NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Bonus Story + Afterword

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Pertama Kalinya Berjalan-jalan di Kota


Jalan utama Hanemiya, ibu kota Kyokuto, diselimuti oleh keramaian yang damai hari ini.

Langkah kaki orang-orang yang lalu lalang dan teriakan para pedagang terdengar di telinga. Angin yang membawa aroma harum panggangan dan manisnya madu menyengat hidung dengan lembut.

Di tengah keramaian itu, gadis yang berjalan di sebelahku──Pixie, mengedarkan pandangannya ke sana kemari dengan mata yang berbinar-binar.

Membawanya ke tempat yang padat seperti ini sempat membuatku sedikit cemas, tapi sepertinya itu hanya kekhawatiran yang berlebihan.

"Luar biasa……. Ini dunia yang selalu dilihat dan dirasakan oleh Luna, ya."

Mendengar suara yang penuh kekaguman itu, aku menyunggingkan senyum tipis.

"Iya. Bagaimana menurutmu setelah merasakannya secara langsung?"

Begitu aku bertanya, Pixie menatap ombak manusia yang saling berpapasan.

"…………Mungkin, aku merasa terharu. Ada banyak orang, ada berbagai macam suara, dan semuanya terasa begitu dekat."

Mendengar cara bicaranya, aku sedikit menyipitkan mata.

Menurut penuturan Pixie, peri menerima peristiwa di dunia hanya sebagai informasi belaka. Aku mendengar bahwa proses itu tidak disertai dengan sensasi nyata seperti suara, bau, ataupun suhu.

Bagi dirinya yang seperti itu, ini pasti pertama kalinya dia mendengar suara dengan telinganya sendiri dan merasakan udara dengan kulitnya.

Tentu saja segalanya akan terlihat begitu segar di matanya.

Pada saat itu, tiba-tiba sekelompok angin berembus melewati kami dan menerbangkan rambut Pixie.

"Ah……"

Dia mengeluarkan suara kecil, lalu terlambat menyentuh pipinya sendiri.

"Yang tadi itu, angin…… kan?"

"Iya."

"Bahwa angin itu berembus, dan angin membawa aroma, aku sudah tahu sebagai pengetahuan. Tapi, begitu ya…… Ternyata begini rasanya bersentuhan dengan angin."

Suara gumamannya yang lirih seolah sedang memastikan hal itu, seakan dia sedang meresapinya. Benar-benar seperti sedang menerima setiap jengkal sensasi agar tidak ada yang terlewat.

"Selain itu, bau juga adalah hal yang aneh. Karena ada banyak hal yang berkumpul, kukira rasanya akan lebih kacau, tapi ternyata tidak seperti itu sama sekali."

Pixie berkata demikian sembari mengalihkan pandangannya ke ujung jalan.

Di sana, terdapat sebuah kedai kaki lima yang menjajakan kue panggang.

"Mumpung ada di sini, bagaimana kalau kita melihatnya dari dekat?"

Saat aku mengajaknya, Pixie mengangguk patuh dan melangkah dengan kaki kecilnya untuk sejajar di sampingku.

Semakin dekat dengan kedai, aroma manis itu tercium semakin jelas.

Keharuman adonan yang baru matang berpadu dengan manisnya isian di dalamnya, membuat udara di sekitar terasa sedikit lebih lembut.

"Aroma yang enak ini jadi makin kuat."

Pixie bergumam dengan nada kagum.

"Ini adalah aroma manis dari kue panggang."

"Aroma manis? Bukankah 'manis' itu sesuatu yang dirasakan oleh indra pengecap?"

"Benar. Tentu saja, rasa manis di lidah didapat dari rasa makanan itu sendiri. Tapi, makanan juga bisa dinikmati lewat aroma dan penampilannya, lho."

"Begitu ya……. Ternyata makan itu sudah dimulai bahkan sebelum makanan dimasukkan ke dalam mulut."

Pixie bergumam seolah sedang mencerna pemahaman baru itu di dalam dirinya, lalu menatap kue-kue panggang yang berjejer di kedai dengan penuh minat.

"Jika mencicipinya langsung, mungkin kamu akan lebih memahaminya."

Mendengar perkataanku, Pixie mendongak menatapku.

"……Boleh?"

