NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V2 Chapter 3

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 3

Terpesona Olehnya

Sesampainya di area rerumputan, Haruto dan yang lainnya segera bermain menggunakan bola pinjaman.


“Cuacanya cerah, tempatnya juga luas, rasanya nyaman sekali, ya.”


Ujar Ayaka yang sudah berganti pakaian sambil memandang hamparan rumput di hadapannya.


Di area rerumputan itu, ada banyak orang... mulai dari keluarga hingga kelompok pertemanan... sedang bermain bola, atau sekadar bersantai dengan menggelar tikar piknik dan tenda kecil. Namun, karena areanya sangat luas, tidak terasa sesak sama sekali, dan mereka bisa merasakan kelegaan yang cukup di bawah langit yang cerah.


Haruto dan kedua kakak beradik itu pun melakukan permainan kecil menggunakan bola sepak yang mereka sewa.


“Ayo Ryota-kun, sebelah sini.”


“Ugh! Hya! Ah!”


Itu adalah permainan sederhana di mana satu orang memegang bola, sementara dua orang lainnya berusaha merebutnya.


Saat ini bola berada di kaki Haruto, dan Ryota berusaha mati-matian untuk merebutnya. Namun, bola yang digiring dengan lincah di kaki Haruto membuat Ryota kesulitan merebutnya sesuai keinginan.


“Onee-chan, sebelah sana! Hentikan Onii-chan!”


Ryota bekerja sama dengan Ayaka untuk mengepung Haruto dan mencoba menghentikan gerakannya.


“Hup!”


Namun, Haruto berputar dengan gesit dan berhasil lolos dari kepungan mereka.


“Ootsuki-kun, kamu jago banget.”


Melihat gerakan Haruto, Ayaka berkomentar sambil cekikikan.


“Ootsuki-kun ikut klub sepak bola, ya?”


“Tidak, kok. Dulu waktu kecil aku sering main beginian sama teman-teman, jadi cuma sedikit terbiasa saja.”


“Kayaknya itu bukan cuma ‘sedikit’, deh.”


Melihat gerakan kaki Haruto yang menggerakkan bola ke kiri dan ke kanan hingga membuat Ryota benar-benar kewalahan, Ayaka tersenyum kecut.


Melihat bola yang tampaknya mustahil direbut, Ayaka tersenyum seolah mendapatkan ide cemerlang.


“Kalau gitu, karena Ootsuki-kun berpengalaman, boleh dong kalau kami dapat handicap?”


“Boleh kok. Mau handicap seperti apa? ...Eh!?”


“Eii!”


Disertai seruan manis itu, Ayaka memeluk lengan Haruto erat-erat.


Haruto sama sekali tidak menduga Ayaka akan menggunakan tangannya secara terang-terangan dalam permainan sepak bola. Selain terkejut dengan tindakan gadis itu, kelembutan memikat yang tersalur dari lengan yang dipeluk itu membuat tubuh Haruto sontak membeku.


“Sekarang kesempatannya, Ryota!”


“Oke! Hyaaa... Horeee!!”


Ryota yang berhasil merebut bola dengan mulus dari Haruto yang mematung, dan bersorak kegirangan.


“Ufufu, kami menang.”


“Tidak, yang tadi itu...”


“Nggak boleh? Yang tadi itu pelanggaran?”


Ayaka sedikit melonggarkan pelukannya dari lengan Haruto, lalu memiringkan kepala dan menatap Haruto dengan pandangan dari bawah ke atas. Bagi Haruto, justru sikap itulah yang merupakan pelanggaran tingkat kartu merah.


“Bukan... tidak boleh, sih.”


Haruto melirik sekilas ke arah lengannya yang dipeluk, lalu memalingkan wajah ke arah berlawanan sambil bergumam pelan. Melihat reaksinya, pipi Ayaka merona malu, namun ia tertawa kecil “Fufufu” dengan senang.


“Onii-chan! Sekarang gantian menyerang dan bertahan!”


“B-Benar juga. Sip! Akan segera kurebut balik bolanya!”


Menanggapi suara lantang Ryota, Haruto pun sedikit meninggikan suaranya untuk menutupi rasa malunya.


Permainan kecil setelah itu menjadi pertandingan sengit karena pergerakan Haruto menurun drastis akibat sering dipeluk oleh Ayaka.


Setelah itu, Haruto dan yang lainnya bermain permainan selain sepak bola. Ketika matahari sudah naik ke posisi tertingginya, Ayaka menyipitkan mata karena silau oleh sinar matahari yang terik dan berkata.


“Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?”


“Ide bagus. Ayo kita gelar tikar di bawah bayangan pohon sebelah sana.”


Haruto menunjuk ke arah bayangan pohon di dekat mereka yang terlihat nyaman.


“Ryota juga sudah lapar, ‘kan?”


“Ung! Mau makan bekal!”


“Aku sudah buatkan karaage dan tamagoyaki kesukaan Ryota-kun, loh.”


“Asyiik!”


Mendengar ucapan Haruto, Ryota bersorak gembira dan berlari kencang menuju bayangan pohon.


“Stamina anak-anak memang mengerikan, ya.”


“Tidak, menurutku Ootsuki-kun yang bisa terus meladeni Ryota juga hebat, loh?”


Ayaka, yang di tengah permainan beralih menjadi penonton, berkata sambil menatap Haruto dengan kagum.


“Nggak kok, staminaku juga sebenarnya sudah sampai batasnya.”


“Benarkah? Kelihatannya santai banget, tuh? Napasmu juga nggak ngos-ngosan.”


Ayaka mengintip wajah Haruto dan menatapnya dengan pandangan curiga.


“Bagaimanapun juga, aku nggak bisa menang lawan stamina anak TK.”


Haruto sedikit memalingkan wajah dari Ayaka yang mendekat.


“Masih ada sesi siang loh, yakin kuat?”


“Kalau sudah makan bekal, aku bakal pulih lagi.”


“Cepat amat pulihnya.”


Setelah percakapan itu, mereka berdua tertawa kecil bersama.


“Onii-chan! Onee-chan! Buruan!”


Ryota yang sudah berada di bawah pohon mendesak mereka berdua sambil melompat-lompat.


“Iya iya, kami ke sana sekarang.”


Setelah menjawab adiknya, Ayaka menatap Haruto dan tersenyum manis.


“Ayo, Ootsuki-kun.”


“Baik.”


Haruto dan Ayaka pun berjalan beriringan menuju tempat Ryota.



Selesai menyantap bekal, mereka bertiga bersantai di atas tikar piknik.


Sinar matahari terasa terik dan panasnya menyengat kulit. Namun, saat berada di bawah naungan pohon, panas itu sedikit mereda. Hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin sesekali membuat mereka merasakan suasana musim panas dan hati pun terasa damai.


“Siang ini kita ke area bermain air, yuk?”


Haruto memberi usul sambil memasukkan kotak bekal yang sudah kosong ke dalam ransel.


“Boleh juga. Suhu udaranya juga sudah naik banget.”


Panas yang dicurahkan matahari sedang mencapai puncaknya, sehingga terus menggerakkan tubuh di luar naungan pohon seperti tadi rasanya agak mustahil dilakukan dengan suhu seperti ini.


“Ah, tapi baju gantiku...”


Ayaka teringat sesuatu.


“Ah, benar juga, kaosnya dimakan kambing tadi, ya.”


Kaos Ayaka yang ujungnya dimakan kambing menjadi basah kuyup karena air liur, jadi sekarang dia sudah mengenakan kaos yang tadinya untuk bermain air.


“Aku punya ganti bawahan, jadi mungkin aku cuma bakal merendam kaki saja, deh.”


“Begitu ya. Hati-hati ya biar nggak jatuh.”


“Iya.”


Setelah percakapan itu, Haruto dan yang lainnya segera menuju area bermain air.


“Wah... ramai sekali...”


“Yah, panasnya begini, sih. Semua orang pasti mikirnya sama.”


Ayaka berseru kaget melihat banyaknya orang di area bermain air. Haruto hanya bisa membalasnya dengan senyum kecut.


Area bermain air itu memiliki kolam-kolam menyerupai danau buatan dengan kedalaman sekitar betis orang dewasa yang tersebar di sana-sini, dan di beberapa tempat terdapat air mancur.


Di kolam itu, sebagian besar yang bermain dengan heboh adalah anak-anak seusia Ryota, tetapi ada juga orang tua pendamping dan pasangan kekasih yang bermain air di pancuran air mancur.


“Onii-chan, di sana sepertinya kosong!”


Ryota menarik lengan Haruto dan menunjuk ke tempat yang relatif lebih sepi.


“Benar juga. Kalau begitu, ayo main di sana.”


“Ayo!”


Begitu mengangguk, Ryota langsung berlari kencang menuju kolam dan masuk ke dalam air dengan momentum penuh.


