NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kiwamete Kenzen na Bishoujo Level Up V1 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Gadis Idol Populer (bareng-bareng, mau "pergi"?♡♡♡♡♡♡♡)

Menjelang berakhirnya musim hujan di akhir bulan Juni. SMA Soukoku mulai mempersiapkan diri untuk festival olahraga setelah musim hujan. 


Tahun lalu kalau tidak salah festival olahraga diadakan bulan Mei, tapi entah kenapa tahun ini di bulan Juli. Alasannya dijelaskan oleh Gori-sensei saat pelajaran olahraga.


"Belakangan ini jumlah siswa semakin berkurang karena dampak penurunan angka kelahiran, jadi mulai tahun ini festival olahraga akan diadakan bersama dengan SMA Keika. Latihan dasar tetap dilakukan masing-masing, tapi sebagian latihan gabungan akan dilakukan dengan mengundang siswa dari SMA Keika ke sekolah kita. Pastikan jangan sampai terjadi masalah."


Mendengar penjelasan Gori-sensei, para siswa laki-laki di kelas langsung heboh. Tidak mungkin ada laki-laki yang tidak senang mendengar festival olahraga gabungan dengan sekolah khusus perempuan.


Dan para siswi juga terlihat senang. Alasannya adalah…


"Keika itu sekolahnya Yurarin dari Trispa, kan!?"


"Bisa lihat langsung!? Kayak mimpi!"


"Tapi dia bakal ikut festival olahraga nggak ya?"


Begitulah. Sekolah tempat Yurarin—bintang baru yang popularitasnya terus meroket sejak debut idolnya—bersekolah adalah SMA Keika.


Setelah menunggu sampai kegaduhan para siswa mereda, Gori-sensei kembali membuka mulut.


"Setengah kelas di Keika adalah jurusan penjelajahan dungeon. Banyak siswi yang penuh semangat, jadi terutama siswa laki-laki harus berhati-hati. Untuk cabang lomba, diskusikan dan tentukan saat long homeroom."


Cabang lomba dalam festival olahraga adalah masalah hidup dan mati bagiku. Aku sama sekali tidak boleh ikut lomba campuran laki-laki dan perempuan. Misalnya seperti lomba lari kaki seribu, estafet kelas, atau menggulingkan bola besar—semuanya berbahaya.


Tahun lalu aku berhasil menang janken dengan gemilang dan mendapatkan lomba lari, menjatuhkan tiang, dan tarik tambang—semuanya tanpa kontak fisik dengan perempuan. 


Kalau sampai kalah suit dan harus ikut estafet campuran, aku sudah berencana bolos dengan alasan sakit mendadak di hari festival. Ngomong-ngomong, kelas tiga ada dansa rakyat, jadi tahun depan sudah pasti aku akan "sakit".


Rasanya seperti aku sendiri yang memilih masa muda abu-abu, membuat hatiku sedikit berat.


"……"


Aku menatap kosong tangan kananku. Bentuknya menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah terbuka. Sementara yang lain semuanya menggenggam batu.


Apa-apaan gunting ini. Apa-apaan peace ini. Tidak ada kebahagiaan sama sekali.


"Baik. Mura ditetapkan ikut lomba tiga kaki campuran laki-laki dan perempuan."


Ya. Dipastikan aku akan bolos saat festival olahraga.


Apa sih lomba tiga kaki campuran itu. Jangan bikin lomba kayak gitu. Aku cuma pernah lihat di light novel romcom.


Padahal biasanya mereka selalu ngomong soal perempuan, tapi giliran begini malah kabur ke lomba khusus laki-laki. Pengecut banget. Dasar lemah. Ya, aku juga tidak bisa ngomong banyak sih.


Saat aku mengumpat dalam hati, panitia festival olahraga mengumumkan.


"Peserta lomba kaki seribu, perang kuda, dan tiga kaki harap berkumpul di gym untuk pembagian tim dengan kelas lain. Tim biru di sisi panggung!"


Sambil mendengarkan dengan kosong, aku menuju ke gym.


Di dalam gym sudah banyak siswa tim biru berkumpul, mengikuti instruksi seseorang yang tampaknya kapten tim dari kelas tiga.


"Peserta lomba tiga kaki ke sini!"


Saat aku berjalan ke arah suara itu, para siswi peserta lomba tiga kaki menoleh ke arahku. Lalu setelah melirikku sekilas, mereka langsung mengalihkan pandangan tanpa minat.


Sudah lebih dari setahun sejak aku masuk sekolah ini. Rupanya rumor tentang siswa laki-laki tanpa experience point sudah menyebar ke angkatan lain. Padahal ini lomba campuran laki-laki dan perempuan—tentu saja mereka ingin berpasangan dengan laki-laki yang ada experience point, lalu berkembang jadi hubungan macam-macam.


Bagiku di mata mereka, mungkin aku ini "zonk besar".


Kemungkinan besar aku akan jadi sisa, lalu dipasangkan dengan siswi yang kalah suit sambil menghela napas. Dan saat hari H aku bolos, membuatnya menghela napas lagi. Hanya membayangkannya saja perutku sakit.


"Baik, peserta lomba tiga kaki silakan berpasangan laki-laki dan perempuan!"


Wakil kapten perempuan memberi aba-aba yang terasa seperti hukuman mati. Para laki-laki yang experience pointnya besar langsung dipilih lebih dulu, pasangan terbentuk satu per satu. Ah, aku pasti bakal tersisa sampai akhir.


Aku duduk dengan posisi segitiga di lantai, bersandar di bawah panggung sambil meratapi nasib, ketika suara datang dari atas.


"Yo, anak muda. Gimana rasanya jadi sisa?"


Saat aku mendongak, wajah Suzuka yang terbalik terlihat. Sepertinya dia mengintip dari atas panggung.


"Suzuka-san……"


"Nishishi, kenapa Tatsuya ikut lomba tiga kaki? Kalah suit?"


"Tepat sekali……"


"Jadi Tatsuya yang tidak punya experience ini diabaikan para cewek dan jadi sisa. Kasihan banget."


Suzuka melompat turun dari panggung dengan ringan, lalu berdiri di depanku sambil mengulurkan tangan.


"Tatsuya, biar aku aja yang jadi pasanganmu."


Padahal suasananya seperti gyaru, tapi Suzuka terlihat seperti malaikat.


"Boleh?"


"Mana ada cewek lain yang tahan sama ini. …Nn♡"


Tanpa ragu Suzuka menggenggam tanganku, lalu menarikku berdiri. Sepertinya tahun ini aku tidak perlu bolos festival olahraga.


Awal Juli. Hari cerah setelah musim hujan berakhir. Festival olahraga gabungan SMA Soukoku dan SMA Keika pun dimulai. Ketua OSIS dari kedua sekolah berdiri berdampingan, mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi dan menyatakan pembukaan, diiringi suara gemuruh yang menggema di langit biru.


Festival dimulai dengan meriah, tapi jujur saja bagi siswa biasa sepertiku ini sangat membosankan. Aku hanya ikut dua lomba: tiga kaki dan tarik tambang. Sisanya paling hanya ikut suporter yang wajib untuk semua siswa laki-laki. Selebihnya hanya duduk di tenda sambil menyemangati. Jujur, membosankan.


"Baiklah, saatnya mengamati cewek-cewek imut. Soal baju olahraga yang tembus karena keringat, itu nanti saja di sesi siang."


Sakakibara, siswa biasa B yang duduk di sebelahku, tampaknya langsung mengubah tujuan festival menjadi sesuatu yang tidak senonoh. Dia melihat lomba estafet siswi kelas satu dengan kedua tangan seperti teropong. Kalau siswa bisa menikmati sampai segini, pihak sekolah pasti puas. …Atau malah tidak.


