Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 8
Onii-chan Menginap!!
Aku hanya terdiam, memaku pandanganku ke arah taman tengah tanpa menyentuh sedikit pun pai apel yang terhidang di atas meja.
Apa yang sedang Papa dan Kiyoko-san bicarakan di sana...?
Diskusi mengenai pekerjaan Kiyoko-san, neneknya Haruto-kun, berjalan dengan sangat lancar. Namun, begitu topik beralih pada rencana Haruto-kun menginap di rumah ini, Kiyoko-san tampak keberatan.
Mungkinkah... hidup bersama Haruto-kun memang sesulit itu untuk diwujudkan?
Dibanjiri kecemasan, aku mencuri pandang ke arah Haruto-kun. Ia pun tampak gelisah, berulang kali melirik ke arah taman tengah, seolah pikirannya pun tertambat pada percakapan Papa dan Kiyoko-san.
Di tengah ketegangan itu, hanya Ryota yang terlihat sangat ceria, melahap pai apel dengan sampai pipinya menggembung karema nikmat.
“Pai apel ini enak sekali!”
“Benar, ya. Kulit painya begitu renyah dan lezat.”
“Iya! Krenyes-krenyes!”
Ryota melahap satu suapan lagi, lalu menatap kami dengan binar mata yang penuh rasa heran.
“Onee-chan dan Onii-chan kenapa tidak makan?”
“Eh? Ah, aku makan, kok.”
Tersadar oleh ucapan Ryota, aku pun menggigit pinggiran pai apel itu sedikit. Memang sih, teksturnya renyah, tapi saat ini lidahku seolah mati rasa. Aku tak bisa merasakan kelezatannya.
Tugas Haruto-kun sebagai asisten rumah tangga sudah usai, dan waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya kini jauh berkurang dibanding saat libur musim panas lalu. Meski kami sekelas di sekolah dan aku bisa melihat wajahnya setiap hari, tetap saja...
Gara-gara aku keceplosan bilang suka sama seseorang pas hari upacara pembukaan sekolah, suasana menjadi sangat gempar. Akibatnya, aku bahkan tidak bisa mendekati Haruto-kun sama sekali di sekolah...
Aku menatap Haruto-kun dengan lembut. Ia memakan painya sedikit, lalu tersenyum hangat pada Ryota sambil berkata, “Enak, ya.”
Berada di kelas yang sama, melihatnya tepat di depan mata namun tak bisa bicara, sejujurnya terasa sangat menyesakkan. Yah, meskipun akulah penyebab dari semua kekacauan ini...
Aku memang menyesal, tapi terkadang perasaan cintaku pada Haruto-kun meluap hingga tak terbendung lagi, dan aku benar-benar tak berdaya menghadapinya...
Terutama sejak ia mengadakan “Ouchi Ennichi” untukku seorang, rasanya seolah ada sosok lain di dalam diriku, “diriku” yang haus akan keberadaan Haruto-kun dan kerap lepas kendali...
Jika aku terus-terusan tidak bisa mendekatinya di sekolah, aku mungkin akan jatuh sakit karena “sindrom kekurangan Haruto-kun”.
Untuk mencegah hal itu, aku sangat berharap ia bisa ada di rumah.
Saat aku sedang berdoa dengan sungguh-sungguh dalam hati, Papa dan Kiyoko-san kembali dari taman tengah. Mama segera menyodorkan pai apel kepada Kiyoko-san.
“Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Bagaimana pemandangan di taman tengah tadi?”
“Ya, sungguh sangat luar biasa.”
Melihat Kiyoko-san menjawab dengan senyum ramah, Mama pun ikut tersenyum lebar dan menoleh ke arah Papa.
“Syukur ya, Sayang.”
“Umu. Saya senang Kiyoko-san menyukainya. Usaha saya menata taman itu jadi tidak sia-sia.”
Papa berkata dengan nada puas sembari duduk, lalu tatapannya beralih pada Haruto-kun.
“Nah, kalau begitu, mari kita bicarakan seberapa sering Haruto-kun akan menginap di rumah kami.”
Eh? Tiba-tiba langsung ke topik itu?! Bagaimana dengan Kiyoko-san? Bukankah tadi beliau tampak keberatan?
Aku terkesiap mendengar Papa langsung membuka pembicaraan itu, dan aku segera mengamati ekspresi Kiyoko-san. Haruto-kun pun tampak sama; matanya sedikit membelalak saat menoleh ke arah neneknya.
Namun, Kiyoko-san hanya menundukkan kepalanya perlahan dengan wajah yang begitu tenang.
“Terima kasih banyak karena telah bersedia menerima Haruto juga.”
L-Loh? Bukannya tadi beliau tampak keberatan jika Haruto-kun menginap?
Ini artinya... Haruto-kun sudah mendapat izin untuk menginap?
“N-Nek? Beneran boleh?”
Haruto-kun pun bertanya dengan nada bimbang, seolah perlu memastikan pendengarannya.
“Haruto, juga Ayaka-san, kalian berdua kan sudah bukan anak kecil lagi.”
Setelah berkata demikian, Kiyoko-san menoleh ke arahku.
“Ayaka-san. Saya akan menasihati Haruto dengan benar, tapi jika ada hal yang membuatmu tidak nyaman, tolong segera katakan, ya?”
“I-Iya. Tapi, Haruto-kun selalu memperlakukanku dengan baik, jadi aku pasti akan baik-baik saja.”
Sejak kami jadian... tidak, bahkan sejak pertama kali berjumpa di musim panas, Haruto-kun selalu bersikap lembut padaku. Dan sekarang, aku bisa bersamanya di rumah! Bersama kekasih yang sangat kucinta!
Membayangkan kehidupan kami mulai sekarang, jantungku dag-dig-dug seolah hendak terbang menembus angkasa.
Di saat hatiku sedang melambung riang, Papa melanjutkan pembicaraan dengan wajah penuh kepuasan.
“Fumu. Kalau begitu, mari kita bahas rincian jadwal keseharian Haruto-kun.”
Dari situ, dimulailah diskusi mengenai seberapa sering Haruto-kun akan bolak-balik dari kediaman Ootsuki ke kediaman Toujou.
Jika Haruto-kun mengikuti jadwal Kiyoko-san yang hanya pulang ke rumah pada hari Minggu dan Senin, maka rumahnya akan kosong selama lima hari. Hal itu tentu akan membuat urusan membersihkan rumah dan merawat altar keluarga terabaikan.
Di altar itu, bersemayam mendiang orang tua dan kakeknya tercinta. Karena itulah, perawatan altar harus tetap diperhatikan.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, hasil kesepakatannya adalah sebagai berikut:
Jika tidak ada keperluan mendesak, hari Jumat dan Sabtu akan dihabiskan di kediaman Toujou. Sebaliknya, hari Minggu pada dasarnya dihabiskan di kediaman Ootsuki. Sementara untuk hari Senin hingga Kamis, Haruto-kun sendiri yang akan memutuskan akan tinggal di mana, tergantung pada situasi rumahnya.
Pada hari Jumat dan Sabtu, seluruh keluarga Ootsuki dan Toujou akan berkumpul untuk bersilaturahmi bersama. Sedangkan hari Minggu akan menjadi waktu bagi masing-masing keluarga untuk menikmati momen pribadi mereka. Sepertinya, begitulah pola kehidupan kami ke depannya.
Setelah pekerjaaan Kiyoko-san sebagai pengurus rumah tangga dan gaya hidup Haruto-kun ditetapkan, Papa mengulurkan tangannya pada Kiyoko-san dan Haruto-kun dengan senyum merekah.
“Kalau begitu, mohon kerja samanya mulai sekarang.”
“Kami pun demikian. Mohon kerja samanya.”
“Haruto-kun, saat kau di sini, anggaplah rumah ini seperti rumahmu sendiri.”
“Baik, Shuuichi-san. Terima kasih banyak atas kebaikan Anda.”
Kiyoko-san dan Haruto-kun membungkuk dalam-dalam, dan kami pun membalasnya. Begitu diskusi berakhir, seolah sudah menanti-nanti momen ini, Ryota langsung melompat dari kursinya dengan penuh semangat dan berlari ke arah Haruto-kun.
“Onii-chan! Hari ini Onii-chan menginap di sini, ‘kan?”
Mendengar pertanyaan penuh harap dari Ryota, Haruto-kun tampak kebingungan menjawab.
“Ah, itu...”
Melihat wajah Ryota yang sangat berbinar-binar, Haruto-kun berekspresi agak rumit. Dalam diskusi tadi memang diputuskan bahwa hari Sabtu ia akan di sini, tapi rasanya terlalu mendadak jika harus mulai menginap hari ini juga.
“Ryota, hari ini Haruto-kun belum bisa menginap.”
“Kok gitu?”
“Karena dia belum membawa perlengkapan untuk menginap. Paham?”
Aku berjongkok, menyetarakan pandanganku dengan Ryota sambil mencoba memberinya penjelasan. Ryota langsung menggembungkan pipinya, tampak tidak puas.
“Jangan memasang muka begitu, pokoknya tidak boleh.”
Sejujurnya, aku pun ingin sekali Haruto-kun mulai menginap malam ini, tapi tentu itu terlalu egois. Toh, mulai sekarang kami punya banyak waktu untuk bersama, jadi aku harus bersabar untuk hari ini saja.
Sembari menenangkan adikku, aku juga berusaha menekan keinginanku sendiri.
Namun di saat itulah, Papa melontarkan pertanyaan kepada Haruto-kun yang benar-benar mengguncang pendirianku.
“Haruto-kun sendiri bagaimana? Apa kau tidak keberatan jika mulai menginap malam ini?”
“Bukannya saya tidak mau, tapi saya tidak membawa baju ganti dan lain-lain...”
“Begitu, ya. Kiyoko-san sendiri bagaimana?”
“Saya izin undur diri untuk hari ini. Saya ingin pulang dan mempersiapkan segala keperluan untuk ke depannya.”
Mendengar penolakan sopan dari Kiyoko-san, Papa mengangguk sekali lalu kembali berbicara.
“Baiklah. Kalau begitu, akan saya antar dengan mobil.”
“Apa boleh?”
