NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V1 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Si Kembar Tampaknya Tidak Mau Kalah dari Pelayan

Sehari setelah serangan──maksudku, kunjungan Takaya Riina. Kediaman Tsubasa sejak pagi tadi tampak tenang.


Pagi ini aku menyantap sarapan buatan Fuuka, dan selama proses memasak tadi, aku sempat dimanja dua kali dengan mulut oleh Yuzuki.


Aku terkejut melihat Yuzuki begitu bersemangat sejak hari kedatangan Takaya. Pagi ini pun, bahkan setelah aku mengeluarkan segalanya, dia terus menghisap dengan gigih seolah tidak mau melepaskannya. Karena rasanya terlalu nikmat, aku pun akhirnya lanjut ke ronde kedua.


Sepertinya kegembiraan Yuzuki setelah bermesraan di depan Takaya belum juga reda. Padahal satu kali saja sudah cukup bagiku, tapi aku merasa seperti sedang dikuras habis oleh Yuzuki yang agresif itu. Lagi pula, saat tadi aku bersenang-senang dengan mulut mereka berdua bersama Fuuka yang sudah selesai memasak, aku cuma bisa bertahan satu kali.


"Fuh... sebentar lagi libur musim panas, ya."


"Omong-omong, Masaki mau bagaimana? Apa mau pulang ke rumah orang tua?"


Setelah dimanja lagi oleh Yuzuki sampai aku merasa tenang, kami duduk di ruang tengah sambil menonton video internet di TV tanpa tujuan yang jelas, lalu Yuzuki yang duduk di sampingku bertanya.


Yuzuki memakai kamisol merah muda dan celana pendek. Sementara itu, Fuuka ada di kamarnya, katanya sedang "melakukan riset". Entah apa yang dia riset.


"Rumah ya... benar juga, sepertinya aku harus pulang sekali. Terlepas dari urusan Ayah, aku harus melihat keadaan Ibu dan Wakaba. Terutama Wakaba."


"Masaki, kamu manja sekali ya pada adikmu."


"Bukannya manja, tapi ya, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."


Adikku, Wakaba, memiliki otak yang seolah-olah ada dua──dia punya dua kepribadian dan bisa menjalankan dua alur pemikiran yang berbeda secara bersamaan. Terlebih lagi, setiap kepribadian itu kabarnya memiliki kecepatan berpikir yang melampaui manusia biasa.


Singkatnya, Wakaba Masaki adalah seorang jenius.


Mungkin tidak sopan mengatakannya begini, tapi dia bukan manusia biasa. Karena dia sendiri tidak suka tampil menonjol, secara lahiriah dia berakting agar terlihat seperti "anak yang lumayan pintar belajar".


Saat ini dia duduk di kelas dua SMP, tiga tahun di bawahku. Penampilannya sangat mungil sampai-sampai sering disangka anak SD. Baik isi maupun fisiknya tidaklah normal, jadi wajar saja jika aku sebagai kakaknya merasa khawatir. Namun, meskipun lawannya adalah Yuzuki, aku tidak bisa sembarangan membeberkan rahasia Wakaba, jadi hanya urusan ini saja yang tetap kusembunyikan.


Jika aku adalah Double Mind, maka Wakaba mungkin bisa disebut Double Brain.


"Aku cuma pernah melihatnya di kedai, tapi adikmu sepertinya anak yang mandiri, kan? Apa ada masalah?"


"Dia masih kelas dua SMP. Orang tua juga sudah kewalahan mengurus kedai, jadi kakaknya lah yang harus mengawasi."


Hanya ini yang bisa kukatakan, maaf ya.


"Kalau mau, ajak saja adikmu tinggal di sini? Memang tidak ada kamar kosong, tapi aku dan Fuuka bisa sekamar saja, lalu satu kamar lagi bisa kami berikan untuk adikmu."


"Jangan konyol, ini kan rumah kalian! Masa aku malah membuat kalian mengosongkan kamar!"


Kakak-beradik keluarga Masaki ini benar-benar tidak tahu diri jika sampai berlagak seperti pemilik di rumah orang lain.


"Ah, benar juga, ya. Kalau ada adikmu, pasti Masaki juga jadi sulit untuk bermesraan."


"......Sejujurnya, itu juga jadi pertimbangan."


Padahal di depan Takaya aku bisa melakukannya dengan percaya diri. Bahkan sampai menyemprotkan puncaknya segala. Tapi, nyaliku tidaklah cukup besar untuk bermesraan dengan dua gadis cantik kembar di depan adikku yang masih SMP.


"Kalau Rii sih tidak apa-apa, tapi kalau untuk anak kelas dua SMP, itu buruk bagi pendidikannya. Kalau begitu, kita beli satu unit lagi saja di apartemen ini. Kalau tidak salah, ada kamar kosong di satu lantai di bawah..."


"Tunggu dulu!"


Gedung ini──Gran Reversia Yomihama──adalah tower mansion setinggi empat puluh lantai. Kabarnya ini termasuk properti kelas menengah bagi keluarga Tsubasa. Meski begitu, unit di lantai teratas ini pasti harganya mencapai miliaran. Bahkan aku yang buta properti pun tahu, unit di lantai bawah sekalipun jika diperkirakan paling murah harganya 50.000.000 yen lebih──


Aku jadi bingung kalau dia dengan entengnya menawarkan "beli satu unit saja".


"Wakaba itu anak yang sulit. Sepertinya dia tidak suka jika lingkungannya diubah."


"Heh, jadi dia tipe seperti itu ya."


Ini bukan bohong. Wakaba menyukai lingkungan rumah kami yang selalu beraroma masakan Tionghoa, dan sepertinya dia paling konsentrasi belajar di kamarnya sendiri. 


Entah ini sifat umum orang jenius atau bukan, tapi dia benci perubahan dan lebih memilih tenggelam dalam lingkungan yang sudah dia bangun selama bertahun-tahun. Dia sepertinya tidak akan tertarik pada apartemen mewah yang nyaman sekalipun.


"Dan yang terpenting, Ayah sangat memanjakan Wakaba. Kalau Wakaba pindah, Ayah pasti akan jatuh sakit dan kedai Shinryu terancam tutup."


"Ahahaha, Papanya Masaki ternyata sayang banget ya sama anak perempuannya. Tapi adikmu memang manis, sih. Wajar saja."


"Ya."


Bahkan tanpa membela keluarga sendiri pun, Wakaba memang manis. Karena penampilannya masih seperti anak SD, dia lebih terlihat seperti keimutan hewan peliharaan daripada sebagai seorang gadis.


"Yah, kalau Masaki punya adik semanis itu, wajar kalau kamu merasa rindu rumah."


"Rindu rumah ya... Aku tidak terlalu merasa ingin bertemu Ayah atau Ibu, sih. Mungkin mereka juga sama."


Bukannya orang tuaku jahat atau aku ini anak durhaka. Hanya saja bagi anak laki-laki kelas dua SMA, hubungan yang agak dingin dengan orang tua adalah hal yang lumrah.


"Meski pulang pun, tidak ada gunanya lama-lama di rumah. Paling dua-tiga hari aku sudah balik lagi. Kalian sendiri bagaimana?"


"Aku sih bakal main sama Rii dan yang lain, lalu Fuuka juga sepertinya bakal main sama teman-teman dari sekolah lamanya, kan? Terus, rumah orang tua... rumah ya... hmmm."


“"Ojou-sama sekalian harus kembali ke kediaman utama."”


"Uwoh!?"


"Ah, Asa, Yuu."