Setelah estafet siswi kelas biasa, giliran siswi jurusan penjelajahan dungeon. Karena mereka terbiasa masuk dungeon dan menaikkan level, kecepatan mereka jauh dari manusia biasa.


"Ah! Terlalu cepat, tidak sempat diamati!"


Sakakibara juga tidak mampu mengikuti kecepatan itu.


"Ah! Yang pelari terakhir! Itu murid pindahan kemarin! Oi Mura lihat! Cantik banget!"


"Iya iya, ngerti."


"Eh, tapi wajah itu kayak pernah lihat di mana ya……"


Aku mengalihkan pandangan ke para pelari terakhir. Di sana ada satu gadis yang tampak sangat mencolok. Itu Aina. Rambut dengan inner color pink berpadu dengan hachimaki biru terlihat sangat cocok.


Sepertinya seragam olahraga Soukoku miliknya belum datang, jadi dia memakai seragam yang berbeda sendiri. Biasanya itu akan terlihat aneh, tapi karena Aina berdiri dengan percaya diri sambil tersenyum berani, justru semakin menonjolkan pesonanya.


Satu per satu baton sampai ke pelari terakhir, tapi tim Aina belum juga datang. Sepertinya mereka di posisi terakhir. Aina tidak terlihat peduli, malah melakukan pemanasan. Saat dia meregangkan bahu, dia melihat ke arah sini. Mungkin dia menyadari keberadaanku, lalu tersenyum lebar dan melambaikan tangan.


"Oi Mura! Tadi murid pindahan itu lihat ke sini dan senyum! Oi murid pindahan! Semangat!"


Teman-teman sekelas memandang dingin Sakakibara yang salah paham. Tentu saja. Aina ada di tim merah, kami di tim biru. Tidak seharusnya menyemangati.


Aina akhirnya menerima baton di posisi terakhir, tapi dari situ dia mulai mengejar dengan cepat. Dengan posisi rendah seperti cheetah, dia mempercepat langkah dan menyalip satu per satu. Penonton pun heboh, suara komentator semakin bersemangat.


Saat melewati kami, Aina sedikit memperlambat langkah. Lalu dengan sengaja mengedipkan mata ke arahku, kemudian kembali mempercepat.


"O-oi! Tadi dia ke arahku! Mura! Dia pasti ngedip ke aku, kan!?"


"Itu cuma salah lihat. Mungkin ada pasir masuk mata."


Aina menyalip semua orang tepat sebelum garis finish, dan akhirnya memenangkan lomba. Dengan tangan di pinggang dan mengangkat tanda V tinggi-tinggi, dia menerima tepuk tangan meriah.


Berkat Aina, festival langsung meriah sejak lomba pertama. Sepertinya tahun ini tidak akan membosankan.


"Peserta lomba tiga kaki campuran harap berkumpul di dekat pintu masuk. Diulangi, peserta lomba tiga kaki campuran harap berkumpul di dekat pintu masuk."


Pengumuman dari pengeras suara. Akhirnya saatnya tiba.


"Oh, akhirnya giliranmu, Mura. Bisa nempel sama cewek secara legal, iri banget!"


Sakakibara menyikutku.


"Kalau begitu kamu saja yang ikut."


"Enggak, aku harus ikut lempar bola. Aku kan dikenal sebagai sniper Soukoku."


Diam saja, tidak ada julukan begitu. Malas menanggapi, aku menuju pintu masuk.


"Ooi Tatsuya! Sini sini!"


Saat aku menoleh ke arah suara itu, yang terlihat adalah rambut pirang pendek. Itu Suzuka-san. Lengan dan kakinya yang menjulur dari seragam olahraga pendek tampak menyilaukan.


"Ayo kita pasti ambil juara satu!"


Suzuka berkata dengan ekspresi penuh semangat. Sepertinya dia tipe yang serius dalam acara seperti ini.


"Tentu aku bakal berusaha, tapi… kamu benar-benar tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa soal apa?"


"Maksudku… ya, soal aku…"


Aku menunjuk lenganku yang memakai arm cover. Suzuka tentu tahu tulisan di bawah arm cover itu.


"Aman, aman! Aku bakal tahan sampai akhir kok."


"Walaupun begitu…"


Baik aku maupun Suzuka memakai pakaian lengan pendek dan celana pendek. Kalau melakukan lomba tiga kaki dengan pakaian seperti ini, tentu saja area kontak kulit akan besar. Artinya, sensasi yang mengalir ke Suzuka juga akan semakin besar.


"Makanya, aku bilang aman! Nih!♡"


Tiba-tiba Suzuka menggenggam tanganku. Kulitnya yang sedikit lembap karena keringat terasa seperti menempel. Meski dia mengeluarkan suara sedikit menggoda, ekspresinya hampir tidak berubah.


"Luar biasa…"


Saat aku kagum, Suzuka mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik pelan.


"Aku tadi pagi sudah melakukannya sendiri, jadi segini masih santai… nngh♡ banyak yang masuk ya♡ Tatsuya, kamu terangsang ya? ♡"


※Ini cuma pegangan tangan.


Suzuka berkata seperti memancing, membuat jantungku berdegup kencang. Mana mungkin ada laki-laki yang tidak terangsang dengan ini. Kalau ada, dia bukan laki-laki normal.


Giliran kami adalah pasangan keenam. Perlahan giliran kami semakin dekat.


Karena pasangan sebelumnya sudah mulai, kami juga bersiap. Kaki Suzuka diikat erat ke kaki kananku. Betis kami yang berkeringat saling bersentuhan.


"Tss!♡ B-bahu juga…"


Aku merangkul bahu Suzuka. Lenganku menyentuh lehernya. Sekilas Suzuka gemetar.


"Ahaha♡ ini memang berbahaya ya♡♡♡♡♡"


"Suzuka-san, kamu tidak apa-apa?"


"Aku bilang tidak apa-apa, kan? ♡♡♡♡♡"


Suzuka berkata dengan pipi memerah. Ekspresinya yang begitu menggoda membuat "kaki ketigaku" hampir berdiri. Bukannya tiga kaki, malah jadi empat kaki? Apa yang aku pikirkan sih.


"Baik, lomba tiga kaki, race keenam. Bersiap!"


Aku melangkahkan kaki kiri, Suzuka kaki kanan, dan kami merendahkan posisi.


"Siap…"


—PANG!


Bersamaan dengan suara pistol start, kami melangkah.


"Ikuti aku, Tatsuya! ♡"


Tubuhku langsung tertarik ke depan. Dari segi kemampuan fisik, aku memang tidak mungkin menang dari Suzuka. Aku hanya berusaha agar kaki tidak tersandung, sambil mati-matian mengikuti langkahnya.


Seperti yang diduga, Suzuka luar biasa. Kami melaju cepat, meninggalkan peserta lain.


"Suzuka-san… hebat!"


"Ya jelas dong! ♡"


Kami terus melaju dan seharusnya bisa menang jauh. Namun,


"M-maaf, Tatsuya♡♡♡ kayaknya… bahaya! ♡♡♡♡♡"


Padahal tadi terlihat santai, tapi rupanya dia menahan cukup keras. Suzuka menghembuskan napas panas. Kakinya yang tadi kokoh tiba-tiba goyah dan lututnya tertekuk.


"Wah! Peserta tim biru yang memimpin jatuh! Peserta lain mulai mendekat!"


"Suzuka-san! Bisa berdiri!?"


"T-tunggu♡♡♡ kalau disentuh sekarang♡♡♡♡♡ nngh aaah♡♡♡♡♡♡"


Sepertinya tidak bisa. Saat kulirik ke belakang, peserta lain semakin mendekat.


