NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V4 Chapter 6

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 6

Tawaran dari Keluarga Toujou

Cahaya matahari pagi yang cerah melimpah ruah.


Langit biru tanpa sehelai awan pun terbentang jernih tanpa batas, menandakan awal hari yang luar biasa.


Cuacanya begitu sempurna, seolah mengizinkan siapa pun untuk memulai hari dengan perasaan cerah. Namun, di bawah langit biru yang menyenangkan itu, seorang siswa SMA bernama Akagi Tomoya berjalan dengan aura sangat lesu. Ia menguap dengan sangat lebar, lalu melirik ke arah Haruto yang berjalan di sampingnya.


“Hei, Haru.”


“Ada apa, Tomoya?”


“Kenapa aku harus berangkat sekolah denganmu, sih?”


“......Maksudnya kau nggak sudi berangkat denganku?”


Mendengar pertanyaan Tomoya, alis Haruto sedikit berkedut.


“Kupikir kau itu sahabatku, Tomoya. Sedih banget...... padahal kemarin aku udah bantuin kamu ngerjain PR sebanyak itu.”


“Bukan begitu. Maksudku adalah, emangnya nggak apa-apa kau nggak berangkat bareng Toujou-san?”


Tomoya menatap Haruto dengan wajah datar setelah matanya mengikuti seorang siswa laki-laki yang kebetulan lewat di dekat mereka dan menjauh. Saat kata ‘Toujou’ terucap, punggung siswa laki-laki yang baru saja lewat itu tampak sedikit bereaksi. Melihat itu, Haruto mengecilkan suaranya dan memberikan jawaban yang tidak bersemangat.


“Ah...... ya begitulah.”


“Jawabannya kok nanggung gitu. Padahal kau udah punya pacar super imut selama liburan musim panas ini.”


Mendengar reaksi samar dari sahabatnya, Tomoya menunjukkan ekspresi heran.


Haruto memastikan siswa laki-laki yang berjalan di depan mereka sudah berada dalam jarak di mana ia tidak bisa mendengar suara mereka, lalu sedikit menekuk bibirnya.


“Aku juga sebenarnya pengin berangkat bareng pacarku, bukan sama cowok dekil kayak lu.”


“Woi, nggak perlu bilang ‘dekil’ segala, ‘kan? Hatiku ini serapuh kaca, jadi tolong perlakukan dengan lebih lembut.”


“Katanya kaca anti peluru zaman sekarang bisa nahan peluru senapan, loh.”


“Haru-san, kata-kata itu terkadang bisa jadi peluru senapan, tahu?”


Sepanjang jalan menuju sekolah, mereka berdua saling melontarkan candaan seperti biasa.


Tomoya mendesak alasan mengapa sahabatnya itu berjalan di sampingnya, bukan di samping sang kekasih.


“Kalau bisa berangkat sekolah bareng Toujou-san itu, kalau cowok normal pasti bakal mikir ‘bodo amat deh kalau besok umat manusia punah’, ‘kan?”


“Apanya yang normal, woi.”


Mendengar ungkapan Tomoya yang berlebihan, kali ini Haruto memasang wajah heran, meski kemudian ia menambahkan dengan gumaman pelan, “Yah, aku agak ngerti sih......”


“Ada berbagai keadaan, jadi kami memutuskan untuk merahasiakan hubungan kami di sekolah.”


“Hah? Apa coba? Jangan-jangan kau takut dicemburuin sama cowok-cowok lain?”


Mendengar perkataan Haruto, Tomoya menatapnya dengan pandangan mencemooh sambil berkata, “Penyakit pengecut kau kumat lagi?”


“Bukan gitu. Yah, aku ngaku sih takut dicemburuin cowok-cowok, tapi bukan itu penyebab utamanya.”


“Terus apa penyebabnya?”


Keduanya berhenti di penyeberangan jalan saat lampu merah menyala.


Haruto mengalihkan pandangannya dari Tomoya, menatap lampu merah, lalu membalas.


“Masalah hubungan pertemanan Ayaka. Katanya waktu SMP, dia berselisih sama temannya gara-gara cowok yang nembak dia, terus dia jadi dijauhin sama temannya itu.”


“Hooo.”


“Nah, itu jadi trauma ringan buat dia. Sikap ‘sama sekali tak tertarik pacaran’ yang ditunjukkan Ayaka di sekolah itu tujuannya buat mencegah kejadian di SMP terulang lagi.”


Setelah selesai menjelaskan, Haruto melirik lampu yang berubah menjadi hijau dan menyeberangi jalan. Sambil berjalan di sampingnya, Tomoya mengangguk kecil, tanda ia sedikit paham.


“Gitu ya. Artinya, kalau misal ada cewek lain yang suka sama Haru, Toujou-san bakal dibenci sama cewek itu, dan dia takut itu kejadian. Gitu kan maksudnya?”


“Benar.”


Mendengar konfirmasi Haruto, Tomoya bergumam “Hmm” sambil meletakkan tangan di dagu, sedikit menunduk dan berpikir. Kemudian, setelah pikirannya tersusun, ia tiba-tiba menoleh ke arah sahabatnya dan berbicara.


“Itu bukannya cuma kekhawatiran Toujou-san yang terlalu berlebihan?”


“Aku juga mikirnya gitu. Tapi, kalau kau yang ngomong rasanya ngeselin.”


Haruto memberikan pukulan ringan ke bahu sahabatnya yang secara tersirat mengatakan ‘Kau tak sepopuler itu’.


“Aduh! Aku menentang kekerasan!”


Tomoya bereaksi berlebihan. Haruto mengabaikannya dan menghela napas kecil “Haaah”. Melihat itu, Tomoya bertanya sambil menautkan kedua tangannya di belakang kepala.


“Terus kau nggak apa-apa kayak gini, Haru? Kau berniat merahasiakan hubunganmu sama Toujou-san selamanya?”


“Ya, enggak lah. Nggak bagus juga, tapi aku sama sekali nggak tahu harus gimana.”


Dengan wajah risau, Haruto kembali menghela napas kecil.


“Yah, hubungan pertemanan cewek kayaknya emang rumit dan ribet sih......”


Tomoya mengarahkan pandangannya pada sekelompok siswi yang berjalan sedikit di depan mereka.


Meskipun isi percakapan mereka tidak terdengar, kelompok siswi itu tampak sedang berbincang dengan riang sambil berjalan menuju sekolah.


Haruto juga mengarahkan pandangannya pada kelompok siswi tersebut.


“Kalau masalahku sendiri sih aku tinggal siapin mental aja, tapi kalau sampai ngaruh ke hubungan pertemanan Ayaka, ya susah juga.”


“Bener juga. Kalau Haru digebukin sampai babak belur di belakang gedung olahraga sih nggak masalah, tapi kalau Toujou-san sampai di-bully, rasanya bikin nyesek juga.”


“Woi bro. Khawatirin aku juga dong.”


Mendengar ucapan Tomoya yang dengan entengnya menelantarkannya, Haruto melancarkan pukulan bahu yang kedua.


Setelah tertawa terbahak-bahak, sahabatnya itu mengajukan satu usulan.


