Hukuman
Khusus
Eksplorasi "Gate Of Origin" 1
Malam di lautan hutan Sanaf Nede terasa begitu pekat.
Aku menyipitkan mata, berusaha menembus kegelapan malam.
Di balik pepohonan, sesekali cahaya putih pucat melayang pelan lalu menghilang
begitu saja.
(Itu... Undine, ya.)
Makhluk aneh menyerupai gumpalan cairan yang melayang di
angkasa. Mereka hanya hidup di wilayah utara.
Konon ekologi mereka masih diselimuti misteri, tapi
setidaknya satu hal yang pasti: mereka membenci manusia dan makhluk hidup
lainnya.
Aku pernah dengar mereka bisa menjadi agresif, menyelinap
masuk ke organ pernapasan, dan membuat korbannya mati lemas.
(Katanya, mereka itu makhluk dari era kuno—)
Wilayah utara memang tanah tak terjamah bagi umat
manusia, sampai-sampai makhluk seperti itu pun bisa hidup bebas.
Karena itulah, di utara ini banyak sekali sisa-sisa
reruntuhan kuno yang tertinggal.
Dulu, aku sering dipaksa mendengarkan penjelasan soal ini
oleh teman sekelasku yang bernama Siguria.
Gugusan reruntuhan kuno yang mengelilingi Pegunungan
Spiral Sordo adalah yang paling terkenal.
Itu adalah sisa-sisa peradaban lama yang kemajuannya
bahkan tak bisa dibayangkan oleh orang-orang zaman sekarang.
"Daripada disebut reruntuhan, mungkin lebih tepat
jika disebut kota," begitu kata Siguria waktu itu.
"Ini adalah kota kuno yang dibangun mengelilingi
Pegunungan Spiral. Terbukti bahwa dulu ada ras lain selain manusia yang tinggal
di sana. Benar-benar memicu gairah penelitian, ya? Seandainya saja Fenomena
Raja Iblis bisa disapu bersih, penelitian ini pasti akan maju pesat... Tidakkah
kamu setuju, Xylo-kun?"
Aku ingat betapa bingungnya aku saat dia terus mencerocos
dan mendesakku untuk setuju.
Menurutku, wanita bernama Siguria itu ingin membasmi
Fenomena Raja Iblis hanya demi memuaskan rasa ingin tahu arkeologisnya semata.
(Dia memang bilang kalau utara itu penuh dengan
reruntuhan.)
Semua itu adalah bukti bahwa umat manusia pernah sangat
makmur hingga mencapai wilayah ini.
Tentu saja, di lautan hutan Sanaf Nede yang tertidur ini
pun, ada beberapa reruntuhan yang terkubur.
Kata 'terkubur' memang sangat tepat untuk
menggambarkannya. Bangunan-bangunan itu sudah diinvasi oleh tanaman, bahkan ada
yang sudah tak bisa lagi dibedakan dari hutan.
Dan gugusan reruntuhan itulah yang menjadi target
eksplorasi yang ditugaskan padaku.
Prasasti Thistle Nuakof.
Kota Hemisfer Tika Mareka.
Menara Garpu Tala Yauri yang Redup.
Sepertinya itu adalah nama-nama reruntuhan kuno yang
harus kukunjungi, meski aku sendiri belum pernah mendengarnya.
Semuanya hanyalah rongsokan benda buatan manusia yang
aneh, dan aku tidak tahu untuk tujuan apa bangunan itu didirikan.
Aku juga tidak menemukan warisan berharga apa pun di
sana. Ya, wajar saja sih. Mana mungkin barang berharga tidak ljarah oleh para
pencuri makam.
Namun, satu kesamaan mulai terlihat—sepertinya memang ada
jejak bahwa makhluk selain manusia pernah tinggal di sana.
"Bagaimana, Xylo Forbartz?"
Malam itu, Empusa yang ikut menemaniku dengan wajah tanpa
dosa, tiba-tiba bertanya.
"Kau pasti mulai paham sedikit demi sedikit, kan?
Tentang seperti apa rupa dunia ini di masa kuno yang sangat jauh."
Posisi kami saat ini kira-kira berjarak setengah hari
perjalanan dari Menara Garpu Tala Yauri.
Di tengah lautan hutan begini, sulit untuk menentukan
posisi dengan akurat. Mungkin itu juga bagian dari rencana mereka untuk
mencegahku kabur.
Selain itu, ada sekitar seratus Aberrant Fairy
yang selalu mengawal kami.
Katanya sih untuk berjaga-jaga jika bertemu pasukan
Chernobog atau manusia, tapi jelas sekali itu untuk mengawasiku.
Ada juga Soula Odd yang bertindak sebagai pemantau.
Berbeda dengan Empusa yang senang mengajakku bicara, orang ini tidak pernah
sekalipun mencoba bicara padaku.
Bahkan saat aku mencoba memprovokasinya dengan selorohan
konyol, dia selalu mengabaikanku.
Akhirnya, meski enggan, aku tidak punya pilihan selain
menjadikan Empusa teman bicara.
"Aku sama sekali nggak paham," jawabku jujur,
lalu menggigit ubi kering yang diberikan padaku.
Sepertinya persediaan logistik mereka memang melimpah.
Selama berkeliling reruntuhan, aku tidak pernah kesulitan makanan.
Mungkin Tovitz yang mengatur segalanya agar pasokan
bantuan sampai ke kami.
"Semua reruntuhan yang kulihat sejauh ini cuma
barang-barang nggak jelas yang fungsinya pun misterius."
Bangunan-bangunan itu sangat berbeda dengan bangunan yang
dipanggil oleh Senerva. Aku mulai menyadari poin pentingnya.
—Yaitu keberadaan fasilitas yang jelas-jelas tidak
dirancang untuk digunakan oleh manusia.
"Huh! Bukankah itu sudah kesimpulan yang cukup?
Jangan rendah hati begitu. Kau manis sekali."
"Manis dari mananya? Lagipula kesimpulan apa
maksudmu?"
Aku benar-benar tidak bisa memahami pola pikir Empusa.
Lagipula, memang mustahil bagi manusia untuk memahami apa
yang dipikirkan oleh Fenomena Raja Iblis.
"Bukankah itu sederhana? Reruntuhan itu ditinggali
oleh keberadaan yang bukan manusia. Bahkan ada juga tempat di mana mereka hidup
berdampingan dengan manusia."
Memang benar. Sepertinya Siguria juga pernah menyinggung
hal itu.
Sebelum Pembasmian Raja Iblis Pertama. Di era yang
disebut 'Zaman Kuno', ada banyak makhluk cerdas selain manusia.
Ada ras yang penampilannya seperti binatang, ada yang
seperti serangga. Mungkin masih banyak lagi yang lainnya.
Atau mungkin—seperti Saritaf dan kawan-kawannya. Suku
Yamanobe. Gadis-gadis yang memiliki tanduk di dahi dan tubuh yang umumnya lebih
besar dari manusia.
Mungkin mereka juga termasuk salah satunya. Makhluk yang
ada sejak zaman kuno dan hidup berdampingan dengan manusia.
Banyak reruntuhan yang memiliki bentuk dan struktur yang
tidak bisa dijelaskan jika tidak berpikir seperti itu.
Namun—
"Lalu kenapa?"
Pikiranku akhirnya mentok di sana. Apa ini yang ingin
ditunjukkan oleh Tovitz padaku?
"Maksudmu, kamu mau bilang kalau manusia dan
Fenomena Raja Iblis bisa akur seperti kaum simbiosis? Atau ini cuma plot klise
kalau sebenarnya Fenomena Raja Iblis itu penduduk asli dunia ini?"
"Fuhahaha! Kalau memang begitu, apa kau akan merasa
sedikit terselamatkan? Apa kau bisa menerimanya?"
"Jadi, bukan itu ya."
"Oh—tidak baik. Kau pintar sekali memancingku. Tanpa
sadar aku hampir membocorkan hal yang tidak perlu."
"Masa bodoh," jawabku singkat.
Satu hal yang pasti, Empusa ini tidak berniat memberiku
informasi. Atau mungkin, dia memang tidak bisa memberikannya.
Untuk saat ini, ada satu hal yang mengganjal di
pikiranku.
"Si Tovitz itu... apa sih maunya menyuruhku wisata
reruntuhan begini?"
"Entahlah, aku sendiri tidak begitu paham."
Empusa menggelengkan kepalanya.
"Dia bilang ini agar kau mengenal Fenomena Raja
Iblis. Tapi aku tidak yakin Tovitz Huker mengenal kami sedalam itu. —Tidak,
mustahil dia tahu."
"Kalau begitu, apa yang mau dia ajarkan
padaku?"
"Mungkin tujuannya bukan reruntuhannya."
"Maksudmu?"
"Coba pikirkan kalau tujuannya adalah agar kau
mengenalku."
Empusa mencondongkan wajahnya ke arahku. Kalau
diperhatikan, pupil matanya mirip seperti pupil domba.
"Selama perjalanan ini, kau pasti sudah merasakan
kelembutan, perhatian, dan kemurahhatianku, kan? Jadi, bagaimana kalau kau
menjadi pengikut setiaku saja, supaya kita bisa terus berbincang akrab seperti
ini? Hmm?"
"Nggak akan."
Lagipula, mana mungkin Tovitz punya pemikiran senaif itu.
Aku mencoba merenungkan kembali kesamaan dari reruntuhan
yang sudah kukunjungi.
Prasasti Thistle Nuakof—sepertinya itu sisa-sisa kota
tempat manusia dan ras cerdas lain hidup berdampingan, yang akhirnya
dihancurkan oleh seseorang.
Kota Hemisfer Tika Mareka—kota berbentuk cekungan dengan
dinding benteng untuk bersiap menghadapi sesuatu. Dinding benteng itu telah
hancur berantakan.
Menara Garpu Tala Yauri—menara berbentuk garpu tala yang
patah dari tengah, dengan tingkat kerusakan yang parah.
Apa yang bisa disimpulkan dari sini? Semuanya adalah
puing-puing dari peradaban yang telah musnah.
(Sebagus apa pun peradabannya, semuanya dihancurkan oleh
Fenomena Raja Iblis. Apa itu yang ingin dia sampaikan?)
Terlalu biasa.
Karena lawanmu kuat dan kau takkan menang, jadi
menyerahlah melawan Fenomena Raja Iblis. Apa alasan semacam itu bisa
menghentikan pertempuran demi kelangsungan hidup?
Pasti ada hal lain. Tovitz bukan orang yang suka bicara
filosofis dan dia tidak naif. Dia mencoba membuatku menyerah dari sisi yang
sangat fisik.
Kalau begitu—ya. Kesamaan lain. Aku harus mengubah sudut
pandangku. Dihancurkan—tapi bagaimana reruntuhan itu dihancurkan?
Bayangan musuh yang terlihat dari bekas kehancuran. Cara
menyerang. Metodenya. Arahnya.
(Sesuatu yang selaras. Kesamaannya adalah—arahnya?)
Mungkin itu. Aku merasakannya. Aku membayangkan kembali
kondisi reruntuhan yang hancur.
(Semuanya hancur. Dan arah serangannya selalu sama...)
Setiap reruntuhan yang kulihat sejauh ini menerima
serangan dari arah yang tetap.
Secara radial dengan Pegunungan Spiral Sordo sebagai
pusatnya—seolah-olah musuh datang dari sana dan melakukan penghancuran.
(Pasti ada sesuatu di Pegunungan Spiral Sordo. Itu
sudah pasti.)
Masalahnya, apa itu? Apa yang ingin disampaikan Tovitz
padaku?
(Di sana ada petunjuk untuk membasmi Fenomena Raja
Iblis.)
Jika alasan kenapa tidak bisa menang dibalik, maka itu
akan menjadi cara untuk menang. Seharusnya begitu.
"Kau melamun lama sekali ya."
Suara mengejek Empusa membuyarkan lamunanku.
"Cukup untuk malam ini. Wajahmu yang galak itu jadi
makin terlihat mengerikan, tahu."
"Bukan urusanmu. Aku bebas memikirkan apa pun yang
kumau."
"Manusia memang merepotkan. Aktivitas mental.
Menyenangkan memang, tapi itu juga menunjukkan derajat rendah. Kau takkan
bahagia kalau terlalu terbelenggu hal seperti itu. Meski di situlah letak
kemalangan yang manis."
Empusa tertawa sambil memasukkan ranting ke api
unggun.
Katanya memang berbahaya karena berisiko ditemukan
pasukan Chernobog yang bersembunyi di hutan, tapi api tetap dibutuhkan untuk
memasak.
Dari perkemahan beberapa hari terakhir, aku tahu kalau
Empusa sama sekali tidak bisa memasak. Baginya, selama bisa masuk ke perut,
semua makanan itu sama saja.
Mungkin begitulah sifat Fenomena Raja Iblis pada umumnya.
Di sisi lain, si Soula Odd ternyata cukup mahir dalam
urusan berkemah.
Dia selalu bisa membuat rebusan enak dari bahan makanan
awetan, dan sesekali menangkap kelinci atau burung untuk tambahan menu jika ada
waktu luang.
Benar-benar tipikal pekerja serabutan yang terbiasa
beraksi sendirian.
Hanya saja, dia sama sekali tidak berniat berbagi
denganku atau Empusa. Dia benar-benar mengabaikan kami meski diajak bicara.
(Andai saja aku punya pisau.)
Aku bisa berburu burung dengan teknik pisau lempar.
Setidaknya hanya sejauh itu yang bisa kulakukan.
Satu hal yang tidak kukatakan pada Empusa atau Soula
Odd adalah tulang lengan kananku hampir sembuh total.
Pengobatan dengan segel suci sederhana atas instruksi
Tovitz ternyata sangat efektif.
(Bisa. Aku sudah bisa bergerak tanpa masalah.)
Yang merepotkan adalah sistem pengawasan ini.
Penjagaan Soula Odd sangat ketat, dan Empusa sepertinya bahkan tidak butuh
tidur.
"Ayo, Xylo. Makanlah yang banyak. Manusia itu
akan mati kalau tidak makan dengan benar, tahu."
"Nggak usah dibilang juga aku sudah tahu."
"Benarkah? Di mataku, kau tipe pria yang bakal
mati konyol karena terus-menerus memaksakan diri."
"Berisik."
Aku mengabaikan sendok kayu yang disodorkan Empusa
dan mengambil sendiri mangkuk supku.
Isinya adonan gandum dan daging kering. Rasanya
hambar, tapi mau bagaimana lagi. Di antara barang-barangku yang disita,
kehilangan bumbu penyedap adalah kerugian yang paling terasa.
"—Jadi? Besok kalian mau membawaku wisata ke
reruntuhan mana lagi?"
"Terserah kau saja. Ada beberapa yang sudah
dihancurkan Deadra karena marah, tapi masih banyak yang tersisa kok."
Empusa membentangkan peta di sampingnya.
"Benar-benar deh, anak itu seperti binatang buas
yang tidak mengerti keindahan peradaban. Sebagai referensi, rekomendasiku adalah—"
"Gate
of Origin."