"…Kita bilang bakal juara satu, kan! Suzuka-san, maaf!"


Aku merangkul pinggang Suzuka yang sudah lemas, lalu memaksanya berdiri.


"Nngh♡♡♡ T-Tatsuya♡♡♡♡♡"


"Aku bakal bawa kamu! Tahan sedikit lagi!"


"A-ahaha♡♡♡ keren juga kamu♡♡♡♡♡"


"Peserta laki-laki tim biru menggendong pasangannya yang lemas dan terus maju! Peserta lain mendekat! Siapa yang akan menyentuh garis finis lebih dulu!?"


Tanpa sempat melihat ke belakang, aku terus maju sambil menopang Suzuka-san. 


Aku tidak boleh menyia-nyiakan keunggulan yang dia buat. Dengan putus asa aku menggerakkan kaki, dan bersama Suzuka kami nyaris tersandung sambil menembus garis finis. Lalu langsung jatuh.


"Peserta tim biru finis! Mereka berhasil mempertahankan posisi pertama dengan tipis!"


"Kita berhasil! Suzuka-san! Kita tetap juara satu!"


Pertandingan yang benar-benar mepet. Meski cuma lomba tiga kaki, aku sangat senang bisa menang bersama Suzuka. Tanpa sadar aku mengguncang bahunya.


"Suzuka-san! Suzuka-san! Kita berhasil! Kita hebat!"


"Ah♡♡♡ T-Tatsuya♡♡♡ sudah tahu♡♡♡ tanganmu♡♡♡♡♡"


"Ah, maaf!"


Aku segera melepaskan bahu Suzuka. Karena tidak punya tenaga, dia langsung jatuh ke atasku.


"Ah"


"Nn, aaaaah♡♡♡♡♡♡♡♡♡"


Seolah mencium leherku, Suzuka membenamkan wajahnya, mengeluarkan suara pendek, lalu pingsan begitu saja.


"E-eh!? Tim medis! Cepat ke sini!"


Suzuka segera dibawa oleh tim medis yang datang berlari.


Meski terjadi kejadian tak terduga, Suzuka segera sadar kembali dan langsung pergi ke lomba berikutnya. Karena kemampuan fisiknya tinggi, dia tampaknya jadi rebutan di banyak lomba.


Sementara aku hanya tinggal ikut tarik tambang terakhir di pagi hari dan supporter di awal siang. Jujur saja, sisanya cuma formalitas. Bahkan kalau aku tidak ikut pun sepertinya tidak masalah.


"Selanjutnya, nomor enam, pertandingan cheerleading!"


"Akhirnya! Acara utama festival olahraga!"


Sakakibara di sebelahku berseru penuh semangat. Berikutnya adalah kompetisi sorakan cheerleading dari para siswi. Penonton dan bahkan orang dewasa yang datang pun langsung bersemangat.


Tidak heran. Di tengah tim hijau, berdiri seorang siswi dengan aura yang luar biasa. Kulit putih bersih tanpa bekas terbakar matahari, rambut putih yang tampak seperti perak di bawah sinar matahari, mata lembut, dan hidung kecil yang tinggi.


Ya, dia adalah center Trinity Spark, Yurarin.


"Gila… kayak tersedot…"


Sakakibara bergumam, dan itu wajar.


Selama ini aku belum pernah melihat idol secara langsung, tapi hari ini aku mengerti. Idol adalah makhluk dari dimensi yang berbeda. Tanpa sadar, mata ini tertarik padanya.


Saat Yurarin bersiap dan mengangkat tangan, sorakan yang tadi ramai langsung hilang seketika.


Memanfaatkan momen hening itu, Yurarin mengangkat suara dan pom-pom di tangannya.


"Tim hijau—! Semangat!"


"Oooohh!!"


Musik mulai mengalun selaras dengan waktu, dan para siswa menari mengikuti iramanya. Keheningan sebelumnya seakan bohong, digantikan dengan gerakan yang penuh energi. Semua tampak sudah berlatih, gerakan mereka kompak dan enak dilihat.


Semua memiliki tingkat penyelesaian yang tinggi, tapi tetap saja pandangan secara alami tertarik pada Yurarin di tengah. Penampilannya yang luar biasa membuat semua orang—baik laki-laki maupun perempuan, siswa maupun orang tua—terpaku. Bahkan ada siswa yang sampai menangis. Begitulah sosok seorang "idol".


Di akhir lagu, Yurarin diangkat tinggi ke udara oleh tiga siswa. Dia mendarat dengan sempurna tanpa terlihat goyah, lalu menutup dengan pose.


Sesaat hening. Lalu sorakan dan tepuk tangan meledak seperti teriakan. Dalam lomba dukungan ini, tim hijau pasti menang. Tidak bisa dihindari.


Sakakibara di sebelahku membuka mulut dengan linglung.


"Aku… mulai hari ini bakal masuk fan club Trispa…"


Wajar saja dia berkata begitu. Bahkan aku yang tidak tertarik dengan idol pun jadi ingin melihat konser Yurarin secara langsung.


Ngomong-ngomong, setelah lomba dukungan yang meriah itu, tarik tambang terasa hambar. Semua orang seperti kehilangan semangat, dan acara berjalan santai sampai akhirnya waktu makan siang tiba.


"Mura— ayo makan, makan—"


Sakakibara memanggil dengan malas. Meskipun ini makan siang saat festival olahraga, aku tidak ingin makan di luar. Kalau bulan Mei masih mending, tapi makan di bawah terik matahari bulan Juli itu seperti penyiksaan. 


Meski begitu, siswa yang penuh semangat tetap menuju halaman dan lapangan. Sayangnya, aku dan Sakakibara bukan tipe seperti itu. Sudah pasti kami makan di kelas yang sejuk ber-AC.


"Baiklah, selamat makan—"


Saat aku hendak membuka bekal, pintu depan dan belakang kelas terbuka bersamaan, dan dua suara berbeda terdengar.


"Tatsuya— ayo makan bareng—"


"Tatsu-nii— ayo makan bareng—"


"O…h…"


Aku langsung terdiam. Dan teman-teman sekelas yang masih di kelas menatapku dengan aneh. Tidak ada yang berkata apa-apa, tapi maksud mereka terasa jelas.


"Kenapa harus kamu? Kenapa kamu yang bersama dua gadis imut itu?"


Kurang lebih begitu.


Di depan ada gyaru, di belakang ada tipe "ranjau". Tidak ada jalan kabur bagiku.


Suzuka dan Aina berjalan mendekat ke mejaku, lalu saling menatap. Entah karena AC terlalu dingin, suasana tiba-tiba terasa menegang.


"Kamu siswa kelas satu yang baru pindah, ya? Katanya kamu lagi ngejar Oku-senpai, tapi kenapa ada di sini? Ada urusan dengan Tatsuya?"


"Ah, senpai itu yang barusan ikut lomba tiga kaki sama Tatsu-nii ya? Keren banget loh. Sampai lemas dan digendong sampai garis finish."


Seolah ada percikan api yang terlihat. Para siswa laki-laki yang tadi menatapku kini menunduk dan makan, seolah tidak ingin terlibat.


"Tatsuya, kamu makan sama aku, kan?"


"Tatsu-nii, makan sama Aina, kan?"


"Ehm… gimana kalau kita makan berempat saja? Ya kan, Sakakibara?"


Aku mencoba meminta bantuan, tapi…


"Sakakibara, ke mana?"


Sakakibara yang kukira temanku, tiba-tiba menghilang.


Makan siang neraka pun dimulai.