“Tentu saja. Saya juga ingin tahu di mana lokasi kediaman Ootsuki.”
Setelah itu, Papa menoleh ke arah Haruto-kun.
“Jika Haruto-kun ingin menginap malam ini, bagaimana kalau kau ikut pulang sebentar untuk mengambil baju ganti, lalu kembali lagi ke sini?”
Usul itu membuat Haruto-kun tampak sedikit bimbang.
“Eh? Boleh? Tapi, apa tidak merepotkan jika saya tiba-tiba menginap...?”
Haruto-kun melirik ke arah Mama, mencari kepastian. Mama hanya tersenyum manis.
“Ini kan Ootsuki-kun, mana mungkin kami merasa kerepotan. Justru kami sangat menyambutmu.”
“Begitu, ya... Baiklah kalau begitu... Jika memang tidak merepotkan, bolehkah saya menumpang menginap malam ini?”
“Tentu saja boleh!”
Papa menjawab mantap, dan Mama mengangguk sambil tertawa di sampingnya.
Haruto-kun kemudian menatap Kiyoko-san, bertanya lewat tatapan matanya.
“Jaga sikapmu pada keluarga Toujou, ya.”
“Iya, Nek. Kalau begitu, hari ini... saya mohon izin untuk menginap.”
“Horeeeeeee!! Onii-chan menginap!!”
“Mohon bantuannya ya, Ryota-kun.”
“Iya!”
Kegembiraan Ryota meledak saat tahu Haruto-kun akan menginap. Aku pun sama; jantungku berdebar riang... dan jujur saja, aku merasa sangat gugup.
Sebab, meskipun Haruto-kun adalah pacarku, membayangkan teman sekelas laki-laki menginap di rumah rasanya seperti kejadian di dalam manga romantis. Sebelum libur musim panas dimulai, cinta hanyalah angan-angan bagiku. Tak pernah sekalipun aku bermimpi bisa mengalaminya secara nyata seperti ini.
Setelah pembicaraan selesai, Haruto-kun dan Kiyoko-san pulang ke rumah dengan mobil Papa.
“Onee-chan! Pasti asyik ya kalau Onii-chan menginap! Kita bisa main sepuasnya!”
“Iya. Tapi, jangan tidur terlalu malam, ya?”
“Oke!”
Selama menunggu Haruto-kun kembali membawa barang-barangnya, Ryota tidak bisa menahan rasa antusiasnya. Sebenarnya, aku pun sama antusiasnya dengan Ryota, tapi demi menjaga wibawa sebagai kakak, aku sengaja memasang wajah tenang dan menasihati adikku dengan tegas.
Sembari menemani Ryota, aku menunggu kembalinya Papa dan Haruto-kun. Mama mulai sibuk di dapur sambil bergumam, “Karena ada Ootsuki-kun, malam ini menunya harus mewah.”
Tak lama kemudian, Papa dan Haruto-kun tiba.
Begitu suara mobil Papa terdengar dari luar, Ryota berteriak “Sudah pulang!!” dan langsung melesat menuju pintu depan.
“Onii-chan!!”
Begitu Haruto-kun melangkah masuk, Ryota menyambutnya dengan antusiasme yang seolah ingin menerjangnya.
“Ahaha. Ryota-kun semangat banget, ya.”
“Iya!! Selamat datang kembali, Onii-chan!”
“Ah, iya. Hmm, aku kembali.”
Saat membalas ucapan selamat datang Ryota dengan kata “aku kembali”, Haruto-kun tampak sedikit tersipu malu. Aduhai, manisnya!
“Onii-chan, main yuk!!”
“Jangan sekarang, Ryota. Haruto-kun harus membereskan barang-barangnya dulu. Baru setelah itu kalian boleh main.”
Aku menegur Ryota yang sudah menarik-narik lengan Haruto-kun. Melihat tingkah polos Ryota, Papa tersenyum geli dan berkata pada Haruto-kun.
“Haruto-kun. Taruh saja barang-barangmu di kamar Ryota untuk sementara.”
“Baik, Shuuichi-san.”
Haruto-kun mengangguk dan naik ke lantai dua untuk menaruh barangnya. Sementara itu, aku menggiring Ryota kembali ke ruang tamu dan mencoba menenangkan adikku yang kegembiraannya sedang memuncak. Tak lama, Haruto-kun turun dan masuk ke ruang tamu.
Merasa waktu bermain telah tiba, Ryota langsung berlari kencang ke arahnya.
“Onii-chan, main yuk!!”
“Iya, iya, Ryota-kun. Mau main apa?”
“Ehm, apa ya...”
Haruto-kun hanya bisa tertawa getir melihat semangat Ryota. Tampaknya karena keinginan bermainnya terlalu besar, Ryota malah belum terpikir mau bermain apa.
Saat Ryota sedang bingung, terdengar suara Mama dari arah dapur.
“Ryota. Bagaimana kalau mandi dulu bareng Ootsuki-kun sebelum makan?”
Mendengar usul itu, mata Ryota langsung berbinar-binar.
“Aku mau mandi bareng Onii-chan!!”
“Ootsuki-kun, bisa aku titip?”
“Tentu, tidak masalah. Kalau begitu Ryota-kun, ayo kita mandi bareng.”
Begitu diajak Haruto-kun, Ryota mengangguk kuat-kuat sampai aku takut lehernya akan copot.
Mmm, sejak Haruto-kun kembali, dia terus-terusan “dimonopoli” oleh Ryota...
T-Tapi, sebagai seorang kakak aku harus bersabar. Justru bagus kalau Haruto-kun disukai oleh keluargaku. Lagipula, jika Ryota terus-terusan aktif begini, dia pasti akan cepat lelah dan tidur lebih awal dari biasanya. Nah, saat Ryota sudah tidur, aku bisa bermanja-manja... eh, maksudku, bisa ngobrol banyak dengan Haruto-kun. Ya, begitu saja.
Aku mencoba menekan rasa tidak puas yang mulai merayap di hatiku. Namun sepertinya aku tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikannya, karena Ryota, yang tadinya asyik menempel pada Haruto-kun, tiba-tiba menoleh padaku.
“...Onee-chan marah, ya?”
“Eh? Enggak, kok. Kenapa tanya begitu?”
“Soalnya pipi Onee-chan menggembung.”
“E-Enggak, ah! Nggak marah, kok.”
“Apa iya?”
Ryota menatapku dengan penuh curiga. Aku segera memaksakan senyum manis agar adikku tidak menyadari kekesalanku.
“Ayo Ryota, katanya mau mandi bareng Haruto-kun? Siap-siap, gih.”
“Iya... Ah! Aku tahu!!”
“Eh? T-Tahu apa?”
“Onee-chan juga mau mandi bareng Onii-chan, ‘kan!”
“MANA ADA?!”
Aku menjawab secara refleks dengan nada tinggi.
Mana mungkin aku mandi bareng Haruto-kun?! Ni bocah ngomong apa, sih?! Sekalipun kami sepasang kekasih, kalau mandi bareng itu... mandi bareng itu... rasanya... apa kalau sudah jadi kekasih itu hal yang biasa...? TIDAK, TIDAK, TIDAK!!
Mungkin di luar sana memang ada sepasang kekasih yang mandi bareng, tapi kan itu buat mereka yang “level kekasihnya” sudah sepuh! Untuk kami yang masih “level kroco” begini, itu masih kecepatan!
Lagipula, aku sama sekali belum siap mental untuk mandi bareng, t-terus perawatan kulitku bagaimana, aku juga harus menurunkan berat badan dulu. Kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku takut naik ke timbangan...
Tapi, suatu saat nanti... mungkinkah aku akan mandi bareng Haruto-kun...?
TAPI TIDAK SEKARANG! Level kami masih kroco!
...Lagipula “level kekasih” itu apa, sih?! Bagaimana cara naikin levelnya?!
Gara-gara omongan Ryota, pikiranku langsung kacau balau. Ryota menatap Haruto-kun dengan ekspresi heran.
“Kalau Onii-chan bagaimana? Onii-chan mau mandi bareng Onee-chan, ‘kan?”
“Uweeh?! Ah, tidak, maksudku, aku mau, tapi... eh, tidak bisa, atau lebih tepatnya...”
“Tuh, Onee-chan! Onii-chan juga bilang mau mandi bareng!”
“B-Bukan begitu! Ayaka, aku... anu!”
“Ah! I-Iya. Aku paham, kok! Iya, nggak apa-apa, kok. Suer!”
Aku mengangguk berkali-kali dengan panik saat Haruto-kun mencoba menjelaskan sesuatu dengan wajah memelas. Namun semangat Ryota tidak membiarkan kami bernapas.
“Onee-chan ayo ikut mandi juga! Kalau mandi bareng-bareng pasti lebih seru!”
“T-TIDAK BOLEH!! Aku tidak bisa mandi bareng Haruto-kun!!”
“Kenapa? Kenapa tidak boleh? Onee-chan dan Onii-chan ‘Kekasih’, kan? Kalian saling mencintai, kan?”
Karena kepolosannya, Ryota tanpa ampun meluncurkan pertanyaan yang sangat tajam.
“M-Meskipun saling mencintai, kami tidak bisa mandi bareng!”
“Onee-chan ngibul! Ayah dan Ibu saja kadang mandi bareng, kok! Ayah dan Ibu saling mencintai, makanya mereka mandi bareng!!”
“I-Itu... anu... itu beda!”
Aduh, serius deh!! Bagus sih kalau Papa dan Mama rukun! Tapi sekarang momennya tidak pas!!
Duh!! Papa juga!! Jangan malah tersipu begitu, hentikan kegilaan Ryota ini!!
Mana ada ayah yang diam saja melihat putrinya mandi bareng pacarnya?! Sesuka apa sih Papa sama Haruto-kun?!
Tapi yah... aku senang sih kalau Haruto-kun begitu diterima oleh orang tuaku... Eh, ini bukan waktunya untuk senang, Ayaka!!
“Bedanya di mana? Aku tidak paham! Apa Onee-chan benci sama Onii-chan?”
“Mana mungkin aku benci dia!”
“Kalau begitu, Onee-chan suka dia? Onee-chan sayang?”
“T-Tentu saja aku sangat menyayanginya!”
