Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 3
Gadis Streaming Video yang Sombong (nihihi♡♡♡♡♡ lemah banget♡♡♡♡♡ lemah banget♡♡♡♡♡)
『Penampil pertama minggu ini adalah grup yang sedang jadi perbincangan hangat, yang baru saja meraih peringkat pertama Oricon dengan single terbaru mereka! Kira-kira penampilan seperti apa yang akan mereka tunjukkan kali ini! Idol sekaligus dungeon diver, Trinity Spark, dengan lagu "Exp Pengalaman Cinta"!』
"Uwah, sudah jam dua belas saja."
Acara musik tengah malam mulai dari televisi yang dibiarkan menyala. Aku menguap lebar sekali, melempar ponsel ke samping bantal, lalu ikut berbaring di tempat tidur.
Entah kenapa aku tidak bisa tidur dan jadi begadang, sekarang sudah lewat pukul dua belas. Akhirnya rasa kantuk mulai datang. Setelah melirik sekilas para gadis cantik yang bernyanyi dan menari dengan gemerlap di layar TV, aku mematikan televisinya.
Saat aku setengah tertidur di dalam selimut, terdengar suara yang mengganggu tidur nyenyakku.
『──nya! ────nyaa!』
"……hmm, berisik sekali."
Mendengar suara dari balik dinding, aku mengernyit dan membalikkan badan. Belakangan ini, suara tetangga memang berisik.
Tetangga yang pindah sejak musim semi tahun lalu. Di kota modern seperti sekarang, tidak mungkin ada salam perkenalan saat pindahan, jadi aku hanya sesekali melihat punggungnya saja.
Dari suara "nyaa-nyaa" yang dia teriakkan, dan karena hanya terdengar satu suara, mungkin dia sedang bermain semacam voice chat roleplay. Atau mungkin dia sedang kecanduan game bernama VR Circle, yang belakangan populer, di mana seseorang bermain di dunia virtual menggunakan avatar sebagai dirinya.
"Kalau terus begini, mungkin aku harus konsultasi ke pemilik apartemen."
Dari suaranya terdengar seperti wanita muda, bahkan mungkin lebih muda dariku, tapi tidak menutup kemungkinan dia seorang dungeon diver. Kalau begitu, aku bisa dengan mudah dikalahkan. Aku tidak berniat datang langsung untuk mengeluh.
"VR Circle, ya."
Sebenarnya aku sudah lama tertarik. Kalau di dunia virtual yang tidak memungkinkan menyentuh orang lain, kondisi tubuhku tidak akan berpengaruh sama sekali. Aku bisa hidup tanpa perlu khawatir apa pun. Belakangan ini bahkan katanya ada yang sampai menjadi pasangan di dunia virtual.
"Aku punya uang hasil kerja paruh waktu juga… mungkin coba saja."
Besok sekolah libur, dan aku juga tidak ada kerja part-time. Mungkin aku akan pergi ke toko komputer.
『Nya──!』
──Brakk!
"Wah, kaget sekali…"
Sepertinya tetanggaku sedang mengamuk. Mungkin kalah dalam game kompetitif?
Setelah itu suasana jadi tenang, dan akhirnya aku tertidur.
Keesokan paginya. Saat aku keluar rumah untuk pergi ke toko elektronik saat buka, pintu kamar sebelah juga terbuka.
"Ah, halo."
"……"
Hoodie hitam bergaya "jirai-kei" yang memperlihatkan kulit di bagian lengan, rok pendek yang memperlihatkan paha tanpa ragu. Sepatu boots panjang hitam sampai di bawah lutut. Karena dia mengenakan hoodie bertelinga kucing yang ditarik dalam, wajahnya tidak terlalu terlihat. Tingginya sekitar 150 cm. Tubuhnya kecil.
Gadis itu tampak sangat tenang, tidak seperti kemarin saat dia mengamuk. Dia melihat ke arahku, sedikit menunduk memberi salam, lalu berjalan pergi.
"Mungkin tipe yang kepribadiannya berubah di internet? Atau tipe yang gampang meledak… sebaiknya tidak terlalu terlibat."
Gadis hoodie telinga kucing itu berjalan ke arah yang sama denganku. Agar tidak terasa canggung kalau menyusul, aku sengaja berjalan pelan menuju stasiun.
"……a-aku benar-benar membelinya."
Dengan tangan gemetar, aku mengangkat kantong kertas. Di dalamnya ada VR headset.
Saat mendengarkan penjelasan pegawai toko, aku jadi ingin fitur ini dan itu, dan akhirnya membeli yang cukup mahal.
Perangkat yang menggabungkan mikrofon berkualitas tinggi, headphone berkualitas tinggi, dan VR goggles berkualitas tinggi. Bahkan bisa digunakan sebagai headset biasa jika goggles-nya dilepas.
Aku tidak membeli ini karena tergoda oleh kata-kata pegawai seperti, "Kalau menonton VR AV dengan alat ini, duniamu akan berubah. Bisa dibilang hampir seperti seks sungguhan. Hehe, apakah Anda punya keberanian untuk melangkah ke sisi ini?" Sama sekali bukan.
Harganya 99.800 yen. Bahkan aku sendiri heran bisa mengeluarkan uang sebanyak ini.
Aku juga tidak terpengaruh oleh kata-kata pegawai seperti, "Apakah Anda pernah ke tempat hiburan dewasa? Pergi ke sana menakutkan, mahal, dan Anda tidak tahu wanita seperti apa yang akan datang. Tapi dengan ini, hanya seharga sekitar tiga kali kunjungan, Anda bisa merasakan pengalaman terbaik setiap hari. Bukan hanya dunia nyata, tapi juga gadis 2D… Hehe, apakah Anda takut dengan pengalaman yang belum pernah Anda rasakan?" Sama sekali tidak.
Aku ingin segera pulang dan mencobanya, langkah kakiku pun jadi cepat. Tentu saja untuk VR.Circle. B-bukan karena ingin cepat menonton video aneh atau semacamnya. Bukan.
Namun, seolah mengejek rasa semangatku, terjadi masalah. Kereta bawah tanah mengalami keterlambatan karena suatu gangguan. Akibatnya, peron dipenuhi orang yang menunggu.
"Sial… aku tidak ingin naik kereta penuh…"
Dengan kondisi tubuhku, naik kereta penuh bisa menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.
Tapi aku ingin cepat pulang dan mencoba VR AV… eh, maksudnya VR Circle.
"Aku pakai baju lengan panjang, jadi kalau hati-hati harusnya tidak apa-apa… kan?"
Kereta akhirnya datang, dan orang-orang di peron masuk berbondong-bondong. Biasanya aku akan menunggu kereta berikutnya, tapi kali ini aku ikut naik, tergoda oleh pengalaman yang belum pernah kurasakan.
Mungkin karena masih menjelang siang di hari libur, tidak banyak orang yang memaksa masuk, jadi meskipun penuh, tidak sampai berdesakan parah.
Dengan tangan kiri memegang strap, dan tangan kanan memeluk erat "pengalaman baru" itu. Harganya hampir 100 ribu yen, tidak mungkin aku merusaknya di sini.
Karena kedua tanganku penuh, aku tidak bisa memainkan ponsel, jadi aku melihat sekeliling. Lalu aku melihat sosok hitam yang familiar. Gadis VR Circle yang tinggal di sebelah. Dia juga memeluk kantong kertas yang sama.
"……hm?"
Bahu kecilnya sedikit bergetar. Ada yang aneh. Saat kulihat lebih dekat, ada pria paruh baya yang berdempetan di belakangnya.
"Jangan-jangan… pencabul?"
Sejak munculnya dungeon, jumlah wanita kuat meningkat dan kasus pencabulan menurun, tapi belum benar-benar hilang.
Katanya masih banyak yang menargetkan wanita yang bukan dungeon diver. Ini pertama kalinya aku melihat langsung kejadian seperti ini.
"A-aku harus menolong… kan?"
Kemungkinan besar, lebih dari 90%, dia sedang dilecehkan. Napas pria itu berat, dan tangannya mengarah ke bagian bawah tubuhnya.
Aku seharusnya maju dan menolong dengan sigap. Tapi bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau aku salah paham? Bisa saja itu dilakukan atas persetujuan. Aku tidak ingin mempermalukan diri di depan banyak orang. Lagipula, bagaimana kalau pria itu jadi kasar?
Saat aku terus berpikir, gadis itu mengangkat wajahnya.
Di balik hoodie hitamnya, matanya terlihat di antara celah poni.
Mata yang berkaca-kaca, seperti meminta tolong. Ekspresi ketakutan.
"!"
Tubuhku bergerak refleks. Apa yang kupikirkan tadi benar-benar bodoh. Di saat seorang gadis lemah sedang gemetar ketakutan, mana mungkin aku memikirkan harga diriku. Hal seperti itu tidak penting.
Aku menerobos kerumunan, mendekat ke gadis itu, dan menangkap tangan yang mengarah ke pantatnya.
"Orang ini pencabul!"
Aku menggenggam tangan pria itu, mengangkatnya tinggi, dan berteriak. Tatapan orang-orang langsung tertuju pada kami. Tapi bukan tatapan kecaman, melainkan seperti melihat sesuatu yang aneh.
"……ah."
Aku salah. Ucapanku keliru. Dengan ini, malah terlihat seperti aku yang jadi korban.
Seorang siswa SMA laki-laki tinggi dan murung dilecehkan oleh pria paruh baya. Mungkin begitulah yang terlihat oleh orang lain.
"A-ah, bukan aku. Maksudku dia yang…"
Saat aku mencoba menjelaskan dengan gugup, pria itu dengan kasar melepaskan tanganku.
"A-aku tidak melakukan pencabulan! Ini tuduhan palsu!"
"Bukan aku, tapi dia yang jadi korban, kan!? Turun di stasiun berikutnya!"
"D-diam kau!"
Pria itu mencoba kabur, dan aku mencoba menahannya. Kami sempat ribut sebentar, tapi akhirnya dia berhasil melepaskan diri. Dia memaksa menerobos kerumunan dan kabur ke gerbong belakang.
"Sial!"
Saat aku hendak mengejar, bajuku ditarik pelan dari belakang.
"A-anu… sudah tidak apa-apa…"
Gadis bergaya jirai-kei itu menarik pakaianku.
"Tapi kamu dilecehkan, kan? Itu tidak bisa dibiarkan."
Aku bertanya begitu, tapi dia menggeleng.
"Aku sudah ditolong, jadi tidak apa-apa. Kalau dipaksa menangkapnya, malah berbahaya."
"……begitu ya."
Sepertinya dia mengkhawatirkan keselamatanku. Mungkin dia juga tidak ingin memperbesar masalah, dan kalau korban sendiri bilang begitu, sebaiknya aku mengikuti keinginannya.
"E-eh… terima kasih sudah menolongku, itu…"
"Sama-sama. Maaf ya, seharusnya aku bisa menolongmu lebih cepat."
Untuk menenangkannya, aku menepuk pelan kepalanya yang tertutup hoodie.
Saat itu, gerbong berguncang.
"Ups."
Agar dia tidak jatuh saat kehilangan keseimbangan, aku segera meraih lengannya dan menopangnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
"………ah"
Gadis itu tiba-tiba gemetar. Mungkin rasa takut akibat pelecehan itu baru datang sekarang.
"Ada apa? Jadi takut?"
"……………………lepasin… tanganku…"
"Lepas?"
"………………ta-tangan♡"
"Tangan?"
"……! Tangan♡♡♡♡♡"
Aku melihat tanganku yang menggenggam lengannya. Tanganku yang memegang lengan atasnya. Entah kenapa, bagian lengannya transparan, memperlihatkan kulit di dalamnya. Tanganku menyentuh kulitnya secara langsung.
"Ah."
"……lepas……in………ta-tangan♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Tubuhnya tersentak lalu melemas. Sepertinya dia pingsan.
"E-eh… ini gimana…"
Tatapan curiga dari sekitar. Dan terdengar suara, "…pencabul?" Padahal aku seharusnya jadi pahlawan yang menolong korban, entah kenapa malah dicurigai sebagai pelaku.
"Jadi, kamu menolong dia dari pencabul, lalu dia tiba-tiba pingsan?"
"Iya. Soalnya… aku juga tidak tahu kenapa."
"Mungkin dia lega lalu jadi lemas? Kamu kenal anak ini?"
Setelah itu aku membawa gadis yang pingsan ke ruang pertolongan di stasiun. Petugas stasiun yang terlihat baik itu memandangku dengan campuran rasa terima kasih dan curiga.
"Ehm… bisa dibilang kenal, tapi juga tidak…"
Aku ragu menjawab, dan tatapan curiga petugas itu semakin kuat.
"…Kamu tidak melakukan apa-apa, kan?"
"Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa! Kami hanya tinggal di apartemen yang bersebelahan, cuma saling kenal wajah saja!"
Aku buru-buru menjelaskan, tapi tatapan curiganya tidak berubah.
"…Kalau begitu, aku tidak terlalu dekat dengannya, jadi boleh aku pulang?"
"…Tidak, dia akan segera sadar. Sampai saat itu, kamu tetap di sini."
"Ehm… baik."
Sepertinya dia tidak akan membiarkanku pergi sampai gadis ini bangun dan membuktikan aku tidak bersalah. Suasana di ruang pertolongan jadi canggung, tapi untungnya gadis itu segera sadar.
"Uu…ngh"
"Sudah bangun? Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?"
"Hah, Aina, kenapa…"
Gadis itu bangun dan duduk. Saat itu, hoodienya terlepas dan wajahnya terlihat. Rambut panjang hitam dengan inner color pink cerah. Mata besar berbentuk almond, dan mulut yang agak besar.
Tidak terlihat seperti gadis tertutup seperti yang kubayangkan, malah cukup imut. Dia menatapku dengan mata besarnya, lalu ekspresinya berubah takut.
"Hii…"
"Tunggu tunggu! Hei, aku tadi menolongmu dari pencabul, kan? Iya, kan!?"
Melihat sikapnya yang bisa menimbulkan salah paham, petugas stasiun segera berdiri di antara kami seperti melindunginya.
"Tenang! Coba ingat dengan tenang! Ya!?"
"…Ah, eh. Iya. Aku memang ditolong oleh orang itu."
"Tuh kan! Pak, Anda dengar, kan!? Aku menolong dia dari pencabul!"
"Aku ditolong, lalu setelah itu… eh…………a♡"
Sepertinya dia teringat saat disentuh olehku, dia mengelus lembut lengannya yang tadi kusentuh, seperti menyentuh bagian yang sakit.
"Setelah itu apa yang terjadi? Tidak apa-apa, coba ceritakan."
Petugas itu bertanya dengan lembut seperti melakukan perawatan mental.
Gadis itu berpikir sejenak, lalu melihat ke arahku. Aku menggeleng mati-matian, berharap dia tidak mengatakan hal aneh, dan mungkin dia mengerti, dia juga menggeleng.
"Tidak, aku hanya ditolong. Yang mencabul itu pria paruh baya. Dia juga lebih pendek."
"…Begitu? Kalau begitu tidak apa-apa. Untuk jaga-jaga, bisa sebutkan nama dan umur kalian? Kamu juga."
"Okumura Aina. 15 tahun."
"Aku Mura Tatsuya, 16 tahun."
"Baik, Okumura-san dan Mura-kun. Okumura-san, mau melapor ke polisi?"
Okumura-san menggeleng.
"Tidak usah. Pasti tidak akan tertangkap. Ribet."
"…Begitu ya. Sebenarnya bukan untuk menyalahkan korban, tapi usahakan menjauh dari orang mencurigakan."
"Iya, aku akan hati-hati."
"Kamu juga, Mura-kun. Maaf sudah curiga. Katamu kalian tetangga, ya? Kalau tidak keberatan, bisa antar dia pulang? Dia pasti masih merasa takut."
"Tetangga…?"
Mendengar kata itu, Okumura-san menatapku dengan heran. Dia menatap wajahku lekat-lekat, lalu seperti menyadari sesuatu.
"Ah, yang jago di ranjang."
Apa yang barusan dia bilang!?
"Ehm, Okumura-san? M-maksudnya apa? Kita bahkan belum pernah benar-benar ngobrol…"
"Kamu sering bawa pulang gyaru imut ke kamar, terus tiap hari bikin mereka teriak."
"Tungguuuuu!? Iya sih memang benar, tapi cara ngomongmu itu lho!"
"Setiap malam terdengar suara, ganggu."
"Kamu juga sama saja! Tiap malam teriak 'nyaa-nyaa' kan! Kemarin juga sampai lewat jam dua belas! Aku juga terganggu!"
"……nya!? D-didengar!? Mesum! Lupakan!"
"Sudah cukup. Urusan tetangga seperti itu tidak bisa saya tangani. Silakan pulang dan lapor ke pemilik apartemen kalau mau."
Melihat kami berdebat, petugas itu tampaknya yakin tidak ada masalah serius, lalu menyuruh kami keluar dari ruang pertolongan.
Gadis kecil itu, Okumura-san, menatapku dan berkata pelan,
"…Kalau begitu, antar aku pulang."
"Serius? Perlu?"
Dari tadi dia terlihat sudah benar-benar pulih… tapi kalau diperhatikan, bahunya sedikit gemetar. Aku tidak tahu sebagai laki-laki, tapi sepertinya pengalaman seperti itu memang menakutkan.
