Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Menyatukan Sayap
Mungkin, itu adalah apa yang disebut dengan cinta pertama.
"Hei, game itu namanya apa?"
Awal mulanya benar-benar hanya karena rasa penasaran belaka.
Aku tidak tertarik tapi merasa tertarik—kedengarannya seperti filsafat atau semacamnya, tapi maksudku, aku tidak terlalu tertarik pada game itu sendiri; aku lebih tertarik pada mereka yang tampak begitu asyik memainkannya. Mengingat aku yang saat itu baru saja menjadi siswa SD sudah berpikir seperti itu, kau pasti bisa menebak bahwa aku adalah tipe anak yang sulit berbaur dengan lingkaran pertemanan.
—Tidak punya teman pun tidak apa-apa. Karena dengan "kita berdua", kita bisa melakukan apa saja.
Katanya, aku memiliki dua otak, dan sepertinya aku punya kakak atau adik perempuan yang tidak sempat terlahir ke dunia. Karena itulah, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku yang lahir dengan kekuatan dua orang ini harus hidup lebih cerdas daripada orang lain.
Kenyataannya, aku sadar bahwa aku adalah anak yang sangat cerdas. Aku paham betul bagaimana harus bersikap di depan orang dewasa. Karena itulah, meski aku sering dititipkan di kuil karena urusan pekerjaan orang tua, aku akan berkata, "Aku sangat sayang kakek dan nenek, jadi aku menantikannya," bahkan menambahkan kalimat, "Semangat kerjanya ya," layaknya seorang "anak penurut" yang sempurna.
"Eeto... Kurokomi. Kamu tahu?"
"Enggak. Sama sekali enggak tahu. Tapi, kelihatannya seru pas kamu mainin."
Sebaliknya, justru bagaimana harus bersikap di hadapan sesama anak kecil terasa sangat sulit bagiku. Alhasil, aku menghabiskan waktu dengan membaca buku, bermain board game sendirian, atau memikirkan permainan kata.
Karena itulah, keberanianku untuk mewujudkan rasa penasaran itu ke dalam tindakan nyata benar-benar hanyalah sebuah kebetulan.
Anak yang kusapa adalah seorang laki-laki yang kebetulan sedang main game sendirian, mungkin seumuran denganku. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali karena terkejut. Wajar saja, tiba-tiba disapa oleh anak yang sama sekali tidak dikenal. Padahal bagiku, aku bisa langsung mengingat wajah orang hanya dengan sekali lihat, dan aku tahu persis apakah anak itu datang ke taman dekat kuil ini setiap musim atau tidak.
Bagaimanapun juga, aku adalah anak yang sangat cerdas.
"Kalau gitu, ayo main bareng. Kurokomi itu lebih seru kalau dimainin berdua. Lihat ya. Aku pakai karakter perempuan kaki panjang yang bajunya aneh ini. Kalau dipilih, suaranya lucu lho."
Cara bicaranya seolah-olah dia sedang membocorkan rahasia besar dunia padaku.
『Wilayah musuh, telah dipanen! Ikatan (En) ini, tidak ada alasan untuk tidak disambungkan, aru yo!』
"Padahal pakai baju China tapi kayak jenderal perang. Karena namanya Syukaku makanya 'panen' (shuukaku), meski rima (in)-nya agak dipaksakan ya. Akhiran 'aru' yang ditempel-tempel itu juga aneh....Tapi memang lucu sih, ada 'nai' sama 'aru'-nya."
Mungkin seharusnya aku memberikan reaksi yang lebih manis; sedikit ada rasa penyesalan di hatiku. Adakah "rahasia" yang bisa kuberikan sebagai balas budi? Aku hanya terpikir soal jalan setapak di hutan tempat kita bisa melihat bendungan dari dekat.
"In? Bukannya En?"
"Mungkin nuansa (taste) bahasa ini agak sulit buat anak kecil ya."
"Kamu juga masih anak-anak kali. Jangan sok jadi kakak dong. Aku nggak tahu 'taste' itu apa, tapi."
"Nanti kalau sudah dewasa, kamu bakal paham kok. For you."
"Apaan tuh?"
Itu adalah permainan kata cerdas yang berima dengan Houyuu (sahabat), tapi sepertinya memang masih terlalu dini untuk anak-anak.
"Yah, karena aktingnya menjiwai, menurutku karakter 'Kakak Lucu' ini punya daya tarik yang cukup. En-Syukaku (Menarik pelanggan)—gitu deh."
"Enggak ngerti sih, tapi apa kamu lagi ngejek aku karena kamu tahu kata-kata sulit?"
Aku buru-buru minta maaf dan bilang kalau aku tidak bermaksud begitu. Mungkin dia merasa aku bisa jadi teman main yang lumayan untuk mengusir bosan, karena dia langsung berubah suasana hati dan meminjamkan konsol game portabelnya padaku.
—Kesimpulannya, aku langsung ketagihan.
Mulai dari nilai seni dari konsol game portabel yang baru pertama kali kusentuh, hingga kesempurnaan game Kurokomi itu sendiri. Namun yang terpenting, aku tidak bosan melihat anak laki-laki itu di sampingku yang dengan sangat ceria memberiku penjelasan; dia ikut senang saat aku menang dan kesal saat aku kalah, tenggelam sepenuhnya ke dalam permainan itu. Rasanya seolah-olah di dunia ini hanya ada kami berdua. Benar-benar menyenangkan.
Waktu berlalu begitu cepat. Dia tipe anak yang tertawa lepas dengan lebar—entah mengapa, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari senyumannya itu.
Saat dia sedang bermain, aku terus memandangi wajahnya dari samping. Alih-alih tampan, dia lebih ke arah imut. Saat terlalu fokus, bibirnya akan mengerucut, dan perlahan tubuhnya akan ikut miring mengikuti gerakan karakternya. Setiap kali itu terjadi, tubuh kami bersentuhan dan rasanya geli. Aku berpikir, mungkin seperti inilah rasanya jika aku punya adik laki-laki. Meski aku sempat menghentikannya saat dia hampir melempar kontroler karena kalah melawan bos.
—Ternyata bermain dengan orang lain itu seseru ini.
"Akhirnya kamu senyum juga. Imut lho. Kalau senyum-senyum begini kan jadi makin seru."
"Kalau senyum... i, imut...?"
Dalam kata-katanya yang polos dan jujur itu, tidak ada perhitungan tentang bagaimana dia harus bersikap. Itu hanyalah kata-kata biasa, namun rasanya meresap jauh ke dalam lubuk hatiku—sebuah sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, aku berpikir ingin terus bersamanya. Aku ingin tahu nama dari perasaan hangat yang meletup-letup ini, sesuatu yang tidak pernah kutemukan meski aku pintar atau cerdas sekalipun.
"Ma-kun, sembahyangnya sudah selesai, ayo pulang—Ah, kamu dapat teman baru? Terima kasih ya sudah menemani anak ini main. Kapan-kapan tante ajak si kecil juga ke sini."
Tanpa sadar saking asyiknya bermain, seorang wanita yang tampaknya ibu dari anak laki-laki itu datang menjemput. Dia orang yang tampak ceria dan energik, kesan yang baik. Aku sempat berpikir, beda sekali dengan orang tuaku yang selalu mengomel soal belajar, ujian, atau masa depan.
"Aku belum bisa kasih game-nya sih, tapi kalau aku main ke sini lagi, ayo main bareng. Kata Ayah sama Ibu, buat latihan karyawisata, mereka mau ke ku... kuil? ini lagi."
"Iya. Janji ya. Aku akan menantikannya—Ma-kun."
"Oke, sampai nanti!"—dan dia melambaikan tangan dengan senyuman yang menyenangkan itu.
—Dia pasti tidak sadar kalau aku sudah lancang memanggilnya dengan nama panggilan.
Segera setelah itu, aku merengek kepada ibuku minta dibelikan Kurokomi. Alasannya bisa apa saja; entah karena aku akan belajar lebih giat, atau game itu nutrisi bagi otak untuk penyegaran. Selama aku bisa mendapatkan lingkungan untuk berlatih keras sebelum bertemu lagi dengan anak laki-laki itu, aku bersedia memenuhi syarat apa pun.
Perasaan ini bukan milik dua orang, melainkan milikku sendiri. Sebuah perasaan istimewa di mana hanya aku sendiri yang merasa terhubung.
Akhirnya, aku berhasil mendapatkan Kurokomi dan berlatih dengan giat. Pada akhirnya, kakekku yang terlalu memanjakan cucunya lah yang membelikannya, tapi itu tidak masalah.
Aku menghafal karakteristik setiap karakter, menguasai Giga Arts, dan menyelesaikan semua skenario serta mini-game hingga tuntas. Janji itu tentu saja sangat penting, tapi Kurokomi memang benar-benar permainan yang menyenangkan.
Namun pada akhirnya, semua itu menjadi sia-sia. Bukan karena aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. Anak laki-laki itu—Ma-kun—benar-benar datang ke taman yang sama. Namun, musim telah berganti, dan bagi seorang anak laki-laki SD, waktu tersebut sudah lebih dari cukup untuk mengubah minat permainannya.
"Hei, Ma-kun mau pakai karakter yang mana? Aku sudah bisa pakai 'Noise', dan 'Phantasma' juga sudah bisa. Oh iya, kalau skenarionya dilanjutin, sebenarnya ada mini-game perluasan wilayah..."
Karena terlalu bersemangat dan penuh harap, aku bicara dengan sangat cepat. Ma-kun menggaruk kepalanya dengan wajah merasa tidak enak, lalu berkata:
"Ah— Kurokomi ya. Hari ini aku nggak bawa."
"...Begitu, ya. Ah, tapi kali ini aku bisa pinjamkan kontrolerku, lho?"
Suaraku terdengar sangat kecewa, bahkan aku sendiri bisa merasakannya. Tapi, karena Ma-kun-lah yang pertama kali mengajariku bahwa Kurokomi itu menyenangkan jika dimainkan berdua, maka berbagi satu kontroler pun seharusnya rasanya akan sama saja.
"Hmm, daripada itu, gimana kalau main Genjuu-ou Card Battle ini? Seru banget, lho!"
—Ternyata bagimu, janji itu hanya sebatas itu saja.
"Kalau dimainkan berdua pasti jauh lebih seru. Sama seperti Kurokomi."
—Padahal kenyataannya tidak begitu.
Ganjalan di hatiku yang terasa seperti kebisingan (noise) itu semakin bertambah banyak.