Tiba-tiba,
suara suram terdengar. Itu Soula Odd. Rasanya sudah lama sekali aku tidak
mendengar suaranya.
"Tujuan
selanjutnya adalah Gate of Origin. Bukankah
Tovitz sudah mengatakannya?"
"Apa-apaan. Ternyata pemandu wisatanya itu kamu,
bukan Empusa ya?"
Gate of Origin. Bahkan aku pun tahu nama itu. Itu
adalah salah satu reruntuhan paling terkenal di utara ini.
Dikatakan sebagai salah satu reruntuhan tertua dalam
sejarah manusia.
Reruntuhan itu terdiri dari bagian atas tanah yang
menyerupai kuil terbengkalai yang tertimbun hutan, dan bagian bawah tanah yang
sangat luas.
Aku dengar masih ada bagian bawah tanah yang menyerupai
labirin yang belum tereksplorasi.
Bahkan ada legenda yang mengatakan bahwa dunia ini
dimulai dari gerbang tersebut.
Tapi orang seperti Siguria sangat kritis terhadap
pendapat itu. 'Itu pasti salah paham. Tidak mungkin'—begitu katanya.
Dulu aku memintanya meringkas penjelasannya karena bakal
panjang, tapi sekarang aku menyesal kenapa tidak mendengarkannya lebih detail.
"Sampai rutenya pun sudah ditentukan, benar-benar
pelayanan yang lengkap ya. Tapi kenapa harus Gate of Origin?"
"Mana aku tahu."
Soula Odd bahkan tidak menoleh ke arahku. Dia sedang membakar sepotong daging di api unggun. Ternyata
dia baru saja mendapatkan mangsa sendirian lagi. Sifatnya ini mengingatkanku
pada Tsav.
"Oi. Sikapmu buruk sekali, Soula Odd."
Aku ingin memprovokasi pria tidak menyenangkan ini
sebanyak mungkin.
Siapa tahu di saat kritis nanti, dia akan mencoba
membunuhku dengan dalih 'salah paham'.
Itu mungkin akan membawa keuntungan tersendiri. Aku tidak
berniat membiarkan diriku terbunuh, tapi itu bisa menciptakan celah karena
tindakannya pasti akan berbenturan dengan rencana Empusa dan Tovitz.
"Aku ini tamu terhormat kalian, kan? Berikan layanan yang lebih baik dong."
"Jangan
memancingku... Niatmu murahan sekali, Xylo Forbartz. Tidak ada
gunanya dan cuma bikin telinga sakit."
"Galak amat. Nanti aku laporin ke tuanmu, si Tovitz,
lho."
"Aku cuma ingin menyelesaikan pekerjaan ini secepat
mungkin. Menjagamu itu nggak sebanding dengan bayarannya. Aku
ingin segera pulang dan minta kenaikan imbalan."
"Imbalan, ya?"
Mungkin ini titik lemah Soula Odd. Aku sengaja tertawa
mengejek.
"Memangnya uang bakal berguna buat apa setelah
Fenomena Raja Iblis membantai seluruh umat manusia?"
"Aku tidak berpikir uang itu akan berguna. Itu
hanya tolok ukur nilaiku."
Soula Odd masih tetap tidak mau menatap mataku.
"Uang adalah alat yang pas untuk mengukur nilai.
Unsur lain itu cuma tambahan. Aku tidak butuh kebanggaan atau kehormatan—aku
tidak senaif itu. Setidaknya sampai beberapa waktu lalu."
"Jadi sekarang sudah beda?"
"Baguslah. Kalau sudah sadar betapa naifnya dirimu,
mungkin sebentar lagi kamu bisa jadi orang dewasa."
"Pikirkan saja sesukamu. Nilaimu bukan nilaiku. Itu tidak ada hubungannya denganku."
Soula Odd tidak mau melayani debatku. Masih tanpa
menoleh, dia mulai merawat Thunder Staff-nya.
"Hanya saja, aku ternyata lebih kekanak-kanakan
dari yang kukira. Seseorang membuatku sadar akan hal itu. Jadi, sekarang, ada
seseorang yang ingin kubunuh—atau lebih tepatnya, seseorang yang ingin kuberi
pelajaran."
Staff
miliknya sepertinya tipe Sniper Staff. Dia mengintip melalui lensa.
Tatapannya
seolah-olah sedang mengincar suatu target di balik pepohonan hutan yang lebat.
"Namanya
Tsav. Aku akan membuatnya merasakan penghinaan yang luar biasa."
"Ha! Itu mustahil."
Kali ini, aku benar-benar tertawa mengejek dari lubuk
hati terdalam.
"Mana mungkin orang itu punya urat saraf setinggi
itu."
"Kalau dia tidak punya, akan kubuat dia punya. Jika
sarafnya sudah tidak seperti manusia, maka aku yang akan menyeretnya kembali
menjadi manusia. Dengan begitu, aku merasa bisa mendapatkan kembali diriku yang
dulu... yah, begitulah."
Untuk sesaat, wajah Soula Odd tampak seperti sedang
tersenyum tipis.
"Sangat kekanak-kanakan, kan? Bahkan terdengar
klise. Tapi, ini mulai terasa menyenangkan."
"Ya, syukurlah kalau begitu."
Aku sempat terpikir apa yang akan dipikirkan Tsav jika
mendengar ini, tapi kemudian aku sadar itu sia-sia.
Pola pikir Tsav adalah yang paling jauh dari jangkauanku.
Rasanya begitu.
"—Obrolan kalian menyenangkan sekali, ya."
Empusa menyipitkan mata hitamnya. Apa dia merasa dirinya
ini wali kami?
"Sudah, tidurlah sekarang. Besok kita berangkat
pagi. Perjalanan ke Gate of Origin lumayan jauh—istirahatlah yang cukup.
Manusia itu gampang mati, lho. Atau, apa kau butuh teman tidur?"
Aku tahu dia cuma bercanda. Dia jauh lebih mudah
dibaca daripada Abaddon.
Sebenarnya apa itu Fenomena Raja Iblis? Aku jadi makin tidak mengerti.
Mereka bukan sekumpulan makhluk mirip serangga yang
bergerak hanya berdasarkan kehendak 'Raja'—tapi bukan juga kelompok yang
manusiawi.
Aku merasa mereka adalah sesuatu yang jauh lebih
asing lagi.
"Aku tidur."
Aku berdiri dan mengumumkan keputusanku. Setidaknya
ada tenda untuk berkemah.
"Empusa, jangan ajak aku bicara kalau aku sudah
memejamkan mata. Aku nggak bisa tidur nanti."
"Tidak boleh ya? Padahal sebelum tidur, aku ingin
mendengar kisah kepahlawananmu."
"Sudah kutuliskan, kan. Itulah kisah
kepahlawananku."
Alat tulis dan tumpukan kertas. Setidaknya itu diberikan
padaku saat aku memintanya.
Di sana, aku menuliskan segala hal yang bisa kuingat saat
ini. Agar jika aku lupa, ada orang lain yang akan terus mengingatnya.
Selain itu, tidak ada lagi yang bisa kulakukan—demi para
pahlawan yang ada di dalam kepalaku.
"Itu membosankan."
Empusa tertawa kecil dengan sangat mudahnya.
"Apa orang yang mati tanpa bisa melakukan apa-apa
bisa disebut pahlawan? Aku tidak berpikir begitu. Itu kematian yang sia-sia.
Inilah yang disebut sentimen, kan, Xylo Forbartz? Betapa malangnya
manusia."
Suatu saat nanti, aku akan membunuhnya. Aku bersumpah
dalam hati.
◆
Pengejaran ini ternyata jauh lebih lama dari yang
diperkirakan.
Tsav terus membuntuti kelompok Xylo dan Empusa sambil
menjaga jarak yang cukup aman.
(Susah banget nyari celahnya, ya.)
Jika dia menyerang dan gagal, percobaan berikutnya akan
jauh lebih sulit. Dia harus menganggap kesempatan ini hanya datang
sekali.
"Masih belum mau bergerak?"
Saritaf sepertinya sudah mulai bosan menunggu.
"Kalau kamu tidak punya nyali, aku akan
melakukannya sendiri. Aku tidak akan meninggalkan rekan aliansiku."
"Aku juga nggak ada niat buat ninggalin dia, kok.
Kan kita teman. Ikatan, lho, ikatan. Aku ini Tsav si pria penuh kasih yang
selalu menjaga ikatan pertemanan."
Meskipun dia tidak terlalu menyukai Xylo, dia harus
mengakui kemampuannya.
Pasti akan sangat memuaskan jika bisa memberi pelajaran
pada pria semacam itu.
(Makanya, aku nggak mau gagal.)
Masalah utamanya adalah Soula Odd. Pria itu punya intuisi
yang tajam.
Tsav punya firasat kalau dia mendekat sedikit saja, dia
pasti akan ketahuan. Dia tidak bisa menjelaskan alasannya. Itu semacam insting
bahaya yang merayap di kulitnya.
Dia merasa jika melangkah satu kaki saja terlalu jauh,
Soula Odd akan menyadari sesuatu.
Karena itulah dia terus mengikuti mereka dengan jarak
yang sangat jauh.
"Tapi ya, seperti yang Saritaf-chan bilang. Kita
memang harus bergerak di suatu tempat. Ngomong-ngomong, punya ide bagus nggak?
Selain 'terjang saja dan selamatkan dengan tekad', ya!"
"Aku punya rencana. Apa kau pikir aku bodoh?"
"Cuma dikit sih—Hehe! Wuih, bahaya!"
Kapak yang diayunkan Saritaf secara asal nyaris mengenai
kaki Tsav.
Sedikit saja terlambat, mungkin satu kakinya sudah putus.
Sepertinya teknik bertarung dengan satu tangan kanan mulai dia kuasai melalui
interaksi seperti ini.
Saritaf sama sekali tidak ragu melakukan kekerasan pada
Tsav maupun Dotta. Alasannya sendiri adalah:
'Karena kalian jahat. Kalau bisa, lebih baik dibunuh
saja.'
Meski merasa difitnah, Tsav sama sekali tidak tertarik
pada perbedaan baik dan jahat, jadi dia tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.
"Aku sudah memikirkan cara yang matang. Bagaimana
denganmu, Tsav?"
"Aku juga punya, kok. Jadi, mau taruhan cara siapa
yang bakal berhasil?"
"...Kalau kau sampai bilang begitu, aku akan
mendengarnya. Cara seperti apa?"
"Yah, berhasil atau nggaknya sih tergantung
keberuntungan. Tapi kalau cuma aku sendiri mungkin susah, tapi kalau ada
Saritaf-chan, ada peluang menang nih."
Tsav menoleh sambil menyeringai. Angin lembap dan hangat
seolah berhembus melewati celah-celah lautan hutan.
"Ada yang lagi ngejar kita. Jumlahnya lebih dari
satu, minimal dua orang—Yah, semoga saja aku bisa negosiasi sama orang yang
bisa diajak kompromi. Mau
milih yang mana?"
Hukuman Khusus
Eksplorasi "Gate Of Origin"
2
Sejauh
yang kuketahui, Gate of Origin adalah salah satu reruntuhan paling
terkenal di wilayah utara.
Alasannya
adalah karena usianya yang sangat tua dan ukurannya yang di luar dugaan.
Jika
hanya melihat bagian atas tanahnya saja, orang pasti akan mengira ini hanyalah
puing-puing kecil yang terbengkalai. Bangunan buatan manusia yang sudah runtuh
total hingga hampir tidak menyisakan bentuk aslinya.
Menurut
para arkeolog, jika dilihat dari sisa-sisa pilar dan fondasinya, tempat ini
kemungkinan besar dulunya merupakan fasilitas sejenis kuil.
Ada
juga teori yang agak tidak biasa. Beberapa berpendapat bahwa tempat ini adalah
semacam ruang pertemuan, atau bahkan pemandian umum.
Namun,
yang membuat reruntuhan ini jauh lebih terkenal adalah bagian bawah tanahnya
yang sangat luas.
Sejauh
yang telah diketahui, setidaknya ada empat lantai bawah tanah yang skalanya
bahkan lebih besar daripada sebuah benteng kecil.
Ditambah
lagi, konon masih ada bagian-bagian yang belum tereksplorasi. Itu karena
sebagian areanya telah runtuh total, membuat siapa pun tidak bisa masuk ke
sana.
—Meski
begitu, di utara yang dipenuhi Aberrant Fairy dan Fenomena Raja Iblis
yang berkeliaran ini, tidak akan ada orang yang mau mengambil risiko demi
menyelami reruntuhan.
Bahkan di antara para petualang sekalipun, manusia yang
melakukan tindakan se-konyol itu pastilah sangat langka. Orang-orang tipe begitu biasanya tidak akan pernah bisa kembali.
Namun, siapa sangka kalau aku sendiri justru menjadi
bagian dari para petualang yang nekat menantang maut itu—apalagi dengan membawa
rombongan Aberrant Fairy.
Aku merasa frasa 'takdir yang ironis' pun terdengar
sangat hambar untuk menggambarkan situasi ini.
"Karena otoritas milik Goddess Bulan,
pencahayaan berbasis segel suci jadi agak sulit digunakan," ucap Empusa
sambil menyalakan api pada lentera.
"Perhatikan langkahmu. Kalau tersandung, kau
bisa cedera parah, atau bahkan mati."
"Aku nggak se-ceroboh itu," jawabku.
"Jangan sungkan. Ayo, jalan. Kalau tempat ini,
aku juga lumayan tahu banyak—kau mau lihat dari sebelah mana dulu?"
Sambil memegang lentera, dia mendorong punggungku
pelan. Mau tidak mau aku harus mulai melangkah, meskipun aku tidak punya tujuan
spesifik.
Hal yang sama juga terjadi di tiga reruntuhan
sebelumnya sebelum kami sampai di sini.
"Hei. Sebenarnya kalian ini mau menyuruhku melakukan
apa sih?" tanyaku mencoba mencari tahu.
Setidaknya bagi mereka—atau lebih tepatnya bagi
Tovitz—perjalanan ini tidak sepenuhnya tanpa hasil.
Kami sempat menemukan beberapa peralatan berbasis segel
suci yang tampaknya berasal dari era semi-kuno. Beberapa di antaranya bahkan
dibuat untuk tujuan militer.
Barang-barang semacam itu biasa disebut 'Persenjataan
Warisan', dan terkadang diperjualbelikan dengan harga tinggi di kalangan para
petualang.
Pihak Vaercl Company pasti juga akan menunjukkan
ketertarikan mereka.
Namun, pihak militer biasanya akan mengabaikannya kecuali
dalam situasi yang sangat mendesak.
Sebab, tidak akan ada gunanya jika mereka tidak bisa
menganalisis teknologinya untuk diproduksi secara massal.
Lagipula, jikapun ada Persenjataan Warisan yang bisa
mengubah situasi perang sendirian berhasil ditemukan, hampir tidak akan ada
orang yang mau melepaskannya dan pasti memilih untuk menyembunyikannya.