Akhirnya aku berjalan pulang bersama Okumura-san.
"Ehm… Okumura-san kelas satu SMA?"
"Iya."
"Mungkin di Soukoku?"
"Tidak."
"O-oh… begitu…"
Canggung sekali. Aku mencoba memulai percakapan, tapi jawabannya hanya "iya" atau "tidak".
Aku sudah berusaha keras sebagai orang yang tidak pandai bersosialisasi, jadi aku ingin dia juga berusaha sedikit.
Saat aku menyerah untuk bicara, aku sadar dia sesekali melirik kantong yang kubawa.
"Penasaran? Ini?"
Saat aku mengangkat kantong kertas, dia pura-pura tidak melihat tapi tetap bertanya,
"Kamu beli apa?"
Mungkin dia suka barang elektronik.
"Ehm, ini… alat untuk VR Circle, namanya semacam Neuro Dive? Aku ingin mencobanya."
Saat aku membuka kantong dan menunjukkan kotaknya, matanya langsung membesar.
"M-masa itu Neuro Dive!? Dan yang Pro!? Itu mahal banget!"
"Hampir 100 ribu yen."
"K-kerennn!"
Dia menatapku dengan mata berbinar. Aku punya firasat buruk.
"Eh, biar Aina juga coba!"
Sudah kuduga. Tapi jujur saja, aku tidak tahu cara pakainya, jadi ada orang yang berpengalaman justru membantu.
"Ya sudah, tidak masalah."
"Yes! Kalau begitu aku ikut ke kamarmu ya!"
Sepertinya dia memang akan ikut begitu saja. Ya, memang tetangga.
Sambil mengingat apakah aku meninggalkan sesuatu yang tidak boleh dilihat, aku membuka pintu rumah. Okumura-san langsung masuk duluan.
"Hei! Jangan masuk duluan sebelum pemilik rumah!"
"Hehe, tidak apa-apa."
Dia tersenyum jahil.
Kesan pertamanya memang gadis pendiam, tapi sepertinya ini sifat aslinya. Tipe yang akrab dengan orang yang sudah dikenal.
"Jadi, komputernya di mana?"
Dia melihat sekeliling kamar.
"Komputer? Aku tidak punya komputer."
Saat aku menjawab, dia menatapku heran.
"Hah? Tidak punya komputer, terus mau pakai Neuro Dive bagaimana?"
"Hah? Tidak bisa tanpa komputer?"
"Hah? Tidak bisa."
"Hah?"
"Hah?"
Sepertinya pengalaman seksual yang belum pernah kurasakan itu masih jauh di depan.
"S-seriusaaaan……"
Aku jatuh terduduk dengan lesu, lalu Okumura-san menepuk-nepuk punggungku. Kukira dia menghiburku, jadi aku mengangkat wajah—ternyata dia sedang tersenyum jahil.
"Nyahaha! Payah banget! Beli Neuro Dive padahal nggak punya komputer! Sia-sia banget!"
"Hei kamu… orang lagi sedih juga…"
"Pasti karena disihir omongan pegawai yang bilang ‘bisa nonton yang aneh-aneh’, kan? Pfft! Malu banget!"
"Sial, nggak bisa balas…"
Setelah puas menertawakanku, dia menyeka air mata karena terlalu banyak tertawa, lalu berkata,
"Eh, sekalian aja ke apartemenku buat coba. Ainyan punya komputer."
"B-boleh?"
"Ainyan juga pengen coba. Atau kalau nggak bisa dipakai, kasih ke aku aja?"
Dia memiringkan kepala dengan imut. Aku sempat berpikir untuk memberikannya. Apa dia ini iblis kecil?
"Nggak bakal! Tapi ya… sampai aku beli komputer, boleh aku pinjamkan."
"Nihihi, asik! Ayo cepat ke kamarku!"
Setelah berkata begitu, Okumura-san membawa Neuro Dive dan langsung keluar dari kamarku.
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku masuk ke kamar perempuan. Dan tiba-tiba aku teringat kata-kata Sagara-sensei, "laki-laki itu pihak yang dimakan."
"Ah, tapi dia tadi sampai takut sama pencabul, harusnya aman sih…"
Saat aku masih ragu-ragu, pintu terbuka dan Okumura-san memanggil,
"Hei, kalau lama-lama aku buka duluan ya!"
"Tunggu! Unboxing itu aku yang lakukan! Ini Neuro Dive-ku!"
Kata-kata Sagara-sensei langsung lenyap dari pikiranku, dan aku buru-buru masuk ke kamar Okumura-san.
Saat masuk dengan sedikit tegang, tata letak kamarnya ternyata simetris dengan kamarku, hanya terbalik. Terasa familiar tapi aneh.
Berbeda dengan kamarku, kamar Okumura-san lebih ramai—ada poster di dinding, tanaman hias, dan terlihat hidup. Di sisi kamarku ada meja dengan dua monitor di kiri kanan dan satu lagi di atasnya. Ada lampu besar berbentuk lingkaran, serta mikrofon berdiri. Kursinya terlihat seperti kursi mobil sport.
Aku tanpa sadar memperhatikan, sampai Okumura-san menatapku dengan setengah kesal.
"Jangan lihat-lihat kamar cewek kayak gitu."
"Bukan, cuma… keren saja. Monitor banyak banget, kayak trader saham. Kamu pakai ini buat VR Circle?"
"Trader saham apaan… VR Circle sih jarang."
"Hah? Terus kamu biasanya ngobrol sama siapa?"
"Bukan siapa sih… lebih ke banyak orang. Ainyan itu DTuber."
"DTuber? Yang siaran dungeon itu?"
"Iya. Nihihi, belum sadar juga? Nih lihat."
Dia mengikat rambutnya jadi dua sisi, lalu memakai aksesori telinga kucing. Dia berpose seperti kucing dengan tangan di samping wajah. Dengan gaya itu, warna pink di rambutnya makin terlihat, dan wajahnya benar-benar seperti idol.
"Kaget nggak? Aina itu DTuber terkenal, Ainyan-nya!"
"O-ohh!"
Pose itu benar-benar cocok padanya. Aku sampai bertepuk tangan kagum.
"Lalu… Ainyan itu siapa?"
"Apa!? Kamu nggak tahu!? Aina lumayan terkenal loh! Kamu nggak nonton video?"
"Nonton sih…"
"Harusnya pernah lihat dong! Kamu biasanya nonton apa sih!"
"Acara debat, prank luar negeri, sama survival video akhir-akhir ini."
Aku menunjukkan layar ponselku. Dia langsung merebutnya dan scroll sendiri, lalu gemetar.
"Ini… nggak nyambung sama sekali! Kamu sebenarnya om-om ya? Anak zaman sekarang itu nonton VTuber atau DTuber minimal!"
Dia menghela napas panjang dan mengembalikan ponselku.
"Aku kurang tertarik sih… eh, Ainyan…"
Aku mengetik "Ainyan" di pencarian.
"Eh tunggu, jangan cari di depan aku, malu…"
Hasilnya muncul banyak video dengan wajah yang sama seperti Okumura-san. Subscriber-nya lebih dari 500 ribu.
Aku coba buka salah satu video populer.
"Wow! Keren! Mirip banget!"
Judulnya "Ainyan ngamuk karena kalah terus". Dia terlihat berteriak dan memukul meja dalam game.
"Okumura-san, kamu imut banget!"
"Imut… hehe, ya jelas!"
"Tapi video dungeon-nya nggak terlalu banyak ditonton ya."
"Ugh!"
Dia memegang dadanya.
"Soalnya aku tipe stealth…"
"Sampai lantai berapa?"
"80."
"Wah, tinggi juga."
"Levelku 50."
"50!? Nggak bahaya!? Harusnya setara lantai kan!?"
"Karena stealth, masih bisa. Asal nggak ketahuan monster."
Dia membusungkan dada, lalu bahunya turun lagi.
"Tapi karena stealth, nggak bisa pakai drone, jadi kurang menarik… mungkin lebih baik jadi streamer game saja."
Bahkan streamer terkenal pun punya masalah.
"Y-ya sudah, kita coba Neuro Dive saja!"
Aku menunjuk alat itu.
"Yuk, ke dunia VR!"
"Yosh! Hosh! Itu!"
Sejak VR jadi populer, bahayanya selalu dibahas.
"Aah! Ini lagi! Hyaa!"
Dan sekarang aku merasakannya sendiri.
Di depanku, seorang gadis cantik bertarung melawan musuh imajiner dengan VR.
Dia jongkok, menendang udara, bahkan lompat.
Intinya…
Aku bisa melihat.
Aku bisa melihat ke dalam rok Okumura-san. Saat dia membungkuk, aku bisa melihat dari celah bajunya. Bahkan sedikit terlihat. Celana dalam pink.
Berbahaya. Ini sangat berbahaya. Bagian bawahku juga dalam bahaya. Awalnya aku kesal karena dia pakai duluan, tapi rasa itu langsung hilang.
Aku duduk di kasurnya sambil menatap serius.
"Benar-benar nggak rugi beli ini…"
"Di situ!"
Dia mengangkat kakinya tinggi dan menendang—
──DOOOOOG!
"GUH!"
Aku terlalu fokus melihat, jadi tidak sempat menghindar. Kepalaku kena tendang keras.
"Kya! Eh!? Kamu nggak apa-apa!?"
Dia buru-buru melepas headset.
"Iya… nggak apa-apa…"
"Ah! Kamu mimisan! Pakai tisu!"
Aku menempelkan tisu ke hidung. Darah keluar.
Dia terlihat khawatir. Tapi sebenarnya mimisan ini bukan karena tendangan…Aku tidak mungkin bilang, "Aku mimisan karena lihat celana dalammu."
"Aku benar-benar nggak apa-apa. Nih, sudah berhenti. Sekarang giliranku!"
"I-iya."
Dia menyerahkan alat itu.
"Game yang santai saja…"
Aku bersiap masuk ke dunia VR.
Saat aku mengenakan VR headset, dunia berubah. Berkat headphone dengan noise cancelling, suara dari dunia luar sepenuhnya terputus. Mungkin saja Okumura-san sedang mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang sampai ke telingaku.
Yang terbentang di depan mata adalah padang rumput hijau muda yang luas tanpa batas. Sebuah aliran sungai kecil mengalir pelan. Disinari cahaya matahari yang hangat, rasanya seperti benar-benar berada di luar. Setelah menunggu sebentar, datanglah seekor anak kucing.
"Wah, lucu banget…"
Saat aku jongkok dan mengelusnya, anak kucing itu mengeong manja dan berbaring dengan perut menghadap ke atas.
"Rasanya seperti benar-benar menyentuhnya…"
Entah otakku yang tertipu, rasanya benar-benar seperti menyentuh sesuatu. Saat aku menoleh karena mendengar suara "meong" dari belakang, ternyata ada beberapa kucing lain.
"Wah! Gila! Ini surga!"
Aku jadi asyik mengelus mereka. Ada yang naik ke pangkuanku, ada yang menggosokkan diri ke tanganku. Selama ini aku tanpa alasan lebih suka anjing, tapi sepertinya aku bisa beralih jadi pecinta kucing.
Saat aku menoleh karena suara manis dari belakang, ada kucing berbulu panjang menatapku. Aku langsung mengulurkan tangan. Mungkin karena terlalu tenggelam dalam game, aku merasa seperti bulunya benar-benar mengalir di sela-sela jariku.
"………ah♡………………nhn♡"
"Hm? …perasaanku saja mungkin."
Sepertinya aku mendengar suara wanita bercampur dengan suara kucing. Aku melihat sekeliling, tapi hanya ada padang rumput dan kucing. Kucing, kucing, kucing.
Kalau dipikir terlalu dalam malah jadi seram, jadi aku anggap itu cuma halusinasi dan kembali bermain dengan kucing.
Setelah puas, aku memutuskan mengakhiri game dan melepas headset.
"Haaah~~~. Serius, ini bahagia banget~~~"
Aku kembali ke dunia nyata. Kalau bisa merasakan tempat sebahagia ini, mungkin 100 ribu yen itu tidak terlalu mahal.
"I-iya. Syukurlah kalau begitu."
"Iya! Seru banget! Eh, Okumura-san kamu tidak apa-apa? Napasmu berat."
Okumura-san duduk di tempat tidur sambil terengah-engah. Wajahnya sedikit memerah.
"Aku cuma capek dari game tadi."
"Memang cukup intens sih. Tapi VR game memang keren ya. Aku jadi ingin beli komputer."
Saat aku berkata begitu, Okumura-san tampak sedikit panik.
"M-masih terlalu cepat, kan? Komputer yang bisa maksimalin Neuro Dive itu mahal, dan belum tentu game lain juga seru! Kamu bisa ke sini kapan saja kok, mending pikirkan dulu baik-baik! Kalau nanti ternyata tidak perlu, Ainyan juga bisa beli darimu!"
"Hmm, benar juga. Eh, kamu jangan-jangan mau pinjam terus tanpa balikin ya?"
Saat aku bercanda, dia sempat bengong lalu buru-buru menjawab,
"Hah…? A-ah, bisa juga sih! Kamu kelihatan gampang ditipu!"
"Wah kejam. Ya sudah. Untuk sekarang, kasih aku kontakmu ya? Boleh main lagi kan?"
"T-tentu saja. Itu kan milikmu, datang saja kapan pun. Iya, begitu saja."
Seolah meyakinkan dirinya sendiri, dia mengangguk berkali-kali.
"Oh ya, jangan panggil aku Okumura-san lagi. Panggil saja Aina. Atau Ainyan juga boleh…"
"Baiklah, Aina. Kamu juga panggil aku sesukamu."
"Kalau begitu, aku panggil ‘Tatsu-nii’ ya."
"Hah? Tatsu-nii?"
Aku kaget dengan panggilan itu.
"K-kenapa?"
"Aina ini lumayan terkenal sebagai streamer. Kalau sampai salah sebut namamu di live, bisa bahaya. Tapi kalau ‘Tatsu-nii’, bisa dibilang kakak sendiri."
"Ah, masuk akal."
Memang, kalau idol menyebut nama pria lain, fans bisa marah. Kalau keluarga masih aman.
"Kalau begitu Aina, hari ini menyenangkan. Nanti aku hubungi lagi."
"Iya. Kalau kangen Ainyan, datang saja kapan pun."
"Dasar. Yang aku kangen itu Neuro Dive-ku."
Sambil bercanda begitu, aku pulang ke rumah sebelah.
Padahal baru pertama kali ngobrol serius hari ini, tapi rasanya seperti punya teman masa kecil yang akrab. Aku jadi sedikit senang.
◇
"Aina—aku masuk ya—"
"Nihihi, kangen Ainyan ya?"
"Sudah kubilang yang aku kangen itu Neuro Dive."
Sudah seminggu sejak aku bertemu Aina. Aku sering bermain ke kamarnya. Tentu saja tujuannya Neuro Dive. Bukan karena gadis imut bertelinga kucing.
"Nih, pakai saja."
"Itu punyaku ya. Tapi komputernya kupakai ya. Kamu tidak apa-apa?"
"Ainyan mainnya saat kamu tidak ada kok."
Awalnya kami rebutan, tapi sekarang dia sering mengalah. Mungkin dia mulai bosan. Aku sih tidak.
"Baiklah, hari ini main apa ya…"
"Ngomong-ngomong, Nyannyan Paradise baru update."
"Oh ya? Coba saja."
Game pertama yang kumainkan. Namanya memang agak mencurigakan, tapi isinya cuma bermain dengan kucing lucu.
Saat headset dipakai, muncul taman indah. Dulu hanya padang rumput, tapi setelah kumpulkan poin, jadi berkembang.
Begitu mulai, kucing belang tiga langsung datang.
"Mike! Sini sini!"
Aku makin tenggelam dalam game. Rasanya benar-benar nyata.
Kadang 1–2 jam berlalu tanpa terasa. Setelah beberapa saat, muncul kucing langka berbulu panjang, ras Somali.
"Wah! Mari! Akhirnya ketemu!"
Saat aku menyentuh bulunya, rasanya nyata sekali.
"Kamu memang paling imut!"
"…………………………ahn♡"
"Kamu paling lucu. Sering-sering muncul ya!"
"……Nh♡…………………………………nha, lagi♡"
Tapi ada satu masalah. Setiap kucing ini muncul, suara jadi aneh. Mungkin bug. Setelah selesai, aku melepas headset.
"Ah, seru. Jadi ingin pelihara kucing beneran."
"Haa… haa… di apartemen ini tidak boleh pelihara…"
Aina di atas kasur, napasnya berat dan rambutnya berantakan. Setiap aku main, dia selalu begitu.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu selalu kelelahan begitu?"
"Nya!? E-eh… itu…"
Dia ragu.
"Hmm… jangan-jangan kamu lagi latihan fisik?"
"Hah? A-ah iya! Aku kan streamer, harus jaga bentuk tubuh!"
"Wah, berat ya jadi yang ditonton orang."
Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya, tapi beberapa hari kemudian aku tahu kebenarannya. Suatu hari, saat aku bermain seperti biasa, aku sadar ada menu pengaturan.
"Hmm, ada mode transparan ya."
Aku menyalakannya.
"Wah."
Pemandangan game jadi transparan, dan kamar Aina terlihat samar. Mungkin ini untuk keamanan saat bermain di ruangan sempit. Aku juga mematikan noise cancelling.
