Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
Festival Pemutusan Hubungan dan Ciuman yang Basah Kuyup
"Masaomi, aku beneran nggak kepikiran ide seru sama sekali."
Suatu hari, saat jam perwalian tambahan. Di kelas yang biasa. Masaomi menerima laporan paling tidak berguna di dunia dari Keiji.
Kalau orang ini tiba-tiba bicara berbeda dari biasanya, rasanya seperti pertanda buruk yang menyebalkan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, meski dia punya ide "menarik" pun, ujung-ujungnya cuma bakal bawa sial. Jadi, bisa dibilang orang inilah akar dari segala masalah.
Yah, kesimpulan itu hampir seratus persen akurat.
"Padahal lagi musim festival budaya, lho. Nggak nyangka aku kalau stok ide kau udah habis, dasar anggota OSIS kroco."
"Nggak ada urusannya status OSIS sama kegiatan kelas. Lagian, kau sendiri nggak ada minat sedikit pun kan sama festival budaya?"
Masaomi mengerang karena sindirannya tepat sasaran. Teman yang terlalu pengertian itu terkadang terasa menjengkelkan.
Masaomi memelototi Keiji dengan sisa-sisa kekesalannya. Si gundul berambut cokelat itu tampak sudah sedikit "tumbuh"; spons pembersih khusus Kasuka sudah diam-diam menyelesaikan tugasnya, dan kini rambut Keiji perlahan berubah menjadi potongan pendek ala atlet.
Tak terasa waktu sudah memasuki bulan November. Pergantian seragam musim sudah lewat, hawa musim gugur makin terasa kuat, dan terkadang ada hari-hari di mana suhu turun begitu drastis sampai-sampai Masaomi bertanya-tanya, 'Emang kita pernah ngerasain musim panas ya?' Seolah-olah musim dingin menyerobot antrean dan menendang musim gugur keluar; mungkin hari di mana empat musim berubah jadi dua musim sudah dekat.
Bicara soal musim gugur berarti bicara soal perayaan, dan perayaan berarti festival budaya. Festival Budaya SMA Afiliasi Medis dilaksanakan selama dua hari bertepatan dengan libur panjang di akhir November, saat musim dingin mulai mendekat.
Kelas 2-1 tempat Masaomi bernaung juga sedang dalam suasana antusias. Jam perwalian diperpanjang untuk menentukan kegiatan apa yang akan mereka tampilkan. Sayangnya bagi Masaomi, ini semua terasa seperti kejadian di seberang sungai yang tidak ada hubungannya dengan dia. Menggali ingatan lama pun, festival budaya baginya hanyalah acara di mana ia secara monoton menjalankan tugas dan penampilan yang sudah ditentukan, berubah menjadi android tanpa perasaan.
"Ide dari orang kayak aku, yang jauh dari pusat pergaulan kelas, mah udah ketebak kualitasnya..."
"Sampai musim panas kemarin mungkin emang gitu, tapi sekarang kau kan si 'brengsek penakluk wanita' yang punya rekor menundukkan Sasuga dan Saeki. Aku rasa kau punya pengaruh besar di acara-acara yang bikin orang kegirangan kayak gini. Mereka bakal mikir apa pun yang kau lakuin pasti bakal bikin populer. Sumpah, kocak banget."
Benar-benar omong kosong. Masaomi ingin menyerahkan hal-hal semacam itu kepada gerombolan orang yang selalu sibuk menata poni di depan cermin toilet. Lagipula, soal Kanae, orangnya sendiri kan sudah mendeklarasikan penolakan total.
Masaomi merasa acara sekolah itu strukturnya memang tidak cocok untuk tipe orang yang kurang bersosialisasi. Adiknya, Hinata, mungkin akan sibuk bersorak, "Teman-teman sekelas, yuk bikin kenangan terbaik! ☆" dan mengisi lembaran masa mudanya dengan warna-warni penuh perasaan sambil membantu menjodohkan pasangan di sana-sini.
Sayangnya, hak milik atas "album masa muda" Masaomi sudah digenggam erat oleh pacarnya, Hibari. Tidak ada ruang lagi untuk menyelipkan lembaran baru. Lagi pula karena beda kelas, kita nggak bisa ngerasain masa muda barengan, begitulah keluh kesah picik dari seorang pria berjiwa sempit.
"Yah, aku sih ada koordinasi ini-itu sama Jitsui sebagai pihak OSIS. Jadi aku udah bilang kalau aku hampir nggak bisa bantu apa-apa di kelas. Terus terang aja, aku nggak punya alasan buat pusing."
Jitsui adalah singkatan dari Komite Pelaksana Festival Budaya.
Yah, sebagai anggota OSIS, posisi Keiji memang masuk akal.
"Si sok 'keras' yang bergaya kayak orang asing ini emang nggak guna ya. Eh, kalau Kasuka gimana—"
Karena sudah menjadi kebiasaan, Masaomi hendak memanggil si rambut putih, namun matanya tertuju pada meja kosong di arah pandangannya.
"...Dia nggak ada ya."
"Aneh juga si bodoh yang badannya kuat nggak jelas itu bisa absen, tapi ya emang dia nggak ada."
Alih-alih kuat, dia itu lebih mirip rumbai bunga tapak dara yang bakal terbang melayang kalau ditiup angin, mau dia sedang flu atau apa pun. Masaomi bahkan sempat berpikir bahwa konsep "libur" atau "absen" itu tidak ada dalam kamus gadis itu.
"Jarang-jarang dia nggak kasih kabar ke kita... tapi ya, sesekali orang pasti butuh libur, kan."
Meski mulutnya berkata begitu, ada rasa janggal kecil yang tidak bisa hilang, seolah-olah ada sesuatu yang tidak pas dalam keseharian mereka.
"Jangan-jangan dia tersesat di hutan Aokigahara? Masaomi, coba kau pergi ekspedisi sana."
"Mungkin dia jatuh ke bendungan? Keiji, coba kau nyelam sana."
Si penggemar tim Orix itu bicara asal-asalan sesuka hati, mencoba mengusir rasa janggal tersebut. Seolah mereka saling menegur insting buruk masing-masing untuk memastikan bahwa keseharian yang damai masih berjalan normal.
Kalau hutan sih kayaknya nggak mungkin, tapi kalau bendungan... rasanya masuk akal juga, saat Masaomi sedang membatin begitu...
"Wahyu dari Sang Penakluk Wanita telah turun! Bendungan! Semuanya, kita tur keliling bendungan!"
"UOOOOOOOOOOOOOOOOO! Bendungan yang penuh perempuan, mantap!"
Masaomi tersentak kaget mendengar raungan teman sekelasnya (para laki-laki) yang tiba-tiba meledak. Rupanya ucapan Masaomi—si senior yang menurut Keiji punya aura populer—dipotong secara sepihak dan menyentuh insting aneh para laki-laki yang haus belaian wanita.
Nggak mungkin jugalah tur bendungan buat festival budaya... tapi teguran di dalam hati itu terkubur oleh sorakan aneh, "Dam! Dam!"
Nggak perlu ikut-ikutan suasana ini... hiraukan saja.
"Dia kan kemarin bilang soal kerja sambilan. Mungkin dia malah jadi objek pemujaan (Goshintai) di kuilnya."
"Atau mungkin dia lagi keasyikan main game yang dibeli pakai gaji pertamanya sampai lupa waktu."
"Wahyu baru dari Sang Penakluk Wanita telah turun! Game! Semuanya, kita main game sepuasnya!"
"UOOOOOOOOOOOOOOOOO! Live streaming game pakai baju rumah, mantap!"
Masaomi gemetar lagi mendengar raungan teman-temannya. Kenapa tiba-tiba IQ mereka semua jadi menurun begini... pikirnya, namun keluhannya tertelan sorakan "Game! Game!".
Keiji sampai membungkuk sambil tertawa terpingkal-pingkal. Rasanya memang tidak ada pilihan lain selain tertawa melihat gerombolan orang bodoh ini, tapi apa benar teman sekelasnya sedungu ini?
Mungkin waktu tanggung yang longgar—bukan jam pelajaran tapi belum jam pulang—membuat semangat festival mereka meledak.
Jika terus begini, justru Masaomi yang mencoba bersikap normal dan gagal mengikuti gelombang antusiasme itulah yang akan dicap sebagai orang aneh. Inilah yang namanya tekanan teman sebaya.
Lupakan sejenak soal Kasuka dan anggap saja dia sedang "disemayamkan" di kuil, sekarang yang terpenting adalah berusaha keras untuk membaur dengan kelas. Wahai Masaomi sang android yang tidak peka situasi, putarlah otakmu sekuat tenaga dengan kata kunci: Festival Budaya.
"Tahun lalu kayaknya ada kelas yang bikin stan pengalaman main game, terus ujung-ujungnya jadi kayak tempat istirahat. Cuma naruh mesin game, penjaganya satu-dua orang, sisanya bebas keliling festival."
Masaomi merasa sangat kagum pada siapa pun orang pintar yang mencetuskan ide brilian untuk bolos dari persiapan dan operasional festival secara legal itu. Pasti pelakunya adalah Dewa Inkya.
"Oh, itu. Yang punya ide itu Midou, wali kelas kita waktu itu. Malah sekarang idenya muncul lagi."
Lihat tuh, tunjuk Keiji ke papan tulis. Di sana memang tertulis 'Tempat Istirahat Game (Rekomendasi Midou)' dengan font tebal dan sangar seolah ide itu sudah pasti menang telak.
Ternyata itu adalah konspirasi pembolosan yang dirancang oleh wali kelas sendiri. Masaomi diam-diam memberikan penilaian ulang yang tinggi kepada Midou.
"Yah, kalau ditiru mentah-mentah agak nyebelin juga, mending aku usulin jadi 'Kafe Game'. Ini benar-benar upaya yang luar biasa. Ibaratnya, ini tuh eco, lohas, ethical, SDGs, ZETH, dan Love & Peace—"
"Kau lagi bacain proposal kebijakan pemerintah, hah?"
Masaomi-quality: bicara tanpa benar-benar paham artinya. Istilah asing itu yang penting auranya, Bung. Auranya.
"Wahyu lanjutan dari Sang Penakluk Wanita telah turun! Kafe Game! Semuanya, waitress!"
"UOOOOOOOOOOOOOOOOO! Gadis-gadis pakai kostum cosplay, mantap!"
Biarkan saja mereka. Biar mereka dicincang oleh tatapan dingin para siswi. Tapi, Masaomi jadi ingin melihat Hibari dalam balutan seragam waitress. Pikirannya melayang pada gadis jenius nan nyentrik dari kelas 3 itu. Lagipula, sosok idealnya adalah Sang Dewi Perang peringkat ketiga dari Fuuka Shitensenn, "Noble Lark". Siapa tahu dia bakal sangat bersemangat memakai baju rumbai-rumbai, atau mungkin malah melotot tajam dengan tatapan yang menusuk. Dasar gadis cantik, mau gaya apa pun tetap cocok, curang sekali.