Aku adalah anak yang cerdas. Aku tahu betul bagaimana harus bersikap di depan orang dewasa. Namun, di hadapan sesama anak kecil—seberapa banyak aku boleh egois, dan bagaimana menjaga jarak perasaan itu—aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk mempelajarinya. Karena itulah—cepat atau lambat, aku rasa cinta pertama ini memang tidak akan berjalan mulus.
"Aku maunya main Kurokomi sama kamu. Bukan kartu Genjuu-ou. Not for me."
Aku sendiri terkejut bisa mengeluarkan suara yang penuh rasa dongkol seperti itu. Padahal seharusnya aku cukup tenang, namun aku tetap bersikap keras kepala dan tidak bisa meruntuhkan sikap kekanak-kanakanku. Aku benar-benar bersikap seperti bocah.
"Ma-kun, kamu kan sudah janji... Padahal aku sudah menantikannya. Pembohong."
"Begitu ya... Maaf. Kalau begitu, lain kali ya. Aku bakal latihan supaya bisa keluarin Giga Arts deh."
Sambil berkata begitu, Ma-kun melambaikan tangan dan berpamitan. Bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang anak perempuan yang bahkan tidak ditanya namanya sampai akhir, dan baginya, mengucapkan kata-kata itu mungkin jauh lebih mudah daripada mengeluarkan Giga Arts.
—Tidak punya teman pun, tidak apa-apa.
Anak cerdas sepertiku tahu betul bahwa itu hanyalah sekadar gertakan belaka. Karena itulah—janji 'lain kali' itu, tidak pernah terwujud lagi.
Nama Masaomi Fuyu dan Fuyushogun (Jenderal Musim Dingin) mungkin terlihat mirip secara tulisan, namun Masaomi hanyalah seorang bawahan yang tidak terlalu tahan terhadap dingin. Meskipun ia lahir di musim dingin dan berulang tahun tepat di malam Natal, ia tidak cukup tangguh; saat Sinterklas mulai memanaskan mesin rusa kutubnya, Masaomi sudah lebih dulu tertidur lelap.
Meski begitu, alasan ia rela "berekspedisi" ke kelas tiga melewati lorong sekolah yang dingin adalah karena ada Hibari tersayang di sana. Ia juga rela membawa mantel ke atap sekolah demi Hibari. Termasuk memilih syal yang sengaja dibuat panjang dan tebal untuk mereka lilit berdua. Para kekasih di ambang Natal ini tidak menyisakan celah sedikit pun untuk melewatkan akhir tahun yang datang begitu cepat agar terasa lebih hangat dan ceria.
"Tiap hari rajin amat kau antar-jemput kayak suami zaman dulu. Mesra banget sampai bikin aku mau nangis," ujar Keiji menyindir.
"Jangan kesepian cuma gara-gara Kasuka nggak ada terus," balas Masaomi enteng, seolah bersikap tangguh, padahal kenyataannya perasaan mereka masih jauh dari kata "mesra".
"Ya, ya, jemputan rutin datang nih—. Si 'Pria Terlambat' ini ternyata setia dan awet juga ya. Kayak anak anjing, atau lebih tepatnya keras kepala. Akhirnya temenan juga sama pengisi suara itu, ternyata kau jago ngerayu juga ya?"
Begitu Masaomi muncul di depan pintu, Kajiura entah siapa pun itu namanya langsung memanggil Hibari tanpa diminta. Meski cukup membantu menghemat tenaga, Masaomi berharap perempuan itu berhenti memberikan komentar tidak perlu setiap saat. Lagi pula, terlepas dari kepribadiannya, mulut perempuan ini terlalu pedas. Jika ia tidak terbiasa menghadapi Hinata, ia mungkin sudah akan meledak.
"Woi, Perempuan Mendung Musim Hujan, pacar tersayangmu sudah menunggu nih—? Sana, minta dimanja-manja sepuasnya."
"...Eh? Ah, iya. Terima kasih, Kajiura-san. Kamu tidak perlu repot-repot menjadi pembawa pesan setiap hari. Aku bisa berjalan normal kok."
"Normal, ya...?"
"Apa maksudmu?"
"Yah, emang sih 'normal'. Belakangan kau nggak pernah lagi ngomongin soal Astral-astralan gitu. Cuma kayak perempuan murung biasa. Kurang ada sifat menyebalkan yang bikin orang kedinginan kayak, 'Aku cantik tapi emang ada hubungannya sama kau?', gitu. Ayo dong, coba kau hina aku atau pandang rendah aku."
Hibari hendak membalas, namun ia ragu. Biasanya, ia akan membalas dengan kata-kata "gelombang aneh" yang berlebihan, namun kali ini ia hanya tersenyum lemah seolah kehilangan semangat hidupnya.
"Mungkin aku salah paham, tapi apakah kamu sedang menyemangatiku? Terima kasih atas perhatiannya."
"...Jelas-jelas salah paham lah. Kau beneran orang yang sama? Nggak seru ah kalau nggak ada perlawanan~"
Kajiura mengangkat bahu dengan berlebihan lalu segera bergabung dengan kelompok siswi lainnya.
Masaomi mulai berpikir bahwa mungkin perempuan itu hanya ingin diperhatikan saja, karena ia tidak tahu apa tujuan sebenarnya. Kenyataannya, hampir tidak ada siswi lain yang menyapa Hibari selain Kajiura. Dalam arti tertentu, bisa dibilang dia lah yang menjaga hubungan sosial Hibari tetap ada. Meskipun Masaomi sama sekali tidak merasa berterima kasih padanya.
"Ayo jalan, Hibari."
Aku mengajak Hibari pergi ke atap sekolah. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ia sedang menyeret beban timah yang sangat besar saat menghampiriku.
Langit musim dingin tampak begitu jernih hingga Gunung Kutsuna yang megah bisa terlihat di kejauhan, dan tempat-tempat yang terpapar sinar matahari terasa cukup hangat. Karena itulah, belakangan ini tempat favorit kami bukan lagi di balik bayangan tangki air yang sering kami datangi saat musim panas, melainkan duduk di atas beton pembatas yang menopang pagar besi.
Aku memakan bagel polos seperti biasanya, sementara Hibari membuka kotak bekalnya; kami berdua makan dalam keheningan. Biasanya ini adalah saat-saat kami bersanding sambil mengobrol santai, namun kini hanya aku yang merasa keheningan ini terasa menyesakkan. Pastinya, Hibari yang sekarang bahkan tidak punya ruang di hatinya untuk memikirkan hal itu.
Hal ini disebabkan karena sejak malam festival budaya—hampir sebulan lamanya—ia tidak bisa lagi melakukan dive ke Astral Side. Tepatnya, sebelumnya pun ia memang sering terpaksa melakukan dive-out, dan setiap kali itu terjadi ia selalu mengeluh.
Bagi Hibari, itu adalah dunia penting tempat ia menghabiskan separuh hidupnya. Tidak bisa melakukan dive ke Astral Side sama saja dengan kehilangan separuh dari dirinya—bahkan mungkin lebih dari itu, hal ini sangat memengaruhi kondisi fisik dan mentalnya. Namun, karena sebelumnya gangguan itu hanya bersifat sementara, stres yang ia rasakan masih dalam batas wajar.
Ini pasti pertama kalinya ia tidak bisa melakukan dive dalam jangka waktu yang begitu lama, dan penderitaan mentalnya pasti tak terbayangkan.
"...Maafkan aku."
"Kenapa tiba-tiba minta maaf? Hahaha, jangan-jangan kamu sebenarnya sedang mengincar syal ini ya?"
Dengan nada bicara yang sengaja dibuat bercanda, aku melilitkan syal panjang yang kupegang ke leher Hibari, merangkulnya dengan lembut. Seolah ingin mendekatkan hati kami, bukan hanya raga kami. Aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa tersenyum dengan baik saat ini, tapi di hadapan gadis yang sedang murung ini, aku bertekad kuat untuk tidak ikut tenggelam dalam kesedihan.
Kali ini, terdengar bisikan kecil, "Terima kasih."
"Aku selalu... membuat Masaomi-kun repot karena harus terus menjagaku, ya."
"Entahlah. Aku ini tipe orang yang kurang peka, jadi aku sendiri nggak yakin tindakan mana yang benar-benar bisa disebut sebagai 'perhatian'."
"Aku juga... tidak percaya diri. Jika Astral Side menghilang, aku pasti tidak akan punya daya tarik apa pun lagi."
"Cara bicaramu seolah-olah Astral Side adalah sumber utama daya tarikmu saja. Aku malah kaget dengarnya. Bagiku, kamu menarik ya karena kamu adalah Hibari. Aku selalu berpikir begitu."
"Meskipun aku ini orang yang sulit bergaul, membosankan, dan hanya gadis biasa—yang bukan 'gelombang aneh' atau apa pun itu?"
"Tentu saja. Jangan remehkan aku. Lagipula, kecantikan wajah dan kakimu itu nggak berubah, kan?"
Hibari sekali lagi mengucapkan terima kasih. Namun, rasanya itu bukan berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Tetap saja—jika tidak ada Astral Side, aku rasa Masaomi-kun pasti tidak akan memilihku. Ketidakpercayaadirianku itu maksudnya seperti itu. Masaomi-kun bilang kamu suka penampilanku, tapi kamu pasti tidak akan menyatakan cinta kepadaku seperti waktu itu, kan?"
Aku tidak bisa membantahnya. Namun, pengandaian itu tidak ada artinya. Karena kenyataannya, saat ini Masaomi sedang memilih Hibari.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengeluh seperti ini... tapi, setiap kali aku ingin pergi ke Astral Side dan menyadari bahwa keinginan itu tidak bisa terwujud, hatiku terasa semakin lama semakin berat. Aku bisa merasakan tombakku patah, sayapku patah, dan sesuatu yang menjadi inti di dalam diriku perlahan-lahan ikut patah. Padahal ada Masaomi-kun di sini... Padahal kamu ada begitu dekat di sisiku dan terus memperhatikanku. Padahal dulu aku sempat berpikir bahwa aku bersedia menukar Astral Side asalkan bisa berada di samping Masaomi-kun sebagai kekasih yang 'normal', tapi ternyata...!"
Hibari gemetar hebat, tangannya mencengkeram jepit rambut berbentuk sayap miliknya dengan sangat kuat.
Saat kejadian di liburan musim panas lalu, Hibari meminum obat baru dari Keiji dengan harapan bisa menjadi "kekasih normal" bagi Masaomi. Itu adalah masa depan yang ia pilih dengan tangannya sendiri, meskipun saat itu ia terpojok karena mengetahui hubungan palsu akibat batsu game, dan sadar akan risiko terjebak di Astral Side selamanya.