“Kalau seluruh siswa satu sekolah mengakui Haru sebagai pacarnya Toujou-san, masalahnya bakal kelar semua, ‘kan?”


“Jangan asal ngegampangin gitu dong. Lagian, gimana caranya biar diakui?”


Seperti kata Tomoya, jika seluruh siswa mengakui hubungan Ayaka dan Haruto, tidak perlu lagi merahasiakan hubungan mereka.


Jika para siswa laki-laki menilai Haruto pantas menjadi pacar Ayaka, dan para siswi juga menganggap Ayaka dan Haruto adalah pasangan yang serasi.


Jika mereka bisa membuat orang-orang berpikir demikian, hubungan pertemanan Ayaka mungkin tidak akan memburuk meskipun hubungan mereka terungkap. Malah, mungkin akan ada orang yang memberi selamat dan mendukung mereka.


Namun, lawannya adalah sosok yang dikagumi seluruh siswa laki-laki.


Seorang gadis yang bahkan dijuluki ‘Idol Sekolah’.


Apa yang harus dilakukan untuk bisa setara dengan gadis seperti itu? Haruto sama sekali tidak bisa membayangkan. Tampaknya Tomoya juga sama, karena dia memberikan usulan asal-asalan.


“Pokoknya kalau kau jadi Presiden, nggak bakal ada yang komplain, ‘kan?”


“Mending diem deh, kelihatan tololnya.”


Mendengar tanggapan pedas Haruto, Tomoya kembali menunjukkan gestur berpikir, lalu seolah tiba-tiba mendapatkan ide, ia menolehkan wajahnya yang berseri-seri kepada sahabatnya.


“Gimana kalau kau jadi vokalis band aku pas festival sekolah nanti!!”


“......Kenapa jadi ke situ?”


Melihat Tomoya yang memasang wajah seolah berkata ‘Ide bagus, nih!’, Haruto menatapnya dengan curiga.


“Anak band itu populer, ‘kan? Keren, ‘kan? Kalau suara indah Haru bikin seluruh siswa terpesona, udah pasti kita menang, ‘kan?”


“Enggak, mana mungkin semulus itu.”


“Bisa kok! Ayolah, nge-band bareng aku! Oke? Oke?”


Melihat Tomoya yang menatapnya dengan mata berbinar penuh harap, Haruto menunjukkan ekspresi sedikit ilfeel. Namun, satu kalimat dari sahabatnya, “Demi Toujou-san juga, loh!”, membuat hatinya sangat goyah.


“......Yah, nanti kupikirin, deh.”


“Oke! Aku tunggu kabar baiknya!”


Sebagai teman lama, Tomoya merasakan respons positif dari reaksi Haruto, dan ia mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar.


Sambil berjalan dan mengobrol seperti itu, tanpa sadar mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.


Sambil memandangi gedung sekolah yang sudah sekitar sebulan tidak dilihatnya, Haruto teringat pesan dari Ayaka pagi ini. Isi pesannya hanyalah salam “Selamat pagi” yang biasa dan “Aku berangkat sekolah sekarang!”.


Karena pesan itu datang sebelum Haruto meninggalkan rumah, kemungkinan besar Ayaka sudah tiba di sekolah.


Saat ia berjalan melewati gerbang sekolah sambil memikirkan hal itu dengan santai, Tomoya di sebelahnya bersuara, “Hm?”.


“Kayaknya ada kerumunan di depan pintu masuk?”


Mendengar itu, Haruto juga mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk, dan benar saja seperti kata Tomoya, ada kerumunan di sana.


“Apaan tuh? Pemeriksaan seragam pasca liburan?”


“Bukan. Kalau itu mah biasanya di depan gerbang sekolah, bukan di depan pintu masuk, ‘kan?”


“Bener juga.”


Dengan penuh tanda tanya, mereka berdua mendekati kerumunan itu.


Lalu, dari tengah kerumunan terdengar suara seorang siswa laki-laki.


“Toujou Ayaka-san! Aku benar-benar menyukaimu!”


Saat mendengar kata-kata itu, Haruto bergegas menerobos sela-sela siswa yang berkerumun menuju pusat keramaian. Tomoya pun mengikutinya dari belakang.


Akhirnya, setelah membelah kerumunan, Haruto menangkap sosok dua siswa dalam pandangannya.


Satu orang adalah Ayaka, kekasih tercintanya yang baru jadian liburan musim panas ini.


Dan di hadapannya, berdiri seorang siswa laki-laki dengan tampang serius.


“Itu......”


Sambil menatap sosok yang berdiri di depan Ayaka, Haruto mengingat-ingat siapa siswa laki-laki itu. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tetapi sulit mengingatnya.


Saat itulah Tomoya yang mengikuti dari belakang bergumam melihat siswa laki-laki tersebut.


“Itu kan...... Kaidou-senpai dari kelas tiga.”


“Kaidou......”


Mendengar nama itu, Haruto merasakan ada yang tersangkut di ingatannya.


“Itu yang sebelum liburan musim panas melamar Ayaka......”


“Iya, benar. Orang itu.”


Kaidou-senpai. Dia adalah kakak kelas yang gagah namun gila, yang sebelum liburan musim panas memanggil Ayaka lewat siaran sekolah dan melakukan lamaran lengkap dengan cincin pertunangan.


Kaidou-senpai itu kini menatap Ayaka dengan tatapan sangat serius dan berkata dengan lantang.


“Selama liburan musim panas ini, tiada hari tanpa aku memikirkanmu!”


“A-Anu...... saya......”


“Tapi, sebelum liburan aku cuma mikirin diriku sendiri, sama sekali nggak mikirin perasaanmu! Aku minta maaf sudah bikin kamu malu di depan seluruh siswa!”


“I-Iya. Anu......”


“Sejak saat itu aku mawas diri, terus mikir gimana caranya biar bisa pdkt sama kamu! Dan akhirnya, aku menemukan jawabannya!”


Kaidou-senpai menyampaikan pemikirannya dengan nada sangat tegas. Tertekan oleh intensitas itu, Ayaka kesulitan menyela dan memasang wajah bingung.


Namun, tanpa menyadari ekspresi Ayaka, Kaidou-senpai melanjutkan omongannya dengan wajah penuh percaya diri.


“Toujou Ayaka-san! Dengan premis untuk menjadi pacar, tolong jadilah temanku dulu! Aku mohon!!”


Setelah mendeklarasikan itu dengan suara lantang, Kaidou-senpai menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan di saat yang sama, Wush! Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Ayaka.


Tindakan Kaidou-senpai yang penuh semangat itu memancing sorakan “Woooh” dari kerumunan di sekitarnya. Kemudian, kerumunan itu serentak mengarahkan pandangan penuh rasa penasaran kepada Ayaka, menantikan reaksi apa yang akan dia tunjukkan.


Mungkin merasakannya, wajah Ayaka memerah padam sambil menatap tangan kanan yang terulur itu.


Melihat kekasihnya didekati pria lain, Haruto merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membuncah di hatinya, dan ia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat.


Ayaka menatap tangan Kaidou-senpai dalam diam sejenak, lalu menundukkan kepalanya sedikit.


“Maafkan saya!”


Saat satu kata itu terucap, tangan Kaidou-senpai bergetar hebat.