Keiji tampaknya mulai bosan melihat deretan opini yang tidak ada tajam-tajamnya. Sepertinya kali ini dia benar-benar ingin jadi penonton saja, dia pun segera beranjak berdiri. Padahal biasanya dia akan menyambar komentar nyeleneh dari Kasuka, memikirkan hal konyol sesuka hati, lalu menyeret Masaomi dan Kasuka ke dalam masalah.
Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tapi rasanya seperti...
"...Rasanya kayak kaca di bawah tangga pecah, terus kucing hitam sama burung gagak terbang keluar barengan."
"Haha, itu mah paket lengkap pertanda sial. Malaikat maut aja sampai pemanasan kalau gitu."
Masaomi berharap si Malaikat Maut tetap menjadi pemain cadangan dan fokus latihan dasar saja di pojok alam baka untuk sementara waktu.
"Terus, hari ini mau ke kantin bareng?"
"Kau pasti mau nyamperin Sasuga kan. Beli sendiri sana."
Keiji pun pergi begitu saja setelah berujar demikian. Tanpa Kasuka, keseimbangan mereka terasa goyah, seperti tripod yang kehilangan satu kakinya. Trio Bodoh hanya akan lengkap jika mereka bertiga.
Nanti coba hubungin Kasuka deh—saat itu, Masaomi masih bersikap santai tanpa beban.
Sesaat setelah melakukan Dive, rasa euforia yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh. Ibaratnya seperti masa tenang setelah ujian usai belajar mati-matian, atau cheat day di tengah diet ketat, atau momen saat akhirnya bisa bertemu pacar yang sudah lama tidak dijumpai. Singkatnya, itu adalah rasa kebebasan setelah menumpuk kesabaran demi kesabaran.
"Bersiaplah. Aku yang sekarang, tusukannya lebih menyakitkan dari biasanya."
Senyum penuh percaya diri dari "Noble Lark" membuat para petarung di Astral Side gemetar seketika. "Apa mungkin bisa lebih sakit lagi dari ini?", atau "Tanpa diapa-apain pun dia sudah menyakitkan dalam berbagai arti," begitu bisik-bisik yang terdengar terutama dari kubu Messian, namun tidak sampai ke telinganya.
Sesuai perkataannya, sayap putihnya menari lebih lincah dari biasanya, menyambar para Selfie sang pengacau dunia secepat dan setajam kilat yang telah terkunci pada sasarannya.
"Tancapkan saja pasaknya. Biar aku yang menyapu bersih para Selfie. Lagipula, ini tidak akan memakan waktu lima belas menit."
"O-oke..." jawab seorang Messian di dekatnya dengan agak ngeri, tapi dia tidak menunggu jawaban sampai selesai. Dia melancarkan serangan kejutan bertubi-tubi, memulangkan para Selfie dalam sekejap mata.
--Sebagai seorang Messian, memang sudah seharusnya menyelamatkan dunia seperti ini.
Seolah didorong oleh antusiasme yang meluap, jejak perak kebiruan dari Noble Lark menari di langit Astral Side ke segala arah. Belakangan ini, dia sering mengalami Dive Out yang tidak masuk akal; tekanan dari rasa terkekang itu kini berubah menjadi daya dorong tak terbatas, seperti pegas yang dilepaskan setelah ditekan hingga batas maksimal.
"Lark-senpai! Tunggu dulu, aku yang lari di darat ini nggak bisa ngejar kalau Senpai ngebut dengan suasana hati sebagus itu! Lama-lama aku bakal serius dan beneran ngehentiin waktu, lho ya!?"
Sambil memutar-mutarkan payung merah tua yang mewah dan menebas para Selfie seperti pembunuh bayaran dengan satu kedipan mata kiri, junior Diver—"Camellia"—berteriak dengan nada mengancam.
"Kalau kau juga ingin menyelamatkan dunia bersamaku, usahakanlah dengan semangatmu!"
"Sudah kuduga Lark-senpai bakal bilang begitu! Aku senang karena interpretasi kita sama!"
Kali ini mereka berdua melakukan Pair Dive—sebuah pengalaman penyelaman bersama yang sebelumnya tidak pernah dirasakan oleh "Noble Lark" yang selalu menyendiri di Material Side.
Memang jika dipanggil ke markas, pasti ada Messian lain di sana untuk bekerja sama, namun berpasangan dengan orang yang dikenal baik di Astral maupun Material Side membawa semacam ikatan kuat dan rasa mabuk kepuasan penyelaman yang belum pernah ada sebelumnya.
Kalau saja ini bareng Masaomi, pasti lebih... batinnya yang sedang jatuh cinta ia sembunyikan dalam hati.
"Karena hari ini ada Camellia juga—mungkin aku akan merebut yang kedua."
"Aduh, sifat pemaksa yang kayak perampok gunung itu benar-benar bikin saya terpesona, tahu nggak!?"
Mengabaikan sepenuhnya "Camellia" yang berteriak entah karena protes atau girang, Noble Lark baru saja akan memantapkan niat untuk menaklukkan markas berikutnya, saat itu juga...
──Maaf ya.
Sebuah sensasi seolah dunia ditutup secara paksa oleh kehendak seseorang.
──Lagi-lagi.
Ziriri, derau (noise) pecah meledak, dan pandangan "Noble Lark" terputus dari Astral Side.
"Ugh...! Padahal baru mau masuk ke bagian yang seru, kenapa Forced Dive Out lagi, sih?"
"Ueegh, kepala saya pening banget. Kok saya bisa ya tahan diginiin berkali-kali."
"Hmm? Tuan Putri hari ini cepat banget baliknya. Apa Kana ngamuk lagi?"
"Bukan gitu tahu!" seru Kanae protes dengan rambut yang berdiri berantakan seperti singa.
Atap sekolah saat jam istirahat makan siang. Baru saja beberapa menit yang lalu setelah selesai makan, mereka berdua bilang ingin mencoba apa yang disebut "Pair Dive"—istilah yang terdengar seperti kata-kata mesra pasangan kekasih.
Hibari menggunakan bahu Masaomi sebagai sandaran, sementara Kanae menggunakan bahu Hibari, lalu mereka pun menyelam. Sementara itu, Masaomi si pelayan setia, sedang asyik menatap aplikasi berita tanpa rasa bosan.
Kehangatan yang tadi terasa pas di musim yang mulai dingin ini menghilang. Dua gadis cantik itu kini sibuk mengatur napas masing-masing untuk memulihkan kondisi setelah bangun tidur. Masaomi berpikir mungkin dia sedang berada di ruang yang sangat mewah sekarang, tapi melihat wajah mereka yang tampak tidak puas, dia memilih untuk tutup mulut.
"Kurasa aku tidak melakukan kecerobohan sampai musuh bisa menanam pasak di markas kami. Apa ada yang luput dari sasaranku?"
"Lagipula tempat itu tadi bukannya netral ya? Lagian aku sudah mencincang semuanya kok."
Percakapan yang sangat berbahaya, mirip obrolan organisasi kriminal yang tidak segan melakukan pekerjaan kotor apa pun.
Melihat dari cara bicara Hibari dan yang lainnya, sepertinya mereka dipaksa keluar seolah-olah disapu bersih oleh "Bom Repatriasi Paksa". Masaomi juga pernah merasakannya saat membawa Kanae kembali ke sini; sensasi yang membuat akar otak terasa sangat tidak nyaman. Dia bisa mengerti kenapa mereka berdua merasa gusar.
"Bahkan jika itu repatriasi karena pasak, ini rasanya sedikit janggal. Bagaimana ya menjelaskannya... rasanya seperti aliran listrik diputus paksa sehingga terjadi forced shutdown. Bukan intervensi dari sisi software, tapi penolakan dari sisi hardware. Jauh lebih tidak nyaman daripada repatriasi biasa."
"Bener banget!"
"Kalau Hibari yang notabene adalah Diver veteran merasa begitu—selain Kana ya—berarti ini memang bukan hal yang biasa."
"Mungkin saja obat baru dari Orito-kun menyembuhkanku tanpa kusadari, haha."
"Candaan yang sangat pahit..."
Candaan itu rasanya bakal jadi bahan obrolan klasik yang terus diulang-ulang setiap kali mereka minum-minum saat sudah dewasa nanti.
Meski mengatakannya dengan nada bercanda, ekspresi Hibari tampak kaku. Masaomi tidak melewatkan gumaman pelan Hibari, "Kuharap ini cuma sementara."
"Yah, karena kalian sudah bangun, mending kita pakai sisa waktunya buat hal berguna. Bahas festival budaya, misalnya."
"Tapi Masaomi-kun, bukannya kamu nggak minat sama sekali sama festival budaya?"
Kenapa sih semua orang bisa menebak isi hatinya dengan tepat?
Masaomi pikir Hibari lebih baik buka praktik peramal saja. Peramal cantik nan andal yang dipanggil "Ibu dari Sasuga". Bukankah itu class change yang cukup masuk akal buat gadis jenius yang nyentrik? Tapi tentu saja, Masaomi tidak akan mengatakannya langsung di depan wajahnya. Tentu saja tidak.
"Dengar, Kanae. Itu adalah wajah datar Masaomi-kun saat sedang memikirkan hal yang tidak-tidak dalam hatinya."
"Eh, mana saya tahu kalau bedanya cuma setipis itu. Harus dibandingkan sama foto before-after baru kelihatan kayaknya."
"Kalian berdua beneran kompak banget ya, bagus deh. Sebagai perantara, aku bangga sih, tapi tolonglah tahu diri sedikit."
"Aku menolak untuk tahu diri. Ngomong-ngomong, kelasku bakal bikin acara yang bikin aku mau muntah. Drama teater."
Hibari mengetuk-ngetuk jepit rambutnya dengan jari, wajahnya terlihat sangat jijik seolah baru saja menemukan tikus di dapur. Masaomi langsung tanggap; ini pasti karena dia mendapat peran yang sangat tidak cocok.
"Hibari-senpai, emang lakon sama perannya jadi apa?"
"Lakonnya 'Sleeping Beauty', dan aku jadi Sang Putri Tidur. Semuanya langsung setuju pas ada yang bilang, 'Kalau bahas kecantikan ya dia orangnya!'... Saat itu juga, aku memelototi Kajiura-san seolah ingin menusuknya dengan tombak."
Tergantung cara pandangnya, itu terdengar seperti Hibari memproklamirkan diri sebagai "Si Cantik", tapi ya... memang kenyataannya begitu, jadi Masaomi pun maklum. Lagipula, dia adalah Sasuga Hibari.