Di sampingku yang terlonjak kaget, Yuzuki tampak tenang. Tanpa disadari, dua orang pelayan sudah berdiri di depan pintu ruang tengah.


"Ka-kalian masuk lagi tanpa suara ya...!"


"Sudah pernah saya sampaikan sebelumnya, seorang pelayan haruslah menjadi bayangan."


"Jika sampai langkah kaki terdengar, itu artinya kami tidak layak sebagai pelayan."


"......Kalau aku sih, lebih pilih langkah kaki kalian terdengar saja."


Itu jauh lebih baik daripada tiba-tiba muncul seperti hantu.


"Lagipula, Asa dan Yuu punya kunci rumah ini?"


““Tentu saja.”“


Salah satu dari pelayan itu──Asa atau Yuu ya?──mengangkat sebuah kartu akses.


“Tugas kami adalah memastikan kehidupan Ojou-sama sekalian berjalan dengan baik.”


“Kami tidak bisa menjalankan pekerjaan jika tidak bisa keluar-masuk saat Ojou-sama sedang tidak berada di tempat.”


Mereka menjawab serempak, lalu bergantian berbicara. Tampaknya, meskipun sama-sama kembar, saudari Tsubasa dan saudari Nagami adalah sesuatu yang berbeda...


Nagami twins ini terlalu mirip, baik penampilan maupun sifatnya, sampai-sampai membuatku merasa canggung.


“Terutama penampilan kalian yang benar-benar identik...”


Asa Nagami dan Yuu Nagami. Kedua pelayan ini juga anak kembar──


Rambut mereka yang terlihat keperakan dipotong sebahu, mengenakan gaun hitam dengan celemek putih. Roknya panjang hingga mencapai pergelangan kaki, tipe seragam pelayan klasik. Mereka juga mengenakan bando putih di kepala dengan rapi. 


Sosok mereka tampak seperti pelayan autentik yang tidak akan terasa janggal jika berada di sebuah rumah besar di Inggris. Mungkin karena paras mereka yang tidak seperti orang Jepang pada umumnya, mereka terlihat sangat berbeda dari pelayan di maid cafe yang biasa ada di TV. Terlebih lagi, mereka memiliki kecantikan yang luar biasa, dengan bentuk tubuh yang tak kalah menawan dibanding saudari Tsubasa. Kecantikan yang memukau, pelayan autentik, dan kembar yang sulit dibedakan; terlalu banyak elemen yang tumpang tindih hingga rasanya membuat kepalaku pening.


“Apakah Anda ingin bisa membedakan kami, Masaki-sama?”


“Ya itu... tidak perlu dipaksakan jika memang sulit.”


Yuzuki dan Fuuka sebenarnya memiliki struktur wajah yang benar-benar sama, hanya saja kesan pertama mereka berbeda sehingga orang sulit menyadarinya. Kecuali warna rambut cokelat dan hitam, hampir tidak ada perbedaan di antara mereka. Sebaliknya, meski warna rambut bisa membedakan saudari Tsubasa, pelayan berambut perak ini tidak memiliki poin pembeda sama sekali. Aku bahkan curiga panjang rambut mereka pun sama persis.


“Ada perbedaan yang memudahkan untuk membedakan kami, namun letaknya di bagian yang tidak bisa diperlihatkan sembarangan.”


“Jika itu Masaki-sama, kami tidak keberatan untuk memperlihatkannya. Apakah Anda ingin melihatnya?”


“Tidak ingin.”


Bagaimanapun aku memikirkannya, itu pasti bukan bagian yang bisa dilihat dengan perasaan tenang. Berbohong jika aku bilang tidak tertarik, tapi aku tidak punya nyali untuk mengatakannya di saat Yuzuki ada di sampingku.


“Begitu ya.”


“Yah, itu tadi cuma bercanda.”


“Candaan macam apa itu!”


Setelah memberikan harapan, ternyata ujung-ujungnya tidak lucu.


“Masaki, tubuh mereka berdua ini benar-benar sama. Bahkan jumlah dan letak tahi lalat mereka mungkin identik.”


“Sepertinya hal seperti itu tidak ditentukan oleh genetik, tapi entahlah...”


Aku bukan pakar genetika atau semacamnya, jadi aku tidak tahu.


“Yah, cara membedakan kalian bukan masalah besar. Jika kalian tidak keberatan, aku pun tidak akan memaksakan diri untuk membedakannya.”


““Baik, Masaki-sama tidak perlu membedakan mana Asa dan mana Yuu.”“


Lagi-lagi si kembar itu bicara serempak. Bahkan jika suaranya ditumpuk dengan mesin pun, kurasa tidak akan bisa seharmonis ini.


“Tapi jarang sekali Asa dan Yuu datang ke sini... ah, sebelumnya kalian datang saat kami sedang tidak ada ya?” 


“Tuduhan yang kurang mengenakkan, seolah-olah kami sengaja mencari celah.”


“Kami adalah bayangan, jadi sebisa mungkin kami tidak menampakkan diri di hadapan Ojou-sama yang kami layani.”


“Lho, Asa-san, Yuu-san. Kalian datang ya.”


Tiba-tiba Fuuka muncul di ruang tengah. Ia mengenakan gaun terusan putih yang tampak sejuk dengan rambut hitam panjang yang dikepang. Sepertinya "riset" yang ia maksud sudah selesai.


““Fuuka Ojou-sama, sudah lama tidak bertemu.”“


“Rasanya belum selama itu... jadi, ada apa? Bukankah tempo hari kalian datang untuk menggoda Masaki-san?”


““Benar.”“


Menggoda? Ternyata pelayan kembar itu pun mengakuinya.


“Hari ini kami datang untuk mengawasi──maksud saya, karena ini libur musim panas, kami datang untuk melayani Ojou-sama.”


“Apa maksudnya melayani karena libur musim panas?” 


“Sejatinya, Ojou-sama sekalian tidak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga.”


“Karena ini libur musim panas, silakan istirahatkan diri dari pekerjaan rumah dan serahkan semuanya kepada kami.”


“Tunggu, tadi aku dengar kata 'mengawasi' lho...”


“Kalian ini, apa sebegitu tidak dipercayanya sampai harus diawasi?” 


Aku menatap wajah Yuzuki dan Fuuka bergantian.


“Itulah sebabnya aku sempat ragu untuk pulang ke rumah.”


“Ah, jadi yang tadi itu maksudnya...”


Rupanya keraguan Yuzuki untuk pulang adalah karena ia takut akan pengawasan dari kedua pelayan ini.


“Aku ingin bebas. Daripada dilayani, lebih baik aku melakukan semuanya sendiri.”


“Yuzuki Ojou-sama sepertinya berniat merampas eksistensi kami sampai ke akarnya ya.”


“Belakangan ini pekerjaan kami saja sudah banyak dirampas oleh peralatan dapur elektronik, ini sungguh menyedihkan.”


Kedua pelayan ini sepertinya sangat bangga dengan peran mereka.


“Tapi serius deh...sepertinya justru Masakil ah yang tidak dipercaya.” 


“Eh? Aku?”


Kenapa tiba-tiba pembicaraannya beralih padaku?


“Benar, kami sampai tidak bisa tidur karena khawatir apakah Anda memperhatikan masalah kontrasepsi.”


“Kami akan kesulitan jika Anda bertindak seenaknya pada Ojou-sama hanya karena mengandalkan masa tidak subur dan gairah masa muda.”


“Tunggu, tunggu! Kenapa pembicaraannya jadi ke sana!?”


Sudah tiba-tiba, mereka langsung menusuk ke topik yang sangat sensitif.


