NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V4 Chapter 3

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 3

Festival Rumahan

Aku duduk di atas kasur di kamarku sambil memeluk kedua lututku.


“Iih... kenapa, sih...”


Gumaman penuh kekecewaan meluncur begitu saja dari mulutku secara alami.


Satu-satunya jawaban atas keluhan itu ialah suara hujan yang menghantam deras di luar sana.


Kembang api yang mekar di langit malam musim panas. Berdiri sebelahan dengan orang yang kucinta, lalu mendongak melihatnya bersama-sama.


Aku sudah lama memimpikannya... padahal itu adalah dambaanku...


Pertama kali punya orang yang dicinta, perasaan kami tersampaikan, lalu menjadi sepasang kekasih... Kukira mimpi itu akan menjadi kenyataan, tapi mimpi itu justru lolos begitu saja dari hadapanku, layaknya air yang diciduk dengan telapak tangan.


“Ugh... padahal aku pengin banget nonton kembang api...”


Aku menyandarkan dahiku pada lutut yang kupeluk dan menunduk.


Padahal saat berganti pakaian dengan yukata tadi, perasaanku sangat berbunga-bunga.


Nanti reaksi Haruto-kun bakal kayak gimana, ya? Apakah dia bakal bilang aku manis? Sambil membayangkan hal itu, hatiku begitu berdebar saat mengenakan yukata ini.


Padahal tinggal menata rambut saja...


Di luar, hujan deras tak kunjung reda. Hujan dingin itu seolah-olah turut mengguyur bagian dalam hatiku, membuat perasaanku semakin lama semakin berat. Aku menghela napas panjang entah untuk yang keberapa kalinya, “Hah~”, lalu memaksakan diri mengangkat wajah dan membuat senyuman.


“Tapi kan cuma ditunda! Minggu depan pasti bisa nonton kembang api bareng Haruto-kun, kok!”


Suaraku yang ceria secara tidak wajar bergema di kamar yang sepi, bercampur dengan suara hujan.


Hari ini, aku cuma sendirian di rumah.


Papa sedang dinas ke luar kota, Ryota sedang ikut kegiatan menginap di sekolah, dan Mama ikut mendampinginya.


Kondisi tanpa keberadaan keluarga ini membuat rasa kesepian kian menjalar dan memberatkan hatiku.


“Benar juga. Coba telepon Haruto-kun sekali lagi, ah.”


Kami kan sudah jadi sepasang kekasih, jadi meskipun nggak ada urusan penting, nggak aneh kan kalau aku nelepon lagi?


Enggak bakal... ganggu, ‘kan?


Sambil memikirkan hal itu, aku membuka layar obrolan dengan Haruto-kun.


Aku bisa mendengar suaranya. Hanya dengan memikirkan itu saja, dadaku sedikit deg-degan, dan perasaan berat tadi menjadi sedikit lebih ringan. Dengan ujung jari yang bersemangat, aku menekan tombol panggil di ponselku.


“...Eh? Enggak diangkat...”


Nada sambung terus berbunyi dari ponsel, tapi tidak ada tanda-tanda akan tersambung ke Haruto-kun.


Bersamaan dengan itu, sudut bibirku yang tadinya naik tanpa sadar kini turun kembali.


“Apa dia... lagi belajar, ya?”


Pada akhirnya, telepon dengan Haruto-kun tidak tersambung.


Dia adalah siswa dengan nilai tertinggi di angkatan, dan dia melakukan usaha yang setimpal untuk itu. Mungkin dia sedang konsen sampai nggak sadar ada telepon masuk. Aku hendak mengetuk layar ponsel untuk mencoba menelepon sekali lagi. Tapi, aku menahan jari itu kuat-kuat, lalu menurunkannya perlahan.


“Kalau mengganggu... nggak baik, ‘kan.”


Jika dia sedang fokus belajar, aku tidak ingin mengganggunya dengan menelepon berkali-kali.


“Belajar juga, ah.”


Di ujian pasca liburan musim panas nanti, aku harus dapat nilai delapan puluh ke atas di semua mata pelajaran supaya dapat hadiah dari Haruto-kun. Demi itu, aku harus belajar dengan tekun.


Aku berusaha memikirkan hal-hal yang menyenangkan untuk mengalihkan perasaanku.


“Ah, sebelum itu aku harus ganti baju dulu, lepas yukata ini...”


Saat turun dari kasur, aku baru ingat kalau aku masih memakai yukata.


Jangan sampai kotor atau kusut, jadi aku harus ganti baju...


Berpikir demikian, aku meletakkan tangan di obi yukata. Saat itu, gerakanku terhenti secara alami.


Padahal kalau nggak hujan, sekarang harusnya aku lagi gandengan tangan sama Haruto-kun keliling kedai makanan...


“Padahal aku pengin makan gulali bareng Haruto-kun...”


Sejak tadi, meski aku berusaha menaikkan suasana hati, aku langsung merasa sedih lagi. Tapi, aku berpikir tidak boleh begini terus, jadi untuk sementara aku berniat menyalakan lampu kamar.


Saat itu, tiba-tiba bel interkom berbunyi.


“Eh? Siapa?”


Seharusnya tidak ada jadwal paket datang. Lagipula, di luar hujan masih sangat deras, bukan cuaca yang bagus untuk bepergian.


Sambil terheran-heran, aku keluar dari kamar dan memeriksa pengunjung melalui monitor di ruang tamu.


Bersamaan dengan itu, mataku terbelalak kaget.


Dadaku berdegup kencang seakan jantungku mau lompat keluar.


“Haruto-kun!?”


Melihat sosoknya di monitor, aku sampai lupa menjawab dan langsung berlari panik menuju pintu depan, lalu membukanya dengan penuh semangat.


Di balik pintu, berdiri Haruto-kun yang basah kuyup diguyur hujan deras.


Meskipun dia memegang payung di satu tangan, dia sudah basah kuyup sampai payung itu sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi.