“Anu, saya...... saya sangat senang dengan perasaan Senpai, tapi saya tidak bisa membalasnya.”


Mendengar penolakan tegas Ayaka, Kaidou-senpai perlahan mengangkat kepalanya. Ekspresinya tampak sedikit sedih, tetapi cahaya harapan masih terlihat di matanya.


“Boleh aku tanya alasan kenapa tidak bisa?”


“Iya. Itu...... jadi teman sih nggak apa-apa, tapi kalau premisnya untuk jadi pacar, itu nggak bisa......”


“Kok gitu?”


“Itu karena...... umm...... ka-karena saya sudah suka sama seseorang.”


“Apa!?”


Kata-kata yang terlontar dari Ayaka itu bagaikan sambaran petir, tidak hanya bagi Kaidou-senpai, tetapi juga bagi seluruh siswa yang berkerumun di sekitarnya. Satu-satunya dari dua orang yang tidak terkena dampak sambaran petir itu adalah Tomoya, yang tersenyum menyeringai dan menyikut pinggang sahabat di sebelahnya dengan sikunya.


Haruto menepisnya dengan berlebihan untuk menyembunyikan rasa malunya.


Fakta mengejutkan yang dilontarkan Ayaka.


Meskipun Kaidou-senpai sedikit terluka oleh kata-kata itu, dia bertanya lagi seolah masih ada harapan yang tersisa.


“O-Orang yang kamu suka itu? Siapa sebenarnya?”


Harapan yang tersisa bagi Kaidou-senpai. Itu adalah kemungkinan bahwa Ayaka sedang berbohong.


Mungkin dia mengarang sosok orang yang disukai untuk menolak tawarannya. Baginya, itu memang tetap situasi yang menyedihkan, tetapi masih sedikit lebih baik daripada situasi di mana dia benar-benar menyukai seseorang.


Mendengar pertanyaan yang didasari spekulasi itu, pipi Ayaka merona merah seketika, dan sambil sedikit menunduk dia menjawab dengan malu-malu.


“Itu...... rahasia.”


“!!!!”


Bagaikan bunga lili cantik yang bergoyang tertiup angin musim panas, sosoknya tersenyum malu-malu dengan sudut bibir terangkat dan pipi yang merona. Sosok itu benar-benar wujud seorang gadis yang sedang jatuh cinta.


Kaidou-senpai, yang menerima serangan keimutan Ayaka yang begitu dahsyat tepat di wajahnya, membeku dengan mulut ternganga seolah jiwanya telah melayang ke akhirat.


Siapa gerangan pria yang bisa membuat Idol Sekolah memasang wajah seperti itu?


Para siswa laki-laki yang berkerumun di sana serentak memikirkan pertanyaan yang sama di benak mereka.


Hari pertama setelah liburan musim panas.


Idol sekolah, Toujou Ayaka, memiliki orang yang disuka!


Berita besar ini menyebar ke seluruh sekolah lebih cepat daripada angin.



Begitu liburan musim panas usai, suasana di dalam kelas ingar bingar bagai sarang tawon yang dicolok.


Dari kursi paling belakang di dekat jendela, Haruto mengarahkan pandangannya ke tengah kelas yang menjadi pusat keriuhan. Di sana, tampak sosok Ayaka yang dikelilingi oleh banyak siswi.


Dia dikepung oleh banyak siswi dan dihujani pertanyaan.


“Hei, hei, Toujou-san! Siapa orang yang kamu suka!?”


“Mungkinkah orang di kelas ini?”


“Kapan mulai sukanya? Pas liburan musim panas, ya?”


Siswi yang melontarkan pertanyaan menampakkan ekspresi bermacam-macam.


Ada yang matanya berbinar mendengar gosip cinta orang terkenal. Ada yang tersenyum ramah di permukaan tapi bertanya seolah sedang menyelidiki dengan mata waspada. Ada juga yang bertanya dengan antusias karena murni rasa ingin tahu.


Dari luar lingkaran siswi-siswi itu, para siswa laki-laki curi-curi pandang sambil berpura-pura tidak peduli.


Mereka pasti berusaha mati-matian menajamkan telinga untuk mendengar jawaban Ayaka.


Mungkin menyadari hal itu, Ayaka terus memberikan jawaban yang ambigu sambil tersenyum menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.


“Aku nggak bisa bilang siapa orangnya, tapi dia orang yang sangat hebat, kok.”


“Eh~! Siapa!? Siapa sih!?”


“Rahasia, dong.”


“Kasih tahu, doong~”


Percakapan semacam ini terus berulang sejak tadi tanpa henti.


Haruto memandangi keriuhan itu sambil menopang dagu. Meskipun tersenyum, kekasihnya itu pasti sangat kebingungan di dalam hati. Apakah ia tidak bisa melakukan sesuatu? Saat Haruto memendam perasaan gemas itu, Tomoya datang dari arah depan sambil tersenyum kecut.


“Ngeri sih itu.”


“Yah, kalau mikirin popularitasnya sih wajar aja.”


Haruto membalas ucapan Tomoya dengan bibir miring.


Karena hari ini adalah upacara pembukaan, tidak ada pelajaran biasa, hanya ada pertemuan seluruh sekolah dan homeroom.


“Hari ini sih cuma pagi doang jadi nggak masalah, tapi mulai besok bakal repot, tuh.”


“Kalau seharian begitu terus bisa stres berat.”


Setiap jam istirahat dikepung dan dihujani pertanyaan, mental bisa terganggu.


Meskipun mengkhawatirkan Ayaka, saat ini Haruto tidak bisa melakukan apa-apa.


Namun, menggantikan posisinya, ada sosok yang sangat bisa diandalkan datang menyelamatkan Ayaka.


“Ayaka~ sebelum guru datang, ke toilet dulu, yuk.”


Yang memanggil dengan suara ceria adalah sahabatnya, Aizawa Saki.


Saki menepuk bahu Ayaka dengan ekspresi ceria. Ayaka pun tersenyum lega dan menanggapi ajakan sahabatnya.


“Iya. Ayo.”


Setelah bilang begitu, Ayaka bangkit dari kursinya dan keluar kelas bersama Saki.


Melihat itu, Tomoya memuji tindakan Saki dengan suara pelan.


“Hebat juga Aizawa-san. Bisa menyelamatkan Toujou-san semulus itu.”


Melihat Ayaka dan Saki dengan begitu mulusnya pergi ke toilet, para siswi yang kehilangan target pertanyaan mereka jadi mati gaya dan kembali ke kursi masing-masing dengan kecewa.


Setelah melirik sekilas ke arah para siswi yang membubarkan diri, Tomoya bertanya pada Haruto.


“Aizawa-san tahu hubungan kalian?”


“Ya, dia bilang mau cerita ke Saki, jadi harusnya tahu.”


“Berarti yang pegang info rahasia ini cuma aku sama Aizawa-san, ya?”


Menanggapi Tomoya yang menyeringai, Haruto berkata sambil tetap menopang dagu.


“Shizuku juga tahu.”


“Ah, Shizuku-chan juga tahu, ya.”


Karena Tomoya adalah sahabat sekaligus teman masa kecil Haruto, dia cukup mengenal Shizuku. Dia bertanya tentang Shizuku dengan wajah sedikit tertarik.