Aku sendiri sudah pernah melihat beberapa Persenjataan
Warisan.
Di wilayah selatan, barang-barang yang berasal dari
negara militer bernama 'Kekaisaran' yang ada pada era Pembasmian Raja Iblis
Kedua adalah yang paling banyak jumlahnya.
Sisanya adalah peninggalan dari Dinasti Kembar pada era
Pembasmian Raja Iblis Ketiga—yang terkenal biasanya berkisar di seputar itu.
"Memang sih kita sempat nemuin beberapa barang yang
mirip Persenjataan Warisan. Tapi cuma sebatas itu, kan?"
"Peninggalan masa lalu itu hanyalah bonus. Aku
mendampingimu berkeliling reruntuhan ini semata-mata karena ini menyenangkan
bagiku."
"Aku sama sekali nggak merasa ini
menyenangkan."
Aku terus melangkah maju dengan hati-hati sambil terus
didorong oleh Empusa. Bayangan kami memanjang dengan bentuk yang aneh dan
terdistorsi.
Mengikuti di belakang kami adalah sekitar dua puluh ekor Aberrant
Fairy—para Uhlmen.
Tentu saja kami tidak membawa seluruh seratus ekor masuk
ke dalam. Sisa lainnya pasti sedang berjaga di luar.
Ini mungkin juga salah satu cara mereka untuk mencegahku
kabur. Sebuah peringatan bahwa tidak akan mudah bagiku untuk meloloskan diri
dan keluar dari reruntuhan ini dengan mengecoh mereka.
Di posisi paling belakang, ada Soula Odd.
Tatapannya ke sekeliling tampak tidak tertarik, tapi dia
sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya.
"Kita harus turun lebih dalam lagi? Seingatku
reruntuhan ini buntu di lantai keempat," ujarku.
Aku sudah menerima peta sederhana dari reruntuhan ini dan
telah menghafalnya di luar kepala. Saat ini, kami sudah turun sampai ke lantai
kedua.
Seharusnya tidak jauh dari sini ada tangga lain yang
menuju ke bawah.
"Umu. Kalau begitu, mari kita pergi sampai ke jalan
buntu itu."
"Menurutku itu cuma bakal jadi kerjaan
sia-sia."
"Jangan berkata begitu. Di lantai keempat ada
sesuatu yang sangat menarik, jadi bersiaplah untuk menantikannya. Itu adalah
sesuatu yang bisa dibilang sebagai catatan umat manusia di masa lalu, dan
lumayan layak untuk dilihat—"
Empusa tiba-tiba menghentikan langkahnya. Begitu pula
denganku.
Suara. Aku merasa mendengar sesuatu.
Itu bukan suara dari para Aberrant Fairy yang
mengikuti di belakang kami, melainkan suatu suara yang asing.
(Suara apa itu?)
Hampir tanpa sadar, aku mengetuk dinding dengan
tangan kiriku. Hanya ada gema kosong yang memantul.
Tindakan yang konyol, mengingat aku sedang tidak
memegang segel deteksi Law Add.
Namun, setidaknya instingku untuk memahami situasi
sekitar dari pantulan suara masih tersisa sedikit.
Dari sana, aku langsung tahu.
"Sial... situasinya jadi merepotkan nih,"
gumamku.
Gaya bicaraku malah jadi mirip seperti Dotta atau Vanetim.
Tapi mau bagaimana lagi.
"Kita dikepung. Oleh sekumpulan makhluk yang
sepertinya nggak bakal menyambut kita dengan ramah."
"Ah. Kau benar sekali," Empusa mengangguk
setuju.
Soula
Odd bergerak tanpa suara. Dari arah belakang, gema suara sesuatu yang berlari
mendekat terdengar semakin keras.
Menanggapi
hal itu, Soula Odd langsung berbalik arah dan melepaskan tembakan dari Thunder
Staff miliknya.
Kilatan
cahaya dan suara gemuruh menggelegar. Sosok
yang berlari mendekat itu langsung terpental hancur.
Itu adalah binatang berkaki empat yang membengkak
dengan tanduk di kepalanya. Aberrant Fairy. Terlebih lagi, mereka dari
jenis Bogey.
Jumlahnya tidak hanya satu, melainkan masih ada
banyak lagi. Aku bisa tahu kalau mereka telah mengepung kami seiring suara
lolongan yang mulai bersahutan.
Kami benar-benar telah dikepung sepenuhnya.
"Mereka bukan bawahanku," Empusa membuka
dan mengepalkan tangan kirinya yang ramping dan panjang.
"Menyerang di tempat seperti ini... sudah hampir
pasti kalau mereka adalah pasukan Chernobog."
"Nggak ada kemungkinan kalau mereka itu Fenomena
Raja Iblis lain yang membencimu?" tanyaku.
"Fuhu! Maksudmu Nuckelavee? Dia tidak akan melakukan
hal sia-sia seperti ini. Bagaimanapun juga, kita harus menghadapinya. Aku tidak
boleh mati di sini. Dan tentu saja, Xylo, aku juga tidak akan membiarkanmu
mati."
"Aku juga nggak berniat mati semudah itu."
Sekarang, aku benar-benar berpikir begitu. Karena aku
belum meneruskan kisah mereka—kisah para pahlawan itu—kepada siapa pun.
Padahal Empusa baru saja mencemooh kisah itu sebagai
sesuatu yang membosankan.
"Merapat! Bertahan!" perintahku singkat kepada
para Uhlmen.
Koridor ini sama sekali tidak luas. Dan situasi itu justru menguntungkan bagi kami.
Dengan merapat, kami bisa menahan gempuran mereka
sekaligus memecah kepungan. Itu adalah langkah terbaik.
Soula Odd mendecit kesal, tapi dia tetap menunjukkan
gelagat untuk mengikuti perintahku.
—Namun, sebelum itu, gempuran yang jauh lebih kuat dari
perkiraan telah dimulai.
"Oh.
Itu... Mandragora!" teriak Empusa, entah kenapa dia malah terdengar
gembira.
"Itu jenis yang langka. Tidak salah lagi. Kawanan ini adalah milik
Chernobog! Sialan, dia ternyata lumayan mahir juga dalam membiakkan Aberrant
Fairy!"
Mandragora.
Jenis tanaman yang serupa tapi memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil daripada
Alraune; begitulah cara membedakan mereka.
Aku
bukan seorang cendekiawan yang bertugas memberi nama atau mengklasifikasikan Aberrant
Fairy, jadi aku tidak tahu sedetail itu.
Namun,
ada alasan kuat kenapa mereka dikategorikan dalam kelompok yang berbeda dari
Alraune.
Yaitu
'Benih' yang ditembakkan dari dalam tubuh mereka. Mereka bisa
melontarkannya layaknya anak panah dari busur. Itulah senjata terbesar
makhluk-makhluk ini.
"Tiarap!"
Instruksiku sedikit terlambat—tembakan beruntun langsung
melesat. Dinding batu hancur dan berlubang.
Para Uhlmen tertembak satu demi satu dan langsung
tumbang. Tembakan yang mengenai kepala secara langsung adalah yang paling
mematikan.
"Merepotkan sekali," gumam Soula Odd dengan
nada suram, lalu melepaskan tembakan dari Thunder Staff-nya.
Mandragora yang terkena tembakan langsung meledak
hancur. Satu ekor, dua ekor. Itu menjadi celah bagi kami.
Di saat tembakan 'Benih' musuh terhenti sesaat, aku
pun langsung bergerak.
Aku tidak berniat untuk mati. Itu adalah kebenaran
yang mutlak.
Saat ini, ada hal yang tidak ingin kulupakan.
Setidaknya harus ada seseorang yang menyampaikan dan menyisakan kisah itu untuk
dunia.
Meskipun aku tahu tindakan ini mungkin terasa bodoh
bagi mereka yang sudah mati.
Namun, jika aku adalah orang yang pintar, aku tidak
akan berakhir dalam situasi seperti ini. Aku memang selalu mengambil pilihan
yang bodoh dan salah, dan hal itu bukanlah hal baru bagiku.
(Lalu—apa yang harus kulakukan? Apa aku harus pakai
lengan kanan?)
Untuk sesaat, aku dilanda keraguan. Lengan kananku yang
lukanya sudah sembuh.
Menunjukkan kalau aku sudah bisa menggunakannya di depan
makhluk-makhluk ini rasanya hanya akan menjadi langkah yang buruk.
Akhirnya, aku memutuskan untuk menerobos hanya dengan
mengandalkan lengan kiri.
"Balas serangan!"
Aku menendang lantai, melontarkan sebuah senjata ke atas.
Itu adalah tombak pendek sederhana yang sebelumnya dipegang oleh seorang
Uhlmen.
Keuntungan dari makhluk-makhluk ini adalah postur dan
struktur tubuh mereka yang mirip dengan manusia, sehingga mereka bisa
menggunakan senjata yang serupa.
—Atau mungkin, senjata itu adalah apa yang mereka gunakan
saat mereka masih menjadi prajurit manusia sebelum menjadi 'seperti ini'.
Bagaimanapun juga, aku menangkap tombak pendek itu dengan
tangan kiri dan langsung melemparkannya.
Biar kuperjelas satu hal. Jika ini tentang teknik
melempar senjata, aku punya kepercayaan diri tinggi bahwa akulah yang paling
ahli di dunia.
Sebab aku telah melatih kemampuan itu secara konisten dan
selalu bertarung dengan gaya seperti itu.
"Empusa!" seruku.
Tombak yang kulemparkan berhasil menembus dan menghabisi
salah satu Mandragora.
"Terobos! Kamu yang memimpin di depan,
kan?!"
"Ku, kuku. Tentu saja."
Empusa mendengus geli sambil menendang seekor
Mandragora.
Dia mencengkeram makhluk itu, lalu membantingnya ke
arah gerombolan yang lain. Kemudian dia mengubah lengan kanannya menjadi
seperti cakar tajam untuk mencabik-cabik dan menebas musuh.
Serangan mendadak itu menjadi pukulan telak bagi
lawan.
Serangan balasan kami berhasil menyapu bersih para
Mandragora dalam sekejap mata. Tampaknya jumlah musuh yang menyerang kami tidak
sebanyak itu.
Empusa mengembuskan napas panjang. Bagian
bawah lehernya tampak memerah karena panas. Mungkin dia sengaja mengubah bentuk
tubuhnya seperti itu.
Aku hampir memahami seluruh seluk-beluk dari otoritas
makhluk ini.
Selain kekuatan dari Goddess Bulan, kemampuannya
untuk mengubah bentuk tubuhnya sendiri adalah otoritasnya sebagai Fenomena Raja
Iblis.
Membuatnya membengkak, mengeras, dan menaikkan suhunya
secara ekstrem. Kemampuan itu berpadu dengan kemampuan fisik khas binatang
miliknya, menghasilkan daya tempur yang luar biasa tinggi.
"Chernobog sialan," gumam Empusa sambil
mengembuskan napas yang menyerupai uap panas beberapa kali.
"Dia bertindak di luar dugaan. Apa
dia mengincar kita?"
"Nggak. Bukan begitu. Ini—"
Gerakan musuh sama sekali tidak konsisten. Ada keraguan
di dalamnya.
Jika tidak, gempuran pertama mereka pasti akan dimulai
dengan tembakan beruntun sejak awal.
Tapi jenis Bogey justru maju duluan seolah-olah hanya
ingin memeriksa situasi.
Itu berarti, pihak musuh pun pada awalnya tidak bisa
memastikan apakah kami ini lawan atau bukan, kan?
Jika demikian, maka ini adalah 'Pertempuran Tak Terduga'.
Sebuah bentrokan di situasi yang sama-sama tidak direncanakan oleh kedua belah
pihak.
Rencana—memangnya apa rencana makhluk-makhluk ini? Aku
tidak berpikir mereka datang ke sini untuk wisata reruntuhan seperti kami.
(Jangan-jangan, tempat ini adalah sarang mereka?)
Tapi itu juga terasa janggal. Jika iya, mereka pasti akan
menyerang dengan jauh lebih agresif sejak awal.
Karena tindakan yang wajar adalah langsung menganggap
kami sebagai penyusup sejak detik pertama.
Jika demikian, penyebab dari pertempuran tak terduga ini
pastilah karena hal yang sama sekali berbeda.
Jika dipikir secara logis, hanya ada satu jawaban yang
paling sederhana.
Ada umpan di sini. Entah ada manusia yang melarikan diri
ke tempat ini, atau memang ada yang tinggal di sini. Salah satu dari dua
kemungkinan itu.
"Xylo! Waspadalah," Empusa memberi peringatan.
"Ada gelombang baru yang mendekat, jangan menjauh
dariku. Kau bisa mati."
Mandragora mengeluarkan jeritan melengking yang
memekakkan telinga. Makhluk itu memang memiliki sifat seperti itu. Dia pasti
sedang memberi tahu kawanannya. Gelombang berikutnya akan segera datang.
Dari arah ujung koridor, aku merasakan hembusan angin
kencang yang menerpa. Itu adalah seekor Bogey dengan ukuran tubuh yang luar
biasa besar.
Sesosok individu yang menumbuhkan tanduk melengkung
di dahinya.
Jika ukurannya sedikit lebih besar lagi, dia mungkin
akan disebut sebagai jenis Barghest—tapi sekali lagi, klasifikasi semacam itu
sama sekali tidak penting bagiku.
"Apa makhluk ini pemimpin kawanannya?"
gumam Soula Odd sambil mengaktifkan Thunder Staff-nya.
Kilatan cahaya melesat. Namun, Bogey berukuran besar
itu berhasil menghindarinya dengan sangat mudah.
Sambil melompat, dia melancarkan serangannya. Tanduk
di dahinya telah berubah fungsi layaknya pedang melengkung.
Dia menebas dinding reruntuhan seiring langkahnya
yang semakin mendekat ke arah kami.
Salah satu Uhlmen yang mencoba mengambil posisi
bertahan langsung tergilas oleh terjangan itu, membuat kepalanya terlempar
putus.
"Giring dia!" gumam Soula Odd dengan suara
rendah.
"Xylo, lakukan sesuatu!"
"Nggak usah disuruh pun aku bakal
bertindak!"
Aku kembali menendang senjata yang ada di dekat
kakiku ke atas. Kali ini adalah sebuah pedang satu tangan, berbeda dengan
tombak pendek yang tadi.
Aku menangkapnya dengan tangan kiri, lalu menahan
terjangan Bogey itu untuk mengalihkan arah serangannya.
Tetap saja, karena hanya mengandalkan satu tangan,
aku tidak bisa menangkisnya dengan sempurna, membuat bahu kananku tergores
sedikit.
Aku berniat membalas serangan—namun di saat yang
sama, tubuhku sudah refleks mengambil tindakan menghindar.
Ekor Bogey itu membelah udara dengan suara yang
tajam. Sebuah suara desingan angin yang nyaring.
Ekor itu melintas tepat di depan mataku—ujung ekornya
dipenuhi duri tajam yang menyerupai pisau, atau lebih tepatnya berbentuk
seperti tanduk.