Menyatakan cinta pada Haruto-kun di depan keluarga... rasanya malu banget...
“Onii-chan juga sayang Onee-chan, ‘kan?”
“I-Iya. Aku sayang, kok.”
“Dari lubuk hati?”
“Iya. Aku menyayanginya dari lubuk hatiku yang terdalam.”
TIDAAAK! Hentikan, Ryota, hentikan!! Sudut bibirku tidak bisa berhenti naik, aku tidak bisa menahan senyum kegirangan ini!
“Kalau begitu, ayo mandi bareng!! Main bareng!!”
“Dibilangin juga...! Duh, Mama! Hentikan Ryota, dong!”
Akhirnya aku menyerah dan meminta bantuan Mama. Papa sudah tidak bisa diandalkan karena sejak tadi hanya menonton dengan ekspresi geli.
“Ara-ara, Ryota segitunya ingin mandi bareng semuanya?”
Mama menanggapi panggilanku. Beliau berhenti menyiapkan makan malam sejenak dan datang ke ruang tamu dengan senyum lembut.
“Ung! Karena kalau ramai-ramai pasti lebih seru!”
“Begitu ya, kalau ramai memang seru, sih. Tapi, tidak boleh, ya.”
“Dengerin, tuh! Mama juga bilang tidak boleh!”
Aku segera menimpali untuk memperkuat argumen Mama. Ryota langsung memasang wajah tidak puas dan mengeluarkan jurus andalannya: “Kenapa?”.
“Kenapa? Kenapa tidak boleh?”
“Itu karena kamar mandi sebenarnya bukan tempat untuk bermain. Tapi, khusus hari ini, jika kalian memakai pakaian renang, kalian boleh mandi dan main bareng.”
“Benar. Seperti kata Mama, kalau pakai pakaian renang... EH?! TUNGGU, MAMA?!”
Kupikir Mama akan menggagalkan rencana “mandi bareng” ini, ternyata beliau malah mengizinkan jika memakai pakaian renang...
“Beneran?! Aku mau mandi dengan pakaian renang!!”
Mendapat izin dari Mama, Ryota melompat-lompat kegirangan sambil mendeklarasikan diri akan memakai pakaian renang.
“Ibu! Ambilkan pakaian renangku!”
“Iya, iya. Ibu ambilkan sekarang, tunggu, ya.”
Saat Mama dengan riang hendak mengambil pakaian renang Ryota, Haruto-kun berbicara dengan wajah bimbang.
“A-Anu... hari ini saya hanya membawa baju ganti biasa, saya tidak bawa pakaian renang...”
“B-Benar, tuh! Haruto-kun tidak punya pakaian renang, jadi tetap tidak bisa mandi bareng!!”
“Kalau begitu, pakai saja punyaku.”
PAPA!! Ngomong apa, sih?!
“Eh?! B-Boleh?”
“Tentu, akan kuambilkan sekarang.”
“Ah, terima kasih banyak.”
Haruto-kun membungkuk pada Papa dengan ragu.
A-A-A-Apa yang harus kulakukan! Kalau begini terus, aku benar-benar akan mandi bareng dengan Haruto-kun!!
Ketika aku sedang luar biasa panik, Haruto-kun menghampiri dan berbisik pelan padaku.
“Bagaimana, Ayaka? Kalau kamu benar-benar enggan, aku akan mandi berdua saja dengan Ryota-kun.”
“Auu, uuu... T-Tidak... tidak enggan, kok.”
Mendengar perhatiannya yang tulus, yang diucapkan dengan suara rendah agar tidak kedengaran Ryota dan orang tua kami, aku pun mengungkapkan perasaan jujurku dengan wajah merah merona.
“Walau... sangat... memalukan... tapi aku juga pengin mandi bareng Haruto-kun...”
“B-Begitu, ya... kalau begitu...”
“I-Iya... aku akan ganti baju dulu.”
Setelah percakapan kaku itu, aku segera berlari ke kamarku untuk menyembunyikan rasa maluku.
“Aaaah!! Kok jadi begini, sih!! Tahu gini aku beli pakaian renang baru tahun ini!!”
Begitu masuk kamar, aku langsung menggeledah lemari sambil meratap. Terakhir kali aku beli pakaian renang adalah tahun lalu saat pergi ke pantai bareng Saki dan teman-teman lainnya.
Kenangan waktu itu agak pahit karena ada banyak pria yang menggodaku hingga aku tidak bisa menikmati suasana pantai. Karena itulah tahun ini aku tidak berniat membeli pakaian renang baru.
Meski aku sempat berpikir suatu saat nanti ingin memakai pakaian renang di depan Haruto-kun, aku tak pernah menyangka momen itu akan terjadi di kamar mandi rumahku sendiri!!
Aku menarik keluar pakaian renang yang tersimpan di dasar lemari.
“Yang ini aman nggak, ya? Apa Haruto-kun akan menyukainya?”
Pakaian renang yang kupegang adalah bikini berwarna putih, lengkap dengan pareo bertipe one-piece. Karena aku tidak suka terlalu mengekspos kulit di tempat umum, tahun lalu aku selalu memakai pareo ini.
Tapi...
Kalau di bak mandi, ini pasti mengganggu, ‘kan?
Lagipula... Haruto-kun mungkin akan lebih suka kalau aku tidak memakainya...
Haruto-kun kan juga laki-laki...
Yah, pokoknya coba saja dulu.
Aku mengembalikan pareo itu ke lemari, memakai bikini putih, lalu berdiri di depan cermin besar.
“Uuu... ukurannya agak... tapi tidak aneh, ‘kan? Tidak jelek, ‘kan?”
Pakaian renang bekas tahun lalu ini rasanya sedikit lebih ketat. Bagian dadanya terasa agak sesak... Apa aku tambah gemuk?!
T-Tapi, sekarang cuma ada ini, aku harus pede!!
Sambil berusaha menenangkan debaran jantungku yang ribut bak genderang perang, aku melilitkan handuk mandi ke tubuhku. Setelah mengambil napas dalam berkali-kali, aku melangkah ke kamar mandi.
※
Haruto sama sekali tidak menyangka bahwa ia tidak hanya akan mandi bersama Ryota, tetapi juga dengan Ayaka. Di ruang ganti, ia bersalin dengan pakaian renang pinjaman dari Shuuichi bersama Ryota.
“Onii-chan! Ayo main pakai ini!”
Ryota yang sudah mengenakan pakaian renang melompat-lompat girang sambil memegang pistol air di kedua tangannya.
“Iya, boleh.”
Haruto menjawab dengan senyum, namun pikirannya melayang ke mana-mana. Yang memenuhi benaknya adalah sosok Ayaka dalam balutan pakaian renang.
Gadis itu dirumorkan sebagai yang tercantik di sekolah, bahkan dijuluki “Idol Sekolah”. Alasan di baliknya bukan hanya kecantikannya yang sempurna, tapi juga bentuk tubuhnya yang luar biasa menawan.
Proporsi tubuh Ayaka begitu menawan sehingga tak akan aneh jika ia menghiasi sampul majalah remaja. Tanpa bisa dicegah, otak Haruto mulai memutar kembali bayangan model-model majalah yang pernah dilihatnya.
Antara harapan dan ketegangan, Haruto terjebak dalam kondisi mental yang tak menentu.
Di saat itulah, pintu ruang ganti diketuk pelan.
“Boleh... aku masuk?”
Suara Ayaka terdengar dari balik pintu. Suara kecil dan ragu itu membuat jantung Haruto berdegup kencang.
“Ah, iya. Aku dan Ryota-kun sudah selesai ganti baju, kok.”
“Onee-chan, lekas masuk!”
“I-Iya, sabar! ...Kalau begitu, aku masuk, ya.”
Pintu geser ruang ganti perlahan terbuka, dan sosok Ayaka pun muncul.
Ia melilitkan handuk mandi mulai dari atas dadanya, sehingga pakaian renangnya belum tampak. Namun, penampakan handuk yang menutupi tubuhnya justru membuat Haruto berimajinasi seolah-olah Ayaka tidak memakai apa pun di baliknya. Haruto tidak kuat untuk menahan wajahnya supaya tidak merah merona.
Ayaka sendiri tampaknya sangat malu; wajahnya sudah semerah orang yang baru selesai berendam air panas.
Suasana canggung dan penuh rasa malu di antara mereka berdua seketika pecah oleh suara riang Ryota.
“Onee-chan, kenapa pakai handuk? Kalau pakai itu kan tidak bisa mandi! Cepat lepas handuknya!”
“I-I-Iya, aku tahu! Akan kulepas sekarang, jadi sabar sedikit!”
Ryota yang sudah tidak sabar ingin segera masuk ke kamar mandi dan bermain pistol air terus mendesak kakaknya yang sedang tersipu.
Sambil membalas ucapan adiknya dengan pipi merona, Ayaka curi-curi pandang ke arah Haruto. Begitu mata mereka bertemu sesaat, Haruto merasakan jantungnya berdegup dengan cara yang aneh.
Setelah keheningan singkat yang terasa sangat lama, Ayaka membulatkan tekad dan melepas handuk yang melilit tubuhnya.
Saat tangan Ayaka menyentuh simpul handuk di dadanya, entah mengapa Haruto merasa tidak boleh melihatnya secara langsung, sehingga ia memalingkan wajahnya perlahan.
Telinganya menangkap suara lembut handuk yang jatuh ke lantai. Di sudut matanya, ia bisa melihat gumpalan handuk yang kini tergeletak di bawah.
“H-Haruto-kun... tidak aneh, ‘kan?”
Suara Ayaka yang lirih dan penuh rasa malu menggelitik telinga Haruto. Karena dimintai pendapat, ia tidak mungkin tidak melihatnya. Haruto perlahan mengalihkan pandangannya kembali ke arah Ayaka. Seketika itu juga, pandangan Haruto seolah dipenuhi oleh pemandangan yang menakjubkan.
Kulit Ayaka putih bersih dan kinclong layaknya porselen. Bikini putih yang dipakainya sangat cocok, dengan hiasan rumbai besar di bagian dada yang semakin menonjolkan keimutannya. Dan tentu saja, proporsi tubuh Ayaka yang luar biasa memancarkan daya pikat maksimal dalam balutan pakaian renang tersebut.
