih harus kopi hitam.”


Setelah menenggak habis café au lait, Tomoya mengeluh sambil mengabaikan sepenuhnya tatapan kesal dari sahabatnya.


“Aizawa-san, nanti kita minum kopi tanpa gula bareng, yuk. Aku yang traktir.”


“Terima kasih. Kebantu banget.”


Saki mengangguk dengan senyum kecut menanggapi ajakan Tomoya. Haruto lalu bertanya.


“Jadi, kenapa Ayaka dan Aizawa-san ada di sini? Tadi katanya mau cari tempat sepi.”


“Ah, yah, aku agak penat. Begitu ada waktu sedikit saja, semua orang langsung memberondong Ayaka dengan pertanyaan.”


Sambil menunjukkan ekspresi agak lelah, Saki menjelaskan kepada Haruto dan Tomoya.


Sejak hari pertama masuk sekolah usai liburan di mana Ayaka mendeklarasikan ‘suka sama seseorang’, situasi di mana dia terus-menerus didesak pertanyaan tentang siapa orang itu terus berlanjut.


Sasarannya bukan hanya Ayaka si tokoh utama, tapi Saki yang merupakan sahabatnya juga ikut diserbu pertanyaan karena dianggap memegang informasi.


“Setiap kali jam istirahat, dikasih pertanyaan yang sama berulang-ulang itu bak neraka...”


“M-Maaf ya, Saki. Jadi menyeretmu...”


“Yah, sebagai sahabat sih aku senang lihat Ayaka bahagia karena sudah punya pacar, tapi ya...”


Melihat Ayaka meminta maaf dengan rasa bersalah, Saki tersenyum, meski tersirat sedikit kelelahan di dalamnya.


“Oh, jadi sebab itu kalian cari tempat sepi.”


Tomoya mengangguk mendengar cerita Saki.


“Begitulah. Kupikir situasi ini tak akan berlangsung lama, jadi harus bersabar sampai mereda.”


Saki berkata begitu, lalu menghembuskan napas panjang “Fuu~” seolah melepaskan beban.


“Ngomong-ngomong aku dengar dari Ayaka, katanya Ootsuki-kun akan tinggal di kediaman Toujou?”


“Ah, yah, dibilang tinggal juga... lebih tepatnya bakal sering menginap, sih.”


Karena detail pastinya belum diputuskan, Haruto menjawab dengan ambigu.


Di sebelahnya, Ayaka yang tersenyum lebar membuka mulut dengan riang.


“Sabtu pekan ini kami akan membicarakannya. Ryota dari sekarang sudah heboh banget bilang ‘Onii-chan mau menginap!!’.”


“B-Begitu, ya... Di benak Ryota-kun, sudah dipastikan aku bakal menginap ya...”


“Haru, kalau begitu festival kembang apinya bakal berangkat bareng dari rumah, dong.”


Kata Tomoya sambil cengar-cengir menggoda.


Mendengar ucapan itu, Saki menatap Haruto dan Ayaka seolah teringat sesuatu.


“Omong-omong, kalian berniat pergi ke festival kembang api bareng?”


“Iya. Rencananya sih begitu, ya?”


Setelah mengangguk pada ucapan Saki, Ayaka menatap Haruto. Menerima tatapan itu, Haruto pun mengangguk balik.


Mendengar jawaban mereka berdua, Saki memasang wajah cemas.


“Festival kembang api itu pengunjungnya luar biasa banyak, jadi kemungkinannya kecil, tapi kalau kalian kelihatan sama orang sekolah sedang menuju lokasi festival berduaan dari awal, bukannya gawat?”


“Ah... benar juga.”


“Soalnya Ayaka itu mencolok.”


“Benar juga...”


Haruto mengangguk mantap menyetujui Saki.


Biasanya saja Ayaka sudah menarik perhatian orang yang lalu-lalang dengan kecantikannya. Jika dia berdandan memakai yukata, tatapan orang-orang di sekitar pasti mau tak mau akan terpusat padanya. Di benak Haruto terbayang sosok Ayaka dalam balutan yukata yang indah saat mereka mengadakan Ouchi Ennichi tempo hari.


Lalu, dari sebelahnya terdengar suara sedih Ayaka.


