Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 5
Cross Communication Dive dari Gadis yang Samar
“Aku tidak peduli lagi soal Ma-kun. Biar saja aku main game sendirian.”
Aku tidak mau menyia-nyiakan konsol game yang sudah susah payah dibelikan. Maka, aku terus mengejar nilai bimbingan belajar yang sempurna agar orang tuaku tidak bisa mengeluh, supaya aku bisa dibelikan kaset game lainnya.
Aku tenggelam dalam game seolah sedang melarikan diri. Ujian sekolah maupun ujian masuk universitas tidak membuatku takut. Yang menakutkan adalah jika aku harus menatap langsung diriku sendiri yang sudah begitu terpojok. Intinya, aku hanya ingin melupakan segalanya.
Setiap kali aku dititipkan di kuil karena urusan orang tua, hanya kakek yang mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak punya ruang di hati untuk memedulikannya.
“Sendirian, main game. Sendirian, main Kurokomi...”
Sisi diriku yang tenang dan cerdas selalu berkata dengan nada sok dewasa, menyuruhku untuk bersikap dewasa. Berpura-pura dewasa, berakting menjadi anak pintar... apa gunanya semua itu? Padahal, intinya aku hanya ingin bermain Kurokomi bersama Ma-kun.
Lebih dari yang kubayangkan, hari yang kuhabiskan bersama Ma-kun itu telah berakar jauh di lubuk hatiku. Ia tumbuh menjadi kenangan yang paling menyenangkan—sekaligus menjadi kutukan yang paling membelenggu jiwaku.
Zzzt, suara bising yang terasa seperti terbakar memanggang pikiranku. Setiap kali aku mencoba mengingat, kepalaku terasa sakit.
“Kurokomi lah, Ma-kun lah, lagipula dia pasti...”
Hanya aku yang menjaga janji itu seolah-olah hal paling berharga di dunia, padahal bagi dia, tidak begitu. Baginya, Kurokomi hanyalah satu dari sekian banyak hiburan yang datang silih berganti setiap musim, dan aku hanyalah satu dari sekian banyak teman tanpa nama yang dia miliki.
Kenyataan itu terus menggerogoti hatiku. Aku bahkan tidak paham kenapa aku bisa begitu terobsesi. Perasaan lembut yang hangat seperti sinar matahari di sela pepohonan itu menolak perintah otak untuk menyegel ingatan tentang senyum Ma-kun, dan justru membuatku goyah dalam pergulatan batin yang kelam.
“Benda ini, buang saja. Lebih baik dilupakan, kan? Lagipula Ma-kun juga sudah lupa.”
Begitu niat itu muncul, aku langsung mendekap kemasan Kurokomi dan berlari keluar. Aku sadar hari sedang hujan. Tapi pikiranku sudah kacau balau oleh sakit kepala yang tak kunjung berhenti, dan saat itu aku hanya ingin lari ke suatu tempat.
Di jalan setapak yang terhubung dari Kuil Gunung Yuragi, ada rute menuju Bendungan Kutsuna. Di tengah jalan, jika aku memanjat pagar tua yang reot, ada jalan setapak rahasia yang melintasi pembatas jalan menuju ke bawah tebing. Intinya, itu jalan setapak binatang. Setiap kali aku merasa bosan yang luar biasa, aku sering pergi ke sana untuk mendengarkan suara air yang dilepaskan dari bendungan. Itu seperti markas rahasiaku.
Padahal aku berniat memberi tahu Ma-kun tentang tempat ini—aku menepis perasaan itu dan terus berlari kencang tanpa arah. Begitu sampai di bendungan, jika aku menenggelamkan semuanya ke dalam air, aku yakin aku bisa melupakan kenangan yang menyakitkan dan sepi ini.
Lalu—kakiku terpeleset di tanah berlumpur dan aku jatuh terguling. Di tengah jarak pandang yang buruk, aku berlari di jalan tebing yang sempit dengan pandangan yang menyempit pula; itu adalah kecelakaan yang memang sudah seharusnya terjadi.
Seluruh tubuhku terasa sangat sakit seolah akan hancur berkeping-keping sampai aku tidak bisa bernapas, dan aku terus terguling tanpa tahu kapan akan berhenti. Seberapa pun cerdasnya aku atau sebagus apa pun nilaiku, seorang anak kecil tetaplah tidak punya kekuatan apa-apa.
Sakit. Dingin. Sesak. Perih. ——Sepi.
Kesadaranku mulai memudar. Kaset Kurokomi yang seharusnya ada di tanganku sudah hilang. Aku tidak bisa bermain dengan anak laki-laki yang kusukai, bahkan satu-satunya kenangan kami pun telah tercecer jatuh, meninggalkan diriku yang sendirian terkapar dengan mengenaskan.
Padahal ini bukan salah gamenya, padahal aku bisa saja bermain dengan orang lain atau melakukan permainan lain. Padahal aku harus mewujudkan banyak keinginan untuk menggantikan saudaraku yang tidak sempat terlahir ke dunia.
Hanya karena aku terlalu terpaku pada perasaan cinta Kurokomi ini.
Terdengar suara aliran air yang sangat besar, berbeda dengan suara hujan yang membasahi tubuhku. Apakah aku sudah dekat dengan bendungan?
“Sakit... aku tidak mau sendirian... aku ingin main Kurokomi lagi bersama-sama...”
Tanpa sengaja, rintihan itu lolos dari bibirku. Aku baru sadar kalau aku sedang menangis. Dan di saat aku melihat diriku sendiri secara objektif, kesadaranku perlahan terlepas dan menjauh.
——Terdengar suara seseorang memanggilku.
Di atas tebing? Di arah bendungan? Di dalam kepalaku? Kamu, siapa?
Jika aku memiliki sudut pandang hantu, mungkin akan terlihat seperti ini—aku memikirkan diriku sendiri seolah itu urusan orang lain.
Rasanya seperti sedang melihat diri sendiri dari ketinggian. Seolah-olah aku sedang menatap kosong tubuhku yang terkapar berlumur lumpur dari atas langit. Kalau begitu, kesadaran yang ada di sini ini siapa, dan apa?
Tiba-tiba, ada seberkas cahaya yang melintas di depan mataku yang berada di angkasa.
——Naga putih...?
Naga putih bersih yang melayang mengelilingiku ini terhubung dengan benang-benang cahaya seperti "aliran" samar yang mengalir dari Kuil Gunung Yuragi menuju seluruh area Gunung Kutsuna.
Itu adalah sinyal yang menyusun setiap saraf otak, seolah menumbuhkan benih-benih jiwa. Sebuah ikatan samar yang seharusnya bisa dilihat oleh siapa pun, namun sengaja ditutup agar tidak terlihat oleh Tuhan. Informasi yang diterima secara otomatis oleh otak. Cahaya yang menghubungkan seseorang dengan orang lain telah memilihku sebagai titik tumpunya.
Naga putih itu rupanya sudah ada di gunung ini sejak zaman dahulu, dan ia meminjamkan kekuatannya kepada mereka yang bisa melihatnya—kepada para Miko yang memiliki otak spesial. Sosok "itu" telah dipuja dan didoakan sebagai entitas semacam itu.
——Ah, jadi begini caranya mengabulkan keinginan.
Meski tidak diajari, aku memahaminya. Bahwa aku bisa menciptakan "Dunia tempat aku ingin terhubung dengan seseorang (Cross Communication Dive)" yang diinginkan manusia di lubuk jiwa terdalam mereka. Dan sebagai ganti mengelola dunia tersebut, aku tidak akan ada lagi di sini.
TLN : Penyakit CCD apakah sebenarnya maksudnya ini? Baru ngeh asli
Kalau begitu, sekalian saja.
“Dengan semua orang yang terhubung di benang ini, ciptakanlah dunia di mana aku bisa bermain Kurokomi kesukaanku──”
Begitu aku memohon dalam hati, kesadaranku meluas seolah menyelimuti dunia. Sampai ke setiap sudut jalan yang terhubung dengan benang naga, aku bisa merasakannya seolah itu adalah tangan dan kakiku sendiri. Di lubuk terdalam otak, dalam dunia jiwa murni yang tertutup, aku akan terhubung dengan seseorang yang berada di sampingku seperti ini.
Jiwaku menyebar secara samar. Pandangan di depanku memutih──membangun dunia itu sendiri.
──Jika suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi di dunia itu. Jiwa sang pengelola naik ke atas langit sebagai matahari kedua.
──Kali ini, aku akan mengatakannya dengan benar. Mengapa aku begitu ingin bermain game denganmu.
Aku menitipkan diriku yang lain, adikku yang berbagi jiwa denganku, ke dalam tubuhnya, lalu melakukan dive ke dunia yang baru.
──Kali ini, aku akan bertanya dengan benar. Apa yang diinginkan olehmu, sosok yang sangat kucintai.
Aku mengikuti benang cahaya, mengikuti Dewa Naga putih. Jiwa yang mahakuasa melebur ke dalam langit milikku sendiri.
──Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Kasuka.