Dia tersenyum manis padaku yang mematung dengan pintu terbuka.


“Maaf. Aku datang ke sini.”


Satu kalimat darinya itu akhirnya membuat tubuhku bergerak.


“L-Lekas masuk ke dalam! Nanti kamu masuk angin!”


Aku buru-buru menarik lengan Haruto-kun dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Saat berdiri di lorong masuk, dia melipat payungnya sambil berkata, “Fyuuh~ hujannya parah banget.”


“K-Kok bisa...”


Ini bukan mimpi, ‘kan? Bukan karena keinginanku bertemu Haruto-kun terlalu kuat sampai aku halu, ‘kan?


Karena ingin memastikan apakah Haruto-kun benar-benar ada di depan mataku, aku pun perlahan mengulurkan tangan dan menyentuh lengannya. Ah, bisa disentuh, tidak tembus...


“Hm? Ada apa?”


“E-Enggak. Bukan apa-apa... u-umm, lebih baik kamu cepat ganti baju! Nanti badanmu kedinginan!”


Baju Haruto-kun yang kusentuh terasa dingin dan lembap karena air hujan.


“Ada baju Papa, jadi sementara pakai itu dulu saja buat ganti.”


“Ah, soal ganti baju aman, kok. Aku tahu bakal basah, jadi aku sudah bawa baju ganti.”


Haruto-kun berkata begitu sambil sedikit mengangkat ransel agak besar yang digendongnya.


“Boleh pinjam ruang ganti sebentar?”


“Iya. Boleh banget, kok. Badanmu dingin, ‘kan? Mandi air hangat juga boleh.”


“Serius? Kalau begitu tawarannya aku terima, deh.”


“Iya, lah. Kalau sampai sakit kan gawat.”


Kalau dia sakit gara-gara ini, aku akan merawatnya terus-menerus sih.


Saat aku memikirkan hal itu, Haruto-kun mengangkat barang bawaan yang ada di tangannya yang satu lagi.


“Sama barang ini. Nanti mau kubawa ke dapur, boleh taruh di sini dulu?”


Mendengar itu, aku baru sadar kalau Haruto-kun membawa tas belanja yang isinya tampak penuh sesak.


“Ini apa?”


“Fufu, lihat saja nanti.”


Sambil bilang begitu, Haruto-kun tersenyum menyeringai sedikit bangga, membuatku tanpa sadar membuang muka.


Haruto-kun yang datang ke rumah menerobos hujan badai, rambutnya basah, entah kenapa memberikan kesan seperti baru habis mandi.


Hal itu, entah bagaimana... terasa seksi, dan jantungku dag-dig-dug dengan sendirinya.


“Ka-Kalau begitu, gimana kalau aku saja yang bawa ke dapur? Haruto-kun mandi aja sana.”


“Eh, tapi ini lumayan berat, loh?”


“Nggak apa-apa, kok. Haruto-kun lekas mandi, gih.”


Saat aku berkata begitu, Haruto-kun menyodorkan tas belanja itu dengan wajah cemas sambil bertanya, “Nggak apa-apa, nih?”. Saat aku menerimanya dengan kedua tangan, beban yang cukup berat terasa di lenganku.


“Bisa bawa sampai dapur?”


“Iya, tenang aja. Haruto-kun mandi yang tenang sana.”


Aku menjawab sambil menundukkan wajah saat Haruto-kun menatapku dengan perhatian.


Tas belanja yang kuterima dari Haruto-kun ini memang berat, tapi lebih dari itu, sekarang aku harus sedikit jaga jarak dari dia yang sedang menebarkan aura seksi ini untuk menenangkan perasaanku. Kalau begini terus, bisa-bisa pertahananku jebol dan malah bablas memeluk Haruto-kun...


Sambil membawa barang itu, aku berkata pada Haruto-kun.


“Ya sudah, hangatkan badanmu dengan baik, ya.”


“Makasih. Aku pinjam kamar mandinya, ya.”


Haruto-kun menuju ruang ganti, dan aku membawa barang bawaannya ke dapur.


“Haruto-kun bawa apa, ya?”


Tas belanja yang berat itu tertutup ritsleting sehingga isinya tidak terlihat.


Aku tidak boleh membukanya sembarangan... tapi penasaran...


Sambil bergulat melawan godaan untuk melihat isi tas itu, aku pergi menyusul ke ruang ganti sebentar.


Dari balik pintu penyekat ruang ganti, terdengar suara air shower yang sedang dipakai Haruto-kun.


Aku mengetuk pintu agak keras lalu berseru.


“Haruto-kun, aku bawakan handuk mandi, boleh aku masuk ke ruang ganti sebentar?”


‘Ah, iya. Makasih. Boleh, kok.’


Setelah mendengar jawabannya, aku masuk ke ruang ganti.


“Handuknya kutaruh di wastafel, ya.”


‘Oke.’


“Terus, sampo sama sabun mandi pakai aja yang ada di rak.”


‘Sip. Makasih, ya.’


“...Kalau begitu, aku tunggu di ruang tamu. Hangatkan badanmu dengan benar, ya.”


Aku berkata agak cepat, lalu keluar dari ruang ganti.


Hanya terpisah selembar pintu, di sisi sana ada Haruto-kun yang sedang mandi, situasi ini membuatku jadi merasa sangat malu tanpa alasan jelas. Di pintu antara kamar mandi dan ruang ganti, samar-samar tampak siluet Haruto-kun, aku pun kembali ke ruang tamu sambil menenangkan detak jantungku yang rusuh.


“Fyuuh~”


Sambil duduk di sofa ruang tamu, aku mengembuskan napas agak panjang. Aku melirik sekilas ke luar jendela, hujan masih turun. Tapi, perasaanku sudah tidak sedih lagi.


Soalnya, Haruto-kun datang ke rumah.


“Gimana nih. Senang banget...”