Aku melihat sekitar—Aina tidak ada. Ternyata dia kembali dari kamar mandi.
Dia duduk di kasur dan menatap layar.
Dia tidak sadar aku mengaktifkan mode transparan.
Aku pura-pura fokus bermain, sambil mengintip dia.
Bukan karena ingin lihat hal aneh.
"Oke Mike! Sini!"
Aku mengelus kucing sambil sesekali melihat Aina. Tapi dia tidak melakukan apa-apa, hanya menatap layar serius.
Saat aku berpikir mungkin dia sadar, kucing langka muncul lagi.
"Wah! Mari! Kamu datang lagi!"
Saat aku menggerakkan tangan untuk mengelus kucing yang kusebut Mari, sesuatu yang aneh terjadi.
Aina mendekatkan kepalanya ke arah tanganku yang sedang hendak menyentuh kucing bernama Mari itu. Karena hampir tersentuh, aku buru-buru menarik tangan.
Apa yang sedang dilakukan Aina? Saat aku sedang bingung dan otakku sempat freeze, Aina memiringkan kepala seolah bertanya "aneh ya?", lalu memeriksa layar game dan sedikit menyesuaikan posisi kepalanya sambil menatap ke arahku. Seperti sedang mengharapkan sesuatu.
Mungkin ini maksudnya? Aku berpura-pura tidak sadar dan tetap mengulurkan tangan ke arah Mari di dalam game.
Di dunia Nyanpara, Mari ada di sana, sedangkan di dunia nyata, kepala Aina yang ada di posisi itu. Aina yang memakai cat ears.
Tangan yang kuulurkan menyentuh kepala Aina. Aina memejamkan mata dan tubuhnya gemetar seolah merasa enak.
"……Nna♡…………………………Nya♡"
".......!"
Noise yang selama ini kukira adalah gangguan game, ternyata adalah suara Aina yang keluar di dunia nyata. Dan sensasi yang kurasakan seolah benar-benar menyentuh, ternyata adalah rambut Aina dan cat ears headband-nya. Meski game-nya sangat immersive, tapi sampai-sampai aku mencampuradukkan sensasi dunia nyata…
Aku gelisah karena sedang menyentuh kepala Aina, tapi sudah telanjur, jadi tidak bisa berhenti. Aku terus berpura-pura tidak sadar sambil mengelus Mari di dunia game dan Aina di dunia nyata secara bersamaan.
"Yo, yooosh yosh! Kamu memang istimewa ya, lucu banget!"
"…Nna♡…………Hebat…………Lebih… elus lagi♡♡♡"
".....!"
Mata Aina yang basah, seolah memohon dan seperti sedang demam gairah. Aku hampir berhenti, tapi berhasil melanjutkan.
"Kamu yang paling nomor satu! Benar-benar lucu sekali!"
"Nha……♡♡♡ Aina, nomor satu? Nna♡♡♡………… Lebih banyak bilang… lucu… lagi♡♡♡"
Suara aneh yang biasanya hanya terdengar seperti noise, sekarang karena noise cancelling dimatikan, terdengar jelas. Suara Aina yang manja dan manis.
Aina yang biasanya sombong itu, sekarang dengan ekspresi melayang dan mengatakan hal-hal manja seperti ini. Secara sederhana, ini terlalu lucu. Gap-nya berbahaya sekali.
Tapi kenapa Aina sengaja mendekatkan diri ke tanganku? Aku kan belum pernah cerita soal experience point…
Sampai di situ aku teringat. Aku memang bodoh. Saat pertama kali bertemu dulu, di dalam kereta aku pernah memegang lengan Aina.
Sejak saat itu, baginya aku adalah ‘orang dengan experience point yang gila’. Dan Aina adalah Dungeon Diver. Mungkin dia memanfaatkan situasi untuk datang mencuri experience point. Atau mungkin… dia datang untuk mendapatkan kenikmatan…
"Nya~n♡"
Sesuai dengan Mari yang menggesekkan kepalanya di dalam Nyanpara, Aina juga menggesekkan tubuhnya ke kakiku. Bahaya, aku sampai ingin mimisan karena terlalu excited.
Setelah itu, dengan mengerahkan seluruh akal sehatku, aku berhasil bertahan sampai Mari menghilang.
◇
Bukankah ini curang?
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil melihat gadis cantik ber-kucing ears yang sedang menikmati VR Circle, dan berpikir begitu.
Di layar terlihat ruang virtual yang dipenuhi oleh avatar gadis ber-kucing ears dan berbagai avatar lain yang mengelilinginya. Sepertinya ini acara semacam VR fan meeting untuk DTuber Aina.
Bukan berarti aku merasa curang karena menggunakan Neuro Dive-ku untuk bersenang-senang. Yang kurasa curang adalah Aina diam-diam (meski sudah ketahuan) menggunakan experience point-ku untuk melakukan hal yang enak dan enak itu.
"Ainyan dasarnya solo loh~. Stealth kan tidak terlalu berguna di party nya~. Kalau teman diserang, tapi diri sendiri sembunyi, itu namanya beli kepuasan dengan cara yang bikin orang cemberut nya"
Dan aku berpikir: Kalau experience point-ku sudah dicuri diam-diam, kenapa tidak saja aku terang-terangan? Kenapa tidak terang-terangan dan sengaja menyentuh Aina? Toh aku tidak melakukan hal yang salah, malah Aina yang salah. Tidak adil kalau hanya aku yang menahan diri.
"Baru-baru ini level juga sudah naik, jadi aku mikir mau coba turun ke lantai yang lebih bawah nya~. Kalau begitu, mungkin live dungeon juga penontonnya bakal bertambah nya~. …Tujuannya? Agak kekanak-kanakan sih nya, tapi ada artefak yang aku inginkan nya. Namanya ‘Hawk Eye’……"
Intinya, Aina yang dengan ekspresi memohon, mendesah, dan mengeluarkan suara aneh itu yang salah. Aina yang mengira tidak ketahuan dan tidak akan dibalas, lalu seenaknya melakukan apa saja itu yang salah. Aina yang hanya mau ambil experience point tanpa balas apa-apa itu yang salah. Aku tidak salah.
Baik, persiapan teori selesai. Waktunya mulai iseng.
Aku memakai VR headset, lalu mengulurkan tangan ke lengan Aina yang sedang duduk di tempat tidur sambil bergerak-gerak dan mengobrol dengan senang.
"Nh~. Memang ada hal berbahaya juga sih nya, tapi kalau hati-hati dan sudah riset musuhnya dengan baik, seharusnya bisa diatasi yuuuuuuuuuuuu♡♡♡♡♡♡♡♡"
Begitu jari ku sentuh pelan lengannya, tubuh Aina langsung meloncat besar.
"Nnnnnnnnn♡♡♡♡♡♡………… Fu, fuu………… Ah, tidak apa-apa tidak apa-apa nya! Hanya… hanya tirai tertiup angin dan menyentuh tengkuk, jadi kaget saja nya!"
Ooh, dia berhasil mengelak dengan baik. Memang pantas jadi VTuber terkenal dengan lebih dari 500 ribu subscriber. Otaknya cepat.
"Ah, selain itu aku juga mau ‘Black Pen of Prophecy’ nya~. Karena sudah punya cat ears, selanjutnya pasti cat tail!"
Aina melanjutkan VR Circle setelah menenangkan diri. Tapi jelas terlihat tubuhnya tegang. Dia sedang bersiap menghadapi seranganku.
Sambil melirik Aina yang sedang waspada, aku sengaja tidak melakukan apa-apa. Ini strategi menggoda.
"Kalau ada ‘Black Pen of Prophecy’, scouting juga jadi jauh lebih mudah nya~. Jadi aku pikir bisa eksplorasi di lantai 130 yang pernah ditemukan Hawk Eye nya~"
Aku membiarkan Aina yang tegang menunggu kapan serangan datang, sambil main-main dengan ponsel. Setelah selesai menonton satu video kompilasi Aina, aku kembali mengulurkan tangan ke arahnya.
"Udah males banget live fighting game nya…… Aku sampai terprovokasi dan melempar controller…… Kemarin pagi-pagi aku sampai keluar beli controller baru nya~!"
Sepertinya topik dungeon sudah selesai, sekarang ganti topik live streaming. Karena aku tidak menyerang sama sekali, dia mulai lengah dan kelihatan seperti sedang mengobrol biasa.
Aku tidak melewatkan kelengahan itu dan menyentuh tangan Aina dengan pelan.
"Baru-baru ini aku pakai Neuro Dive untuk main Nyan Nyan Paradise♡…… nya. Banyak kucing teman, seru banget nya~"
"Oh, dia tahan."
Hanya sedikit tergagap, tapi langsung kembali normal.
"Begini terus, aku jadi ingin jailin dia nih."
Melihat Aina yang sedang berusaha menahan diri, sisi sadis di dalam diriku bangkit. Aku menyentuh Aina dengan ujung jari, kali ini tidak langsung melepaskan.
"Uh♡…… Kamar Ainyan tidak terlalu luas nya♡ Jadi aku tidak terlalu suka main action game yang terlalu keras nya. …Ho♡ Gohon! Kalau ada rekomendasi VR game dari kalian…… tolong kasih tahu nya♡♡♡"
"Yah sial. Ini seru banget."
Aina berusaha mempertahankan suara normal sambil menahan kenikmatan yang mengalir di tubuhnya, dan terus melanjutkan voice chat. Kadang suaranya sedikit kacau, justru itu yang makin bagus.
"He~♡ Ada game seperti itu nya~♡ Ainyan belum pernah coba mancing sih♡ Tapi sedikit mau coba game itu nya♡ Nanti♡ aku cari dan install ya♡"
Aina melanjutkan dengan suara yang meski berusaha menahan kenikmatan, tetap menjadi semakin sensual.
"Heh? Nya, tidak ada apa-apa nya♡ Mungkin… sedikit masuk angin nya♡ Eho♡ Eho♡ Ya, kalau begitu hari ini sampai sini dulu nya, sampai jumpa lagi ya~♡"
Oho. Sepertinya VR Circle akan segera berakhir.
Aina mengoperasikan game sambil tubuhnya gemetar hebat, lalu berhasil logout dengan selamat.
"Nnnnnnnnnyaaaaaaa♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Setelah game selesai, Aina masih memakai headset dan gemetar sebentar. Baru setelah sekitar tiga menit dia melepas headset-nya.
"Capek ya~. Seru?"
Sambil berpikir pasti akan dimarahi, aku bertanya dengan wajah biasa saja. Aina menatapku dengan wajah merah padam, tapi dengan mata yang seolah menantang, lalu berkata:
"Ah~, seru banget~! Maaf ya, terlalu seru sampai aku lupa kalau Tatsuya-nii ada di kamar! Aku mungkin bakal ketagihan VR Circle untuk sementara! Aku ke toilet dulu ya~"
Di luar dugaan, Aina tidak mengatakan apa-apa. Meski pasti sudah sadar, dia berpura-pura tidak tahu sama sekali.
Lagi pula sikapnya seolah sedang memprovokasiku, seolah sedang menantikan iseng dariku.
"…Fufufu, jangan kira semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu, Aina."
Karena sudah berani memprovokasiku, aku akan buat kamu menyesal.
◇
Setelah diprovokasi oleh Aina, aku sengaja menghindari kontak fisik dengan Aina. Baik saat Aina sedang bermain VR Circle, maupun saat aku sedang bermain Nyanpara.
Aku menyalakan fitur screen transparency, dan berhati-hati agar tidak menyentuhnya sama sekali meski Aina mendekat. Saat melihat wajah Aina yang menatap ke atas dengan pandangan penuh kerinduan, aku merasa sangat bersalah, tapi yang memprovokasi duluan adalah dia. Jadi aku mengeraskan hati dan terus menghindarinya.
Suatu hari, setelah hari-hari seperti itu berlanjut,
"Fu, fuwaa~. Entah kenapa hari ini aku sangat mengantuk~. Mungkin kecapekan ya~? Maaf ya Tatsuya-nii, kamu baru saja datang, tapi Ainyan mau tidur dulu~. Ainyan tidurnya sangat nyenyak, jadi mungkin apa pun yang dilakukan aku tidak akan bangun, tapi tolong jangan lakukan apa-apa ya?"
Aina mengucapkan kata-kata godaan yang sangat jelas, lalu berbaring di tempat tidur.
"Mm~? Aku sih tidak percaya Tatsuya-nii bisa macam-macam sama cewek~. Kamu kan cupu~. Ah, iya. Boleh kok main VR game yang mesum~. Tapi jangan bikin kamar Ainyan bau aneh ya~? Kusukusu."
Sangat terang-terangan. Terlalu terang-terangan. Tapi provokasi seperti itu tidak akan mempan padaku.
"Aku tidak akan lakukan. Lagi pula kalau kamu capek, aku pulang saja ya? Maaf, aku tidak sadar."
Aku mundur. Kalau aku melawan provokasi Aina dengan menyerang, aku akan berada di telapak tangannya. Jadi aku harus mundur.
"Ah, ya, tidak apa-apa main saja. A- Ainyan tidurnya suuuper nyenyak loh! Apa pun yang dilakukan aku tidak akan bangun!"
"Begitu ya. Terima kasih sudah memikirkan aku. Kalau aku pulang dan kamu masih tidur, aku kunci pintu dari luar dan masukkan kuncinya lewat kotak surat ya."
"Eh, u, ya. Terima kasih. Aku… agak sesak, jadi aku longgarkan baju dulu~"
Dengan gerakan berlebihan, Aina menggeliat sambil "u~n" dan membuka sekitar tiga kancing jaketnya. Aku pura-pura tidak tertarik dan terus memainkan ponsel. Seluruh sarafku difokuskan ke penglihatan pinggir, tapi aku tidak menatap langsung.
"Faa~. Munya munya. Selamat tidur~ Tatsuya-nii♡"
Dengan suara manja, Aina "tidur". Yah, sepertinya hanya pura-pura tidur.
Beberapa menit kemudian aku melihat Aina di atas tempat tidur. Dia tidur menyamping dengan wajah menghadap ke arahku, dada agak terbuka, dan kaki putih yang terlihat dari bawah rok terlihat sangat menggoda.
Sesekali dengan suara menggelisahkan,
"………N♡…………Ah………Nnu♡"
Dia mengigau seperti itu.
Aduh, betapa genitnya. Betapa dibuat-buatnya.
Ini konyol. Benar-benar konyol. Hanya orang yang tidak punya pacar seumur hidupnya, yaitu umur sama dengan masa lajangnya, yang frustrasi dan otaku gelap yang bisa tergoda oleh godaan seterbuka ini.
…Artinya itu aku dong!! Critical hit untuk Mura Tatsuya oooh!!
Bahaya. Bahaya sekali. Daya rusaknya bahaya. Aku sudah mulai bergairah. "Mura" saja artinya bergairah (dalam bahasa Jepang).
Eh? Katanya tidurnya nyenyak jadi apa pun yang dilakukan tidak akan bangun kan? Apa pun yang dilakukan tidak akan bangun kaaan!?
Tubuhku yang hampir meloncat sambil berteriak "A~iina-chan!" kutahan dengan sekuat tenaga, lalu aku berpikir dengan tenang.
Kalau aku menyentuh sekarang, aku kalah. Aina mungkin sedang pura-pura tidur, dan begitu aku menyentuh, dia akan membuka mata dan bilang,
"Arere~? Tatsuya-nii ternyata mau macam-macam sama cewek yang sedang tidur? Terburuk. Manusia sampah. Pasti selama ini saat aku main, kamu diam-diam foto atau sentuh-sentuh kan? Pukusukusu, cowok cupu otaku yang frustrasi itu menjijikkan. Le~mah♡ Le~mah♡"
Pasti dia akan memprovokasiku seperti itu. Itu penghinaan. Penghinaan yang tak tertahankan.
Kalau hati tenang, nafsu birahi juga akan menjadi emosional. Ya, ini bukan erotis, ini seni. Tidak masalah. Tenanglah, Excalibur-ku. Buang nafsu dengan pose zazen.
Tapi, seolah mengejekku, Aina berguling.
"N~~u♡"
E, erotis sekali!!
Lace bra yang terlihat dari kerah yang terbuka! Dada yang menggembung! Tulang selangka yang indah! Rok hampir terangkat sepenuhnya, paha putihnya terpampang tanpa malu-malu!
Disergap dorongan yang tak tertahankan, aku mengulurkan tangan ke arah Aina.
Saat hampir menyentuh pipi Aina, aku berhasil menahan diri. Aku mengusir godaan setan kecil kucing yang ingin menjebakku ke dalam perangkap erotis, lalu meraih selimut di seberang tubuh Aina. Dengan menggigit gigi, aku menutupkan selimut ke tubuh Aina. Iblis mesum, tersegel. Kalau tidak terlihat, tidak masalah.
Ini adalah awal serangan balikku. Aku mengabaikan Aina, main ponsel sebentar, lalu menguap.
"Fuaa…… Entah kenapa aku juga jadi mengantuk…… Aku tidur sebentar ya."
Ini adalah counter pura-pura tidur. Ini adalah kompetisi ketahanan di mana yang lebih dulu menyerah dan bertindak duluan yang kalah. Aku duduk di lantai, bersandar ke tempat tidur tempat Aina tidur, dan menundukkan kepala.