"Tapi, bukankah setiap gadis setidaknya sekali dalam hidupnya pernah mendambakan fashion ala tuan putri? Mungkin bakal membosankan karena nggak ada dialog setelah adegan tidur, tapi hey, gimana kalau ditambah aransemen joget tiba-tiba kayak film India? Pasti yang nonton bakal senang dan ceria!"
Penampilan Kanae yang blasteran memang sangat cocok jadi putri ala Barat. Inilah makhluk bernama Youkya. Logika umum bahwa "makin sedikit dialog makin senang" tidak berlaku baginya. Inilah makhluk bernama Youkya. Apalagi kalau harus menghafal tarian. Inilah makhluk bernama Youkya.
"Kanae, apa kamu melupakan hal yang paling krusial? Ini drama teater, bukan peragaan busana."
"...Ah."
Seolah baru menyadarinya, wajah Kanae berubah menjadi masam. Masaomi mungkin memasang wajah bingung yang bertanya "Emang ada apa?". Hibari mengerutkan alisnya dalam-dalam, lalu berkata:
"Artinya, saat aku sedang tidur, aku akan dicium oleh laki-laki yang memerankan pangeran."
"Eh?"
Putri Tidur. Ada banyak versi ceritanya, tapi Masaomi pun tahu inti kisahnya──putri yang tertidur karena kutukan dibangunkan oleh, tak perlu dijelaskan lagi, ciuman sang pangeran.
Masaomi bergidik, seolah-olah kepalanya baru saja dihantam palu dengan kekuatan penuh. Ini bukan waktunya untuk kegirangan membayangkan Hibari menari ceria dengan gaun tuan putri. Ada lubang jebakan yang sangat besar di depan matanya.
"Apa kamu bakal beneran melakukannya? Itu... ciumannya."
"Tentu saja tidak. Kamu pikir ciuman pertamaku itu apa? Itu cuma akting. Bahkan meski cuma pura-pura pun, ide itu sebenarnya sudah cukup membuatku muak."
Masaomi merasa lega dua kali lipat; lega karena dia tidak akan benar-benar melakukannya, dan lega karena ternyata itu adalah ciuman pertamanya. Tanpa sadar, mata Masaomi terpaku pada bibir Hibari. Sementara itu, Kanae malah memasang wajah heran sambil berujar lancang, "Ternyata kalian lebih platonis dari dugaan saya ya. Saya pikir hubungan kalian sudah jauh lebih 'kotor' dan penuh daki satu sama lain."
Dasar junior yang sejak awal mencoba menjerat pria dengan dada besarnya, mentalitasnya memang beda kelas. Ke mana perginya citra malaikat suci yang selama ini dia proyeksikan terhadap Hibari?
Sudah jelas, ciuman di acara festival budaya sekolah adalah hal yang sangat tidak bisa ditoleransi. Namun, mengingat atmosfer di sekitar Hibari, Masaomi tidak bisa menepis kemungkinan munculnya narasi seperti, "Nanti pas hari-H, lakuin beneran aja secara sembunyi-sembunyi." Atau bagaimana jika pemeran pangerannya mendadak dikuasai nafsu rendah saat melihat Hibari berbaring tak berdaya dengan mata terpejam? Dan demi merebut harta karun paling berharga di jagat raya—ciuman pertama Sasuga Hibari—dia nekat menyerang meski harus mempertaruhkan sisa hidupnya──?
"Masaomi-kun, kamu memikirkan hal yang tidak-tidak lagi, ya."
"Bahkan saya pun bisa tahu kalau yang ini. Senpai sedang menatap tajam bibir Hibari-senpai sambil berfantasi mesum, kan? Selama mata saya masih hitam... maksud saya biru, hal-hal seperti itu masih dilarang ya, Hibari-senpai. Tapi kalau terpaksa banget, saya bersedia kok bantu Masaomi-senpai buat gladi resik."
"Gladi resik apanya... lagian kamu ngomong apa sih di tengah situasi begini? Mau kutusuk?"
Abaikan saja Kanae yang malah girang sambil teriak, "Kyah, silakan tusuk saya~!". Kanae sudah belajar kalau dia ingin cari perhatian dari Hibari, dia harus menggunakan Masaomi sebagai umpan, dan setiap saat dia selalu menyerang di garis batas yang sangat riskan.
Masaomi berharap dia berhenti karena ulu hatinya mulai terasa nyeri; dia yakin nanti pasti bakal jadi pelampiasan kekesalan Hibari di Astral Side.
"Tapi kalau dipikir-pikir, peran Sleeping Beauty buat seorang Diver itu sarkasme yang cukup tajam ya. Rasanya seperti sedang membicarakan kita saat sedang melakukan Dive."
Mungkin sudut pandang Kanae ada benarnya. Meski terdengar seperti mencari-cari alasan, posisi tubuh saat tertidur atau proyeksi idealisme tentang "pangeran yang suatu saat akan datang" memang memiliki kemiripan dengan para Astral Diver.
"Kalau memang begitu, bukankah Guardian akan datang menyelamatkanku di saat genting? Jika aku menusuk punggungmu lima kali di sana, itu adalah sinyal pemanggilan yang berarti: 'CE-PAT-LA-KU-KAN'."
Itu lebih mirip kode rahasia untuk mengirim anak buah ke medan perang secara paksa. Jangan-jangan mereka ini memang organisasi jahat.
"Bukannya harusnya ikut gaya klasik dan bilang 'A-KU-SA-YANG-KA-MU'?"
"Itu... yah, kurasa begitu. Tergantung bagaimana kinerja Guardian nanti."
Sambil menahan gemas melihat keimutan Hibari yang sedikit tersipu, Masaomi mencoba berimajinasi.
"Jadi di bagian klimaks, setelah aku muncul dengan gagah menendang si pangeran, lalu aku menciummu, dan kamu pun kembali dari Dive. Terus Happy Ending, gitu?"
Seorang pria berwajah datar yang mengacaukan drama kelas lain demi menghalangi adegan ciuman pemeran putri—kasus ini pasti bakal viral dan jadi gosip yang merepotkan. Lagipula, kalau pakai standar Astral Side, Hibari pasti sudah membasmi si pangeran itu sendiri sejak awal, tapi sepertinya dia bersedia memberikan peran protagonisnya kepada Masaomi.
"............Masaomi-kun, menciumku, yang sedang tertidur."
Hibari bergumam pelan setelah merenung dalam, menunduk sambil menelusuri bibirnya sendiri dengan telunjuk. Bibirnya yang tampak lembut dan kenyal itu terlihat basah seolah memakai lipstik, memancarkan aura sensual yang tidak main-main.
"Itu levelnya setara Bom Repatriasi Paksa. Tapi kalau boleh memilih, aku lebih suka dilakukan saat aku sedang bangun..."
"Hibari... itu... maksudmu..."
Tadinya hanya bermaksud bercanda ringan, tapi kini sampai tangan Hibari yang meremas roknya pun ikut memerah, membuat Masaomi ikut merasa malu. Jangan lihat bibirnya. Kamu bakal tersedot ke dalamnya. Jika kamu membayangkan momen itu dengan jelas, kamu kalah. Benar, fokus saja pada kakinya yang terbalut stoking hitam di balik rok──tidak, ini malah membuat monster fetisisme di kepalanya memutar keran zat kimia berbahaya di otaknya kuat-kuat.
Makin dipikirkan, otaknya makin meleleh, dan hasilnya mereka berdua hanya saling tatap dalam keheningan.
"Anu, drama komedi romantis ini masih mau lanjut? Penontonnya sudah hampir kena diabetes nih."
"Apaan sih Kana, lu masih di situ?"
"Kanae, kalau masih ada di sini tolong bilang dong."
"Saya di sini dari tadi tahu!"
Protes Kanae diabaikan begitu saja. Tentu saja, karena mereka merasa sangat malu.
"Masaomi-senpai, kamu melihat kaki Hibari-senpai dengan mata mesum ya, padahal kaki saya juga nggak kalah bagus lho?"
"Ah iya, iya, Kana juga imut banget kok. Kalau Hibari mengizinkan, nanti di kehidupan selanjutnya bakal aku dukung deh."
"Terima kasih atas hidangannya," ujar Kanae yang akhirnya menyerah. Keseimbangan mentalnya dalam mencari tempat kabur memang luar biasa.
"Oke, stop sampai sini. Tolong buang dimensi romantis yang bikin saya merasa terasing ini ke langit musim gugur lewat pagar atap. Dilarang bermesraan. Festival budaya, ya, kita lagi bahas festival budaya."
Mencoba mengembalikan suasana, Kanae mendekatkan wajahnya ke arah Masaomi.
"Masaomi-senpai, jangan lupa mampir ke Maid Cafe kelas saya ya? Di sela-sela tugas OSIS, saya juga bakal jadi pelayan toko kok. Nanti saya bakal suapin nasi omelet spesial buat Goshujin-sama, 'Aaa~' ♪"
Hibari langsung menarik paksa Kanae yang dengan sengaja mencoba bergelayutan di lengan Masaomi, wajahnya tampak kesal.
"Kanae? (dengan nada penuh tekanan)"
"...I-iya, maaf. Saeki Kanae barusan sudah kelewatan. Bagian tubuh saya yang menonjol berlebih hampir saja melakukan kejahatan lagi pada Masaomi-senpai. Mohon ampuni saya dengan kemurahan hati malaikatmu."
"Gaya provokasi berbalut merendahmu itu sudah keterlaluan ya──apa perlu kupangkas habis di Astral Side saja?"
Sepertinya percakapan mereka baru saja menyentuh garis batas yang tidak boleh dilintasi; ekspresi Hibari mendadak datar dan memancarkan aura mengintimidasi.
Meski biasanya mereka sudah terbiasa saling menggoda, tampaknya lelucon yang berkaitan dengan ukuran dada telah menumpuk menjadi poin akumulasi kemarahan yang besar.
Sementara itu, di dalam kepala Masaomi, sosok Hinata dengan wajah menyerupai roh penasaran sedang menyebarkan kutukan seperti "ukuran dada yang mengancam"—ia benar-benar berharap adiknya itu segera beristirahat dengan tenang.
"Mau itu Tachibana-san atau kamu, kenapa kalian berdua begitu entengnya mencoba merasa lebih unggul dariku lewat ciri fisik? Bagaimana jika seandainya Masaomi-kun mendadak pindah ke faksi penyuka dada besar?"
"Perasaan aku nggak pernah berkomentar apa-apa soal dada siapa pun, bukannya yang kamu lakuin ini juga termasuk pelecehan seksual...? Lagipula, mengesampingkan kelakuan Kanae yang nggak benar itu, Kasuka nggak bakal melakukan hal kayak gitu. Mau seberapa kesal pun kamu, Hibari, ada hal yang boleh dikatakan dan ada yang tidak. Tenanglah sedikit."