Ujung tajam yang berkilau samar itu merobek bagian
dadaku. Rasa sakit yang panas langsung menjalar.
(Sampai ekornya pun jadi senjata, ya. Jarang-jarang ada yang begini.)
Individu yang mengalami perubahan khusus seperti ini
biasanya akan menempati posisi sebagai pemimpin kawanan.
(Artinya, kalau aku bisa membunuh makhluk ini—)
Kawanannya mungkin akan langsung kocar-kacir. Aku
berharap dalam hati agar Soula Odd bisa se-kompeten seperti yang kubayangkan.
Sambil berharap, aku justru merangsek maju mendekati
Bogey yang baru saja menendang dinding untuk berbalik arah ke arahku, alih-alih
melarikan diri dari tempat itu.
Meluncur maju dengan cepat. Ayunan ekornya sama
sekali bukan ancaman yang berarti bagiku.
(Aku bahkan pernah menghindari ayunan ekor Brigid.)
Jika dibandingkan dengan itu, gerakan makhluk ini
jauh lebih lambat. Aku bisa menghindarinya dalam jarak setipis rambut—sisanya,
aku serahkan pada Soula Odd.
Dia sendiri yang bilang mau menggiringnya, kan. Dia
pasti bisa membuktikan ucapannya sendiri.
Dan benar saja, rencana itu berhasil dengan mulus.
"Bagus," gumam Soula Odd, disusul kilatan
cahaya dan suara ledakan.
Petir menyambar, membuat kaki depan Bogey itu langsung
hancur berantakan.
"Sesuai dugaan, kau memang ahli dalam menjadi umpan,
Penghukum Berani."
Di arah tempat Bogey itu terjatuh karena gagal mendarat
dengan benar, aku sudah mengacungkan pedangku. Tepat di bagian perutnya.
Aku menusukkannya secara lurus, dan dengan begitu
pertempuran pun berakhir. Tidak perlu ada serangan susulan.
Empusa langsung mendaratkan tendangan dari arah samping
ke arah Bogey yang sudah tidak bisa bergerak itu. Sebuah hantaman dari kaki
yang membengkak tebal dan panjang, lengkap dengan kuku pemukulnya.
Serangan itu sangat telak, membuat kepala Bogey langsung
hancur berkeping-keping akibat satu hantaman tersebut.
"Umu. Kita sudah membereskan yang besar, ayo
menerobos lewat sini!" seru Empusa sambil membuka jalan.
Dia mencoba melarikan diri ke koridor yang menuju ke
luar, tempat kepungan musuh terasa lebih longgar.
Namun, aku justru menunjuk ke arah yang sebaliknya.
"Lewat sini! Kita pergi ke bagian dalam, ada tangga
turun di sana!"
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau benar-benar ingin
mati? Aku tidak akan mengizinkannya, lho."
Empusa tertawa di balik tenggorokannya.
Sebenarnya, aku mulai menyadari bahwa itu bukanlah suara
tawa yang tulus. Melainkan sebuah gerakan persiapan untuk menyerang.
"Sama sekali tidak mencerminkan seorang
pahlawan—kalau begitu, aku tidak punya pilihan selain mematahkan kedua kakimu
di sini."
"Bukan begitu. Ada seseorang yang butuh bantuan di
dalam sana," ujarku.
Mau tidak mau aku harus menarik napas dalam-dalam
sejenak. Aku hendak mengucapkan sesuatu yang sebenarnya membuat perasaanku
sendiri tidak nyaman.
Tapi mau bagaimana lagi. Karena lawanku adalah Empusa,
aku tidak punya pilihan selain mengatakannya seperti ini.
"Karena aku ini seorang pahlawan, kan?"
Aku tidak tahu kata-kata apa lagi yang lebih tepat selain
itu.
"Kalau ada seseorang yang meminta bantuan, aku pasti
akan menolongnya."
Perasaanku benar-benar buruk saat mengatakannya.
Si Soula Odd bahkan sampai menyeringai sinis sambil terus
menembakkan Thunder Staff-nya. Dia jelas-jelas sedang mengejekku.
Kilatan cahaya dari petir yang dilepaskannya menerangi
senyum menyebalkan itu dengan warna putih yang kontras.
"Oh—oh, luar biasa sekali, Xylo Forbartz," ucap
Empusa.
Mata kirinya, dengan pupil hitam pekat, langsung
melebar sempurna. Dia berseru dengan lantang.
"Dengan begini, kau memang memiliki nilai yang
pantas untuk menjadi ahli strategi milikku. Memang
benar, aku bisa merasakan hawa keberadaan manusia. Di lantai keempat, ya!"
"Kalau sudah paham, ayo merangsek maju. Aku bakal kasi bantuan perlindungan."
Aku menarik kembali tombak pendek yang tertancap di
dinding.
Jumlah Uhlmen yang tersisa adalah sebelas ekor. Kami
pasti bisa melakukannya. Menghabisi mereka satu per satu.
Aku juga tahu kalau jumlah musuh sebenarnya tidak
sebanyak itu. Tangga turun ke bawah langsung terlihat dalam waktu singkat.
Di sana, para Aberrant Fairy tampak berkumpul
mengelilingi area seolah sedang menjaga tempat itu.
Kedatangan kami jelas di luar dugaan mereka, membuat
mereka tidak bisa langsung mengidentifikasi kami sebagai musuh seketika.
Setelah situasi berubah menjadi serangan kejutan yang
sempurna, tugas kami selanjutnya hanyalah melakukan pemusnaan total.
Hukuman Khusus
Eksplorasi "Gate Of Origin"
3
Setelah
melindas para Aberrant Fairy yang menghalangi jalan, apa yang kami
temukan di lantai keempat adalah jejak kehidupan yang jelas.
Bahkan,
jejak itu dibuat dengan cukup rumit. Di sana terdapat fasilitas pertahanan yang
menggunakan segel suci. Mulai dari penghalang untuk mencegah erosi dari
kontaminasi Aberrant Fairy, hingga senjata segel suci darurat untuk
menyerang musuh secara langsung.
Beberapa
di antaranya sudah dihancurkan paksa dan berubah menjadi rongsokan, tapi
setidaknya fungsi dasarnya sempat bekerja.
(Mereka
menggabungkan tali dan pasak—jadi kalau disentuh, petir akan tersambar, ya.)
Perangkap macam ini jarang digunakan di dalam
militer. Pihak militer biasanya menggunakan mekanisme yang jauh lebih rumit.
Alih-alih militer, ini adalah jenis perangkap
antipersonel untuk melawan Aberrant Fairy yang biasa digunakan di
desa-desa perintis terpencil.
"Ini perangkap pemburu," gumam Soula Odd
dengan suara rendah.
Jarang sekali orang ini mau membuka mulut atas
inisiatifnya sendiri.
"Di Pegunungan Quadai, kami sering membuat
perangkap seperti ini. Meskipun yang ini buatannya sangat kasar."
"Kamu dulunya pemburu juga?" tanyaku.
Namun, Soula Odd langsung mengatupkan mulutnya
rapat-rapat dan menolak menjawab. Wajahnya menunjukkan penyesalan karena telah
membocorkan hal yang tidak perlu.
Perangkap yang kasar. Aku membungkuk dan mengamati
sisa-sisa jejak yang tertinggal.
Jika Soula Odd yang seorang ahli sampai berkata
begitu, maka kemungkinan besar memang begitulah kenyataannya. Pemasangan
mekanismenya juga terasa agak terlalu rendah.
Jika demikian, berarti tempat ini—
"Xylo. Cukup sampai di situ saja," Empusa
menyentuh bahuku.
Dia melangkah maju seolah ingin melindungiku, lalu
mengangkat lenteranya untuk menerangi kegelapan di depan.
"Ada sesuatu di sana. Manusia. Jumlahnya lumayan
banyak."
"—Jangan mendekat lagi!" sebuah suara
melengking memperingatkan kami.
Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah sumber suara.
Tepat seperti yang dikatakan Empusa, ada banyak bayangan
manusia di sana. Dan luar biasanya, mereka semua adalah anak-anak.
Masing-masing dari mereka sedang menggenggam senjata di
tangannya. Yang kondisinya lumayan baik hanyalah beberapa pucuk Thunder
Staff.
Sisanya hanya memegang tombak buatan sendiri, busur
panas, ranting pohon biasa, atau bahkan hanya bongkahan batu.
Namun, senjata-senjata itu tampaknya sempat berguna untuk
mempertahankan diri sampai batas tertentu.
Di dekat kaki mereka, aku bisa melihat bangkai Aberrant
Fairy yang terkapar. Dua ekor Bogey dan satu ekor Fuath.
Mereka pasti menghadang dan menghabisi musuh yang
berhasil lolos dari perangkap pertahanan di depan. Itu adalah pencapaian yang
luar biasa bagi anak-anak.
(Nekat sekali mereka.)
Bagaimana bisa sekumpulan anak-anak berpikir untuk
bertahan hidup sendirian di tempat seperti ini.
Jika kami tidak datang, korban di pihak mereka pasti
sudah bertambah. Jumlah musuh yang menyerang tadi terlalu banyak bagi mereka.
Mereka sendiri tampaknya sangat menyadari hal itu.
Wajah-wajah mereka yang tersorot oleh cahaya lentera
tampak pucat pasi, terdistorsi oleh rasa takut dan ketegangan yang luar biasa.
"Jangan bergerak. Kalau melangkah lagi, kami
tembak. Ini bukan gertakan!" seru salah satu dari mereka.
Dia adalah seorang anak laki-laki yang berpostur paling
tinggi di antara mereka, dengan bekas luka bakar yang mencolok di wajahnya.
Dia sedang mengarahkan sebuah Thunder Staff model
lama ke arah kami.
"Aku paham," ujargu sambil mengangkat tangan
kiri.
Aku berniat menyampaikan pesan bahwa kami tidak memiliki
niat buruk sama sekali.
"Kami nggak berniat melukai kalian. Malahan kami
baru saja menolong kalian, jadi seharusnya kalian berterima kasih pada
kami."
"Bohong! Kalian juga Aberrant Fairy dan
sekongkolannya, kan?!"
"Ah..." Aku mendadak kehilangan kata-kata.
Wajar saja jika mereka berpikir begitu. Kami datang
dengan membawa rombongan Uhlmen, dan penampilan fisik Empusa sendiri
jelas-jelas bukan manusia.
Empusa tampaknya juga menyadari posisinya, lalu tertawa
kecil di balik tenggorokannya.
"Penampilan kita pasti terlihat sangat mengerikan di
mata mereka. Xylo,
tampangmu juga tidak kalah menyeramkan, lho."
"Berisik...
Intinya, kalian semua tenang dulu," kataku mencoba menenangkan situasi,
meski aku tahu aku tidak pandai melakukan hal semacam ini.
"Maaf
kalau kami mengganggu. Nggak usah disuruh pun kami bakal segera pergi dari
sini. Kami nggak bakal ngapa-ngapain kok."
"Aku
tidak setuju dengan itu, Xylo," Empusa langsung menyela pernyataanku.
"Eksplorasi kita belum selesai. Aku harus
memandumu berkeliling reruntuhan ini. Jika anak-anak ini menghalangi, kita
bunuh saja semuanya. Itu pasti perkara mudah."
"Jangan gila, jangan melakukan hal bodoh yang
sia-sia. Menurutmu untuk apa kita menolong mereka tadi?"
"Untuk apa? Tentu saja untukmu. Karena kau bilang
ingin bertindak layaknya seorang pahlawan, makanya aku membantu mereka."
"Kalau kamu berpikir begitu, maka biarkan aku
bertindak layaknya pahlawan sampai akhir."
"Oh."
Argumen itu ternyata sangat mempan bagi Empusa. Dia bahkan bertepuk tangan dengan ekspresi yang tampak sangat gembira.
"Benar juga, ucapanmu ada benarnya. Tapi
eksplorasi reruntuhan ini tetap wajib dilakukan. Aku ingin
memandumu melihat tempat ini."
"Kita bisa eksplorasi setelah anak-anak ini pergi
dari sini, kan?"
"Hou. Apa kau punya cara untuk membuat mereka
pergi?"
"Punya."
"Kalau begitu, baiklah."
Empusa mengangguk sambil tersenyum, lalu tiba-tiba
mengangkat kakinya.
Kuku pemukulnya langsung menghantam dan menghancurkan
kepala seorang Uhlmen yang berdiri di dekatnya.
Makhluk itu tewas seketika dalam satu hantaman tanpa
sempat mengeluarkan jeritan sedikit pun.
Aku bisa merasakan ketakutan yang menjalar di antara
anak-anak itu—aku benar-benar dibuat heran oleh tindakannya.
"Oi. Apa-apaan yang kamu lakukan...!"
"Sejak tadi, ada beberapa dari mereka yang
menunjukkan tanda-tanda kelaparan."
Empusa menggesekkan kuku kakinya ke lantai batu.
Tampaknya untuk membersihkan sisa-sisa daging Uhlmen yang menempel di sana.
"Jika tidak membunuh satu ekor sebagai contoh,
mereka tidak akan paham. Karena tubuh manusia kecil seperti mereka terlihat
sangat lemah dan lezat."
Empusa mengedarkan pandangannya ke arah sepuluh Uhlmen
yang tersisa. Mereka tampak gemetar ketakutan.
Harus kuakui, tindakan ekstrim tadi memang menjadi
peringatan yang sangat efektif bagi bawahannya.
"Dengan begini, urusan kita bisa selesai lebih
cepat."
Aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya merasa sangat
muak.
"Namun, kau benar-benar selalu memenuhi
ekspektasiku, Xylo Forbartz. Kau pasti berpikir bahwa membunuh rekan adalah
sebuah dosa, kan? Makanya kau merasa tidak nyaman sekarang. Bagus. Harus
begitu."
"...Cukup. Kamu diam saja dulu—Dengar, kalian
semua," setelah memperingatkan Empusa, aku kembali mengalihkan perhatianku
pada anak-anak itu.
"Segera ganti tempat persembunyian kalian
sekarang juga."
Sambil berbicara, aku terus mengamati kelompok
anak-anak ini.
Paling tua di antara mereka mungkin hanya berusia belasan
tahun awal. Jumlahnya berkisar tiga puluh orang, atau mungkin lebih. Kegelapan
di bagian dalam membuatku tidak bisa menghitung dengan pasti.
"Tempat
ini sudah terendus oleh Aberrant Fairy. Cepat bergerak."
"Tapi
kalian juga bagian dari mereka."
"Mungkin
saja. Kalau begitu, kalian harusnya buru-buru kabur dari sini. Pergilah ke arah
barat menyusuri Sungai Scar. Dari sana, jarak ke Nofan sudah dekat."
"...Nggak bisa. Kami nggak bisa bergerak
sekarang."
Anak laki-laki yang tampaknya menjadi pemimpin
kelompok itu melirik sekilas ke arah kegelapan di belakangnya.