“Pas ngabarin soal pacaran ke Shizuku-chan, reaksinya gimana?”


“Dia bilang selamat, terus sambil manyunin bibir bilang ‘para riajuu meledak saja sana’.”


“Shizuku-chan yang wajahnya sedatar tembok besi itu memanyunkan bibir?”


Tomoya membelalakkan matanya sedikit karena terkejut.


“Sekaget itu? Shizuku sering bikin muka aneh kok.”


“Hmm, gitu ya......”


“Ada apa dengan anggukan mencurigakan itu?”


“Enggak, bukan apa-apa.”


Saat Haruto hendak bertanya lebih lanjut karena reaksi yang mencurigakan itu, ponsel di sakunya bergetar kecil. Saat mengambil dan mengeceknya, ada pesan masuk dari Ayaka.


Haruto melihat sekeliling dengan cepat untuk berjaga-jaga, lalu memeriksa isi pesan.


(“Maaf ya Haruto-kun. Padahal aku sendiri yang bilang mau merahasiakan ini, tapi malah aku sendiri yang keceplosan bilang punya orang yang disuka.”)


Melihat pesan permintaan maaf darinya, mulut Haruto mengendur membentuk senyum.


Padahal Ayaka yang mengalami kesulitan, tapi dia malah mengkhawatirkan Haruto. Sambil memikirkan hal itu, Haruto membalas pesannya.


(“Ayaka nggak salah kok. Jadi nggak perlu minta maaf.”)


(“Makasih. Entah kenapa waktu ngobrol sama Kaidou-senpai, pas mikirin Haruto-kun, mulutku gerak sendiri......”)


“Ugh.”


Mendapat pesan yang begitu manis itu, Haruto hampir saja menyeringai lebar. Untuk menahannya, dia mengeraskan wajahnya kuat-kuat, tapi malah keluar suara erangan aneh.


“Woi Haru. Kenapa pasang tampang menjijikkan kayak gitu?”


“Ini muka seriusku. Jangan bilang jijik.”


“Tidak, tidak. Kalau muka nyengir gitu kau bilang muka serius, kau bahaya banget sih, bro.”


Mendengar kata-kata Tomoya, Haruto sadar bahwa dia sama sekali gagal menahan senyumnya.


Agar ekspresinya tidak terlihat oleh sahabatnya, dia menundukkan wajah dan melihat ke ponsel di tangannya. Di sana, pesan lanjutan dari Ayaka sudah masuk.


(“Hari ini sepulang sekolah bisa ketemu, nggak?”)


Bersamaan dengan pesan itu, dikirim juga stiker kelinci yang mengintip dari balik dinding.


(“Kalau gitu, lewat tengah hari nanti aku ke rumah Ayaka.”)


(“Horeee!!”)


Melihat balasan Ayaka, ekspresi Haruto secara alami membentuk senyuman.


“Kuulangi Haru-san. Dari tadi kenapa sih kau cengar-cengir kayak gitu?”


“Rahasia.”


Sambil menghindari pertanyaan Tomoya, Haruto memasukkan ponselnya ke dalam saku.



Setelah upacara pembukaan selesai, Haruto bergegas pulang ke rumah.


“Aku pulang~”


Sambil bergumam dengan sedikit lesu, Haruto masuk ke rumah. Karena neneknya sedang bekerja, seharusnya tidak ada siapa-siapa di rumah. Dengan niatan mau membuat makan siang sederhana lalu segera pergi ke rumah Ayaka, dia memasuki ruang tengah.


Namun, tak disangka ada sosok neneknya di sana.


“Eh? Nenek?”


Saat Haruto menyapa dengan sedikit terkejut, barulah sang nenek menyadari kepulangan cucunya. Beliau perlahan mengangkat wajah yang tadinya menunduk dan menatap Haruto.


“Ah Haruto...... selamat datang.”


“Ya, aku pulang. Hari ini libur kerja?”


“Begitulah......”


Nenek bekerja di warung makan set menu yang letaknya dekat dari rumah.


Warung itu dikelola oleh teman lamanya secara perseorangan, jadi tidak aneh jika terkadang ada libur dadakan seperti ini.


Dulu, saat mengambil alih hak asuh Haruto yang kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan lalu lintas, Nenek yang sebelumnya ibu rumah tangga memutuskan untuk mulai bekerja karena butuh uang di masa depan. Saat itulah, temannya itu menawarinya pekerjaan. Sejak saat itu hingga sekarang, Nenek terus bekerja di warung makan tersebut.


Karena siang hari beroperasi sebagai warung makan dan malam harinya menjadi izakaya, terkadang beliau bekerja sampai larut malam. Namun, tempat kerjanya saat ini yang sangat fleksibel memberikan perlakuan yang cukup baik.


Sambil menuju dapur, Haruto berbicara pada neneknya.


“Siang ini aku mau bikin yakisoba, Nenek mau?”


“......Iya. Boleh.”


“Terus, habis makan siang aku rencananya mau ke rumah Ayaka.”


“......Iya. Boleh.”


“Sebelum makan malam aku bakal pulang, kok.”


“......Iya. Boleh.”


“Nek...... Nenek nggak apa-apa?”


Nenek menjawab perkataan Haruto dengan hampa. Merasa curiga, Haruto kembali dari dapur ke ruang tengah dan menatap neneknya. Nenek tampak tersentak sadar, lalu menatap wajah cucunya. Kemudian, ekspresinya kembali lembut seperti biasa.


“Tidak apa-apa, kok. Mau ke rumah Ayaka-san, ‘kan? Lekas makan siang dan siap-siap gih.”


Sekilas, beliau tampak kembali seperti biasanya. Namun, di mata Haruto yang sudah lama tinggal bersamanya, neneknya tampak sedang menyembunyikan sesuatu dan berusaha menutupinya.


“Nek. Kalau ada apa-apa bilang saja.”


“......Tidak ada apa-apa, kok. Tidak masalah.”


“Nenek.”


“............”


Haruto terus menatap neneknya dalam diam.


Nenek sempat menepis tatapan cucunya dengan senyum lembut, tapi karena Haruto terus menatapnya, akhirnya beliau menyerah dan melepaskan topeng senyum lembut itu.


“Hah...... Haruto, maaf ya.”


Setelah menghela napas panjang, Nenek berkata dengan wajah yang kesusahan.


“Sebenarnya Kikuchi-san mau menutup kedainya.”


“Eh!? S-Serius?”


Kikuchi-san adalah teman yang mengelola warung makan tempat Nenek bekerja.


“K-Kalau gitu......”


“Harus cari pekerjaan baru......”


Gumam Nenek dengan nada sedikit lelah.


Kikuchi-san yang sudah lama mempekerjakannya memang sudah cukup lanjut usia, dan kabarnya beberapa hari yang lalu beliau jatuh sakit.


Nyawanya tidak terancam, tetapi tampaknya beliau sudah tidak punya tenaga lagi untuk melanjutkan usaha warung makannya.


Hari ini saat Nenek pergi bekerja, Kikuchi-san memohon sambil dogeza agar diizinkan menutup kedai. Kikuchi-san yang mengetahui keadaan Nenek sebenarnya sudah berusaha mencari cara agar kedai tetap buka, tetapi tampaknya tidak ada solusi yang bagus.