Bisa dibilang, kondisi sekarang adalah hasil dari pilihan itu—masa depan di mana penyakit koma kronisnya sembuh total berkat obat tersebut. Namun bagi Hibari, Astral Side adalah dunia yang selalu ada tepat di sampingnya. Setelah hubungannya dengan Masaomi dibangun kembali, ia menyadari bahwa ia bisa tetap berada di sisi Masaomi sebagai "kekasih yang tidak normal" sambil tetap mempertahankan Astral Side. Kini, ia tidak bisa menerima kehilangan itu begitu saja.
"Aku wanita yang serakah, ya. Aku malah tantrum hanya karena tidak bisa memiliki Masaomi-kun dan Astral Side sekaligus. Pantas saja Masaomi-kun bilang aku ini kekasih yang 'makan banyak kuota'. Bukankah biaya perawatanku terlalu buruk?"
Meski aku merangkul bahu Hibari yang semakin terperosok ke dalam lubang kebencian pada diri sendiri, aku merasa tidak bisa menghangatkan hatinya. Ada keyakinan menyedihkan dalam diriku bahwa kata-kataku saat ini tidak akan bisa menjangkau hingga ke sela-sela hati Hibari yang terdalam.
—Namun, tetap saja.
"Aku akan selalu ada di sampingmu. Entah ada Astral Side atau tidak, apa pun versimu nanti. Karena aku adalah seorang 'Guardian' yang hebat. Menghadapi 'gelombang aneh' yang memakan banyak Giga saja bukan masalah besar bagiku."
"Iya," Hibari mengangguk kecil. Sudut bibirnya sedikit terangkat—ia tersenyum dengan raut wajah yang tampak kesepian.
"Mungkin karena kamu terlalu baik, aku jadi menjadi lemah seperti ini... Maaf. Lupakan saja yang tadi."
"Kamu cuma lagi capek saja untuk sementara. Anggap saja Astral Side lagi ada maintenance, santai saja—. Tapi, kalau kamu memang jadi lemah, itu malah jadi alasan kenapa aku harus makin melindungimu, kan?"
Sesosok "Noble Lark" di Astral Side maupun Sasuga Hibari di Material Side, dalam idealismenya, pasti tidak ingin hanya dilindungi secara sepihak oleh Masaomi. Namun di saat ia tidak bisa menyelamatkan dunia, satu-satunya hal yang bisa Masaomi lakukan hanyalah melindungi hati Hibari.
"Masaomi-kun, bahkan jika Astral Side menghilang, kamu tetap secara normal—"
"Hibari-senpai! Dan juga Masaomi-senpai!"
Tepat saat Hibari hendak mengatakan sesuatu, Kanae muncul menyeruak ke atap sekolah.
"Ah! Kalian memakai syal berdua saat aku tidak ada, ya?! Ayo, Masaomi-senpai, minggir sedikit! Itu tempat dudukku!"
"Harusnya kamu yang tahu diri, Kana. Kamu kan tipe orang yang bisa membaca situasi," balas Masaomi.
"Justru karena aku bisa membaca situasi makanya aku begini! Aku tidak boleh membiarkan sahabat karibku disalip begitu saja!"
Belum sempat Masaomi menjawab, Kanae sudah mendorongnya dan menduduki tempat di samping Hibari. Ia mengedipkan mata ke arah Masaomi tanpa terlihat oleh Hibari—itu bukan ancaman akan memberikan tebasan pedang, melainkan isyarat bahwa ia sengaja berlagak konyol demi menghibur Hibari.
Kanae pun seharusnya sudah tidak bisa lagi melakukan dive ke Astral Side. Namun, karena sahabatnya, Tsubaki, tidak terlalu terobsesi dengan dunia tersebut, Kanae tidak terlihat begitu terpukul seperti Hibari. Justru karena ia menyempatkan diri datang demi menghibur Hibari, Masaomi merasa sangat berterima kasih dari lubuk hatinya. Ternyata keputusannya mempertemukan Hibari dan Kanae adalah langkah yang tepat.
"Hibari-senpai, waktu dansa melingkar kemarin, senpai sempat ciuman sembunyi-sembunyi dengan Masaomi-senpai, kan? Bagaimana rasanya? Apakah dia ahli? Apa poin pengalaman senpai sudah cukup untuk berubah kelas dari Malaikat menjadi Dewi?"
—Aku tarik kembali kata-kataku. Sepertinya aku sedikit menyesal telah mempertemukan mereka.
"Ciuman itu... aku tidak tahu apakah dia ahli atau tidak karena tidak punya perbandingan, tapi aku merasa sangat bahagia."
"...Wah, tidak kusangka aku akan mendapat serangan balik yang begitu telak. Masaomi-senpai, tolong tanggung jawab."
"Bukankah ini cerita yang kamu mulai sendiri?"
Masaomi menjawab sambil menatap tajam ke arah Kanae. Malahan, mendengar ulasan sejujur itu membuat Masaomi merasa malu dan ingin bersembunyi saja, tapi ya, selama Hibari bahagia, tidak masalah baginya.
"Mana perginya sosok Kana yang dulu begitu bersemangat ingin merebut Hibari dariku? Coba buat dia tersenyum."
"Akhir-akhir ini aku kehilangan rasa percaya diri... Ternyata mencintai milik orang lain itu hampa, ya..."
Masaomi merasa pusing karena semua orang di sekitarnya mulai kehilangan kepercayaan diri. Mungkin memang begini realitas di Material Side, berbeda dengan Astral Side di mana seseorang bisa memaksakan kehendak melalui idealisme mereka.
"Tapi Masaomi-senpai, aku sudah berusaha sekuat tenaga. Lagipula, tolong katakan kalau Kana itu manis."
"Ah, iya, iya, Kana juga manis, sangat manis. Kalau Hibari mengizinkan, aku akan menjadi penggemarmu di kehidupan dua tingkat setelah ini."
"Berarti ditunda satu masa kehidupan, dong?! Seberapa kasar senpai ingin memperlakukanku?!"
"...Kalian berdua, terima kasih."
Tampaknya sandiwara untuk menghibur Hibari itu sudah terbongkar karena terlalu dibuat-buat.
Masaomi dan Kanae saling menatap sejenak dan menyimpulkan untuk tidak menekan lebih jauh. Meskipun dipaksakan, perasaan Hibari tidak akan pulih secara instan, apalagi hal itu tidak akan mengubah keadaan di Astral Side.
"Ngomong-ngomong, Tachibana-senpai masih sering absen, ya. Orito-senpai selalu terlihat cemas dan mudah marah. Ternyata dia orang yang gampang merasa kesepian, ya."
Pengalihan topik yang dipaksakan itu pun merupakan bentuk perhatian dari Kanae. Masaomi pun memutuskan untuk mengikuti alur pembicaraan tersebut tanpa ragu.
"Begitulah. Kadang dia masuk sebentar, lalu absen lagi."
Setelah festival budaya, Masaomi sempat merasa lega karena Kasuka mulai bersekolah lagi, namun dalam satu atau dua minggu ia kembali jatuh sakit. Keiji telah berusaha keras mencari tahu gejalanya, namun tampaknya ia tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Karena Kasuka sendiri bersikeras ingin sekolah meski kondisinya limbung, mereka justru harus memaksanya untuk beristirahat. Keiji sempat mengeluh bahwa hal semacam itu seharusnya adalah tugas orang tua.
Melihat kejadian ini, Masaomi mulai menduga bahwa lingkungan keluarga Kasuka sepertinya cukup rumit. Namun, karena Kasuka sendiri tidak pernah mengeluh, hal maksimal yang bisa dilakukan Masaomi hanyalah rutin menghubunginya. Jika sesekali ada balasan, ia merasa lega karena setidaknya temannya itu masih hidup.
"Aku juga khawatir soal Kasuka, tapi memang tidak banyak yang bisa dilakukan."
"Benar juga. Apalagi Orito-senpai sudah mengurusnya dengan begitu telaten. Anu, Masaomi-senpai—apakah itu artinya mereka...?"
"...Entahlah."
Jika pertanyaan Kanae bermaksud menanyakan apakah ada perasaan cinta di antara mereka, Masaomi pun tidak tahu. Setidaknya, tidak diragukan lagi bahwa mereka berdua saling peduli, dan baginya itu sudah lebih dari cukup.
Sebagai salah satu bagian dari "Trio Bodoh", Masaomi cukup mempercayai si pria kaku, Keiji.
Meskipun ia mendengar dari Kanae bahwa tugas OSIS sudah agak mereda setelah festival budaya, Masaomi kehilangan jejak Keiji segera setelah pulang sekolah, sehingga ia memutuskan untuk meneleponnya. Ternyata Keiji sedang dalam perjalanan menuju kamar rawat Nagi.
『Soal Kasuka, untuk saat ini tidak ada yang bisa kulakukan.』
Suara Keiji yang keluar dari ponsel menunjukkan perpaduan antara rasa sesal dan kepasrahan.
"Maksudmu tidak ada yang bisa dilakukan adalah tidak ada cara lagi?"
『Kalau saja dia mau dirawat di rumah sakit keluargaku, semuanya bisa diatur. Tapi, pihak sana tidak mengizinkannya.』
Nada bicara Keiji menunjukkan bahwa ia sudah mencoba berbagai cara namun berakhir dengan kegagalan.
Meski sudah bersusah payah menelepon, ternyata anak dokter ini tidak berguna sama sekali—tentu saja Masaomi tidak berniat untuk benar-benar bersikap kasar seperti itu. Kenyataannya, ia tahu bahwa Keiji hampir tidak pernah benar-benar menganggur. Entah itu urusan OSIS atau menjenguk adiknya, ia selalu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi tujuannya. Jika itu demi Kasuka, ia pasti sudah berusaha mati-matian lebih dari yang bisa dibayangkan oleh Masaomi.
Jika Keiji sendiri sudah memutuskan bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, maka membalikkan keadaan tidak akan semudah itu bagi Masaomi.
"Ngomong-ngomong, Kana bilang, apa kamu suka Kasuka? Apa kamu sedang jatuh cinta padanya?"
『...Apa kalian hanya bisa membangun hubungan manusia melalui urusan asmara saja?』
Terdengar suara yang terdengar sangat jengah dari seberang telepon. Ya, seorang pria kaku memang akan bereaksi seperti itu. Masaomi pun bukannya benar-benar memikirkan "hal semacam itu". Hanya saja, ia sempat terpikir, jika Keiji benar-benar memikirkan "hal semacam itu", masa depan seperti itu mungkin saja bisa terjadi.
