NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kokou no Denpa Bishoujo To Koi de Tsunagattara Giga Omoi Volume 3 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

"Hati-hati di jalan"

“Ini adalah hasil pemeriksaannya. Gelombang otak CCD sudah hampir tidak terlihat lagi. Saya rasa sudah bisa dikatakan sebagai remisi. ——Sasuga-san, Anda sudah berjuang keras selama ini, ya.”


Pemeriksaan rutin pertama di awal tahun. Hibari mendengarkan hasil yang disampaikan dokter utamanya itu seolah-olah sedang membicarakan orang lain.


“Sepertinya Anda kurang tidur, jadi tolong beristirahatlah dengan tenang. Sekolah akan segera dimulai kembali, kan? Cuaca yang berubah-ubah belakangan ini mungkin membuat kondisi tubuh tidak stabil, jadi tolong jaga kesehatan.”


Dengan mengabaikan suara dokter yang tampak mencemaskan respons dinginnya, Hibari meninggalkan ruang pemeriksaan.


Dengan gerakan kaku layaknya mesin yang sudah diprogram, ia melaporkan hasilnya kepada orang tuanya. Ibunya segera membalas dengan stiker wajah tersenyum. Ayahnya pun mengirimkan balasan "Selamat" beberapa saat kemudian. Ia tahu mereka berdua sedang berusaha bersikap tenggang rasa. 


Seharusnya, ini adalah kabar yang membuat mereka ingin bersorak sorai. Sebab, sarang penyakit "gelombang aneh" yang telah lama menjangkiti putrinya telah hilang, dan ia telah kembali menjadi putri yang "normal".


——Normal, ya. Ternyata berakhir begitu saja.


Padahal ia baru saja diberitahu bahwa secara medis ia bukan lagi seorang Astral Diver, namun ia merasa seolah sedang mendengarkan dongeng masa lalu. Sebab, ia sudah tidak bisa lagi menaruh minat pada dirinya sendiri.


Entah itu soal Astral Side, Material Side, gangguan koma kronis, ataupun remisi. Sebab Masaomi—satu-satunya orang yang pasti akan menerima Hibari dalam kondisi apa pun—kini tidak ada di sampingnya.


Dengan wajah pucat layaknya hantu, ia berjalan lunglai menyusuri koridor rumah sakit yang dingin. Tubuhnya secara otomatis mengingat rute di Sayap Timur yang sudah biasa ia lalui meski pikirannya kosong. Di bangsal yang sunyi, suara langkah kakinya bergema seperti milik orang asing, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mendorongnya menuju pintu keluar.


“Kalau mau menjenguk Masaomi, bukan ke arah sana. Pasien rawat inap ada di Sayap Selatan.”


“......Orito-kun. Kenapa kamu di sini?”


Orang yang menyapanya adalah sosok yang tak terduga. Ia mengenakan jas putih, berpenampilan persis seperti seorang dokter.


“Yah, tempat ini sudah seperti halaman rumahku sendiri. Kamu baru selesai periksa, kan? Aku pikir kamu bakal mampir ke tempat Masaomi. ——Atau, kamu merasa tidak sanggup menemuinya?”


“Bukan begitu...... tapi katanya kunjungan sedang dilarang.”


“Yah, bisa dibilang ini soal keahlian masing-masing, atau 'hanya pencuri yang tahu jalan pencuri'. Segala hal di dunia ini bisa diatur.”


Hibari merasa geram mendengar perkataan yang tidak bertanggung jawab itu, namun kemarahan itu justru menjadi bahan bakar baginya untuk membalas ucapan Keiji.


“......Kamu benar-benar bermuka tembok, ya. Sampai-sampai terasa menyebarkan.”


“Aku tidak mau dikomentari soal wajah olehmu yang sekarang. Sudah lihat cermin?”


"Wajahmu itu kelihatan menyedihkan sekali," ucap Keiji tanpa basa-basi sedikit pun kepada seorang gadis. 


Hibari benar-benar tidak cocok dengan teman Masaomi yang bernama Orito Keiji ini. Sikapnya yang seolah-olah tahu segalanya—baik tentang situasi Hibari maupun apa yang menimpa Masaomi—sungguh menyebalkan.


“Kamu mungkin tidak tahan melihat mukaku, tapi setidaknya lihatlah muka Masaomi. Dia pacarmu yang berharga, kan?”


——Benar-benar tipe orang yang sulit kuhadapi.


Keiji tidak memberinya kesempatan untuk melarikan diri. Jika diperlukan demi kepentingannya sendiri, ia akan memanfaatkan siapa pun, bahkan pacar temannya yang sedang depresi sekalipun, untuk mencapai tujuannya. Hibari tahu betul tipe manusia seperti apa Keiji itu.


Namun, meskipun sulit menghadapinya, Hibari saat ini tidak memiliki tenaga untuk melawan. Ia mengikuti langkah kaki Keiji yang berjalan cepat dengan langkah lunglai, hingga mereka dipandu ke sebuah kamar yang letaknya dekat dengan area pasien CCD, yang hanya bertuliskan "Ruang Tindakan Khusus".


Keiji tidak sekadar membual saat mengatakan tempat ini adalah halaman rumahnya; ia mengabaikan papan "Dilarang Berkunjung" sepenuhnya dan masuk ke dalam kamar dengan begitu percaya diri.


“Yo, Masaomi. Masih jadi Pangeran Tidur? Apa kamu diundang ke Kerajaan Tidur Siang milik Saeki?”


Di atas tempat tidur di ujung kamar pribadi yang mungil itu, Masaomi sedang tertidur dengan wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun deru napasnya terdengar dangkal dan berulang.


Hibari hanya bisa berdiri diam, menatap sosok itu. Hanya itu yang bisa ia lakukan.


“Waktu aku dengar dia tertabrak mobil, aku pikir kecelakaan tahun lalu terulang kembali, tapi dia hampir tidak punya luka luar. Ini lebih dari sekadar keberuntungan. Kalian baru pulang hatsumode, kan? Berkah Dewa-nya manjur sekali.”


Keiji menjelaskan kondisi medis Masaomi agar Hibari yang sedang mematung bisa mendengarnya.


Hampir tidak ada kerusakan fisik pada tubuhnya, hanya ada bekas bengkak memanjang yang aneh di area kulit yang luas. Mobil yang menabraknya dikabarkan mengalami kerusakan yang cukup parah, namun bagian yang penyok terlihat seolah menabrak tembok benteng yang tebal, bukan seperti hasil benturan dengan tubuh manusia. Padahal kejadian itu baru dua hari yang lalu, namun Hibari butuh waktu lama untuk menarik ingatan itu dari dasar benaknya. Ia merasa seolah sedang melarikan diri dari ingatan tentang Masaomi, dan rasa benci pada dirinya sendiri tidak kunjung berhenti.


Saat Masaomi mengeluh tidak enak badan tadi, pikiran Hibari sudah penuh dengan kecemasan akan hal itu. Akibatnya, ia tidak menyadari ada van yang menerjang dan terlambat untuk menghindar. Dan kemudian──Masaomi menjadi korbannya.


Begitu ia mengingatnya kembali, penyesalan karena tidak bisa melakukan apa-apa muncul tanpa henti.


Hari itu, seseorang yang kebetulan lewat memanggil ambulans, dan ia mengikuti instruksi untuk menemani ke rumah sakit, lalu bertemu dengan orang tua Masaomi yang datang menyusul...... seharusnya begitu. Namun ia sama sekali tidak ingat apa yang mereka bicarakan. Karena Hibari, yang seharusnya menjadi saksi mata kecelakaan itu, hanya bisa terpaku seperti cangkang kosong yang tak berguna.


Andaikata Hibari masih bisa berpikir jernih saat itu, "Masaomi-kun tertabrak karena mendorongku hingga terpental"──bagaimana mungkin ia bisa mengatakan hal semacam itu kepada keluarga yang mendapati putra mereka mengalami kecelakaan untuk kedua kalinya? Jika ia mengatakannya──apakah mereka akan menyalahkannya?

Menyalahkan dirinya yang hanya bisa terus dilindungi, dirinya yang tidak memiliki kekuatan apa pun, dirinya yang tak berdaya ini.


“Dan hasilnya, selama dua hari ini hanya kesadarannya yang belum kembali. Sasuga, kamu pasti paling tahu soal kondisi seperti ini, kan?”


“......Maksudmu, dia sedang melakukan dive?”


“Gelombang otaknya sepenuhnya menunjukkan pola CCD. Tapi, aku dengar serangan koma──atau yang kalian sebut dive──seharusnya sudah tidak bisa terjadi lagi. Nagi saja masih tidak bisa dive. Sejujurnya, aku tidak tahu mimpi apa yang sedang dilihat Masaomi sekarang. Entah dunianya ada atau tidak, begitulah penyakit kalian, kan?”


Astral Side itu nyata──jika itu Hibari yang biasanya, ia pasti akan menjawab begitu. Namun Hibari yang sekarang tidak bisa melakukan dive, dan ia baru saja menerima vonis kehilangan kualifikasi sebagai seorang Diver dari dokter utamanya. Ia merasa seolah baru saja diberitahu bahwa Sasuga Hibari kini bukanlah siapa-siapa lagi.


Masaomi masih memiliki kekuatan untuk dive. Dalam satu sisi, itulah yang menjadi harapan bagi Hibari. Namun, ia tidak pernah menginginkan bentuk seperti ini.


Hibari menahan isak tangis yang mulai bergejolak di pangkal tenggorokannya.


“Nah,” Keiji meregangkan tubuhnya dengan sengaja. Lalu dengan suara yang dibuat-buat pula, ia berkata, “Aku ada urusan selama tiga puluh menit ke depan dan harus meninggalkan ruangan. Tidak ada jadwal pemeriksaan dokter untuk Masaomi dalam waktu dekat.”


Benar-benar orang yang sulit dihadapi. Dia bisa melihat menembus Hibari yang sudah berada di batas kesabarannya.


“Kalau ada yang ingin kamu tumpahkan, ini waktu yang tepat untuk menyelesaikannya. Jujur saja, aku sudah kewalahan mengurus Kasuka dan Nagi. Masaomi kuserahkan padamu. Aku memang tidak punya hak untuk mengatakannya, tapi jangan lupa kalau kamu punya hubungan yang cukup untuk diberi kepercayaan ini.”


Setelah mengatakan semua yang ingin ia katakan, Keiji keluar dari kamar rawat tanpa menoleh sedikit pun.


Hubungan yang diberi kepercayaan. Ikatan. Kekasih. Astral Diver. Guardian.


──Apakah aku benar-benar punya kualifikasi itu? Apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan?