Memang benar kalau topik berisi atau tidaknya dada adalah hal yang sensitif, tapi melihat cara Hibari "menggigit" yang tidak seperti biasanya, Masaomi tanpa sadar menggunakan nada bicara yang menegur.
Hibari juga terus-menerus memainkan jepit rambutnya, mungkin fakta bahwa penyelamannya terhenti di tengah jalan telah menjadi sumber stres yang besar baginya.
Hibari dengan patuh meminta maaf. Tampaknya dia sadar bahwa dirinya tadi sedikit lepas kendali.
"Memang benar, Tachibana-san bukan tipe anak yang melakukan aksi 'bom bunuh diri' yang bodoh dan tak tahu malu seperti Kanae. Aku tadi kurang berpikir panjang."
"Kalian berdua kayaknya hobi banget ya mengungkit kesalahan masa lalu saya sambil lalu..."
""Karma.""
Baiklah... sahut Kanae sambil meringkuk memegangi "kesalahan masa lalunya" (dadanya). Tentu saja, sebagai "Guardian" yang patuh, Masaomi tidak akan mencoba mengingat "kesalahan masa lalu" Kanae yang pernah ia sentuh secara tidak sengaja itu. Dia masih sayang nyawa.
"Ngomong-ngomong Kanae, kelasmu kan bikin Maid Cafe, tapi kalau acara OSIS bakal bikin apa? Keiji bungkam banget soal itu, pasti bakal ada hal aneh yang melibatkan Ketua, kan?"
Karena intimidasi buas Hibari terhadap Kanae tak kunjung reda, Masaomi pun memaksakan pergantian topik.
"Ketua dan Orito-senpai bakal membuat band, katanya. Orito-senpai menolak mati-matian, tapi yah, ujung-ujungnya dia bakal ikut juga sih."
Kanae menengadah ke langit dengan nada bicara seolah sedang mengenang tumbal yang mulia. Tampaknya dia tidak lupa dengan omong kosong tentang Keiji yang harus main gitar di festival karena rambutnya panjang. Padahal sekarang rambutnya sudah tidak panjang lagi.
"Omong-omong, apa nama band-nya?"
"Katanya: 'Gapailah Idealismemu, Furuoya Sou '."
"Itu nama band atau slogan Astral Side, sih?"
Nama yang sangat mencerminkan Ketua OSIS kita yang haus akan pengakuan diri. Rencana festival budayanya sendiri masih kosong, tapi Masaomi sudah memantapkan hati untuk pergi menonton Keiji yang bermain gitar dengan wajah sangat jijik di samping Sou, tentu saja bersama Kasuka.
Setelah itu, dia akan keliling festival bersama Hibari, diganggu sedikit oleh Kanae, lalu saat Hibari mulai bosan dengan kerumunan orang, dia akan melakukan Dive sementara Masaomi menunggu di sampingnya sambil melihat aplikasi berita—begitulah, sambil menerima kenyataan di Astral Side dan Material Side, ia meresapi keseharian yang kini tak lagi membosankan.
Kusunoki Masaomi dan Sasuga Hibari akan terus menghabiskan keseharian ideal mereka seperti itu. Namun sebagai kesimpulan, idealisme mereka berdua akan mulai runtuh bersamaan dengan berakhirnya festival budaya ini.
Tak terasa, festival budaya sudah memasuki hari kedua.
Entah karena gelombang panas yang tidak masuk akal untuk udara bulan November, hari itu menjadi hari dengan cuaca cerah yang aneh dengan suhu mendekati 30 derajat Celsius. Tanpa mempedulikan hawa panas yang tidak peka situasi tersebut, SMA Afiliasi Medis diselimuti oleh euforia setahun sekali.
Berbagai stan dari tiap kelas dan klub yang dikonsep secara unik memberikan warna "non-keseharian" di setiap sudut gedung sekolah. Koridor dipenuhi oleh hiruk-pikuk siswa dan pengunjung, dan dari jendela yang jauh, terdengar suara pertunjukan band yang—jujur saja tidak bisa dibilang bagus—namun semangatnya sangat terasa. Itulah suara masa muda.
"Sudah kuduga, hari kunjungan umum ini ramai banget ya..." keluh Masaomi sambil membelah kerumunan orang dengan wajah lelah.
"Wajah datar Masaomi-kun itu sudah jelas bertuliskan 'merepotkan', ya."
Hibari yang berjalan di sampingnya tampak tidak mempedulikan kebisingan tersebut dan tetap melangkah dengan tegak. Sebagai gadis tercantik nomor satu di sekolah, sudah bisa ditebak kalau dia menjadi pusat perhatian bagi siswa sekolah lain maupun pengunjung umum.
Tentu saja, tatapan mata yang seolah bertanya "Eh?“ ke arah Masaomi sudah termasuk dalam satu paket.
Festival budaya SMA Afiliasi Medis terbagi menjadi dua hari: hari pertama adalah malam pra-festival yang hanya boleh diikuti oleh pihak internal sekolah (guru dan keluarga siswa), dan hari kedua adalah festival utama yang dibuka sepenuhnya untuk umum.
Tentu saja hari kedua adalah puncaknya, di mana acara-acara utama dari panitia pelaksana dan OSIS berpusat di hari ini.
Masaomi, yang beruntung bisa menghindari tugas menjaga stan karena menang undian, memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajak Hibari.
"Sejujurnya kalau nggak bareng Hibari, mending aku milih jaga stan aja. Keiji nggak ada, Kasuka juga nggak ada."
Keiji sedang dikerahkan oleh Sou untuk kegiatan band sekali seumur hidup, serta sibuk ke sana kemari untuk koordinasi dengan panitia pelaksana. Masaomi tadinya berpikir kalau ada Kasuka, mereka bisa bersama-sama menertawakan solo gitar Keiji yang enggan itu, tapi sayangnya sampai sekarang Kasuka sudah absen selama hampir tiga minggu. Katanya demamnya terus naik-turun, dan baru hari ini dia mengirim rentetan stiker wajah menangis bertuliskan "Aku pengen liat band-nya Keiji~".
Masaomi sudah meminta Kanae untuk merekamnya dengan baik, jadi dia berencana mengadakan sesi nonton bareng yang meriah nanti. Memang punya wakil ketua yang bisa diandalkan itu sangat berguna.
"Tachibana-san, apa dia baik-baik saja ya? Sepertinya sakitnya cukup lama."
"Balasannya juga cuma dikit-dikit, mungkin emang agak parah. Tapi bisa juga karena dia nggak bisa diam, makanya nggak sembuh-sembuh."
Sebenarnya, aku dan Keiji pernah pergi berdua (!) untuk menjenguk Kasuka ke rumahnya, tapi sepertinya dia sedang pergi ke rumah sakit bersama orang tuanya, jadi kami pulang tanpa sempat bertemu. Jika dia rajin membalas pesan, sekaku apa pun perlindungan tim Orix-ku ini, aku tidak akan sekhawatir ini. Masalahnya, pesan kami pun jarang sekali mendapatkan status "dibaca".
Sekalinya ada balasan, isinya sangat membingungkan, seperti: "Kalau kepalaku dipakai mikir macam-macam, rasanya jadi berisik dan pening sampai tidak bisa bangun, repot banget." Dia bicara seolah-olah dia adalah manusia purba yang baru pertama kali menyadari konsep demam.
"Yah, untuk sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa soal Kasuka. Mumpung sudah telanjur terjun ke kerumunan orang, aku harus menikmatinya sepuas hati bareng Hibari."
Sambil berkata begitu, aku memberanikan diri mengerahkan seluruh keberanianku untuk menggenggam tangan Hibari.
Hibari sempat tampak terkejut sesaat, namun raut wajahnya segera melunak. Tentu saja, tangannya tetap menggenggam erat tanganku.
"Itu... tangan ini... aku tidak menyangka kamu akan menggandengku di sekolah. Aku kaget, tapi... aku senang."
"Kalau sudah begini, aku malah merasa ingin pamer sekalian. Hari ini kan hari festival."
"Ehm," Hibari mengangguk senang dan merapatkan tubuhnya ke arahku. Kepadatan tatapan sinis di sekitar—terutama yang tertuju padaku—rasanya naik beberapa level, dan frekuensi orang yang berdecit kesal saat berpapasan pun sepertinya masuk ke periode promosi "tambah porsi". Namun, selain sensasi dingin dari telapak tangan yang kugenggam, aku sudah tidak punya ruang untuk memedulikan hal lain. Lagipula, kami ini pasangan resmi, rugi kalau harus merasa sungkan.
"Masaomi-kun, stan yakisoba kelas empat antreannya panjang sekali. Aku tidak merasa itu seenak itu sampai harus mengantre di tengah cuaca panas begini, tapi festival memang ajaib, ya."
"Tapi, bagaimana kalau yang memasak yakisoba itu aku?"
"Akan kubeli semuanya."
Jawabannya instan. Ekspresinya sangat serius. Cara berpikirnya sudah seperti raja minyak.
"Aku sudah tahu kamu bakal bilang begitu, sih."
"Aku juga pasti akan mendatangi stan mana pun yang ada kamu di dalamnya. Bahkan drama kemarin pun aku tonton sampai habis."
"Akan kuhapus, semuanya."
Jawabannya instan lagi. Ekspresinya luar biasa serius. Cara berpikirnya sudah seperti teroris.
Ngomong-ngomong, soal drama itu, kekhawatiran utamaku tentang adegan ciuman sang pangeran ternyata hanya ketakutan yang tidak beralasan. Drama itu berakhir dengan lancar sebagai pertunjukan anak SMA yang sangat khas SMA, ditutup dengan tepuk tangan penonton yang seadanya dan senyuman yang "hangat-hangat kuku".
Mengenai kemampuan akting Hibari—mari kita tidak usah membahasnya di sini. Silakan simpulkan sendiri kebenarannya dari fakta bahwa Hibari, yang seharusnya tampil selama dua hari, sekarang sudah benar-benar dibebastugaskan dari perannya.
"Tapi sebenarnya kamu cocok jadi tuan putri. Lain kali, bagaimana kalau 'Noble Lark' juga ganti kostum?"
"...Begitu ya. Mungkin akan kupikirkan. Tapi aku agak malas kalau nanti 'Camellia' bakal teriak kegirangan sambil bilang 'Gaun kita kembaran! Ini pasangan takdir!'."
Jawab Hibari santai, namun aku melihat dengan jelas tangannya yang tidak sedang kugenggam menyentuh jepit rambutnya. Aku ceroboh.
"...Maaf. Belakangan ini Dive sering tidak tuntas, ya. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu soal Astral Side."
"Bukan hal yang harus kamu minta maaf, kan? Memang benar aku sedang merasa sedikit frustrasi, aku tidak menampiknya."