“Cinta saja tidaklah cukup.”


“Cinta adalah cinta, masa tidak subur adalah masa tidak subur.”


“He-hei, dengar ya...!”


Jangan asal bicara soal masa tidak subur. Aku bahkan belum melewati batas akhir, baik dengan Yuzuki maupun Fuuka. Jadi, aku tidak pernah memikirkan soal masa tidak subur atau kontrasepsi.


“Begitu ya, ternyata memang belum ya. Masaki-sama sepertinya memiliki kesabaran yang luar biasa.”


“Cukup mengejutkan, mengingat lawan Anda adalah Ojou-sama yang sangat cantik ini.”


“......Aku bahkan belum bicara sepatah kata pun lho.”


Apa mereka bisa membaca semuanya hanya dari ekspresiku saja?


Sudah melewati batas akhir atau belum, hal semacam itu mana mungkin bisa kuucapkan dengan lantang. Yuzuki dan Fuuka pun hanya tertawa saja, sepertinya mereka juga tidak berniat membeberkan apa pun kepada para pelayan itu.


“Namun, faktanya adalah masa tidak subur tidak menjamin keamanan sepenuhnya.”


“Alat kontrasepsi maupun jenis obat-obatan tertentu pun tidak ada yang seratus persen sempurna.”


“Hei, hei, kalian ini bicara apa sih? Bicara apa!?”


Para pelayan ini benar-benar keterlaluan, seolah-olah tidak ada kata tabu jika sudah membahas masalah seks.


“Selama tidak ada metode kontrasepsi yang sempurna, maka tidak melakukannya adalah pilihan terbaik.”


“Lagi pula, ada banyak cara untuk meredam gairah seksual Tuan Muda tanpa harus melakukan penetrasi.”


“Itu... kalian ini, pemilihan katanya terlalu blak-blakan! Yuzuki, Fuuka, beri tahu sesuatu kepada pelayan-pelayan ini!”


“Hmm, mereka berdua memang sudah seperti ini sejak dulu sih.” 


“Iya, mereka memang sangat tekun belajar sejak dulu.” 


“Belajar apa? Belajar apa sebenarnya!?”


Bukannya pelayan itu seharusnya belajar cara memasak atau bersih-bersih saja?


“Pengetahuan mengenai seksualitas kami pelajari dari internet dan buku, lalu kami ajarkan dengan saksama kepada Ojou-sama sekalian.”


“Berkat itu, kami berdua jadi sangat berwawasan luas meski belum berpengalaman.”


“............”


Pantas saja Yuzuki dan Fuuka punya pengetahuan yang luas padahal mereka sama sekali belum punya pengalaman seksual. Ternyata dua pelayan kembar inilah sumber informasinya──maksudku, guru mereka.


“Namun... kehidupan Ojou-sama sekalian membutuhkan pengawasan.”


“Kami tidak bisa membiarkan kalian begitu saja terus-menerus.”


Si pelayan kembar menatap tajam ke arah kedua majikannya.


“Yah... kalau di rumah utama, memang sudah biasa jika ada pelayan yang siaga dua puluh empat jam setiap hari.”  


“Kehidupan yang luar biasa ya, kalian ini.”


“Wajah pelayan adalah wajah yang paling sering kami lihat, bahkan lebih sering daripada wajah orang tua sendiri.”


“......Sepertinya orang tua keluarga Tsubasa sangat sibuk ya.”


Mereka adalah orang tua yang punya kekayaan cukup untuk memberikan unit apartemen mewah begitu saja kepada anak-anaknya. Di zaman sekarang, seorang direktur atau komisaris sekalipun pasti tidak punya banyak waktu luang untuk sekadar berleha-leha di kantor mewah mereka. Wajar saja jika mereka sangat sibuk hingga jarang bertemu anak-anaknya.


““Ah, maaf kami terlambat menyapa. Salam sejahtera untuk Anda juga, Masaki-sama.”“


“Hah? Baru sekarang menyapa? Tapi, sinkronisasi kalian masih tetap mengagumkan seperti biasanya ya.”


““Ini adalah salah satu keahlian andalan kami.”“


“Jadi itu cuma buat lucu-lucuan!?”


Sedari tadi aku sibuk sekali melontarkan komentar protes. Tapi memang benar, mereka terlalu sinkron sampai-sampai di pertemuan kedua pun aku masih dibuat terkejut.


“Dengan kecantikan seperti ini, status pelayan, kembar, ditambah sinkronisasi sehebat itu, kalian pasti bakal populer kalau masuk TV atau jadi streamer.”


“Nona, pacar Anda berdua berniat menjadikan kami tontonan.”


“Boleh saja, kan? Kami juga sudah di usia yang tidak perlu terlalu diurusi lagi, bukankah sudah saatnya kalian mencari jalan hidup yang baru?” 


“Tidak, Ojou-sama sekalian masih butuh banyak urusan.”


“Tidak, kami akan tetap setia pada jalan hidup lama kami sampai mati.”


Pelayan kembar itu menjawab usul Yuzuki tanpa goyah sedikit pun. Sepertinya Yuzuki, Fuuka, Asa, dan Yuu sudah saling mengenal sejak kecil, jadi percakapan semacam ini sudah menjadi hal biasa bagi mereka.


“Oleh karena itu, Ojou-sama, juga Masaki-sama.”


“Mulai hari ini dan untuk beberapa waktu ke depan, kami akan menginap di sini.”


“Hm? Tunggu sebentar, kalau begitu bukannya kamarnya tidak cukup?”


Rumah Yuzuki dan yang lainnya memang berada di lantai teratas apartemen mewah dan areanya luas, tapi secara jumlah ruangan, ini adalah tipe 3LDKTentu saja, aku, Yuzuki, dan Fuuka masing-masing sudah menggunakan satu kamar pribadi. Aku paham kalau pelayan harus menginap untuk melayani majikannya, dan aku tidak punya alasan untuk melarang, tapi ada masalah fisik di sini.


“Ah, apa aku tidur di sofa ruang tengah saja?”


“Apakah Anda bodoh, Masaki-sama?”


“Bodoh!?”


“Benar.”


Asa atau Yuu──entah yang mana──salah satu pelayan berambut perak itu menatapku dengan tatapan heran.


“Membiarkan pacar Ojou-sama tidur di sofa, meskipun atas persetujuan yang bersangkutan, akan membuat kami gagal sebagai pelayan.”


“Oleh karena itu, kami tidak butuh kamar. Kami akan tidur di lorong.”


“Jangan konyol, mana mungkin aku membiarkan perempuan tidur di lorong!”


Aku memang menumpang di sini berkat kebaikan hati Yuzuki dan yang lainnya. Tapi, membiarkan dua perempuan tidur di lorong akan membuatku gagal sebagai laki-laki. Itu adalah perbuatan yang paling jauh dari nilai "kejantanan" yang selama ini kupegang teguh.


“Maaf, itu tadi cuma bercanda. Sebenarnya, unit di sebelah ini adalah kamar kosong.”


“Eh? Kamar kosong?”


Mendengar ucapan pelayan itu, aku tersentak sadar. Kalau dipikir-pikir, aku memang tidak pernah melihat orang keluar-masuk dari unit sebelah, bahkan tidak pernah merasakan hawa keberadaan siapa pun di sana.


“Jangan-jangan, unit sebelah juga sudah dipesan oleh keluarga Tsubasa...?”


Saat aku menatap Yuzuki dan Fuuka, mereka berdua serempak menggelengkan kepala. Tampaknya Ojou-sama kembar ini pun tidak mengetahuinya.