Setelah pura-pura tidur sekitar sepuluh menit, terdengar suara gesekan kain di belakang. Sepertinya Aina bangun. Fufufu, sudah tidak tahan ya? Dasar gadis rakus ini.
Sambil memejamkan mata dan tersenyum dalam hati, Aina melakukan aksi di luar dugaan.
"…Ne, Tatsuya-nii. Kamu benar-benar tidur?"
Aina tidak menyentuh kulitku langsung, tapi menepuk-nepuk bahuku pelan.
"Sebenarnya kamu bangun kan? Ne, Tatsuya-nii?"
"……"
Puk. Puk. Aina menepuk punggungku yang sedang pura-pura tidur dengan wajah penuh kerinduan. Tapi aku terus pura-pura tidur.
"Tatsuya-nii…"
Setelah diabaikan cukup lama, Aina menjadi diam. Lalu…
"Fue…… hika……"
D-dia menangis!? Situasi di luar dugaan membuatku panik di dalam hati, tapi aku tidak bisa mengangkat wajah sekarang, jadi aku bertahan diam.
"A, Ainyan… apakah… pesonaku tidak ada ya…… Karena kekanak-kanakan, jadi tidak bagus ya…… Ta, Tatsuya-nii pasti lebih suka tipe cewek gyaru yang pernah dibawa ke sini dulu ya…… Fueee……"
Tangan kecil yang diletakkan pelan di bahuku sedang gemetar. Aku ingin segera berbalik dan memeluknya.
"Ma, maaf ya, Tatsuya-nii…… Ainyan kekanak-kanakan…… Seandainya tetangga yang lebih dewasa, lembut, dan cantik pasti lebih baik ya…… Maaf, maaf…… Maaf karena Ainyan……"
Aina menangis sambil meminta maaf sebentar, lalu sepertinya kelelahan dan tertidur, karena terdengar napas tidur "suu suu".
"Apa yang sedang kulakukan pada gadis yang lebih muda ini ya…"
Sengaja bersikeras dan membuat cewek menangis. Makanya cowok otaku itu jelek.
Aku menggaruk kepala kasar, lalu berdiri dan duduk bersila di samping Aina yang sedang tidur menghadap dinding. Bahu kecil yang naik turun secara teratur.
"Aina. Kamu itu gadis yang menarik loh. Sudah pasti. Hanya aku yang cupu, pengecut, dan bodoh."
Aku menyentuh lengan Aina yang sedang tidur dengan lembut menggunakan tangan kiri.
"……………………Nnu♡"
"Ada gadis secantik dan selucu ini, mana ada yang tidak mau menyentuh. Kecuali cowok cupu otaku. Jadi Aina tidak perlu terluka, dan tidak perlu menangis."
"……………………Nha♡……………………Ah♡"
Dengan tangan kanan, aku mengelus kepala Aina pelan. Dia menggeliat lucu seolah kegelian.
"Padahal kamu sudah lama sadar dengan kondisiku, tapi tetap berpura-pura tidak tahu dan tetap mendekat, terima kasih ya. Aina benar-benar gadis yang baik."
"Aan♡………An♡…………………………Nnnnn♡♡♡♡♡"
Tubuh Aina meloncat kecil, tapi tangan kiriku yang memegang tidak kulepaskan.
"Ta, tatsu…………Tatsuya-nii♡♡♡……………………Ta, Tatsuya-niiii♡♡♡♡♡"
Sambil menyerahkan diri pada kenikmatan, Aina bergerak gelisah, berguling, lalu menatap ke arahku.
Wajahnya basah oleh air mata, pipinya merah, dan ekspresinya seolah memohon… bukan.
Dia sedang tersenyum. Dengan senyum jahat. Begitu melihat wajah itu, aku langsung mengerti. Semua itu akting!
"Aina, sialan!!"
"Nihihihi♡……… Ta, Tatsuya-nii♡………… Ne, sama cewek yang sedang tidur♡♡……………… Mau macam-macam ya♡♡………… Naaaa♡♡♡♡♡"
Meski lengannya dicekal dan diserang kenikmatan, Aina tidak melepas senyum jahatnya.
"Terburuk♡…… Tatsuya-nii terburuk ya~♡…… Se, selama ini juga♡………… Diam-diam sama Ainyan♡…… Sentuh-sentuh kan♡…… Ka, kamu lakukan kan~? ♡♡"
"Ti, tidak lakukan!"
"Tidak percaya~♡♡♡ Soalnya sekarang juga masih memegang lengan loh♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ A, a, ah♡♡♡♡♡♡♡"
"Soalnya Aina yang bilang hal aneh! Kamu kelihatan kesepian dan menangis!"
"Ainyan tidak bilang apa-apa loh♡♡♡♡♡ Soalnya♡♡♡♡♡♡ Ainyan tidur terus loh~♡♡♡♡♡♡♡ Nna♡♡♡♡♡♡♡"
"Si, sial! Aina! Ainaa!!"
Aku tidak bisa membalas apa-apa. Karena kesal, aku mencengkeram pergelangan tangan Aina dengan tangan kanan kuat-kuat. Aina yang dicekal dengan dua tangan menggeliat hebat, tapi senyum provokatif dan jahatnya tidak hilang.
"Nyaaaaaa♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Ke, kejam sekali♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii♡♡♡ Marah-marah♡♡♡♡♡♡♡♡ Lalu memaksa ya♡♡♡♡ Terburuk♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Sampah, sampah♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
※Tatsuya hanya memegang pergelangan tangan Aina.
Seharusnya aku yang sedang menyerang, tapi hatiku penuh rasa kalah. Melihat wajahku yang berkerut karena kesal, Aina semakin memperdalam senyumnya.
"Se, segini saja sudah cukup loh♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Hanya bisa pegang tangan doang ya? ♡♡♡♡♡♡♡ Ta, Tatsuya-nii cupu♡♡♡ Pengecut♡♡♡♡♡♡♡"
"Aina!! Sial, rasakan ini!!"
Karena putus asa, aku memasukkan jariku ke mulut Aina yang lucu. Bagian dalam bibir adalah selaput lendir. Jumlah experience point yang mengalir akan lebih banyak.
"N, n, n, nuuuuuuuuu♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Terburuk♡♡♡♡ Tatsuya-nii mesum♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Otaku frustrasi♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Si, sialaaaaan!!"
Akhirnya setelah itu pun Aina tidak menyerah, terus berkata dengan mulut sombong, dan baru diam setelah kehilangan kesadaran karena kenikmatan.
◇
"Tatsuya-nii~. Kasih experience point! ……Ann♡"
"Kamu ini ya……"
Sejak mengalami kekalahan yang memalukan dari Aina, Aina jadi tidak ragu-ragu lagi menyentuhku. Baik saat aku sedang bermain VR game, maupun saat Aina sendiri sedang bermain VR Circle, dia malah yang mendekat dan menyentuhku duluan.
Akhir-akhir ini dia bahkan sering menggodaku sambil mengabaikan Neuro Dive.
"Sedikit pun tidak ada rasa sungkan ya kamu?"
"Eh~? ♡ Soalnya experience point Tatsuya-nii kan gila banget ya~? ♡ Nhaa♡♡♡ Nggak perlu pelit-pelit lagi dong~♡♡♡♡♡"
Aina memeluk lenganku erat-erat sambil menatapku dengan senyum lebar yang nakal. Meski kesal, tapi dia lucu sekali.
"Lagi pula♡ cewek gal itu juga sudah lama tidak datang lagi~♡ Pasti ditolak kan~? ♡ Kasihan sekali Tatsuya-nii♡♡♡ Biar Ainyan yang menghibur ya♡♡♡♡♡"
"…Bukan ditolak kok."
Begitu aku menjawab, ekspresi Aina langsung berubah gelisah dan dia melepaskan tangannya.
"Eh, a, ehm… Mungkin… kalian masih pacaran…?"
"Bukan. Dari awal memang tidak pernah pacaran."
"…Heh? Ah, i-iya dong~! Meski experience point-nya banyak, cowok cupu seperti Tatsuya-nii mana mungkin bisa pacaran sama cewek gal secantik itu~! Kasihan~! Ainyan yang akan menghibur ya~♡"
"Kenapa kamu kelihatan senang sekali sih…"
Aina langsung tersenyum lebar dan langsung memelukku erat. Aku benar-benar sedang dijadikan mainan.
"Ah♡♡♡ Bahaya♡♡♡ Meski cuma Tatsuya-nii♡♡♡♡♡♡♡ Meski cuma Tatsuya-nii♡♡♡♡ Nnnnnnn ♡♡♡♡♡♡♡♡"
Setelah puas mengisap experience point cukup lama, akhirnya Aina melepaskan diri dariku.
"Haa~♡ Haa~♡ Experience point Tatsuya-nii benar-benar gila♡ Level up selesai nya~ Nihihihi~"
Meski napasnya masih kasar, Aina sengaja memasang pose imut genit di akhir, lalu "bop" berbaring di tempat tidur.
"Ne, Aina. Kenapa kamu ingin naik level sebanyak itu?"
"Nh~? Naik level itu hal biasa bagi Dungeon Diver kan?"
"Bukan, dulu kamu pernah bilang tujuanmu adalah mendapatkan artefak bernama ‘Hawk Eye’ atau apa itu. Aku penasaran untuk apa."
"Eh, aku pernah cerita ke Tatsuya-nii ya?"
"Aku mendengarnya saat kamu bermain VR Circle."
"Ah~… Waktu Ainyan lagi VR Circle dan Tatsuya-nii datang sentuh-sentuh mesum ya?"
"Jangan bilang sentuh-sentuh mesum."
Kalau dipikir secara tenang, menyentuh kulit gadis saat dia sedang VR Circle itu sebenarnya cukup berbahaya ya…
"Bukan cerita yang istimewa kok. Ainyan punya adik kembar bernama Sana, tapi sejak lahir dia tidak bisa melihat."
"…"
Tiba-tiba topik menjadi berat, aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya diam.
"Sejak kecil, hanya Ainyan yang bisa melihat, Sana tidak. Ayah, ibu, dan Sana sendiri selalu bilang ‘Aina tidak salah apa-apa’, tapi aku tetap tidak bisa berpikir begitu. Aku selalu berpikir, setidaknya kalau aku bisa memberikan salah satu mataku ke Sana. Kenapa waktu masih di perut ibu, aku tidak memberikan setidaknya satu mata ke Sana. Aku anak yang jahat ya."
"B-bukan begitu! Hanya karena kamu bisa berpikir seperti itu saja, Aina sudah anak yang baik dan penyayang!"
Tanpa sadar aku berteriak dengan suara keras. Aina menatapku dengan terkejut, lalu tersenyum pahit. Bukan senyum jahat seperti biasa, melainkan senyum yang agak kesepian dan rapuh.
"Nihihi, Tatsuya-nii baik sekali ya. Tidak apa-apa, aku sudah mengerti kok. Ainyan sudah bukan anak kecil lagi."
Aina melepas cat ears headband yang selalu dipakainya, memainkannya dengan jari, lalu melanjutkan.
"Saat SMP kelas satu, aku tahu bahwa di dungeon ada benda yang disebut artefak. Ngomong-ngomong, cat ears ini juga artefak yang cukup langka lho? Pendengaran jadi lebih kuat."
Ternyata bukan sekadar hiasan biasa.
"Lalu, artefak bernama ‘Hawk Eye’ itu, kalau dipakai bisa ‘melihat’ dan memahami segala sesuatu dalam radius sekitar satu kilometer di sekitar pemakainya. Bukan benar-benar melihat dengan mata, tapi tetap bisa ‘melihat’."
"Jadi kamu nekat masuk dungeon meski berbahaya, demi adikmu…"
"Bukan demi Sana. Demi Ainyan sendiri. Aku ingin melihat wajah Sana yang senang, dan ingin menebus dosa karena telah ‘mencuri’ matanya. Ayah, ibu, dan Sana semua memohon agar aku tidak jadi Dungeon Diver karena berbahaya. Makanya aku berbohong bilang ingin sekolah di Tokyo, membebani ayah dan ibu, membuat Sana kesepian, lalu hidup sendirian sambil diam-diam jadi Dungeon Diver. Jadi Ainyan itu anak yang sangat jahat nya♪"
Aina memasang kembali cat ears headband, memaksakan senyum biasanya, lalu bercanda dengan pose kucing.
Aina yang kukira hanya gadis sombong biasa, ternyata jauh lebih bijaksana dan pekerja keras daripada aku. Aku menatapnya dengan wajah serius dan berkata:
"Aku akan membantu. Kalau experience point-ku bisa berguna, aku akan berikan kapan saja ke Aina. Makanya, kita pasti akan mendapatkan ‘Hawk Eye’."
Begitu aku berkata begitu, wajah Aina sedikit seperti mau menangis.
"Tatsuya-nii… meski cupu, tapi baik sekali ya…"
Setelah menunduk sebentar, Aina mengangkat wajahnya dan kembali dengan senyum jahat seperti biasa.
"Bilang begitu, padahal sebenarnya hanya ingin sentuh-sentuh Ainyan yang lucu ini kan~?"
Aina berusaha mengakhiri suasana yang lembab itu. Aku ikut saja. Senyum jahat lebih cocok untuk Aina daripada senyum rapuh.
"…Sepertinya kucing sombong ini perlu dihukum ya!?"
Aku mencubit kedua pipi Aina dengan kedua tangan. Aku remas-remas yang lembut itu. Enak sekali disentuh.
"Aaan♡♡♡…… Nihihi♡♡♡ Di situ malah tidak berani sentuh tempat aneh-aneh♡♡♡♡♡ Itu bukti Tatsuya-nii cupu kan~♡♡♡♡♡♡ lemah, pecundang♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Naaaa♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii cupu♡♡♡♡♡♡♡"
"Siapa yang pecundang, hah!"
"Nihihihihi♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Ne, ne♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii~? ♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Apaan!"
"Uhihihi♡♡♡♡♡♡ A, aan♡♡♡♡♡♡♡♡ Te, terima kasih ya♡♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Aku berpura-pura tidak mendengar ucapan terima kasih Aina.
Karena ini bukan untuk Aina, melainkan karena aku sendiri yang ingin menyentuhnya. Jadi tidak perlu berterima kasih sama sekali.
◇
"Tatsuya-nii…… Tolong……"
Beberapa hari setelah mengetahui keadaan Aina dan mulai secara aktif saling berbagi pengalaman, pada suatu hari ketika aku seperti biasa pergi bermain ke kamar Aina, dia memintaku tolong sambil menangis.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, tapi Aina—yang itu—bukan sedang berpura-pura, melainkan benar-benar memasang ekspresi putus asa dan meminta bantuan. Ini jelas bukan hal sepele.
"Apa pun yang bisa kulakukan, pasti akan kulakukan. Ada apa?"
"Itu... Ainyan itu..."
Aina menunjukkan layar ponselnya sambil wajahnya terdistorsi.
"Aku... kena hujatan besar..."
"...Hah?"
Isi konsultasi yang Aina sampaikan benar-benar di luar dugaan.
"Eh... maksudnya bukan rumahmu kebakaran, kan...?"
"...Iya"
"Yang kayak waktu orang terkenal selingkuh lalu dihujat habis-habisan itu?"
"...Iya"
"Atau kayak karyawan restoran yang bikin ulah bodoh lalu disebar di internet?"
"Sudah kubilang itu! Pokoknya lihat saja layar ponselnya!"
"O-oh"
Aina dengan kesal menyodorkan ponselnya tepat di depan wajahku. Saat aku menurut dan melihatnya, yang tampil adalah kolom balasan dari sebuah layanan jejaring sosial besar.
Banyak sekali balasan yang ditujukan pada postingan Aina yang sebenarnya biasa saja. Isinya kebanyakan seperti ini:
[Murahan]
[Cewek gampangan]
[Jangan upload video, perempuan kotor]
[Sok jadi idol padahal jelek]
[Pelacur]
[Mati saja]
Semua dipenuhi hinaan tingkat rendah seperti yang mungkin diucapkan anak laki-laki SMP. Dan bahkan saat aku melihatnya, notifikasi terus berdatangan. Mungkin masih terus ditulis.
Saat pertama mendengar kata "viral negatif", kupikir cuma hal sepele, tapi ini benar-benar parah. Bagi Aina yang hanya seorang gadis biasa, ini pasti sangat menyakitkan.
"Kenapa bisa jadi seperti ini...?"
"Waktu aku upload video eksplorasi dungeon kemarin, aku pakai banyak skill yang sebelumnya belum pernah kupakai, dan statusku juga naik drastis. Lalu ada yang nulis, 'Nggak mungkin jadi sekuat ini dalam waktu singkat cuma dengan masuk dungeon. Ainyan pasti tidur dengan banyak pria, dasar cewek murahan.' Terus dari situ makin membesar..."
Sepertinya penyebab utamanya adalah peningkatan level besar-besaran yang berasal dari pengalaman dariku.
"Sebenarnya... kalau cuma aku yang dihina, tidak apa-apa..."
Aina meneteskan air mata sambil menggulir layar dengan suara bergetar.
"Tapi kalau sampai Sana juga dihina... aku tidak bisa terima, aku tidak kuat..."