『Pokoknya, nanti aku akan menimbun Saeki dengan segudang pekerjaan tambahan. Aku sudah bisa membayangkan wajah tangisnya. Sialan.』
Masaomi tidak begitu paham bagaimana seorang pengurus biasa bisa melimpahkan pekerjaan pada Wakil Ketua OSIS; struktur kekuasaan di OSIS memang agak membingungkan. Kasihan memang nasib Kanae yang masa depannya akan dipenuhi pekerjaan remeh, tapi ya, itu bukan urusannya.
『Terlepas dari urusan asmara, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Kasuka. Lagipula, topik utamamu adalah soal Sasuga, kan? Soal koma—maksudku, dia tidak bisa melakukan dive, kan?』
"Iya. Sepertinya hal yang sama terjadi pada Kana dan Kasugano-san, tapi bagaimana dengan adikmu?"
『Sepertinya dia sudah merasakan sesuatu yang aneh. Sejak sebelum festival budaya, dia sudah tidur cukup lama. Baru kemarin dia bangun, lalu dia menyuruhku ini-itu karena tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan tepat saat dia akhirnya mau tidur lagi—dia malah tantrum.』
Artinya, dia tidak bisa melakukan dive kembali. Jika itu adalah tantrum dari seorang adik yang merupakan titisan dari tirani, pastinya itu akan sangat mengerikan. Meski Masaomi belum pernah bertemu dengannya di dunia nyata, ia bisa membayangkan bagaimana Keiji merasa muak menghadapi amukan adiknya itu. Bagaimanapun juga, adik perempuan sering kali menjadi makhluk yang tidak bisa dikendalikan oleh kakak laki-lakinya.
"Baru kemarin, ya... berarti dia tidak kehilangan kemampuan dive di waktu yang sama dengan Hibari. Ternyata ada perbedaan individu."
『Katanya sejak dulu dunia di sana memang sudah aneh, seperti dipaksa bangun secara mendadak. Itulah sebabnya, meski bukan seperti menahan napas di dalam air, dia sempat menyatakan akan "menimbun tidur" sebagai persiapan.』
Singkatnya, sepertinya dia sengaja berusaha agar tidak melakukan dive-out. Benar-benar seorang diver veteran. Intuisi dalam hal itu jauh lebih tajam dibandingkan Hibari, dan terbukti instingnya itu benar.
『Para pasien dengan gejala berat tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari koma. Intinya, sepertinya sekali kau keluar, kau tidak akan bisa kembali lagi. Ini berarti ada kelainan di suatu tempat dalam proses dive para pasien CCD.』
"Tapi kau tidak tahu di mana kelainannya."
『Begitulah,』 jawab Keiji sambil menghela napas. Sepertinya dia pun sudah angkat tangan.
『Ada beberapa hal terkait CCD yang sedang kucoba tes, tapi di tengah banyaknya kekacauan seperti ini, hasilnya tidak bagus. Aku ingin segalanya segera kembali ke "keseharian yang tenang", tapi...』
Ada jeda sejenak untuk bernapas. Masaomi, yang sudah lama berteman dengan Keiji, tahu bahwa itu adalah bentuk perhatian dari sahabatnya.
『Sasuga... dia cukup terpukul, kan?』
"...Ya, begitulah."
『Nagi, baik atau buruk, sudah belajar cara melampiaskannya. Tapi Sasuga itu terlalu "sopan". Aku malah akan lebih tenang kalau dia bisa meledak dan menghancurkan segalanya tanpa mempedulikan penampilan.』
—Terlalu sopan, ya.
Itu adalah deskripsi yang sangat tepat. Dari kejadian musim panas lalu, Masaomi sangat paham bahwa stres Hibari cenderung terpendam ke dalam. Keceriaannya saat festival budaya pun mungkin merupakan semacam reaksi timbal balik.
『Yah, tapi buat "Guardian"-sama, kata-kataku tadi mungkin cuma angin lalu.』
"Tidak, hal seperti itu justru harus terus ditanamkan di dalam hati. Aku menerimanya dengan senang hati."
Justru karena itulah, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, Masaomi secara sadar berusaha menghabiskan waktu dan meningkatkan komunikasi dengan Hibari. Ia percaya bahwa itulah satu-satunya jawaban benar yang bisa ia lakukan saat ini.
Sejujurnya ia tidak tahu apakah kondisi Astral Side akan kembali normal. Namun, ia yakin dunia itu belum lenyap.
『Usahakan jangan terlalu menyinggung Sasuga. Dia itu cukup "berat" dalam banyak hal.』
"Tidak perlu kau beri tahu. Bagiku yang agak lamban ini, yang berat-berat seperti itu justru terasa pas."
Setelah melontarkan candaan itu, Masaomi mematikan teleponnya.
Benar, tidak perlu diberi tahu untuk tidak terlalu menyinggung atau menstimulasi Hibari. Justru karena itulah Masaomi—tidak bisa mengatakan kepada Hibari bahwa dirinya masih bisa melakukan dive.
Masaomi berdiri sendirian di tanah Astral Side.
Sebenarnya ia tidak memiliki keterikatan yang kuat dengan Astral Side. Ia hanya bersentuhan dengan dunia ini sebagai tambahan karena kekasihnya, Hibari, menjalani hidup yang berpusat di sana. Meski saat berada di sini ia bisa merasakan euforia dan rasa kemahakuasaan saat memanifestasikan wujud idealnya, baginya itu hanyalah sekadar itu saja. Prinsipnya tetap sama: ia akan melakukan dive jika perlu, dan tidak jika tidak perlu.
"Ternyata memang di sini, ya."
Tentu ada alasan mengapa Masaomi melakukan dive yang sebenarnya enggan ia lakukan ini. Gangguan yang dialami para diver seperti Hibari dan Kanae belakangan ini perlahan-lahan mulai menggerogoti mental mereka, dan pengaruhnya mulai terlihat sedikit demi sedikit. Terutama bagi Hibari, kondisinya bisa dibilang kritis. Timbangan yang selama ini terjaga dengan baik antara Astral Side dan Material Side tiba-tiba miring secara drastis, membuat jiwanya sangat terguncang.
Akar masalahnya ada di Astral Side. Itu sudah pasti. Jika demikian, maka Masaomi, yang entah karena alasan apa masih memiliki sarana untuk melakukan dive, harus menemukan titik terang penyelesaiannya —demi Hibari. Dan Masaomi sendiri pun mengalami fenomena yang aneh.
"Aku bisa melakukan dive seperti ini. Tapi aku hanya bisa dive ke tempat ini saja. Apa maksudnya?"
Meskipun ia tidak memintanya, nama tempat yang mengalir masuk ke otaknya adalah "Kinjyu Seibyou" (Makam Suci Kutukan Terlarang).
Tempat itu seperti sebuah kuil tanpa atap yang dikuasai oleh senja dan keheningan. Di dalam area kuil dan jalan setapaknya, tersebar kerikil hitam legam yang dipoles mengilap seperti cermin.
Setelah menaiki beberapa anak tangga, terlihat sebuah pintu ganda megah yang dikelilingi oleh pilar merah dan putih. Meski tampak bisa masuk melalui celah pilar tanpa lewat pintu, begitulah aturannya—semacam aturan baku layaknya dalam sebuah game, yang merupakan spesialisasi dari Astral Side.
Adalah hal yang konyol jika kita mencoba menuntut logika pada dunia aneh dengan dua matahari yang menggantung di langit ini.
Meskipun aku mencoba mengintip melalui celah pilar, tempat ini begitu luas hingga sejauh mata memandang ujungnya tak terlihat. Hanya karena keberadaan gerbang Torii hitam yang mencolok di kejauhan, aku baru bisa menganggap tempat ini sedikit mirip dengan sebuah kuil. Dalam hal ini, atmosfernya sangat mirip dengan Tempat Pemujaan Farance, lokasi di mana aku pernah bertarung melawan "Wind" dulu.
"Dinding aneh itu masih ada juga, ya."
Keempat sisi area kuil ini diselimuti oleh kabut tipis yang menyerupai awan, membuat pemandangan di baliknya sama sekali tidak terlihat. Ketika aku mencoba menyentuh kabut terdekat, tanganku terpental oleh sensasi kenyal seperti karet; persis seperti area yang tidak bisa dimasuki dalam sebuah video game.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku datang ke sini. Sejak aku mengetahui bahwa Hibari benar-benar tidak bisa lagi melakukan dive, setiap kali aku mencoba melakukannya sendiri, aku pasti mendarat di tempat ini.
Awalnya, aku selalu dipaksa kembali ke Material Side hanya dalam hitungan menit, persis seperti saat "Noble Lark" dipaksa pulang dulu. Aku bahkan bisa merasakan kehendak sepihak yang kuat yang menolak kehadiranku di tempat ini. Namun,
"Aku merasa setiap kali aku datang, udaranya terasa sedikit lebih ringan. Apa kau sudah mulai mau berdamai denganku?"
Aku mencoba bergumam tak acuh, namun aku merasa jawaban itu mungkin tidak jauh dari kebenaran. Jika tempat ini memiliki kesadaran, apakah ia sedang menyambutku, atau justru berteriak pilu memintaku jangan datang? Pertentangan batin yang kontradiktif itu terasa seperti pertengkaran anak kecil yang berebut tempat bermain. Bagaimanapun, intuisiku mengatakan bahwa aku sedang dipanggil oleh seseorang.
Di ujung pandanganku, aku mendorong pintu yang dihiasi pola naga, dan seperti dugaan, pintu itu terbuka dengan mudah.
Di dalam pintu itu terbentang lantai kayu dengan pelitur hitam mengilap. Selain itu, hanya ada tempat lilin yang disusun mengelilingi ruangan dan sebuah gerbang Torii hitam pekat yang ukurannya sangat raksasa hingga aku harus mendongak untuk melihat puncaknya. Jika mengesampingkan kejanggalan adanya Torii di atas lantai kayu, area ini adalah wilayah yang sangat kosong hingga terasa menyedihkan, tidak sebanding dengan ruangannya yang terlampau luas.
Ini lebih terlihat seperti altar persembahan daripada ruang pemujaan. Sebuah tempat yang suci, sekaligus membawa firasat buruk, yang ada hanya untuk menumbalkan sesuatu atau seseorang.
"Sebagai 'Guardian' dengan pertahanan besi, bukan saatnya bagiku untuk takut pada firasat buruk, kan?"
Setiap kali aku melangkah di atas lantai yang terasa seperti berjalan di atas kegelapan, bunyi derit lantai seolah sedang mengancamku. Dengan mengandalkan cahaya remang-remang dari tempat lilin yang bergoyang seakan memanggilku, aku menuju ke pangkal Torii hitam yang menjulang tinggi bak gerbang menuju dunia lain. Jika tidak masuk ke sarang harimau—atau mungkin, ini adalah rahang naga yang sudah terbuka lebar.