Karena panas terik, atap sekolah tidak terlalu populer, tapi sebenarnya ada tempat tersembunyi yang sejuk—di balik tangki air besar. Mungkin karena ada air di dalamnya, terasa sedikit lebih adem.


Di tempat itu, aku, Suzuka, dan Aina makan bersama. Kukira suasana tegang seperti di kelas akan berlanjut, tapi ternyata tidak.


"…Terus aku berhasil menemukan Hawk Eye dan memberikannya ke Sanyan. Waktu itu aku benar-benar senang! Semua berkat Tatsu-nii!"


"Wah, gila… tunggu, aku mau nangis. Kamu baik banget…"


Karena Suzuka dan Aina sama-sama tahu rahasiaku, aku memutuskan menceritakan semuanya. Lagi pula mereka memang orang baik, jadi ketegangan tadi cepat hilang.


"Suzuka juga hebat ya. Buah logam lunak itu langka banget kan? Aina belum pernah lihat."


"Suzuka-san itu, demi orang yang terkena penyakit pembatuan, masih terus mencari buah itu. Bahkan kalau dapat, dia kasih gratis."


"Jangan ngomong yang tidak perlu."


"Wah! Baik banget! Soalnya kamu kelihatan gyaru, aku kira kamu menakutkan! Eh, lain kali kita dungeon bareng yuk! Aina punya ‘Kuasa Ramalan Hitam’, mungkin bisa bantu!"


"Serius!? Wah, itu sangat membantu! Eh, tunggu… kamu itu Ainyaaaan?"


"Nihaha, baru sadar ya! Idol DTuber terkenal itu ya aku!"


"Wah! Aku pernah lihat sedikit! Yang jago banget gagal di game dan suka mukul meja itu kan!?"


"Bukan streamer! DTuber!"


Tanpa sadar mereka langsung akrab dan ngobrol seru, meninggalkanku. Ya, bagus sih mereka akur.


Akhirnya aku hanya jadi pemberi respons seperti "oh", "gitu ya", "iya ya" tanpa arti. Setelah makan selesai, mereka akhirnya tenang.


"Aina, kamu ikut di grup terakhir Adventure Run ya?"


Adventure Run adalah lomba penutup festival. Ini semacam lomba rintangan untuk siswa jurusan dungeon, tapi sangat ekstrem. Menggunakan kemampuan fisik dan skill, mereka melewati rintangan seperti lomba makan roti di tempat tinggi atau menarik ban logam berat.


Namun tantangan terakhir adalah lomba mencari barang, jadi tetap tergantung keberuntungan.


Karena perbedaan level terlihat jelas, peserta dimulai dari level rendah hingga terakhir enam orang terkuat. Tahun ini ada siswa dari Keika juga, jadi pasti seru.


"Tentu! Suzuka juga?"


"Jelas."


Suzuka tersenyum dan mengulurkan tinju. Aina membalas.


"Kalau begitu, Tatsuya jadi hadiah untuk pemenang."


"Nihihi, aku terima tantangannya!"


Tanpa sepengetahuanku, aku dijadikan hadiah. Tolong hentikan.


"Ah, sudah waktunya! Aku harus ikut perang kuda, duluan ya!"


Suzuka buru-buru membereskan bekalnya dan pergi.


"Jangan kabur di Adventure Run ya!"


"Kamu juga."


Setelah tersenyum percaya diri, Suzuka pergi.


"Tatsu-nii, Suzuka itu yang dulu sering kamu bawa ke kamar kan?"


"Caramu ngomong agak aneh, tapi iya."


"Hmm… oh, karena ibunya sudah sembuh ya."


Aina mengangguk sendiri.


Saat kami hendak kembali ke lapangan, pintu atap terbuka.


Masuk tiga siswi Keika dengan penampilan gyaru penuh aksesori mencolok. Mereka terlihat berbeda dari Suzuka.


"Ah, padahal festival gabungan, tapi tidak dapat cowok bagus."


"Senpai yang itu juga susah didekati."


"Mana ada cowok bagus ya—oh?"


Mata kami bertemu. Salah satu dari mereka menatapku.


"Itu yang tadi ikut lomba tiga kaki, kan?"


"Pakai arm cover juga… kayaknya menarik?"


Mereka tersenyum dan mendekat. Aku teringat ucapan sensei bahwa laki-laki bisa jadi "mangsa". Aku mundur, tapi Aina maju melindungiku.


"Maaf ya, orang ini sudah aku tandai. Cari yang lain saja."


"Apa? Kamu siapa?"


"Yang tadi di lomba relay kan?"


"Berarti yang belakang itu cowok ber experience dong."


Mereka tetap mendekat tanpa takut.


"Mau merasakan sedikit pelajaran dulu?"


Tanpa menghiraukan Aina, mereka langsung menyerang. Gerakannya cepat.


"Lambat!"


Namun Aina dengan mudah menangkis. Gerakannya seperti ahli bela diri—menepis pukulan, menghindari tendangan, lalu membalas.


Satu dijatuhkan dengan bantingan, satu dengan sapuan kaki, dan satu lagi dengan dorongan telapak tangan.


"Gila… keren…"


"Nihihi, makin jatuh cinta ya?"


Sejujurnya aku hampir jatuh cinta. Aina yang menggoyangkan gaya rambut twintail-nya sambil berpose terlihat terlalu keren.


"‘Perisai Kura-Kura’, ‘Taring Raja Seratus Binatang’, ‘Lari Cepat’"


"Hah?"


Tiba-tiba terdengar sesuatu seperti mantra. Saat aku menoleh ke arah suara itu, tiga gyaru tadi menatap ke sini sambil tersenyum sinis.


"Itu tadi apa?"


Aku bertanya pada Aina. Dengan wajah tegang, Aina menjawab. Keringat mengalir di pelipisnya.


"Mantra…"


"Memangnya boleh dipakai?"


"Mungkin aku sudah pernah bilang, sama seperti alat penyadap, kalau cuma dipakai sih tidak masalah, tapi…"


Kalau digunakan untuk melakukan kejahatan, tentu hukumannya akan lebih berat. Seingatku Suzuka-san juga pernah bilang begitu.


"Dan kalau dipakai di sekolah, jelas melanggar aturan. Paling ringan diskors, tapi bisa juga langsung dikeluarkan."


"Kalau ketahuan sih. Kalau tidak ada bukti, mana mungkin dikeluarkan."


Para gyaru itu tertawa santai tanpa rasa takut. Benar-benar menyebalkan.


"Kalau begitu, lanjut ya"


Tanpa jera, mereka kembali menyerang. Sama seperti sebelumnya, tapi kali ini jelas lebih cepat.


—DUK!


"Ugh!"


Saat Aina menahan tendangan, terdengar suara berat. Jelas kekuatan serangan mereka meningkat. Dalam situasi tiga lawan satu, ditambah mereka menggunakan mantra, bahkan Aina pun sulit mengatasi semuanya.


Lagi pula, Aina tampaknya berusaha tidak melukai mereka terlalu parah. Dalam kondisi seperti itu, sulit untuk menang.


Akhirnya pertahanan Aina jebol, dan tendangan tajam menghantam perutnya.


"Ugh… ngh…"


Aina berlutut sambil menggertakkan gigi.


"Aina! Kamu tidak apa-apa!?"


"Aku… tidak apa-apa!"


Yang bisa kulakukan hanya mengusap punggungnya. Itu membuatku kesal pada diriku sendiri.


"Aku panggil Suzuka-san!"


"Tidak akan kubiarkan."


Aku mencoba lari ke pintu, tapi langsung dihalangi. Tidak mungkin aku bisa menang melawan mereka.


