NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Saudara Kembar Tampaknya Jatuh Cinta pada Orang yang Sama

Grand Liversia Yomihama—


Sebuah gedung apartemen setinggi empat puluh lantai yang biasa disebut tower mansion. Lokasinya sangat strategis, hanya berjarak dua menit berjalan kaki ke stasiun. Harga jual unit di lantai teratas dipastikan dengan mudah mencapai angka ratusan juta yen. Penampilan luarnya yang megah seolah menjulang ke langit, dengan lobi tinggi yang mewah. Fasilitasnya mencakup pusat kebugaran, kolam renang, sky lounge, bahkan pemandian air panas terbuka.


Tentu saja, petugas concierge selalu siaga selama dua puluh empat jam. Gedung ini terhubung langsung dengan area komersial, sehingga di hari hujan pun penghuninya bisa pergi ke supermarket atau minimarket tanpa perlu menggunakan payung.


"Yah, memang ada apartemen yang lebih mewah lagi, sih. Tapi di antara properti yang dimiliki keluarga kami, ini termasuk kelas menengah."


"Menengah..."


Jika ini disebut kelas menengah, apakah rumah keluarga Masaki yang rakyat jelata ini bahkan tidak sampai kelas bawah, melainkan sudah menembus dasar?


Di unit lantai teratas Grand Liversia (bahasa apa itu?) tersebut, aku dan si kembar Tsubasa berada.


Setelah berpindah dari hotel menggunakan taksi selama beberapa puluh menit, kali ini aku dibawa ke apartemen semegah istana ini.


"Tata ruangnya 3LDK. Kamar yang bisa ditemukan di mana saja, kan?"


"Memang benar ini 3LDK, tapi..."


Ada tiga kamar tidur serta ruang tamu, ruang makan, dan dapur. Namun, setiap ruangannya luar biasa luas. 


Satu unit rumah tipe keluarga pada umumnya mungkin bisa masuk seluruhnya ke dalam area ruang tamu dan ruang makan ini. Setiap kamar dilengkapi dengan lemari pakaian besar. Kamar mandi dan toilet masing-masing ada dua. Bahkan ada balkon luas yang tampaknya cukup untuk mengadakan acara barbeku.


Mana ada unit 3LDK sehebat ini yang bisa ditemukan di mana saja.


"Kamu tinggal di rumah yang luar biasa ya, Yuzuki."


Tak perlu dikatakan lagi, tempat ini jauh lebih membuatku tegang daripada hotel mewah tadi. Bagaimanapun juga, ini adalah rumah teman sekelas—rumah gadis yang kusukai. Sangat mengejutkan karena Yuzuki memperlihatkan rumahnya sambil dengan santai menunjukkan kamar pribadinya kepadaku.


Meskipun dia sudah menerima pengakuan cintaku, aku tidak menyangka akan melihat kamar pribadi Yuzuki di hari yang sama. Berlawanan dengan penampilan luar Yuzuki yang mencolok, kamarnya ternyata bernuansa monokrom yang tenang, yang bagiku terasa sedikit tidak terduga.


"Anu, Masaki-san, Yuzu-nee, tehnya sudah siap."


"Ah, terima kasih, Fuuka. Bagaimana, Masaki? Adikku perhatian, kan? Nah, Masaki, lewat sini."


"............"


Aku mengangguk singkat dan menuju meja ruang tamu.


Atas ajakan Yuzuki, aku duduk di sofa. Yuzuki duduk di sofa tepat di hadapanku, dan adiknya, Fuuka, ikut duduk di sampingnya. Di atas meja tersedia tiga gelas kopi hitam dingin.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi...Kenapa aku duduk berhadapan dengan dua gadis kembar cantik sambil minum teh?


"Untuk menjelaskan sekali lagi, ini adalah rumahku dan Fuuka."


"Aku mengerti itu... tapi, di mana orang tua kalian?"


"Tepatnya, tempat ini adalah rumah persinggahan keluarga Tsubasa."


"Rumah persinggahan..."


Istilah yang sama sekali tidak akrab di telinga rakyat jelata.


"Orang tua kami membeli unit ini agar kami berdua mudah berangkat ke sekolah masing-masing. Kami punya rumah utama, tapi orang tua kami juga lebih sering tinggal di hotel karena urusan pekerjaan."


"Karena tidak ekonomis jika harus terus-menerus membeli rumah di banyak tempat."


"Kalian ini sebenarnya punya akal sehat atau tidak, sih..."