Masaomi di atas tempat tidur tidak mengatakan apa-apa. Padahal ia ingin Masaomi berkata 『Aku tidak apa-apa』 dengan wajah datar dan suara tenang yang biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya dengan itu, Hibari bisa merasa tenang.


Masaomi tidak bisa lagi menjadi sandarannya, tidak bisa menggenggam tangannya, dan tidak bisa menciumnya.


Alasan Masaomi menjadi seperti ini adalah karena kesalahan Hibari.


──Lindungilah Ma-kun.


Padahal ia yakin sudah mendengar kata-kata itu.


“Uugh...... Menangis, aku tidak punya hak untuk menangis, tapi...... uwaaaa......!”


Kekuatan di lututnya hilang, dan ia jatuh terduduk. Sambil bersandar pada kehangatan Masaomi yang diam membisu, Hibari berusaha mematikan suaranya dengan menyedihkan, mencoba sekuat tenaga menahan air mata. Namun, itu mustahil. Pandangannya sudah tenggelam dalam air mata yang buram, membuatnya merasa seolah ia bahkan tidak diizinkan untuk melihat Masaomi. Namun, perasaan yang ia harap tidak akan tumpah itu justru bocor dengan begitu mudahnya. Sumbat emosi yang ia jejalkan ke dalam cangkang kosongnya telah lepas, meluap seperti air mancur.


“Karena aku mengabaikan sifat keras kepala Masaomi-kun, karena aku tidak memintanya beristirahat dengan benar, karena aku membiarkannya mencemaskanku yang kehilangan Astral Side, karena aku selalu dilindungi olehnya, karena aku, karena aku......!”


Betapa egoisnya aku, pikirnya.


“Padahal aku hanya punya Masaomi-kun, kalau Masaomi-kun tidak ada, aku sudah tidak sanggup lagi.”


Padahal alasan Masaomi kecelakaan adalah karena melindunginya.


“Padahal Masaomi-kun yang telah menghubungkan perasaan cinta yang begitu besar, berat, dan berharga ini.”


Padahal ini karena aku tidak bisa melindunginya.


“Kenapa kamu meninggalkanku dan pergi ke tempat seperti Astral Side......!”


Betapa tidak adilnya ia merasa karena Masaomi tidak ada di sini──tidak berada di sampingnya.


“Masaomi-kun selalu merasakan hal ini...... perasaan seperti ditinggalkan, namun ia tetap berada di sampingku. Dia selalu mengakui duniaku yang seperti ini! Padahal begitu, tapi aku......!”


Bukannya "maaf", bukannya "terima kasih", tapi ia malah mengucapkan "kenapa" terlebih dahulu. Bahkan ia tidak sanggup mengucapkan satu kalimat sederhana saja bahwa ia akan terus menunggu.


“Jika kamu tidak ada di sini, idealisme seperti apa yang harus kugambar......?”


Perasaan menyalahkan diri sendiri sudah mencapai titik jenuh. Karena tidak ada lagi yang bisa disalahkan, ia menyalahkan ketidakhadiran Masaomi, lalu menyalahkan Astral Side. Perasaan yang tidak bisa lagi dipendam itu akhirnya menjelma menjadi jeruji penjara yang gelap dan kesepian yang menghimpit Hibari.


Hibari sendiri memahaminya hingga ia merasa muak. Ia merasa tidak punya hak untuk meneteskan air mata. Air mata yang berat dan kotor, yang hanya bisa ia tumpahkan untuk dirinya sendiri.


“Ternyata, jadi begini ya.”


Suara yang bergema di kamar rawat yang seharusnya kosong itu menghentikan isak tangis Hibari seketika.


Ia tidak terkejut. Sifat manusiawinya sudah habis mengalir bersama air mata, dan tidak ada ruang tersisa di sela-sela keputusasaannya. Lagipula, ia memang berpikir akan bertemu lagi dengan gadis ini suatu saat nanti.


Hanya saja──waktunya sangat buruk.


Hibari menyimpan gejolak emosinya sejenak di balik topengnya. Yang ada di sini sekarang adalah manifestasi dari Noble Lark. Dengan merapalkan itu di dalam hati, jiwanya menjadi tenang. Orang ini adalah seseorang yang berkaitan dengan Astral Side. Artinya, sasaran yang tepat untuk menumpahkan amarahnya telah datang menghampirinya atas kemauan sendiri.


“Maaf ya, Ma-kun. Sakit, kan? Ternyata proses penutupannya lebih cepat dari dugaan. Tapi, tolong bertahanlah sebentar lagi. For you.”


Di ambang pintu kamar rawat, berdirilah dengan tenang──sang miko berambut putih. Yuu. Menganggap semua ini hanyalah kebetulan belaka di tengah situasi seperti ini benar-benar hal yang tidak masuk akal.


“Bengkak mimizubare di tubuh Masaomi-kun—reaksi dari Astral Side itu, apakah... ulahmu?”


“Begitulah. Aku tidak akan menyangkalnya.”


“Apa yang kamu lakukan pada Masaomi-kun? Kenapa... kenapa dia tidak kunjung kembali?”


“Kan sudah kukatakan sebelumnya. Aku hanya sedikit menganakemaskannya. Hubungan antara aku dan Ma-kun itu agak spesial, jadi sejak awal tingkat adaptasinya terhadap Astral Side memang terlalu tinggi. Kalau memakai istilah Kurokomi, dia itu seperti karakter kuat yang hanya bisa digunakan dalam kondisi tertentu. Alasan dia tidak kembali sangat sederhana, karena aku menahannya di Astral Side. Mumpung ada kesempatan, aku ingin mengobrol banyak hal dengannya.”


Aku sama sekali tidak bisa mengerti. Sehebat apa pun Masaomi sebagai seorang Diver, dia tidak akan mungkin tenggelam dalam idealisme Astral Side seperti diriku yang dulu atau "Wind". Seharusnya, dia pasti akan kembali.


“Artinya, Masaomi-kun tertahan di sana karena ulahmu, kan?”


“Bukan berarti aku mengurungnya atau apa, kok.” 


Yuu tersenyum kecut, lalu melanjutkan. 


“Hanya saja, aku tidak begitu suka kenyataan bahwa kamu adalah pacar Ma-kun sekarang. Makanya aku tidak mau mengembalikannya.”


“......Sayang sekali, ya. Datang tiba-tiba entah dari mana, lalu sekarang mau apa?”


“Habisnya, kamu itu... lemah.”


Dengan senyum polosnya, Yuu menancapkan sebilah pedang tepat ke ulu hati Hibari. Rasanya aku punya sejarah panjang dengan senyuman itu. Musim panas itu pun, Kasuka jugalah yang memberitahuku soal pengakuan cinta yang ternyata hanya hukuman dari sebuah permainan.


“Dengan kelemahanmu itu, apa kamu benar-benar berpikir layak untuk berdiri di samping Ma-kun yang kuat?”


Sama seperti saat itu, kata-kata tersebut mengoyak batin Hibari jauh lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan sendiri.


Hentikan, sosok Sasuga Hibari yang seharusnya sudah tersimpan jauh di dasar hati kini sedang menangis tersedu-sedu. Ia tersedak, mengusap wajahnya yang berantakan, dan mencoba menutup telinga agar tidak perlu mendengar cercaan lebih jauh lagi.


“Bukankah kamu sendiri juga menyadarinya? Baik di Astral Side maupun di Material Side, kamu itu setengah-setengah. Sekarang Astral Side memang sedang mengalami banyak masalah dan masuk ke semacam Safe Mode, tapi hanya karena itu saja kamu menjadi tidak stabil, dan di dunia nyata kamu malah melarikan diri ke dalam kelembutan Ma-kun.”


──Hentikan.


“Hibari-chan, kamu sebenarnya masih punya penyesalan terhadap Astral Side, kan? Karena Ma-kun yang tadinya menjadi tempat pengungsianmu sudah tidak ada, pada akhirnya kamu mencari jalan pelarian lagi. Kamu yang berlagak penyendiri itu, pada dasarnya memang manusia lemah seperti itu. Tanpa tempat bersandar, jiwamu terlalu berat sehingga kamu tidak bisa berjalan sendirian. Apalagi untuk menjadi penopang orang lain.”


Bukan. Bukan begitu. Asalkan ada Kusunoki Masaomi, asalkan mereka berdua bersama, Sasuga Hibari akan baik-baik saja. Namun faktanya, Hibari memang tidak bisa melindungi Masaomi. Ia hanya terus dilindungi. Dan sekarang, ia sedang meremas jepit rambutnya. ──Betapa menyedihkannya.


“Jepit rambut baru yang sedang kamu sentuh itu, benar-benar indah ya. Tapi sepasang sayap itu, apakah benar-benar mengepak karena keinginan kalian berdua? Bagiku, itu terlihat seperti satu sayap yang patah, sementara sayap satunya lagi menopangnya secara sepihak.”


“Cukup, tutup mulutmu! Kenapa dengan wajah Tachibana-san, kamu menanyakan hal yang begitu kejam?”


“Kan sudah kubilang tadi. Aku, Yuu, tidak suka kamu jadi pacar Ma-kun yang sekarang. Apa yang dipikirkan Tachibana Kasuka itu tidak ada hubungannya denganku.”


Hibari berpikir jika ia menutup mata dan telinganya sambil meringkuk, mungkin suatu saat Yuu akan menghilang. Namun di depannya ada Masaomi. Jika ia terus melarikan diri dari kata-kata Yuu seperti ini, apakah ia masih sanggup membusungkan dada dan mengucapkan "Selamat datang kembali" kepada Masaomi? Apakah ia masih layak menjadi pacarnya? Hanya demi keinginan itulah ia memaksakan lututnya yang gemetar untuk tetap bertahan.


“Ma-kun pergi ke Astral Side, dan kamu menderita karena tidak bisa menyusul ke sana. Padahal Ma-kun berada di posisi yang sebaliknya selama ini, tapi dia tetap begitu kuat dan lembut untuk terus menopangmu.”


Padahal kamu sudah dicintai sedalam itu, kalimat lanjutan tersebut justru terasa sangat beresonansi di hati Hibari. Sebab nada bicara Yuu yang tadinya menyerang dengan datar tiba-tiba berubah, menyiratkan perasaan kasih sayang yang telah menumpuk sekian lama.


『──Karena sulit sekali mengatakan kepada orang yang disukai, "mungkin hal buruk akan menimpamu gara-gara aku".』


Itu pasti adalah perasaan jujurnya.


Itulah sebabnya, ia melontarkan kata-kata pedas kepada Hibari yang menunjukkan keadaan semenyedihkan ini. Karena mereka mencintai orang yang sama, namun sang pacar justru menunjukkan sosok yang begitu rendah di matanya.