Ryota membuat cipratan air yang besar dengan suara byur, lalu menoleh ke arah Haruto dan Ayaka dengan senyum lebar.


“Onii-chan! Onee-chan! Airnya segar banget!!”


Melihat sosok Ryota yang kegirangan dengan air menetes dari rambutnya, Haruto dan Ayaka ikut tersenyum dan masuk ke dalam kolam.


“Dingin dan segar, ya.”


“Mandi air di tengah musim panas memang paling nikmat.”


Di tengah panas yang menyengat, dinginnya air membuat wajah Haruto dan Ayaka berseri-seri.


Tiba-tiba Ryota berlari mendekat dan menyipratkan air yang diciduk dengan tangannya ke arah Haruto.


“Onii-chan! Hiya!”


“Uwo, berani ya Ryota-kun. Rasakan pembalasanku!”


“Uwaa! Ahahahaha!”


Ryota yang disiram air oleh Haruto membalas siraman itu dengan sangat gembira.


Haruto dan Ryota saling main ciprat-cipratan air. Ayaka memandangi mereka berdua dengan senang sambil duduk di pinggir kolam, hanya merendam kakinya di air.


“Ryota, hati-hati jangan sampai ganggu orang, ya.”


“Oke! Aku tahu!”


Di kolam itu, selain Ryota, ada banyak anak-anak lain yang sedang asyik bermain.


“Kelihatannya sejuk, asyiknya.”


Ayaka menopang dagu, sedikit menyesali ketiadaan baju ganti, sambil memandang Haruto dan Ryota yang tampak bersenang-senang. Tiba-tiba, Ryota melambaikan tangan lebar-lebar memanggil kakaknya.


“Onee-chan! Air di sini dingin banget, enak loh!”


“Masa sih?”


Saat Ayaka memiringkan kepala, Haruto menjawab sambil mengangguk.


“Dingin dan segar banget. Rendam kakinya mau coba di sini saja?”


“Begitu, ya. Kalau begitu aku coba ke sana, deh.”


Ayaka menggulung ujung celananya agak tinggi, lalu menghampiri Haruto dan Ryota.


“Wah, benar! Rasanya dingin dan segar.”


“Kebetulan di sini adalah saluran air masuknya.”


Saat Ayaka dan yang lainnya perhatiannya sedang teralihkan oleh air segar yang dingin, seorang anak lain yang berlarian di dekat situ menabrak Ayaka.


“Kyaa!?”


Disertai suara benturan buk, anak laki-laki yang menabrak itu jatuh terduduk, dan tubuh Ayaka pun kehilangan keseimbangan.


“Awas!”


Secara refleks Haruto mengulurkan tangan, mencoba menopang Ayaka.


Namun, karena pijakannya berada di dalam air, dia tidak bisa menahan tumpuan dengan baik. Sambil tetap memegang tangan Ayaka, Haruto sendiri pun kehilangan keseimbangan.


Menilai bahwa kejatuhannya tak terelakkan, Haruto menarik tangan Ayaka yang digenggamnya dengan kuat, lalu mendekap tubuh gadis itu. Kemudian, dia memutar tubuhnya agar posisinya berada di bawah saat mereka jatuh ke dalam kolam.


Byuurrr! Cipratan besar membubung saat mereka berdua jatuh.


Meskipun airnya tidak terlalu dalam, jika berbaring, wajah mereka akan tenggelam.


Haruto, yang jatuh dalam posisi menjadi bantalan bagi Ayaka, buru-buru mengangkat kepalanya agar wajahnya keluar dari permukaan air.


“Ootsuki-kun! Kamu nggak apa-apa!?”


“Ya, aku tidak apa...”


Tepat di depan mata dan hidung Haruto yang mengangkat wajah, terpampang wajah Ayaka yang matanya terbelalak karena kaget dan khawatir.


Haruto terdiam sesaat melihat gadis yang menindih tubuhnya dan menatapnya dengan cemas itu.


Kenapa, ya?


Alasannya tidak jelas. Namun, Haruto merasa pada momen ini, dia terpesona pada gadis bernama Toujou Ayaka lebih dari sebelumnya.


Apakah karena ekspresi khawatir yang menatapnya itu?


Ataukah karena rambut basahnya yang berkilau diterpa sinar matahari dan meneteskan air itu terlihat begitu mempesona?


Atau mungkin karena kelembutan tubuhnya yang berada dalam dekapannya, serta berat tubuhnya yang terasa memikat?


Atau mungkin karena semua itu terjadi secara bersamaan?