“J-Jangan-jangan, lebih baik kita nggak pergi ke festival kembang api...?”


Mendengar suara lemah dan murung gadis itu, rasa bersalah menyeruak di hati Haruto.


Tiba-tiba, Tomoya memberikan usulan.


“Bagaimana kalau kalian pura-pura datang sama teman masing-masing, lalu papasan di sana?”


“Ide bagus, tuh.”


Saki mengangguk pada usulan Tomoya.


“Kalau sampai kelihatan orang memang bakal tetap merepotkan, tapi setidaknya masih ada celah untuk bikin alasan.”


“Maksudnya, awalnya aku pergi ke festival kembang api bareng Tomoya, terus Ayaka pergi bareng Aizawa-san, lalu kita pura-pura ketemu di lokasi?”


Jika membuat skenario pergi menonton kembang api bersama sahabat masing-masing lalu bertemu secara kebetulan, kalaupun dilihat oleh siswa sekolah, masih ada jalan keluar dibandingkan jika hanya terlihat berduaan saja antara Haruto dan Ayaka.


Tomoya menyeringai dan menepuk bahu Haruto sekali.


“Nanti di waktu yang pas, aku akan pura-pura terpisah dan menghilang.”


Sambil berkata begitu, dia juga mengacungkan jempol ke arah Ayaka.


“Makasih, Akagi-kun.”


“Kalau begitu, aku juga akan membiarkan kalian berduaan di waktu yang sama.”


Menyusul Tomoya, Saki juga berkata sambil tersenyum.


“Maaf Aizawa-san. Jadi merepotkanmu.”


“Tidak apa-apa. Aku ingin Ayaka menikmati masa sekarang sepuas-puasnya, sebagai ganti masa lalu saat dia nggak bisa pacaran.”


“S-Saki~”


Mendengar kata-kata Saki, Ayaka tak tahan lagi dan pindah dari sebelah Haruto untuk memeluk sahabatnya. Saki mengelus kepala Ayaka sambil berkata “Cup cup”.


“Mm! Sungguh pemandangan yang indah!”


Melihat interaksi kedua gadis itu, Tomoya menangkupkan kedua tangannya dan meresapinya dengan khidmat.


“Hentikan, dasar mesum.”


Sanggahan lelah Haruto pun terserap ke dalam birunya langit musim panas.



“Nenek, ini rumah Ayaka.”


“Ara maa, megahnya...”


Sebuah rumah mewah menjulang di depan mata.


Nenek membuka mulut kecil karena terkesima, berdiri terpaku dalam kebingungan.


Akhir pekan pertama setelah liburan musim panas usai. Haruto dan Neneknya berdiri sebelahan di depan kediaman Toujou.


Tinggal di sana sebagai asisten rumah tangga, seperti yang diusulkan keluarga Toujou. Untuk membicarakan cara kerja dan frekuensinya, mereka berdua mengunjungi rumah keluarga Toujou lewat tengah hari.


Melirik Nenek yang masih terpana, Haruto menekan interkom dengan gerakan terbiasa.


‘Ya, Ootsuki-kun?’


“Ya, selamat siang Shuuichi-san.”


Suara tenang Shuuichi terdengar dari interkom.


‘Sudah kami tunggu. Akan kubuka pintunya sekarang.’


Segera setelah ucapan itu, pintu depan terbuka dan Shuuichi muncul dari dalam.


Saat menangkap sosok Haruto dan neneknya dalam pandangannya, ia menyapa dengan senyum ramah.


“Salam kenal, saya Toujou Shuuichi. Selamat datang, terima kasih atas kedatangannya hari ini.”


“Terima kasih atas sambutan hangatnya. Saya nenek Haruto, Ootsuki Kiyoko.”


Nenek Haruto, Kiyoko, membungkuk dalam-dalam kepada Shuuichi.


“Selama liburan musim panas, Haruto telah banyak merepotkan Anda.”


“Tidak, tidak! Justru kami banyak dibantu! Pekerjaan rumah Haruto-kun, terutama kemampuan memasaknya, sungguh luar biasa.”


Shuuichi memuji cucu wanita itu dengan senyuman sambil melihat Kiyoko yang membungkuk dalam.


“Mari, tidak enak kalau bicara sambil berdiri di depan pintu, silakan masuk.”