Meskipun raga ini menjadi hantu, aku percaya bahwa di depan sana ada tempat di mana keinginan seseorang dapat terkabul.
──Hei, apakah kamu punya sebuah idealisme?
Kusunoki Hinata duduk di kursi kecil yang diletakkan di samping tempat tidur kakaknya, Masaomi. Ia menatap kosong wajah kakaknya yang sedang tertidur.
Napasnya terus terasa dangkal seolah sedang mengikuti lomba lari dalam mimpinya, namun ekspresinya tampak sangat tenang. Wajah kakaknya yang biasa—dengan raut muka konyol yang bahkan sang adik pun sulit untuk membelanya—terlihat seolah ia bisa terbangun kapan saja dan menguap lebar.
Menurut Keiji, teman kakaknya yang berdiri di sampingnya, kondisi ini sama dengan penyakit otak yang langka. Hinata terkejut mendengar kakaknya ditabrak mobil demi melindungi Hibari, terkejut lagi saat mendengar kakaknya tidak terluka sama sekali, dan saat diberitahu kakaknya tidak kunjung bangun──ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk terkejut. Ia tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
──Padahal, dia baru saja punya pacar dan mulai bisa tertawa lagi. Mengapa kakaknya selalu dipermainkan oleh sesuatu yang tampak seperti takdir begini? Dia kan bukan tokoh utama di manga. Apalagi kecantikan pacarnya benar-benar jauh dari kata biasa. Kakaknya benar-benar orang yang aneh.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang pelan. Seseorang masuk ke dalam kamar rawat. Orang tua mereka seharusnya masih bekerja, tapi──
“......Hibari-san.”
"Halo," sapa pacar kakaknya itu. Wajahnya tampak dingin seperti biasa—namun matanya merah seolah habis menangis lama. Hinata yakin, Hibari pasti menangis hampir setiap hari. Toh, wajah Hinata sendiri pasti terlihat sama kusamnya.
Saat mereka bertemu sesaat setelah kecelakaan, wajah mereka berdua jauh lebih buruk dari sekarang. Namun saat ini, Hinata merasa Hibari tampak sudah sedikit lebih tenang. Hinata belum tahu apakah itu hal yang baik atau buruk.
“Orito-kun, kamu datang juga ya.”
“Ya. Wajahmu sudah mendingan sedikit, kan.”
Membicarakan wajah seseorang yang sedang tidak dalam kondisi prima secara tiba-tiba adalah pernyataan perang yang bisa memicu konflik jika terjadi di antara sesama perempuan. Namun, Hinata tahu betul bahwa di balik kata-kata Keiji yang kasar, terselip perhatian yang tulus.
Pada dasarnya, makhluk bernama lelaki itu memang tidak jujur dan selalu ingin berpura-pura keren untuk menutupi perasaannya. Manja yang seperti itu hanya bisa dimaklumi oleh perempuan.
Hibari mendekati tempat tidur tanpa suara, menatap wajah Masaomi yang masih tertidur dengan penuh kasih sayang. Itu adalah ekspresi seorang kekasih yang hanya diperuntukkan bagi satu orang di depannya, sebuah ekspresi yang tidak akan pernah terpantul di cermin mana pun.
Hinata merasa harus mengatakannya. Jika tidak, rasanya tidak adil.
“Hibari-san, anu...... bisa bicara sebentar?”
“──Aku akan pergi melihat keadaan Kasuka. Kalau ada apa-apa, hubungi PHS-ku.”
Keiji meletakkan catatan berisi nomor teleponnya lalu segera meninggalkan ruangan. Mungkin ia menyadari keseriusan dari nada bicara Hinata. Benar-benar deh, makhluk bernama lelaki itu.
“Jadi...... apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Onii itu, musim semi tahun lalu, dia mengalami kecelakaan karena mencoba menolongku.”
Hinata menatap mata Hibari dan mengatakannya dengan jelas.
“Onii itu bodoh, dia pikir dia berhasil menyembunyikan hal itu dariku. Pasti dia pikir aku akan merasa bersalah. Padahal, hal seperti itu kan pasti ketahuan juga.”
“Aku rasa aku mengerti. Dia memberitahuku soal kecelakaan itu dan apa yang terjadi pada tubuhnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa soal penyebabnya. Masaomi-kun memang suka berlagak keren soal hal-hal seperti itu.”
Hibari melirik wajah tidur Masaomi dengan penuh cinta. Di sana terdapat semacam rasa empati yang sama dengan Hinata, sebagai sesama orang yang telah dilindungi.
“Karena itu, aku ingin Onii bahagia. Nyawaku adalah pemberian darinya. Demi kebahagiaan Onii, aku rela menjadi orang yang paling cerewet sekalipun.”
Hubungan kakak-beradik yang sangat akrab—sampai-sampai Hinata sering bertingkah seperti pacar yang protektif—membuat sahabatnya sering menggoda dengan berkata, "Habisnya kamu sayang banget kan sama kakakmu". Meski sudah dipelototi dengan tatapan mematikan berkali-kali, sahabatnya tidak mau berhenti. Benar-benar menjengkelkan. Lagipula, mustahil bagi kakak-beradik untuk memiliki perasaan cinta romantis. Ini bukan masalah pada dimensi itu.
Hinata hanya merasa harus membalas budi seumur hidupnya atas kebaikan yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh perasaan bernama cinta.
“Aku dengar dari Kei-chan kalau Onii menunjukkan gelombang otak yang sama dengan penyakit aneh. Hibari-san juga menderita penyakit yang sama. Hibari-san bisa kembali, tapi belum tahu apakah Onii bisa kembali atau tidak.”
Karena itulah──Hinata akan selalu memperhatikan dan mencampuri urusan kakaknya.
“Meskipun Onii tidak kunjung kembali...... aku mohon jangan campakkan dia. Karena, Onii pasti sangat ingin berada di sisi Hibari-san. Aku yakin, sangat yakin dia akan kembali. Jadi sampai saat itu tiba, tolong jangan menyerah pada Onii......!”
Maka, meminta Hibari menjadi tempat Masaomi pulang adalah hal yang sewajarnya. Jika Hibari yang sudah memantapkan hati justru memilih untuk berpisah dari Masaomi, kakaknya pasti akan merelakannya. Namun jika posisinya dibalik, Masaomi pasti tidak akan menyerah. Karena Hinata tahu kakaknya adalah orang yang tidak biasa seperti itu.
“Tenang saja, Hinata-chan. ──Aku ini tipe wanita yang posesif, lho.”
Hibari berkata dengan wajah yang sangat serius, lalu dengan lembut menyelimuti tangan Hinata yang tanpa sadar sedang mengepal erat.
Meskipun telapak tangannya terasa dingin, perasaan hangat tersalurkan darinya. Perasaan sayang terhadap kekasih, dan terhadap adik dari kekasihnya itu. Sosok cantik yang selalu tenang dan berkepala dingin itu pasti hanyalah kesan sepihak yang dipaksakan orang lain kepadanya.
Sebab, di dalam dada Hibari yang mencintai Masaomi, bersemayam kasih sayang yang begitu membara hingga bisa menghanguskan. Sebagai sesama wanita, Hinata merasa iri karena Hibari bisa mencintai seseorang sedalam itu. Dan sebagai seorang adik, ia merasa bangga pada kakaknya yang berhasil memikat kekasih sehebat ini.
“Aku tidak akan mencampakkan Masaomi-kun. Itu sudah sewajarnya. Meskipun hal itu mustahil terjadi, seandainya Masaomi-kun memintaku untuk meninggalkannya──tidak. Itu imajinasi yang tidak berguna, bukan?”
Mungkin Hibari bermaksud menenangkan Hinata. Namun di mata Hinata, Hibari tampak seolah-olah mengkhawatirkan kemungkinan tersebut, sehingga kesempurnaan senyum paksanya sedikit luntur. Mereka pun memutuskan untuk menganggap itu hanya imajinasi yang sia-sia.
“Jujur saja, Hinata-chan, aku sempat mengira kamu akan menyalahkanku.”
“Eh, kenapa?”
“Karena Masaomi-kun mengalami kecelakaan gara-gara aku.”
“Itu salah besar! Onii kan melindungi kekasihnya. Justru kalau dia mencampakkan Hibari-san dan menyelamatkan dirinya sendiri, aku pasti sudah memaki dan menghajarnya habis-habisan!”
Hibari tertawa seolah tidak bisa menahannya lagi. Ia tertawa dengan tulus.
“Kalau begitu, aku tenang. Keberadaan Hinata-chan di sini sangat membesarkan hatiku. Akhirnya aku bisa melihat wajah Masaomi-kun, dan karena kita berdua adalah orang-orang yang telah diselamatkan olehnya, mari kita sama-sama mendoakan kesembuhannya.”
“Iya! ───Eh? Akhirnya? Sama-sama?”
“Ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku harus meminjam kamar rumah sakit dari Orito-kun, dan memberitahunya kalau aku akan melakukan dive.”
Hinata tidak bisa memahami apa yang dikatakan Hibari. Hanya saja, ekspresi tanpa keraguan di wajah Hibari seolah menyiratkan bahwa ia tahu di mana letak keinginan yang tidak akan terkabul hanya dengan doa semata.
