Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 2
Angan dan Kenyataan
Setelah selesai melapor kepada Ikue, Haruto pergi ke kamar Ayaka untuk belajar sebelahan dengannya.
“Maaf ya, Ryota jadi lepas kendali begitu,” ucap Ayaka.
Ia menghentikan gerakan pensil mekaniknya di atas buku catatan, lalu tersenyum kecut mengingat tingkah adiknya yang tadi dengan bangga sesumbar akan menabung demi mereka berdua. Haruto pun menghentikan belajarnya, lalu menggaruk kepala dengan satu tangan karena merasa sedikit malu.
“Yah, aku tidak merasa terganggu, kok. Malah... aku merasa cukup senang.”
Baik Ryota maupun Ikue merestui hubungan Haruto yang kini telah menjadi kekasih Ayaka dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Hal itu membuat Haruto merasa sangat bahagia sampai tidak tahu harus berkata apa.
“Tapi soal menikah, kurasa itu masih agak terlalu dini, ya.”
“I-Iya, benar! Menikah itu masih terlalu cepat bagi kita!”
Ayaka menimpali seolah setuju, namun ia melirik Haruto seakan ingin mengintip bagaimana ekspresi pemuda itu.
“Tapi, Papa sangat menyukai Haruto-kun, jadi mungkin saat dia pulang dari perjalanan dinas nanti, suasananya bakal jadi heboh.”
“Itu... benar, sih. Aku sangat senang beliau menyukaiku, tapi...”
Mengingat kembali bagaimana reaksi Shuuichi selama ini, Haruto tersenyum sedikit canggung.
“Shuuichi-san pulang akhir pekan ini, ‘kan?”
“Iya, benar.”
“Kalau begitu, di hari terakhir kerja sambilanku sebagai asisten rumah tangga, semuanya akan berkumpul, ya.”
Kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga yang ia mulai di musim panas ini.
Awalnya ini hanyalah kerja sambilan jangka pendek untuk biaya kuliah, namun ia malah disukai oleh keluarga Toujou hingga menjalin kontrak langganan, bahkan sempat menjadi kekasih palsu Ayaka. Benar-benar liburan musim panas yang sangat padat.
Liburan musim panas yang terasa panjang itu akhirnya akan mencapai puncaknya minggu ini.
“Entah kenapa, liburan musim panas tahun ini terasa sangat panjang,” gumam Haruto dengan penuh perasaan. Ayaka mengangguk setuju.
“Iya. Aku juga merasa tahun ini terasa sangat lama. Tapi, ini adalah liburan musim panas yang paling menyenangkan dan membahagiakan bagiku selama ini.”
Sambil bilang begitu, Ayaka menyandarkan tubuhnya pada Haruto, menempelkan kepalanya dengan manja di bahu pemuda itu.
“Apalagi sekarang aku bahagia banget bisa jadi kekasih Haruto-kun...”
“Aku pun merasakan hal yang sama. Tapi, aku nggak nyangka kalau memulai kerja sambilan asisten rumah tangga akan membuatku berakhir pacaran sama Ayaka.”
Haruto membelai lembut kepala gadis yang sedang bersandar manja padanya itu. Saat Haruto menyisir rambutnya dengan jemari, Ayaka menyipitkan mata dengan nyaman.
“Kalau aku, sudah lama memimpikan hal ini, loh?”
“Benarkah? Tapi sebelum liburan musim panas, kita kan nggak pernah berinteraksi sama sekali? Bahkan bicara pun hampir tidak pernah.”
“Tapi, biarpun kita tidak bertemu di liburan musim panas, aku yakin kelak kita pasti akan bertemu dan berakhir seperti ini.”
“Apakah itu yang dinamakan... takdir?”
“Fufufu... mungkin saja?”
Mungkin merasa malu dengan ucapannya sendiri, wajah Ayaka memerah saat ia tersenyum malu-malu. Melihat keimutan gadis itu, Haruto merasa detak jantungnya meningkat. Karena tidak sanggup menahan damage dari pesona Ayaka yang menatapnya dari jarak sedekat itu, tanpa sadar ia memalingkan wajah dan mengalihkan topik pembicaraan.
“Omong-omong, besok ada festival kembang api, ‘kan?”
Melihat Haruto yang terang-terangan mengalihkan pembicaraan, Ayaka tertawa kecil, “Fufu.”
“Iya.”
“Kalau boleh, mau pergi bersamaku?”
“Mau!”
Ayaka menjawab ajakan Haruto dengan senyum lebar di wajahnya. Kemudian, ia menunjukkan ekspresi sedikit lega sambil bergumam, “Syukurlah. Kamu mengajakku.”
“Jangan-jangan, kamu memang sedang menunggu ajakanku?”
“...Iya.”
Ayaka mengangguk pelan dengan wajah tersipu.
“Melihat kembang api berdampingan dengan orang yang kusuka adalah impianku sejak dulu, jadi aku berharap Haruto-kun akan mengajakku.”
Gadis itu tampak sangat bahagia saat menempelkan dagunya di bahu Haruto.
“Terima kasih sudah mengajakku.”
“Ah, iya, maksudku... hmm...”
Mendapat senyuman dari gadis cantik sedekat itu, Haruto memberikan jawaban yang ambigu sambil membuang muka seolah ingin melarikan diri.
Melihat itu, Ayaka sedikit menggembungkan pipinya.
“Padahal kemarin kamu bilang nggak bakal lari lagi...”
“Ugh...”
Tersentak karena diserang balik oleh ucapannya sendiri, Haruto menoleh ke samping dengan wajah memerah. Namun, ia memberanikan diri menatap mata gadis yang berada tepat di depannya. Melihat Haruto yang wajahnya merah namun tetap menatapnya, Ayaka ikut memerah, lalu menampilkan senyum yang bercampur antara rasa malu dan bahagia.