"Tentu saja. Lagipula kita sudah jauh-jauh datang ke sini."

Saat aku memanggil sang pemilik kedai, pria itu tersenyum ramah dan membungkus dua buah kue yang baru matang dengan kertas.

Begitu menerima salah satunya, di detik berikutnya, Pixie membelalakkan matanya karena terkejut.

"Ada rasa hangatnya……"

Suara yang lolos dari bibirnya sudah cukup menunjukkan kejujuran yang polos.

"Apakah terlalu panas?"

"Tidak, tidak apa-apa. Tapi…… aneh."

Sembari menatap kue panggang di tangannya, Pixie melanjutkan kata-katanya perlahan.

"Aku tahu dari pengetahuan. Bahwa ada hal yang hangat dan dingin, dan rasanya akan berbeda saat disentuh. Tapi, kenyataannya terasa lebih samar dan lebih lembut."

"Lembut, ya?"

"Uhm. Berbeda dengan rasa panas. Rasanya seperti memberi tahu dengan jelas kalau dia ada di sini."

Setelah berkata begitu, Pixie memantapkan hati dan menggigit kue panggang itu sedikit.

Seketika itu juga, matanya terbuka lebar.

"…………"

"Bagaimana rasanya?"

"Luar biasa……. Rasa ini terhubung dengan jelas dengan aroma yang kurasakan tadi. Tapi tidak hanya itu. Hangat, lembut, dan manisnya tidak datang sekaligus, melainkan menyebar perlahan."

Melihatnya merangkai kata demi kata seolah sedang menikmati rasa itu, entah mengapa membuatku ikut merasa senang.

"Padahal seharusnya aku tahu, tapi ternyata aku sama sekali tidak tahu."

Sembari tetap menatap kue panggang itu, Pixie bergumam lirih.

"Kukira rasa itu adalah sesuatu yang lebih sederhana. Kalau manis ya manis, hanya sebatas itu. Tapi kenyataannya, aroma, suhu, dan tekstur saat menyentuhnya, semuanya menyatu menjadi satu."

Pixie memakan satu gigitan lagi, kali ini dia menyipitkan mata sambil mengunyahnya dengan sedikit lebih lambat.

"Enak……"

Satu kata yang lolos itu memiliki penekanan realitas yang lebih jelas dibanding sebelumnya.

"Syukurlah kalau kamu menyukainya."

"Uhm. Aku merasa sedikit paham alasan kenapa orang merasa hal manis itu enak. Bukan cuma manis, tapi juga hangat, lembut, dan punya aroma. Mungkin kalau cuma salah satu saja, aku tidak akan berpikir seperti ini."

Profil wajahnya yang menjawab sambil berpikir serius itu terlihat sangat menggemaskan, membuat pipiku otomatis mengendur.

"Kalau kamu menyukainya sampai seperti itu, usahaku memilihnya jadi tidak sia-sia."

"Mungkin karena Luna yang memilihnya, makanya jadi terasa enak."

Mendengar kalimatnya yang sedikit bangga itu, aku tidak bisa menahan tawa kecil.

Kemudian, kami meninggalkan depan kedai dan melangkah menuju jalanan yang sedikit lebih tenang.

Di tempat yang agak melipir dari jalan utama itu, terdapat jalan landai yang menuju ke arah sungai, membuat hiruk-pikuk keramaian terasa agak menjauh.

Begitu sampai di dekat pagar pembatas, Pixie menghentikan langkahnya dan melemparkan pandangan ke permukaan air yang mengalir tenang.

"Suaranya berbeda."

"Jika dibandingkan dengan jalan utama, ya?"

"Uhm. Di sana ada banyak suara yang bertumpuk, tapi karena di sini sepi, setiap suaranya jadi terdengar jelas. Suara air, suara angin, juga langkah kaki."

Sembari berkata begitu, dia mengulurkan tangannya perlahan ke pagar pembatas.

Dia menggeser ujung jarinya seolah ingin memastikan tekstur kayu, lalu mengerjapkan matanya dengan heran.

"Ternyata tidak cuma keras. Sedikit kasar, tapi entah kenapa sentuhannya menenangkan."

"Iya. Karena ini tempat yang sering disentuh tangan, makanya dibuat dengan hati-hati."