──Tolong, tetaplah berada di sisi Onii selamanya.
Karena itu, permohonan kedua yang ia simpan di dalam hati tetap tertahan di pangkal tenggorokannya.
“Aku harus menyelamatkan Masaomi-kun.”
Setelah mengatakan itu, Hibari membungkuk dalam-dalam kepada Hinata, lalu berbalik. Rambutnya yang berwarna terang berkibar, seolah memutus tatapan Hinata yang masih menyimpan keraguan. Di mata Hinata, sosok punggung Hibari yang cantik itu tampak seolah sedang mengucapkan perpisahan untuk selamanya.
Saat aku membuka mata, yang kulihat adalah langit-langit yang tak asing. Namun, itu bukan langit-langit rumahku yang biasa, melainkan langit-langit kamar rumah sakit yang serba putih dan membosankan, yang pernah kulihat sebelumnya. Langit-langit yang menyerupai tempat suci, yang memberitahuku bahwa nyawaku masih tersisa.
“Onii!? ──Ayah, Ibu, Onii sudah bangun!”
Aku ingin bilang "jangan teriak di rumah sakit", tapi aku sadar suaraku serak dan sulit bicara.
Sudah berapa lama aku tidur seperti ini? Aku mencoba bertanya pada otakku yang masih lamban bekerja, sebenarnya kenapa aku sampai masuk rumah sakit, tapi jawabannya masih tertutup kabut, seolah otakku bilang "aku masih ngantuk, nanti saja ya".
──Rasanya seperti baru bangun dari dive yang cukup panjang.
Mendengar suara Hinata, orang tuaku bergegas masuk lalu memanggil perawat. Perawat yang memastikan kondisiku kemudian memanggil dokter, dan dimulailah pembicaraan tentang pemeriksaan mendalam dan sebagainya.
Dari potongan kata-kata yang kudengar, sepertinya aku mengalami kecelakaan dan koma selama sekitar satu minggu. Berarti semester baru pun sudah dimulai, dan ini bukan lagi soal dive yang panjang. Pantas saja suaraku tidak langsung keluar, pikirku dengan rasa maklum yang aneh.
Di tengah kesibukan orang-orang di sekitarku, aku berbaring layaknya tamu VIP. Setelah membasahi tenggorokan dengan air dan bergumam "oh, ya, aha", suaraku perlahan mulai kembali. Tubuhku dipasangi berbagai macam infus dan kateter sampai terlihat berlebihan, tapi aku tidak merasa sakit di mana pun. Selain kepalaku yang agak pusing, sepertinya tidak ada masalah berarti──meskipun aku sendiri berpikir, mana mungkin tidak apa-apa.
──Ditabrak mobil tapi tidak apa-apa? Padahal tahun lalu aku hampir lumpuh separuh badan.
Namun kenyataannya, memang tidak ada kelainan serius pada tubuhku. Meskipun ada keinginan untuk bermalas-malasan dan melanjutkan tidur, sepertinya aku sudah tidur terlalu lama sehingga sekarang aku merasa segar bugar dan tidak lelah sama sekali. Tidak mungkin bisa tidur lagi. Terlalu berlebihan jika aku disebut sebagai orang sakit.
Saat aku sedang kebingungan, Keiji datang ke kamar dengan napas terengah-engah. Pria berambut cokelat yang bergaya keras kepala itu menunjukkan ekspresi lega yang sangat kentara begitu mata kami bertemu. Aku pun tersadar bahwa sesuatu yang sangat mengkhawatirkan pastilah telah terjadi pada diriku.
“Sudah bangun dengan perasaan senang, hah? Mungkin masih agak berat, tapi ini waktunya sesi tanya jawab.”
Tanpa menunggu jawabanku, Keiji langsung menjelaskan semuanya secara sepihak. Tentang aku yang ditabrak mobil. Tentang keajaiban bahwa aku tidak terluka sama sekali. Dan karena setelah itu aku berada dalam kondisi dive, aku akhirnya dirawat di Rumah Sakit Besar Medis ini.
Saat aku mencoba meresapi setiap kepingan ingatanku, kejadian di hari kecelakaan itu muncul kembali secara berantai seperti api yang tersulut. Saat kecelakaan itu terjadi, aku merasa benar-benar terhubung dengan dunia di sana. Menurut Yuu, hal itu bisa terjadi karena aku sedang berada dalam kondisi yang sangat dipengaruhi oleh Astral Side.
Saat ini, alasan kenapa aku selamat tidaklah penting. Yang lebih penting adalah gadis yang ingin kulindungi itu.
“......Bagaimana dengan Hibari?”
“Baru bangun langsung nanya itu? Bukannya mikirin diri sendiri dulu.”
Kata-kata Keiji yang terdengar jengah itu justru mengandung rasa kepercayaan yang aneh. Sikapnya yang tenang seolah ingin berkata, Memang harusnya kau begini. Artinya—Hibari baik-baik saja.
Berdasarkan cerita yang kudengar, sepertinya mental Hibari sempat terpuruk, namun sekarang dia sudah mulai bangkit. Yuu sempat bilang ingin memberikan serangan terakhir, jadi meskipun Keiji bilang dia baik-baik saja, aku tetap merasa khawatir—
“Kenapa? Ada yang sakit lagi? Napasmu? Sesak atau mati rasa?”
“......Ah, tidak, maaf. Aku tidak apa-apa. Ingatanku hanya sedikit bercampur aduk. Sebenarnya—”
Percakapanku dengan Yuu. Ingatan di Astral Side. Dunia yang diciptakan Kasuka. Campur tangan terhadap Hibari.
Keiji mendengarkan dalam diam cerita yang sebenarnya tidak aneh jika dianggap sebagai igauan akibat kesadaran yang kacau.
“Nee-chan Kasuka... kau juga membicarakan itu, ya. Karena punya dua otak maka terjadi perluasan persepsi bernama Astral Side, bahkan orang lain bisa terhubung ke dunia dalam otak... benar-benar ciri khas tipe denpa.”
“Sebagai anak dokter, kau tidak percaya?”
“......Nagi juga pernah melakukan hal-hal yang mirip kekuatan supernatural. Yah, kurasa memang begitu adanya. Lagipula, sejak awal kalian memang sudah tidak waras, kan? Aku sudah punya antibodi untuk menghadapi hal seperti ini sejak lama.”
Sikap Keiji yang bicara blak-blakan justru membuatku bersyukur. Dengan begitu, aku merasa mantap untuk menyerahkan urusan Kasuka kepadanya.
“Kasuka juga sudah bangun sesaat sebelum kau bangun. Dia mulai meracau soal 'Nee-chan' di dalam kepalanya atau apalah itu, sampai membuat kakekmu yang datang menjenguk jadi bingung. Aku sudah berhasil meyakinkan orang tua Kasuka yang tadinya bersikap masa bodoh—sampai bikin tertawa saking parahnya—untuk merawatnya di sini, tapi sekarang aku sendiri yang mulai kewalahan.”
Entah mengapa, aku bisa menebak apa yang akan dikatakan Keiji setelah ini.
“Karena itulah, aku sudah cukup sibuk mengurus Kasuka di kamar rawatnya. Lalu, soal urusan dunia denpa itu... aku berniat meminjam tangan 'ahli' di bidangnya yang kebetulan sedang berbaring di tempat yang tepat.”
Istilah "ahli" yang diucapkan secara tidak langsung itu membuatku ingin tertawa.
Memang benar begitu. Lagipula, Keiji bukanlah sahabatku jika dia tidak sengaja datang menemui pria berwajah datar yang baru bangun ini hanya untuk mengatakan sesuatu yang memicu ketegangan. Pria yang bergaya keras kepala ini tidak pernah memedulikan situasi sulit yang dialami Masaomi.
“Masaomi, aku punya ide yang menarik.”
Dan kepercayaan yang diberikan Keiji kepada Masaomi, tentu saja, mengarah pada seseorang yang tidak ada di sini sekarang.
“──Kalau aku bilang Sasuga saat ini sedang melakukan dive di ruangan lain, apa yang akan kau lakukan?”
Maka jawabannya sudah dipastikan bahkan sebelum pertanyaan itu diajukan. Kamar VIP ini sudah disiapkan khusus untuk Masaomi. Tidak buruk juga jika ia kembali "tidur" sekarang.
Hibari—"Noble Lark"—kini telah mendarat di Astral Side.
Dive pertama setelah beberapa bulan. Namun, "Noble Lark" sama sekali tidak merasakan hambatan dari absennya itu; ia sudah sangat menyatu dengan hukum dunia ini. ——Ia telah pulang.
“Selamat datang kembali ke Kinjyusei Byou──tempat di mana Astral Side bermula. Atau lebih tepatnya, selamat pulang?”