“Jika topeng idealisme bernama Noble Lark itu sudah tidak ada, apa yang tersisa darimu?”


“Bagiku... Masaomi-kun, akan tetap ada untukku...”


Ia membalas hanya dengan sisa keras kepalanya. Namun, berbanding terbalik dengan besarnya harapan itu, suaranya hanya terdengar lirih dan parau seperti doa yang mustahil terkabul.


“Tapi sekarang Ma-kun tidak ada di sana, kan? Seandainya Ma-kun terbangun, apa kamu benar-benar punya rasa percaya diri kalau dia akan terus menjadi Guardian bagi sosok lemah sepertimu?”


Kali ini, Hibari benar-benar kehilangan suaranya. Ia dibuat menyadari sepenuhnya betapa lemah dirinya sebagai manusia, harga diri terakhirnya telah dipatahkan, hingga ia jatuh terduduk lemas di samping tempat tidur Masaomi.


“Kalau kamu sudah tahu jawabannya, kali ini kamulah yang harus datang menemuiku.”


“Aku menunggumu,” Yuu melambaikan tangan seperti seorang teman, lalu menghilang seperti fatamorgana. Di kamar rawat yang kembali sunyi senyap, Hibari hanya terpaku membisu, menatap tempat di mana Yuu baru saja menghilang.


Andai Keiji tidak segera kembali, mungkin ia akan terus terduduk di sana selamanya. Ia benar-benar merasa ingin ikut menghilang bersama Yuu dari lubuk hatinya yang paling dalam.


“Kinjyu Seibyou, ya. Berarti aku sedang melakukan dive sekarang.”


Sebuah kuil dengan atmosfer yang tenang namun mencekam. Senja yang tampak seperti hangus terbakar hitam. Dinding awan tebal yang mengepung sekeliling. Rasanya kepadatan awan itu lebih besar daripada saat terakhir kali ia ke sini, dan meskipun ruangannya sangat luas, ia merasa seolah dipaksa masuk ke dalam gumpalan awan kumulonimbus yang bergejolak.


“Aku ingat sempat kecelakaan... Apa tubuhku tidak bisa digerakkan lagi?”


Dulu, Hibari pernah bercerita tentang interaksi antara Astral Side dan Material Side. Menurutnya, jika seseorang terluka di dunia nyata, biasanya luka atau kerusakan yang sama akan muncul di tempat yang sama di dalam Astral Side. Katanya, itu karena adanya kesadaran yang tertanam bahwa "bagian tubuh ini sedang tidak berfungsi".


Sejauh yang ia lihat, baju zirah pelindungnya tidak ada yang kurang, dan ia tidak merasakan sakit atau kejanggalan di bagian mana pun. Berarti raga aslinya seharusnya baik-baik saja.


Masaomi menggelengkan kepala karena merasa tidak ada gunanya terus memikirkannya, lalu ia mengamati sekeliling. Di ujung jalan setapak berkerikil hitam, pintu altar terbuka lebar seolah-olah sedang menyambut kedatangannya.


Saat ia menyipitkan mata, ia menyadari ada sosok manusia berdiri di kejauhan, tepat di bawah gerbang Torii raksasa yang hitam pekat. Semakin ia mendekat, siluet itu menjadi semakin jelas. Suara langkah kaki Masaomi yang menggema di lantai pernis hitam seharusnya sudah terdengar oleh sosok itu, namun ia tetap membelakangi Masaomi, menatap kosong ke arah langit di dalam gerbang Torii.


Masaomi merasa familier dengan pakaian suster bercorak merah-putih yang dikenakan sosok itu.


“’Phantasma’ warna alternatif......?”


Itu sangat mirip dengan pakaian eksorsis dalam game Kurokomi yang ia mainkan bersama Hibari di festival budaya kemarin. Bukannya warna abu-abu yang biasa, tapi warna merah-putih yang muncul saat dua pemain menggunakan karakter yang sama. Warna yang mengingatkan pada pakaian miko itu, dipadukan dengan pemandangan bergaya Jepang di sana, memberikan kesan kuat seperti karakter game. Lalu, saat sosok itu berbalik, rambut putihnya yang indah tertiup angin dengan lembut.


“Ma-kun, lama tidak bertemu. Sudah sekitar sepuluh tahun ya di dunia nyata? Kamu kelihatan makin dewasa.”


Nada bicaranya santai dan ringan, seolah-olah menyapa teman lama yang tidak sengaja ditemui di tengah kota.


Wajah yang sangat ia kenal, suara yang sangat ia kenal. Namun, hanya cara bicaranya yang berbeda.


“Sudah lama sekali tidak dipanggil begitu sejak kecil. Aku sendiri tidak yakin apakah aku sudah jadi orang dewasa yang benar atau belum.”


“Ternyata kamu masih ingat? Aku senang sekali. For you.”


Ungkapan itu merangsang ingatannya, dan Masaomi yakin bahwa dugaannya benar.


“Aku bertemu kakekmu. Beliau menceritakan banyak hal, seperti bagaimana Kasuka bisa menjadi yang sekarang. Sejujurnya, aku sempat melupakan hal itu sampai beliau bercerita.”


Dengan gaya rambut two-tail yang diikat ke belakang ditambah rambut samping yang menjuntai ke depan—menghasilkan gaya four-tail putih. Ditambah dengan pembawaannya yang tenang dan anggun, ia tampak seperti versi evolusi dari Kasuka—atau jika memakai istilah Astral Diver, versi yang lebih mendalam. Mungkin karena Kasuka yang asli biasanya bergerak sangat lincah, kesan ini terasa lebih kuat.


“Maaf ya, aku tidak menepati janji kita dulu.”


“Kamu jujur sekali ya, Ma-kun. Padahal kalau kamu diam saja, aku tidak akan tahu kamu sempat lupa. Tapi bisa bertemu lagi seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Karena sejak hari pertama Ma-kun melakukan dive, aku selalu menunggu saat ini. Sungguh, aku senang aku menciptakan dunia ini.”


“Menciptakan... dunia ini?”


“Sebelum membicarakan itu, boleh aku minta satu hal? Karena Ma-kun mengenal Kasuka dan juga aku, biarkan aku memperkenalkan diri dengan benar. Namaku yang sekarang adalah Tachibana Yuu. Aku akan senang jika kamu memanggilku Yuu saja.”


Ekspresi Yuu saat menyebutkan namanya meninggalkan kesan yang mendalam bagi Masaomi. Suaranya yang melenting seperti nada musik terdengar ceria, gembira, dan bahagia. Namun, ia menunjukkan senyuman yang lembut namun sangat kesepian—bukan sekadar redup atau rapuh. Sebuah senyum seperti fatamorgana, seolah ia ingin mengatakan bahwa ia adalah hantu yang tidak seharusnya ada di sini.


“Lalu, soal Astral Side...”


“Bukan, Yuu. Kalau kamu tahu, tolong beri tahu aku satu hal dulu. Apa Hibari baik-baik saja sekarang? Terus soal Kasuka, dia sedang melakukan dive, kan? Apakah itu berarti kamu adalah Kasuka? Atau kamu ada sebagai Diver yang berbeda?”


Yuu membelalakkan mata saat Masaomi menyela penjelasannya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


“Dibandingkan rahasia Astral Side, kamu lebih mengkhawatirkan Hibari-chan dan Kasuka?”


“Tentu saja. Aku tidak tahu apa rahasia dunia ini, tapi aku ingin tahu apakah semuanya baik-baik saja. Kalau tidak, apa pun yang aku dengar tidak akan bisa masuk ke kepalaku karena aku tidak tenang.”


"Ahaha," Yuu mengeluarkan suara tawa seolah tidak bisa menahannya lagi. Kali ini tawanya terdengar tulus tanpa beban, berbeda dari yang tadi.


“Khas Ma-kun sekali. ──Iya. Kasuka baik-baik saja. Dia sedang rapat berdua denganku di dalam kepala kami. Aku pun seperti yang kamu lihat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku sedang bersamamu. Hibari-chan tidak terluka, tapi──entah bagaimana dengan mentalnya. Pacarnya kecelakaan dan tidak kembali dari dive, tentu saja dia akan terpukul.”


“Begitu ya... syukurlah. Kalau Hibari tidak terluka, berarti tugasku sudah selesai untuk saat ini. Tapi dia pasti sedang tidak stabil, ya. Aku ingin berada di sampingnya.”


“Aku jadi cemburu, nih. Kamu terlihat sangat mengkhawatirkannya.”


Yuu mengerutkan dahi dengan sedikit nada jengah.


“Kalau begitu Ma-kun, Onee-chan akan memelukmu erat-erat.”


Sebelum Masaomi sempat menjawab, Yuu berjalan mendekat dan memeluk dada Masaomi. Meskipun terhalang baju zirah, Masaomi bisa merasakan suhu tubuh yang berbeda dari Hibari. Ia tidak tahu apakah itu karena ini di dalam Astral Side, atau karena memang itu adalah Yuu. Hanya saja, suara tepukan lembut yang berirama di punggungnya terasa meluluhkan rasa cemas Masaomi. Ia bisa merasakan keinginan Yuu untuk membuatnya merasa tenang.


Merasa tenang berarti sebelumnya ada rasa cemas.


“Jangan sok jadi Onee-chan, deh. Padahal kamu kecil begini.”


“Dulu kamu juga bilang begitu, tapi ini kan soal perasaan. Mengkhawatirkan orang lain itu boleh saja, tapi kamu sendiri kan juga baru saja mengalami banyak hal. Saat ini, hanya aku yang bisa memelukmu saat kamu gemetar begini, Ma-kun.”


Begitu rupanya. Ternyata aku gemetar──ya, aku memang secemas itu sampai-sampai baru menyadarinya sekarang.


Kemudian Yuu, sambil tetap memeluk Masaomi, menceritakan kenangan panjang mereka. Tentang saat pertama kali mereka bertemu. Tentang betapa kesepiannya Kasuka selama itu. Tentang betapa ia sangat, sangat menantikan janji bermain Kurokomi.


Tentang kehidupan seperti apa yang dijalani Tachibana Kasuka yang tidak bisa akur dengan orang tua kandungnya. Dan kemudian ──tentang saat ia menciptakan Astral Side.


“Saat jatuh dari tebing, Dewa Naga mengabulkan permohonanku yang sedang sekarat. Kamu sudah dengar dari kakek, kan? Otakku sejak awal memang spesial, setara dengan dua orang. Area otak yang meluas itu memproses informasi jauh lebih banyak daripada orang biasa, sehingga aku bisa menangkap sesuatu seperti aliran dunia yang seharusnya tidak bisa dirasakan. Aliran itu disebut Nadi Naga, dan Dewa Naga adalah semacam akar dari Nadi Naga tersebut.”