"Akibat serangan tadi, ada beberapa teman kami
yang terluka parah. Kami nggak bisa meninggalkan mereka."
"Begitu ya. Berarti kalian butuh segel suci
untuk pengobatan."
Aku menoleh ke arah Soula Odd. Pria berdarah dingin yang
selalu waspada ini pasti membawa persediaan barang semacam itu.
"Pinjamkan punyamu, Soula Odd. Kalau kamu butuh
bayaran—"
"Tidak perlu. Pakai saja sesukamu."
"Ada apa ini? Tiba-tiba kamu jadi gampang diajak
kompromi."
"Tentu saja. Ini adalah imbalan atas perannya
sebagai umpan tadi. Kau bergerak dengan sangat baik sesuai dengan
instruksiku."
"Siapa juga yang bergerak sesuai instruksimu."
"Hasil akhirnya sama saja. Bagiku, hal selain hasil
akhir itu sama sekali tidak penting. Lagipula—"
Tatapannya tertuju pada luka di bahu kananku. Luka
goresan dangkal akibat serangan Bogey tadi yang baru ditangani dengan
penghentian darah sederhana.
Soula Odd menyeringai sinis ke arahku.
"Aksi kepahlawanan yang luar biasa, Xylo Forbartz.
Padahal lengan utamamu baru saja sembuh total dengan susah payah."
Bajingan ini, ternyata dia sudah menyadari kalau lengan
kananku telah sembuh.
Aku memang sudah menduganya, tapi saat dia mengatakannya
langsung secara blak-blakan, aku jadi ingin memuji betapa busuknya sifat pria
ini.
"Sifatmu benar-benar mengagumkan ya,
sungguhan."
◆
Anak-anak yang bersembunyi di kegelapan itu ternyata
berjumlah sekitar empat puluh orang jika total semuanya dihitung.
Tampaknya mereka semua adalah anak-anak yang
kehilangan desa tempat tinggal mereka di wilayah utara.
"Kami melarikan diri saat hampir dijadikan
tumbal penjarangan penduduk. Kami semua sama," ucap anak laki-laki dengan
bekas luka bakar di wajahnya yang bertindak sebagai pemimpin kelompok.
Penjarangan penduduk adalah hal yang lumrah terjadi
di desa-desa yang berada di bawah kendali Fenomena Raja Iblis.
Mereka akan mengorbankan anak-anak terlebih dahulu
untuk diserahkan sebagai tumbal. Tempat-tempat mengerikan di mana
manusia tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup seperti itu memang
benar-benar ada.
Empusa mengangguk-angguk paham setelah mendengar
penjelasan itu.
"Begitu ya. Tubuh manusia kecil—anak-anak,
memang tidak memiliki banyak fungsi kegunaan. Jika diubah menjadi Aberrant
Fairy pun, hasilnya hanya akan menjadi individu yang inferior. Namun,
daging mereka jauh lebih empuk daripada manusia berusia tua, dan banyak dari
kami yang menyukainya. Makhluk yang hanya berpikir jangka pendek pasti akan
memprioritaskan anak-anak terlebih dahulu untuk disingkirkan."
Meskipun dia berbicara dengan nada datar, pandangan mata
Empusa sama sekali tidak tertuju pada anak-anak itu. Dia benar-benar tidak
tertarik pada mereka.
Tatapannya seolah-olah hanya tertuju padaku seorang.
Meskipun dia sedang tersenyum, tatapan matanya terasa sangat dingin hingga
membuat merinding.
Oleh karena itu, aku memilih untuk mengabaikan keberadaan
Empusa dan memfokuskan pertanyaanku pada anak-anak itu.
Aku membungkuk, menyamakan tinggi pandanganku dengan anak
laki-laki yang menjadi pemimpin mereka.
"Jadi, kalian berhasil kabur ke sini?"
"Benar," jawab anak itu sambil mengangguk.
Dia menatapku dengan lekat. Sorot matanya agak berbeda
dengan kewaspadaan biasa.
Aku merasa ada sesuatu yang aneh dari caranya
memandangku. Jika harus disamakan dengan sesuatu, tatapannya mirip seperti
sedang 'menilai harga'.
"...Kalian ini sebenarnya siapa?"
"Kami semua punya posisi yang berbeda-beda di
kelompok ini. Pria di belakang itu adalah pekerja serabutan kelas dua yang
bergerak demi uang. Soula Odd."
Aku menunjuk Soula Odd dengan daguku. Pria itu tidak
memberikan bantahan apa pun. Dia hanya memalingkan wajahnya sambil menyeringai
sinis.
"Lalu yang ini adalah Fenomena Raja Iblis bernama
Empusa."
Anak-anak itu langsung mengambil posisi waspada saat
aku mengenalkan Empusa.
Namun, Empusa sendiri sama sekali tidak mengacuhkan
mereka, bahkan tidak melirik mereka sedikit pun. Dia justru sibuk membersihkan
kuku kakinya yang kotor.
"Dan aku adalah Xylo Forbartz. Seorang tahanan yang sedang ditangkap oleh mereka."
"...Bohong, kan?" Anak laki-laki itu
terbelalak kaget.
"Kakak adalah sosok yang terkenal itu?"
"Kamu tahu tentangku ya. Tapi ya, status itu
nggak ada gunanya sekarang. Seperti yang kamu lihat, aku cuma
seorang tahanan."
"...Tapi di mataku, bagaimana pun aku melihatnya...
Kakak terlihat seperti sosok yang sedang memimpin Fenomena Raja Iblis dan para Aberrant
Fairy itu."
"Jangan bicara sembarangan. Nanti ada orang yang
jadi besar kepala."
"Fuhu! Maksudmu aku ya. Aku senang karena kau bisa
memahami keberadaanku dengan baik—Nah, sekarang."
Empusa berdiri lalu menepuk pundakku pelan.
"Urusannya sudah selesai, kan? Mari kita lanjutkan
wisata reruntuhannya."
Tubuhku ditarik paksa hingga berdiri oleh kekuatannya
yang besar. Entah kenapa dia tampak sangat bersemangat.
"Bisa sampai ke tempat ini benar-benar sebuah
keberuntungan. Lihatlah. Bukankah ini sebuah puisi naratif yang sangat
indah?"
Arah yang ditunjuk oleh Empusa hanyalah sebuah dinding
kosong. Untuk sesaat, aku tidak bisa memahami maksudnya.
Sebuah dinding batu yang retak-retak. Tidak
ada gambar atau ukiran apa pun di sana.
"Dinding ini kenapa memangnya?" tanyaku.
"Oh. Jika kondisinya begini, manusia memang tidak
akan bisa melihatnya ya! Aku hampir melupakannya. Cara menikmatinya adalah
seperti ini."
Tangan kanan Empusa menyentuh permukaan dinding batu
tersebut. Aku bisa melihat telapak tangannya berubah warna menjadi merah pekat
dan mengeluarkan suhu panas yang sangat tinggi—aku bahkan sempat mendengar
suara desisan pelan.
"Gambar ini akan memunculkan wujudnya jika
dipanaskan."
Dan benar saja, dari area yang baru saja diusap oleh
tangan Empusa, sebuah lukisan dan deretan teks mulai memunculkan wujudnya.
Menariknya, lukisan itu tampak bergerak-gerak seperti
memiliki nyawa. Ini bukan sekadar ilusi mata atau karena pengaruh bias cahaya.
Lukisan itu benar-benar bergerak di atas permukaan
dinding, persis seperti pertunjukan teater bayangan.
(Mirip dengan proyektor lentera.)
Aku pernah melihat peralatan suci yang memiliki
mekanisme serupa. Sebuah teknik pertunjukan sulap yang memanfaatkan pancaran
cahaya dan bayangan untuk menampilkan sebuah cerita bergambar.
Namun, seni yang ada di depan mataku saat ini jelas
berada di level yang sama sekali berbeda. Gambar yang terukir di dinding batu
ini benar-benar bergerak hidup.
Fenomena ini sukses membuat anak-anak terbelalak
heran, bahkan sorot mata Soula Odd pun langsung menajam seketika.
"Lukisan yang hidup. Ini adalah
teknik buatan Aviri dari Magic Circle. Dia benar-benar makhluk yang
sangat unik—konon di dunia tempat tinggalnya yang disebut 'Sistem Biner',
barang-barang semacam ini adalah hal yang sangat lumrah ditemukan."
Aku tidak bisa memahami bahkan setengah dari apa yang
diucapkan oleh Empusa.
Aku hanya terus memfokuskan pandanganku pada lukisan yang
bergerak itu. Lukisan itu menampilkan sebuah cerita yang digambarkan dengan
perpaduan beberapa warna cerah yang berkilau.
Namun, cerita itu bukanlah sesuatu yang asing bagiku.
(—Aku pernah melihat cerita ini.)
Sebuah kisah dari era Pembasmian Raja Iblis Pertama yang
biasa disebut 'Kisah Sembilan Bintang'.
Atau mungkin, lebih tepat jika disebut sebagai mitologi
atau legenda kuno.
Kisah tentang sembilan pahlawan yang dipanggil ke dunia
ini untuk bertarung melawan para Fenomena Raja Iblis, dan pada akhirnya
berhasil membasmi mereka semua.
Itulah inti utama dari cerita tersebut yang sifatnya
mutlak, meski memiliki beberapa variasi akhir cerita yang berbeda-beda.
Ada versi yang menceritakan bahwa para pahlawan akhirnya
kembali ke dunia asal mereka, versi yang menceritakan mereka menjadi sembilan
raja yang memimpin dunia ini, atau versi di mana mereka menghilang begitu saja
tanpa jejak.
Namun, bagian akhir yang ditampilkan oleh 'lukisan hidup'
ini terasa sangat unik dan berbeda.
Setidaknya, aku belum pernah melihat versi akhir cerita
yang seperti ini.
"Mereka... gagal melakukan pembasmian?"
Tampaknya situasi itulah yang ingin digambarkan oleh
lukisan ini.
Teks yang tertera di sana ditulis menggunakan bahasa yang
jauh lebih tua daripada bahasa Kerajaan Kuno, membuatku hampir tidak bisa
membacanya sama sekali.
Namun, dari visual lukisan yang bergerak, aku bisa
memahami garis besar ceritanya.
Ujung utara dunia. Sembilan pahlawan akhirnya berhasil
mencapai 'Altar' yang berada di tempat tersebut.
Pertempuran yang luar biasa sengit melawan para Fenomena
Raja Iblis pun pecah.
Konon di masa lalu yang sangat jauh, di era para
pahlawan, manusia bisa menggunakan sihir dan mukjizat yang murni. Segel suci
dan stigmata yang ada saat ini hanyalah sisa-sisa kecil dari kekuatan era
tersebut.
Dalam 'Kisah Sembilan Bintang', kekuatan dari era misteri
tersebut dikerahkan secara maksimal.
Neeg si Greed melahap seluruh daratan bersama
dengan para Fenomena Raja Iblis, Aviri si Magic Circle menyebarkan
penyakit mematikan di pihak musuh, dan Yukihito si Judge merangsek maju
menghancurkan monster-monster dengan ukuran tubuh raksasanya. Pertempuran yang
sangat brutal terjadi di sana.
(Kalau dipikir-pikir, pria aneh dengan lengan kanan besar
itu juga bernama Yukihito.)
Apa nama pria itu diambil dari nama pahlawan legenda ini?
Rasanya bukan begitu, tapi jika dia memang hidup sejak zaman kuno, itu jauh
lebih sulit dipercaya lagi.
Dalam legenda, Yukihito digambarkan sebagai seorang pria
raksasa sebesar gunung, sesosok monster bermata satu yang bisa mengembuskan
kabut.
Namun, poin pentingnya bukan di sana. Melainkan
kelanjutan dari cerita ini.
Para Fenomena Raja Iblis pun akhirnya bertekuk lutut dan
menerima kekalahan di hadapan para pahlawan yang luar biasa kuat itu.
Hingga sosok Fenomena Raja Iblis hitam terakhir yang
tersisa pun akhirnya berhasil ditumbangkan.
(Sampai di sini, ceritanya masih sama dengan 'Kisah
Sembilan Bintang' yang kuketahui. Tapi—)
Tepat setelah adegan kemenangan sembilan pahlawan
ditampilkan, visual dari lukisan itu mendadak berubah menjadi sangat kasar dan
mulai terdistorsi.
Aku menyipitkan mata, berusaha keras untuk membaca pesan
yang tersirat di dalamnya.
"Umu. Apa karena faktor usia ya? Sayang
sekali," gumam Empusa sambil berulang kali mengusap dinding batu itu
dengan tangan kanannya.
Suhu panas kembali disalurkan, membuat pergerakan lukisan
itu perlahan kembali berjalan meski tampak sedikit kaku.
Setelah berhasil membantai seluruh monster yang diduga
sebagai Fenomena Raja Iblis, sembilan pahlawan itu menghentikan langkah mereka
dan berdiri menghadap ke arah 'Altar'.
Mereka kemudian menghancurkan 'Altar' tersebut secara
total—namun kejadian setelah itulah yang menjadi masalah utamanya.
Para pahlawan itu—entah kenapa semuanya menunjukkan
ekspresi kecewa yang mendalam, ada yang menundukkan kepala sedih, dan ada pula
yang pergi meninggalkan tempat itu sambil tersenyum sinis.
'Altar' yang seharusnya sudah hancur total itu,
perlahan-lahan mulai beregenerasi kembali ke bentuk semula, dan pada akhirnya
membuka sebuah 'Gerbang'.
Lukisan hidup itu berakhir dengan visual monster-monster
baru yang kembali merangkak keluar dari dalam gerbang tersebut.
(Apa-apaan maksud dari semua ini?)
Sebuah pesan tertulis dalam bahasa kuno dari masa lalu
yang sangat jauh.
Dua baris kalimat yang muncul di bagian paling akhir
cerita adalah kalimat yang secara kebetulan bisa kubaca artinya.
Sepertinya aku harus berterima kasih setidaknya sekali
pada Siguria Pachilacto yang dulu selalu memaksa berbagi pengetahuan tidak
penting ini denganku.
Garis besarnya—kalimat pertama berbunyi, 'Fenomena Raja
Iblis Pertama dan Terakhir, Tir Na Nog'.
(Jadi objek ini adalah makhluk itu?)
Sosok yang membuka 'Gerbang' di bagian akhir dan
memanggil monster-monster baru.
Jika melihat dari deskripsi visualnya, berarti objek
ini—adalah sesosok Fenomena Raja Iblis yang bertugas memanggil Fenomena Raja
Iblis lainnya, ya.
Objek 'Altar' ini. Dialah Tir Na Nog.
Jika memang begitu—pandanganku langsung terkunci
rapat pada baris kalimat berikutnya yang tertulis di sana.
"Tovitz pasti ingin menunjukkan bagian ini padamu,
kan?" Empusa mengangguk mantap.
"Tir Na Nog, ya. Aku tidak boleh menceritakannya
secara langsung padamu, tapi jika kau mengetahuinya sendiri dengan cara seperti
ini, maka itu tidak akan menjadi masalah."