Lengan dan kaki yang ramping. Pinggang yang melengkung bak gitar spanyol. Dan bagian dada yang seolah memiliki daya tarik gravitasi bak lubang hitam, menarik seluruh perhatian Haruto dengan kekuatan masif.
Haruto hanya bisa terpaku membisu, menatap sosok di depannya yang tampak seolah-olah Dewa sendiri yang telah memahat bentuk tubuh ideal manusia pada dirinya.
“H-Haruto-kun?”
“Ah! A-Anu, maaf. Kau terlalu mempesona sampai aku kehilangan kata-kata...”
“Ugh... b-begitu, ya?”
“Iya...”
Mendengar pujian Haruto, Ayaka tersenyum malu-malu dengan pipi yang kian merona. Melihat keimutan yang melampaui batas itu, Haruto terpaksa memalingkan wajahnya lagi karena tidak kuat menahannya.
Di saat itu, Ayaka balik memuji pakaian renang Haruto.
“Haruto-kun juga... pakaian renang Papa cocok sekali untukmu.”
“Ah, terima kasih.”
Haruto menjawab dengan kaku sambil menatap pakaian renang yang dipakainya. Pakaian renang pinjaman dari Shuuichi itu bermotif pohon palem dan ukurannya cukup longgar. Jika ia memakai kemeja Aloha dan kacamata hitam, ia akan terlihat seperti sedang jalan-jalan di pantai Hawaii.
Sambil sama-sama merona merah, Haruto dan Ayaka saling memuji pakaian renang masing-masing. Melihat suasana yang terasa “lambat” dan penuh kegugupan itu, Ryota yang sudah tidak sabar lagi menarik tangan mereka berdua dengan kuat.
“Onii-chan! Onee-chan! Cepat masuk kamar mandi!”
Ryota yang tak sabar ingin bermain menyeret lengan mereka berdua menuju tempat pemandian.
“Eh! Ryota! Sabar sedikit, dong!”
Sambil menasihati adiknya, Ayaka melangkah masuk ke kamar mandi bersama Haruto yang sama-sama ditarik Ryota.
Kamar mandi itu tampaknya dirancang dengan sangat saksama oleh Ikue saat membangun rumah ini. Area mandinya luas dengan cermin besar, dan bak mandi berbentuk oval yang tampak sangat nyaman untuk berendam. Bahkan ada televisi yang terpasang di dinding agar orang bisa menonton sambil berendam.
Meski dimasuki oleh dua remaja SMA dan satu anak TK sekaligus, ruangannya tidak terasa sempit dan masih menyisakan ruang yang cukup.
Begitu masuk, Ryota segera mengisi pistol airnya dengan air hangat. Haruto pun berkata sambil tersenyum kecut melihat tingkahnya.
“Ryota-kun, sebelum main pistol air, mari kita basuh badan dulu.”
“Pistol airnya nanti?”
“Iya, setelah badan bersih, kita bisa main sepuasnya.”
“Okee!”
Mendengar kata-kata Haruto, Ryota mengangguk mantap dan mendekat ke arahnya dengan senyum lebar.
“Kita saling basuh, yuk!”
“Eh? S-Saling basuh?”
“Iya!! Aku akan membasuh punggung Onii-chan, lalu Onii-chan membasuh punggung Onee-chan, dan Onee-chan membasuh punggungku!”
Mendengar usul Ryota yang tampak sangat menyenangkan baginya, Haruto melirik Ayaka dengan tatapan goyah. Ayaka yang menerima tatapan itu pun wajahnya sudah merah merona.
“Ryota, kalau mau saling basuh, taruh pistol airnya dan ke sini.”
Meski pipinya merona, Ayaka tetap menuruti usul adiknya. Tampaknya, usul Ryota telah disetujui oleh Ayaka. Haruto bertanya dengan nada ragu pada gadis yang kini memberi isyarat pada adiknya itu.
“Ayaka, apa boleh?”
“U-Um...”
Sambil menunduk malu, Ayaka mengangguk pelan.
Jantung Haruto kembali berdegup dengan irama tak menentu. Sosok gadis dalam balutan pakaian renang adalah pemandangan yang sangat menyilaukan bagi remaja laki-laki normal seperti Haruto, apalagi jika yang bersangkutan adalah gadis tercantik di sekolah.
Namun, meskipun dulu ia pernah pergi ke kolam renang atau pantai bersama Tomoya dan teman-temannya, jantungnya tak pernah berdegup sehebat ini. Sekarang, ia bisa merasakan detak jantungnya seolah-olah baru saja selesai lari maraton. Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena gadis itu kini adalah kekasihnya.
Namun, ada penyebab lain yang lebih besar.
Yakni situasinya.
Normalnya, orang tidak memakai pakaian renang di kamar mandi rumah. Dan mandi bersama orang lain sudah menjadi kenangan masa kecil yang sangat jauh bagi Haruto. Ketidaklaziman ini sangat mengacaukan emosinya.
Di tempat yang seharusnya tak mengenakan apa pun, ada kekasihnya yang sangat cantik mengenakan pakaian renang yang memikat. Situasi yang tidak biasa ini membuat penampilan Ayaka berkali-kali lipat lebih menggoda.
Satu-satunya alasan Haruto masih bisa tetap tenang adalah keberadaan Ryota. Karena anak itu sangat polos dan murni menikmati momen mandi bersama, Haruto bisa menahan pikiran-pikiran cabulnya.
“Onii-chan! Arahkan punggungnya ke sini!”
Ryota yang tampak sangat ceria berkata sambil memegang spons mandi.
“Baiklah. Kalau begitu, aku... tinggal membasuh punggung Ayaka, ‘kan?”
“Iya! Lalu Onee-chan membasuh punggungku!”
“Iya, iya. Tenanglah sedikit Ryota, nanti kamu terpeleset.”
Sambil memperingatkan adiknya, Ayaka membelakangi Haruto dan menghadap ke arah punggung Ryota. Ketiganya berjajar membentuk lingkaran kecil. Haruto melirik punggung Ayaka sesaat, lalu bertanya padanya.
“Spons mandinya cuma ada satu?”
“Ah, iya. Cuma yang dipegang Ryota.”
“B-Begitu ya, kalau begitu... harus bagaimana?”
“...Mungkin langsung pakai telapak tangan saja sudah cukup?”
Ayaka sempat ragu sejenak, namun ia mengatakannya sambil menunduk malu. Ia sendiri kemudian menuangkan sabun cair ke telapak tangannya dan mulai membasuh punggung Ryota. Di saat yang sama, Ryota pun mulai menggosok punggung Haruto. Melihat kakak-beradik Toujou sudah mulai, Haruto pun membulatkan tekad. Ia menuangkan sabun ke tangannya, memberinya sedikit air hingga berbusa, lalu perlahan menempelkan telapak tangannya ke punggung Ayaka.
Begitu tangan Haruto menyentuh kulitnya, punggung Ayaka tampak sedikit gemetar.
“...Geli, ya?”
“U-Un... tidak apa-apa...”
Mereka berdua terlibat percakapan kaku di tengah atmosfer yang canggung. Sebaliknya, Ryota tampak sangat menikmati momen itu dan menggosok punggung Haruto dengan penuh semangat.
“Onii-chan, enak nggak?”
“Iya. Ryota-kun sangat pandai gosok punggung.”
“Ehehehe.”
Mendengar Ryota tertawa bangga, Haruto pun ikut tersenyum.
Ini adalah pertama kalinya ia menyentuh punggung Ayaka. Meskipun gadis itu mengenakan pakaian renang, punggungnya tetap terasa sangat memikat bagi Haruto. Tekstur kulit yang halus dan lembut menyentuh telapak tangannya. Membasuh punggungnya secara langsung dengan tangan kosong membuat batin Haruto hampir mencapai batas kewarasan karena campur aduk antara rasa senang, tegang, dan nafsu.
Hanya percakapan dengan Ryota yang mampu menjaga kewarasannya.
Saat mereka bertiga saling basuh punggung, Ayaka yang sedari tadi menunjukkan ekspresi malu sesekali melirik Haruto dan membuka suara.
“Otot perut Haruto-kun... six-pack, ya.”
“Ah, iya. Karena aku latihan karate sejak kecil.”
“Oalah, kalau latihan karate otot perutnya bisa jadi begitu, ya.”
“Iya. Karena kita sering menggunakan kekuatan di bagian itu.”
“Begitu, ya.”
Saat Haruto dan Ayaka sedang mengobrol, Ryota menatap mereka berdua secara bergantian dengan wajah tertarik.
“Perut Onii-chan berotot. Kalau perut Onee-chan empuk.”
Begitu Ryota mengatakannya sambil mengikuti irama tertentu, Haruto seketika merasa suhu kamar mandi yang seharusnya hangat menurun drastis dalam sekejap.
“Ryota.”
Suara Ayaka menggema di kamar mandi. Suaranya tidak keras, namun entah mengapa terdengar sangat tajam sampai ke gendang telinga.
“Perutku tidak empuk, oke?”
“Eh? Tapi kalau dibanding Onii-chan—“
“Perutku tidak empuk, oke?”
“Tapi—“
“Perutku tidak empuk, oke?”
Ayaka memotong kata-kata Ryota berkali-kali sambil mengulang kalimat yang sama. Ia tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang sangat indah, namun entah mengapa Haruto merasakan bulu kuduknya merinding. Ia seolah melihat bayangan topeng iblis Hannya muncul di belakang Ayaka.
[TLN: Topeng Hannya adalah topeng ikonik dalam teater tradisional Jepang yang menggambarkan sosok iblis wanita bertanduk, dengan ekspresi marah, cemburu, sekaligus sedih.]
Merasa lebih baik tidak ikut campur, Haruto mencoba mengabaikan percakapan kakak-beradik itu. Namun pada saat itu juga, Ayaka menolehkan senyum lebarnya ke arah Haruto.
“Haruto-kun. Perutku tidak empuk, ‘kan?”
“Ugh...!”
Haruto hampir saja memekik kecil karena kaget, namun ia berhasil menahannya. Sialnya, ia melakukan kesalahan fatal dengan tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Jeda sesaat dalam reaksinya menjadi kesalahan mematikan.