Masaomi mendengarkan dengan seksama, sembari menatap ubun-ubun rambut putih Yuu yang membenamkan wajahnya di baju zirah.


“Astral Side dan Material Side terhubung melalui otak Kasuka ──tepatnya melalui aku dan Nadi Naga. Itu karena dulu aku memohon idealisme seperti itu. Itulah sebabnya kejadian di Astral Side memengaruhi realitas, dan begitu pula sebaliknya. Kita manusia, jika sebagian otak kita aktif, semuanya bisa terhubung dengan Astral Side atau Nadi Naga. Kita punya fungsi itu. Di lubuk otak yang pernah tertidur, di ujung benang cahaya, jika seseorang mendengar suaraku dan terhubung lebih kuat, maka ia menjadi seorang Astral Diver. Pada dasarnya, fungsiku memang jauh, jauh lebih kuat daripada orang lain.”


“Jadi, ini masalah yang rumit ya.”


Yuu menjauhkan wajahnya dari dada Masaomi, lalu menggoyangkan jarinya seolah berkata "tsk, tsk, tsk". Ekspresinya yang penuh antisipasi seolah sedang membeberkan trik sulap itu terasa tumpang tindih dengan ingatan masa lalu.


“Sederhana kok. Intinya ini adalah sebuah permainan. Dunia ini tercipta hanya karena aku ingin bermain Kurokomi bersama semuanya. Begitu lingkungan untuk melakukannya sudah siap di dalam kepala, masing-masing peserta ikut serta dengan karakter ideal yang mereka inginkan, cuma itu. Bukankah lebih mudah dimengerti kalau kubilang aku membuatnya begini sebagai pelampiasan karena dicampakkan oleh Ma-kun?”


“......Ternyata memang jadi cerita yang rumit, kan?”


Itu sama saja dengan mengatakan bahwa Astral Side lahir karena Masaomi melanggar janji untuk bermain Kurokomi.


“Sebenarnya, jika aku bisa mengganti realitas dengan idealisme, mungkin hal yang merepotkan ini tidak akan terjadi. Tapi, karena satu orang saja tidak punya kekuatan sebesar itu, aku menciptakan dunia ideal di luar realitas dan membuat mekanisme untuk pergi ke sana ──bukankah ini hal yang cukup luar biasa? Menciptakan dari imajinasi?”


“Dunia yang tercipta dari permainan kata... yah, mungkin itu memang gaya Yuu banget.”


"Itu namanya rima," ujar Yuu sambil mengerucutkan bibirnya.


“Messian, Selfie... aku sempat berpikir istilahnya sangat mirip game, tapi ternyata memang karena asalnya dari game──Kurokomi, ya.”


“Iya. Karena ini game pertarungan, orang-orang saling membenturkan idealisme yang berbeda. Tapi memang begitulah adanya. Keinginanku dan keinginanmu belum tentu mengarah ke tujuan yang sama. Bagaimana dunia ini memengaruhi realitas, pada akhirnya ditentukan oleh semua orang yang saling terhubung.”


"Hibari-chan juga salah satu di antaranya," lanjut Yuu.


“Tapi untuk mempertahankan dunia sebesar ini, bisakah kamu membayangkan bahwa setidaknya satu otak harus terus dikorbankan setiap saat? Itulah sebabnya aku selalu berada di dalam Astral Side sebagai server yang mempertahankannya. Karena itu saja masih kurang, aku juga meminjam otak adikku──Kasuka. Artinya, Kasuka di dunia nyata adalah entitas yang memiliki pengaruh kuat terhadap Astral Side melaluiku. Intinya, dia itu seperti administrator. Alasan Kasuka yang tadinya anak ajaib menjadi seperti sekarang... yang agak bodoh begitu, itu karena sebagian besar fungsi otaknya dialokasikan untuk urusan pengelolaan ini.”


Mendengar cerita yang begitu mencengangkan, otak Masaomi yang hanya satu ini dipaksa bekerja keras. Ia merasa lebih bingung daripada saat pertama kali Hibari menceritakan soal Astral Side. 


Meski begitu, Yuu tetap terlihat tenang dan tidak tampak sedang berbohong. Faktanya, jika cerita ini diterima mentah-mentah, ini justru memperkuat dugaan bahwa Kasuka memang berkaitan dengan Astral Side.


──Sejak aku memutuskan untuk terlibat dengan Hibari, ini pasti sudah menjadi takdir. Begitu memutuskan menjadi Guardian Hibari, menerima cerita tentang dunia yang tidak bisa dilihat maupun didatangi, dan terus berjalan di jalan ketetapan hati itu, aku akhirnya sampai di sini. Mungkin sesederhana itu, dan jika dipikir simpel seperti itu, rasanya tidak ada yang rumit. Demi Hibari, Masaomi bisa melakukan apa saja. Jika dirangkum kembali, hanya sesederhana itu──


Tiba-tiba, suara gemuruh seperti tanah yang bergetar bergema dari bawah kaki, dan pandangan Masaomi goyang hebat.


“......Apa ini? Bukan gempa, kan?”


Raungan yang terdengar seperti tangisan pilu Astral Side bergema secara terputus-putus di sana-sini. Jika tangan ramping Yuu tidak menyangga punggung Masaomi dengan lembut, ia mungkin sudah kehilangan ketenangannya.


“Sebentar lagi Kasuka akan bangun. Dunianya harus diperkecil lagi. Hibari-chan...... apakah dia akan sempat?”


Yuu bergumam lirih. Suaranya menyiratkan semacam harapan, namun juga seolah mengumumkan sebuah akhir.


“Dunia ini sekarang hampir hancur. Akses bagi para Diver yang dangkal sudah dihentikan, dan para Diver yang tidak begitu dikumpulkan menjadi satu di tempat yang sempit; hanya dengan melakukan sejauh itu dunia ini bisa dipertahankan secara darurat.”


“Itu...... adalah rahasia Astral Side, ya.”


“Iya. Tapi, karena keegoisanku yang meninggalkan Ma-kun di sini, hubungan Ma-kun denganku──dengan Nadi Naga──malah jadi semakin dalam. Dalam artian tertentu, kamu sudah menjadi seperti Guardian bagi Astral Side itu sendiri, sehingga luka dunia ini akan sangat berdampak pada Material Side. Karena itulah──kamu mengalami kecelakaan.”


Jadi logikanya, Yuu lah penyebab yang membuat Hibari jatuh ke dalam keputusasaan.


Masaomi tidak begitu mengerti mengapa hubungan yang mendalam antara dirinya dan Yuu──fakta bahwa ia terus berada di Astral Side──disebut sebagai sebuah keegoisan. Ia pikir pasti ada alasannya. Sesuatu yang ingin Yuu capai, bahkan sampai harus memperkecil dunia yang hampir hancur ini ke dalam Safe Mode, dan mencurahkan begitu banyak usaha ke dalam pengelolaannya.


“Karena itu, aku minta maaf ya untuk banyak hal. Penyebab Astral Side mulai hancur pada dasarnya adalah karena otak kami, dan akhirnya Hibari-chan terus-menerus dipermainkan oleh situasi itu. Aku benar-benar merasa bersalah, lho.”


Yuu menundukkan wajahnya, empat helai rambut putihnya ikut terkulai lesu. Masaomi berpikir, mungkin Yuu sedang merasakan pergulatan batin; meskipun ini adalah dunia ideal, ternyata tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Menjadi pengelola Astral Side terdengar sangat berat, dan meskipun dunia ini lahir dari keinginannya sendiri, mempertahankan dunia seluas ini pastilah sebuah perjuangan yang luar biasa. Karena itu, kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari mulut Masaomi.


“Begitu ya. Aku sama sekali tidak tahu, tapi ternyata kamu sudah berjuang keras ya, Yuu. Kasuka juga. ──Kalian berdua pasti sangat lelah, kan? Jadi...... ya. Terima kasih atas kerja kerasmu.”


“......Duh, apa-apaan sih. Bukannya aku minta dikasihani atau apa, tapi...... ih!”


Wajah di depan Masaomi tampak seperti sedang menahan tangis karena ekspektasinya dipatahkan. Persis seperti gadis berambut merah di hari Masaomi melanggar janji dulu, saat ia mencaci Masaomi sebagai pembohong.


“Aah, padahal aku sudah bertekad tidak akan menangis. Ma-kun bodoh.”


“Kok jadi salahku?”


“Memang salahmu.” 


Yuu mengucek matanya dengan lengan baju susternya. 


“Salah Ma-kun. Pelanggar janji. Pembohong. Padahal sudah punya pacar, tapi malah menebar kata-kata manis tanpa pandang bulu ke rasa bersalah orang lain. Kamu tidak tahu perasaanku yang selama ini hanya bisa melihat Material Side melalui mata Kasuka. Kamu itu terlalu setia, manis, sekaligus keren, tahu tidak? Aku jadi benci ──maaf, itu bohong.”


Meski di tengah-tengahnya terselip keluhan yang tidak Masaomi mengerti, sepertinya Yuu merasa lega setelah menumpahkan semuanya. Mata birunya yang jernih setelah menangis tampak bersinar, berbahan bakarkan kesepian yang tak terlukiskan.


“Tapi...... tidak. Berkat itu, aku jadi bisa memantapkan hati. Aku juga orang yang setia, lho. Demi dirimu, aku akan membenturkan idealismeku. Meskipun pada akhirnya, aku mungkin akan dibenci olehmu.”


“Apa maksudnya?”


“Soal Hibari-chan, apakah dia bisa bangkit kembali atau tidak. Aku tidak akan bilang kalau aku tidak cemburu, tapi aku rasa tadi aku sudah mengatakan hal-hal yang cukup menyakitkan padanya. Yah, namanya juga perasaan wanita.”


“......Aku kurang paham, tapi apakah itu berarti Hibari sedang menderita karena ucapanmu?”


Yuu menatap lurus ke arah mata Masaomi dan mengangguk pelan.


“Biarpun begini, aku ini kan kakaknya. Aku bersumpah demi Dewa Naga, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Ma-kun. Jadi, tolong tunggu keegoisanku sebentar saja. Boleh?”


Boleh atau tidak, Masaomi merasa tidak terhubung dengan realitas sama sekali saat ini. Ia mencoba melakukan dive-out dengan cara yang biasa, namun ia tidak merasakan sensasi terputus sama sekali. Seolah-olah jiwanya diikat secara paksa; kekuatan yang bekerja adalah kebalikan dari bomb pemulangan paksa.


“Sebenarnya masih banyak yang ingin kukatakan──tapi sekarang, aku akan pergi untuk memberikan 'pukulan terakhir' pada Hibari-chan.”


“──Begitu ya. Baiklah.”