Gadis yang berdiri di depannya—Yuu—membungkuk hormat seolah menyambut. Sebuah panggung yang menyerupai kuil, dikelilingi oleh awan tebal. Altar yang diawasi oleh Gerbang Torii hitam raksasa yang menjulang menembus langit. Ujung dari jiwa yang beraroma miasma, tempat yang sangat layak bagi Messian "Noble Lark" untuk dipanggil dalam pertempuran terakhir.
“Seragam suster merah putih. "Phantasma", bukan? Mirip sekali dengan karakter di Kurokomi. Apakah itu wujud aslimu?”
“Benar sekali. Karena aku adalah kakak dari Sang Pencipta, Phantasma, dan Miko dari Dewa Naga. Imut, kan?”
Seperti seorang teman yang memamerkan pakaian favoritnya, Yuu berputar sekali dengan suara ceria. Sosok empat kuncir rambutnya yang dijalin perak berkibar dengan fantastis, menciptakan estetika yang sangat serasi dengan latar belakang altar dan pakaiannya. Benar-benar seperti layar pertarungan di Kurokomi; Hibari mengakui dalam hati bahwa gelar Sang Pencipta itu bukan sekadar gertakan.
“Memutus atau membangkitkan dive orang lain...... kau bukan makhluk imut seperti penampilanmu.”
"Noble Lark" dikenal sangat kuat, berada di peringkat ketiga dalam urutan Fuuka Shitensen. Ia sanggup menekan sebagian besar Selphie dan merupakan salah satu petarung unggulan di antara para Messian. Namun, lawan yang satu ini berada di dimensi yang berbeda. Saat Hibari mencoba menciptakan "Pasak", ia tidak merasakan perlawanan apa pun. Hibari yakin, sekalipun tempat ini memiliki konsep basis, ia tidak akan bisa memulangkan Yuu secara paksa dengan Pasak.
──Intinya, kau adalah Game Master, ya.
“Hibari-chan di sini pun ternyata memang cantik ya. Aku bisa mengerti kenapa Ma-kun jatuh cinta padamu. Tapi Ma-kun itu cuma memperhatikan kakimu saja, kan? Dia sering sekali memakai En-Shuukaku soalnya.”
“Rasanya tidak menyenangkan ya, mendengarmu bicara seolah tahu segalanya tentang selera pacarku dan masa lalu yang tidak kuketahui.”
“Hmph. Asal tahu saja, aku yang lebih dulu bertemu Ma-kun. Karena aktivitas otak yang luar biasa, persepsi waktu di Astral Side jauh lebih lama daripada di Material Side. Jadi aku sudah melihatnya melalui Kasuka dalam waktu yang sangat lama—sampai rasanya nyaris gila.”
“Itu hanya rintihan pecundang yang bertingkah seperti stalker. Tidak ada gunanya hanya memperhatikan dari jauh. Kau harus mengulurkan tangan.”
“Berani juga ya bicaranya,” timpal Yuu dengan wajah yang sedikit berkedut. Seolah-olah ia baru saja melihat hantu yang penuh vitalitas.
“Padahal sebelumnya kamu sudah begitu lemah dan merana.”
“Seberapa pun lemahnya diriku yang asli, bahkan jika aku harus mati sekali pun, selama Guardian-ku ada di sampingku, aku akan terus bangkit dan melakukan Continue berkali-kali. Bukankah dunia mental—sebuah game—memang seperti itu?”
“Sayang sekali, Kinjyusei Byou ini adalah ruang milik pengelola. Kamu tidak bisa memanggil Guardian-mu di sini.”
“Aku tidak peduli.”
Jawab "Noble Lark" dengan lugas. Lagi pula, sejak awal ia sudah menduga bahwa tempat dengan nama semegah Kinjyusei Byou yang tidak mengizinkan Diver masuk ini adalah pengecualian dari sistem Astral Side.
“Guardian-ku akan selalu ada di dalam ingatanku. Aku mengakui keberadaannya. Itulah jawabannya. Sosok seperti apa pun diriku, jika aku berharap, dia akan ada di sini untukku.”
“Wah, Hibari-chan, kamu memang tipe yang posesif ya. Aku sudah kenyang mendengar bualan cintamu.”
Tentu saja, dan Hibari akan mengatakannya berulang kali. Ia sama sekali tidak sudi menjadi kekasih yang kehadirannya hanya dianggap angin lalu oleh pacarnya.
Kalau dipikir-pikir, pertanyaan Yuu sejak awal memang tidak berarti. Sebab, sebagian besar hati Hibari sudah diduduki oleh Masaomi, dan sebagian besar hati Masaomi pun telah diduduki oleh Hibari. Baik di Astral Side maupun di Material Side, selama seseorang menguasai basisnya, maka ia akan mendapatkan perlindungan. Itu adalah hal yang sangat wajar. Dan sekarang, Masaomi sedang terperangkap di dalam Astral Side yang mulai hancur. Maka sudah pasti ia akan menyelamatkannya.
Hibari tidak peduli apakah itu memang keinginan Masaomi atau bukan. Alasannya sederhana: karena Hibari ingin membangunkan Masaomi, karena ia hidup demi idealisme seperti itu, dan demi itu pula, Hibari akan terbang sejauh mungkin.
“Aku adalah "Noble Lark". Valkyrie Bersayap Ganda. Sebutkan identitasmu; apa tag unik namamu?”
“Aku adalah "Astral". Phantasma yang menguasai Astral Side. Bagaimana? Keren, kan?”
"Noble Lark" tidak menjawab, ia justru mengarahkan tombak panjang perak-birunya ke arah "Astral".
“Sebenarnya tidak ada alasan khusus bagi kita untuk bertarung sekarang──tapi sepertinya kamu tidak mau mendengarku, ya. Baiklah, aku mengerti. Aku sudah mengatakan banyak hal buruk padamu, jadi aku paham kalau kamu ingin memukulku setidaknya sekali.”
Di tengah nada bicaranya yang seolah menasihati, terselip suara yang terdengar riang. "Astral" mengeluarkan dua pucuk pistol perak entah dari mana dan mulai memasang kuda-kuda. Hibari berpikir, dedikasi musuhnya dalam meniru gaya Kurokomi ini patut diacungi jempol.
“Fufu. Sejujurnya, aku juga ingin mencoba bertarung denganmu sekali. Kalau kamu kalah semudah itu dari server lama, aku jadi khawatir soal kompatibilitas kita.
Kalau begitu, 『Demi dunia yang saling terhubung──Cross Communication』──”
Sayap untuk menyelamatkan Masaomi sudah ada di dunia ini sejak awal.
──Bahkan jika kita tidak bisa bertemu lagi, selama Masaomi-kun bisa terbangun, itu sudah cukup.
『Mari bertarung, Dive!』
Pada akhirnya, Keiji banyak membantuku.
Masaomi, yang terlalu lama terlelap dan bahkan kesulitan untuk sekadar berdiri saat baru bangun, jelas tidak mungkin bisa melakukan tindakan yang cekatan.
Aku merenung dalam-dalam seperti seorang bos mafia; hal yang paling berharga untuk dimiliki adalah sahabat karib, kekuasaan, dan keluarga yang penuh pengertian.
Kepada orang tuaku dan Hinata, aku hanya berpesan bahwa kondisiku belum pulih benar dan aku ingin tidur sebentar lagi. Fakta bahwa Keiji ikut menjamin sistem pemantauan rumah sakit yang sempurna juga sangat membantu. Hinata yang peka sepertinya ingin menanyakan sesuatu, namun ia memilih untuk diam. Dia benar-benar adik yang baik dan sangat perhatian pada kakaknya. Karena sudah membuatnya khawatir, aku rasa nanti aku harus membelikannya bakpao daging di minimarket.
Aku juga sempat melakukan panggilan video singkat dengan Kasuka. Aku sempat ragu apakah boleh menelepon di rumah sakit, namun melihat Keiji ada di sampingku, aku memutuskan untuk mengabaikan aturan itu layaknya seorang raja. Memang, kekuasaan itu luar biasa.
Wah, sudah lama ya, Masaomi. Kamu kurusan. Apa kabar?
Ditanya apakah kabarku baik oleh orang yang kondisinya sendiri sangat tidak baik benar-benar ciri khas Kasuka.
“Syukurlah kamu sudah sadar. Suaramu serak sekali melebihi biasanya. Jangan memaksakan diri.”
Kasuka di layar tampak kuyu. Wajar saja, karena dia pasti sudah berulang kali mengalami koma dalam waktu yang lebih lama dari Masaomi, sampai-sampai tidak sanggup untuk bangun.
Meski begitu, melihatnya tertawa lepas seperti biasa benar-benar membuatku tenang. Di lingkungan mana pun dia berada, atau apa pun yang dia pikul di kepalanya, Kasuka tetaplah Kasuka.
“Ngomong-ngomong, katanya kamu itu dulu anak jenius yang hebat, ya? Bahkan sampai menciptakan Astral Side segala.”
Begitulah kata Onee-chan di dalam mimpiku. Tapi aku sama sekali tidak ingat.