Haruto kehilangan kata-kata dan hanya menatap Ayaka dengan pandangan kosong.


“...Ootsuki-kun?”


Melihat Haruto yang tiba-tiba diam dan menatapnya setelah jatuh, Ayaka memasang ekspresi khawatir, takut kalau Haruto kenapa-kenapa.


“......”


Haruto tidak menanggapi panggilannya.


Sebagai gantinya, pelukan di lengan yang mendekap Ayaka sedikit mengerat.


“Eh!? O-Ootsuki-kun?”


Ayaka menunjukkan ekspresi terkejut karena dipeluk dengan erat.


Haruto bisa merasakan tubuh gadis itu menegang dan menjadi kaku dalam pelukannya.


Namun, beberapa detik kemudian.


Ketegangan di tubuh gadis itu perlahan melemas, dan berat tubuh yang membebani Haruto bertambah. Seolah terkena sihir, Haruto tak bisa mengalihkan pandangan dari mata basah Ayaka.


Pandangan mereka saling bertemu dan perlahan mendekat.


Tanpa ada yang memulai, kelopak mata mereka perlahan mulai tertutup, dan tepat pada saat itu.


“Maafkan kamiii!!”


Sepertinya itu ibu dari anak yang menabrak Ayaka.


Seorang wanita paruh baya berlari panik, lalu menundukkan kepala dalam-dalam kepada mereka berdua yang sedang bertindihan.


“...Ah!”


“Hah!?”


Seketika, Haruto dan Ayaka terpisah seolah terpental, dan buru-buru berdiri.


“Ayo! Kamu juga minta maaf yang benar!”


“M-Maafkan aku...”


Ditegur keras oleh ibunya, anak laki-laki yang tampak murung itu menunduk kepada Haruto dan Ayaka.


“A-Ah... tak apa-apa, kami tidak terluka kok.”


“Kamu tidak apa-apa?”


Ayaka tersenyum ramah, sementara Haruto berbicara lembut kepada anak laki-laki yang tadi jatuh terduduk setelah menabrak Ayaka.


“I-Iya. Tidak apa-apa...”


“Begitu ya, lain kali mainnya lihat-lihat sekitar, ya.”


“Iya, maafkan aku.”


“Sungguh, saya mohon maaf sebesar-besarnya.”


Ibu dan anak itu berkali-kali membungkuk sebelum meninggalkan Haruto dan Ayaka.


Setelah pasangan ibu dan anak itu pergi agak jauh, Haruto membuka mulut dengan canggung kepada Ayaka.


“Anu... soal tadi, itu... maafkan aku.”


“T-Tidak apa-apa. Kalau Ootsuki-kun tidak memelukku, mungkin aku sudah jatuh dan kepalaku terbentur... Justru Ootsuki-kun sendiri nggak apa-apa?”


“Aku, ya. Aku baik-baik saja.”


“Begitu, syukurlah...”


Dalam suasana canggung, mereka berdua sempat bertatapan sejenak lalu segera memalingkan muka. Dada Haruto masih berdegup kencang, sisa dari kejadian barusan.


Saat itu, Ryota berlari menghampiri dan mendongak menatap mereka berdua.


“Onee-chan, Onii-chan, tidak apa-apa?”


“Ya, tidak apa-apa kok.”


“Tidak apa-apa, Ryota-kun, terima kasih.”


Mendengar jawaban mereka berdua, Ryota tampak lega, lalu melihat pakaian kakaknya.


“Onee-chan, bajunya jadi basah semua, ya.”


“Ah, benar juga...”


Ayaka menunduk melihat bajunya, berpikir sejenak, lalu tersenyum seolah sudah tidak peduli lagi.


“Yah, karena sudah kepalang basah, mau bagaimana lagi, mending sekalian saja aku main air sepuasnya.”


“Asyiik! Onee-chan ayo main sama-sama!”


Ryota langsung bersemangat mendengar ucapan kakaknya. Ayaka pun terlihat sangat senang menyiduk air dengan tangannya dan mulai saling siram dengan Ryota.


“Onii-chan juga ayo main bareng!”


“Oke, siap.”


Melihat senyum polos Ryota, Haruto pun tersenyum dan berlari menghampiri.


Sambil merasakan detak jantung yang tak biasa saat melihat senyum Ayaka yang berkilauan di bawah sinar matahari musim panas, dengan ekspresi polos yang sama.



Dari ujung kepala sampai ujung kaki, Haruto dan yang lainnya bermain dengan basah kuyup di sekujur badan.