Di tengah hujan begini, dia rela basah-basahan demi datang menemuiku. Hal itu membuatku senang bukan main, dan pipiku rasanya terus-terusan tertarik naik untuk tersenyum. Aku pun menjepit pipiku dengan tangan, rasanya agak panas. Perasaan sedih waktu sendirian tadi sudah hilang tak berbekas seolah bohong belaka.


Saat aku sedang senyum-senyum sendiri di ruang tamu, Haruto-kun yang sudah selesai mandi pun kembali.


“Makasih banyak, ya. Seger banget rasanya.”


“Ah!?”


Melihat Haruto-kun yang baru selesai mandi, aku terbisu.


Haruto-kun yang basah kena hujan tadi memang bahaya, tapi Haruto-kun yang sekarang jauh lebih bahaya!


Rambutnya yang baru dicuci terlihat sangat halus, wajahnya yang hangat tampak kemerahan.


Dan yang paling bahaya dari semuanya adalah, tercium aroma sampo yang sama denganku dari tubuh Haruto-kun!


Saat aroma diriku sendiri samar-samar tercium dari tubuh Haruto-kun, akhirnya pertahananku jebol sudah.


“Ayaka? Ada apa, kok diam saja sambil liha—whoa!?”


“Haruto-kun!!”


Aku melompat ke dada kekasih yang sangat kucinta ini, melingkarkan lenganku ke punggungnya, dan memeluknya erat-erat.


“Aku kangen!”


Suara hatiku meluncur begitu saja dari mulutku.


Haruto-kun membalas pelukanku dengan hangat seolah menyelimutiku.


“Sama, aku juga.”


“...Makasih. Sudah datang.”


Sambil merasakan seluruh tubuhku dipenuhi kebahagiaan, aku menekan pipiku ke dada Haruto-kun dan mendengarkan detak jantungnya.


“Ah, iya! Haruto-kun, isi tas tadi itu apa?”


Setelah memeluknya dan perasaanku sedikit terpuaskan, aku menyuarakan pertanyaan yang masih tersisa di sudut kepalaku.


“Ah, itu...”


Haruto-kun meletakkan tangannya di pundakku dan memberi sedikit jarak. Dengan begitu, aku dan Haruto-kun jadi saling bertatapan. Matanya bersinar gembira saat berkata padaku.


“Ayaka. Kita keliling kedai makanan dan nonton kembang api bareng, yuk.”



Mendengar Haruto berkata dengan nada riang, Ayaka memasang wajah bingung karena tidak memahami maksud perkataannya.


“Eh? Tapi kan... festival kembang apinya ditunda?”


Mendengar kata-kata Ayaka yang sarat kebingungan, Haruto tersenyum manis.


“Ayaka, kamu tahu ‘Ouchi Ennichi’?”


“Ouchi Ennichi? Enggak tuh, belum pernah dengar.”


Ayaka menggelengkan kepala pelan.


Haruto mengeluarkan ponselnya, mengoperasikannya sejenak, lalu memperlihatkan layarnya kepada Ayaka.


“Nih, kayak di foto ini. Kita hias dalam rumah biar mirip kedai festival, terus bikin menu makanan yang biasa ada di kedai, jadi kita tetap bisa merasakan suasana festival pasar malam meski di rumah.”


“Wah! Keren banget! Kelihatannya seru!”


Melihat gambar ‘Ouchi Ennichi’ yang ada di ponsel Haruto, wajah Ayaka berbinar.


Di layar ponselnya, tampak beberapa foto ruang tamu yang dihias dengan lampion, kipas, dan topeng, serta berjejer makanan seperti yakisoba dan gulali.


“Iya, ‘kan? Makanya aku beli macam-macam buat bikin itu.”


Haruto berkata begitu sembari menjauh dari Ayaka, membuka ritsleting tas belanja yang ditaruh di dapur, dan mengeluarkan isinya.


“Untuk bikin suasana kedai, ada lampion sama tirai bambu.”


Haruto memperlihatkan barang-barang untuk Ouchi Ennichi kepada Ayaka.


“Terus, bahan makanan buat menu kedainya.”


Haruto menaruh kol, daging babi, mi yakisoba, dan lain-lain di atas meja dapur.


Melihat itu, mata Ayaka terbelalak seolah sangat terharu.


“Di tengah hujan begini, kamu beli barang sebanyak ini?”


“Iya. Yah, karena waktunya mepet, aku nggak bisa beli barang yang terlalu bagus sih...”


Haruto berkata sambil tersenyum kecut, “Hiasan ini juga hampir semuanya dari toko serba 100 yen.” Namun, Ayaka justru menatap Haruto dengan wajah yang bersinar terang.


“Senangnya... makasih. Serius, saking senangnya rasanya mau gila...”


Mendengar Ayaka berulang kali mengucapkan “senang” dan “terima kasih”, Haruto mendekat lagi dan tersenyum lembut.


“Emang sayang sih festival kembang apinya ditunda, tapi kuharap kita bisa merasakan suasana festivalnya sedikit. Pas banget Ayaka juga lagi pakai yukata.”


“Ah, ini... tadinya mau ganti baju, tapi... agak repot, jadi...”


“Fufu, penampilanmu pas pakai yukata cocok, kok. Manis banget.”


“Eh!? M-Makasih...”


Dipuji terus-terang soal penampilannya yang ber-yukata oleh Haruto, wajah Ayaka merah merona sambil menunduk mengucapkan terima kasih.


Desain yukata Ayaka berwarna dasar biru nila dengan gambar bunga morning glory biru muda. Desain yang secara keseluruhan memberikan kesan tenang dan menyegarkan itu sangat sesuai dengan selera Haruto.


“Soalnya Haruto-kun pernah bilang suka yang suasananya sejuk dan tenang...”


“Kamu ingat ternyata.”


“Iya.”


Meski malu-malu, Ayaka tersenyum senang.


Dia menatap Haruto dengan pipi yang masih merona merah.