Ia membuka pintu depan lebar-lebar untuk mempersilakan Haruto dan Kiyoko masuk.


Begitu masuk ke dalam kediaman Toujou, Nenek terbelalak kagum melihat interior mewah layaknya rumah gedongan.


“Rumah yang sangat megah, ya...”


“Terima kasih. Silakan, gunakan sandal ini.”


Shuuichi menunduk tersenyum menanggapi pujian Kiyoko, lalu menyiapkan sandal untuknya.


Ngomong-ngomong, sandal Haruto adalah sandal yang ia gunakan selama kerja sambilan asisten rumah tangga, yang kini memang sudah tersedia di rumah Toujou.


Kiyoko menatap lekat-lekat sosok cucunya yang mengganti sepatu dengan gerakan alami, seolah sedang menyarungkan kaki ke sandal rumahnya sendiri.


“Hm? Ada apa, Nek?”


“Tidak, bukan apa-apa, kok.”


“...?”


Melihat Haruto memiringkan kepala kecil, Kiyoko tersenyum lembut.


“Selama liburan musim panas, keluarga Toujou benar-benar memperlakukanmu dengan baik, ya.”


“Ya. Aku bersyukur dari lubuk hati yang paling dalam karena tempat kerja sambilanku adalah rumah Shuuichi-san.”


“Kamu bisa saja bikin orang senang, Ootsuki-kun. Kami juga bersyukur karena yang jadi asisten rumah tangga adalah kamu.”


Mendengar ucapan Shuuichi, Haruto mengucapkan terima kasih pelan dengan senyum malu-malu.


“Mari saya antar ke ruang tamu.”


Shuuichi berkata demikian lalu berjalan perlahan menyusuri lorong. Nenek yang mengikuti di belakang tampak memandang sekeliling lorong, seolah tak henti-hentinya kagum pada kediaman Toujou. Melihat itu, Haruto teringat saat pertama kali ia mengunjungi rumah ini, dan merasa sedikit nostalgia.


Pertama kali datang untuk kerja sambilan dan bertemu Ayaka rasanya seperti sudah terjadi jauh di masa lampau.


Itu menandakan betapa padat dan berartinya waktu yang Haruto habiskan di rumah Toujou selama liburan musim panas ini.


Selagi memikirkan hal itu, Shuuichi membuka pintu di ujung lorong dan masuk ke dalam.


“Ini ruang tamunya.”


Di ruang tamu, anggota keluarga Toujou lainnya sudah berkumpul.


Shuuichi memperkenalkan mereka satu per satu kepada Kiyoko.


“Ini istri saya, Ikue.”


“Salam kenal. Saya istrinya, Ikue. Terima kasih atas kedatangannya hari ini.”


“Saya Kiyoko, nenek Haruto. Sayalah yang seharusnya berterima kasih, mohon kerja samanya untuk kedepannya.”


Ikue dan Kiyoko saling bertukar sapa dengan sopan. Shuuichi kemudian lanjut memperkenalkan Ayaka.


“Anda sudah pernah bertemu putri saya, Ayaka, bukan.”


“Terima kasih untuk waktu itu.”


Mendengar perkenalan Shuuichi, Ayaka tersenyum pada Kiyoko.


“Sama-sama, Ayaka-san. Terima kasih sudah selalu bersama Haruto.”


Terpancing oleh senyumannya, Kiyoko pun ikut tersenyum ramah sambil menundukkan kepala.


Terakhir, Shuuichi memperkenalkan Ryota.


“Ini putra saya, Ryota. Ayo Ryota, beri salam pada Kiyoko-san.”


“...Toujou Ryota. Mulai sekarang mohon bantuannya.”


Karena cenderung pemalu, ia memperkenalkan diri dengan wajah sedikit tegang.


Nenek membalas dengan senyum lembut dan sikap yang halus kepada Ryota.


“Salam kenal Ryota-kun. Saya Kiyoko, neneknya Haruto. Mulai sekarang mohon kerja samanya, ya.”


“Ung... Nenek itu, berarti neneknya Onii-chan?”


Ryota bertanya sambil melihat ke arah Haruto.


“Benar, Ryota-kun.”