“Itu sudah sewajarnya. Bagaimana jika ada orang mencurigakan yang pindah ke sebelah kamar Ojou-sama?”


“Karena ini adalah unit ujung, maka tetangganya hanya ada satu. Jika bisa, kami bahkan ingin membeli seluruh unit di lantai ini.”


“Penghuni tidak bisa turun dari lift di lantai selain lantai tempat tinggalnya, jadi demi keamanan, hal itu jauh lebih diinginkan.”


“Jangan bicara sembarangan, Asa. Tidak baik membeli banyak kamar padahal tidak ditinggali. Apartemen ini sangat populer, tahu.” 


“Lagi pula kalau semua kamar dibeli, berarti lingkungan sekitar kita cuma bakal diisi oleh orang-orang keluarga Tsubasa, kan? Itu bakal terasa sangat menyesakkan, Yuu-san.” 


Yuzuki dan Fuuka memanggil nama mereka masing-masing, namun mereka menatap Asa dan Yuu secara bersamaan. Jangan-jangan, Yuzuki dan Fuuka pun sebenarnya tidak bisa membedakan kedua pelayan ini?


“Kami mengerti, karena itulah kami membatalkan niat untuk memborong semuanya. Namun, setidaknya unit di sebelah sudah disiapkan agar bisa digunakan untuk menginap sewaktu-waktu.”


“Kami akan beristirahat sebentar di unit sebelah.”


“Jangan cuma istirahat sebentar, tidurlah yang nyenyak.”


Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kukatakan. Kedatangan dua pelayan ini untuk mengurus kami memang tidak bisa dihindari. Justru tinggal bertiga hanya dengan sesama anak SMA begini yang sebenarnya agak tidak lazim. Lagi pula, sepertinya ini hanya untuk sementara selama liburan musim panas, jadi tidak ada gunanya mengeluh.


““Kalau begitu Yuzuki Ojou-sama, Fuuka Ojou-sama, dan juga Masaki-sama. Mohon kerja samanya untuk beberapa waktu ke depan.”“


Pelayan kembar itu menjepit rok panjang mereka dan membungkuk dengan anggun. Sejujurnya, percakapan yang hanya demi formalitas salam ini saja sudah membuatku sedikit lelah... 


Aku bertanya-tanya, apakah aku bisa bertahan dengan bertambahnya satu pasang kembar lagi di rumah ini?



Ternyata kekhawatiranku itu hanya berlebihan.


“Oh, enak sekali...”


““Terima kasih banyak.”“


Makan siang langsung disiapkan oleh para pelayan. Menu yang tersaji di meja makan adalah Hiyashi Tantanmen. Katanya menu ini dipilih karena aku adalah anak pemilik kedai masakan Tionghoa.


“Sederhana tapi rasanya mantap...”


Tipenya adalah mie tanpa kuah, dengan isian tauge, sawi sendok, dan sedikit daun bawang. Ditambah lagi dengan tumisan daging babi giling yang dimasak perlahan dan teliti dengan bumbu miso daging. Mie yang kenyal dipadukan dengan saus pedas, lalu disiram dengan miso daging dan sayuran sebagai pelengkap. Di atasnya juga ditaburi lada sansho dan irisan cabai merah. Kuncinya adalah mengaduknya hingga rata, dan momen mengaduk ini memberikan sensasi antisipasi yang menyenangkan.


“Sebenarnya, ini pertama kalinya kami membuat menu ini.”


“Kami sudah mencicipinya dengan saksama, tapi apakah menurut Anda terlalu pedas?”


“Tidak, ini benar-benar pas. Menu seperti ini memang harus ada sedikit rasa pedasnya.”


Aku menyantap mie itu dengan lahap. Ini bukan sekadar basa-basi, tingkat kepedasannya memang sangat pas. Aku bahkan merasa mereka sengaja menyesuaikan rasanya dengan seleraku.


“Kedai milik keluargaku hanya menyediakan Tantanmen kuah biasa. Tipe tanpa kuah dan dingin begini sepertinya bakal laku keras kalau dijual di musim seperti ini.”


“Kalau begitu, bagaimana kalau coba masukkan ke menu kedai Shinryu?” 


“Kalau Ayah mertua yang membuatnya, pasti hasilnya akan sangat lezat.” 


Yuzuki dan Fuuka duduk di hadapanku sambil menikmati mie mereka. Cara makan Yuzuki terlihat lahap namun tetap elegan, sementara Fuuka makan dengan teliti tanpa terlihat dibuat-buat; sebuah kombinasi cara makan yang sangat pas.


“Pasti akan sangat laku di musim panas, tapi Ayahku itu tipe yang kalau mengeluarkan menu baru, riset dan pengembangannya bisa memakan waktu bertahun-tahun.”


Meski Shinryu hanya kedai masakan Tionghoa biasa, Ayah sama sekali tidak pernah setengah-setengah dalam memasak. Ayah dan Ibu tidak memiliki kelebihan "luar biasa" seperti aku atau Wakaba, justru karena itulah mereka sangat gigih dalam melakukan riset.


“Pelanggan setia kedai juga cukup konservatif, jadi pada akhirnya Hiyashi Chuka biasa yang paling sering dipesan.”


“Ah, kapan-kapan aku ingin pergi makan Hiyashi Chuka ke sana.”


“Aku juga ingin makan. Pasti akan terasa luar biasa jika dilayani oleh adik perempuanmu. Sesama adik mungkin akan memiliki keterikatan batin tertentu.” 


“Tunggu, Fuuka! Jangan curang dengan membawa-bawa status adik begitu!” 


“Sesekali aku harus memanfaatkan atribut adik, kan?”


“Memangnya atribut adik itu cara pakainya bagaimana...?”


Aku sendiri jarang sekali menyadari siapa yang kakak dan siapa yang adik di antara Yuzuki dan Fuuka.


“Hei, daripada bahas adikku, lebih baik bahas masakan ini. Mumpung Asa dan Yuu sudah susah payah memasaknya, nikmatilah rasanya dengan baik.”


“Aaah... soalnya dulu kami makan masakan Asa dan yang lainnya setiap hari, jadi sudah terbiasa.” 


“Benar, jika Ojou-sama tiba-tiba memuji kami sekarang...”


“Kami justru akan curiga ada maksud terselubung di baliknya.”


“Hubungan majikan dan pelayan yang luar biasa ya...”


Omong-omong, Asa dan Yuu tetap berdiri di dekat meja. Akan lebih enak jika mereka ikut makan bersama, tapi sepertinya sebagai pelayan hal itu tidak diperbolehkan. Bagiku sendiri, rasanya kurang nyaman makan sendirian sementara para pelayan berdiri mengawasi...


“Bicara soal 'dulu', sejak kapan Asa dan yang lainnya mulai mengurus kalian?”


“Asa-san dan yang lainnya datang ke tempat kami mungkin saat kami berumur lima tahun?” 


“Ternyata sudah lama sekali ya.”


“Zaman itu sih bukannya merasa diurus pelayan, tapi lebih terasa seperti punya teman main,” ujar Yuzuki sambil tertawa, disusul anggukan serempak dari si kembar pelayan.


““Ojou-sama sekalian sering sekali menjahili kami.”“


“Menjahili!?”


“Saat bermain petak umpet, Ojou-sama menyuruh sopir menjalankan mobil untuk melarikan diri dari kami.”


“Saat bermain kejar-kejaran, kalian mengejar kami sambil membawa pisau. Meskipun itu pisau mainan untuk masak-masakan.”