“Haruto-kun. Umm, aku... rambutku belum sempat ditata, jadi boleh tata rambut dulu, nggak?”


“Tentu saja. Sambil nunggu, aku akan masak makanan kedainya.”


“Aku juga mau bantu, jadi akan kuusahakan secepat mungkin, ya.”


“Nggak usah buru-buru. Kalau aku sih, lebih pengin lihat Ayaka yang jadi makin cantik setelah rambutnya ditata rapi.”


“Duuh! Haruto-kun! Jangan tiba-tiba nyerang gitu, dong!”


Ayaka memaksakan bibirnya yang sudah cengar-cengir sendiri agar kelihatan cemberut, lalu memukul-mukul pelan lengan atas Haruto. Menanggapi serangan Ayaka yang daya serangnya nol itu, Haruto cuma bilang “maaf, maaf” sebagai formalitas. Namun, ekspresinya tampak cerah dan senang.


Setelah itu, Haruto mengantar Ayaka ke kamar untuk menata rambut, lalu berdiri sendirian di dapur dan mulai membuat makanan ala kedai festival.


“Sip, ayo mulai.”


Pertama, dia mengambil panci, menuangkan minyak, dan memanaskannya di atas api untuk persiapan menggoreng.


Sambil menunggu suhu minyak naik, Haruto mengambil satu panci lagi. Kali ini dia memasukkan gula dalam jumlah banyak ke dalamnya, menambahkan air, dan memanaskannya dengan api kecil.


Sambil memanaskan minyak dan gula, dia mengambil mentimun.


Dia memotong ujung mentimun, mengupas kulitnya selang-seling hingga membentuk pola garis, lalu menaburkan garam dan memijatnya sambil diguling-gulingkan. Setelah selesai, dia memasukkan bumbu acar instan, sedikit teh kombucha, dan irisan cabai kering ke dalam kantong ziplock. Setelah cairan bumbu siap, dia mengelap air yang keluar dari mentimun akibat pijatan garam tadi dengan tisu dapur, memasukkannya ke dalam ziplock untuk direndam, lalu menaruhnya di dalam freezer.


“Ah, suhu minyaknya... dikit lagi.”


Haruto melirik termometer yang dipasang di panci penggorengan, lalu memotong bawang bombay, kol, dan daging babi, memindahkannya ke nampan. Tepat saat itu, suhu minyak sudah pas, jadi Haruto memasukkan karaage beku yang tadi dibelinya ke dalam panci penggorengan.


“Aslinya nggak mau pakai makanan beku, penginnya beneran bikin sendiri, tapi...”


Jelas, kalau harus mulai dari meracik bumbu gorengan, Ouchi Ennichi ini baru bisa dimulai tengah malam, jadi dia terpaksa harus kompromi.


Sambil mengecek keadaan gorengan, Haruto menumis bawang bombay dan daging babi yang sudah dipotong dengan minyak yang agak banyak. Bersamaan dengan itu, dia menghangatkan mi yakisoba sebentar di microwave. Setelah daging babi matang, dia memasukkan mi ke wajan. Di saat yang sama, Haruto mengangkat karaage dari minyak, dan kali ini menggoreng kentang goreng beku.


Sambil kembali melihat gorengan, dia menumis mi di wajan sampai agak garing, menambahkan kol, lalu menuangkan saus yakisoba. Seketika, aroma saus yang gosong dan gurih menyerbak ke udara.


Mencium aroma saus yang menggelitik hidung, wajah Haruto secara alami tersenyum.


Lalu, sambil mengecek kematangan kol, dia mengangkat kentang goreng.


Terakhir, dia membesarkan api wajan untuk menghilangkan kadar air yakisoba sebagai penyelesaian, memindahkannya sebentar ke nampan, membersihkan wajan, lalu memecahkan telur ke dalamnya.


Saat telur sudah matang dan agak memadat, dia memasukkan yakisoba tadi dan membungkusnya.


“Sip, omusoba selesai. Gulanya gimana, ya?”


Haruto melihat air gula yang dipanaskan dengan api kecil.


Air gula itu sudah menguap dengan pas, mengeluarkan suara letupan kecil.


“Oke sip. Saatnya melapisi.”


Kali ini dia mengeluarkan buah-buahan seperti apel, jeruk, dan stroberi dari tas belanja, menusuknya dengan sumpit atau tusuk sate, lalu melapisinya dengan gula yang tadi sudah dididihkan. Kemudian, dia mendinginkannya di atas kertas roti. Saat permen buah termasuk permen apel siap saji, Ayaka yang selesai menata rambut kembali dari kamarnya.


“Wah! Baunya kayak lagi di festival!”


Begitu masuk ruangan, matanya berbinar.


“Mungkin bau sausnya agak memenuhi ruangan, ya. Bakal dimarahin Ikue-san nggak, ya?”


Rumah keluarga Toujou memiliki dapur model island yang pantas untuk rumah mewah.


Dapur yang sangat terbuka itu memang memberikan kesan mewah, tapi karena terbuka, aroma masakan jadi cepat menyebar.


Melihat Haruto khawatir soal sisa bau masakan, Ayaka berkata dengan raut senang.


“Nggak apa-apa, kok. Yang ada Mama bakal bilang ‘Wah, Mama juga mau coba bikin Ouchi Ennichi’, percaya deh.”


“Apa iya? Yah, ntar buka jendela sebentar buat ventilasi, deh.”


Haruto berkata begitu lalu kembali menatap Ayaka yang sudah selesai menata rambut.


Rambut indahnya yang biasanya terurai sampai punggung tengah, kini digelung longgar agak di atas tengkuk. Dengan begitu, tengkuk putihnya yang biasanya jarang terlihat kini terekspos.


“Kelihatan cantik dan manis banget, loh.”


“Ufufu, makasih.”


Ayaka terlihat malu-malu, tapi menunjukkan senyum cerah bak mentari mendengar pujian itu.