Melihat Haruto tidak kunjung menjawab, senyum Ayaka semakin melebar.
Lalu, ia berkata pada Haruto.
“Sentuhlah.”
“Eh?!”
“Sentuh dan pastikan sendiri. Perutku tidak empuk.”
Wajahnya memang tersenyum lebar, namun matanya sama sekali tidak senang; tatapannya menghujam lurus ke arah Haruto.
Haruto menegakkan punggungnya di bawah tekanan tatapan itu, namun ia tampak ragu. Menyentuh punggungnya saja sudah butuh perjuangan berat untuk menjaga rasionalitas, menyentuh perut rasanya sangat berbahaya.
“T-Tapi, menyentuhnya secara langsung itu agak...”
“Haruto-kun.”
“Ya!”
“Sentuhlah. Pastikan dengan baik menggunakan kedua tanganmu. Perutku tidak empuk.”
“D-Dua tangan?”
“Benar. Perutku tidak empuk.”
Ayaka terus-menerus menekankan “tidak empuk” dengan aura yang sangat kuat. Terdesak oleh tekanan Ayaka, Haruto mengangguk berkali-kali dengan cepat.
“K-Kalau begitu... punten.”
“Silakan.”
Ayaka menjawab sambil membusungkan dadanya sedikit dan menegakkan badannya. Dalam balutan bikini, postur seperti itu tentu membuat Haruto semakin tersiksa, namun suasana saat ini tidak mengizinkannya untuk memprotes. Haruto hanya bisa merapal dalam hati, “Kosong adalah isi, isi adalah kosong... kendalikan dirimu, kendalikan dirimu...” sambil perlahan menjulurkan kedua tangannya dan menyentuh bagian pinggang serta perut Ayaka.
“Haruto-kun, bagaimana?”
“...Terasa sangat ramping.”
Sebenarnya, Haruto sudah tidak punya sisa ruang di pikirannya untuk memastikan apakah perut itu empuk atau tidak. Namun, tidak peduli apakah perut itu empuk atau tidak, ia sudah tahu jawaban apa yang harus ia berikan.
“Dengan ini kunyatakan dengan tegas, bahwa perut ini sangat jauh dari kata empuk.”
Mendengar pernyataan Haruto, Ayaka pun...
“Hmph!” Ia memasang ekspresi penuh kemenangan.
“Dengar tuh, Ryota! Haruto-kun saja bilang begitu! Jadi perutku sama sekali tidak empuk, tahu!!”
Deklarasi Ayaka yang bernada tinggi itu menggema di dalam kamar mandi keluarga Toujou.
Setelah itu, Haruto, yang berhasil menghindari amarah Ayaka namun harus menderita damage besar pada rasionalitasnya, akhirnya menyelesaikan sesi saling basuh dan berendam dengan selamat di dalam bak mandi.
Ryota segera mengisi dua buah pistol air yang ia bawa dengan air hangat, lalu menyodorkan salah satunya kepada Haruto.
“Onii-chan! Ini buatmu!”
“Terima kasih, Ryota-kun. Kalau begitu, dengan ini—bush!”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, wajah Haruto sudah disemprot air tiga kali berturut-turut: piw-piw-piw!
“Fufufu! Onii-chan lengah!”
“Wah, berani-beraninya kau, Ryota-kun! Rasakan balasanku!”
“Wahaha!!”
Haruto membalas dengan rentetan tembakan pistol air. Ryota pun menjerit kegirangan dengan suara yang sangat ceria.
Bak mandi keluarga Toujou memang lebih luas dari ukuran standar. Meski begitu, dengan tiga orang di dalamnya, tentu tidak ada cukup ruang untuk bergerak ke sana kemari.
Ryota tidak bisa menghindar dari rentetan tembakan Haruto dan terus-menerus terkena serangan air. Akhirnya, untuk menghindari serangan itu, ia bersembunyi di balik punggung Ayaka.
“Tameng Onee-chan!!”
“Eh, Ryota! Jangan jadikan aku tameng! Curang, tahu!”
“Enggak curang, kok! Onee-chan itu sanderaku!”
Tanpa sadar, Ayaka telah menjadi tawanan di tangan adiknya sendiri.
Ia tersenyum kecil mendengar ucapan adiknya, lalu mengalihkan pandangannya pada Haruto.
“Haruto-kun, tolong aku.”
“Sebagai pacar, aku harus menolongmu, ya.”
“Onii-chan! Kalau mau Onee-chan selamat, buang senjatamu!!”
Entah dari anime mana ia mempelajari dialog itu, Ryota menodongkan pistol airnya ke arah Haruto dari balik punggung Ayaka, persis seperti penjahat yang sedang menyandera seseorang.
“Baiklah, Ryota-kun. Aku akan membuang senjataku.”
Haruto mengangkat kedua tangannya dengan gerakan yang sedikit berlebihan, lalu perlahan menurunkan pistol airnya. Namun, tepat saat pistol air itu hampir menyentuh permukaan air bak mandi, ia menyeringai nakal.
“Tapi boong.”
Sambil berkata begitu, Haruto merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, lalu dengan penuh semangat ia menyerok air dan mengguyurkannya ke arah Ryota dan Ayaka sekaligus: byuuur!
“Kyaa!”
“Uwaahahaha!”
Ayaka memekik kaget, sementara Ryota mengeluarkan jeritan yang diikuti tawa riang.
“Duh! Gara-gara Ryota aku jadi ikut kena, ‘kan! Rasakan ini!”
Ayaka pura-pura ngambek dengan menggembungkan pipinya, lalu berbalik dan mencipratkan air ke arah adiknya dengan tangan.
“Wahaha! Kan Onii-chan yang mulai! Serang!!”
Ryota membalas dengan mengayunkan lengannya, mencipratkan air ke arah Ayaka dan Haruto.
Setelah itu, dimulailah aksi saling siram di antara mereka bertiga. Untuk beberapa saat, suara tawa yang riang terus menggema dari dalam bak mandi keluarga Toujou. Terhanyut oleh kepolosan Ryota dalam bermain, Haruto dan Ayaka sejenak melupakan bahwa mereka adalah anak SMA dan ikut bersenang-senang dengan penuh semangat.
Saat mereka sedang asyik menikmati mandi bersama, tiba-tiba ekspresi Ryota jadi muram. Wajahnya yang tadinya dipenuhi senyuman kini berkerut kencang, seolah-olah sedang menahan sesuatu.
“Hmm? Ada apa, Ryota-kun?”
Haruto, yang baru saja melepaskan pistol air dan sedang menyiduk air dengan gayung, menghentikan gerakannya dan bertanya pada Ryota.
Ryota menjawab dengan ekspresi yang sangat terdesak.
“...Mau ke toilet.”
“Toilet?”
“Iya... mau eek...”
“Yang itu?!”
Suara Haruto terdengar panik. Ayaka pun mulai mengomeli adiknya.
“Duh, tadi kan sudah kubilang, pergi ke toilet dulu sebelum mandi.”
“Uuu...”
Ryota mengerang pelan menanggapi teguran kakaknya, dan tubuhnya mulai bergoyang-goyang kecil.
“Sudah di ujung...”
“Eh! Tunggu sebentar! Tahan sedikit lagi!”
Sepertinya panggilan alam Ryota kalah oleh keinginannya untuk bermain di kamar mandi, dan ditahan sampai sekarang. Namun, tampaknya pertahanannya kini sudah di ambang batas.
Ayaka dengan tergesa-gesa meraih panel kontrol kamar mandi di dinding dan menekan tombol panggilan.
‘Iya, iya. Ada apa?’
Panel itu terhubung dengan monitor di dapur, dan suara Ikue pun terdengar.
“Ryota mau ke toilet!”
“Ibu, aku mau eek!”
‘Ara. Baiklah, Ibu ke ruang ganti sekarang. Ryota, cepat keluar dari bak mandi, ya.’
“Ayo Ryota, lekas keluar.”
Setelah menutup panggilan, Ayaka membantu Ryota keluar dari bak mandi. Tak lama, suara Ikue terdengar dari balik pintu ruang ganti.
“Boleh Ibu buka pintunya?”
Mendengar itu, Ayaka melirik Haruto sesaat. Haruto mengangguk sambil menuntun Ryota ke depan pintu.
“Boleh.”
Begitu Haruto menjawab, pintu terbuka dan Ikue menyambut Ryota.
“Ibu, buruan...”
“Iya, iya. Ayo cepat keringkan badan dan segera ke toilet.”
Ikue dengan cekatan membungkus Ryota dengan handuk mandi. Sambil menggosok tubuh anaknya agar kering, ia tersenyum ramah pada Haruto dan Ayaka.
“Kalau begitu, biar Ibu yang antar Ryota ke toilet. Kalian berdua berendamlah yang lama biar hangat, ya.”
Setelah berkata demikian, ia menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Haruto dan Ayaka berdua saja.
Dari balik pintu, terdengar percakapan: “Sudah di ujung—!” dan “Kalau tidak dikeringkan dengan baik, kau bisa kena flu, tahu?”.
Ayaka kembali berendam di bak mandi sambil memasang wajah lelah.
“Hadeh, Ryota itu benar-benar kelewat bersemangat.”
“Dia pasti merasa sangat senang bisa mandi ramai-ramai.”
Haruto juga duduk di dalam bak mandi berhadapan dengan Ayaka sambil tertawa getir.
Setelah Ryota pergi, suasana kamar mandi yang tadinya gaduh seketika berubah menjadi hening dan sunyi yang terasa “lembab”.
“............”
“............”
Haruto dan Ayaka duduk berhadapan di dalam bak mandi dalam keheningan.
Tadi, berkat keberadaan Ryota, mereka bisa terlarut dalam keasyikan bermain. Namun, begitu Ryota pergi, rasa canggung tiba-tiba menyerang batin Haruto.
Mandi berdua dengan kekasihnya dalam balutan pakaian renang. Situasi yang terasa tidak nyata ini, persis seperti di dalam manga atau anime, membuat detak jantung Haruto semakin rusuh tanpa bisa dicegah. Tampaknya hal yang sama juga dialami oleh Ayaka; wajahnya kini jauh lebih merah dari sebelumnya, dan ia sesekali curi-curi pandang ke arah Haruto.