“Berarti... kalau Onii-chan jadi kakakku beneran, Nenek juga bakal jadi nenekku?”


“Ah... bakal begitu... mungkin?”


“Nenekku jadi ada tiga, dong!”


Melihat mata Ryota berbinar gembira, semua orang di sekitarnya serempak tersenyum.


Mengenai ‘Rencana Kakak Kandung’-nya Ryota, Haruto sudah menyerah untuk menyangkalnya.


Sebenarnya, dia tidak tahu bagaimana masa depannya dengan Ayaka nanti, tapi kalau dia mencoba menjelaskannya, Ryota akan mulai mengeluarkan serangan ‘Kenapa?’, jadi sekarang dia memutuskan untuk tertawa dan membiarkannya saja.


Tiada hal yang lebih merepotkan orang dewasa selain pertanyaan ‘Kenapa?’ dari anak kecil yang masih murni dan polos.


Setelah perkenalan keluarga Toujou selesai, semua orang pindah ke meja makan dan duduk.


“Kalau begitu, langsung saja, saya ingin membicarakan tentang pekerjaan Kiyoko-san sebagai asisten rumah tangga, apakah boleh?”


“Ya, silakan.”


Mendengar ucapan Shuuichi, Kiyoko menunduk sopan.


Dari situ, dibicarakanlah bagaimana Kiyoko akan bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Toujou.


Pembicaraan berjalan lebih lancar dari dugaan, dan kesepakatan tercapai dalam waktu sekitar tiga puluh menit.


Kiyoko akan tinggal dan bekerja di rumah Toujou selama lima hari dalam seminggu, dari Selasa hingga Sabtu. Pada hari Minggu dan Senin, ia akan pulang ke rumah Ootsuki. Jika cuaca sedang buruk, Shuuichi atau Ikue akan mengantar-jemput dengan mobil. Begitu pula jika kondisi pinggang Kiyoko sedang tidak baik.


Selain itu, Shuuichi juga memberikan kelonggaran yang sangat berarti: jika ada keperluan, Kiyoko boleh mengambil cuti dari pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga kapan saja.


Detail penting lainnya seperti masalah gaji dan jam kerja juga diputuskan.


“Kalau begitu, Kiyoko-san akan mulai kerja di rumah kami mulai Selasa depan, apakah setuju?”


Karena pembicaraan telah rampung dalam bentuk yang memuaskan baginya, Shuuichi mengonfirmasi kepada Kiyoko dengan wajah senang.


“Ya, mulai sekarang mohon kerja samanya.”


Kiyoko menunduk dalam-dalam dengan sopan kepada seluruh keluarga Toujou.


Saat anggota keluarga Toujou juga menunduk bersamaan, Ikue tersenyum manis.


“Kami juga mohon kerja samanya. Saya menantikan masakan Kiyoko-san. Ya kan, Ayaka.”


“Iya. Masakan Haruto-kun juga sangat enak. Jadi aku sangat menantikan masakan Kiyoko-san.”


“Aku mau makan hamburger!!”


“Hei Ryota, hamburger kan baru saja dibuatkan Ootsuki-kun kemarin?”


Ikue menegur lembut Ryota yang matanya berbinar penuh harap, namun senyum masih tersungging di wajah Ikue. Melihat reaksi keluarga Toujou yang demikian, wajah Kiyoko menjadi sumringah.


“Saya akan berusaha sekuat tenaga agar bisa memenuhi harapan kalian semua.”


Melihat Kiyoko menjawab dengan sikap lembut, Ayaka tertawa kecil dan berbisik pada Haruto di dekatnya.


“Cara bicara Kiyoko-san. Mirip Haruto-kun waktu awal-awal, ya.”


“Eh? Apa iya?”


“Iya. Mirip banget.”


Ayaka berkata pelan “Keluarga itu menarik, ya” sambil senyum-senyum sendiri. Melihat reaksinya, Haruto merasa agak malu dan menggaruk kepala dengan satu tangan.


Setelah pembicaraan tentang Kiyoko selesai, topik beralih ke Haruto. Shuuichi menautkan jari di atas meja makan, memajukan tubuhnya dengan santai, dan mulai berbicara.


“Nah, selanjutnya saya ingin bicara tentang kehidupan Haruto-kun.”