Melihat reaksi manisnya, Haruto ikut tersenyum.


“Sekarang, aku malah mikir untung tadi sempat hujan.”


“Eh? Kenapa?”


“Soalnya aku nggak mau memperlihatkan pacarku yang semanis ini ke cowok lain.”


“Hari ini Haruto-kun benar-benar bahaya, ya!?”


“Bahaya gimana maksudnya?”


Melihat Ayaka yang agak panik, Haruto tersenyum jahil.


“Ba-Bahaya ya, bahaya!”


“Tapi kan, apa yang dipikirkan itu harus diucapkan biar tersampaikan?”


“Disitu letak bahayanya, Haruto-kun!”


Ayaka memprotes dengan wajah merah merona, tapi ekspresinya sudah melunak saking senangnya. Dia kemudian melihat permen apel yang berjejer di meja dapur dan memekik kecil.


“Hebat! Ada permen apel!! Ada buah lain juga! Ah! Ada omusoba!! Beneran kayak kedai festival!”


“Acar timun utuh juga lagi didinginin di freezer, loh.”


“Itu enak banget, ‘kan! Tapi kalau beli di festival, Saki selalu ngejek, ‘Pilihanmu kolot banget, sih~’. Jahat banget, ‘kan?”


“Ahahaha, kalau Aizawa-san sih nggak heran ngomong gitu.”


Pipi Ayaka menggembung lucu.


Haruto tersenyum membayangkan Ayaka dijahili Saki.


“Hei, Haruto-kun. Aku bisa bantu apa?”


“Kalau masak nanti yukata-mu kotor, jadi bantu dekor aja, ya.”


“Oke, siap!”


Ayaka mengangguk semangat, lalu mulai menghias ruang tamu dengan dekorasi yang dibeli Haruto.


“Haruto-kun, kalau lampionnya diginiin, oke nggak?”


“Iya. Bagus, kok.”


“Kertas ini?”


“Itu menu makanannya. Menu kedai hari ini ada omusoba, sate karaage, kentang goreng, sama...”


“Kalau tirai bambu ini ditempel kincir angin, suasana festivalnya makin kerasa nggak, ya?”


“Iya juga. Ide bagus, tuh.”


“Sekalian pasang topengnya, deh.”


Ayaka mengobrol dengan Haruto sambil menghias ruang tamu dengan riang.


Sambil melihat Ayaka yang tersenyum saat mendekor, Haruto menata menu kedai yang sudah jadi.


Agar suasana kedainya terasa, dia sengaja menyajikan makanan di gelas kertas atau wadah plastik.


Akhirnya, dekorasi ruang tamu pun selesai, makanan juga sudah ditata dan dijajarkan di meja.


“Wah! Kedai festival! Ada kedai festival di rumah, Haruto-kun!”


“Tinggal kembang apinya.”


Haruto memandang Ayaka yang kegirangan dengan wajah puas.


“Ayaka, TV ini tersambung ke internet, ‘kan?”


“Iya.”


“Boleh pinjam bentar?”


Setelah mendapat izin, Haruto menyalakan TV dan membuka aplikasi video. Lalu dia mencari ‘Festival Kembang Api’.


“Pilih yang ini aja, deh.”


Dia memilih salah satu video hasil pencarian dan memutarnya.


Di layar TV besar yang tertempel di dinding, rekaman festival kembang api muai berputar.


“Gimana? Dengan begini walau hujan, kita bisa keliling kedai dan nonton kembang api, ‘kan?”


Dengan wajah agak bangga, Haruto menatap Ayaka. Ayaka di sisi lain, sempat terlihat berusaha menahan diri, tapi karena tak tahan lagi, dia pun langsung memeluk Haruto dengan penuh semangat.


“Asyik!! Haruto-kun, kamu hebat banget!! Makasih!!”


Sambil memeluk erat, Ayaka berkata dengan penuh rasa haru.


“Syukurlah kalau kamu senang. Yah, meski aslinya kita tidak keliling kedai dan kembang apinya cuma video sih, jadi banyak kurangnya...”


Melihat reaksi Ayaka, Haruto mungkin merasa malu, jadi dia bilang begitu sambil menggaruk pipinya untuk menutupi rasa malu. Tapi, Ayaka menggelengkan kepala menyangkal ucapan itu.


“Nggak, kok. Buatku, ini keliling kedai dan kembang api terindah seumur hidupku.”


Sambil tetap memeluk Haruto, Ayaka mendongakkan wajah.


“Makasih... serius, makasih banyak.”


Melihat Ayaka yang entah sudah berapa kali berterima kasih, Haruto tersenyum lembut.


“Baguslah. Nggak sia-sia aku mondar-mandir keliling toko di tengah hujan badai.”


Mendengar itu, di tengah ekspresi bahagia Ayaka terselip sedikit ekspresi cemas.


“Tapi, jangan terlalu maksain diri atau nekat, ya?”


“...Itu sih, mungkin nggak bisa.”


“Eh?”


Haruto menyangkal permintaan Ayaka agar tidak nekat.


Mata Ayaka membesar karena kaget. Melihat Ayaka seperti itu, meski pipi Haruto merona malu, ia berkata sambil menatap Ayaka lurus-lurus.


“Aku tuh, jatuh cinta padamu jauh lebih dalam daripada yang kau bayangkan, tahu.”


Karena malu, Haruto melanjutkan kata-katanya dengan agak cepat dan nada agak ketus.


“Sampai-sampai kalaupun harus nekat, aku rela demi melihat senyummu.”


Kata-kata itu sampai ke hati Ayaka.


Dia pun menatap Haruto lekat-lekat seolah sedang disihir.


“Makanya, mulai sekarang pun, tolong izinkan aku melakukan hal yang mustahil atau nekat demi senyumanmu, ya?”