Ayaka yang tadinya menahan diri untuk tidak bermain karena tidak ada baju ganti, kini sudah pasrah dan basah kuyup.


Sambil melirik Ayaka yang sedang asyik bermain dengan adiknya, Haruto merenungkan tindakannya tadi.


Tindakan spontan memeluk Ayaka untuk menolongnya yang hampir jatuh itu sama sekali tidak dilandasi niat kotor.


Dia hanya berpikir untuk menolongnya.


Namun, saat mereka bertindihan setelah jatuh, Haruto tanpa sadar memeluk Ayaka dengan erat.


Kalau salah langkah... tidak, bahkan tanpa salah langkah pun tindakan tadi bisa dianggap pelecehan seksual. Kalaupun saat itu Ayaka menjerit dan menampar pipinya, Haruto tak akan bisa protes.


Apakah panasnya musim panas membuat dirinya jadi aneh?


Haruto bertanya pada dirinya sendiri.


Pemandangan itu masih tertanam jelas dan kuat di benaknya. Ayaka saat itu tampaknya tidak marah.


Malah dia melemaskan tubuhnya, dan rasanya ada atmosfer seolah menerimanya. Memikirkan itu, mau tak mau jantungnya berdetak kencang.


Sosok Ayaka yang begitu fantastis membuat hati Haruto rusuh.


Dari rambut indahnya yang berkilau warna rami diterpa sinar matahari, menetes butiran air layaknya mutiara. Pipi yang merah merona, serta napas yang lolos dari bibir yang tampak lembut dan merekah. Mata basahnya seolah menyihir pandangannya agar tak berpaling, yang tampak bergetar antara harap dan cemas.


Pemandangan saat mata itu perlahan mendekat.


Seandainya saat itu tidak ada siapa-siapa di sekitar.


Seandainya hanya ada mereka berdua.


Mungkinkah...


Saat Haruto hendak memikirkan kelanjutannya, tiba-tiba air menyiram wajahnya.


“...Wap!”


“Fufufu, Ootsuki-kun, lengah.”


Haruto menggelengkan kepala dan mengedipkan mata. Di depannya, ada sosok Ayaka yang tersenyum cerah.


Setelah menangkap sosok gadis itu dalam pandangannya, Haruto tiba-tiba memalingkan muka.


Kenapa dia melakukannya, Haruto sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan baik.


Namun, Ayaka saat ini terlihat jauh lebih memikat dari sebelumnya di mata Haruto.


Haruto sebenarnya sadar bahwa gadis bernama Toujou Ayaka itu sangat cantik. Dari sudut pandangnya pun, penampilan Ayaka luar biasa rupawan, dan maklum jika para lelaki di sekolah atau pria yang berpapasan di jalan terpaku menatapnya.


Namun, itu hanya sebatas pengakuan bahwa ‘Toujou Ayaka adalah gadis cantik’, atau mungkin perasaan yang sama seperti saat mengagumi lukisan bernilai seni tinggi.


Dan Haruto juga seorang laki-laki.


Dia suka melihat gadis cantik, dan merasa senang jika bisa mengobrol atau bersentuhan dengan mereka.


Benar, sampai sekarang perasaannya berhenti di ‘merasa senang’.


Tidak, khusus untuk Toujou Ayaka, mungkin lebih tepat dibilang dia ‘berusaha menghentikannya’.


Pekerjaan sambilan layanan asisten rumah tangga selama liburan musim panas. Demi memberikan pelayanan terbaik kepada keluarga Toujou yang telah mengikat kontrak langganan. Demi tidak membawa perasaan yang tidak pantas, dia memalingkan wajah dari pusat hatinya agar tidak memendam perasaan khusus pada Ayaka.


Namun, Haruto merasa sekarang hal itu sangat sulit dilakukan.


Dia merasa ada perasaan yang tak bisa dia kendalikan, perasaan yang melampaui rasa senang yang selama ini berusaha dia bendung, emosi yang Haruto sendiri tidak begitu paham, kini bergolak di relung hatinya.


“Sip! Ryota tertangkap!”


“Ahahaha! Onii-chan tolong!”


Ayaka dan Ryota saling bermain-main.


Haruto menyembunyikan emosi dalam hatinya dan bergabung dengan mereka, berpura-pura bersikap ‘seperti biasa’.


“Nih! Rasain!”


Haruto merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menyiramkan air sekuat tenaga ke arah Ayaka dan Ryota.


“Awawa! Berani ya Ootsuki-kun!”


“Padahal aku minta tolong! Onii-chan jahat!”