Ia mengarahkan pandangan ke nenek Haruto dan melanjutkan.


“Bagi saya, rasanya berat hati jika membiarkan Haruto-kun sendirian di rumah saat Kiyoko-san bekerja di rumah kami. Sendirian di rumah padahal masih punya keluarga itu rasanya sepi, ‘kan. Karena itu, saya ingin Haruto-kun juga ikut tinggal bersama kami di sini.”


Sambil berkata begitu, Shuuichi mengamati reaksi Kiyoko. Kiyoko tampak sedikit berpikir.


“Perhatian Anda sungguh membuat saya senang, tapi...”


Di mata Haruto, ekspresi neneknya menunjukkan sedikit keberatan.


“Bukan hanya saya, tapi kalau sampai Haruto juga ikut merepotkan, itu akan mengganggu. Saya merasa sangat tidak enak...”


“Hal itu tidak mungkin terjadi.”


Menanggapi jawaban Kiyoko, Ikue menyela dengan senyuman.


“Kami tahu Haruto-kun anak yang sangat baik melalui kerja sambilan asisten rumah tangganya. Kami sangat menyambut baik kedatangan Haruto-kun di rumah ini. Kami sama sekali tidak berpikir itu merepotkan.”


“Aku sangat senang kalau Haruto-kun ada di rumah.”


Melanjutkan ucapan Ikue, Ayaka juga menyampaikan perasaannya dengan pipi yang sedikit merona.


Meskipun keluarga Toujou sangat terbuka, Kiyoko tetap tidak mengubah ekspresi rumitnya.


“Terima kasih. Tapi, Haruto juga masih muda, dan mengingat hubungannya dengan Ayaka-san, tinggal bersama itu rasanya...”


Kiyoko berucap dengan nada khawatir.


Kekhawatiran terbesarnya tampaknya soal Haruto dan Ayaka.


Sebagai nenek, Kiyoko mengakui dan menyambut baik hubungan Haruto dan Ayaka. Ia tulus ikut senang cucunya mendapatkan pacar yang luar biasa. Namun, itu beda cerita.


Justru karena ia ingin mereka membangun hubungan yang kuat dan mengasihi satu sama lain, ia khawatir akan terjadi ‘kecelakaan’ akibat gejolak masa muda.


Menyadari kekhawatiran Kiyoko, Shuuichi mengangguk kecil sekali lalu tersenyum dan mulai bicara.


“Mari kita istirahat sebentar. Kiyoko-san, di taman ada dek kayu, bagaimana kalau kita berkeliling sebentar?”


Shuuichi yang tiba-tiba mengalihkan topik berdiri dari kursi hendak memperkenalkan taman tengah kepada Kiyoko. Bersamaan dengan itu, ia juga menatap ke arah Haruto dan yang lain.


“Ah iya. Kemarin aku dapat pai apel yang sangat enak dari rekan bisnis. Ibu, tolong sajikan untuk Haruto-kun dan yang lain, ya.”


“Baik, Sayang.”


Ikue mengangguk tersenyum menanggapi ucapan Shuuichi dan menuju dapur. Ryota yang tadinya sedikit bosan dengan pembicaraan, bereaksi terhadap kata ‘pai apel’ yang diucapkan ayahnya, dan mengikuti ibunya dengan wajah tidak sabar.


“Kiyoko-san, lewat sini.”


Shuuichi memandu Kiyoko menuju dek kayu.


Meski awalnya sedikit bingung dengan peralihan topik yang tiba-tiba, Kiyoko merasakan maksud Shuuichi dan dengan patuh mengikuti di belakangnya.


Haruto menatap punggung Shuuichi dan Kiyoko yang menuju ke taman tengah, lalu perlahan bertukar pandang dengan Ayaka. Saat mata mereka bertemu, gadis itu memiringkan kepala kecil dengan wajah bingung.


Sepertinya Ayaka juga tidak tahu apa yang akan dibicarakan Shuuichi dengan Kiyoko.


Sebenarnya apa yang akan Shuuichi bicarakan dengan Nenek?


Sambil menerima pai apel yang disodorkan Ikue, pikiran Haruto dipenuhi oleh hal itu.



Shuuichi dan Kiyoko keluar dari ruang tamu menuju dek kayu di taman tengah.