Bingung harus memasang ekspresi seperti apa, Haruto angkat suara untuk memecah kecanggungan.
“...Anu, gimana, ya... ternyata mandi pakai pakaian renang itu memalukan juga, ya.”
“Iya, benar...”
Keberadaan Ryota tadi memang sempat mengalihkan perhatian mereka. Tapi sekarang, saat tinggal mereka berdua, mereka kesulitan untuk menentukan ke arah mana mata mereka harus menuju, dan percakapan pun menjadi sangat kaku.
“...Kamar mandi ini bagus sekali, ya.”
“Iya... ini, ‘kan... tempat favorit Mama...”
“Begitu, ya... ada televisinya juga.”
“...Iya. Mau nonton?”
“Ah... nggak usah, deh.”
“Lagian jam segini cuma ada berita, sih...”
“Iya...”
Mereka memalingkan wajah sedikit, namun sesekali mata mereka bertemu dan mereka pun tersipu merah; kata-kata meluncur satu per satu dengan pelan.
Haruto teringat saat pertama kali ia ke bioskop bersama Ayaka. Perasaan canggung yang mirip dengan saat ia menunggu film dimulai sambil menggandeng tangannya, kini ia rasakan kembali.
Di satu sisi, ia merasa rindu sekaligus berimajinasi. Jika ia bisa kembali ke masa lalu dan memberitahu dirinya yang baru saja menjadi asisten rumah tangga bahwa ia akan mandi bersama Ayaka di masa depan, ekspresi seperti apa yang akan ia tunjukkan?
Membayangkan hal itu, Haruto tak kuasa untuk menahan senyum kecilnya.
“Haruto-kun? Ada apa?”
“Ah, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, aku pernah baca sesuatu di internet.”
Melihat Ayaka yang bertanya heran sambil memiringkan kepalanya dengan manis, Haruto tiba-tiba teringat sesuatu dan mulai bercerita.
“Apa kau tahu kalau perasaan cinta itu konon katanya hanya bertahan selama tiga tahun?”
“Eh? Benarkah?”
Ayaka membelalakkan matanya karena terkejut mendengar ucapan Haruto.
“Katanya sih begitu. Walau tergantung masing-masing orang, rasa deg-degan karena jatuh cinta itu katanya cuma bertahan tiga tahun.”
“Apa itu benar?”
“Entahlah, aku tidak benar-benar menelitinya. Tapi secara ilmu saraf, zat bernama dopamin yang keluar saat jatuh cinta itu kabarnya tidak akan diproduksi lagi setelah sekitar tiga tahun.”
“Oalah, begitu, ya.”
Ayaka mengangguk mendengar penjelasan Haruto, namun wajahnya tampak sedikit bingung.
“Tapi, Papa dan Mama sudah menikah lebih dari tiga tahun. Mereka tetap rukun, tuh?”
“Sepertinya penjelasannya adalah setelah tiga tahun, ‘Koi’ akan berubah menjadi ‘Ai’.”
“’Koi’ berubah jadi ‘Ai’?”
“Iya. Yang tadinya merasa deg-degan saat bersama, setelah tiga tahun itu akan lenyap dan berganti menjadi rasa aman dan ketenangan hati. Rasanya seperti keberadaan pasangan di sisi kita sudah menjadi hal yang sewajarnya.”
“Ah, itu... kayaknya Mama pernah bilang hal serupa...”
Mendengar penjelasan Haruto, Ayaka bergumam sambil menunduk. Ia terus menunduk seolah sedang larut dalam pikirannya. Pada saat itulah, ujung jari kaki Haruto tidak sengaja menyentuh kaki Ayaka.
“Ah, maaf.”
Haruto buru-buru menarik kakinya. Memang benar kamar mandi kediaman Toujou lebih luas dari kamar mandi pada umumnya, tapi bagi dua orang remaja SMA yang duduk berhadapan, hampir mustahil untuk menjulurkan kaki tanpa saling bersentuhan.
“Tidak apa-apa, kok... Kau pasti ingin meluruskan kaki, ‘kan?”
“Eh? Ah... tidak, tidak apa-apa.”
Haruto menjawab sambil matanya sedikit melirik ke sana kemari. Setelah mengamati reaksi Haruto sejenak, Ayaka tiba-tiba membuka suara.
“Haruto-kun... bolehkah aku ke sana?”
“Eh?! Ah, u-un... tapi, mau ke mana?”
Haruto menanggapi usul mendadak Ayaka dengan bingung sambil memiringkan kepalanya.
Meski pipinya merona merah, Ayaka tidak menjawab dan mulai bergerak mendekat dengan luwes. Kemudian, ia memunggungi Haruto dan duduk manis di antara kedua kakinya.
“A-Ayaka...?”
“....................”
Jika tadinya mereka duduk berhadapan, kini mereka berdua menghadap ke arah yang sama, dengan Haruto seolah-olah sedang memeluk Ayaka dari belakang di dalam bak mandi.
“...Dengan begini, kakinya bisa lurus, ‘kan?”
Sambil berkata begitu, Ayaka menyandarkan punggungnya ke dada Haruto.
“M-Memang bisa lurus sih, tapi...”
Haruto kehilangan kata-kata karena ia terlalu menyadari sensasi punggung Ayaka yang bersandar di dadanya. Ia tidak tahu harus berkata apa, dan keheningan pun berlangsung sejenak.
Lalu, Ayaka perlahan bertanya pada Haruto.
“Haruto-kun, apa sekarang jantungmu deg-degan?”
“...Tentu saja. Dalam situasi begini, justru aneh kalau jantungku nggak deg-degan.”
Haruto menyampaikan isi hatinya dengan jujur kepada Ayaka.
“Samaan, dong. Jantungku juga deg-degan.”
Gadis itu berkata dengan nada malu-malu, sambil sedikit menambah beban tubuhnya yang bersandar pada Haruto, ia melanjutkan kata-katanya.
“Tapi, setelah tiga tahun, rasa deg-degan ini akan lenyap, ‘kan?”
“Yah... itu mungkin tergantung orangnya, dan lagi pula aku juga tidak tahu apakah cerita itu benar atau tidak.”
Karena itu hanyalah informasi yang pernah ia baca selintas di internet, Haruto pun tidak bisa memastikannya dengan yakin. Namun, Ayaka berkata dengan nada serius meski ia sedang menunduk malu.
“Tapi... aku ingin percaya kalau cerita itu benar.”
“Begitu?”
“Iya. Hei, Haruto-kun?”
“Hmm?”
“Bisa peluk aku?”
“Eh? D-Dalam kondisi begini?”
Haruto mengeluarkan suara bingung menanggapi permintaan Ayaka. Saat ini, Ayaka sedang memakai pakaian renang. Dan saat ini, Ayaka sedang duduk di antara kaki Haruto sambil menyandarkan punggungnya. Melakukan pelukan dalam kondisi ini berarti ia harus melakukannya dari belakang.
Haruto sempat ragu untuk memeluk Ayaka yang sedang berpakaian renang dari belakang. Melihat keraguan itu, Ayaka memohon dengan suara yang agak manja.
“Nggak mau?”
“Bukan nggak mau, sih.”
Haruto menjawab secara refleks. Tidak ada pria di muka bumi ini yang mampu menolak permintaan Ayaka saat ia bertanya “Nggak mau?” dengan begitu manis. Haruto membulatkan tekad, menjulurkan lengannya, dan dengan lembut melingkarkannya di sekitar pusar Ayaka, lalu mendekapnya perlahan.
Sensasi perut Ayaka terasa di lengannya. Dada Haruto dan punggung Ayaka kini melekat semakin erat karena pelukan itu. Haruto, yang merasakan kelembutan wanita hampir di sekujur tubuhnya, berusaha keras menenangkan berbagai emosi yang meluap dan meredam detak jantung yang gaduh di telinganya.
Di saat itulah, Ayaka berbisik sambil tersenyum kecil.
“Jantungku deg-degan banget. Tapi, kelak... aku ingin pas dipeluk oleh Haruto-kun begini, aku bisa merasa bahwa di sinilah tempatku bersandar.”
“Ayaka...”
Mendengar kata-kata menyentuh dari gadis di dalam pelukannya, Haruto sedikit mempererat pelukannya dan berkata.
“Seluruh sisiku sudah menjadi tempat bagimu, Ayaka.”
“Haruto-kun...”
Ayaka mengeluarkan suara seolah tersentuh oleh ucapan Haruto, lalu ia mencoba memutar tubuhnya di dalam pelukan Haruto untuk menghadap ke arahnya.
“Eh?! Ayaka-san?!”
Gara-gara Ayaka mencoba berputar, Haruto merasa ada sesuatu yang jauh lebih lembut daripada punggung Ayaka tadi kini tertekan ke dadanya.
“Ayaka! Menghadaplah ke depan! Ini... ini gawat dalam berbagai artian?!”
Haruto, yang rasionalitasnya hampir hangus terbakar, mencoba menghentikan gerakan Ayaka dengan panik. Namun, gadis itu memutar setengah badannya ke belakang, menjulurkan lehernya, dan menempelkan bibirnya di pipi Haruto.
“Aku sangat mencintaimu, Haruto-kun.”
Gadis itu berkata dengan pipi merona malu, namun ada sedikit kesan menggoda dalam dirinya. Melihat senyum Ayaka yang begitu menawan, Haruto berpikir:
Apa benar debaran ini akan hilang setelah tiga tahun?
Haruto pun mulai meragukan informasi dari internet yang pernah ia baca dulu.
※
Haruto, yang baru saja mandi bersama Ayaka dalam balutan pakaian renang, merasakan debaran jantung terbesar dalam hidupnya. Sambil membawa sisa-sisa debaran itu, Haruto dan Ayaka keluar dari kamar mandi dan menuju ruang tamu.
Di sana, Shuuichi, yang sudah selesai mandi lebih dulu dan sedang menemani Ryota, menyapa mereka.
“Halo Haruto-kun. Bagaimana airnya?”
“Sangat nyaman, Shuuichi-san.”
“Syukurlah. Kamar mandi rumah ini adalah tempat yang sangat diperhatikan oleh Ibu. Aku senang kau menikmatinya.”