Mereka berdua yang disiram habis-habisan oleh Haruto menyuarakan protes sambil cekikan.


“Ryota, ayo kita kerja sama buat kalahin Ootsuki-kun!”


“Oke! Kita bantai Onii-chan!!”


Toujou bersaudara yang bersemangat untuk mengalahkan Haruto perlahan mempersempit jarak.


“Aku tidak akan semudah itu tertangkap.”


Haruto tersenyum menantang, lalu berlari kencang menghindari mereka berdua.


“Ah! Tunggu! Jangan lari Onii-chan!”


“Kita kejar, Ryota!”


Haruto berlari sambil sesekali menengok ke belakang melihat mereka berdua yang mengejar dengan panik. Setelah lari cukup jauh, dia memperlambat lajunya dan sengaja membiarkan dirinya tertangkap.


“Onii-chan ketangkap!”


“Yah ketangkap. Ryota-kun cepat, ya.”


Haruto mengelus lembut kepala Ryota yang memeluk pinggangnya.


Lalu, bukan hanya Ryota, Ayaka juga ikut bergabung.


“Aku juga menangkap Ootsuki-kun!”


“Eh!? Tunggu!?”


Dari arah yang berbeda dengan Ryota, Ayaka memeluk erat lengan Haruto. Haruto berseru kaget karena tindakannya.


Melihat gadis yang memeluk lengannya sambil menunjukkan senyum tanpa beban itu, emosi yang bergolak di dada Haruto meluap keluar.


Manis.


Haruto murni berpikir demikian tentang Ayaka.


Perasaan itu bukan sekedar pada penampilannya. Sosoknya yang heboh bermain bersama adik kecilnya. Senyuman menyilaukan yang ditunjukkannya sekarang. Sikapnya yang berusaha mendekatkan jarak meski pipinya merona malu.


Semua itu membuat hati Haruto bergetar.


“Selanjutnya Ootsuki-kun yang jadi kucing, ya?”


“Hore! Lari!”


Mendengar ucapan kakaknya, Ryota langsung melepaskan diri dari Haruto dan berlari kabur sambil bersorak.


Kapan permainannya berubah jadi kejar-kejaran? Belum sempat Haruto mempertanyakan itu, Ayaka berbisik di telinganya.


“Tangkap aku, ya!”


Mendengar itu, Haruto sontak menoleh ke arahnya, tapi Ayaka segera melepaskan lengan Haruto dan berlari menjauh.


Tepat sebelum kabur, lirikan matanya bertemu dengan pandangan Haruto, membuat dada Haruto bergemuruh hebat.


Dia didorong oleh hasrat ingin segera berlari sekuat tenaga dan menangkap Ayaka saat itu juga. Namun, dia tidak bisa menuruti hasrat itu dengan jujur, jadi Haruto mengejar Ryota yang berlari sekuat tenaga.


Seolah melarikan diri dari tatapan Ayaka yang tampak sedikit tidak puas, Haruto mati-matian mengejar Ryota.


Setelah itu pun, Haruto menikmati main air semaksimal mungkin seolah ingin menutupi konflik batinnya.


Dan setelah menikmati main air lebih lama dari yang diperkirakan, mereka bertiga naik dari kolam saat matahari mulai condong.


“Seru bangeeet!!”


Ryota berteriak sambil basah kuyup sekujur tubuh.


“Ayo, lap kepalanya pakai handuk.”


Ayaka mengeluarkan handuk dari ransel dan menudungkannya ke kepala adiknya, lalu Haruto menggosok-gosok kepala anak itu hingga kering.


“Toujou-san, kalau mau, pakai ini saja.”


Sambil mengelus kepala Ryota, Haruto menyodorkan kemeja ganti miliknya kepada Ayaka.


“Eh? Tapi ini kan baju ganti Ootsuki-kun...”


Ayaka menunjukkan reaksi agak ragu.


“Tidak baik membiarkan perempuan tubuhnya kedinginan.”


“Tapi... meskipun kaosku dimakan kambing, aku punya ganti camisole, jadi kurasa masih bisa diakali.”


“Biarpun camisole-nya baru, kalau kaos luarnya masih basah, nanti camisole-nya ikutan basah, loh?”


“Ung...”


Melihat Ayaka yang tak kunjung mengangguk, Haruto memasang ekspresi agak sedih.


“Apa kalau pakai kemejaku rasanya menjijikkan? Kalau begitu... ya sudah...”


“Ah, b-bukan! Bukan begitu!”