Fenomena soal dia yang dipulangkan paksa tepat setelah penyelaman di atap waktu itu sepertinya terus berulang kali terjadi. Karena dia tidak bisa beristirahat lewat penyelaman dengan tenang bahkan saat kami berkencan, suasana hati Hibari belakangan ini memang kurang baik. Itulah alasannya aku bersemangat ingin menghiburnya di festival budaya ini.
"Kamu tidak perlu sekhawatir itu, aku baik-baik saja. Aku tidak sampai terkapar di kasur seperti Tachibana-san. Bisa berkeliling festival budaya sambil menggandeng tanganmu yang sangat kucintai ini saja sudah cukup menyenangkan bagiku."
"...O-oh. Aku juga, tentu saja."
"Fufu. Kamu tersenyum. Memang benar ya, hal-hal seperti ini harus berani diucapkan."
Padahal dia sendiri terlihat malu, tapi melihat wajahnya yang tampak sangat bahagia dari lubuk hati terdalam membuatku merasa dia sangat menggemaskan.
Jika duo OSIS—si kaku dan si junior—ada di sini, mereka pasti sudah mual dan menggaruk leher karena merasa gerah. Rayuan gombal yang manisnya seperti menenggak air gula ini jelas bukan sesuatu yang ingin ditonton oleh orang luar.
──Tiba-tiba aku teringat pembicaraan Keiji dan Kanae di ruang OSIS beberapa hari lalu.
『Festival budaya sekolah kita itu sering dibilang Festival Putus Hubungan, lho. Katanya kalau pasangan keliling bareng, seratus persen bakal berujung kacau dan putus. Orang-orang yang hubungannya jadi drama karena selingkuh bakal jalan mondar-mandir sambil bawa barang kenangan dan melempar tatapan tajam yang bikin merinding. 』
『Kedengarannya seperti ritual aliran sesat ya... 』
Waktu itu aku mengabaikannya karena menganggapnya konyol. Tapi kalau dipikir-pikir, pantas saja di dalam sekolah hari ini banyak pasangan yang terlihat canggung secara aneh. Karena terlalu memikirkan mitos tersebut, muncul ketegangan ganjil di mana mereka saling mengawasi gerak-gerik satu sama lain. Decitan lidah orang-orang padaku pasti diperkuat oleh hal itu juga.
Aku melirik profil wajah Hibari yang berjalan di sampingku. Dia tampak agak melayang dalam kegembiraan, menatap dekorasi murah meriah dari rumah hantu milik salah satu kelas dengan penuh minat.
Melihat gelagatnya, sepertinya dia tidak tahu soal mitos itu, atau kalaupun tahu, dia tidak menganggapnya serius. Bagaimanapun, aku sedikit penasaran reaksi apa yang akan diberikan oleh sang Astral Diver ini terhadap okultisme yang lugas.
"Hei, Hibari."
"Ada apa?"
"Kemarin aku dengar dari Keiji, katanya festival budaya ini sering dijuluki 'Festival Putus Hubungan'."
"Ah," Hibari menyahut tanpa terlihat terkejut. "Aku tahu itu. Setiap musim festival budaya, pasti ada saja yang membicarakannya. Semua orang ternyata religius ya."
"Begitu ya. Berarti kamu termasuk pihak yang tidak percaya?"
Mendengar tanggapanku, Hibari memiringkan kepalanya dengan tatapan yang benar-benar heran.
"Bukan masalah percaya atau tidak, tapi kalau dipikirkan secara statistik, menurutku itu hal yang sangat wajar."
"......Maksudnya?"
"Coba pikirkan baik-baik. Pasangan anak SMA itu, tanpa mitos pun, hubungannya sudah sangat fluktuatif. Di acara non-keseharian seperti festival budaya ini, perasaan mereka bisa meluap seketika, lalu mungkin saja mereka malah melirik lawan jenis lain, atau sebaliknya, reaksi balik yang membuat mereka tiba-tiba jadi berpikir dingin. Pemicu untuk putus itu bertebaran di mana-mana. Orang-orang hanya menghubungkan fenomena itu dengan satu kejadian bernama festival budaya dan menyebutnya 'kutukan', kan?"
Secara datar, seolah sedang menjelaskan isi buku pelajaran, Hibari mematahkan mitos Festival Putus Hubungan itu mentah-mentah. Bahkan, dia menambahkan:
"Jangan-jangan, ini adalah cara Masaomi-kun memberitahuku kalau kamu ingin menggenggam tanganku lebih erat lagi agar tidak kalah dari kutukan? Sayang sekali ya, aku baru saja melewatkan kesempatan emas itu."
Dia mengatakannya dengan nada bercanda. Gadis nyentrik ini sepertinya juga sedang terkena sihir festival; dia tampak memutuskan untuk bersikap agresif hari ini. Ini adalah fan service yang sanggup membuat jantungku berdegup kencang hingga ke detak yang paling dalam. Benar-benar idola terbaik.
"Atau mungkin kutukan ini hanyalah alasan yang nyaman bagi mereka yang memang sudah ingin putus. Entah orang percaya atau tidak, mungkin itulah alasan kenapa mitos ini tidak pernah punah."
"Terima kasih atas analisis dinginnya. Tapi kurasa bukan Hibari yang berada di pihak 'ingin putus' itu, kan?"
"Jangan pernah mengatakan hal itu meski hanya bercanda. Aku akan menangis tersedu-sedu penuh dendam dan akan terus membuntutimu ke mana pun kamu pergi."
Aku bisa membayangkan pemandangan itu dengan sangat jelas. Sasuga Hibari, tipe wanita dengan intensitas "kapasitas data" yang berat. Begitu cinta terkoneksi, kabelnya tidak akan putus semudah itu. Sepertinya dia bakal terus melakukan update secara saksama sampai ke kehidupan selanjutnya. Sebagai seorang pria, aku akan meladeninya, Masaomi siap siaga!
"Atau jangan-jangan, Masaomi-kun sendiri yang menganggap serius cerita pemutus hubungan yang seperti mitos dewa-dewi ini?"
Kali ini matanya yang menatap Masaomi tampak sedikit bergetar, seolah sedang menguji. Aku melihat celah di balik sikap agresifnya yang belum terbiasa itu.
"Karena aku percaya pada Astral Side-nya Hibari, aku rasa keberadaan dewa atau dewi perang itu masuk akal saja. Tapi,"
"Tapi?"
"Aku tidak merasa dewa semacam itu sanggup memutuskan hubungan antara aku dan kamu."
"~~Ugh!"
Kata-kata itu sepertinya menjadi serangan kejutan yang telak bagi Hibari. Tangannya yang mendadak menggenggam jemariku dengan sangat kuat menunjukkan hal itu secara nyata. Aku tidak tahu lagi apakah keringat yang membasahi telapak tangan ini milikku atau milik Hibari.
Seketika, pipi putihnya merona panas. Bibir yang tadi merangkai kata-kata secara logis dan sistematis kini hanya terkatup-katup tanpa suara, sementara matanya yang basah bergerak ke sana kemari mencari arah pandang.
"Curang. Masaomi-kun selalu curang dengan wajah datarmu itu. Aku ini bukan orang yang gampangan. Tapi... ya sudahlah."
"Wajah datar 'Paket Hemat' punyaku ini kan bukan hal baru lagi."
"Sudahlah! Ayo, pokoknya kita pergi ke kelas Masaomi-kun!"
Sambil bicara terbata-bata, Hibari menarik lengan Masaomi dan melangkah lebar-lebar.
Mungkin saja, 'perasaan yang tiba-tiba meluap di acara non-keseharian' itu memang benar adanya. Karena di dalam hati Masaomi yang berpura-pura tenang pun──sudah pasti dia juga sedang merasa sangat malu.
Setelah menertawakan kutukan Festival Putus Hubungan, mereka berdua menuju ke kegiatan kelas Masaomi, yaitu Kafe Game.
Seolah tertular oleh ketidaksungguhan wali kelasnya, dekorasi ruangan ini terkesan apa adanya. Tulisan "Kafe Game" di papan tulis terlihat murah meriah, seolah-olah mereka benar-benar mengerahkan seluruh tenaga untuk bermalas-malasan.
Para laki-laki yang bertugas menjaga stan memakai kostum pelayan hanya sebagai syarat formalitas sebuah "kafe". Dimulai dari sapaan "Syaaa~sse~" yang terdengar seperti pegawai toko baju bekas yang tidak laku, menunya pun hanya cola dan teh yang dibeli per kardus dari supermarket, ditambah makanan ringan saja. Benar-benar gaya yang sangat santai, selevel kaos oblong yang sudah saking lamanya dipakai hingga turun kasta menjadi baju tidur.
Meski begitu, mungkin karena cocok dengan kebutuhan orang yang mencari tempat istirahat, ruangan itu cukup ramai. Terdengar suara musik game, sorak-sorai, hingga teriakan kalah. Jika diperhatikan, jajaran permainannya cukup lengkap, mulai dari konsol rumahan terbaru hingga game retro yang bakal membuat generasi orang tua merasa bernostalgia.
"Hee, koleksi gamenya cukup serius ya. Dalam arti tertentu, ini terasa lebih seperti festival budaya daripada drama kelasku."
"Yah, soalnya persiapannya mudah. Orang-orang yang punya konsol tinggal membawanya masing-masing, dan hasilnya langsung terlihat meyakinkan."
Sambil berkata demikian, mata Masaomi tertuju pada satu sudut di bagian dalam kelas. Di sana terdapat papan pengumuman tulisan tangan bertajuk "Sudut Karya Klasik Pilihan", di mana beberapa laki-laki sedang memegang kontroler dengan serius menghadap monitor LCD yang terhubung ke sebuah konsol genggam tua.
Karakter yang terpampang di layar itu adalah sosok yang familier. Itu adalah fighting game yang sempat populer sekitar sepuluh tahun lalu, yang pada masanya mengandalkan grafis indah dan kemudahan kontrol.
"Itu Kuro-Komi. Nostalgia banget. Aku juga ingat dulu sering memainkannya waktu kecil."
"Itu judul yang belum pernah kumainkan. Game pertarungan 2D, ya."
Nama resminya adalah 'Cross Communication Dive'. Bahkan pemula yang hanya asal menekan tombol kontroler pun bisa mengeluarkan jurus, dan jika sedang beruntung, mereka bisa menamatkan gamenya. Game inilah yang sempat merebut hati Masaomi kecil untuk beberapa saat. Namun, saat Hinata yang menonton di sampingnya memutuskan untuk ikut bermain dan dalam waktu singkat mulai membantainya secara sepihak, Masaomi kecil pun... bosan.
Saat menatap layar game yang penuh kenangan itu, tiba-tiba Masaomi merasakan sebuah denyutan samar di dalam benaknya.