Kasuka mengatakannya dengan raut wajah seolah hal itu tidak nyata baginya. Mengenai otak Yuu yang sempat terpisah dan bagaimana sinkronisasi itu terjadi di dalam diri Kasuka, aku yang bukan ahli saraf tidak punya cara untuk mengetahuinya. Yang terpenting sekarang adalah Kasuka sudah sadar dan dalam kondisi baik.
Masaomi, kamu mau pergi, kan?
Dia tidak bertanya ke mana, dan aku pun tidak mencoba mengonfirmasinya. Aku hanya meminta tolong padanya. Karena kami adalah teman. Hanya itu alasannya.
Kalau begitu, aku akan berjuang demi Masaomi. Aku sangat paham perasaan Kakak, tapi perasaan itu pasti berbeda dengan diriku yang sekarang──itu adalah perasaan yang dimiliki oleh diriku yang dulu.
“Ya. Serahkan urusan kakakmu padaku. Lalu, aku sudah menitipkanmu kepada Keiji. Dan terakhir, aku menitipkan diriku padamu dan Keiji.”
Oke. Serahkan padaku. Lalu Keiji, mohon bantuannya, ya.
“Dipikir dari sudut mana pun, beban tugasku yang paling berat sendirian. Nasibku memang selalu begini.”
“Bukankah musim panas lalu kamu sudah banyak dibantu oleh Kasuka? Sekarang ini adalah masa pembayaran utangmu yang paling gila.”
“Boleh juga,” sahut Keiji sambil tertawa dengan gestur seperti seorang pelawak. Kasuka pun melihat Keiji dan ikut tersenyum lebar. Apa pun yang terjadi nanti, mereka bertiga pasti akan tetap bisa menjaga hubungan seperti ini.
Maka Masaomi hanya perlu terus maju dengan mantap menuju idealisme yang ingin ia capai.
Hei Keiji, kalau Masaomi sudah pergi, maukah kau datang ke kamar rawatku juga?
“Hm? Ah, tentu saja. Aku tidak keberatan, tapi karena ada persiapan untuk Masaomi, mungkin akan memakan sedikit waktu.”
Tidak apa-apa. Aku akan tetap bangun menunggumu.
Setelah menunjukkan senyum dewasa yang mirip sekali dengan Yuu, Kasuka memutus panggilannya.
Keiji menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan raut bingung. Masaomi pun memintanya untuk segera bersiap, lalu ia kembali merebahkan diri di tempat tidur.
Saat ini, meski Kasuka sudah sadar, Hibari sedang melakukan dive di Astral Side. Alasan kenapa Hibari bisa melakukan dive lagi memang misterius, namun Masaomi punya firasat. Itu pasti karena kata-kata Yuu yang bilang ingin memberikan "serangan terakhir".
Pasti dengan cara tertentu Yuu telah mengintervensi Hibari di Material Side. Masaomi tidak tahu bagaimana hasilnya. Hanya saja, menurut Yuu, alasan Masaomi bisa melakukan dive adalah karena ia terhubung kuat dengan Yuu. Jika ditarik kesimpulan sederhana, itu artinya sekarang Hibari-lah yang terhubung kuat dengan Yuu.
──Artinya, bukankah itu berarti Hibari tidak akan bisa kembali, sama seperti kondisiku saat sedang tertidur tadi?
Entah itu keinginan Hibari atau keinginan Yuu, Masaomi merasa ini tidak akan berakhir baik.
Kalau begitu, hal yang harus ia lakukan sudah diputuskan sejak awal. Sama seperti di musim panas waktu itu.
Keiji datang mendorong kereta yang memuat peralatan asing yang bergemerincing. Itu adalah peralatan yang pernah mereka diskusikan; teori tentang mekanisme gelombang otak para Astral Diver. Mesin purwarupa yang dibuat Keiji setelah mempertimbangkan ide Masaomi secara serius untuk dipraktikkan. Karena Keiji bilang secara teori ini bisa dilakukan, maka Masaomi tinggal memanfaatkannya saja.
“Aku sudah menjelaskan logikanya tadi, tapi ingat, ini tanpa uji coba sebelumnya, lho?”
“Ya. Obat baru pun dulu begitu, kan? Aku sudah terbiasa.”
“Benar-benar tidak waras,” gumam Keiji dengan nada antara jengah dan kagum, sementara tangannya dengan cekatan menyiapkan elektroda dan kabel.
Saat Masaomi bilang dia terlihat seperti dokter sungguhan, Keiji menjawab datar bahwa itu karena dia sudah melakukannya berulang kali. Ada rasa hormat yang muncul karena Keiji benar-benar berusaha menjadi dokter sejak kejadian itu, namun di saat yang sama Masaomi juga merasa Keiji harus belajar lebih banyak soal kepatuhan prosedur (compliance).
Sahabatnya sedang menatap lurus ke depan demi mendekati idealismenya sendiri. Kalau begitu, tidak ada alasan bagi Masaomi untuk kalah dari pria sok keras kepala seperti dia. Hubungan mereka harus setara agar tetap bisa menjadi sosok yang dikagumi oleh Kasuka.
“Orang sepertiku ini tidak akan sanggup menghadapi wanita yang 'berat' seperti dia. Mengurus Kasuka saja aku sudah kewalahan,” gumam Keiji tanpa menghentikan tangannya.
“Kamu salah, Keiji. Bukannya Hibari yang berat, tapi cinta itu sendiri pada dasarnya memang berat. Karena itu berarti kamu mengizinkan perasaan sebesar itu ada pada dirimu dan pasanganmu.”
“Wah, jago sekali bicaranya, mantan pria tukang bohong yang kena batsu game. Berani sekali memberiku ceramah soal asmara?”
“Sepertinya kamu ingin aku berceramah, jadi anggap saja ini cerita pengantar tidur dan dengarkan baik-baik.”
“Masa orang yang mau tidur malah bercerita,” sahut Keiji sambil tertawa kecil.
“Karena aku pernah melakukan hal serendah batsu game, makanya aku paham. Perasaan itu akan terus bertambah berat. Kalau dalam istilah Kurokomi, cinta bertepuk sebelah tangan itu 'Mega-Berat', dan kalau sudah terhubung dalam cinta, jadinya 'Giga-Berat'. Makanya, batas maksimal seseorang hanya bisa menghadapi satu orang yang menguras banyak indikator emosi, tidak ada ruang lagi untuk melirik ke tempat lain. Apalagi untuk pria berwajah datar yang sulit menunjukkan emosi sepertiku.”
Keiji yang sepertinya tidak tahu apa itu Kurokomi hanya menyahut seadanya. Masaomi memutuskan untuk memberikan satu nasihat terakhir kepada sahabatnya yang selalu bersikap masa bodoh ini.
“Sebagai teman masa kecil, aku beritahu ya. Kalau kamu menganggap Kasuka itu wanita yang 'ringan', kamu akan menyesal nanti.”
“......Akan kuingat itu.”
Selagi mereka mengobrol, persiapan Keiji sepertinya sudah selesai. Sisanya tergantung pada Masaomi. Tidak apa-apa. Ia masih bisa melihat hubungannya dengan Yuu. Dan juga, hubungannya dengan Hibari sebagai seorang Guardian.
Tidak perlu memikirkan hal tidak berguna seperti "bisa atau tidak". Lakukan saja.
Ia hanya perlu mendengarkan suara Yuu yang mengajaknya ke dalam dunia mental.
──Hei, apakah kamu punya sebuah idealisme?──
“──Masaomi.”
“Hm?”
“Aku membuat ini bukan untuk menjadikanmu sekadar cangkang kosong.”
“Akan kuingat itu.”
“Makanya──bawa pulang Sasuga dan cepatlah kembali. Gara-gara kalian berdua, kamar rumah sakit ini jadi penuh.”
“Ya, serahkan padaku.”
Sebagai sahabat yang setara dan saling memanfaatkan satu sama lain, tidak perlu ada kata-kata lebih dari itu.
Kebodohan Masaomi dan betapa dalamnya ia terlibat dengan Hibari adalah hal yang sudah lama aku maklumi—atau lebih tepatnya, sudah aku menyerah untuk memahaminya.
『Makanya──kalau aku bilang Sasuga sekarang sedang melakukan dive di ruangan lain, apa yang akan kau lakukan?』
『Pergi. Pinjamkan aku kekuatanmu. Urusan Kasuka aku serahkan padamu.』
Maka reaksi itu benar-benar persis seperti yang sudah kuprediksi.
Masalah yang menimpa Kasuka—yang bermula dari kondisi dive akibat koma—tak diragukan lagi telah menyeret Masaomi dan Hibari ke dalam pusaran masalah. Semuanya menjadi kacau diawali dengan Hibari yang kehilangan kemampuan untuk dive, dan demi melindungi Hibari, Masaomi pun mengalami kecelakaan.
Bagi Keiji, yang sebenarnya ingin menyembuhkan CCD Nagi, hilangnya kemampuan dive seharusnya menjadi kabar baik, namun bagi kedua orang itu, hal tersebut adalah bencana.
Sejujurnya, Keiji merasa kewalahan dalam banyak hal.──Bisa dikatakan, tidak ada celah baginya untuk tidak ikut campur.