Melihat senyum gadis itu, muncul sedikit rasa ingin melawan dalam diri Haruto.
“Ayaka, kamu sadar nggak sih kalau kamu itu sangat cantik sampai-sampai dipanggil sebagai idol sekolah oleh para cowok?”
“Ah... Bagiku yang terpenting hanyalah penilaian dari Haruto-kun saja.”
Merespons kata ‘cantik’ yang dilontarkan Haruto, bibir Ayaka tak kuasa menahan senyum lebar, sembari melontarkan kata-kata manis dan manja.
Haruto hanya bisa tersenyum kecut melihat kelakuan dan kata-kata gadis itu yang sejak tadi terus memacu detak jantungnya.
“Aku juga cowok. Kalau kamu kelewat agresif, aku bisa saja ingin menerjangmu, loh?”
Haruto mendekatkan wajahnya ke arah Ayaka, lalu menarik lembut pinggang ramping gadis itu agar lebih dekat. Kemudian, ia berbisik dengan suara yang sedikit berat. Seketika itu juga, telinga Ayaka memerah padam hingga Haruto merasa kalau gadis itu benar-benar akan mengeluarkan uap panas dari kepalanya.
“!? I-itu...”
Gadis itu buru-buru menjauhkan wajahnya dari bahu Haruto dan mengambil jarak dengan gerakan kikuk.
“B-Belum... untuk sekarang... m-maksudku, bukan berarti aku benci kalau itu Haruto-kun... tapi... t-tapi, aku belum siap mental... tapi, itu... uuu...”
Ayaka bergumam terbata-bata, dan akhirnya ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Melihat tingkahnya itu, Haruto menunjukkan ekspresi yang seolah merasa sedikit puas.
Saat kencan pertama mereka menonton film, Haruto pernah mencoba membalas tingkah Ayaka yang meremas tangannya dengan kuat, namun justru ia sendiri yang kena serangan balik.
Ia merasa kali ini dendamnya telah terbalaskan, menunjukkan sifatnya yang sedikit tidak mau kalah.
“Aku juga ingin menjagamu dengan baik, jadi aku nggak bakal pernah menerjangmu secara tiba-tiba.”
Saat Haruto tersenyum lembut untuk menenangkannya, Ayaka menatap balik dengan wajah semerah tomat. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca, dan dengan tatapan yang mendongak dari bawah, damagenya benar-benar luar biasa.
“...Jadi, kalau nggak tiba-tiba, kamu bakal menerjangku?”
“Ugh... Tidak, maksudku bukan soal tiba-tiba atau enggaknya, intinya aku nggak bakal menerjangmu.”
“Hmm... begitu, ya...”
Ayaka menatap Haruto sambil menunduk sedikit.
Ekspresinya tampak lega, namun di sisi lain tersirat sedikit rasa tidak puas. Bagi Haruto, ekspresi itu begitu memikat hingga terasa berbahaya.
Ia segera memalingkan wajahnya yang sudah memerah padam dari tatapan Ayaka yang berkaca-kaca itu.
Haruto sempat mengira dirinya menang setelah sedikit mendesak dan membuat Ayaka deg-degan, namun pada akhirnya ia jugalah yang terkena serangan balik.
“S-Sudahlah, ayo kita belajar dengan serius.”
Mendengar Haruto bicara dengan nada datar seperti membaca teks, Ayaka mengangguk dan kembali menghadap ke arah meja.
“...Benar juga. Aku harus dapat nilai di atas delapan puluh supaya bisa dapat hadiah dari Haruto-kun.”
“Omong-omong, kita memang pernah berjanji kayak gitu, ya...”
Karena banyaknya hal yang terjadi, seperti waktu Ayaka mencoba menciumnya hingga momen pernyataan cintanya, Haruto sempat benar-benar melupakannya.
Gadis itu menunjukkan senyum sedikit nakal kepadanya.
“Kalau semuanya di atas delapan puluh, enaknya aku minta hadiah apa ya sama Haruto-kun?”
“Eh? Ayaka yang menentukan isinya?”
“Kamu nggak mau kalau aku yang menentukan?”
Ucap gadis itu dengan imut sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Meskipun gerakannya sangat dibuat-buat, efeknya tetap dahsyat bagi Haruto.
“Bukannya nggak mau, tapi tolong yang wajar-wajar aja, ya.”
“Tentu saja, aku akan memikirkannya sesuai standar kewajaran sepasang kekasih pada umumnya, kok?”
Melihat Ayaka bicara dengan riang, Haruto merasakan secuil kecemasan.
Selama menjalani latihan jadi kekasih sebelumnya, Haruto sudah menyadari bahwa standar kekasih bagi gadis ini sedikit—tidak, justru sangat jauh dari standar umum. Kira-kira hadiah macam apa yang akan diminta dengan standar kekasih yang melenceng itu?
“Pilihlah sesuatu yang sanggup kukabulkan, ya?”
“Iya, iya. Aman, kok.”
Ayaka tetap tersenyum riang. Namun, melihat senyum itu, kecemasan Haruto justru kian bertambah.
Setelah itu, mereka berdua benar-benar fokus belajar dengan serius.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore, sebentar lagi akan memasuki jam kerja sambilan. Ayaka yang sudah menyelesaikan satu bagian belajarnya melakukan peregangan tubuh sambil menghela napas “Uuun~”. Haruto yang ada di sebelahnya pun ikut memutar lehernya untuk melemaskan otot yang kaku.
“Tapi benar juga ya, mulai minggu depan sudah masuk sekolah...”
Gumam Haruto santai, lalu seolah teringat sesuatu, ia menoleh ke arah Ayaka.
“Omong-omong, soal berangkat sekolah bagaimana? Mau pergi ke sekolah bareng?”