──Kalau begitu, sampai jumpa lagi kapan-kapan, ya.
Wajah seorang teman yang tampak sedih setelah mengucapkan kata-kata itu. Bayangan kekecewaan yang nyata menyelimuti wajahnya yang terlihat lebih dewasa dari usianya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba wajahmu jadi serius begitu?"
"Ah, tidak... bukan apa-apa. Aku cuma teringat pada seorang teman."
"Teman? Oh, Tachibana-san memang dibilang suka main game, kan?"
"Yah, Kasuka juga begitu sih. Tapi aku jadi teringat, dulu ada teman yang berjanji mau main ini bareng, tapi akhirnya nggak pernah kesampaian. Karena dia tipe anak yang jarang sekali bisa ditemui, akhirnya hubungan kami terputus begitu saja."
Hibari mendengarkan kata-kata Masaomi dalam diam. Baginya, itu hanyalah sebuah kenangan dari masa yang tidak ia ketahui, namun sepertinya ia bisa merasakan nada sentimental dalam suara Masaomi.
"Aku jadi berpikir, harusnya dulu aku menepati janji itu. Ya, walau sudah terlambat sih."
"Kalau begitu, mari kita bersenang-senang untuk menggantikan porsi Tachibana-san, temanmu itu, dan sekalian juga untuk Kanae."
Meski kalimatnya terdengar seperti saran, antusiasme Hibari menunjukkan bahwa Masaomi sepertinya tidak punya hak untuk menolak.
"Soal Kuro-Komi itu, sebagai orang yang juga menikmati game, aku sedikit tertarik. Hei, Guardian, maukah kamu memberikan bimbingan dengan lembut kepada tuan putrimu ini?"
Setelah berkata demikian, Hibari tersenyum nakal dan menarik lengan baju Masaomi. Melihat matanya yang berbinar-binar, mungkin dia tidak peduli dengan sentimentalitas Masaomi dan murni hanya sangat ingin memainkannya.
"......Iya, iya. Tapi, jangan menangis ya kalau kalah, wahai Sang Dewi Perang."
Sambil membalas godaannya, mereka menuju ke depan monitor tempat konsol game berada. Untungnya, rombongan laki-laki yang tadi bermain baru saja selesai, jadi kursi segera kosong dan mereka berdua duduk berdampingan sambil memegang kontroler.
Di layar pemilihan karakter mode Versus 2P, berjejer petarung-petarung yang sangat unik. Masaomi mengarahkan kursor ke karakter yang dulu sering ia pakai; sosok ahli bela diri wanita yang memakai gaun Cheongsam perak. Namanya ditulis dengan kanji En Shuukaku. Dulu dia tidak bisa membacanya, tapi jika dibaca secara alfabet namanya adalah Yen-Shuukaku──ternyata itu kamu, wahai guru spiritualku!
Ngomong-ngomong, dia adalah karakter wanita dengan kaki yang indah; benar-benar contoh nyata dari pepatah "kebiasaan masa kecil terbawa sampai mati".
Setelah bersorak dalam hati, Masaomi dengan khidmat memindahkan kursornya. Enggak bakal aku pake, ya.
"Hei Masaomi-kun. Bagaimana dengan karakter ini? Bukankah dia terlihat mirip denganmu?"
Hibari menunjuk ke arah pojok layar, ke karakter yang mengenakan zirah bronze yang menutupi seluruh tubuhnya.
Namanya adalah "Noise". Menurut pengaturannya, dia adalah pelindung yang menyelimuti dirinya dengan atmosfer misterius.
Teman sekelas yang kebetulan lewat memasang wajah seolah bertanya 'Mirip dari mananya?', tapi hanya Masaomi yang benar-benar paham maksud Hibari. Meski warnanya berbeda, zirah yang menutupi seluruh tubuh itu memang mengingatkan pada wujud Masaomi di Astral Side. Desain karakternya yang jika dipuji terlihat seperti orang yang sudah mencapai pencerahan, namun jika dikritik terlihat datar dan tidak berkesan, mungkin memperkuat kemiripan itu.
"Seingatku, kalau pakai si perempuan Cheongsam tadi untuk tamatin ceritanya, bos terakhir yang diceritakan sambil menangis itu adalah Noise. Jadi secara tidak sadar, mungkin aku mengasosiasikan karakter ini sebagai 'Avatar' pelindung yang kuat. 'Darahnya nggak habis-habis!', begitu ingatanku sampai-sampai pernah melempar kontroler sekali. Yah, tapi setelah itu aku tahu kalau lawan CPU bisa dikalahkan cuma pakai tendangan bawah."
"Apa Noise juga suka kaki wanita? Berarti makin mirip dong."
Tentu saja, karena kegemaran Masaomi terhadap kaki sudah lama terbongkar, Hibari mengucapkannya dengan nada yang sangat jengah. Terkutuklah kau En-Shuukaku, kau telah membengkokkan selera Masaomi kecil.
"Wajah tenangnya yang seolah bisa menangkis segalanya itu juga mirip. Jika saatnya tiba, dia akan menjadi Guardian yang kokoh untuk melindungiku, jadi aku pilih karakter ini saja."
Hibari berkata dengan riang dan tanpa ragu memilih Noise. Sebaliknya, Masaomi memilih eksorsis berpakaian suster abu-abu bernama "Phantasma". Sayangnya, tidak ada karakter Dewi Perang di sana.
Menurut buku panduan usang yang tergeletak di dekat sana, bos dari rute Noise adalah si Phantasma ini. Ada pengaturan konyol yang tertulis: dia adalah vampir yang jika wilayahnya direbut dalam mini-game, dadanya akan ditusuk pasak lalu disucikan.
Katanya kalau memakai warna 2P, pakaiannya akan menjadi merah-putih yang melambangkan keberuntungan. Bagaimana bisa vampir pembawa keberuntungan adalah seorang eksorsis? Pengaturannya benar-benar terlalu berlebihan.
『Demi dunia tempat kita terhubung di dalam Cross Communication ──Mari bertarung, DIVE!』
Begitu pertarungan dimulai bersamaan dengan suara pembuka yang unik, Masaomi langsung dibuat terkejut oleh kemampuan Hibari.
Noise yang dikendalikan Hibari bergerak dengan sangat luwes, seolah bukan dimainkan oleh pemula, dan melancarkan kombo dengan sangat akurat. Tipe serangannya adalah menembakkan aura seperti mosaik yang jarak tembaknya sulit ditebak; benar-benar menyebalkan padahal wujudnya mirip diriku.
Sebaliknya, Phantasma meskipun seorang suster, dia adalah tipe trigger-happy yang menembakkan pistol dengan kedua tangan; karakter dengan jarak tembak jauh namun kekuatannya lemah. Karena pertahanan dasar Noise memang kokoh, bar nyawa Hibari hampir tidak berkurang.
"Oi, Hibari, ini bukan pertama kalinya kamu main kan? Gerakanmu itu..."
Bahkan mengabaikan masalah kecocokan karakter, permainan Hibari terlalu jago. Masaomi yang seharusnya punya pengalaman bermain pun dipaksa terus bertahan.
"Fufu. Bukan tanpa alasan aku bertarung di Astral Side. Dalam hal seperti ini, imajinasi itu penting. Aku hanya mewujudkan idealisme tentang bagaimana aku ingin Masaomi-kun bergerak melalui ujung jariku di game."
"Kalau cuma modal logika bisa bergerak sesuai idealisme, nggak bakal ada orang yang kesulitan main game..."
"Persis seperti komentarku saat kamu tiba-tiba muncul di Astral Side dengan penuh kemeriahan. Rasanya tidak buruk juga, sensasi menjadi tokoh utama yang punya kemampuan curang setelah reinkarnasi ini."
Pada akhirnya, dari tiga pertandingan, ketiganya berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Hibari. Di pertandingan ketiga, tulisan emas 'PERFECT' bersinar dengan sangat menyebalkan di layar. Kekalahan total.
"Cuma butuh tiga ronde dan kamu sudah bisa memasukkan Giga Arts dengan Gauge MAX ke dalam kombo... kunci raksasa itu sepertinya bakal membuatku trauma."
Dalam dunia Kuro-Komi, teknik biasa disebut Arts, sedangkan teknik kuat yang mengonsumsi satu bar energi yang terisi setiap kali menyerang disebut Mega Arts. Dan jika seluruh bar energi dilepaskan, mata karakter akan bersinar emas terang, dan dari sana mereka bisa mengeluarkan jurus pamungkas Giga Arts untuk melepaskan kekuatan terhebatnya. Katanya, 'Jika kena telak, serangan ini bisa membalikkan keadaan dari situasi genting!'. Namun, kenyataan yang terjadi di sini bukannya membalikkan keadaan, tapi malah dipakai untuk membantai mayat Masaomi yang sudah kalah.
Menurut keterangan di buku panduan yang ia lihat lagi, Giga Arts milik Noise adalah teknik memanggil kunci raksasa yang mengunci seluruh ruang dan waktu dengan bunyi gachari. Masaomi ingin rasanya mengunci sejarah kekalahannya ini dalam-dalam di lubuk ingatannya, tapi melihat Hibari yang terlihat sangat senang sepanjang waktu── wajah puasnya yang imut membuatnya berpikir, ya sudahlah, tidak apa-apa.
"Suasana hatiku sedang sangat baik. Hei Masaomi-kun, apa Kuro-Komi bisa dimainkan di konsol generasi terbaru?"
"Seingatku ada versi remake-nya, tapi... jangan-jangan kamu sudah berencana memasukkannya ke daftar agenda kencan di rumah, ya?"
"Tentu saja," jawab Hibari sambil tersenyum puas dengan raut wajah yang jarang sekali terlihat seantusias itu.
Senyum lebarnya yang merekah mengingatkan Masaomi pada dirinya sendiri di masa lalu dan teman yang dulu bermain bersamanya. Ia sangat mengerti perasaan saat seseorang terhanyut dalam permainan. Lagipula, jika ini bisa menghapus kekesalan Hibari belakangan ini, ia merasa harus berterima kasih pada kegiatan kelasnya itu.
──Namun.
Setelah hampir satu jam pasangan bucin ini menduduki pojok kelas sambil bermesraan, teman sekelas Masaomi akhirnya habis kesabaran dan mereka berdua resmi dilarang masuk ke sana lagi.
Setelah sekian lama mendekam di Kafe Game, Masaomi dan Hibari melangkah menuju area loker sepatu (pintu masuk), seolah terpanggil oleh lampu sorot senja bersama arus kerumunan orang yang didominasi para pasangan. Hal itu dikarenakan sebuah acara utama akan diselenggarakan di sana pada penghujung hari kedua festival budaya, tepatnya saat waktu malam perayaan (Kouyasai).