“Eh?” 


Yuu memiringkan kepalanya secara berlebihan seperti di manga. 


“Cepat sekali setujunya. Kamu tidak akan melarangku?”


“Kalau aku sebagai adik melarangmu, apakah kakak akan berhenti?”


“Kamu selalu saja bicara dengan cara yang curang begitu...... aku tidak akan berhenti, sih.”


“Habisnya, itu perasaan jujurmu, kan? Perasaanmu yang tulus, kan? Sampaikan saja sepuasmu. Bukankah itu inti dari terhubungnya jiwa?”


“Hibari-chan bisa benar-benar hancur kali ini, lho? Astral Side hilang, Ma-kun tidak ada, lalu dirundung oleh kakak ipar sepertiku; dia tidak akan punya apa-apa lagi yang tersisa.”


“Yang berpikiran begitu hanya Hibari saja, tahu.”


Jangan remehkan kebahagiaan pacarku, ucap Masaomi. Realitas di Material Side yang mengelilingi Hibari bukan hanya berisi hal-hal yang kejam baginya. Kusunoki Masaomi bukanlah segalanya bagi Sasuga Hibari.


“Apa pun yang kamu katakan, seberapa pun kamu menggoyahkan hatinya, Hibari akan bangkit kembali. Ia akan melebarkan sayapnya dengan gagah seperti Sang Valkyrie, dan mulai mengayunkan tombaknya lagi. Ini bukan sekadar tebakan, tapi sebuah ramalan.”


Masaomi tersenyum dengan keyakinan dan kepercayaan yang mutlak.


“Lalu, satu lagi sebagai tambahan ramalanku. Aku tidak akan pernah membenci Yuu maupun Kasuka. Karena kalian adalah temanku. Itu adalah hal yang sewajarnya bagiku, sama seperti aku yang selalu mendampingi Hibari.”


Yuu membelalakkan matanya lalu segera berbalik, pasti karena ia tidak ingin wajahnya terlihat. Selama mengobrol dengan Masaomi di sini, Yuu terus meluapkan perasaan senang sekaligus kesepian yang meluap-luap. Yuu selama ini menantikan janji dengan Masaomi, namun di saat yang sama ia telah merelakan sesuatu, dan tetap berjuang sekuat tenaga mempertahankan Astral Side.


Mana mungkin aku bisa membencinya. Namun──perasaan Yuu yang katanya setia itu......


“Aku sudah tahu bakal begini, tapi...... aku benar-benar cemburu, lho.”


Masaomi menyimpan bayangan punggung baju suster yang menghilang seperti gangguan sinyal itu dalam ingatannya, lalu ia menggelengkan kepala. Ia merasa bisa memahami dengan jelas seperti apa ekspresi wajah Yuu saat ini.


Semester baru telah dimulai.


Sisa-sisa dampak salju besar dari libur akhir tahun masih terasa, dan kabarnya gelombang dingin yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah observasi sedang mendekat. Ditambah lagi, pagi ini ada peringatan dini gempa bumi yang membuat berita daring dan media sosial riuh dengan informasi yang membanjir. 


Hasilnya ternyata hanyalah getaran kecil yang mendekati peringatan palsu, yang sebenarnya merupakan hal yang patut disyukuri. Namun bagi para siswa yang masih membawa rasa malas setelah liburan tahun baru, hal itu justru semakin mengendurkan ketegangan mereka.


Bukan berarti ada alasan khusus, tapi Hibari menghabiskan sepanjang hari hanya dengan menatap kosong ke arah papan tulis yang sedang dicoret-coret oleh guru. Tak satu pun materi pelajaran yang masuk ke kepalanya. Ujian setelah libur musim dingin tahu-tahu sudah selesai, dan ia merasa hasilnya pasti berantakan. Namun, itu masih mending.


Masaomi yang sedang dirawat di rumah sakit bahkan tidak bisa mengikuti ujian tersebut. Tidak ada lagi momen mengajari Masaomi bahasa Inggris yang tidak dikuasainya, tidak ada lagi rasa jengah terhadap alasan-alasan konyol Masaomi, dan tidak ada lagi kencan berdua di restoran keluarga dengan dalih "belajar bersama". Bahkan rutinitas biasa seperti itu kini terasa seperti idealisme yang jauh bagi Hibari.


Tidak bisa bicara dengan Masaomi. Tidak bisa melakukan dive. Hanya karena itu, ia menjadi hancur seperti ini.


『Kamu yang berlagak penyendiri itu, pada dasarnya memang manusia lemah. Tanpa tempat bersandar, jiwamu terlalu berat sehingga kamu tidak bisa berjalan sendirian.』


Yuu menusuk titik lemah Hibari dengan tepat, persis seperti cara tombak "Noble Lark" bekerja.


Setiap kali teringat, ia menyentuh jepit rambutnya, lalu merasa takut akan kata-kata bahwa bentuk sepasang sayap itu "sepihak". 


Ia meringkuk, membiarkan karat dan nanah menumpuk di hatinya. Ia merasa seolah sudah menghabiskan seluruh air mata untuk seumur hidupnya. Ia sadar telah membuat orang tuanya khawatir. Ibunya secara langsung, dan ayahnya secara tidak langsung, menunjukkan perhatian pada kondisi Hibari. Mereka juga tampak mencemaskan Masaomi yang mengalami kecelakaan, namun bagi Hibari yang sudah merasa enggan untuk membicarakan apa pun, hari-harinya berakhir hanya dengan memeluk Mentsuyu (kucingnya) dan meringkuk di atas kasur begitu sampai di rumah. Seolah-olah kucing peliharaan yang pemalas di rumah itu kini bertambah menjadi dua ekor.


Setelah menjenguk Masaomi—setelah hatinya ditikam oleh Yuu—ia pernah sekali berbicara dengan ayahnya melalui pintu kamar.


『Hibari, kamu terlihat sangat terpukul. Wajar saja, karena pacarmu kecelakaan dan belum sadarkan diri. Sejujurnya, Ayah tidak tahu harus berkata apa. Padahal sudah hidup puluhan tahun, tapi Ayah merasa tidak berguna.』


Hibari tidak menjawab. Semuanya terasa merepotkan.


『Saat Hibari koma panjang di musim panas lalu, dia—tanpa kepastian sekalipun—berjanji kepada Ayah dan Ibu untuk pergi ke dunia Hibari. Dan dia benar-benar menepati janji itu. Dia anak yang luar biasa. Namun, bukan berarti Hibari harus menghancurkan hati sendiri demi dia—mungkin itulah jawaban benar yang harus Ayah sampaikan sebagai orang tua.』


Namun, kata-kata itu benar-benar sampai ke telinga Hibari, dan ternyata masih ada lanjutannya.


『Meski begitu, ya. Ayah rasa, setidaknya Hibari—dan bukan orang lain—harus berani menghadapi realitasnya tanpa rasa takut. Karena dia telah menitipkan perasaan yang muda, nekat, dan sungguh-sungguh itu kepadamu.』


Ibunya yang kebetulan lewat hanya berkata, 『Bicaralah kapan pun kamu mau, ya.』


Mentsuyu pun tidak keberatan dan menerima usapan kasar dari tangan Hibari saat merapikan bulunya.


Perhatian keluarganya melekat di sudut ingatannya, setidaknya cukup untuk membuatnya teringat secara tiba-tiba seperti sekarang.


──Aku harus pulang ke rumah. Supaya mereka tidak khawatir.


Saat ia menyadari suasana kelas sudah sangat sunyi, ternyata waktu pulang sekolah sudah tiba. Buku-buku di mejanya entah bagaimana sudah tertata rapi, namun buku catatannya tetap kosong tanpa satu huruf pun. Ia tidak memiliki ingatan atau jejak tentang apa yang telah ia lakukan, sampai-sampai ia akan percaya jika ada yang bilang ia baru saja melakukan lompatan waktu.


Hanya ada beberapa orang yang tersisa di kelas, termasuk Hibari. Tidak ada orang yang cukup aneh untuk menyapa seorang siswi yang mematung di kursi layaknya patung tak bersuara yang menyeramkan.


──Kecuali satu orang.


"Ngapain sih pasang muka melankolis sambil helas napas hah-huh-hah gitu. Kelihatan kayak orang mesum, tahu? Mau pamer 'aku lagi patah hati dan kesepian' ya? Si cantik yang haus perhatian itu emang yang paling nyebelin."


"......Kajiura-san. Kenapa kamu terus mencampuri urusanku? Apa untungnya bagimu?"


"Untung? Nggak ada tuh. Jangan kepedean deh. Kamu nggak seberharga itu."


"......Begitu. Kalau begitu, bisakah kamu membiarkan aku yang tidak berharga ini sendirian? Hanya buang-buang waktu saja, kan."


"──Cih, bikin emosi aja!"


Kajiura melangkah lebar ke arah Hibari dan mencengkeram kerah bajunya. Ada aura kekerasan yang membuat Hibari ingin memalingkan wajah. Namun, Kajiura tidak lari atau bersembunyi; ia menatap lurus ke dalam mata Hibari.


"Mengingat pacarku pernah tergila-gila sama perempuan kayak kamu, rasanya bukan cuma emosi, tapi pengen muntah tahu nggak...!"


──Ah, dia sudah jadian dengan Takei-kun. Sejak kapan ya. Selamat.


Anehnya, perasaan tulus ingin memberi selamat muncul di hati Hibari. Karena cinta bertepuk sebelah tangan──perasaan cinta yang tidak terwujud──itu sangatlah menyakitkan.


"'Nggak ada yang bisa ngertiin aku! Padahal duniaku sekeren ini! Ya udah kalau aku sendirian, mau gimana lagi! Ah, mau gimana lagi, nggak ada yang paham sih!'"


Hibari bertanya-tanya dalam hati, mengapa?


"Hah! Berhenti berusaha buat dimengerti, tapi pengen maksain idealisme cuma modal tampang doang, bikin geli tahu. Para laki-laki bodoh yang gampang ketipu sama hal kayak gitu, atau laki-laki 'terlambat' yang sok pengertian dan mau nerima hal itu... semuanya nggak ada yang kusuka!"


Mengapa teman sekelasnya, Kajiura ini, bisa menusuk rasa bersalah Hibari dengan begitu telak?


"Pacar bodohku emang bodoh karena pernah naksir kamu, tapi kalau kamu nggak bahagia setelah semua itu, aku yang nggak terpilih waktu itu bakal kelihatan menyedihkan banget, kan? Makanya kamu itu punya kewajiban. Kewajiban buat terus digores dan dipukul sama aku kapan pun, di mana pun. Kalau kamu nggak jadi sandbag bermuka tenang yang nggak bakal hancur meski diapain pun, nggak bakal seru buat dipukul, kan!"