“Gitu, ya...... gimana, ya.”


Mendengar penjelasan itu, Haruto menunduk dan berpikir keras.


Mengingat usia neneknya, mencari pekerjaan baru akan sangat sulit. Ditambah lagi, kondisi pinggang neneknya mulai memburuk. Tempat kerja yang mengharuskan perjalanan jauh sebaiknya dihindari.


“......Nek. Kayaknya setelah lulus SMA, aku kerja aja, deh.”


Jika Nenek hidup sendiri, uang pensiun mungkin cukup. Tapi jika ditambah biaya hidup dan biaya kuliah Haruto, rasanya kuliah itu tidak realistis. Ucapan Haruto dilandasi pemikiran itu, tetapi neneknya menggelengkan kepalanya dengan tegas.


“Tidak bisa begitu. Haruto harus kuliah. Bukannya selama ini kamu belajar keras demi itu?”


“Iya sih. Tapi......”


“Haruto tak perlu risau. Nenek akan usahakan sebisa mungkin.”


Neneknya berkata dengan sikap tegas. Melihat itu, Haruto justru khawatir neneknya akan memaksakan diri.


Neneknya sudah bukan di usia yang bisa memaksakan diri lagi.


“Nek......”


“Sudah, kamu mau pergi ke tempat Ayaka-san, ‘kan? Mumpung sudah dapat pacar yang hebat begitu. Harus dijaga baik-baik, loh.”


Tertekan oleh aura Nenek yang menyiratkan ‘tidak ada tapi-tapian’, Haruto tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia menurut membuat makan siang, memakannya, dan didesak untuk segera pergi ke rumah Ayaka.


Haruto keluar rumah seolah-olah diusir secara halus, dan memikirkan cerita neneknya tadi.


Mengingat usia Nenek, mencari pekerjaan baru secara normal hampir mustahil.


Satu-satunya kemungkinan adalah jika ada yang menghargai keahlian masaknya yang tinggi dan mempekerjakannya, tapi Haruto tidak punya koneksi untuk itu.


“Kayaknya aku memang harus kerja aja, ya......”


Neneknya pasti akan menentang keras, tapi keadaan mendesak.


Sambil berjalan dengan pikiran seperti itu, tanpa sadar dia sudah sampai di depan rumah mewah yang sudah tak asing lagi.


Berkat sering datang selama liburan musim panas, tubuhnya seolah ingat jalan ke kediaman Toujou secara otomatis.


Haruto menekan bel interkom dengan gerakan terbiasa.


“Aku datang.”


“Haruto-kun, udah kutunggu, loh. Bentar, aku buka, ya.”


Saat Haruto bicara singkat, terdengar suara Ayaka yang riang dan gembira dari balik interkom.


Mendengar suara itu, kecemasan Haruto terasa sedikit mereda.


“Selamat datang, Haruto-kun!”


Pintu depan segera terbuka, dan Ayaka muncul dengan senyum lebar. Dia menarik ujung lengan baju Haruto, membawanya masuk ke dalam rumah, dan mereka langsung menuju ruang tamu.


“Hari ini Shuuichi-san dan Ikue-san kerja?”


Haruto bertanya sambil melihat sekeliling ruang tamu yang kosong.


“Iya. Dua-duanya kayaknya bakal pulang telat hari ini. Jadi nanti aku harus jemput Ryota.”


“Gitu, ya. Kalau gitu, boleh aku ikut jemput juga?”


“Beneran? Kalau Haruto-kun ikut jemput, Ryota pasti seneng banget!”


Sambil mengobrol begitu, mereka berdua duduk berdampingan di sofa ruang tamu.


Begitu duduk di sofa, Ayaka langsung menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke Haruto dan memeluk lengan Haruto dengan bahagia.


“Akhirnya bisa dapat asupan Haruto-kun.”


“Asupan apanya, aku kan bukan nutrisi.”


“Bagiku yang sekarang, Haruto-kun itu salah satu dari lima nutrisi utama, tahu.”


Kata Ayaka sambil menggesek-gesekkan pipinya ke bahu Haruto sambil tetap memeluk lengannya.


Haruto melirik lengannya yang tenggelam di dada Ayaka, lalu tersenyum kecut.


“Lihat situasi di sekolah hari ini, mau mendekat juga susah sih rasanya.”


“Hooh. Padahal Haruto-kun ada di dekatku, tapi nggak bisa ngobrol, rasanya nyesek......”


Ayaka menurunkan alis indahnya dan tampak murung.


Haruto mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Ayaka pun tersenyum meleleh seolah merasa nyaman dan menyandarkan berat badannya pada Haruto.


Melihat ekspresi kekasihnya yang dipenuhi kebahagiaan, hati Haruto pun ikut terisi. Namun, kekhawatiran tentang keluarganya tidak sepenuhnya hilang, dan jauh di lubuk hatinya, perasaan gelisah dan cemas masih berputar-putar.


Mending membiarkan neneknya memaksakan diri, atau menyerah kuliah dan langsung bekerja setelah lulus SMA......


Bagi Haruto, Nenek adalah satu-satunya keluarga yang berharga.


Memaksa orang yang begitu berharga baginya untuk bekerja keras itu menyakitkan. Namun, jika Haruto bekerja pun, itu akan membebani Nenek dengan rasa bersalah karena tidak bisa menguliahkan cucunya.


Harus bagaimana......


“Haaah......”


Karena kecemasan yang tak ada jawabannya, tanpa sadar Haruto menghela napas kecil.


Seketika, Ayaka yang menyandarkan kepalanya di bahu Haruto mengangkat wajahnya dan menatap dengan cemas.


“......Haruto-kun?”


“Ah, tidak. Maaf, bukan apa-apa kok.”


Haruto buru-buru mengelak dan memasang senyum untuk menutupinya.


Namun, tatapan khawatir Ayaka tidak berubah.


“Maaf, ya. Gara-gara aku ngomong yang nggak perlu di sekolah......”


Ayaka berkata dengan suara lirih dan wajah sedih.


Haruto memeluk bahu gadis yang salah paham tentang alasan helaan napasnya itu dengan lembut, dan berbicara dengan nada selembut mungkin agar dia tidak merasa cemas.


“Bukan kok, Ayaka. Helaan napas tadi bukan karena itu.”


“Beneran? Ada hal lain yang bikin cemas?”


Ayaka bertanya dengan penuh perhatian. Namun, Haruto bingung harus menjawab apa.


Masalah ini adalah masalah keluarga Ootsuki, kalau diceritakan ke Ayaka, bukannya malah cuma bikin dia khawatir yang tidak perlu? Pikiran itu melintas di benak Haruto.


“Emm...... tidak, cuma ada sedikit masalah, tapi bukan hal besar, kok.”


“Yang bener?”


Melihat Haruto yang berusaha menutupinya, Ayaka memiringkan kepalanya sedikit dan menatap mata Haruto lekat-lekat seolah ingin mengintip isinya.


Ditatap dari jarak dekat oleh gadis cantik yang nyaris sempurna terus-menerus membuat Haruto merasa tidak tenang, dan tanpa sadar ia mengalihkan pandangannya.