Setelah menghabiskan waktu yang terasa menjemukan untuk mendekati Torii hitam itu, sosok tersebut akhirnya muncul seolah memang sudah menunggu.
"Apa itu...? Naga putih?"
Sesosok naga raksasa berwarna putih bersih, yang hanya bisa digambarkan sebagai seberkas cahaya yang menembus kegelapan, melesat keluar dari kehampaan dengan menjadikan ambang pintu Torii sebagai gerbangnya.
Sosok itu tampak seperti dewa.
Sesuatu yang agung, yang melayang dengan tubuh meliuk-liuk berlapis-lapis—seperti sosok yang mungkin bisa mengabulkan permintaan jika kau mengumpulkan bola ajaib misterius. Jika seseorang mengatakan ini adalah bos terakhir dari Astral Side, aku rasa aku akan bisa menerimanya.
Mata birunya yang jernih bertemu dengan mataku.
——Jangan datang dulu. Mengerti?
Sebuah emosi lembut tersampaikan padaku, seperti seorang kakak yang terpaksa menegur adik-adiknya yang sulit dinasihati.
Penjelmaan cahaya yang terbang tanpa suara dan menari tanpa gravitasi. Padahal secara naluriah aku seharusnya gemetar menghadapi eksistensi yang jelas-jelas berada di tingkat yang jauh lebih tinggi ini—namun entah mengapa, aku hanya merasa sosok itu sangat imut.
Ia tampak seperti eksistensi yang diciptakan dari kumpulan doa murni yang diaduk menjadi satu, sosok yang sangat tulus hingga terasa menyedihkan.
"Kau... siapa?"
Pertanyaan itu keluar secara tidak sadar. Tapi aku yakin, itu adalah kehendak seseorang—idealisme itu sendiri.
Naga putih itu meliukkan tubuhnya seolah-olah sedang tersenyum lebar, dan— eksistensi yang merupakan gumpalan mental tersebut menyusut dan memadat menjadi bentuk seorang gadis.
Dengan siluet yang sangat mungil hingga tak disangka bahwa ia adalah seekor naga beberapa saat yang lalu, ia mengenakan pakaian suster berwarna merah putih yang sangat tidak selaras dengan tempat ini, sambil menunjukkan senyum tipis yang tampak rapuh seolah akan segera sirna. Rambutnya yang putih bersih, seolah membawa kesucian yang samar, melambai di belakangnya menyerupai ekor.
Gadis yang mendarat tepat di hadapanku itu bertanya kepada aku yang masih terdiam seribu bahasa.
"Hei—apakah kau punya idealisme?"
Suara itu sangat aku kenali. Namun sebelum sempat menjawab pertanyaan tersebut, aku sudah ditolak dan dipaksa keluar dari Astral Side.
Gelombang dingin akhirnya tiba, dan kabarnya ada prakiraan salju besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dari tengah malam hingga dini hari nanti. Menurut lagu Natal jadul, hujan akan berubah menjadi salju setelah lewat tengah malam, tapi sejauh ini tanda-tanda rintik hujan pun belum terasa.
Karena aku akan mengurung diri di dalam benteng kamar yang dilindungi oleh dinding pemanas dan pelembap udara, hujan deras maupun salju lebat tidak akan terlalu memengaruhi cara kami menghabiskan waktu.
24 Desember. Malam Natal. Meskipun kalender yang tidak berperasaan menunjukkan bahwa hari ini adalah hari kerja, Sinterklas tetap akan terbang di langit seluruh dunia layaknya hujan meteor, anak-anak akan bergegas memakai topeng "anak baik", dan para kekasih akan berbincang soal cinta dengan suasana malam kudus sebagai pelengkapnya. Dan juga, hari ini adalah hari ulang tahun Kusunoki Masaomi.
Khusus tahun ini, ulang tahunku terasa berbeda dari biasanya. Tradisi rutin di mana aku dirayakan oleh keluarga dengan pandangan yang sedikit canggung bersamaan dengan keramaian Natal sudah menjadi masa lalu. Bahkan aku yang biasanya memasang wajah datar pun kini gagal menahan senyum yang mengembang di sudut bibir.
Bagaimanapun juga, Masaomi tahun ini sudah memiliki kekasih, dan kekasihnya adalah seorang gadis yang luar biasa cantik. Terlebih lagi, kekasihnya yang bernama Hibari itu kini sedang bertamu di kamarnya, jadi mohon maklumi wajahku yang terus-terusan tersenyum ini.
"Saya adalah kekasih Masaomi-kun. Nama saya Sasuga Hibari."
“””Terima kasih! Sudah menyelamatkan putra/Onii kami dari kehidupan yang kesepian!”””
Begitulah kira-kira reaksi dari seluruh anggota keluarga Kusunoki.
Hibari sendiri pasti merasa cukup tegang, namun setelah diperlakukan layaknya dewi penyelamat dan dihujani berbagai macam pertanyaan, ia sepertinya mulai merasa konyol sendiri untuk tetap tegang dan segera kembali pada pembawaan dirinya yang biasa. Terutama antusiasme Hinata yang luar biasa; ia bak seekor piranha yang melahap daging segar berdarah saat menginterogasi Hibari demi menggali informasi tentang sisi "budak cinta" Masaomi yang memalukan. Benar-benar sebuah neraka dunia bagi sang kakak.
Setelah makan malam yang lebih awal selesai, dan setelah melewati waktu yang cukup lama hingga membuat Masaomi pasrah akan segalanya, mereka akhirnya dibebaskan. Kini, pesta ulang tahun kecil-kecilan diadakan kembali di kamar pribadi Masaomi.
"Nih, Onii. HBD! Terus, selamat Natal juga! Hibari-san, selamat Natal!"
Hinata, yang entah mengapa ikut masuk ke kamar sambil mengenakan topi Sinterklas, meletakkan sebuah kue whole cake kecil yang sepertinya dibeli dari minimarket di atas meja. Ia merayakan ulang tahun kakaknya dengan nada bicara yang sangat bersemangat. Namun, alih-alih itu merupakan bentuk kepedulian tulus seorang adik yang ingin menjamu kekasih kakaknya, niat aslinya untuk menonton "hiburan berkualitas tinggi" dari kursi barisan terdepan lebih terlihat jelas. Adikku yang hidup demi sensasi siaran langsung ini benar-benar tidak boleh diberi celah sedikit pun.
"Selamat Natal, Hinata-chan. Kuenya kelihatan enak, terima kasih. Sebenarnya aku juga membawa satu, aku tidak yakin apakah kita bisa menghabiskannya..."
"Satu orang satu kue utuh itu terlalu berat bagi Hibari, kalau aku sih tidak masalah. Hinata, nanti aku bagi setengah untukmu."
"Oh, kalau begitu dengan senang hati kuterima....Kalau begitu, aku mau pesta teleponan sama teman-temanku dulu. Ayah dan Ibu juga katanya mau pergi kencan sebentar. Sisanya, silakan dinikmati pelan-pelan berdua ya, pasangan muda. Hibari-san, meskipun kamarnya agak kotor, silakan merasa betah ya. Bagaimanapun juga, ini kan malam Natal?"
Setelah memberikan senyum ramah yang terasa agak mengerikan kepada Hibari, Hinata mendekatkan mulutnya ke telinga Masaomi yang sedang duduk di tempat tidur.
"Boleh saja kalau mau tidur sama Hibari-san, tapi pastikan pakai kontrasepsi, ya? Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab."
Setelah meninggalkan kata-kata yang tidak perlu itu, Hinata keluar dari kamar seperti badai. Masaomi berdalih pada Hibari yang tampak memiringkan kepala dengan bingung bahwa itu bukan apa-apa.
Tak perlu mengkhawatirkan campur tangan adiknya yang usil, karena kakaknya yang tak berguna ini tidak memiliki niat seperti itu—setidaknya untuk hari ini.
Kini yang tersisa hanyalah Masaomi, Hibari, dan aroma manis dari kue tersebut.
Segera setelah Hinata keluar, Hibari seolah melupakan keberadaan kue itu dan bergeser mendekat ke samping Masaomi, menyandarkan bahunya. Bersamaan dengan suara derit tempat tidur, tercium aroma yang jauh lebih manis dan merangsang daripada kue—entah itu berasal dari rambutnya yang disanggul ke atas atau dari parfumnya—yang membuat kepala Masaomi pening. Ini pasti jebakan "racun" Hibari yang diberikan dalam dosis kecil.
Tenggorokan Masaomi terasa sangat kering. Baik daya kerja alat pelembap udara maupun ketenangannya sebagai seorang pria sama-sama tidak mencukupi.
"Masaomi-kun, ternyata kamu benar-benar malu ya. Padahal kalau ekspresimu selalu terlihat seperti itu, kamu akan tampak lebih manis."
Padahal ia sendiri juga malu, tapi Hibari malah menyembunyikan mulutnya di balik lengan sweter putihnya dan mengucapkan kata-kata yang menggoda layaknya iblis kecil. Hibari melakukannya dengan sengaja. Setengah bercanda—dan setengahnya lagi adalah perasaan tulus.
"Hari ini kamu agresif sekali ya. Benar-benar suasana malam Natal. Atau karena ini hari ulang tahunku?"
"...Apakah kamu tidak suka, kalau aku yang seperti ini?"
Hibari berucap dengan suara yang terdengar seperti merajuk sekaligus manja. Serangan mendadak dalam gesturnya itu membuat hati Masaomi tidak tenang.
"Mana mungkin aku tidak suka."
Tentu saja ia suka. Bahkan bohong jika ia berkata tidak mengharapkan perkembangan seperti ini. Jika sepasang kekasih menghabiskan waktu Natal berdua saja—apalagi jika itu Masaomi dan Hibari—ia sudah berkali-kali mensimulasikan dalam benaknya adegan kencan di rumah di mana mereka saling bersandar seperti ini.
Meskipun Hibari masih tidak bisa melakukan dive ke Astral Side, selama Masaomi ada di sampingnya, ia tampak benar-benar normal seperti biasanya. Bahkan ia terasa lebih kaya akan emosi dibandingkan sebelumnya. Ia jadi lebih sering menggoda Masaomi, dan kontak fisik seperti sekarang pun meningkat.
Jika berpikir positif, Hibari tampak sedang berusaha sekuat tenaga untuk menikmati statusnya sebagai "kekasih normal" Masaomi dan mencoba hidup di dunia nyata ini dengan kakinya sendiri. Namun, intuisi Masaomi—sebuah kejanggalan kecil—memberikan sinyal yang berada tepat di tengah-tengah antara peringatan dan lonceng bahaya. Ia merasa seolah-olah sedang membiarkan dirinya hanyut begitu saja dalam gelombang kebahagiaan tanpa bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
"Oh iya, Masaomi-kun."