"……Benar-benar aneh."

Melihatnya seperti ini, aku tahu kalau dia benar-benar menerima setiap hal dengan tulus.

Suara, bau, hingga tekstur sentuhan.

Bagi kita, semua itu adalah hal-hal biasa yang terkubur dalam keseharian, tapi bagi dirinya, setiap hal itu pasti tidak ada gantinya.

"Luna."

"Iya?"

"Semua orang ternyata hidup di dalam dunia yang seperti ini selama ini, ya."

Nada suaranya terdengar tenang, namun terasa meresap ke dalam hati.

"Iya. Benar sekali."

"Rasanya, aku sedikit iri."

Aku merasa sedikit memahami perasaan yang diungkapkan oleh Pixie itu.

Seperti yang pernah dikatakan Pixie sendiri, tahu sebagai pengetahuan dan tahu secara nyata itu berbeda. Walau kepala memahaminya, sensasi nyata yang didapat melalui tubuh tidak akan pernah bisa terkalahkan.

Pixie hari ini pasti sedang merasakan perbedaan itu dengan lebih jelas dibanding siapa pun.

"Tapi, sekarang Pixie juga sudah berada di sisi sini, lho."

Begitu aku mengatakannya, dia membulatkan matanya sedikit sebelum menjatuhkan pandangan ke kue panggang di tangannya.

"……Begitu ya. Aku juga, sekarang bukan lagi sekadar melihat saja."

"Benar. Kita bisa berjalan bersama seperti ini, melihat hal yang sama, mendengar, dan juga memakannya."

Saat aku berkata demikian, Pixie mengangguk pelan.

"Begitu ya. Benar juga."

Jawabannya terdengar sunyi, namun entah mengapa terselip nada bahagia di dalamnya.

Untuk sesaat, kami berdua memandangi aliran sungai.

Padahal hanya menjauh sedikit dari jalan utama, tapi udaranya terasa jauh lebih tenang.

Angin membelai permukaan air, dan dari kejauhan samar-samar terdengar suara obrolan orang-orang.

Semua itu adalah hal baru bagi Pixie yang sekarang, dan di saat yang sama, adalah hal-hal yang akan mulai biasa dia rasakan ke depannya.

"Hari ini, hari yang luar biasa."

Pixie bergumam lirih.

"Fufufu. Hari ini bahkan belum lewat setengah hari, lho."

"Kalau setengah hari saja sudah seperti ini, ternyata dunia ini jauh lebih sibuk dari yang kukira."

"Memang, dunia ini terus bergerak dengan cepat."

"Uhm. Tapi, ini bukan kesibukan yang menyebalkan. Ramai, hangat…… dan terasa benar-benar hidup."

Mendengar caranya berekspresi, aku menyipitkan mata dengan lembut.

"Mari kita pergi bersama lagi nanti. Tidak hanya di Hanemiya, mari kita rasakan kota dan pemandangan lain bersama-sama."

Begitu aku mengajaknya, Pixie mengangguk dengan riang.

"Uhm! Berikutnya, aku ingin melihat hal-hal yang belum sempat kulihat hari ini. Bukan cuma bau, aku ingin mencoba makan lebih banyak hal lagi, dan mendengar suara di tempat lain."

Angin sekali lagi berembus melewati celah di antara kami berdua.

Angin yang tenang dan lembut, berbeda dengan udara ramai yang terasa di jalan utama tadi.

Namun, di dalam angin itu pun tetap tercampur aroma kota dan hawa keberadaan manusia.

Saat aku menengok ke samping, Pixie menerima embusan angin itu dalam diam dengan wajah yang tampak begitu puas.

Hanya sekadar berjalan-jalan sebentar di kota.

Hanya karena hal itu saja, hari ini dunia terlihat lebih baru dari biasanya.

Mungkin itu karena aku juga ikut merasakan dunia yang pertama kali disentuhnya ini bersamanya.

"Nah, bagaimana kalau kita bersiap kembali?"

Saat aku mengajaknya, Pixie mengangguk mantap, lalu menatap sisa kue panggang yang ada di tangannya.

"Sebelum itu──"

"……?"

"──Aku ingin makan satu lagi yang ini."

Setelah sempat tertegun sesaat, aku tidak bisa menahan tawa yang membuncah.