"Menyingkirlah!"


—BUGH!


"Ugh!"


Suara benturan tumpul terdengar, diikuti erangan Aina. Aku tidak berguna.


"Aina! Mereka pakai mantra, kamu juga pakai saja skill atau mantra!"


"Itu tidak boleh!"


"Kenapa!?"


Dengan wajah berkeringat, Aina tersenyum paksa.


"Aku akhirnya bisa menjalani kehidupan SMA bersama Tatsu-nii… aku tidak mau sampai dikeluarkan."


"Aina…"


Hatiku terasa tercekik melihat betapa dia memikirkanku.


"Hah? Mesra-mesraan di depan orang?"


Para gyaru yang mendengar itu semakin menyerang dengan ganas.


Aina berjuang hanya untuk bisa tetap bersamaku. Dan aku yang dilindungi hanya bisa diam? Itu tidak bisa dibiarkan.


Aku lemah. Aku hanya orang biasa. Tapi ada satu hal yang bisa kulakukan…


"Uooooooo!!"


"Tatsu-nii!?"


Dengan teriakan menyedihkan, aku berlari ke arah tiga gyaru itu. Aina tampak terkejut, sementara mereka justru terlihat senang.


"Hah! Mangsa datang sendiri! Lucu banget!"


Senyum sombong itu… akan kuhancurkan!


Aku langsung menerjang mereka.


"Hahaha! Mana mungkin cowok menang lawan kami! Ayo sini—…eh? …eh!?"


Begitu menyentuhku, tubuh mereka langsung melemah. Aku menjatuhkan mereka bertiga sekaligus.


"Apa!? Aaaaah!?"


Mereka tergeletak di tanah, kebingungan. Aku menahan mereka dan—


"Ini tidak sengaja! Tidak sengaja tidak sengaja tidak sengaja!!"


"Aaaaaaaah!!"


※Tatsuya hanya menyentuh tangan dan kaki mereka.


Aku menyentuh tangan dan kaki mereka berulang kali. Ini bukan disengaja. Suara mereka menggema di atap. Dalam hitungan detik, mereka pingsan.


"Aina! Kita kabur! Bisa saja ada orang datang!"


"I-iya!"


Kami meninggalkan mereka dan kabur dari atap.


Kami berlari dan sampai di ruang kelas kosong. Kami duduk di meja guru di kelas berdebu itu. Aina bergerak mendekat hingga jarak kami hampir nol.


"Tatsu-nii, terima kasih ya. Tadi kamu menyelamatkanku."


"Tidak, justru kamu yang menyelamatkanku."


"Tetap saja… terima kasih. Meskipun… tidak terlalu keren, tapi aku senang."


Aina menyandarkan kepalanya di bahuku. Suasana tiba-tiba terasa manis.


"Tapi ya… Aina agak tidak suka lihat Tatsu-nii menyentuh gadis lain."


Aina menyentuh pahaku di atas celana pendek, tanpa menyentuh langsung kulit.


"…Ah. Tatsu-nii, kamu terluka."


Di punggung tanganku ada luka lecet. Mungkin saat tadi jatuh. Sedikit berdarah.


"Untuk Aina… terima kasih… mmh♡"


Aina memegang tanganku, mendekatkannya ke mulutnya, lalu—


"Chu… mmh♡"


"Aina!?"


Dia mencium lukaku dan menjilatnya perlahan.


"Karena Tatsu-nii terluka demi Aina… Aina yang harus menyembuhkan…"


"Aina, tunggu—"


"Tatsu-nii… tidak suka?"


"Bukan… tidak suka!"


Sikap Aina yang tiba-tiba lembut membuat kepalaku kacau. Aku hanya bisa menahan suara sampai dia selesai.


"Peserta lomba berikutnya ‘menggulingkan bola besar’ harap berkumpul di pintu masuk…"


"Ah, kita harus kembali!"



Setelah "pengobatan" yang sebenarnya adalah sesuatu yang mesum itu selesai, kami berdua sedang bermalas-malasan di ruang kelas kosong ketika terdengar suara dari klub siaran. Sudah cukup bolosnya.


Kami keluar diam-diam dari ruang kelas kosong dan berjalan menuju lapangan bersama Aina.


"Ne, ne Tatsu-nii. Yang Tatsu-nii berikan experience point… hanya Suzuka-nee saja?"


Aina bertanya sambil gelisah dan mondar-mandir, seolah sulit mengucapkannya. Pertanyaan yang sulit dijawab.


"Ehm… Ah, tadi aku kasih ke cewek-cewek gal dari kelas Keika sih."


Begitu aku mengelak, Aina langsung cemberut dan menggembungkan pipinya.


"Aduh! Kamu pasti tahu maksudku bukan itu! Tatsu-nii bodoh!"


"Kalau dibilang begitu juga…"


Ini bukan topik yang bisa dibahas dengan ringan. Lagi pula ada privasi orang lain. Saat aku sedang memikirkan cara mengalihkan pembicaraan, seorang wanita berjas putih berjalan mendekat dari depan. Itu Honoka-san.


"Ara, Mura-kun dan… anak yang baru pindah kemarin ya. Hei, selama festival olahraga kalian harus berada di lapangan. Sudah berkali-kali dibilang kan?"


Sepertinya dia sedang ronda di dalam gedung sekolah. Honoka-san melihat aku, Aina, dan ruang kelas kosong di belakang kami, lalu menatap dengan pandangan curiga.


"…Kalian sedang apa?"


"Jalan-jalan~ Maaf ya~. Kami kembali ke lapangan sekarang~"


Aina menjawab tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Maaf. Kami segera kembali."


Mana mungkin aku bilang "kami sedang dilidah-lidah di ruang kelas kosong", jadi aku hanya meminta maaf dan berjalan cepat.


"Mura-kun, tunggu sebentar."


Saat aku hendak lewat di samping Honoka-san, dia menghentikanku.


"Mungkin… tanganmu terluka?"


Pantas saja guru kesehatan. Dia tidak melewatkan luka di tanganku.


"Ah, tidak, bukan apa-apa kok."


"Tolong perlihatkan… an♡"


Tanpa peduli aku yang mencoba menarik tangan, Honoka-san langsung memegang tanganku.


"Bahaya! Matsumoto-sensei, lepaskan!"


"…………♡ Lu, luka lecet ya. Kalau kotoran masuk nanti bahaya, jadi untuk berjaga-jaga aku desinfeksi dulu. Ikut ke ruang kesehatan."


Meski sedang memegang tanganku, Honoka-san berkata dengan wajah biasa saja. Melihat itu, Aina menyipitkan matanya.


"Sensei~. Aina ikut nemenin juga~"


"Kamu kelas satu kan? Lomba bola besar wajib diikuti semua siswi kelas satu. Ikut dengan benar ya."


Honoka-san berkata begitu, lalu tanpa menunggu jawaban Aina, dia menarik tanganku dan berjalan pergi.


"…"


Sambil merasakan tatapan Aina di punggungku, aku ditarik Honoka-san menuju ruang kesehatan.


Begitu sampai di ruang kesehatan, Honoka-san langsung mulai mendesinfeksi tanganku. Tentu saja tangan Honoka-san sedang menyentuh tanganku.


"…Tatsuya-kun. Kamu menjilat luka itu kan?"


"Ehm, itu… iya."


Sebenarnya bukan aku yang menjilat, tapi memang guru kesehatan, dia langsung tahu.


"Memang ada yang bilang menjilat luka bisa menyembuhkan, tapi itu cerita zaman dulu saat tidak ada pengobatan lain. Di dalam mulut juga ada bakteri, jadi mulai sekarang jangan pernah menjilat lagi ya."