Melihat Haruto yang terang-terangan terlihat murung, Ayaka buru-buru membela diri.


“Dengar ya, kalau aku pakai kemeja Ootsuki-kun, berarti Ootsuki-kun bakal pakai baju yang basah terus, ‘kan? Aku merasa nggak enak.”


“Tidak usah dipikirkan. Dengan cuaca begini, kalau diperas kuat-kuat lalu dipakai, pasti bakal segera kering kok.”


“Beneran? Nggak apa-apa nih?”


Melihat Ayaka yang bertanya sambil menatap dari bawah, Haruto mengangguk mantap.


“Tidak apa-apa. Justru kalau Toujou-san terus pakai baju basah, aku malah jadi nggak tenang karena kepikiran terus.”


Membiarkan dirinya memakai baju kering sementara membiarkan perempuan kedinginan memakai baju basah, itu sangat bertentangan dengan jiwa ksatria Haruto.


“Demi aku juga, tolong dipakai ya.”


“...Baiklah, makasih ya, Ootsuki-kun.”


Ayaka menerima baju ganti dari Haruto.


“Kalau begitu, Ryota-kun, kita ke ruang ganti dan ganti baju yuk.”


“Ayo.”


Haruto menggandeng tangan Ryota dan menuju ruang ganti yang ada di dalam area bermain air. Menyusul mereka, Ayaka juga menuju ruang ganti wanita.


Setelah membantu Ryota ganti baju di ruang ganti, Haruto memeras kemejanya sekuat tenaga untuk membuang air sebanyak mungkin, lalu memakainya kembali.


Sensasi kemeja basah yang menempel lembap di kulit membuat Haruto tanpa sadar mengerutkan wajah, tapi dia segera mengembalikan ekspresinya saat memikirkan Ayaka.


Setelah selesai ganti baju, Haruto dan Ryota menunggu Ayaka selesai berganti di depan pintu masuk ruang ganti wanita. Ryota yang terus bermain sejak pagi sepertinya sudah kelelahan, kelopak matanya terlihat berat dan kepalanya sesekali terangguk-angguk.


Saat Haruto berpikir apakah sebaiknya dia menggendongnya, Ayaka keluar dari pintu ruang ganti.


“Maaf, apa aku lama?”


“............Ah, tidak. Sama sekali tidak lama kok.”


Reaksi Haruto sedikit terlambat.


Dia terpanana sesaat melihat sosok Ayaka yang mengenakan kemejanya.


Bagi Ayaka, kemeja itu ukurannya kebesaran dan terlihat longgar. Bagian lehernya cukup longgar, dan ujung kemejanya jatuh sampai sedikit di atas lutut.


“Ootsuki-kun, ini ukurannya agak kebesaran, jadi boleh aku ikat bagian bawahnya?”


“Eh? Ah, iya, silakan.”


Setelah mendapat persetujuan Haruto, Ayaka mengikat sisa ujung kemeja di sekitar pinggangnya.


“Gimana? Cocok nggak?”


Haruto menjawab Ayaka yang tersenyum malu-malu dengan agak bingung.


“Kupikir, tidak aneh kok.”


“Begitu ya, syukurlah.”


Membiarkan gadis itu memakai bajunya sendiri, Haruto yang sekarang tidak sanggup mengatakan kalau itu ‘cocok’ atau memujinya secara langsung.


Meski begitu, Ayaka tersenyum tersipu dengan senang.


“Kalau begitu, ayo pulang.”


“...Iya, ya. Mari pulang.”


Haruto menjawab sambil merasakan detak jantungnya yang semakin cepat dan sedikit terbata-bata.


Dalam perjalanan pulang dari Taman Hutan Satwa, Haruto berkali-kali curi-curi pandang ke sosok Ayaka di sebelahnya.


Ayaka yang kini mengenakan gaya yang biasa disebut ‘Kemeja Pacar’, entah kenapa memancing rasa posesif dalam diri Haruto.


Ayaka mengenakan pakaian yang biasa dia pakai. Fakta itu membuat Haruto merasa seolah-olah gadis itu sudah menjadi kekasihnya, dan dia jadi sangat salah tingkah.


Ditambah lagi, karena Ayaka mengikat ujung kemeja di pinggang, perutnya jadi sedikit terlihat.


Tidak boleh dilihat. Tapi matanya tersedot ke sana. Haruto terus berjuang mati-matian melawan konflik batin itu.