"Tapi, apa Ketua benar-benar akan melakukannya?"
Masaomi bergumam ragu sambil menatap selebaran program yang dibagikan OSIS kepada seluruh siswa.
『Acara Kejutan Malam Perayaan!! REVERSE NIAGARA FOLK DANCE!!!!』
Di bawah tulisan dengan font berkilau yang memicu rasa deja vu itu, terdapat catatan kaki berukuran kecil:
『※ Program ini akan mengaktifkan seluruh sprinkler di lapangan dengan kekuatan penuh. Siap-siap basah kuyup! Jangan lupa bawa baju ganti, siapkan mental, dan bawa pasangan untuk saling menghangatkan! by Ketua OSIS yang kalian cintai dan hormati, Sou Furuoya』
Omong-omong, ada sebuah tonjolan berbentuk tombol bertuliskan "HAAI" di ujung bawah selebaran itu, yang jika ditekan akan mengeluarkan rekaman suara para anggota OSIS yang berteriak "Haaai!" dengan nada putus asa. Di sana-sini terdengar suara haai-haai dari orang-orang yang iseng menekannya, tapi Masaomi bertanya-tanya berapa banyak biaya yang dihabiskan hanya untuk fitur tidak berguna ini. Kanae dan Keiji pasti sudah kehabisan akal sampai frustrasi menghadapi kelakuan ketuanya.
"Ini sudah tidak waras. Kebetulan saja hari ini panas, tapi dalam kondisi normal, mandi air sambil menari di malam hari di akhir November itu sama saja dengan mengajak satu sekolah masuk angin massal. Ini benar-benar di luar nalar, aku heran kenapa Kanae tidak menghentikannya."
Hibari menatap tajam selebaran itu dengan wajah yang benar-benar tidak habis pikir. Seperti katanya, ini memang sangat tidak masuk akal. Namun, Masaomi punya keyakinan aneh bahwa mereka memang tidak bisa menghentikannya. Mari kita doakan saja mereka.
"Partisipasinya sukarela, kok. Kita lihat saja dari jauh."
"Setuju. Mari kita tonton ritual aneh orang-orang kurang kerjaan ini dari tempat yang aman."
Di lapangan, orang-orang yang disebut Hibari "kurang kerjaan" itu sudah mulai berkumpul. Di bagian tengah, lampu sorot raksasa telah dipasang dan menerangi lapangan malam hari hingga terang benderang seperti siang bolong. Di sekelilingnya terdapat kabel-kabel dan speaker, serta bayangan hitam di permukaan tanah──sprinkler dalam jumlah tak terhitung yang tertanam seperti ranjau darat yang menyeramkan.
"Ketua... dia serius ya..."
Saat Masaomi bergumam takjub, suara menggelegar dengan nada bicara super tinggi menggema dari speaker.
『Kalian semua, apa kalian menikmati festivalnya?! Aku Sou! FU-RU-O-YA SOU! HAAI!』
Itu adalah perkenalan diri khas Sou. Para siswa menyambutnya dengan sorak-sorai dan teriakan ejekan, sementara para pengunjung umum tampak bingung dan kacau melihat apa yang terjadi. Masaomi hanya bisa membatin, "Maafkan Ketua kami."
『Malam ini adalah pesta setahun sekali! Cuci bersih kutukan 'Festival Putus Hubungan' itu dengan air suci ini! Di depan cahaya membara penuh gairah dan kegilaan ini, guru, murid, orang dewasa, maupun anak-anak, semuanya jadi satu dan ayo buat keributan! Basah-basahan, menari, dan teriakkan cinta, mimpi, serta harapan kalian! Inilah masa muda! Mau gugur atau mekar, itu terserah kalian!』
Pidato Ketua membuat semangat para siswa mencapai puncaknya. Para guru pun ikut bersorak meski sambil tertawa getir. Atmosfer "ya sudahlah ikuti saja" dengan cepat menguasai lapangan, dan tak ada lagi yang memikirkan soal masuk angin. Ini adalah semacam kondisi trans massal.
"...Benar-benar ritual aliran sesat."
Muncul lagi masalah "terlalu banyak aliran sesat". Apalagi dewa sesat utamanya adalah Ketua OSIS sendiri, makin parah saja urusannya.
Tak lama kemudian, musik Maimu Maimu yang ceria mulai mengalir. Kalau bicara soal folk dance, ya tentu saja Maimu Maimu. Di saat yang sama, air menyembur deras dari segala penjuru lapangan.
"Mengekspresikan kegembiraan menemukan sumur di padang pasir... mungkinkah temanya adalah semacam edukasi budaya?"
Hibari memberitahu bahwa Maimu dalam bahasa Ibrani berarti "Air". Namun Masaomi berani bertaruh bahwa sebenarnya tidak ada makna sedalam itu; si dewa sesat itu hanya ingin berjingkrak-jingkrak dalam kegilaan saja.
『UWAAAAAAA!』
『KYAAAAAAA!』
Teriakan dan sorak-sorai bercampur aduk, para siswa mulai membentuk lingkaran dan menari bersama. Mereka tidak peduli lagi seragam mereka basah atau rambut mereka berantakan. Cipratan air memantulkan cahaya dari lampu sorot, berkilauan menghiasi kegelapan malam. Pemandangan itu tampak seperti sebuah "noise" yang muncul dalam keseharian, sebuah pemandangan fantastis yang seolah membawa mereka ke dunia lain.
"...Luar biasa ya. Semuanya bersenang-senang sampai lupa daratan seperti itu. Padahal ini bukan di Astral Side."
Hibari bergumam pelan dengan tatapan kosong, dan Masaomi melihatnya secara tidak sadar menyentuh jepit rambut berbentuk sayapnya di tengah kegelapan.
"Hibari?"
Entah kenapa, Masaomi merasa diliputi kegelisahan yang tak terlukiskan, hingga ia pun memanggil namanya. Di depan matanya, pesta kegilaan yang menerbangkan nalar itu masih terus berlangsung. Namun, di dalam mata hitam Hibari yang menatapnya—mata yang lebih dalam dari kegelapan senja—Masaomi melihat sebuah getaran yang berbeda dari ketenangannya yang biasa; sebuah getaran yang tampak seperti perasaan terdesak.
"Hei Masaomi-kun──bagaimana kalau kita, coba ikut juga?"
Suara itu terdengar pelan seperti bisikan, namun memiliki nada yang tidak menerima penolakan.
"......Kamu serius? Bukannya tadi kamu bilang ini tidak masuk akal, ritual aliran sesat, dan lain-lain—"
"Aku memang berpikir begitu. Tapi, soal akal sehat atau hal-hal yang dianggap 'biasa' itu—bukankah itu membosankan?"
Mendengar kata-kata yang tidak biasa dari seorang Hibari, Masaomi menatap matanya untuk mencari tahu arti yang sebenarnya. Kini matanya tidak lagi bergetar. Ia juga tidak lagi menyentuh jepit rambutnya. ──Sepertinya, ia mengatakan hal itu dengan jujur dari lubuk hatinya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak menjadi gila. Jika Sang Guardian—jika Masaomi-kun berada di sampingku, aku merasa bisa membentangkan sayap di mana saja. Aku hanya berpikir demikian."
Hibari menyeringai nakal. Ekspresinya tampak lebih hidup daripada yang pernah ia lihat sebelumnya, begitu berwarna dan cantik hingga sulit dipercaya bahwa ia adalah titisan berdarah dingin. Cukup untuk menerbangkan segala kekhawatiran Masaomi.
Persiapan mental dan pasangan sudah tersedia dalam kondisi terbaik. Masalahnya tinggal baju ganti yang tidak ada di tangan, harus bagaimana—bahkan keraguan dangkal itu pun tidak diizinkan oleh Hibari. Sentuhan tangan yang lembut namun dingin mencengkeram pergelangan tangan Masaomi, seolah hendak menghisapnya.
"Wa, cho, Hibari!"
"Ayo ayo, Guardian, kamu telat, lho? Kawal aku dengan benar, ya?"
Tanpa sempat melawan, Masaomi yang diseret oleh Hibari seketika tertelan ke dalam pusaran para siswa yang basah kuyup. Air dingin yang disemprotkan sprinkler tanpa ampun meresap ke dalam seragam, merenggut suhu tubuh dalam sekejap. Namun anehnya, itu tidak terasa tidak menyenangkan. Malah, seiring berjalannya waktu, semangat di sekitar yang semakin memuncak, dan yang terpenting senyum polos Hibari, seolah membasuh segala hal yang berlebihan dan membosankan; entah itu soal penyakit, kutukan putus hubungan, kecemasan masa depan, hingga tatapan orang sekitar.
'Engkau akan menimba air keselamatan dengan kegirangan' ──Lagu Maimu Maimu bergema seolah menjadi teriakan hati Hibari. Bahwa yang akan menyelamatkan padang pasir hatinya yang kering dengan penuh sukacita tidak lain adalah Masaomi yang ada di hadapannya.
"Ayo, Masaomi-kun! Kalau salah langkah, kamu bakal diincar Dewa Pemutus Hubungan, lho!"
"Jangan ngomong yang mustahil! Aku belum pernah benar-benar menari folk dance!"
"Aku juga sama saja, kan!"
"Kalau begitu, dewa apalah itu, tusuk saja sampai mati pakai tombak!"
Ditarik oleh Hibari yang terlihat lebih ceria dari biasanya, Masaomi berteriak sambil melangkah dengan kaku. Berkali-kali kakinya tersandung dan hampir jatuh, namun setiap kali itu juga Hibari tertawa sambil menopangnya.
Rambutnya yang basah menempel di pipi. Sosoknya yang biasanya sempurna, topengnya yang biasanya sekuat benteng, kini berantakan dan terhubung ke saluran yang berbeda. Menari bersama peri yang murni, tempat itu pun sudah menjadi dunia yang ideal.
Musik, hiruk-pikuk, cipratan air, dan cahaya lampu sorot menyelimuti mereka berdua di atas panggung.
Jujur saja, dingin. Tapi, menyenangkan. Semuanya kacau balau. Tapi, luar biasa. Tanpa sadar, Masaomi tertawa terbahak-bahak bersama Hibari.
『Benar, meskipun—seandainya Astral Side tidak ada sekalipun. Jika cinta ini begitu rapuh hingga bisa putus karena hal semacam itu, sejak awal kita tidak akan pernah terhubung, kan?』
Karena itu, bisikan Hibari yang menyerupai doa tersebut tidak sampai ke telinga siapa pun. Karena mitos Festival Putus Hubungan hanyalah urusan orang lain yang sepele di hadapan euforia ini.
Setelah tarian folk dance yang penuh teriakan dan mandi air itu selesai, lapangan yang sudah gelap gulita diselimuti ketenangan setelah festival. Para siswa yang basah kuyup menggigil kedinginan, namun dengan ekspresi puas, mereka kembali ke gedung sekolah secara berkelompok.