“......Permainan kalian klasik sekali ya.”


Aku membayangkan anak orang kaya dan pelayannya akan bermain sesuatu yang lebih kalem di dalam ruangan.


“Dulu kami memang nakal ya.” 


“............”


Bukankah sampai sekarang pun kamu masih cukup nakal? Sangat berani, atau malah... Entah kenapa aku membayangkan pelakunya adalah Fuuka. Aku bisa membayangkan sosok Fuuka kecil mengejar pelayan kembar sambil mengayunkan pisau mainan dengan wajah tersenyum.


“Ada apa, Masaki-san?”


“Ti-tidak ada apa-apa.”


Sepertinya imajinasi kurang sopanku tadi baru saja terbaca. Di bagian seperti inilah Fuuka terasa menyeramkan. Di tengah obrolan hangat itu, makan siang pun berakhir.


“Ya, enak sekali. Benar-benar level masakan yang bisa dijual di kedai.”


“Tidak, memasak dengan penuh cinta hanya terbatas untuk porsi tiga orang saja.”


“Benar, jika memasak untuk orang yang tidak penting, rasa seperti ini tidak akan keluar.”


Sambil membereskan piring, kedua pelayan kembar itu mengucapkan hal yang berbeda secara bersamaan. Eh, tapi secara esensi bukannya sama saja? Ternyata ada juga pola sinkronisasi yang seperti ini ya.


Lebih dari itu, si pelayan kembar menyuguhkan teh Tiongkok hangat kepada kami yang sudah kembali ke ruang tengah. Setelah menyantap Hiyashi Tantanmen, teh ini terasa sangat cocok──identitas pelayan memang lekat dengan citra menyeduh teh, dan rasanya luar biasa enak.


"Kalian sangat peka. Benar-benar profesional."


"Asa dan yang lainnya memang menjalani pelatihan khusus untuk pelayan sungguhan." 


"Mereka hanya setahun lebih tua dari kami, tapi sudah layak bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga terpandang mana pun." 


"Hebat sekali. Aku jadi merasa payah sendiri; nilai pelajaranku cuma lumayan, tidak punya keahlian khusus, tidak bekerja paruh waktu, bahkan urusan rumah tangga kuserahkan sepenuhnya pada kalian."


Apalagi wajah sangarku ini bukan sebuah kelebihan, malah bisa dibilang kekurangan.


"Eh? Masaki-san itu bernapas saja sudah merupakan sebuah pencapaian yang hebat, lho?"


"Itu bukannya malah menghina ya!?"


"Eeh? Padahal aku tulus memuji Masaki-san..."


"Benar. Masaki duduk manis saja, biar kami yang urus semuanya. Ah, apa mau coba pakai dada lagi sekali lagi?"


"Jangan, jangan, jangan!"


Rasanya aku benar-benar menjadi sampah masyarakat. Yah, meskipun apa yang kulakukan memang hampir mendekati itu.


"Ini pembicaraan serius. Orang yang bisa menyayangi sepasang kembar secara bersamaan itu cuma Masaki. Bagi kami, ini adalah sebuah keajaiban."


"Benar. Jika kamu merasa terganggu dengan kalimat 'hidup saja sudah hebat', maka bisa diganti menjadi: kami akan kesulitan jika Masaki-san tidak ada di sisi kami."


"Rasanya tidak jauh berbeda..."


Lagi pula, Double Mind bukanlah sesuatu yang kudapatkan melalui kerja keras. Meski begitu, aku bisa merasakan bahwa Yuzuki dan Fuuka benar-benar tulus menghargaiku. Hal yang bisa kulakukan hanyalah berusaha menjadi manusia yang lebih baik agar bisa memenuhi harapan mereka, setidaknya sedikit saja.


"Lagipula, kemampuan kami pun masih kalah jauh dibanding Asa dan yang lainnya." 


"Bahkan untuk urusan pelajaran pun, Yuu-san dan rekannya lebih pintar dari kami."


"Eh? Benarkah?"


Saat ini, si pelayan kembar sedang berada di dapur untuk mencuci piring. Meski di dapur keluarga Tsubasa sudah terpasang mesin pencuci piring yang besar dan bertenaga, sepertinya mereka memilih mencucinya dengan tangan. Sebagai pelayan, mungkin mereka punya standar sendiri dalam urusan pekerjaan dapur.


"Melalui belajar mandiri di rumah, Yuu-san dan yang lainnya sudah memiliki kemampuan akademik setara lulusan universitas ternama luar negeri."


"Mendapatkan pendidikan seperti itu di rumah saja sudah mengejutkan... ternyata mereka berdua juga sangat cerdas ya."


"Bagi mereka yang melayani putri keluarga Tsubasa, wawasan luas adalah sebuah keharusan. Dulu kami bahkan belajar dari Asa dan yang lainnya. Mereka sangat galak, lho."


"Benar, kalau jawaban kami salah, mereka akan memukul meja dengan cemeti. Itu sungguh menakutkan..."


Tatap mata Yuzuki dan Fuuka menerawang ke masa lalu. Sepertinya mereka tidak sampai dipukul fisiknya dengan cemeti, tapi dibentak sambil melihat meja dipukul saja sudah cukup mengerikan. Malah mungkin terasa lebih menyeramkan dan membuat gemetar daripada dipukul langsung.


"Kalau soal pelajaran sih tidak masalah. Tapi, aku merasa kesal karena kemampuan memasak Asa dan yang lainnya jauh di atas kami."


"Mereka kan memang menjalani pelatihan profesional." 


"Memang benar, tapi meskipun menggunakan bahan dan resep yang sama, kami tetap tidak bisa menandingi mereka..."


"Ah, begitu ya."


Kalau soal itu, aku bisa merasakannya sendiri.


"Mungkin itulah perbedaan dengan profesional. Sebenarnya aku pun pernah mencoba membuat ramen menggunakan bahan-bahan di kedai dan mengintip resep Ayah untuk kuberikan pada Wakaba, tapi katanya rasanya sangat tidak enak sampai adikku itu mengamuk."


"Heh, adikmu yang manis dan terlihat ceria itu bisa mengamuk juga ya?"


"Kenapa cuma bagian itu yang ditanggapi? Pokoknya, perbedaan antara profesional dan amatir itu memang sebesar itu."


Omong-omong, saat membantu di kedai, adikku itu selalu bersandiwara dengan bersikap ceria sebagai gadis maskot. Di depanku dia sangat dingin, tapi dia tidak pernah menahan diri jika ingin menumpahkan kata-kata pedas.


"Ojou-sama sekalian, apakah Anda masih memikirkan hal itu?"


Asa dan Yuu kembali ke ruang tengah.


"Seperti yang dikatakan Masaki-sama, ini hanyalah masalah perbedaan profesionalisme saja. Jadi tidak perlu dimasukkan ke dalam hati."


"Jika kami sampai kalah dari Ojou-sama, maka kami akan kehilangan pekerjaan."


"Jangan bicara sembarangan. Kalau keluarga Tsubasa memecat kalian pun, aku akan tetap mempekerjakan kalian dengan uang saku pribadiku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa kalian?" 


"Benar. dan Yuzu-nee berani tinggal bertiga saja karena kami tahu Yuu-san dan yang lainnya akan datang secara rutin."


"Ucapannya terdengar menyentuh, tapi di saat yang sama terdengar seperti anak manja..."


"............"