Mengabaikan kegundahan Masaomi, Hibari bertepuk tangan seolah baru teringat sesuatu.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun."
Hibari tersenyum simpul dengan sedikit malu, lalu menyodorkan bungkusan kado kecil dari tasnya.
"Terima kasih, Hibari....Boleh aku buka?"
Setelah mendapatkan izin "Tentu saja", ia membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Ia sempat merasa waswas sesaat ketika melihat logo merek yang pernah ia lihat, namun yang keluar dari dalam adalah sebuah kalung dengan liontin berbentuk roda mobil.
"Karena ini momen spesial, aku pikir lebih baik memberimu sesuatu yang bisa kamu kenakan. Masaomi-kun pernah bilang tidak punya aksesori, jadi aku harap ini sesuai dengan seleramu."
"Ini kan pemberian darimu. Tentu saja akan kupakai. ——Ternyata aku kelihatan keren juga ya pakai ini."
Kalung tengkorak yang pernah dikritik habis-habisan oleh adiknya akan ia kubur dalam kegelapan, dan ia akan bersikeras bahwa seleranya memang seperti ini sejak awal. Desain roda yang sederhana itu seolah-olah menjadi perisai yang melindungi Hibari, dan itu benar-benar membangkitkan semangatnya.
"Syukurlah," ucap Hibari dengan mata yang menyipit karena tersenyum.
——Baiklah, ini saat yang tepat.
"Kalau begitu, ini dariku. Aku jamin ini pasti sesuai seleramu."
Masaomi pun mengeluarkan kotak kecil yang selama ini ia sembunyikan dan memberikannya kepada Hibari.
"Eh? Hari ini kan bukan hari ulang tahunku."
"Ini kado Natal, kan?"
Mata Hibari membelalak, terlihat jelas bahwa ia sama sekali tidak menduga hal ini.
Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah jepit rambut dengan detail ukiran halus yang menyerupai sepasang sayap. Sebenarnya, itu adalah barang yang dipandangi Hibari dengan penuh damba saat mereka berkunjung ke mal pada kencan pertama mereka.
Waktu itu Masaomi tidak sempat melihat desainnya secara saksama karena terdistraksi oleh harganya, namun saat ia melihatnya kembali, desain ini terasa seperti versi evolusi sejati dari jepit rambut satu sayap yang sekarang dipakai Hibari. Meskipun sayapnya bertambah, desainnya tidak terasa berlebihan dan pasti akan menghiasi rambut Hibari yang indah dengan sangat memesona.
“......Kamu masih ingat? Tapi ini kan harganya......”
“Yah, begitulah. Tapi aku yakin ini pasti sangat cocok untukmu. Jadi, tolong jangan bahas soal harganya.”
Demi kado ini, aku rela melakukan kerja sambilan jangka pendek yang tidak biasa kulakukan, bahkan membantu penelitian Keiji. Kekurangannya pun aku pinjam dari orang tuaku dengan berbagai alasan. Namun, membayangkan Hibari akan sangat menyukainya, semua jerih payah itu tidak terasa berat sama sekali.
“Terima kasih, Masaomi-kun. Aku benar-benar──bahagia. Aku akan menjaganya dan memakainya selamanya.”
Dalam hati, aku melakukan selebrasi kemenangan. Rasanya urusan ulang tahunku sendiri sudah menjadi cerita usang.
Kami berdua saling bertukar senyum sembari mengagumi kado masing-masing. Saat sedang asyik membolak-balik kado tersebut dengan penuh semangat, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Di bagian tengah liontin kalung pemberian Hibari terdapat sebuah cerukan yang tidak biasa. Sementara itu, pada bagian penjepit jepit rambut yang kuberikan, terdapat sebuah tonjolan yang sepertinya akan pas jika dimasukkan ke dalam cerukan tadi.
“Waktu menerimanya tadi aku sempat berpikir, ini merek yang sama, kan? Jangan-jangan......”
Saat aku mencoba menyatukan keduanya, terdengar bunyi klik yang memuaskan, dan sayap serta roda itu menyatu menjadi sebuah motif tunggal. Desainnya menyerupai lambang dari dunia fantasi. Bagi kami berdua yang mengenal Astral Side, hal ini memberikan kesan istimewa yang mendalam—seolah seorang Diver dan seorang Guardian sedang menciptakan satu dunia yang utuh.
“Aku rasa ini bukan sekadar kebetulan kalau kedua barang ini punya spesifikasi khusus.”
“Mungkin konsep mereknya memang sengaja membuat barang pria dan wanita bisa digunakan secara berpasangan. Untuk memberikan kesan eksklusif seperti ini. Tapi, kalau dijadikan aksesori tunggal, rasanya jadi terlalu berlebihan dan berat ya.”
Hibari berkata demikian sambil menatap aksesori yang telah menyatu itu dengan wajah gembira. Senyumannya yang tampak begitu tulus itu saja sudah jauh lebih berharga daripada kado apa pun.
“『Twin Lark: Eternal Vow (Sepasang Sayap : Sumpah Abadi)』──mungkin seperti ini rasanya kalau divisualisasikan.”
“Itu nama jurus kombinasi pamungkas untuk di Astral Side yang pernah kamu sebutkan dulu, kan? Memang benar, nama yang bombastis itu sangat cocok dengan aksesori yang tampak megah dan berat ini.”
“Kamu pasti sedang mengejekku, ya? Aku ini sangat serius, lho.”
“Tidak, tidak mengejek kok. Maksudku, ini sangat cocok dengan kita yang serius dan 'berat'. Nah, ayo kita makan kuenya.”
Sambil terus menempel erat tak kalah dari aksesori tadi dan menikmati dunia milik kami berdua, kami memotong kue dan mengobrolkan hal-hal sepele. Ironisnya, perayaan hari jadi pasangan normal yang bisa ditemukan di mana saja ini justru terjadi saat kemampuan dive ke Astral Side sedang terputus—hal yang dulu sering terabaikan saat kami masih sering terjun ke dunia sana.
Percakapan yang tadinya seolah tidak akan pernah habis, ternyata berakhir lebih cepat dari dugaan. Keheningan yang menyelimuti ruangan kini hanya diisi oleh dua helai napas yang terasa penuh ketegangan. Tiba-tiba, aku teringat kembali pada sensasi ciuman yang basah waktu itu.
Seketika, Hibari menarik kembali senyum lembutnya dan menunjukkan ekspresi yang sangat serius. Matanya yang indah bak batu obsesian menatap lurus menembus mataku. Aku tidak melewatkan fakta bahwa jemarinya sedang menyentuh lembut jepit rambut yang baru kuberikan.
“Masaomi-kun. Tadi apa yang dibisikkan Hinata-chan padamu?”
“......Dia hanya melontarkan lelucon yang sangat tidak sopan. Sebagai kakaknya, aku merasa malu.”
“Oh, lelucon memalukan seperti apa itu?”
“Jangan memaksaku mengatakannya......”
“Beri tahu aku, Masaomi-kun. Aku mohon.”
Entah mengapa, Hibari terus mendesak dengan wajah yang tampak seperti ingin menangis. Masaomi tidak habis pikir mengapa perkataan Hinata bisa begitu menyentuh sisi sensitif Hibari. Namun karena Hibari mendesak sampai sejauh itu, Masaomi akhirnya mengatakannya dengan jujur—masa bodoh dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Karena jika aku bilang aku tidak memikirkannya, itu adalah sebuah kebohongan.
“......Dia bilang, 'pastikan pakai kontrasepsi'.”
Hibari sempat mematung sejenak, lalu pipinya merona merah. Tentu saja Masaomi pun bisa merasakan wajahnya memanas. Rasanya ia ingin menghajar wajah Hinata yang pasti sedang tersenyum sinis karena telah memaksa kakaknya mengakui hal semacam itu secara langsung di depan kekasihnya.
“Ternyata benar, senyum penuh artinya tadi memang bermaksud begitu. Bahwa sepasang kekasih normal seharusnya melakukan sesuatu yang istimewa di malam suci.......Masaomi-kun, apakah setelah ini kamu benar-benar akan melakukan 'hal seperti itu' padaku?”
Kata-kata itu terlontar begitu mendadak, sekaligus terdengar sangat mendesak. Suaranya yang kaku itu bergetar karena ketegangan yang hebat, namun di saat yang sama terasa diselimuti oleh gairah yang panas.
Masaomi menahan napas. Wajah Hibari memerah, menatap lurus ke arah Masaomi dengan sorot mata yang mencampurkan rasa perih dan kepedihan. Itu adalah wajah yang menggoda kekasihnya, mungkin sebuah isyarat untuk meminta kasih sayang.
Namun, Masaomi merasa ada sesuatu yang salah.
Jika diingat kembali, saat ciuman di festival budaya pun, Hibari lah yang memperpendek jarak di antara mereka. Itu adalah saat-saat yang sangat membahagiakan, seperti mimpi yang manis namun getir, hingga Masaomi sempat berpikir seandainya ia bisa lebih memimpin saat itu. Mungkin dalam mencari pasangan tidak peduli apakah itu laki-laki atau perempuan, namun Hibari pasti telah mengumpulkan seluruh keberaniannya, dan Masaomi yakin ia pun seharusnya bisa melakukan hal yang sama.
Sekarang pun begitu. Padahal biasanya ia tidak pernah menunjukkan gelagat seperti itu, tapi sekarang ia tampak begitu gigih seolah-olah hal itu "harus" dilakukan.
Seberapa pun kurangnya kejantanan Masaomi, apakah Hibari yang normal akan bertindak sampai sejauh ini? Dan kalaupun iya, apakah ia akan menunjukkan ekspresi yang penuh dengan rasa sakit seperti itu?
Jika itu adalah Hibari yang normal.
“Aku ingin melakukannya. Jika Masaomi-kun bersedia. Karena hari ini ulang tahunmu, dan ini malam Natal.”
Di balik binar mata Hibari yang bergetar, terpancar sesuatu yang berbeda dari sekadar ketegangan biasa; sebuah kecemasan mendalam dan rasa tidak sabar yang teramat sangat.
——Jika Astral Side menghilang, aku pasti tidak akan punya daya tarik apa pun lagi.
Itulah isi hati Hibari yang sebenarnya, yang pernah ia ucapkan di atap sekolah waktu itu.