Mendengar pertanyaan Haruto, wajah Ayaka sempat berbinar sejenak. Namun sesaat kemudian, ia menunjukkan raut wajah yang rumit.
“Aku ingin berangkat bareng! Tapi...”
Wajahnya tampak begitu bimbang.
Popularitas seorang gadis bernama Toujou Ayaka di sekolah benar-benar luar biasa.
Bahkan ada murid laki-laki yang sampai nekat melamar lewat siaran radio sekolah; sebesar itulah popularitasnya di mata para siswa. Jika sang idol sekolah tiba-tiba kepergok berangkat sekolah sambil gandengan tangan mesra dengan seorang siswa laki-laki tepat setelah liburan musim panas usai, apa yang akan terjadi?
“...Pasti bakal jadi keributan besar, ya?”
“Yah, soalnya ada banyak cowok yang suka Ayaka, sih.”
Haruto membayangkan tatapan penuh iri dan kecemburuan yang akan diarahkan kepadanya jika ia berdiri di samping gadis itu. Membayangkan tatapan seperti itu akan terus tertuju padanya sepanjang waktu di sekolah, ekspresi Haruto pun sedikit mendung.
“Tapi, gimana, ya... Biarpun orang-orang di sekitar melihatku dengan iri dengki, aku sangat menyukai Ayaka sampai-sampai aku tidak akan memedulikannya... Maksudku, aku pengin tetap bareng Ayaka kayak biasa di sekolah.”
Mendengar Haruto bicara sambil tersipu, mata Ayaka membelalak lebar, dan seolah terbawa emosi, ia langsung memeluk pemuda itu.
“Ih! Nggak adil tahu, tiba-tiba ngomong gitu!”
Meskipun mulutnya mengomel, ekspresi Ayaka tampak sangat bahagia.
Seolah ingin menutupi rasa malunya, ia menempelkan keningnya ke lengan atas Haruto dan menggosok-gosokkannya sejenak sebelum akhirnya melepaskan diri perlahan.
“Jadi, Ayaka sendiri ingin bagaimana di sekolah?” tanya Haruto sambil tak kuasa menahan senyum melihat reaksi imut gadis itu.
“Aku juga pengin terus bareng Haruto-kun! Pengin banget... tapi...”
Ekspresi Ayaka sedikit muram saat ia mulai bercerita.
“Sebenarnya aku merasa sedikit takut. Jadi gini...”
Dengan nada bicara yang sedikit muram, Ayaka menceritakan masa lalunya kepada Haruto.
Itu adalah kejadian saat ia masih SMP, di mana ia bertengkar dengan temannya gara-gara pernyataan cinta dari seorang anak laki-laki. Teman yang tadinya sangat akrab dengannya tiba-tiba memakinya dengan kata-kata, “Jangan curi orang yang kusuka!”, dan sejak itu hubungan mereka merenggang. Kejadian itulah yang menjadi penyebab tingkah laku Ayaka di sekolah sekarang: tidak menunjukkan minat sama sekali pada asmara, tidak membiarkan laki-laki mendekat, dan menolak semua pernyataan cinta.
Kesannya yang dingin terhadap asmara di sekolah sebenarnya adalah bentuk mekanisme pertahanan dirinya demi menjaga hubungan pertemanan yang baik.
“Makanya... kalau aku ketahuan pacaran sama Haruto-kun di sekolah, aku sedikit takut kalau ada siswi yang menyukai Haruto-kun akan memarahiku lagi...”
“Begitu, ya...”
Haruto bergumam dengan nada lemas sambil mengerucutkan bibirnya sedikit.
Ia sendiri merasa tidak mungkin ada siswi yang menyukainya, jadi ia merasa kekhawatiran Ayaka itu berlebihan. Namun, ia juga paham dari pengalamannya sendiri bahwa trauma masa lalu tidak bisa dihapus begitu saja dengan mudah.
Bagi Haruto, ia punya keinginan kuat untuk menghabiskan masa sekolah bersama Ayaka.
Jika yang menjadi target kecemburuan hanya dirinya sendiri, Haruto sudah membulatkan tekad untuk berangkat sekolah bersama Ayaka. Namun, jika hal itu justru membuat Ayaka menjadi target kecemburuan atau merusak hubungan pertemanannya, maka ia harus bertindak hati-hati.
“Jadi, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak berangkat sekolah bareng dulu, ya...”
“...Iya. Padahal sebenarnya aku pengin ngumumin ke seluruh sekolah kalau Haruto-kun adalah pacarku!”
“Itu malah memalukan...”
Haruto menggaruk bagian belakang kepalanya karena tersipu. Melihat tingkahnya, Ayaka pun tersenyum senang.
“Tapi, untuk sekarang, kita rahasiakan dulu hubungan kita di sekolah.”
Setelah mengatakan itu, Ayaka menambahkan, “Lagipula, ada sedikit rasa kagum juga, sih...”
“Kagum?”
“Iya, maksudku, bersikap sebagai kekasih tanpa ketahuan orang lain di sekolah itu terasa seperti situasi yang sering ada di manga romantis, ‘kan?”
“Ah... Yah, begitukah?”
Haruto yang jarang membaca genre seperti itu hanya memiringkan kepala sambil memberikan jawaban yang kurang yakin.
“Jadi, setelah liburan musim panas nanti, di sekolah kita akan berinteraksi dengan jarak kayak orang yang saling kenal saja?”
“Mungkin begitu. Aku harus berhati-hati supaya tidak tiba-tiba memeluk Haruto-kun di kelas.”
Ayaka mengatakannya dengan wajah serius.
Haruto tidak tahu apakah gadis itu bercanda atau serius, ekspresi wajahnya pun sedikit menegang.