"Sepertinya kamu benar-benar menyukainya, ya."

"Uhm. Habisnya, ini enak."

Melihat jawabannya yang terlampau jujur itu, tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya.

"Kalau begitu, mari kita beli satu lagi dalam perjalanan pulang."

"Hore! Terima kasih, Luna!"

Lalu, kami pun mulai melangkah kembali menuju jalan utama yang ramai.

Suara, aroma, angin, hingga hawa keberadaan manusia.

Hanya dengan memikirkan bahwa Pixie menerima semua itu dengan berharga, pemandangan kota yang sudah biasa kulihat ini pun terasa sedikit lebih lembut dari biasanya.


Kata Penutup

Sudah lama tidak berjumpa. Saya Tokami.

Terima kasih banyak karena sudah bersedia membawa pulang buku ini!

Kali ini pun saya ingin sedikit membahas tentang cerita utama, tetapi sebelum itu, izinkan saya membicarakan tentang adaptasi animenya terlebih dahulu.

Jadi, apakah kalian semua sudah menonton animenya?

Saya sendiri selalu menikmati setiap episodenya dengan sangat gembira, dan sebagai salah satu penonton, kualitasnya benar-benar luar biasa sampai membuat saya tidak sabar untuk menantikan episode berikutnya.

Melihat Orn dan yang lainnya bergerak, berbicara, serta bagaimana musik dan penyutradaraan memberikan pesona baru ke dalam ceritanya, benar-benar membuat saya merasa sangat emosional.

Saya tidak bisa berhenti berterima kasih kepada seluruh staf dan pemeran yang telah berhasil merampungkan karya ini menjadi begitu indah.

Lalu yang patut disyukuri, produksi anime untuk musim kedua juga telah resmi diputuskan!

Selain itu, Blu-ray BOX dijadwalkan akan rilis pada tanggal 29 Juli 2026, jadi bagi kalian yang penasaran, saya akan sangat senang jika kalian bersedia mengeceknya.

Nah, mulai dari sini saya ingin sedikit mengobrol tentang cerita utama.

Bagi yang belum membaca cerita utamanya, harap berhati-hati karena bagian berikut mengandung bocoran.

Bagaimana kesan kalian untuk volume kesepuluh ini?

Bagi saya pribadi, ini adalah buku yang memuat banyak sekali hal yang ingin saya tulis, mulai dari pendalaman latar dunia, kekuatan spiritual, hingga episode dari era dongeng (tertawa).

Dan yang menjadi pusat dari volume kesepuluh ini adalah Luna.

Dia adalah karakter yang sudah muncul sejak volume pertama dan terlibat mendalam dengan cerita, tetapi sampai sekarang, belum ada kesempatan untuk memberikan sorotan penuh kepada dirinya sendiri.

Alasannya adalah, untuk menggali lebih dalam tentang Luna, mau tidak mau saya harus menyentuh soal peri dan latar dunia itu sendiri melalui kemampuan uniknya.

Karena situasi tersebut, ada bagian yang sulit untuk digambarkan jika semua informasinya belum terkumpul sampai batas tertentu.

Oleh karena itu, saya merasa sangat senang akhirnya bisa menulis cerita yang berpusat pada Luna kali ini.

Seperti yang mungkin bisa kalian tangkap dari namanya, 'Luna' adalah karakter dengan motif bulan.

Di dalam benak saya, bulan memiliki citra sebagai entitas yang menemani dengan lembut sambil menerangi malam dalam keheningan. Dia digambarkan bukan sebagai sosok yang maju kuat ke depan, melainkan seseorang yang bisa menjadi penopang di sisi orang lain.

Selain itu, bulan juga merupakan eksistensi yang bersinar karena menerima cahaya dari pihak lain. Luna juga digambarkan sebagai sosok yang menerima perasaan serta harapan orang lain, lalu mengubahnya menjadi kelembutan dan kekuatan di dalam dirinya.

Saya akan sangat senangnya jika sifat khasnya itu bisa tersampaikan walau hanya sedikit melalui episode kali ini.

Berbicara soal nama, saya mungkin pernah menyinggungnya di kata pengantar volume sebelumnya, tetapi karakter di karya ini pada dasarnya sering kali ditentukan berdasarkan spontanitas, semangat, dan juga keselarasan bunyinya.