Mereka berdua sedikit menyipitkan mata karena silau matahari yang memancar dari atas kepala.


“Wah, indah sekali, ya.”


“Tahun ini saya sibuk jadi tidak sempat, tapi tahun depan saya berencana menaruh pot bunga dan menanam berbagai macam bunga di sini.”


“Itu ide yang sangat bagus.”


Kepada Kiyoko yang mengangguk setuju, Shuuichi menawarkan sofa yang ada di dek kayu.


“Mari, duduklah di sebelah sana.”


“Permisi.”


Setelah memastikan Kiyoko duduk di sofa, Shuuichi juga duduk di sofa tepat di sebelahnya.


Merasakan kenyamanan sofa yang sedikit membenam dan memeluk tubuh dengan lembut, Shuuichi tak tahan untuk tidak tersenyum. Dek kayu dan sofa ini adalah tempat favorit yang ia perhatikan secara khusus saat membangun rumah ini.


“Ini nyaman sekali, ya.”


Kiyoko yang duduk di sebelahnya juga mengendurkan ekspresi wajahnya, tampak menikmati.


Meskipun liburan musim panas sudah berakhir, panas yang menyengat masih berlanjut hari demi hari. Namun, lewat tengah hari, rasanya sinar matahari menjadi sedikit melembut. Angin sepoi-sepoi yang berhembus juga terasa nyaman di kulit yang tersinari matahari.


“Sangat cocok untuk berjemur, ya.”


“Syukurlah kalau Anda suka. Kiyoko-san juga, mulai sekarang kalau ingin beristirahat, jangan sungkan untuk menggunakan tempat ini.”


“Terima kasih.”


Kiyoko menunduk berterima kasih atas ucapan Shuuichi.


Dengan santai, mereka berdua menikmati sinar matahari dan udara musim panas, menyandarkan tubuh dalam-dalam ke sofa.


Tak lama kemudian, Shuuichi perlahan angkat bicara.


“Kiyoko-san. Haruto-kun itu anak yang sangat hebat, ya.”


“Terima kasih. Tapi, menurut saya Ayaka-san juga anak yang sangat manis dan hebat, loh? Ayaka-san, yang paling utama, hatinya bersih. Anak yang murni dan baik hati.”


“Ahahaha. Terima kasih.”


Mendengar putrinya dipuji, Shuuichi tertawa lepas dengan sangat gembira dari lubuk hati.


“Mungkin saya dianggap orang tua yang terlalu memuji-muji anak, tapi Ayaka benar-benar tumbuh menjadi anak yang jujur dan lurus. Memang agak ikuk dan punya sisi manja. Tapi meski begitu, saya rasa dia adalah anak baik yang bisa memahami perasaan orang lain.”


“Tidak ada istilah terlalu memuji-muji anak, kok. Saya rasa Ayaka-san memang anak yang seperti Shuuichi-san katakan.”


“Saya sangat senang mendengarnya.”


Shuuichi menunduk dengan senyum ramah kepada Kiyoko, lalu menatap lurus ke mata wanita itu saat berbicara.


“Mungkin saya belum tahu apa-apa soal Haruto-kun. Baru sekitar sebulan saya mengenalnya. Tapi, putri saya, Ayaka, sudah saya perhatikan selama tujuh belas tahun sejak dia lahir hingga hari ini.”


Shuuichi menegakkan tubuhnya dari sandaran sofa, menghadapkan badan ke arah Kiyoko dan melanjutkan kata-katanya.


“Putri saya memilih Haruto-kun. Sebagai seorang ayah, saya ingin menghormati keinginan putri saya itu. Lagipula, kalau Ayaka jelas-jelas salah pilih, sebagai orang tua saya harus meluruskan kesalahan itu, tapi kepribadian Haruto-kun saya lihat sangatlah memikat hati.”


Shuuichi memutus kalimatnya sejenak di sini, lalu menyipitkan mata sedikit menatap langit musim panas.


“Jika bersamanya, Ayaka akan bahagia. Saya rasa Haruto-kun memiliki sesuatu yang membuat saya berpikir demikian.”


“Saya sangat berterima kasih Anda menilai Haruto setinggi itu. Tapi...”