“Jangan tiba-tiba peluk biarpun sudah diumumin kalau kita pacaran, oke? Kalau kamu melakukan itu di depan umum, semuanya pasti akan meledak.”
Seorang laki-laki dipeluk oleh idol sekolah.
Itu adalah kasus yang sudah pasti akan membuat si laki-laki dikeroyok oleh seluruh siswa laki-laki di sekolah.
“Haaa... Malas banget liburan musim panas berakhir...”
Ayaka menghela napas dengan wajah bimbang. Haruto pun mencoba menyemangatinya.
“Besok kan ada festival kembang api. Kita nikmati itu aja dulu.”
“Iya! Benar juga!”
Mendengar kata-katanya, ekspresi Ayaka seketika menjadi cerah, menunjukkan senyum yang menyilaukan kepada Haruto.
※
Keesokan harinya setelah janjian akan pergi ke festival kembang api bersama Ayaka. Haruto sedang latih tanding dengan giat di Dojo Doujima.
Lawan tandingnya adalah Ishigura. Pertarungan antara dua orang dengan kemampuan teratas di dojo itu berlangsung sangat sengit; serangan dan pertahanan berganti dalam sekejap mata.
Sambil menangkis serangan Ishigura yang datang bertubi-tubi dengan tepat, Haruto merasa tubuhnya jauh lebih ringan dari biasanya.
Akhir-akhir ini, mentalnya tidak stabil karena merasa galau dan tidak fokus gara-gara masalah Ayaka, atau sebaliknya, ia berlatih dengan membabi buta cuma biar tidak memikirkan gadis itu. Namun, setelah ia benar-benar menjadi kekasihnya Ayaka, segala pikiran yang mengganggu pun sirna. Hal itulah yang membuat gerakan Haruto menjadi lebih baik.
Melihat gerakan Haruto yang sangat tajam, Ishigura yang mulai terdesak justru tampak sangat menikmati pertarungan itu, dengan mata yang berkobar penuh semangat tempur. Haruto pun membalas dengan senyuman tipis dan tatapan tajam ke arah Ishigura. Mereka berdua adalah rival yang kemampuannya setara dan saling memacu diri satu sama lain sejak kecil. Mereka berniat untuk memperbrutal pertarungan, namun suara bel pengatur waktu berbunyi, menandakan berakhirnya sesi latih tanding.
Keduanya segera mengambil jarak dan saling membungkuk dalam-dalam.
“Terima kasih atas bimbingannya.”
“Terima kasih atas bimbingannya.”
Dengan ini, latihan di dojo hari ini telah berakhir.
“Hei Haruto. Hari ini gerakanmu cukup bagus, tuh?”
“Terima kasih. Berkat Kazu-senpai, segala kegundahanku sudah hilang.”
Ishigura menyampirkan handuk di lehernya sambil menyeka keringat yang mengalir dari dahi saat menyapa Haruto.
Haruto membalas dengan senyum lebar dan wajah yang segar ke arahnya.
“Kekhawatiran yang kau bicarakan itu, maksudmu saat kau sedang merana sendirian di taman malam itu?”
“Iya. Berkat Kazu-senpai saat itu, maksudku... anu, aku sudah punya pacar.”
Ucap Haruto sambil menggaruk pipinya dengan wajah sedikit memerah karena malu.
Kemarin, ia dan Ayaka sudah memutuskan untuk merahasiakan hubungan mereka di sekolah. Namun, menyembunyikannya secara total itu mustahil. Jadi, mereka memutuskan untuk mengungkapkannya kepada orang-orang terdekat saja.
Dalam kasus Haruto, ia memberitahu sahabatnya, Tomoya, serta rekan dojonya, Ishigura dan Shizuku.
Mendengar kata-kata Haruto, Ishigura tersenyum.
“Baguslah kalau begitu. Selamat, ya.”
“Ini semua berkat ceramah dari Kazu-senpai waktu itu.”
“Itu bukan ceramah, perkataanku nggak sehebat itu, kok.”
Ucap Ishigura dengan senyum yang tampak sedikit tersipu.
Suasana tegang yang menyelimuti latih tanding tadi berubah seketika menjadi percakapan yang hangat. Tiba-tiba, Shizuku muncul secara perlahan di depan Ishigura dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
“Kazu-senpai, kenapa senyumanmu kelihatan bengis begitu? Rencana untuk memusnahkan umat manusia sudah menemukan titik terang, kah?”
“Jangan terus-terusan memanggilku kayak Raja Iblis gitu, dong!”
Merespons candaan rutin dari Shizuku, Ishigura pun memberikan jawaban ketus seperti biasa.
“Haruto baru saja punya pacar. Aku cuma sedang memberinya selamat. Tidak ada hubungannya dengan kelangsungan hidup umat manusia.”
“Oho? Haru-senpai punya pacar...”
Mendengar kata-kata Ishigura, alis Shizuku berkedut sedikit, lalu ia mengarahkan pandangannya kepada Haruto.
“Jangan-jangan pacarnya adalah Toujou-senpai?”
“Yah, begitulah.”
“Begitu, ya... Jadi intinya, aku tinggal jadi selingkuhan Haru-senpai saja, ‘kan?”
“Bukan, logikanya tidak begitu.”
Shizuku bicara seolah-olah apa yang dikatakannya itu sangat masuk akal, sehingga Haruto yang tidak sanggup mengikuti jalan pikirannya segera membantah kata-kata gadis itu.
“Kalau begitu... istri kedua?”
“Logikanya makin ngawur.”
“Hmm... kalau begitu gundik?”
“Bukan.”
“Bagaimana kalau selir?”
“Memangnya aku ini raja apa! Semuanya salah!”
Haruto tidak tahan untuk tidak melontarkan protes karena Shizuku terus melontarkan candaan bertubi-tubi.