“......Haruto-kun. Kalau memang nggak mau bilang, aku nggak akan maksa tanya. Tapi, kalau boleh, aku pengin dengar masalah Haruto-kun.”


Setelah menunjukkan ekspresi ragu, Ayaka memilih kata-katanya dengan hati-hati.


Mendengar kata-kata Ayaka yang mengkhawatirkannya, rasa senang membuncah di hati Haruto. Namun, keraguan apakah ia harus bercerita pada Ayaka masih belum hilang.


Saat itulah, Ayaka merangkai kata-kata lagi seolah memberikan dorongan.


“Haruto-kun yang sekarang, matanya kelihatan cemas banget. Aku nggak tahu apakah aku bisa bantu. Tapi, kalau dengan curhat kecemasanmu bisa sedikit berkurang, bisa tolong kasih tahu?”


Ayaka melanjutkan dengan kata-kata yang tulus, “Aku kan pacarnya Haruto-kun. Aku pengin bantu meski sedikit.”


Mendengar kata-kata Ayaka yang penuh perhatian, hati Haruto terguncang hebat.


Entah dia akan kuliah atau bekerja, selama dia masih berpacaran dengan Ayaka, kelak dia pasti harus membicarakan masalah ini. Hanya masalah waktu saja, cepat atau lambat. Berpikir demikian, Haruto mengembuskan napas, dan mengungkapkan masalahnya kepada Ayaka.


Setelah mendengar cerita Haruto, ekspresi khawatir Ayaka kian dalam.


“Begitu......”


“Iya...... kuliah itu butuh biaya, dan mengandalkan beasiswa saja ada batasnya.”


“Padahal Haruto-kun nilainya paling tinggi satu angkatan......”


“Nenek bilang pokoknya aku harus kuliah. Tapi beliau bukan di usia yang bisa memaksakan diri lagi......”


Bayangan Nenek yang dulu pernah pingsan karena sengatan panas melintas di benak Haruto. Saat itu juga, ia merasakan ketakutan yang membuat tubuhnya dingin seketika, dan tubuhnya sedikit gemetar.


Melihat kondisinya, Ayaka mendekatkan tubuhnya.


“Kita pasti pengin Neneknya Haruto-kun sehat terus dan panjang umur, ‘kan.”


“Iya. Bagiku dia satu-satunya keluarga......”


Haruto berkata pelan dengan suara yang menyiratkan kelemahan.


Mendengar kata-katanya, Ayaka menunjukkan ekspresi kesepian sesaat, lalu memeluk lengan Haruto lebih erat dari sebelumnya. Melihat sosoknya yang berusaha keras menyemangati, ekspresi Haruto menjadi sedikit lebih cerah.


“Makasih, Ayaka.”


“Enggak, kok. Duh, andai saja ada yang bisa kulakukan............ ah.”


Tiba-tiba, mata Ayaka membelalak seolah mendapat ilham.


“Hei, soal kondisi keluarga Haruto-kun ini, boleh aku ceritakan ke Papa dan Mama?”


“Eh? Shuuichi-san dan Ikue-san? Aku nggak bermaksud merahasiakannya sih, jadi nggak masalah, tapi......”


Mendengar ucapan tiba-tiba itu, Haruto tampak bingung.


Mendapat jawaban Haruto, Ayaka berkata “Makasih!”, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengoperasikannya dengan cepat.


Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Ayaka?


Haruto yang tidak punya bayangan hanya terus memandangi profil wajah Ayaka yang sedang serius mengoperasikan ponsel.


Tak lama kemudian, ponsel Ayaka bergetar. Tampaknya ada panggilan masuk, dan dia segera mengetuk layar ponsel untuk menjawabnya.


“Halo Papa? Iya, begitulah...... iya, iya.”


Tampaknya lawan bicaranya adalah Shuuichi, Ayaka mengangguk kecil sambil menimpali.


“Jadi, ke Papa...... eh? Ah, iya. Haruto-kun? Ada di sebelahku sekarang. Oke, paham.”


Ayaka menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak dan menatap Haruto di sebelahnya.


“Papa mau bicara, boleh?”


“Eh? I-Iya.”


Meskipun bingung, Haruto menerima ponsel dari Ayaka.


“Halo, saya sudah menerima teleponnya.”


‘Yaa, Ootsuki-kun. Aku sudah dengar ceritanya dari Ayaka. Sepertinya keadaannya berat, ya.’


“Iya...... anu, terima kasih sudah mengkhawatirkan.”


‘Umu. Soal keluargamu, pasti ada banyak kesulitan yang tak terbayangkan olehku. Aku jadi sedikit paham kenapa kamu lebih dewasa dibanding anak-anak seusiamu. Orang tuamu pasti bangga dengan sosok Ootsuki-kun yang hebat sekarang.’


“Maaf. Terima kasih atas perhatiannya.”


Haruto berkata sambil menundukkan kepala pada Shuuichi di seberang telepon.


‘Nah. Ootsuki-kun, apakah kamu ada rencana hari ini?’


“Tidak, tidak ada rencana khusus.”


‘Baguslah. Kalau begitu, sekarang aku berencana untuk pulang sebentar, bisakah kamu menunggu di rumah bersama Ayaka sampai aku datang?’


“Eh!? Tapi, bukannya Shuuichi-san hari ini kerja......? Tadi Ayaka bilang pulangnya bakal telat......”


Mendengar ucapan Shuuichi yang tak terduga, kebingungan Haruto semakin menjadi-jadi.


‘Ya, setelah bicara dengan Ootsuki-kun, aku akan balik ke kantor lagi.’


“Eh? B-Bicara soal apa, ya?”


‘Fufufu. Itu loh, pembicaraan bisnis.’


Shuuichi membalas dengan kata-kata yang penuh arti.


‘Baiklah, aku akan keluar dari kantor sekarang, kira-kira...... tiga atau empat puluh menit lagi aku sampai di rumah. Maaf ya, bisa tolong tunggu sebentar?’


“B-Baik...... saya mengerti.”


Setelah Haruto menjawab, Shuuichi berkata ‘Sampai nanti’ dan memutus panggilan.


Dengan wajah bengong, Haruto mengembalikan ponsel ke Ayaka.


“Papa bilang apa?”


“Dia bakal balik ke rumah, jadi minta ditunggu tiga atau empat puluh menit.”


“Gitu, ya. Oke.”


“......Kamu bilang apa ke Shuuichi-san?”


Apa sebenarnya pesan yang dikirimkan ke Shuuichi? Karena penasaran, Haruto pun menatap mata Ayaka dan bertanya. Ayaka menjawab pertanyaannya dengan senyum malu-malu.


“Masih belum tahu bakal gimana, sih. Tapi, aku yakin ini bakal jadi hal yang baik buat Nenek dan Haruto-kun.”


Setelah bilang begitu, pipi Ayaka merona tipis, dan dengan senyum yang menyiratkan rasa malu, dia menambahkan satu kalimat lagi.


“Selain itu, ini juga hal baik buatku......”


“Buat Ayaka juga?”


“Ung......”


“Maksudnya gimana......?”


“Itu, mungkin nanti Papa yang bakal jelasin.”