Baru sekarang Masaomi merasa akhirnya ia berhasil menarik benang merah dari kejanggalan yang ia rasakan. Ternyata anggapan bahwa Hibari sudah kembali seperti sedia kala adalah sebuah kekeliruan besar—ia hanya memaksakan diri dan mengabaikan perasaannya sendiri karena hari ini adalah hari ulang tahun Masaomi, karena hari ini Natal, dan karena ia adalah seorang kekasih.
“Kado Natal. Karena aku tidak menyiapkannya, setidaknya hanya ini yang bisa kuberikan......”
—Bahkan setelah aku kehilangan Astral Side, mampukah aku sebagai wanita biasa mempertahankanmu di sisiku?
Aku merasa seolah mendengar jeritan batinnya yang tak terucap.
Hibari mencoba membuktikan nilainya dengan raganya. Ia meyakini bahwa tidak ada hal lain lagi yang bisa ia berikan. Kerapuhan yang menyerupai belenggu itu membuat dada Masaomi terasa sesak.
Gakon, sebuah suara bergema di dalam kepalanya. Sudah sangat terlambat. Jika ia tidak bertindak sekarang, untuk apa dia memiliki "Gear" kejantanan?
"Hibari. Maafkan aku ya, sudah membuatmu sangat cemas."
Masaomi memeluk tubuh mungil itu dengan lembut, seolah sedang memegang barang pecah belah yang sangat rapuh.
Anehnya, tidak ada perlawanan sama sekali.
"Aku benar-benar bahagia. Saat Hibari menginginkanku. ...Tapi, untuk sekarang, tidak boleh."
"...Kenapa? Apa benar karena aku... sudah tidak punya daya tarik lagi...?"
"Bukan. Sama sekali bukan itu."
Masaomi membantahnya dengan tegas. Ia tidak ingin Hibari mengucapkan hal semacam itu lagi, walau hanya satu kata pun.
Dengan perasaan berat hati, ia melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Hibari sambil menatap lurus ke arah gadis yang tampak kebingungan itu.
"Apakah saat ini kamu menginginkanku dengan tulus dari lubuk hatimu? Ataukah──kamu ingin bersamaku hanya sebagai pengganti karena tidak bisa melakukan dive?"
"Aku tidak bermaksud begitu—"
Benar, Hibari tidak menginginkan Masaomi demi kepentingan dirinya sendiri.
"Atau, apakah kamu sedang mencoba menguji, apakah dirimu adalah sosok yang benar-benar berharga bagiku?"
Hibari hanya merasa khawatir, apakah Masaomi benar-benar menginginkan dirinya dalam arti yang sesungguhnya.
Hibari hendak membantah sekali lagi, namun ia terdiam dan menahan napas. Sepertinya tebakanku tepat sasaran.
Kehilangan dunia istimewa yang ia bagi bersama Masaomi karena tidak bisa lagi melakukan dive ke Astral Side telah membuat batin Hibari terpojok. Jauh lebih terpojok dari yang dibayangkan Masaomi.
Di dalam benaknya, Masaomi sempat meremehkan nilai dari Astral Side. Mungkin itu adalah sebuah pemikiran logis bahwa seseorang cukup hidup di dunia nyata saja, atau mungkin itu adalah sebuah keangkuhan karena dirinya sendiri masih bisa melakukan dive. Namun bagi Hibari, hal itu tidak sesederhana itu. Ini adalah masalah besar yang membuatnya benar-benar rela melakukan apa saja.
Karena itulah, Masaomi merasa harus mengatakannya.
"Hibari, aku... meskipun waktunya tidak lama, aku masih bisa melakukan dive."
"──Ternyata benar. Aku sudah menduga hal itu."
Di luar dugaan, Hibari mengangguk dengan tenang menanggapi perkataan Masaomi.
"Awalnya, aku pikir Masaomi-kun sudah menerimanya. Bahwa tidak apa-apa meski tanpa Astral Side selama masih ada Material Side. Tapi, cara bicaramu seolah-olah Astral Side masih ada di sana dan kita hanya tidak bisa masuk untuk sementara, jadi aku terpikir kemungkinan itu."
Artinya, ia sudah memprediksi bahwa Masaomi masih bisa melakukan dive. Benar-benar tajam seperti biasanya.
"Maafkan aku, Masaomi-kun."
"Kenapa Hibari yang minta maaf? Seharusnya aku yang mengatakannya lebih awal. Padahal aku tahu, Hibari paling benci jika tidak diberitahu kebenaran yang sesungguhnya."
"Aku tahu Masaomi-kun tidak bisa mengatakannya karena kondisiku yang seperti ini. Agar aku tidak hancur. Aku tahu kamu berhati-hati agar tidak menyinggung soal Astral Side demi menjagaku."
Padahal ia memahami segalanya sejauh itu, namun fakta bahwa Astral Side tidak benar-benar lenyap──hanya sekadar tidak bisa melakukan dive ke sana──ternyata sudah cukup untuk menyiksa Hibari sedalam ini. Mengapa jadi begini? Mengapa ia tidak bisa lagi melakukan dive? Mengapa "Masaomi" yang katanya seorang Guardian ini, dengan kekuatan pelindungnya yang luar biasa kuat itu, tidak mampu melindungi mental Hibari?
"Sangat kejam, ya. Padahal seharusnya itu adalah dunia yang mengabulkan idealisme, tapi bagi manusia yang bersandar pada idealisme tersebut, dunia itu malah menjadi tak terjangkau. Jika akan berakhir seperti ini, lebih baik..."
Hibari menutup mulutnya, namun Masaomi merasa tahu apa yang ingin diucapkannya.
—Lebih baik sejak awal tidak usah diberikan saja.
Itu pasti bukan kata-kata yang tulus dari hatinya. Karena itulah Hibari tidak mengatakannya sampai tuntas. Namun, tetap saja dunia itu adalah inti yang membentuk jati dirinya, sampai-sampai ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh.
"Aku... baik di Astral Side maupun di Material Side, aku akan selalu berada di sampingmu. Hal itu tidak akan pernah berubah selamanya."
Tubuh Hibari bergetar kecil.
"...Kamu curang, Masaomi-kun. Padahal kamu masih bisa melakukan dive. Padahal kamu jauh lebih 'tidak normal' dariku."
"Mungkin saja."
Sambil memeluk Hibari sekali lagi, Masaomi berkata:
"Hibari──kamu tidak perlu menahan diri. Tidak... aku ingin kamu jangan menahan diri. Aku akan menerima segalanya."
Hibari bergetar sekali lagi.
──Aku merasa pesanku telah sampai padanya. Di dalam kehangatan yang diciptakan oleh pelukan Masaomi, pertahanan diri Hibari runtuh sepenuhnya.
"Karena bagiku, tidak ada lagi 'gelombang aneh' yang istimewa! Sudah tidak ada lagi Astral Side yang bisa membawamu keluar dari dunia yang biasa ini...! Jika yang tersisa hanyalah hal-hal biasa, mungkin tidak perlu aku lagi yang ada di sisimu! Jika itu terjadi, aku... aku... jika suatu saat nanti Masaomi-kun menginginkan 'kebiasaan' dari orang lain selain aku, aku tidak akan sanggup menahannya...!"
Ia bicara tanpa sempat mengambil napas. Membenamkan wajahnya di dada Masaomi. Basah oleh air mata yang mengalir tanpa henti.
"Bahkan sekarang pun, hanya aku yang masih memikirkan hal ini dengan penuh penyesalan! Padahal Masaomi-kun tidak pernah berubah, kamu sama sekali tidak memusingkan hal itu. Meski kamu bisa melakukan dive, kamu tetap mendampingi aku yang ada di sini. Kenapa aku hanya memikirkan hal-hal seperti ini? Kenapa perasaanku, hatiku, terasa begitu berat...! Aku benci jika ikatan 'istimewa' yang menghubungkan aku dan Masaomi-kun menghilang...! Aku benci diriku yang 'biasa' tanpa adanya Astral Side!"
Hibari telah melupakan segalanya tentang citra "dirinya yang biasa", dan kini ia menumpahkan seluruh pecahan emosinya kepada Masaomi.
Ikatan bernama Astral Side, sebuah dunia yang normalnya tidak bisa dibagikan dengan siapa pun, kini tengah memudar. Gelombang aneh yang membuat ikatan mereka menjadi istimewa pun mulai sirna.
Hibari sedang menunjukkan bahwa hal itu terasa begitu menyakitkan dan tak tertahankan baginya.
"......Terima kasih, Hibari. Terima kasih sudah mengutarakan perasaanmu. Kamu sudah menahannya sendirian selama ini, ya. Kamu sudah berjuang keras."
Aku tidak tahu harus berkata apa, dan aku menyadari betapa tidak berdayanya sebuah kata-kata. Bahkan separuh dari perasaan yang ingin kusampaikan pun tidak akan sampai. Dunia ini benar-benar tidak ideal, sangat berbeda dengan Astral Side.
Mungkin itulah sebabnya Hibari begitu mendambakan Astral Side. Mungkin Masaomi yang sekarang saja tidak cukup untuk membuatnya merasa tenang.
Meski begitu, setidaknya aku masih bisa terus mendekap Hibari yang sedang menangis tersedu-sedu ini.
"Aku benci dunia di mana kamu tidak ada di sampingku. Jika kamu merasa cemas, tanyakanlah padaku sesuka hatimu. Aku akan mengatakannya berkali-kali. Aku akan memelukmu berkali-kali. Sampai hatimu merasa jauh lebih tenang daripada saat berada di Astral Side."
Mungkin Masaomi memang tidak akan pernah bisa memahami perasaan Hibari dalam arti yang sesungguhnya.
Masaomi adalah kekasih Hibari, dan ia bisa berkata dengan bangga bahwa ia mencintai Hibari versi "gelombang aneh" maupun Hibari versi "gadis biasa". Namun, jika ditanya apakah ia melihat Hibari yang memiliki Astral Side dan Hibari yang tidak memilikinya sebagai sosok yang benar-benar sama, ia tidak memiliki rasa percaya diri untuk menjawabnya. Kenyataannya, Masaomi memang merasakan kejanggalan pada perkataan dan perbuatan Hibari belakangan ini. Itu tidak lain karena ia mulai menerima secara perlahan bahwa bentuk "keistimewaan" yang menghubungkan mereka berdua sedang berubah.
Hibari menyadari hal itu. Ia pasti percaya sepenuhnya dari lubuk hatinya akan kasih sayang Masaomi dan fakta bahwa Masaomi akan menerimanya yang sudah menjadi biasa—atau mungkin justru karena itulah, karena Masaomi selalu ada di sisinya, Hibari sendiri jadi tidak bisa menerima dirinya yang telah kehilangan separuh jiwanya.