Hubungan antara saudari Tsubasa dan pelayan kembar ini memang sulit dipahami, tapi setidaknya jelas bahwa Yuzuki dan yang lainnya sangat bergantung pada mereka. Mungkin alasan Yuzuki ragu pulang ke rumah bukan karena takut diawasi, melainkan karena dia benci pada dirinya sendiri yang selalu berakhir manja pada mereka.


““Kalau begitu Ojou-sama, juga Masaki-sama, mulai sekarang kami akan mulai bekerja dengan sungguh-sungguh.”“


"Eh? Maksudnya?"


Kedua pelayan kembar itu berpose serempak dengan tangan di pinggang dan membusungkan dada.


“Ruang tengah, dapur, lorong, pintu masuk, hingga kamar mandi dan toilet. Kami akan membersihkan seluruh area publik secara menyeluruh.”


“Kami tidak akan menyisakan satu butir debu pun. Ojou-sama dan Masaki-sama silakan kembali ke kamar masing-masing untuk bermesraan.”


"Ber-bermesraan, katamu..."


Setelah apa yang kami lakukan di depan Takaya, sebenarnya sudah terlambat untuk protes, tapi tetap saja rasanya malu jika dikatakan secara terang-terangan begitu.


"Masaki, ikuti saja kata mereka. Kalau mereka sudah mulai berbenah, tidak ada yang bisa menghentikannya"


"Benar, mari kita bersikap manis saja" 


"......Dimengerti."


Kali ini aku menyerahkan seluruh pekerjaan rumah pada kedua pelayan itu. Rasanya aku akan semakin galau memikirkan alasan keberadaanku di sini...



Aku kembali ke kamar dan memutuskan untuk mulai belajar. Saat ini adalah musim panas di tahun kedua SMA, tidak ada kata terlalu dini untuk mulai belajar demi ujian masuk perguruan tinggi──malah bisa dibilang ini waktu yang normal.


Kamarku hanya berisi meja, tempat tidur, dan furnitur minimalis lainnya, tapi itu bukan masalah. Di rumah keluarga Masaki pun kamarku kurang lebih seperti ini. Wakaba sering kali membiarkan buku kumpulan soal dan catatan berserakan di kamarnya sendiri, dan jika sudah merasa terganggu, dia akan memindahkannya begitu saja ke kamarku, tapi aku tidak pernah ambil pusing.


Sepertinya orang tuaku tidak menyadari bahwa Wakaba belajar dengan intensitas yang tidak wajar. Yah, Ayah dan Ibu menghabiskan sebagian besar waktu mereka di kedai. Wajar jika mereka tidak menyadari keunikan putri yang mereka manja itu. Lagipula, Wakaba sangat mahir menyembunyikan jati dirinya di depan orang tua... 


Tapi, mungkin karena tadi aku menceritakan soal dia yang mengamuk, aku jadi terpikirkan tentangnya. Begitu liburan musim panas tiba, aku akan coba mencari tahu keadaannya.


"Nah, belajar, belajar..."


Aku menerjemahkan teks bahasa Inggris yang panjang dengan teliti dan menuliskan terjemahannya di buku catatan. 


Di zaman sekarang, kemampuan bahasa Inggris sangat krusial untuk melakukan apa pun, dan mungkin ini adalah mata pelajaran yang paling tidak akan sia-sia untuk dipelajari. Tidak, memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni adalah keterampilan yang sudah seharusnya dimiliki, sama seperti membaca, menulis, atau berhitung.


Aku tidak berniat meneruskan kedai ramen, dan Ayah pun tidak berniat mewariskannya padaku, jadi aku tidak tahu bagaimana masa depanku nanti. Karena mereka bilang setidaknya akan menguliahkanku, target jangka pendekku adalah mengincar universitas negeri yang berlevel tinggi namun berbiaya murah. Meski saat ini aku bergantung sepenuhnya pada keluarga Tsubasa, aku tidak berniat bergantung pada mereka soal masa depanku. Lagi pula, aku tidak tahu sampai kapan kehidupan seperti ini akan bertahan──


"Maaa-sa-kii."


"Hm?"


Setelah sebuah ketukan, Yuzuki menjulurkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka.


"Ada apa, Yuzuki? Bukannya kamu kembali ke kamarmu?"


"Kembali ke kamar pun tidak ada kerjaan. Hari ini Rii ada latihan menari, dan teman-teman yang lain juga punya urusan, jadi tidak ada gunanya keluar rumah."


"Ah, begitu ya. Takaya sibuk dengan latihan menarinya, ya."


"Dia bakal terus-terusan latihan untuk sementara. Eh, Masaki, lagi belajar ya? Apa aku harus kembali lagi nanti?"


"Tidak, tidak apa-apa."


Aku menutup buku catatan yang tadi terbuka. Faktanya, ini bukan pekerjaan rumah, jadi aku tidak perlu terburu-buru menyelesaikannya.


"Lagipula, masuk saja. Kenapa berdiri di situ terus?"


"Fufuu~♡"


"............?"


Yuzuki menyeringai nakal, lalu──


"Ta-daaa! ♡"


"............!?"


Pintu terbuka lebar, dan Yuzuki yang akhirnya menampakkan diri seutuhnya masuk dengan──


"He-hei, pakaian apa itu!?"


"Seperti yang kamu lihat."


"......Benar juga."


Aku bisa melihatnya sendiri, jadi tidak perlu bertanya lagi. 


Yuzuki mengenakan gaun terusan hitam yang memperlihatkan belahan dadanya, lengkap dengan celemek putih. Roknya pendek, memperlihatkan paha putihnya yang mulus──bahkan ujung roknya bergoyang setiap kali dia bergerak sedikit saja, seolah celana dalamnya akan terlihat kapan pun. Singkatnya, Yuzuki saat ini mengenakan seragam maid.


"Dengar ya... saat ini saja sudah ada dua pelayan di rumah ini, apa perlu menambah pelayan ketiga?"


"Jangan salah, Masaki. Kamu tidak boleh lupa."


"Ah, benar juga. Aku hampir lupa."


Kali ini aku langsung sadar apa yang ingin Yuzuki katakan.


"Maaa-sa-kii-saaan."


"............"


Sudah kuduga, pelayan keempat pasti datang. Si kembar ini adalah Destiny Twins. Tindakan dan pola pikir mereka selalu sinkron. Jika kakaknya, Yuzuki, muncul dengan seragam pelayan, tentu saja adiknya, Fuuka, akan melakukan hal yang sama──


"Ta-daaa! ♡"


Fuuka juga mengenakan seragam pelayan.


Sama seperti Yuzuki, dia memakai gaun terusan hitam yang mengekspos dadanya, celemek putih, dan rok pendek. Ada sedikit perbedaan model; seragam pelayan milik Fuuka terlihat memiliki lebih banyak aksen frill.


"Ternyata Yuzu-nee sudah duluan ya. Aku terlambat."


"Sebagai kakak, aku harus selangkah di depan. Sama seperti Fuuka yang sesekali ingin menunjukkan sisi adiknya, aku pun sesekali ingin menunjukkan sisi kakakku."


"Apa pula itu 'sisi kakak'..."


Mungkin maksudnya aura sebagai seorang kakak. Aku memang agak ketinggalan soal bahasa gaul anak muda atau bahasa internet. Padahal seharusnya aku juga termasuk golongan anak muda.


"Jadi, bagaimana?"


"Bagaimana menurutmu?"


"......Kalian berdua sangat cocok, Yuzuki, Fuuka."