“......Oke.”


Setelah percakapan itu, mereka berdua tidak banyak bicara dan menunggu kedatangan Shuuichi di sofa ruang tamu. Kemudian, saat empat puluh menit hampir berlalu sejak telepon tadi, terdengar suara mobil samar-samar dari luar rumah.


“Ah, sepertinya Papa sudah pulang.”


Setelah Ayaka bilang begitu, terdengar suara pintu depan dibuka ceklek, dan tak lama kemudian Shuuichi muncul di ruang tamu. Haruto bangkit dari sofa tempatnya duduk dan menundukkan kepala pada Shuuichi.


“Selamat siang, Shuuichi-san. Maaf mengganggu.”


“Selamat siang, Ootsuki-kun. Maaf ya sudah membuatmu menunggu.”


Shuuichi berkata dengan ramah, mengenakan setelan jas rapi, dan memancarkan aura seorang pengusaha. Haruto memiliki kesan bahwa sosoknya terlihat keren, sekaligus berpikir di sudut kepalanya bahwa wajar saja Ayaka disebut gadis tercantik di sekolah karena mewarisi gen Shuuichi dan Ikue dengan kuat.


Begitu masuk ke ruang tamu, Shuuichi langsung duduk di sofa dan mempersilakan Haruto duduk di hadapannya.


“Maaf, langsung ke intinya, boleh kita bicara? Sebenarnya setelah ini ada satu rapat penting lagi di kantor. Jadi aku tidak bisa lama-lama di sini.”


Melihat Haruto yang duduk di depannya, Shuuichi berkata dengan nada menyesal.


Rapat perusahaan yang penting sudah menunggu, tapi pembicaraan apa yang sampai membuatnya menyempatkan diri pulang ke rumah?


Haruto menatap Shuuichi yang duduk di hadapannya dengan ekspresi tegang.


“Anu...... mohon maaf. Padahal ada rapat penting yang menunggu......”


“Tidak, tidak. Iya sih, rapat perusahaan itu penting, tapi hal yang akan kubicarakan denganmu ini juga sangat penting bagi keluarga Toujou.”


“Anu...... pembicaraan penting itu, sebenarnya tentang apa, ya?”


Atas pertanyaan Haruto, Shuuichi menatapnya dengan mata serius.


Sosoknya berubah drastis dari suasana ceria dan akrab seperti anak kecil yang biasanya, memancarkan wibawa orang dewasa yang penuh dengan aura seorang kepala perusahaan.


“Sebelum membicarakan ini, pertama-tama ada hal yang ingin kusampaikan pada Ootsuki-kun.”


Dia sedikit menjauhkan punggungnya dari sandaran sofa dan menautkan kedua tangannya dengan santai.


Sikapnya seolah-olah sedang melakukan negosiasi bisnis.


“Pembicaraan yang akan kusampaikan ini, sama sekali bukan karena aku bersimpati pada Ootsuki-kun atau Nenekmu. Bukan pula karena kamu pacarnya Ayaka lantas aku memberimu kelonggaran untuk menolongmu. Ini murni kutawarkan karena aku merasa ada keuntungan bagi keluarga kami, keluarga Toujou. Aku ingin kamu mendengarkan ceritaku dengan premis ini.”


“Baik, saya mengerti.”


“Umu. Kalau begitu mari masuk ke pokok pembicaraan. Walaupun begitu, ini bukan cerita yang rumit. Singkatnya, aku ingin mempekerjakan Nenekmu sebagai asisten rumah tangga di rumah kami.”


“Eh!?”


Mendengar kata-kata yang dilontarkan Shuuichi, Haruto tanpa sadar mengeluarkan suara kaget.


“Nenek...... maksudnya?”


“Ootsuki-kun sebelumnya pernah bilang, ‘kan. Yang mengajarimu masak adalah Nenekmu.”


“I-Iya.”


“Kemampuan masak Ootsuki-kun sudah terbukti lewat pekerjaan asisten rumah tangga. Dan, kalau beliau adalah Nenek yang mengajarimu masak, kami tidak punya keluhan apa-apa.”


“M-Memang benar kemampuan masak Nenek sudah terjamin, tapi......”


Otaknya belum bisa mengejar kejadian yang tak terduga ini, membuat Haruto tercekat. Di sebelahnya, Ayaka yang duduk di sampingnya tersenyum manis dan berbicara.


“Lagipula, yang mengajari Haruto-kun bersih-bersih dan lain-lain juga Nenek, ‘kan? Artinya, kualitas asisten rumah tangga Haruto-kun itu standarnya dari Nenek, ‘kan?”


“Kami sangat puas dengan kinerja Ootsuki-kun selama liburan musim panas. Kalau bisa, kami ingin kamu melanjutkannya setelah liburan usai, tapi tentu saja kami tidak bisa meminta seorang pelajar sepertimu untuk memprioritaskan kerja sambilan. Di saat itulah, cerita tentang Nenekmu ini muncul.”


Diberitahu begitu oleh Shuuichi dan Ayaka, cahaya harapan yang besar menyinari hati Haruto.


Haruto merasakan kecemasan yang tadinya bersarang berat di hatinya perlahan-lahan menjadi ringan.


Namun di tengah itu, ada satu masalah yang mengganjal di hatinya.


“Terima kasih banyak! Ini benar-benar, benar-benar sangat membantu.”


“Tidak perlu berterima kasih sampai segitunya. Seperti yang kubilang tadi, pembicaraan ini bukan karena simpati atau belas kasihan. Justru, kalau kamu menerima tawaran ini, akulah yang ingin menundukkan kepala.”


Mendengar kata-kata yang menyenangkan dari Shuuichi, Haruto menundukkan kepala dalam-dalam. Lalu, saat mengangkat kepalanya, dia menyampaikan masalah yang dimiliki neneknya kepada Shuuichi.


“Saya sangat senang. Saya sangat ingin menerima tawaran ini. Tapi, itu...... ada sedikit masalah. Sebenarnya kondisi pinggang Nenek belakangan ini agak buruk, jadi agak sulit kalau harus berjalan jarak jauh.”


Rumah keluarga Ootsuki dan keluarga Toujou berjarak sekitar tiga puluh menit jalan kaki.


Bagi Haruto yang masih muda, jarak itu sama sekali bukan masalah. Namun, bagi Nenek yang sudah lanjut usia dan sakit pinggang, bolak-balik jarak segitu dengan frekuensi tinggi akan sangat berat.


Saat menyampaikan hal itu pada Shuuichi, beliau mengangguk mantap, lalu tersenyum menatap Haruto. Sosoknya kali ini sedikit menyembunyikan aura pengusaha yang tadi terpancar.


“Soal itu juga, aku sudah dengar dari Ayaka. Karena itu, aku ingin berkonsultasi dengan Ootsuki-kun.”


Di sini Shuuichi memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.


“Bisakah kami meminta Nenekmu untuk tinggal di sini sebagai asisten rumah tangga?”


“Eh!? T-Tinggal di sini!?”


Haruto mengeluarkan suara kaget untuk kedua kalinya hari ini. Shuuichi melanjutkan ceritanya dengan sangat gembira.