"......Puhah. Gila, ini sih keterlaluan."
Masaomi memunculkan wajahnya dari balik handuk inventaris sekolah yang dibagikan dengan sigap oleh panitia dan OSIS, lalu menengadah ke langit. Meskipun siang tadi kebetulan panas, malam ini tetaplah malam di bulan November. Jas sekolahnya sudah ia lepas dan buang entah ke mana, namun kemejanya menempel erat di kulit, merenggut suhu tubuh dengan kekuatan seperti kulkas. Hibari yang berdiri di sampingnya pun sama-sama basah kuyup, menggigil seperti kucing yang sedang mengibaskan air dari tubuhnya.
"Kita benar-benar terhanyut ya. Rasanya seperti kembali ke masa kecil."
Berlawanan dengan perasaan kekanak-kanakannya, dari sosok Hibari yang menyeka rambut basahnya terpancar semacam aura sensual. Roknya yang basah dan menempel ketat memperlihatkan garis kakinya yang lentur dengan jelas, yang pastinya menjadi salah satu alasan kenapa kegilaan di hati Masaomi belum juga reda. Rasanya ia ingin meminjam satu lampu sorot yang sedang dibereskan itu.
"Kenapa bengong begitu? Kamu bisa masuk angin, lho—eh, jangan-jangan tembus pandang?"
Mungkin karena salah paham dengan tatapan yang diarahkan padanya, Hibari buru-buru memeriksa pakaiannya sendiri.
"Bukan, bukan soal tembus pandang. Cuma nggak nyangka saja kalau aku bakal diseret oleh Hibari."
Masaomi pun buru-buru memalingkan wajah. Sejujurnya ia tidak tahu seberapa tembus pandang pakaian itu, tapi yang jelas itu tidak baik untuk kesehatan matanya.
"Hanya kepadamu aku melakukan hal seperti ini. Anggaplah itu sebuah kehormatan? Hehe."
"Aku tahu kok. Ini benar-benar puncak kemuliaan bagi seorang Guardian."
Bahkan jika bisa, ia ingin menuliskan momen kasih sayang ini di atas gulungan naskah kuno untuk dipamerkan sebagai harta keluarga turun-temurun. Apakah nanti saat Masaomi Junior lahir, pasangan rupawan yang tersenyum manis di sampingnya adalah Hibari── memikirkan hal-hal yang tidak ada gunanya seperti itu saja sudah membuktikan bahwa ia sudah tidak bisa berpikir jernih.
Setelah selesai menyeka tubuh seadanya, Masaomi menyadari bahwa rambut Hibari masih terus meneteskan air. Mengesampingkan dirinya sendiri, Hibari yang berambut panjang sepertinya perlu membiarkan handuk menyerap air lebih lama lagi. Ia pun menukarkan handuknya dengan handuk baru yang lebih besar kepada panitia yang kebetulan lewat.
Tepat pada saat itulah.
Bunyi pang! yang kering bergema di langit malam, disusul suara hyurururu seiring bola cahaya yang bergelombang naik menuju angkasa.
"......Kembang api? Ketua itu, padahal bilang sudah tidak punya anggaran, tapi ternyata melakukannya lagi. Kanae...... beristirahatlah dengan tenang ya."
Seolah ingin menghapus halusinasi suara yang berteriak "Aku belum mati tahu!", bunga raksasa mekar di langit malam. Merah, biru, hijau—cahaya warna-warni menyinari lapangan dengan cerah. Lonceng cahaya yang menandakan berakhirnya festival budaya. Memang hanya beberapa tembakan sebelum akhirnya berhenti, namun suara kekaguman terdengar serentak dari para siswa yang masih tersisa.
Masaomi dan Hibari pun terdiam, seolah kehilangan kata-kata, menatap langit di mana kembang api baru saja menghilang.
Pesta itu berakhir seperti sebuah kebohongan, dan waktu mengalir dengan tenang seolah mengundang malam untuk datang.
Profil wajah Hibari yang berdiri di sampingnya tampak berkilau luar biasa, dan itu pasti bukan sekadar perasaan saja. Di pipinya yang basah, terpancar ekspresi yang fana—entah itu rasa pilu ataukah kerinduan. Mungkinkah ia sedang berharap agar kembang api meledak sekali lagi?
Ah, cantik sekali, hanya itu yang ada di pikiran Masaomi.
"Hei, Hibari."
"......Ada apa?"
"Aku... baru pertama kali ini merasa festival budaya begitu menyenangkan."
Itu adalah perasaan tulus tanpa keraguan sedikit pun. Sepanjang acara sekolah yang pernah ia ikuti, belum pernah hatinya merasa segembira ini.
"Pasti karena ada kamu yang sangat kucintai di sampingku."
Mendengar kata-kata Masaomi, bahu Hibari bergetar sedikit. Ia perlahan menoleh ke arah Masaomi dan menatapnya lurus-lurus. Cahaya yang merembes dari gedung sekolah menyinari matanya yang basah.
"......Aku juga."
Suara yang berbisik itu terasa lembap dan membawa nada manja yang samar.
Hening yang sedikit menyesakkan mengalir di antara mereka berdua. Di sekeliling masih ada beberapa siswa yang tersisa. Di tempat yang mencolok seperti ini, untuk melangkah lebih jauh lagi──
"Aku juga, karena bersama Masaomi-kun yang sangat kucintai...... aku merasa, ingin mencintaimu lebih dalam lagi."
Kata-kata itu pastilah menjadi pelatuk terakhir yang menerbangkan keraguan tipis di antara mereka.
Hibari mengambil handuk ganti dari tangan Masaomi dengan lembut, lalu membentangkannya lebar-lebar. Kemudian, ia langsung menutupi kepala mereka berdua dengan handuk itu.
"~~! ......Hibari?"
Pandangan mereka tertutup oleh kain yang temaram. Gema kembang api, kebisingan di sekitar, bahkan suara pertanyaannya sendiri pun terasa seperti ilusi dari dunia lain yang jauh.
Di depan matanya, Hibari benar-benar ada, dan kehangatannya yang lembut serta helaan napasnya yang sedikit panas adalah segalanya di dunia ini. Secercah cahaya yang menyusup dari celah handuk bersinar seperti fatamorgana yang menyelimuti mereka berdua.
"Meskipun bukan di Astral Side...... kalau begini, tidak akan ada yang melihat kita, kan?"
Di dalam ruang yang menyerupai penghalang buatan Masaomi di Astral Side itu, mereka mendekatkan jarak hati menuju ke arah aroma yang menenangkan, hanya dengan mengandalkan detak jantung masing-masing yang saling beradu.
Kini, tak ada lagi alasan untuk ragu.
Masaomi meletakkan tangannya di bahu Hibari, lalu perlahan menarik wajah gadis itu mendekat ke arahnya. Bulu mata lentur Hibari tampak merapat, ia memberikan isyarat bahwa ia tengah memejamkan matanya dengan lembut.
Seolah diberkati oleh cahaya dan suara yang menembus kain handuk, bibir mereka berdua pun saling bertemu dengan lembut. Bibir yang seharusnya sudah mendingin itu ternyata terasa sangat panas, hingga mengejutkan.
Itu hanyalah sebuah ciuman singkat selama beberapa detik, hanya satu kali. Namun bagi Masaomi, rasanya terasa lebih lama daripada keabadian. Bahkan setelah bibir mereka terpisah, untuk beberapa saat keduanya hanya saling menatap di balik handuk tanpa mampu mengucap sepatah kata pun.
Pipi mereka terasa panas seolah hampir terbakar. Jantung pun berdegup kencang, seolah riuh menyoraki cinta yang membara.
Dunia sempit yang hanya milik mereka berdua. Dipenuhi oleh aroma gadis itu dan panas tubuh satu sama lain hingga menyesakkan, bahkan untuk bernapas pun terasa sulit. Meski begitu, Masaomi benar-benar berharap waktu berhenti di saat ini juga. Ia ingin tetap terbalut dalam kebahagiaan di balik selembar kain tipis ini, tanpa diganggu oleh siapa pun.
Karena itulah Masaomi──sama sekali tidak menyadari bahwa Hibari sempat menyentuh jepit rambutnya dengan lembut.
『Siswa yang masih berada di lapangan, harap segera kembali ke gedung sekolah. Mau seberapa "pasangan" pun kalian, tidak diizinkan untuk terus berduaan di sini, jadi silakan lanjut di rumah masing-masing yaaa—』
Suara lantang Kanae terdengar dari speaker, membuat mereka akhirnya tersadar kembali ke realitas.
Masaomi tercengang karena merasa seolah berjam-jam telah berlalu, padahal nyatanya baru beberapa menit saja. Kejanggalan sensasi waktu ini seolah──melalui bibir, ia tengah melakukan Dive ke dalam diri Hibari.
"Rasanya seperti aku sedang Dive ke dalam diri Masaomi-kun."
Ternyata mereka memikirkan hal yang sama persis. Bahkan di saat seperti ini pun frekuensi mereka masih selaras dengan istilah-istilah Astral Side; benar-benar pasangan "nyentrik" yang sangat cocok.
Sambil menelusuri bibirnya dengan jemari seolah sangat berharga, Hibari tersenyum dengan tatapan penuh damba.
Saat Masaomi sedang terpana melihat gelagatnya yang mempesona itu, Hibari menggodanya dengan bilang, "Ternyata wajahmu nggak datar lagi ya," yang dibalas Masaomi dengan membuang muka sambil bergumam, "Ya iyalah." Dalam situasi begini, justru orang yang tidak merasa malu lah yang tidak waras.
"Padahal wajah Hibari sendiri merah padam begitu."
"......Tentu saja. Aku baru saja berciuman dengan orang yang kucintai, tahu? Pertama kalinya...... ciuman."
Baru saja tampak berani, ia langsung menunduk dan menjepit kemeja basah Masaomi dengan ujung jarinya. Ah, sudah tidak kuat lagi, dia terlalu menggemaskan. Apa dia bakal marah ya kalau aku memberinya serangan kejutan sekali lagi──
『Anu! Itu pasangan yang lagi bermesraan-di-dalam-handuk!? Saya ini nungguin di kegelapan lho!』
Suara merdu Sang Wakil Ketua (Kanae) kali ini benar-benar terdengar seperti kebisingan yang mengganggu.
Malam itu, sebuah pesan dari Hibari tiba: 『Sepertinya aku sudah benar-benar tidak bisa melakukan Dive lagi.』
Berbeda dengan ciuman tadi, sinyal yang seharusnya tidak menghantarkan panas maupun rasa sakit ini terasa menindih hati Masaomi dengan beban yang sangat berat.




Post a Comment