Melihat interaksi mereka berdua, Ishigura berkata dengan santai.
“Kalau Haruto jadi raja, dia pasti jadi raja yang konyol. Awokawok!”
Haruto melirik tajam ke arah Ishigura yang tertawa riang.
“Kalau aku jadi raja, aku akan memperbudak Kazu-senpai, loh.”
“Oh, coba saja kalau berani. Akan ku kudeta dalam sekejap.”
Melihat Ishigura menunjukkan senyum menantang, Shizuku langsung menyambar.
“Wajah Kazu-senpai sendiri kan sudah kayak simbol kudeta. Kejahatannya bahkan bakal bikin Oda Nobunaga kaget.”
“Siapa yang kau sebut Raja Iblis Surga Keenam, hah!?”
“Dojo ini jangan dibakar, ya?”
“Nggak bakalan!”
[TLN: Raja Iblis Surga Keenam adalah salah satu julukannya Oda Nobunaga. Julukan ini konon berasal dari cara Nobunaga menyebut dirinya sendiri sebagai “Dairokuten Maou”, yaitu Raja Iblis dari Surga Keenam dalam kosmologi Buddha.]
Meskipun tanpa ekspresi, suara Shizuku terdengar senang saat terus menjahili Ishigura. Setelah puas mengerjai Ishigura, ia kembali mengalihkan pandangannya ke Haruto.
“Tapi Haru-senpai. Mulai sekarang, sepertinya Senpai harus datang ke dojo ini dengan lebih serius lagi.”
“Hm? Kenapa?”
“Karena kalau berpacaran dengan Toujou-senpai, Senpai bakal dibenci dan diserang oleh seluruh cowok di sekolah, loh. Sepulang sekolah, setiap hari sudah dipastikan bakal ada pertarungan jalanan di belakang gedung olahraga.”
Shizuku bersekolah di SMA yang sama dengan Haruto. Karena itulah, ia sangat paham betapa populernya Toujou Ayaka di sana.
“Sudah pasti Senpai bakal terus diserang oleh cowok yang nangis darah, biarpun sudah ditumbangkan berkali-kali.”
“Sekolah kita bukan markas geng petarung seperti itu, ‘kan?”
Meskipun Haruto menunjukkan ekspresi lelah, ia tidak bisa membantah sepenuhnya kata-kata Shizuku, “Yah, hal yang mirip bisa saja terjadi, sih...” gumamnya pelan.
“Ada apa? Memangnya pacar Haruto itu orangnya sangat terkenal sampai bisa bikin keributan seperti itu?”
Ishigura menatap Haruto dengan wajah penasaran.
Karena ia bersekolah di SMA yang berbeda dengan Haruto dan yang lainnya, ia sama sekali tidak tahu sosok seperti apa Ayaka itu.
“Yah, dibilang orang terkenal juga gimana, ya...”
“Toujou-senpai itu wanita cantik yang bahkan setara denganku, loh.”
Shizuku berkacak pinggang dan entah kenapa memberikan penjelasan kepada Ishigura dengan bangga. Mendengar penjelasan itu, wajah Ishigura tampak heran, “Setara denganmu...?” Merespons reaksi itu, mata Shizuku menyipit tajam.
“Ada apa dengan ekspresi itu, Kazu-senpai?”
“...Tidak, yah. Kalau kamu diam saja tampangmu memang bagus, sih. Hooh.”
“Hah? Biarpun aku bicara, aku ini tetap imut, tahu.”
Meski tanpa ekspresi, Shizuku bicara dengan nada sedikit tajam, lalu menghela napas panjang dengan sengaja.
“Tapi, apa boleh buat. Kazu-senpai kan iblis, jadi seleranya beda dengan manusia. Apa boleh buat, apa boleh buat.”
“Bagian itu tuh yang nyebelin darimu!”
Melihat Shizuku menggelengkan kepala seolah merasa prihatin, Ishigura memberikan protes dengan wajah yang benar-benar tampak seperti Raja Iblis.
Melihat percakapan mereka berdua yang berjalan normal seperti biasanya, wajah Haruto pun menjadi rileks.
“Yah, untuk sementara waktu, kami berencana merahasiakan hubungan kami di sekolah.”
“...Hmm.”
Shizuku, yang baru saja mengabaikan protes Ishigura dengan santai, memberikan jawaban yang terdengar seperti kurang puas mendengar kata-kata Haruto.
“Haru-senpai nggak apa-apa kayak gitu?”
“Bukannya nggak apa-apa sih, tapi...”
“Jangan-jangan Senpai jadi ciut karena takut dengan kecemburuan para cowok?”
Sambil bilang begitu, Shizuku menatap Haruto dengan mata yang menyelidik.
“Bukan begitu. Yah, aku memang tidak suka dicemburui, sih.”
Haruto menggelengkan kepalanya.
“Ini soal masalah pertemanan Ayaka. Kalau dia ketahuan pacaran denganku, dia takut hubungan pertemanannya akan rusak.”
“Ooh, jadi begitu, ya...”
Mendengar penjelasan Haruto, Shizuku mengangguk seolah mengerti, lalu menundukkan kepalanya sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sambil mengabaikan Shizuku yang tenggelam dalam lautan pemikirannya, Haruto memeriksa waktu di jam dinding dojo.
“Oh, aku harus segera pulang.”
Hari ini Haruto punya janji untuk pergi melihat kembang api bersama Ayaka.
Setelah latihan pagi di dojo selesai, ia harus pulang dulu untuk mandi dan berdandan demi mempersiapkan diri.
“Oho, kamu mau langsung pergi kencan, ya?” tanya Ishigura saat melihat Haruto terburu-buru bersiap pulang.
“Iya. Hari ini aku punya janji untuk lihat kembang api bareng.”