Aku merasa mulai bisa memahami apa yang sedang dipikirkan
oleh Tovitz. Aku membaca baris kalimat berikutnya dengan suara lirih.
"Daratan itu sendiri, adalah eksistensinya—ya."
Aku tidak memiliki kepercayaan diri tinggi dalam
menerjemahkan bahasa kuno, jadi mungkin saja artinya sedikit bergeser.
Namun, ini adalah rangkaian kata yang sangat sederhana
bahkan untuk ukuran kemampuanku. Jadi artinya pasti tidak akan jauh dari itu.
"Fu... ku, ku, ku! Bagimu, ini adalah sebuah fakta
yang sangat kejam, kan?" Soula Odd mengeluarkan suara tawa yang penuh
dengan niat buruk.
(Apa manusia bisa membunuh daratan itu sendiri? Jika hal
itu mustahil dilakukan, maka Fenomena Raja Iblis pasti akan selalu dipanggil
kembali ke dunia ini.)
Karena itulah Tatsuya tidak pernah dibebaskan dari
tugasnya dan harus terus bertarung selamanya.
Selama ini aku mengira hal itu terjadi karena belum ada
bukti valid bahwa Fenomena Raja Iblis tidak akan muncul kembali, tapi ternyata
ada alasan yang jauh lebih mendasar dan fisik di balik semua itu.
Dengan kata lain, Fenomena Raja Iblis pertama dan
terakhir, sosok yang bertugas memanggil Fenomena Raja Iblis lainnya, Tir Na
Nog, adalah eksistensi yang tidak akan pernah bisa dimusnahkan oleh siapa pun.
Itulah akhir dari segalanya.
Jika daratan itu sendiri adalah wujud dari Fenomena Raja
Iblis, lalu dengan cara bagaimana manusia bisa memusnahkannya? Mencongkel
seluruh tanah dan menenggelamkannya ke dasar lautan?
Pasti sudah ada orang di masa lalu yang pernah mencoba
metode ekstrim seperti itu. Namun, mereka semua gagal.
—Perlahan, visual dari lukisan hidup itu memudar dan
menghilang sepenuhnya, sementara Soula Odd masih terus tertawa sinis.
"Bahkan sembilan pahlawan pertama pun hanya bisa
pergi dengan rasa kecewa yang mendalam saat berdiri di hadapan altar itu. Orang
awam sepertiku pun bisa memahami maksud dari gambar tadi dengan
mudah—Bagaimana, Xylo? Apa sekarang kau sudah mulai merasakan
keputusasaan?"
Aku hanya mengerutkan dahi tanpa memberikan jawaban
sepatah kata pun. Ada satu hal penting yang berhasil kupahami dari semua ini.
(Begitu ya. Makhluk-makhluk ini... ternyata sudah salah
paham.)
Mereka tidak mengetahui tentang keberadaan pedang suci
yang dipanggil oleh Teoritta.
Aku yang telah menjalin kontrak dengan Teoritta
mengetahui esensi asli dari pedang tersebut, berbeda dengan mereka.
Mereka mengira pedang itu hanyalah senjata biasa yang
bisa memberikan serangan fatal dan membawa kematian bagi Fenomena Raja Iblis.
(Jika dugaanku ini benar, berarti kita bisa
menang...!)
Aku harus sekuat tenaga menahan gejolak kegembiraan
yang membuncah di dalam hatiku.
Jika itu adalah kekuatan milik Teoritta, bahkan daratan
sekalipun pasti bisa dimusnahkan.
Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak bisa
dihancurkan oleh pedang suci tersebut—selama objek itu memiliki wujud
eksistensi, maka tidak ada hal yang sifatnya abadi di hadapannya.
Tir Na Nog. Jangan-jangan, objek itulah yang dianggap
sebagai 'Raja' oleh para Fenomena Raja Iblis lainnya.
Jika memang begitu, apakah objek itu memiliki kesadaran
sendiri? Bagaimana cara dia memberikan perintah kepada para Fenomena Raja
Iblis?
Aku tidak tahu jawaban untuk hal itu. Mungkin ini adalah
poin yang seharusnya kutanyakan pada orang seperti Rhyno.
Aku mencoba mengalihkan pandanganku dari dinding batu
agar mereka tidak menyadari apa yang sedang kupikirkan—namun di detik itulah.
(Tulisan apa ini?)
Sebuah goresan tulisan tangan yang sangat kasar,
menyerupai sebuah coretan asal. Bentuknya agak berbeda dengan struktur huruf
kuno yang tadi.
Aku hanya bisa membaca beberapa kata saja dari coretan
itu, namun ada tiga buah karakter suara yang menunjukkan sebuah nama tertera di
bagian paling akhir tulisan.
Aku tahu bagaimana cara membaca rangkaian karakter suara
tersebut.
(’Tatsuya’—kah?)
Nama pria itu. Jika melihat dari gaya penulisannya yang
sangat kasar, ini terlihat seperti sebuah tanda tangan langsung.
Singkatnya, apakah coretan asal ini ditulis sendiri oleh
Tatsuya di masa lalu?
(’Pengkhianatan’—’Goddess’—’Waspada’, disusul simbol yang
menunjukkan penekanan kata. Berarti arti dari coretan ini adalah...)
Hanya kata-kata itulah yang berhasil kubaca dari bagian
coretan kasar tersebut.
Jika dipaksa untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa
modern dengan pengetahuanku yang minim ini, artinya akan menjadi 'Waspadalah
terhadap Goddess'. Mungkin garis besarnya seperti itu? Aku sendiri tidak
terlalu yakin.
Namun, pesan itu meninggalkan rasa tidak nyaman yang
sangat mendalam di hatiku. Goddess dan pengkhianatan.
Jika dua kata itu digabungkan secara langsung dalam
satu kalimat, berarti memang ada eksistensi yang mengarah ke sana, kan? Namun,
kenapa? Dengan cara bagaimana?
Aku akan terus merenungkan makna dari pesan misterius
tersebut untuk waktu yang cukup lama.
◆
Pada akhirnya, kami terpaksa meninggalkan anak-anak itu
dan keluar dari reruntuhan.
Aku berpesan agar mereka segera meninggalkan tempat ini
begitu kondisi orang-orang yang terluka sudah bisa digerakkan kembali.
Aku juga memberikan sedikit persediaan makanan awetan
milikku untuk mereka. Hanya hal sekecil itu yang bisa kulakukan saat ini.
Lagipula, tidak ada alasan bagi mereka untuk memercayai
orang asing sepertiku sejak awal. Penampilanku saat ini pasti terlihat sangat
mencurigakan di mata mereka.
Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah
segera menjauh dari tempat ini secepat mungkin bersama rombongan Aberrant
Fairy.
Namun, tepat sebelum kami berpisah, anak laki-laki yang
menjadi pemimpin kelompok sempat mengucapkan satu baris kalimat yang menyerupai
ucapan terima kasih.
"Fakta bahwa Kakak sudah menolong kami itu nyata.
Kami akan selalu mengingat kejadian hari ini."
Sebuah pilihan kalimat yang unik. Aku merasa pernah
mendengar struktur kalimat seperti itu di suatu tempat di masa lalu.
Namun, aku tidak bisa mengingat di mana
tepatnya—lagipula, ingatanku sendiri memang bukan sesuatu yang bisa dipercaya
sepenuhnya.
"Ayo jalan, Xylo," Empusa memberi aba-aba.
Para Uhlmen yang sebelumnya berjaga di luar reruntuhan
pun mulai bergerak mengikuti langkah kami.
"Target lokasi berikutnya akan sedikit merepotkan.
Karena tempat itu terus berpindah-pindah posisi, jadi kita harus mencarinya
terlebih dahulu."
Reruntuhan yang bisa berpindah tempat. Berarti itu adalah
sebuah warisan kuno yang memiliki mekanisme khusus seperti itu, ya.
Setidaknya, aku pernah mendengar desas-desus tentang
keberadaan tempat semacam itu. Di kalangan para petualang, cerita itu biasanya
hanya dianggap sebagai bualan kosong semata. Kota
fatamorgana.
Namun, tampaknya Empusa mengetahui keberadaan lokasi
tersebut secara pasti.
"Meskipun sulit untuk dicapai, tempat itu
benar-benar sangat menarik, lho. Malam ini kita harus istirahat lebih
cepat."
Aku bersiap melangkah mengikuti arahan Empusa—namun di
saat itulah aku menyadari sesuatu.
Sebuah objek kecil yang memancarkan kilau warna biru
samar di tanah.
Aku segera menginjak dan menyembunyikan objek itu agar
tidak disadari oleh Soula Odd yang berjalan tepat di belakangku. Karena aku
sangat mengenali benda tersebut.
(Baja Biru Ahd.)
Begitulah orang-orang menyebutnya. Logam biru yang
memiliki sifat bawaan bisa menyimpan cahaya ini merupakan komoditas lokal
terkenal dari wilayah selatan.
Dulu aku sering menggunakannya sebagai pin kerah baju
pelengkap penampilanku. Namun, benda itu hilang saat aku ditangkap oleh mereka.
Mana mungkin benda seperti ini bisa jatuh di tempat
seperti ini secara kebetulan.
(Artinya... bantuan akhirnya sudah tiba, ya.)
Aku memilih untuk tidak mengambil pin kerah biru
tersebut.
Sebagai gantinya, aku menginjaknya dengan kuat agar benda
itu terkubur di dalam lumpur tanah.
Meskipun aku tidak tahu seberapa efektif langkah ini,
setidaknya aku tidak ingin Soula Odd menyadari keberadaannya. Pria itu
tampaknya sedang memalingkan wajah dan memfokuskan kewaspadaannya ke arah area
hutan—setidaknya untuk saat ini.
Untuk mengalihkan perhatian mereka dari area bawah kaki,
aku memutuskan untuk membuka obrolan dengan Empusa.
"Empusa. Ada hal yang ingin kutanyakan."
"Apa? Jika ini tentang apa yang kau lihat di dalam
reruntuhan tadi, aku tidak akan memberi tahu apa pun padamu, ya."
"Bukan
itu. Ini tentang Chernobog."
Masalah
tentang makhluk itu sebenarnya mulai menjadi poin yang sangat penting bagiku
juga sekarang.
"Sebenarnya dia itu Fenomena Raja Iblis tipe apa?
Bakal merepotkan kalau kita terus-terusan terlibat pertempuran tak terduga
seperti tadi. Setidaknya beri tahu aku apa otoritas miliknya."
"Si pengkhianat itu ya. Aku tidak terlalu tertarik
padanya," jawab Empusa dengan nada yang benar-benar acuh tak acuh tanpa
memperlambat ritme langkah kakinya.
"Dia sangat mahir dalam menciptakan Aberrant
Fairy. Otoritas miliknya adalah miasma. Dia memiliki kemampuan untuk
mengontaminasi udara di sekitarnya. Manusia biasa pasti akan langsung tewas
jika mendekatinya."
Dia membeberkan informasi itu dengan sangat mudah.
Padahal ini seharusnya menjadi sebuah informasi yang sangat berharga.
Meskipun otoritas itu terdengar cukup kuat, rasanya
kemampuan semacam itu akan sulit bekerja secara efektif jika digunakan untuk
melawan sesama Fenomena Raja Iblis. Mengingat ada beberapa jenis dari mereka
yang memiliki struktur tubuh menyerupai gumpalan logam padat.
Bagi umat manusia pun, ada beberapa metode alternatif
yang bisa digunakan untuk mengatasinya.
Sebagai contoh, jika ada sosok seperti Vafrok si Goddess
Badai, kemampuan miasma itu pasti akan menjadi tidak berguna sama sekali.
"Kenapa Chernobog sampai menyerang kelompok
kalian?"
"Tanyakan saja sendiri pada orangnya langsung.
Meskipun aku ragu kau akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari mulutnya.
Tapi, dulu sekali—Abaddon pernah bilang kalau aksi serangannya itu adalah
'bentuk ekspresi diri khas Chernobog'."
Penjelasan itu justru membuatku semakin tidak paham.
Abaddon adalah sesosok Fenomena Raja Iblis yang memiliki kemampuan untuk
membaca isi hati orang lain.
Jika kata-kata itu keluar dari mulutnya, berarti itu
adalah sebuah jawaban yang paling akurat dari sudut pandang tertentu.
Namun tetap saja, aku sama sekali tidak bisa memahami
motif di balik tindakan tersebut secara logis.
"Aku berharap kita nggak perlu berpapasan lagi
dengan makhluk seperti itu seperti kejadian tadi," ujarku.
"Kenapa kau jadi bicara lemah begitu," Empusa
mendengus geli di balik tenggorokannya.
"Sama sekali tidak mencerminkan seorang pahlawan.
Jika kau bersedia memimpin kawananku, kita tidak akan pernah kalah dari siapa
pun. Di mataku, bakat strategimu jauh berada di atas Tovitz. Kak Anis pasti
akan sangat iri melihatnya!"
"Masa bodoh. Aku nggak tertarik dengan urusan
pertengkaran saudari atau apa pun itu, jadi jangan libatkan aku dalam masalah
kalian."
Obrolan untuk mengalihkan perhatian ini kurasa sudah
lebih dari cukup.
Aku mempercepat ritme langkah kakiku untuk mendahului
posisi Empusa. Pin kerah biru tadi sekarang pasti sudah terkubur dalam di
lumpur dan tidak akan terlihat lagi oleh siapa pun.
(Nggak salah lagi. Bantuan benar-benar sudah datang.)
Entah itu Tsav atau Dotta. Jika ada yang datang, pastilah
salah satu dari dua orang itu.
(Melarikan diri dengan memanfaatkan bantuan dari luar.
Kesempatan untuk melakukan hal itu hanya akan datang sekali.)
Apakah mereka akan mulai bergerak dalam beberapa hari ke
depan? Atau jangan-jangan malam ini juga?
Jika aku sampai gagal memanfaatkan kesempatan itu, sistem
pengawasan di sekitarku pasti akan diperketat secara ekstrim setelahnya.
Sebuah situasi krusial yang menentukan hidup dan mati
tiba-tiba saja datang menghampiri—namun, situasi seperti ini memang sudah
menjadi makanan sehari-hariku sejak dulu.
◆
"Sip! Kakak ternyata menyadarinya!"
Tsav segera menjauhkan pandangannya dari lensa pengintai
yang digunakannya, lalu menurunkan posisi Thunder Staff-nya.
"Sesuai
dugaan, responsnya cepat juga ya. Kakak memang selalu tajam kalau di
situasi mendesak seperti ini."
Sebaiknya, aktivitas pengawasan dari posisi ini juga
mulai dikurangi intesitasnya.
Bagi orang-orang yang memiliki kepekaan tinggi,
kilatan pantulan cahaya dari lensa pengintai saja sudah cukup untuk membocorkan
posisi keberadaan mereka.
Tsav sendiri memiliki kemampuan seperti itu, jadi dia
sangat memahaminya. Soula Odd juga memiliki kemungkinan besar untuk
menyadarinya.