Sepertinya orang tua si kembar ini sering bepergian ke mana-mana untuk bekerja.


Tinggal di hotel masih bisa kumengerti—tapi membeli satu unit apartemen mewah hanya demi akses sekolah anak-anaknya terdengar tidak masuk akal bagiku.


"Pertama-tama, mari kita susun ceritanya. Hari ini, aku menerima pengakuan cinta dari Masaki. Namun, dengan syarat kamu juga harus bersama Fuuka."


"Ya, aku Fuuka si 'bonus'," sahut Fuuka dengan senyum ceria seolah sedang merasa senang.


"Lalu, saat aku sedang melakukan stalking seperti biasanya pada Masaki-san, aku menjelaskan keadaan kami. Bahwa aku menyukai Masaki-san yang telah menolongku dari pelecehan."


"Dan si adik bodoh ini langsung membawamu ke hotel dan berniat melakukan perbuatan asusila, kan?"


"Muu. Yuzu-nee, apa maksudmu memanggilku bodoh? Pada ujian simulasi nasional bulan April lalu, nilai kita berdua sama persis untuk semua mata pelajaran. Jika aku bodoh, berarti Yuzu-nee juga bodoh."


"Sudah jadi rahasia umum kalau nilai ujian itu bukan penentu kecerdasan. Dasar bodoh, bodoh!"


Kedua saudari kembar itu saling melempar tatapan tajam, seolah ada percikan api di antara mereka.


"Baiklah, kakak ini akan kubunuh."


"Hah, silakan saja kalau berani. Sini maju, Adik."


"Kalian ini anak kecil, ya!"


Kalau didengarkan, perdebatan mereka mirip anak taman kanak-kanak! Lagipula, karakter Yuzuki di sini berbeda dengan di sekolah. Dengan karakter konyol seperti ini, dia tidak akan mungkin bisa menjadi "ratu" di sekolah!


"Lagipula, penjelasannya belum selesai! Aku paham soal si adik yang... itu, tapi kenapa harus berdua sekaligus? Itu yang belum dijelaskan!"


"Yuzu-nee, aku sudah menceritakan alasanku ingin berpacaran dengan Masaki-san. Sekarang giliranmu."


"......Ta-tanpa kamu beri tahu pun aku sudah mengerti, kok."


Wajah Yuzuki seketika memerah padam sampai ke telinganya. Sepertinya, Yuzuki memang memiliki karakter yang berbeda saat berada di rumah.


Aku belum pernah melihatnya tersipu seperti itu di sekolah. Dia justru tipe gadis yang sering menggoda laki-laki yang tidak terbiasa menghadapi perempuan sampai membuat wajah mereka memerah.


"Masaki, terima kasih karena sudah menolong adikku dari pelecehan. Aku juga ingin berterima kasih padamu."


"Aku bahkan tidak merasa seperti sedang menolong seseorang, sih... tapi, yah, sepertinya memang begitu."


Hanya karena hal sepele seperti itu, aku bisa disukai oleh gadis cantik seperti Fuuka... hidup ini rasanya terlalu mudah.


"—Itu terjadi pada bulan April, saat sinar matahari mulai terasa hangat."


"Hm?"


"Hari itu, aku sedang jalan-jalan sendirian di kota. Terkadang aku memang ingin melakukan itu. Rasanya lelah kalau harus selalu berisik dan ramai-ramai dengan banyak orang."


"Yah, Yuzuki kan pusat perhatian semua orang. Bisa dibilang, kamu terus-menerus mendapat tekanan dari semua orang di sekitarmu."


"Tepat sekali! Ahnn, sudahlah! Padahal wajahmu seperti pembunuh, tapi ternyata kamu cukup peka!"


"Raut wajah tidak ada hubungannya dengan kepekaan, kan. Lagipula, kenapa kamu malah kelihatan senang?"


Bukankah itu hal yang seharusnya tidak ingin dia ketahui oleh orang lain?


"Tapi, tidak ada yang mengerti hal itu. Dan kalau aku mengatakannya sendiri, kesannya seperti aku terlalu percaya diri, kan?"


"Kalau kamu punya keluhan, katakan saja. Jika ada yang menjauh karena itu, ya sudah, berarti memang sampai di situ saja hubungan kalian."


"Apa yang kamu katakan itu benar, Masaki. Tapi, hubungan manusia itu tidak bisa dijalankan hanya dengan logika."