Bahkan setelah perasaannya tercapai, bahkan setelah ia membangun dunia di mana orang lain tidak penting lagi, Kajiura tetap menganggap Hibari sebagai musuh. Ia selalu, selalu datang seolah sengaja mencari gara-gara.


"Gimanapun juga aku ini yang nomor dua. Aku baru dapet giliran karena kamu nggak berhasil. Paham nggak? Perasaan aku yang sampai sekarang masih dibanding-bandingin kalau soal tampang mah masih bagusan 'dia'. Aku nggak punya pilihan selain mengangguk dan nerima itu. Tapi setelah semua itu, kamu malah jadi kayak gini... jangan bercanda deh!"


Ketidakadilan yang dirasakan Kajiura, bagi Hibari pun terasa sangat tidak adil.


Sangat mudah untuk menepisnya dengan berkata "aku tidak peduli", dan seharusnya memang itulah yang ia katakan.


──Namun, gadis ini pun sedang jatuh cinta dengan segenap jiwanya. Karena Hibari pun kini tahu betapa beratnya emosi dan pergulatan batin yang harus dipikul saat jatuh cinta.


"Jangan mentang-mentang si 'pria telat' itu nggak ada, kamu langsung lepas kostummu gitu aja! Aku jadi kelihatan menyedihkan, tahu! Seolah-olah aku puas dapetin laki-laki lungsuran dari perempuan payah kayak kamu! Sana, jadi penyendiri akut lagi sambil bangga-banggain fantasi anehmu itu! Cepet sebarin 'gelombang aneh' atau apalah itu, terus tunjukin sikap kalau realitas remeh kayak aku ini nggak ada harganya di matamu! Bener-bener, ya...... aku benci banget sama kamu!"


Sambil bernapas terengah-engah, Kajiura menumpahkan semua kekesalannya. Setelah melepaskan Hibari, ia melangkah lebar keluar menuju koridor. Terdengar suara teman-teman gengnya yang terbelalak melihat kemarahannya yang luar biasa, sambil mencoba menenangkan Kajiura.


Sejak awal Hibari tidak pernah merasa disukai. Namun, apakah barusan itu caranya menyemangati Hibari?


Jika iya, dia benar-benar orang yang kikuk atau mungkin sekadar keras kepala. Tetap saja, Hibari merasa ada sesuatu yang berbeda.

Jika sudah memakai topeng, maka pertahankanlah sampai akhir—begitu katanya.


Kajiura melihat Hibari yang apa adanya, yang sedang merintih dalam realitas, namun tetap saja──justru karena itulah ia merasa tidak suka. Selama ini Hibari hanya berpura-pura tidak peduli dan mencampakkan realitas, padahal realitas itu selalu ada di sisinya.


Maka di sini pun, selain Masaomi, pasti ada orang lain yang peduli pada Hibari yang seperti ini.


"Benci banget, ya."


Cercaan jujur dari Kajiura ternyata mampu mengaduk-aduk hati Hibari yang selama ini tertumpuk oleh emosi yang berantakan, jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan.


『Kalau masih di sekolah, boleh minta waktunya sebentar? Aku ada di ruang OSIS.』


Saat sedang terduduk lunglai di kelas setelah kepergian Kajiura, sebuah pesan LINE dari Kanae masuk. Hibari menggulir riwayat pesan dan teringat bahwa akhir-akhir ini ia tidak membalas pesan Kanae dengan benar.


Ia sempat ragu sejenak karena khawatir kereta akan berhenti akibat salju, namun akhirnya ia memutuskan untuk setuju. Setelah merasa seperti ditampar oleh Kajiura, mungkin punggungnya yang sempat lunglai kini sedikit tegak kembali.


Setibanya di depan ruang OSIS, ia berpapasan dengan Kanae dan Ketua OSIS yang baru saja keluar dari ruangan.


"Anda datang juga, Hibari-senpai. Ah, pitanya miring, lho."


Hibari berpikir bahwa Kanae benar-benar junior yang perhatian karena langsung menyadari hal kecil seperti itu.


Sembari membiarkan Kanae merapikan pitanya dengan telaten, tanpa sengaja Hibari bertatapan dengan Ketua OSIS.


"Oho, jadi ini Sasuga-kouhai yang tersohor itu? Wakil Ketua Saeki dan Magaomi-kouhai selalu merepotkanmu, ya. Aku Sou. Fu-ru-o-ya Sou! Hi!"


"Ketua, berisik. Jangan berteriak di jarak sedekat ini, Anda bukan mobil kampanye tahu."


Kanae yang baru saja selesai merapikan pita membalas Sou dengan nada jengah.


"Aku cuma berpikir untuk memberi sedikit semangat pada pacar Magaomi-kouhai yang berwajah muram ini."


Entah itu Keiji atau Sou, para laki-laki di sekitar Masaomi selalu melontarkan ekspresi tanpa ampun terhadap wajah Hibari. Atau mungkin, wajahnya memang seburuk itu sekarang. Mengingat wajah yang Masaomi sukai kini menjadi begitu kuyu, Hibari merasakan rasa bersalah yang mendalam.


"Wah, parah banget. Bilang muram ke perempuan yang baru pertama kali ditemui. Orang yang nggak punya delikasi itu nggak bakal populer, tahu."


"Sasuga-kouhai. Wakil Ketua Saeki selalu saja begini padaku. Tidakkah kamu merasa dia kurang memiliki delikasi?"


Terlepas dari suasana hatinya yang sedang mendung, Hibari hanya bisa diam karena tidak tahu harus berkomentar apa. Hubungan antaranggota OSIS adalah urusan mereka sendiri. 


Hibari mungkin mendengar ceritanya secara tidak langsung melalui Kanae atau Masaomi, tapi ia tidak pernah berada di tengah pusaran percakapan mereka. Apalagi harus menanggapi Ketua OSIS yang belum pernah ia temui.


"Aku sudah mendengar tentang Magaomi-kouhai. Sebagai kekasihnya, wajar jika rasa cemasmu menumpuk. Kita yang bukan Dewa maupun dokter hanya bisa memendam rasa sesak. Namun di mataku, kamu terlihat lebih dari sekadar cemas; kamu terlihat seperti sedang tersesat. Karena itu, anggaplah ini hanya celotehan orang tua dan dengarkanlah."


"Kalau ceritanya nggak penting, akan langsung aku hentikan. Aku sudah ada janji dengannya," ujar Kanae. 


Meskipun ia bicara dengan nada ketus seolah ingin mengakhiri pembicaraan, ia tidak benar-benar menghentikan Sou. Hibari berpikir bahwa ternyata Kanae cukup mengandalkan ketuanya itu.


Kalau dipikir-pikir, Kanae tidak terlihat banyak berubah meskipun telah kehilangan Astral Side.


Apakah itu berkat dukungan sahabatnya, Tsubaki, atau karena didukung oleh Sou dan teman-teman OSIS lainnya? Atau mungkin karena—berbeda dengan Hibari—ia tidak memalingkan mata dari Material Side dan memilih untuk tetap bertahan sekuat tenaga?


"Tadi aku bilang kamu muram, ya. Aku minta maaf dan menarik kata-kataku."


Jika orang ini adalah sosok yang dipercayai oleh Kanae, mungkinkah ia akan memberikan tempat pelarian yang nyaman?


──Harapan naif itu hancur seketika.


“Kamu yang sekarang hanyalah sesosok hantu menyedihkan yang hidup segan mati tak mau. Jika begitu, sekalian saja bulatkan tekadmu untuk mati sekali.”


Rasanya jantungku mau berhenti. Ini bukan lagi soal ditampar seperti yang dilakukan Kajiura tadi.


“Tu... tunggu, Ketua! Tiba-tiba sekali bicara sekasar itu.”


“Diamlah, Wakil Ketua Saeki. Bukankah sudah kubilang ini hanya celotehan? Mendengarkannya atau tidak, itu keputusan Sasuga-kouhai.”


Sou menepis keberatan Kanae dengan mudah. Kemudian, dari posisi yang lebih tinggi dari Masaomi, ia menatapku dalam-dalam, menghujamkan pandangannya. Hibari melihat itu di tengah pandangannya yang masih linglung.


Hati Hibari saat ini telah kehilangan tempat bersandar. Bahkan saat sebilah pedang tajam diacungkan tepat di depan matanya pun, ia merasa terlalu malas untuk sekadar menghindar. Seolah bisa melihat menembus hal itu, manik mata Sou tidak bergeming sedikit pun.


Sama seperti Kajiura. Orang-orang di sekitar Hibari benar-benar memperhatikan dirinya. Justru Hibari lah yang sejak awal menutup diri dan tidak mencoba melihat orang lain, menganggap mereka tidak akan pernah sejalan.


Hibari yakin, jika ia memalingkan wajah, Sou pasti akan menghentikan pembicaraannya. Itu artinya, ia akan dianggap tidak layak diajak bicara; tidak pantas bahkan untuk sekadar mendengarkan celotehan orang tua.


Namun, Hibari yang sekarang tidak memiliki dorongan kuat untuk balik memelototinya.


“Kamu tidak membalas tatapanku, tapi tidak juga menghindar. Itulah bentuk keraguanmu. Kamu berada di posisi tidak bisa memilih untuk maju maupun kembali. Aku memang tidak mengenalmu. Tapi aku mengenal baik murid sekolah ini. Aku tahu tentang siswi 'Musou'—bukan, gadis 'Musou' (pemimpi)—yang sesumbar ingin menyelamatkan dunia dan mengusir setiap laki-laki yang mendekat.”


Seorang Ketua OSIS memang sewajarnya mengenal seluruh murid, namun khusus bagi pria bernama Sou ini, kata-katanya merasuk ke dalam diri Hibari dengan kekuatan persuasi yang luar biasa. Kanae pun pasti berpikir demikian, karena itulah ia memilih bungkam dan menyimak.


“Menyelamatkan dunia? Bagus, bukan? Lakukanlah. Meragu itu bukan dosa. Hanya saja, keraguan yang tidak berarti adalah dosa, dan tidak melakukan hal yang jawabannya sudah pasti adalah dosa besar bernama kemalasan. Maka dari itu, matilah sekali. Lalu, bangkitlah kembali dari nol. Sesuatu yang hilang, cukup direbut kembali, bukan?”


"Kalau sudah jatuh sampai ke dasar, kamu tidak punya pilihan lain selain melihat ke atas," tambahnya.


Tiba-tiba, sesaat Hibari merasa tatapan Sou beralih ke arah jepit rambutnya.