Balasan yang diperlihatkan dipenuhi kata-kata tak berperasaan seperti, "Pasti adiknya juga jual badan bareng kakaknya," atau "Adik sampah yang nunggu artefak dari kakaknya yang jual tubuh, dan kakak murahan yang dengan senang hati menjual diri."
Kenapa mereka bisa menulis hal sekejam ini? Aku mengepalkan tangan kuat karena marah.
"Ini keterlaluan... keterlaluan sekali..."
"Ainyan dan Sanya tidak melakukan apa-apa yang salah, kenapa kami harus dibilang seperti ini...? Kami cuma berusaha sebaik mungkin. Sanya cuma berusaha menjalani hidupnya... Ah! Lagi-lagi menghina Sanya! Berhenti! Kalian tahu apa tentang Sanya!? Kami melakukan apa!? Siapa kalian sampai berhak berkata seperti itu!?"
Aina berteriak ke arah layar ponselnya sambil menangis. Aku merebut ponselnya dan melemparkannya ke atas ranjang, lalu memeluk Aina erat.
"Jangan lihat! Jangan anggap serius kata-kata pengecut yang menghina dari balik kerumunan!"
"Tapi... tapi... semua orang..."
"Semua orang itu siapa!? Apa Aina kenal wajah mereka!? Tahu nama mereka!?"
"Itu..."
"Jangan terima kata-kata dari orang yang bahkan tidak kau kenal nama dan wajahnya! Lihat aku, lihat aku, Aina!"
Aku memegang bahunya dan menatap matanya dengan serius.
"...Ah"
"Aku ini siapa?"
"T-Ta... Tatsu-nii..."
"Bagi Aina, aku ini apa?"
"...Orang yang... penting... t-teman."
"Puluhan ribu orang tak dikenal di SNS, atau aku seorang. Mana yang lebih bisa dipercaya?"
"...Tatsu-nii"
"Tatsu-nii bilang, ya. Aina sudah berusaha. Sana-san anak yang baik. Kalian berdua tidak salah apa-apa. Mengerti?"
"...Iya."
"Jangan anggap serius pendapat sampah di SNS. Mengerti?"
"...Iya."
"Bagus. Duduk saja di ranjang dan tenangkan diri."
Aina yang akhirnya mulai tenang kududukkan di ranjang, lalu kupastikan dia tidak melihat ponselnya dengan mematikannya dan memasukkannya ke sakuku.
Aina hanya menatap kosong ke udara, diam, entah memikirkan apa.
Untuk sementara, aku pergi ke dapur untuk membuat sesuatu yang menenangkan, lalu membuat cokelat panas. Saat kubawa dan kuberikan padanya, dia tampak sudah jauh lebih tenang.
"Nih, cokelat panas. Pelan-pelan saja minumnya, masih panas."
"...Iya, terima kasih."
Aina menempelkan bibirnya ke cangkir, meneguk sedikit, lalu menghela napas panjang.
"Enak..."
"Syukurlah"
Aina perlahan menghabiskan cokelatnya, lalu setelah beberapa saat membuka mulutnya.
"Terima kasih, Tatsu-nii. Ainyan tadi panik"
"Ya, tidak bisa dihindari. Siapa pun pasti akan panik dan merasa muak. Tapi ke depannya bagaimana? Kalau cuma jadi dungeon diver, sebenarnya tidak perlu terus upload video, kan?"
Mendengar saranku, Aina menggeleng.
"Ainyan itu dungeon diver yang solo dan fokus ke pengumpulan, jadi tidak efisien. Kalau cuma mengandalkan penghasilan dari dungeon saja, tidak cukup. Kalau mau lanjut jadi dungeon diver, upload video itu wajib."
"Begitu ya. Tapi kalau terus seperti ini, bakal sulit dilanjutkan."
Mendengar ini pun, Aina kembali menggeleng.
"Nggak. Justru kalau lagi viral, artinya banyak yang memperhatikan. Penghasilan dari video mungkin malah naik. Tapi..."
"Tapi bakal terus dihina, kan? Itu tidak bisa ditahan."
"Tidak apa-apa. Ainyan akan mencoba menahannya."
"Aku yang tidak bisa menahan. Aina itu sudah seperti adikku."
Saat disebut adik, Aina menunjukkan ekspresi rumit—senang sekaligus sedikit kecewa.
"Tapi... tidak ada yang bisa dilakukan."
"Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan. Sekarang memang belum terpikirkan, tapi aku akan coba pikirkan. Beri aku sedikit waktu."
"Mm. Terima kasih, Tatsu-nii. Ainyan juga akan coba memikirkan sesuatu."
Saat Aina berdiri hendak menyalakan komputer, aku menahan bahunya dan mendudukkannya kembali di ranjang.
"Tatsu-nii?"
"Untuk soal ini, Aina tidak perlu memikirkan apa-apa. Untuk sekarang, lupakan SNS dan dungeon, istirahat saja dulu. Oh iya, katanya Nyapara 2 sudah rilis."
Aku menunjuk ke perangkat Neuron Dive yang ada di samping mejanya.
"...Tatsu-nii memang baik ya."
Dengan mata yang masih basah, Aina tersenyum ke arahku. Senyum jujur yang belum pernah kulihat sebelumnya membuat jantungku berdebar, dan aku buru-buru mengalihkan pandangan.
"...Meskipun begitu, aku juga belum punya solusi sih!"
"Nahaha, aku tidak akan berharap banyak sambil menunggu"
Aku tidak ingin melihat senyum Aina tertutup lagi. Apa pun caranya, aku harus menemukan solusi.
◇
Meskipun aku sudah berlagak besar di depan Aina, tapi ide bagus tidak mungkin muncul begitu saja.
Aku mencari di internet dengan kata kunci "cara memadamkan kasus viral", tapi yang muncul justru saran seperti "kurangi penggunaan SNS" atau "jangan meminta maaf", yang intinya hanya menunggu waktu menyelesaikan semuanya.
"Mura-kun. Mura-kun, kamu mendengar?"
Aku ingin secepat mungkin membuktikan bahwa Aina tidak bersalah, tapi tidak ada satu pun metode yang efektif. Entah kenapa aku malah membuka situs tentang cara memadamkan api secara fisik, dan jadi punya pengetahuan sia-sia tentang kebakaran. Ternyata kalau minyak goreng terbakar, jangan pakai handuk basah. Yah, mungkin tidak sepenuhnya sia-sia. Bisa berguna kalau suatu saat dibutuhkan.
"Mura-kuuun. Mura Tatsuya-kuuun?"
Ada juga yang bilang masukkan mayones ke minyak yang sedang terbakar, tapi itu malah berbahaya. Minyak panas akan menyembur ke segala arah, meningkatkan risiko kebakaran dan luka bakar. Bukan, ini bukan soal memadamkan api fisik, aku harus memikirkan kasus viral Aina…
"Mura Tatsuya-kun! Berdiri!"
"A, eh, ya!?"
Suara tajam yang memanggil namaku membuatku tersentak dan langsung berdiri. Saat menoleh ke arah depan, Honoka-san sedang menatapku dengan wajah kesal.
"Mura-kun. Meskipun Pendidikan Kesehatan adalah mata pelajaran tambahan, ini sangat penting bagi kalian semua. Tolong dengarkan pelajaran dengan baik ya. Lanjutkan, bisakah kamu baca?"
"A, ehm…"
Aku buru-buru membuka buku pelajaran yang sebenarnya belum kubuka.
"Mura-kun. Halaman empat puluh delapan. Dari paragraf kedua."
Sakakibara membantuku dengan berbisik dari belakang. Memang teman adalah harta yang berharga.
"Makasih. Ehm… ‘Memasuki masa pubertas, seiring pertumbuhan tubuh, sekresi hormon menjadi aktif, dan hasrat seksual (libido) akan meningkat. Terutama pada pria, hormon testosteron sangat berpengaruh. Pada masa ini, hasrat seksual mudah meningkat tanpa hubungan dengan kehendak sendiri, dan fenomena seperti ereksi atau ejakulasi dapat terjadi secara alami. Ini adalah bagian dari fungsi tubuh yang sehat dan bukan hal yang abnormal.’"
"Ya, sampai situ saja."
Berkat Sakakibara aku berhasil lolos, lalu duduk kembali. Saat aku menoleh untuk berterima kasih lagi, dia sedang memegang perut sambil menahan tawa sekuat tenaga. Teman-teman sekelas lain juga ikut terkikik.
"Semua, jangan tertawa. Ini benar-benar hal yang penting. Tapi Mura-kun, sekarang sedang pelajaran tentang pengaruh merokok terhadap kesehatan dan ketergantungan. Setelah ini Mura-kun datang ke ruang kesehatan ya."
"…Baik."
Aku memukul kepala Sakakibara yang masih terus terkikik. Memang teman yang harus dimiliki adalah teman yang baik, bukan teman dengan kepribadian buruk seperti ini. Lebih baik kubuang saja.
Setelah itu aku mengikuti pelajaran dengan baik. Begitu bel istirahat keempat berbunyi, aku mengikuti Honoka-san menuju ruang kesehatan. Dulu kami rekan kerja paruh waktu, sekarang hubungannya guru dan murid. Rasanya aneh sekali.
"Jadi, ada apa?"
Begitu duduk di kursi ruang kesehatan, Honoka-san langsung bertanya dengan wajah khawatir.
"Ehm, bukan karena aku tidak mendengarkan pelajaran dengan serius kan?"
Saat aku balik bertanya, Honoka-san menghela napas kecil dan tersenyum tipis.
"Aku tahu Tatsuya-kun itu anak baik. Pasti ada sesuatu yang membuatmu melamun kan? Kalau tidak keberatan, aku mau mendengarkan ceritamu. Kalau aku boleh membantu, ceritakan saja."
Sepertinya dia mau mendengarkan bukan sebagai guru dan murid, melainkan sebagai Honoka-san dan aku. Kebaikan hatinya membuatku senang.
"Terima kasih. Ini bukan tentang diriku sendiri, tapi…"
Aku menjelaskan situasinya secara singkat. Bahwa aku punya teman yang menjadi DTuber. Dia berusaha keras demi adik perempuannya yang tidak bisa melihat. Baru-baru ini levelnya naik dengan sangat cepat. Dan sekarang dia sedang viral negatif di SNS.
"…Begitu ya. Ini masalah yang sulit. Untuk sementara, sepertinya anak itu sebaiknya menghindari SNS dan upload video dulu."
"Ya, sudah kukatakan itu padanya."
"Sekadar bertanya, apakah kenaikan level yang sangat cepat itu berkat Ta… Murata-san?"
"Murata-san…? Ah, ya, benar."
Hampir saja. Begitu mendengar "Murata-san", aku sempat bingung sebentar.
Mendengar jawabanku, Honoka-san menampilkan ekspresi campuran antara kecewa dan senang, lalu bergumam pelan.
"Benar-benar anak yang baik."
"Mungkin dia hanya orang mesum yang ingin menyentuh cewek saja?"
Karena reputasi Murata-san sepertinya akan naik, aku sengaja menurunkan citranya.
"Aduh, jangan bercanda seperti itu. Hmm… Intinya, kita harus membuktikan bahwa level bisa naik tanpa melakukan hal mesum, kan?"
"Benar. Kalau bisa melakukannya, itu bagus."
"Ada resikonya juga, jadi aku tidak bisa merekomendasikan dengan ringan… Tatsuya-kun tahu alat ‘Pengukur Tingkat Kemampuan Penjelajah Bawah Tanah Presisi Tipe Kontak’?"
Apa?
"Pengukur Tingkat… ehm, apa itu?"
"Pengukur Tingkat Kemampuan Penjelajah Bawah Tanah Presisi Tipe Kontak. Lebih mudahnya, alat pengukur level."
Kalau begitu sejak awal bilang pengukur level saja.
"Untuk apa mengukur level?"
"Alat itu bisa mengukur level secara real-time sampai dua angka di belakang koma. Jadi, sambil mengukur level anak itu, kalau dia berpegangan tangan dengan Murata-san, kita bisa membuktikan bahwa banyak experience point bisa ditransfer tanpa harus berhubungan seks. Kalau dia DTuber, melakukan itu lewat live streaming pasti tidak akan ada yang meragukan."
"Begitu ya…"
Memang metode yang diusulkan Honoka-san sepertinya bisa membuktikan bahwa Aina tidak bersalah.
"Tapi ada dua kekurangan yang langsung terpikirkan. Pertama, anak itu akan mendapat beban yang cukup berat. Aku pernah disentuh Murata-san, jadi aku tahu… ehm… itu… menahan kenikmatan itu… sangat… berat."
Honoka-san berkata dengan agak kesulitan sambil pipinya memerah. Lucu sekali.
"Kedua, identitas Murata-san bisa ketahuan. Kemungkinan besar Murata-san adalah orang yang sangat baik, jadi dia pasti mau melakukannya demi anak DTuber itu. Tapi kalau identitasnya terbongkar, dia tidak bisa lagi menjalani kehidupan seperti biasa. Kalau dia sudah punya keluarga, bisa saja dipisahkan. Kalau dia pelajar, dia mungkin tidak bisa lagi sekolah di tempat sekarang."
Honoka-san menatapku dengan mata serius.
"Makanya, tolong pikirkan dengan sungguh-sungguh. Ini bukan hanya tentang Murata-san sendiri. Termasuk orang-orang yang menyayangi Murata-san. Apakah benar-benar perlu mengambil resiko demi anak DTuber itu, tolong dipikirkan baik-baik."
"Aku akan melakukannya. Murata-san akan melakukannya."
Aku langsung menjawab.
"Aku cukup mengenal Murata-san. Dia orang yang serakah. Dia pasti tidak akan pernah meninggalkan anak yang sudah dekat dengannya."
Begitu aku berkata begitu, Honoka-san menghela napas seperti menyerah.
"…Begitu ya. Yah, memang begitu. Aku sudah menduga."
Honoka-san bergumam kecil lalu melanjutkan.
"Kalau begitu, tolong sampaikan ke Murata-san. Kalau melakukan live streaming, jangan pernah lakukan di kamar sendiri atau tempat dekat. Lebih baik sewa satu kamar di hotel besar yang biasa saja. Intinya, lakukan segala cara agar identitas Murata-san tidak ketahuan. Mengerti?"
"Ya, akan kusampaikan."
Berkat Honoka-san, aku sudah punya gambaran cara menyelesaikan masalah viral Aina. Tinggal memutuskan detailnya dan melaksanakan saja.
◇
Aku berjalan sambil menyeret koper beroda. Di sampingku ada Aina yang juga menarik koper. Ia mengenakan hoodie bertelinga kucing yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu, dengan tudungnya dipakai, sehingga warna pink khas di bagian dalam rambutnya pun tidak terlihat. Tak ada yang akan menyadari bahwa ini adalah Ainyan.
"Kesannya jadi jauh berbeda ya."
"Mm. Soalnya kalau terlihat sedang bersama laki-laki itu merepotkan."
"Jadi streamer terkenal memang susah ya."
Tujuan kami adalah salah satu hotel besar terkenal di Jepang yang ada di Yokohama, "Apple Hotel & Resort".
Tentu saja, kalau laki-laki dan perempuan di bawah umur menginap bersama, pihak hotel mungkin akan curiga macam-macam, jadi kami memesan kamar terpisah.
Ngomong-ngomong, kalau hanya anak di bawah umur yang menginap, biasanya diperlukan surat izin dari orang tua, tapi orang tuaku cukup santai soal begituan, jadi saat aku bilang mau pergi main dengan teman, langsung diizinkan. Sementara itu, Aina punya lisensi diver, jadi tidak perlu surat izin orang tua.
Ya wajar saja. Kalau setiap mau masuk dungeon yang ada di berbagai tempat harus minta izin orang tua, pasti merepotkan.
Kamar yang aku pesan adalah twin room termurah di lantai bawah, harganya delapan ribu yen. Sedangkan Aina memesan executive suite di lantai paling atas. Harganya sembilan puluh ribu yen. Aku tidak mengerti. Apa di dalamnya ada sepuluh tempat tidur atau bagaimana.
Dia bilang harus streaming video karena butuh uang, tapi sepertinya dungeon diver memang menghasilkan banyak. Dan dia juga bilang "biaya menginap bisa dihitung sebagai pengeluaran".
Aku benar-benar tidak mengerti. Entah kenapa aku jadi merasa malu karena sempat bersikap seperti senior di depannya.
"Hmm~♪ Fufu~n♪"
"Kamu kelihatan senang sekali. Memangnya seseru itu?"
"Nihihi, seru! Soalnya ini pertama kalinya aku begini."
Aina kelas satu SMA dan aku kelas dua. Selain study tour, kami hampir tidak pernah bepergian selain dengan keluarga. Jadi wajar saja kalau dia merasa bersemangat.
Awalnya, rencanaku adalah berangkat sore, menginap satu malam di hotel, lalu pulang keesokan paginya—rencana kilat. Tapi Aina menentangnya keras. Katanya kalau sudah pergi, dia ingin benar-benar menikmatinya, jadi mendadak kami memutuskan untuk pergi ke taman hiburan yang dekat dengan hotel.
Sekarang masih pukul tujuh pagi. Taman hiburan baru buka jam sebelas. Meskipun perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam, ini tetap terlalu cepat.
"Haa… Ngomong-ngomong, bukannya kita berangkat terlalu pagi? Apa ada yang ingin kamu lakukan?"