Kiyoko masih menunjukkan keraguan soal Haruto menginap di rumah Toujou. Melihat itu, Shuuichi menurunkan pandangannya dari langit, kali ini menatap ke arah taman tengah sambil membuka mulut.


“Saya dengar dari Haruto-kun, yang mengajarkan semua pekerjaan rumah tangga padanya adalah Kiyoko-san, benar?”


“Ya, anak itu sangat cerdas, dia anak yang terampil dan bisa langsung melakukan apa pun yang diajarkan.”


Dengan sedikit bangga, ekspresi Kiyoko saat membanggakan cucunya terlihat sangat lembut dan bahagia di bawah sinar matahari musim panas.


“Begitu rupanya. Tidak, sungguh, kemampuan bertahan hidup Haruto-kun saya rasa sangat tinggi.”


Mendengar ucapan Kiyoko, Shuuichi mengangguk setuju. Lalu, ia bertanya padanya.


“Anda mengajarkan pekerjaan rumah tangga sesempurna itu kepada Haruto-kun, tujuannya agar kelak tidak kesusahan saat hidup sendiri, bukan?”


Kenapa Haruto yang belum pernah hidup sendiri digembleng kemampuan rumah tangga setinggi itu? Shuuichi yang sudah menduga alasannya, bertanya dengan nada tenang yang penuh perhatian.


Kiyoko sedikit menundukkan wajah dan mengangguk.


“Saya juga sudah tua. Suatu hari nanti, saya akan pergi meninggalkan Haruto. Saat itu tiba, anak itu akan benar-benar sendirian. Tidak ada siapa pun yang bisa ia andalkan. Tapi dia tetap harus hidup. Karena itu, setidaknya saya ingin dia bisa mengurus dirinya sendiri tanpa kesulitan...”


“Masih begitu muda, tapi tidak punya satu pun keluarga. Pasti terasa sangat sepi dan mengkhawatirkan, ya.”


Orang tua Shuuichi masih sehat. Selain itu, ia dikelilingi keluarganya: istrinya, Ikue, putrinya, Ayaka, dan putranya, Ryota. Hanya dengan membayangkan mereka semua menghilang, rasa dingin yang mengerikan menjalar di punggungnya, seolah membekukan sumsum tulangnya.


Nasib Haruto dan Shuuichi sangat bertolak belakang.


Mengenai kehilangan keluarga, mungkin perasaannya tidak sama persis dengan Haruto. Meski begitu, tidak mengubah fakta bahwa itu adalah hal yang menyayat hati dan membebani mental. Begitu pikir Shuuichi.


Kiyoko juga, mungkin membayangkan saat-saat perpisahan yang pasti akan datang itu, ekspresinya menjadi muram.


“Kalau bisa, saya ingin tetap berada di sisi Haruto selama waktu yang sama seperti anak-anak lain bersama orang tua mereka. Tapi... itu bukan sesuatu yang bisa terwujud, jadi...”


“Waktu… memang adil bagi siapa pun, ya.”


Karena adil itulah, ia juga memiliki sisi yang kejam tanpa ampun.


Di antara mereka berdua, mengalir suasana yang sedikit suram.


Untuk mengubah suasana, Shuuichi membuka mulut dengan suara cerah.


“Bagi Haruto-kun, berjalannya waktu mungkin adalah sesuatu yang merenggut keluarga. Tapi, keluarga juga bisa bertambah, loh?”


“Eh? I-Itu...”


Shuuichi tersenyum ramah.


Kiyoko tersendat, menyadari apa yang tersirat dari perkataan Shuuichi.


“Tentu saja, yang memutuskan itu adalah mereka yang bersangkutan, dan saya rasa orang tua seharusnya tidak banyak ikut campur. Bagaimanapun, yang menentukan hidup sendiri haruslah diri sendiri.”


Sambil berkata begitu, Shuuichi melanjutkan kata-katanya dengan ekspresi yang sedikit jenaka.


“Tapi, mendoakan kebahagiaan anak adalah naluri orang tua. Kita ingin mereka menjalani hidup yang penuh kebahagiaan walaupun hanya sedikit. Demi itu, membimbing mereka sedikit, yah, saya rasa boleh-boleh saja.”