"Aku mengerti kalau itu sulit dipisahkan. Kehilangan teman pasti menakutkan, baik bagi orang populer sekalipun. Atau justru karena populer makanya terasa menakutkan?"


"Yah, kurang lebih begitu. Ah, ceritanya jadi melenceng. Nah, saat aku sedang jalan-jalan sendirian sambil minum matcha latte, tiba-tiba aku disapa oleh tiga orang pria seumuran mahasiswa."


"Digoda, ya."


Sulit dipercaya bagiku, tapi sepertinya memang ada jenis orang di dunia ini yang berani menyapa wanita asing yang lewat, mengajaknya ke kafe, bahkan sampai berakhir di hotel.


Entah sehebat apa kemampuan komunikasi yang dibutuhkan untuk melakukan itu. Dan pihak wanitanya pun, hebat juga mereka bisa berakhir berduaan di ruang tertutup dengan orang yang baru ditemui dan bahkan namanya saja masih diragukan.


...Hm? Baru bertemu langsung ke hotel... rasanya aku baru saja mengalami hal serupa belum lama ini?


"Mereka itu gigih sekali. Yah, aku mengerti kenapa mereka sampai seambisius itu, karena gadis cantik sepertiku mungkin hanya bisa ditemui sekali seumur hidup!"


"Itu benar. Yuzuki memang cantik."


"............! Ka-kamu, berani sekali mengatakannya dengan begitu lugas di depan orangnya langsung."


"Lho? Kamu bukannya sudah terbiasa dibilang cantik?"


"Rasanya beda kalau dibilang begitu oleh pacar sendiri!"


"Pacar!?"


"Iya, aku tidak suka pakai istilah kare-pi atau semacamnya, terdengar bodoh."


"B-bukan masalah panggilannya... itu... a-apakah aku ini pacarmu?"


"Apa yang kamu katakan, padahal kamu sendiri yang menyatakan cinta. Kamu adalah pacarku, dan aku adalah pacarmu."


"Aku juga pacarmu, dan kamu adalah pacar kami."


"......Tolong lanjutkan ceritanya."


Soal keabnormalan hubungan kita ini, akan kukomentari nanti saja.


"Tiga orang pengoda itu diusir oleh Masaki yang kebetulan lewat di sana."


"............Bukankah penjelasan di bagian akhirnya terlalu singkat?"


"Ini belum berakhir. Mereka sempat menggertak karena Masaki sendirian, tapi akhirnya mereka lari terbirit-birit setelah dipelototi olehmu sambil memohon ampun."


"......Apa pernah terjadi hal seperti itu?"


"Aku kaget kamu tidak ingat. Biasanya, kejadian seperti itu tidak akan dialami orang seumur hidup pun."


"Sayangnya, aku ini tipe orang yang kalau berjalan pasti menabrak masalah."


Entah itu pelecehan atau gangguan pria hidung belang, jika aku melihat masalah, aku akan menggunakan wajah seramku ini untuk menyelesaikannya. Karena bagiku itu bukan pengalaman yang langka, mungkin aku jadi tidak mengingatnya. Namun...


"Apakah aku tidak sadar kalau yang digoda itu adalah Yuzuki?"


"Habisnya, kamu sama sekali tidak melihat wajahku dengan jelas. Kamu pergi begitu saja setelah menolong. Kamu menolongku dengan sangat cekatan seolah itu adalah pekerjaan rutin, lalu pergi."


"Yah, memang benar aku sudah terbiasa... selain itu, aku biasanya memang tidak terlalu melihat wajah perempuan."


"Kenapa begitu?"


"Saat aku melihat wajah seorang perempuan, dia juga akan melihat wajahku. Aku tidak mau membuatnya takut."


"Duh, jangan bicara seolah-olah 'saat kamu menatap ke dalam jurang, jurang itu juga menatapmu'. Aku tidak takut padamu, kok."


Meskipun dia tampak heran, kenyataannya aku memang berusaha tidak bertatapan langsung dengan perempuan. Bukan hanya Yuzuki, saat menolong Fuuka dari peleceh pun aku pasti tidak melihat wajahnya dengan benar.


"Yah, karena begini dan begitu—aku jadi jatuh cinta padamu."


"Si kakak juga terlalu mudah jatuh cinta, tahu!"


Kesimpulannya terlalu melompat jauh!


Si adik diselamatkan dari peleceh, si kakak diselamatkan dari pria pengganggu.