"Katanya ada kafe dekat sini yang sarapannya enak, jadi aku ingin ke sana!"
"Kamu benar-benar niat menikmati perjalanan ya. Tidak seperti streamer terkenal yang sedang kena masalah."
"Soalnya, hari ini aku pergi jalan untuk pertama kalinya dengan Tatsu… Onii…"
Sejak keluar rumah pagi tadi, aku menyuruh Aina memanggilku Onii. Tentu saja ini bukan karena hobiku. Ini untuk mencegah identitasku terbongkar.
"Ngomong-ngomong, uangku cukup tidak ya… Keuangan anak SMA biasa itu pas-pasan. Apalagi kemarin aku baru beli Neuro Dive…"
Saat aku berkata sambil menyentuh tas tempat dompetku, Aina memiringkan kepalanya.
"Eh? Semua biar Aina yang bayar ya?"
"Eh, tidak bisa begitu. Aku kan lebih tua."
"Onii membantu Aina, kan. Jadi wajar Aina yang bayar. Apalagi aku juga dapat experience. Dengan experience Onii, berapa pun tidak akan cukup. Lagipula aku belum membalas apa-apa."
"Walaupun begitu… Hmm, ya sudah, nanti dipikirkan lagi saja."
Sambil mengobrol ringan, kami bergerak, sarapan di kafe dekat taman hiburan, lalu akhirnya masuk ke taman hiburan. Dari balik tudung yang menutupi wajahnya, aku bisa melihat mata Aina bersinar terang.
Dia akhirnya bisa melupakan masalahnya dan bersenang-senang. Mengganggunya sekarang jelas tidak bijak.
"Baiklah, kita nikmati sepuasnya! Ayo Aina, kita taklukkan semua wahana!"
"Ya!"
Dengan target yang jelas mustahil, aku dan Aina melangkah masuk ke taman hiburan.
"Ahh, seru sekali!"
Setelah puas bermain berdua di taman hiburan, akhirnya kami check-in. Sekarang pukul tujuh malam. Karena kamar kami terpisah, setelah check-in aku berencana pergi ke kamar Aina. Aku sudah meminjam kunci kamarnya, jadi bisa masuk kapan saja.
Saat aku menjatuhkan diri ke tempat tidur, dorongan untuk langsung tidur menyerangku.
"Tidak tidak, tidak boleh. Aku ke sini bukan untuk itu."
Aku merasa kalau berbaring lima menit saja, aku tidak akan bisa bangun lagi, jadi aku memaksa diri bangkit dari tempat tidur. Sambil menahan menguap, aku menuju lift. Kamar Aina ada di lantai 35.
Meski sudah beberapa kali ke kamarnya, entah kenapa aku tetap gugup saat mengetuk pintu. Segera terdengar suara, "Silahkan masuk."
Aku menempelkan kartu kunci dan masuk.
"Apa-apaan ini…"
Tanpa sadar aku bergumam. Sulit dipercaya ini masih di dalam gedung yang sama. Kamar luas. Tempat tidur besar. TV raksasa di dinding. Bahkan ada lampu gantung di langit-langit. Tapi lampunya tidak dinyalakan, jadi suasananya agak gelap.
Aina berada di dekat jendela di bagian paling dalam kamar, melambai memanggilku. Penampilannya sudah menjadi "Ainyan".
"Tatsu-nii! Sini sini! Lihat ini!"
"Bahkan tanpa ke sana pun sudah luar biasa… dan jangan panggil Tatsu-nii, panggil Onii."
Sambil tetap terkesima, aku berjalan mendekat. Saat berdiri di sampingnya dan melihat pemandangan, aku tidak bisa menahan decak kagum.
"Waah… keren sekali."
"Kan! Keren banget!"
Pemandangan malam Yokohama yang berkilauan, lampu warna-warni taman hiburan, cahaya kapal di laut yang memantul di ombak. Dan yang paling mencolok adalah bianglala raksasa.
"Itu bianglala yang tadi kita naiki, ya!"
"Sepertinya begitu. Wah, benar-benar luar biasa."
Kami berdua terpaku menatap pemandangan itu. Entah kenapa, melihat lampu kota yang berkelip dan kadang padam terasa tidak membosankan.
…Entah berapa lama kami seperti itu. Saat aku tersadar dan menoleh ke arah Aina, dia juga menoleh ke arahku.
Pandangan kami bertemu.
"…Ah"
"…Mm"
Entah kenapa, wajah Aina yang sudah sering kulihat terasa berbeda. Mata dan bibirnya yang biasanya tersenyum usil kini tampak begitu memikat.
Jarak beberapa puluh sentimeter di antara kami terasa sangat jauh, membuat dadaku sesak. Saat aku sedikit mendekat, Aina juga mendekat. Tapi rasa itu justru semakin kuat. Seperti magnet yang tidak bisa bersentuhan. Semakin dekat, semakin ingin mendekat lagi.
Tanpa sadar aku mengulurkan tangan ke pinggang rampingnya, dan Aina meletakkan tangannya di bahuku. Bagian yang menyentuh dan disentuh terasa panas.
"Aina…"
"Tatsu-nii…"
Kami sudah tidak punya ruang untuk berpikir. Mungkin Aina juga sama. Tubuh kami semakin mendekat, wajah kami pun semakin dekat—
──Piriririri!
"Huwaaa!!!!!!!!!"
"Nyaaaaaa!!!!!!!!!"
Suara elektronik yang tiba-tiba berbunyi membuat kami berdua meloncat seperti kucing yang kaget.
"Ka-kaget! Apa itu!? Suara apa!?"
"Itu ponselnya Ainyan! Ah! Sudah hampir jam delapan! Streaming! Harus siap-siap!"
Hari ini jadwal live streaming Aina mulai jam delapan. Tinggal sepuluh menit lagi.
"Sudah jam segitu!? Aina! Ambil tripod buat ponsel dan pasang! Atur supaya seluruh tubuh masuk! Oh iya, alat pengukur level! Di mana ya!?"
"Tatsu-nii nyalakan lampu! Yang paling terang! Terus masker! Cepat pakai!"
Kami berdua panik menyiapkan "rencana". Untungnya selesai dua menit sebelum siaran dimulai.
Rencana untuk memulihkan nama baik Aina yang disarankan oleh Honoka-san sangat sederhana.
Dalam live streaming, Aina akan memegang tanganku sambil memakai alat pengukur level, lalu menunjukkan bahwa levelnya meningkat. Dengan begitu, rumor bahwa Aina itu "murahan" akan terbantahkan.
Ada dua masalah yang dikhawatirkan Honoka-san.
Pertama, kemungkinan keberadaanku terbongkar. Mungkin akan heboh karena ada laki-laki dengan experience besar, tapi itu bukan masalah besar dibandingkan situasi Aina sekarang.
Masalah kedua, Aina harus menahan sensasi selama live streaming. Jika dia malah mengeluarkan suara aneh di tengah siaran, itu justru akan memperburuk situasi.
Karena itu, Aina harus bersikap seolah tidak merasakan apa pun.
Level Aina saat ini adalah 95. Targetnya 100. Jika dalam satu jam siaran levelnya naik lima, semua orang pasti akan percaya.
Apakah dia bisa bertahan selama itu, tergantung pada dirinya sendiri.
Sekarang pukul 19:58. Aina dalam wujud Ainyan duduk di atas tempat tidur, menatap ponsel untuk streaming. Di tangannya ada ponsel lain untuk membaca komentar.
Aku juga bersiap di posisi yang tidak terlihat kamera, menunggu siaran dimulai.
Lima, empat, tiga, dua, satu… mulai.
"Konnyanko! Live streaming DTuber Ainyan dimulai nyan!"
Live streaming dimulai dengan suara ceria Aina. Aku juga mengecek komentar lewat ponselku sendiri. Karena ini siaran pertama setelah insiden besar, kolom komentar bergerak sangat cepat.
[Konnyanko~]
[Konnyanko!]
[Pelacur sialan]
[Udah ditungguin]
[Mending hilang saja]
[Perempuan murahan]
[Kamu baik-baik saja?]
[Yang rusuh sana pergi]
[Kamu pindah rumah?]
[Minta maaf!]
[Konnyan~]
[Mati saja]
Komentar rusuh kira-kira sekitar tiga puluh persen. Tidak sebanyak yang kupikirkan, tapi semuanya benar-benar kejam.
Tentu saja Aina juga menyadarinya, tapi dia tetap melanjutkan dengan senyum.
"Hari ini komentarnya ramai banget ya~. Nyahaha, aku sih tahu alasannya sih…"
Setelah tersenyum kecut, Aina mengeluarkan sebuah kardus dengan logo situs belanja online besar.
"Jeng! Untuk hari ini aku beli ini—alat pengukur level! Masih benar-benar baru, bahkan belum keluar dari kardus! Eh tapi, kardusnya gede banget sih…"
Dari kardus yang cukup besar itu keluar kotak seukuran kotak tisu. Kotak itu dibungkus rapat plastik tipis, dan tertulis "Alat Pengukur Tingkat Kemampuan Penjelajah Dungeon Presisi Tipe Kontak". Itu sama seperti yang digunakan oleh badan pengelola dungeon.
"Jadi kayak video unboxing ya… tapi yaudah, kita buka aja~"
Setelah memperlihatkan semua sisi kotak ke kamera untuk memastikan keasliannya, Aina membuka segelnya. Di dalamnya ada benda seperti gelang dan monitor seukuran jam meja kecil yang terhubung dengannya. Bentuknya mirip alat pengukur tekanan darah.
Aina membuka isinya satu per satu, melihat buku manual tebal, lalu menjulurkan lidah kecil.
"U-umm… aku nggak begitu paham sih, tapi kayaknya tinggal dipasang di tangan lalu tekan tombol ya!"
Kolom komentar langsung dipenuhi tanggapan.
[Baca dulu woi hahaha]
[Itu mahal kan?]
[Perempuan murahan]
[Kucing idiot]
[Ya wajar sih biasanya pakai punya badan dungeon]
[Berhenti streaming]
[Itu mau buat apa?]
Seperti biasa, hinaan tidak berhenti.
Sambil melirik komentar, Aina memasang alat itu di lengannya. Ia menyalakan daya dan menekan tombol pengukuran. Monitor menyala. Setelah beberapa saat tertulis "Mengukur", lalu angka muncul.
『DLv: 95.27』
Artinya levelnya sekitar sembilan puluh lima lebih sedikit.
Begitu angka itu muncul, kolom komentar langsung kacau.
[Fix pelacur]
[Sampah]
[Fix cewek murahan]
[Bukannya dulu bilang level 50?]
[Berhenti jadi DTuber]
Mengabaikan komentar itu, Aina berbicara.
"Karena levelku naik drastis, aku dibilang murahan, pelacur, dan macam-macam… aku lagi sedih banget nih. Makanya! Kali ini aku bikin proyek untuk memulihkan nama baikku! Judulnya—‘Ainyan ternyata kucing pencuri experience!? Naik level cuma dengan pegang tangan! Target level 100!’"
Ainyan bertepuk tangan meriah, tapi responnya dingin.
[Mustahil]
[Nggak mungkin]
[Itu mah nggak mungkin]
komentar penolakan memenuhi layar.
"Aku dengar dia jadi dungeon diver demi adik yang nggak bisa melihat, jadi sepupuku yang punya experience besar mau bantu. Onii, silakan~!"
Walaupun dibilang silahkan, aku tidak bisa memperlihatkan tubuhku. Jadi aku hanya melambaikan tangan dari pergelangan saja ke kamera.
"Baiklah, langsung kita pegang tangan ya. Masa sih cuma pegang tangan doang langsung dianggap murahan? Nggak ada kan yang sepicik itu?"
Aina lebih dulu membungkam komentar, lalu perlahan mengulurkan tangannya ke arahku.
Mulai dari sini adalah ujian bagi Aina. Dia harus bertahan sampai level 100 sambil tetap memasang ekspresi biasa. Aina menggenggam tanganku dengan kuat.
『DLv: 95.27』
『DLv: 95.29』
『DLv: 95.32』
『DLv: 95.35』
Angka di monitor perlahan meningkat. Seketika kolom komentar meledak.
[EEEHHH!?]
[Serius!?]
[Video palsu]
[Manusia aneh muncul]
[Kasih aku onii itu]
[Ini bisa rekor dunia]
[Organisasi dungeon bakal turun tangan!]
[Onii itu harta nasional!]
"…………………………"
Aina menunduk dan diam beberapa saat. Aku sempat khawatir. Aku hanya bisa berdoa agar dia bertahan. Tepat sebelum komentar mulai tenang, dia mengangkat wajahnya.
"Yup♡ jadi, onii ini manusia ajaibnya~!"
Sambil berbicara, angka terus naik perlahan.
"Gimana? Sudah percaya?"
Responnya terbagi dua. Ada yang kagum, ada juga yang masih ragu. Yang ragu mungkin mengira angkanya palsu.
"…fufu♡ hmm, masih ada yang ragu ya. Jadi kalau sudah level 100, aku bakal tunjukkan skill sebagai bukti. Skill yang hanya bisa dipakai di level 100, namanya Shadow Binding! Efeknya lihat saja nanti ya~!"
Inilah alasan targetnya level 100. Dengan menggunakan skill yang hanya bisa dipelajari di level itu, dia akan membuktikan levelnya benar-benar naik.
"Jadi, bakal agak lama, tapi mohon ditemani ya semuanya~"
Waktu yang menyakitkan bagi Aina pun dimulai.
"Ranking kedua hampir mati saat eksplorasi! Ini waktu aku masih sekitar level 20, terus sok-sokan turun sampai lantai 40. Ada skill stealth yang namanya sembunyi, tapi ternyata tidak berlaku kalau perbedaan levelnya dua kali lipat. Saking dianggap pengetahuan umum, malah nggak ada yang ngajarin. Lagi pula hampir nggak ada yang turun ke lantai dua kali levelnya sendiri, jadi aku nggak tahu. Aku pikir pasti aman, jadi aku diam saja… eh ternyata Cyclops malah mendekat sambil lihat ke arahku… waktu itu aku pikir bakal mati…"
Sambil menggenggam tanganku, Aina terus mengobrol. Walaupun ini disebut proyek naik level, yang dilakukan hanya diam sambil pegang tangan. Mungkin dengan berbicara, dia bisa mengalihkan pikirannya.
(Luar biasa…)
Aku hanya bisa kagum melihatnya. Selama ini, Suzuka, Honoka, bahkan Sagara-sensei pun tidak pernah bisa bertahan seperti ini tanpa bersuara. Dan ini bukan cuma ujung jari—telapak tangan kami saling bersentuhan penuh. Sensasi yang dia rasakan pasti sangat kuat.
Namun Aina tetap melanjutkan live streaming dengan wajah biasa. Siaran aneh yang membuat level naik hanya dengan pegangan tangan ini jadi viral, dan sekarang jumlah penonton sudah lebih dari sepuluh ribu. Di depan semua itu, meski kadang menggigit gigi atau menunduk, dia tetap berbicara hampir seperti biasa.
Aku hanya bisa terus mengawasinya.
"…ngu♡ ranking pertama hampir mati saat eksplorasi! Ini waktu kena trap dungeon. Ada trap jahat banget namanya Absolute Elevator. Kalau kena, satu orang dilempar sepuluh lantai ke atas, satu lagi sepuluh lantai ke bawah. Waktu itu aku bawa barang berat, mungkin dianggap sebagai entitas terpisah, jadi barangku ke atas, aku ke bawah… itu benar-benar putus asa… sendirian di lantai yang belum pernah dijelajahi, tanpa barang… kalau waktu itu nggak kebetulan ada Berserker berlengan satu lewat, aku pasti mati. Katanya dia baru kembali jadi dungeon diver, lagi latihan di lantai 80. Walaupun dipanggil Berserker berlengan satu, dia sebenarnya sopan, baik, dan cantik banget!"
Saat Aina terus berbicara, kolom komentar mulai ramai lagi.
[Udah mau naik!]
[Serius bentar lagi!]
[Palsu banget]
Saat melihat monitor, angka yang muncul adalah—
『DLv: 95.92』
『DLv: 95.95』
『DLv: 95.97』
『DLv: 95.99』
『DLv: 96.00』
◇
Begitu levelnya naik ke 96, kolom komentar langsung ramai membara.
"…"
Pada saat yang sama, kepala Aina terkulai lemas.
"………Hu♡…………Huu♡…………Ah♡………………Ia♡……Kuhn♡……………………I, iku♡♡♡"
Aina mengeluarkan suara kecil yang sama sekali tidak sampai ke penonton, tubuhnya sedikit gemetar, lalu mengangkat wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Level 96 tercapai nya~♪ Begini terus sampai level 100, iku nya~!"
[Keren bangetttttt]
[Kakak keren bangetttttt]
[Selamat naik level]
[Curang banget wwww』
Komentar kekaguman membanjiri layar, menyapu bersih komentar anti. Banyak orang sedang heboh melihat pemandangan yang tak percaya. Sambil melihat komentar-komentar itu, keringat dingin muncul di dahi Aina.
Dia pura-pura merapikan poni dan menyeka keringat itu dengan lengan bajunya.
Masih tersisa empat level lagi sampai level 100.