“Tentu saja, aku mengerti akan sulit jika harus terus berada di rumah ini selama seminggu penuh. Nanti harus kita bicarakan lagi detailnya, tapi salah satu usulannya adalah, tinggal di sini selama hari kerja dan pulang ke rumah saat akhir pekan. Bagaimana?”


“A-Anu...... b-begitu, ya. Uuum......”


Mendapat usulan tak terduga dari Shuuichi, berbagai pemikiran muncul dan tenggelam di otak Haruto, membuatnya sulit menyusun pikiran dengan baik. Di situ, Shuuichi melemparkan kata-kata susulan seolah mendesak.


“Selain itu, kalau Nenekmu tinggal di rumah kami, Ootsuki-kun bakal sendirian di rumah, ‘kan?”


“I-Iya.”


“Jika begitu kami akan membiarkanmu kesepian, aku merasa bersalah.”


“T-Tidak. Bagi kami, Nenek dipekerjakan saja sudah merupakan hal yang sangat disyukuri......”


Saat Haruto menjawab begitu, Shuuichi menggelengkan kepalanya kecil.


“Ootsuki-kun. Keluarga itu, menurutku lebih bahagia kalau bisa bersama-sama saat memang bisa bersama.”


“I-Iya......”


“Karena itu, ini juga sebuah tawaran......”


Di sini Shuuichi tersenyum sangat lebar dan ramah kepada Haruto.


“Bagaimana kalau kamu juga ikut menginap di rumah ini bersama Nenekmu?”


“Eh!?”


Haruto mengeluarkan suara kaget untuk ketiga kalinya hari ini.


Apa yang terjadi dua kali, akan terjadi tiga kali, pepatah itu benar adanya.


Kejutan ketiga ini adalah yang terbesar, membuat Haruto membeku dengan mulut ternganga lebar.


Lalu Ayaka bertanya seolah mengamati reaksi Haruto.


“Haruto-kun, gimana? Kalau aku sih, kalau bisa makan malam bareng semuanya termasuk Haruto-kun dan Nenek, pasti bakal ramai dan menyenangkan......”


“I-Itu, mungkin iya sih, tapi......”


Dengan bimbang dia menatap kekasih di sebelahnya.


Ayaka tidak tampak terkejut dengan usulan Shuuichi, matanya justru berbinar penuh harap. Kemungkinan besar, usulan mengajak keluarga Ootsuki tinggal di rumah ini sudah dibicarakan dalam pertukaran pesan di ponsel tadi.


Shuuichi yang duduk di seberang mereka tersenyum geli.


Senyum itu sangat mirip dengan senyum yang ditunjukkannya saat mengisyaratkan pernikahan dengan Ayaka pas mereka masuk pemandian air panas bersama saat camping dulu.


“Ootsuki-kun mungkin sudah tahu, tapi di rumah ini ada kamar tamu yang biasanya tidak dipakai, jadi aku berniat membiarkan Nenekmu memakai kamar itu.”


“T-Terima kasih. Tapi, anu...... kalau saya juga ikut tinggal, bukannya kamarnya bakal kurang......?”


Karena rumah keluarga Toujou adalah rumah mewah, memang ada kamar tamu yang bagus.


Karena biasanya tidak dipakai, tidak masalah jika Nenek menggunakannya. Tapi jika Haruto juga ikut menginap di keluarga Toujou, jumlah kamar akan kurang. Memang, di kediaman Toujou selain ruang tamu juga dilengkapi dengan ruang tatami, jadi jika itu digunakan sebagai kamar, dia bisa saja tinggal di sana. Saat Haruto melontarkan pertanyaan itu pada Shuuichi, beliau menjawab dengan cepat sambil tetap tersenyum ramah.


“Tidak masalah. Ootsuki-kun bisa pakai kamar di sebelah Ayaka.”


“Eh? Tapi, kamar itu kan punya Ryota-kun......”


Kamar di sebelah Ayaka adalah kamar Ryota.


Kalau Haruto memakai kamar itu, Ryota jadi tidak punya kamar. Namun, Shuuichi menjawab “Aman, kok” dengan enteng.


“Ryota masih tidur di kamar kami, dan mainnya juga biasanya di ruang tamu, jadi praktis kamar itu sama saja dengan kamar kosong. Rencananya memang bakal jadi kamar Ryota di masa depan, tapi itu masih lama. Jadi sekarang, sama sekali tidak masalah kalau Ootsuki-kun yang pakai.”


“B-Begitu, ya......”


Mendengar penjelasan Shuuichi, Haruto mau tidak mau harus setuju.


“Anu, Ikue-san tahu soal ini?”


“Tentu saja aku sudah bicara dengannya. Ikue juga bilang menyambut kalian dengan tangan terbuka.”


Mendengar pembicaraan sampai sini, niat keluarga Toujou untuk menyambut keluarga Ootsuki dengan hangat begitu terasa.


“Terima kasih banyak. Ehm...... saya pribadi sangat ingin menerima tawaran ini, tapi saya ingin bicara dulu dengan Nenek, anu, karena ingin memberi jawaban resmi, umm...... boleh saya minta waktu sedikit?”


“Tentu saja! Bicarakanlah baik-baik dengan Nenekmu sebelum memutuskan.”


Shuuichi mengangguk mantap, lalu melirik jam tangannya sekilas dan bangkit dari sofa.


“Kalau begitu aku kembali ke kantor, ya.”


“Anu, terima kasih sudah menyempatkan waktu di tengah kesibukan.”


Haruto juga bangkit dari sofa dan menundukkan kepala dalam-dalam mengucapkan terima kasih.


Setelah itu, Haruto dan Ayaka menuju pintu depan untuk mengantar Shuuichi. Shuuichi memakai sepatu kulitnya, lalu menoleh ke belakang menatap Haruto.


“Ootsuki-kun, aku mohon pertimbangkanlah dengan positif, ya.”


Mendengar kata-kata Shuuichi, Haruto kembali menundukkan kepala dalam-dalam.


Melihat itu, beliau membuka pintu depan dengan wajah puas dan kembali ke kantor.


Haruto menatap pintu tempat beliau pergi dalam diam selama beberapa detik, lalu perlahan menoleh ke arah Ayaka yang berdiri di sebelahnya.


“Ayaka. Omongan Shuuichi-san tadi, soal aku yang ikut tinggal, jangan-jangan......”


“......Di sekolah kan aku sama sekali nggak bisa bareng Haruto-kun, jadi aku mikir kalau di rumah bisa bareng terus kan asyik. Kamu nggak mau?”


Dengan ekspresi campur aduk antara malu dan canggung, Ayaka menjawab pelan sambil menghindari tatapan Haruto.


Menanggapi itu, Haruto tertawa kecil “Fufu” dan menjawab.


“Mana mungkin nggak mau. Bisa bareng terus sama pacar tercintaku, justru aku sendiri yang mau minta. Cuma agak, entahlah, karena terlalu mendadak, jadi shock, atau rasanya nggak nyata gitu...... rasanya kayak mimpi.”


“Beneran!? Fufu, aku juga ngerasa kayak mimpi bisa serumah sama Haruto-kun!”


Dengan senyum merekah, Ayaka meluapkan kegembiraannya dan memeluk Haruto.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close