Ayaka membelalakkan mata seolah hatinya telah dicuri. Lalu, setelah menunduk kecil seakan meresapi kata-kata Haruto dalam-dalam, dia perlahan membuka mulut.


“Aku juga... sayang banget sama Haruto-kun, tahu? Makanya, aku juga pengin Haruto-kun tetap tersenyum. Aku nggak mau kamu maksain diri atau nekat.”


Mendengar permohonan Ayaka, Haruto menjawab dengan senyum bingung.


“Hmm, susah juga, ya.”


“Aku juga, sudah jatuh cinta padamu lebih dari yang Haruto-kun bayangkan, kok.”


Mendengar itu, Haruto tertawa dengan wajah memerah karena malu.


Ayaka menatap reaksi Haruto itu dengan raut penuh kebahagiaan, lalu berkata dengan nada manja.


“Haruto-kun.”


“Hm?”


“Boleh minta sesuatu?”


“Minta apapun boleh, kok.”


Melihat Haruto langsung mengangguk, Ayaka menyampaikan permintaannya dengan campuran rasa senang dan malu.


“Tolong peluk aku, yang erat.”


“Boleh.”


Haruto yang membalas sambil tersenyum, perlahan melingkarkan lengan ke punggung Ayaka, lalu memeluknya dengan lembut namun kuat seolah ingin membungkusnya dengan kehangatan.


Ayaka yang dipeluk Haruto membenamkan wajahnya di dada Haruto.


“Haruto-kun... aku sayang kamu.”


“Aku juga, sayang banget sama Ayaka.”


Haruto menyampaikannya seperti berbisik, namun penuh perasaan. Kemudian, Ayaka perlahan mengangkat wajah yang tadi dibenamkan, dan pandangan mereka pun bertemu.


Ayaka menatap Haruto dengan tatapan penuh gairah dari jarak yang begitu dekat.


Dia menatap Haruto lekat-lekat dengan ekspresi gemas seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu kembali memeluk erat.


“Sayang banget. Beneran sayang. Sayang dari relung hati yang terdalam.”


Sambil berkata demikian, Ayaka memeluk Haruto dengan erat, seolah ingin menyalurkan perasaannya lewat kuatnya pelukan itu.


Mendengar kata-kata gadis di dalam dekapannya, perasaan senang bercampur sayang menyebar hangat di dalam hati Haruto. Dan bersamaan dengan itu, rasa malu juga muncul akibat pelukan yang begitu gencar.


Haruto merasa wajahnya memanas.


Dari Ayaka yang menempel erat, kelembutan khas wanita dan aromanya tersalurkan, menggerus akal sehatnya secara kasar.


“...M-Makasih.”


Haruto mengucapkan terima kasih dengan kata-kata yang agak tersendat, lalu sebelum akal sehatnya runtuh dan melakukan hal yang tidak pantas, dia melepaskan kekuatan lengannya, menarik tubuh Ayaka perlahan, dan bertanya.


“Ayaka, mau makan apa dulu?”


Menanggapi pertanyaan Haruto yang terdengar seperti pengalihan topik, Ayaka tertawa kecil.


“Hmm... mau makan omusoba.”


Setelah memandang makanan kedai yang berjejer di meja satu per satu, dia menjawab Haruto sambil tersenyum.


“Oke. Ayo makan omusoba dulu.”


“Yuk!”


Mereka berdua duduk berdampingan di sofa depan meja.


Ayaka mengambil omusoba yang ada di dalam wadah plastik bening, lalu menunjukkan ekspresi ceria pada Haruto.


“Rasanya cuma dengan ditaruh di wadah ginian, nuansa kedai festivalnya langsung dapet, ya.”


Ayaka berkata dengan riang sambil melepas karet gelang yang menutup wadah.


“Iya, ‘kan. Kalau dimakan pakai sumpit kayu, bakal beneran kayak di kedai.”


Haruto mengangguk pada ucapan Ayaka sambil mematahkan sumpit kayu.


“Ah, sumpitnya...”


“Yah~ belahannya jadi aneh gitu, ya.”


“Kuh...”


Mungkin karena beli yang murahan. Sumpit di tangan Haruto terbelah miring di sepertiga bagian, jadi sangat susah dipegang.


“Ini susah buat makan.”


Melihat Haruto yang menatap sumpitnya sambil tersenyum kecut, Ayaka yang duduk di sebelahnya dengan senang menjepit omusoba-nya sendiri dengan sumpit, lalu menyodorkannya ke mulut Haruto.


“Punyaku terbelah rapi kok, biar aku suapin.”


Sambil senyum-senyum menghadap Haruto, Ayaka bilang “Buka mulutnya”.


Sejak zaman pura-pura pacaran, Haruto sudah beberapa kali mengalami ‘aaam’ oleh Ayaka dengan dalih latihan jadi pacar. Berkat latihan itu, dia tidak terlalu gugup dan dengan jujur melahap omusoba yang disodorkan Ayaka.


“Enak?”


“Iya. Yah, kan aku sendiri yang bikin.”


Melihat Ayaka yang memiringkan kepala, Haruto menjawab dengan agak malu.


Meski sudah terbiasa, Haruto sadar mungkin mustahil untuk menghilangkan rasa malu sepenuhnya seumur hidupnya.


Setelah menyuapi Haruto, Ayaka memakan omusoba satu suap. Lalu wajahnya berseri-seri.


“Mmm~, masakan Haruto-kun emang enak-enak, ya.”


“Nggak sia-sia aku masak.”


Setelah itu mereka berdua memakan sate karaage, kentang goreng, permen apel, dan lainnya.


“Permen apel ternyata bisa dibikin di rumah, ya.”


“Cuma lelehin gula terus dibalut ke buah, jadi lumayan gampang, kok. Kali ini nggak kupakai sih, tapi kalau pakai pewarna makanan, warnanya bisa jadi lebih cerah, loh.”


Sambil menjawab Ayaka, Haruto menggigit acar timun utuh.