“Ah benar juga, hari ini ada festival kembang api, ya.”
“Haru-senpai, tolong titip permen apel, ya,” ucap Shizuku yang tiba-tiba muncul kembali dari lautan pemikirannya sambil mengangkat satu tangan dengan santai untuk menyampaikan permintaannya kepada Haruto.
“...Baiklah. Cukup satu, ‘kan?”
Meskipun Haruto memberikan tatapan menyelidik ke arah Shizuku, ia tetap berniat memenuhi permintaannya.
“Tidak, tidak, tentu saja itu bercanda.”
“Kamu tuh keseringan bercanda, sampai-sampai aku nggak bisa bedain mana yang serius.”
Mendengar Haruto bicara sambil tersenyum kecut, Shizuku memiringkan kepalanya dengan wajah tetap tanpa ekspresi.
“Padahal aku jarang banget bercanda, loh? Aku ini selalu serius, tahu?”
“Justru bagian itu yang jengkelin.”
Haruto melontarkan kembali kata-kata yang tadi diucapkan Ishigura kepadanya.
Merespons hal itu, Shizuku hanya mengerucutkan bibirnya.
“Haru-senpai.”
“Ada apa?”
“Para riajuu meledak saja sana.”
[TLN: Riajuu adalah sebutan untuk orang-orang yang menjalani kehidupan memuaskan di dunia nyata. Kata ini sering ditujukan pada pasangan yang sedang berbunga-bunga.]
Shizuku menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya; meskipun ekspresi yang muncul di permukaan minim, namun ia menampakkan wajah tidak puas.
“Kamu sendiri kan populer. Kalau kamu mau, kamu juga bisa langsung cari pacar dan jadi riajuu juga, ‘kan?”
“Heh, jadi Senpai berani ngomong gitu, ya.”
Mendengar kata-kata Haruto, bibir Shizuku semakin mengerucut tajam.
“Haru-senpai.”
“Ya?”
“Selamat atas hubungan kalian.”
“Meskipun kamu mengatakannya dengan wajah seperti itu... yah, makasih.”
Sangat jarang bagi Shizuku yang biasanya tanpa ekspresi, pipinya menggembung seperti hamster dan bibirnya mengerucut seperti burung nuri. Ekspresinya itu, meskipun dibilang menyelamati, ketulusannya sulit dirasakan. Haruto mengucapkan terima kasih dengan wajah canggung, lalu kembali memeriksa waktu dan bergegas meninggalkan dojo.
“Kalau begitu Kazu-senpai, Shizuku, sampai jumpa.”
“Yo, nikmatilah kencannya.”
“Kalau nanti Senpai makan siangnya kebanyakan sampai sakit perut dan terjebak di toilet lalu telat kencan sampai bikin Toujou-senpai marah, hubungi aku, ya. Nanti aku hibur.”
“Hal kayak gitu lebih mustahil terjadi daripada matahari terbit dari barat.”
Sambil membalas candaan Shizuku, Haruto melangkah menuju aula pintu masuk. Dari belakangnya, terdengar perbincangan riang antara Ishigura dan Shizuku.
“Mau pergi lihat kembang api juga, nggak?”
“Hmm, jadi Kazu-senpai mau pergi untuk membantai para riajuu, ya? Kazu-senpai memang beda, pola pikirnya beneran kayak iblis.”
“Bukan begitu!! Aku mengajakmu pergi ke festival bareng-bareng!”
“Begitu ya, kiranya aku akan dipaksa ikut dalam rencana peledakan riajuu.”
“Kamu tuh, ya...”
Sambil mendengarkan komedi tunggal mereka berdua, Haruto meninggalkan Dojo Doujima untuk kencan dengan Ayaka.
Sambil menyusuri jalanan menuju rumahnya, Haruto menyipitkan mata karena sinar matahari yang menyengat dari atas kepalanya, lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku untuk memeriksa waktu.
Sekarang sudah jam sebelas lewat. Sepertinya waktunya akan pas jika ia pulang, memasak makan siang, lalu bersiap-siap.
Saat Haruto sedang menyusun rencana di kepalanya, muncul notifikasi pesan di layar ponselnya.
Secara refleks, ia mengetuk notifikasi tersebut dan membuka aplikasi pesan.
(“Kira-kira nanti bisa datang jam berapa?”)
Pesan itu dari Ayaka, dikirim bersama stiker kelinci yang sedang mengintip malu-malu dari balik dinding.
Festival kembang api yang diadakan hari ini memiliki banyak kedai yang berjajar sehingga suasananya seperti pasar malam.
Karena kembang api baru akan diluncurkan jam tujuh malam, rencananya Haruto akan datang lebih awal untuk berkeliling kedai bersama Ayaka.
(“Jam empat aku akan menjemputmu ke rumah.”)
Lokasi festival kembang api itu berjarak beberapa stasiun dengan kereta. Mempertimbangkan waktu perjalanan, berkeliling kedai, serta mencari tempat untuk menonton kembang api, Haruto memberitahukan waktu kedatangannya ke rumah gadis itu.
(“Oke!! Kalau begitu aku akan menyiapkan yukata-ku sesuai jam itu, ya!!”)
Balasan dari Ayaka langsung datang. Melihat isinya, Haruto tanpa sadar tersenyum lebar.
Ayaka yang memiliki penampilan luar biasa hingga disebut idol sekolah. Betapa cantiknya dia jika berdandan dengan yukata?
Daya tarik utama yang membuat Haruto terpikat padanya bukanlah penampilan, melainkan sifatnya. Namun, bagi Haruto yang juga sangat mengagumi kecantikan Ayaka, hanya dengan membayangkan gadis itu memakai yukata saja sudah cukup membuat bibirnya melengkung bahagia.