Ya, itu memang hal yang bagus. Peleceh maupun pria pengganggu yang memaksa itu tidak tahu apa yang akan mereka perbuat. Aku sama sekali tidak menganggap itu kejadian kecil. Aku tidak menganggapnya begitu, tapi...!


"Apakah kalian akan jatuh cinta pada laki-laki hanya karena hal seperti itu!"


"Tentu saja tidak."

"Tentu saja tidak mungkin."


"............Kalian sebenarnya membenciku, ya?"


Jangan bicara secara stereofonik. Kepalaku rasanya mau pecah.


"Bukan begitu."

"Bukan begitu maksudnya."


Si kembar berdiri secara bersamaan, lalu kali ini mereka duduk mengapitku di kedua sisi.


"A-apa yang kalian lakukan?"


Aroma harum yang lembut menguar dari Yuzuki dan Fuuka. Aromanya pun benar-benar sama—ah, mereka pasti cuma memakai sampo yang sama.


"Aku dan Fuuka pertama kali berdiri, berjalan, bahkan mengucapkan kata-kata pertama, semuanya di hari yang sama."


"Sampai SMP kami satu sekolah, dan nilai ujian kami untuk seluruh mata pelajaran selalu sama persis sampai-sampai kami dicurigai menyontek. Ada guru yang suka okultisme bahkan mencetuskan teori telepati."


"......Aku tidak berniat mencampuri hobi orang lain, tapi seharusnya dia tidak membawa hobi ke dalam pekerjaan."


Teori okultisme itu justru lebih bermasalah daripada sekadar kecurigaan menyontek.


"Itu konyol. Kalau kami benar-benar menyontek, tidak mungkin kami membuat nilainya sama persis, kan?"


"Tapi, gara-gara kecurigaan bodoh itu, SMA kami jadi dipisah."


"......Begitu rupanya."


Jika saat ujian masuk pun jawaban dan nilai mereka selalu sama, hal itu pasti akan mengundang kecurigaan. Bahkan jika mereka beruntung bisa lulus dengan normal, ada kemungkinan insiden yang sama seperti di SMP akan terulang kembali di SMA. Keputusan agar Yuzuki dan Fuuka menempuh pendidikan di SMA yang berbeda mungkin memang langkah yang tidak bisa dihindari.


"Aku mengerti bagian itu...... tapi akhirnya, apa yang ingin kalian sampaikan?"


Saat aku mengatakannya sambil merasa gugup karena aroma tubuh mereka, keduanya mendekatkan tubuh dengan waktu yang benar-benar bersamaan.


Punit, sensasi gundukan lembut terasa menekan lengan kiri dan kananku—!


"Intinya, aku dan Fuuka dalam segala hal adalah sama."


"Kecuali kepribadian dan warna rambut saja. Di rumah orang tua, kami sengaja mengubah gaya rambut. Itu pun karena keluarga kami memohon-mohon agar kami bisa dibedakan."


Tampaknya di keluarga Tsubasa, menangani kedua putri ini cukup merepotkan. Bukan hanya penampilan yang terlalu mirip, tapi jika mereka menunjukkan sinkronisasi aneh seperti ini, pasti akan memicu masalah jika mereka terus bersama di sekolah.


"Karena itulah, saat jatuh cinta pun kami sama."


"Kami jatuh cinta pada orang yang sama di waktu yang sama."


"............Hah?"


Keduanya semakin merapatkan tubuh, hingga posisinya hampir seperti sedang memelukku erat.


"Ke-kenapa tiba-tiba bicara begitu?"


"Sama sekali tidak tiba-tiba, kan. Aku sudah memberikan penjelasan panjang lebar tadi."


"Maksudnya sama dengan apa yang sudah dijelaskan sebelumnya."


"Siang itu, aku diselamatkan dari pria pengganggu."


"Pagi itu, aku diselamatkan dari peleceh di kereta."


Yuzuki dan Fuuka mengucapkannya dengan sinkronisasi yang sempurna. Rasanya aku ingin bilang kalau aku tidak paham jika bicara sekaligus—tapi anehnya, aku bisa menangkap maksudnya dengan jelas.


"Di hari yang sama, kami jatuh cinta pada orang yang sama."

"Di hari yang sama, kami jatuh cinta pada orang yang sama."


“"Itulah takdir kami berdua sebagai saudara kembar."”


"Tunggu, tunggu sebentar! Yang barusan itu terlalu berantakan, aku tidak paham!"


"Kalau begitu, akan kubuat lebih mudah dimengerti."