“Hmm, kurang meresap nih... ternyata waktunya kurang lama, ya.”


“Tapi, ini rasanya jadi kayak asinan segar, aku suka, loh?”


Sambil mengobrol begitu, mereka berdua menikmati Ouchi Ennichi.


Lalu, setelah sebagian besar makanan di meja habis, Haruto bertanya pada Ayaka.


“Masih kuat?”


“Lumayan kenyang sih. Tapi kalau dessert masih bisa banget.”


“Siap.”


Haruto berdiri dari sofa dan menuju dapur sebentar.


“Mau bikin apa?”


Melihat Ayaka yang mengikuti di belakang dengan wajah heran, Haruto mengeluarkan cup bertuliskan ‘Es’ dari tas belanja.


“Yang namanya kedai musim panas, es serut nggak boleh ketinggalan, ‘kan.”


“Bener banget!”


Ayaka mengangguk berkali-kali, sangat setuju dengan ucapan Haruto.


“Pinjam es batu sama mesin serut esnya, ya.”


“Iya, monggo!”


Setelah mendapat izin Ayaka, Haruto mengambil mesin es serut dari lemari penyimpanan di dapur. Lalu dia memasukkan es batu, memasang cup, dan mulai menyerut es dengan suara renyah.


Dalam sekejap, gunung es seperti Gunung Fuji terbentuk di dalam cup.


“Ayaka mau rasa apa?”


Haruto mengeluarkan sirup rasa standar: Stroberi, Melon, dan Blue Hawaii dari tas belanja.


“Eeh, gimana, ya. Penginnya sih makan Stroberi, tapi Melon juga sayang untuk dilewatkan, terus pengin makan Blue Hawaii juga karena udah lama...”


Ayaka berkata dengan mata melirik ke sana ke mari menatap tiga jenis sirup yang berjejer.


“Kalau gitu, gimana kalau kita tuang sirupnya sedikit-sedikit ke es serutnya, terus dimakan sambil ganti-ganti rasa?”


“Ah! Iya! Gitu aja.”


Ayaka mengangguk sambil tersenyum mendengar usulan Haruto.


Mereka berdua kembali duduk berdampingan di sofa, menghadap es serut yang menggunung.


“Pertama mau rasa apa?”


“Stroberi aja.”


“Oke.”


Mendengar ucapan Ayaka, Haruto menuangkan sedikit sirup rasa stroberi di pinggiran es serut. Dia pun menyendok es yang sudah berwarna pink itu dengan sendok sedotan, dan menyuapkannya langsung ke mulut Ayaka.


Ayaka melahap es serut yang disodorkan itu, dan seketika memasang senyum bahagia.


“Enaak~ rasa stroberi.”


Melihat Ayaka makan dengan nikmat, Haruto juga melunakkan ekspresinya sambil memakan es serut rasa stroberi.


Setelah itu mereka menuangkan sedikit sirup Melon, lalu Blue Hawaii, menikmati satu es serut berdua.


Saat sedang memakan putaran kedua rasa Blue Hawaii, Ayaka tiba-tiba teringat sesuatu dan mulai bicara.


“Ngomong-ngomong, aku pernah dengar kalau sirup es serut itu sebenernya rasanya sama semua, itu bener nggak sih?”


“Ah, aku juga pernah dengar. Katanya cuma beda warna sama aromanya doang.”


Ayaka menatap botol sirup masing-masing rasa, lalu perlahan bicara.


“Hei, Haruto-kun. Bikin permainan, yuk?”


“Permainan?”


“Iya. Permainan menebak rasa es serut yang dimakan sambil tutup mata.”


“Boleh juga. Kayaknya seru.”


Haruto tersenyum menantang dan menerima usulan Ayaka.


Haruto yang biasa memasak punya sedikit kepercayaan diri pada indra pengecapnya.


“Oke, yang kalah harus menyebutkan tiga hal yang disukai dari lawannya, ya.”


“Gitu ya, jadi aku bakal denger tiga hal yang disukai Ayaka dariku. Agak bikin malu, ya.”


“Ah! Udah merasa menang duluan!”


“Nggak ngerasa bakal kalah, sih.”


“Muu~”


Melihat Ayaka yang menggembungkan pipi dengan manis, Haruto bertanya padanya sambil tetap tersenyum.


“Siapa yang makan duluan?”


“...Aku duluan.”


Setelah menunduk dan berpikir sejenak, Ayaka berkata mau menebak rasa lebih dulu dari Haruto.


“Oke. Tutup matanya, ya.”


“Iya.”


“Nggak ngintip, ‘kan?”


“Aku nggak bakal curang gitu, lah!”


Melihat Ayaka memonyongkan bibirnya, Haruto meminta maaf sambil tertawa, “Maaf, maaf”. Lalu, setelah bingung memilih salah satu dari tiga rasa, dia menuangkan sedikit sirup hijau ke es serut.


“Ayo Ayaka. Buka mulutnya.”


Haruto berkata setelah menaruh es serut rasa melon di sendok sedotan. Lalu dia memasukkannya perlahan ke dalam mulut Ayaka yang dibuka dengan patuh.


“Nah, es serut barusan rasa apa, hayo?”


Haruto bertanya pada Ayaka layaknya pembawa acara kuis.


“Hmm... ini...”


Ayaka membuka matanya yang terpejam, menggerakkan mulutnya sedikit untuk memastikan rasa, lalu menyatakan dengan wajah yakin.


“Rasa Melon!”


“Eh...? Ah, gitu. Yakin nih yang dimakan Ayaka barusan rasa Melon?”


Haruto memastikan sambil berekspresi sedikit kaget.


Melihat itu, ekspresi Ayaka yang tadinya penuh percaya diri mendadak mendung.


“Eh? Tunggu... eh? Ini melon, ‘kan?”


“Entahlah?”


Haruto memiringkan kepala dengan senyum penuh arti seolah sedang melihat sesuatu yang menarik.