Shuuichi tersenyum sambil bermain mainan sentai bersama Ryota.
“Onii-chan! Nanti kita mandi bareng-bareng lagi, ya!!”
“Iya. Tapi lain kali, pastikan ke toilet dulu sebelum mandi ya, Ryota-kun.”
“Okee!!”
Ryota mengangguk mantap sambil memegang figur sentai merah di tangannya. Saat itu, Ikue mulai menata makanan di meja makan.
“Makanan sudah hampir siap, semuanya silakan duduk di kursi masing-masing.”
“Maaf merepotkan, Ikue-san. Terima kasih atas jamuannya.”
“Ufufu. Aku memasak banyak khusus untuk Ootsuki-kun, jadi jangan sungkan dan makanlah yang banyak, ya.”
“Baik, terima kasih banyak.”
Haruto menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda terima kasih. Ikue sambil tersenyum manis mengalihkan pandangannya pada Ayaka yang ada di samping Haruto.
“Sudah merasa hangat?”
“Iya.”
“Begitu, ya.”
Percakapan singkat antara ibu dan putrinya. Melihat Ayaka yang pipinya masih sedikit merona, mungkin efek beres mandi, Ikue berkata dengan nada menggoda yang riang.
“Ufufu, sepertinya badan dan hatimu sudah terhangatkan, ya.”
“Ugh... i-iya...”
Ayaka mengalihkan pandangannya dengan malu-malu mendengar kata-kata Ikue, namun ia tidak membantah ucapan ibunya. Ikue tersenyum melihat perubahan putrinya, yang biasanya akan bereaksi berlebihan jika digoda soal Haruto.
“Baguslah kalau begitu~ Mungkin setelah ini aku juga harus mandi bareng Shuuichi-san.”
“Mama kan memang sering mandi bareng Papa.”
“Mandi bareng orang yang kita cintai itu bisa menghangatkan hati, loh?”
“Itu... mungkin memang benar, tapi...”
Melihat ibunya yang mengungkapkan cintanya pada Shuuichi dengan santai tanpa rasa malu, justru putrinya yang merasa malu dan terbata-bata.
“Ootsuki-kun, terima kasih juga ya sudah mau mandi sama Ryota.”
“Tidak apa-apa, saya juga senang bisa bermain bersama Ryota-kun.”
Begitu Haruto menjawab, Ryota berlari menuju meja makan dan menatap Haruto dengan senyum lebar.
“Onii-chan! Lain kali kita main pistol air di taman, ya!”
“Boleh. Mari kita main saat cuacanya cerah, ya.”
“Asyik!!”
Melihat senyum lebar Ryota, Haruto merasa debaran jantungnya akibat kejadian di kamar mandi tadi sedikit mereda.
Setelah itu, Haruto menikmati makan malam bersama keluarga Toujou. Menu makan malam yang dibuat Ikue adalah Doria. Dulu saat camping, Seafood Paella buatannya sudah terasa sangat lezat, namun makan malam hari ini juga tak kalah enaknya.
Ryota melihat hidangan di atas meja dan berteriak kegirangan, “Nasi gratin!”, yang kemudian dikoreksi oleh Ayaka, “Ini Doria, tahu.”
Shuuichi tersenyum bangga sambil berkata.
“Masakan Ootsuki-kun memang luar biasa, tapi masakan Ibu juga selalu lezat seperti biasa.”
Mendengar itu, Ikue tersenyum senang.
Dengan begitu Haruto pun menikmati makan malam dan kehangatan keluarga Toujou yang ramai.
Usai makan, ia bermain bersama Ryota di ruang tamu dengan mainan sentai yang sedang populer. Tanpa terasa, di luar sudah gelap gulita dan sudah waktunya untuk tidur.
“Ootsuki-kun, seperti yang sudah kubilang sebelumnya, silakan gunakan kamar Ryota sesukamu, ya. Akan kubawakan kasurnya sekarang.”
“Baik, terima kasih banyak.”
Ke depannya, jika Haruto menginap, ia akan menggunakan kamar Ryota. Karena Ryota masih tidur bersama orang tuanya, saat ini kamar Ryota praktis menjadi kamar kosong. Haruto menyiapkan kasur yang dibawa Ikue, memasang sprei, dan menyiapkan segalanya untuk tidur.
Tiba-tiba, Ryota yang sudah memakai piyama datang. Ikue, yang sedang membantu Haruto menyiapkan handuk dan selimut di kamar Ryota, sedikit memiringkan kepalanya melihat anaknya datang.
“Loh? Ada apa, Ryota?”
“Aku mau tidur sama Onii-chan hari ini.”
Ryota berkata sambil mengucek matanya yang tampak mengantuk.
“Sama Ootsuki-kun?”
“Boleh...?”
“Hmm.”
Ikue menatap Haruto sambil memiringkan kepala. Haruto mengangguk, lalu berbicara pada Ryota.
“Boleh, kok. Ayo tidur bareng.”
“Katanya boleh tuh. Syukur ya, Ryota.”
“Horeee.”
Ryota bersorak kegirangan, meski suaranya terdengar sedikit lemah karena rasa kantuk.
“Terima kasih ya, Ootsuki-kun.”
“Sama-sama. Ayo Ryota-kun, masuk ke dalam selimut.”
“Iya.”
Begitu diajak Haruto, Ryota dengan senang hati masuk ke dalam pelukan selimut di samping Haruto.
“Ootsuki-kun, kalau kepanasan jangan sungkan pakai AC, ya. Remote-nya kutaruh di dekat bantal.”
“Baik, terima kasih banyak.”
“Kalau begitu, selamat malam Ootsuki-kun, Ryota.”
“Selamat malam.”
“Malam~”
Setelah Ikue keluar, tinggallah Haruto dan Ryota berdua di dalam kamar. Ryota, meski kelopak matanya sudah terasa berat, tetap menoleh ke arah Haruto yang ada di sampingnya dengan senyum lebar.
“Hei, Onii-chan?”
“Hmm? Ada apa?”
“Apa yang Onii-chan sukai dari Onee-chan?”
Mendengar pertanyaan polos dari Ryota yang mengantuk, Haruto tersenyum dan menjawab.
“Aku suka semuanya.”
“Semuanya dari Onee-chan?”
“Iya, semuanya.”
Mendengar jawaban mantap tanpa ragu dari Haruto, Ryota sedikit memiringkan kepalanya.
“Onii-chan serakah, deh, kalau suka semuanya.”
“Ahahaha, benar juga, aku serakah, ya. Tapi, aku sangat menyukai Ayaka sampai-sampai jadi serakah begini.”
Haruto tertawa kecil menanggapi reaksi Ryota.
“Apa Onee-chan juga suka semuanya dari Onii-chan?”
“Entahlah. Semoga saja begitu.”
“Nanti aku tanyakan pada Onee-chan!”
Ryota menatap Haruto dengan binar mata penuh semangat. Haruto dengan lembut mengelus kepala bocah itu.
“Terima kasih, Ryota-kun. Kalau sudah tanya, nanti bisikkan jawabannya padaku, ya.”
“Serahkan padaku!”
Ryota menunjukkan tekad yang kuat. Haruto pun tersenyum kecil membayangkan Ayaka yang akan kelabakan saat diinterogasi oleh adiknya.
“Karena Onii-chan dan Onee-chan saling mencintai, semoga kalian cepat menikah dan jadi keluarga, ya!”
“Iya, semoga saja.”
Sambil terus mengelus kepala Ryota yang berbicara dengan riang, Haruto menjawab dengan lembut. Setelah itu, mereka mengobrol santai tentang hal-hal sepele. Tak lama kemudian, Ryota tampaknya tidak bisa lagi menahan kantuk dan suara napas teraturnya mulai terdengar saat tertidur.
Haruto menyelimuti Ryota yang tertidur lelap dengan selimut, lalu ia sendiri merebahkan kepalanya di atas bantal.
“Menikah, ya... Mungkin itu masih sangat jauh, tapi Shuuichi-san dan Ikue-san adalah orang yang baik, Ryota-kun juga manis. Pasti akan menyenangkan jika bisa menjadi bagian dari keluarga Toujou.”
Membayangkan kehidupan saat menjadi keluarga Ayaka, Haruto merasakan perasaan malu yang menggelitik, namun di saat yang sama hatinya terasa hangat.
Kata-kata Ryota tadi terlintas kembali di benaknya.
‘Apa Onee-chan juga suka semuanya dari Onii-chan?’
Ia tidak tahu persis sedalam apa perasaan Ayaka padanya. Namun, Haruto yakin jika mereka terus menghabiskan waktu bersama sebagai kekasih, saling memahami dan mengasihi, maka masa depan mereka akan cerah.
“Kalau Ayaka memakai gaun pengantin... cantiknya pasti bakal nggak ngotak.”
Sambil membayangkan kekasihnya dalam balutan gaun putih bersih, dan berharap dialah pria yang berdiri di sampingnya, Haruto perlahan memejamkan mata dan jatuh ke alam mimpi.
※
Aku keluar dari kamarku dan berdiri di depan pintu kamar Ryota yang ada di sebelah.
Usai makan malam tadi, Haruto-kun terus menemani Ryota bermain. Karena Ryota tampak sangat senang, aku pun tidak keberatan. Tapi dari posisiku sebagai pacarnya, aku merasa sedikit kesal karena pacarku terus-menerus “direbut” oleh adikku. Karena itu, aku ingin mengobrol dengan Haruto-kun sedikit sebelum tidur dan mengucap “Selamat malam”.
Baru saja aku hendak mengetuk pintu kamar tempat Haruto-kun berada, suara Ryota terdengar dari balik pintu.
‘Hei, Onii-chan?’
‘Hmm? Ada apa?’
Loh? Ryota mau tidur bareng Haruto-kun malam ini?
Irinya... aku juga pengin tidur bareng Haruto-kun! Tapi... nggak mungkin, sih. Apalagi hari ini kami baru saja mandi bareng...
Lagipula, kalau ada Haruto-kun di sampingku, jantungku pasti bakal deg-degan sampai tidak bisa tidur... Tapi bentar, bukankah Ryota terlalu memonopoli Haruto-kun?! Haruto-kun kan pacarku?!