"Ba, baik."


Seolah ingin menghilangkan jejak jilatan, Honoka-san mendesinfeksi luka dengan cairan desinfektan yang cukup banyak, lalu memasang perban.


"…♡ Kenapa kamu bisa terluka? Tergelincir saat lomba tiga kaki?"


"Ehm, setelah makan siang di atap, aku jatuh dekat tangki air. Jadi…"


"Kalau jatuh, harus dicek apakah ada luka lain. Ayo, berbaring di tempat tidur♡"


Aku ditarik tangan oleh Honoka-san menuju tempat tidur dan berbaring.


"Ehm, Honoka-san. Tanganmu… tidak apa-apa?"


"Tangan? Lukanya tidak parah kok. Sudah didesinfeksi, pasti cepat sembuh."


Mustahil tidak apa-apa. Dia sedang menyentuh tanganku, mana mungkin ada wanita yang bisa tetap normal. Apalagi dia tidak tahu soal experience point-ku. Kalau dia tahu dan menyentuh dengan persiapan, mungkin bisa menahan sedikit, tapi…


Sikap Honoka-san sama sekali tidak berubah.


Aku belum memberitahu Honoka-san bahwa aku adalah Murata-san, dan aku bahkan menggunakan artefak untuk mengubah suara. 


Kemungkinan dia tahu tidak terlalu tinggi. Tapi tetap saja, ini terasa seperti dia sudah tahu. Atau… ada satu kemungkinan lain yang tidak terlalu ingin kupercaya. Yaitu…


"Honoka-san itu… laki-laki ya?"


Kalau Honoka-san laki-laki, maka transfer experience point tidak akan terjadi. Kalau begitu, dia bisa tetap tenang meski berpegangan tangan.


"…Sepertinya kamu kepala terbentur cukup keras ya."


Mustahil. Lagi pula Honoka-san adalah Dungeon Diver. Mana mungkin dia laki-laki. Lagian, orang dengan payudara sebesar itu mana mungkin laki-laki.


"Aku akan palpasi sebentar ya. Mungkin geli, tapi tahan ya."


Honoka-san menarik napas dalam sekali seolah mempersiapkan diri, lalu menyentuh lenganku.


"…Hau♡…………N♡N, nnn! A-ada tempat yang sakit?"


"Tidak, selain tangan sepertinya tidak ada."


"Be, begitu… nna♡………… Sebentar, aku cek perut juga ya…… a♡"


Apakah benar perlu dicek sampai segini hanya karena jatuh biasa? Honoka-san menggulung baju olahraga bagian atasku dan menyentuh perutku. Ujung jari yang halus dan agak dingin terasa geli.


"Ti, tidak ada kelainan… ya…………nnyu♡♡♡"


"Ehm, Honoka-sa…"


"Selanjutnya paha ya………… gu, n, aaaaa♡♡♡♡♡"


Awalnya Honoka-san masih bisa menjaga ketenangan, tapi sepertinya dia sudah tidak tahan lagi dengan kenikmatan. Matanya mulai basah. Ini sudah jelas ketahuan. Bahwa aku adalah Murata-san.


"Honoka-san. Ini benar-benar hanya lecet di punggung tangan kok."


"Ti, tidak boleh♡♡♡ Tidak boleh loh♡♡♡♡♡ Kalau jatuh, jangan lengah♡♡♡♡♡"


Honoka-san sudah menyentuh tubuhku dengan mata yang seolah penuh tanda hati. 


Benar ya, Honoka-san itu tipe pendiam yang mesum. Karena tubuhnya panas karena "pemeriksaan" yang mesum ini, Honoka-san melepas jas putihnya. Bahu yang terbuka karena model off-shoulder terlihat sangat menggoda.


Saat aku sedang memikirkan apa yang harus dilakukan karena pemeriksaan Honoka-san yang sepertinya tidak akan segera selesai,


"Matsumoto-sensei ada? Aku kayaknya agak heatstroke, tapi juga bukan gitu…"


"♡♡♡♡♡♡♡♡♡"


Tiba-tiba pintu ruang kesehatan terbuka dengan suara "gara". Sepertinya ada yang masuk.


Honoka-san buru-buru menutup mulutnya untuk menahan erangan karena kedatangan tamu mendadak itu. Untuk menghindari kakinya terlihat dari celah bawah tirai tempat tidur, dia naik ke tempat tidur tempat aku berbaring.


"Ara, sepertinya Matsumoto-sensei tidak ada."


"Sudah lah, toh kita lagi bolos. Istirahat sebentar yuk."


"Ah, tapi sepertinya ada yang tidur di tempat tidur."


Yang masuk adalah dua murid. Sepertinya mereka datang ke ruang kesehatan untuk bolos festival olahraga.


Honoka-san buru-buru meraih jas putih yang tadi dilemparnya. Aku menyentuh tengkuk Honoka-san dengan pelan. Dengan tangan telanjang.


"Hoo♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"


"Hm? Tadi ada suara ya?"


"Pasti ada yang tidur di sini."


Aku memanggil murid di balik tirai yang terdengar curiga.


"Matsumoto-sensei pergi ke tenda pertolongan pertama di lapangan."


"Oh, makasih. Siapa pun kamu, istirahat yang nyenyak ya~"


Setelah balas, terdengar suara kursi roda ruang kesehatan yang diduduki. Sepertinya mereka memutuskan untuk terus bolos.


"Ta, Tatsuya-kun…?"


Honoka-san menatapku dengan wajah bingung. Tidak boleh begitu, Honoka-san. Memanfaatkan pengobatan untuk merasa enak sendiri. Untuk Honoka-san yang pendiam tapi mesum, perlu diberi hukuman ya.


Agar tidak terdengar oleh murid yang bolos, aku menjawab dengan suara kecil.


"Honoka-san. Sepertinya saat jatuh tadi aku memelintir pergelangan kakiku sedikit. Bisakah kamu pijat?"


Sambil berkata begitu, aku melepas kaus kaki dan berbaring lagi.


"Eh… ta, tapi…"


Honoka-san melirik-lirik ke balik tirai sambil bingung. Dengan ragu-ragu dia mengulurkan tangan ke pergelangan kakiku, tapi menariknya kembali sebelum menyentuh. Menjengkelkan.


"Aduh aduh! Aduh, kakiku agak terkilir. Pengen dipijat sama orang~"


"Tatsuya-kun!?"


Sengaja aku mengeraskan suara, Honoka-san langsung panik jelas sekali.


"Tidak apa-apa~? Perlu bantuan tidak~?"


Suara bertanya dari balik tirai. Honoka-san menggelengkan kepala dengan putus asa.


"Tidak apa-apa~ Maaf mengganggu~"


"Oke. Kalau ada apa-apa bilang ya. Kami cuma bolos kok~"


Murid-murid yang bolos itu kembali mengobrol tanpa curiga apa-apa.


"Kalau gitu, tolong ya."


Setelah aku berbisik sekali lagi, setelah sedikit ragu-ragu, Honoka-san naik dan duduk di atas perutku. Rasa lembut bokongnya menekan perutku dengan panas.


Setelah menarik napas dalam-dalam beberapa kali seolah mempersiapkan diri, tangan Honoka-san terulur ke pergelangan kakiku. Karena dia membungkuk ke depan, bokongnya yang berbentuk indah langsung muncul besar di depan mataku.


"…………Hu♡♡♡♡♡♡"


Honoka-san yang sudah bulat tekad menyentuh pergelangan kakiku, tubuhnya gemetar hebat. Sambil menahan suara, dia mulai memijat. Enak sekali.