Sambil berusaha keras menahan diri agar tidak senyum-senyum sendiri karena kegirangan, Haruto mengirimkan stiker beruang yang mengacungkan jempol kepada Ayaka. Kemudian, ia mempercepat langkah kakinya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Haruto segera menghabiskan makan siangnya. Biasanya ia akan memasak sendiri di dapur dengan layak, namun karena hari ini neneknya sedang bekerja dan kalah telak oleh perasaan ingin segera bertemu Ayaka, ia hanya makan makanan instan saja.
Setelah itu, ia mandi dan merapikan rambutnya menggunakan produk penata rambut.
“Sudah mulai berkurang, ya...”
Haruto bergumam pelan sambil menatap wadah wax rambut kecil di tangannya.
Biasanya ia tidak menggunakan penata rambut, dan wax yang digunakannya sekarang adalah wax yang ia beli bersama Tomoya saat masih kelas tiga SMP. Meskipun ia membeli wadah yang paling kecil, ia masih menggunakannya selama lebih dari dua tahun.
Namun, sejak bertemu Ayaka, pemakaiannya meningkat drastis.
“Aku harus beli yang baru...”
Ia ingin memberikan kesan yang baik pada gadis itu, biarpun cuma sedikit. Ia ingin terlihat keren di matanya.
Seorang gadis bernama Toujou Ayaka adalah gadis yang sanggup memikat semua siswa laki-laki. Sebagai kekasih yang mendampinginya, Haruto merasa tidak boleh lalai dalam upayanya memperbaiki penampilan dan kepribadiannya agar pantas dan sepadan dengannya. Yang terpenting, ia tidak boleh terlena dengan fakta bahwa gadis itu menyukainya.
Sambil menatap bayangannya sendiri di cermin wastafel, Haruto memantapkan tekad itu.
Lalu, saat itulah ia menyadari sesuatu. Di dalam rumah terasa sedikit gelap.
“Apa cuacanya jadi mendung...?”
Haruto menunjukkan ekspresi heran sambil berdiri di dekat jendela untuk melihat keadaan di luar.
Dalam ramalan cuaca yang ia lihat pagi tadi, hari ini seharusnya cerah seharian. Namun, sekarang langit tertutup oleh awan mendung yang tebal dan gelap, menghalangi sinar matahari musim panas.
“Perasaanku jadi nggak enak...”
Ucap Haruto pelan dengan wajah serius. Ingatannya kembali ke kejadian hujan petir beberapa hari yang lalu.
Cuaca buruk mendadak yang tidak ada dalam ramalan cuaca, yang disebabkan oleh kondisi cuaca musim panas yang tidak stabil.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin hal itu jugalah yang membuat hubungannya dengan Ayaka bisa mendapat kemajuan, jadi mungkin bagi Haruto hal itu ada baiknya. Namun, bagi mereka yang sekarang sudah benar-benar menjadi kekasih, hujan yang tidak sesuai ramalan ini tak lebih dari gangguan semata.
“Kumohon, jangan hujan, dong.”
Gumam Haruto seolah sedang berdoa. Namun, berlawanan dengan doanya, kondisi langit kian memburuk hingga membuat Haruto semakin cemas. Dan saat ia baru saja hendak keluar rumah untuk menjemput Ayaka.
Dari awan hitam yang menggantung di langit, butiran hujan yang besar pun mulai turun membasahi bumi.
“...Apes banget.”
Intensitas hujan seketika menjadi deras, membuat suasana di dalam rumah dipenuhi oleh suara hujan yang sangat kencang.
Saat ia menatap ke luar jendela, hujan yang sangat deras hingga mengaburkan pandangan terus mengguyur tanah tanpa henti. Jika ia keluar sekarang, biarpun memakai payung, dalam hitungan detik pasti akan basah kuyup.
“Aduh, tolonglah...”
Haruto menatap tajam ke arah hujan deras yang terus mengguyur itu dengan penuh rasa kesal.
Saat itulah, terdengar suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
(“Turun hujan, ya...”)
Itu pesan dari Ayaka. Dari kalimatnya, Haruto bisa merasakan kegelisahan gadis itu.
Dengan ekspresi rumit, Haruto membalas pesan tersebut.
(“Kali aja cuma hujan dadakan. Mungkin akan segera berhenti.”)
(“Begitukah? Semoga saja, ya...”)
Karena ingin menghapus kecemasan Ayaka, Haruto mengirimkan pesan yang positif. Namun, seolah sedang menertawakan usahanya, cuaca justru semakin memburuk hingga akhirnya petir mulai menggelegar.
(“Kira-kira bakal berhenti sebelum kembang apinya mulai nggak, ya?”)
Melihat pesan dari Ayaka, Haruto membayangkan sosok gadis itu sedang menundukkan kepala dengan cemas karena takut kencan mereka gagal.
(“Aku akan coba periksa ramalan cuacanya sebentar.”)
Haruto segera memeriksa kondisi awan hujan di internet.
Lalu, saat ia melihat kondisi awan hujan di daerah tempat tinggal mereka, ia pun mengernyitkan dahi.
“Wah... merah semua...”
Di situs yang diperiksa Haruto, curah hujan ditampilkan dengan kode warna, dan wilayah tempat tinggal mereka berwarna merah yang menandakan hujan paling deras.
“Hujan ini kapan berhentinya?”
Ia mencoba melihat pergerakan awan hujan untuk beberapa jam ke depan.
Menurut prediksi situs tersebut, hujan akan terus turun untuk waktu yang cukup lama.
“Yang bener aja...”
Haruto mengernyitkan dahi. Saat itulah pesan dari Ayaka kembali masuk.
(“Aku juga sudah lihat ramalan cuaca, sepertinya hujannya nggak bakal berhenti dalam waktu dekat, ya...”)