Di antara mereka, empat orang yang dekat dengan Orn, yaitu 'Shion', 'Oliver', 'Fuuka', and 'Luna', namanya diambil dari asosiasi masing-masing huruf dalam peribahasa 'Ka-Cho-Fu-Getsu' (Bunga, Burung, Angin, dan Bulan).

Ka-Cho-Fu-Getsu adalah peribahasa empat huruf yang menggambarkan keindahan pemandangan alam, tetapi di dalam diri saya, ada satu makna lagi yang berlapis, yaitu "sisi lain dari sang tokoh utama, Orn, yang mulai terlihat saat dia menghadapi karakter tersebut".

Karena kata pengantar kali ini memiliki sisa halaman yang cukup senggang, izinkan saya menulis sedikit lebih banyak lagi.

Versi cetak buku ini akhirnya berhasil mencapai volume kesepuluh.

Saat menyadari kalau jumlah volumenya sudah mencapai dua digit, rasanya benar-benar membuat terharu. Saya sendiri tidak pernah menyangka bisa menerbitkan buku sampai sejauh ini, jadi mungkin saya jugalah yang paling terkejut (tertawa).

Bisa terus bertahan sampai ke titik ini adalah berkat kalian semua yang bersedia membacanya. Terima kasih banyak.

Di dalam kepala saya, akhir dari cerita karya ini sebenarnya sudah ditentukan sejak tahap yang terbilang awal.

Namun, karena saya tidak menyangka bisa menerbitkannya sampai sebanyak ini, sejujurnya saya tidak memikirkan garis cerita bagian akhir menuju konklusi tersebut secara mendalam.

Akan tetapi, berkat diputuskannya anime musim kedua dan adanya tawaran untuk volume kesebelas, saya kembali menyusun ulang perkembangan cerita untuk ke depannya.

Sekarang, perasaan "karena sudah melangkah sejauh ini, aku ingin menulisnya sampai tuntas hingga tamat" menjadi sangat kuat di dalam diri saya.

Saya akan sangat senang jika kalian berkenan untuk terus mendukung karya ini ke depannya.

Di sini, izinkan saya melakukan sedikit promosi.

Per Mei 2026 ini, versi adaptasi komik dari karya ini sudah terbit sampai volume kedelapan belas dan sedang dijual dengan respons yang sangat baik!

Selain itu, cerita spin-off yang berpusat pada Selma sebagai tokoh utama, 'Apakah Kak Selma saat Libur Itu Canggung!?', volume pertamanya juga sedang dijual dan mendapat sambutan hangat!

Keduanya diilustrasikan oleh Yonezou-sensei dan diselesaikan menjadi komik yang sangat luar biasa, jadi saya akan sangat senang jika kalian bersedia membacanya.

Ditambah lagi, versi cetak buku ini secara bertahap mulai diadaptasi menjadi menjelang buku audio (audiobook).

Saya harap kalian bisa menikmati karya ini melalui telinga sebagai teman saat bekerja atau di kala sedang dalam perjalanan.

Mulai dari sini adalah ucapan terima kasih.

Kisaragi Yuri-sensei, terima kasih karena selalu menggambarkan ilustrasi yang luar biasa kali ini pun! Saya sangat senang karena hiasan rambut baru milik Luna dan Sakuramochi dibuat dengan desain yang begitu indah. Ilustrasi dua halaman di awal buku benar-benar memanjakan mata!

Editor yang bertanggung jawab, Shouji-san, terima kasih karena sudah menemani saya sampai akhir kali ini pun! Buku ini menjadi satu volume yang memuat banyak hal, tetapi saya percaya bahwa keberhasilan menyatukannya menjadi bentuk yang utuh adalah berkat bantuan dari kekuatan Shouji-san.

Selain itu, saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mencurahkan kerja keras mereka demi penerbitan buku ini.

Terakhir, terima kasih yang mendalam dari lubuk hati saya untuk para pembaca sekalian.

Sekali lagi, terima kasih banyak karena sudah bersedia membeli buku ini!

Saya berharap kita bisa berjumpa kembali di volume kesebelas!

Itsuki Tokami



Previous Chapter | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close