Melihat reaksinya, kepercayaan diri Ayaka luntur sampai taraf yang menggelikan.


“Bukan... Melon? Jangan-jangan Stroberi?”


“Hmm, Stroberi, ya.”


“Bentar bentar bentar! Eeh? Padahal kukira Melon... Stroberi? ...Jangan-jangan, Blue Hawaii?”


Saat dia mengatakan itu, Haruto sengaja menggerakkan alisnya sedikit.


“Ayaka awalnya mikir Melon, ‘kan? Kesan pertama itu penting, loh?”


“Reaksinya begitu! Blue Hawaii, ‘kan! Soalnya barusan alis Haruto-kun gerak!”


“...Jadi, jawabannya Blue Hawaii?”


Haruto bertanya dengan nada yang dibuat sedikit lesu.


Menanggapi itu, Ayaka mengangguk mantap, seolah yakin tebakannya benar


“Yang aku makan adalah Blue Hawaii!”


Ayaka menyatakan dengan penuh percaya diri.


Haruto berusaha keras menahan wajahnya yang mau menyeringai, lalu mengumumkan jawaban yang benar.


“Aku kasih tahu jawabannya, ya?”


“Iya!”


“Rasa yang dimakan Ayaka barusan adalah............ Rasa Melon! Sayang sekali! Salah.”


Saat Haruto mengatakan jawabannya, Ayaka berseru kaget “Eeehh!?” lalu menatap Haruto dengan tatapan protes.


“Aku kan awalnya bilang rasa Melon!”


“Sayang banget, ya.”


“Haruto-kun nipu!”


“Aku udah ngasih saran loh kalau kesan pertama itu harus dijaga?”


“Muu~! Nnn~!”


Ayaka menunjukkan kekesalan di wajahnya dan memukul-mukul ringan lengan atas Haruto dengan suara puk-puk.


“Selanjutnya giliran Haruto-kun yang tebak rasa.”


Ayaka menghentikan serangan puk-puk-nya, lalu memberitahu Haruto dengan pipi yang masih menggembung.


Mendengar kata-katanya, Haruto menutup mata perlahan.


“Kalau ngintip curang loh, ya?”


“Aman, kok.”


Mendengar Ayaka mengatakan hal yang sama dengan ucapannya tadi, Haruto menjawab sambil tertawa.


Lalu, setelah jeda sebentar, dia mengajukan usul.


“Hei, Haruto-kun.”


“Hm?”


“Buat Haruto-kun, boleh aku naikin tingkat kesulitannya?”


“...Boleh.”


Setelah berpikir sejenak, Haruto mengangguk.


Walaupun tingkat kesulitannya dinaikkan, tetap saja hanya ada tiga rasa. Sekalipun pilihannya terbatas, paling banter tingkat kesulitannya dinaikkan dengan mencampur dua rasa atau semacamnya. Menebak dengan tepat memang sulit, tapi setelah mencicipinya lalu tanya-tanya Ayaka sambil mengamati reaksinya, kurasa aku masih bisa menebak dengan benar meskipun rasanya dicampur.


Saat sedang memikirkan hal itu, suara Ayaka terdengar.


“Kalau gitu, aku mulai, ya? Siap?”


“Aku siap kapan saja.”


Haruto yang memejamkan mata menjawab begitu dan membuka mulut, menunggu sendok sedotan masuk.


Namun, berlawanan dengan dugaannya, yang masuk ke dalam mulut bukanlah sendok sedotan.


Sesuatu yang sangat lembut menekan seluruh bibirnya, dan bersamaan dengan itu, sesuatu yang basah dan lembut menyentuh lidahnya seolah membelai.


Merasakan sensasi yang belum pernah dialaminya, bahu Haruto tersentak kaget dan dia membuka mata. Di ujung pandangannya, ada wajah Ayaka yang merona merah semerah es serut rasa stroberi, sedang menatapnya lekat-lekat.


Melihat ekspresi malu Ayaka yang memenuhi pandangannya, Haruto kehilangan kata-kata.


Melihat Haruto begitu, Ayaka pun berbisik.


“Nah, es serut yang kumakan rasa apa, hayo?”


“............Itu, tingkat kesulitannya nggak ketinggian?”


“Kalau nggak diginiin, Haruto-kun bakal langsung bisa nebak.”


Ayaka yang posisinya jadi setengah menindih Haruto, melingkarkan lengannya ke leher Haruto dan bertanya lagi.


“Aku makan rasa apa coba?”


“...Maaf. Agak, nggak ketebak.”


“............Kalau gitu, aku kasih sekali lagi. Tutup mata, ya”


Mengikuti perkataannya, Haruto perlahan menurunkan kelopak matanya lagi.


Sensasi lembut kembali menekan bibirnya. Bersamaan dengan itu, sesuatu yang lembut dan agak panas menyentuh lidahnya. Dari sana, dia merasakan aroma stroberi yang samar. Dan, rasa manis yang terasa sangat kuat.


Saat sensasi lembut itu menjauh dari mulutnya, Haruto perlahan membuka mata.


Melihat Ayaka yang begitu dekat sampai hidung mereka hampir bersentuhan, Haruto berkata pelan.


“Yang dimakan Ayaka... rasa Stroberi.”


“...Yakin?”


Gadis yang memancarkan aura sedikit menggoda itu menatap matanya dalam-dalam dan berkata.


“...Boleh aku pastikan sekali lagi?”


“Boleh. Pastikan saja semaumu.”


Mereka berdua kembali memejamkan mata.


Pada akhirnya, permainan tebak rasa es serut itu dimenangkan oleh Haruto. Namun, dia sama sekali tidak merasa menang dalam pertandingan itu.


Apakah ini yang dimaksud dari istilah memenangkan pertandingan tapi kalah dalam pertarungan?


Di dalam otak yang tak bisa berpikir jernih, Haruto memikirkan hal itu samar-samar.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close