Pesan itu dikirim bersama stiker kelinci dengan mata berkaca-kaca yang seolah ingin menangis.
(“Mari kita lihat situasinya dulu...”)
(“Kamu nggak perlu repot-repot menjemputku di rumah. Berkumpul langsung di lokasi juga nggak masalah, kok.”)
(“Iya, kalau keadaannya memburuk, kita lakukan itu aja, ya.”)
Jika hujan tak kunjung reda, dan ia harus ke rumah Ayaka dulu sebelum menuju lokasi kembang api, ada kemungkinan mereka takkan sempat melihat saat kembang api mulai dinyalakan.
Suara hujan yang bising terus memenuhi ruangan tanpa henti, membuat kegelisahan dan keresahan Haruto kian bertambah.
Waktu sudah menunjukkan saat di mana seharusnya ia keluar menjemput Ayaka jika cuacanya cerah. Namun, hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.
“...Apa ini azab dari Tuhan, ya?”
Sambil menatap jam dinding dan jendela silih berganti, Haruto bergumam pelan.
Karena ia berpacaran dengan Ayaka yang kecantikannya diluar nalar; apakah Tuhan murka dan berkata ‘dia tidak pantas untukmu’? Ia sampai berpikiran begitu saking buruknya cuaca di luar.
Hingga akhirnya, tiba waktunya saat mereka seharusnya sudah naik kereta menuju lokasi kembang api.
Di luar, hujan deras masih terus mengguyur.
“...Apa festival kembang apinya tetap diadakan?”
Merasa ragu, Haruto memeriksa situs resmi festival kembang api tersebut. Lalu, di halaman utamanya tertulis kalimat dengan huruf merah: [Mengenai Penundaan Penyelenggaraan Akibat Cuaca Buruk].
Di sana tertulis penjelasan bahwa karena cuaca tidak menunjukkan tanda-tanda membaik, serta dikeluarkannya peringatan waspada petir dan hujan deras, demi keamanan maka hari penyelenggaraan akan ditunda.
Haruto pun tertegun saat tahu festival kembang apinya benar-benar ditunda.
Saat itulah, ponselnya berdering. Di layar tertulis nama “Ayaka”, dan Haruto pun segera mengangkat teleponnya.
“...Halo.”
‘Ah, Haruto-kun... Sepertinya festival kembang apinya ditunda, ya...’
Mendengar suara murung gadis itu, perasaan Haruto pun ikut merosot.
“Iya. Aku juga baru saja memeriksa situs resminya.”
‘...Sayang sekali, ya.’
“Benar. Tapi, ini bukan dibatalkan melainkan ditunda. Minggu depan kita pergi bareng, ya.”
‘Mm... iya, benar juga, ya!’
Ayaka menjawab dengan ceria.
Tapi jelas sekali kalau dia memaksakan diri untuk terdengar ceria, membuat dada Haruto terasa sesak.
‘Kita masih bisa nonton minggu depan, ‘kan! Kalau dipikir-pikir, waktu untuk merasa senang dan menantikannya jadi lebih lama, jadi itu bukan hal yang buruk, kok!’
Mendengar keceriaan palsu gadis itu, Haruto makin resah.
‘Haruto-kun juga bisa bayangin aku pakai yukata selama seminggu penuh, loh! Memang sedih sih kita nggak bisa ketemu hari ini...’
“Ayaka...”
‘Ah, tapi hari ini Haruto-kun juga nggak boleh keluar rumah, oke? Kalau keluar dengan cuaca begini, nanti bisa basah kuyup dan sakit lagi.’
Haruto yang pernah jatuh sakit gara-gara memakai kemeja setengah basah tidak bisa membantah kata-katanya.
‘Ah, benar. Besok, boleh nggak aku pergi ke rumah Haruto-kun? Aku ingin melapor kepada nenekmu kalau kita sudah resmi pacaran.’
“Iya, tentu saja boleh. Nenek pasti senang.”
‘Kalau begitu... jumpa besok, ya.’
“Iya... ya. Jumpa besok.”
Haruto mengakhiri pembicaraan dengan perasaan berat hati.
Saat ia meletakkan ponselnya dengan lemas di atas meja, helaan napas panjang pun keluar dari mulutnya.
Haruto menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar sambil menatap langit-langit dan memejamkan mata. Di balik kelopak matanya yang terpejam, terbayang wajah Ayaka yang tampak sedih.
Saat itulah, Haruto teringat.
Beberapa hari lalu, waktu ia melarikan diri saat hendak dicium gadis itu. Ia teringat bagaimana ekspresi Ayaka waktu itu.
“Kalau begini terus, aku akan melanggar janjiku...”
Gumamnya berbaur dengan suara bising hujan yang memenuhi ruangan.
Saat menembak Ayaka, Haruto sudah berjanji. Ia mengingat kembali percakapan mereka waktu itu.
‘Ayaka, aku janji. Mulai sekarang aku nggak bakal lari lagi. Aku nggak bakal bikin kamu sedih lagi.’
‘...Beneran?’
‘Ung. Nggak bakal lagi, pasti.’
Meskipun suara Ayaka di telepon tadi terdengar ceria, Haruto bisa membayangkan dengan jelas wajah gadis itu yang sedang menahan rasa sepi dan mencoba tegar. Haruto membuka matanya dan berdiri.
“Sip.”
Setelah menyemangati diri, Haruto mencari sesuatu sebentar di ponselnya, lalu ia memasukkan barang-barang di rumah yang sekiranya bisa ia bawa ke dalam ransel. Setelah selesai bersiap, ia menuju pintu depan. Sambil menggenggam payung yang tersandar di sana, ia pun menerjang ke luar ke tengah hujan deras yang mengguyur, dengan tekad kokoh meskipun harus basah kuyup.




Post a Comment