Meski tersenyum tampak senang, ada cahaya keseriusan di matanya.


“Pilihan apa yang akan diambil Haruto-kun dan Ayaka, saya tidak tahu. Mereka berdua masih muda. Apa pun pilihannya, saya berniat menghormatinya. Tapi, jika jalan yang dipilih Haruto-kun dan Ayaka adalah jalan yang sama, kami akan menyambutnya dengan senang hati.”


Mendengar Shuuichi menutup pembicaraan dengan senyum lebar, Kiyoko terbelalak kaget dan terpaku.


“A-Apakah Anda berpikir sampai sejauh itu...?”


“Saya baru bicara ringan dengan Ikue, sih. Tapi istri saya juga sependapat.”


Mendapati fakta bahwa keluarga Toujou menyukai Haruto melebihi dugaannya, Kiyoko tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Di situ, Shuuichi dengan tenang menambahkan seolah melancarkan serangan terakhir.


“Kiyoko-san. Apakah Haruto-kun itu menggemaskan?”


“Eh? Ya, tentu saja.”


Meski bingung dengan pertanyaan mendadak itu, Kiyoko mengangguk mantap


Cucu adalah sosok yang begitu ia sayangi hingga rasanya rela melakukan apa pun demi dirinya. Bagi Kiyoko, Haruto adalah keberadaan yang begitu menggemaskan sekaligus berharga.


“Begitu, ya. Tidak, sudah tentu begitu, ya.”


“Ya.”


“Kalau cucu saja sudah seperti itu... bagaimana dengan anak dari cucu? Cicit?”


“C-Cicit...”


Mendengar kata yang tak terduga, Kiyoko membuka mulut dengan bengong.


“Haruto-kun kan punya wajah yang gagah. Pasti anaknya juga akan mewarisi kegagahan itu. Tapi kalau perempuan, apa akan mirip putri saya, Ayaka? Wah, membayangkannya saja sudah membuat senyum merekah, ya.”


“A-Anaknya... Haruto...”


Pada saat itu, sensasi dari masa lalu kembali terasa di lengan Kiyoko.


Itu adalah sensasi saat menggendong Haruto yang masih bayi, yang baru saja lahir. Haruto kecil yang tidur di dalam pelukannya terasa sangat ringan, namun di saat yang sama terasa berat hingga ia merasakan betapa berharganya nyawa itu.


Hanya dengan mendekapnya di dada, muncul rasa bahagia yang seolah menyucikan hati hingga dada terasa mau meledak. Sudah tujuh belas tahun sejak Haruto lahir. Meskipun waktu yang begitu lama telah berlalu, ia masih bisa mengingatnya dengan jelas. Dan sensasi yang ia pikir takkan pernah bisa ia rasakan lagi, mungkin saja bisa, selagi nyawanya masih ada...


Membayangkan saat itu, Kiyoko tiba-tiba sadar lengannya gemetar karena haru.


Di situ, Shuuichi berkata sambil tersenyum lembut.


“Meskipun tinggal seatap, saya juga ingin mereka sadar akan posisi mereka sebagai pelajar. Terlebih lagi, saya percaya mereka berdua pasti akan berpikir dan bertindak dengan benar. Karena saya rasa baik Haruto-kun maupun Ayaka adalah anak yang bisa berpikir sendiri tentang hal-hal seperti itu.”


Pada dasarnya, alasan Shuuichi mengusulkan Haruto ikut tinggal adalah karena ia bisa menilai dari kepribadian Haruto bahwa anak itu akan memperlakukan Ayaka dengan baik meskipun mereka tinggal bersama.


“Mereka berdua bukan lagi anak kecil yang tidak bisa berpikir, ‘kan.”


“Itu... benar, ya.”


Terbujuk oleh Shuuichi, akhirnya Kiyoko mengangguk balik.


“Saya tidak tahu pilihan apa yang akan diambil Haruto, tapi jika anak itu bisa membahagiakan Ayaka-san, tolong terimalah Haruto sebagai keluarga.”


Bersama dengan kata-kata itu, Kiyoko menunduk dalam-dalam kepada Shuuichi.


“Tentu saja. Dengan senang hati.”


Shuuichi juga menunduk kepada Kiyoko sambil mengembangkan senyum ramah.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close