Hibari, yang tiba-tiba mendapatkan kembali semangat hidupnya, meminta kamar rumah sakit seolah itu rumahnya sendiri. Sementara kekasihnya, Masaomi, begitu sadar langsung bertingkah seenaknya untuk mendapatkan bantuan Keiji. Keiji, yang kali ini hampir tidak lebih dari sekadar penonton medis, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan bodoh yang menganggap bantuan itu sebagai hal yang sudah sewajarnya.
──Yah, aku juga sama bodohnya, sih.
Sebab pada akhirnya, ia tetap merasa bahwa membantu mereka adalah tindakan yang benar. Dan pengabdian atas dasar niat baik ini juga demi Kasuka.
Jika masalah ini bermula dari Kasuka, maka dengan mendukung pasangan bodoh itu, pada akhirnya mereka pasti akan melakukan sesuatu untuk Kasuka. Segala upaya yang telah dikerahkan Keiji tetap menemui batasnya karena ia tidak bisa merasakan Astral Side. Itu adalah hal yang sangat ia sadari sejak musim panas lalu.
Bagaimanapun, Keiji bukanlah sang tokoh utama. Peran pendukung harus bersikap layaknya pendukung dan tahu batasan. Meski terasa sesak, setidaknya prinsip itulah yang akan ia pegang teguh.
“Kalau Nagi tidak kembali saat kejadian musim panas itu, aku tidak mungkin berada di sini sekarang...”
Namun tetap saja.
“Si ini dan si itu, semuanya malah tidur dengan nyenyak sekali. Tanpa memedulikan perasaanku sedikit pun.”
Masaomi tertidur lelap, hanya napasnya saja yang terasa dangkal. Ini adalah postur dasar seorang Astral Diver yang sudah biasa dilihat.
Kini, Rumah Sakit Besar Medis sudah bisa dibilang sebagai pusat pengobatan CCD. Oleh karena itu, mengatur berbagai alat penunjang hidup adalah hal yang mudah, namun bagi Masaomi, ada satu alat tambahan yang dipasang—sebuah purwarupa yang baru saja diselesaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Keiji mengulurkan tangan ke alat yang terhubung dengan alat pengukur gelombang otak tersebut. Proses booting berjalan lancar. Ia menjalankan aplikasi yang sinkron dengan alat itu, menampilkan gelombang otak dan tanda-tanda vital Masaomi yang terbaca oleh perangkat.
Secara teori, ini akan berhasil. Demi tujuan ini, ia telah berulang kali meminta bantuan Nagi yang enggan, Tsubaki yang suka mengejek, dan Kanae yang keheranan. Melalui wawancara mendalam dan pengambilan sampel yang tak terhitung jumlahnya mengenai gelombang otak saat dive serta dampak pertempuran antar-diver, ia sampai pada kesimpulan bahwa memicu pola tertentu adalah hal yang memungkinkan.
Seandainya gagal pun, risikonya hanyalah munculnya gangguan (noise) yang menurunkan kualitas dive. Dibandingkan dengan obat itu, risiko ini tidak ada apa-apanya. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun tetap saja, tangan Keiji gemetar—sebuah bukti kelemahannya sebagai manusia.
──Meski begitu.
Keiji ingin si bodoh yang selalu mendorong punggungnya yang bukan tokoh utama ini tetap bisa tertawa.
『──Keiji juga harus semangat, ya.』
“Ya. Tidak ada gunanya ketakutan di sini. Tapi, aku memang benar-benar payah, ya.”
Keiji menyibakkan jas putihnya dan melangkah menuju kamar rawat yang terasa terlalu kaku jika disebut sebagai tempat pertemuan kekasih. Ia tidak akan pernah mengakui, bahkan jika mulutnya harus disobek sekalipun, bahwa alasan ia ingin melihat wajah itu adalah demi memastikan segalanya sempurna.
"Noble Lark" terbang kian kemari menembus langit Kinjyusei Byou. Sepasang sayap putihnya mengukir lintasan yang seolah membelah langit yang berat, sementara sinar cahaya yang menyilaukan mengejarnya dengan gigih.
“Luar biasa. Kamu bisa menghindar sejauh itu meski tanpa Guardian. Kamu benar-benar sudah bangkit kembali. Persis seperti yang dikatakan Ma-kun.”
“Melakukan serangan sebrutal ini lalu memberikan pujian atau sindiran, keduanya terasa sama-sama tidak menyenangkan bagiku.”
"Astral" mengendalikan kedua pistol peraknya dengan mahir. Peluru-peluru yang dilepaskan dengan kecepatan laser itu ia ubah menjadi tirai peluru berlapis-lapis, mengepung dan mencoba membakar sayap sang Valkyrie dari segala penjuru.
Hibari mencoba menangkis salah satu peluru dengan tombak panjangnya, namun benturannya begitu kuat hingga lengannya terasa seolah akan terlepas. Menghindar adalah satu-satunya pilihan. Tanpa bisa memangkas jarak, Hibari hanya bisa terus melarikan diri.
Jika ini adalah sebuah game, serangan jarak jauh dengan daya rusak sebesar itu biasanya tidak bisa dilepaskan secara beruntun, namun sayangnya aturan itu tidak berlaku di sini. Ini tidak bisa disebut selain "curang resmi".
“Gelar pengelola memang bukan sekadar pajangan, ya...... Aku baru tahu kalau Kurokomi ternyata adalah game bullet hell!”
“Sebagai game pertarungan, ini memang tidak seru sama sekali, sih. Tapi aku justru terkejut karena kamu ternyata lebih kuat dari dugaanku.”
“Suatu kehormatan bisa dipuji olehmu!”
Selama ini adalah Astral Side, maka aturannya tetap sama: siapa yang jatuh lebih dalam dan memiliki idealisme yang lebih kuat, dialah yang menang. Karena Yuu sendiri menyebut ini sebagai sebuah game, ia tidak akan menghancurkan premis tersebut.
Namun jika perkataan "Astral" benar, itu berarti Yuu telah melakukan dive terus-menerus sejak ia menciptakan Astral Side. Dengan kata lain, kedalaman dive "Noble Lark" saat ini tidak akan sanggup mengejarnya. Secara fakta, mustahil untuk melampaui kemampuan seorang diver tunggal seperti dia.
Tentu saja, ada diver lain yang lebih kuat dari "Noble Lark". Namun saat melawan diver seperti itu, strateginya adalah bertarung di basis sendiri, menggunakan beberapa Messian untuk mengalihkan perhatian, lalu membidik dengan bom "Pasak" untuk pemulangan paksa. Akan tetapi, karena konsep aturan basis tidak berlaku di tempat ini, Hibari bahkan tidak bisa menciptakan sebuah Pasak pun.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak pertempuran dimulai. "Astral" tetap berdiri di kedalaman altar tanpa bergeser satu langkah pun. Ia hanya terus menembak layaknya penjaga pintu gerbang dunia lain. Hanya dengan itu, "Noble Lark" telah dilumpuhkan, seolah terhalang oleh sebuah penghalang yang tak tertembus.
Namun, alih-alih patah semangat, jiwanya justru semakin terasah tajam. Rasa kegembiraan yang meluap, sensasi kemahakuasaan yang memancar, bahkan rasa lelah pun terasa nikmat. Sebab medan perang ini adalah tempat yang ia pilih sendiri untuk terjun ke dalamnya.
──Pokoknya, dengan cara apa pun, aku harus bisa masuk ke dalam jangkauan jarak dekatnya.
“Kalau terus begini, aku hanya akan menunggu waktu untuk ditembak jatuh. Benar-benar buang-buang waktu.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menyerah saja sekarang dan menuruti perkataanku?”
Gunakan segala kekuatan yang ada. Ambil segala cara yang bisa ditempuh. Keluarkan segala kartu yang dimiliki. Jika tidak, tidak ada gunanya aku bersusah payah kembali ke Astral Side.
“──Baiklah. Sepertinya aku memang tidak bisa menang melawanmu sendirian.”
Sebagai tanda menyerah secara formal, Hibari menghentikan terbangnya. Jika terus dihujani rentetan peluru dengan momentum yang sama, ia pasti sudah jatuh, namun "Astral" menurunkan kedua pistol peraknya dan tidak melakukan serangan susulan. Meski ini sesuai rencana, rasanya sangat menyebalkan karena seolah-olah lawan sedang berkata bahwa ia bisa membunuh Hibari kapan saja.
Memanfaatkan berhentinya serangan, Hibari melangkah menuju Gerbang Torii dengan penuh kewaspadaan, lalu mendarat perlahan di altar demi menunjukkan sikap tanpa perlawanan. Jaraknya dengan "Astral" hanya sekitar lima atau enam meter. Namun, ia memiliki firasat bahwa serangan mendadak sekalipun tidak akan mencapainya sekarang.
“Sebagai game menembak, tadi cukup menghibur, kok. Kalau kamu bersama Guardian-mu, mungkin pertandingannya bisa jadi lebih seimbang.”
“Ini mungkin terdengar seperti alasan pecundang, tapi menurutku tidak ada yang bisa dibanggakan dari mengalahkan diriku yang tidak sempurna karena hanya memiliki satu sayap.”