Tentu saja aku tulus memuji mereka. Tak disangka, bidadari pelayan kembar ini turun kembali ke bumi── Belahan dada mereka yang montok terlihat jelas hampir setengahnya. Paha mereka pun terekspos dari balik rok pendek itu. Pita dan renda menghiasi bentuk tubuh mereka yang luar biasa dengan sangat manis. Dibandingkan para pelayan asli yang bergaya klasik, penampilan mereka lebih mirip pelayan di maid cafe atau bahkan lebih mencolok, tapi itu sangat cocok untuk Yuzuki dan Fuuka.


"Kalau dipuji dengan wajah seserius itu, aku jadi malu..."


"Benar... Masaki-san, saat kamu memasang wajah serius, daya persuasinya luar biasa ya..."


Wajah Yuzuki dan Fuuka memerah padam. Padahal mereka tidak malu saat muncul dengan seragam pelayan yang mencolok ini, tapi mereka malah tersipu hanya karena kupuji. Ternyata... memahami perasaan gadis remaja itu memang sulit.


"Kami memang tidak bisa menandingi Asa dan Yuu dalam hal apa pun, tapi..."


"Sebagai pelayan khusus Masaki-sama, kami tidak boleh kalah."


"Jadi itu alasan kalian memakai seragam pelayan lagi?"


Si kembar ini ternyata punya sifat yang cukup kompetitif, ya...


Yuzuki yang tampak galak tentu saja tidak mau kalah, tapi Fuuka pun meski terlihat pendiam sebenarnya punya semangat bersaing yang kuat.


"Tapi ya, kalau pelayannya semanis ini, mau muncul berapa kali pun aku tidak keberatan. Malah, aku ingin kalian sering-sering 'turun ke bumi' seperti ini."


"Duh, kamu terlalu banyak memuji! Memangnya kalau sudah dipuji begitu, kamu mau menyuruh kami melakukan apa?"


"Be-benar... meski dipuji, yang bisa kami lakukan paling hanya hal-hal erotis saja!"


Bukk, Yuzuki memukul bahuku, sementara Fuuka memukul dadaku pelan. Keduanya sama sekali tidak sakit, sepertinya itu hanya cara mereka menutupi rasa malu.


"Lalu, mau bagaimana? Apa hari ini... kami harus memberikan pelayanan kepada Tuan Besar?"


"Tentu saja harus begitu. Kami akan menunjukkan bahwa meskipun kami pelayan gadungan, kami bisa memberikan pelayanan yang asli."


"Hei, hei, langsung ke sana! Tapi dengar ya... Asa dan Yuu ada di dekat sini, mereka sedang sibuk bekerja, lho."


Membiarkan dua pelayan bekerja sementara aku sendiri bersenang-senang dengan dua gadis cantik──aku sudah melakukan banyak hal yang berisiko sampai hari ini, tapi bukankah yang satu ini benar-benar melanggar batas kemanusiaan?


"Soal Asa dan Yuu tidak perlu khawatir. Mereka berdua itu anak-anak yang gila kerja rumah tangga. Menjadi pelayan bagi mereka adalah pekerjaan yang menggabungkan hobi dan keuntungan."


"Mereka berdua sangat suka bersih-bersih, kalau sudah konsentrasi, mereka tidak akan peduli dengan keadaan sekitar. Kita berisik pun mereka tidak akan sadar."


"Se-sampai sebegitunya?"


"Sampai sebegitunya. Meskipun kamu tiba-tiba berteriak di belakang mereka, mereka tidak akan sadar."


"Bahkan kalau kamu menyingkap rok mereka dan mengintip celana dalam mereka, mereka tidak akan peduli selama tidak mengganggu pekerjaan bersih-bersihnya. Masaki, mau coba?"


"......Mana mungkin menyingkap rok tanpa mengganggu pekerjaan mereka."


Tentu saja aku tidak berniat mencobanya. Meskipun itu pekerjaan mereka, Asa dan yang lainnya sedang bersih-bersih demi kami, mana mungkin aku mengganggu.


"Makanya, tenang saja... Cup♡"


"Benar sekali...♡"


Yuzuki memelukku dan menciumku. Disusul Fuuka yang juga mendaratkan kecupan ringan. Aku pun terdorong oleh mereka hingga terduduk di atas tempat tidur.


"Lagipula Masaki, kamu bergairah melihat seragam pelayan kembar ini, kan?"


"Ya-ya kalau dipakaikan baju dengan tingkat keterbukaan setinggi ini...!"


Mana ada siswa SMA laki-laki yang tidak bergairah melihat ini.


"Asa-san dan yang lainnya memang cantik, jadi wajar saja kalau kamu melirik mereka, tapi kamu harus melihat kami dulu."


"Itu sudah pasti."


Aku menjawabnya dengan tegas. Aku merasa wajar jika mataku melirik pelayan cantik itu, tapi──


"Tanpa perlu memakai baju begini pun, aku hanya melihat Yuzuki dan Fuuka. Lagi pula, kepribadianku bukan cuma satu atau empat. Melihat kalian berdua saja sudah membuatku kewalahan."


"Kyaa! Padahal biasanya cuek, tapi kalau bicara bisa blak-blakan begitu ya!"


"Justru karena itulah, saya jadi ingin melayani Masaki-san."


Yuzuki dan Fuuka naik ke tempat tidur, memelukku dari kiri dan kanan.


"Untuk Masaki yang seperti itu, kami akan memberikan pelayanan yang melimpah♡"


"Bukan, tapi izinkan kami melayanimu...♡"


"Uwoh..."


Yuzuki mencium pipiku dan menjilat bibirku pelan. Fuuka pun menjulurkan lidahnya dan menjilat bibirku──lidah mereka berdua dan bibirku saling bersentuhan. Oh... dicium secara ganda oleh mereka yang sedang berpakaian pelayan begini membuatku lebih bergairah dari biasanya...!


"Mari kita coba teknik yang kita pelajari tempo hari... Yuzu-nee, boleh kan?"


"Tentu saja boleh."


"Te-tempo hari? Jangan-jangan..."


Di hadapanku yang sedang bingung, Yuzuki dan Fuuka saling bertatapan dan tersenyum. Mereka menarik bagian depan baju pelayan mereka hingga terbuka lebar.


Prulun, payudara berukuran 90 cm cup G milik mereka muncul dan memantul. Oh, ternyata mereka tidak pakai bra... apalagi hanya dengan membuka bagian depan saja, dada mereka berguncang hebat. Puting merah muda mereka yang manis sudah menegang, sepertinya mereka juga sudah bersemangat.


"Langsung saja... boleh kan? Pertama, dari aku dulu♡"


"Ugh...!"


Yuzuki setengah berbaring di tempat tidur, lalu menekan dadanya yang terbuka──ke arah celanaku. Dia mengeluarkan penisku dan menjepitnya di antara dua gundukan besar itu. Ternyata, teknik ini lagi...!


Waktu mereka menjepit penisku dengan dada mereka di depan mata Takaya rasanya memang sangat nikmat, tapi aku tidak menyangka akan mendapatkannya lagi!


"Waktu itu kan kami menjepitnya berdua, tapi kali ini satu per satu..."


"......Kalau begitu, selagi dijepit oleh Yuzuki, bolehkah aku juga... Fuuka?"


"Iya♡"


Fuuka memelukku sambil tetap duduk, lalu mendaratkan kecupan berkali-kali. Lebih jauh lagi, dia menekan dadanya yang terbuka tepat di depan wajahku.


"Annh♡ Tiba-tiba jadi agresif begitu♡"


Aku langsung melahap dada Fuuka yang ditekan ke arahku, menghisap putingnya kuat-kuat. Setelah menghisapnya dengan suara cup-cup, aku menjilatnya dengan ujung lidah, menggigitnya pelan, lalu menghisapnya kembali.