"…………Hu, ……hu, ……huu♡ Ehm, selanjutnya mau bahas apa ya~? ……♡ Gimana kalau ranking makanan enak yang pernah dimakan di dungeon nya~"
Sudah satu jam dua puluh menit sejak live dimulai. Suara Aina masih terdengar normal, tapi matanya agak kosong. Levelnya baru saja melewati 99. Dia sudah menahan kenikmatan kuat selama waktu yang lama sekali. Rasa sakit dan beban yang ditanggungnya pasti tak terbayangkan.
"Ehm, peringkat ketiga adalah………………………ppu♡"
Sepertinya kesadarannya sempat melayang sebentar. Tubuh Aina yang hampir oleng kutarik kembali dengan tangan. Sudah hampir mencapai batas.
"Nh♡ Sedikit kurang tidur nya~…… Nh, sambil ngobrol begini, sebentar lagi level 100 nya! Karena sudah sampai sini, yuk kita hitung mundur nya~! ♡"
[Momen bersejarah]
[Beneran berhasil]
[Keren bangetttttt]
[Teori kakak terkuat]
[Kondisi tubuhnya oke?]
[Asosiasi Dungeon, tolong lindungi kakak ini]
Para penonton ikut mulai menghitung mundur sesuai dengan counter level.
『DLv:99.95』
"5!♡"
『DLv:99.96』
"4! ♡♡"
『DLv:99.97』
"3! ♡♡♡"
『DLv:99.98』
"2! ♡♡♡♡"
『DLv:99.99』
"1! ♡♡♡♡♡"
『DLv:100.00』
"Zeeeoooo♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Aina berteriak keras seolah ingin menutupi suara erotisnya, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Level seratus, tercapai nyaaaaaa!!!!!!!!"
[Uwooooo!]
[Keren]
[Beneran berhasil!]
[Kasih kakakmu ke aku!]
Entah sejak kapan, komentar anti hampir tidak ada lagi. Meski ada, Aina pasti sudah tidak punya tenaga untuk membacanya.
"Kalau begitu, sesuai janji, skill-nya, iku nya~! Shadow Binding."
Aina melempar bantal yang ada ke udara, lalu menusukkan jari ke bayangan bantal di atas tempat tidur. Seketika, bantal yang ada di udara langsung berhenti diam di tempat. Seperti sulap.
"Sekarang ini benar-benar level seratus nya! Kalian yang bilang aku pelacur murahan atau jalang, gimana? Kalah kan! Oh iya, ada satu lagi yang mau kukatakan nya!"
Aina berdiri, menarik napas dalam sekali, lalu menatap kamera dengan tajam.
"Ainyan… aku… kalau bisa membuat mata adikku bisa melihat lagi, aku rela melakukan apa saja! Rela menjual tubuh! Bahkan rela mempertaruhkan nyawa! Kalau itu bisa terwujud, aku tidak peduli dipanggil pelacur murahan atau jalang! Tapi, tapi……"
Sebutir air mata mengalir di pipi Aina.
"Orang yang menghina adikku… aku tidak akan pernah memaafkan! Meski harus ditangkap Asosiasi Dungeon, meski harus menggunakan skill secara ilegal, aku pasti akan menemukan dan membalas dendam! Hanya orang yang siap dibalas dendam yang boleh menghina adikku! Mengerti kan!?"
Aina menunjuk kamera dengan keras, napasnya kasar naik-turun di bahu. Lalu,
"Oh iya, kakak tidak akan kuberikan ke siapa pun nya! Live selesai~! Sampai jumpa nya~!"
Setelah mengatakan itu, tanpa membalas komentar apa pun, Aina langsung menekan tombol akhiri siaran. Lalu langsung ambruk ke tempat tidur.
"Aina! Aina! Kamu tidak apa-apa!?"
"…i……Tatsuya-nii………Ta……tsuya-nii"
"Aina! Sadarlah, Aina!"
"……Udah……………………nggak, mungkin♡"
"Aina…… Aina?"
Aina perlahan mengangkat tubuhnya dengan gerakan licin. Dengan ekspresi kosong, pipi memerah, mata basah…… Di dalam pupilnya, seolah terlihat tanda hati yang seharusnya tidak ada.
"Tatsuya-nii♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Su, sudah tidak tahan lagi♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Aina……? Uwaa!"
Aina mencengkeram bahuku lalu mendorongku ke tempat tidur. Mustahil melawan kekuatan Dungeon Diver yang sudah mencapai level 100.
Dia sudah menahan kenikmatan yang sangat kuat selama lebih dari satu jam. Tidak mungkin Aina masih bisa mempertahankan akal sehatnya.
"Ma, maaf ya Tatsuya-nii♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Ainyan… sudah rusak nya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"A, Aina…… tenang dulu ya?"
"Maaf, maaf……♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii juga♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Kita rusak bersama ya♡♡♡♡♡♡ Mau rusak bareng? ♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Aina, berhenti…… wapu!"
Bibirku dibungkam oleh Aina. Ciuman yang ganas seperti binatang buas. Ditambah cat ears-nya, Aina terlihat seperti binatang pemangsa.
"Tatsuya-nii♡♡♡♡♡♡♡ nya♡♡♡ nya♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii♡♡♡♡♡♡ nya♡♡♡♡ Tatsuya-nii♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Hebat♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii, banyak sekali♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Rusak aku♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-nii juga♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Kita rusak bersama ya? ♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ N, n, n, nhhh♡♡♡♡♡"
Seolah melepaskan semua kenikmatan yang selama ini ditahan sekaligus, Aina menyerahkan diri sepenuhnya pada kenikmatan. Tentu saja aku tidak mungkin menahan kenikmatan sebesar itu.
"Nnnnnnyaaaaaaaaa——♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Aina langsung kehilangan kesadaran dan ambruk ke atasku dengan suara "dosari".
"…Kamu sudah berusaha sangat baik, Aina."
Aku menyelimuti Aina yang sudah mulai mendengkur pelan "suu suu".
Setelah itu, aku kembali ke kamarku sendiri yang harganya 8.000 yen per malam, lalu onani dan tidur.
Apple Hotel menyediakan VOD gratis tanpa batas. Tentu saja termasuk video mesum. Terima kasih Apple Hotel. Terima kasih Presiden Apple. Berkat kalian, siswa SMA masa pubertas terselamatkan. Semua orang juga menginap saja di Apple Hotel.
◇
Keesokan pagi setelah menginap di Apple Hotel. Aku terbangun oleh suara elektronik dari ponselku. Padahal aku tidak merasa memasang alarm, jadi aku melihat layar dengan heran, dan ternyata itu panggilan masuk. Nama yang tertera adalah "Okumura Aina".
"Mm… selamat pagi Aina. Masih belum jam tujuh, biarin aku tidur lagi sedikit…"
"Mou! Kenapa kamu kembali ke kamarmu sendiri!? Padahal ini executive suite! Kamar mewah loh!"
Sepertinya Aina sedang kesal.
"Ya mau bagaimana lagi… Kalau sudah tidur kan gelap, jadi mau semewah apa pun kamarnya ya sama saja kan? Lagi pula, anak laki-laki dan perempuan di bawah umur yang belum menikah menginap di kamar yang sama itu tidak bagus kan?"
"A-Ainyan sih, tidak keberatan kalau dengan Tatsu-nii, itu… jadi seperti itu juga… eh bukan itu maksudnya! Tatsu-nii cepat ke sini! Sekarang juga!"
"Mm… habis mandi dulu boleh?"
"SE-KA-RANG!"
Karena Aina berteriak keras, telingaku yang masih mengantuk jadi berdenging.
"Iya iya. Nanti ya."
Aku menutup telepon sebelum mendengar jawabannya, lalu meregangkan badan. Walaupun disuruh segera, setidaknya aku ingin cuci muka dan sikat gigi dulu.
Setelah mencuci muka, merapikan rambut, menyikat gigi, dan ganti baju, aku pergi ke kamar Aina. Dia menyambutku dengan pipi menggembung.
"Mou! Lama sekali, Tatsu-nii!"
Rambut Aina berantakan dan pakaiannya kusut. Sepertinya dia langsung tidur begitu saja semalam dan baru bangun tadi. Apa dia tidak punya rasa malu sama sekali padaku.
"Nih, lihat ini! Ini!"
Aina menyodorkan layar ponselnya kepadaku. Itu halaman berita online.
"Eh… ‘DTuber Ainyan, perasaan hangat untuk sang adik, kisah keluarga yang mengharukan’?"
"Sepertinya siaran Ainyan kemarin jadi viral! Di video arsip juga banyak komentar dukungan! Masih ada sedikit haters sih… tapi sudah jauh berkurang! Tatsu-nii, rencana kita sukses besar! Makasih banyak!"
Aina langsung memelukku erat. Aku menepuk lembut kepalanya.
"Bukan aku. Itu hasil usaha Aina sendiri, kan? Kamu keren banget kemarin."
"…Nihihihi! Iya!"
Untuk ukuran Aina, senyumnya terlihat jujur dan bahagia.
"Oh iya, tentang Tatsu-nii juga jadi berita loh."
"Hah? Aku?"
Aina mengganti halaman di ponselnya.
"‘Settingan? Palsu? Apakah ada pria dengan experience sebesar itu hingga bisa membuat orang naik level hanya dengan berpegangan tangan—kami tanya ahli—’ ini benar-benar tentang aku kan…"
Sejujurnya aku memang sempat berpikir ini mungkin akan jadi topik, tapi tidak menyangka secepat ini sudah jadi berita.
"Maaf ya Tatsu-nii… gara-gara Ainyan…"
"Tidak apa-apa. Identitasku tidak terbongkar, kan?"
"Iya. Aku sempat cari, tapi sepertinya belum ketahuan. Tapi tetap saja… maaf."
Aina menunduk dengan wajah bersalah. Aku kembali meletakkan tangan di kepalanya dengan lembut.
"Bukan sesuatu yang perlu kamu minta maaf. Yang penting, kalau masalahnya sudah reda, berarti tujuan kita tercapai."
"Iya! Makasih, Tatsu-nii!"
"Sama-sama. Oh ya, Aina. Ini agak sulit dibilang sih…"
Aku melihat ke arah Aina yang menempel padaku. Tubuhnya yang belum mandi sejak semalam mengeluarkan aroma manis yang agak menggoda.
"Kayaknya kamu… agak terlalu menggoda, jadi mungkin kamu harus mandi dulu?"
"…Hah?"
Setelah menatapku beberapa detik, wajah Aina langsung memerah.
"B-bodoh! Tatsu-nii bodoh! Mesum! Mesum banget!"
Aina buru-buru menjauh dariku dan berlari ke kamar mandi di dalam.
"Tatsu-nii! Tetap di kamar ya! Jangan pergi diam-diam!"
"Iya iya, sana mandi yang benar."
"Boleh ngintip kok!"
"Nggak akan aku intip!"
Sambil mendengar suara air dari kamar mandi, aku melihat ke luar jendela besar. Cuaca cerah, dan perasaanku juga terasa ringan.
Yang perlu dilakukan sudah selesai. Sisanya tinggal bersantai jalan-jalan sebelum pulang.
"Tatsu-nii! Belum mau ngintip!?"
"Bilang juga nggak!"
Sepertinya hubungan ini akan terus berlanjut sampai Aina menemukan artefak itu.
◇
Ketika keributan sudah mereda, akhirnya hari itu tiba.
"Tatsu-nii! Tatsu-nii ada!?"
Pagi hari di hari libur. Suara ketukan pintu yang keras dan suara ceria Aina. Benar-benar mengganggu tetangga. Saat aku melihat ponsel, masih jam setengah tujuh.
Aku sempat berpikir untuk mengabaikannya dan tidur lagi, tapi ketukannya seperti mau merusak pintu, jadi aku terpaksa bangun dan membukanya. Cahaya matahari pagi terasa menyilaukan.
"Selamat pagi Aina. Ini terlalu pagi, jadi bisa tunggu satu jam lagi?"
"Nggak!"
Langsung ditolak.
Aina baru saja pulang dari dungeon dive. Dia mengenakan pakaian khas dungeon diver lengkap dengan telinga dan ekor kucing artefak. Walaupun itu artefak, kelihatannya seperti cosplay.
"Dengar ya! Akhirnya aku nemu! Ini!"
Aina yang sangat bersemangat menyodorkan sesuatu. Itu seperti choker dengan batu bulat kecil seukuran satu sentimeter. Warnanya kuning transparan dengan bagian tengah hitam, seperti bola mata.
"Apa ini?"
"Hawk Eye!"
"Serius!?"
"Hawk Eye". Artefak yang selama ini dicari Aina untuk adiknya yang tidak bisa melihat.
"Akhirnya ketemu! Tatsu-nii, Ainyan akhirnya menemukannya! Dengan ini, aku bisa memperlihatkan dunia ke Sanyan!"
Aina melompat-lompat kegirangan. Aku mengelus kepalanya.
"Aina, kamu sudah berusaha keras. Cepat berikan ke Sana."
"Iya! Ayo cepat ganti baju! Kita berangkat!"
"…Hah? Kenapa aku?"
"Tatsu-nii juga ikut! Ya jelas dong! Cepat!"
"Eh…"
"Siap dalam lima menit! Cepat!"
Aku tidak mengerti kenapa aku harus ikut, tapi sepertinya tidak ada gunanya menolak. Aku pun bersiap. Setelah selesai, kami naik taksi yang kebetulan lewat.
"Jadi ya! Di tengah jalan aku juga nemu ‘Kuas Hitam Ramalan’! Oh, itu yang jadi ekor kucing ini! Kalau dipakai, indra jadi super tajam! Ainyan kan tipe stealth elemen gelap, jadi cocok banget! Hampir nggak ketemu musuh!"
Di dalam taksi, Aina terus berbicara tanpa henti. Katanya rumahnya sekitar dua jam perjalanan.
"Berkat ‘Kuas Hitam Ramalan’, aku bisa ke tempat-tempat yang biasanya nggak bisa! Aku juga dapat banyak item langka! Ini, bulu setengah kapas burung phoenix! Sekali sehari bisa mencegah kematian instan! Aku dapat beberapa, jadi aku kasih ke kamu!"
Aina memberiku bulu oranye lembut seukuran telapak tangan.
"Makasih. Walaupun aku ini cuma siswa SMA biasa yang mungkin tidak akan mati sih."
Meski begitu, kecelakaan tetap bisa terjadi. Tidak ada salahnya sebagai jimat.
"Sama-sama! Terus waktu eksplorasi, aku nemu tempat tersembunyi! Itu juga berkat ‘Kuas Hitam Ramalan’! Di sana ada jasad diver lama… agak seram sih, tapi sudah jadi tulang. Aku lihat barangnya, dan ada itu—Hawk Eye! Barang milik diver yang sudah meninggal boleh diambil sama yang menemukan! Awalnya aku nggak tahu itu apa, tapi pas dipakai…"
"Aina, boleh ganggu sebentar?"
"Dunia langsung terbuka lebar! Seperti bisa melihat 360 derajat! Rasanya kayak pemandangan langsung masuk ke kepala! Luar biasa banget! Terus—"
"Aina, Aina. Maaf, boleh sebentar?"
"Kalau ini ada, Sanyan juga… eh, Tatsu-nii kenapa?"
Akhirnya aku berhasil menghentikan ocehan tanpa henti Aina.
"Eh, kalau aku ikut, bukannya malah jadi tidak pada tempatnya? Sana-san dan orang tuamu juga tidak kenal aku. Kalau aku ada di momen haru seperti itu, bukannya terasa janggal?"
"Tatsu-nii itu orang yang paling membantu dan berjasa loh. Jadi aku ingin kamu ikut juga."
"Ya, tapi… kalau Sana-san yang untuk pertama kalinya bisa melihat dunia, lalu di pandangannya ada laki-laki yang belum pernah dia temui, itu bukannya malah jadi horor?"
"Aku bakal jelasin kok, jadi tidak apa-apa! Terus… ini, pegang."
Aina menyerahkan sesuatu kepadaku. Itu adalah kamera. Aku tidak terlalu paham soal kamera, tapi kelihatannya cukup bagus. Sepertinya mahal.
"Apa ini? Mau foto?"
"Bukan. Video. Karena ini momen yang berharga, aku ingin merekamnya. Jadi kamu jadi kameramen ya!"
"Itu tujuan aslimu ya."
"Terus, bagaimanapun juga nanti pasti ketahuan kalau Ainyan itu dungeon diver. Jadi aku ingin kamu ada di sampingku saat dimarahi…"
"Itu tujuan aslimu yang kedua ya."
Sepertinya aku dibawa sebagai tenaga tambahan.
"Kalau terlalu canggung, aku bakal kabur ya."
"Nanti aku kejar! Dari ‘Kuas Hitam Ramalan’ milik Ainyan, kamu tidak bisa lari! Nihihihi!"
Aina menggoyangkan ekor kucing yang tumbuh dari belakangnya.
Setelah itu, sambil mendengarkan ocehan Aina yang tidak ada habisnya selama hampir dua jam, akhirnya taksi sampai di tujuan.
"Pak, berhenti di depan rumah itu! Yang ada carport-nya!"
"Oke. 9600 yen."
"Dari sepuluh ribu! Tidak usah kembaliannya!"
"Keren juga kamu."
Aina membayar dengan santai, lalu turun dengan penuh semangat. Aku ikut turun di belakangnya.