Di balik tirai, murid-murid yang tidak tahu apa-apa sedang mengobrol sambil tertawa. Mungkin karena rasa bersalah itu, napas Honoka-san lebih kasar daripada tadi. Dasar guru pendiam yang mesum ini.


"Sedikit lebih kuat lagi, tolong."


"Nnnnn♡♡♡♡♡♡♡ U, u, un♡♡♡♡♡♡♡♡"


Honoka-san mengeluarkan suara erotis yang entah itu erangan atau jawaban, lalu menambah kekuatan. Setiap kali Honoka-san menggeliat karena kenikmatan, bokongnya bergoyang menggoda. Ini memang aku yang meminta, tapi rangsangannya terlalu kuat.


"Suuu——……Haaaaaaa——♡♡♡♡♡♡♡♡♡"


Seolah ingin melepaskan kenikmatan, Honoka-san mengeluarkan napas gemetar. Hmm, guru ini benar-benar erotis. Bolehkah ada guru sehebat ini? Bisa-bisa seksualitas remaja sehat jadi menyimpang lho?


"Honoka-san, selanjutnya tolong pinggangnya."


"…Tatsuya-kun, jahat sekali♡"


Setelah meminta pijat pinggang ke Honoka-san, aku baru sadar. Karena aku masih memakai baju olahraga, kalau pinggang berarti tidak ada sentuhan langsung.


"Tatsuya-kun, tengkurap dulu."


"Baik, tolong ya."


Sambil berpikir "sial", aku tengkurap dan menunggu. Honoka-san sengaja menggulung baju olahragaku dan menyentuh langsung.


"Huuu———♡♡♡♡♡ Ahnnn——————♡♡♡♡♡"


※Hanya pijat yang sehat.


Guru ini terlalu mesum.


Setelah menerima perawatan (dalam arti sehat) yang enak dari Honoka-san untuk beberapa saat, sepertinya Honoka-san sudah mendekati batasnya.


"A, a, ahg♡♡♡♡♡♡ Mungkin… sudah tidak kuat lagi♡♡♡♡♡♡♡♡♡"


Dia baru saja berhasil menjadi guru kesehatan, kalau ketahuan melakukan hal seperti ini bisa-bisa dipecat. Itu pasti kasihan. Aku berusaha menghentikan Honoka-san dengan menggeliat dan membalikkan badan menjadi telentang.


"Honoka-san, sudah…"


"Aaaaa♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Iku♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"


Sepertinya dia sudah melewati batas sejak tadi. Tubuh Honoka-san miring, dan dada yang terbuka dari baju off-shoulder-nya yang acak-acakan memenuhi pandanganku.


Bahagia. Dua kata itu menyebar di wajahku. Apakah ini utopia?


"Eh, bahaya! Honoka-sa—!"


Saat Honoka-san gemetar sangat hebat sekali, terdengar suara pintu ruang kesehatan terbuka.


"Hei! Berani sekali kalian bolos ya!"


"Uwaaaaaaaa! Itu Gori-sensei!"


"Kaget banget! Kami kembali sekarang!"


"Hii♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Nnnnaaaa♡♡♡♡♡♡♡"


Terjadi tumpang tindih antara teriakan Gori-sensei, jeritan murid-murid yang bolos, dan suara Honoka-san.


Murid-murid berlari keluar dengan ribut, diikuti Gori-sensei yang mengejar. Sepertinya tidak ketahuan.


Honoka-san ambruk tengkurap ke tempat tidur dengan suara "bofun". Dia bernapas kasar dan tetap berbaring beberapa menit.


"Ehm, Honoka-san. Kamu tidak apa-apa?"


Saat aku menggoyangkan bahunya tanpa menyentuh kulit, Honoka-san perlahan mengangkat wajahnya.


"Ehm, itu… Honoka-san. Aku…"


Saat aku bingung harus bilang apa, Honoka-san menggelengkan kepala seolah ingin mengusir ekspresi melayang itu, lalu membuka mulut.


"Haa…… haa…… nnu♡…… Luka di punggung tangan selain itu sepertinya tidak ada masalah. Sudah boleh kembali ke lapangan. Hati-hati jangan jatuh lagi ya."


Honoka-san tersenyum dengan wajah merah. Sepertinya dia ingin berpura-pura tidak ada apa-apa. Ini jelas dipaksakan.


"Ehm, itu… Ya. Aku akan hati-hati."


Aku meninggalkan Honoka-san yang suasananya jelas seperti "setelah itu", lalu keluar dari ruang kesehatan.


Dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa, aku kembali ke lapangan dan duduk di samping Sakakibara. Sakakibara menatapku dengan wajah agak marah.


"Hei Mura! Kamu ke mana saja? Tariannya kelas satu cewek sudah selesai! Aduh, banyak cewek cantik, sayang sekali. Sia-sia banget."


"Kamu benar-benar paling menikmati festival olahraga ya. Agak iri sih."


Melihat temanku yang seperti biasa, aku malah merasa lega. Di lapangan, siswi kelas satu sedang keluar. Di antaranya ada Aina. Sayang, aku ingin lihat.


『Selanjutnya setelah persiapan venue sebentar, kami akan memulai kompetisi akhir yaitu Adventure Run. Mohon tunggu sebentar sampai persiapan selesai.』


Akhirnya tiba giliran Adventure Run yang menjadi penutup besar. Sepertinya Suzuka-san dan Aina berada di grup terakhir.


Alat berat masuk ke venue dan sedang mempersiapkan rintangan. Semua rintangan yang mustahil dicapai oleh pria biasa.


Rintangan pertama adalah Lomba Makan Roti di Langit. Harus melompat untuk menggigit roti yang tergantung di ketinggian sekitar lima meter. 


Rintangan kedua adalah Tarik Ban Logam. Ban logam yang diangkut dengan dump truck dijatuhkan ke tanah dengan suara "dos". Beratnya lebih dari dua ratus kilo. Harus menarik ban itu dengan rantai logam sejauh sepuluh meter untuk ke rintangan berikutnya. 


Rintangan ketiga adalah Merangkak di Jaring Gelap. Harus merangkak di bawah jaring besar, tapi jaring itu dipasang kain khusus sehingga di dalamnya gelap gulita dan tidak terlihat apa-apa. Spesifikasinya mesum karena dari luar bisa melihat ke dalam seperti kaca satu arah. 


Rintangan keempat adalah Menembak Jarak Jauh. Harus menembus target berdiameter sepuluh sentimeter yang berada seratus meter jauhnya, tentu saja tanpa senjata api. Harus menggunakan skill masing-masing.


Rintangan sulit yang menanti mereka yang berhasil melewati rintangan-rintangan gila itu adalah Pencarian Harta Karun. Disebut juga lomba pinjam barang, dan tergantung tema, bisa ada pembalikan besar. Adventure Run adalah kompetisi yang sangat mengutamakan hiburan.


Menurut rumor, petugas perekrutan tim penakluk dungeon juga datang untuk menonton dan memeriksa murid-murid berbakat. Makanya para peserta tidak bisa santai, dan setiap tahun selalu sangat meriah.


Persiapan berjalan lancar, dan akhirnya balapan pertama dimulai.


Adventure Run berlangsung dengan sangat meriah, dan akhirnya tiba balapan terakhir. Balapan yang diikuti Suzuka-san dan Aina.


『Nah, Adventure Run yang sangat meriah ini tinggal menyisakan balapan terakhir! Kami akan memperkenalkan enam besar dari Sekolah Soukoku dan Keika! Mulai dari lane satu, kelas dua Seika, Naruse Suzuka!』


Suzuka-san melambai ke penonton yang ribut. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Lane dua dan tiga diisi oleh Himi Rin kelas dua dan Amagasaki Momoka kelas tiga. Keduanya adalah anggota Trinity Spark, idol diver yang sangat populer.