Atau malah, jangan-jangan posisi kami sebenarnya sudah
terendus olehnya—jika benar begitu, urusannya pasti akan menjadi sedikit
merepotkan.
(Bagaimanapun situasinya, lebih baik kita bergegas.)
Tsav menengadah menatap langit. Sore hari sudah mulai
menjelang.
"Saritaf-chan.
Bersiaplah, kita akan langsung melancarkan aksi malam ini juga."
"Kita akan memulainya sekarang?"
Saritaf menatap Tsav dengan sorot mata yang penuh
keraguan.
"Aku sih tidak masalah, tapi apa kamu sendiri tidak
butuh persiapan khusus?"
"Nggak usah! Di situasi seperti ini, semakin kita
sibuk bersiap-siap, pihak lawan juga bakal semakin memperketat penjagaan
mereka, tahu. Menunda waktu dengan terus membuntuti mereka hanya akan
meningkatkan persentase posisi kita ketahuan oleh lawan."
Lagipula, membuang-buang waktu dengan bergerak lambat
seperti itu sama sekali tidak cocok dengan kepribadiannya. Tsav yakin Saritaf
juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.
"Aku paham maksud dari ucapanmu. Tapi, bagaimana
cara kita memulainya?"
"Saritaf-chan
bertugas untuk memicu keributan di sana. Di saat kamu sibuk mengulur waktu
mereka, aku akan langsung merangsek maju dengan cepat untuk merebut Kak Xylo
kembali ke pihak kita. Pembagian peran yang sangat sempurna, kan?"
"Apa
tidak apa-apa menggunakan rencana yang sekasar itu?"
Saritaf
tampaknya masih menyimpan keraguan yang besar di dalam hatinya. Dia benar-benar
tidak menunjukkan tanda-tanya memercayai Tsav.
Bukan,
tampaknya hal yang tidak dia percayai bukanlah tentang rencana kasar itu,
melainkan hal lain.
Mengenai
poin tersebut, Tsav sendiri sebenarnya juga sempat memikirkannya sedikit.
"Aman,
aman kok!"
Tsav menyeringai sambil mengacungkan ibu jarinya ke depan.
"Aku punya kartu as di tangan. Percayalah padaku
sedikit saja. Buka hatimu!"
"Aku tidak bisa memercayai orang-orang dari
dataran rendah. Tapi..."
Saritaf mengerang rendah.
"Jika itu adalah ucapan seorang pahlawan, aku
akan mempercayainya sekali saja. Tsav, aku sangat membencimu, tapi bagaimanapun
juga kamu adalah salah satu dari pahlawan, kan?"
"Bukan 'salah satu', tapi sayangnya aku ini
sepenuhnya adalah Hero of Punishment! Rekan andalan Kak Xylo yang bisa
diandalkan! Si genius tak terkalahkan, Tsav-kun! Serahkan saja strateginya
padaku!"
Tsav menyunggingkan senyum hangat—setidaknya,
begitulah niatnya.
Entah kenapa orang-orang selalu mengaturnya sebagai
pria yang sembrono atau bermuka dua, padahal tuduhan itu benar-benar tidak
berdasar.
◆
Bisa dibilang, ini adalah masalah penciuman.
Soula
Odd adalah tipe pria yang sangat memercayai insting semacam itu. Sebuah 'aroma'
bahwa ada sesuatu yang sedang mendekat.
(Sudah
hampir waktunya, ya.)
Bukannya dia berhasil menangkap tanda-tanda fisik
yang nyata. Dia hanya merasa yakin begitu saja.
Sejak mereka mulai mempersiapkan tempat perkemahan,
'aroma' itu perlahan-lahan menjadi semakin pekat.
(Tepat seperti yang dikatakan pria itu. Sungguh
menyebalkan, tapi—)
Tovitz Huker adalah pria yang menyebalkan, namun dia
sangat luar biasa dalam membaca situasi.
Jika benar apa yang dikatakan pria itu bahwa Xylo Forbartz
adalah sosok yang sangat krusial bagi Pasukan Kerajaan Bersatu, maka bantuan
pasti akan datang.
Apakah itu Pasukan Ksatria Suci ke-12 yang
berspesialisasi dalam spionase, Unit Hukuman, atau pihak lain.
Soula Odd tidak tahu pasti, namun dia sudah menerima
instruksi mengenai tindakan apa yang harus diambil saat dia mengendus adanya
pergerakan.
(Jika sesuai rencana, aku seharusnya memperingatkan
Empusa untuk waspada.)
Itulah pekerjaannya. Menyelesaikan pekerjaan dengan
sempurna demi imbalan yang setimpal adalah prinsip penting yang membentuk jati
diri Soula Odd.
(Namun...)
Soula Odd mulai bergerak maju. Tujuannya adalah untuk
menghadang musuh.
(Biarkan
saja semuanya terjadi... Di saat-saat seperti ini, aku memang cukup
kekanak-kanakan sampai-sampai tidak bisa menahan diri sendiri.)
Dia tidak membocorkan firasatnya pada siapa pun.
Dia juga tidak memberikan peringatan pada Empusa.
Situasi siaga ketat yang membuat musuh tidak bisa
mendekat juga akan menyulitkan bagi Soula Odd—karena pria di luar sana itu
pasti bisa merasakan kewaspadaan dari pihak kami.
(Tsav. Di sini aku sudah menyadarinya. Hanya aku yang
menyadarimu. Bagaimana dengan upayamu di sana?)
Hukuman
Khusus
Akhir dari
Eksplorasi "Gate Of Origin"
Tidurku malam itu terasa sangat singkat.
Belakangan ini, aku hanya bisa melihat mimpi buruk.
Terlebih lagi, itu adalah jenis mimpi buruk yang tidak bermutu.
Aku sama sekali tidak berniat untuk memikirkan atau
mengingatnya kembali. Namun, visual dari kilasan adegan itu rasanya seperti
terus menempel dan membekas di balik kelopak mataku bahkan setelah aku
terbangun.
Cenelva. Anggota Pasukan Ksatria Suci Kelima.
Nark Dexter. Milete.
Mereka semua tampak berdiri berjejer, menatap lurus ke
arahku dengan ekspresi wajah datar yang membuatku tidak bisa menebak apa yang
sedang mereka pikirkan.
(Kalian benar-benar gigih, ya. Mau berapa
kali lagi kalian membuatku melihat mimpi bodoh seperti ini baru kalian akan
puas—sadarlah, Xylo.)
Malam itu terasa jauh lebih lembap dan panas dibandingkan
malam-malam sebelumnya, membuat seluruh tubuhku dibanjiri keringat saat aku
tersentak bangun di dalam tenda darurat.
Karena kondisi itu, kesadaranku rasanya ditarik kembali
ke dunia nyata dengan jauh lebih cepat daripada biasanya.
Hari masih tengah malam, namun suara tabuhan lonceng dan
gendering perang sudah menggema bersahut-sahutan di berbagai sudut tempat ini.
Ditambah lagi, terdengar suara jeritan dan teriakan
kemarahan yang melengking.
Suara-suara yang jelas bukan milik manusia itu adalah
jeritan dari para Uhlmen—para Aberrant Fairy.
Kilatan cahaya dan suara ledakan kering juga terdengar
meletus secara sporadis di kejauhan. Itu adalah suara tembakan dari Thunder Staff.
(Dia
sudah memulainya, ya.)
Tsav.
Pria itu langsung melancarkan aksinya malam ini tanpa membuang-buang waktu
lagi.
"—Fuhu.
Musuh akhirnya datang juga, ya."
Empusa yang berada di dekatku perlahan bangkit
berdiri. Dia membuka mata kiri hitam pekatnya, lalu mengarahkan
pandangannya tepat ke arahku.
"Mereka benar-benar berniat untuk merebutmu kembali
dari tanganku. Ternyata keberadaanmu memang sevital itu bagi umat manusia. Apa
kau tidak berpikiran demikian?"
"Entahlah."
Aku memilih untuk tidak meladeni delusi yang diucapkan
oleh Empusa. Pandanganku beralih, mencoba mengamati kekacauan yang terjadi di
luar tenda melalui celah yang ada.
Para Uhlmen tampaknya sedang diserang oleh sesuatu.
Situasinya benar-benar kacau balau. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat
berguling-guling di tanah sambil menjerit kesakitan yang luar biasa.
Ada objek-objek berukuran kecil yang beterbangan di
udara. Suara dengungan kepakan sayap.
(—Lebah, kah?!)
Berkat sorotan dari cahaya api unggun, aku sempat melihat
sekilas wujud dari lebah-lebah itu. Mereka memiliki karakteristik warna tubuh
yang sangat familier. Ayah dari Frenzy pernah memiliki spesimen awetan dari
makhluk ini.
Lebah yang memiliki warna tubuh berkilau menyerupai batu
giok yang telah dipoles indah, biasa disebut Lebah Parut. Mereka adalah jenis
serangga yang sangat agresif dan memiliki racun mematikan yang bisa memberikan
rasa sakit luar biasa bagi targetnya.
Konon, rasa sakit yang dihasilkan dari sengatannya setara
dengan rasa sakit saat daging tubuhmu dikuliti secara paksa menggunakan
parutan—bahkan dalam beberapa kasus, ada individu yang tewas seketika akibat
dosis racunnya yang terlalu kuat. Mereka adalah makhluk yang sangat haus darah
dan kejam.
Dan sekarang, gerombolan serangga mengerikan itu sedang
beterbangan mengacau di dalam area perkemahan kami.
Bagi para Aberrant Fairy yang ada di tempat ini,
serangan mendadak tersebut tampaknya menjadi sebuah ancaman yang sangat fatal.
Makhluk tipe Uhlmen atau Bogey tidak memiliki metode pertahanan maupun serangan
yang efektif untuk menghadapi kawanan serangga sekecil itu.
Situasinya mungkin akan berbeda jika yang ada di sini
adalah tipe Knocker yang tubuhnya dilapisi mineral keras, atau tipe Kelpie yang
seluruh tubuhnya diselimuti cairan asam pelarut.
"Oh—strategi
yang lumayan cerdas juga, ya. Bagaimana cara mereka menggiring kawanan lebah
itu sampai ke tempat ini? —Namun..."
Empusa mendengus kecil di balik tenggorokannya.
Seluruh permukaan tubuhnya mulai menggeliat dan bergerak-gerak aneh, perlahan
memunculkan lapisan sisik keras yang menutupi kulitnya.
Begitu ya. Dia mengubah bentuk fisiknya untuk
mengantisipasi sengatan dari Lebah Parut.
"Ayo jalan, Xylo. Jangan pernah menjauh dari sisiku.
Gerombolan lebah rendahan seperti ini sama sekali bukan tandingan bagiku."
Empusa langsung mencengkeram lenganku dengan kuat,
seolah-olah dia tidak memberiku hak untuk menolak perintahnya sedikit pun.
Cengkeramannya terasa sangat bertenaga. Tubuhku diseret paksa keluar dari dalam
tenda.
Lautan Pohon Tidur Sanaph Nede. Suasana kegelapan malam
di tempat ini tampak bergejolak tidak tenang.
Kilatan cahaya samar yang berkedip-kedip di balik
rimbunnya pepohonan kemungkinan besar adalah pergerakan dari para Undine yang
mendiami lautan pohon ini. Apakah mereka bergerak karena panik dan mencoba
melarikan diri dari keributan—atau mereka hanya sekadar bersiaga memantau
situasi? Aku tidak tahu pasti.
Namun bagiku, situasi ini adalah sebuah keuntungan besar.
Kondisinya membuatku jauh lebih mudah untuk bergerak dibandingkan jika hanya
mengandalkan bantuan dari cahaya bulan saja.
"Kita akan bergerak ke arah timur. Aku sengaja
merahasiakannya darimu, tapi aku sebenarnya sudah menyiagakan beberapa kelompok
tambahan yang masing-masing berjumlah sekitar seratus ekor di sekitar tempat
ini. Mereka adalah unit khusus yang dipimpin oleh manusia yang bisa
mengoperasikan segel suci tipe komunikasi. Di saat-saat darurat seperti ini,
mereka otomatis akan langsung membentangkan jaringan pengawasan ketat."
Ternyata seratus ekor makhluk yang selama ini selalu
bergerak bersama kami hanyalah sebuah umpan semata. Mereka sengaja memasang
perangkap berlapis untuk mengantisipasi datangnya unit penyelamat yang berniat
menjemputku.
Mereka benar-benar terlalu tinggi dalam menilai kapasitas
kemampuanku, pikirku.
Dan tindakan itu, justru akan berbalik menjadi bumerang
bagi mereka sendiri.
"Maaf ya, Empusa."
Sambil membiarkan tubuhku diseret masuk ke dalam area
hutan, aku memutuskan untuk mengucapkan kalimat yang menyerupai salam
perpisahan sebagai bentuk rasa terima kasihku atas perlakuannya selama ini.
"Karena selama ini kamu sudah merawatku dengan baik,
aku akan memberimu satu informasi penting. Sosok yang sedang mengacaukan tempat
ini saat ini, kemungkinan besar adalah Tsav. Karena Dotta adalah pria yang jauh
lebih penakut dan dia pasti akan memilih untuk menggunakan metode yang lebih
senyap."
"Tsav. Si Hero of Punishment itu, ya. Aku
tidak memiliki ketertarikan yang besar pada pria itu."
"Kalau begitu, seharusnya kamu memperketat
kewaspadaanmu sejak awal."
Kami melangkah semakin jauh ke dalam hutan. Empusa bergerak dengan dikelilingi oleh beberapa ekor Uhlmen dan Bogey.
Mereka berjalan membentuk formasi barisan ketat seolah-olah menegaskan bahwa
mereka tidak akan membiarkanku meloloskan diri.
"Pria itu tidak akan pernah melancarkan aksi
tanpa adanya kalkulasi peluang kemenangan yang matang di tangannya. Bahkan
jika ada perangkap berlapis sekali pun, dia pasti akan menemukan cara untuk
menerobosnya. Sifatnya memang membuatku kesal, tapi harus kuakui kalau dia itu
adalah seorang genius. Dia adalah tipe pria yang seperti itu."
"Begitu ya. Informasi yang kau sampaikan itu
sebenarnya lumayan menarik, tapi pada akhirnya, bagiku—"
Kalimat yang diucapkan oleh Empusa mendadak terputus oleh
sebuah kilatan cahaya terang yang disusul oleh suara dentuman yang menggelegar.
Petir menyambar membelah kegelapan malam. Bahu Empusa
meledak hancur, menyemburkan cairan tubuh berwarna hitam pekat ke segala arah.
Sebuah tembakan sniper dengan tingkat akurasi yang luar biasa tepat—sesuai
dengan dugaanku. Pelakunya sudah pasti adalah Tsav.
"Ku, kuku..."
Empusa mengerang rendah di balik tenggorokannya. Tubuhnya
sempat terhuyung sejenak, namun dia berhasil mempertahankan posisi berdirinya
dengan kuat.