"Duh, Fuuka. Kamu langsung memberikan servis berlebihan ya♡ Punya Masaki saking bergairahnya sampai jadi begini, dia mengamuk di antara dadaku♡"


"I-ini mungkin karena keempukan dada Yuzuki..."


Penisku dijepit dan dikocok oleh dada sang kakak, sementara aku sendiri sedang menghisap puting sang adik. Apa tidak apa-apa aku mendapatkan pelayanan sebanyak ini?


"Ah, kalau cuma dada saja mungkin... kurang ya. Bagian ini juga..."


Fuuka melepaskan dadanya dariku, lalu duduk bersimpuh di atas tempat tidur. Dia menyingkap rok pendeknya, memperlihatkan celana dalam putih yang tampak polos dan manis.


"Bagian ini... Anda juga ingin melihatnya, kan?"


"A-ah... benar juga. Sepertinya melihatnya dari belakang juga bagus."


"E-erotis sekali ya, Masaki-san... kalau begitu, mari kita coba begini..."


Fuuka duduk membelakangiku, mengangkat pantatnya, dan sekalian mengangkat roknya. Pantatnya yang putih mulus dan padat serta celana dalam putihnya yang polos terlihat jelas sepenuhnya.


"Wah♡ Adikku nakal sekali♡ Masaki, tolong manjakan dia juga ya."


"Tentu saja, aku tidak boleh hanya menerima pelayanan saja..."


Aku harus membuat si kembar merasa senang secara bersamaan. Justru karena aku mampu menyayangi mereka berdua sekaliguslah, aku bisa tetap menjalin hubungan dengan si kembar ini.


"Ngh, ngh♡ Punya Masaki, hebat sekali♡"


"Kyaa... annh, bokongku... sampai sebegitunya♡"


Aku membiarkan penisku dikocok lebih intens lagi di antara dada Yuzuki. Sambil sedikit memaksakan posisi tubuhku, aku menempelkan wajahku ke pantat Fuuka yang sedang menungging, menikmati bagian itu dari balik pakaian dalamnya. Aku menyentuhkan seluruh wajahku pada celana dalam putih yang polos itu, lalu menghisap bagian tersebut dengan lembut.


"Ngh, kyaa... haannh♡"


Fuuka mengeluarkan suara desahan yang manis saat bokong dan bagian sensitifnya dirangsang secara bersamaan. 


Gawat, ini... rasanya terlalu luar biasa sampai-sampai terasa berbahaya. Pantat putih dan celana dalam putih Fuuka, berpadu dengan elastisitas serta kelembutan kulit dada Yuzuki. Jika diserang oleh dua kenikmatan sekaligus seperti ini──


"Kami harus memberikan pelayanan pelayan yang lebih lagi, kan?"


Yuzuki menjulurkan lidahnya, lalu menjilati bagian ujung penisku berkali-kali.


"Kalau begitu... mari kita coba seperti ini."


Fuuka berdiri di atas tempat tidur, menyingkap rok mini pelayannya, lalu menurunkan sedikit celana dalam putihnya sebelum menekankannya tepat ke wajahku. Aku bisa merasakan panas dari bagian intim Fuuka dengan sangat jelas; aku menghisapnya, lalu mengembuskan napas hangat ke sana.


"Annh, napas Masaki-san terasa panas sekali♡"


"Di sini juga... berdenyut kencang dan panas sekali seperti terbakar♡"


Yuzuki menggunakan kedua tangannya untuk menekan dadanya sendiri dari samping, menjepit penisku dengan sangat kuat. Rasanya seolah-olah dada berukuran G-cup itu dan penisku sudah melebur menjadi satu──


"Setelah selesai dengan dada Yuzu-nee, giliran saya yang akan menjepitnya ya♡"


"A-ah. Aku akan menikmatinya berkali-kali, dan aku juga akan membuat kalian berdua merasa senang."


"Iyaaa♡ Kyaa, jangan bergerak-gerak seperti itu di dalam rokku♡"


Fuuka menggeliatkan tubuhnya sambil tetap berdiri, membuat dadanya yang terbuka tanpa bra berguncang kenyal. Begitu aku mengalihkan pandangan dari celana dalamnya, kali ini aku disuguhi pemandangan payudara yang memantul indah. Terlebih lagi, kakak dari gadis cantik yang sedang mengguncangkan dadanya itu tengah mengocok penisku dengan sangat agresif menggunakan dadanya sendiri.


"He-hei... aku sudah...!"


"Tidak boleh♡ Kalau begitu, jepit dulu di dada Fuuka."


"Se-serius...?"


Padahal aku sudah di ambang batas, tapi malah disuruh menahan dulu. Yuzuki melepaskan penisku dari jepitan dadanya untuk sementara.


"Benar juga... mumpung sedang jadi pelayan, mari kita nikmati sedikit demi sedikit."


"A-ah. Kalau begitu, sekarang biarkan Fuuka yang menjepitnya dengan dadanya... lalu biarkan aku menikmati celana dalam dan dada Yuzuki juga."


"Duh, mesum sekali sih♡"


Cup, Yuzuki mengecup bagian ujungnya lalu menjilatnya pelan. Benar-benar deh, si kembar ini sudah jadi terlalu berani sampai mau melakukan hal-hal seperti ini...


"Aku akan memperlihatkan celana dalamku dengan saksama♡"


Yuzuki yang masih duduk di tempat tidur menyingkap roknya, memamerkan celana dalam merah muda yang manis.


"Pertama-tama, mari tunjukkan pakaian dalam kami secara bersamaan. Silakan♡"


Sama halnya, kali ini Fuuka duduk di samping Yuzuki, mengangkat roknya tinggi-tinggi dan kembali memperlihatkan pantat serta celana dalam putihnya. Melihat dua bidadari kembar berseragam pelayan menyingkap rok mereka sendiri untuk memamerkan celana dalam pink dan putih benar-benar pemandangan yang luar biasa. Meski kami sudah sering berciuman, menggunakan mulut, bahkan bermain dengan dada ganda──pemandangan ini tetap saja terasa terlalu merangsang.


"Nah, kamu boleh melihat celana dalam kami sepuasnya... tapi cium aku juga ya♡"


Cup, cup, Yuzuki memeluk dan menciumku.


"Selagi itu, izinkan saya melanjutkan pelayanan dada yang tadi dilakukan Yuzu-nee ya♡"


Fuuka mengangkat dadanya dengan kedua tangan sambil menekankannya ke arah penisku. Ia berada dalam posisi setengah berbaring dengan rok yang tersingkap, sehingga celana dalam putihnya masih terlihat jelas.


Yuzuki pun, setelah mencium dan melumat bibirku, berdiri di atas tempat tidur untuk memamerkan celana dalam merah mudanya dengan berani──bahkan ia menurunkannya hingga ke posisi yang sangat sensitif.


"Yuzuki, Fuuka. Aku akan menikmati kalian berdua sekaligus dengan lebih hebat lagi..."


"Boleh kok, nikmatilah setiap jengkal tubuh si kembar ini sepuasmu♡"


"Karena kami adalah pelayan kembar, kami akan mematuhi segala perintah Goshujin-sama♡"


Aku mengecup celana dalam merah muda Yuzuki, sambil menggerakkan penisku yang terjepit di antara dada Fuuka dengan gerakan menyodok ke atas.


Pelayanan dari bidadari pelayan kembar yang cantik ini... mari kunikmati lebih banyak lagi secara bersamaan──


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close