"Kalau begitu, akan kubuat lebih mudah dimengerti."


"............!"


Yuzuki dan Fuuka, sambil memelukku erat, mendekatkan wajah mereka dan mengecup pipiku secara bersamaan. Dua sensasi lembut terasa di kedua pipiku.


"Kami sudah lama mencari. Seseorang yang bisa kami berdua cintai."


"Akhirnya kami menemukannya. Seseorang yang bisa disukai baik olehku maupun Yuzu-nee. Karena itu, kali ini—"


"Demi membuatmu mencintai kami berdua, kami akan melakukan apa pun!"

"Demi membuatmu mencintai kami berdua, kami akan melakukan apa pun!"


"........................"


Disukai oleh dua gadis kembar cantik secara bersamaan, dan memacari mereka sekaligus. Dari satu sisi, ini mungkin situasi yang seperti mimpi...... tapi antusiasme mereka berdua ini sungguh menakutkan. Jika terus ditekan sekuat ini, bukankah aku akan hancur oleh kegigihan si kembar ini?


Tidak, biar begini, aku sudah terbiasa dengan masalah karena wajah seramku. Jika akulah satu-satunya orang yang bisa mereka berdua cintai—mungkin memang akulah yang paling pantas bagi mereka.


"Aku mengerti ceritanya. Memang benar, semua yang ingin kuketahui sudah terjawab."


Untuk saat ini, aku tidak punya pertanyaan lagi. Meski sulit dipercaya, aku tidak merasa mereka sedang mempermainkanku. Kalau begitu—


"Baiklah! Mau kembar atau apa pun, datanglah sekalian!"


"Kyaa!"

"Yann!"


Aku merentangkan kedua tangan dan merengkuh mereka berdua sekaligus dengan erat. Baik Yuzuki maupun Fuuka sama sekali tidak melawan; sebaliknya, mereka justru balas memelukku dengan lebih kuat lagi—


"Harus begitu, dong!"


"Orang yang kami pilih memang benar-benar belahan jiwa kami, Yuzu-nee!"


Meski rasa nekat dalam diriku tidak bisa disangkal, tapi ya sudahlah. Aku akan berusaha mencintai Fuuka juga, bukan hanya Yuzuki. Aku juga tidak memungkiri bahwa dicintai dua gadis cantik adalah situasi yang luar biasa. Berpacaran dengan dua gadis sekaligus—dan mereka sendirilah yang sangat menginginkannya. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan ini. Aku juga siswa SMA yang sehat, jadi mari kita nikmati saja hubungan dengan dua gadis cantik ini!


"Ngomong-ngomong, Masaki, kamu agresif sekali ya......"


"Ah, jangan-jangan kamu benar-benar ingin 3P—"


"Mana mungkin langsung ke sana!"


Aku keberatan jika mereka menganggapku seperti binatang buas.


"Sekalipun kita melakukannya bertiga, pasti ada urutannya, kan. Jangan khawatir, aku tidak sebuas itu."


"Padahal tidak apa-apa jika kamu buas kepada kami."


"Bahkan kami yang sebenarnya di level ingin menyerangmu, tapi memang benar kalau dilakukan tiba-tiba mungkin akan membuat Masaki-san bingung."


"............"


Dua saudara kembar ini, omongan mereka terlalu berani......


"......Tapi menyebutnya sebagai takdir itu rasanya terlalu berlebihan."


"Tidak, bagi kami itu tidak berlebihan."


Yuzuki tertawa setelah mengecup pipiku sekali lagi.


"Takdir—mereka bilang tipe seperti kami disebut sebagai 'Destiny Twins'."


"Bukan sekadar kembar identik biasa, tapi kami terhubung oleh benang takdir."


Fuuka pun ikut mengecup pipiku.


"Destiny Twins......"


Memang benar, jika cerita mereka nyata, aku hanya bisa berpikir bahwa mereka terhubung oleh takdir. Dan aku pun akhirnya ikut terseret ke dalam hubungan takdir tersebut......


"Ah, benar juga. Ada satu hal yang lupa disampaikan."


"Oh iya, aku benar-benar lupa soal itu."


"Hm? Apa?"


"Masaki, mulai hari ini kamu harus tinggal di sini."

"Masaki-san, mulai hari ini, di sinilah rumahmu."


"............"


Tadi aku sempat bilang 'datanglah sekalian', ya?


Pelajaran untuk hari ini—sebaiknya menahan diri dari ucapan yang ceroboh.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close