“Meski tanpa sayap yang bebas, meski hanya ada belenggu yang berat──dan meski tanpa kualifikasi apa pun──Magaomi-kouhai tidak akan pernah mencampakkanmu. Kalau begitu, tidak ada salahnya kan mencoba mati sekali di akhir lumuran dosa ini?”


Ekspresinya tampak seperti orang yang tahu segalanya dan telah mencapai pencerahan. Padahal ia tidak mungkin tahu urusan Hibari ──soal Astral Side maupun Yuu──namun ia berhasil membidik tepat pada satu titik keraguan Hibari. Atau mungkin, ia ingin menyadarkan bahwa keraguan Hibari hanyalah satu dari sekian banyak masalah remeh yang dialami remaja di sekolah ini.


“Apakah Ketua OSIS tidak pernah ragu dengan jalan yang Anda tempuh?”


“Jalanku? Hm, aku akan segera lulus. ──Mungkin aku akan pergi menyelamatkan dunia juga.”


Sou mengatakannya dengan lantang dan seolah-olah itu hal yang sangat mudah.


“Ini bukan masalah rumit. Bergabung dengan organisasi yang tepat, atau menjadi sukarelawan di sudut jalan pun boleh. Di dunia ini ada cara tak terbatas untuk menyelamatkan dunia. Yang penting adalah dunia mana yang akan kau selamatkan; bukankah itu soal keinginanmu sendiri untuk memilihnya? ──Sisanya, pikirkanlah sendiri setelah kamu hidup kembali.”


Sambil memasang senyum licik, Sou menunjuk ke arah dada Hibari sekali, lalu mengarahkannya tepat ke atas.


“Jawaban yang diberikan orang lain itu ibarat mengandalkan matahari di langit saat berjalan di gurun. Tidak bisa dijadikan kompas. Kompasmu sendiri tidak mungkin ada selain di dalam keinginanmu sendiri. Yah, sepertinya celotehanku sudah terlalu banyak. Naaaa-hahahaha!”


“......Ujung-ujungnya Anda mencampakkan saya, ya. Intinya, maksud Anda jangan bermanja pada orang lain?”


“Bukan begitu, bukankah bermanja itu hal yang bagus? OSIS adalah kawan bagi seluruh murid tanpa terkecuali. Hanya saja──aku pikir lebih baik memberikan bagian penutup yang manis kepada Wakil Ketua yang terlalu protektif ini.”


Setelah memberi isyarat mata singkat kepada Kanae, Sou melambaikan tangan dan meninggalkan tempat itu.


“Salam buat Magaomi-kouhai, ya. Sampaikan padanya, dia harus mengantarku pergi di upacara kelulusan nanti.”


“Benar-benar deh, Ketua itu selalu saja bicara blak-blakan, mengatakan hal yang tidak ingin didengar orang lain. Dia selalu memaksa orang untuk bangun dengan cara seperti itu. Sungguh, aku pun jadi tidak punya waktu untuk tidur.”


Hibari mengikuti Kanae ke atap sekolah yang biasa. Biasanya Masaomi yang membukakan pintu, tapi hari ini Hibari membukanya dengan kunci duplikat miliknya. Hanya karena hal sepele itu, ulu hatinya terasa nyeri dan berdenyut seperti luka bernanah.


──Situasinya belum berubah. Hatiku tidak akan sembuh secara instan. Tapi...


Ia sudah diberitahu untuk mencoba "mati sekali". Jika ia menganggap dirinya sudah seperti orang mati, mungkin selama ia masih hidup, ia bisa menemukan sesuatu yang bisa ia lakukan.


Sambil berdiri terdiam dengan pikiran itu, Kanae mengintip wajah Hibari seolah sedang membaca situasinya. Di mata birunya yang gelap, terpancar rasa cemas yang mendalam. Hibari merasa harus mengatakan sesuatu.


“......Terima kasih.”


“Padahal aku merasa belum melakukan apa-apa, lho?”


“Kamu memprovokasi Ketua OSIS agar dia menyemangatiku, kan?”


“Wah, aku tidak merasa begitu. Orang itu memang selalu bertindak sesukanya. Aku hanya bergumam kalau aku akan kesulitan mengerjakan tugas Wakil Ketua karena senior kesayanganku sedang depresi.”


Kanae menjulurkan lidahnya bersama dengan hembusan napas putih yang dingin, mencoba bercanda. Hibari kembali menyadari betapa juniornya ini sangat pandai bertindak selaras dengan perasaan orang lain. Inilah ikatan yang dihubungkan oleh Masaomi. Seorang junior yang sempurna dan gigih, yang mengagumi sosok Hibari yang seperti ini.


“Kanae, kamu tidak tertarik lagi padaku yang bukan lagi seorang Diver, kan? Aku sudah jauh dari sosok malaikat.”


“Masih saja bicara putus asa begitu...... itu kebiasaan buruk Anda, Hibari-senpai. Aku tidak tahu siapa yang mengatakan apa padamu, tapi kenapa Anda selalu mencoba menunjukkan sisi buruk Anda terlebih dahulu? Padahal Anda begitu──”


Kedua tangan yang hangat, berbeda dengan milik Hibari, dengan lembut membingkai pipi Hibari yang membeku.


“──begitu kuat, cantik, dan orang yang luar biasa. Tolong, banggalah sedikit dengan hal itu.”


“Tapi aku...... tanpa Astral Side, tanpa Masaomi-kun di sisiku, aku tidaklah kuat.”


“Sekarang pun, sosok Hibari-senpai yang seperti apa pun tidak akan mengubah kekagumanku padamu.”


Tanpa keraguan sedikit pun, Kanae membantah perkataan Hibari.


“Hanya saja, sejujurnya, aku tidak ingin melihat temanku terus mengurung diri dalam kebencian pada diri sendiri.”


Dipanggil sebagai "teman" oleh Hibari yang sekarang, rasanya begitu membahagiakan dan membesarkan hati.


“──Kejadian yang menimpa Masaomi-senpai pasti sangat mengejutkan, bukan? Tidak mungkin Anda baik-baik saja.”


Hibari mengangguk dalam diam. Ia tidak punya tenaga untuk berpura-pura tegar, dan ia tidak ingin berbohong kepada Kanae.


“Aku pun cukup terkejut. Orito-senpai memberitahuku kalau fisiknya baik-baik saja tapi dia tetap dalam kondisi dive. Rasanya sulit dipercaya kalau Masaomi-senpai yang itu akan meninggalkan Hibari-senpai dan jatuh ke Astral Side sendirian──”


Hibari mengira Kanae akan terus bersimpati pada kesedihannya, namun ternyata tidak. Kanae menepukkan kedua tangannya dengan suara plak, lalu menunjukkan senyum seolah berkata bahwa cerita sedihnya sudah berakhir.


“Yah, tapi Masaomi-senpai pasti tidak perlu dikhawatirkan. Aku tidak percaya pacar berwajah datar yang mentalnya sekeras baja itu akan menjadi cangkang kosong semudah itu. Jadi, kali ini aku hanya akan fokus mengurus Hibari-senpai.......Karena aku yakin Masaomi-senpai pun pasti akan menyuruhku melakukan hal yang sama.”


"Bahkan mungkin dia mempertemukan aku dengan Hibari-senpai demi saat-saat seperti ini," gumamnya. Dengan keyakinan yang sangat tajam, Kanae mendongak menatap langit yang mendung. Entah apakah Astral Side ada di atas langit atau tidak, namun gambaran bahwa tempat ideal yang bukan berada di sini terletak di angkasa adalah sesuatu yang bisa dipahami oleh setiap Diver.


“Hibari-senpai, kata-kata apa yang ingin Anda dengar? Aku akan memberikan kata-kata apa pun yang Anda inginkan. Misalnya; daripada anak panah yang tidak bisa patah, lebih baik menjadi tombak yang meskipun patah tetap bisa menusuk dengan mata tombaknya. Ini, sih, cuma mengutip kata-kata orang lain.”


Hibari teringat ia pernah mengatakan hal itu kepada "Suonare". Mendengarnya kembali secara objektif seperti ini membuatnya merasa malu sendiri karena betapa sombongnya ia saat itu.


“Anda tidak menyukainya? Padahal menurutku itu sangat cocok untuk Hibari-senpai yang sekarang sudah patah total.”


“Sama seperti Ketua OSIS, kamu pun bicara cukup blak-blakan, ya.”


“Aku bicara apa pun yang ingin kukatakan demi idealisme di dalam diriku. Aku bukan lagi orang luar, tapi teman. Dan seorang 'Hibarist' akan selalu berada di pihak Hibari-senpai tanpa pengecualian!”


Tatapannya yang penuh tekad kuat terus menghujam Hibari. Bukan untuk mendorongnya, bukan untuk mencampakkannya, melainkan seolah menunggu perasaan Hibari sendiri bangkit kembali.


Kanae terdiam, lalu dengan lembut memeluk kepala Hibari. Hibari membiarkan serangan mendadak itu bukan hanya karena hatinya yang sedang terluka.


Sambil berjinjit, Kanae menyangga Hibari dengan gerakan tangan yang seolah sedang memegang barang pecah belah──gerakan yang penuh kasih sayang. Hibari membenamkan wajahnya di dada Kanae yang lembut, membiarkan detak jantung yang menenangkan itu meresap ke dalam dirinya.


“Kalau begitu, aku akan merapal mantra istimewa untukmu──『Jadilah jujur pada dirimu sendiri』.”


Hibari bisa tahu meski tanpa melihat wajahnya. Kanae pasti sedang memasang ekspresi penuh kasih sayang layaknya seorang malaikat. Itu adalah dialog "Pure Cure" yang pernah diucapkan "Suonare" dulu. Kanae menirukan nadanya dengan sempurna, mereproduksi mantra asli yang telah menyebarkan cinta dan keberanian kepada anak-anak di seluruh Jepang melalui anime.


“Masaomi-senpai pernah mengatakannya dengan penuh percaya diri suatu waktu; 'Entah aku seorang Guardian atau bukan, Hibari tidak akan berubah'. Dia ingin Anda tetap menjadi sosok yang seperti itu.”


Hibari merasa suara Kanae sangat kuat dan meresap, bukan hanya ke otaknya tapi hingga ke lubuk hatinya. Suara itu membungkus gumpalan emosi negatif seperti keraguan, kecemasan, dan kebencian pada diri sendiri dengan lembut, lalu membasuhnya pergi bersama kata-katanya. Persis seperti menerima berkat perlindungan dari seorang malaikat.


“──Padahal Anda sudah begitu sering mencampuri idealisme para gadis, mana mungkin sekarang Anda bicara begitu, bukan? Iya, kan?”


Pasti karena ini adalah suara Kanae, karena ini adalah kata-kata dari teman Hibari, maka ia bisa berpikir demikian.