“Fufufu, di Astral Side ini, bisa mempertahankan idealisme sambil mengakui ketidaksempurnaan diri sendiri... kamu benar-benar luar biasa. Ma-kun punya selera yang bagus dalam memilih gadis. Aku sebagai kakaknya jadi ikut bangga.”
"Astral" bersorak kegirangan seolah tidak bisa menahannya lagi. Sepertinya ia benar-benar merasa terhibur.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan padaku?”
“Lihatlah ke belakangku. ──Inilah yang disebut sebagai inti dari Astral Side.”
Selaras dengan perkataan "Astral", dari Gerbang Torii hitam yang ada di belakangnya, menyembur kabut dengan warna kegelapan yang lebih pekat, mulai menyelimuti sekeliling seolah sedang mengembara.
“Berikan berkat dari lubuk jiwa, pada idealismemu.”
Begitu "Astral" berucap layaknya melantunkan syair, kabut itu bergetar menyahut, dan suara bising yang menyerupai tangisan bayi menggema ke segala penjuru. Rasa sakit seolah jiwa ditusuk oleh tombak dan tekanan informasi yang dialirkan langsung membuat otak mengerang kesakitan, hingga "Noble Lark" harus memegangi pelindung kepala birunya sambil merintih.
Tak lama kemudian, kabut di dalam Gerbang Torii itu berubah wujud menjadi satu gumpalan, dan kegelapan itu mulai memutih secara terpusat.
Di Material Side, Gerbang Torii dikatakan sebagai batas dengan wilayah suci. Itulah alasan keberadaannya di dalam Kinjyusei Byou. Artinya, wilayah suci di dalam Astral Side ini adalah──idealisme awal yang menjadi sumber segalanya. Wujudnya adalah sebuah gumpalan berwarna putih kusam. Ia bergerak-gerak di dalam kekosongan yang gelap, menyerupai sebuah pusaran.
"Noble Lark" merasakan intuisi bahwa benda itu tidak boleh disentuh. Itu bukanlah sesuatu yang boleh didekati oleh siapa pun yang masih memiliki jiwa yang waras.
“Jangan takut begitu. Lagipula ini adalah akar dari dunia yang kuciptakan sendiri. Warnanya tidak terlalu indah hanya karena kemampuan pemrosesan informasi otakku sedang menurun, jadi aku tidak bisa mengendalikannya dengan baik. Bagiku, ini adalah permen yang manis dan lezat, hasil lelehan dan padatan dari idealisme putih bersih milik semua orang.”
“Idealisme yang bahkan penciptanya sendiri tidak bisa mengendalikannya, itu bukan permen, melainkan racun mematikan.”
“Tidak apa-apa selama kamu melewati penyaring bernama diriku sedikit demi sedikit. Nah, lihatlah──”
Zdaaan! Sebuah dentuman keras terdengar.
Tepat saat "Astral" mengalihkan perhatiannya sedikit ke belakang, "Noble Lark" yang telah memijak tanah melesat keluar layaknya sebuah ledakan, melancarkan serangan kejutan secepat kilat dengan menghantamkan sayap putihnya sekuat tenaga.
Untuk memperpendek jarak beberapa meter yang sebenarnya bisa dicapai hanya dengan mengulurkan tangan, ia merasa seolah sedang berenang di lautan waktu. Namun, selama ia bisa menusukkan tombak panjang ini, ujungnya pasti akan mencapai tubuh "Astral"──
“──Sepertinya masih agak jauh, ya? Kalau begitu, kamu tidak akan bisa mencapai idealismeku, lho?”
Pistol perak di tangan "Astral" yang masih mengarah ke bawah, menyalak. Tanpa sempat merasa heran, "Noble Lark" tertembak oleh kilatan cahaya yang muncul dari ruang di belakangnya.
“Ghaaa──!”
Kekerasan hawa panas yang luar biasa menembus punggungnya. "Noble Lark" terpental di atas tanah dengan mengenaskan, meluncur jatuh melewati sisi tubuh "Astral". Karena serangan kejutan dibalas dengan serangan kejutan, ia tidak mungkin bisa melakukan pendaratan yang sempurna; pelindung dada dan helm bersayapnya hancur berantakan. Bisa dikatakan sebuah keajaiban bahwa ia tidak melepaskan tombak panjangnya dalam kondisi tersebut.
“Aku memang tidak menyangka kamu akan menurut begitu saja, sih. Aku belum menjelaskan, tapi di tempat ini, aku bisa menyerang dari mana pun. Maaf, ya. Pasti sakit. Kamu tidak apa-apa?”
“Apakah, kamu sedang dalam posisi, ......uhuk, untuk mencemaskan orang lain?”
“Kalau aku tidak sengaja menghancurkanmu, Ma-kun akan sedih. Itu bukan tujuanku yang sebenarnya.”
──Lagi-lagi, Ma-kun, ya.
Dalam keadaan seperti ini pun, ia merasa dirinya sudah gila karena hal yang membangkitkan tubuhnya yang penuh luka adalah rasa cemburu terhadap sang Guardian tercinta.
Membiarkan dirinya larut dalam energi yang sulit dibedakan antara amarah yang meluap atau rasa jengah, ia bangkit berdiri dengan menjadikan tombak panjangnya sebagai tongkat. Tombak itu tidak patah. Seandainya patah pun, ia tinggal berdiri lagi. Di dalam mitologi Nordik, Valkyrie adalah sosok yang menuntun manusia yang telah mati. Hal itu tidak terkecuali bagi jiwanya sendiri.
Selaras dengan jiwanya, napasnya mulai teratur. Perasaannya mulai mengecat ulang kenyataan. Sosok ideal yang memimpikan diri sendiri sebagai Hibari yang tidak akan kalah meski hancur atau jatuh. Itulah "Noble Lark".
Api yang bersemayam di dalam hatinya sama sekali tidak memudar.
“Dulu aku pernah bertanya, kan. Apakah Masaomi-kun mau terus menjadi Guardian-ku?”
“Ya. Sudah menemukan jawabannya?”
“Tentu. Masaomi-kun──tidak akan menjadi sekadar Guardian.”
“Jadi kamu mengakui kalau dia tidak akan berada di sisimu?”
"Apa yang kau katakan?" Noble Lark tertawa meremehkan.
Cara untuk terus bersama Masaomi selamanya itu sangatlah sederhana.
“Jangankan Guardian, dia akan menjadi suamiku dan melindungiku seumur hidup. Tidak peduli kuat atau lemah, tidak peduli Astral Side atau Material Side. Dia akan menerima seluruh hidupku, dan setiap hari, tanpa pernah bosan, dia akan membisikkan dengan wajah datar bahwa dia mencintaiku apa pun keadaanku──kalau boleh kubilang, bukankah itu hal yang paling luar biasa?”
“......Sampai sejauh itu, ya. Ma-kun benar-benar, ......dasar.”
"Astral" mengedipkan matanya yang besar. Ekspresinya tampak antara jengah sekaligus merasa sedang diuji. Namun, mental Noble Lark──Hibari──tidak akan mundur lagi. Sekalipun itu hanyalah mimpi yang akan sirna bagai buih, atau masa depan yang benar-benar mustahil terjadi.
Setidaknya, realitas berupa "keinginan" bahwa hal itu mungkin saja terjadi, akan ia dekap erat hingga ke ujung jiwanya.
“Maaf saja, tapi idealismeku, akulah yang menentukan. Tidak peduli apa yang dipikirkan Masaomi-kun.”
“Kamu sudah jadi kuat, ya...... Tapi, dunia ini masih merupakan idealismeku.”
Tidak bisa menang hanya dengan level segitu──justru membalikkan kata-kata itulah yang disebut idealisme.
Jika Astral Side ini hanyalah idealisme milik orang lain, maka ia tinggal menimpanya saja.
“Ngomong-ngomong, kalau aku yang lemah ini dihancurkan olehmu yang kuat, pada akhirnya kamu sendiri yang akan repot, kan?”
“Memang benar, tapi bukannya itu hal yang berbeda dari menang atau kalah dalam permainan?”
“Kalau begitu──bagaimana kalau begini?”
Noble Lark mengepakkan sayapnya, melesat menjauhi "Astral" dan menerjang ke arah Gerbang Torii hitam di belakangnya──inti dari Astral Side.
Tanpa harus melihat langsung pun ia tahu. Ia sedang mendekati neraka dengan volume informasi luar biasa yang membuat istilah "gelombang aneh" terasa remeh.
Melihat tindakan yang tampak seperti bunuh diri itu, "Astral" yang sedari tadi tidak bergeser satu langkah pun, langsung melepaskan pistol peraknya dengan guncangan batin yang nyata dan ikut menerjang.
“Tunggu, kalau kamu tiba-tiba mengambil alih semuanya, otakmu akan──!”
“Tentu saja aku tidak mau. Barang seperti ini, silakan ambil kembali.”
Mangsanya justru datang mendekat sendiri. Maka tinggal menyambutnya saja.