Untungnya, rasa kantuk Ryota sudah mencapai batasnya, jadi dalam perjalanan dari stasiun ke rumah Toujou, Haruto menggendong Ryota di punggungnya dengan dialasi handuk. Berkat itu, Haruto bisa sedikit mengalihkan hawa nafsunya.


Dan saat mereka tiba di rumah Toujou, langit sudah berwarna merah senja yang cerah.


“Ryota-kun, sudah sampai rumah loh.”


Haruto menyapa lembut Ryota yang ada di punggungnya, lalu mengguncangnya perlahan untuk membangunkannya.


“Ngh... hngg? Eh? Di mana ini?”


Ayaka menjawab Ryota yang bergumam linglung dengan mata setengah terbuka.


“Di rumah, ayo turun dari punggung Ootsuki-kun.”


“...Ung.”


Ryota mengangguk lemah, lalu turun perlahan dari punggung Haruto.


“Ayo Ryota, Ootsuki-kun mau pulang, bilang terima kasih dan dadah.”


“...Ung, Onii-chan, makasih... dadah...”


Ayaka tersenyum kecut melihat Ryota yang bergumam pelan sambil mengucek mata ngantuknya.


“Ootsuki-kun, makasih ya sudah gendongin Ryota.”


“Sama-sama.”


“Baju gantinya juga, nanti akan kucuci dan kukembalikan, ya.”


Kata Ayaka sambil menjumput sedikit kerah kemeja yang dipakainya.


“Hari ini seru banget. Terima kasih banyak.”


“Aku juga senang kok.”


Mereka saling bertukar senyum. Setelah itu, keduanya saling bertatapan dalam diam sejenak.


“...Umm, kalau begitu, sampai jumpa di jadwal kerja berikutnya.”


“...Iya, sampai jumpa.”


Mereka saling melontarkan kata-kata dengan sedikit rasa canggung.


Rasanya nyaman, tapi juga malu. Rasanya ingin cepat pergi, tapi juga ingin terus begini.


Dalam suasana yang rumit itu, Haruto membuka mulut.


“Dah.”


“...Ung.”


Mengangkat satu tangan dengan ringan, Haruto membalikkan badan membelakangi Ayaka.


Saat berbalik, sekilas dia merasa Ayaka memasang wajah kesepian, tapi Haruto tidak bisa menoleh lagi untuk memastikannya, dan langsung berjalan pulang.


Dari rumah Toujou ke rumah Ootsuki seharusnya memakan waktu sekitar tiga puluh menit jalan kaki, tapi tanpa sadar dia sudah sampai di depan pintu rumahnya.


Karena sepanjang jalan dia terus melamun memikirkan kejadian hari ini dengan Ayaka, Haruto merasa seolah-olah dia melakukan teleportasi.


Dia perlahan membuka pintu depan dan masuk ke dalam rumah.


“Aku pulang.”


Haruto memanggil neneknya di dalam rumah yang lampunya belum dinyalakan.


Lalu, saat dia hendak melepas sepatu di area pintu masuk, dia merasakan sesuatu yang aneh dan gerakannya terhenti seketika.


Aneh, ganjil.


Matahari sudah hampir larut, dan bagian dalam rumah sudah gelap gulita. Meski begitu, tidak ada satu lampu pun yang menyala di dalam rumah.


Hari ini, seharusnya Nenek tidak ada rencana pergi keluar.


Seharusnya ada di rumah, tapi lampunya tidak menyala...


Otak Haruto yang tadi sempat berhenti berpikir karena Ayaka, seketika dipenuhi berbagai pikiran. Semuanya adalah dugaan buruk yang rasanya ingin ia tepis jauh-jauh.


“Nenek!!”


Haruto memanggil neneknya setengah berteriak, melempar sepatunya, dan berlari secepat kilat.


Di lorong, tidak ada.


Di ruang tatami, tidak ada!


Di ruang tengah, juga tidak ada!!


Haruto berkeliling rumah sambil mati-matian menekan rasa paniknya.


Jantungnya berdetak kencang hingga terasa sakit.


“Hah... hah... Nenek!”


Di tengah napas yang memburu, Haruto masuk ke dapur yang berada di bagian dalam ruang tengah. Di sanalah akhirnya dia menemukan sosok neneknya.


Namun, neneknya dalam keadaan tergeletak di lantai dapur.


Haruto merasa darah di sekujur tubuhnya surut seketika.


Dia buru-buru berlari menghampiri neneknya.


“Nenek!!”


Di rumah yang hanya ditinggali olehnya dan neneknya, teriakan pilunya bergema.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close