“Hibari-senpai, Anda itu terlalu banyak berpikiran yang macam-macam. ──Yah, ini juga kata-kata yang pernah dilontarkan oleh seorang 'alien berwajah datar' di Astral Side saat dia membuatku pusing dengan omongannya yang sesuka hati, sih.”


Nada bicaranya yang merindukan masa lalu itu terasa pahit, bahkan nyaris seperti racun.


Hibari berpikir bahwa meski Kanae terlihat sudah melampauinya, juniornya ini pun pernah menderita di jalan yang sama.


"Kematian" yang dikatakan Sou──junior yang melampaui titik itu kini terlihat begitu cantik dan bisa diandalkan.


“Jawabannya cuma satu dari dua pilihan. Tidak ada hubungannya dengan Astral Side atau apa pun. Anda ingin bersama Masaomi-senpai atau tidak? Yang mana?”


“......Aku ingin. Aku ingin bersama Masaomi-kun, ingin bersamanya selamanya. Mau sebagai Guardian, kekasih, atau apa pun, aku hanya ingin berada di sampingnya.”


Hanya sekadar menyuarakan apa yang ia pikirkan dengan jujur. Di Material Side, hal sesederhana itu seharusnya sulit dilakukan, namun sekarang ia bisa mengucapkannya dengan lancar. Efek mantra Kanae benar-benar luar biasa.


“Nah, Ketua juga bilang begitu, kan? Jawabannya sudah jelas. Jadi, apakah sekarang Hibari-senpai berada di samping Masaomi-senpai yang sedang tertidur?”


“Sekarang aku sedang berada di pelukan Kanae, sih.”


“Kalau begitu, ini bukan waktunya melakukan hal seperti ini! ──Yah, aku sendiri tidak keberatan sih memonopoli Hibari-senpai seperti ini. Bagaimana rasanya dadaku yang seharusnya digunakan untuk merayu Masaomi-senpai ini?”


"Tidak." 


Hibari menggelengkan kepala dan perlahan melepaskan diri dari kehangatan tubuh Kanae. Jika ia terus-menerus membiarkan temannya menopangnya seperti ini, harga dirinya sebagai Valkyrie yang ideal akan jatuh. 


Justru karena ia berada di depan Kanae—yang menyebutnya teman terlepas dari kondisi Hibari yang seperti apa pun—ia merasa ingin menjadi sosok yang tidak memalukan bagi Kanae. Dan, ada satu orang lagi yang mengatakan hal yang sama; "Hibari yang seperti apa pun".


“......Terima kasih, Kanae. Aku benar-benar senang bisa berteman denganmu.”


Ini semua berkat Masaomi yang telah mengajarkan Hibari bahwa ia memiliki tempat bernaung selain di Astral Side. Berbagai hubungan di Material Side kini memberikan dorongan yang begitu kuat bagi Hibari.


“Tentu saja, tentu saja. Tolong sampaikan itu baik-baik pada Masaomi-senpai supaya dia merasa berutang budi padaku. Sebagai balasannya, aku akan merencanakan sesi pemotretan cosplay Hibari-senpai. Lalu foto berdua dan jabat tangan juga ya. Masa depan yang bahagia sudah menanti!”


“Masih saja tidak tahu malu, ya. Tapi, aku berjanji.”


"Janji Hibari-senpai sudah kudapat!" 


Kanae memberikan kedipan mata yang paling manis.


“Astral Side. Dunia ideal. Tapi tempat di mana Masaomi-kun tidak ada, sama sekali bukan sebuah idealisme. Aku harus segera membawa pulang Guardian-ku. Realitas ini jadi terlalu membosankan kalau tidak ada dia.”


“Ahaha. Benar-benar malaikatku. Ternyata Anda memang 'gelombang aneh' sejati, ya. Itu sangat mencerminkan diri Anda, luar biasa.”


Mendengar kata denpa, sudut bibir Hibari tanpa sadar mengendur.


Benar. Sejak awal Sasuga Hibari adalah gadis denpa. Dan wanita seperti itulah yang berhasil memikat hati Masaomi. Selama ada seseorang yang menerima sinyal itu di sana, gelombang berat ini akan terus terbang ke mana pun.


“Ah, sudah mulai turun.”


Kanae menengadah ke langit, merentangkan kedua tangannya ke arah angkasa. Salju yang tampak seperti sobekan awan jatuh satu per satu ke telapak tangannya lalu menghilang. Namun, salju tidak berhenti. Pasti salju itu bahkan tidak memikirkan ke mana ia akan sampai. 


Ia terus turun dengan tenang, dan pada akhirnya akan menumpuk. Sama seperti perasaan Hibari terhadap Masaomi, terus menumpuk satu demi satu.


“──Aku pergi dulu ya, Kanae.”


Kanae terus tersenyum demi Hibari. Itu adalah senyuman yang sangat indah, sampai-sampai Hibari yang sesama wanita pun merasa terpesona.


“Iya! ......Selamat jalan, Hibari-senpai.”


Hibari menyempatkan diri mampir ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal.


Ia harus bersusah payah menenangkan Mentsuyu yang terus mengeong dan menempel padanya seolah menyadari sesuatu. Namun, meski harus menepis kucing kesayangannya itu, ia benar-benar membutuhkan benda tersebut.


Selama waktu singkat di kereta, ia membuka benda yang dibawanya dari rumah──sebuah buku harian──dan membacanya sekilas. Sebelum berpacaran dengan Masaomi, ia selalu memikirkan tentang Astral Side. Terkadang ada kejadian kecil sehari-hari, namun sebagian besar isinya menceritakan kejadian di Astral Side. 


Saat ia pertama kali menyebut dirinya Fuuka Shitensen, atau saat ia terkena jebakan Selfie dan dipulangkan paksa; ia bisa mengingat semuanya dengan sangat jelas. Hibari yang dulu memang benar-benar hidup di dalam Astral Side. Dengan idealisme sebagai sosok yang bukan siapa-siapa di realitas, ia telah menyelamatkan dunia.


Hari-hari gelombang aneh di mana ia berjuang keras untuk menjadi sesuatu yang 'spesial' itu ternyata telah menyelamatkan diri Hibari sendiri. Dan sejak suatu titik──sejak Masaomi menyatakan cinta padanya──Masaomi mulai sering muncul di dalam buku harian tersebut. Perasaannya terguncang oleh setiap gerak-gerik, kata-kata, dan tindakan Masaomi; hati Hibari dibuat berputar-putar dengan cepat. Namun jika ia mengingat kembali hal itu, Hibari selalu bisa menjadi kuat dan merasa bahagia.


──Ah, ternyata aku, sudah sejak lama.


Melihatnya kembali sekarang, ia merasa terkejut sendiri. Ini bukan lagi soal kurangnya kesadaran diri. Setelah diperlihatkan dengan nyata dalam bentuk catatan, ia menyadari betapa selama ini ia tidak bisa melihat dirinya sendiri dengan benar.


Sejak melewati momen pengakuan cinta kedua di musim panas itu, sebagian besar isi buku harian ini hanya berisi tentang Material Side—tentang realitas. Tentang ke mana ia pergi bersama Masaomi, percakapan apa yang mereka lalui, atau bagaimana perasaannya terhadap Masaomi. Sesekali, nama Kanae pun muncul di sana. Tak peduli seberapa banyak halaman yang ia balik, hal-hal mengenai Astral Side hampir tidak pernah muncul lagi.


Artinya, itulah bukti nyata dari apa yang sebenarnya mengisi jiwa seorang gadis bernama Sasuga Hibari.


Selama ini ia berpikir bahwa satu-satunya hal yang bisa ia banggakan hanyalah Astral Side. Ia telah mendoktrin dirinya sendiri. Namun, nyatanya tidak begitu.


Ada Kajiura yang selalu mencari gara-gara, Ketua OSIS yang misterius, orang tuanya yang selalu membesarkannya, hingga──teman berharganya, Kanae.


Mereka semua pasti telah memberikan nasihat mengenai berbagai hal yang merisaukan Hibari—tentang sikap meremehkan realitas, tentang masa depan di mana ia mencurahkan perasaannya, tentang kehilangan Masaomi, hingga kehilangan Astral Side. Semua itu pastilah berbagai bentuk ikatan yang ia dapatkan di dalam dunia bernama realitas yang mengelilinginya.


Di tengah hubungan dengan dunia itulah, ia seharusnya sudah menemukan petunjuk yang mutlak.


『Aku sangat mencintai Masaomi-kun.』

『Aku ingin terus bersama Masaomi-kun selamanya.』


Berulang kali, sampai-sampai ia sendiri merasa malu, ia menuliskan kalimat yang sama. Persis seperti yang dikatakan Kanae. Jika ditelusuri lebih dalam, apa yang menjadi cita-cita itu sebenarnya sangatlah sederhana, dan jawabannya sudah ada sejak lama.


──Dibandingkan Astral Side itu sendiri, ia telah memilih keberadaan Masaomi.


Alasannya terguncang saat kehilangan Astral Side bukanlah karena ia kehilangan separuh jiwanya. Ia hanya tidak memiliki rasa percaya diri untuk hidup di dunia "biasa" di mana ia bukan lagi sosok yang "spesial". Ia sendiri—bukan orang lain—yang tidak mau mengakui sosok Sasuga Hibari yang tidak lagi memancarkan "gelombang aneh". Ia hanya—tidak ingin bermanja—pada kelembutan Masaomi yang datar dan menerima segalanya.


Berdiri di samping seseorang bukan berarti bersandar secara sepihak. Itu adalah hubungan di mana keduanya saling menopang dan saling meningkatkan diri satu sama lain. Bagaimana dengan Hibari selama ini? Bukankah ia menganggap hal itu wajar hanya karena Masaomi adalah pacar yang seperti itu, karena Masaomi adalah "pria denpa" yang cocok untuk "gadis denpa"?


Sekarang, bagaimana keadaan Masaomi, dan apa yang bisa Hibari lakukan──pasti itulah titik awal dari sebuah idealisme.


Sebagai mantan Astral Diver dan sebagai kekasih Kusunoki Masaomi, inilah bentuk dunia yang harus diselamatkan oleh Hibari.


Kereta tiba di stasiun. Langkah kakinya saat turun ke peron terasa lebih kuat dari biasanya.


"Gadis itu" pasti sedang memanggil dan memanggil kembali Hibari saat ini. Sensasi yang seharusnya sudah hilang dan lenyap kini mengguncang otak Hibari seolah memaksanya untuk bangun.


Jiwanya sedang ditarik menuju idealisme.


Ia menyentuh jepit rambut berbentuk sepasang sayap itu. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk bertarung.


Tujuannya adalah Rumah Sakit Besar Medis.


Kali ini, Hibari tidak akan ragu lagi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close