"Ah, tidak ada mobil, jadi mungkin ayah dan ibu lagi keluar. Mantap!"
"Kalau begitu, bukannya Sana-san juga ikut keluar?"
"Sanyan jarang keluar, jadi mungkin dia di rumah. Nihihihi, sepertinya aku tidak akan dimarahi."
"Kayaknya cuma menunda saja."
Aina merapikan rambutnya di depan pintu, lalu menarik napas beberapa kali. Setelah siap, dia perlahan menekan interkom.
──Ting tong
Tak lama setelah bel berbunyi, terdengar suara dari interkom.
"Ya, siapa ya?"
Suara yang sangat mirip dengan Aina, tapi lebih tenang. Itu pasti Sana.
"Sanyan! Aku! Aina!"
"Eh? Onee-chan? Selamat datang. Tiba-tiba sekali. Lupa bawa kunci?"
"Ah iya juga. Aku punya kunci, harusnya bisa masuk sendiri ya."
"Hahaha, Onee-chan aneh. Ya sudah, aku buka ya."
Interkom terputus, lalu terdengar langkah kaki mendekat. Pintu terbuka.
"Selamat datang, Onee-chan."
"Aku pulang, Sanyan."
Yang muncul adalah gadis yang sangat mirip dengan Aina. Rambut hitam dipotong sebahu, tanpa warna tambahan. Hidung dan mulutnya mirip Aina, tapi matanya yang lembut tampak kosong saat mengarah ke Aina. Sepertinya dia tidak bisa melihat.
"Eh, yang di sana siapa?"
Walaupun tidak bisa melihat, Sana menghadap ke arahku saat bertanya.
"Dulu sempat kubilang lewat telepon kan? Tetangga di apartemen sebelah. Yang soal Neuro Dive itu."
"Ah, yang beli Neuro Dive padahal tidak punya komputer itu ya?"
Sepertinya kesalahanku sudah dibagikan lewat telepon. Tolong hentikan.
"Perkenalkan, aku Mura Tatsuya. Maaf langsung begini, tapi… kamu tidak bisa melihat ya?"
"Ah, maaf. Aku memang tidak bisa melihat. Tapi aku dengar suara kain bergesekan, jadi aku tahu ada orang. Perkenalkan, aku Sana, adik kembar Aina. Terima kasih sudah menjaga Onee-chan."
Sana membungkuk dengan sopan. Sulit dipercaya dia adik kembar Aina, karena dia sangat santun.
"Daripada berdiri di sini, silahkan masuk. Aku buatkan teh."
"Ah, terima kasih."
Sana sesekali menyentuh dinding seolah memastikan arah, tapi dia berjalan dengan sangat lancar ke dalam rumah.
"Aina mau sup jagung!"
"Kamu ini…"
Aku sedikit heran melihat Aina yang tidak sungkan sama sekali pada adiknya yang buta, tapi mungkin memang begitulah keseharian mereka.
Aku mengikuti Aina dan duduk di sofa ruang tamu.
Walaupun tidak bisa melihat, Sana dengan lancar merebus air, menyiapkan cangkir, menyeduh teh dan sup jagung, lalu membawanya ke meja.
Setelah masing-masing meneguk minuman, Sana membuka pembicaraan.
"Jadi, kenapa tiba-tiba datang hari ini? Apa kamu dan Mura-san mulai pacaran, lalu mau lapor?"
Aina langsung tersedak.
"Gehok! S-Sanyan, jangan ngomong aneh! Bukan begitu!"
"Dari situasinya sih kelihatannya begitu…"
Memang masuk akal. Tiba-tiba pulang dan di sampingnya ada laki-laki seumuran yang belum pernah dilihat.
"Jadi ya… hari ini aku bawa hadiah untuk Sanyan… ah, Tatsu-nii. Kameranya."
"Siap."
"Hah? Kamera? Mau direkam?"
Mengabaikan kebingungan Sana, aku berdiri dan menyalakan kamera.
"Ehem. Sanyan. Terima kasih sudah selalu menemani kakakmu yang egois ini meskipun tidak bisa melihat. Untuk mengungkapkan rasa terima kasihku, aku menyiapkan hadiah. Tolong terima."
"Hahaha, formal sekali. Aneh. Tapi terima kasih. Aku jadi sangat penasaran."
Aina berdiri, lalu berdiri di belakang Sana yang duduk di sofa. Ia perlahan mendekatkan Hawk Eye ke lehernya.
"Ini mungkin akan sangat mengejutkan, tapi jangan panik ya? Jangan bergerak ya? Sepertinya tidak sakit kok… mungkin."
"Hah? Tunggu, kamu mau ngapain? Onee-chan? Tidak apa-apa kan? Aku jadi takut… ‘mungkin’ itu maksudnya apa?"
Sana yang tadi tersenyum kini menjadi tegang dan panik. Wajar saja. Dalam kondisi tidak bisa melihat, siapa pun pasti takut. Tanpa memperdulikan itu, Aina memasangkan Hawk Eye di leher Sana.
"Hya! …Eh?"
"Ta-da! Gimana? Gimana!? Sudah bisa lihat?"
"…………"
"Sanyan?"
Dengan Hawk Eye terpasang, Sana membeku. Tidak bergerak sama sekali.
"Eh, Aina… tidak apa-apa kan? Artefak tidak punya batas level penggunaan kan?"
"E-eh, harusnya sih tidak… S-Sanyan? Kamu tidak apa-apa?"
"…………lepas…"
"Hah?"
"………harus………lepas…………"
"Ah, iya!"
Aina buru-buru melepas Hawk Eye. Sana perlahan menutup wajahnya dengan tangan gemetar dan menunduk.
"S-Sanyan!? Kamu tidak apa-apa!?"
"Tidak… tidak apa-apa…"
Dari sela-sela tangannya, tetesan air mata jatuh.
"A-aku tidak mengerti… tiba-tiba… dunia terbuka begitu saja… sangat indah… sangat jelas… aku… aku terlalu senang sampai tidak tahu harus bagaimana… harus kaget atau bahagia… aku tidak tahu lagi… ini sudah terlalu berlebihan untuk sekadar kejutan… mana mungkin aku bisa tetap tenang…"
"S-Sanyan…?"
Setelah menangis beberapa saat, Sana akhirnya mengangkat tubuhnya.
"Maaf, Onee-chan. Boleh… pasangkan lagi sekali?"
"I-Iya."
Aina dengan ragu memasangkan kembali Hawk Eye.
"…………luar biasa. Luar biasa luar biasa luar biasa! Kakak! Ini dunia!? Indah sekali! Ramai sekali! Ini putih!? Ini biru!? Rumah ternyata warnanya seperti ini! Langit itu sejauh itu! Luar biasa! Jernih sekali! Udara benar-benar tidak terlihat!?"
Sana-san tiba-tiba berdiri dan mulai bersorak kegirangan. Aku sama sekali tidak bisa memahami bagaimana rasanya bisa melihat, tapi satu hal yang pasti—dia benar-benar bahagia.
Suasana tenang yang tadi ada langsung lenyap, dan dia terlihat seperti anak kecil yang baru saja menerima hadiah Natal.
Setelah puas bersorak, Sana-san berbalik dengan cepat ke arah Aina. Ia mengulurkan tangan dan mulai menyentuh wajah, tubuh, seluruh bagian Aina. Seolah memastikan, berulang kali.
"Onee-chan!? Ini benar Onee-chan kan!? Ini Onee-chan-ku, kan!?"
"Ahaha, geli tahu, Sanya! Iya! Ini Aina! Onee-chan-nya Sanya!"
Sana-san langsung memeluk Aina, dan Aina membalas pelukannya.
"Ahahahahaha! Onee-chan! Ini pertama kalinya ya! Senang bertemu denganmu, Onee-chan!"
"Iya, senang bertemu denganmu, Sanya!"
Selama lima belas tahun sejak lahir, dua saudari kembar yang selalu bersama itu akhirnya benar-benar "bertemu" pada hari ini.
Setelah momen haru itu selesai, bahkan tidak ada waktu untuk menikmati sisa perasaannya.
Sana-san yang kini bisa melihat (lebih tepatnya, bisa "merasakan" dunia) langsung menginterogasi penampilan Aina, lalu marah setelah mengetahui kalau dia menjadi dungeon diver.
Sana-san menyuruh Aina duduk seiza sambil memarahinya, sementara Aina malah menyeringai meskipun dimarahi. Di tengah situasi itu, orang tua mereka pulang.
Orang tuanya langsung tahu dari sekali lihat bahwa Aina adalah dungeon diver. Ayahnya marah, ibunya menangis tersedu-sedu. Selama dimarahi Sana-san, Aina masih santai, tapi saat dimarahi ayahnya, dia akhirnya benar-benar tampak murung.
Namun setelah itu, ketika Sana-san melaporkan bahwa dia sekarang bisa melihat, orang tuanya langsung bersorak kegirangan. Kali ini Aina dipuji habis-habisan. Situasinya benar-benar kacau dan sulit dimengerti.
Aku menurunkan kamera dan dengan hati-hati memberi salam pada orang tua Aina, tapi malah dihujani pertanyaan tanpa henti sampai lewat tengah hari.
Setelah itu, aku setengah dipaksa ikut makan siang perayaan bersama keluarga Okumura, menikmati makanan mewah, dan baru saja dibebaskan belum lama ini.
Setiap kali Sana-san berjalan di luar tanpa tongkat putih, atau melihat menu di restoran, orang tuanya langsung menangis lagi. Jujur saja, dari sudut pandang orang lain, keluarga itu mungkin terlihat seperti sedang pakai obat aneh.
"Orang tuamu senang banget ya."
"...Iya."
Sekarang, aku dan Aina sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen dengan kereta. Ekspresi Aina yang duduk di sampingku tampak lega, seperti beban telah terangkat, tapi di saat yang sama juga terasa rapuh dan sedikit sedih.
"Mereka senang sih, tapi juga marah ya."
"...Iya."
Lisensi diver Aina katanya akan dihentikan oleh orang tuanya. Wajar saja. Kalau anak perempuan kesayangan mereka diam-diam jadi dungeon diver, orang tua mana yang tidak akan bertindak begitu.
Dan kehidupan Aina yang tinggal sendiri juga akan berakhir. Dia akan segera meninggalkan apartemennya dan kembali tinggal bersama orang tuanya dan Sana-san.
"Kamu jadi dungeon diver buat cari Hawk Eye, kan? Sekarang tujuanmu sudah tercapai. Tinggal hidup bahagia bareng orang tuamu dan Sana-san. Baguslah."
"...Iya."
Tujuan awalnya sudah tercapai. Harusnya semuanya sempurna. Tapi entah kenapa, Aina terlihat tidak bersemangat.
Yah, aku sebenarnya tahu alasannya.
Aku menghela napas, lalu meletakkan tanganku di atas kepala Aina tanpa menyentuh kulitnya langsung.
"Akan terasa sepi ya."
"..."
Aina tidak menjawab. Dia hanya bersandar pada jendela kereta dan menatap pemandangan yang berlalu tanpa benar-benar melihatnya.
Kami pulang dalam diam. Berjalan dalam diam. Dan akhirnya tiba di apartemen.
"Kerja bagus, Aina. Nanti aku bakal main lagi, jadi hubungi aku kalau sudah tenang, ya."
"...Iya. Eh, dan juga…."
"Ya?"
"Terima kasih… banyak. Sampai jumpa."
"Iya. Sampai nanti."
Aina mengatakan itu, lalu masuk ke kamarnya.
──Seminggu kemudian, kamar di sebelahku menjadi kosong.
◇
Beberapa hari setelah Aina pindah. Entah kenapa suasana hatiku murung, seolah mencerminkan langit pagi musim hujan yang mendung.
Aku membawa payung lipat dan keluar rumah. Melirik sekilas kamar sebelah yang kini sunyi tanpa suara "nyaa-nyan", lalu berangkat ke sekolah.
Saat duduk di kursiku di kelas, Sakakibara langsung menghampiriku dengan mata berbinar.
"Mura! Dengar belum? Katanya ada siswi pindahan di kelas satu!"
"Kalau pindah ke kelas kita sih beda cerita, tapi kalau kelas satu, nggak ada hubungannya sama kita kan?"
"Nah itu! Katanya dia super imut! Dan dari jurusan eksplorasi dungeon! Katanya dulunya dari sekolah khusus cewek, terus pindah ke sekolah campuran buat cari experience… Aduh, semoga dia masuk ke kelasku!"
Sambil melirik temanku yang larut dalam khayalan, aku menjawab dengan tenang.
"Kalau tujuannya experience, pasti incar senpai kelas tiga yang EXP-nya besar. Mungkin ada rumor yang bocor."
"Haaah… ya juga sih. Orang kayak kita yang miskin experience nggak bakal dilirik. Sudahlah, berhenti ngelamun. Kerjain tugas dulu. Mura, pinjam catatan Inggris."
Melihat dia langsung berubah serius, aku menghela napas dan menyerahkan catatanku. Dia bahkan tidak menatapku saat bilang "makasih" dan mulai menyalin. Aku sempat berpikir ingin berhenti berteman dengannya.
Sepulang sekolah, hujan turun sesuai ramalan. Aku membuka payung sambil menghela napas. Di depan, ada senpai dengan payung, dikelilingi siswi-siswi yang berebut ingin berbagi payung dengannya. Perbedaan experience memang kejam.
Saat hendak keluar gerbang sekolah, aku melihat seorang gadis kecil berdiri sendirian tanpa payung. Seragamnya bukan dari sekolah ini, dan dia memakai jaket mencolok dengan banyak bordir karakter. Karena memakai hoodie dalam-dalam, wajahnya tidak terlihat. Tapi entah kenapa terasa familiar, jadi aku berhenti.
"Eh… lagi nunggu teman? Kamu bakal basah. Nih, pakai ini saja."
"......"
Aku mengulurkan payung, tapi dia tidak menjawab. Bahunya gemetar. Entah karena dingin atau menangis.
"...Kamu nggak apa-apa?"
Aku khawatir dan mengintip ke dalam hood-nya.
Tatapan jahil dan senyum seperti binatang buas yang siap menerkam.
"Nyahahahaha! Tatsu-nii gampang banget ditipu! Dan penakut banget! Nggak bisa bilang 'aku antar pulang' gitu? Pfft, cowok introvert payah banget!"
"Kau—!"
"Ya sudah, aku temani pulang deh! Nfuh♡"
Gadis itu mengangkat wajahnya, dan hood-nya terlepas. Mata berbentuk almond, mulut lebar, dan highlight rambut pink yang khas.
Aina, basah oleh hujan, memeluk lenganku dengan wajah ceria.
"Kenapa kamu ada di sini!?"
"Aku pindah sekolah!"
Siswi pindahan cantik kelas satu… kata-kata Sakakibara terlintas di kepalaku.
"Pindah sekolah… jangan bilang jurusan eksplorasi dungeon?"
"Iya!"
"Tapi orang tuamu kan menentang banget…"
"Kalau sudah umur dua puluh, orang tua nggak bisa menghentikan lisensi diver lagi! Aku bilang nanti bakal balik jadi diver, akhirnya mereka setengah terpaksa ngasih izin!"
"Hadeh… jangan terlalu bikin orang tuamu khawatir."
"Makanya, mereka bilang kalau begitu sekalian saja belajar dungeon dengan benar, jadi aku dipindahkan ke sekolah yang ada jurusannya! Oh iya, nanti Sanya juga bakal pindah! Kan sudah ada Hawk Eye! Kita juga bakal jadi DTuber berdua!"
Aina tertawa ceria. Karena dia terlihat bahagia, rasanya tidak enak kalau aku menyela.
"Kalau pindah ke sini, berarti tinggal di sini juga?"
Rumah Aina cukup jauh dari sini. Naik kereta masih mungkin, tapi perjalanan dua jam setiap hari pasti berat.
"Sebenarnya aku tinggal sendiri lagi di sini… nanti Sanya juga ikut, jadi kita tinggal berdua! Itu loh!"
Aina menunjuk sebuah apartemen besar di depan. Memang bukan lagi tetangga sebelah, tapi jaraknya cukup dekat untuk tetap bertemu.
"Baru pindahan sih, belum beres, tapi nanti kalau sudah rapi, main saja kapan pun!"
Dia melompat keluar dari bawah payung dan melambaikan tangan di depan apartemennya.
"Kapan saja boleh main Neuro Dive juga!"
"Makasih, hubungi aku kalau sudah siap ya!"
Aku melambaikan tangan pada Aina yang tersenyum cerah, lalu berjalan pulang ke apartemenku. Perasaan murung yang tadi pagi kurasakan sudah hilang. Tanpa sadar, awan pun menyingkir dan matahari mulai bersinar.
Mungkin aku tidak bisa sering bermain dengannya seperti dulu, tapi bukan berarti tidak bisa bertemu lagi. Aku juga ingin bermain Neuro Dive lagi, jadi sesekali akan mampir.
"...Eh, dia bawa Neuro Dive-ku ya."
Sepertinya bukan tidak sengaja, tapi memang sengaja.
"Yah sudahlah. Sampai aku kerja paruh waktu dan beli komputer bagus, kupinjamkan saja dulu."
Sepertinya aku harus menunggu cukup lama sebelum bisa merasakan pengalaman seksual yang belum pernah kualami itu.





Post a Comment