"Mereka berani menembakku, ya! Jarak posisinya pasti
sangat jauh dari sini—luar biasa. Kemampuan menembak yang mengagumkan."
Bahu yang seharusnya sudah hancur meledak itu tampak
mulai menggeliat aneh, perlahan-lahan menutup dan meregenerasi lukanya kembali
seperti semula. Kemampuan manipulasi struktur daging yang luar biasa.
"Namun sayang sekali. Karena yang berada di hadapan
kalian saat ini adalah aku. Anggap saja diri kalian sedang tidak
beruntung!"
Empusa menurunkan posisi tubuhnya dalam-dalam.
Kali ini bagian punggungnya yang mulai menggeliat aneh,
memunculkan sepasang sayap besar yang tumbuh keluar dari balik kulitnya.
Lengannya yang sedang mencengkeram tubuhku berubah bentuk menjadi sepasang
cakar tajam. Cengkeramannya terasa semakin kuat.
Mata Empusa menatap tajam ke arah kegelapan di depan.
Apakah dia memiliki kemampuan penglihatan malam yang
superior?
Sorot matanya seolah-olah sedang mengunci posisi sang
penembak jitu yang seharusnya berada di lokasi yang sangat jauh dari tempat
kami berdiri saat ini.
"Aku memegang otoritas dari Goddess
Bulan. Senjata segel suci tidak akan memiliki arti apa pun di
hadapanku."
Empusa bergumam lirih, lalu mulai mengepakkan sayapnya.
Tembakan kedua dari arah depan tidak kunjung datang.
Jika itu adalah Tsav yang biasa, dia pasti akan langsung
melepaskan tembakan beruntun tanpa jeda, jadi kemungkinan besar apa yang
diucapkan oleh Empusa memang benar adanya.
"Aku memang tidak terlalu tertarik pada pria bernama
Tsav itu, tapi ini bukan hal yang buruk. Sekalian saja akan kutangkap dia
bersama denganmu."
Empusa menjejakkan kakinya ke tanah dengan kuat, lalu
melesat terbang.
Aku merasakan sensasi tubuhku yang mendadak melayang di
udara, disusul oleh terpaan tekanan angin yang sangat kuat menghantam seluruh
tubuhku untuk sesaat. Benar-benar hanya terjadi dalam waktu satu kedipan mata
saja.
Karena di detik berikutnya, cengkeraman tangan Empusa
pada tubuhku terlepas, membuat tubuhku terlempar bebas dan melayang di udara.
"...Apa katanya? Ini..."
Empusa menunjukkan ekspresi wajah yang tampak terkejut.
Sensasi tubuh melayang.
Sebuah bayangan berukuran raksasa tiba-tiba saja melesat
dari arah samping dan menghantam tubuh Empusa dengan kekuatan yang sangat
dahsyat—disusul oleh efek benturan yang masif.
Pandanganku berputar hebat. Rasa sakit yang luar biasa
menjalar dari bahu kananku yang luka-lukanya memang belum sembuh total secara
sempurna.
Aku sendiri sama sekali tidak bisa memahami apa yang
sebenarnya baru saja terjadi di depan mataku.
Apakah ini adalah bagian dari rencana yang sudah
dipersiapkan oleh Tsav?
Namun, benda apa yang digunakannya dan bagaimana cara dia
memicu situasi ekstrim seperti ini?
Hanya saja, aku yakin bahwa aku sempat mendengar satu
baris kalimat terakhir yang diucapkan oleh mulut Empusa dengan sangat jelas
sebelum dia terlempar.
"Oh—Yukihito!"
Sebuah bayangan raksasa. Tidak, wujudnya sekarang sudah
bisa kulihat dengan sangat jelas.
Itu adalah sebuah lengan berukuran raksasa.
Sebuah lengan yang memancarkan kilau logam yang kuat
menyerupai baja.
Lengan raksasa itu kembali mengayunkan hantaman keras ke
arah tubuh Empusa untuk yang kedua kalinya.
Empusa tampaknya sudah mencoba menggunakan suatu metode
untuk mengeraskan struktur tubuhnya demi menahan hantaman tersebut.
Suara benturan keras yang memekakkan telinga bergema di
udara.
Suara yang mirip seperti saat dua bongkahan baja padat
dihantamkan satu sama lain dengan kekuatan penuh.
Tubuh Empusa terlempar jauh ke kejauhan, menumbangkan dan
mematahkan beberapa batang pohon besar di dalam lautan pohon ini dalam
prosesnya.
—Sudah lama tidak berjumpa ya, Xylo Forbartz.
Sebuah suara dengan intonasi yang terdengar pecah dan
parau menggema di dekatku. Aku segera mendongakkan kepala menatap ke arah
sumber suara.
Sesosok bayangan berbentuk manusia berukuran raksasa
tampak berdiri tegak di sana. Seorang raksasa yang mengenakan
setelan baju zirah besar berwarna hitam pekat.
Desain zirahnya sedikit menyerupai artileri lapis
baja atau jenis zirah berat yang biasa dikenakan oleh unit kavaleri berat,
namun struktur bagian lengan dan kakinya terlihat jauh lebih ramping dan
panjang.
Ditambah lagi, ukuran tubuh makhluk ini benar-benar
luar biasa besar. Tingginya dengan mudah melewati tiga kali lipat dari ukuran
tinggi badanku sendiri. Kurang lebih setara dengan tinggi pohon-pohon yang ada di
lautan pohon ini.
Kau masih hidup, kan? Oi, jangan bilang kalau kau
langsung mati hanya karena efek benturan yang kecil tadi ya.
Meskipun intonasi suaranya terdengar pecah dan parau,
entah kenapa aku bisa mengenalinya dengan baik.
Ini adalah suara milik 'Yukihito' itu. Empusa juga sempat
menyerukan nama tersebut tadi. Kejadian ini benar-benar di luar batas nalarnya
secara logis.
Kita tidak memiliki banyak waktu sekarang. Jangan malah
bengong ketakutan di sana, cepat berdiri, Xylo Forbartz.
"Aku hanya terkejut karena melihat kalian tiba-tiba
saja saling serang di depan mataku sendiri. Sebenarnya pakaian apa yang sedang
kamu kenakan itu?"
Ini adalah baju zirah milikku. Di dunia asalku, benda ini
adalah hal yang sangat lumrah ditemukan, salah satu jenis dari serangga
simbiosis dependen anaerobik—tapi kurasa aku menjelaskannya pun kau tidak akan
bisa memahaminya, kan?
"Sama sekali nggak paham..."
Bagaimanapun situasinya, aku memaksakan diri untuk
kembali bangkit berdiri.
Para Uhlmen yang sebelumnya berada di sekelilingku
tampaknya juga sudah habis dilindas dan disapu bersih oleh hantaman raksasa
tadi.
Tubuh mereka hancur mengerikan di atas tanah—aku
memeriksa sisa-sisa senjata yang tergeletak di dekat bangkai mereka, lalu
memungut sebilah pedang yang kondisinya terlihat paling lumayan untuk
digunakan.
"Aku nggak menyangka kalau kamu bakal menghantam
terbang rekanmu sendiri seperti tadi. Sebenarnya apa motifmu melakukan
ini?"
Ini adalah bentuk simpati dan niat baik dariku untukmu.
Aku hanya merasa kasihan melihatmu diperlakukan layaknya seekor anjing
peliharaan oleh Empusa.
Lihat sendiri, kan—aku ini sebenarnya adalah tipe pria
baik hati yang suka menolong sesama, lho.
"Bohong. Jangan bicara dengan nada menyebalkan
seperti Tsav."
Aku bisa mengetahui dengan mudah kalau ucapan itu
hanyalah bualan belaka.
Mana ada pria baik hati yang memiliki karakteristik
seperti dia di dunia ini?
Tidak—mungkin saja orang seperti Tsav memang memiliki
sifat polos seperti itu, tapi aku sangat meragukan kalau pria raksasa di
depanku ini memiliki sifat yang sama dengannya.
"Sebenarnya apa target tujuanmu?"
Hahaha! Kau benar-benar masih sempat
bersikap tenang ya, Xylo Forbartz.
Di situasi darurat seperti ini, apa menurutmu masuk akal
jika kau malah mencurigaiku?
Kupikir pilihan terbaik bagimu saat ini adalah menerima
bantuan dariku dengan patuh tanpa banyak protes.
Aku hanya bisa terdiam membisu.
Di dalam kepekatan bayangan hutan di depan, aku bisa
melihat sebuah siluet yang mulai menggeliat aktif. Itu adalah Empusa.
Seluruh permukaan tubuhnya tampak memancarkan kilau warna
merah terang, dan ukuran fisiknya terlihat membengkak satu tingkat lebih besar
dari sebelumnya.
Dia merangsek maju mendekati posisi kami sambil memukul
dan mematahkan pepohonan yang menghalangi jalannya dengan brutal.
Aku memang memiliki agenda pribadiku sendiri—sebuah
agenda yang sama sekali berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Empusa ataupun
Tovitz.
Tapi bagaimana, Xylo?
Apakah kau berniat untuk melewatkan kesempatan emas untuk
meloloskan diri yang ada di depan matamu ini begitu saja?
"Aku paham."
Aku menganggukkan kepala. Aku memang tidak tahu apa
target sebenarnya dari pria ini, namun realitasnya aku tidak memiliki opsi
pilihan lain saat ini.
"Aku akan menerima bantuan darimu."
Pilihan yang cerdas.
Yukihito mengangguk, lalu membalikkan struktur tubuh
raksasanya ke arah belakang dengan pergerakan yang luar biasa lincah dan gesit,
sama sekali tidak mencerminkan ukuran fisiknya yang masif.
Di ujung lautan pohon, Empusa telah kembali. Dengan
sepasang sayap yang tumbuh di punggungnya disusul oleh kondisi tubuh yang
memancarkan suhu panas membara, dia melesat maju melancarkan serangan lurus ke
arah kami.
Yukihito bersiap untuk menghadang serangan tersebut. Dia
menurunkan titik berat pusat gravitasi tubuh raksasanya, lalu menahan hantaman
lurus dari Empusa secara frontal menggunakan seluruh badannya.
Suara desisan keras menggema saat permukaan lapisan
pelindung zirahnya tampak mendidih dan memunculkan gelembung-gelembung udara
akibat efek panas yang masif. Ternyata suhu tubuh Empusa saat ini telah
mencapai tingkat kepanasan yang sangat ekstrim.
Aku sudah menahannya untukmu. Cepat bergerak dari sana,
Tsav! teriak Yukihito dengan suara lantang.
Aku sudah memenuhi janjiku. Kapten kalian sudah
kukembalikan ke tangan kalian!
"Terima kasih banyak atas bantuannya ya—kalau
begitu, Kakak."
Suara itu datang dari arah atas kepalaku. Tepat di depan
mataku, wajah Tsav tiba-tiba saja muncul merosot turun dari atas.
Melihat wajahnya yang selalu memancarkan ekspresi
sembrono itu, perasaan yang muncul di dalam hatiku bukanlah rasa lega ataupun
rasa aman karena berhasil diselamatkan.
Melainkan sebuah rasa kagum sekaligus rasa jengkel yang
mendalam karena memikirkan bagaimana bisa ada orang yang masih sempat-sempatnya
memasang wajah cengengesan di situasi yang sangat krusial seperti ini.
"Tsav-kun yang genius ditemani oleh Saritaf-chan
yang datang sebagai bonus telah tiba untuk menjemputmu, lho. Nggak usah
sungkan-sungkan kalau Kakak mau mulai mengekspresikan rasa haru dan terima
kasihnya sekarang, ya?"
"Berisik. Cepat lari!"
Aku langsung melesat berlari ke depan tanpa memalingkan
wajahku ke arah belakang sedikit pun.
Kami tidak memiliki waktu luang untuk memikirkan hal yang
tidak penting ataupun saling melempar candaan konyol sekarang.
Namun, ada satu hal yang benar-benar membuatku penasaran
setengah mati.
"Tsav, sebenarnya transaksi kesepakatan macam apa
yang sudah kamu lakukan dengan Yukihito itu?"
"Eh, transaksi? Nggak ada transaksi apa-apa kok? Dia
cuma bilang kalau dia mau menjadi kolaborator sukarela atas dasar niat baik,
makanya aku pikir ya sudah pakai saja bantuannya sekalian."
"Dan kamu langsung memercayai ucapan itu
mentah-mentah?! Bagaimana pun kamu melihatnya, situasi ini jelas-jelas sangat
mencurigakan, kan?"
"Tentu saja aku nggak bakal percaya begitu saja
dengan ucapannya dong, Kak! —Tapi, apa kita punya metode alternatif lain untuk
menyelamatkanmu selain cara ini?"
"...Nggak ada."
Itulah fakta yang sebenarnya, dan akhir dari segalanya.
Jika kamu berpapasan dengan Yukihito lalu dia menawarkan
bantuan secara sukarela di situasi seperti itu, maka tidak akan ada opsi untuk
menolak tawarannya sejak awal.
Menolaknya sama saja dengan menggagalkan seluruh rencana
penyelamatan ini sebelum sempat dimulai.
Pada akhirnya, kami memang tidak punya pilihan lain
selain mempertaruhkan segalanya pada apa yang disebut sebagai 'niat baik' milik
Yukihito—tidak peduli seberapa mencurigakan dan busuknya motif asli yang
disembunyikannya di balik itu semua. Aku menyempatkan diri untuk melirik ke
arah belakang sekali saja.
"Yukihito..."
Suara erangan rendah milik Empusa menggema dengan
intonasi yang terasa sangat mengerikan hingga membuat bulu kuduk merinding.
"Berani merebut barang peliharaan milik orang lain
adalah sebuah tindakan yang pantas diganjar dengan hukuman mati dalam sepuluh
ribu cara berbeda. Apa kau tidak berpikiran demikian?"
Objeknya sendiri menolak untuk kau pelihara, itu artinya
kau sudah gagal sebagai seorang pemilik. Cepat lepaskan dia kembali ke alam
liar.
Pertempuran sengit antara dua makhluk monster itu pun
kembali pecah di belakang kami.
Aku bisa merasakan permukaan tanah yang berguncang hebat
akibat efek benturan mereka—aku memilih untuk memaksa pikiranku mengabaikan hal
itu dan lebih memfokuskan seluruh tenagaku untuk mempercepat ritme langkah
kaki. Satu-satunya fokus utamaku saat ini adalah melarikan diri sejauh mungkin
dari tempat ini.
Kami terus berlari menembus kegelapan malam yang dihiasi
oleh kelap-kelip cahaya samar dari pergerakan para Undine yang tampak
bergejolak tidak tenang.
(Aku tahu arah jalannya. Beruntung sekali langit malam
ini sedang cerah.)
Aku menengadah menatap ke arah langit utara. Bulan hijau
tampak memancarkan kilaunya di atas sana.
Fenomena bulan berwarna hijau yang sudah terus
berlangsung selama beberapa hari terakhir ini, entah kenapa tampak memancarkan
bias cahaya yang terasa redup dan sedikit berkabut malam ini.



Post a Comment