Noble Lark yang tadi melompat ke arah gerbang, kembali mengepakkan sayapnya tepat di depan inti yang berpusar silau dan melakukan putaran balik yang tajam. Ia langsung menusukkan tombak panjangnya ke arah "Astral" yang sedang mengulurkan tangan.
“Bercanda seperti itu sama sekali tidak lucu!”
Namun, sesuai dugaan, "Astral" melakukan pengereman mendadak dengan kekuatan misterius, dan seketika memunculkan pistol perak baru di tangannya.
Senjata mereka saling beradu.
Kemampuan persepsi yang terasah tajam membuat waktu terasa melambat. Di dalam pandangan yang mengalir lambat seolah tanpa akhir, saat ujung tombak Noble Lark menyobek lengan baju suster itu, matanya bertemu dengan moncong pistol yang mematikan.
Segalanya terjadi dalam sepersekian detik sebelum kilatan cahaya yang terkumpul di pistol perak itu dilepaskan.
“Aku yang sekarang, ada dua orang.”
Ia membayangkan sosok Masaomi yang berdiri di sampingnya. Tak terpisahkan barang sekejap pun, baik jiwa maupun raga, segalanya ada demi mereka berdua.
Klik, sebuah suara seperti ada sesuatu yang terpasang tepat terdengar di dalam benaknya. Pelindung dada, helm bersayap, dan seluruh warna perak-biru yang menghiasi sang Valkyrie pulih kembali seolah meregenerasi idealismenya.
Lalu──sayap baru muncul mendampingi Noble Lark. Dua sayap putih menjadi dua pasang sayap putih, mendorong punggung Noble Lark layaknya ikatan abadi yang tak terpisahkan. Dewa sekalipun tidak akan bisa menjangkau domain perlindungan tersebut.
Mendapatkan restu dari sayap ganda itu, tombak panjangnya meledak melampaui batas kecepatan yang lebih tinggi lagi. Ujung perak yang tadinya hanya menyerempet lengan baju, kini menembus "Astral" seolah terhisap ke dalamnya.
“......Kamu benar-benar tidak ada belas kasihan pada server otak yang sudah ringkih ini, ya.”
Sambil menatap gagang tombak yang tertancap dalam di tubuhnya, "Astral" membiarkan noise menjalar di sekujur tubuhnya. Pistol peraknya telah menutup rahang cahayanya sebelum sempat memuntahkan kehancuran.
“Barang rongsokan dan malfungsi itu tinggal dipukul saja biar benar. Kamu tidak tahu?”
“Seberapa pun aku dibilang sebagai percabangan dari Kasuka di masa lalu, itu kan belum lama-lama amat,” gumam "Astral" sambil tersenyum pahit sembari memuntahkan gumpalan merah kehitaman.
“Kalau kamu melenyapkanku sebelum serah terima selesai, umur Astral Side akan segera berakhir. Tidak apa-apa? Kita tidak tahu dampak apa yang akan muncul di Material Side. Bukankah lebih baik terus menyelamatkan dunia dan mewujudkan idealisme?”
“Jika itu masih idealismeku yang sekarang, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu saat aku jatuh karena obat baru itu. Itu juga salah satu jawaban yang benar. Tapi, jawaban benar yang didapatkan tidak selamanya akan tetap menjadi jawaban yang benar. Habisnya, aku ini orang yang serakah.”
Batsu Game──cinta palsu. Kepasrahan pada kenyataan. Namun, karena ia tidak bisa menyerah sepenuhnya.
“Lagipula, idealismeku tidak akan bisa terwujud hanya dengan satu dunia seperti ini. Kalau begitu, tidak peduli apakah itu inti dunia atau pengelolanya, aku tidak akan puas sebelum berhasil menusuknya setidaknya sekali.”
“Pacar Ma-kun ini, antara rakus atau memang otot semua otaknya ya...... seleranya kuat sekali......”
Itu salah Masaomi sendiri karena sudah berani menyentuh wanita berpikiran "gelombang aneh" sepertiku. Rasakan itu, aku sangat mencintaimu.
“Ma-kun...... bagaimana kabarnya ya...... Hibari-chan sudah jadi cukup kuat, lho......?”
“Kalau diam saja isinya cuma Ma-kun, Ma-kun melulu, tidak usah sok akrab dengan pacar orang. Berhentilah berlagak seperti pacar sejati dan sadar diri kalau posisimu itu cuma heroine yang kalah. ......Lagipula, kau pasti sudah menyiapkan cadangan, kan?”
"Astral" tertawa lepas tanpa beban.
“──Ya, sepertinya aku...... idealismeku...... masih belum ingin menghilang.”
──Kegelapan putih tiba-tiba menerjang seperti longsoran salju.
“!?”
Digerakkan oleh firasat buruk yang mengerikan, Hibari mengibaskan "Astral" dari tombaknya lalu melompat ke udara. Sepasang sayapnya memberikan kekuatan fisik yang belum pernah ada sebelumnya; "Noble Lark" seketika menjauh dari Gerbang Torii, mengambil jarak hingga dekat tepian luar yang dikelilingi kaki dian. Meski sudah sejauh ini, rasa ngeri itu sedikit pun tidak hilang.
Lalu, ia melihat keanehan itu. Inti dari Astral Side yang tadinya berpusar di kehampaan, kini meluncur ke altar seperti naga putih raksasa yang meliuk-liuk, lalu melilit tubuh "Astral" yang melayang tanpa perlawanan di udara. Gumpalan putih raksasa yang sangat besar itu seketika menelan tubuh mungil sang Miko ke dalamnya.
Wujudnya benar-benar seperti monster pemangsa jiwa.
──Bukan, yang dimangsanya adalah──
Setelah kegelapan putih itu mereda, "Astral" yang telah menyerap naga yang melilit tubuhnya berkali-kali itu turun ke atas Gerbang Torii hitam seolah tidak terjadi apa-apa.
“......Sepertinya ini adalah pelepasan seluruh indikator jurus pamungkas, ya. Terasa sangat mengerikan.”
“Ya. Ini idealismeku yang manis, mau coba cicipi sedikit?”
Dengan mata emas yang berkilat seperti kilatan cahaya, "Astral" menodongkan pistol peraknya. Ujung larasnya seolah melahirkan matahari; sebuah bola cahaya raksasa terus membesar. Dalam sekejap, bola cahaya itu melampaui tinggi tubuh "Astral". Altar bergetar hebat menyambutnya, Gerbang Torii mulai runtuh, dan retakan mulai muncul di dunia ini. Astral Side yang hampir hancur ini sedang habis dilahap oleh sang penciptanya sendiri.
Aliran energi yang begitu dahsyat di sana dapat dirasakan bahkan dari jarak hampir seratus meter.
Giga Arts emas. Jurus pamungkas terkuat di Kurokomi. Daya hancur yang keji dan sangat layak menyandang nama tersebut. Jika terkena telak, ia akan langsung dipulangkan──tidak, tiket yang diberikan "Astral" kepada Hibari adalah tiket satu arah. Jika begitu, idealisme yang hancur akan langsung menggerogoti dan mengacaukan jiwanya, lalu ia akan berubah menjadi buih di lautan Astral Side.
──Namun, tidak ada rasa takut.
Sensasi seperti sengatan listrik menggema di dasar otak. Jeritan saraf yang terasa panas membara.
"Noble Lark" mengenali suara yang tak terpisahkan dari jiwanya sendiri itu. Maka, di hadapan keputusasaan yang luar biasa itu, seluruh tubuhnya bergetar──dan ia menyunggingkan senyum berani di bibirnya.
Habisnya, kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain selain tertawa.
“Jurus pamungkas, 《Phantasma》──bercanda, ding. Aku akan repot kalau kamu sampai hancur sepertiku, jadi jadilah jauh lebih kuat dan bertahanlah, ya?”
Tembakan pistol perak yang mematikan itu pun dilepaskan.
“──Kau pasti sudah tahu, kan? Aku yang sekarang adalah 'dua orang' yang bersayap ganda. Meski aku tidak bisa memanggil General, tapi,”
Kilatan cahaya yang membakar seluruh langit Astral Side itu memenuhi pandangan dan menerjang ke arah "Noble Lark"──
“Kau datang juga ya, Masaomi-kun. Kalau begitu, tolong selamatkan aku?”
“Siap.”
Dinding pelindung yang tak kasat mata menyekat dan membelah cahaya itu.
Dengan penghalang yang mutlak dan tak terkalahkan, sosok berbaju zirah warna baja merespons panggilan pemanggilan tersebut dan melindungi sang Valkyrie dari cahaya pemulangan.
“Dengan ini, para pemain sudah lengkap, kan. ──Ayo kita lakukan, Yuu. Mari mulai 'Dunia tempat kita ingin terhubung dengan seseorang'—Cross Communication Dive milik kita.”
“......Begitu ya. Aku sudah bosan menunggu, Ma-kun.”
"Astral" menatap sosok Guardian yang gagah berani itu──Masaomi ──dengan wajah yang tampak seolah akan menangis saat itu juga.



Post a Comment