『Selanjutnya lane empat! Satu-satunya kelas satu di balapan terakhir, Okumura Aina dari Soukoku!』


Meski setelah anggota Trinity Spark yang idol, Aina berdiri tanpa rasa takut sama sekali dan melambai. Penampilannya juga tidak kalah.


『Selanjutnya lane lima! Sesuai dengan level peserta balapan terakhir, kami mengundang secara khusus. Malaikat berjas putih yang cantik dari Soukoku, Matsumoto Honoka-sensei!』


Karena pengenalan yang sangat memalukan, malaikat berjas putih itu menutupi wajahnya yang merah padam dengan kedua tangan. Bukan hanya murid, bahkan guru-guru juga melempar ejekan penuh kasih sayang. Kasihan tapi lucu.


『Dan lane enam, sama seperti dua orang di lane dua dan tiga, anggota Trinity Spark, serta pusat grup yang dikenal semua orang! Namanya——』


"Uwooooooo! Yurarinnnn!!"


"Diem."


Sakakibara berteriak keras saat sedang ada pengenalan dari klub siaran. Sepertinya karena suaranya, sorak-sorai muncul dari sana-sini. Memang pantas jadi idol diver yang sangat populer.


Yang berdiri di lane enam adalah gadis cantik berambut putih. Rambut bob perak yang berkilau dengan sedikit kepang lucu, mata yang lembut tapi penuh tekad. Hidung kecil yang tinggi, dan mulut yang tersenyum penuh percaya diri. Idol cantik sempurna yang diakui semua orang.


『Siapa yang akan jadi juara tahun ini! Baiklah, balapan terakhir, siap di posisi, yois……』


──Paan!


Akhirnya balapan terakhir dimulai.


Rintangan pertama adalah Lomba Makan Roti di Langit. Yang memimpin satu langkah adalah Honoka-san. Saat semua orang melompat dengan putus asa untuk menggigit roti, dia menyanyikan mantra, lalu sayap transparan muncul di punggungnya. Dengan injakan ringan, dia meluncur ke udara dan dengan mudah menggigit roti. Wajah Honoka-san yang lembut, jas putih, dan sayap transparan. Dia benar-benar malaikat dalam nama dan kenyataan. Hanya roti cokelat kornet yang digigitnya yang terlihat aneh.


『Matsumoto-sensei memimpin satu langkah, tapi… makanannya lambaaat!』


Seharusnya dia memimpin, tapi malaikat yang turun ke tanah itu makan roti dengan sangat lambat. Dia pasti sedang berusaha keras, tapi cara mengunyah kecil-kecil dengan mulut mungilnya seperti hewan kecil dan sangat menyembuhkan. Pada akhirnya, saat dia selesai makan, peserta lain juga sudah selesai, dan keunggulannya langsung hilang.


Rintangan berikutnya adalah Tarik Ban Logam. Hampir semua peserta kesulitan di sini, tapi…


"Shadow Binding, Fly."


"Aah! Curang!"


Aina menyanyikan mantra dan menendang ban logam dengan kaki, ban itu langsung bergerak seperti bola curling.


『Okumura melaju dengan sihir Shadow Binding! Ini curang!』


"Nyahaha, duluan~!"


Aina memimpin dan menuju rintangan berikutnya.


Rintangan selanjutnya adalah Merangkak di Jaring Gelap. Harus merangkak di dalam kegelapan, tapi…


『Naruse melaju dengan mudah tanpa terganggu kegelapan! Servisnya kurang~!』


Padahal intinya adalah bagian tubuh tersangkut di jaring dan menunjukkan pose memalukan di dalam kegelapan, tapi Suzuka-san keluar dengan sangat cepat. Aku ingin dia belajar sedikit dari Honoka-san yang tersangkut di sana-sini dan memberikan servis besar.


Rintangan berikutnya adalah Menembak Jarak Jauh. Ini yang paling mirip kompetisi dungeon diver. Semua orang berusaha keras menggunakan skill untuk menembus target.


Di tengah semua yang kesulitan, Yurarin diam-diam membentuk tangannya seperti pistol. Aura putih membungkus tubuh Yurarin. Lalu,


"Light Arrow."


Dengan sedikit recoil, seberkas cahaya meluncur dari ujung jarinya. Hanya satu tembakan dan langsung menembus target dengan sempurna. Penonton langsung heboh karena keajaiban itu.


Sambil meninggalkan peserta lain yang masih kesulitan, mereka menuju rintangan terakhir Pencarian Harta Karun. Yurarin memungut satu kartu yang tergeletak di tanah dan berhenti.


『Oho! Yurarinn berhenti di sini! Apa tema yang keluar ya!? Dia tidak bergerak sama sekali!』


Sementara itu, lima peserta lain juga menyusul. Mereka masing-masing membalik kartu, melihat-lihat sekitar, lalu mulai bergerak.


Di tengah itu semua, Yurarinn masih diam dan melihat sekitar dengan wajah bingung.


Matanya bertemu denganku.


"…Ketemu."


Yurarin tersenyum seperti bunga mekar, lalu berlari lurus ke arahku.


『Yurarin akhirnya menemukan harta karun! Yang dituju adalah… murid laki-laki biasa yang tidak menonjol!』


Diem kau, komentator.


Di tengah keriuhan sekitar, Yurarin sama sekali tidak peduli dan mengulurkan tangan ke arahku.


"Tatsuya-kun! Akhirnya, akhirnya ketemu!"


"Ehm, Yurarin? Kenapa kamu tahu namaku…"


"Sudah, ayo! Ikut!"


Tanpa peduli aku yang bingung, Yurarin memegang tanganku.


"Tunggu, Yurarin!?"


Selesai sudah. Begitulah pikirku.


Tidak mungkin wanita biasa bisa menahan saat memegang tanganku. Yurarin, idol super populer, akan menunjukkan pose memalukan karena kenikmatan yang luar biasa. Dan aku yang memegang tangannya. Tatapan jijik dari murid dan guru Soukoku dan Keika. Kehidupan sekolahku akan berakhir.


Khayalan seperti itu melintas di kepalaku.


Namun…


"Nnnnn♡♡♡♡♡♡♡ Ya, memang Tatsuya-kun♡ Ayo, kita ikut bareng ya? ♡♡♡♡"


Yurarin memang sedikit melayang, tapi dia tidak ambruk dan malah menarik tanganku sambil berlari. Di dunia yang berakselerasi cepat, hanya Yurarin yang terlihat berkilau.


『Yurarin, sekarang di posisi pertama dan goooool!』


Aku memotong pita garis finish bersama Yurarin. Tak lama kemudian Suzuka-san, Aina, dan Honoka-san juga finish. Ketiganya menatap kami dengan ekspresi terkejut.


"Tatsuya, kenapa dengan Yurarin…"


"Tatsu-nii, hubungan apa ini nya!?"


"Tatsuya-kun…?"


Meski kalian menatap seperti itu… Yang paling tidak mengerti situasi saat ini jelas adalah aku.


『Lalu, apa sebenarnya tema yang menarik itu!?』


Petugas penyelenggara berlari membawa mikrofon. Yurarin menerima mikrofon itu, sedikit gelisah, lalu dengan suara jernihnya berkata dengan jelas.


"Ehm. Temanya adalah… itu…"


Di tengah lapangan yang terbungkus keheningan di bawah terik matahari, semua orang sedang memperhatikan kami.


Namun, mata Yurarin yang basah hanya memantulkan diriku.


"Orang… yang paling penting bagiku."


Teriakan besar meledak di seluruh lapangan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close