"Menjadi lemah karena ada Masaomi", aku rasa maksudnya pasti seperti itu.
Begitu seseorang mengetahui sebuah idealisme yang sempurna, ia tidak akan pernah merasa puas dengan idealisme yang setengah-setengah. Karena itulah, Masaomi—tidak akan melakukan kesalahan lagi.
Baik Hibari yang dulu merasa kesepian karena memiliki Astral Side, maupun Hibari yang sekarang merasa kesepian karena kehilangan Astral Side—apa pun dunia yang Hibari tempati, Masaomi tidak akan pernah menyerah pada idealisme yang sempurna.
"Seberapa pun beratnya, seberapa pun menyesakkannya, jangan pernah merasa sungkan padaku. Lagipula, mengutamakan urusan Astral Side sudah sesuai dengan kontrak seorang 'Guardian', kan? Meskipun kamu tidak bisa lagi pergi ke Astral Side, kapan pun kamu mau, andalkanlah aku. Anggap saja aku sebagai pengganti Astral Side dan terjunlah kepadaku sepuasmu. Setidaknya aku masih berguna untuk menyeka air matamu. Hubungan seperti itu pun sudah cukup terasa aneh dan luar biasa istimewa, bukan?"
"Masaomi, ku, n..."
Hibari pasti tidak ingin wajahnya yang sembap karena air mata terlihat oleh siapa pun.
Namun, aku merasa Hibari yang sekarang, yang telah menunjukkan isi hatinya dengan jujur, tetap terlihat sangat cantik.
"Te, terima, ka, sih."
Masaomi tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia hanya mengelus lembut rambut Hibari yang berbicara dengan terbata-bata. Lalu, ia menyentuh dagu Hibari dengan lembut, mengangkat wajahnya, dan mempertemukan bibir mereka seolah ingin membungkam isak tangisnya.
Itu adalah ciuman yang jauh lebih dalam dan jauh lebih lembut daripada ciuman di bawah kembang api saat festival budaya waktu itu.
"Meskipun tidak ada keistimewaan yang lebih dari ini, saat ini aku sudah merasa puas. Karena aku bisa menghabiskan hari ulang tahunku di malam Natal bersama kekasih yang sangat kucintai."
Setelah Masaomi mengantarnya pulang, Hibari langsung merebahkan diri di tempat tidur kamarnya.
Lampu kamar tidak dinyalakan. Hanya cahaya lampu jalan yang menembus jendela, menyinari ruangan dengan remang-remang.
Sejak ia tidak bisa lagi melakukan dive ke Astral Side, kepalanya selalu diselimuti oleh sesuatu yang menyerupai kabut, seolah-olah menghalangi pintu masuk menuju idealisme. Kabut itu terasa lembap dan sangat berat, hingga berkali-kali ia harus menepis delusi bahwa otaknya mungkin akan berjamur dan membusuk jika dibiarkan begitu saja.
Pipinya yang telah mengering dari air mata terasa perih seperti ditarik, namun rasanya jauh, jauh lebih panas. Mengingat kembali sensasi sentuhan bibir Masaomi, rasa panas itu seketika menjalar ke seluruh tubuh dan meremas jantungnya dengan manis.
"──Aku tidak... ditiduri olehnya."
Saat menggumamkan hal itu, bagian dalam dadanya terasa sedikit perih karena kenyataan tersebut. Ia sudah memakai parfum yang berbeda dari biasanya, mengenakan pakaian dalam baru yang manis, dan bahkan sudah menyiapkan alat kontrasepsi tanpa perlu dihasut oleh Hinata. Tindakan nekat semacam itu seharusnya mustahil dilakukan oleh dirinya yang biasa, namun ia merasa terdesak oleh rasa frustrasi bahwa ia "harus melakukannya".
Apakah daya tariknya sebagai wanita memang kurang? Apakah dirinya yang telah kehilangan Astral Side bukan lagi sosok yang istimewa bagi Masaomi?
——Benih-benih kecemasan itu mulai tumbuh serempak, mencoba menggerogoti hatinya layaknya rantai mengerikan dari Forced Freeze. Namun, ia sekuat tenaga menahannya.
Saat ini, di dalam diri Hibari, telah tertanam sebuah "pasak tak terkalahkan" yang mampu memantulkan segalanya. Perlindungan dari Masaomi yang mendekap jiwa dan raga Hibari yang telah rapuh—kehangatan dari "penghalang" itu—masih tersisa di sekujur tubuhnya.
『Atau, apakah kamu sedang mencoba menguji, apakah dirimu adalah sosok yang benar-benar berharga bagiku?』
Ternyata ia sudah mengetahuinya. Sifat rendahnya, kelemahannya, kecemasannya, semuanya. Rasanya sangat malu dan menyedihkan, hingga wajahnya terasa seperti terbakar. Hibari sudah mencapai batas kesabarannya.
"Aku sendiri pun merasa bahwa aku adalah wanita yang merepotkan," pikirku. Secara logika, aku mengerti bahwa tindakan 'menguji' adalah bentuk ketidaksopanan terbesar terhadap ketulusan seseorang. Namun, tetap saja aku ingin memastikan perasaan sang Guardian—perasaan kekasihku itu.
Meski begitu, ia berkata bahwa aku tidak perlu menahan gejolak emosi yang buruk itu. Ia tidak menyangkal kelemahan maupun keserakahanku. Ia bahkan tidak memandangku dengan rendah.
Ia hanya menerimaku dengan tenang dan lembut. Diriku, "Sasuga Hibari" yang biasa, yang telah kehilangan gelombang aneh, Astral Side, maupun idealisme istimewa bernama Noble Lark.
Ia mendekapku seolah ingin menyaring segala suara selain deru napas dan detak jantung kami berdua, melindungiku dari segala kebisingan yang tidak perlu. Aku merasa seolah-olah "Penghalang Guardian" yang ada di Astral Side hadir di sana.
Kenyataan itu meresap ke dalam sanubariku lebih dari apa pun, menghangatkan hatiku layaknya sinar matahari di musim semi.
"...Jika Masaomi-kun ada, aku akan baik-baik saja. Bahkan jika aku tidak akan pernah bisa melakukan dive lagi."
Benar, mungkin sayapku memang telah patah. Mungkin aku tidak akan bisa lagi terbang bebas sesuka hati di bawah dua matahari itu. Namun, memang ada sesuatu yang tersisa di tangan ini.
Masaomi, sepasang sayap lain yang tak tergantikan. Sang Guardian—kekasih tercinta yang tetap akan melindungi Hibari dan hatinya tanpa berubah, baik di Material Side maupun di Astral Side.
"Asalkan Masaomi-kun berada di sampingku, aku tidak butuh hal lainnya."
Hibari perlahan mengulurkan tangan dan membuka kotak kado yang terletak di atas meja rias.
Di dalamnya terdapat jepit rambut sepasang sayap. Kado Natal yang dipilihkan Masaomi khusus untuknya. Sebuah desain yang seolah menyatukan dirinya yang dulu menyendiri dengan sayap yang mendampinginya, terikat menjadi satu oleh perasaan cinta.
Meskipun ia tidak bisa pergi ke Astral Side, selama ada sayap ini, ia akan selalu bisa terhubung dengan Masaomi.
──Meskipun ia tidak bisa lagi pergi ke Astral Side.
Ia mendekap jepit rambut itu erat-erat di dadanya, meringkuk dalam diam seolah ingin melupakan rasa perih yang menusuk. Beban perak yang berat itu terasa seperti besarnya perasaan Masaomi kepadanya.
Setelah mengantar Hibari pulang dan kembali ke rumahnya sendiri, malam sudah benar-benar larut. Saat Masaomi kembali ke kamarnya dengan langkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara, ia mendapati sosok mencurigakan sedang berkeliaran di depan pintunya. Sosok yang sangat mirip dengan adiknya itu memasang wajah seolah "kebetulan lewat saja", padahal jelas sekali ia sedang mencoba menguping ke dalam kamar.
"Sosok mencurigakan di sana, cepat duduk bersimpuh dengan tenang."
"Aku cuma kebetulan lewat, kok."
"Padahal kamu sudah di sana kira-kira selama tiga menit."
"Sial, ketahuan ya," ucap sosok itu dengan dialog layaknya penjahat, lalu duduk bersimpuh dengan patuh.
"Padahal aku sudah menyiapkan segalanya, tapi kenapa di malam yang suci ini Onii malah berada di luar 'wilayah suci'? Hahaha, jangan-jangan Onii ciut di saat yang krusial, ya? Apa malam ini Onii batal berubah kelas menjadi seorang 'Pahlawan'?"
"Dasar adik tidak sopan. Setidaknya sebutlah ini sebagai 'Rasio Baja'. Seorang pria sejati baru saja berubah kelas menjadi pria sejati yang sesungguhnya. ——Lagipula, seseorang yang memanfaatkan kekasihnya yang sedang lemah tidak layak disebut sebagai pahlawan."
Hinata menunjukkan gelagat seperti sedang menyelidiki, "Hmm?", hingga akhirnya ia tampak mengerti.
"......Ah, yah, kalau diingat-ingat, ekspresi Hibari-san memang agak aneh untuk ukuran orang yang sedang bersuka ria di malam Natal. Seperti ada sesuatu yang mendesak atau sedang dalam krisis. Kalau begitu, aku akui Onii keren juga."
Sambil merasa heran pada adiknya yang memiliki intuisi tajam yang tidak berguna itu, Masaomi mengusirnya dengan lambaian tangan, "Lagipula tidak ada hak asasi bagi seorang pengintip. Kalau tidak mau aku mengadu pada Hibari, sana pergi jauh-jauh." Adiknya pun lari ke kamarnya sendiri sambil mengeluarkan suara rengekan yang dibuat-buat. Benar-benar adik yang berisik.
Masaomi masuk ke kamarnya sambil tersenyum kecut, lalu mengambil kalung pemberian Hibari. Sentuhan logam itu terasa dingin. Beratnya terasa seperti beban ikatan di antara mereka berdua.
──Tidak apa-apa. Aku tidak akan salah lagi. Untuk saat ini, aku ingin menyatukan hati kami lebih daripada menyatukan raga.
Ia merapal doa dalam hati, hanya memikirkan Hibari dengan sepenuh jiwa. Sebelum pernyataan cinta akibat batsu game itu terjadi, ia tidak pernah membayangkan dalam mimpinya bahwa ia bisa mencintai seseorang sedalam ini hanya dalam waktu singkat, sesingkat pergantian musim dari musim panas ke musim dingin.
Di luar jendela, salju akhirnya mulai turun dengan tenang, seolah memberkati malam yang suci tersebut.



Post a Comment