Sebagai pacar, boleh dong aku sedikit egois? Boleh dong kalau aku memonopoli Haruto-kun sebentar saja sebelum tidur?
Setelah meyakinkan diri, aku pun mengangkat tangan kanan untuk mengetuk pintu. Namun pada saat itu, aku mendengar percakapan yang sangat menarik dari dalam kamar.
‘Apa yang Onii-chan suka dari Onee-chan?’
‘Aku suka semuanya.’
‘Semuanya dari Onee-chan?’
‘Iya, semuanya.’
Ih, Ryota! Kamu nanya apa, sih?! Dan Haruto-kun juga langsung jawab tanpa ragu!!
Dia suka “semuanya” tentangku! D-Dia suka segalanya dariku... semuanya... Tapi kalau dipikir-pikir, Haruto-kun pas nembak dulu juga bilang, “Aku menyukai segalanya tentang dirimu”...
Sampai sekarang pun, di otakku masih terpatri jelas momen ketika Haruto-kun menyatakan cintanya. Tatapan matanya yang serius dan begitu panas rasanya bisa membakar kulitku. Kata-kata pengakuan yang terucap dari bibirnya...
Uuuh, hanya dengan mengingatnya saja dadaku rasanya mau meledak saking bahagianya...
‘Onii-chan serakah, deh, kalau suka semuanya.’
‘Ahahaha, benar juga, aku serakah, ya. Tapi, aku sangat menyukai Ayaka sampai-sampai jadi serakah begini.’
Ugh?! G-Gawat! Dadaku deg-degan banget!
Rasanya mau gila karena terlalu baper! Bisa-bisa aku terkena aritmia!! Aku menurunkan tanganku yang hendak mengetuk pintu, lalu segera kabur ke kamarku sendiri.
Aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi.
Jika aku ketemu Haruto-kun dalam kondisiku yang sekarang, aku pasti tidak akan bisa mengendalikan perasaanku. Rasa cintaku padanya pasti akan meledak...
Begitu kembali ke kamar, aku langsung terjun ke kasur dan membenamkan wajahku ke bantal.
Sejak pacaran dengan Haruto-kun, entah sudah berapa kali dia bilang “Aku suka kamu” langsung di depanku. Setiap kali mendengar kata-kata itu, hatiku terasa ringan seperti melayang dan diselimuti kebahagiaan luar biasa. Tapi, kalau dengarnya tidak sengaja kayak barusan, hatiku sudah bukan melayang lagi.
Rasanya kayak: BLERRR!! DUARR!! BOOOM!!
Luapan perasaanku pada Haruto-kun rasanya sampai mau meledak, dan hatiku jadi sangat berisik.
“Haaa... Aku terlalu menyukainya sampai rasanya sesak...”
Pacarku ini kelewat hebat nggak, sih?
Dari awal aku memang menganggap Haruto-kun punya spek tinggi, tapi tidak kusangka aku akan dibuat bertekuk lutut sampai segininya...
“Haruto-kun suka semuanya tentangku... ngguuu~~...”
Aku merenungkan kata-katanya berulang kali di dalam hati, lalu menekan wajahku ke bantal karena kegirangan.
Gimana nih... rasa cintaku pada Haruto-kun terus meluap dari relung hatiku. Kalau aku tidak mengeluarkan perasaan ini, aku... bisa-bisa aku meledak...
Haruskah aku membenamkan wajah ke bantal lalu berteriak sekencang-kencangnya, “AKU JUGA SUKA SEMUANYA TENTANG HARUTO-KUN!!”? T-Tapi... kalau ada yang dengar, aku pasti akan mati saking malunya. Apalagi Haruto-kun ada di kamar tepat di sebelahku.
...Benar juga, di balik dinding ini ada Haruto-kun, ‘kan?
Aku menatap dinding yang membatasi kamarku dengan kamar Ryota. Di sudut pikiranku, tiba-tiba muncul pikiran konyol seperti, “Andai saja aku punya skill penglihatan tembus pandang”.
“Haaa... Saki masih bangun nggak, ya?”
Akhirnya, aku memainkan ponselku dan mengirim pesan kepada sahabatku.
(“Masih bangun?”)
(“Turu”)
Begitu aku mengirim pesan pada Saki, dia langsung membalas. Bersama pesan itu, dia mengirim stiker kelinci yang sedang tidur lelap dengan mulut menganga.
Melihat balasan khas Saki, aku tertawa kecil “fufu” lalu meneleponnya. Setelah nada sambung berbunyi beberapa detik, Saki mengangkat teleponnya.
‘Apaan?’
“Um, aku ingin mengobrol dengan Saki untuk mengalihkan pikiranku.”
‘Hmm? Mengalihkan pikiran dari apa?’
Menanggapi pertanyaan Saki, aku menceritakan padanya bahwa sekarang Haruto-kun sedang menginap di rumahku, dan kejadian barusan.
‘Oho, ceritanya manis banget, ya. Padahal aku sudah sikat gigi sebelum tidur, sekarang kayaknya harus sikat gigi lagi.’
“Maaf, ya. Tapi kalau tidak begini, rasanya aku bakal meledak.”
‘Meledak nggak, tuh...’
Suara lelah Saki terdengar dari balik ponsel.
‘Ngomong-ngomong, hari ini ada diskusi keluarga Ootsuki dan keluarga Toujou, ‘kan? Bagaimana hasilnya?’
“Begini—“
Aku menjelaskan pada Saki bagaimana gaya hidup kami bersama Haruto-kun ke depannya.
‘Hee~ Jadi mulai sekarang, setiap Jumat malam kamu bisa begadang sambil bermesraan dengan Ootsuki-kun, ya?’
“I-Itu sih belum tahu... Tapi, aku pengin banget kami duduk sebelahan di sofa sambil nonton film atau drama.”
‘Wah, asyik, ya. Terus kalian akan berbagi camilan berdua, ‘kan?’
“Kalau tidak hati-hati, aku bisa gemuk. Tapi kayaknya itu sangat menggoda...”
Nonton drama romantis bareng Haruto-kun sambil makan cokelat. Terus saat mau ambil cokelat, tangan kami tidak sengaja bersentuhan? Lalu kami saling menatap? Dan ciuman?! U-Uuu~~ bahagianya...
“Fufu, fufufu...”
‘Halo, Ayaka-san? Aku tidak tahu kamu lagi bayangin apa, tapi tawamu kedengaran sus, loh. Ootsuki-kun bisa ilfeel kalau dengar.’
“Hau!”
Kalau memikirkan tentang Haruto-kun, wajahku jadi sulit untuk tidak senyum-senyum sendiri.
Tapi mulai sekarang, karena ada nenek Haruto-kun, Kiyoko-san, aku harus menjaga ekspresiku dengan benar. Aku ingin dianggap sebagai kekasih yang baik oleh Kiyoko-san.
‘Ngomong-ngomong, besok untuk pesta kembang api, kita janjian di mana?’
“Ah, benar juga. Gimana kalau di depan stasiun kayak biasa?”
Besok rencananya aku akan pergi menonton pesta kembang api sama Haruto-kun. Tapi, kalau orang-orang sekolah melihat kami bersama, bisa gawat. Jadi, sebagai kamuflase, aku akan pergi sama Saki, dan Haruto-kun akan pergi sama Akagi-kun. Lalu nanti kami pura-pura ketemu secara tidak sengaja di lokasi.
‘Oke, jadi sore hari di lapangan depan stasiun, ya?’
“Oke, oke. Saki pakai yukata, ‘kan?”
‘Rencananya sih begitu.’
“Aku tidak sabar melihat Saki pakai yukata~”
‘Oh? Ada Ootsuki-kun tapi kamu malah selingkuh denganku?’
Mendengar candaan sahabatku, aku membayangkan pakaian seperti apa yang akan dikenakan Haruto-kun besok.
“Besok Haruto-kun akan pakai Jinbei nggak, ya?”
‘Kamu pengin lihat Ootsuki-kun pakai Jinbei?’
“Tentu saja aku pengin lihat! Dia pasti terlihat sangat tampan!”
Haruto-kun punya otot yang bagus dan meski terlihat ramping, sebenarnya tubuhnya cukup kekar, jadi dia pasti cocok sekali memakai Jinbei. Lengan atasnya, lehernya, ah, terus... mungkin bagian dadanya juga akan terlihat sedikit...
‘Kalau begitu, besok pagi minta saja langsung padanya, “Nanti pakai Jinbei, ya”.’
“Tapi, itu rasanya kayak aku yang memaksanya...”
Siapa tahu Haruto-kun sebenarnya tidak suka pakai Jinbei. Nanti aku malah membuatnya merasa terbebani.
‘Kamu tuh terlalu overthinking. Kamu kan pacarnya, tinggal bilang saja dengan manis, “Ayo kita janjian pakai yukata dan Jinbei lalu keliling stan makanan bareng~”.’
“Serius? Aku boleh bilang begitu?”
‘Boleh, dong. Bilang saja.’
Mendengar kata-kata Saki, aku mengangguk berkali-kali.
“Baiklah, besok pagi akan kuminta pada Haruto-kun.”
‘Iya, iya. Jadi bagaimana? Apa perasaanmu sudah lebih mendingan setelah mengobrol denganku? Apa ledakannya sudah bisa dicegah?’
“Ah, iya. Makasih, Saki.”
Tadi rasanya sesak sekali karena rasa cintaku pada Haruto-kun meluap-luap, tapi sekarang setelah mengobrol dengan Saki tentang besok, pikiranku jadi teralihkan ke pesta kembang api.
‘Kalau begitu, aku tidur duluan, ya?’
“Iya, selamat malam Saki.”
‘Malam~’
Setelah terdengar suara Saki yang sedang menguap dari ponsel, panggilan pun berakhir.
Aku berbaring di kasur dan menatap langit-langit.
“Besok pesta kembang api sama Haruto-kun. Jadi nggak sabar.”
Menonton kembang api besar yang mekar di langit malam dengan kekasih tercinta. Aku bisa melakukannya dengan Haruto-kun yang teramat kucintai. Membayangkan momen itu, senyum secara alami terukir di wajahku dan memejamkan mata dengan diselimuti rasa bahagia.





Post a Comment